• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN KINERJA STASIUN KIPM YOGYAKARTA TA 2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "LAPORAN KINERJA STASIUN KIPM YOGYAKARTA TA 2020"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Yogyakarta Jalan Kenanga No 26 Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta 55282

Telepon (0274)489390, Email [email protected]

LAPORAN KINERJA

STASIUN KIPM YOGYAKARTA

TA 2020

(2)

• • •

Laporan Kinerja Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Yogyakarta Tahun 2020 disusun sebagai wujud pertanggungjawaban Stasiun KIPM Yogyakarta dalam pelaksanaan program dan kegiatan untuk mencapai target kinerja yang ditetapkan. Di dalam laporan ini diuraikan evaluasi capaian kinerja dan realisasi anggaran terkait pelaksanaan program dan kegiatan selama tahun 2020.

Laporan Kinerja Stasiun KIPM Yogyakarta disusun dengan mengacu pada capaian kinerja Stasiun KIPM Yogyakarta Tahun 2020. Pengelolaan kinerja dilaksanakan berdasarkan pendekatan Balanced Scorecard (BSc). Secara umum, dalam Tahun 2020 semua target sasaran strategis dan target kinerja yang telah berhasil dicapai.

Kami menyadari bahwa di dalam laporan ini sangat mungkin terdapat kekurangan-kekurangan, masukan dan saran yang membangun kami harapkan untuk penyempurnaan laporan ini di masa mendatang. Kami mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan laporan ini.

Semoga Laporan Kinerja Stasiun KIPM Yogyakarta ini dapat memberikan manfaat untuk kita semua.

Yogyakarta, 19 Juli 2021 Kepala Stasiun KIPM Yogyakarta,

Hafit Rahman, S.Pi., M.P.

KATA PENGANTAR

LAPORAN KINERJA

STASIUN KIPM YOGYAKARTA

TA 2020

(3)

• • •

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang 1.2 Tujuan

1.3 Kedudukan, Tugas dan Fungsi 1.4 Sistematika Penyajian

II. PERENCANAAN KINERJA 2.1 Visi dan Misi

2.2 Sasaran, Indikator dan Target Kinerja III. AKUNTABILITAS KINERJA

3.1 Capaian Kinerja 3.2 Analisis dan Evaluasi 3.3 Realisasi Anggaran IV. PENUTUP

4.1 Kesimpulan 4.2 Rekomendasi

i ii iii iv 1 1 2 2 6 7 7

8 11 11 14 37 39 39 39

(4)

• • •

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Tabel 3.1 Tabel 3.2 Tabel 3.3 Tabel 3.4 Tabel 3.5

Tabel 3.6

Tabel 3.7 Tabel 3.8 Tabel 3.9 Tabel 3.10

Indikator Kinerja Stasiun KIPM Yogyakarta Tahun 2020-2024 Capaian Kinerja Stasiun KIPM Yogyakarta Tahun 2020 Capaian Sasaran Strategis 1 Tahun 2020

Sertifikasi Ekspor Tahun 2020 Stasiun KIPM Yogyakarta Capaian Sasaran Strategis 2 Tahun 2020

Persentase pencegahan penyebaran PIK Stasiun KIPM Yogyakarta

Data Impor, Ekspor dan Domestik Keluar Jenis Ikan yang Dilarang, Dilindungi dan Dibatasi

Capaian Sasaran Strategis 3 Tahun 2020 Capaian Sasaran Strategis 4 Tahun 2020 Capaian Sasaran Strategis 5 Tahun 2020 Realisasi Penyerapan Anggaran Tahun 2020

9 12 15 15 17 18

20

20 31 34 38

(5)

• • •

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Gambar 1.2 Gambar 2.1 Gambar 3.1 Gambar 3.2

Gambar 3.3 Gambar 3.4

Gambar 3.5

Gambar 3.6 Gambar 3.7

Gambar 3.8 Gambar 3.9 Gambar 3.10 Gambar 3.11 Gambar 3.12

Wilayah Kerja Stasiun KIPM Yogyakarta Struktur Organisasi Stasiun KIPM Yogyakarta

Peta Strategis Stasiun KIPM Yogyakarta Tahun 2020 Hasil Pengukuran Kinerja pada aplikasi Kinerjaku KKP Infografis Lalu Lintas Ekspor Stasiun KIPM Yogyakarta Tahun 2020

Infografis Sertifikasi CKIB Stasiun KIPM Yogyakarta Tahun 2020 Infografis Monitoring Ikan dan Surveilan Penjaminan Mutu Perikanan Domestik Tahun 2020

Infografis Sertifikasi HACCP Stasiun KIPM Yogyakarta Tahun 2020

Infografis Sebaran Ikan Invansif di DIY dan sekitarnya Infografis Penambahan Ruang Lingkup Pengujian Tahun 2020

Infografis Penyebaran PIK Tahun 2020

Tangkapan Layar Aplikasi e-Pelanggaran Tahun 2020 Hasil Penilaian IP ASN Tahun 2020

Hasil Penilaian IKPA Tahun 2020 pada aplikasi OM SPAN Tangkapan Layar Aplikasi SIDAK yang Menunjukkan Jumlah Rekomendasi Itjen yang Telah ditindaklanjuti

3 5 8 12 16

23 24

26

28 29

30 33 35 37 37

(6)

I. PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Pembangunan karantina ikan, pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan mempunyai peranan strategis dalam pembangunan kelautan dan perikanan dalam mendukung sektor kelautan dan perikanan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi nasional. Institusi karantina ikan, pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan merupakan ujung tombak pembangunan usaha kelautan dan perikanan di lini terdepan sebagai instrumen perlindungan sumberdaya hayati perikanan dan akses perdagangan bagi produk perikanan. Peranan strategis karantina ikan, mutu dan keamanan hasil perikanan diwujudkan dalam melindungi kelestarian sumberdaya perikanan dari ancaman hama penyakit ikan berbahaya, menjamin kesehatan, mutu dan keamanan hasil perikanan serta mengendalikan impor hasil perikanan berbasis scientific barrier sesuai ketentuan peraturan perkarantinaan ikan, mutu dan keamanan hasil perikanan. Arah pembangunan karantina ikan, pengendalian mutu, dan keamanan hasil perikanan adalah untuk meningkatkan sistem perkarantinaan ikan,mutu dan keamanan hasil perikanan yang mampu menjawab setiap tantangan dan tuntutan masyarakat terhadap produk perikanan yang berkualitas dan pelayanan yang prima sehingga diharapkan memperoleh kepercayaan dari masyarakat sebagai pelaksanaan kepemerintahan yang baik.

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2015 tentang Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 42/PERMEN-KP/2019 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kelautan dan Perikanan, Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) merupakan salah satu unit eselon I Kementerian Kelautan dan Perikanan yang mempunyai tugas menyelenggarakan perkarantinaan ikan, pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan, serta keamanan hayati ikan. Dalam melaksanakan tugas tersebut, BKIPM didukung oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) BKIPM di seluruh Indonesia, termasuk Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Yogyakarta (Stasiun KIPM Yogyakarta) sebagai UPT BKIPM yang berkedudukan di Daerah Istimewa Yogyakarta sesuai dengan ketentuan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 54/PERMEN-KP/2017 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan. Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Yogyakarta sebagai Unit Pelaksana Teknis BKIPM, dalam melaksanakan tugas tersebut dituntut untuk melaksanakan tugas dengan

(7)

mengedepankan asas prudent, transparan, akuntabel, efektif dan efisien sesuai dengan prinsip- prinsip dalam pelaksanaan sistem good governance, sebagaimana dimaksud dalam Undang- Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang penyelengaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.

Asas akuntabilitas dalam penerapan good governance menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan penyelengara negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan undang-undang yang berlaku. Untuk mewujudkan akuntabilitas tersebut, Stasiun KIPM Yogyakarta perlu melaksanakan penyusunan Laporan Kinerja (LKj) sesuai dengan Peraturan Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan NOMOR 62/PER-BKIPM/2018 tentang Pedoman Pengelolaan Kinerja Organisasi di Lingkungan Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan.

Laporan kinerja disusun sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban Stasiun KIPM Yogyakarta dalam melaksanakan tugas dan fungsi organisasi selama tahun 2020, sekaligus sebagai alat kendali dan pemacu peningkatan kinerja dan sarana untuk mendapatkan masukan dari stakeholders demi perbaikan kinerja Stasiun KIPM Yogyakarta. Selain untuk memenuhi prinsip akuntabilitas, Laporan Kinerja juga merupakan amanat Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah dan Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah.

1.2 TUJUAN

Laporan Kinerja Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Yogyakarta (LKj Stasiun KIPM Yogyakarta) Tahun 2020 ini disusun sebagai bagian dari bentuk pertanggungjawaban terhadap pelaksanaan tugas dan fungsi Stasiun KIPM Yogyakarta pada Tahun 2020 dan sebagai bahan informasi internal serta sebagai bahan evaluasi dan perencanaan kinerja di masa mendatang.

(8)

1.3 KEDUDUKAN, TUGAS DAN FUNGSI

Stasiun KIPM Yogyakarta merupakan Unit Pelaksana Teknis pelayanan operasional karantina ikan, pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan BKIPM yang secara struktural berada di bawah organisasi Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Wilayah kerja Stasiun KIPM Yogyakarta tertuang di dalam Permen KP 54/PERMEN-KP/2017 yaitu meliputi seluruh Kabupaten Kota di DIY (Kab. Sleman, Kab. Bantul, Kab. Kulon Progo, Kab. Gunungkidul dan Kota Yogyakarta) dan Kabupaten Kota di Jawa Tengah bagian selatan (Kab. Magelang, Kota Magelang, Kab. Cilacap, Kab. Kebumen, Kab. Purworejo, Kota Surakarta, Kab. Sukoharjo, Kab.

Klaten dan Kab. Wonogiri). Untuk pengawasan di wilayah Cilacap, Stasiun KIPM Yogyakarta memiliki 1 (satu) Kantor Wilayah Kerja (Wilker) Cilacap yang bertugas mengawasi lalu lintas produk perikanan masuk dan keluar wilayah kerja.

Terkait gambaran wilayah kerja Stasiun KIPM Yogyakarta dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 1.1. Wilayah Kerja Stasiun KIPM Yogyakarta

Stasiun KIPM Yogyakarta mempunyai tugas melaksanakan pencegahan masuk dan tersebarnya Hama dan Penyakit Ikan Karantina (HPIK) dari luar negeri dan dari suatu area ke area lain di dalam negeri, atau keluarnya dari dalam wilayah Negara Republik Indonesia, pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan, penerapan sistem manajemen mutu, dan

(9)

pengawasan keamanan hayati ikan. Dalam melaksanakan tugas tersebut, Stasiun KIPM Yogyakarta menyelenggarakan fungsi:

a. Pelaksanaan pencegahan masuk dan tersebarnya HPIK dari luar negeri dan dari suatu area ke area lain di dalam negeri, atau keluarnya dari dalam wilayah Negara Republik Indonesia;

b. Pelaksanaan pencegahan keluar dan tersebarnya Hama Penyakit Ikan (HPI) tertentu dari wilayah Negara Republik Indonesia yang dipersyaratkan Negara tujuan;

c. Pelaksanaan tindakan karantina terhadap media pembawa Hama dan Penyakit Ikan Karantina/Hama dan Penyakit Ikan tertentu, jenis ikan dilindungi, dilarang, dibatasi, dan invasif, serta benda lain;

d. Pelaksanaan pengujian terhadap Hama dan Penyakit Ikan Karantina, Hama dan Penyakit Ikan tertentu, mutu dan keamanan hasil perikanan, dan keamanan hayati ikan;

e. Pelaksanaan sertifikasi kesehatan ikan, sertifikasi mutu dan keamanan hasil perikanan, dan sertifikasi keamanan hayati (biosecurity);

f. Pelaksanaan pengelolaan dan pelayanan laboratorium dan instalasi;

g. Pelaksanaan pembuatan koleksi media pembawa, Hama dan Penyakit Ikan Karantina dan/atau Hama dan Penyakit Ikan tertentu;

h. Pelaksanaan pemantauan terhadap Hama dan Penyakit Ikan Karantina, mutu dan keamanan hasil perikanan, dan keamanan hayati ikan;

i. Pelaksanaan pengawasan terhadap Hama dan Penyakit Ikan Karantina dan keamanan hayati ikan;

j. Pelaksanaan surveilans terhadap Hama dan Penyakit Ikan Karantina dan keamanan hayati ikan;

k. Pelaksanaan inspeksi, verifikasi, surveilans, audit, dan pengambilan contoh ikan dan hasil perikanan di Unit Pengolahan Ikan dalam rangka sertifikasi penerapan program manajemen mutu terpadu;

l. Penerapan sistem manajemen mutu pelayanan operasional dan laboratorium;

m. Penindakan pelanggaran perkarantinaan ikan, pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan, dan keamanan hayati ikan;

n. Pengumpulan, pengolahan data dan informasi perkarantinaan ikan, pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan, dan keamanan hayati ikan; dan

o. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga.

Sebagai sebuah organisasi, Stasiun KIPM Yogyakarta memiliki susunan organisasi dalam bentuk Struktur Organisasi yang dipimpin oleh seorang Kepala sebagai berikut:

(10)

a. Urusan Tata Usaha;

b. Subseksi Tata Pelayanan;

c. Subseksi Pengawasan, Pengendalian dan Informasi;

d. Kelompok Jabatan Fungsional.

Gambar 1.2. Struktur Organisasi Stasiun KIPM Yogyakarta

Uraian tugas dari masing-masing bagian organisasi Stasiun KIPM Yogyakarta antara lain:

a. Urusan Tata Usaha mempunyai tugas melaksanakan urusan tata usaha dan rumah tangga;

b. Subseksi Tata Pelayanan mempunyai tugas melakukan pencegahan masuk, tersebarnya Hama dan Penyakit Ikan Karantina, dan keluarnya Hama dan Penyakit Ikan tertentu yang dipersyaratkan negara tujuan melalui tindakan karantina, pengujian terhadap Hama dan Penyakit Ikan Karantina, Hama dan Penyakit Ikan tertentu, mutu dan keamanan hasil perikanan, dan keamanan hayati ikan, sertifikasi kesehatan ikan, sertifikasi mutu dan keamanan hasil perikanan, dan sertifikasi keamanan hayati (biosecurity), pengelolaan dan pelayanan laboratorium dan instalasi, serta pembuatan koleksi media pembawa, Hama dan Penyakit Ikan Karantina dan/atau Hama dan Penyakit Ikan tertentu.

c. Subseksi Pengawasan, Pengendalian, dan Informasi mempunyai tugas melakukan pemantauan terhadap Hama dan Penyakit Ikan Karantina, mutu dan keamanan hasil perikanan, dan keamanan hayati ikan, pengawasan dan surveilans terhadap Hama dan Penyakit Ikan Karantina dan keamanan hayati ikan, inspeksi, verifikasi, surveilans, audit, dan pengambilan contoh ikan dan hasil perikanan di Unit Pengolahan Ikan dalam rangka sertifikasi penerapan program manajemen mutu terpadu, penerapan sistem manajemen

KEPALA

SUBSEKSI TATA PELAYANAN

KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL

SUBSEKSI PENGAWASAN, PENGENDALIAN,

DAN INFORMASI URUSAN TATA

USAHA

(11)

mutu pelayanan operasional dan laboratorium, penindakan pelanggaran, pengumpulan, pengolahan data dan informasi perkarantinaan ikan, pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan, dan keamanan hayati ikan.

d. Kelompok Jabatan Fungsional mempunyai tugas melakukan kegiatan fungsional sesuai dengan jabatan fungsional berdasarkan peraturan perundang-undangan.

Dalam pelaksanaan tugas dan fungsi organisasi tersebut, Stasiun KIPM Yogyakarta memiliki sumber daya manusia sebanyak 52 orang dengan rincian Pegawai Negeri Sipil sebanyak 36 orang dan tenaga kontrak sebanyak 16 orang.

1.4 Sistematika Penyajian

Sistematika penyajian LKj Stasiun KIPM Yogyakarta sebagai berikut:

I. Bab I - Pendahuluan, menyajikan penjelasan umum organisasi, dengan penekanan kepada aspek strategis organisasi serta permasalahan utama (strategic issued) yang sedang dihadapi organisasi.

II. Bab II - Perencanaan Kinerja, menguraikan ringkasan/ikhtisar perjanjian kinerja tahun yang bersangkutan.

III. Bab III - Akuntabilitas Kinerja, menjelaskan capaian kinerja organisasi untuk setiap pernyataan kinerja sesuai dengan hasil pengukuran kinerja organisasi yang

digunakan untuk mewujudkan kinerja organisasi sesuai dengan dokumen Perjanjian Kinerja.

IV. Bab IV - Penutup, menjelaskan simpulan umum atas capaian kinerja organisasi serta langkah di masa mendatang yang akan dilakukan organisasi untuk meningkatkan kinerjanya.

(12)

II. PERENCANAAN KINERJA

2.1 Visi dan Misi

Aspek yang berkaitan dengan visi KKP sesuai dengan mandat yang diberikan kepada BKIPM adalah dukungan untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat dan mandiri dalam memastikan produk perikanan yang berkualitas dan berwawasan lingkungan. Oleh karena itu, BKIPM menetapkan visi pembangunan karantina ikan, pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan Tahun 2015-2019, yaitu “Hasil Perikanan Yang Sehat Bermutu, Aman dan Terpercaya”.

Misi yang diemban oleh BKIPM untuk mewujudkan visi tersebut adalah:

• Mewujudkan produk perikanan yang berdaya saing melalui penjaminan persyaratan mutu produk hasil perikanan.

• Mewujudkan pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan yang berkelanjutan melalui pengendalian Hama Penyakit Ikan Karantina (HPIK) dan jenis agen yang dilindungi, dilarang dan dibatasi.

• Mewujudkan masyarakat kelautan dan perikanan yang sejahtera, maju, mandiri melalui pola konsumsi ikan yang bermutu serta budidaya ikan yang bebas dari hama dan penyakit.

Selaku salah satu UPT dari BKIPM, Stasiun KIPM Yogyakarta harus mewujudkan visi dan misi yang diemban oleh BKIPM yang telah dijabarkan di atas.

Tujuan pembangunan BKIPM merupakan penjabaran dari visi dan misi guna mendukung prioritas pembangunan kelautan dan perikanan. Stasiun KIPM Yogyakarta sebagai bagian perlu mendukung pencapaian tujuan pembangunan BKIPM secara nasional. Tujuan pembangunan yang hendak dicapai dalam rangka mencapai sasaran program prioritas BKIPM adalah melindungi kelestarian sumber daya hayati perikanan dan kelautan dari Hama Penyakit Ikan Karantina (HPIK) dan jenis agen yang dilindungi, dilarang, dibatasi serta menjamin mutu hasil perikanan nasional dengan sasaran:

a. Meningkatnya kepatuhan (compliance) pelaku usaha KP terhadap ketentuan peraturan perundang undangan kelautan dan perikanan di wilayah pengeluaran/pemasukan ekspor, impor, dan antar area kepatuhan pelaku usaha kelautan dan perikanan dalam ekspor, impor dan antar area;

b. Meningkatnya jumlah jenis penyakit ikan karantina yang dapat dicegah penyebarannya antar zona, melalui sertifikasi kesehatan ikan ekspor, impor dan antar area;

(13)

c. Menurunnya jumlah kasus penolakan/penahanan ekspor hasil perikanan per negara mitra;

d. Meningkatnya Unit Pengolahan Ikan yang memenuhi persyaratan ekspor serta;

e. Meningkatnya pencegahan penyebaran jenis agen hayati yang dilindungi, dilarang dan besifat invasif melalui kajian dan analisis resiko.

2.2 Sasaran, Indikator dan Target Kinerja

Sasaran merupakan hasil yang akan dicapai secara nyata oleh instansi pemerintah dalam rumusan yang lebih spesifik, terukur, dalam kurun waktu yang lebih pendek dari tujuan. Dalam sasaran telah ditetapkan indikator sasaran sebagai ukuran tingkat keberhasilan pencapaian sasaran untuk diwujudkan pada tahun bersangkutan. Setiap indikator sasaran disertai rencana tingkat capaian (target) masing-masing. Sasaran diupayakan untuk dapat dicapai dalam kurun waktu tertentu secara berkesinambungan sejalan dengan tujuan yang ditetapkan dalam rencana strategis sehingga setiap tujuan yang ditetapkan memiliki indikator yang terukur.

Berdasarkan karakteristik tersebut di atas, Stasiun KIPM Yogyakarta telah melakukan menetapkan Sasaran Strategis dengan pendekatan Balanced Score Card (BSC) yang diselaraskan dengan Sasaran Strategis BKIPM secara nasional sebagaimana tercantum pada gambar 2.1.

Gambar 2.1. Peta Strategis Stasiun KIPM Yogyakarta Tahun 2020

Terselenggaranya pengendalian dan pengawasan sistem perkarantinaan, mutu dan keamanan hasil perikanan secara

profesional dan partisipatif

(14)

Peta strategis Stasiun KIPM Yogyakarta tersebut selanjutnya diturunkan ke dalam indikator dan target kinerja yang akan dicapai selama Tahun Anggaran 2020 baik dalam satu tahun sekaligus maupun setiap triwulannya. Metode penjabaran peta strategis ke dalam indikator kinerja menggunakan metode cascading, dari eselon IV ke eselon V hingga ke seluruh pegawai Stasiun KIPM Yogyakarta. Dengan proses cascading tersebut maka strategi organisasi didukung oleh seluruh unit dan pegawai Stasiun KIPM Yogyakarta dalam setiap level.

Indikator Kinerja Program telah ditetapkan secara spesifik untuk mengukur pencapaian kinerja berkaitan dengan sasaran program (outcome). Pencapaian indikator kinerja yang sudah ditetapkan adalah suatu bentuk keberhasilan dari tujuan dan sasaran strategis sebagaimana yang telah direncanakan. Indikator kinerja dari setiap sasaran strategis dan target kinerja Stasiun KIPM Yogyakarta dapat dilihat pada tabel di bawah.

Tabel 2.1 Indikator Kinerja Stasiun KIPM Yogyakarta Tahun 2020-2024

SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET

2020 2021 2022 2023 2024 COSTUMER PERSPECTIVE

1 Terwujudnya kedaulatan dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan

1 Persentase ikan dan hasil perikanan memenuhi syarat ekspor lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta (%)

98 98 98 98 98

INTERNAL PROCESS PERSPECTIVE 2 Pengawasan sumber daya

kelautan dan perikanan yang integratif

2 Persentase Penyakit ikan karantina yang dicegah penyebarannya antar zona lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta (%)

90 90 90 90 90

3 Persentase pencegahan impor, ekspor, antar area jenis ikan yang dilarang, dilindungi dan di batasi lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta (%)

90 90 90 90 90

3 Sistem perkarantinaan, pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan yang sesuai standar

4 Jumlah sertifikat IKI/CKIB lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta (sertifikat)

3 4 4 4 4

5 Jumlah lokasi monitoring dan surveilen penjaminan mutu perikanan domestik lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta (lokasi)

2 5 5 5 5

6 Pelaku usaha (UPI) yang menerapkan sistem traceability lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta (UPI)

2 2 2 2 2

7 Sertifikasi HACCP hasil perikanan lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta (sertifikat)

3 6 6 6 6

8 Jumlah UPI yang memenuhi persyaratan ekspor (UPI)

2 2 2 2 2

(15)

SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET

2020 2021 2022 2023 2024 9 Lokasi sebaran jenis ikan dilarang dan/

atau bersifat invasif yang diidentifikasi lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta (lokasi)

2 2 2 2 2

10 Penambahan ruang lingkup parameter uji yang terakreditasi lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta (ruang lingkup)

3 1 1 1 1

11 Lokasi sebaran penyakit ikan karantina yang teridentifikasi lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta (lokasi)

3 3 3 3 3

LEARNING AND GROWTH PERSPECTIVE 4 Pengendalian dan

pengawasan sistem perkarantinaan, mutu dan keamanan hasil perikanan secara profesional dan partisipatif

12 Penanganan kasus pelanggaran perkarantinaan, keamanan hayati ikan dan sistem mutu yang diselesaikan lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta (%)

95 95 95 95 95

13 Nilai PNBP lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta (juta Rupiah)

220,39 Sesuai DIPA

Sesuai DIPA

Sesuai DIPA

Sesuai DIPA 5 Tata kelola pemerintahan

yang baik

14 Indeks profesionalitas ASN lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta (%)

72 73 72 72 72

15 Nilai Penilaian Mandiri SAKIP Satker Stasiun KIPM Yogyakarta (nilai)

A (81) A (87) A (87) A (87) A (87)

16 Nilai rekonsiliasi kinerja satker Stasiun KIPM Yogyakarta (nilai)

85 85 85 85 85

17 Nilai IKPA UPT Stasiun KIPM Yogyakarta (nilai)

Baik (88)

Baik (89)

Baik (88)

Sangat Baik (>90)

Sangat Baik (>90) 18 Persentase Rekomendasi Hasil

Pengawasan yang Dimanfaatkan untuk Perbaikan Kinerja UPT Stasiun KIPM Yogyakarta (%)

82 65 82 82 82

(16)

III. AKUNTABILITAS KINERJA

3.1 Capaian Kinerja

Akuntabilitas kinerja Stasiun KIPM Yogyakarta merupakan kinerja secara kolektif dari seluruh eselon V di lingkungan Stasiun KIPM Yogyakarta. Dengan didasarkan atas perjanjian kinerja seluruh level lingkup Stasiun KIPM Yogyakarta, telah dilakukan pengukuran dan evaluasi kinerja secara berkala setiap triwulan, dengan menggunakan Sistem Aplikasi Pengelolaan Kinerja (SAPK) berbasis web dengan alamat www.kinerjaku.kkp.go.id.

Pada tahun 2020, Stasiun KIPM Yogyakarta mempunyai 5 Sasaran Strategis dan 18 IKU yang telah ditetapkan dalamKeputusan Kepala Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Yogyakarta Nomor 58/38.0/KPTS/I/2020 tentang Penetapan Indikator Kinerja Utama Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu Dan Keamanan Hasil Perikanan Yogyakarta Tahun 2020. Penetapan Kinerja ini mengacu pada tujuan/sasaran strategis yang tertuang dalam Rencana Strategis (Renstra) Stasiun KIPM Yogyakarta 2020 - 2024 dan Rencana Kerja Tahunan (RKT) 2020.

Indikator Kinerja Utama (IKU) pada tahun 2020 telah banyak mengalami penyesuaian nomenklatur dan target apabila dibandingkan nomenklatur Indikator Tahun 2019. Sebagian besar penyesuaian target tersebut dilakukan dalam rangka menindaklanjuti arahan nasional dan alokasi anggaran yang dikelola BKIPM serta kondisi dinamika nasional antara lain peningkatan kegiatan budidaya dalam rangka mencapai visi pembangunan kelautan dan perikanan serta penghematan untuk penanganan Covid-19 di Indonesia.

Capaian kinerja Stasiun KIPM Yogyakarta pada 2020 masuk kategori baik yang ditunjukkan dengan nilai capaian Kinerja sebesar 113,95%. Demikian juga dengan capaian kinerja di masing-masing eselon V di lingkup Stasiun KIPM Yogyakarta. Capaian Kinerja merupakan gambaran nilai kinerja suatu organisasi secara keseluruhan. Berikut merupakan hasil pengukuran kinerja pada Stasiun KIPM Yogyakarta Tahun 2020:

(17)

Gambar 3.1 Hasil Pengukuran Kinerja pada aplikasi Kinerjaku KKP

Secara rinci, capaian Indikator Kinerja Utama di masing-masing Sasaran Strategis Stasiun KIPM Yogyakarta Tahun 2020 dapat dilihat pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1 Capaian Kinerja Stasiun KIPM Yogyakarta Tahun 2020

Sasaran Strategis Indikator Kinerja

Tahun 2020

Realisasi 2019

% Capaian Terhadap Realisasi

2019

Kete rangan Target Realisasi %

Capaian COSTUMER PERSPECTIVE

1 Terwujudnya kedaulatan dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan

1 Persentase ikan dan hasil perikanan memenuhi syarat ekspor lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta (%)

98 100 102,04 - - IKU baru

INTERNAL PROCESS PERSPECTIVE 2 Pengawasan sumber

daya kelautan dan perikanan yang integratif

2 Persentase penyakit ikan karantina yang dicegah penyebarannya antar zona lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta (%)

90 100 111,11 100 100

3 Persentase pencegahan impor, ekspor, antar area jenis ikan yang dilarang, dilindungi dan dibatasi lingkup

90 100 111,11 - - IKU baru

(18)

Sasaran Strategis Indikator Kinerja

Tahun 2020

Realisasi 2019

% Capaian Terhadap Realisasi

2019

Kete rangan Target Realisasi %

Capaian UPT Stasiun KIPM

Yogyakarta (%) 3 Sistem perkarantinaan,

pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan yang sesuai standar

4 Jumlah sertifikat IKI/CKIB lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta (sertifikat)

3 6 200 4 150

5 Jumlah lokasi monitoring dan surveilen penjaminan mutu perikanan domestik lingkup UPT Stasiun KIPM

Yogyakarta (lokasi)

2 6 300 6 100

6 Pelaku usaha (UPI) yang menerapkan sistem traceability lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta (UPI)

2 5 250 - - IKU baru

7 Sertifikasi HACCP hasil perikanan lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta (sertifikat)

3 14 466,67 7 200

8 Jumlah UPI yang memenuhi persyaratan ekspor (UPI)

2 5 250 - - IKU baru

9 Lokasi sebaran jenis ikan dilarang dan/ atau bersifat invasif yang diidentifikasi lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta (lokasi)

2 6 300 6 100

10 Penambahan ruang lingkup parameter uji yang

terakreditasi lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta (ruang lingkup)

3 5 166,67 11 45,45

11 Lokasi sebaran penyakit ikan karantina yang teridentifikasi lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta (lokasi)

3 10 333,33 10 100

(19)

Sasaran Strategis Indikator Kinerja

Tahun 2020

Realisasi 2019

% Capaian Terhadap Realisasi

2019

Kete rangan Target Realisasi %

Capaian 4 Pengendalian dan

pengawasan sistem perkarantinaan, mutu dan keamanan hasil perikanan secara profesional dan partisipatif

12 Penanganan kasus

pelanggaran perkarantinaan, keamanan hayati ikan dan sistem mutu yang

diselesaikan lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta (%)

95 100 105,26 100 100

13 Nilai PNBP lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta (juta Rupiah)

220,39 319,73 145,07 182,49 175,20

LEARNING AND GROWTH PERSPECTIVE

5 Tata kelola

pemerintahan yang baik

14 Indeks profesionalitas ASN lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta (%)

72 81,54 113,25 72,54 112,41

15 Nilai Penilaian Mandiri SAKIP Satker Stasiun KIPM

Yogyakarta (Nilai)

A (81) 85 104,94 86,35 98,44

16 Nilai rekonsiliasi kinerja satker Stasiun KIPM Yogyakarta (Nilai)

85 85 100 - - IKU baru

17 Nilai IKPA UPT Stasiun KIPM Yogyakarta (nilai)

Baik (88) 98,24 111,64 99,14 99,09

18 Persentase Rekomendasi Hasil Pengawasan yang Dimanfaatkan untuk Perbaikan Kinerja UPT Stasiun KIPM Yogyakarta (%)

82 100 121,95 - - IKU baru

3.2 Analisis dan Evaluasi Costumer Perspective

SS 1. Terwujudnya kedaulatan dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan Terwujudnya kedaulatan dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan diperoleh dari indikator persentase penyakit ikan karantina yang dicegah penyebarannya antar zona lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta.

(20)

Tabel 3.2 Capaian Sasaran Strategis 1 Tahun 2020

Sasaran Strategis Indikator Kinerja

Tahun 2020

Realisasi 2019

% Capaian Terhadap Realisasi

2019

Kete rangan Target Realisasi %

Capaian COSTUMER PERSPECTIVE

1 Terwujudnya kedaulatan dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan

1 Persentase ikan dan hasil perikanan memenuhi syarat ekspor lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta (%)

98 100 102,04 - - IKU baru

IK1. Persentase ikan dan hasil perikanan memenuhi syarat ekspor lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta

Indikator Persentase ikan dan hasil perikanan memenuhi syarat ekspor lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta merupakan indikator kinerja yang baru dan belum ada pada kegiatan tahun 2019. Persentase ikan dan hasil perikanan memenuhi syarat ekspor dibuktikan dengan diterimanya atau tidaknya penolakan sertifikat mutu ikan (HC mutu) serta sertifikat kesehatan ikan ekspor (Health Certificate for Fish and Fish Products/ KI- D1) yang diterbitkan UPT Stasiun KIPM Yogyakarta di negara tujuan ekspor untuk menjamin produk bermutu dan aman.

Tabel. 3.3 Sertifikasi Ekspor Tahun 2020 Stasiun KIPM Yogyakarta

Persentase jumlah sertifikat yang memenuhi syarat dihitung dengan membandingkan realisasi jumlah sertifikat yang diterbitkan dengan sertifikat yang memenuhi persyaratan jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan dikalikan 100%. Sesuai dengan target maka semua ikan dan hasil perikanan telah memenuhi persyaratan ekspor sesuai negara

(21)

tujuan. Semua HC ekspor maupun komoditas ekspor diterima oleh negara tujuan dan tidak ada complain terkait mutu ataupun persayaratan lainnya. Adapun target dan realisasi bersifat akumulatif per triwulan.

Total sertifikasi ekspor pada tahun 2020 adalah 286 sertifikat dengan rincian KI-D1 sebanyak 61 sertifikat, sertifikat mutu kode E sebanyak 79 sertifikat, sertifikat mutu kode F sebanyak 139 sertifikat dan sertifikat mutu kode G sebanyak 7 sertifikat. Untuk dominasi negara tujuan ekspor adalah Amerika Serikat dengan jenis komoditas tuna kaleng, tuna rebus beku, kerajinan kerang dan kerajinan kulit pari. Berikut di bawah kami sajikan infografis terkait lalu lintas ekspor selama tahun 2020.

Gambar 3.2 Infografis Lalu Lintas Ekspor Stasiun KIPM Yogyakarta Tahun 2020 Internal Process Perspective

SS 2. Pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan yang integratif

Terwujudnya pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan yang integratif diperoleh dari indikator persentase penyakit ikan karantina yang dicegah penyebarannya antar zona lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta danpersentase pencegahan impor, ekspor, antar area jenis ikan yang dilarang, dilindungi dan dibatasi lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta.

(22)

Tabel 3.4 Capaian Sasaran Strategis 2 Tahun 2020

Sasaran Strategis Indikator Kinerja

Tahun 2020

Realisasi 2019

% Capaian Terhadap Realisasi

2019

Kete rangan Target Realisasi %

Capaian INTERNAL PROCESS PERSPECTIVE

2 Pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan yang integratif

2 Persentase penyakit ikan karantina yang dicegah penyebarannya antar zona lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta (%)

90 100 111,11 100 100

3 Persentase pencegahan impor, ekspor, antar area jenis ikan yang dilarang, dilindungi dan dibatasi lingkup UPT Stasiun KIPM

Yogyakarta (%)

90 100 111,11 - - IKU baru

IK2. Persentase penyakit ikan karantina yang dicegah penyebarannya antar zona lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta

Persentase penyakit ikan karantina yang dicegah penyebarannya antar zona merupakan indikator yang menunjukkan upaya pencegahan terhadap masuknya penyakit ikan karantina yang berasal dari luar negeri (eksotik) dan penyebaran penyakit ikan karantina dari zona tidak bebas ke zona bebas di dalam wilayah Indonesia. Penghitungan Persentase penyakit ikan karantina yang dicegah penyebarannya antar zona dapat dilakukan dengan rumus sebagai berikut:

Kontribusi Stasiun KIPM Yogyakarta dalam mencegah penyebaran penyakit ikan karantina antar zona lingkup UPT adalah dengan melakukan verifikasi dan pemeriksaan terhadap komoditas yang akan dilalulintaskan. Untuk komoditas yang tidak memerlukan pemeriksaan maka dapat dilalulintaskan tanpa harus disertai hasil uji laboratorium.

Adapun untuk komodtas yang memerlukan pemeriksaan, baik fisik maupun mikrobiologi, maka akan diuji dilaboratorium terlebih dahulu sebelum dilalulintaskan. Untuk komoditas yang bebas dari kontaminan maka dapat dilalulintaskan dengan menyertakan hasil uji

(23)

laboratorium sebagai buktinya. Untuk komoditas yang terkontaminasi, maka akan dilakukan penolakan pengiriman.

Tabel 3.5 Persentase pencegahan penyebaran PIK Stasiun KIPM Yogyakarta

Selama tahun 2020, Stasiun KIPM Yogyakarta telah melakukan verifikasi dan pengujian dengan baik sehingga penyebaran penyakit ikan dapat dicegah. Dari target 90% tercapai 100% untuk tahun 2020. Jika dibandingkan dengan tahun 2019, realisasi sama yang artinya kegiatan pencegahan penyebaran PIK antar zona sudah berjalan dengan baik.

IK3. Persentase pencegahan impor, ekspor, antar area jenis ikan yang dilarang, dilindungi dan dibatasi lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta

Salah satu ancaman utama terhadap keanekaragaman jenis ikan asli dan ekosistemnya di seluruh dunia adalah introduksi spesies eksotik/asing bersifat invasif yang dikenal pula sebagai spesies asing invasive (SAI). Introduksi ikan invasive dapat menyebabkan penurunan keanekaragaman ikan asli Indonesia di perairan umum. Oleh karena itu, perlu adanya pencegahan jenis ikan yang dilarang, dilindungi dan dibatasi melalui pintu pemasukan dan pengeluaran (impor, ekspor, dan antar area dalam wilayah Republik Indonesia) yang telah ditetapkan. Kegiatan ini merupakan upaya dalam perlindungan dan pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan yang partisipatif, bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Jenis ikan dilarang adalah jenis ikan yang dilarang berdasarkan peraturan perundangundangan dan/atau karena statusnya dilindungi penuh berdasarkan ketentuan Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora

(24)

dan/atau hukum internasional lain yang diratifikasi, termasuk telur, bagian tubuh, dan/atau produk turunannya (derivat). Sedangkan jenis ikan dilindungi adalah jenis ikan yang dilakukan perlindungan terhadap siklus hidupnya di habitat asli dan habitat buatan dan/atau seluruh bagian tubuhnya, termasuk telur, cangkang, dan produk turunannya.

Adapun jenis ikan dibatasi adalah jenis ikan dilindungi penangkapan ataupun lalu lintasnya berdasarkan ukuran tertentu, wilayah sebaran tertentu, periode waktu tertentu dan/atau sebagian tahapan siklus hidup tertentu.

Berdasarkan tabel 3.4 diperoleh hasil realisasi adalah 100% dari target 90%, atau mencapai 111,11% target. Artinya pencegahan impor, ekspor, antar area jenis ikan yang dilarang, dilindungi dan dibatasi dapat dilakukan dengan baik. Adapun pada tahun 2019 indikator ini belum ada karena merupakan indikator baru yang disusun berdasarkan Renstra 2020-2024.

Rincian terkait penghitungan pencegahan impor, ekspor, antar area jenis ikan yang dilarang, dilindungi dan dibatasi dapat dilihat pada tabel 3.6. Adapun cara menghitung persentase pencegahan impor, ekspor, antar area jenis ikan yang dilarang, dilindungi dan dibatasi dengan rumus tingkat capaian:

Untuk menghitung X1, X2, X3 dan X4 digunakan rumus:

Keterangan

X : pencegahan impor, ekspor, antar area jenis ikan yang dilarang, dilindungi dan dibatasi

X1 : pencegahan impor jenis ikan yang dilarang, dilindungi dan dibatasi X2 : pencegahan ekspor jenis ikan yang dilarang, dilindungi dan dibatasi X3 : pencegahan domestik masuk jenis ikan yang dilarang, dilindungi dan dibatasi

X4 : pencegahan domestic keluar jenis ikan yang dilarang, dilindungi dan dibatasi

a : Jumlah jenis ikan yang dilarang, dilindungi dan dibatasi

b : jumlah jenis ikan yang dibatasi, dilindungi dan dilarang yang tidak dilengkapi dokumen persyaratan sesuai ketentuan yangtidak dapat dicegah dipintu pemasukan yang ditetapkan

(25)

Tabel 3.6. Data Impor, Ekspor dan Domestik Keluar Jenis Ikan yang Dilarang, Dilindungi dan Dibatasi

SS 3. Sistem perkarantinaan, pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan yang sesuai standar

Terwujudnya sistem perkarantinaan, pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan yang sesuai standar diperoleh dari indikator Jumlah sertifikat IKI/CKIB lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta; Jumlah lokasi monitoring dan surveilen penjaminan mutu perikanan domestik lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta; Pelaku usaha (UPI) yang menerapkan sistem traceability lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta; Sertifikasi HACCP hasil perikanan lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta; Jumlah UPI yang memenuhi persyaratan ekspor;

Lokasi sebaran jenis ikan dilarang dan/ atau bersifat invasif yang diidentifikasi lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta; Penambahan ruang lingkup parameter uji yang terakreditasi lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta; dan Lokasi sebaran penyakit ikan karantina yang teridentifikasi lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta.

Tabel 3.7 Capaian Sasaran Strategis 3 Tahun 2020

Sasaran Strategis Indikator Kinerja

Tahun 2020

Realisasi 2019

% Capaian Terhadap Realisasi

2019

Kete rangan Target Realisasi %

Capaian INTERNAL PROCESS PERSPECTIVE

3 Sistem perkarantinaan, pengendalian mutu dan

4 Jumlah sertifikat IKI/CKIB lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta (sertifikat)

3 6 200 3 200

(26)

Sasaran Strategis Indikator Kinerja

Tahun 2020

Realisasi 2019

% Capaian Terhadap Realisasi

2019

Kete rangan Target Realisasi %

Capaian keamanan hasil

perikanan yang sesuai standar

5 Jumlah lokasi monitoring dan surveilen penjaminan mutu perikanan domestik lingkup UPT Stasiun KIPM

Yogyakarta (lokasi)

2 6 300 6 100

6 Pelaku usaha (UPI) yang menerapkan sistem traceability lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta (UPI)

2 5 250 - - IKU baru

7 Sertifikasi HACCP hasil perikanan lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta (sertifikat)

3 14 466,67 7 200

8 Jumlah UPI yang memenuhi persyaratan ekspor (UPI)

2 5 250 - - IKU baru

9 Lokasi sebaran jenis ikan dilarang dan/ atau bersifat invasif yang diidentifikasi lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta (lokasi)

2 6 300 6 100

10 Penambahan ruang lingkup parameter uji yang

terakreditasi lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta (ruang lingkup)

3 5 166,67 11 45,45

11 Lokasi sebaran penyakit ikan karantina yang teridentifikasi lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta (lokasi)

3 10 333,33 10 100

IK4. Jumlah sertifikat IKI/CKIB lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta

Dalam pelaksanaannya, sertifikasi Cara Karantina Ikan yang Baik (CKIB) merupakan proses yang terintegrasi dengan sertifikasi Instalasi Karantina Ikan (IKI). Sertifikasi CKIB merupakan proses lanjutan dari sertifikasi IKI. IKI yang sudah menerapkan prinsip-prinsip CKIB dapat dilakukan sertifikasi CKIB. Sebagaimana proses sertifikasi IKI, proses sertifikasi CKIB juga sudah berbasis online sejak tahun 2016, dan dapat diakses oleh

(27)

seluruh UPT KIPM di Indonesia. SCKIB diterbitkan berdasarkan rekomendasi dari UPT KIPM dan melalui proses verifikasi serta evaluasi oleh Tim Pusat.

Unit Usaha Perikanan yang memenuhi standard dan menerapkan biosecurity merupakan IKI yang menerapkan prinsip CKIB:

- IKI telah ditetapkan kelayakannya (memiliki Sertifikat IKI) - IKI telah memenuhi prinsip-prinsip biosecurity

- IKI telah memenuhi persyaratan administrasi dan manajemen (pakta integritas, SOP, Rekaman Data)

Jumlah sertifikasi unit usaha perikanan yang menerapkan Cara Karantina Ikan yang Baik ditentukan dengan menghitung jumlah IKI yang telah bersertifikasi CKIB yang diterbitkan oleh Pusat Karantina Ikan.

Instalasi karantina ikan (IKI) adalah tempat beserta segala sarana dan fasilitas yang ada padanya yang digunakan untuk melaksanakan tindakan karantina guna mencegah masuk dan tersebarnya HPIK dari luar negeri dan dari suatu area ke area lain di dalam negeri, atau keluarnya HPI dari dalam wilayah negara Republik Indonesia. Instalasi Karantina Ikan milik Perorangan atau Badan Hukum adalah instalasi karantina yang dibangun oleh perorangan atau badan hukum dan telah ditetapkan dalam bentuk sertifikat instalasi karantina ikan, yang pengelolaannya di bawah pengawasan UPT KIPM. Adapun unit usaha yang menerapkan prinsip CKIB adalah unit usaha pembudidayaan ikan (UUPI) yang telah melaksanakan manajemen kesehatan ikan berdasarkan prinsip-prinsip biosekuriti untuk menjamin ikan bebas dari HPIK/HPI. Unit yang berCKIB telah lolos dalam sertifikasi iKI sebagai syarat wajib yang harus dipenuhi. Adapun masa berlaku dari sertifikat CKIB adalah 2 tahun.

Hingga akhir tahun 2020, jumlah UUPI yang telah tersertifikasi CKIB (baru dan perpanjangan) adalah 6 unit, meliputi Muhammad Ridwan, Danang Prima, Ubico Karya Mandiri, Ranggajaya Fish, Fajar Amin dan Penyedia Benih Ikan. Sedangkan untuk keseluruhan UUPI yang ber-CKIB di wilayah kerja Stasiun KIPM Yogyakarta adalah 9 unit, dimana 3 unit lainnya telah tersertifikasi pada tahun 2019 meliputi Albertus Budi Setiyawan, PT Buana Alam Tirta dan PT Juifa International Foods.

(28)

Gambar 3.3 Infografis Sertifikasi CKIB Stasiun KIPM Yogyakarta Tahun 2020

IK5. Jumlah lokasi monitoring dan surveilen penjaminan mutu perikanan domestik lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta

Indikator Penjaminan mutu hasil perikanan domestik merupakan gabungan dari 2 (dua) kegiatan, yaitu monitoring kesegaran ikan, residu dan bahan berbahaya serta pengawasan mutu hasil perikanan domestik. Kegiatan yang dilakukan meliputi pengambilan sampel ikan, pengujian sampel (organoleptik, mikrobiologi, serta residu kimia) dan juga inspeksi sarana prasarana. Pelaporan hasil pengujian dan pengamatan disampaikan ke Pusat Pengendalian Mutu BKIPM setiap triwulan.

Monitoring Kesegaran Ikan, Residu dan Bahan Berbahaya dilakukan dalam rangka pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan telah dilakukan pada setiap triwulan di tahun 2020 (kecuali triwulan II) dengan lokasi PPS Cilacap. Kegiatan triwulan II ditiadakan dikarenakan adanya pandemi COVID-19 dan adanya instruksi dari pusat untuk penghentian kegiatan tersebut.

Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan diperoleh bahwa terdapat beberapa parameter masih berada di atas ambang batas, terutama pada tingkat kesegaran ikan (TvB, Organoleptik, dan Histamin). Hal ini dipengaruhi oleh penanganan ikan baik di atas kapal, saat kegiatan bongkar maupun distribusi dan penyimpanan di cold storage. Sarana dan prasarana di PPS Cilacap sudah lengkap dan kebersihan serta higienitas sudah diperhatikan akan tetapi untuk penerapan sistem rantai dingin selama ikan display di pasar masih kurang baik.

(29)

Kegiatan Pengawasan Mutu Hasil Perikanan Domestik sebagai implementasi dari Inpres No. 01 Tahun 2017 terkait dengan penyediaan pangan sehat bagi masyarakat.

Pelaksanaan pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan di pasar domestik (modern dan tradisional) dilakukan melalui kegiatan monitoring untuk mendapatkan gambaran jaminan mutu hasil perikanan di masing-masing kab/kota. Lokasi yang menjadi objek pengendalian penjaminan mutu hasil perikanan domestik meliputi Kota Yogyakarta, Kab. Sleman, Kab. Bantul, Kab. Kulon Progo dan Kab. Gunungkidul.

Nilai sarana prasarana dan sanitasi higiene mencapai 80,88 dengan total 17 titik pemantauan dimana 6 titik berkategori sangat baik, 9 titik berkategori baik dan 2 titik berkategori cukup. Nilai pengujian produk mencapai 88,12 dengan 55 sampel tidak memenuhi standar organoleptik, 1 sampel tidak memenuhi standar E.coli, 1 sampel tidak memenuhi standar histamin, 27 sampel tidak memenuhi standar ALT, serta 20 sampel tidak memenuhi standar coliform. Sedangkan pada Salmonella sp. dan formalin, semua sampel masih memenuhi standar. Dengan demikian nilai jaminan mutu secara sederhana untuk produk perikanan di DIY adalah 82,69%.

Gambar 3.4 Infografis Monitoring Ikan dan Surveilan Penjaminan Mutu Perikanan Domestik Tahun 2020

IK6. Pelaku usaha (UPI) yang menerapkan sistem traceability lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta

Sistem traceability adalah sistem untuk menjamin kemampuan dalam menelusuri riwayat, aplikasi, atau lokasi dari suatu produk atau kegiatan untuk mendapatkan kembali

(30)

data dan informasi melalui suatu identifikasi terhadap dokumen yang terkait. Penelusuran (pelacakan/ napak tilas) dari produk yang kita inginkan tersebut dengan melihat sejarah dari produk tersebut, dan bisa dilakukan dengan menelusurinya di setiap tahapan budidaya mulai dari sejak awal sampai akhir proses produksi dan bahkan juga menelusurinya setelah produk tersebut diedarkan sampai ke konsumen terakhir.

Indikator Pelaku usaha (UPI) yang menerapkan sistem traceability lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta merupakan indikator kinerja baru yang belum ada di tahun 2019. Indikator ini dimunculkan sebagai bentuk penyesuaian terhadap Renstra Stasiun KIPM Yogyakarta tahun 2020-2024. Pada tahun 2020 total UPI yang telah memiliki dan menerapkan traceability ada 5 UPI, yaitu meliputi PT Juifa International Foods, PT Toxindo Prima, PT Janicotama Persada, PT Anugerah Raharja Utama dan Koperasi Inka Bantul VII Projomino.

IK7. Sertifikasi HACCP hasil perikanan lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta

HACCP merupakan suatu sistem manajemen keamanan makanan yang didasarkan pada tindakan pencegahan terhadap bahaya yang bersifat biologi, kimia dan fisik pada hasil perikanan untuk konsumsi manusia. Dengan penerapan sistem HACCP, identifikasi suatu bahaya yang mungkin akan muncul di dalam proses pengolahan (in process inspection) dapat dilakukan sehingga tindakan pengendalian dan pemantauan terhadap bahaya keamanan makanan akan mudah dilaksanakan. Sertifikat penerapan HACCP merupakan salah satu persyaratan mutlak dan wajib harus dimiliki oleh unit Pengolahan ikan, bila akan melakukan ekspor hasil produksi perikanannya. Sertifikasi penerapan HACCP mengacu kepada tata cara penerbitan HACCP sesuai Peraturan Kepala BKIPM Nomor PER.03/BKIPM/2011. Sertifikat penerapan HACCP diterbitkan kepada Unit Pengolahan Ikan (UPI) berdasarkan jenis olahan, jenis proses berdasarkan potensi bahaya (hazard) yang dilakukan proses produksinya oleh UPI.

Indikator sertifikat penerapan HACCP di UPI diukur dengan menghitung jumlah realisasi sertifikat HACCP yang diterbitkan selama tahun berjalan. Hingga tahun 2020, Stasiun KIPM Yogyakarta telah menerbitkan 14 sertifikat HACCP kepada 5 UPI yaitu PT Juifa International Foods, PT Toxindo Prima, PT Janicotama Persada, PT Anugerah Raharja Utama dan Koperasi Inka Bantul VII Projomino.

(31)

Gambar 3.5 Infografis Sertifikasi HACCP Stasiun KIPM Yogyakarta Tahun 2020 IK8. Jumlah UPI yang memenuhi persyaratan ekspor

Dalam rangka penyerasian/harmonisasi sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan antara Indonesia dengan negara-negara tujuan ekspor, maka masing-masing negara yang akan melakukan ekspor harus meregistrasi/mendaftarkan UPI yang telah bersertifikat HACCP. Registrasi UPI ini bertujuan supaya UPI yang melakukan ekspor diakui oleh Otoritas Kompeten negara mitra, mempermudah penelusuran dan penyelesaian apabila UPI terkena kasus, dan mempermudah melakukan evaluasi terhadap UPI.

Indikator Jumlah UPI yang memenuhi persyaratan ekspor merupakan indikator kinerja baru yang belum ada di tahun 2019. Indikator ini dimunculkan sebagai bentuk penyesuaian terhadap Renstra Stasiun KIPM Yogyakarta tahun 2020-2024. Jumlah UPI yang telah mmenuhi persyaratan ekspor sendiri ada 5 UPI sesuai dengan jumlah UPI yang telah tersertifikasi HACCP. UPI tersebut meliputi Juifa International Foods, PT Toxindo Prima, PT Janicotama Persada, PT Anugerah Raharja Utama dan Koperasi Inka Bantul VII Projomino. Selain Koperasi Inka Bantul VII Projomino yang berlokasi di Gunungkidul, keempat UPI lainnya berlokasi di Cilacap.

(32)

IK9. Lokasi sebaran jenis ikan dilarang dan/ atau bersifat invasif yang diidentifikasi lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta

Spesies asing invasif merupakan salah satu penyebab menurunnya keanekaragaman hayati global selain perusakan habitat secara langsung. Pemasukan, penyebaran dan penggunaan berbagai spesies asing yang bersifat invasif secara sengaja maupun tidak disengaja telah menyebabkan kerugian ekologi dan ekonomi yang cukup besar, serta dapat berdampak buruk bagi kesehatan manusia, hewan dan ikan. Pemetaan sebaran jenis agen hayati yang dilindungi, dilarang dan bersifat invasif (JADDI) adalah proses inventarisasi agen hayati pada suatu wilayah perairan umum Indonesia untuk mengetahui sebaran jenis yang tergolong dilindungi, dilarang dan invasif.

Indikator sebaran jenis ikan dilarang dan/ atau bersifat invasif yang diidentifikasi lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta diukur dengan jumlah lokasi perairan umum Indonesia (danau/ waduk/ rawa/ sungai/ anak sungai) di wilayah kerja Stasiun KIPM Yogyakarta yang dipantau dan dipetakan melalui hasil survei jenis agen hayati yang dilindungi, dilarang dan bersifat invasif. Adapun dari target 2 lokasi tercapai sebanyak 6 lokasi, yang meliputi Kota Yogyakarta, Kab. Sleman, Kab, Bantul, Kab Kulon Progo, Kab, Gunungkidul dan Kab. Sleman.

Pemetaan ikan invasif di pusat perdagangan ikan hias menemukan peningkatan perdagangan ikan hias selama pandemi covid 19. Rata-rata jumlah jenis ikan bersifat invasif yang tersedia di setiap responden 35 %. Dari seluruh responden ditemukan 16 jenis ikan invasif yang termuat di peraturan perundangan dengan sebaran masing-masing yaitu Cichlasoma trimaculatum (64 %), Pterygoplichthys spp. (39 %), Metynnis argenteus (32 %), Melanochromis auratus (30 %), Cichla spp. (25 %), Atractosteus spatula (20 %), Pygocentris nattereri (16 %), Procambarus clarkii (14 %), Andinoacara rivulatus (11%), Amphilopus labiatus & Amphilopus citrinellus (5 %), Tetraodon lineatus (2 %), Parambasis spp (2 %), Semaprochilodus insignis (5 %), Arapaima gigas (2%), Channa marulius (2 %), Channa argus (2%). Pemetaan ikan invasif di stakeholder pemancingan menemukan ikan invasif yang termuat di peraturan perundangan dengan sebaran masing-masing yaitu Amphilopus labiatus dan Amphilopus citrinellus (79 %), Atractosteus spatula (14 %), Arapaima gigas (7 %), dan Cichla spp. (4 %). Pelepasliaran ikan invasif maih dilakukan oleh masyarakat dengan berbagai latar belakang termasuk alasan budaya.

(33)

Gambar 3.6 Infografis Sebaran Ikan Invansif di DIY dan sekitarnya

IK10. Penambahan ruang lingkup parameter uji yang terakreditasi lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta

Capaian indikator penambahan ruang lingkup parameter uji pada laboratorium penguji merupakan jumlah penambahan ruang lingkup uji hama penyakit ikan karantina dan mutu oleh UPT KIPM yang sudah terakreditasi sesuai Keputusan MKP nomor 58/KEPMEN-KP/2016 dan Keputusan Kepala BKIPM nomor 8/KEP-BKIPM/2015. Stasiun KIPM Yogyakarta pada tahun 2020 melalukan penambahan ruang lingkup parameter uji sebanyak 5 penambahan ruang lingkup parameter uji.

Parameter uji tersebut meliputi formalin, organoleptik sirip hiu kering, serta pengujian virus IHHV, IMNV dan AHPND. Alasan pengajuan formalin adalah karena formalin merupakan salah satu parameter uji penting dalam kegiatan penjaminan mutu domestik.

Sedangkan untuk organoleptik sirip hiu kering juga sangat dibutuhkan mengingat salah satu UPI yang tersertifikasi HACCP memiliki produk tersebut sehingga diharapkan laboratorium pengujinya juga telah terakreditasi. Untuk pengujian virus IHHNV, IMNV dan AHPND, laboratorium Stasiun KIPM Yogyakarta telah sering melakukan pengujian ketiga parameter tersebut dan merupakan pengujian rutin baik untuk kegiatan lalu lintas maupun non lalu lintas.

(34)

Gambar 3.7 Infografis Penambahan Ruang Lingkup Pengujian Tahun 2020 IK11. Lokasi sebaran penyakit ikan karantina yang teridentifikasi lingkup UPT Stasiun

KIPM Yogyakarta

Pemetaan/pemantauan penyakit ikan karantina adalah suatu serangkaian pemeriksaan yang sistematik terhadap suatu populasi ikan, untuk mendeteksi adanya hama dan penyakit ikan karantina, dan memerlukan adanya pengujian terhadap sampel yang berasal dari populasi tertentu. Pemetaan ini bertujuan untuk mengetahui sebaran penyakit ikan karantina pada ikan yang dibudidayakan di dalam maupun di luar kawasan minapolitan/perikanan budidaya di wilayah kabupaten/kota.

Indikator jumlah lokasi sebaran penyakit ikan karantina yang diidentifikasi diukur dengan cara menghitung jumlah kabupaten/kota yang telah dilakukan pemantauan dari sebaran penyakit ikan karantina. Pada tahun 2020 telah dilakukan pemantauan daerah sebar penyakit ikan karantina di 10 lokasi yaitu Sleman, Bantul, Gunungkidul, Kulon Progo, Klaten, Cilacap, Purworejo dan Magelang dari target 8 lokasi atau mencapai 100 % dari target. Dari sepuluh lokasi tersebut terdapat tujuh lokasi yang teridentifikasi positif Vibrio parahaemolyticus, Nocardia seriolae, TiLV, SVC, IMNV, dan AHPND. Sedangkan daerah yang bebas dari PIK meliputi Kab. Kulon Progo, Kab. Sleman dan Kota Yogyakarta.

(35)

Gambar 3.8 Infografis Penyebaran PIK Tahun 2020

SS4. Pengendalian dan pengawasan sistem perkarantinaan, mutu dan keamanan hasil perikanan secara profesional dan partisipatif

Terwujudnya pengendalian dan pengawasan sistem perkarantinaan, mutu dan keamanan hasil perikanan secara profesional dan partisipatif diperoleh dari indikator penanganan kasus pelanggaran perkarantinaan, keamanan hayati ikan dan sistem mutu yang diselesaikan lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta dan Nilai PNBP lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta.

(36)

Tabel 3.8 Capaian Sasaran Strategis 4 Tahun 2020

Sasaran Strategis Indikator Kinerja

Tahun 2020

Realisasi 2019

% Capaian Terhadap Realisasi

2019

Kete rangan Target Realisasi %

Capaian INTERNAL PROCESS PERSPECTIVE

4 Pengendalian dan pengawasan sistem perkarantinaan, mutu dan keamanan hasil perikanan secara profesional dan partisipatif

12 Penanganan kasus

pelanggaran perkarantinaan, keamanan hayati ikan dan sistem mutu yang

diselesaikan lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta (%)

95 100 105,26 100 100

13 Nilai PNBP lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta (juta Rupiah)

220,39 319,73 145,07 182,49 175,20

IK12. Penanganan kasus pelanggaran perkarantinaan, keamanan hayati ikan dan sistem mutu yang diselesaikan lingkup UPT Stasiun KIPM Yogyakarta

Indikator persentase penanganan kasus pelanggaran perkarantinaan, keamanan hayati ikan dan sistem mutu yang diselesaikan merupakan upaya yang dilakukan Stasiun KIPM Yogyakarta untuk menyelesaikan setiap pelanggaran perkaratinaan kegiatan lalu lintas komoditas perikanan yang terjadi. Untuk karantina, penanganan pelanggaran komoditas perikanan dilakukan dengan pengawasan, pengamatan, pencatatan, dan pengumpulan bahan keterangan (wasmatcapulbaket).

Wasmatcapulbaket tersebut kemudian dilanjutkan dengan:

1) Diterbitkan Surat Perintah Penyidikan, jika kasus memenuhi unsur pidana UU Nomor 16 Tahun 1992;

2) Serahkara, jika kasus memenuhi unsur pidana di luar UU Nomor 16 Tahun 1992;

3) Pemusnahan atau penolakan, jika kasus tidak memenuhi unsur pidana UU Nomor 16 Tahun 1992; dan

4) Pelepasliaran atau diserahkan ke BKSDA.

Sedangkan untuk mutu dan keamanan hasil perikanan, penanganan kasus merupakan upaya penyelesaian dan tindak lanjut terhadap notifikasi penolakan ekspor dari otoritas kompeten negara mitra. Proses kegiatan ini meliputi evaluasi kasus dan pemberian sanksi pelarangan ekspor sementara (internal suspend) kepada UPI;

Gambar

Gambar 1.1.  Wilayah Kerja Stasiun KIPM Yogyakarta
Gambar 1.2. Struktur Organisasi Stasiun KIPM Yogyakarta
Gambar 2.1.  Peta Strategis Stasiun KIPM Yogyakarta Tahun 2020
Tabel 2.1 Indikator Kinerja Stasiun KIPM Yogyakarta Tahun 2020-2024
+7

Referensi

Dokumen terkait

Bibit tersebut dapat diperoleh dari sumber benih yang bagus dan disemaikan melalui kegiatan persemaian yaitu dengan menyemaikan benih pada tempat yang telah

Sementara itu, hubungan juga tampak pada masing- masing dimensi Komitmen Organisasi terhadap Organizational Citizenship Behavior (OCB), dimana hubungan paling tinggi

Hasil pengamatan organoleptis menujukkan bahwa bau ketiga jenis salep sesuai dengan bahan tambahan salep dan rasa dari ketiga jenis salep adalah dingin serta

Penyelenggaraan SJSN bersifat nirlaba (not for profit/solidaritas sosial). Hakikat penyelenggaraan jaminan sosial adalah kegotongroyongan dari dan oleh peserta. Pada sistem yang

Pengujian nomor-nomor kedelai (Glycine max [L.] Merrill) hasil seleksi masa terhadap penampilan beberapa komponen hasil. Fakultas Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Daya waris

Dalam rengka melakukan monitoring terhadap Rencana Aksi yang telah disusun tersebut, disusunlah Laporan Monitoring Rencana Aksi Pusat Diklat SDM LHK s.d Triwulan 1 Tahun 2019

Berkaitan dengan proses pembinaan akhlak, dari hasil observasi awal yang dilakukan oleh peneliti di lembaga pendidikan, yakni di SMPN 3 Cikupa dan SMP Al-Fattah Tigaraksa

Istilah pharmacogenomics digunakan lebih untuk urusan yang lebih "trivial" tetapi dapat diargumentasikan lebih berguna dari aplikasi pendekatan Bioinformatika