• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI SISWA PADA MATERI PENGELOLAAN BISNIS RITEL

Betti Sumartini 1

Jurnal Inovasi Pembelajaran Karakter (JIPK) Vol. 5, No. 2, Mei – Agustus 2020

ISSN 2541-0393 (Media Online) 2541-0385 (Media Cetak )

PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI SISWA PADA MATERI PENGELOLAAN BISNIS RITEL

Betti Sumartini

SMK Negeri 40 Jakarta, Provinsi DKI Jakarta [email protected]

*Diterima Mei 2020, disetujui Juni 2020, dipublikasikan Agustus 2020 Abstrak

Rendahnya kompetensi siswa pada mata pelajaran pengelolaan bisnis ritel yang pada semester ganjil mendorong peneliti untuk melakukan perbaikan melalui penelitian tindakan kelas. Pada tahap awal peneliti melakukan tes pra siklus untuk mengetahui kondisi siswa sebelum dilakukan penelitian. Berdasarkan hal peneliti menerapkan model Discovery Learning untuk meningkatkan hasil belajar siswa terhadap mata pelajaran pengelolaan bisnis ritel. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus, setiap siklus dalam penelitian meliputi empat langkah yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, refleksi. Teknik pengumpulan data penelitian ini menggunakan tes evaluasi dengan alat pedoman penilaian untuk mengukur kompetensi kognitif dan observasi dengan alat pedoman observasi yang bertujuan untuk mengukur peningkatan kompetensi afektif. Hasil penelitian siklus I menunjukkan adanya peningkatan kompetensi siswa baik kognitif maupun afektifnya. Namun demikian, masih ada siswa yang belum tuntas sehingga dilanjutkan siklus II. Hasil penelitian siklus II menujukkan peningkatan yang signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa model Discovery Learning dapat meningkatkan kompetensi siswa pada materi pengelolaan bisnis ritel.

© 2020 Jurnal Inovasi Pembelajaran Karakter Kata Kunci: Kompetensi Siswa; Model Discovery Learning; Pengelolaan Bisnis Ritel.

PENDAHULUAN

Pembelajaran pengelolaan bisnis ritel yang dikembangkan pada SMK Program Keahlian Bisnis Daring dan Pemasaran wajib diikuti oleh siswa yang memilih Program keahlian tersebut. Dalam kegiatan pembelajaran siswa dibekali dengan pengetahuan yang mendasar tentang pengelolaan bisnis ritel dengan tujuan agar siswa mempunyai pengetahuan tentang bagaimana menata dagangan dan ramah terhadap konsumen, pengetahuan tentang menghitung biaya pemasukan dan pengeluaran, demikian juga tentang pemasukan dan pengeluaran barang sampai dengan pembukuan.

Program bisnis ritel yang dihadirkan di sekolah berbentuk mini market sebagai wahana praktik siswa yang bertujuan meningkatkan keterampilan siswa di dalam dunia retail pada kenyataannya belum mampu menampung seluruh siswa untuk melakukan praktik. Belajar bisnis retail di sekolah dengan mewujudkan minimarket di sekolah masih memerlukan pengaturan pengelolaan yang baik agar siswa secara merata dapat tertampung praktik di bisnis center ini. Oleh karena itu, pada umumnya mata pelajaran pengelolaan bisnis ritel ini dikembangkan oleh suatu perusahaan yang bekerja sama dengan pihak sekolah. Pengembangan ini dijadikan laboratorium di sekolah yang bertujuan untuk

(2)

Jurnal Inovasi Pembelajaran Karakter (JIPK) Volume 5 Nomor 2, Mei – Agustus 2020

2

PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI SISWA PADA MATERI PENGELOLAAN BISNIS RITEL

Betti Sumartini

memotivasi siswa agar dapat belajar di dunia kerja sebelum para siswa terjun praktik secara nyata ke industri.

Kehadiran mini market ke sekolah yang merupakan katup dari belajar praktik industri bagi siswa menjadi suatu kesempatan yang baik bagi siswa untuk mengaplikasikan ilmu (pengetahuan akademiknya) tentang mata pelajaran pengelolaan bisnis ritel. Namun, banyak siswa yang masih belum menguasai materi tersebut sehingga hasil belajar siswa rendah. Kenyataannya, belum semua siswa mampu meraih hasil belajar dengan baik. Nilai rata-rata yang dicapai siswa melalui tes pra siklus hanya 73 dengan ketuntasan belajar mencapai 37%.

Nana Sudjana (2009) mendefinisikan hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi rendahnya hasil belajar siswa.

Sugihartono, dkk. (2007), menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar, sebagai berikut: (1) Faktor internal adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. Faktor internal meliputi: faktor jasmaniah dan faktor psikologis; (2) Faktor eksternal adalah faktor yang ada di luar individu. Faktor eksternal meliputi: faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat.

Pada penelitian ini faktor yang mempengaruhi rendahnya hasil belajar pengelolaan bisnis ritel yang dicapai oleh siswa karena mereka mengalami kesulitan dalam membuat perhitungan keluar masuk uang dan membuat pembukuannya. Kesulitan ini dirasakan oleh siswa karena kurangnya waktu untuk pembelajaran praktik di sekolah mengingat kapasitas laboratorium praktik (bisnis center) hanya terbatas. Siswa yang akan berpraktik harus menunggu jadwal agar bisa ditampung untuk berlatih tentang bisnis ritel tersebut. Jumlah kelas pada program keahlian Bisnis daring dan pemasaran cukup banyak yakni 35 orang. Agar siswa dapat secara merata mengikuti praktik pengelolaan bisnis ritel siswa dibagi menjadi kelompok, di mana setiap kelompok diatur berdasarkan jadwal untuk mengikuti praktik di tempat Bisnis Center di sekolah.

Melihat kondisi demikian peneliti selaku guru merasa termotivasi untuk melakukan perbaikan pembelajaran melalui penelitian ini dengan cara menerapkan model pembelajaran yang tepat untuk materi pengelolaan bisnis ritel. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk meningkatkan kompetensi siswa pada materi bisnis ritel. Menurut Wiandari (2012), pembelajaran yang baik haruslah disesuaikan oleh dengan karakteristik peserta didik sehingga materi yang disampaikan akan lebih mudah ditangkap. Oleh karena itu, peneliti memilih model Discovery Learning untuk mencapai tujuan penelitian.

Discovery Learning atau model pembelajaran penemuan menurut Sund adalah proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan sesuatu konsep atau prinsip. Proses mental tersebut ialah mengamati, mencerna, mengerti, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan, dan sebagainya (Roestiyah, 2001).

Pemilihan model Discovery Learning dilandasi oleh kajian pustaka dari Tupliyah (2015) dan Rosarina (2016). Tupliyah (2015) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa dengan mengaplikasikan metode Discovery Learning secara berulang-ulang dapat meningkatkan kemampuan penemuan diri individu yang bersangkutan. Rosarina (2016), dalam hasil temuan dan pembahasan penelitiannya juga menyatakan bahwa model Discovery Learning dapat dijadikan alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

Adapun manfaat penelitian ini bagi guru yaitu sebagai wahana pembelajaran untuk memperbaiki sistem pembelajaran menuju yang lebih bermutu, khususnya mata pelajaran pengelolaan bisnis ritel. Bagi siswa penelitian ini bermanfaat untuk meningkatkan hasil belajar siswa terfasilitasi dan dibimbing untuk meningkatkan prestasi yang lebih tinggi. Bagi sekolah, dapat memberikan sumbangan berupa perbaikan proses pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa yang dapat berpengaruh terhadap mutu alumni.

(3)

Jurnal Inovasi Pembelajaran Karakter (JIPK) Volume 5 Nomor 2, Mei – Agustus 2020

PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI SISWA PADA MATERI PENGELOLAAN BISNIS RITEL

Betti Sumartini 3

METODE PENELITIAN 1. Setting Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 40 Jakarta pada semester ganjil tahun pelajaran 2018/2019. Waktu penelitian mulai dari perencanaan sampai dengan penulisan laporan hasil penelitian ini dimulai dari bulan Juli s.d Desember tahun 2018.

2. Subjek Penelitian

Subjek penelitian yaitu siswa kelas XI.PM yang berjumlah 35 orang. Kelas itu dijadikan subjek penelitian karena rata-rata hasil belajar hanya 73 dan ketuntasan belajar 37%.

3. Prosedur Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan selama dua siklus. Setiap siklus terdiri atas empat tahap, yaitu: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi.

Pada tahap perencanaan peneliti menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran atau RPP yang sesuai dengan kurikulum 2013 dengan langkah pembelajaran dirancang sesuai dengan model pembelajaran yang dipilih untuk mengatasi permasalahan yang terjadi.

Tahap pelaksanaan tindakan untuk siklus I dan II dilaksanakan sesuai dengan RPP yang dibuat, dengan sintak model Discovery Learning sesuai yang dipaparkan oleh Syah (2004), yaitu: (1) Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan), (2) Problem statement (pernyataan/ identifikasi masalah), (3) Data collection (pengumpulan data), (4) Data processing (pengolahan data), (5) Verification (pembuktian), (6) Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi).

Observasi dilakukan terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan pedoman observasi yang telah dibuat. Observasi dilakukan selama pembelajaran berlangsung. Observasi dilakukan untuk menilai apakah pembelajaran berjalan sesuai dengan harapan.

Refleksi dilakukan di setiap akhir siklus. Hasil pada tahap ini dijadikan acuan untuk mengevaluasi pembelajaran siklus yang telah terlaksana kemudian merancang perbaikan yang akan diterapkan pada siklus berikutnya. Kekurangan yang terjadi pada siklus sebelumnya dikaji lebih lanjut dan diperbaiki pada siklus selanjutnya. Dengan adanya perbaikan, diharapkan terjadi peningkatan yang signifikan pada hasil setiap siklus.

4. Variabel Penelitian

Ada dua variabel dalam penelitian ini, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Yang menjadi variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran Discovery Learning yang dipilih untuk meningkatkan kompetensi siswa. Variabel terikat dalam penelitian ini kompetensi kognitif dan afektif siswa dalam pembelajaran pengelolaan bisnis ritel.

5. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data penelitian ini menggunakan teknik tes dan nontes. Tes evaluasi dilakukan di akhir setiap siklus yang dilaksanakan untuk mengukur kompetensi kognitif siswa dalam pembelajaran pengelolaan bisnis ritel melalui model Discovery Learning. Teknik nontes yang digunakan yaitu observasi yang bertujuan untuk mengukur peningkatan kompetensi afektif siswa dalam pembelajaran.

6. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pedoman penilaian tes tertulis dan pedoman observasi. Pedoman penilaian berisi cara guru menilai siswa dalam tes tertulis. Dalam pedoman observasi hal-hal yang dijadikan pengamatan, meliputi: a) kesiapan, b) keaktifan, c) keseriusan, d) respon, dan e) keantusiasan siswa selama mengikuti pembelajaran.

7. Analisis Data

Data dari hasil penelitian secara sistematis dianalisis menggunakan teknik kuantitatif berupa perhitungan dan kualitatif berupa uraian. Dari hasil analisis kemudian ditarik suatu kesimpulan umum, baik secara narasi maupun dalam bentuk grafik.

(4)

Jurnal Inovasi Pembelajaran Karakter (JIPK) Volume 5 Nomor 2, Mei – Agustus 2020

4

PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI SISWA PADA MATERI PENGELOLAAN BISNIS RITEL

Betti Sumartini

8. Indikator Kinerja

Dengan menerapkan model pembelajaran Discovery Learning pada materi pengelolaan bisnis ritel diharapkan kompetensi afektif siswa dikategorikan baik dan nilai rata-rata kelas mencapai 85 dengan persentase ketuntasan 100%. Adapun KKM pelajaran ini yaitu 75.

HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Hasil Penelitian

Siklus I

Pelaksanaan penelitian tindakan kelas siklus I telah dilaksanakan dan pada bagian ini disajikan hasil yang dicapai pada siklus I. Jika dibandingkan hasil yang dicapai pada saat pembelajaran belum menerapkan model Discovery Learning, terjadi peningkatan pada pembelajaran siklus I. Hasil siklus I dapat disajikan dalam gambar tabel berikut ini.

Tabel 1. Hasil Tes Siklus I

Nilai Jumlah Siswa Persentase Keterangan

< 75 6 17% Belum Tuntas

≥ 75 29 83% Tuntas

Rata-rata Kelas 82,3 Nilai Tertinggi 87 Nilai Terendah 70

Grafik 1. Persentase Ketuntasan Siklus I

Penerapan model pembelajaran Discovery Learning dalam pembelajaran pengelolaan bisnis ritel telah menunjukkan peningkatan dibandingkan hasil pembelajaran sebelum menerapkan model tersebut. Terbukti dari 35 siswa sebanyak 29 atau 83% siswa pada siklus I memperoleh nilai di atas KKM dengan katagori tuntas, sedangkan sebanyak 6 atau 17% siswa mendapat nilai di bawah KKM dengan katagori belum tuntas. Adapun nilai rata-rata kelas memperoleh angka 82,3 dengan nilai tertinggi 87 dan nilai terendah 70. Hasil tersebut tentu belum mencapai indikator kinerja penelitian ini, karena ketuntasan belum mencapai 100%.

Meskipun siklus I menunjukan hasil yang lumayan, tetapi masih ada siswa yang dikategorikan belum tuntas. Dari pengamatan peneliti hal tersebut terjadi karena keaktifan mereka masih rendah.

Ketika guru menjelaskan materi mereka terlihat bosan sehingga mengalihkan perhatian dengan cara mengobrol dengan teman sebangku. Mereka juga belum terbiasa belajar secara berkelompok karena sudah terbiasa belajar secara individu. Ketika ada kesulitan mereka masih enggan untuk bertanya kepada teman ataupun guru. Selain itu, siswa masih enggan mencari referensi jawaban dari sumber lain seperti internet. Mereka hanya mengandalkan paparan materi dari guru dan buku paket dari sekolah. Oleh karena itu, penelitian ini dilanjutkan ke siklus II.

0%

10%

20%

30%

40%

50%

60%

70%

80%

90%

Persentase 83%

17%

Tuntas Tidak tuntas

(5)

Jurnal Inovasi Pembelajaran Karakter (JIPK) Volume 5 Nomor 2, Mei – Agustus 2020

PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI SISWA PADA MATERI PENGELOLAAN BISNIS RITEL

Betti Sumartini 5

Siklus II

Pelaksanaan pembelajaran bisnis ritel dengan menerapkan model pembelajaran Discovery Learning pada siklus II terbukti mampu meningkatkan kompetensi siswa dengan maksimal. Adapun hasil yang dicapai pada siklus II adalah sebagai berikut.

Tabel 2. Hasil Tes Siklus II

Nilai Jumlah Siswa Persentase Keterangan

< 75 0 0% Belum Tuntas

≥ 75 35 100% Tuntas

Rata-rata Kelas 85 Nilai Tertinggi 90 Nilai Terendah 79

Grafik 2. Persentase Ketuntasan Siklus I

Peningkatan hasil tes siswa pada siklus II memperoleh nilai yang lebih baik dibandingkan siklus sebelumnya. Adapun hasil tes yang diperoleh siswa pada siklus II adalah sebanyak 35 siswa (100 %) atau seluruh siswa telah memperoleh nilai di atas KKM dengan katagori tuntas dan tidak ada yang masuk dalam kategori belum tuntas. Nilai rata-rata pada siklus II ini adalah 85 dengan nilai tertinggi 90 dan terendah 79.

Dengan dilakukan refleksi secara maksimal dari pembelajaran sebelumnya maka pada siklus II terjadi peningkatan hasil belajar yang signifikan. Peningkatan hasil belajar tersebut berbanding lurus dengan aktivitas siswa yang tinggi selama mengikuti pembelajaran. Berdasarkan hasil pengamatan, terlihat siswa tertarik dengan cara guru menyampaikan materi. Mereka tidak malu bertanya ketika ada kesulitan. Iklim diskusi dan bekerja sama berjalan dengan baik. Mereka juga lebih semangat dalam mencari jawaban dari sumber lain. Dengan demikian, penelitian tindakan kelas ini berhenti sampai siklus II dan dinyatakan berhasil.

2. Pembahasan

Dari data hasil tes siswa kelas XI.PM. yang menjadi subjek dalam penelitian ini, pada siklus II telah menunjukkan hasil yang baik dan memuaskan. Siswa telah menunjukkan kemampuan dengan baik sehingga pada siklus II hasil belajar yang dicapai terjadi peningkatan yang signifikan. Berikut rekapitulasi hasil tes setiap siklus.

Tabel 3. Hasil Tes Setiap Siklus

No. Kriteria Jenis Tindakan Ket.

Kondisi Awal Siklus I Siklus II

1. Rata-rata Nilai 73 82,3 85 Meningkat

2. Ketuntasan Belajar 37% 83 % 100 % Meningkat

3. Siswa belum Tuntas 63% 17% 0% Menurun

0%

20%

40%

60%

80%

100%

Persentase 100%

0%

Tuntas Tidak tuntas

(6)

Jurnal Inovasi Pembelajaran Karakter (JIPK) Volume 5 Nomor 2, Mei – Agustus 2020

6

PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI SISWA PADA MATERI PENGELOLAAN BISNIS RITEL

Betti Sumartini

Data Peningkatan aktivitas belajar siswa dari kondisi awal hingga tindakan siklus II dapat disajikan ke dalam diagram berikut ini

Grafik 3. Hasil Setiap Siklus

Pelaksanaan penelitian tindakan kelas terhadap pembelajaran bisnis ritel dengan menggunakan model Discorey Learning yang dilaksanakan di kelas XI.PM. Semester Ganjil SMK Negeri 40 Jakarta telah menunjukkan peningkatan yang signifikan. Peningkatan tersebut terjadi pada siklus I dan siklus II.

Hasil belajar pada siklus I telah menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan kondisi awal sebelum diterapkan Discovery Learning pada pembelajaran pengelolaan bisnis ritel. Proses pembelajaran berjalan tidak seperti biasanya yang hanya mengandalkan siswa menyimak materi dari guru dari awal sampai akhir kemudian siswa diberi tugas untuk menjawab beberapa pertanyaan. Pada pembelajaran siklus I guru hanya berperan sebagai fasilitator dan menerangkan materi yang dianggap perlu saja. Siswa dilatih untuk memecahkan masalah secara berkelompok dengan cara saling bertanya jawab dan mencari referensi jawaban dari sumber lain selain buku paket sekolah.

Dengan penerapan pembelajaran yang tidak seperti biasa terjadi peningkatan pada kompetensi siswa baik pada aspek kognitif maupun afektifnya. Peningkatan kompetensi pada aspek kognitif dibuktikan dari hasil tes siklus I. Pada siklus ini dari 35 siswa sebanyak 29 atau 83% siswa pada siklus I memperoleh nilai di atas KKM dengan katagori tuntas, sedangkan sebanyak 6 atau 17% siswa mendapat nilai di bawah KKM dengan katagori belum tuntas. Adapun nilai rata-rata kelas memperoleh angka 82,3. Hasil tersebut tentu belum mencapai indikator kinerja penelitian ini, karena ketuntasan belum mencapai 100%.

Selain itu, pada aspek afektif menunjukkan adanya peningkatan perilaku siswa. Ketika awal pembelajaran mereka terlihat antusias. Namun, ketika guru mulai menjelaskan materi mereka terlihat bosan sehingga mengalihkan perhatian dengan cara mengobrol dengan teman sebangku. Mereka juga belum terbiasa belajar secara berkelompok karena sudah terbiasa belajar secara individu. Ketika ada kesulitan mereka masih enggan untuk bertanya kepada teman ataupun guru. Selain itu, siswa masih enggan mencari referensi jawaban dari sumber lain seperti internet. Mereka hanya mengandalkan paparan materi dari guru dan buku paket dari sekolah.

Melihat hasil yang demikian peneliti melakukan refleksi. Hasil refleksi pada siklus I menunjukkan bahwa kendala yang dialami siswa maupun guru terjadi karena ketika menjelaskan materi guru masih menggunakan metode lama, yaitu metode ceramah tanpa menggunakan bantuan media apapun sehingga siswa terlihat bosan. Motivasi dari guru agar siswa lebih semangat juga kurang. Oleh karena itu, peneliti melakukan perbaikan di siklus II.

Pelaksanaan pembelajaran di siklus II sama seperti pembelajaran siklus I. Namun, pada siklus II peneliti menyampaikan materi dengan bantuan media power point yang dibuat oleh peneliti dengan

0 20 40 60 80 100

Rata-rata Persentase Tuntas

Persentase belum tuntas 73

37

63

82,3 83

17 85

100

0

Prasiklus Siklus I Siklus II

(7)

Jurnal Inovasi Pembelajaran Karakter (JIPK) Volume 5 Nomor 2, Mei – Agustus 2020

PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI SISWA PADA MATERI PENGELOLAAN BISNIS RITEL

Betti Sumartini 7

dengan desain yang menarik. Guru juga selalu memotivasi siswa untuk belajar dengan semangat.

Hasilnya, kompetensi siswa pada aspek kognitif meningkat secara signifikan. Seluruh siswa yang berjumlah 35 mendapat nilai di atas KKM dengan nilai rat-rata 85 sehingga dinyatakan 100% siswa dikategorikan tuntas.

Hasil tes kognitif tersebut tentu berbanding lurus dengan hasil observasi peneliti terhadap perilaku siswa. Mereka terlihat semangat ketika mengikuti pembelajaran dari awal sampai akhir.

Dengan adanya pengawasan dari guru, diskusi berjalan lancar. Ketika ada sesuatu yang sulit, mereka berani bertanya kepada teman satu kelompok atau guru. Dengan demikian, penelitian ini dinyatakan berhasil. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Discovery Learning mampu meningkatkan kompetensi siswa baik aspek kognitif maupun afektif pada materi pengelolaan bisnis ritel.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Sofiyanti (2016) yang berjudul Peningkatan Kreativitas Bermain Musik Ansambel dengan Metode Discovery Learning, menjelaskan bahwa penerapan model Discovery Learning dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran.

Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Nugrahaeni (2017) yang berjudul Penerapan Model Pembelajaran Discovery Learning untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Kimia. Hasil penelitian Nugrahaeni (2017) menjelaskan bahwa penerapan pembelajaran dengan menggunakan model Discovery Learning terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa dan keterampilan berpikir kritis siswa.

Namun, ada perbedaan antara penelitian Sofiyanti (2016) dan Nugrahaeni (2017) dengan penelitian ini. Perbedaannya, dalam penelitian Sofiyanti dan Nugrahaeni pelaksanaan pembelajaran siklus I dan siklus II dibuat sama, tidak ada perbedaan. Peningkatan hasil belajar setiap siklus dipengaruhi oleh pembiasaan proses pembelajaran dengan model Discovery Learning. Dalam penelitian ini setelah dilakukan refleksi pada pelaksanaan siklus I, peneliti memperbaiki pada siklus II dengan cara menggunakan media pembelajaran berupa power point dengan desain menarik yang dapat membuat siswa lebih semangat untuk mengikuti pembelajaran sehingga kompetensi kognitif dan afektif siswa pada materi pengelolaan bisnis ritel meningkat secara signifikan.

SIMPULAN

Berdasarkan analisis data hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa model Discovery Learning dapat meningkatkan kompetensi kognitif siswa pada materi pengelolaan bisnis ritel. Pembelajaran dengan model Discovery Learning juga dapat meningkatkan kompetensi afektif siswa dalam mengikuti pembelajaran, yang meliputi: kesiapan siswa, keaktifan bertanya, aktivitas diskusi, dan keseriusan siswa. Keberhasilan penerapan model Discovery Learning ini didukung dengan penggunaan media pembelajaran berupa power point yang didesain dengan menarik sehingga dapat membuat siswa lebih semangat untuk mengikuti pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Nana, Sudjana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Nugrahaeni, Amallia. 2017. Penerapan Model Pembelajaran Discovery Learning untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Kimia. Jurnal Pendidikan Kimia Indonesia. Vol. 1, No. 1.

https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/

Roestiyah. 2001. Strategi Belajar Mengajar dalam CBSA. Jakarta: Rineka Cipta.

Rosarina, Gina. 2016. Penerapan Model Discovery Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Materi Perubahan Wujud Benda. Jurnal Pena Ilmiah. Vol. 1, No. 1.

https://ejournal.upi.edu/index.php/penailmiah/article/view/3043.

Sofiyanti, Erlin. 2016. Peningkatan Kreativitas Bermain Musik Ansambel dengan Metode Discovery Learning.

Jurnal Dinamika. Vol. 6, No. 3. http://i-rpp.com/index.php/

(8)

Jurnal Inovasi Pembelajaran Karakter (JIPK) Volume 5 Nomor 2, Mei – Agustus 2020

8

PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI SISWA PADA MATERI PENGELOLAAN BISNIS RITEL

Betti Sumartini

Sugihartono, dkk. 2007. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.

Syah. 2004. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Tupliyah. 2015. Peningkatan Kemampuan Menghitung Luas Segitiga melalui Model Discovery Learning. Jurnal

Penelitian Tindakan Kelas. Vol. 16, No. 3. http://i-

rpp.com/index.php/didaktikum/article/view/281/282.

Wiandari, Dyah. 2012. Peningkatan Kemampuan Menyebutkan Organisasi Pemerintah Tingkat Pusat pada Mapel PKn melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD. Dinamika.Vol. 3, No. 2, http://i- rpp.com/index.php/dinamika/article/view/31.

Gambar

Tabel 1. Hasil Tes Siklus I
Grafik 2. Persentase Ketuntasan Siklus I
Grafik 3. Hasil Setiap Siklus

Referensi

Dokumen terkait

jawab para pegawai yang dijalankan dengan baik dan rincian tugas yang disesuaikan dengan jabatan masing- masing dapat diterapkan secara optimal; (b) Tanggung

Cuaca merupakan bentuk awal yang dihubungkan dengan penafsiran dan pengertian akan kondisi fisik udara sesaat pada suatu yang dihubungkan dengan penafsiran dan pengertian akan

disolusi lansoprazol pada media asam menunjukan adanya perbedaan profil disolusi mikrokapsul salut enterik lansoprazol menggunakan penyalut Acryl-eze &amp; Sureteric,

Kepala Sub Bagian Keuangan dan Perlengkapan Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah V Jayapura BA.01/BPJ /BMKG-16 5-2-2016 Eselon IV.b 61.. KEPALA BADAN

Teori Arsitektur: 1) Arsitektur ialah struktur dari elemen-elemennya, yang dikatagorikan dalam aspek Fungsi-bentuk-makna. 2) Aspek Fungsi berupa kegiatan atau kumpulan

Penelitian ini selaras dengan Oktavianda and Iqbal (2018), Wibowo (2013), dan Koesmono (2005) yang menyatakan bahwa motivasi kerja berpengaruh terhadap peningkatan

Keinginan pihak STAIN Pekalongan untuk adanya kelas yang concern mengkaji studi hadis akhirnya tidak bisa terlaksana, karena minimnya peminat pada Prodi Ilmu

Selat Nasik di Pulau Belitung memiliki ekosistem mangrove yang relative masih baik, penelitian difokuskan pada Identifikasi Jenis dan Dominansi jenis mangrove