• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2019

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2019"

Copied!
204
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS YURIDIS PENGGUNAAN TEKNOLOGI DALAM PROSES PENYELIDIKAN DAN PENYIDIKAN

UNTUK MENGUNGKAP TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN BERENCANA

(Studi Kasus Pembunuhan Berencana Terhadap Korban An. Indra Gunawan Alias Kuna)

TESIS

OLEH

MARTUASAH TOBING 157005140/HK

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2019

(2)

ANALISIS YURIDIS PENGGUNAAN TEKNOLOGI DALAM PROSES PENYELIDIKAN DAN PENYIDIKAN

UNTUK MENGUNGKAP TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN BERENCANA

(Studi Kasus Pembunuhan Berencana Terhadap Korban An. Indra Gunawan Alias Kuna)

TESIS

Diajukan Sebagai Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Hukum Pada Program Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara

OLEH

MARTUASAH TOBING 157005140/HK

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2019

(3)
(4)

Telah diuji pada

Tanggal : 6 November 2019

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Dr. Alvi Syahrin, S.H., M.Hum.

Anggota : 1. Prof. Dr. Sunarmi, S.H., M.Hum.

2. Prof. Dr. Madiasa Ablisar, S.H., MS.

3. Dr. M. Ekaputra, S.H., M.Hum.

4. Dr. Marlina, S.H., M.Hum.

(5)
(6)
(7)

ABSTRAK

Pengungkapan kejahatan adalah salah satu tugas pokok Polri dalam rangka penegakan hukum. Pada dasarnya penyelidikan dan penyidikan tindak pidana adalah untuk mengumpulkan alat bukti guna membuat terang peristiwa yang terjadi dan menemukan pelakunya. Bukti-bukti yang dikumpulkan tersebut, akan mengarah kepada salah seorang pelaku. Jika, tindak kejahatan dilakukan dengan sangat rapi dan sulit untuk menemukan bukti-buktinya, maka teknologi dapat digunakan untuk membantu Polri dalam mengungkap tindak pidana. Adapun contoh kasus dalam penelitian ini adalah kasus pembunuhan berencana terhadap Indra Gunawan Alias Kuna yang ditangani Satreskrim Polrestabes Medan. Penyelidikan dan penyidikannya dilakukan oleh Satreskrim Polrestabes Medan yang telah berhasil menangkap pelakunya, sehingga dengan analisis digital forensik yang dilakukan akhirnya terungkap otak pelaku yang menyuruh pembunuh bayaran untuk mengeksekusi korban. Analisis digital forensik dilakukan dengan menggunakan alat berteknologi canggih, yaitu: Direct Finder dan Cellebrite UFED 4PC. Direct Finder digunakan untuk melacak otak pembunuhannya, sedangkan Cellebrite UFED 4PC digunakan setelah pelaku ditangkap dan terhadap handphonenya dilakukan kloning untuk dianalisis lebih lanjut. Hingga akhirnya, Satreskrim Polrestabes Medan berhasil mengungkap siapa dalang di balik pembunuhan Indra Gunawan Alias Kuna.

Adapun permasalahan yang dapat dirumuskan, yaitu: pengaturan hukum acara pidana dalam proses pengambilan data elektronik yang digunakan sebagai alat bukti; prosedur penggunaan teknologi dalam proses penyelidikan dan penyidikan kasus pembunuhan berencana; dan hambatan penyidik dalam penggunaan teknologi dalam proses penyelidikan dan penyidikan kasus pembunuhan berencana ditinjau dari perspektif sistem hukum.

Penelitian ini adalah penelitian yuridis normatif. Sifat penelitian adalah penelitian deskriptif. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan peraturan perundang-undangan dan pendekatan kasus. Sumber data adalah data sekunder yang didukung dengan data empiris. Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik library research. Analisis data dilakukan dengan analisis kualitatif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pengaturan hukum acara pidana dalam pengambilan data elektronik yang digunakan sebagai alat bukti belum ada regulasi yang mengaturnya. Pengaturan yang ada hanya sebatas penyelidikan dan penyidikan yang bertujuan untuk membuat terang dan jelas suatu peristiwa tindak pidana; Prosedur penggunaan teknologi dalam proses penyelidikan dan penyidikan kasus pembunuhan dalam Laporan Polisi No. LP/04/K/I/2017/SU/Polrestabes Medan/Sek Medan Barat/Reskrim, tertanggal 18 Januari 2017, tentang dugaan “Tindak Pidana Perencanaan Pembunuhan”, adalah dimulai dari : Cek/Olah TKP; Permintaan Salinan CCTV; Permintaan Otopsi dan Uji Balistik; Permintaan Cloning Handphone ke Labfor Mabes Polri; dan Permintaan CDR ke Telkomsel. Kesemua rangkaian tersebut adalah untuk memenuhi minimal 2 (dua) alat bukti yang sah (Pasal 184 KUHAP) dan ditambah dengan perluasan alat bukti yang sah (Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2) UU ITE beserta Penjelasannya); dan hambatan yang dihadapi penyidik Satreskrim Polrestabes Medan dalam penggunaan teknologi terkait proses penyelidikan dan penyidikan kasus pembunuhan terdiri dari tiga hambatan, yaitu: hambatan substansi hukum, terkait pengaturannya; hambatan struktur hukum, terkait SDM Penyidik dalam penggunaan TI; dan hambatan budaya hukum terkait SDM yang masih menggunakan teknik konvensional dalam mengungkap tindak pidana pembunuhan berencana.

Keywords: Penyelidikan dan penyidikan; penggunaan teknologi dan informasi;

pembunuhan berencana.

(8)

ABSTRACT

Disclosure of crimes is one of the main tasks of the National Police in law enforcement. Basically, the investigation and investigation of criminal acts is to gather evidence to make light of the events that occur and find the culprit. The evidence collected will lead to one of the perpetrators. If the crime is committed very neatly and it is difficult to find the evidence, then the technology can be used to assist the National Police in uncovering criminal acts. An example of the case in this study is a case of the premeditated murder of Indra Gunawan Alias Kuna which was handled by the Medan Criminal Investigation Police.

Investigations and investigations carried out by the Medan Police Resort Criminal Investigation Unit which has succeeded in capturing the perpetrators so that with digital forensic analysis conducted finally revealed the brains of the perpetrators who ordered assassins to execute victims. Digital forensic analysis is performed using sophisticated technology tools, namely: Direct Finder and Cellebrite UFED 4PC. Direct Finder is used to tracking the brain of the murder, while Cellebrite UFED 4PC is used after the perpetrator is arrested and cloned his cellphone for further analysis. Until finally, the Medan Police Satreskrim succeeded in revealing who was behind the killing of Indra Gunawan Alias Kuna.

The problems that can be formulated, namely: criminal procedure law in the process of taking electronic data used as evidence; procedures for using technology in the process of investigating and investigating premeditated murder cases; and the obstacles of investigators in the use of technology in the process of investigating and investigating murder cases that are planned from the perspective of the legal system.

This research is normative juridical research. The nature of the research is descriptive research. The approach used is the statutory approach and the case approach.

Data sources are secondary data supported by empirical data. Data were collected using library research techniques. Data analysis was performed by qualitative analysis.

The results of the research show that: The criminal procedure law in the retrieval of electronic data that is used as evidence has no regulations governing it. The existing arrangements are only limited to investigations and investigations aimed at making clear and clear a criminal event; Procedure for using technology in the process of investigating and investigating murder cases in Police Report No. LP / 04 / K / I / 2017 / SU / Polrestabes Medan / Sek Medan Barat / Criminal Investigation, dated January 18, 2017, regarding the alleged "Criminal Plans for Murder Planning", starting from: Check / Process Crime; CCTV Copy Requests; Request for Autopsy and Ballistic Test; Mobile Cloning Requests to the Police Headquarters Forensic Laboratory; and CDR Requests to Telkomsel. All of these series are to fulfill a minimum of 2 (two) valid evidence (Article 184 of the Criminal Procedure Code) and supplemented with an expansion of valid evidence (Article 5 paragraph (1) and paragraph (2) of the ITE Law and its Explanation); and obstacles faced by investigators from the Satreskrim Medan Polrestabes in the use of technology related to the process of investigating and investigating murder cases consisting of three obstacles, namely: legal substance constraints, related to its regulation; legal structure constraints, related to HR Investigators in the use of IT; and legal cultural barriers related to human resources that still use conventional techniques in uncovering criminal acts of premeditated murder.

Keywords: investigation and investigation; use of technology and information;

premeditated murder.

(9)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur ke hadirat Allah Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis masih diberikan kesehatan, hikmat, kebijaksanaan dan kesempatan serta kemudahan dalam mengerjakan penelitian ini.

Pada penelitian ini, penulis dengan ketulusan hati, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian penelitian ini. Ucapan terima kasih disampaikan kepada :

1. Prof. Dr. Runtung, S.H., M.Hum., sebagai Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum., sebagai Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

3. Prof. Dr. Sunarmi, S.H., M.Hum., sebagai Ketua Program Magister Ilmu Hukum (S2) dan Doktor Ilmu Hukum (S3) Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, sekaligus sebagai Dosen Pembimbing II.

4. Prof. Dr. Madiasa Ablisar, S.H., MS., sebagai Dosen Pembimbing III yang telah memberikan dorongan, arahan, bimbingan, dan motivasi kepada penulis untuk secepatnya menyelesaikan studi di kampus.

5. Bapak Dr. M. Ekaputra, S.H., M.Hum., sebagai Dosen Penguji I yang telah mengajarkan penulis mengenai metode penelitian hukum.

6. Ibu Dr. Marlina, S.H., M.Hum., sebagai Dosen Pembimbing III yang telah memberikan masukan dalam penelitian yang penulis lakukan.

7. Terima kasih dari lubuk hati yang paling dalam kepada ayahanda dan ibunda, yang telah mendidik penulis hingga sampai kepada jenjang pendidikan tinggi.

8. Terima kasih kepada isteri tercinta, dan anak-anak tersayang, yang selalu memberikan semangat untuk menyelesaikan penelitian ini dan juga dengna setia menemani belajar hingga larut malam demi mencapai cita-cita.

9. Tidak ketinggalan terima kasih kepada sahabat-sahabatku seperjuangan yang sudah membantu selama penyelesaian penelitian ini, yang tidak dapat penulis sebutkan namanya satu-persatu.

(10)

10. Terakhir ucapan terima kasih kepada Para Dosen dan Para Pegawai Sekretariat Program Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan bantuan selama ini kepada penulis selama menyelesaikan studi.

Akhir kata kiranya tulisan ini dapat berguna dan bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan, terutama dalam penerapan serta pengembangan ilmu hukum di Indonesia.-

Medan, November 2019 Hormat Saya,

Penulis,

MARTUASAH TOBING NIM. 157005140/HK

(11)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

I. DATA PRIBADI

NAMA : MARTUASAH HERMINDO LUMBANTOBING

TMPT /TGL LAHIR : BEKASI / 29 MARET 1983

ALAMAT : PERUM GRIYA RIATUR INDAH BLOK C NO. 33 MEDAN

INSTANSI : POLRI

JABATAN : KAPOLSEK MEDAN BARU

AGAMA : KRISTEN

SUKU / BANGSA : BATAK / INDONESIA E-MAIL : [email protected] II. LATAR BELAKANG PENDIDIKAN

1. PENDIDIKAN TINGGI

a. D3 : AKADEMI KEPOLISIAN (2004)

b. S1 : SARJANA ILMU KEPOLISIAN STIK-PTIK (2012) c. S2 : PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM,

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA, MEDAN (2019)

(12)

DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

TANGGAL UJIAN ... iv

PERNYATAAN ORISINALITAS ... v

PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... xi

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xviii

DAFTAR GAMBAR ... xix

BAB I : PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 13

C. Tujuan Penelitian ... 14

D. Manfaat Penelitian ... 14

E. Keaslian Penelitian ... 15

F. Kerangka Teori dan Konsep ... 17

1. Kerangka Teori ... 17

a. Teori Pembuktian ... 17

b. Teori Sistem Hukum ... 25

2. Kerangka Konsep ... 27

G. Metode Penelitian ... 31

1. Jenis Penelitian ... 31

2. Sifat Penelitian ... 32

3. Pendekatan Penelitian ... 33

4. Sumber Data ... 35

5. Teknik Pengumpulan Data ... 36

6. Analisis Data ... 37

BAB II : PENGATURAN HUKUM ACARA PIDANA DALAM PROSES PENGAMBILAN DATA ELEKTRONIK YANG DIGUNAKAN SEBAGAI ALAT BUKTI ... 39

A. Tindak Pidana ... 39

1. Pengertian Tindak Pidana ... 39

2. Unsur-Unsur Tindak Pidana ... 42

3. Jenis Tindak Pidana ... 44

4. Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Tindak Pidana ... 45

(13)

B. Pembuktian Dalam Hukum Acara Pidana ... 46

1. Barang Bukti Yang Digunakan Dalam Acara Pidana di Indonesia ... 47

2. Alat Bukti Dalam Hukum Acara Pidana ... 50

3. Pembuktian Perkara Pembunuhan Berdasarkan Data Elektronik Sebagai Alat Bukti ... 57

C. Gambaran dan Pemanfaatan Alat Berteknologi Tinggi Untuk Mengungkap Tindak Pidana ... 65

1. Gambaran Alat Berteknologi Tinggi ... 65

a. Alsus Direction Finder ... 65

b. Cellebrite UFED 4PC ... 70

2. Pemanfaatan Alat Berteknologi Tinggi ... 74

a. Pemanfaatan Alsus Direction Finder ... 74

b. Pemanfaatan Cellebrite UFED 4PC ... 75

3. Teknis Pengunaan Alat Berteknologi Tinggi Untuk Mengungkap Tindak Pidana ... 80

4. Pihak Yang Terlibat Dalam Penggunaan Alat Berteknologi Tinggi Untuk Mengungkap Tindak Pidana ... 88

D. Penggunaan Alat Berteknologi Tinggi Untuk Mengumpulkan Barang Bukti Sebagai Pemenuhan Alat Bukti Terhadap Tindak Pidana Berdasarkan Perluasan Alat Bukti Sesuai Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik ... 89

BAB III : PROSEDUR PENGGUNAAN TEKNOLOGI DALAM PROSES PENYELIDIKAN & PENYIDIKAN KASUS PEMBUNUHAN BERENCANA ... 94

A. Penyelidikan dan Penyidikan Tindak Pidana ... 94

1. Penerimaan Laporan Polisi ... 96

2. Melakukan Penyelidikan ... 98

3. Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) .... 99

4. Upaya Paksa ... 100

5. Pemeriksaan ... 101

6. Gelar Perkara ... 102

7. Penyelesaian Berkas Perkara ... 102

8. Penghentian Penyidikan ... 104

9. Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) ... 106

10. Pelimpahan Berkas Perkara Berikut Tersangka dan Barang Bukti Kepada Kejaksaan Negeri Medan ... 108

B. Penggunaan Alat Berteknologi Tinggi dan Software Pendukungnya Dalam Penyelidikan dan Penyidikan Tindak Pidana ... 108

1. i2 Analyst Notebook ... 110

(14)

2. Mapinfo Professional ... 111

C. Investigasi Kejahatan Menggunakan Jaringan GSM ... 114

1. Arsitektur GSM ... 114

2. Data Elektronik Sebagai Barang Bukti Digital ... 116

a. Mobile Station (MS) ... 116

b. Data Operator Telekomunikasi ... 118

D. Penggunaan Alat Berteknologi Tinggi Dalam Penyelidikan dan Penyidikan Tindak Pidana Pembunuhan Berencana (Pasal 340 KUH.Pidana) ... 122

E. Penyidikan Satreskrim Polrestabes Medan Dalam Mengungkap Tindak Pidana Pembunuhan Berencana Dengan Menggunakan Instrumen Pengambilan Data Elektronik Sebagai Alat Bukti ... 127

1. Laporan Polisi No. LP/04/K/I/2017/SU/Polrestabes Medan/Sek.Medan Barat/Reskrim, tertanggal 18 Januari 2017 ... 128

a. Tindak Pidana Turut Serta Atau Turut Membantu Melakukan Pembunuhan Berencana ... 128

b. Unsur-Unsur “Tindak Pidana Turut Serta Atau Turut Membantu Melakukan Pembunuhan Berencana” ... 129

2. Pembuktian Unsur Pasal Yang Dipersangkakan Berdasarkan Penyelidikan dan Penyidikan Satreskrim Polrestabes Medan ... 130

a. Unsur “Barang Siapa” ... 130

b. Unsur “Dengan Sengaja” ... 131

c. Unsur “Menyuruh Melakukan” ... 136

d. Unsur “Orang Yang Dengan Pemberian Atau Perjanjian, Sengaja Membujuk Untuk Melakukan Sesuatu Perbuatan” ... 141

e. Unsur “Membantu Melakukan” ... 146

f. Unsur “Dengan Direncanakan Terlebih Dahulu” ... 150

g. Unsur “Menghilangkan Jiwa Orang Lain” ... 156

3. Analisis Penyidikan Satreskrim Polrestabes Medan Dalam Mengungkap Tindak Pidana Pembunuhan Berencana Dengan Menggunakan Instrumen Pengambilan Data Elektronik Sebagai Alat Bukti ... 160

BAB IV : HAMBATAN PENYIDIK DALAM PENGGUNAAN TEKNOLOGI DALAM PROSES PENYELIDIKAN & PENYIDIKAN KASUS PEMBUNUHAN BERENCANA DITINJAU DARI PERSPEKTIF SISTEM HUKUM ... 163

A. Hambatan Substansi Hukum Dalam Penggunaan Teknologi Dalam Proses Penyelidikan dan Penyidikan Kasus Pembunuhan ... 163

1. KUHAP Tidak Mengenal Bukti Elektronik ... 163

(15)

2. Alat Bukti Dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 2008

tentang Informasi dan Transaksi Elektronik ... 164

a. Terakomodirnya Alat Bukti Berupa Informasi Yang Diucapkan, Dikirimkan, dan Diterima Atau Disimpan Secara Elektronik Atau Yang Serupa Dengan Itu ... 164

b. Bukti Elektronik Sebagai Bukti Petunjuk ... 167

B. Hambatan Struktur Hukum Dalam Penggunaan Teknologi Dalam Proses Penyelidikan dan Penyidikan Kasus Pembunuhan ... 169

1. Dukungan Personil ... 169

a. Kuantitas ... 169

b. Kualitas ... 172

2. Dukungan Anggaran ... 174

3. Dukungan Sarana dan Prasarana ... 176

C. Hambatan Budaya Hukum Dalam Penggunaan Teknologi Dalam Proses Penyelidikan dan Penyidikan Kasus Pembunuhan ... 177

1. Penggunaan Bukti Elektronik Membutuhkan Keterangan Ahli ... 177

2. Kurangnya Pemahaman dan Penguasaan Penyidik di Bidang Teknologi Informasi ... 177

3. Kurangnya Koordinasi Antar Instansi ... 178

BAB V : KESIMPULAN & SARAN ... 179

A. Kesimpulan ... 179

B. Saran ... 182

DAFTAR PUSTAKA ... 184

(16)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Penelitian Terdahulu ... 16 Tabel 2. Perbandingan Kemampuan UFED 4PC Ultimate dan UFED 4PC

Logical ... 76 Tabel 3. Tujuan dan Prinsip-Prinsip Peraturan Kepala Kepolisian RI No. 14

Tahun 2012 tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana dan Peraturan Kepala Bareskrim Polri No. 3 Tahun 2014 tentang Standar Operasional Prosedur Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana ... 94 Tabel 4. Perbedaan Laporan dan Pengaduan ... 97 Tabel 5. Rekapitulasi Personil Riil Sat.Reskrim Polrestabes Medan

Berdasarkan Struktur Organisasi ... 171 Tabel 6. Rekapitulasi Personil Riil Sat.Reskrim Polrestabes Medan

Berdasarkan Kepangkatan ... 171 Tabel 7. Anggaran Polrestabes Medan Tahun 2016 s.d. 2018 ... 174

(17)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Alat Berteknologi Tinggi Yang Bernama DF (Direction Finder) .... 67

Gambar 2. Pemasangan Alat Alsus DF (Direction Finder) Pada Kendaraan Bermotor Demi Kepentingan Mobilitas ... 70

Gambar 3. Cellebrite UFED Touch2 ... 72

Gambar 4. Cellebrite UFED 4PC ... 73

Gambar 5. Cara Kerja Handphone Pada Base Transceiver Station (BTS) ... 75

Gambar 6. Cara Kerja Alat Berteknologi Tinggi ... 83

Gambar 7. Contoh Chart Analysist Menggunakan Software i2 Analyst Notebook ... 110

Gambar 8. Contoh Penampakan Mapinfo Professional ... 111

Gambar 9. Arsitektur GSM ... 113

Gambar 10.Log Data ... 117

Gambar 11.Contoh Data CDR ... 120

Gambar 12.Contoh Pemetaan MS Berdasarkan BTS Cell ... 121

Gambar 13.Struktur Organisasi Polrestabes Medan ... 169

(18)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan teknologi ternyata tidak hanya membawa dampak positif bagi masyarakat. Sebagai contoh, teknologi internet bisa memberikan pengaruh negatif bagi para pemakainya. Melalui media internet beberapa jenis tindak pidana semakin mudah untuk dilakukan, seperti : pencemaran nama baik, pornografi, pembobolan rekening, perusakan jaringan, penyerangan melalui virus, dan termasuk perjudian online.1 Selain digunakan untuk kejahatan, teknologi juga dapat digunakan untuk mengungkap kejahatan itu sendiri.

Pengungkapan kejahatan adalah salah satu tugas pokok Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam rangka penegakan hukum, yaitu : penyelidikan dan penyidikan tindak pidana.2 Pada dasarnya penyelidikan dan penyidikan tindak pidana adalah untuk mengumpulkan alat bukti guna membuat terang peristiwa yang terjadi dan menemukan pelakunya. Bukti-bukti yang dikumpulkan tersebut pada akhirnya akan mengarah kepada salah seorang pelaku. Jika, tindak kejahatan dilakukan dengan sangat rapi dan sulit untuk menemukan bukti-buktinya, maka teknologi dapat digunakan untuk membantu Polri dalam mengungkap tindak pidana.

1 Iqbal Ramadhan Satria Prawira, “Penegakan Hukum Judi Online Yang Dilakukan Satreskrim Polrestabes Medan Berdasarkan Penerapan KUHP dan Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik”, Tesis, Program Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan, 2018, hlm. 1.

2 Pasal 14 ayat (1) huruf g. Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.

(19)

Penegakan hukum adalah pekerjaan dari Polri, dapat disebutkan bahwa polisi sebagai hukum yang hidup. Melalui posisi itulah polisi mempunyai tanggungjawab untuk mengamankan dan melindungi masyarakat. Pelaksanaan hukum di dalam masyarakat selain tergantung pada kesadaran hukum masyarakat juga sangat banyak ditentukan oleh aparat penegak hukum, oleh karena sering terjadi beberapa peraturan hukum tidak dapat terlaksana dengan baik oleh karena itu, ada beberapa oknum penegak hukum yang tidak melaksanakan suatau keterangan hukum sebagaimana mestinya.3

Penegakan hukum oleh pihak berwenang wajib memperhatikan asas hukum dalam Pasal 1 KUHP yang menyatakan : “Tiada suatu perbuatan yang boleh dihukum melainkan atas kekuatan aturan pidana dalam undang-undang yang terdahulu dari perbuatan itu”. Ketentuan tersebut memuat asas yang tercakup dalam rumusan :

“Nullum delictum, nulla poena sine praevia lege punali”. Asas “nullum delictum” ini memuat pengertian bahwa suatu perbuatan yang dilakukan tanpa ada Undang-Undang yang sebelumnya telah mengatur tentang perbuatan itu tidak dapat dipidana.4

Indonesia merupakan negara yang menempatkan hukum sebagai sarana untuk mengatur kehidupan bermasyarakat, bernegara dan berbangsa yang berwujud peraturan perundang-undangan melalui aparatur negara. Upaya penegakan hukum harus terus dilakukan untuk menanggulangi segala bentuk kejahatan. Meskipun kebijakan hukum yang ditempuh selama ini masih terus dikaji dan disesuaikan

3 Sanyoto, “Penegakan Hukum di Indonesia”, Jurnal Dinamika, Vol. 8 No. 3, Purwokerto, Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Jawa Tengah.

4 R. Abdoel Djamali, Pengantar Hukum Indonesia, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1984), hlm. 179.

(20)

dengan tindak pidana yang terus berkembang baik cara maupun sarana yang digunakan. Komponen-komponen yang terdapat dalam sistem hukum harus dijalankan secara baik dan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

Sebagai suatu proses yang bersifat sistemik, maka penegakan hukum pidana menampakkan diri sebagai penerapan hukum pidana (“criminal law application”) yang melibatkan pelbagai sub sistem struktural berupa aparat kepolisian, kejaksaan, pengadilan dan pemasyarakatan. Termasuk di dalamnya tentu saja lembaga penasehat hukum.5 Dalam hal ini penerapan hukum haruslah dipandang dari 3 (tiga) dimensi6 :

1. “Penerapan hukum dipandang sebagai sistem normatif (“normative system”) yaitu penerapan keseluruhan aturan hukum yang menggambarkan nilai-nilai sosial yang didukung oleh sanksi pidana.

2. Penerapan hukum dipandang sebagai sistem administratif (“administrative system”) yang mencakup interaksi antara pelbagai aparatur penegak hukum yang merupakan sub sistem peradilan diatas.

3. Penerapan hukum pidana merupakan sistem sosial (“social system”), dalam arti bahwa dalam mendefinisikan tindak pidana harus pula diperhitungkan pelbagai perspektif pemikiran yang ada dalam lapisan masyarakat. Sehubungan dengan pelbagai dimensi di atas dapat dikatakan bahwa sebenarnya hasil penerapan hukum pidana harus menggambarkan keseluruhan hasil interaksi antara hukum, praktek administratif dan pelaku sosial”.

Pada sebuah proses penyelesaian perkara pidana, haruslah dicari suatu kebenaran materiil. Pencarian kebenaran materiil ini tentunya harus melalui suatu proses pembuktian, suatu proses yang paling penting dalam hukum acara pidana.

Hukum acara pidana dalam bidang pembuktian mengenal adanya barang bukti dan alat bukti, dimana keduanya diperlukan dalam persidangan untuk membuktikan tindak pidana yang didakwakan terhadap terdakwa.

5 Muladi, Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana, (Semarang : Undip Press, 1995).

6 Ibid.

(21)

Barang bukti atau “corpus delicti” adalah benda-benda yang tersangkut dalam suatu tindak pidana.7 Sedangkan, alat bukti yang sah untuk diajukan di depan persidangan, sebagaimana diatur dalam Pasal 184 KUHAP adalah :

1. “Keterangan Saksi;

2. Keterangan Ahli;

3. Surat;

4. Petunjuk;

5. Keterangan Terdakwa”.

Penggunaan teknologi canggih untuk mengumpulkan alat-alat bukti yang sah dalam mengungkap tindak pidana adalah sesuai dengan Grand Strategi Polri (2005 – 2025). Grand Strategi Polri dirumuskan dalam 3 (tiga) tahapan yang mencerminkan upaya Polri secara gradual, yaitu8 :

1. “Tahap I : Trust Building (2005 - 2010). Keberhasilan Polri dalam menjalankan tugas memerlukan dukungan masyarakat dengan landasan kepercayaan (trust).

2. Tahap II : Partnership Building (2011 - 2015). Merupakan kelanjutan dari tahap pertama, di mana perlu dibangun kerjasama yang erat dengan berbagai pihak yang terkait dengan pekerjaan Polri.

3. Tahap III : Service For Excellence (2016 - 2025). Membangun kemampuan pelayanan publik yang unggul dan dipercaya masyarakat”.

Dengan demikian, penggunaan teknologi canggih guna membantu Polri dalam penegakan hukum adalah agar kebutuhan masyarakat akan pelayanan Polri yang optimal dapat diwujudkan. Di dalam tahapan Grand Strategi Polri tersebut, saat ini pada tahun 2019 sudah memasuki Tahap ke-3 : Service For Excellence (2016 – 2025). Penggunaan teknologi canggih untuk mengungkap tindak pidana tersebut,

7 Ratna Nurul Afiah, Barang Bukti Dalam Proses Pidana, (Jakarta : Sinar Grafika, 1989), hlm. 14.

8 Grand Strategi Polri (2005 – 2025) tertuang dalam Surat Keputusan Kapolri No. Pol.

Skep/360/VI/2005 tentang Grand Strategi Kepolisian Republik Indonesia 2005-2025.

(22)

berdasarkan tahapan Grand Strategi Polri adalah bertujuan untuk membangun kemampuan pelayanan publik yang unggul dan dipercaya masyarakat.

Service for excellence kepada masyarakat dapat dicapai melalui upaya-upaya membangun citra Polri, yaitu9 :

1. “Membangun citra Polri di masyarakat khususnya citra service for excellence memotivasi Polisi untuk berubah menuju profesionalisme dan kemandirian yang tangguh. Polisi perlu terus menerus memperbaiki pelayanannya menuju kepada pengakuan oleh masyarakat bahwa Polisi mempunyai mekanisme perbaikan pelayanan yang terus-menerus.

2. Pengakuan masyarakat tidak saja standar pelayanan yang harus ditingkatkan tetapi juga terhadap nilai-nilai yang menyertai profesionalisme itu sendiri, yaitu :

a. Keunggulan (Excellence Oriented) : Orientasi pada prestasi, dedikasi, kejujuran, dan kreatifitas proaktif berbasis kinerja.

b. Integritas (Integrite) : Orientasi pada komitmen, menjunjung tinggi nilai-nilai moral profesi.

c. Akuntabilitas (Acountable) : Berorientasi pada sistem yang dapat ditelusuri jauhnya yang logis dan dapat diaudit mulai dari tingkat individu sampai institusi Polri.

d. Transparansi : Orientasi pada keterbukaan, kepercayaan menghargai keragaman dan perbedaan serta tidak diskriminatif.

e. Kualifikasi (Qualified) mempunyai dasar pengetahuan dan pengakuan.

f. Berbasis teknologi dan pengetahuan (Technology and Knowledge Based) : Semaksimal mungkin dalam menggunakan pengetahuan pada semua tingkat anggota Polri sesuai dengan tuntutan tugasnya.

g. Memecahkan masalah (Problem Solver) : Fokus pada memecahkan masalah, mengambil keputusan yang sistematis, memperkecil permainan politik organisasi.

3. Dengan semakin kuatnya nilai-nilai di atas, maka baik dari sisi Polri maupun dari sisi publik akan menghindari terjadinya pungli dan korupsi, serta terhadap peluang-peluang kepentingan yang kuat dari pribadi-pribadi yang berlangsung saat ini. Nilai-nilai di atas akan menguat sebagai suatu paradigma baru yang memperhatikan kaidah-kaidah kemandirian, keterbukaan dan profesionalisme dengan menjalin kemitraan dengan

9 Tim Penyusun Mabes Polri, “Grand Strategi Polri 2005-2025 : Surat Keputusan Kepala Kepolisian Negara RI No. Pol. SKEP/360/VI/2005 tertanggal 10 Juni 2005”, Mabes Polri, Jakarta, 2005, hlm. 21-22.

(23)

masyarakat dan batasan pada sistem maupun berdasarkan misi (mission based management)”.

Penggunaan alat berteknologi canggih dalam mengungkap tindak pidana merupakan pelayanan Polri kepada masyarakat yang berbasis teknologi dan pengetahuan (Technology and Knowledge Based). Seluruh kesatuan dan unit di jajaran Polrestabes Medan semaksimal mungkin dalam menggunakan teknologi dan informasi sesuai dengan tuntutan tugasnya. Penggunaan alat berteknologi canggih dalam membantu Satreskrim Polrestabes Medan untuk mengungkap tindak pidana adalah Direct Finder dan Cellebrite UFED 4PC yang merupakan alat digital forensik.

Selanjutnya, terkait dengan penggunaan alat berteknologi canggih dalam membantu Satreskrim Polrestabes Medan untuk mengungkap tindak pidana perlu juga dilaksanakan dengan Profesional, Modern dan Terpercaya, sebagaimana Program Prioritas Promoter. Adapun 11 (sebelas) program tersebut yang dibagi dalam 61 (enam puluh satu) kegiatan terdiri dari 53 (lima puluh tiga) kegiatan ditambah 8 (delapan) quick wins, antara lain10 :

1. “Pemantapan reformasi internal Polri;

1) Peningkatan soliditas internal;

2) Konsisten pembinaan karier berdasarkan merit system dengan rekam jejak;

3) Melaksanakan rekruitmen dengan prinsip bersih, transparan, akuntabel dan humanis (betah);

4) Sistem seleksi Dikbangun Polri yang lebih efisien, efektif, adil, transparan, dan objektif;

5) Membudayakan perilaku anti korupsi;

10 Budi Gunawan, “Tindak Lanjut Penjabaran Program Prioritas dan Kegiatan : Optimalisasi Aksi Menuju Polri Yang Semakin Profesional, Modern, dan Terpercaya Guna Mendukung Terciptanya Indonesia Yang Berdaulat, Mandiri, Berkepribadian Berdasarkan Gotong Royong”, Mabes Polri, Jakarta, 15 Juli 2016, hlm. 8-11.

(24)

2. Peningkatan pelayanan publik yang lebih mudah bagi masyarakat dan berbasis teknologi informasi;

1) Layanan publik yang mudah diakses masyarakat, lebih cepat, bebas calo dan berbasis teknologi informasi;

2) Menyederhanakan regulasi dan proses pada loket-loket pelayanan yang tidak berbelit-belit;

3) Quick Respons;

4) Modernisasi teknologi pendukung pelayanan publik;

3. Penanganan kelompok radikal pro kekerasan dan intoleransi yang lebih optimal;

1) Deteksi dini dan deteksi aksi dalam rangka pemetaan kelompok radikal pro kekerasan dan intoleransi;

2) Membangun daya cegah dan daya tangkal warga;

3) Kerjasama dengan stakeholder;

4) Menintegrasi kegiatan dialogis di kantong-kantong kelompok radikal pro kekerasan dan intoleransi;

5) Penegakan hukum yang optimal;

4. Peningkatan profesionalisme Polri menuju keunggulan;

1) Peningkatan kualitas 8 standar pendidikan Polri;

2) Peningkatan pelatihan fungsi teknis pada satuan kewilayahan;

3) Mengoptimalkan sistem manajemen kinerja;

4) Penyusunan rumpun jabatan fungsional dan sertifikasi profesi;

5) Modernisasi Almatsus dan Alpalkam Polri;

5. Peningkatan kesejahteraan anggota Polri;

1) Peningkatan tunjangan kinerja;

2) Peningkatan pemenuhan perumahan dinas Anggota Polri;

3) Meningkatkan program pelayanan dan fasilitas kesehatan bagi Anggota Polri;

4) Peningkatan tunjangan kemahalan bagi anggota di daerah perbatasan dan Papua;

5) Peningkatan dukungan operasional Bhabinkamtibmas;

6) Mengupayakan program wirausaha bagi Anggota Polri;

7) Dukungan asuransi keselamatan kerja bagi Anggota Polri;

6. Tata kelembagaan, pemenuhan proporsionalitas anggaran dan kebutuhan minimal sarana dan prasarana;

1) Penyederhanaan SOP berbasis Checklist dan hasil;

2) Restrukturisasi SOTK Polri sesuai tantangan tugas, antara lain : Penguatan Densus, Brimob, dan Baharkam;

(25)

3) Pemenuhan proporsionalitas anggaran;

4) Pemenuhan kebutuhan minimal SDM dan Sarpras (DSPP);

5) Pembentukan Polda Kaltara, peningkatan tipologi Polda Lampung dan Riau, serta peningkatan Tipologi Polres;

7. Membangun kesadaran dan partisipasi masyarakat terhadap kamtibmas;

1) Penggelaran personel berseragam pada daerah rawan kejahatan, macet, dan laka lantas;

2) Peningkatan pengamanan perbatasan melalui pembangunan pos-pos pam perbatasan;

3) Penanganan kebakaran hutan dan lahan;

4) Penguatan sinergi polisional dengan TNI, BIN, BNN, BNPT, Basarnas, Bakmla, dan Pemda;

5) Pengamanan Pilkada serentak 2017-2018, serta Pileg dan Pilpres 2019;

6) Pengamanan program prioritas nasional dan paket kebijakan ekonomi pemerintah;

8. Penguatan harkamtibmas;

1) Membangun daya cegah dan daya tangkal terhadap kejahatan terorisme, narkoba, separatisme, dan ideologi anti Pancasila;

2) Pemenuhan 1 Bhabinkamtibmas 1 Desa dan kelurahan secara bertahap;

3) Mendorong pemanfaatan alat-alat pengamanan berbasis teknologi;

4) Penguatan pembinaan teknis Polsus dan Pam Swakarsa, serta Korwas PPNS;

5) Penguatan kerjasama dengan civil society dalam mengidentifikasi masalah sosial dan upaya penyelesaiannya;

9. Penegakan hukum yang lebih profesional dan berkeadilan;

1) Penanganan kasus-kasus yang menjadi perhatian publik meliputi kejahatan jalanan, kejahatan terhadap perempuan dan anak, terorisme, illegal fishing, korupsi, narkoba, cyber crime, dan kejahatan ekonomi lainnya;

2) Menghilangkan pungutan liar, pemerasan dan makelar kasus dalam proses penyidikan;

3) Menghilangkan kecenderungan rekayasa dan berbelit-belit dalam penanganan kasus;

4) Peningkatan kemampuan penyidik cyber crime, ekonomi, dokpol, labfor, dan sertifikasi penyidik;

5) Peningkatan sinergi CJS dan penegak hukum lainnya;

(26)

6) Peningkatan anggaran penyidikan dan modernisasi teknologi peralatan pendukung penyidikan;

7) Penyelesaian perkara mudah dan ringan melalui pendekatan restorative justice;

10. Penguatan pengawasan;

1) Memperkuat kerjasama dengan pengawas eksternal dengan EMI dan IME;

2) Memperbaiki sistem komplain masyarakat secara online;

3) Meningkatkan sistem penilaian Indeks Tata Kelola Kepolisian (ITK);

4) Membuat sistem pengawasan untuk menekan budaya korupsi internal;

11. Quick wins Polri;

1) Penertiban dan penegakan hukum bagi organisasi radikal dan Anti Pancasila;

2) Perburuan dan penangkapan gembong teroris Santoso dan jejaring terorisme;

3) Aksi nasional pembersihan preman dan premanisme;

4) Pembentukan dan pengefektifan Satgas Ops Polri kontra radikal dan deradikalisasi (Khusus ISIS);

5) Memberlakukan rekrutmen terbuka untuk jabatan di lingkungan Polri (Polres, Polda, Mabes Polri);

6) Polisi sebagai penggerak revolusi mental dan pelopor tertib sosial di ruang publik;

7) Pembentukan tim internal anti korupsi (melibatkan unsur publik dan KPK);

8) Crash program pelayanan masyarakat : pelayanan bersih dari percaloan”.

Penyidik Polri sebagai salah satu unsur penegak hukum tindak pidana memerlukan teknik penyelidikan dan penyidikan yang mumpuni untuk mengungkap tindak pidana secara profesional, modern dan terpercaya (Promoter). Adapun tindak pidana yang diangkat dalam penelitian ini untuk dikaji dan dianalisis lebih lanjut adalah terkait dengan tindak pidana pembunuhan berencana yaitu kasus pembunuhan

(27)

berencana terhadap Indra Gunawan Alias Kuna yang ditangani Satreskrim Polrestabes Medan.11

Adapun kronologis tindak pidana pembunuhan berencana tersebut, sebagai berikut :

Siwaji Raja alias RJ alias SR alias Raja Kalimas terduga otak pelaku pembunuhan Indra Gunawan Alias Kuna (45), pemilik toko senjata Kuna Air Riffle

& Airsoft Gun Medan Barat, Kota Medan, Sumatera Utara. Dia dituduh menjadi terduga otak pelaku pembunuh Kuna. Korban tewas ditembak orang tak dikenal pada hari Rabu, tanggal 18 Januari 2017. Tim gabungan Polda Sumut dan Polrestabes Medan menangkap 7 (tujuh) pria yang menjadi terduga pelaku. 2 (dua) orang tewas ditembak karena melakukan perlawanan saat diringkus dan 3 (tiga) pelaku lain ditembak kakinya. Ketujuh pelaku tersebut diduga pembunuh bayaran yang dipesan Siwaji Raja. Untuk menjalankan aksinya, para pelaku dijanjikan akan dibayar Rp. 2,5 miliar. Sebagai uang muka, pemesan menyerahkan uang muka Rp. 50 juta dengan perincian Rp. 20 juta untuk joki dan sisanya untuk eksekutor.12

Menurut keterangan Kapolda Sumut, Inspektur Jenderal Polisi (Irjen.Pol) Dr.

Rycko Amelza Dahniel dalam Harian Tribun Medan, mengatakan hasil pemeriksaan awal komplotan pembunuhan bayaran tersebut sudah dua kali berencana menghabisi Indra Gunawan Alias Kuna. Pembunuhan pertama dilakukan pada tanggal 05 April 2014. Tapi pada pembunuhan tahap pertama mereka salah sasaran, sehingga

11 Laporan Hasil Pelaksanaan Tugas Terhadap Laporan Polisi No.

LP/04/K/I/2017/SU/Polrestabes.Medan/Sek.Medan Barat/Reskrim, tertanggal 18 Januari 2017 tentang dugaan “Tindak Pidana Pembunuhan Berencana”, An. Pelapor Rudy E. Sitohang, S.H.

12 Harian Kompas, “Pra-Peradilan Dikabulkan, Terduga Otak Pelaku Pembunuhan Kuna Kembali Dibebaskan”, diterbitkan pada hari Jumat, tanggal 10 Agustus 2017.

(28)

memukul Wiria, anak buah Kuna. Di lokasi serupa di depan Kuna Airsoft Gun, Jalan Ahmad Yani, Medan dan kelompok serupa menembak Kuna atau penembakan tunggal di lokasi tersebut.13

Direktur Reserse Kriminal Umum (Dir.Krimum), Polda Sumut, Kombes Pol.

Nurfallah menyatakan, motif pembunuhan berencana terhadap Kuna karena adanya dendam pribadi. Jadi Siwaji Raja punya dendam kepada Kuna, sehingga membayar orang untuk membunuh. Ada perkataan yang disampaikan Kuna membuat Siwaji Raja sakit hati, oleh sebab itu menimbulkan kemarahannya. Dalam pembunuhan berencana tersebut, Rawi mendapat mandat sebagai perencanaan atau skenario pembunuhan. Ia juga memberikan tugas kepada Putra, sebagai eksekutor penembakan. Bahkan, sebelum Rawi juga sebagai skenario pemukulan Wiria, anak buah Kuna.14

Selain Siwaji Raja seorang pengusaha tambang yang beroperasi di Jambi sekaligus tokoh agama Hindu Sumatera Utara adalah sebagai dader intelektual di balik kasus pembunuhan Indra Gunawan Alias Kuna. Terdapat 7 (tujuh) tersangka pelaku pembunuhan bayaran tersebut, yaitu15 :

1. “Rawindra Alias Rawi (40 tahun) selaku perencana (skenario pembunuhan);

2. Jo Hendal Alias Zen (41) selaku joki eksekutor (pengendara sepeda motor);

3. Putra selaku eksekutor pembunuhan (penembak Kuna);

4. Chandra Alias Ayen (38) penyimpan senjata api;

5. Jhon Marwan Lubis Alias Ucok (62) penyimpan tiga senjata api;

13 Harian Tribun Medan, “Kejam, Ternyata Pembunuhan Kuna Sang Pengusaha Airsoft Gun Sidah Direncanakan 2014 Silam”, diterbitkan pada hari Senin, tanggal 23 Januari 2017.

14 Ibid.

15 Ibid.

(29)

6. M. Muslim, pemukul kepala Wiria pada percobaan pembunuhan pertama pada tanggal 05 April 2014; dan

7. Wahyudi Alias Culun berperan membantu Muslim melarikan diri”.

Dalam mengungkap kasus pembunuhan tersebut, penyidik Satreskrim Polrestabes Medan telah melakukan analisis mendalam terhadap bukti-bukti pembayaran serta pesanan pihak-pihak tertentu. Sehingga, dapat diketahui beberapa kasus yang dapat dikembangkan dan kasus pembunuhan Kuna dapat diungkapkan.

Penelitian ini akan mengkaji dan menganalisis penggunaan alat berteknologi canggih dalam mengungkap kasus tindak pidana pembunuhan berencana terhadap Indra Gunawan Alias Kuna. Penyelidikan dan penyidikannya dilakukan oleh Satreskrim Polrestabes Medan yang telah berhasil menangkap pelakunya, sehingga dengan analisis digital forensik yang dilakukan akhirnya terungkap otak pelaku yang menyuruh pembunuh bayaran untuk mengeksekusi korban.

Analisis digital forensik dilakukan dengan menggunakan alat berteknologi canggih, yaitu Direct Finder dan Cellebrite UFED 4PC. Direct Finder digunakan untuk melacak otak pembunuhannya, sedangkan Cellebrite UFED 4PC digunakan setelah pelaku ditangkap dan terhadap handphonenya dilakukan kloning untuk dianalisis lebih lanjut. Hingga akhirnya Satreskrim Polrestabes Medan berhasil mengungkap siapa dalang di balik pembunuhan Indra Gunawan Alias Kuna.16

16 Website Resmi Indomiliter.com, “Lacak Keberadaan Musuh Lewat Transmisi, Korps Marinir Operasikan Digital Direction Finder 550”, https://www.indomiliter.com/lacak-keberadaan- musuh-lewat-transmisi-korps-marinir-operasikan-digital-direction-finder/., diakses pada hari Selasa, tanggal 01 Oktober 2019, memberikan penjelasan bahwa : “Direct Finder adalah perangkat mobile yang digelar untuk mendeteksi keberadaan posisi lawan (musuh) lewat pelacakan sumber pancaran gelombang elektromagnetik, termasuk kemampuan untuk mengendus posisi sasaran lewat jaringan seluler yang digunakan.

Cellebrite UFED 4PC adalah alat forensik dari Cellebrite yang memiliki kekuatan yang power full untuk mobile forensik demi menunjang kinerja para penyidik. UFED 4PC tersedia dalam 2

(30)

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka “Analisis Yuridis Penggunaan Teknologi Dalam Proses Penyelidikan Dan Penyidikan Untuk Mengungkap Tindak Pidana Pembunuhan Berencana (Studi Kasus Pembunuhan Berencana Terhadap Indra Gunawan Alias Kuna)”, layak untuk dikaji dan dianalisis lebih lanjut.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, adapun permasalahan yang dapat dirumuskan dalam penelitian ini, sebagai berikut :

1. Bagaimana pengaturan hukum acara pidana dalam proses pengambilan data elektronik yang digunakan sebagai alat bukti?

2. Bagaimana prosedur penggunaan teknologi dalam proses penyelidikan dan penyidikan kasus pembunuhan berencana?

3. Bagaimana hambatan penyidik dalam penggunaan teknologi dalam proses penyelidikan dan penyidikan kasus pembunuhan berencana ditinjau dari perspektif sistem hukum?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini dibuat berdasarkan permasalahan di atas, sebagai berikut :

(dua) versi, yaitu : Ultimate dan Logical. UFED 4PC Ultimate memungkinkan untuk penarikan data secaa Logical dan Physical. Dapat melakukan ekstrak data yang masih utuh maupun yang sudah terhapus dan dapat melakukan password extraction. UFED Physical Analyzer untuk melakukan analisis data dan encoding. UFED 4PC Logical memungkinkan untuk penarikan data secara logical dengan mudah, cepat dan dapat mengekstrak password. UFED Logical Analyzer untuk melakukan analisis dan laporan. Lihat : Cellebrite, “UFED 4PC : The UFED Software-Based Mobile Forensic Solution”, (Jakarta : Cellebrite, 2013), hlm. 2.

(31)

1. Untuk mengkaji dan menganalisis pengaturan hukum acara pidana dalam proses pengambilan data elektronik yang digunakan sebagai alat bukti.

2. Untuk mengkaji dan menganalisis prosedur penggunaan teknologi dalam proses penyelidikan dan penyidikan kasus pembunuhan berencana.

3. Untuk mengkaji dan menganalisis hambatan yang dihadapi penyidik dalam penggunaan teknologi dalam proses penyelidikan dan penyidikan kasus pembunuhan berencana ditinjau dari perspektif sistem hukum.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini dibuat untuk memenuhi persyaratan menyelesaikan studi magister ilmu hukum pada Program Studi Magister Ilmu Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan. Selain itu, penelitian ini juga bermanfaat secara teoritis dan praktis, sebagai berikut :

1. Manfaat Teoritis, sebagai bahan masukan bagi akademisi untuk memperkaya khasanah perpustakaan dan sebagai bahan pertimbangan untuk melanjutkan penelitian mengenai penggunaan alat teknologi tinggi dalam penyelidikan dan penyidikan tindak pidana sebagai pemenuhan alat bukti.

2. Manfaat Praktis, penelitian ini bermanfaat bagi :

a. Pemerintah RI, sebagai bahan pertimbangan dan masukan agar segera membuat atau merevisi Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) untuk memasukkan bukti elektronik supaya dikategorikan sebagai salah satu bukti yang sah.

(32)

b. Satreskrim Polrestabes Medan, sebagai bahan masukan dan pedoman untuk penggunaan alat berteknologi canggih dalam melakukan penyelidikan dan penyidikan tindak pidana.

c. Masyarakat, sebagai informasi bahwa Satreskrim Polrestabes Medan dalam melakukan penyelidikan dan penyidikan tindak pidana telah menggunakan alat berteknologi canggih.

E. Keaslian Penelitian

Menurut data yang didapat dari pemeriksaan dan hasil-hasil judul penelitian yang ada pada Perpustakaan Program Magister Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan pada Perpustakaan Universitas Sumatera Utara, bahwa penelitian yang berjudul : “Analisis Yuridis Penggunaan Teknologi Dalam Proses Penyelidikan Dan Penyidikan Untuk Mengungkap Tindak Pidana Pembunuhan Berencana (Studi Kasus Pembunuhan Berencana Terhadap Indra Gunawan Alias Kuna)”, belum pernah dilakukan. Namun, terdapat beberapa penelitian yang membahas mengenai penyelidikan dan penyidikan akan tetapi permasalahan dan tujuan penelitiannya berbeda, yaitu :

(33)

Tabel 1 Penelitian Terdahulu

No. Judul Penelitian Permasalahan Nama

Mahasiswa

1. Tesis berjudul : KEABSAHAN KONTRAK ELEKTRONIK MENURUT HUKUM DI INDONESIA

- Keabsahan suatu kontrak elektronik (e-contract) berdasarkan hukum di Indonesia;

- Hal-hal yang menjadi penghambat suatu kontrak elektronik dikategorikan sah menurut hukum;

- Kontrak elektronik apakah dapat diterima sebagai alat bukti yang sah menurut hukum di Indonesia, atau tidak.

JUN CAI 992105112/HK

Program Studi Magister Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara,

Medan 2. Tesis berjudul : KONTRAK

DAGANG ELEKTRONIK SEBAGAI KONTRAK INNOMINAT DALAM PERSPEKTIF KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA

- Keabsahan suatu kontrak dagang elektronik innominat;

- Hak dan kewajiban pihak-pihak yang timbul dalam kontrak dagang elektronik;

- Cara pembayaran dalam kontrak dagang elektronik..

REHULINA SITEPU Program Studi Magister Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara,

Medan 3. Tesis berjudul : ANALISIS

YURIDIS OPERASI TANGKAP TANGAN (OTT) DALAM PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI SEBAGAI UPAYA PEMBERANTASAN DAN PENCEGAHAN KORUPSI (STUDI PADA POLRESTABES MEDAN)

- Pengaturan dan prosedur pelaksanaan penyelidikan dan penyidikan Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan Subnit Tipikor Sat.Reskrim Polrestabes Medan;

- Penanganan perkaranya OTT Satreskrim Polrestabes Medan; dan

- Hambatan yang dihadapi penyidik Subnit Tipikor Sat.Reskrim Polrestabes Medan dalam

pelaksanaan penyelidikan dan penyidikan Operasi Tangkap Tangan (OTT).

UCOX PRATUA NUGRAHA 157005197/HK

Program Studi Magister Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara,

Medan

Sumber : Website Resmi Perpustakaan Universitas Sumatera Utara Program Magister Ilmu Hukum, http://repository.usu.ac.id/., diakses pada hari Selasa, tanggal 01 Oktober 2019.

Dapat dilihat pada tabel di atas bahwa permasalahan yang diutarakan pada penelitian ini adalah berbeda dengan penelitian terdahulu, yaitu terkait dengan penggunaan alat bukti elektronik dalam penyelidikan dan penyidikan tindak pidana pembunuhan berencana. Jadi dengan demikian, penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah berdasarkan kajian ilmu pengetahuan hukum dan asas-asas penulisan yang harus dijunjung tinggi yaitu jujur, rasional, objektif serta terbuka. Hal ini merupakan implikasi etis dari proses menemukan kebenaran ilmiah.

(34)

F. Kerangka Teori dan Konsep 1. Kerangka Teori

Dalam penelitian ini pun menggunakan kerangka teori dan konsep dengan bertujuan agar penelitian ini mempunyai dasar yang kokoh. Kerangka teori mempunyai peranan penting dalam hal melakukan penelitian kualitatif.17 Pengetahuan dasar yang kokoh dimaksud yaitu terkait dengan beberapa variabel, yaitu : pengaturan hukum acara pidana dalam proses pengambilan data elektronik yang digunakan sebagai alat bukti; prosedur penggunaan teknologi dalam proses penyelidikan dan penyidikan kasus pembunuhan berencana; dan hambatan yang dihadapi penyidik dalam penggunaan teknologi dalam proses penyelidikan dan penyidikan kasus pembunuhan berencana ditinjau dari perspektif sistem hukum. Oleh karenanya, adapun teori hukum yang digunakan adalah teori pembuktian dan teori sistem hukum.

a. Teori Pembuktian

Pembuktian dalam hukum acara pidana merupakan dasar bagi hakim untuk menarik kesimpulan ataupun menjatuhkan pidana dalam sidang pengadilan dan menyatakan bahwa seorang terdakwa terbukti secara sah atau tidak terbukti dalam melakukan suatu tindak pidana yang didakwakan terhadapnya. Sesuai dengan Pasal 183 KUHAP yang mengatur penjatuhan pidana oleh hakim melalui proses pembuktian disebutkan bahwa :

17 Ronny H. Soemitro, Metodologi Penelitian Hukum, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 1982), hlm.

37.

(35)

“Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya”.

Hukum acara pidana mengenal beberapa macam teori pembuktian yang menjadi pegangan hakim di dalam melakukan pemeriksaan terhadap terdakwa disidang pengadilan. Rusli Muhammad menyebutkan, “Ada beberapa macam teori pembuktian yang menjadi pegangan bagi hakim dalam melakukan pemeriksaan di sidang pengadilan. Teori ini memiliki karakteristik yang berbeda-beda dan menjadi ciri dari masing-masing teori tersebut”.18 Teori pembuktian tersebut antara lain :

1) Teori Pembuktian Berdasarkan Keyakinan Hakim (“Conviction in Time”)

Teori ini lebih memberikan kebebasan kepada hakim untuk menjatuhkan suatu putusan. Tidak ada alat bukti yang dikenal selain alat bukti berupa keyakinan seorang hakim. Artinya, jika dalam pertimbangan putusan hakim telah menganggap terbukti suatu perbuatan sesuai dengan keyakinan yang timbul dari hati nurani, terdakwa yang diajukan kepadanya dapat dijatuhkan putusan.19

Menurut teori ini, sangat memungkinkan bagi seorang hakim untuk mengabaikan hal-hal tertentu jika sekiranya tidak sesuai atau bertentangan dengan keyakinan hakim tersebut. Apabila bukti-bukti lainnya sebagai pendukung pembelaan

18 Rusli Muhammad, Hukum Acara Pidana Kontemporer, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 2007), hlm. 186.

19 Ibid.

(36)

terdakwa itu tidak diakui dan diterima oleh hakim, maka hal ini dapat membuat suatu putusan hakim dianggap tidak adil.

2) Teori Pembuktian Berdasarkan Keyakinan Hakim Atas Alasan Yang Logis (“Conviction Raisonnee”)

Teori ini tetap menggunakan keyakinan hakim, tetapi keyakinan hakim didasarkan pada alasan-alasan (reasoning) yang rasional. Dalam teori ini hakim tidak lagi memiliki kebebasan untuk menentukan keyakinannya. Keyakinannya harus diikuti dengan alasan-alasan yang mendasari keyakinan itu. Alasan tersebut harus reasonable yakni berdasarkan alasan yang dapat diterima oleh akal pikiran.20

Dalam teori ini tidak disebutkan adanya alat-alat bukti yang dapat digunakan dalam menentukan kesalahan terdakwa selain dari keyakinan hakim saja. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa teori ini mirip dengan teori pembuktian conviction intime yakni sama-sama menggunakan keyakinan hakim, perbedaannya hanya terletak pada ada tidaknya alasan yang rasional yang mendasari keyakinan hakim.

Oleh karena itu teori pembuktian dengan alasan yang logis lebih maju dibandingkan teori berdasarkan keyakinan hakim.

3) Teori Pembuktian Berdasarkan Undang-Undang Secara Positif (Positief Wettelijk Berwijstheorie)

Pembuktian menurut teori ini dilakukan dengan menggunakan alat-alat bukti yang sebelumnya telah ditentukan dalam undang-undang. Untuk menentukan ada tidaknya kesalahan seseorang, hakim harus mendasarkan pada alat-alat bukti tersebut di dalam undang-undang. Jika alat-alat bukti tersebut telah terpenuhi, hakim sudah

20 Ibid.

(37)

cukup beralasan untuk menjatuhkan putusannya tanpa harus timbul keyakinan terlebih dahulu atas kebenaran alat-alat bukti yang ada.21

Teori ini sudah menuntut bukti-bukti yang harus dipenuhi sebelum hakim dapat menjatuhkan putusan. Jadi sangat bertentangan dengan teori berdasarkan keyakinan hakim. Teori ini akan lebih mempercepat penyelesaian suatu perkara dan memudahkan hakim dalam membuat keputusan karena bukti-bukti yang kuat akan mengurangi kesalahan dalam menjatuhkan putusan pengadilan.

4) Teori Pembuktian Berdasarkan Undang-Undang Secara Negatif (Negatief Wettelijk Berwijstheorie)

Pembuktian berdasarkan undang-undang secara negatif adalah pembuktian yang selain menggunakan alat-alat bukti yang dicantumkan di dalam undang-undang, juga menggunakan keyakinan hakim. Sekalipun menggunakan keyakinan hakim, namun keyakinan hakim terbatas pada alat bukti yang ditentukan oleh undang- undang.22

Teori pembuktian ini menggunakan kombinasi dalam menjatuhkan putusan.

Jadi apabila alat-alat bukti telah sah dan hakim tersebut mempunyai keyakinan terhadapnya, maka terdakwa dapat diputuskan bersalah dan dijatuhi sangsi pidana.

Membahas tentang sistem pembuktian menurut undang-undang secara negatif, perlu membahas Pasal 183 KUHAP.

Sistem pembuktian yang dianut KUHAP adalah sistem pembuktian menurut undang-undang secara negatif karena kedua syarat yang harus dipenuhi dalam sistem

21 Ibid., hlm. 187.

22 Ibid., hlm. 188.

(38)

pembuktian ini telah tercermin dalam Pasal 183 dan dilengkapi dengan Pasal 184 KUHAP yang menyebutkan alat-alat bukti yang sah. Dalam penjelasan Pasal 183 KUHAP ini telah disebutkan bahwa : “Ketentuan ini adalah untuk menjamin tegaknya kebenaran, keadilan, dan kepastian hukum bagi seseorang”.

Bila ada alat bukti selain yang telah ditentukan oleh undang-undang di luar KUHAP tersebut, maka akan digolongkan sebagai tambahan jenis alat bukti hukum yang sah dari jenis alat-alat bukti yang sah sebagaimana telah ditentukan dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP. Oleh karena itu perlu adanya perluasan alat bukti di Indonesia khususnya dalam penggunaan data elektronik dan informasi elektronik dalam pembutkian tindak pidana pembunuhan berencana.

UU ITE telah memperluas atau menambahkan jenis alat bukti hukum yang baru dengan menyatakan bahwa informasi dan/atau dokumen elektronik dan/atau hasil cetaknya diakui sebagai alat bukti yang sah dalam persidangan. Barang-barang bukti seperti perangkat elektronik maupun catatan elektronik baik berupa bukti transaksi uang melalui rekening bank ke pemilik situs perjudian, kepemilikan ID dan situs perjudian yang dikunjungi, SMS, BBM (Blackberry Messenger), e-mail, komputer, handphone, modem dan akses-akses elektronik lainnya yang bermuatan perjudian sudah dianggap sebagai barang bukti kejahatan.

Dengan dikeluarkannya UU ITE, yang memperluas pengertian alat bukti sebagaimana diatur dalam Pasal 184 KUHAP sebelumnya, UU ITE telah mengakomodir mengenai alat bukti elektronik yang dapat dipakai dalam hukum acara di Indonesia. Ada 2 (dua) hal penting di dalam UU ITE mengenai pembuktian tindak pidana perjudian online diantaranya adalah :

(39)

1) Barang bukti digital (digital evidence) pada Pasal 1 angka 1 dan angka 4 UU ITE, bahwa :

Pasal 1 angka 1 :

“Informasi Elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, electronic data interchange (EDI), surat elektronik (electronic mail), telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol, atau perforasi yang telah diolah yang memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang”.

Pasal 1 angka 4 :

“Dokumen Elektronik adalah setiap Informasi Elektronik yang dibuat, diteruskan, dikirimkan, diterima, atau disimpan dalam bentuk analog, digital, elektromagnetik, optikal, atau sejenisnya, yang dapat dilihat, ditampilkan, dan/atau didengar melalui Komputer atau Sistem Elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol atau perforasi yang memiliki makna atau arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya”.

2) Alat bukti elektronik yang dapat dipakai dalam hukum acara di Indonesia terdapat pada Pasal 5 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) UU ITE, bahwa : (1) “Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dan/atau hasil

cetaknya merupakan alat bukti hukum yang sah.

(2) Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dan/atau hasil cetaknya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan perluasan dari alat bukti yang sah sesuai dengan Hukum Acara yangberlaku di Indonesia.

(3) Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dinyatakan sah apabila menggunakan Sistem Elektronik sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang ini”.

Sedangkan untuk pembuktian dalam UU ITE melibatkan penyidikan khususnya pada Pasal 43 ayat (5) huruf e yang berbunyi :

(40)

“Melakukan pemeriksaan terhadap alat dan/atau sarana yang berkaitan dengan kejahatan Teknologi Informasi yang diduga digunakan untuk melakukan tindak pidana berdasarkan Undang- Undang ini”.

Kehadiran Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, akan memberikan manfaat, beberapa diantaranya23 :

1) “Menjamin kepastian hukum bagi masyarakat yang melakukan transaksi secara elektronik;

2) Mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia;

3) Sebagai salah satu upaya untuk mencegah terjadinya kejahatan berbasis teknologi informasi;

4) Melindungi masyarakat pengguna jasa dengan memanfaatkan teknologi informasi”.

Sejatinya “pidana” hanyalah sebuah “alat” yaitu alat untuk mencapai tujuan penindakan. Menurut Subekti dan Tjitrosoedibio dalam bukunya kamus hukum,

“pidana” adalah “hukuman”. Pada hakekatnya sejarah hukum pidana adalah sejarah dari pidana dan pemidanaan yang senantiasa mempunyai hubungan erat dengan masalah tindak pidana).24

Dalam teori hukum pidana terdapat unsur-unsur tindak pidana, yaitu unsur subjektif dan unsur objektif. Unsur subjektif adalah unsur yang berasal dari dalam diri pelaku, yaitu kesengajaan dan kealpaan. Sementara itu unsur objektif adalah unsur yang berasal dari luar diri pelaku, yang terdiri atas perbuatan manusia, akibat perbuatan manusia, keadaan-keadaan, sifat dapat dihukum dan sifat melawan hukum. Semua unsur tindak pidana tersebut merupakan satu kesatuan. Jika salah satu

23 Damang, “Urgensi Transaksi Elektronik Dalam UU ITE”, http://www.negarahukum.com/hukum/urgensi-transaksi-eektronik-dalam-uu-ite.html., diakses pada hari Selasa, tanggal 01 Oktober 2019.

24 Ermina Martha, Perempuan dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga di Indonesia dan Malaysia, (Yogyakarta : FH UII Press, 2012), hlm. 55.

(41)

unsur saja tidak terbukti, maka bisa menyebabkan terdakwa dibebaskan oleh pengadilan.25

Adapun Pasal yang mengatur mengenai hal-hal yang dapat menghapuskan, mengurangi pidana dalam Pasal 44 KUHP, bahwa :

1) “Barang siapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggungkan kepadanya karena jiwanya cacat dalam pertumbuhan atau terganggu karena penyakit, tidak dipidana;

2) Jika ternyata perbuatan itu tidak dapat dipertanggungkan kepada pelakunya karena pertumbuhan jiwanya cacat atau terganggu karena penyakit, maka hakim dapat memerintahkan supaya orang itu dimasukkan ke rumah sakit jiwa, paling lama satu tahun sebagai waktu percobaan;

3) Ketentuan dalam ayat (2) hanya berlaku bagi Mahkamah Agung, Pengadilan Tinggi, dan Pengadilan Negeri. Selain unsur-unsur tindak pidana, dalam teori hukum terdapat juga syarat-syarat pemidanaan”.

Jika dikaitkan dengan tindak pidana pembunuhan berencana yang dirancang dengan sangat rapi dan sangat minim barang bukti, maka dibutuhkan pembuktian dengan menggunakan data elektronik sebagai alat bukti digital. Penelitian ini khusus membahas mengenai prosedur penyelidikan dan penyidikan tindak pidana pembunuhan berencana dengan menggunakan pembuktian berdasarkan data elektronik dan digital evidence.

b. Teori Sistem Hukum

Menurut Lawrence M. Friedman, bahwa : “Hukum dapat berjalan, manakala terdapat 3 (tiga) unsur yang merupakan sistem hukum yang sudah berfungsi”.26 Adapun unsur-unsur hukum tersebut, terdiri dari27 :

25 Sudarto, Hukum Pidana Jilid I-II, (Purwokerto : Fakultas Hukum, 1990), hlm. 50.

Gambar

Tabel 1  Penelitian Terdahulu
Gambar 3  Cellebrite UFED Touch2
Gambar 4  Cellebrite UFED 4PC
Gambar 9  Arsitektur GSM
+3

Referensi

Dokumen terkait

yang besangkutan dengan judul, “ Faktor-Faktor Pendukung Proses Pembelajaran dan Pengaruhnya Terhadap Prestasi Belajar Siswa MIN Banta-bantaeng Kota Makassar” , memandang

Untuk mewujudkan berbagai sasaran dan sesuai dengan amanat GBHN, kebijaksanaan pembangunan perumahan dan permukiman dalam Repelita VI meliputi penyelenggaraan

Sudana (1984) melaporkan bahwa pemberian pakan tambahan pada pakan dasar rumput lapangan, yang tersusun dari beberapa bahan sebagai sumber protein dan energi,

Fokus yang harus ditingkatkan dalam integrasi transportasi antarmoda di bandar udara antara lain perluasan fasilitas pendaftaran calon penumpang pesawat udara sebelum

Dari penelitian diperoleh data bahwa pandangan tokoh masyarakat tentang larangan kawin karena hamil di luar nikah ini adalah aturan yang telah disepakati bersama di

Tipe 5 adalah strategi fokus nilai terbaik (best-value focus) yang menawarkan produk atau jasa kepada sejumlah kecil konsumen dengan nilai harga terbaik yang

Penelitian dan penyusunan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Teknologi Pertanian dari Jurusan/Program Studi Ilmu dan Teknologi

Berdasarkan grafik 3.8 dapat diketahui bahwa pada Tahun 2015 di Kabupaten Magelang jumlah kematian anak balita laki-laki dan perempuan sebanyak 24 anak balita.