• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Deskriptif Mengenai Orientasi Masa Depan Bidang Pekerjaan pada Narapidana yang Telah Menjalani 2/3 dari Masa Hukuman di Lembaga Pemasyarakatan "X" Kota Bandung.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Studi Deskriptif Mengenai Orientasi Masa Depan Bidang Pekerjaan pada Narapidana yang Telah Menjalani 2/3 dari Masa Hukuman di Lembaga Pemasyarakatan "X" Kota Bandung."

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

vi Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran mengenai orientasi masa depan bidang pekerjaan pada narapidana yang telah menjalani 2/3 dari

masa hukuman di Lembaga Pemasyarakatan “X” Bandung. Penelitian ini menggunakan studi metode deskriptif dengan teknik survey. Populasi sasaran dalam penelitian ini adalah narapidana yang telah menjalani 2/3 dari masa

hukuman di Lembaga Pemasyarakatan ”X” Kota Bandung. Jumlah narapidana yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah 50 orang.

Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner yang disusun oleh Nurmi, 1989. Kuesioner orientasi masa depan bidang pekerjaan terdiri atas 18 item, yang mewakili tiga tahapan orientasi masa depan yaitu motivasi, perencanaan, dan evaluasi. Uji validitas diukur dengan content validity, yaitu memastikan alat ukur berisi item-item yang mewakili keseluruhan ide atau konsep dari definisi variabel yang diukur. Pengolahan datanya menggunakan teknik analisis deskriptif dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi.

Dari data penelitian didapatkan hasil yang tidak berbeda jauh antara responden yang memiliki orientasi masa depan bidang pekerjaan jelas (58%) dengan responden yang memiliki orientasi masa depan bidang pekerjaan tidak jelas (42%). Dalam penelitian ini, terdapat 55.17% responden yang memiliki orientasi masa depan bidang pekerjaan jelas dan memiliki pendidikan terakhir di tingkat SMA, sedangkan 38.9% responden yang memiliki orientasi masa depan bidang pekerjaan tidak jelas yang memiliki motivasi kuat dan memiliki pendidikan terakhir SMP.

Berdasarkan hasil penelitian, peneliti mengajukan saran untuk peneliti berikutnya untuk menambah ukuran sampel dan melakukan riset diferensial. Disarankan kepada para narapidana agar dapat menggali potensi yang ada di dalam diri dan tidak hanya sekedar memiliki minat dan tujuan, tetapi dapat merencanakan dan yakin untuk dapat bekerja di masa depan. Disarankan kepada Lembaga Pemasyarakatan bagian bimbingan kemasyarakatan untuk memberikan pengarahan dan menambah jenis pembinaan. Selain itu, disarankan juga untuk bagian bimbingan kemasyarakatan agar memberikan konseling kepada responden yang memiliki orientasi masa depan bidang pekerjaan yang tidak jelas. Dengan konseling yang diberikan diharapkan responden dapat mengetahui minat dan tujuannya sehingga dapat mengarahkan responden ke bidang pekerjaan yang sesuai dengan minatnya dan dapat memberikan bimbingan dalam evaluasi terhadap kemungkinan terwujudnya tujuan yang dibentuk dengan realitasnya.

(2)

vii Universitas Kristen Maranatha ABSTRACT

This research is doing to find out the idea of the clarity of future orientation of work on convict who already through 2/3 of their punishment in

Penitentiary “X” Bandung city. This researcher uses the descriptive method with

survey as the technique to gathed the data. The aimed population of this research

is convict who already through 2/3 of their punishment in Penitentiary “X”

Bandung city. The numbers of respondents in this research is 50 persons.

The measuring instruments in this research are the questionnaires which

have been made based on Nurmi’s research, 1989. The questionnaires of future

orientation of work have 18 items, which represent three stages of future orientation; motivation, planning and evaluation. Test the validity of measuring instruments tested using content validity, ensure measuring instrument contains items which representing the whole idea or concept of the definition variables measured. The researcher uses descriptive analysis technique to process the data and uses frequency distribution to present it.

From the research, it is shown that the result of respondents who have a clear future orientation of work (58%) with respondents who do not have a clear future orientation of work (42%). In their research, 55.17% respondents who have a clear future orientation of work and have last education in high school. Whereas, 38.9% respondents who do not have a clear future orientation of work in stage strong motivation have last education in junior high school.

Based on result of research, the researcher suggests for the next researcher to increase the number of samples and doing research differential. The researcher suggests for the convict so that they can dig up the potency in them self and not only to have interested and purpose, but also can planning and optimistic that they can get a job in future. The researcher suggests for Penitentiary part of social guidance to give guidance and added type of development for respondents. Futhermore, The researcher suggests for part of social guidance to give the counseling for the convict who do not have a clear future orientation of work. The counseling given for respondents be expected that respondents can know about interest and the purpose so that can guidance the respondents to region of work that appropriate with their interested and can give guidance in evaluation for possibility realization of purpose.

(3)

viii Universitas Kristen Maranatha DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN………....i

KATA PENGANTAR………....ii

ABSTRAK………...………..………vi

DAFTAR ISI………...viii

DAFTAR TABEL………....xii

DAFTAR BAGAN……….………..xiv

DAFTAR LAMPIRAN………xv

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah………..………..1

1.2. Identifikasi Masalah………12

1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian………12 1.4. Kegunaan Penelitian………12 1.4.1. Kegunaan Teoritis……….………...13

1.4.2. Kegunaan Praktis……….…13 1.5. Kerangka Pemikiran………....14

1.6. Asumsi……….…24

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Teori Orientasi Masa Depan………...25

(4)

ix Universitas Kristen Maranatha

2.1.2. Proses-proses Orientasi Masa Depan……….….25

2.1.3. Orientasi Masa Depan sebagai Suatu Sistem……….…….32

2.2. Perkembangan Dewasa Awal………..33

2.2.1. Karakteristik Dewasa Awal………...33

2.2.2. Perkembangan Kognitif masa Dewasa Awal...36

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Rancangan dan Prosedur Penelitian………37

3.2. Bagan Prosedur Penelitian………..37

3.3. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional……….38

3.3.1. Variabel Penelitian………38

3.3.2. Definisi Operasional………..…....38

3.4. Alat Ukur………..……...38

3.4.1. Kuesioner Orientasi Masa Depan Bidang Pekerjaan……….38

3.4.2. Data Sosio Demografis……….………….46 3.4.3. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ……….46

3.4.3.1. Validitas Alat Ukur………..…………..46

3.4.3.2. Reliabilitas Alat Ukur……….….………..46

3.5. Populasi Sasaran dan Karakteristik Populas……….………..47

3.5.1. Populasi Sasaran………..………..47

3.5.2. Karakteristik Populasi…..………...47

3.5.3. Teknik Penarikan Sampel ………..……….….47

(5)

x Universitas Kristen Maranatha BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Responden……….…………49

4.1.1. Gambaran Umum Responden Berdasarkan Usia Responden……..….49 4.1.2. Gambaran Umum Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir

Responden………..50

4.1.3. Gambaran Umum Responden Berdasarkan Kasus Kriminal yang Dilakukan Responden ……….………..50

4.1.4. Gambaran Umum Responden Berdasarkan Vonis Hukuman

Responden……….……….51

4.1.5. Gambaran Umum Responden Berdasarkan Lama Hukuman yang Dijalani Responden………..………..51

4.1.6. Gambaran Umum Responden Berdasarkan Kegiatan Responden Sebelum Masuk Lembaga Pemasyarakatan……….………..52

4.1.7. Gambaran Umum Responden Berdasarkan Rencana Setelah Bebas....52

4.1.8. Gambaran Umum Responden Berdasarkan Status Pernikahan…...53 4.1.9. Gambaran Umum Responden yang Sudah Menikah Berdasarkan

Status Istri……….………..53

4.1.10. Gambaran Umum Responden yang Sudah Menikah Berdasarkan

Jumlah Anak……….…………..54

(6)

xi Universitas Kristen Maranatha 4.2.1. Tabulasi Silang Orientasi Masa Depan Bidang Pekerjaan yang Tidak

Jelas Dengan Tahap Motivasi………55

4.2.2. Tabulasi Silang Orientasi Masa Depan Bidang Pekerjaan yang Tidak Jelas Dengan Tahap Perencanaan ……….………55

4.2.3. Tabulasi Silang Orientasi Masa Depan Bidang Pekerjaan yang Tidak Jelas Dengan Tahap Evaluasi……….………56

4.3. Pembahasan……….56

BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1. Simpulan……….………64

5.2. Saran………66

5.2.1. Saran untuk Penelitian Lanjutan……….……….66

5.2.2. Saran Guna Laksana……….………66

DAFTAR PUSTAKA………...……68

(7)

xii Universitas Kristen Maranatha DAFTAR TABEL

Tabel 3.1. Kisi-kisi Alat Ukur Orientasi Masa Depan………..…….39 Tabel 3.2. Kategori Skor Item No.16………...………..43

Tabel 3.3. Kategori Skor Item No.18………...………..44

Tabel 3.4. Kriteria Penilaian………..………45 Tabel 4.1. Gambaran Responden Berdasarkan Usia Responden………….……..49

Tabel 4.2. Gambaran Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir Responden...50

Tabel 4.3. Gambaran Responden Berdasarkan Kasus Kriminal Responden.…....50 Tabel 4.4. Gambaran Responden Berdasarkan Vonis Hukuman Responden……51

Tabel 4.5. Gambaran Responden Berdasarkan Hukuman yang Telah Dijalani

Responden………..………51

Tabel 4.6. Gambaran Responden Berdasarkan Kegiatan Responden Sebelum asuk Lembaga Pemasyarakatan……….……….52 Tabel 4.7. Gambaran Responden Berdasarkan Rencana Setelah Bebas…………52

Tabel 4.8. Gambaran Responden Berdasarkan Status Pernikahan………53 Tabel 4.9. Gambaran Responden Berdasarkan Status

Istri………..………...53

Tabel 4.10. Gambaran Responden yang Sudah Menikah Berdasarkan Jumlah Anak………...54

(8)

xiii Universitas Kristen Maranatha Tabel 4.12. Tabulasi Silang Orientasi Masa Depan yang Tidak Jelas Dengan

Tahap Motivasi………...55

Tabel 4.13. Tabulasi Silang Orientasi Masa Depan yang Tidak Jelas Dengan

Tahap Perencanaan……….………...…...55

Tabel 4.14. Tabulasi Silang Orientasi Masa Depan yang Tidak Jelas Dengan

(9)

xiv Universitas Kristen Maranatha DAFTAR BAGAN

Bagan 1.1. Kerangka Pikir……….23

Bagan 2.1. Orientasi Masa Depan Berdasarkan Ketiga Tahapan………..27

(10)

xv Universitas Kristen Maranatha DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Profil Lembaga Pemasyarakatan

Lampiran 2 Kuesioner Orientasi Masa Depan Dalam Bidang Pekerjaan Lampiran 3 Kuesioner Data Sosio Demografis

Lampiran 4 Data Mentah Hasil Penelitian

Lampiran 5 Hasil Pengujian Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur

Lampiran 6 Tabulasi Silang Antara Orientasi Masa Depan Bidang Pekerjaan Jelas Dengan Data Sosiodemografis

(11)

1 Universitas Kristen Maranatha BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Masalah

Indonesia sebagai negara dengan penduduk terbesar ke-empat di dunia, memiliki tingkat kejahatan yang tinggi pula. Tercatat dalam portal Pikiran Rakyat (21 Mei 2012), tingkat kejahatan di Indonesia mengalami kenaikan 6% tiap tahunnya. Dapat dilihat bahwa kriminalitas merupakan salah satu persoalan rumit yang dihadapi pemerintah dan masyarakat di Indonesia saat ini. Para pelaku yang melakukan tindak kriminal pun beragam, hal ini dapat dilihat berdasarkan jenis kelamin, usia dan jenis kejahatannya (http://digilib.umm.ac.id).

(12)

2

Universitas Kristen Maranatha Masa hukuman narapidana yang satu dengan narapidana yang lain berbeda. Lama masa hukuman yang harus dijalani oleh para narapidana didasarkan atas berat ringannya tindak kejahatan yang dilakukan oleh narapidana tersebut. Hal tersebut telah diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang memuat tentang seluruh tindak kejahatan yang dilakukan masyarakat beserta sanksi-sanksinya (http://cyber.unissula.ac.id). Semakin berat tindak kriminal yang dilakukan narapidana maka masa hukumannya akan semakin lama dan sebaliknya semakin ringan tindak kriminal yang dilakukan narapidana maka masa hukumannya semakin ringan.

Selama menjalani masa hukumannya, seorang narapidana juga mendapatkan pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan. Adanya model pembinaan bagi narapidana di dalam Lembaga Pemasyarakatan bertujuan untuk lebih banyak memberikan bekal bagi narapidana dalam menyongsong kehidupan setelah selesai menjalani masa hukuman (bebas). Harus disadari juga bahwa pembinaan yang diberikan selama di Lembaga Pemasyarakatan itu mempunyai tujuan yang baik, tetapi jika narapidana itu sendiri tidak sanggup ataupun masyarakat itu sendiri yang tidak mau menerimanya, maka pembinaan tidak akan mencapai sasarannya. (http://bledhos.wordpress.com/2012/05/22). Oleh karena itu diharapkan setiap narapidana dapat memanfaatkan pembinaan yang diberikan selama di Lembaga Pemasyarakatan.

(13)

3

Universitas Kristen Maranatha layak, hasil yang mencukupi serta hubungan baik dengan masyarakat adalah dambaan bagi setiap orang tidak terkecuali mantan narapidana. (http://repository.unand.ac.id).

Pada Lembaga Pemasyarakatan “X” Bandung ditemukan berbagai kasus yang terkait tindak pidana seperti pencurian, pencabulan, perampokan, penipuan, penganiayaan, pencucian uang (money laundry), pembunuhan, perbuatan asusila terhadap anak di bawah umur dan tindak pidana korupsi (tipikor). Lembaga Pemasyarakatan “X” Bandung mempunyai daya tampung (kapasitas) sebanyak 552 sel (kamar hunian), namun saat ini hanya diisi oleh 450 orang yang dibagi ke dalam empat blok, yaitu blok barat, utara, timur dan selatan. Pembagian blok tersebut tidak berdasarkan oleh tindak pidana ataupun lamanya masa hukuman.

Blok Utara merupakan blok pertama yang harus ditempati oleh para narapidana ketika masa orientasi di dalam Lembaga Pemasyarakatan. Para narapidana tersebut selama satu minggu hanya menempati kamar dalam Lembaga Pemasyarakatan dan tidak dapat melakukan aktivitas lainnya. Setelah satu minggu, para narapidana dapat beraktivitas seperti narapidana lainnya dan dapat dipindahkan ke dalam blok barat, timur maupun selatan.

Di dalam Lembaga Pemasyarakatan “X” Bandung terdapat pembinaan rohani bagi para narapidana. Pembinaan rohani yang ada di dalam Lembaga Pemasyarakatan “X” Bandung adalah Pesantren / ceramah agama bagi yang

(14)

4

Universitas Kristen Maranatha Jumat sedangkan kebaktian di Gereja dilakukan pada hari Minggu. Namun, diluar dari pembinaan rutin setiap minggunya, terdapat kegiatan siraman rohani dan kebaktian di gereja (persekutuan doa) pada hari lainnya, yaitu hari senin, selasa dan rabu, kamis dan sabtu. Jadwal pada hari lainnya (senin,selasa dan rabu) dapat berubah-ubah apabila ada acara di Lembaga Pemasyarakatan.

Selain pembinaan kerohanian, terdapat pembinaan dalam bidang keterampilan dan kepemimpinan yaitu pramuka. Pembinaan kepramukaan ini bertujuan agar para narapidana lebih dapat meningkatkan kualitas kepribadiannya untuk menjadi manusia yang berwawasan kebangsaan dan mempunyai rasa nasionalisme, memiliki rasa percaya diri tinggi sehingga dapat dijadikan sebagai bekal kehidupan bagi para narapidana setelah menjalani masa pidananya.

Terdapat juga kegiatan pembinaan kemandirian yang bertujuan agar para narapidana dapat mengembangkan keterampilan yang telah dipelajari di Lembaga Pemasyarakatan “X” Bandung. Pembinaan kemandirian yang dilaksanakan di

Lembaga Pemasyarakatan “X” Bandung adalah perkayuan, percetakan,

(15)

5

Universitas Kristen Maranatha hasil kerja ataupun karya yang telah dikerjakan oleh mereka. Sebagian besar narapidana mengikuti kegiatan pembinaan ataupun bekerja di dalam Lapas. Para narapidana mencari penghasilan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari maupun untuk diberikan kepada keluarganya. Namun, penghasilan yang didapatkan oleh para narapidana tersebut terbatas sehingga penghasilan tersebut terkadang digunakan untuk memenuhi kebutuhan narapidana di dalam Lembaga Pemasyarakatan (membeli makan, rokok dan kebutuhan sehari-hari).

Hasil kegiatan dari para narapidana bermacam-macam. Pada pembinaan perkayuan menghasilkan barang-barang seperti meja belajar, lemari, kursi, tempat tidur, dll. Pada pembinaan konveksi menghasilkan pakaian seragam SD dan SMP, t-shirt dan kaos olah raga dan kaos oblong. Selain itu, pembinaan kaligrafi menghasilkan hiasan dinding, tulisan arab dan ornamen. Pada pembinaan percetakan menghasilkan buku, kartu, box file, brosur, kartu nama dan kartu undangan.

(16)

6

Universitas Kristen Maranatha dilaksanakan di Lembaga Pemasyarakatan “X” Bandung. Bagi tamping yang bekerja di bagian kunjungan, mereka diberikan tugas untuk mendata narapidana yang mendapatkan kunjungan dan memanggil narapidana tersebut untuk datang ke aula / ruang kunjungan. Namun bagi narapidana yang menjadi tamping bagian bimbingan kemasyarakatan, registrasi maupun kunjungan tidak mendapatkan penghasilan dari pihak Lembaga Pemasyarakatan.

Di dalam Lembaga Pemasyarakatan “X” Bandung terdapat fasilitas-fasilitas umum yang dapat digunakan oleh para narapidana. Salah satu dari fasilitasnya adalah perpustakaan, fasilitas lainya seperti laboratorium bahasa inggris, ruang komputer, salon, rumah sakit, kantin, tenis meja, tenis lapangan, ruang bermain band, lapangan bola voli, lapangan bulu tangkis dan lapangan sepak bola. Terdapat juga fasilitas telepon umum yang disediakan bagi narapidana yang akan menghubungi keluarganya.

Fasilitas perpustakaan di Lembaga Pemasyarakatan “X” Bandung

dinamakan “Perpustakaan Putra Fajar” dan bekerja sama dengan Badan

(17)

7

Universitas Kristen Maranatha mengetahui cara menggunakan komputer. Selain itu, terdapat rumah sakit untuk merawat narapidana yang sedang sakit. Para narapidana juga dapat menjadi tamping apabila berminat untuk membantu dokter di rumah sakit dan merawat narapidana lain yang sedang sakit. Ketika menjadi tamping rumah sakit, para narapidana tidak mendapatkan penghasilan.

Kegiatan rekreatif terjadwal dalam bidang olah raga dan musik merupakan kegiatan untuk menampung aspirasi narapidana terkait dengan hobi masing-masing. Terdapat kegiatan senam pagi yang dilaksanakan secara massal setiap hari sabtu. Selain itu, para narapidana dapat menggunakan fasilitas tenis meja, tenis lapangan, lapangan bola voli, lapangan bulu tangkis dan lapangan sepak bola dapat dilaksanakan oleh setiap narapidana dengan pengaturan jadwal yang lebih fleksibel namun tetap dalam pengawasan dari pihak bimbingan kemasyarakatan. Dalam kegiatan bermusik, para narapidana dapat menggunakan wisma budaya yang terdapat di dalam Lembaga Pemasyarakatan “X” Bandung untuk dapat

bermain musik. Para narapidana yang ingin bermain musik dapat menggunakan wisma budaya pada hari senin,selasa,rabu,kamis dan sabtu pada jam 10.00 sampai jam 12.00.

(18)

8

Universitas Kristen Maranatha mudah untuk bekerja setelah para narapidana ke luar dari Lembaga Pemasyarakatan.

Di dalam Lembaga Pemasyarakatan “X” Bandung terdapat konsultasi

psikolog. Kegiatan konseling ini dapat terlaksana dengan adanya dukungan dan bantuan dari Universitas Islam Bandung (UNISBA) Fakultas Pasca Sarjana Jurusan Psikologi yang telah membuat MOU dengan Lembaga Pemasyarakatan “X” Bandung untuk memberikan konseling kepada para narapidana. Jadwal

kegiatan konseling dilaksanakan setiap hari senin dan kamis pada pukul 09.00 sampai 13.00.

Para narapidana yang berada di Lembaga Pemasyarakatan “X” Bandung semuanya berjenis kelamin laki-laki. Ketika narapidana menjalani hukuman dan memertanggungjawabkan perbuatannya, pada saat itu juga mereka kehilangan pekerjaannya. Para narapidana tidak dapat menafkahi keluarganya sehingga istri, anak ataupun anggota keluarga lainnya yang menggantikan posisi mereka sebagai tulang punggung keluarganya.

(19)

9

Universitas Kristen Maranatha dari masa pidananya dengan ketentuan 2/3 tersebut tidak kurang dari 9 (sembilan) bulan.

Sebelum para narapidana mendapatkan pembebasan bersyarat, para narapidana mendapatkan pembinaan integrasi dengan masyarakat. Pembinaan integrasi tersebut berupa asimilasi, yaitu para narapidana dapat melakukan kerja bakti dan pertanian di luar Lembaga Pemasyarakatan. Kerja bakti yang dilaksanakan yaitu bekerja di area parkir Lembaga Pemasyarakatan. Ada beberapa tugas yang diberikan untuk narapidana yang mengikuti pembinaan asimilasi, seperti : memotong rumput dan membersihkan taman, menjadi petugas parkir selama masa kunjungan. Masa kunjungan dimulai dari jam 9 pagi sampai jam 2 siang. Namun, kegiatan asimilasi ini tetap dalam pengawasan petugas bimbingan kemasyarakatan.

Pembinaan asimilasi tidak diwajibkan bagi para narapidana yang akan bebas / telah menjalani 2/3 dari masa hukumannya. Para narapidana yang tidak mengikuti pembinaan asimilasi, maka dapat melaksanakan pembinaan yang sebelumnya telah diikuti. Dengan beragamnya pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan “X” Bandung, namun terdapat juga narapidana yang tidak

mengikuti pembinaan. Menurut Drs. Ranggawulung selaku petugas bagian registrasi di Lembaga Pemasyarakatan “X” Bandung, sekitar 40% narapidana

tidak mengikuti pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan “X” Bandung. Lembaga

(20)

10

Universitas Kristen Maranatha memaksakan para narapidana untuk mengikuti pembinaan yang diadakan dari Lembaga Pemasyarakatan.

Pembinaan asimilasi bertujuan agar para narapidana dapat bersosialiasi dengan masyarakat sehingga ketika para narapidana bebas nanti diharapkan dapat lebih mudah dalam mencari pekerjaan. Dengan berbagai pembinaan yang ada di Lembaga Pemasyarakatan “X” Bandung, diharapkan para narapidana dapat

mengetahui mengenai minat dan potensi yang dimilikinya. Selain itu, dengan adanya program pendidikan diharapkan para narapidana dapat lebih mudah untuk mencari pekerjaan di masa depan.

Dengan adanya Pembebasan Bersyarat, para narapidana dapat bebas lebih cepat sehingga para narapidana dapat mencari pekerjaan maupun menjalani kegiatannya kembali. Oleh karena itulah, sangat penting bagi narapidana untuk melakukan suatu tindakan antisipasi untuk menghadapi masa depannya setelah bebas dari Lembaga Pemasyarakatan, khususnya dalam bidang pekerjaan. Antisipasi dalam bidang pekerjaan tersebut oleh Nurmi (1989) disebut sebagai orientasi masa depan dalam bidang pekerjaan.

(21)

11

Universitas Kristen Maranatha yang dimilikinya. Evaluasi berhubungan dengan kemungkinan terealisasinya tujuan yang telah dibentuk dan rencana-rencana yang telah disusun.

Berdasarkan hasil wawancara dengan sepuluh narapidana yang telah menjalani 2/3 dari masa hukuman di Lapas “X” Bandung, seluruh narapidana (100%) telah memiliki minat untuk bekerja dalam bidang pekerjaan tertentu di masa depan. Sebanyak 80% narapidana tersebut mengungkapkan bahwa mereka ingin melanjutkan pekerjaan setelah mereka bebas, membuka usaha dan meneruskan usaha keluarga. Selain itu, 80% narapidana juga memunyai rencana-rencana yang telah dipersiapkan di masa depan. Terdapat ungkapan dari narapidana bahwa mereka telah mendiskusikan mengenai bidang pekerjaan yang diminati dengan keluarganya, berdiskusi dan merencanakan untuk membuka usaha bersama dengan teman-teman narapidana yang dikenalnya di Lembaga Pemasyarakatan ketika mereka bebas nanti dan mencari informasi dari buku-buku yang terdapat di perpustakaan. Selain itu, dari 80% narapidana tersebut, mereka sudah memikirkan kembali mengenai bidang pekerjaan yang akan dilakukan dengan pengetahuan, kemampuan, dan pengalaman yang dimiliki. Para narapidana merasa yakin (80%) jika bidang pekerjaan yang akan dilakukan di masa depan akan berjalan dengan lancar.

(22)

12

Universitas Kristen Maranatha yang dilami oleh para narapidana yang telah menjalani 2/3 dari masa hukuman di Lembaga Pemasyarakatan “X” Kota Bandung dalam orientasi masa depan di bidang pekerjaan bermacam-macam. Berdasarkan hasil survey awal kepada narapidana yang berusia produktif dan telah menjalani 2/3 dari masa hukuman di Lembaga Pemasyarakatan “X” Kota Bandung mengenai orientasi masa depan bidang pekerjaan, maka peneliti tertarik untuk meneliti Orientasi Masa Depan Bidang Pekerjaan pada Narapidana yang telah Menjalani 2/3 dari Masa Hukuman

Di Lembaga Pemasyarakatan “X” Bandung.

1.2Identifikasi Masalah

Dari penelitian ini ingin diketahui bagaimana orientasi masa depan bidang pekerjaan pada narapidana yang telah menjalani 2/3 dari masa hukuman di Lapas “X” Bandung.

1.3Maksud dan Tujuan Penelitian

a) Maksud dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran mengenai orientasi masa depan bidang pekerjaan pada narapidana yang telah menjalani 2/3 dari masa hukuman di Lapas “X” Bandung.

(23)

13

Universitas Kristen Maranatha 1.4Kegunaan Penelitian

1.4.1 Kegunaan Teoretis

a) Memberikan tambahan informasi pada bidang ilmu psikologi sosial mengenai gambaran orientasi masa depan bidang pekerjaan pada narapidana yang telah menjalani 2/3 dari masa hukuman di Lapas “X” Bandung.

b) Untuk memberikan informasi dan memperkaya wawasan peneliti lain yang tertarik meneliti mengenai orientasi masa depan bidang pekerjaan pada narapidana yang telah menjalani 2/3 dari masa hukuman di Lapas “X” Bandung.

1.4.2 Kegunaan Praktis

a) Memberikan informasi kepada petugas di Lapas “X” Bandung mengenai orientasi masa depan bidang pekerjaan yang dapat menjadi bahan pertimbangan dalam rangka memberikan pembinaan kepada narapidana. b) Memberikan informasi pada Pembina Lembaga Pemasyarakatan di Lapas

“X” Bandung mengenai gambaran orientasi masa depan dalam bidang

(24)

14

Universitas Kristen Maranatha 1.5Kerangka Pikir

Pelaku tindak kriminal yang telah dijatuhkan vonis bersalah oleh hukum dan harus menjalani hukuman disebut narapidana (Harsono,1995). Setiap narapidana harus memertanggungjawabkan perbuatannya di Lembaga Permasyarakatan (Lapas). Dengan adanya Lembaga Pemasyarakan ini, diharapkan para narapidana yang sudah mendapatkan vonis atas nama hukum dan memunyai perilaku yang menyimpang dapat dibina untuk dikembalikan ke masyarakat nantinya. Pada narapidana perlu memersiapkan dirinya setelah mereka bebas, terutama bagi narapidana yang telah menjalani sebagian dari masa hukumannya. Oleh karena itulah, sangat penting bagi narapidana untuk melakukan suatu tindakan antisipasi terutama untuk narapidana yang telah menjalani 2/3 dari masa hukumannya dalam menghadapi masa depannya setelah bebas dari Lembaga Pemasyarakatan, khususnya dalam bidang pekerjaan. Antisipasi dalam bidang pekerjaan tersebut oleh Nurmi (1989) disebut sebagai orientasi masa depan dalam bidang pekerjaan.

Pada masa dewasa awal, seseorang mencari uang untuk hidup, memilih pekerjaan, meraih karier dan berkembang dalam suatu karier (Santrock, 2003). Pada masa dewasa awal, diharapkan para narapidana dapat memilih pekerjaan dan mengembangkan kemampuannya dalam pekerjaan yang dipilihnya.

(25)

15

Universitas Kristen Maranatha di Lembaga Pemasyarakatan “X” Bandung adalah perkayuan, percetakan, pembuatan layang-layang, pertanian di dalam maupun di luar Lembaga Pemasyarakatan, konveksi, budi daya jamur, budi daya ikan, perbengkelan, pangkas rambut, handy craf angklung mini, penjahitan, pertamanan, kaligrafi dan laundry. Selain itu terdapat fasilitas umum yang dapat dipergunakan oleh para narapidana, seperti : perpustakaan, fasilitas laboratorium bahasa inggris, salon, kantin, tenis meja, lapangan bulu tangkis dan lapangan sepak bola.

Orientasi masa depan didefinisikan sebagai cara seseorang memandang masa depannya yang mencakup motivasi untuk mencapai tujuan, perencanaan, dan strategi pencapaian tujuan (Nurmi, 1989). Tahap motivasi mengacu tentang ketertarikan yang individu miliki di masa depan dan tujuan-tujuan orientasi masa depan mengacu untuk mengantisipasi kejadian dan sasaran masa depan. Tanpa adanya motivasi, seluruh kegiatan yang dilakukan tidak terarah dan tidak mempunyai tujuan yang pasti. Pada narapidana di Lembaga Pemasyarakatan “X” Bandung memunyai minat terhadap bidang pekerjaan tertentu. Setelah mengetahui bidang pekerjaan yang diminati, maka diharapkan narapidana dapat belajar sesuai dengan kemampuan yang dimiliki secara optimal dalam memperoleh hasilnya. Minat pada setiap orang bervariasi berdasarkan seberapa jauh mereka memperkirakan minat tersebut dapat direalisasikan (Nurmi, 1989).

(26)

16

Universitas Kristen Maranatha layak. Dengan program pendidikan dan pembinaan yang diadakan di dalam Lapas dapat membuat motivasi para narapidana untuk mendapat kehidupan yang layak semakin kuat. Motivasi dikatakan kuat apabila para narapidana sudah memiliki minat dan tujuan yang spesifik. Sedangkan motivasi dikatakan lemah apabila para narapidana sudah memiliki minat dan tujuan tetapi belum spesifik. Para narapidana yang dikatakan mempunyai motivasi lemah apabila mereka tidak melihat peluang kesuksesan dalam bidang pekerjaan di masa depan sehingga tidak menentukan pekerjaan apa yang ingin dilakukannya kelak.

Tahap yang kedua yaitu perencanaan. Perencanaan merupakan usaha untuk merealisasikan minat, dan tujuan yang terkait dengan bidang pekerjaan yang diinginkan. Dalam Cognitive Psychology and Action Theory, perencanaan dikarakteristikan sebagai suatu proses penetapan sub-tujuan, menyusun rencana dan merealisasikan rencana tersebut. Aktivitas perencanaan dibagi dalam tiga fase. Fase yang pertama, para narapidana menyusun gambaran mengenai tujuan dan konteks masa depan tujuan tersebut diharapkan akan direalisasikan. Seperti gambaran bidang pekerjaan yang dipilih dan profesinya seperti apa, serta memilih usaha yang akan dijalankan. Hal tersebut didasarkan pada pengetahuan yang dimiliki tentang konteks aktivitas di masa depan.

(27)

17

Universitas Kristen Maranatha yang akan dirintis oleh para narapidana. Fase yang terakhir dari perencanaan adalah melaksanakan rencana dan strategi yang telah disusun. Pelaksanaan dari rencana dan strategi juga dikontrol oleh perbandingan antara gambaran tujuan dengan realita. Selama para narapidana masih berada di dalam Lembaga Pemasyarakatan, ada kemungkinan jika mereka mendapatkan informasi mengenai bidang pekerjaan yang dapat memengaruhi mereka untuk bekerja di bidang tertentu. Terdapat kemungkinan jika keinginan para narapidana menjadi semakin kuat, dapat juga keinginan menjadi lemah dan minatnya beralih pada bidang pekerjaan lain, sehingga rencana dari para narapidana harus diubah.

(28)

18

Universitas Kristen Maranatha mendapatkan suatu pekerjaan atau membuka suatu usaha berdasarkan kemampuan mereka dan kesempatan yang dimiliki, seperti keterampilan, pengetahuan, dan sebagainya. Para narapidana memikirkan kembali pekerjaan yang diinginkan dengan pengetahuan, kemampuan, dan pengalaman yang dimiliki tentang bidang yang mereka inginkan.

Pada tahap evaluasi, causal attributions and affect memiliki peran yang besar dalam mengevaluasi kemungkinan terwujudnya tujuan dan rencana orientasi masa depan. Causal attribution didasarkan oleh evaluasi kognitif secara sadar mengenai kesempatan seseorang untuk mengontrol masa depan. Para narapidana memperkirakan apakah diri sendiri atau faktor lingkungan yang lebih banyak berpengaruh untuk mencapai suatu pekerjaan. Sedangkan affect merupakan perasaan seperti optimis atau pesimis yang dapat mempengaruhi tercapainya rencana yang telah dibuat untuk mencapai suatu pekerjaan. Oleh karena itu, merumuskan tujuan pribadi dan menuangkannya dalam perencanaan yang jelas dan terarah merupakan awal dari kesuksesan pribadi termasuk kesuksesan narapidana. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa narapidana mempunyai evaluasi yang tinggi. Selain evaluasi yang tinggi terdapat juga evaluasi yang rendah.

(29)

19

Universitas Kristen Maranatha diinginkan. Hal-hal seperti inilah yang disebut oleh Nurmi sebagai tahap evaluasi dalam Orientasi Masa Depan.

Terdapat juga kondisi sosiodemografis yang memberikan gambaran keseluruhan mengenai orientasi masa depan para narapidana. Kondisi sosiodemografis dapat dilihat dari pendidikan terakhir, vonis hukuman, kasus yang menyebabkan masuk Lembaga Pemasyarakatan, lama hukuman yang dijalani, kegiatan sebelum masuk Lembaga Pemasyarakatan, rencana kegiatan atau pekerjaan setelah menjalani hukuman, status pernikahan, pekerjaan/ kegiatan istri dan jumlah anak.

Latar belakang pendidikan para narapidana dapat memberikan gambaran mengenai pencapaian tujuan di masa depan. Narapidana yang sebelumnya telah menempuh pendidikan SMA lebih banyak mendapatkan informasi dan pembelajaran sebelum mereka masuk ke dalam Lembaga Pemasyarakatan. Sedangkan narapidana yang sebelumnya berpendidikan SMP juga mendapatkan informasi namun informasi yang diperoleh lebih terbatas dibandingkan dengan narapidana yang sebelumnya menempuh pendidikan SMA. Selain itu, posisi pekerjaan yang dapat ditempati oleh narapidana yang berpendidikan SMP lebih sempit dibandingkan dengan narapidana yang berpendidikan tinggi (SMA, S1).

(30)

20

Universitas Kristen Maranatha keterampilan dalam bidang yang diminatinya maka akan semakin mudah bagi narapidana untuk mendapatkan pekerjaan/ membuka usaha yang sesuai dengan bidang tersebut. Keterampilan para narapidana didapatkan para narapidana melalui pengalaman bekerja sebelum masuk ke dalam Lembaga Pemasyarakatan maupun keterampilan yang didapatkan setelah mengikuti pembinaan yang dilaksanakan di dalam Lembaga Pemasyarakatan.

Status pernikahan para narapidana juga dapat memberikan gambaran mengenai orientasi masa depan setelah mereka bebas dari Lembaga Pemasyarakatan. Narapidana yang telah menikah dan mempunyai anak mempunyai tanggung jawab yang lebih besar untuk menafkahi keluarganya. Ketika para narapidana harus memertanggungjawabkan perbuatannya, mereka tidak dapat menafkahi keluarganya sehingga istri ataupun anak yang menggantikan posisi mereka sebagai tulang punggung keluarga. Istri dari narapidana yang mempunyai usaha sendiri mendapatkan penghasilan untuk menafkahi anak-anaknya selama suaminya menjalani masa hukuman di Lembaga Pemasyarakatan.

(31)

21

Universitas Kristen Maranatha rencana untuk dapat bekerja setelah mereka keluar dari Lembaga Pemasyarakatan. Hal ini juga didukung dengan keterampilan yang dimiliki oleh para narapidana dalam bidang yang diminatinya maka para narapidana tersebut akan semakin mudah untuk mendapatkan pekerjaan/ membuka usaha yang sesuai dengan bidang tersebut.

Disamping itu, dengan status pernikahan para narapidana, apabila narapidana telah menikah dan mempunyai anak maka tanggung jawabnya akan lebih besar karena narapidana tersebut harus menafkahi istri dan anak-anaknya. Apabila para narapidana tidak memiliki jumlah anak yang banyak maka tidak akan terlalu berat dirasakan oleh istri mereka. Kondisi narapidana yang berada di Lembaga Pemasyarakatan membuat narapidana tersebut sulit untuk mencari nafkah bagi keluarganya. Selain itu, dengan lamanya hukuman yang telah dijalani oleh para narapidana maka akan semakin sedikit sisa hukuman yang harus dijalani. Oleh karena itu, selama para narapidana menjalani masa hukuman. pekerjaan istri akan membantu kondisi keuangan keluarga narapidana tersebut.

(32)

22

Universitas Kristen Maranatha menikah dan istri dari narapidana tidak bekerja, memiliki anak yang cukup banyak maka akan memberikan gambaran keseluruhan mengenai orientasi masa depan bidang pekerjaan yang tidak jelas.

Jadi, para narapidana dikatakan memiliki orientasi masa depan jelas apabila mereka dapat menentukan minat dan tujuan yang spesifik untuk bidang pekerjaan di masa depan (motivasi kuat), mampu merencanakan secara jelas sesuai dengan minat dan tujuan yang ingin dicapai (perencanaan terarah), serta dapat mengevaluasi kemungkinan terwujudnya minat dan tujuan yang telah dibentuk dan rencana yang telah disusun (evaluasi akurat). Sedangkan para narapidana yang mempunyai orientasi masa depan yang tidak jelas apabila motivasinya lemah, perencanaan tidak terarah, dan evaluasi tidak akurat.

Para narapidana yang memiliki orientasi masa depan bidang pekerjaan jelas, mereka memiliki minat dan tujuan untuk bekerja dalam suatu bidang tertentu. Dengan adanya minat tersebut, maka narapidana mempersiapkan rencana-rencana untuk dapat bekerja di bidang pekerjaan yang mereka minati setelah ke luar dari Lembaga Pemasyarakatan. Selain itu, para narapidana juga melihat kemungkinan mengenai terealisasikan minat dalam bidang pekerjaan dan merasa yakin jika nantinya para narapidana tersebut dapat bekerja sesuai dengan bidang pekerjaan yang diminati setelah para narapidana tersebut ke luar dari Lembaga Pemasyarakatan.

(33)

23

Universitas Kristen Maranatha bidang pekerjaan tertentu. Dengan belum adanya minat tersebut maka para narapidana tidak membuat perencanaan tertentu dan belum melihat mengenai kemungkinan terealisasikan suatu bidang pekerjaan tertentu mereka ke luar dari Lembaga Pemasyarakatan.

Dari uraian di atas, kerangka pikir ini dapat digambarkan sebagai berikut :

Bagan 1.1 Kerangka Pikir Narapidana yang

telah menjalani 2/3 dari masa hukuman

di Lembaga Pemasyarakatan “X”

Bandung

Orientasi Masa Depan Bidang Pekerjaan

Jelas

Tidak jelas Faktor sosio demografis yang

mempengaruhi : 1. Pendidikan terakhir 2. Vonis hukuman

3. Lama hukuman yang dijalani 4. Kasus yang menyebabkan

masuk Lapas

5. Kegiatan sebelum masuk Lapas

6.Rencana setelah menjalani hukuman

7.Status pernikahan 8.Pekerjaan / kegiatan istri 9.Jumlah Anak

(34)

24

Universitas Kristen Maranatha 1.6Asumsi

Dari data di atas maka dapat diambil asumsi sebagai berikut :

1) Orientasi masa depan bidang pekerjaan akan jelas bila fase-fase dalam Orientasi masa depan berada dalam kategori kuat, terarah, dan akurat. 2) Responden yang telah menjalani 2/3 dari masa hukuman akan menetapkan

rencana pekerjaan mengingat keberadaannya pada rentang usia produktif. 3) Kondisi sosiodemografis akan memberikan kejelasan atau ketidakjelasan

(35)

64 Universitas Kristen Maranatha BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1. Simpulan

Berdasarkan penelitian terhadap 50 narapidana yang telah menjalani 2/3 dari masa hukuman di Lembaga Pemasyarakatan “X” Bandung dapat ditarik

simpulan sebagai berikut :

1) Sebanyak 58% responden yang memiliki orientasi masa depan bidang pekerjaan yang jelas, sedangkan 42% responden yang memiliki orientasi masa depan bidang pekerjaan yang tidak jelas.

2) Dari 58% responden yang memiliki orientasi masa depan bidang pekerjaan yang jelas, seluruhnya memiliki motivasi kuat, perencanaan terarah, dan evaluasi yang akurat.

3) Responden yang memiliki orientasi masa depan bidang pekerjaan yang tidak jelas (42%), 85.7% yang memiliki motivasi kuat, 90.5% yang memiliki perencanaan tidak terarah dan 76.1% responden yang memiliki evaluasi akurat.

(36)

65

Universitas Kristen Maranatha Pemasyarakatan. Selain itu, 55.2% responden mendapatkan vonis hukuman antara 6 sampai 10 tahun dan 82.8% responden telah menjalani masa hukuman selama 2 sampai 5 tahun serta 48.3% responden dikarenakan kasus perbuatan asusila terhadap anak dibawah umur. Sebanyak 51.7% responden yang memiliki belum menikah. Pada responden yang telah menikah, 57.1% istrinya bekerja dan 57.1% responden yang memiliki satu anak.

5) Dari 42% responden yang memiliki orientasi masa depan bidang pekerjaan tidak jelas, sebanyak 38.9% responden memiliki pendidikan terakhir SMP, 94.4% responden memiliki kegiatan bekerja sebelum masuk ke dalam Lembaga Pemasyarakatan dan 66.7% responden merencanakan untuk bekerja setelah ke luar dari Lembaga Pemasyarakatan. Selain itu, 55.6% responden mendapatkan vonis hukuman antara 6 sampai 10 tahun dan 66.7% responden telah menjalani masa hukuman selama 2 sampai 5 tahun serta 33.3% responden dikarenakan kasus perbuatan asusila terhadap anak di bawah umur. Sebanyak 55.6% responden yang sudah menikah. Pada responden yang telah menikah, 60% responden yang istrinya tidak bekerja dan 50% responden yang memiliki satu anak.

(37)

66

Universitas Kristen Maranatha kecenderungan tertentu terhadap kejelasan orientasi masa depan bidang pekerjaan.

5.2. Saran

5.2.1. Saran untuk Penelitian Lanjutan

Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dilakukan, maka peneliti mengajukan saran untuk peneliti berikutnya untuk menambah ukuran sampel dan melakukan riset diferensial. Riset diferensial yaitu pengukuran pada responden yang karakteristiknya sama, tetapi dilakukan pada Lembaga Pemasyarakatan yang berbeda sebagai pembanding untuk melihat sejauh mana perbedaan hasil antara Lembaga Pemasyarakatan satu dengan Lembaga Pemasyarakatan Lain.

5.2.2. Saran Guna Laksana

(38)

67

Universitas Kristen Maranatha lebih bermanfaat untuk bekal narapidana setelah ke luar dari Lembaga Pemasyarakatan.

2) Disarankan untuk bagian bimbingan kemasyarakatan (bimkemasy) di Lembaga Pemasyarakatan “X” Bandung agar memberikan konseling kepada narapidana yang telah menjalani minimal 1/2 dari masa hukuman agar dapat mengetahui minat dan tujuan para narapidana sehingga bagian bimbingan kemasyarakatan dapat mengarahkan responden ke bidang pekerjaan yang sesuai dengan minat dan tujuan mereka, serta memberikan bimbingan dalam melakukan evaluasi terhadap tujuan responden.

(39)

68

Universitas Kristen Maranatha DAFTAR PUSTAKA

Harsono, C.I. 1995. Sistem Baru Pembinaan Narapidana. Jakarta : Djambatan. Kumar, Ranjit. 1999. Research Methodology : a step-by-step guide for beginners.

London : Sage Publications.

Nazir, Moh. Ph.D.2009.Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia.

Nurmi, JE. 1989. Adolescent’s Orientation To The Future. Helsinki : Finnish Society of Sciences and Letters.

.1991. Future Orientation Questionnare. Helsinki : University of Helsinki.

Santrock, John.W. 2003. Life Span Development Jilid 2 Edisi 5. Jakarta : Erlangga.

.2006. Life Span Development 10th ed. Boston : Mc. Graw Hill.

Siegel, Sidney. 1997. Statistik Non-Parametrik untuk Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

(40)

69

Universitas Kristen Maranatha DAFTAR RUJUKAN

http://www.suarapembaruan.com (diakses pada tanggal 17 Maret 2013 pukul 17.00)

http://digilib.umm.ac.id/files/disk1/372/jiptummpp-gdl-s1-2010-apriliakol-18563-BABI.pdf (diakses pada tanggal 20 Maret 2013 pukul 13.00)

http://repository.usu.ac.id/bitstream (diakses pada tanggal 20 Maret 2013 pukul 15.00)

http://cyber.unissula.ac.id/journal/dosen/publikasi/210799003/164408_triana_pdf (diakses pada tanggal 23 Maret 2013 pukul 14.00)

http://bledhos.wordpress.com/2012/05/22 (diakses pada tanggal 30 Maret 2013 pada pukul 16.00)

http://www.scribd.com/doc/80993604/pembinaan-narapidana (diakses pada tanggal 5 April 2013 pada pukul 12.00)

http://repository.unand.ac.id/17009/1/Adaptasi_Kehidupan_Sosial_Mantan_Nara pidana.pdf. (diakses pada tanggal 13 April pada pukul 19.00)

http://bledhos.wordpress.com/2012/05/22/kesulitan-mantan-narapidana-untuk-kembali-bersosialisasi-dengan-masyarakat/ (diakses pada tanggal 14 April pada pukul 16.00)

Setiawati, Noni E. 2012. Studi Deskriptif Mengenai Orientasi Masa Depan Bidang Pekerjaan Pada Anak Jalanan Usia Remaja Akhir Di SMK “X”

LSM “Y” Kota Bandung. Skripsi. Bandung : Universitas Kristen

Maranatha.

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Barang yang dibutuhkan. 3.) Fungsi promosi adalah pasar juga dapat digunakan untuk memperkenalkan produk baru. dari produsen kepada

[r]

Umur simpan produk emulsi (yang diwakili oleh jenis emulsi A), untuk dapat dikatakan sebagai minuman emulsi yang kaya kandungan beta karoten (100 ppm kadar beta karoten)

Karena motif tersebut yang akan mempengaruhi perilaku siswa dalam kehidupan sehari-hari, seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa masa remaja adalah masa dimana

[3] Erisman Kriswandhani Lim, “ Sistem Penyama Medan Jauh Penyuara Onchip dengan Menggunakan Digital Signal Processing Processor untuk Satu Pendengar pada Satu Posisi Tetap di

Dalam memilih model pembelajaran, seorang guru harus memperhatikan siswanya sebagai subjek belajar. Pada dasarnya siswa yang satu berbeda dengan siswa yang lain,

Setelah pembuatan sampel selesai, selanjutnya dilakukan uji hambatan yang dihasilkan sampel, uji hambatan dengan melakukan mechanical exfoliation (ME), dan uji