Uji aktivitas antioksidan menggunakan radikal 1,1 Difenil 2 Pikrilhidrazil (DPPH) dan penetapan kandungan fenolik total fraksi etil asetat ekstrak etanol daun trengguli

112  16  Download (0)

Teks penuh

(1)

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN MENGGUNAKAN RADIKAL 1,1-DIFENIL-2-PIKRILHIDRAZIL (DPPH) DAN PENETAPAN KANDUNGAN FENOLIK TOTAL FRAKSI ETIL ASETAT EKSTRAK

ETANOL DAUN TRENGGULI (Cassia fistula L.)

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Mendapat Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Diajukan oleh :

Anthony Felix

NIM: 098114021

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(2)

i

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN MENGGUNAKAN RADIKAL 1,1-DIFENIL-2-PIKRILHIDRAZIL (DPPH) DAN PENETAPAN KANDUNGAN FENOLIK TOTAL FRAKSI ETIL ASETAT EKSTRAK

ETANOL DAUN TRENGGULI (Cassia fistula L.)

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Mendapat Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Diajukan oleh :

Anthony Felix

NIM: 098114021

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(3)
(4)
(5)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

DENGAN SYUKUR SEBESAR-BESARNYA KEPADA

TUHAN YANG MAHA ESA. KARYA INI SAYA

(6)
(7)
(8)

vii

PRAKATA

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah yang telah memberikan rahmat

serta karunia-nya kepada penulis sehingga penulis berhasil menyelesaikan skripsi

yang berjudul ”Uji Aktivitas Antioksidan Menggunakan Radikal 1,1-Difenil-2-Pikrilhidrazil (DPPH) dan Penetapan Kandungan Fenolik Total Fraksi Etil Asetat Ekstrak Etanol Daun Trengguli (Cassia Fistula L.)

Skripsiini dibuat sebagai tugas akhir yang menjadi syarat kelulusan wajib

untuk mendapatkan gelar Sarjana Farmasi (S,Farm). Penulis menyusun skripsi ini

dalam jangka waktu yang cukup panjang melalui penelitian dan pengamatan yang

dilakukan sendiri bersama teman-tema satu tim dan juga di bawah bimbingan dosen

pembimbing skripsi,

Penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada:

1. Ipang Djunarko, M.Sc., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas

Sanata Dharma

2. Prof. Dr.C.J. Soegihardjo, Apt.,selaku Dosen Pembimbing yang telah

memberikan bimbingan selama pengusulan skripsi, saat penelitian dan

selama penulisan skripsi dengan kesabaran dan penuh perhatian.

3. Yohanes Dwiatmaka, M.Si.,selaku Dosen Penguji yang memberikan

(9)

viii

4. Dra. M.M.Yetty Tjandrawati, M.Si., selaku Dosen Penguji yang

memberikan banyak masukkan demi terselesaikannya karya tulis skripsi

ini.

5. Segenap laboran Laboratorium Farmakognosi-Fitokimia (Mas Wagiran)

dan Laboratorium Farmasi Fisika (Mas Agung) atas segala bantuan

selama penulis melakukan penelitian di laboratorium Laboratorium

Farmakognosi-Fitokimia dan Farmasi Fisika.

6. Teman-teman satu kelompok antioksidan Aldo Christian, Mikhael

Gustandy, Willigis Danu Patria yang mendukung selama penelitian dan

penulisan skripsi ini.

7. Teman- teman satu kos yang sering memberikan kritik dan saran (Is

Sumitro, Oei Johanes, Fendy).

8. Teman-teman kelas 2009 A bantuannya yang tidak dapat penulis sebutkan

satu persatu.

Penulis menyadari,masih banyak kesalahan dan kekurangan dalam penulisan

skripsi ini,Oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan bantuan dan masukkan untuk

membuat laporan skripsi ini menjadi bermanfaat.

Yogyakarta,12 Maret 2013

(10)

ix

DAFTAR ISI

JUDUL ... i

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v

LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA ... 5

(11)

x

B. Kandungan Fenolik Total ... 6

C. Antioksidan…………. ... 7

D. Metode 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH) ... 8

E. Metode Folin Ciocalteu ... 10

F. Spektrofotometri Visibel ... 11

G. Pembuatan Simplisia dan Ekstraksi ... 11

H. Validasi Metode Analisis ... 12

1. Linearitas ... 13

2. Presisi ... 14

3. Spesifisitas ... 15

I. Analisis Statistika.. ... 15

J. Landasan Teori………. ... 16

K. Hipotesis……….. ... 18

BAB III. METODE PENELITIAN ... 19

A. Jenis dan Rancangan Penelitian ... 19

B. Variabel Penelitian ... 19

C. Definisi Operasional ... 19

D. Bahan dan Alat Penelitian ... 20

1. Bahan ... 20

2. Alat ... 20

E. Tata Cara Penelitian ... 21

1. Determinasi tanaman ... 21

(12)

xi

3. Preparasi sampel ... 21

4. Pembuatan fraksi etil asetat ... 22

5. Pembuatan Larutan DPPH, baku pembanding, larutan uji ... 22

6. Uji pendahuluan ... 23

7. Optimasi uji daya antioksidan ... 23

8. Penentuan aktivitas antioksidan ... 24

9. Optimasi penentuan fenolik total ... 25

10. Penetapan kadar fenolik total... 25

11. Analisis hasil ... 26

BAB IV. PEMBAHASAN ... 28

A. Determinasi Tanaman Trengguli ... 28

B. Pengumpulan Bahan ... 28

C. Hasil Ekstraksi ... 30

D. Hasil Fraksinasi …. ... 33

E. Uji Pendahuluan……… ... 34

1. Hasil uji kualitatif antioksidan ... 34

2. Hasil uji kualitatif fenolik ... 35

F. Optimasi Metode Pengukuran Aktivitas Antioksidan ... 36

G. Validasi Metode Pengukuran Aktivitas Antioksidan ... 39

1. Linearitas ... 40

2. Presisi ... 41

3. Spesifisitas ... 43

(13)

xii

I. Optimasi Pengukuran Fenolik Total ... 50

1. Hasil pengukuran Operating Time ... 50

2. Hasil pengukuran panjang gelombang maksimum ... 51

J. Validasi Metode Penetapan Fenolik Total ... 52

1. Linearitas ... 52

2. Presisi ... 53

3. Spesifisitas ... 54

K. Hasil Pengukuran Fenolik Total ... 54

BAB V.KESIMPULAN DAN SARAN ... 57

A. Kesimpulan………. ... 57

(14)

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel I. Nilai CV yang dapat diterima menurut Kingston (2004) ... 15

Tabel II. Hasil pengukuran λ max DPPH ... 37

Tabel III. Hasil CV dari sampel bahan baku pembanding ... 42

Tabel IV. Hasil CV dari sampel fraksi etil asetat ekstrak etanol ... 42

Tabel V. Hasil perolehan IC dan persamaan regresi linier baku pembanding ... 46

Tabel VI. Pengukuran IC50 kuersetin ... 46

Tabel VII. Hasil pengukuran seri fraksi etil asetat ekstrak etanol ... 47

Tabel VIII. Hasil Pengukuran IC50 fraksi uj ... 47

Tabel XI. Hasil CV kurva asam galat ... 53

Tabel XII. Hasil pengukuran larutan seri asam galat ... 55

(15)

xiv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.a. Kuersetin, b. Struktur inti flavonoid. ... 7

Gambar 2. Asam Galat ... 10

Gambar 3. Diagram alur uji hipotesis variabel numerik (Dahlan, 2012) ... 16

Gambar 4. Uji kualitatif antioksidan B= blanko +DPPH, A=kuersetin+ DPPH, C= fraksi etil asetat ekstrak etanol+DPPH ... 35

Gambar 5. Uji kualitatif fenolik. A= blanko +Folin Ciocalteu, B= asam galat+Folin Ciocalteu, C= fraksi asetat ekstrak etanol +Folin Ciocalteu ... 36

Gambar 6. Operating time dari baku kuersetin ... 38

Gambar 7. Plot operating time fraksi etil asetat ekstrak etanol ... 39

Gambar 8. Kurva seri baku ... 40

Gambar 9. Kurva seri fraksi etil asetat ekstrak etanol ... 41

Gambar 11. Perbandingan IC50 kuersetin dan fraksi etil asetat ekstrak etanol ... 49

Gambar 12. Plot operating time asam galat ... 51

(16)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Pengesahan determinasi tanaman trengguli……… 61

Lampiran 2. Gambar dan Foto………. 62

Lampiran 3. Penimbangan DPPH dan pembuatan larutan induk……… 64

Lampiran 4. Data penimbangan kuersetin dan pembuatan larutan induk…………... 65

Lampiran 5. Data penimbangan bahan baku dan rendemen……… 66

Lampiran6. Data penimbangan fraksi etil asetat ekstrak etanol………. 67

Lampiran 7. Scanning pengkoreksi………. 69

Lampiran8. Optimasi Pengukuran aktivitas antioksidan menggunakan DPPH……. 72

Lampiran 9. Uji aktivitas antioksidan menggunakan radikal DPPH………... 80

Lampiran 10. Optimasi Pengukuran fenolik……….. 83

Lampiran 11. Pengukuran fenolik total……….. 91

(17)

xvi

ABSTRACT

The purpose of this study was to determine the antioxidant activity of ethyl acetate fraction of ethanol extract from trengguli leaves. Trengguli leaves determined before the experiment to ensure the validity of the sample. Fresh dried Trengguli leaves be used because it can be used for the long term. Results drying macerated with ethanol for the ethanol extract. The ethyl acetate fraction from ethanolic extract used for preliminary test tubes to detect with standard antioxidant quercetin. Ethyl acetate fraction was made by liquid liquid extraction with washbenzene and water. Aqueous phase was taken and used to liquid-liquid extraction with ethyl acetate. Phase ethyl acetate is then taken. Fraction dried by rotary evaporator. .

Preliminary test carried out using DPPH reagent for the antioxidant activity of ethyl acetate fraction and diluted Folin Ciocalteu reagent for the phenolic content. Measurement then performed on samples with visible spectrophotometry and obtained IC50 values to determine the antioxidant activity and the value gallic acid

equivalent (GAE) to determine the content of phenolic total. Result of research shows. the average IC50 value of quercetin was 11,42 ± 0,053 µg/mL, and the average

of mean IC50 fraction of ethyl acetate ethanolic extract was 83,98 ± 2,239 µg/mL.

Ethyl acetate fraction trengguli leaf ethanolic extract (Cassia fistula L,) has average value of gallic acid equivalent of 15,323 ± 0,075 GAE mg/g.

(18)

xvii

INTISARI

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari fraksi etil asetat ekstrak etanol dari daun trengguli. Daun trengguli dideterminasi terlebih dahulu untuk menjamin keabsahan sampel. Daun trengguli yang segar dikeringkan sehingga dapat digunakan untuk jangka panjang. Hasil pengeringan dimaserasi dengan etanol untuk mendapatkan ekstrak etanol. Ekstrak etanol digunakan untuk uji tabung pendahuluan untuk mengetahui adanya antioksidan dengan standar kuersetin. Fraksi etil asetat dibuat dengan terlebih dahulu dilakukan ekstraksi cair cair dengan washbensin dan air. Fase air diambil dan diekstraksi cair-cair dengan etil asetat. Fase etil asetat kemudian diambil dan dikeringkan dengan

vacuum rotary evaporator.

Uji pendahuluan dilakukan dengan menggunakan reagen DPPH untuk aktivitas antioksidan pada fraksi etil asetat yang diencerkan dan reagen Folin Ciocalteu untuk adanya kandungan fenolik. Pengukuran kemudian dilakukan terhadap sampeldengan spektrofotometri visible dan didapat nilai IC50 untuk

menentukan aktivitas antioksidan dan nilai ekuivalen asam galat untuk menentukan kandungan fenolik total. Hasil dari penelitian menunjukkan,nilai IC50 rata-rata

(19)

1 BAB I PENGANTAR A.Latar Belakang

Pada masa modern semakin banyak berkembang penyakit-penyakit

degeneratif seperti diabetes dan kanker pada manusia. Adanya penyakit ini sering

dipengaruhi oleh terbentuknya radikal bebas dari hasil metabolisme, polusi, dan

radiasi ultraviolet. Radikal bebas pada tubuh menjadi salah satu penyebab utama

penyakit degeneratif seperti kanker. Radikal bebas akan bereaksi dengan lipid,

protein bahkan DNA di dalam tubuh dan akan merusak jaringan tubuh, sehingga

menimbulkan berbagai penyakit degeneratif.

Radikal bebas dapat diatasi dengan adanya antioksidan. Antioksidan

digunakan untuk menangkap radikal-radikal bebas tersebut agar tidak merusak sel-sel

tubuh. Manusia telah membuat bahan sintetis yang dapat berfungsi sebagai

antoksidan contoh butylated hydroxyanisole (BHA), butylated hydroxytoluene

(BHT). Namun, antioksidan sintesis toksik jika digunakan sebagai obat pada

manusia, penggunaan secara umum hanya sebagai pengawet pada bahan minyak atau

lemak agar tidak teroksidasi selama penyimpanan. Oleh karena itu, penelitian perlu

dilakukan untuk mengeksplorasi antioksidan alami dari tanaman (Isfahlan, 2010)

Kandungan kimia tanaman seperti fenolik, dan flavonoid diketahui sebagai

senyawa bioaktif yang bermanfaat sebagai pencegah penyakit (Isfahlan, 2010).

(20)

menghentikan reaksi propagasi dari radikal bebas yang menjadi penyebab kanker.

Pada review bioefikasi oleh Moshahid, Irshad, Gamal (2009) ekstrak dari daun, kulit

batang dan akar diketahui memilki kemampuan menghambat radikal bebas sehingga

berpotensi untuk antioksidan. Ekstrak daun juga memilki kemampuan peroksidasi

lipid. Ekstrak etanol dari daun diketahui membantu penyembuhan luka dan regenerasi

jaringan.

Antioksidan tanaman trengguli di Indonesia terutama pada daun belum

banyak diteliti. Penelitian yang telah dilakukan kebanyakan dilakukan oleh peneliti

di luar negeri dan hanya sebatas ekstrak murni. Penggunaan fraksi dengan pelarut

tertentu akan mampu untuk mempersempit ruang lingkup penelitian dan dapat

digunakan sebagai dasar dalam penelitian isolasi fitokimia. Seanyawa fenolik dalam

tanaman merupakan salah satu senyawa dalam tanaman yang memiliki aktivitas

antioksidan. Oleh karena itu, penulis merasa perlu untuk melakukan pengamatan

aktivitas antioksidan dan pengukuran fenolik total dari fraksi etil asetat ekstrak etanol

dari daun trengguli.

1. Permasalahan

Dari latar belakang tersebut maka dirumuskan masalah dalam penelitian ini

adalah:

a. Berapakah nilai IC50 dari fraksi etil asetat ekstrak etanol daun trengguli

(21)

b. Berapakah nilai kadar fenolik total berdasarkan nilai g ekuivalen asam galat

dari fraksi etil asetat ekstrak etanol daun trengguli (Cassia fistula L.) ?

2. Keaslian penelitian

Penelitian mengenai tanaman trengguli telah beberapa kali ditemukan

diantaranya:

“Antioxidant Activities of Phenolic, Proanthocyanidin, and Flavonoid

Components in Extracts of Cassia fistula” (Luximon-Ramma A, Bahorun, Soobrattee, Aruoma), 2002 antioksidan dalam penelitian ini diukur dengan Trolox

Equivalent Capacity (TEAC) dan ferric-reducing antioxidant power (FRAP) assays.

“Antifungal activity from leaf extracts of Cassia alata L., Cassia fistula L.

and Cassia tora L. (Phongpaichit, Souwalak, Nongyao, Vatcharin dan Metta, 2004)

Penelitian ini dilakukan terhadap aktivitas antifungal dari ekstrak daun trengguli.

“Bioefficacy of Cassia fistula Linn. (Leguminosae) leaf extract against

chikungunya vector, Aedes aegypti (Diptera: Culicidae)” (Govindarajan, 2009) mengenai efektifitas ekstrak daun trengguli sebagai antilarva nyamuk

Penelitian ini berbeda karena menggunakan uji antioksidan metode radikal

scavenger DPPH dan sampel yang digunakan dari ekstrak etanol fraksi etil asetat

daun trengguli yang diambil dari taman Universitas Sanata Dharma. Berdasarkan

penelusuran yang telah dilakukan penelitian berjudul: “Uji Aktivitas Antioksidan

(22)

Kandungan Fenolik Total Ekstrak Etanol Fraksi Etil Asetat Ekstrak Etanol Daun

Trengguli (Cassia fistula. L)” belum pernah dilakukan.

3. Manfaat penelitian

a. Manfaat metodologis Memperoleh metode pengukuran aktivitas antioksidan

dan kadar fenolik total dari fraksi asetat ekstrak etanol yang murah dan praktis.

b. Manfaat teoretis Mendapatkan nilai IC50 atau aktivitas antioksidan dari daun

trengguli serta kadar fenolik totalnya.

c. Manfaat praktis Memperoleh data yang dapat digunakan untuk

pengembangan manfaat daun trengguli lebih lanjut.

B. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

a. Mengetahui nilai IC50 dari fraksi etil asetat ekstrak etanol daun trengguli

(Cassia fistula L).

b. Mengetahui nilai kadar fenolik total fraksi etil asetat ekstrak etanol daun

(23)

5

BAB II

PENELAAHAN PUSTAKA A. Trengguli

Klasifikasi berdasarkan plant.usda.gov diakses tanggal 2 Mei 2013.

Kingdom : Plantae – Plants

Subkingdom : Tracheobionta – Vascular plants

Superdivision : Spermatophyta – Seed plants

Division : Magnoliophyta – Flowering plants

Class : Magnoliopsida – Dicotyledons

Subclass : Rosidae

Order : Fabales

Family : Fabaceae – Pea family

Genus : Cassia L. – cassia

Species : Cassia fistula L. – golden shower

( USDA, 1996)

Tanaman Cassia fistula L. diketahui memiliki khasiat antipiretik dan

analgesik. Selain itu, ditemukan bahwa bermanfaat juga dalam penyakit kulit,

(24)

menyembuhkan luka. Ekstrak daun diketahui dapat menghambat peroksidase lipid

yang berkaitan dengan karakter antioksidan oleh (Moshahid et al., 2009). Kandungan

kimia dari Cassia fistula L. mengandung epifzelechin, epiafzelezin-3-O glucoside,

epicatechin, procyanidin B2, biflavonoid, triflavonoid, rhein, rhein glucoside,

sennoside A (Bahorun, 2005).

B.Kandungan Fenolik Total

Istilah komponen fenolik menunjukkan kumpulan dari zat zat dalam

tanaman yang pada umumnya memiliki cincin aromatik yang berikatan dengan satu

atau lebih subtituen hidroksil. Zat fenolik cenderung untuk larut air, karena biasanya

bergabung dengan glukosa sebagai glikosida dan biasanya terletak di vakuola sel

(Harborne 1998).

Senyawa fenolik merupakan bagian dari tanaman yang sangat penting.

Fenolik memiliki kemampuan menangkap radikal bebas karena keberadaan gugus

hidroksil. Total fenolik dapat diukur dengan menggunakan metode Folin Ciocalteu

(Yusoff dan Ade, 2011).

Flavonoid adalah kelas yang beraneka ragam dari senyawa

metabolitsekunder fenolik tanaman, dengan berat molekul rendah yang

dikarakterisasi dengan inti flavan. Lebih dari 4000 flavonoid telah teridentifikasi dan

tersebar pada daun, biji, batang, dan bunga dari tanaman. Pada tanaman, komponen

(25)

Manfaat kesehatan flavonoid yang paling penting adalah sifat sebagai antioksidan dan

kemampuan untuk mengkelat (Heim, Anthony, dan Dennis, 2002).

Flavonoid adalah turunan benzo-γ-pyrone yang terdiri dari fenolik dan cincin piran dan diklasifikasikan berdasarkan subtitusi. Flavonoid makanan dibedakan

berdasarkan pola hidroksilasi, konjugasi antara cincin aromatik, gugus glikosidik, dan

gugus metoksi. Polimerasi dari struktur inti menghasilkan tannin dan spesies komplek

lainnya seperti pada anggur merah, anggur dan teh hitam (Heim et al, 2002).

Gambar 1.a. Kuersetin, b. Struktur inti flavonoid

Flavonoid tersebar secara luas pada tanaman, sebagai bagian pigmen dari

antosianin pada kelopak bunga dan bagian daun dalam tanaman tingkat tinggi.

Flavonoid biasa bergabung dalam kombinasi glikosida. Flavonol aglikon yang biasa

ada pada tanaman, kamperol, quercetin, dan myrcetin (Harbone, 1998).

C.Antioksidan

Pentingnya oksidasi pada tubuh dan pada bahan makanan telah dikenali.

(26)

timbul tergantung dari produksi dari radikal bebas dan spesies reaktif oksigen yang

menyebabkan perubahan oksidatif (Antolovich, Prenzler, Patsalides, 2001).

Radikal bebas adalah atom atau molekul yang memiliki sebuah elektron tak

berpasangan pada jari jari terluar dari atom. Sifatnya tidak stabil dan pada struktur

biologis dapat menyebabkan kerusakan oksidatif. Untuk mencegahnya digunakan

herbal sebagai sumber antioksidan (Chaisawvong dan Supapor, 2009).

Spesies oksigen reaktif adalah molekul yang mengandung oksigen yang

sangat reaktif, temasuk radikal bebas. Semua jenis oksigen reaktif dapat bereaksi

dengan membran, asam nukleat, protein, enzim dan molekul lain yang menyebabkan

kerusakan sel (Savakal, 2008).

Kerusakan oksidatif pada DNA, protein, dan makromolekul lain akan

menyebabkan munculnya berbagai penyakit. Penyakit-penyakit tersebut antara lain

penyakit jantung dan kanker. Reaksi kimia oleh antioksidan terhadap spesies oksigen

reaktif, yaitu dengan mendonorkan elektron ke spesies oksigen reaktif membuat

kereaktifannya berkurang (Savakal, 2008).

D.Metode 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH)

Aktivitas antioksidan tidak dapat diukur secara langsung tetapi oleh efek dari

antioksidan dengan mengontrol banyaknya oksidasi. Metode yang digunakan sangat

(27)

dari hasil, sebagai contoh, oksidasi dari asam linoleat diikuti konjugasi dien

(Antholovich et al, 2001).

DPPH digunakan secara luas untuk mengukur kemampuan dari zat yang

bekerja sebagai penangkap radikal bebas atau hidrogen donor, dan untuk

mengevaluasi aktivitas antioksidandalam makanan. Metode DPPH dapat digunakan

pada sampel berupa zat padat maupun cair dan tidak spesifik pada satu komponen

antioksidan tetapi berlaku pada keseluruhan kapasitas antioksidan dari sampel

(Prakash, 2001).

Parameter yang diperkenalkan sebagai interpretasi dari hasil pengukuran

dengan metode DPPH disebut efficient concentration atau nilai IC50 sering juga

disebut IC50. IC50 didefinisikan sebagai konsentrasi dari substrat yang menyebabkan

50% hilangnya aktivitas DPPH yang ditunjukkan berupa warna (Molyneux, 2004).

DPPH radikal menyerap pada panjang gelombang 517 nm dan pada sebuah

sistem bebas substrat, aktivitas antioksidan dapat ditetapkan dengan memonitoring

penurunan absorbansi. Hasil dilaporkan sebagai EC50, yang merupakan jumlah

antioksidan yang dibutuhkan untuk menurunkan 50% dari konsentrasi DPPH awal.

Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai steady state juga ikut dihitung (Antolovich

et al, 2001).

Pada metode radikal bebas DPPH, kemampuan antioksidan diukur pada suhu

(28)

pengaruh suhu. Mekanisme reaksi antara antioksidan dengan DPPH tergantung dari

konformasi dari molekul senyawa antioksidan (Lamaison, 1990).

E.Metode Folin Ciocalteu

Prinsip dari metode Folin Ciocalteu adalah menggunakan kemampuan gugus

fenol mereduksi. Reaksi terhadap redoks tersebut akan terjadi pada suasana basa.

Reduksi fosfotungstanat fosfomolibdenum (reagen Folin Ciocalteu) oleh ion fenol

merubah warna larutan yang diuji berwarna biru tua. Semakin tua warna yang

diperoleh semakin besar absorbansinya menunjukkan semakin besar jumlah

kandungan fenol (Yusoff dan Ade, 2011).

Asam galat adalah sebuah asam organic yang dikenal sebagai

3,4,5-trihydroxybenzoicacid (C6H2(OH)3COOH)/. Asam galat ditemukan secara luas pada

kerajaan tanaman. Asam galat dengan kadar yang tinggi ditemukan pada gallnuts,

anggur, sumac, daun teh, hops, dan kulit kayu oak ( Massoud, Hagad, Ali, dan Nazir,

2012).

(29)

F. Spektrofotometri Visibel

Spektrofotometer adalah instrumen yang dapat memisahkan radiasi

polikromatik menjadi beberapa panjang gelombang. Spektrofotometer terdiri

darisumber radiasi pada panjang gelombang tertentu, monokromator untuk memilih

panjang gelombang dari sumber radiasi, tempat sampel, detektor, dan alat untuk

membaca hasil yang dikeluarkan detektor (Christian, 2004)

Radiasi ultraviolet dan radiasi visible merupakan bagian dari spektrum

elektromagnetik, yang termasuk bentuk lain dari radiasi seperti radio, infrared (IR),

kosmik, dan Xrays. Ketika radiasi berinteraksi dengan material, sejumlah proses

dapat terjadi, termasuk refleksi, sebaran, penyerapan, fluoresen. Fosforesen

(absorpsida reemisi) dan reaksi fotokimia. Secara umum pada pengukuran spektra

UV visible, yang diinginkan adalah penyerapan (absorbansi) (Owen, 2000).

Pada umumnya semakin panjang dari conjugated system pada molekul,

semakin dekat λ max sampai pada wilayah visible. Karakteristik transisi energi dan penyerapan panjang gelombang adalah lebih merupakan sifat dari gugus atom

tertentu dibandingkan elektron. Ketika terjadinya absorpsi tersebut, dua tipe gugus

yang mempengaruhi dihasilkannya spektrum dari molekul yaitu kromofor dan

auksokrom (Thermospectronic, 2011).

G.Pembuatan Simplisia dan Ekstraksi

Untuk melakukan analisis fitokimia tumbuhan dapat dikeringkan sebelum

(30)

yang baik untuk mencegah perubahan kimia. Setelah kering, tanaman dapat disimpan

untuk jangka waktu lama (Harbone, 1998).

Umumnya material tanaman seharusnya dikeringkan pada temperatur di

bawah 30° C untuk menghindari dekomposisi dari komponen termolabil. Material

tersebut harus dilindungi dari cahaya sebab memiliki potensial dari transformasi

kimia dari pemaparan radiasi ultraviolet (Sarker, Zahid, dan Alexander, 2006).

Ketika material segar tanaman diperlukan untuk suatu penelitian, disarankan

untuk dilakukan ekstraksi secepat mungkin menggunakan pelarut organik seperti

metanol atau etanol, yang akan mendeaktivasi enzim yang ada pada tanaman (Sarker

et al, 2006).

H.Validasi Metode Analisis

Validasi metode analisis merupakan penilaian terhadap parameteryang ada

dalam percobaan laboratorium, yang digunakan untuk membuktikan bahwa

parameter tersebut memenuhi persyaratan sebagai metode yang layak digunakan atau

valid (Harmita, 2004). Parameter yang diuji dalam suatu analisis antara lain:

kecermatan, keseksamaan, selektifitas, linearitas, batas deteksi dan kuantitasi,

ketangguhan metode, dan ketahanan metode. Parameter yang diperlukan untuk

divalidasi dapat diseleksi tergantung metode yang digunakan (Harmita, 2004).

Dalam penelitian, dapat terjadi error yang menurunkan validitas data. Tipe

(31)

1. Gross error

Gross error tidak dapat diatasi sehingga ketika terjadi kesalahan tersebut

pengujian harus diulang (Prichard, 2001).

2. Sistematis

Systematic error merupakan perbedaan anatara rata-rata data yang teramati,

diperoleh dari seri dengan jumlah besar ( n≥ 8) dan true value (Burgess, 2000).

3. Random error

Random errormerupakan perbedaan antara nilai tunggal yang teramati

dengan rata-rata dari nilai yang teramati dalam lebih besar (paling tidak delapan),

diperoleh dari menerapkan prosedur analisis yang sama dalam sampel homogennya

(Burgess, 2000).

Parameter untuk validasi adalah sebagai berikut,

1. Linearitas

Linearitas di definisikan sebagai kemampuan dari suatu prosedur analisis

dalam suatu range untuk mendapatkan hasil tes yang yang proporsional secara

langsung terhadap konsentrasi analit dari sampel. Linearitas dapat ditunjukkan secara

langung dari pengujian dengan pengenceran larutan stok standar atau dengan

mengukur campuran sintetis dari komponen produk uji (Huber, 2010).

Linearitas ditentukan dengan lima sampai enam konsentrasi standar yang

memiliki rentang konsentrasi 80-120% dari konsentrasi yang diperkirakan. Respon

(32)

proporsional dengan pengukuran matematis. Suatu persamaan regresi linear berlaku

sebagai hasil seharusnya memiliki intersep yang tidak berbeda signifikan dari nol

(Huber, 2010).

Laporan yang dihasilkan harus termasuk kemiringan dari garis, intercept,

dan koefisien korelasi data yang menunjukkan korelasi yang jelas antara respon dan

analit. Hasil tidak boleh menunjukkan deviasi yang signifikan dari linearitas, yang

berarti koefisien korelasi harus r>0,99, pada area kerja (80%-120%) (Kingston, 2004)

2. Presisi

Presisi dari metode analisis menunjukkan kedekatan dari suatu data (derajat

persebaran) antara suatu seri pengukuran yang diperoleh dari sampling yang

dilakukan berkali-kali dari sampel homogen yang sama dalam kondisi yang telah

ditetapkan (Ermer dan Miller, 2005). Presisi dapat dibagi tiga tingkatan yaitu

keterulangan (repeatability), intermediate precision, dan reproducibility (Ermer dan

Miller, 2005).

Sebagai parameter presisi, standar deviasi, standar deviasi relatif (coefficient

of variation), dan confidence interval harus dihitung untuk tiap tingkatan presisi

(Ermer dan Miller, 2005). Standar deviasi adalah suatu pengukuran dari nilai yang

teramati sebagai hasil dari random error (Burgess, 2000). Standar deviasi adalah

parameter yang penting dalam mendeskripsikan jarak dari distribusi normal sebagai

(33)

Rumus Standar Deviasi (s) dan ragam (s2):

Tabel I. Nilai CV yang dapat diterima menurut Kingston (2004) Kadar zat aktif

(%)

Nilai KVyang masih dapat diterima (%)

Spesifisitas merupakan sifat dari prosedur analisis untuk mengukur hanya

kandungan yang memang ingin diukur. Metode yang digunakan tidak boleh

merespon terhadap kandungan lain dari analit atau material lain yang ada (Burgess,

2000). Metode preparasi sampel tidak boleh hanya membawa jumlah yang terukur

dari sampel tetapi komponen yang bersama-sama dengan analit tidak boleh

mengganggu dalam analisis (Ohanesian, Streeter, 2002).

I. Analisis Statistika

Metode Shapiro-Wilk mengolah data dasar dalam tabel distribusi frekuensi.

Data tersebut kemudian diurut, kemudian data dibagi dalam dua kelompok untuk

dikonversi dalam Shapiro-Wilk. Analisis statistik dapat juga dilanjutkan transformasi

(34)

Diagram dari alur metode statistika ditunjukkan dalam Gambar di bawah ini

(Gambar 2).

Gambar 3. Diagram alur uji hipotesis variabel numerik (Dahlan, 2012) J. Landasan Teori

Antioksidan adalah senyawa yang mempunyai kemampuan menangkap

spesies oksigen reaktif atau radikal bebas lainnya. Radikal bebas dapat menyebabkan

kerusakan pada struktur sel manusia sehingga dapat menyebabkan gangguan seperti

kanker. Antioksidan digunakan untuk mencegah kerusakan akibat radikal bebas. Hipotesis komparatif

Variabel numerik

Sebaran Normal ?

Ya Tidak

Berpasangan Tidak Berpasangan

2 kelompok >2 kelompok

(35)

Pemanfaatan antioksidan dari bahan alam dilakukan karena lebih aman dibandingkan

antioksidan sintesis yang biasa sebagai pengawet.

Penelitian sebelumnya menujukkan daun dari tanaman Cassia fistula L.

mengandung senyawa flavonoid dan kaya akan fenolik. Tanaman ini juga digunakan

sebagai obat tradisional di India. Ekstrak etanol dari daun Cassia fistula L. diketahui

memiliki kemampuan menyembuhkan luka da regenerasi organ tubuh. Ekstrak dari

daun diketahui memiliki daya hambat terhadap peroksidasi lipid yang disebabkan

spesies oksigen reaktif.

Metode pengukuran aktivitas antioksidan DPPH sering digunakan sebagai

metode untuk mengukur aktivitas antioksidan yang cepat dan mudah. DPPH bekerja

sebagai radikal scavenging yang menangkap unpaired electron dari senyawa yang

mengandung antioksidan. Pengukuran dilakukan dengan spektrofotometri visible

untuk melihat penurunan absorbansi DPPH karena adanya antioksidan.

Metode Folin Ciocalteu dapat digunakan untuk mengukur kandungan fenolik

total dari sampel ekstrak. Reagen fosfotungstanat fosfomolibdat akan tereduksi oleh

adanya gugus fungsional fenolat sehingga membentuk warna biru. Warna ini dapat

(36)

K.Hipotesis

Fraksi etil asetat ekstrak etanol daun trengguli (Cassia fistula L.) memiliki

aktivitas antioksidan dinyatakan sebagai IC50 dan memiliki kandungan fenolik yang

(37)

19

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian yang dilakukan termasuk penelitian eskploratif.

B.Variabel Penelitian

1. Variabel bebas berupa konsentrasi fraksi etil asetat ekstrak etanol daun trengguli.

2. Variabel tergantung berupa aktivitas antioksidan dan kandungan fenolik total

fraksi etil asetat ekstrak etanol daun trengguli, tergantung dari jenis, perawatan dan

tempat tumbuh tanaman

3. Variabel pengacau terkendali berupa tempat tumbuh tanaman, waktu pemanenan,

umur tanaman, dan cara panen.

4. Variabel pengacau tidak terkendali berupa cahaya matahari dan cuaca.

C.Definisi Operasional

1. Ekstrak etanol daun trengguli adalah sari hasil proses maserasi daun trengguli

dengan penyari menggunakan etanol.

2. Fraksi etil asetat adalah hasil fraksinasi ekstrak etanol daun trengguli dengan

(38)

3. Persen inhibition concentration (%IC) adalah persen yang menyatakan

kemampuan fraksi etil asetat ekstrak etanol daun trengguli untuk menangkap

radikal DPPH.

4. Inhibition concentration 50% (IC50) adalah nilai konsentrasi fraksi etil asetat

ekstrak etanol daun trengguli yang menghasilkan penangkapan 50% radikal

DPPH.

D.Bahan dan Alat Penelitian 1. Bahan

Daun trengguli diperoleh dari tanaman trengguli koleksi Universitas Sanata

Dharma, akuades (Laboratorium Kimia Analisis Instrumental Fakultas Farmasi

Universitas Sanata Dharma); bahan kualitas p.a. E. Merck yaitu:metanol, asam galat;

bahan kualitas p.a. Sigma Chem. Co., USA, yaitu: DPPH (1,1-difenil-2

pikrilhidrazil), reagen Folin-Ciocalteu dan kuersetin; bahan kualitas teknis Brataco

Chemica, yaitu: washbensin dan etil asetat; bahan kualitas teknis CV. General

Labora, yaitu:etanol dan metanol pa. ; dan aluminium foil.

2. Alat

Grinder, neraca analitik (Scaltec SBC 22, BP 160P), vacuum rotary

evaporator (Janke & Kunkel), waterbath (labo-tech, Heraeus), vortek (Janke

&Kunkel), spektrofotometer UV-Vis (Perkin Elmer Lamda 20), corong Buchner,

oven, mikropipet 10-1000 µL; 1-10 mL (Acura 825, Socorex), tabung reaksi bertutup,

(39)

E.Tata Cara Penelitian 1. Determinasi tanaman

Determinasi tanaman trengguli dilakukan di Laboratorium Biologi Farmasi,

Fakultas Farmasi USD menurut Van Steenis (1981).

2. Pengumpulan tanaman

Tanaman trengguli (Cassia fistula L.) diperoleh dari tanaman milik

Universitas Sanata Dharma. Pengambilan daun dengan kriteria berwarna hijau tua

segar dengan warna yang tua dan pada saat tanaman menjelang berbunga.

Pengambilan pada pagi hari atau sebelum tengah hari.

3. Preparasi sampel

Sebanyak 90 g daun trengguli segar, dibersihkan, lalu dikeringkan dengan

dikering anginkan ditempat teduh sampai terbentuk simplisia kering dengan kadar air

kurang dari 10 %. Simplisia daun trengguli kemudian dihaluskan dengan grinder.

Simplisia yang telah dihaluskan dituang ke dalam bejana maserasi, ditambah etanol

sampai terendam sempurna, dan dicampur homogen.

Campuran dimaserasi pada suhu ruangan selama dua hari. Filtrat diperoleh

melalui penyaringan menggunakan kertas saring kasar dengan bantuan corong

Buchner dan pompa vakum. Ampas penyaringan diremaserasi dengan etanol

secukupnya selama dua hari. Filtrat kemudian dicampurkan dengan filtrat terdahulu.

Keseluruhan filtrat yang diperoleh diuapkan pelarutnya hingga diperoleh ekstrak

(40)

4. Pembuatan fraksi etil asetat

Ekstrak etanol daun trengguli ditambah 300 mL air hangat dan dilakukan

ekstraksi cair-cair menggunakan washbensin dengan perbandingan larutan ekstrak :

washbensin (2:1, v/v), kemudian didiamkan sampai terpisah sempurna. Fase air akan

berada pada bagian bawah, sedangkan fase washbensin berada pada bagian atas.

Dari hasil ekstraksi cair-cair tersebut diperoleh dua fraksi, yaitu fraksi

washbensin dan fraksi air. Selanjutnya fraksi air diekstraksi lagi menggunakan etil

asetat dengan perbandingan larutan fraksi air-etil asetat (1:1, v/v) sehingga

didapatkan fraksi air dan etil asetat. Setelah dipisahkan fraksi etil asetat diuapkan

dengan vacuum rotary evaporator. Fraksi yang telah kering digunakan untuk

dianalisis lebih lanjut.

5. Pembuatan Larutan DPPH, baku pembanding, larutan uji

a. Pembuatan larutan DPPH. 15,8 mg DPPH dilarutkan ke dalam metanol.

Diperoleh larutan DPPH dengan konsentrasi 0,4 mM. Larutan tersebut ditutup dengan

alumunium foil dan dibuat selalu baru.

b. Pembuatan larutan stok kuersetin. 2,5 mg stok kuersetin ditimbang dan

ditambahkan metanol hingga 10 mL.

c. Pembuatan larutan seri kuersetin. Diambil 0,2; 0,3; 0,4; 0,5; dan 0,6 larutan

stok kuersetin dan diencerkan dengan metanol hingga 10 mL pada labu ukur, dan

(41)

d. Pembuatan larutan uji dari ekstrak etanol fraksi etil asetat. Sebanyak 25 mg

ekstrak ditimbang dan dilarutkan dengan metanol sampai 25 mL dan didapat

konsentrasi 1 mg/mL. Larutan tersebut diambil 5 mL lalu diencerkan ke 50 ml. Dari

larutan intermediet diambil sebanyak 3; 4,75; 6; 8,25, dan 10 mL lalu diadd dengan

metanol hingga 10 mL, sehingga didapat konsentrasi 30; 47,5; 60; 82,5, dan 100

g/mL.

6. Uji pendahuluan

a. Uji fenolik. Sejumlah larutan asam galat dan larutan uji dimasukkan

masing-masing dalam tabung reaksi dan ditambahkan reagen Folin Ciocalteu (1/10 v/v),

Larutan tersebut ditambahkan dengan 4,0 mL natrium karbonat 1 M. Setelah 10 menit

warna larutan diamati.

b. Uji aktvitas antioksidan. Sebanyak 2 mL larutan DPPH, dimasukkan dalam

masing-masing tiga labu takar berukuran 10 mL. Metanol sebagai kontrol, larutan

kuersetin konsentrasi 15 µg/mL, dan larutan uji konsentrasi 100 µg/mL dibuat pada

labu takar 10 mL. Selanjutnya diencerkan dengan metanol hingga tanda batas.

Larutan tersebut divortek 30 detik. Selama 30 menit diamati perubahan warna yang

terjadi.

7. Optimasi uji daya antioksidan

a. Penentuan OT (Operating Time). 2 mL larutan DPPH 0,4 mM dimasukkan ke

dalam labu takar sebanyak tiga buah, masing-masing berukuran 10 mL, kemudian

(42)

10; dan 15 µg/mL kemudian ditambahkan metanol hingga tanda batas. Larutan

tersebut divortek selama 30 detik. Setelah itu dibaca absorbansinya dengan

spektrofotometri visible pada panjang gelombang 517 selama 1 jam. Perlakuan ini

juga dilakukan untuk mencari OT dari larutan uji fraksi etil asetat pada konsentrasi

30, 65, dan 100 µg/mL.

b. Penentuan panjang gelombang maksimum. Pada tiga labu takar berukuran 10

mL, dimasukkan masing- masing 0,2; 0,6; dan 1,0 mL larutan DPPH 0,4 mM. Tiap

labu takar tersebut ditambahkan metanol hingga tanda batas sehingga konsentrasi

DPPH menjadi 0,02; 0,06; dan 0,08 mM Larutan tersebut divortek 3 detik. Larutan

kemudian didiamkan selama OT. Lalu dilakukan pengukuran absorbansinya dengan

spektrofotometri visible pada panjang gelombang antara 400-600 nm.

8. Penentuan aktivitas antioksidan

a. Pengukuran absorbansi larutan kontrol. Pada labu takar 10,0 mL,

dimasukkan sebanyak 2,0 mL larutan DPPH 0,4 mM kemudian ditambahkan metanol

p.a hingga tanda batas. Larutan tersebut dibaca absorbansinya pada saat OT dan

panjang gelombang serapan maksimum. Pengerjaan dilakukan sebanyak tiga kali.

Larutan ini digunakan sebagai larutan kontrol untuk menguji larutan pembanding dan

larutan uji.

b. Pengukuran absorbansi larutan pembanding dan uji. Sebanyak 2,0 mL

larutan DPPH 0,4 mM dimasukkan ke dalam masing masing labu takar 10,0 mL

(43)

konsentrasi larutan yang telah dibuat. Selanjutnya ditambahkan metanol p.a. hingga

tanda batas. Larutan tersebut kemudian divortek selama 30 detik dan diamkan selama

OT. Larutan dibaca absorbansinya dengan spektrofotometer visibel pada panjang

gelombang maksimum. Pengerjaan dilakukan sebanyak tiga kali.

c. Validasi metode uji aktivitas antioksidan. Hasil dari prosedur 7a dan b

divalidasi berdasarkan presisi (%CV), linearitas (nilai r) serta spesifisitas (spektra

kontrol).

9. Optimasi penentuan fenolik total

a. Penentuan OT (Operating Time). Dibuat larutan baku asam galat konsentrasi

50; 100; dan 150 µg/mL dalam metanol. Masing-masing larutan diambil 0,5 mL dan

ditambahkan dengan reagen Folin Ciocalteu serta 4 mL larutan natrium karbonat 1

M. Absorbansinya diukur pada panjang gelombang 750 nm selama 30-60 menit.

Operating time ditentukan ketika absorbansi larutan telah stabil.

b. Penentuan panjang gelombang maksimum. Dibuat larutan baku asamgalat

dengan konsentrasi 50; 100; dan 150 µg/mL dalam metanol. Masing-masing diambil

sebanyak 5 mL dan ditambahkan dengan reagen Folin Ciocalteu yang telah

diencerkan dengan air serta 4 mL larutan natrium karbonat 1 M. Sampel didiamkan

selama OT kemudian diukur absorbansinya pada panjang gelombang 600-800 nm.

10. Penetapan kadar fenolik total

a. Pembuatan kurva baku asam galat. Sebanyak 0,5 mL larutan asam galat 50;

(44)

telah diencerkan dengan air (1:10; v/v). Larutan selanjutnya ditambah dengan 4,0 mL

natirum karbonat 1 M. Setelah 10 menit, absorbansinya dibaca pada panjang

gelombang 750 nm terhadap blanko yang terdiri atas akuades : metanol p.a. (1:1;

v/v), reagen Folin-Ciocalteu, dan larutan natrium karbonat 1 M.

b. Validasi metode penetapan kandungan fenolik total. Hasil dari prosedur 9a

divalidasi berdasarkan, presisi (%CV), linearitas (nilai r) serta spesifisitas (spektra

kontrol).

c. Estimasi kandungan fenolik total larutan uji. Diambil 0,5 mL larutan uji 400

µg/mL, lalu dimasukkan ke dalam tabung reaksi, dan dilanjutkan sebagaimana

perlakuan pada pembuatan kurva baku asam galat. Kandungan fenolik total

dinyatakan sebagai g ekuivalen asam galat (g ekuivalen asam galat per g fraksi etil

asetat).

11. Analisis hasil

Aktivitas penangkapan radikal DPPH (%) dihitung dengan rumus :

Aktivitas penangkapan radikal=

Keterangan:

A = absorbansi

Data aktivitas (%) dianalisis dan dihitung nilai IC50 melalui analisis probit.

IC50 merupakan konsentrasi yang mampu menghambat 50% aktivitas DPPH.

Kandungan fenolik total dalam fraksi etil asetat ekstrak etanol daun trengguli

(45)

ke dalam persamaan kurva baku asam galat sehingga diperoleh nilai g ekuivalensi

larutan uji terhadap asam galat. Nilai tersebut kemudian dihitung:

F=Kandungan fenolik total=

(46)

28

BAB IV

PEMBAHASAN

A. Determinasi Tanaman Trengguli

Determinasi tanaman diperlukan untuk memastikan bahan yang digunakan

telah sesuai dengan jenis tanaman yang akan digunakan sebagai bahan penelitian.

Tanaman yang digunakan harus diidentifikasi spesies tanamannya sehingga penelitian

yang dilakukan sesuai tujuan yang telah ditetapkan. Determinasi tanaman dilakukan

di Laboratorium Farmakognosi Fitokimia, Fakultas Farmasi, Universitas Sanata

Dharma, Yogyakarta, pada tanggal 29 Januari 2013. Proses determinasi dilakukan

dengan acuan menurut van Stenis (1981). Hasil determinasi telah menunjukkan

bahwa tanaman yang digunakan adalah Cassia fistula L (Lampiran 1).

B.Pengumpulan Bahan

Bahan daun tanaman trengguli diperoleh pada tanggal 21 September 2012

dari tanaman inventaris milik Universitas Sanata Dharma, Kampus III, Paingan,

Yogyakarta. Tanaman yang digunakan merupakan tumbuhan yang sengaja ditanam di

lingkungan Kampus III, Universitas Sanata Dharma, Paingan, Yogyakarta. Pemilihan

(47)

kampus Universitas Sanata Dharma karena minim cemaran yang berasal dari

kendaraan dan juga cemaran penyakit dan jamur karena dirawat secara khusus

sebagai tanaman taman. Selain itu, spesies tanaman lebih mudah dipastikan karena

telah terdaftar pada bagian rumah tangga.

Pemanenan daun trengguli dipilih sesuai kriteria berikut, yaitu pada musim

kemarau, tanaman belum berbunga, pemanenan dilakukan pada pagi hari. Pemanenan

dilakukan pada musim kemarau supaya kelembaban udara kecil sehingga

meminimalisir jamur dan mempermudah proses pengeringan. Tanaman yang belum

berbunga dipilih dengan harapan metabolit sekunder yang diduga mengandung

aktivitas antioksidan berada dalam jumlah yang maksimal. Waktu pagi hari

digunakan untuk memanen agar tanaman tidak terlalu banyak menerima sinar UV.

Sinar UV akan mendegradasi senyawa metabolit. Hal ini tidak diinginkan karena

dalam senyawa metabolit sekunder diduga mengandung aktivitas antioksidan.

Daun yang digunakan dipilih mulai dari daun urutan ketiga dari pucuk

batang, karena daun setelah urutan ketiga dari pucuk merupkan daun yang telah tua

sehingga diharapkan kadar metabolit sekunder dan kandungan kimia lainnya

memiliki jumlah yang besar dan seragam dengan daun daun lainnya. Daun dipucuk

termasuk daun yang baru saja tumbuh dan kemungkinan besar kandungan metabolit

dan kandungan kimia lainnya belum sebesar daun yang tua. Daun yang dipilih untuk

(48)

karena umur daun masih dianggap terlalu muda dan bukan daun kuning karena

kandungan kimia di dalamnya telah hilang atau rusak.

Kriteria lain dari daun yang diperhatikan antara lain, tidak berjamur dan

tidak berulat dan tidak busuk. Kriteria tersebut menjadi pertimbangan agar daun yang

digunakan dalam ekstraksi tidak mengalami perubahan kandungan kimiaatau

biotransformasi karena adanya cemaran-cemaran tersebut. Daun-daun yang sesuai

dengan kriteria tersebut dikumpulkan lalu dicuci untuk membersihkan debu atau

kotoran yang menempel pada permukaan daun.

Daun kemudian dikering-anginkan sehingga kandungan airnya berkurang.

Tujuan dari pengeringan adalah untuk mengawetkan daun sehingga dapat disimpan

selama beberapa waktu. Setelah daun dikeringkan, simplisia kering dapat disimpan

untuk jangka panjang (Raaman, 2006). Pelaksanaan pengeringan harus dalam kondisi

terkontrol agar tidak terjadi kerusakan kandungan kimia (Raaman, 2006).

Pengeringan tidak dilakukan dengan suhu tinggi melainkan dengan suhu ruang.

Pengeringan dalam suhu ruang dipilih untuk mengurangi kemungkinan kerusakan zat

kimia akibat suhu tinggi. Hasil pengeringan dijadikan serbuk supaya dapat

dimaserasi.

C.Hasil Ekstraksi

Ekstraksi dilakukan untuk menyari zat kimia termasuk metabolit sekunder

dari dalam daun. Ekstraksi organik merupakan suatu proses untuk memisahkan zat

(49)

diekstraksi dihancurkan atau digiling menjadi serbuk lalu dicampur dengan suatu

pelarut (Raaman, 2006). Daun yang telah dipilih tadi digiling dengan grinder hingga

halus. Serbuk hasil penggilingan kemudian diayak, untuk memperoleh ukuran

partikel yang kecil. Daun diubah menjadi serbuk agar luas permukaan efektifnya

meningkat dan kontak dengan pelarut meningkat.

Ekstraksi dilakukan dengan menggunakan metode maserasi. Metode

maserasi adalah metode ekstraksi yang melibatkan perendaman dan pengadukan

bahan tanaman dengan pelarut (Raaman, 2006). Metode ini dipilih karena maserasi

sederhana sehingga mudah dilakukan. Prosedur ekstraksi ini tidak membutuhkan

panas sehingga dapat mencegah degradasi senyawa yang terkandung dalam tanaman.

(Sarker, Zahid, dan Alexander, 2006). Proses ekstraksi berhenti sepenuhnya setelah

mencapai kesetimbangan antara zat dalam ekstrak dengan zat dalam tanaman (Sarker

et al, 2006). Metode ini memiliki kelemahan waktu yang dibutuhkan dalam proses

ektraksi cukup panjang (Sarker et al, 2006).

Pelarut yang digunakan adalah etanol 76 % karena senyawa fenolik seperti

flavonoid yang diduga memiliki aktivitas antioksidan dapat terekstrak. Pemilihan

etanol sebagai pelarut dibandingkan dengan metanol, yaitu metanol memiliki

ketoksikan yang lebih tinggi dibandingkan etanol. Penggunaan metanol yang toksik

untuk ekstrak dirasakan kurang aman apabila digunakan dengan tujuan konsumsi.

Pelarut etanol dapat masuk ke sel tumbuhan dengan baik dan menarik zat-zat di

(50)

Proses maserasi menggunakan serbuk daun yang telah diayak lalu

dimaserasi dengan etanol. Proses maserasi dilakukan selama dua hari, setelah dua

hari cairan ekstrak diambil, kemudian dilakukan maserasi ulang terhadap sisa serbuk,

maserasi ulang dilakukan dua kali. Tujuan maserasi ulang adalah untuk menarik

sebanyak mungkin komponen yang terkandung di dalam serbuk daun sehingga hasil

esktraksi yang diperoleh dapat lebih maksimal. Dari hasil maserasi, diperoleh cairan

yang berwarna hitam kecoklatan.

Hasil ekstraksi kemudian diuapkan sehingga diperoleh ekstrak kental yang

kemudian akan digunakan untuk proses selanjutnya. Proses penguapan dilakukan

dengan alat bantu vacuum rotary evaporator. Tujuan penguapan ini adalah untuk

memisahkan antara zat yang terekstrak dengan pelarut yang digunakan, sehingga

dapat diperoleh ekstrak kering atau kental. Vacuum rotary evaporator digunakan

karena dapat memisahkan pelarut dengan lebih sempurna dan lebih cepat

dibandingkan dengan dipanaskan di waterbath. Vacuum rotary evaporator juga tidak

membutuhkan suhu tinggi sehingga mengurangi kemungkinan degradasi akibat

pengaruh suhu tinggi.

Ekstrak kental yang diperoleh ditimbang dengan cawan sehingga dapat

diketahui bobot ekstrak yang dihasilkan. Bobot ekstrak dibandingkan dengan bobot

bahan serbuk yang digunakan untuk perhitungan rendemendari proses ekstraksi yang

dilakukan. Bobot ekstrak yang diperoleh adalah g dari 90 g bahan serbuk yang

(51)

D.Hasil Fraksinasi

Bahan ekstrak yang diperoleh memiliki berbagai jenis zat yang terlarut

didalamnya. Fraksinasi dilakukan untuk membagi ekstrak yang telah diperoleh

menjadi jumlah senyawa yang lebih kecil. Dalam penelitian ini, fraksi yang diteliti

adalah fraksi etil asetat. Sebelum fraksinasi, ekstrak etanol kental dilarutkan dengan

air hangat agar mudah difraksi. Fraksinasi diawali dengan pencucian ekstrak dengan

washbensin untuk membersihkan pengotor nonpolar yang mungkin terbawa seperti

lapisan lilin dan juga klorofil.

Pencucian washbensin terhadap ekstrak menggunakan prinsip ekstraksi

cair-cair. Ektraksi cair-cair prinsip like dissolve like sehingga zat yang nonpolar akan

terbawa dalam pelarut nonpolar dan begitu juga sebaliknya. Pencucian dilakukan

dalam corong pisah. Prinsip pemisahan larutan dalam corong pisah menggunakan

perbedaan berat jenis antar cairan. Washbensin memiliki berat jenis yang lebih kecil

dibandingkan air, sehingga akan berada diatas permukaan air. Fase air kemudian

diambil dan fase washbensin dibuang, dan fase air siap difraksi dengan etil asetat.

Fraksi etil asetat diperoleh dengan menggunakan proses yang sama seperti

pada proses pencucian dengan washbensin. Etil asetat dicampur dengan hasil

pencucian dengan corong pisah. Etil asetat berada diatas permukaan air karena berat

jenis yang lebih kecil. Senyawa polar yang larut air seperti vitamin akan terbawa

(52)

asetat dan identifikasinya dari batang tanaman menyatakan dari fraksi etil asetat dapat

mengambil golongan flavonoid.

Etil asetat akan terpisah diatas permukaan air. Fraksi etil asetat yang

dihasilkan berupa cairan encer yang memilki warna orange cerah. Fraksi yang

diperoleh diuapkan dengan vacuum rotary evaporator. Fraksi kental yang diperoleh

ditimbang dan diperoleh 0,31 g, dan dihitung rendemen proses fraksi 0,34 %.

E.Uji Pendahuluan

Uji pendahuluan bertujuan untuk melihat secara kualitatif adanya aktivitas

antioksidan dan juga adanya senyawa fenolik dalam fraksi etil asetat. Uji

pendahuluan ini penting karena sebagai orientasi keberadaan dari kandungan yang

akan diteliti yaitu senyawa fenolik dan adanya aktivitas antioksidan dari fraksi etil

asetat ekstrak etanol daun trengguli.

1. Hasil uji kualitatif antioksidan

Uji kualitatif antioksidan bertujuan untuk melihat adanya aktivitas

antioksidan dari fraksi etil asetat ekstrak etanol daun trengguli. Uji kualitatif

dilakukan dengan menambahkan DPPH (1,1-diphenil-2-picrylhidrazil) dalam tabung

berisi fraksi cair. Pada keadaan tidak terdapat antioksidan, DPPH akan berwarna

ungu terang. Reaksi antara DPPH dengan senyawa antioksidan akan menyebabkan

terjadi penurunan intensitas warna DPPH. Pelaksanaan uji kualitatif aktivitas

antioksidan menggunakan metanol sebagai kontrol negatif dan kuersetin sebagai

(53)

Gambar 4. Uji kualitatif antioksidan B= blanko +DPPH, A=kuersetin+ DPPH, C= fraksi etil asetat ekstrak etanol+DPPH

Hasil uji kualitatif menunjukkan terjadi perubahan warna fraksi + DPPH

menjadi kekuningan. Hasil yang sama terjadi juga pada kontol positif sedangkan

kontrol negatif tetap berwarna ungu terang. Perubahan warna yang terjadi

menunjukkan adanya reaksi antara senyawa dalam fraksi dengan DPPH. Dari hasil

tersebut dapat disimpulkan bahwa fraksi etil asetat ekstrak etanol daun trengguli

memilki aktivitas antioksidan.

2. Hasil uji kualitatif fenolik

Uji kualitatif fenolik bertujuan untuk melihat apakah dalam fraksi etil asetat

ekstrak etanol memilki kandungan senyawa fenolik. Pengujian kualitatif dilakukan

dengan menggunakan reagen Folin Ciocalteu yang ditambahkan ke dalam fraksi cair.

Keberadaan senyawa fenolik akan ditunjukkan dari perubahan warna fraksi dari yang

sebelumnya orange cerah menjadi biru, akibat dari reaksi gugus fenolik dengan

senyawa Folin Ciocalteu.

(54)

Pengujian yang dilakukan menggunakan pembanding berupa kontrol

kuersetin, dan metanol. Kontrol kuersetin sebagai kontrol positif sedangkan metanol

sebagai kontrol negatif. Hasil uji kualitatif menunjukkan terjadi pada fraksi etil asetat

terjadi perubahan warna menjadi biru tua, setelah ditambahkan reagen Folin

Ciocalteu, perubahan yang sama juga terjadi pada kontrol positif kuersetin, dan pada

metanol tidak terjadi perubahan warna. Dari uji kualitatif yang telah dilakukan

disimpulkan bahwa fraksi etil asetat ekstrak etanol daun trengguli memiliki

kandungan senyawa fenolik.

Gambar 5. Uji kualitatif fenolik. A= blanko +Folin Ciocalteu, B= asam galat+Folin Ciocalteu, C= fraksi asetat ekstrak etanol +Folin Ciocalteu

F. Optimasi Metode Pengukuran Aktivitas Antioksidan 1. Hasil pengukuran panjang gelombang maksimum

Pengukuran panjang gelombang maksimum bertujuan untuk mengukur pada

panjang gelombang berapa yang dapat memberikan serapan atau absorbansi

maksimum. Penentuan panjang gelombang maksimum dilakukan terhadap DPPH,

karena yang akan diukur adalah penurunan kadar absorbansi yang terjadi saat DPPH

C

(55)

berinteraksi dengan senyawa antioksidan. Panjang gelombang untuk absorbansi

maksimum, panjang gelombang yang digunakan bervariasi pada 515 nm, 518, dan

520 nm. Akan tetapi, nilai dari absorbansi absolut tidaklah penting, panjang

gelombang dapat diatur sesuai dengan panjang gelombang yang memberikan

absorbansi maksimum pada instrumen yang digunakan ( Molyneux, 2004).

Pengukuran panjang gelombang maksimum menggunakan kontrol DPPH

dengan tiga tingkat konsentrasi. DPPH kontrol tersebut discan absorbansinya pada

range panjang gelombang 400-600 nm.

Tabel II. Hasil pengukuran λ max DPPH

Dari hasil pengukuran diperoleh λ max dari DPPH adalah 515,5. Panjang gelombang yang diperoleh ini dianggap mampu memberikan absorbansi maksimal

sesuai dengan instrumen yang digunakan. Panjang gelombang ini digunakan untuk

mengukur operating time dan kurva seri baku dan sampel fraksi.

2. Hasil pengukuran Operating Time

Operating time adalah waktu yang diperlukan oleh dua senyawa untuk

mencapai reaksi optimal. Reaksi yang optimal ditunjukkan dari perubahan absorbansi

menjadi stabil pada pengukuran dengan spektrofotometer. Reaksi yang terjadi antara

senyawa antioksidan dengan DPPH akan menyebabkan penurunan absorbansi DPPH Konsentrasi DPPH λ max terukur (nm) Rata-rata

0,02 Mm 515,5

515,5 0,06 Mm 515,5

(56)

dan warna ungu DPPH akan memudar. Pengukuran operating time bertujuan

mengurangi kesalahan pengukuran.

Pengukuran operating time dilakukan dengan mengukur absobansi dari

sampel setiap 5 menit selama 60 menit atau 1 jam. Pengambilan absorbansi tiap 5

menit bertujuan untuk mempermudah pelaksanaan percobaan. Waktu yang

disarankan untuk reaksi DPPH menurut Molyneux (2004) adalah 30 menit. Tetapi

karena adanya perbedaan jenis dan kekuatan antioksidan disarankan untuk menguji

dulu hingga reaksi optimal.

Pengukuran operating time (OT) ditentukan pada baku kuersetin sebagai

pembanding dan pada fraksi etil asetat ekstrak etanol. Hasil pengukuran OT untuk

baku kuersetin:

Gambar 6. Operating time dari baku kuersetin

(57)

Gambar 7. Operating time fraksi etil asetat ekstrak etanol

Dari data yang diperoleh (Gambar 6 dan 7) diketahui telah terjadi kestabilan

penurunan konsentrasi mulai dari menit ke-30. Setelah mencapai 30 menit, terjadi

perubahan yang walaupun tidak besar tetapi dapat dikatakan mulai stabil. Kesimpulan

yang diperoleh OT untuk percobaan ini dicapai pada menit ke-30. Untuk seterusnya

pengujian dilakukan dengan OT yang telah berhasil disimpulkan.

G.Validasi Metode Pengukuran Aktivitas Antioksidan

Validasi metode analisis merupakan suatu penilaian dari suatu metode

apakah telah memenuhi persyaratan yang ditentukan atau tidak. Kaidah-kaidah

metode analisis yang perlu diperhatikan adalah linearitas, presisi, akurasi dan

spesifisitas pengukuran dari suatu metode analisis. Linearitas digunakan untuk

melihat apakah kurva seri telah memiliki pengukuran yang linier.

(58)

1. Linearitas

Linearitas dari data dilihat dari koefisien relatif dari persamaan regeresi

linier dari data kurva seri baku maupun kurva seri fraksi etil asetat ekstrak etanol.

Menurut Kingston (2004) syarat linearitas apabila R (coefficient relative) persamaan

kurva baku mencapai 0,99 atau mendekati nilai 1.

Regresi linier diperoleh dari membuat seri larutan dengan range 80-120%

lalu dibuat pengukuran absorbansi. Dari pengukurantersebut dapat dibuat suatu kurva

yang menunjukkan suatu hubungan peningkatan konsentrasi dengan penurunan

absorbansi. Contoh dari kurva regresi pada seri baku kuersetin dan kurva sampel

fraksi seperti gambar di bawah ini. Kurva dipilih dari tiga replikasi karena memiliki

koefisien relatif yang terbaik.

Gambar 8. Kurva seri baku

(59)

Gambar 9. Kurva seri fraksi etil asetat ekstrak etanol

Kurva seri baku menunjukkan nilai koefisien relasi (R) menunjukkan 0,999.

Nilai R tersebut telah mencapai nilai 0,99 atau mendekati 1 sehingga dapat dikatakan

linear. Dari kurva seri fraksi asetat ekstrak etanol, koefisien relasi (R) dari persamaan

kurva tersebut adalah 0,999. Nilai R terebut dianggap memenuhi syarat linearitas,

karena R mencapai 0,99 atau mendekati nilai 1. Kesimpulan yang dapat diambil,

metode yang digunakan memiliki koefisien relasi yang baik dan menghasilkan data

yang linier

2. Presisi

Presisi dari metode dilihat dari Coefficient Variable (CV), presisi

menunjukkan bahwa dalam beberapa kali pengukuran variasi antara hasil pengukuran

konsentrasi yang sama tidak terlalu jauh. Semakin tinggi rentangnya, menunjukkan

bahwa metode menghasilkan data yang kurang konsisten, atau bervariasi.

(60)

Tabel III. Hasil CV dari sampel bahan baku pembanding

memiliki rentang 0,76%-4,14%. Berdasarkan Kingston (2004) menunjukkan rentang

konsentrasi di bawah 0,1% sebaiknya memiliki rentang CV<20%., sehingga CV

terukur dapat dinyatakan menunjukkan metode DPPH memiliki presisi yang baik

dalam pengukuran baku. Data dari CV sampel fraksi etil asetat ekstrak etanol,

ditunjukkan dalam Tabel IV di bawah ini. Data CV dari sampel menggunakan data

yang diperoleh dari larutan seri fraksi etil asetat ekstrak etanol.

Tabel IV. Hasil CV dari sampel fraksi etil asetat ekstrak etanol

(61)

Berdasarkan nilai CV yang diperoleh dari bahan baku pembanding memiliki

rentang 0,79%-3,35%. Menurut Kingston (2004) menunjukkan rentang konsentrasi di

bawah 0,1% sebaiknya memiliki rentang CV<20%. Sehingga CV terukur dapat

dinyatakan menunjukkan metode DPPH memiliki presisi yang baik dalam

pengukuran fraksi etil asetat ekstrak etanol daun trengguli.

3. Spesifisitas

Spesifisitas melihat apakah metode yang digunakan dapat secara spesifik

mengukur zat uji yang akan diukur. Untuk melihat spesifisitas pada alat yang

digunakan adalah dengan melihat spektra dari pelarut, larutan baku, dan larutan

fraksi. Pengamatan pada spektra menunjukkan tidak terdapat puncak atau peak pada

range pengukuran panjang gelombang yang digunakan untuk mengukur DPPH

sehingga tidak terdapat gangguan dari fraksi etil asetat ekstrak etanol, baku maupun

dari pelarut. Kesimpulan yang dapat diperoleh, metode pengukuran aktivitas

antioksidan dikatakan spesifik dalam mengukur absorbansi DPPH.

H.Hasil Pengukuran Aktivitas Antioksidan.

Setelah data optimasi diperoleh pengukuran aktivitas antioksian dapat

dilakukan. Uji aktivitas antioksidan yang dilakukan menggunakan

1,1-diphenyl-2-pycrilhidrazil untuk mengukur kemampuan suatsu bahan menghambat radikal.

Pengukuran aktivitas antioksidan dalam penelitian ini akan mengukur besarnya IC50

dari baku kuersetin sebagai pembanding dan IC50 dari fraksi etil asetat ekstrak etanol

(62)

dalam menghambat 50% aktivitas DPPH (Molyneux, 2004). Untuk memperoleh IC50

masing- masing sampel diperlukan membuat larutan seri dari baku dan juga fraksi.

Metode DPPH memiliki prinsip dari penurunan larutan radikal DPPH ketika

terdapat keberadaan antioksidan pendonor hidrogen (Wangcharoen dan Wallaya,

2007). DPPH memiliki sifat sebagai radikal bebas stabil dengan adanya delokalisasi

elektron bebas diseluruh molekul, sehingga molekul tidak berubah seperti halnya

radikal bebas lainnya (Molyneux, 2004). Ketika DPPH dicampur dengan zat yang

memiliki donor hidrogen, DPPH akan berubah menjadi bentuk tereduksinya yang

memilki warna kuning pucat karena masih adanya gugus pycryl.

Gambar 10. Perubahan DPPH akibat adanya antioksidan, Ket: AH= antioksidan

IC50 diperoleh dengan mengukur absorbansi seri larutan dari sampel yang

diukur sehingga akan diperoleh persamaan regresi dari hubungan persentase daya

hambat absorbansi sampel dengan konsentrasi dari sampel yang diukur. Persamaan

(63)

yang dapat menghambat DPPH sebesar 50%. Semakin kecil konsentrasi yang

dibutuhkan aktivitas antioksidan dari sampel yang diukur semakin kuat.

Baku yang digunakan sebagai pembanding adalah kuersetin. Kuersetin

digunakan karena merupakan salah satu konstituen flavonoid dari tanaman yang

diketahui memiliki aktivitas antioksidan. Baku pembanding ini digunakan sebagai

pembanding dari kekuatan aktivitas antioksidan fraksi etil asetat ekstrak etanol daun

trengguli. Kuersetin mampu menurunkan intensitas warna dari DPPH yang

membuktikan kalau kuersetin merupakan antioksidan yang cukup poten.

Data dari perolehan IC (Inhibition Concentration) disajikan dalam Tabel di

bawah ini. Tabel V menunjukkan perolehan IC yang dihitung dalam kurva kalibrasi

dari baku pembanding. Dari Tabel tersebut terlihat semakin tinggi kandungan

kuersetin daya penghambatannya terhadap DPPH akan lebih besar sehingga

absorbansi yang dihasilkan akan semakin kecil. Hal yang sama juga berlaku untuk

Tabel VII yang menunjukkan IC dari sampel fraksi etil asetat ekstrak etanol daun

trengguli. IC50 dari kuersetin ditampilkan pada Tabel VI dan IC50 sampel fraksi etil

(64)

Tabel V. Hasil perolehan IC dan persamaan regresi linier baku pembanding

Figur

Gambar 1.a. Kuersetin, b. Struktur inti flavonoid

Gambar 1.a.

Kuersetin, b. Struktur inti flavonoid p.25
Gambar 2. Asam Galat

Gambar 2.

Asam Galat p.28
Tabel  I. Nilai CV yang dapat diterima menurut Kingston (2004)

Tabel I.

Nilai CV yang dapat diterima menurut Kingston (2004) p.33
Gambar 3. Diagram alur uji hipotesis variabel numerik (Dahlan, 2012)

Gambar 3.

Diagram alur uji hipotesis variabel numerik (Dahlan, 2012) p.34
Gambar 4. Uji kualitatif  antioksidan B= blanko +DPPH, A=kuersetin+

Gambar 4.

Uji kualitatif antioksidan B= blanko +DPPH, A=kuersetin+ p.53
Gambar 5. Uji kualitatif  fenolik. A= blanko +Folin Ciocalteu, B= asam

Gambar 5.

Uji kualitatif fenolik. A= blanko +Folin Ciocalteu, B= asam p.54
Tabel  II. Hasil pengukuran λ max DPPH

Tabel II.

Hasil pengukuran λ max DPPH p.55
Gambar 6. Operating time dari baku kuersetin

Gambar 6.

Operating time dari baku kuersetin p.56
Gambar 7. Operating time fraksi etil asetat ekstrak etanol

Gambar 7.

Operating time fraksi etil asetat ekstrak etanol p.57
Gambar 8. Kurva seri baku

Gambar 8.

Kurva seri baku p.58
Gambar 9. Kurva seri fraksi etil asetat ekstrak etanol

Gambar 9.

Kurva seri fraksi etil asetat ekstrak etanol p.59
Tabel  III. Hasil CV dari sampel bahan baku pembanding

Tabel III.

Hasil CV dari sampel bahan baku pembanding p.60
Gambar 10. Perubahan DPPH akibat adanya antioksidan,  Ket: AH=

Gambar 10.

Perubahan DPPH akibat adanya antioksidan, Ket: AH= p.62
Tabel  VII yang menunjukkan IC dari sampel fraksi etil asetat ekstrak etanol daun

Tabel VII

yang menunjukkan IC dari sampel fraksi etil asetat ekstrak etanol daun p.63
Tabel  VI. Pengukuran IC50 kuersetin

Tabel VI.

Pengukuran IC50 kuersetin p.64
Tabel  VIII. Hasil Pengukuran IC50 fraksi etil asetat ekstrak etanol

Tabel VIII.

Hasil Pengukuran IC50 fraksi etil asetat ekstrak etanol p.65
Gambar 11. Perbandingan IC50 kuersetin dan fraksi etil asetat ekstrak

Gambar 11.

Perbandingan IC50 kuersetin dan fraksi etil asetat ekstrak p.67
Tabel IX. Ukuran intensitas antioksidan menurut Ariyanto (2006)

Tabel IX.

Ukuran intensitas antioksidan menurut Ariyanto (2006) p.68
Gambar 12. Plot operating time asam galat

Gambar 12.

Plot operating time asam galat p.69
Tabel  X. Hasil scan λ maksimum uji fenolik total

Tabel X.

Hasil scan λ maksimum uji fenolik total p.70
Gambar 13. Kurva seri asam galat

Gambar 13.

Kurva seri asam galat p.71
gambar kurva baku ditunjukkan melalui tabel  di bawah ini (Tabel  XII).

gambar kurva

baku ditunjukkan melalui tabel di bawah ini (Tabel XII). p.73
Tabel  XIII. Hasil  pengukuran  fenolik sampel

Tabel XIII.

Hasil pengukuran fenolik sampel p.74
Gambar. Pohon Trenggul
Gambar. Pohon Trenggul p.81

Referensi

Memperbarui...