SALINAN
BUPATI SAMBAS
PRO VINSI KALIMANTAN BARAT
PERATURAN BUPATI SAMBAS NOMOR 71 TAHUN 2021
TENTANG
PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SAMBAS NOMOR 11 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN BANTUAN HUKUM
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SAMBAS,
Menimbang : bahwa untuk menindaklanjuti ketentuan Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Bantuan Hukum, maka perlu menetapkan Peraturan Bupati tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Bantuan Hukum;
Mengingat 1. Undang - Undang Nomor 27 Tahun 1959, tentang Penetapan Undang-Undang Darurat Nomor 3 Tahun 1957 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Kalimantan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1953 Nomor 9, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 352) sebagai Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1820);
2. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hal( Asasi Manusia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3886);
3. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4288);
4. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4335), sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Corono Virus Disease 2019 (COVID-19) dan/atau dalam Rangka Menghadapi Ancaman yang Membahayakan Perekonomian Nasional san/atau Stabilitas Sistem Keuangan;
5. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 183, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6398);
6. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5248);
7. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587), sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 245, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6573);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2013 tentang Syarat dan Tata Cara Pemberian Bantuan Hukum dan Penyaluran Dana Bantuan Hukum. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 98, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5421);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2017 tentang Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 73, Tambahan. Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6041);
10. Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 10 Tahun 2015 tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2013 tentang Syarat dan Tata Cara Pemberian Bantuan Hukum dan Penyaluran Dana Bantuan Hukum;
11. Peraturan Daerah Kabupaten Sambas Nomor 1 Tahun 2015 tentang Urusan Pemerintahan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Sambas Tahun 2015 Nomor 3, Tambahan Lembaran. Daerah Kabupaten Sambas Nomor 11);
12. Peraturan Daerah Kabupaten Sambas Nomor 11 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Bantuan Hukum (Lembaran Daerah Kabupaten Sambas Tahun 2015 Nomor 13, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Sambas Nomor 19);
MEMUTUSKAN :
MENETAPKAN : PERATURAN BUPATI TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SAMBAS NOMOR 11 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN BANTUAN HUKUM.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Bupati ini yang dimaksud dengan:
1. Daerah adalah Kabupaten Sambas.
2. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip negara kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
3. Pemerintah adalah Pemerintah Pusat.
4. Pemerintah Provinsi adalah Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat.
5. Pemerintah Daerah adalah Bupati dan Perangkat Daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah.
6. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Sambas.
7. Bantuan Hukum adalah jasa hukum yang diberikan oleh Pemberi Bantuan Hukum secara cuma-cuma kepada Penerima Bantuan Hukum.
8. Penyelenggaraan Bantuan Hukum adalah kegiatan pelaksanaan pemberian bantuan hukum yang diselenggarakan oleh Pemberi Bantuan Hukum kepada Penerima Bantuan Hukum.
9. Pemberi Bantuan Hukum adalah lembaga bantuan hukum atau organisasi kemasyarakatan yang memberi layanan Bantuan Hukum berdasarkan Peraturan Bupati mi.
10. Penerima Bantuan Hukum adalah orang atau kelompok orang miskin termasuk yang berasal dan perempuan, anak, penyandang disabilitas dan komunitas masyarakat adat.
11. Pemohon Bantuan Hukum adalah orang, kelompok orang miskin atau kuasanya yang tidak termasuk Pemberi Bantuan Hukum atau keluarganya yang mengajukan permohonan Bantuan Hukum.
12. Litigasi adalah upaya penyelesaian masalah hukum melalui proses penyidikan, penuntutan, dan peradilan.
13. Non Litigasi adalah cara penyelesaian masalah hukum di luar proses peradilan.
14. Verifikasi adalah pemeriksaan atas kebenaran laporan, pernyataan dan dokumen yang diserahkan oleh Pemberi Bantuan Hukum.
15. Akreditasi adalah pengakuan terhadap Pemberi Bantuan Hukum yang diberikan oleh Tim Verifikasi setelah dinilai bahwa Pemberi Bantuan Hukum tersebut layak untuk memberikan bantuan hukum.
16. Standar Bantuan Hukum adalah pedoman pelaksanaan pemberian Bantuan Hukum yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah.
17. Dana Bantuan Hukum adalah biaya yang disediakan tiap tahun oleh Pemerintah Daerah untuk membiayai pelaksanaan bantuan hukum.
18. Bagian Hukum adalah Bagian Hukum Sekretariat Daerah Kabupaten Sambas.
19. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang selanjutnya disingkat APBD adalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Sambas.
BAB II
MAKSUD DAN TUJUAN
Pasal 2
(1) Penyelenggaran Bantuan Hukum dimaksudkan untuk membantu penyelesaian permasalahan hukum yang sedang dihadapi masyarakat miskin di Daerah.
(2) Penyelenggaraan Bantuan Hukum dilaksanakan berdasarkan asas : a. keadilan;
b. persamaan kedudukan di hadapan hukum;
c. perlindungan terhadap hak asasi manusia;
d. keterbukaan;
e. efisiensi;
f. efektivitas; dan g. akuntabilitas.
Pasal 3
Penyelenggaraan Bantuan Hukum bertujuan untuk :
a. menjamin dan memenuhi hak bagi Penerima Bantuan Hukum untuk mendapatkan akses keadilan;
b. mewujudkan hak konstitusional segala warga negara sesuai dengan prinsip persamaan kedudukan di dalam hukum;
c. menjamin kepastian penyelenggaraan Bantuan Hukum dilaksanakan secara merata di seluruh wilayah Kabupaten Sambas; dan
d. mewujudkan peradilan yang efektif, efisien, dan dapat dipertanggungjawabkan.
BAB III
RUANG LINGKUP DAN SASARAN Bagian Kesatu
Ruang Lingkup
Pasal 4
Ruang lingkup Peraturan Bupati in meliputi :
a. tata cara pengajuan permohonan bantuan hukum;
b. pelaksanaan anggaran bantuan hukum;
C. tata cara pelaporan.;
d. pengadministrasian penyelenggaraan bantuan hukum, e. tata cara atau mekanisme pengawasan; dan
f. tata cara pemberian sanksi administrasi.
Bagian Kedua Sasaran
Pasal 5
(1) Bantuan Hukum meliputi masalah hukum keperdataan, pidana, dan tata usaha negara baik Litigasi maupun Non Litigasi.
(2) Pemberian Bantuan Hukum secara Non Litigasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan oleh Advokat, Paralegal, Dosen dan mahasiswa Fakultas Hukum dalam lingkup Pemberi Bantuan Hukum yang telah lulus verifikasi dan akreditasi, yang meliputi kegiatan :
a. penyuluhan hukum;
b. konsultasi hukum;
c. investigasi perkara, baik secara elektronik maupun nonelektronik;
d. penelitian hukum;
e. mediasi;
f. negosiasi;
g. pemberdayaan masyarakat;
h. pendampingan di luar pengadilan; dan/atau i. drafting dokumen hukum.
BAB IV
TATA CARA PENGAJUAN PERMOHONAN BANTUAN HUKUM Bagian Kesatu
Pengajuan Permohonan dan i Pemohon Bantuan Hukum kepada Pemberi Bantuan Hukum
Pasal 6
Untuk memperoleh Bantuan Hukum, Pemohon Bantuan Hukum harus memenuhi syarat sebagai berikut :
a. mengajukan permohonan secara tertulis yang berisi sekurang-kurangnya identitas pemohon dan uraian singkat mengenai pokok persoalan yang dimohonkan Bantuan Hukum;
b. menyerahkan dokumen yang berkenaan dengan perkara;
c. melampirkan surat keterangan miskin dan i Lurah atau Kepala Desa di tempat tinggal Pemohon Bantuan Hukum dan diketahui oleh Camat setempat; dan
d. surat keterangan belum pernah mendapatkan Bantuan Hukum dalam perkara yang sama.
Pasal 7
(1) Indentitas Pemohon Bantuan Hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf a dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk dan/atau dokumen lain yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang.
(2) Dalam hal Pemohon Bantuan Hukum tidak memiliki identitas, Pemberi Bantuan Hukum membantu Pemohon Bantuan Hukum dalam memperoleh surat keterangan alamat sementara dan/atau dokumen lain dari instansi yang berwenang sesuai domisili Pemberi Bantuan Hukum.
(3) Dalam hal domisili Pemberi Bantuan Hukum berasal dari Kabupaten/ Kota lain, surat keterangan alamat sementara dan/atau dokumen lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikeluarkan dari Desa/Kelurahan di tempat kejadian perkara.
Pasal 8
(1) Dalam hal Pemohon Bantuan Hukum tidak memiliki surat keterangan miskin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf c, Pemohon Bantuan Hukum dapat melampirkan
a. Kartu Indonesia Sehat kategori penerima bantuan iuran (KIS-PBI);
b. Kartu Indonesia Pintar (KIP);
c. Kartu Program Keluarga Harapan (PKH);
d. dokumen peserta program kesejahteraan Pemerintah lainnya; atau
e. dokumen lain sebagai pengganti surat keterangan miskin yang dikeluarkan oleh Perangkat Daerah yang menangani urusan pemerintahan di bidang sosial.
(2) Dalam hal Pemohon Bantuan Hukum tidak memiliki persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2), Pemberi Bantuan Hukum membantu Pemohon Bantuan Hukum dalam memperoleh persyaratan tersebut.
Pasal 9
(1) Instan si yang berwenang sesuai domisili Pemberi Bantuan Hukum wajib mengeluarkan surat keterangan alamat sementara dan/atau dokumen lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) untuk keperluan Penerima Bantuan Hukum.
(2) Lurah, Kepala Desa, atau pejabat yang setingkat sesuai domisili Pemberi Bantuan Hukum wajib mengeluarkan surat keterangan miskin dan/atau dokumen lain sebagai pengganti surat keterangan miskin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 untuk keperluan Penerima Bantuan Hukum.
Pasal 10
(1) Pemohon Bantuan Hukum yang tidak mampu menyusun permohonan secara tertulis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dapat mengajukan permohonan secara lisan.
(2) Dalam hal permohonan Bantuan Hukum diajukan secara lisan, Pemberi Bantuan Hukum menuangkan dalam bentuk tertulis.
(3) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditandatangani atau dicap jempol oleh Pemohon Bantuan Hukum.
Pasal 11
(1) Pemberi Bantuan Hukum wajib memeriksa kelengkapan persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dalam waktu paling lama 3 (tiga) hari kerja setelah menerima berkas permohonan. Bantuan Hukum.
(2) Dalam hal persyaratan yang diajukan oleh Pemohon Bantuan Hukum belum lengkap, Pemberi Bantuan Hukum dapat meminta kepada Pemohon Bantuan Hukum untuk melengkapi persyaratan permohonan.
(3) Dalam jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) hari kerja, Pemohon Bantuan Hukum wajib melengkapi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(4) Dalam hal permohonan Bantuan Hukum telah memenuhi persyaratan, Pemberi Bantuan Hukum wajib menyampaikan kesediaan atau penolakan secara tertulis atas permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam waktu paling lama 3 (tiga) hari kerja terhitung sejak permohonan dinyatakan lengkap.
(5) Dalam hal Pemberi Bantuan Hukum menyatakan kesediaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Pemberi Bantuan Hukum memberikan Bantuan Hukum berdasarkan surat kuasa khusus dari Penerima Bantuan Hukum.
(6) Dalam hal permohonan Bantuan Hukum ditolak, Pemberi Bantuan Hukum wajib memberikan alasan penolakan secara tertulis dalam waktu paling lama 3 (tiga) hari kerja terhitung sejak permohonan dinyatakan lengkap.
Bagian Kedua
Tata Cara Pengajuan Permohonan Dana Bantuan Hukum dari Pemberi Bantuan Hukum kepada Bupati
Pasal 12
(1) Pemberi Bantuan Hukum mengajukan permohonan dana Bantuan Hukum dalam bentuk rencana anggaran bantuan hukum sebelum tahun anggaran pelaksanaan Bantuan Hukum.
(2) Dana Bantuan Hukum Litigasi dan/atau Non Litigasi diberikan berdasarkan standar biaya penyelenggaraan Bantuan Hukum sesuai dengan kemampuan keuangan daerah.
(3) Standar biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Keputusan Bupati.
Pasal 13
(1) Dalam hal pengajuan permohonan Dana Bantuan Hukum Litigasi, Pemberi Bantuan Hukum mengajukan permohonan Dana Bantuan Hukum kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah.
(2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melampirkan :
a. surat permohonan dana bantuan hukum litigasi yang ditandatangani oleh pimpinan Pemberi Bantuan Hukum;
b. melampirkan Surat Keterangan Miskin atau pengganti Surat Keterangan Miskin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1);
c. fotocopi Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia sebagai Lembaga Bantuan Hukum yang telah terakreditasi;
d. kepengurusan Pemberi Bantuan Hukum;
e. program bantuan hukum tahunan;
f. fotocopi identitas Penerima Bantuan Hukum;
g. uraian singkat pokok perkara yang dimohonkan Penerima Bantuan Hukum,
h. surat pernyataan tidak menerima Dana Bantuan Hukum yang berasal dan i Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Kalimantan Barat dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Pemerintah Kabupaten/Kota lain, yang ditandatangani oleh pimpinan Pemberi Bantuan Hukum; dan
i. salinan Putusan Pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.
Pasal 14
(1) Pemeriksaan berkas permohonan Dana Bantuan Hukum litigasi yang diajukan oleh Pemberi Bantuan Hukum dilakukan oleh Tim Verifikasi.
(2) Dalam hal permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) belum memenuhi persyaratan, Ketua Tim Verifikasi mengembalikan berkas dimaksud untuk dilengkapi dan/atau diperbaiki.
(3) Pemberi Bantuan Hukum harus melengkapi dan/atau memperbaiki persyaratan tersebut paling lama 5 (lima) hari kerja.
(4) Dalam hal persyaratan telah dipenuhi, Bupati melalui Sekretaris Daerah memberikan pernyataan tertulis mengenai kelengkapan persyaratan.
(5) Bupati melalui Sekretaris Daerah memberitahukan hasil pemeriksaan berkas pengajuan rencana anggaran Bantuan Hukum dalam waktu paling lama 10 (sepuluh) hari kerja terhitung sejak berkas diterima dan lengkap.
(6) Susunan keanggotaan Tim Verifikasi ditetapkan melalui Keputusan Bupati dan bersekretariat di Bagian Hukum Sekretariat Daerah Kabupaten Sambas.
Pasal 15
(1) Penyaluran Dana Bantuan Hukum litigasi dilakukan setelah Pemberi Bantuan Hukum menyelesaikan perkara yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap (inkracht).
(2) Penyaluran Dana Bantuan Hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan standar biaya pelaksanaan Bantuan Hukum Litigasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (3).
Pasal 16
(1) Dalam hal Pemberi Bantuan Hukum mengajukan rencana anggaran Bantuan Hukum Non Litigasi, Pemberi Bantuan. Hukum harus mengajukan paling sedikit 4 (empat) kegiatan dalam 1 (satu) paket dani kegiatan Bantuan Hukum Non Litigasi.
(2) Penyaluran Dana Bantuan Hukum Non Litigasi dilakukan setelah Pemberi Bantuan Hukum menyelesaikan paling sedikit 1 (satu) paket kegiatan Non Litigasi, dan menyampaikan laporan yang disertai dengan bukti pendukung.
(3) Penyaluran Dana Bantuan Hukum Non Litigasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dihitung berdasarkan tarif per kegiatan sesuai standar biaya pelaksanaan Bantuan Hukum Non Litigasi
BAB V
PELAKSANAAN ANGGARAN BANTUAN HUKUM
Pasal 17
Penerima Bantuan Hukum melaksanakan Bantuan Hukum Litigasi dan Non Litigasi sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam perjanjian pelaksanaan Bantuan Hukum dan ketentuan peraturan perundan.g-undangan.
Pasal 18
(1) Penyaluran Dana Bantuan Hukum Litigasi dilakukan setelah Pemberi Bantuan Hukum menyelesaikan perkara pada setiap tahapan proses beracara dan Pemberi Bantuan Hukum menyampaikan laporan yang disertai bukti pendukung.
(2) Tahapan proses beracara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan tahapan penanganan perkara dalam:
a. kasus pidana meliputi : 1. penyidikan;
2. persidangan di Pengadilan Tingkat I; dan
3. persidangan di Pengadilan Tingkat Banding, putusan Pengadilan Tingkat Banding, putusan Pengadilan Tingkat Kasasi dan peninjauan kembali.
b. kasus perdata meliputi :
1. upaya perdamaian atau putusan Pengadilan Tingkat I;
2. putusan Pengadilan Tingkat Banding;
3. putusan Pengadilan Tingkat Kasasi; dan 4. peninjauan kembali.
c. kasus tata usaha Negara meliputi :
1. pemeriksaan pendahuluan dan putusan Pengadilan Tingkat I;
2. putusan Pengadilan Tingkat Banding;
3. putusan pengadilan Tingkat Kasasi; dan 4. peninjauan kembali.
(3) Penyaluran Dana Bantuan Hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung berdasarkan persentase tertentu dan i tarif per Perkara yang mengacu kepada standar biaya pelaksanaan Bantuan Hukum litigasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4) Penyaluran Dana Bantuan Hukum pada setiap tahapan proses beracara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak menghapuskan kewajiban Pemberi Bantuan Hukum untuk memberikan Bantuan Hukum sampai dengan Perkara yang ditangani selesai atau mempunyai kekuatan hukum tetap.
Pasal 19
(1) Penyaluran Dana Bantuan Hukum Non Litigasi dilakukan setelah Pemberi Bantuan Hukum menyelesaikan paling sedikit 1 (satu) kegiatan dalam paket kegiatan Non Litigasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (2) dan menyampaikan laporan yang disertai dengan bukti pendukung.
(2) Penyaluran Dana Bantuan Hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung berdasarkan tarif per kegiatan mengacu kepada standar biaya pelaksanaan Bantuan Hukum Non Litigasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 20
(1) Bupati melalui Sekretaris Daerah berwenang melakukan pengujian kebenaran tagihan atas penyelesaian pelaksanaan Bantuan Hukum sebagai dasar penyaluran Dana Bantuan Hukum Litigasi dan Non Litigasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 dan Pasal 18.
(2) Pengujian kebenaran tagihan atas penyelesaian Bantuan Hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh unit kerja yang menangani penatausahaan keuangan.
BAB VI PELAPORAN
Pasal 21
(1) Pemberi Bantuan Hukum wajib melaporkan realisasi pelaksanaan Anggaran Bantuan Hukum kepada Bupati pada setiap akhir tahun anggaran.
(2) Dalam hal Pemberi Bantuan Hukum menerima sumber pendanaan selain dan i APBD, Pemberi Bantuan Hukum melaporkan realisasi penerimaan dan penggunaan dana tersebut kepada Bupati.
(3) Laporan realisasi penerimaan dan penggunan dana selain dan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaporkan secara terpisah dani laporan realisasi pelaksanaan Anggaran Bantuan Hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
Pasal 22
(1) Untuk Perkara Litigasi, laporan realisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2), harus melampirkan paling sedikit
a. salinan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap; dan
b. perkembangan perkara yang sedang dalam proses penyelesaian.
(2) Untuk kegiatan Non Litigasi, laporan realisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (2), harus melampirkan laporan kegiatan yang telah dilaksanakan.
Pasal 23
Pemberi Bantuan Hukum mengelola secara tersendiri dan terpisah administrasi keuangan pelaksanaan Bantuan Hukum dan administrasi keuangan organisasi Pemberi Bantuan Hukum atau administrasi keuangan lainnya.
Pasal 24
Laporan realisasi penyelenggaraan Bantuan Hukum sebagaimana dimaksud Pasal 21 ditembuskan kepada DPRD.
BAB VII
PENGADMINSTRASIAN
PENYELENGGARAAN BANTUAN HUKUM
Pasal 25
(1) Pengadministrasian dalam penyelenggaraan bantuan hukum meliputi : a. proposal pengajuan anggaran bantuan hukum;
b. surat permohonan bantuan hukum litigasi oleh pemohon bantuan hukum kepada pemberi bantuan hukum;
c. surat permohonan bantuan hukum non litigasi oleh pemohon bantuan hukum kepada pemberi bantuan hukum;
d. surat permohonan dana bantuan hukum oleh pemberi bantuan hukum kepada Pemerintah Daerah;
e. laporan penyuluhan hukum;
f. konsultasi hukum;
g. laporan investigasi kasus;
h. proposal penelitian hukum;
i. laporan mediasi;
j. laporan negoisasi;
k. laporan pemberdayaan masyarakat;
1. laporan pendampingan di luar pengadilan; dan m. legal drafting.
(2) Format pengadministrasian penyelenggaraan bantuan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati mi.
BAB VIII PENGAWASAN
Pasal 26
(1) Bupati melakukan pengawasan pemberian Bantuan Hukum dan penyaluran dana Bantuan Hukum.
(2) Pengawasan oleh Bupati sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh Tim yang terdiri dan i unsur unit kerja yang menangani Bantuan Hukum dan Organisasi Perangkat Daerah yang menangani tugas dan fungsi bidang pengawasan serta unit kerja terkait.
(3) Tim sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Keputusan Bupati.
Pasal 27
Bupati atas usul Tim dapat meneruskan temuan penyimpangan pemberian Bantuan Hukum dan penyaluran Dana Bantuan Hukum kepada instansi yang berwenang untuk ditindaldanjuti sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
BAB IX
SANKSI ADMINISTRASI
Pasal 28
(1) Pemberi Bantuan Hukum yang tidak melaksanakan tugas dan kewajibannya dikenakan sanksi administrasi.
(2) Sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa : a. teguran tertulis,
b. Pemberi Bantuan Hukum harus mengembalikan semua bantuan dana yang telah diterima,
c. Bupati dapat membatalkan perjanjian pelaksanaan bantuan hukum, dan/atau
d. Bupati dapat merekomendasikan kepada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk meninjau ulang penetapan akreditasi Pemberi Bantuan Hukum.
Pasal 29
(1) Pemberian sanksi administrasi berupa teguran tertulis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) huruf a diberikan paling banyak 2 (dua) kali masing-masing untuk jangka waktu paling lama 5 (lima) hari kerja.
(2) Sanksi teguran tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh Sekretaris Daerah.
Pasal 30
(1) Pemberian sanksi administrasi berupa pengembalian semua bantuan dana yang telah diterima, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) huruf b diberikan untuk jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) hari kerja sejak berakhirnya pengenaan sanksi teguran tertulis kedua berakhir dan Pemberi Bantuan Hukum tetap tidak melaksanakan kewajibannya.
(2) Sanksi teguran tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh Sekretaris Daerah.
Pasal 31
Pemberian sanksi administrasi berupa pembatalan perjanjian pelaksanaan Bantuan Hukum, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) huruf c dilakukan oleh Bupati setelah mempertimbangkan hasil pemeriksaan Tim sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26.
Pasal 32
(1) Pemberian sanksi administrasi berupa merekomendasikan kepada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk meninjau ulang penetapan akreditasi Pemberi Bantuan Hukum, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) huruf d dilakukan oleh Bupati setelah mempertimbangkan hasil masukan atau pemeriksaan dan i Tim sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26.
(2) Rekomendasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.
(3) Bupati dalam pengenaan sanksi berupa merekomendasikan kepada Kementerian Hukum dan Hal( Asasi Manusia untuk meninjau ulang penetapan akreditasi Pemberi Bantuan Hukum terlebih dahulu berkoordinasi dengan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Kalimantan Barat.
BAB X
KETENTUAN PENUTUP Pasal 33
Peraturan Bupati ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Bupati ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Kabupaten Sambas.
Ditetapkan di Sambas
pada tanggal 19 Oktober 2021 BUPATI SAMBAS,
TM SATONO
Diundangkan di Sambas pada tanggal 19 Oktober 2021
SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN SAMBAS,
TTD
FERY MADAGASKAR
BERITA DAERAH KABUPATEN SAMBAS TAHUN 2021 NOMOR 71.
Salinan Sesuai Dengan Aslinya KEPALA BAGIAN HUKUM
SEKRE A A H KABUPATEN SAMBAS,
mgkat I (IV/b) NIP. 19680612 199710 1 001
LAMPIRAN
PERATURAN BUPATI SAMBAS NOMOR 71 TAHUN 2021
TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SAMBAS
NOMOR 11 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN BANTUAN HUKUM
A. FORMAT PROPOSAL PENGAJUAN ANGGARAN BANTUAN HUKUM
Narna Lembaga Bantuan Hukum
Alamat, Telepon, Faksimil dan/atau Website
PROPOSAL
PENGAJUAN ANGGARAN BANTUAN HUKUM
Nama Lembaga Bantuan Hukum Alamat
Tujuan Program Deskripsi Kegiatan
Targe Pelaksan.aan
Output yang diharapkan JadwaI Pelaksanaan
Pimpinan Lembaga Bantuan Hukum, ttd 86 stempel
B. FORMAT PERMOHONAN BANTUAN HUKUM LITIGASI OLEH PEMOHON BANTUAN HUKUM KEPADA PEMBERI BANTUAN HUKUM
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama Lengkap Jenis Kelamin Tempat Lahir Tanggal Lahir Alamat
Pekerjaan
dengan ini mengajukan permohonan Bantuan Hukum penanganan perkara secara litigasi atas perkara Saya dengan nomor perkara
Adapun pokok persoalan yang saya hadapi adalah sebagai berikut:
Sebagai bahan pertimbangan, dengan ini Saya melampirkan:
a. fotokopi identitas din;
b. dokumen yang berkenaan dengan perkara;
c. surat keterangan miskin; dan
d. surat keterangan belum pernah mendapatkan Bantuan Hukum dalam perkara yang sama.
,
ttd
C. FORMAT PERMOHONAN BANTUAN HUKUM NON LITIGASI OLEH PEMOHON BANTUAN HUKUM KEPADA PEMBERI BANTUAN HUKUM
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama Lengkap Jenis Kelarnin Tempat Lahir Tanggal Lahir Alamat
Pekerjaan
dengan ini mengajukan permohonan Bantuan Hukum penanganan perkara secara non litigasi berupa atas persoalan yang Saya hadapi dengan pokok persoalan sebagai berikut:
Sebagai bahan pertimbangan, dengan ini Saya melampirkan:
a. fotokopi identitas din;
b. dokumen yang berkenaan dengan persoalan yang dimohonkan Bantuan Hukum;
c. surat keterangan miskin; dan
d. surat keterangan belum pernah mendapatkan Bantuan Hukum dalam perkara yang sama.
,
ttd
D. FORMAT PERMOHONAN DANA BANTUAN HUKUM OLEH PEMBERI BANTUAN HUKUM KEPADA PEMERINTAH DAERAH
Nama Lembaga Bantuan Hukum
Alamat, Telepon, Faksimil dan/atau Website
,
Nomor Kepada
Sifat Yth. Bupati Sambas
Lampiran melalui Sekretaris Daerah
Hal : Permohonan Dana Kabupaten Sambas Bantuan Hukum
di
TEMPAT
Dengan hormat, sehubungan dengan adanya permohonan Bantuan Hukum yang diserahkan kepada kami pada tanggal oleh Pemohon Bantuan Hukum yang memiliki identitas sebagai berikut:
Nama Lengkap
Tempat, Tanggal Lahir Alamat Lengkap
Nomor Kartu Identitas
yang pada memohonkan Bantuan Hukum berupa
dengan ini kami sampaikan bahwa kami:
Nama Lembaga Bantuan Hukum Alamat Lembaga Bantuan Hukum
menyatakan menerima permohonan Bantuan Hukum yang disampaikan Pemohon Bantuan Hukum dan memohon Bupati Sambas melalui Sekretaris Daerah Kabupaten Sambas dapat memberikan dana Bantuan Hukum atas permohonan tersebut.
Sebagai bahan pertimbangan Bapak/Ibu, bersama ini kami lampirkan:
1. fotokopi Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI sebagai Lembaga Bantuan Hukum terakreditasi,
2. permohonan Bantuan Hukum dan i Pemohon Bantuan Hukum,
3. surat pernyataan tidak menerima dana Bantuan Hukum yang berasal dari APBN, APBD Pemerintah Daerah Provinsi lain dan/atau APBD Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota atas Bantuan Hukum yang akan diberikan;
4. fotokopi identitas Pemohon Bantuan Hukum; dan
5. fotokopi Surat Keterangan Miskin Pemohon Bantuan Hukum.
Atas perkenan Bapak/Ibu kami sampaikan terima kasih.
Pimpinan Lembaga Bantuan Hukum, ttd 86 stempel
( )
E. FORMAT LAPORAN PENYULUHAN HUKUM
Nomor •
Perihal : Penyuluhan Hukum
, 20.
Kepada
Yth. Nama Lembaga Bantuan Hukum (
Di
Tempat Dengan hormat,
Hari/Tanggal • Waktu
Tempat
Pemohon Ttd (Nama)
VI. Kesan konsultasi atas tingkat pengetahuan/kesadaran hukum pemohon
VII. Pemohon/Klien Nama
Tanda Tangan
VIII. Konsultan Hukum Nama
Tanda Tangan
20...
,
Pimpinan Lembaga Bantuan Hukum, ttd 86 stempel
( )
G. FORMAT LAPORAN INVESTIGASI KASUS
20.
Nomor •
Perihal: Investigasi Kasus
Kepada
Yth. Nama Lembaga Bantuan Hukum (
Di
Tempat
Dengan hormat,
Hari/Tanggal • Waktu
Tempat
Pemohon 'Ftd (Nama) ,
F. FORMAT KONSULTASI HUKUM I. DATA PEMOHON
Nama
Tempat/Tanggal Lahir Jenis Kelamin
Agama Pendidikan
Golongan Darah (*) Alamat/ Telepon / HP (*) Pekerjaan
Keterangan Miskin : Terlampir
II. Pelaksanaan konsultansi hukum (hari/bulan/tanggal)
III. Uraian singkat pokok masalah dan latar belakang
V. Nasihat yang diberikan konsultan termasuk aspek yuridisnya
V. Hasil akhir konsultasi
H. FORMAT PROPOSAL PENELITIAN HUKUM
PROPOSAL PENELITIAN HUKUM
I. Latar Belakang
II. Permasalahan/Ruang Lingkup
III. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
IV. Metode Penelitian
V. Tinjauan Teoritis/Konseptual
VI. Tempat Penelitian
VII. Jangka Waktu Penelitian
VIII. Susunan Organisasi Tim Penelitian
, 20
Pimpinan Lembaga Bantuan Hukum, ttd 86 stempel
( )
I. FORMAT LAPORAN MEDIASI
LAPORAN MEDIASI Pada hari ini tanggal bulan tahun , telah dilaksanakan mediasi antara yang beralamat di
yang selanjutnya disebut dengan PIHAK I, dengan
yang beralamat di yang selanjutnya
disebut PIHAK II, dalam perkara
Adapun butir-butir kesepakatan mediasi yang dihasilkan adalah sebagai berikut:
PIHAK PERTAMA PIHAK KEDUA
Ttd. Ttd.
MEDIATOR Ttd.
J. FORMAT LAPORAN NEGOISASI
LAPORAN NEGOSIASI Pada hari ini tanggal bulan tahun , telah dilaksanakan negoisasi antara yang beralamat di
yang selanjutnya disebut dengan PIHAK I, dengan
yang beralamat di yang selanjutnya
disebut PIHAK II, dalam perkara
Adapun butir-butir kesepakatan negosiasi yang dihasilkan adalah sebagai berikut:
PIHAK PERTAMA PIHAK KEDUA
Ttd. Ttd.
( ) ( )
NEGOISATOR Ttd.
( )
K. LAPORAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Pada hari ini tanggal bulan tahun , (nama pemberi bantuan hukum) yang berkedudukan di
telah melaksanakan kegiatan pemberdayaan hukum berupa:
1. Jenis Kegiatan
2. Jumlah Peserta
3. Jangka Waktu Pelaksanaan
4. Hasil/Output kegiatan
5. Jenis keterampilan hukum yang telah didapatkan peserta
Perwakilan Peserta Nama Lembaga Bantuan Hukum ttd & stempel ttd & stempel
) ( )
L. LAPORAN PENDAMPINGAN DI LUAR PENGADILAN
, 20.
Kepada
Nomor • Yth. Nama Lembaga Bantuan
Perihal: Pendampingan di luar Hukum (
Pengadilan Di
)
Tempat
Dengan hormat,
Saya yang bertanda tangan di bawah ini 1. Nama
2. Tempat/Tanggal Lahir 3. Jenis Kelamin
4. Kawin/Belum Kawin/
Dua/Janda 5. Agama
6. Tempat Tinggal (Alamat) Kelurahan
Kecamatan Kota
7. Pendidikan 8. Pekerjaan
Bersama ini kami mengajukan permohonan bantuan untuk pendampingan di luar pengadilan dalam rangka kegiatan :
Demikian permohonan ini kami ajukan untuk disetujui.
Pemohon Ttd (Nama)
M. LEGAL DRAFTING
20...
Nomor •
Perihal: Drafting Dokumen
Kepada
Yth. Nama Lembaga Bantuan
Hukum ( )
Hukum Di
Tempat Dengan hormat,
Saya yang bertanda tangan di bawah ini 1. Nama
2. Tempat/Tanggal Lahir 3. Jenis Kelamin
4. Kawin/Belum Kawin/
Dua/Janda 5. Agama
6. Tempat Tinggal (Alamat) Kelurahan
Kecamatan Kota
7. Pendidikan 8. Pekerjaan
Bersama ini kami mengajukan permohonan bantuan untuk penyusunan/pembuatan drafting dokumen hukum dalam rangka kegiatan :
)
Salinan Sesuai Dengan Aslin.ya KEPALA BAGIAN HUKUM
AH KABUPATEN SAMBAS,
NI SH embina Tingkat I (IV/b) NIP. 19680612 199710 1 001
Demikian permohonan ini kami ajukan untuk disetujui.
Pemohon Ttd (Nama)
BUPATI SAMBAS,
TTD
SATONO