PERGESERAN MAKNA FRASA PADA NOVEL TERJEMAHAN PRIDE AND PREJUDICE DITINJAU DARI FUNGSI ESTETIKA

15 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

ISSN: 2089-3884

PERGESERAN MAKNA FRASA

PADA NOVEL TERJEMAHAN “PRIDE AND PREJUDICE” DITINJAU DARI FUNGSI ESTETIKA

Ima Rifatun Nafiah

e-mail : ima_rifatunnafiah@ymail.com

ABSTRACT

Novel is a work of literature which is read by almost entire of the society. It is because of the novel has a magnet energy which very wonderful. Beside the plot of the story which can draw the reader’s emotion and can make them curious, novel also implies the motivation, the lesson about life, the lesson how to face a problem with its solving which all are very useful for the reader. If it is seen from its language, the novel has a high aesthetics value. In the book “Teori Pengkajian Fiksi”, Nurgiyantoro (2009:19) tries to differentiate novel into two categorizes; they are popular novel and serious novel. From his explanation, the writer can draw the red thread briefly that popular novel is the novel which is only popular in its era; on the other hand, serious novel is the novel which its contents is heavier than popular novel, serious novel will still exist not only in its era, but also throughout the era. For example Pride and Prejudice, an English novel which still popular for about 150 years. This Pride and Prejudice has been translated into many languages, one of them is Indonesian language. In order to translate it, it is often happened a shift of the meaning which is caused by appearing the feel of aesthetics, especially the shift meaning in a phrase. Therefore, knowing about shift meaning theory which is caused by appearing the feeling of aesthetics and also about its aplication, is supposed very important to make a desirable feeling from that shift translation.

ABSTRAK

Novel merupakan sebuah karya sastra yang penikmatnya hampir dari seluruh kalangan masyarakat. Hal ini disebabkan karena novel mempunyai daya tarik yang luar biasa. Selain alur kisahnya yang bisa menguras emosi dan rasa penasaran, novel juga menyiratkan motivasi, pelajaran-pelajaran hidup, pengajaran tentang sikap bagaimana ketika menghadapi sebuah masalah yang kesemuanya itu sangat bermanfaat bagi pembaca. Jika ditilik dari segi kebahasaanya, novel mempunyai nilai estetika yang tinggi. Dalam bukunya yang berjudul Teori Pengkajian Fiksi, Nurgiyantoro (2009: 19) mencoba bedakan novel dalam dua kategori, yakni novel populer dan novel serius. Dari penjabarannya, penulis menarik kesimpulan secara singkatnya bahwa novel populer adalah novel yang populer hanya pada masanya, sedangkan novel serius adalah novel yang isinya lebih berat, novel serius

(2)

Pergeseran Makna Frasa pada Novel Terjemahan Pride and…(Ima Rifatun Nafiah) contohnya seperti novel Pride and Prejudice, novel Inggris ini populer selama kurang lebih 150 tahun. Novel Pride and Prejudice ini telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Dalam rangka penerjemahan, seringkali terjadi pergeseran makna yang diakibatkan oleh timbulnya fungsi estetika, khususnya dalam sebuah frasa. Oleh karena itu, mengetahui tentang teori pergerseran makna yang diakibatkan oleh timbulnya fungsi estetika beserta aplikasi dari teorinya tersebut, dianggap sangat penting untuk menghadirkan makna yang diharapkan.

Kata kunci: frasa, novel, Pride and Prejudice, pergeseran makna. A. PENDAHULUAN

Novel merupakan karya sastra yang cukup digemari hampir di seluruh lapisan masyarakat. Pengertian dasar mengenai novel yang sering kita dengar semasa duduk di bangku Sekolah Dasar adalah sebuah cerita rekaan tantang sebagian kehidupan seorang manusia, yang tidak hanya mempunyai satu plot, dan yang tidak habis dibaca sekali duduk. Menurut Nurgiyantoro (2009:9) dalam bukunya Teori Pengkajian Fiksi, beliau menjelaskan bahwa definisi novel (Inggris:

Novel) itu dianggap bersinonim dengan fiksi. Dengan demikan,

pengertian fiksi juga berlaku untuk novel. Sedangkan definisi dari fiksi itu sendiri menurut Altenbernd dan Lewis (1966:14) dalam (Nurgiyantoro, 2009:2) dapat diartikan sebagai prosa naratif yang bersifat imajinatif, namun biasanya masuk akal dan mengandung

kebenaran yang mendramatisirkan hubungan-hubungan

antarmanusia.

Fiksi juga menceritakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan dan sesama interaksinya dengan diri sendiri, serta interaksinya dengan Tuhan. Fiksi merupakan hasil dialog, kontemplasi dan reaksi pengarang terhadap lingkungan dan kehidupan. Walau berupa khayalan, tidak benar jika fiksi dianggap sebagai hasil kerja lamunan belaka, melainkan penghayatan dan perenungan secara intens, perenungan terhadap hakikat hidup dan kehidupan, perenungan yang dilakukan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Fiksi juga merupakan karya imajinatif yang dilandasi kesadaran dan tanggung jawab dari segi kreativitas sebagai karya seni. Fiksi menawarkan model-model kehidupan sebagaimana yang diidealkan oleh pengarang sekaligus menunjukkan sosoknya sebagai karya seni yang berunsur estetika dominan (Nurgiyantoro, 2009: 3).

(3)

Penjelasan lebih detail yang diungkapkan oleh Nugiyantoro dalam bukunya Teori Pengkajian Fiksi bahwa Novel sebagai sebuah karya fiksi yang menawarkan sebuah dunia, dunia yang berisi model kehidupan yang diidealkan, dunia imajinatif, yang dibangun melalui berbagai unsur intrinsiknya seperti peristiwa, plot, tokoh (dan penokohan), latar, sudut pandang, dan lain-lain yang kesemuanya, tentu saja, juga bersifat imajinatif (Nurgiyantoro, 2009: 4).

Bisa diambil kesimpulan bahwa pengertian novel itu sama dengan pengertian fiksi, seperti apa yang telah dipaparkan di atas. Sebutan novel dalam bahasa Inggris –dan inilah yang masuk ke Indonesia– berasal dari bahasa Itali Novella berarti ‘sebuah barang baru yang kecil’ dan kemudian diartikan sebagai ‘cerita pendek dalam bentuk prosa’ (Abrams, 1981:119; Nurgiyantoro, 2009: 9). Jika dipahami, pengertian di atas akan memunculkan sebuah pertanyaan tentang apa perbedaan antara cerita pendek dengan novel? Dalam bukunya Teori Pengkajian Sastra, Nurgiyantoro mengatakan bahwa yang membedakan antara cerita pendek dengan novel adalah segi panjang cerita (Nurgiyantoro, 2009: 10). Cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam –suatu hal yang kiranya tidak mungkin dilakukan untuk sebuah novel (Jassin, 1961: 72; Nurgyantoro, 2009:10).

Dari berbagai luasnya penjelasan di atas, bisa diambil kesimpulan sederhana bahwa novel adalah sebuah karya sastra yang menceritakan sebagian dari keseluruhan kehidupan seorang manusia yang berisi tentang berbagai masalah yang ada dalam kehidupannya, jika ditinjau dari segi panjangnya, novel lebih panjang daripada cerpen yang bisa dibaca dan habis dalam sekali duduk. Berdasarkan pengertian sederhana tersebut, makan Pride and

Prejudice digolongkan dalam kategori novel, sebab dalam Pride and Prdujice menceritakan sebagian kehidupan tokoh utama, Elizabeth

Bannet dan lingkungannya beserta masalah-masalah yang datang dalam kehidupanya. Novel Pride and Prejudice merupakan novel Inggris yang terpopuler selama lebih 150 tahun, kisahnya yang cukup kompleks dan menarik membuat novel ini diterjemahkan dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia.

Jelaslah sudah apa yang disebut dengan novel, maka sampailah pada sedikit pembahasan mengenai pengertian frasa.

(4)

Pergeseran Makna Frasa pada Novel Terjemahan Pride and…(Ima Rifatun Nafiah)

Frasa atau Phrase (English) adalah gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonpredikatif (misal: gunung tinggi disebut frasa karena merupakan konstruksi nonpredikatif). (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Frasa tidak mengungkapkan peristiwa atau situasi yang lengkap dan tidak punya subyek juga predikat. (Vespoor and Sauter, 2000 : 44) Frasa dibagi menjadi menjadi lima macam, yakni frasa nomina, frasa verba, frasa adjektiva (adjective phrase), frasa adverbia, frasa preposisi. Penamaan macam-macam frasa di atas itu berdasarkan head dari masing-masing frasa tersebut, misal frasa

very good, frasa ini merupakan frasa adjektiva, karena head nya

berada di kata good, kelas kata good adalah adjektiva atau kata sifat. (Vespoor and Sauter, 2000 : 199)

Dalam penerjemahan novel Pride and Prejudice dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia, telah terjadi banyak pergeseran makna dalam sebuah frasa, seperti contoh dibawah ini :

Got Rid of -> Melepas kepergian

Frasa verba Got Rid of, jika dimaknai secara tekstual mempunyai arti menghindari, membuang atau menyingkirkan, akan tetapi, dalam novel terjemahan bahasa Indonesia Pride and

Prejudice frasa verba ini mempunyai arti melepas kepergian. Dapat

disimpulkan bahwa telah terjadi pergeseran makna dalam terjemahan novel bahasa Inggris Pride and Prejudice. Untuk analisis lebih detailnya, akan dipaparkan dalam bagian pembahasan.

Demikian semua penjelasan tentang definisi istilah-istilah yang nantinya akan berkaitan dengan penelitian ini. Dalam penelitian ini, penulis akan memfokuskan untuk meneliti (1) pergeseran makna frasa yang ada dalam terjemahan novel Pride and Prejudice dalam bahasa Indonesia, (2) apa penyebab dari pergeseranya dan (3) efek apa yang yang bisa didapat dari pergeseran makna frasa tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Padan (Equvalent) sebab penulis melakukan penelitiannya dengan mengacu pada bahasa lain.

(5)

B. LANDASAN TEORI

Dalam paper ini, penulis menggunakan teori Aliran Praha. Praha (Inggris: Prague) adalah nama ibukota negara Cheko, yang dulu dikenal dengan Cekoslowakia. Aliran linguistik Praha pertama-tama dikemukakan oleh lembaga non formal Prague Linguistic Circle yang diprakarsai oleh V. Mathesius di Universitas Caroline, Cekoslowakia. Kelompok ini berdiri pada tanggal 6 Oktober 1926. Sejak pertemuan tersebut, Prague Linguistic Circle melakukan pertemuan rutin untuk membahas isu-isu linguistik yang diterbitkan dalam serial Travaux du

Cercle Linguistque de Prague. Aliran ini dikenal dunia sejak

mengikuti Kongres Internasional di Janewa, Swiss, 1931, yang membahas tentang fonologi dan menghasilkan Asosiasi Fonologi Internasional yang diketuai oleh Trubetzkoy (Svoboda, 1990: 1-8 ; Sampson:103-107; Ubaidillah, 2012: 27).

Menurut Soeparno (2002) dalam bukunya yang berjudul “Dasar-Dasar Linguistik Umum”, beliau berpendapat bahwa aliran praha ini disebut juga dengan aliran fungsional karena titik telaahnya pada fungsi. Secara garis besar memang masih berada di dalam lingkup strukturalisme walaupun tidak lagi strukturalisme tulen sebagaimana ajaran Saussure (Soeparno, 2002: 69).

Menurut Bollinger (1968:514), tidak ada kelompok linguistik Eropa yang mempunyai banyak pengaruh seperti kelompok ini. Kelompok ini tidak pernah berusaha membatasi bidang linguistik – namun mereka menghasilkan seperangkat prinsip-prinsip yang pada umumnya disetujui semua anggota kelompok di mana-mana.

Hampir seperti apa yang telah diungkapkan oleh Soeparno, bahwa aliran ini mempunyai ciri yaitu selalu menitik beratkan pada fungsi-fungsi bahasa, baik fungsi bahasa dalam masyarakat, fungsi bahasa dalam kasusasteraan, dan masalah-masalah aspek-aspek dan tingkatan-tingkatan bahasa ditinjau dari sudut pandangan fungsinya. Bidang garapan aliran Praha ini meliputi:

1. Fonologi, yaitu merupakan arti fungsional dari studi pola bunyi.

2. Konsep perspektif kalimat secara fungsional, pendekatan terhadap interpretasi linguistik dari style dengan orientasi fungsional.

(6)

Pergeseran Makna Frasa pada Novel Terjemahan Pride and…(Ima Rifatun Nafiah)

3. Studi fungsi estetika bahasa dan peranannya dalam kasusteraan.

4. Studi fungsi bahasa baku dalam masyarakat modern (Alwasilah, 1992:36).

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa dalam studinya, Aliran Praha ini lebih cenderung berkonsentrasi pada fungsi sebuah bahasa. Seorang tokoh dari Aliran Praha, Jan Mukarovsky (1891-1975) memperkenalkan lebih dalam teori tentang fungsi bahasa, yaitu teori fungsi Estetika. Teori ini dituangkan dalam bukunya

Aesthetic, Norm, and Value as Social Facts. Fungsi Estetika itu

sendiri menurut Mukarovsky adalah penyimpangan unsur-unsur linguistik yang sengaja untuk maksud estetika (Ubaidillah, 2012: 32).

Dalam teori Estetika ini, Mukarovsky menegaskan bahwa ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam penerjemahan yaitu:

1. Automatization : Terjemahan yang diharapkan dalam situasi sosial.

2. Foregrounding : Terjemahan yang tidak diharapkan dalam situasi sosial ((Ubaidillah, 2012: 33).

Dalam tulisan ini, teori yang telah dijelaskan di ataslah yang akan digunakan oleh penulis untuk mengupas obyek kajiannya berupa pergeseran makna yang ada di dalam terjemahan bahasa Indonesia dari Novel bahasa Inggris Pride and Prejudice.

C. PEMBAHASAN

Dalam sesi pembahasan ini, penulis menyajikan sepuluh data terjemahan bahasa Indonesia dari novel bahasa Inggris Pride and

Prejudice yang sementara diduga telah mengalami pergeseran

makna karena adanya fungsi estetika yang muncul dari terjemahan yang tidak diharapkan dalam sebuah situasi.

Bicara tentang novel, otomatis akan menyangkut tentang sastra dan estetika. Dalam rangka penerjemahan atau mengalih bahasakan dari bahasa satu ke dalam bahasa target dari sebuah

novel, perlu diperhatikan bahwa dalam penerjemahan,

menggunakan makna yang benar-benar diharapkan oleh situasi sosial sangatlah penting agar tidak menimbulkan fungsi estetika seperti rasa kaget, heran dan lain sebagainya, dengan tujuan agar supaya pembaca bisa masuk dalam kisah novel tersebut dan

(7)

mendapatkan feel dari novel tersebut seperti apa yang dirasakan oleh pembaca novel dalam bahasa sumber. Berdasarkan alasan tersebut, pergeseran makna dalam penerjemahan dari bahasa sumber ke dalam bahasa target dianggap sudah sewajarnya. Dari sinilah akan dibuktikan kebenaran atas dugaan penulis tentang adanya pergeseran makna dalam penerjemahan karena timbulnya sebuah fungsi estetika.

Berikut adalah analisis tentang pergeseran makna tersebut :

1. Got rid of : Melepas kepergian

Seperti yang telah dipaparkan dengan singkat oleh penulis pada pendahuluan di atas, Got rid of merupakan frasa verba, karena head dari frasa tersebut termasuk dalam kelas kata verba;

rid. Dari frasa verba Got rid of yang ada dalam novel Pride and Prejudice diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi “melepas

kepergian”. Padahal, dalam Cambridge Learner’s Dictionary, got rid

of adalah satu kesatuan yang mempunyai arti to remove or throw

away something unwanted, yakni menghilangkan atau

menyingkirkan sesuatu yang tidak diinginkan. Terjemahan yang berdasarkan kamus inilah disebut terjemahan foregrounding yakni terjemahan yang tidak diinginkan dalam situasi sosial dan akan menimbulkan fungsi estetika membuat orang yang membacanya merasa heran atau aneh. Hal ini menunjukkan bahwa adanya pergeseran makna dalam terjemahan tersebut, menjadi terjemahan

automatization yakni terjemahan yang diharapkan dalam situasi

sosial, karena jika ditilik dari kalimat keseluruhan, terjemahan

automatization “melepas kepergian” dianggap sudah tepat untuk

menerjemahkan frasa verba got rid of dalam konteksnya, kalimat keseluruhannya adalah sebagai berikut.

Happy for all her maternal feelings was the day on which Mrs. Bennet got rid of her two most deserving daughters.

Dari kalimat di atas, frasa verba got rid of diikuti dengan obyek berupa noun phrase/frasa nomina “her two most deserving

daughters”. Jika got rid of diterjemahkan secara tekstual

berdasarkan kamus atau terjemahan foregrounding, maka akan mengakibatkan pembaca menjadi terkejut atau heran karena makna

(8)

Pergeseran Makna Frasa pada Novel Terjemahan Pride and…(Ima Rifatun Nafiah) got rid of dari kamus yang berarti menyingkirkan sesuatu yang tidak

diinginkan itu, dalam konteks anak, di dalam budaya Indonesia dianggap sangat tabu. Dan pergeseran makna terjemahan

automatization “melepas kepergian” lah yang dianggap sudah tepat

dan sesuai dengan apa yang diharapakan dalam situasi sosial.

2. Most deserving daughter : Putri tertua

Frasa di atas merupakan frasa nomina, karena “head” dari frasa tersebut menduduki kelas kata noun atau kata benda;

daughter. Dalam frasa nomina ini, telah terjadi adanya pergeseran

makna dalam terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia. Frasa nomina “Most deserving daughter” jika diterjemahkan berdasarkan kamus, akan melahirkan terjemahan “putri yang paling berjasa”. Ini yang disebut terjemahan foregruonding; terjemahan yang tidak diharapkan oleh situasi sosial atau yang tidak diharapkan dalam konteks novel tersebut. Terjemahan foregrounding ini akan menimbulkan fungsi estetika membuat orang yang membacanya menjadi heran bahkan tidak paham. Sebab, dalam novel Pride and

Prejudice, frasa nomina “Most deserving daughter” itu merujuk pada

dua tokoh, yakni Jane dan Elizabeth. Jadi, ketika frasa nomina tersebut diterjemahkan secara foregrounding, pembaca terjemahan tersebut akan secara langsung bingung dan heran pada tokoh siapakah frasa nomina “Most deserving daughter” ini merujuk. Oleh karena itu, lahirlah terjemahan automatization yang bertujuan untuk menimbulkan fungsi estetika yang sesuai dengan situasi yang diharapkan dalam sebuah konteks novel Pride and Prejudice ini, yakni menjadi “putri tertua” yang merujuk pada tokoh Jane dan Elizabeth. Pembaca terjemahan automatization ini akan secara lansung memahami ketika frasa nomina Most deserving daughter diartikan “putri tertua” daripada diartikan menjadi “putri yang paling berjasa”. Maka dari itu, terjemahan automatization dari frasa nomina

most deserving daughter dianggap sangat tepat.

3. Not desirable : Cukup melelahkan

Kasus selanjutnya, adalah kasus pergeseran makna yang terjadi dalam frasa adjektiva ”Not desirable”. ”Not desirable” ini merupakan frasa adjektiva karena inti dari frasa tersebut berada pada kata yang berkedudukan sebagai kata sifat atau adjective

(9)

(English). Dalam frasa adjektiva ini telah terjadi adanya pergeseran

makna dalam sebuah penerjemahan dengan tujuan untuk melahirkan fungsi estetika agar pembaca tidak merasa heran dan kebingungan ketika memahaminya. Terjemahan auomatization dari frasa adjektiva ”Not desirable” ini melahirkan makna “cukup melelahkan”. Terjemahan automatization ini dianggap sudah tepat untuk menerjemahkan frasa ”Not desirable” dalam konteks kalimat yang bercerita mengenai keadaan seseorang yang berhubungan dengan orang yang sangat menjengkelkan dan banyak maunya, namun objek dari frasa di atas adalah seorang ibu. Jika dilihat dari konteks ini, ketika frasa adjektiva ”Not desirable” diartikan dengan terjemahan berdasarkan kamus atau yang sering disebut dengan terjemahan foregrounding; terjemahan yang tidak diharapkan dalam situati sosial yang melahirkan arti “tidak diinginkan”, terjemahan

foregrounding ini akan menimbulkan kekagetan bagi pembaca,

karena kata “tidak diinginkan” dianggap cukup kasar jika diterapkan dalam konteks obyek seorang ibu. Oleh karena itu, pergeseran makna yang terjadi dalam frasa adjektiva ”Not desirable” yang diterjemahkan secara automatization dengan mempertimbangkan fungsi estetika dianggap sudah tepat jika dibandingkan dengan terjemahan yang dilahirkan oleh terjemahan berdasarkan kamus atau terjemahan foregrounding yang nantinya akan menimbulkan respon yang tidak diinginkan dari pembaca, seperti bingung, kaget, heran, dan setertusnya.

4. So ungovernable : segenit

Menurut Cambridge Learner’s Dictionary, so mempunyai kelas kata adverbia atau kata keterangan. Sedangkan, ungovernable mempunyai kelas kata adjektiva yakni kata sifat. Dan jika disatukan, letak head nya berada pada kata ungovernable yang ketika diterjemahkan berdasarkan kamus, akan melahirkan arti “sangat tidak dapat dikendalikan”, terjemahan yang inilah yang disebut terjemahan foregrounding yakni terjemahan yang tidak diharapkan dalam situasi sosial. Dalam penerjemahan novel, sangat dibutuhkan

(10)

Pergeseran Makna Frasa pada Novel Terjemahan Pride and…(Ima Rifatun Nafiah)

unsur-unsur estetika sehingga tidak meninggalkan sense dan keindahan dari novel tersebut. Oleh karena itu, perlu ada pergeseran makna dengan tujuan untuk menimbulkan fungsi estetika, yang juga bisa membuat terjemahan yang sesuai dengan apa yang diharapkan. Terjemahan yang dibutuhkan adalah terjemahan

automatization. Dilihat dari konteks kalimat dibawah ini:

“Kitty, to her very material advantage, spent the chief of her

time with her two elder sisters. In society so superior to what she had generally known, her improvement was great. She was not of so ungovernable a temper as Lydia; and, removed from the influence of Lydia’s example, she became, by proper attention and management, less irritable, less

ignorant, and less insipid.” (Austen, 19th 474)

Kita bisa mengetahui bahwa frasa adjektiva di atas terletak ditengah pembahasan seorang gadis yang dibandingkan dengan gadis lain, terjemahan foregrounding atau berdasarkan kamus dirasa kurang tepat ketika diterapkan dalam kasus ini, sebab akan menimbulkan fungsi estetika membuat pembaca merasa ada yang aneh atau heran. Maka lahirlah makna automatization, frasa adjektiva so ungovernable diterjemahkan menjadi segenit, dan terjemahan ini terasa lebih pas dalam konteks situasi pembahasan kutipan novel di atas.

5. Young men : Pemuda tampan

Kasus pergeseran makna selanjutnya terjadi pada frasa nomina. Oleh karena inti dari frasa tersebut berada pada kata yang mempunyai kelas kata sebagai kata benda, maka frasa di atas masuk kategori frasa nomina. Frasa nomina Young men berdasarkan kamus mempunyai arti para laki-laki yang muda, akan tetapi mengalami pergeseran makna menjadi “pemuda tampan”. Jika melihat konteks kutipan novel berikut.

“....and though Mrs. Wickham frequently invited her to come and stay with her, with the promise of balls and young men, her father would never consent to her going.”

(11)

Maka, diketahui bahwa frasa nomina young men

berdampingan dengan balls dipisah dengan coordinators and sebagai tanda kedua kata tersebut setara, kata balls dalam bahasa Indonesia mempunyai arti pesta dansa. Maka penerjemahan

foregrounding hanya akan menyisakan sebuah fungsi estetika

membuat pembaca menjadi heran dan mungkin nantinya akan ada ungkapan “Oh, berarti yang boleh ikut pesta dansa pada waktu

hanya laki-laki muda, laki-laki tua dilarang”. Oleh karena itu,

muncullah terjemahan automatization menjadi “pemuda tampan”, ketika ditinjau lebih jauh, setiap orang yang akan menghadiri pesta, pesta dansa khususnya, mereka pasti akan mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk penampilan, jadi orang ketika menghadiri sebuah pesta, makan akan terlihat lebih cantik atau tampan dibanding hari-hari biasanya. Oleh karena itu, terjemahan ”pemuda tampan” untuk terjemahan frasa nomina Young men dianggap sudah tepat dan sesuai dengan konteks, dan terjemahan inilah yang disebut terjemahan automatization.

6. Extremely indignant : Sangat terhina

Frasa extremely indignant merupakan kategori frasa adjektiva karena inti atau head dari frasa tersebut berada pada kelas kata adjektiva atau kata sifat. Ketika frasa adjektiva extremely

indignant diterjemahkan secara foregrounding mempunyai arti very angry because of something which is wrong or not fair (sangat

merasa marah atas sesuatu yang salah atau tidak adil). Terjemahan ini akan menimbulkan fungsi estetika yaitu membuat sasaran teks menjadi kurang puas dengan terjemahan yang tidak sesuai dengan situasi. Ketika frasa adjektiva di atas berada ditengah-tengah kalimat yang membahas sebuah pernikahan seorang yang sangat tidak diinginkan, ia sudah berusaha mencegah akan tetapi tetap terjadi, sebagai orang yang yang harus dhormati dan dituakan, perasaan yang akan dirasakan tidak hanya marah akan tetapi sangat merasa terhina. Oleh karena itu, untuk menerjemahkan frasa adjektiva

extremely indignant perlu menggunakan terjemahan automatization

yakni makna yang diharapkan dalam sebuah konteks atau situasi tertentu. Maka, terjemahan automatization “sangat terhina” dari frasa adjektiva extremely indignant dianggap sangat tepat dan akan

(12)

Pergeseran Makna Frasa pada Novel Terjemahan Pride and…(Ima Rifatun Nafiah)

menimbulkan fungsi estetika membuat orang yang membaca merasa puas.

7. Soon sunk : Segera lenyap

Soon sunk

Adverbia verba

Head

Susunan kata-kata di atas merupakan kategori susunan frasa verba. Karena inti atau head dari frasa tersebut berada pada kata yang mempunyai kelas kata verba (kata kerja). Pada frasa verba di atas, terdapat pergeseran makna dalam penerjemahannya kedalam bahasa Indonesia, frasa yang berdasarkan kamus seharusnya diterjemahkan menjadi “segera tenggelam” akan tetapi mengalami pergeseran makna yang cukup jauh menjadi “segera lenyap”. Pergeseran ini disebabkan karena ketika frasa verba diterjemahkan berdasarkan kamus atau yang sering disebut dengan tejemahan foregrounding akan menimbulkan sebuah respon heran atau kaget dari pembaca. Karena terjemahan foregrounding ini adalah terjemahan yang tidak diharapkan dalam situasi sosial atau dalam sebuah konteks. Dilihat dari konteksnya, frasa verba ini berada ditenga-tengah pembahasan sebagai berikut.

” They were always moving from place to place in quest of a cheap situation, and always spending more than they ought. His affection for her soon sunk into indifference;...”

Subyek dari frasa verba di atas adalah kasih sayang, dalam kalimat di ataspun tidak ditemukan kata air atau sejenisnya. Tapi perlu diketahui bahwa frasa verba soon sunk menurut kamus mempunyai arti tenggelam ke dalam benda cair dan sejenisnya. Oleh karena itu, frasa verba soon sunk dalam novel terjemahan

Pride and Prejudice kini diterjemahkan dengan terjemahan automatization; yakni terjemahan yang diharapkan dalam situasi

sosial. Dan terjemahan frasa verba soon sunk yang melahirkan makna “segera lenyap” dianggap cocok dengan konteks dan akan menimbulkan fungsi estetika membuat pembaca atau pendengar tidak heran atau bingung.

(13)

8. Some help : Sokongan

Kasus peregeseran makna selanjutnya terletak pada frasa nomina some help yang hanya diartikan kedalam bahasa Indonesia menjadi “sokongan”. Dalam kasus ini, sudah diketahui bahwa some itu selalu menunjukkan sesuatu yang jamak. Akan tetapi, dalam novel terjemahan Pride and Prejudice ke dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi ‘sokongan’, bukan sokongan-sokongan atau beberapa sokongan. Dari sinilah fungsi estetika akan timbul ketika frasa nomina ditejemahkan menjadi sokongan-sokongan atau beberapa sokongan, yaitu menimbulkan perasaan aneh yang ada dibenak pembaca. Inilah yang disebut dengan terjemahan

foregrounding. Oleh karena itu, untuk menimbulkan fungsi estetika

agar pembaca tidak merasa aneh, maka muncullah terjemahan

automatization yakni terjemahan yang diharapkan oleh situasi sosial.

9. Yours : Salam sayang

Menurut Marjolijn Verspoor and Kim Sauter, sebuah frasa bisa saja berisi hanya satu kata, dan secara otomatis head nya berada pada kata itu sendiri, seperti contoh kasus di atas, yours merupakan frasa nomina dan head nya mempunyai kelas kata sebagai pronoun; possessive pronoun. Namun, bukan kasus itulah yang akan dibahas dalam penelitian ini. Kasus frasa nomina yours akan diteliti dari segi artinya yang bergeser pada saat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Frasa nomina yours diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi salam sayang. Padahal, dalam Cambridge Learner’s Dictionary mempunyai arti used to show that

something belongs to or is connected with the person or group of people being spoken or written to. Intinya, yours adalah independent possessive pronoun yang mempunyai arti milikmu. Jadi, jauh sekali

pergeseran antara makna berdasarkan kamus dan makna yang ada di atas. Hal ini terjadi karena adanya tujuan fungsi estetika penerjemahan. Frasa nomina yours ketika diartikan berdasarkan kamus menjadi milikmu, akan terasa aneh, soalnya frasa nomina tersebut terletak pada kaki surat yang dalam budaya bahasa Indonesia biasanya menggunakan frasa, “yang tersayang” diikuti nama pengirim, salam rindu, atau salam sayang. Oleh karena itu, atas pengaruh budaya bangsa Indonesia, frasa nomina yours diterjemahkan secara automatization menjadi “salam sayang”

(14)

Pergeseran Makna Frasa pada Novel Terjemahan Pride and…(Ima Rifatun Nafiah)

dengan tujuan untuk melahirkan fungsi estetika dan bisa mengangkat sense pembaca terjemahan novel Pride and Prejudice. 10. Open pleasantry : Santai

Kasus terakhir, frasa open pleasantry merupakan frasa nomina karena head nya berada pada kata yang bekedudukan sebagai noun atau kata benda. Open pleasantry merupakan frasa nomina yang mengalami pergeseran makna dari makna yang tersurat dalam kamus. Dalam kamus, frasa nomina open pleasantry ini memiliki makna sendagurau yang terbuka. Akan tetapi dalam novel terjemahan bahasa Indonesia Pride and Prejudice mempunyai arti “santai”. Disinilah terjadi pergeseran makna dari terjemahan yang terdapat dalam kamus, karena terjemahan yang berasal dari kamus dianggap terjemahan yang tidak diharapkan pada situasi sosial, yang sering disebut dengan terjemahan foregrounding, akan menimbulkan fungsi estetika membuat orang merasa heran ketika membacanya. Oleh karena itu, telah terjadi pergeseran makna

dalam frasa ini, sehinnga dari sini muncullah terjemah

automatization yang menggeser makna open plesantry yang

awalnya mempunyai arti sendahurau yang terbuka menjadi santai.

D. KESIMPULAN

Berdasarkan analisis dari kesepuluh data di atas, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa dalam novel terjemahan bahasa Inggris

Pride and Prejudice, yang diterjemahkan ke dalam bahasa

Indonesia, banyak terjadi pergeseran makna terjemahan

foregrounding menuju makna terjemahan automatization.

Pergeseran ini dikarenakan timbulnya fungsi estetika dari terjemahan foregrounding, fungsi-fungsi estetika yang ditimbulkan dari terjemahan foregrounding ini di antaranya adalah rasa kaget, terkejut, heran, aneh, kagum yang terjadi pada pembaca. Faktor pergeseran makna terjemahan foregrounding menuju makna

automatization ini dipengaruhi beberapa faktor, di antaranya adalah

faktor konteks yang mengelilingi di mana sebuah kasus itu berada, tidak hanya itu, pergeseran ini juga dipengaruhi oleh budaya penggunaan bahasa pada sebuah negara tertentu.

(15)

E. DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Cambridge Advanced Learner’s Third Edition. Electronic Dictionary. Software.

Abrams. 1981. A Glosary of Literary Terms. USA : Earl McPeek Alwasilah, Chaedar. 1985a. Beberapa Madzhab dan Dikotomi Teori

Linguistik. Bandung: Angkasa.

Austen, Jane. Pride and Prejudice. 19th. PDF

Nugrahani, Mantili Berliani. 2012. Pride and Prejiduce (Terjemahan). Bandung: Qanita.

Nurgiyantoro, Burhan. 2009. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Soeparno. 2002. Dasar-dasar Linguistik Umum. Yogyakarta : Tiara. Ubaidillah. 2012. Diktat Mata Kuliah Teori Linguistik. Yogyakarta:

Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Press. Vespoor, Marjolijn and Kim Sauter. 2000. English Sentence Analysis:

An Introductory Course. Amsterdam/Philadelphia: John

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :