BAB II TINJAUAN PUSTAKA. keadaan ekonomi suatu perusahaan kepada pihak pihak yang berkepentingan. laporan keuangan yang disusun oleh perusahaan.

Teks penuh

(1)

10 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

Akuntansi adalah proses identifikasi, pencatatan, dan pengkomunikasian keadaan ekonomi suatu perusahaan kepada pihak – pihak yang berkepentingan. Akuntansi merupakan satu kesatuan sistem informasi pemrosesan data sehingga menghasilkan laporan keuangan yang menggambarkan keadaan perusahaan. Untuk menghitung besarnya pajak terhutang perusahaan dapat dilihat berdasarkan laporan keuangan yang disusun oleh perusahaan.

2.1.1 Laporan Keuangan

Kesatuan sistem informasi akuntansi yang melaui proses pengklasifikasian, pencatatan, pengikhitisaran akan menghasilkan laporan keuangan. Laporan keuangan yang telah disusun mencerminkan keadaan suatu perusahaan. Berikut beberapa pendapat para ahli mengenai pengertian laporan keuangan.

Menurut (Kartikahadi, Sinaga, Syamsul, & Siregar, 2016) pengertian laporan keuangan adalah sebagai berikut:

“Media utama bagi suatu entitas untuk mengkomunikasikan informasi keuangan oleh manajemen kepada para pemangku kepentingan seperti: pemegang saham, kreditur, serikat pekerja, badan pemerintahan, manajemen”.

Menurut (Harahap, 2010:105) pengertian laporan keuangan adalah sebagai berikut:

“Laporan keuangan menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu tertentu. Adapun

(2)

jenis laporan keuangan yang lazim dikenal adalah neraca, laporan laba – rugi atau hasil usaha, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, dan laporan posisi keuangan.”

Berdasarkan pengertian – pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan adalah hasil akhir proses akuntansi berupa media pengkomunikasian kinerja dan posisi keuangan perusahaan yang didalamnya terdapat neraca, laporan laba – rugi atau hasil usaha, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, dan laporan posisi keuangan kepada pihak yang berkepentingan atau pengguna laporan keuangan. Penyusunan laporan keuangan dimaksudkan untuk memiliki tujuan.

2.1.1.1 Komponen Laporan Keuangan

Komponen laporan keuangan menurut (PSAK No. 1 Tahun 2015) komponen laporan keuangan adalah sebagai berikut:

1. Laporan Posisi Keuangan pada Akhir Periode

Laporan yang menunjukkan jumlah aset (harta), kewajiban (utang), dan modal (ekuitas) perusahaan pada saat tertentu.

2. Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain Selama Periode Laporan yang memberikan informasi tentang komposisi penjualan, harga pokok, dan biaya – biaya perusahaan selama suatu periode tertentu ditambah dengan pendapatan komprehensif lain yang berisikan pos – pos pendapatan dan beban. Melalui laporan laba rugi dapat diketahui jumlah laba atau rugi perusahaan selama periode tertentu.

(3)

3. Laporan Perubahan Ekuitas Selama Periode

Laporan yang menyajikan tentang jumlah dan jenis modal yang dimiliki perusahaan pada suatu periode.

4. Laporan Arus Kas Selama Periode

Laporan arus kas memberikan informasi tentang kas masuk dan keluar dari kegiatan operasi, pendanaan dan investasi selama satu periode. 5. Catatan atas Laporan Keuangan

Catatan yang memberikan informasi apabila ada laporan keuangan yang memerlukan penjelasan tertentu.

6. Laporan Posisi Keuangan pada Awal Periode Komparatif

Disajikan ketika entitas menerapkan kebijakan akuntansi secara retrospektif atau membuat penyajian kembali pos – pos dalam laporan keuangannya.

2.1.1.2 Tujuan Laporan Keuangan

Laporan keuangan mampu memberikan informasi keuangan kepada pihak dalam maupun pihak luar perusahaan yang memiliki kepentingan terhadap perusahaan. Dalam praktiknya terdapat beberapa tujuan yang hendak dicapai, terutama bagi pemilik usaha dan manajemen perusahaan.

Berikut ini beberapa tujuan pembuatan atau penyusunan laporan keuangan menurut (Kasmir, 2013:10) yaitu:

1. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah aktiva (harta) yang dimiliki perusahaan pada saat ini.

(4)

2. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah kewajiban dan modal yang dimiliki perusahaan pada saat ini.

3. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah pendapatan yang diperoleh pada suatu periode tertentu.

4. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah biaya dan jenis biaya yang dikeluarkan perusahaan dalam suatu periode tertentu.

5. Memberikan informasi tentang perubahan – perubahan yang terjadi terhadap aktiva, pasiva, dan modal perusahaan.

6. Memberikan informasi tentang kinerja manajemen perusahaan dalam suatu periode.

7. Memberikan informasi tentang catatan – catatan atas laporan keuangan. 8. Informasi keuangan lainnya.

2.1.1.3 Sifat Laporan Keuangan

Pencatatan yang dilakukan dalam penyusunan laporan keuangan harus dilakukan dengan kaidah – kaidah yang berlaku. Demikian pula dalam hal penyusunan laporan keuangan didasarkan pada sifat laporan keuangan itu sendiri.

Menurut (Kasmir, 2014:11) sifat laporan keuangan terbagi menjadi dua yaitu:

1. Bersifat Historis

Artinya bahwa laporan keuangan dibuat dan disusun dari masa lalu atau masa yang sudah lewat dari masa sekarang. Misalnya laporan keuangan disusun berdasarkan data satu atau dua atau beberapa tahun ke belakang (tahun atau periode sebelumnya).

(5)

2. Menyeluruh

Maksudnya laporan keuangan dibuat selengkap mungkin. Artinya laporan keuangan disusun sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Pembuatan atau penyusunan yang tidak lengkap tidak akan memberikan informasi yang lengkap tentang keuangan suatu perusahaan.

Memperoleh laporan keuangan perusahaan suatu perusahaan, akan dapat diketahui kondisi keuangan perusahaan secara menyeluruh. Agar laporan keuangan dapat dimengerti dan dipahami dapat dilakukan dengan menganalisis laporan keuangan tersebut dengan melakukan analisis keuangan menggunakan rasio keuangan.

2.1.1.4 Pengguna Laporan Keuangan

Menurut PSAK No.1 tahun 2015 terdapat beberapa pengguna laporan keuangan dengan kebutuhan informasi yang berbeda, yaitu:

1. Investor

Mereka membutuhkan informasi untuk membantu menentukan apakah harus membeli, menahan, atau menjual investasi tersebut. Pemegang saham juga tertarik pada informasi yang memungkinkan mereka untuk menilai kemampuan entitas untuk membayar dividen.

2. Karyawan

Karyawan dan kelompok – kelompok yang mewakili tertarik pada informasi mengenai stabilitas dan profitabiltas entitas. Mereka juga tertarik dengan informasi yang memungkinkan mereka untuk menilai

(6)

kemampuan entitas dalam memberikan balas jasa, imbalan pascakerja, dan kesempatan kerja.

3. Pemberi Pinjaman

Pemberi pinjaman tertarik dengan informasi keuangan yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah pinjaman serta bunganya dapat dibayar pada saat jatuh tempo.

4. Pemasok dan Kreditor Usaha Lainnya

Pemasok dan kreditor usaha lainnya tertarik dengan informasi yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah jumlah yang terhutang akan dibayar pada saat jatuh tempo. Kreditor usaha berkepentingan pada entitas dalam tenggang waktu yang lebih pendek daripada pemberi pinjaman kecuali jika sebagai pelanggan utama mereka bergantung kelangsungan hidup entitas.

5. Pelanggan

Para pelanggan berkepentingan dengan informasi mengenai kelangsungan hidup entitas, terutama jika mereka terlibat dalam perjanjian jangka panjang dengan, atau bergantung pada entitas.

6. Pemerintah

Pemerintah dan berbagai lembaga yang berada di bawah kekuasaannya berkepentingan dengan alokasi sumber daya dan karena itu berkepentingan dengan aktivitas entitas. Mereka juga membutuhkan informasi untuk mengatur aktivitas entitas menetapkan kebijakan pajak,

(7)

dan sebagai dasar untuk menyusun statistik pendapatan nasional dan statistik lainnya.

7. Masyarakat

Entitas dapat memberikan kontribusi berarti pada perekonomian nasional termasuk jumlah orang yang dipekerjakan dan perlindungan kepada penanam modal domestik. Laporan keuangan dapat membantu masyarakat dengan menyediakan informasi kecenderungan (trend) dan perkembangan terakhir kemakmuran entitas serta rangkaian aktivitasnya. 2.1.2 Rasio Keuangan

Rasio keuangan berguna untuk melakukan analisa terhadap kondisi keuangan dan menilai kinerja suatu perusahaan. Berikut beberapa pendapat para ahli mengenai pengertian rasio keuangan.

Menurut (Kasmir, 2014:104) pengertian rasio keuangan adalah sebagai berikut:

“Rasio keuangan merupakan kegiatan membandingkan angka-angka yang ada di dalam laporan keuangan. Perbandingan dapat dilakukan antara satu komponen dengan komponen dalam satu laporan keuangan atau antar komponen yang ada di antara laporan keuangan.Kemudian, angka yang diperbandingkan dapat berupa angka-angka dalam satu periode maupun beberapa periode.”

Menurut (Harahap, 2010:297) pengertian rasio keuangan adalah sebagai berikut:

“Rasio keuangan merupakan angka yang diperoleh dari hasil perbandingan dari satu akun laporan keuangan dengan akun lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan.”

(8)

Menurut (Hery, 2016:23) beberapa rasio keuangan dapat dikelopokkan menjadi:

1. Rasio Likuiditas

Rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya secara tepat waktu. Rasio likuiditas terdiri dari:

a. Rasio Lancar (Current Ratio)

b. Rasio Sangat Lancar (Quick Ratio atau Acid Ratio) c. Rasio Kas (Cash Ratio)

2. Rasio Solvabilitas (Leverage)

Rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana aset perusahaan dibiayai dengan hutang. Dengan kata lain, rasio solvabilitas atau rasio

leverage merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa

besar beban utang yang harus ditanggung perusahaan dalam rangka pemenuhan aset. Rasio leverage terdiri dari:

a. Rasio Utang (Debt Ratio)

b. Rasio Utang Terhadap Ekuitas (Debt to Equity Ratio)

c. Rasio Utang Jangka Panjang Ekuitas (Long Term Debt to Equity Ratio)

d. Rasio Kelipatan Bunga yang Dihasilkan (Time Interest Earned Ratio) e. Rasio Laba Operasional Terhadap Kewajiban (Operational Income to

(9)

3. Rasio Aktivitas

Rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi atas pemanfaatan sumber daya yang dimiliki perusahaan atau untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menjalankan aktivitasnya sehari – hari. Rasio aktivitas terdiri dari:

a. Peruputaran Piutang Usaha (Account Receivable Turn On) b. Peruputaran Perusediaan (Inventory Turn Over)

c. Peruputaran Modal Kerja (Working Capital Turn Over) d. Peruputaran Aset Tetap (Fixed Asset Turn Over) e. Peruputaran Total Aset (Total Asset Turn Over) 4. Rasio Profitabilitas

Rasio profitabilitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari aktivitas normal bisnisnya. Rasio profitabilitas terdiri dari:

a. Hasil Pengembalian Atas Aset (Return On Asset) b. Hasil Pengembalian Atas Ekuitas (Return On Equity) c. Hasil Pengembalian Atas Investasi (Return On Investment) 5. Rasio Ukuran Pasar

Rasio yang digunakan untuk mengestimasi nilai saham perusahaan. Rasio ukuran pasar terdiri dari:

a. Laba Per Lembar Saham Biasa (Earning Per Share) b. Rasio Harga Terhadap Laba (Price Earning Ratio) c. Imbal Hasil Dividen (Dividend Yield)

(10)

d. Rasio Pembayaran Dividen (Dividend Payout Ratio)

e. Rasio Harga Terhadap Nilai Buku (Price to Book Value Ratio)

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa rasio keuangan merupakan suatu perhitungan matematis yang dilakukan dengan cara membandingkan beberapa pos atau komponen tertentu dalam laporan keuangan yang memiliki hubungan untuk kemudian yang ditujukan untuk menunjukan perubahan dalam kondisi keuangan sebuah perusahaan. Dan jenis – jenis dari rasio keuangan tersebut adalah rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio profitabilitas, dan rasio leverage. Rasio profitabilitas dan rasio leverage akan digunakan dalam penelitian ini.

2.1.3 Rasio Profitabilitas

Rasio profitabilitas merupakan hasil akhir dari seluruh kegiatan operasional perusahaan yaitu kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba.

Menurut (Hery, 2016:152) pengertian rasio profitabilitas adalah sebagai berikut:

“Rasio profitabilitas merupakan rasio yang digunakan oleh perusahaan untuk mengukur kemampuan perusahaan tersebut untuk menghasilkan laba berdasarkan aset yang dimiliki untuk kegiatan operasional didalam perusahaan.”

Menurut (Fahmi, 2011:116) pengertian rasio profitabilitas adalah sebagai berikut:

“Rasio yang mengukur efektivitas manajemen secara keseluruhan yang ditujukan oleh besar kecilnya tingkat keuntungan yang diperoleh dalam hubungannya dengan penjualan maupun investasi. Semakin baik rasio

(11)

profitabilitas maka semakin baik menggambarkan kemampuan tingginya perolehan perusahaan.”

Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas dapat dikatakan bahwa profitabilitas merupakan alat ukur untuk melihat kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba yang dapat dilihat dari hasil perhitungan rasio-rasio profitabilitas. Penggunaan seluruh atau sebgaian rasio profitabilitas tergantung dari kebijakan manajemen. Semakin lengkap jenis rasio yang digunakan, semakin sempurna hasil hasil yang akan dicapai. Artinya pengetahuan tentang kondisi dan posisi profitabilitas perusahaan dapat diketahui secara sempurna (Kasmir, 2013).

2.1.3.1 Tujuan dan Manfaat Profitabilitas

Tujuan penggunaan rasio profitabilitas bagi perusahaan maupun bagi pihak luar perusahaan menurut (Kasmir, 2013:197), adalah sebagai berikut:

a) Untuk mengukur atau menghitung laba yang diperoleh perusahaan dalam satu periode tertentu.

b) Untuk menilai posisi laba perusahaan tahun sebelumnya dengan tahun sekarang.

c) Untuk menilai perkembangan laba dari waktu ke waktu.

d) Untuk menilai besarnya laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri. e) Untuk mengukur produktivitas seluruh dana perusahaan yang digunakan

baik modal pinjaman maupun modal sendiri.

Sementara itu, manfaat dari rasio profitabilitas ini menurut (Kasmir, 2013:198) adalah sebagai berikut:

(12)

b) Mengetahui posisi laba perusahaan tahun sebelumnya dengan tahun sekarang.

c) Mengetahui perkembangan laba dari waktu ke waktu.

d) Mengetahui besarnya kaba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri. e) Mengetahui seluruh produktivitas seluruh dana perusahaan yang

digunakan baik modal pinjaman maupun modal sendiri.

2.1.3.2 Metode Pengukuran Profitabilitas

Menurut (Fahmi, 2011:80) dan (Sartono, 2008:113) secara umum terdapat empat jenis utama yang digunakan dalam menilai tingkat profitabilitas, di antaranya:

1. Gross Profit Margin

Rasio ini mengukur presentase dari laba kotor dibandingkan dengan penjualan.

2. Net Profit Margin

Rasio ini merupakan salah satu rasio yang digunakan untuk mengukur margin laba atas penjualan.

3. Return On Equity (ROE)

Rasio ini mengukur sejauh mana kemampuan perusahaan memperoleh laba yang tersedia bagi pemegang saham perusahaan.

4. Return On Assets (ROA)

Rasio ini mengukur sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aktiva yang dipergunakan dalam perusahaan.

(13)

Penelitian ini, alat ukur profitabilitas yang digunakan oleh penulis adalah

Return On Assets (ROA), karena Return On Assets (ROA) paling berkaitan

dengan efisiensi perusahaan dalam menghasilkan laba. Semakin tinggi rasio ini, maka perusahaan semakin efektif dalam memanfaatkan aktiva untuk menghasilkan laba bersih setelah pajak, yang juga dapat diartikan bahwa kinerja perusahaan semakin efektif.

2.1.4 Return On Assets (ROA)

Menurut (Kasmir, 2013:201) pengertian Return On Assets (ROA) adalah sebagai berikut:

“Rasio yang menunjukan hasil (return) atas jumlah aktiva yang digunakan dalam perusahaan. Selain itu, ROA memberikan ukuran yang lebih baik atas profitabilitas perusahaan karena menunjukan efektivitas manajemen dalam menggunakan aktiva untuk memperoleh pendapatan.” Menurut (Munawir, 2010:89) pengertian Return On Assets (ROA)adalah sebagai berikut:

Return On Assets (ROA) adalah salah satu bentuk dari ratio

profitabilitas yang dimaksudkan untuk dapat mengukur kemampuan perusahaan dengan keseluruhan dana yang digunakan untuk operasinya perusahaan untuk menghasilka laba.”

Return On Assets (ROA) merupakan pengukuran terbaik karena

berkaitan dengan laba yang diperoleh perusahaan dengan memanfaatkan aktiva yang dimiliki. Rasio ini juga dapat digunakan sebagai tolak ukur jika manajemen ingin mengevaluasi seberapa baik perusahaan telah memakai dananya, ini ditunjukkan dengan semakin besar tingat Return On Assets (ROA) yang diperoleh semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai oleh perusahaan tersebut dan

(14)

semakin baik pula posisi perusahaan tersebut dari segi penggunaan asset (Munawir, 2010:89).

Berdasarkan definisi menurut para ahli tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Return On Assets (ROA) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktiva yang dimilikinya.

Return on Assets (ROA) ini dihitung dengan cara sebagai berikut:

𝑅𝑒𝑡𝑢𝑟𝑛 𝑂𝑛 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡𝑠 (ROA) =Laba Bersih Setelah PajakTotal Asset x 100% (Hanafi, 2012)

2.1.4.1 Faktor – faktor yang Mempengaruhi Return On Assets (ROA)

Terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi Return On Assets (ROA). Menurut (Munawir, 2010:89), besarnya rasio ini dipengaruhi oleh dua fakto, yaitu:

1. Turnover dari operating assets (tingkat perputaran aktiva yang digunakan

untuk operasi).

2. Profit margin, yaitu besarnya keuntungan operasi yang dinyatakan dalam

presentase dan jumlah penjualan bersih. Profit margin ini mengukur tingkat keuntungan yang dapat dicapai oleh perusahaan di hubungkan dengan penjualannya.

(15)

2.1.4.2 Kelebihan dan Kelemahan Return On Assets (ROA)

Menurut (Sawir, 2005:18) kelebihan Return On Assets (ROA) adalah sebagai berikut:

1. ROA mudah dihitung dan dipahami.

2. Merupakan alat pengukur prestasi manajemen yang sensitif terhadap setiap pengaruh keadaan keuangan perusahaan.

3. Manajemen menitikberatkan perhatiannya pada perolehan laba yang maksimal.

4. Sebagai tolok ukur prestasi manajemen dalam memanfaatkan asset yang dimiliki perusahaan untuk memperoleh laba.

5. Mendorong tercapainya tujuan perusahaan.

6. Sebagai alat mengevaluasi atas penerapan kebijakan – kebijakan manajemen.

Kelemahan Return On Assets (ROA) adalah sebagai berikut:

1. Kurang mendorong manajemen untuk menambah asset apabila nilai ROA yang diharapkan ternyata terlalu tinggi.

2. Manajemen cenderung fokus pada tujuan jangka pendek bukan pada tujuan jangka panjang, sehingga cenderung mengambil keputusan jangka pendek yang lebih menguntungkan tetapi berakibat negatif dalam jangka panjangnya.

(16)

2.1.5 Rasio Leverage

Leverage menunjukkan sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai dengan

utang. Menurut (Sartono, 2008:257) pengertian rasio leverage adalah sebagai berikut:

Leverage adalah penggunaan asset dan sumber dana (source of funds)

oleh perusahaan yang memiliki biaya tetap (beban tetap) dengan maksud agar meningkatkan keuntungan potensial pemegang saham.”

Menurut (Sjahrial, 2009:147) pengertian rasio leverage adalah sebagai berikut:

Leverage adalah penggunaan aktiva dan sumber dana oleh perusahaan

yang memiliki biaya tetap (beban tetap) berarti sumber dana yang berasal dari pinjaman karena memiliki bunga sebagai beban tetap dengan maksud agar meningkatkan keuntungan potensial pemegang saham.” Berdasarkan pernyataan – pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa leveragedigunakan oleh suatu perusahaan bukan hanya untuk membiayai aktiva, modal serta menanggung beban tetap melainkan juga untuk memperbesar penghasilan.

2.1.5.1 Tujuan dan Manfaat Leverage

Tujuan penggunaan rasio leverage bagi perusahaan menurut (Kasmir, 2014:153), adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui posisi perusahaan terhadap kewajiban kepada pihak lainnya (kreditur).

2. Untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban yang bersifat tetap (seperti angsuran pinjaman termasuk bunga).

3. Untuk menilai keseimbangan antara nilai aktiva khususnya aktiva tetap dan modal.

(17)

4. Untuk menilai seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai oleh utang. 5. Untuk menilai seberapa besar pengaruh utang perusahaan terhadap

pengelolaan aktiva.

6. Untuk menilai atau mengukur berapa bagian dari setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan utang jangka panjang.

7. Untuk menilai berapa dana pinjaman yang segera akan ditagih, terdapat sekian kalinya modal sendiri yang dimiliki.

Sementara itu, manfaat dari rasio leverage ini menurut (Kasmir, 2014:154) adalah:

1. Untuk menganalisis kemampuan posisi perusahaan terhadap kewajiban kepada pihak lainnya.

2. Untuk menganalisis kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban yang bersifat tetap (seperti angsuran pinjaman termasuk bunga).

3. Untuk menganalisis keseimbangan antara nilai aktiva khususnya aktiva tetap dan modal.

4. Untuk menganalisis seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai oleh utang.

5. Untuk menganalisis seberapa besar utang perusahaan berpengaruh terhadap pengelolaan aktiva.

6. Untuk menganalisis berapa bagian dari setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan utang jangka panjang.

7. Untuk menganalisis berapa dana pinjaman yang segera akan ditagih, ada terdapat sekian kalinya modal sendiri.

(18)

2.1.5.2 Metode Pengukuran Leverage

Menurut (Sartono, 2008:121), (Kasmir, 2014:155) dan (Fahmi, 2011:127), secara umum terdapat 5 (lima) jenis rasio leverage yang sering digunakan oleh perusahaan, di antaranya:

1. Debt to Total Asset Ratio (DAR)

Rasio ini juga disebut sebagai debt ratio. Debt ratio merupakan rasio yang melihat perbandingan utang perusahaan dengan cara mengukur perbandingan antara total utang dengan total aktiva.

2. Debt to Equity Ratio (DER)

Rasio ini merupakan rasio yang digunakan untuk menilai utang dengan ekuitas. DER ini ukuran yang dipakai dalam menganalisis laporan keuangan untuk memperlihatkan besarnya jaminan yang tersedia untuk kreditur.

3. Time Interest Earned Ratio

Rasio ini disebut juga dengan rasio kelipatan. Time interest earned ratio merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar bunga, atau mengukur seberapa jauh laba dapat berkurang tanpa perusahaan mengalami kesulitan keuangan (financial distress), karena tidak mampu membayar bunga.

4. Fixed Charge Coverage Ratio

Rasio ini disebut juga dengan rasio menutup beban tetap. Rasio ini menyerupai times interest earned ratio, hanya saja perbedaannya adalah rasio ini dilakukan apabila perusahaan memperoleh utang jangka panjang

(19)

atau menyewa aktiva berdasarkan kontrak sewa (lease contract). Rasio

fixed charge coverage ini mengukur seberapa besar kemampuan

perusahaan untuk menutup beban tetapnya termasuk pembayaran deviden saham preferen, bunga, angsuran pinjaman dan sewa.

5. Long-term Debt to Equity Ratio (LTDtER)

Rasio ini merupakan rasio utang jangka panjang dengan modal sendiri. Tujuannya adalah untuk mengukur berapa bagian dari setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan utang jangka panjang dengan cara membandingkan antara utang jangka panjang dengan modal sendiri yang disediakan oleh perusahaan. Long term debt merupakan sumber dana pinjaman yang bersumber dari utang jangka panjang, seperti obligasi dan sejenisnya.

Penelitian ini penulis menggunakan Debt to Equity Ratio (DER). Karena

Debt to Equity Ratio (DER) digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan

dalam menutup sebagian atau seluruh hutangnya baik jangka panjang maupun jangka pendek dengan dana yang berasal dari total modal dibandingkan besarnya hutang. Oleh karena itu, semakin rendah DER akan semakin tinggi kemampuan perusahaan untuk membayar seluruh kewajibannya. Semakin besar proporsi hutang yang digunakan untuk struktur modal suatu perusahaan, maka akan semakin besar pula jumlah kewajibannya.

(20)

2.1.6 Debt to Equity Ratio (DER)

Menurut (Kasmir, 2013:151) pengertian Debt to Equity Ratio (DER) adalah sebagai berikut:

Debt to Equity Ratio (DER) merupakan rasio yang digunakan untuk

menilai utang dengan ekuitas. Rasio ini dicari dengan membandingkan antara seluruh utang, termasuk utang lancar dengan seluruh ekuitas.” Menurut (Harahap, 2010:303) pengertian debt to equity ratio adalah sebagai berikut:

Debt to Equity Ratio (DER) menggambarkan sejauh mana modal

pemilik dapat menutupi hutang – hutang kepada pihak luar.”

Berdasarkan definisi menurut para ahli tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Debt to Equity Ratio (DER) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar semua kewajibannya dengan menggunakan modal yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Debt to Equity Ratio (DER) ini dihitung dengan cara sebagai berikut:

𝐷𝑒𝑏𝑡 𝑡𝑜 𝐸𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦 𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜 (DER) = Total HutangTotal Ekuitas x 100% (Kasmir, 2014)

2.1.6.1 Faktor – faktor yang Mempengaruhi Debt to Equity Ratio (DER)

Debt to Equity Ratio (DER) berfungsi untuk menunjukkan berapa banyak

utang yang digunakan suatu perusahaan untuk pendanaan yang dibandingkan dengan modal sendiri. Faktor – faktor yang mempengaruhi Debt to Equity Ratio (DER) menurut (Natasia & Wahidahwati, 2015) adalah sebagai berikut:

1. Pertumbuhan total aset, perusahaan dengan pertumbuhan total aset yang tinggi memiliki kinerja yang baik dan dapat menghasilkan keuntungan

(21)

bagi perusahaan. Perusahaan dengan pertumbuhan aset yang tinggi akan menggunakan hutang yang relatif kecil.

2. Laba ditahan, bahwa perusahaan menunda pembagian dividen kepada investor untuk digunakan sebagai investasi. Semakin besar laba ditahan semakin besar dana internal yang digunakan dan penggunaan hutang akan relatif kecil.

2.1.7 Pajak

Pajak merupakan iuran yang dipungut oleh pemerintah kepada rakyat yang sifatnya bisa dipaksakan, tanpa memandang kaya atau miskin. Iuran pajak yang dipungut pemerintah ini akan digunakan untuk pengeluaran – pengeluaran negara.

Pengertian pajak menurut Undang – Undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Perubahan Keempat Undang – Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan pada Pasal 1 Ayat 1 adalah sebagai berikut:

“Pajak adalah kontribusi Wajib Pajak kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifatkan memaksa berdasarkan Undang – Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar – besarnya kemakmuran rakyat."

Menurut (Diana, 2013:34) pengertian pajak adalah sebagai berikut: “Pajak adalah iuran masyarakat kepada negara (yang dapat di paksa) yang terutang oleh yang waib membayarnya menurut peraturan – peraturan umum (Undang – Undang) dengan tidak mendapat prestasi kembali yang langsung dapat ditunjuk dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran umum berhubung tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan.”

(22)

Berdasarkan pengertian pajak yang telah diuraikan, maka dapat disimpulkan bahwa pajak adalah iuran wajib rakyat kepada negara yang bersifat memaksa dan tidak mendapat jasa imbalan yang langsung digunakan untuk membiayai pengeluaran – pengeluaran negara.

2.1.7.1 Fungsi Pajak

Menurut (Waluyo, 2007:6) ada dua fungsi pajak, yaitu : 1. Fungsi Penerimaan (Budgeteir)

Pajak berfungsi sebagai sumber dana yang diperuntukan bagi pembiyaan pengeluaran-pengeluaran pemerintah. Sebagai conroh yaitu dimasukkannya pajak dalam APBN sebagai penerimaan dalam negri. 2. Fungsi Mengatur (Reguler)

Pajak berfungsi sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan dibidang social dan ekonomi. Sebagai contoh yaitu dikenakannya pajak yang lebih tiggi terhadap minuman keras, dapat ditekan. Demikian pula terhadap barang mewah.

2.1.7.2 Sistem Pemungutan Pajak

Sistem pemungutan pajak yang berlaku di Indonesia menurut (Mardiasmo, 2011:7) terdiri dari dua sistem sebagai berikut :

1. Official Assasment System

Suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pemerintah (fiskus) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh wajib pajak.

(23)

2. Self Assesment System

Suatu sistem pemungutan pajak untuk menentukan sendiri besarnya pajak yang terutang.

3. Witholding System

Sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang pada pihak ketiga (bukan fiskus dan bukan Wajib Pajak yang bersangkutan) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh Wajib Pajak.

2.1.7.3 Jenis Pajak

Menurut (Resmi, 2014:7), jenis-jenis pajak dapta dikelompokkan menjadi tiga, yaitu :

1. Menurut Sifatnya

Jenis-jenis pajak menurut sifatnya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

a. Pajak Langsung

Pajak yang harus dipikul atau ditanggung sendiri oleh wajib pajak dan tidak dapat dilimpahkan atau dibebankan kepada orang lain atau pihak lain. Pajak harus menjadi beban pajak yang bersangkutan.

b. Pajak Tidak Langsung

Pajak yang dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain atau pihak ketiga. Pajak tidak langsung terjadi jika terdapat suatu kegiatan, peristiwa, atau perubahan perbuatan yang menyebabkan terutangnya pajak, misalnya terjadi penyerahan barang atau jasa. Untuk menentukan apakah sesuatu termasuk pajak langsung atau pajak tidak

(24)

langsung dalam arti ekonomis, yaitu dengan cara melihat ketiga unsur yang terdapat dalam kewajiban pemenuhan perpajakannya. Ketiga unsur tersebut terdiri atas:

1) Penanggung jawab pajak, adalah orang yang secara formal yuridis diharuskan melunasi pajak.

2) Penanggung pajak, adalah orang yang dalam faktanya memikul terlebih dahulu beban pajaknya.

3) Pemikul pajak, adalah orang yang menurut undang-undang harus dibebani pajak.

2. Menurut Sasaran/Objeknya

Menurut sasarannya, jenis-jenis pajak dapat dibagi dua, yaitu:

a. Pajak Subjektif, pajak yang pengenaannya memerhatikan keadaan pribadi wajib pajak atau pengenaan pajak yang memerhatikan keadaan subjeknya.

b. Pajak Objektif, pajak yang pengenaannya memerhatikan objeknya baik berupa benda, keadaan, perbuatan, atau peristiwa yang mengakibatkan timbulnya kewajiban membayar pajak, tanpa memerhatikan keadaan pribadi subjek pajak (wajib pajak) maupun tempat tinggal.

3. Menurut Lembaga Pemungutnya

Jenis-jenis pajak menurut Menurut Lembaga Pemungutnya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

(25)

a. Pajak Negara (Pajak Pusat), pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat dan digunakan untuk membiayai rumah tangga Negara pada umumnya.

b. Pajak daerah, pajak yang dipungut pemerintah daerah baik daerah tingkat I (pajak provinsi) maupun daerah tingkat II (pajak kabupaten/kota) dan digunakan untuk membiayai rumah tangga daerah masing-masing.

Pelaksanaan perpajakan tentunya terdapat perencanaan pajak, oleh karena itu pembahasan berikutnya berkaitan dengan perencanaan pajak (tax

planning).

2.1.8 Perencanaan Pajak (Tax Planning)

Menurut (Pohan, 2013:18) pengertian perencanaan pajak adalah sebagai berikut:

“Proses mengorganisasi usaha wajib pajak orang pribadi maupun badan usaha sedemikian rupa dengan memanfaatkan berbagai celah kemungkinan yang dapat ditempuh oleh perusahaan dalam koridor ketentuan peraturan perpajakan, agar perusahaan dapat membayar pajak dalam jumlah minimum.”

Menurut (Suandy, 2011:16) pengertian perencanaan pajak adalah sebagai berikut:

Tax planning adalah langkah awal dalam manajemen pajak. Pada tahap

ini dilakukan pengumpulan dan penelitian terhadap perturan perpajakan agar dapat diseleksi jenis tindakan penghematan pajak yang akan dilakukan. Pada umumnya penekanan tax planning adalah untuk meminimumkan kewajiban pajak.”

Terdapat tiga macam perencanaan pajak yang dapat dilakukan oleh wajib pajak untuk menekan jumlah beban pajaknya yaitu penghindaran pajak (tax

(26)

avoidance), penggelapan atau penyelundupan pajak (tax evasion), dan penghematan pajak (tax saving) (Pohan, 2013).

Berdasarkan pengertian – pengertian yang dijelaskan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa perencanaan pajak (tax planning) adalah perencanaan yang dilakukan oleh wajib pajak orang pribadi atau badan dengan memanfaatkan berbagai macam celah kemungkinan yang dapat ditempuh. Bertujuan untuk meminimalisir jumlah pajak yang di transfer ke pemerintah, melalui penghindaran pajak, bukan penyelundupan pajak. Perencanaan pajak dapat terbagi kedalam dua bagian yaitu penghindaran pajak (tax avoidance) dan penggelapan pajak (tax

evasion).

2.1.9 Penghindaran Pajak (Tax Avoidance)

Menurut (Pohan, 2013:23) pengertian penghidaran pajak adalah sebagai berikut:

Tax avoidance adalah upaya yang dilakukan secara legal dan aman bagi

wajib pajak karena tidak bertentangan dengan ketentuan perpajakan, di mana metode dan teknik yang digunakan cenderung memanfaatkan kelemahan – kelemahan (grey area) yang terdapat dalam Undang – undang dan peraturan perpajakan itu sendiri, untuk memperkecil jumlah pajak yang terutang.”

Menurut (Suandy, 2011:7) pengertian penghindaran pajak adalah sebagai berikut:

Tax avoidance adalah rekayasa ‘tax affairs’ yang masih tetap berada

dalam bingkai ketentuan perpajakan. Penghindaran pajak dapat terjadi dalam bunyi ketentuan atau tertulis di Undang – Undang dan berada dalam jiwa dari Undang – Undang atau dapat juga terdiri dalam bunyi ketentuan Undang – Undang tetapi berlawanan dengan jiwa Undang – Undang.”

(27)

Berdasarkan pengertian – pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa tax

avoidance merupakan upaya penghindaran pajak yang memberikan efek terhadap

kewajiban pajak yang dilakukan dengan tidak melanggar Undang – Undang perpajakan. Metode dan teknik dilakukan dengan memanfaatkan kelemahan – kelemahan dalam Undang – Undang dan peraturan perpajakan untuk memperkecil jumlah pajak yang terutang. Apabila melanggar Undang – Undang upaya penghindaran pajak ini termasuk ke dalam penggelapan pajak (tax evasion).

2.1.9.1 Pengukuran Penghindaran Pajak (Tax Avoidance)

Model estimasi pengukuran penghindaran pajak (tax avoidance) dalam penelitian ini menggunakan model Cash Effective Tax Rate (CETR) yang diharapkan mampu mengidentifikasi keagresifan perencanaan pajak perusahaan sesuai dengan (Ngadiman & Pupitasari, 2014). CETR diukur dengan rumus sebagai berikut:

𝐶𝑎𝑠ℎ 𝐸𝑓𝑓𝑒𝑐𝑡𝑖𝑣𝑒 𝑇𝑎𝑥 𝑅𝑎𝑡𝑒 (𝐶𝐸𝑇𝑅) =Laba Sebelum Pajak x 100%Beban Pajak Kini (Ngadiman & Pupitasari, 2014)

2.1.9.2 Cara Melakukan Penghindaran Pajak (Tax Avoidance)

Menurut (Diana, 2013) mengungkapkan cara melakukan penghindaran pajak dengan 3 cara sebagai berikut:

1. Menahan Diri

Yang dimaksudkan dengan menahan diri yaitu wajib pajak tidak melakukan sesuatu yang bias dikenai pajak.

(28)

2. Pindah Lokasi

Memindahkan lokasi usaha atau domisili dari lokasi yang tariff pajaknya tinggi kelokasi yang tariff pajaknya rendah.

3. Penghindaran Pajak secara Yuridis

Perbuatan dengan cara sedemikian rupa sehingga perbuatan – perbuatan yang dilakukan tidak terkena pajak. Biasanya dilakukan dengan memanfaatkan kekosongan atau ketidakjelasan Undang – Undang. Hal inilah yang memberikan dasar potensial penghindaran pajak secara yuridis.

2.1.9.3 Karakter Tax Avoidance

Menurut komite urusan fiscal dari Organization for Economic

Cooperation (OECD) dalam (Suandy, 2011:7) terdapat tiga karakter dari tax

avoidance sebagai berikut:

1. Adanya unsure artificial arrangement, dimana berbagai pengaturan seolah – olah terdapat didalamnya padahal tidak, dan ini dilakukan karena ketiadaan factor pajak.

2. Skema semacam ini sering memanfaatkan loopholes (celah) dari Undang – Undang atau menerapkan ketentuan – ketentuan legal untuk berbagai tujuan, yang berlawanan dari isi Undang – Undang sebenarnya.

3. Kerahasiaan juga sebagai bentuk dari skema ini dimana umumnya para konsultan menunjukkan alat atau cara untuk melakukan penghindaran pajak dengan syarat wajib pajak menjaga serahasia mungkin.

(29)

2.1.9.4 Faktor – Faktor Wajib Pajak Melakukan Penghematan Pajak

Menurut (Suandy, 2011) mengungkapkan bahwa factor – factor yang memotivasi wajib pajak melakukan penghematan pajak:

1. Jumlah pajak yang yang harus dibayar.

Semakin besar jumlah pajak yang harus dibayar, semakin besar kecenderungan wajib pajak untuk melakukan penghematan pajak.

2. Biaya untuk menyuap fiscus.

Semakin kecil biaya untuk menyuap fiscus, semakin besar kecenderungan wajib pajak melakukan penghematan pajak.

3. Kemungkinan untuk ketahuan.

Semakin kecil kemungkinan suatu pelanggaran terdeteksi, semakin besar kecenderungan wajib pajak untuk melakukan penghematan pajak.

4. Besarsanksi.

Semakin ringan sanksi yang dikenakan terhadap pelanggaran, semakin besar kecenderungan wajib pajak untuk melakukan penghematan pajak. 2.1.10 Penggelapan Pajak (Tax Evasion)

Menurut (Mardiasmo, 2011:9) pengertian penggelapan pajak adalah sebagai berikut:

“Penggelapan pajak (tax evasion) adalah usaha yang dilakukan oleh wajib pajak untuk meringankan beban pajak dengan cara melanggar Undang – Undang. Dikarenakan melanggar Undang – Undang, penggelapan para wajib pajak sama sekali mengabaikan ketentuan formal perpajakan yang menjadi kewajibannya, memalsukan dokumen, atau mengisi data dengan tidak lengkap dan tidak benar.”

(30)

Menurut (Rahayu, 2006:147) pengertian penggelapan pajak adalah sebagai berikut:

“Penggelapan Pajak (tax evasion) merupakan usaha aktif Wajib Pajak dalam hal mengurangi, menghapuskan, manipulasi ilegal terhadap utang pajak atau meloloskan diri untuk tidak membayar pajak sebagaimana yang telah terutang menurut aturan perundang-undangan.”

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa penggelapan pajak (tax evasion) merupakan cara ilegal untuk tidak membayar pajak dengan melakukan tindakan menyimpang dalam berbagai bentuk kecurangan yang dilakukan secara sengaja dan dalam keadaan sadar.

2.2 Penelitian Terdahulu

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

No Peneliti Tahun Variabel Hasil Penelitian 1. Rini Handayani 2018 1. Return on Assets (ROA) (X1) 2. Leverage (X2) 3. Ukuran Perusahaan (X3) 4. Tax Avoidance (Y)

Return on Assets (ROA)

berpengaruh pada Tax Avoidance.

2. Annisa 2017 1. Return on

Assets (ROA)

(X1)

2. Leverage

1. Return on Asset (ROA)

berpengaruh terhadap Penghindaran Pajak yang dilakukan perusahaan.

(31)

(DER) (X2) 3. Ukuran Perusahaan (X3) 4. Koneksi Politik (X4) 5. Penghindaran Pajak (Y)

2. Leverage yang diproksikan

dengan Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh terhadap Penghindaran Pajak yang dilakukan perusahaan. 3. Mardiah Nursari, Diamonalisa, Edi Sukarmanto 2017 1. Profitabilitas (ROA) (X1) 2. Leverage (DER) (X2) 3. Kepemilikan Institusional (X3) 4. Tax Avoidance (Y) 1. Profitabilitas yang

diproksikan dengan Return

on Asset (ROA) berpengaruh

terhadap tax avoidance.

2. Leverage yang diproksikan

dengan Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh terhadap tax avoidance. 4. Wastam Wahyu Hidayat 2018 1. Profitabilitas (ROA) (X1) 2. Leverage (DER) (X2) 3. Pertumbuhan Penjualan

Profitablitas (Return on Assets (ROA)) dan leverage (Debt to

Equity Ratio (DER)) secara

simultan berpengaruh terhadap penghindaran pajak. 5. Tommy Kurniasih, MariaM. Ratna Sari 2013 1. ROA (X1) 2. Leverage (DER) (X2) 3. Corporate Governance (X3) 4. Ukuran

1. Return on Assets (ROA),

Leverage (DER) berpengaruh

signifikan secara simultan terhadap tax avoidance.

2. Return on Assets (ROA)

berpengaruh signifikan secara parsial terhadap tax

(32)

Perusahaan (X4) 5. Kompensasi Rugi Fiskal (X5) 6. Tax Avoidance (Y) avoidance. 2.3 Kerangka Pemikiran

2.3.1 Hubungan Antara Return On Assets (ROA) dengan Tax Avoidance

Return On Asset (ROA) merupakan variabel yang dapat mencerminkan

kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Semakin tinggi nilai Return

On Asset (ROA) adalah salah satu indikator bagi perusahaan dalam pencapaian

laba perusahaan. Dimana laba merupakan faktor terpenting dalam penentuan besaran pembayaran tarif pajak efektif (Dendawijaya, 2003). Semakin tinggi nilai dari laba bersih perusahaan akan semakin tinggi profitabilitasnya, sehingga perusahaan yang memiliki profitabilitas tinggi memiliki kesempatan untuk memposisikan diri dalam tax planning yang mengurangi jumlah beban kewajiban perpajakan

.

Return On Asset (ROA) berguna untuk mengukur sejauh mana efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan seluruh sumber daya yang dimilikinya, dan menggambarkan kemampuan manajemen untuk memperoleh keuntungan. Dengan demikian, semakin tinggi Return On Asset (ROA) berarti semakin tinggi beban pajak yang harus dibayarkan, sehingga perusahaan cenderung akan melakukan penghindaran pajak (Dewinta & Setiawan, 2016).

(33)

2.3.2 Hubungan Antara Debt to Equity Ratio (DER) dengan Tax Avoidance

Debt to Equity Ratio (DER) berguna untuk mengetahui jumlah dana yang

disediakan peminjam dengan pemilik perusahaan. Dengan kata lain, rasio ini berfungsi untuk mengetahui setiap rupiah modal sendiri yang digunakan untuk jaminan utang. Perusahaan dimungkinkan menggunakan utang untuk memenuhi kebutuhan operasional dan investasi perusahaan. Akan tetapi, utang akan menimbulkan beban tetap (fixed rate of return) yang disebut dengan bunga (Kasmir, 2013). Semakin besar utang maka laba kena pajak akan menjadi lebih kecil karena insentif pajak atas bunga semakin besar. Hal tersebut menjadi implikasi meningkatnya penggunaan utang oleh perusahaan. Rasio yang digunakan untuk menilai hutang dengan ekuitas yaitu Debt to Equity Ratio (DER). Dengan demikian, semakin tinggi nilai dari rasio leverage yaitu Debt to Equity

Ratio (DER) berarti semakin tinggi jumlah pendanaan dari utang pihak ketiga

yang digunakan perusahaan dan semakin tinggi pula biaya bunga yang timbul dari utang tersebut. Biaya bunga yang semakin tinggi akan memberikan pengaruh berkurangnya beban pajak perusahaan, dan menghasilkan laba bersih yang tinggi. Maka dari itu perusahaan memungkinkan melakukan penghindaran pajak (Darmawan & Sukartha, 2014).

(34)

2.3.3 Hubungan Antara Return On Assets (ROA) dan Debt to Equity Ratio (DER) dengan Tax Avoidance

Investor akan lebih tertarik untuk berinvestasi apabila perusahaan tersebut sehat, memiliki nilai perusahaan yang baik dan tidak adanya pembayaran pajak yang tertunda. Pembayaran pajak penghasilan pada perusahaan merupakan pengiriman atau transfer kekayaan dari perusahaan kepada pemerintah maka beban pajak yang dibayarkan tersebut merupakan biaya yang besar bagi perusahaan tersebut. Oleh sebab itu, perusahaan akan cenderung melakukan usaha penghindaran pajak (tax avoidance) sebagai upayanya agar dapat membayar dengan seefisien mungkin. Menurut (Zain, 2003) penghindaran pajak merupakan usaha yang dilakukan oleh wajib pajak apakah berhasil atau tidak untuk mengurangi atau sama sekali menghapus utang pajak berdasarkan ketentuan yang berlaku yang tidak melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Tax avoidance bukan pelanggaran undang-undang perpajakan karena usaha wajib pajak untuk mengurangi, menghindari, meminimalkan atau meringankan beban pajak dilakukan dengan cara yang dimungkinkan oleh Undang-Undang Pajak.

Menurut (Kasmir, 2013) Return on assets (ROA) merupakan rasio yang menunjukan hasil (return) atas jumlah aktiva yang digunakan dalam perusahaan atas suatu ukuran tentang aktivitas manajemen. ROA yang tinggi menunjukan efisiensi manajemen asset, yang berarti perusahaan mampu menggunakan asset yang dimilikinya untuk menghasilkan laba (Ariani, 2009).

(35)

Debt to Equity Ratio (DER) juga memperngaruhi tax avoidance DER merupakan rasio yang menunjukkan besarnya utang yang dimiliki oleh perusahaan untuk membiayai aktivitas operasinya. Penambahan jumlah utang akan mengakibatkan munculnya beban bunga yang harus dibayar oleh perusahaan. Komponen beban bunga akan mengurangi laba sebelum kena pajak perusahaan, sehingga beban pajak yang harus dibayar perusahaan akan menjadi berkurang (Adelina, 2012).

H3 : Return On Assets (ROA) dan Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh

terhadap tax avoidance.

Berdasarkan kerangka pemikiran diatas, maka dapat digambarkan hubungan antara rasio Return On Assets (ROA) dan Debt to Equity Ratio (DER) terhadap tax avoidance adalah sebagai berikut:

Gambar 2.1

Model Kerangka Pemikiran Debt to Equity Ratio

(DER) (X2)

Return On Assets

(ROA) (X1)

Tax Avoidance

(36)

Keterangan:

: Parsial : Simultan 2.4 Hipotesis Penelitian

Menurut (Nuryaman & Veronica, 2015) pengertian hipotesis adalah sebagai berikut:

“Hipotesis adalah jawaban sementara atas masalah penelitian berdasarkan kerangka teori, yang harus diuji benar atau tidaknya secara empiris melalui pengumpulan data atau fakta.”

Berdasarkan kerangka pemikiran yang telah diuraikan diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

𝐻1 : Return On Assets (ROA) berpengaruh terhadap tax avoidance.

𝐻2 : Debt to Equity Ratio (DER)berpengaruh terhadap tax avoidance.

𝐻3 : Return On Assets (ROA) dan Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh terhadap tax avoidance.

Figur

Tabel 2.1  Penelitian Terdahulu

Tabel 2.1

Penelitian Terdahulu p.30

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :