• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFEK PERUBAHAN (PASS-THROUGH EFFECT) KURS TERHADAP INDEKS HARGA KONSUMEN DI ASEAN-5, JEPANG DAN KOREA SELATAN OLEH FICKRY WIDYA NUGRAHA H

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "EFEK PERUBAHAN (PASS-THROUGH EFFECT) KURS TERHADAP INDEKS HARGA KONSUMEN DI ASEAN-5, JEPANG DAN KOREA SELATAN OLEH FICKRY WIDYA NUGRAHA H"

Copied!
228
0
0

Teks penuh

(1)

EFEK PERUBAHAN (PASS-THROUGH EFFECT) KURS

TERHADAP INDEKS HARGA KONSUMEN

DI ASEAN-5, JEPANG DAN KOREA SELATAN

OLEH

FICKRY WIDYA NUGRAHA H 14102111

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006

(2)

RINGKASAN

FICKRY WIDYA NUGRAHA. Efek Perubahan (Pass-Through Effect) Kurs

Terhadap Indeks Harga Konsumen di ASEAN-5, Jepang dan Korea Selatan (dibimbing oleh NOER AZAM ACHSANI).

Selama 25 tahun setelah Perang Dunia II, sistem moneter internasional didasarkan pada nilai tukar tetap dan dikenal sebagai Bretton Woods System.

Bretton Woods System merupakan nama lain dari rezim kurs tetap (fixed exchange rate regimes). Namun demikian, ketidakpuasan Eropa dan Jepang terhadap sistem moneter internasional, terjadinya Perang Vietnam yang didalangi oleh Amerika serta tindakan Presiden Nixon untuk mencetak Dollar dalam membiayai defisit anggaran Amerika menyebabkan rezim justru semakin memperburuk kondisi perekonomian Amerika dan sekaligus menandainya runtuhnya rezim kurs tetap. Penutupan Bretton Woods Currency Exchange Market pada bulan Februari 1973 menandai dimulainya rezim baru dalam sistem moneter internasional atau dikenal dengan istilah rezim kurs mengambang bebas (floating exchange rate regimes) pada bulan Maret 1973.

Pemberlakuan rezim kurs mengambang bebas juga menjadi penyebab terjadinya structural breaks pada pertengahan tahun 1997. Keputusan pemerintah Thailand untuk mendevaluasi Baht pada 2 Juli 1997 menyebabkan krisis keuangan yang menjalar di ASEAN. Peristiwa ini dikenal dengan nama Asian Financial Crisis (AFC). Fenomena ini membuat kurs domestik terdepresiasi tajam bukan hanya di ASEAN bahkan di negara Asia Timur seperti Korea Selatan, Hongkong dan Taiwan. Menurut IMF, Indonesia dan Filipina adalah negara yang mengalami dampak depresiasi paling tajam. Depresiasi kurs ini selanjutnya menyebabkan harga barang-barang impor meningkat yang pada akhirnya menyebabkan inflasi. Krisis keuangan ini juga kemudian menyebabkan transformasi rezim kurs di sejumlah negara seperti Indonesia, Thailand, Filipina dan Korea.

Penelitian ini memiliki tiga tujuan utama. Pertama, menganalisis derajat

pass-through di ASEAN, Jepang dan Korea Selatan. Kedua, menganalisis pengaruh efek perubahan kurs (pass-through effect) terhadap IHK di negara ASEAN, Jepang dan Korea Selatan. Ketiga, menganalisis peranan kurs dalam menjelaskan fluktuasi IHK di negara ASEAN, Jepang dan Korea Selatan.

Penelitian ini menggunakan data sekunder time series dari bulan Januari 1990 sampai bulan November 2005. Data diperoleh dari International Financial Statistic (IMF), World Economic Statistic dan Bloomberg. Model penelitian ini mengacu pada model Sato, Ito dan Sasaki (2005) yang selanjutnya akan dianalisis dengan menggunakan Structural Vector Autoregression (SVAR). Namun demikian jika setelah dilakukan uji stasioneritas mengindikasikan adanya I(1) maka model SVAR akan dikombinasikan dengan model koreksi kesalahan menjadi Vector Error Correction Model (VECM). Meninjau penelitian terdahulu

(3)

(McCarthy, 2000; Windarti, 2004; Hartati, 2004; Sato, et al, 2005) untuk menganalisis derajat pass-through di ASEAN, Jepang dan Korea Selatan maka

Cholesky Decomposition akan digunakan untuk mengidentifikasi guncangan struktural dari model SVAR jika I(0) dan VECM jika I(1) selama 48 horizon waktu (4 tahun).

Hasil empiris penelitian menunjukkan bahwa selama periode penelitian terjadi incomplete pass-through di masing-masing negara ASEAN serta Jepang dan Korea Selatan. Kemudian, perubahan kurs akan direspon secara negatif oleh tingkat harga yang diproksikan melalui IHK. Namun hal ini tidak berlaku untuk Singapura yang mana hubungan antara kurs dengan IHK memiliki hubungan positif. Berdasarkan hasil analisis DFEV menunjukkan bahwa peranan kurs dalam menjelaskan flukutasi IHK sangat dominan di negara Indonesia dimana kurs memberikan kontribusi lebih dari 50 persen terhadap fluktuasi IHK. Hasil analisis melalui koefisien (derajat) pass-through mengindikasikan bahwa negara yang mengalami respon terbesar akibat perubahan kurs adalah Indonesia. Efek akumulasi perubahan kurs (derajat pass-through) selama 48 bulan sebesar -0,45 artinya perubahan IHK di Indonesia hampir 50 persen dipengaruhi oleh kurs. Efek perubahan kurs sebesar satu persen terhadap IHK di Indonesia selama 48 bulan berkisar antara 0,02 persen sampai 0,65 persen. Temuan ini tidak jauh berbeda dengan temuan Sato, et al, (2005) dimana hasil empiris dari penelitian tersebut menemukan bahwa koefisien pass-through di Indonesia sebesar -0,57. Efek permanen perubahan kurs selama 48 bulan di negara ASEAN lainnya serta Jepang dan Korea Selatan tidak menunjukkan besaran yang begitu besar. Masing-masing negara tersebut yaitu Malaysia sebesar -0,01, Thailand sebesar -0,13, Filipina sebesar -0,1, Singapura sebesar 0,08, Jepang sebesar -0,02 dan Korea Selatan sebesar -0,05.

Menurut McCarthy (2000), Sahminan (2005) dan Hyder dan Shah (2004), faktor variabel mikroekonomi seperti rasio komponen impor dalam biaya produksi, daya saing produk, struktur pasar akan mempengaruhi derajat pass-through. Kemudian variabel makroekonomi seperti rasio Foreign Direct Investment (FDI) terhadap PDB di suatu negara, jumlah perusahaan multinasional dan pertumbuhan ekonomi serta fenomena pricing to market akan serta merta mempengaruhi besaran derajat pass-through terhadap IHK.

Keterbatasan penelitian ini adalah tidak memisahkan antara periode sebelum dan pasca krisis keuangan terjadi. Sehingga untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat digunakan dummy krisis untuk masing-masing negara ASEAN, Jepang dan Korea Selatan. Selain itu penelitian ini juga hanya menganalisis bagaimana hasil empiris secara umum efek perubahan kurs terhadap IHK yang terjadi di negara-negara tersebut.

(4)

EFEK PERUBAHAN (PASS-THROUGH EFFECT) KURS

TERHADAP INDEKS HARGA KONSUMEN

DI ASEAN-5, JEPANG DAN KOREA SELATAN

OLEH

FICKRY WIDYA NUGRAHA H 14102111

Skripsi

Sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

(5)

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006

INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang disusun oleh, Nama Mahasiswa : Fickry Widya Nugraha Nomor Registrasi Pokok : H14102111

Program Studi : Ilmu Ekonomi

Judul Skripsi : Efek Perubahan (Pass-Through Effect) Kurs Terhadap Indeks Harga Konsumen di ASEAN-5, Jepang dan Korea Selatan

dapat diterima sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Dr. Noer Azam Achsani NIP. 132 014 445

Mengetahui,

Ketua Departemen Ilmu Ekonomi

(6)

NIP. 131 846 872 Tanggal Kelulusan:

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI ADALAH BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIGUNAKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN.

Bogor, Agustus 2006

Fickry Widya Nugraha

(7)

RIWAYAT HIDUP

Penulis yang memiliki nama lengkap Fickry Widya Nugraha lahir pada tanggal 19 Desember 1984 di Bekasi. Penulis lahir sebagai anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Adil Nugraha dan Wiwit Widyawati. Jenjang pendidikan penulis dimulai dari TK Pelita pada tahun 1989. Kemudian pada tahun 1990, penulis melanjutkan ke Sekolah Dasar Pelita. Lulus dari SD penulis melanjutkan ke tingkat SLTP di SLTPN 194 pada tahun 1996. Pada tahun 1999 penulis berhasil diterima di SMUN 71 Jakarta Timur dan lulus pada tahun 2002.

Pada tahun 2002, penulis berhasil diterima di Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor (IPB) di Program Studi Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP) melalui ujian Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Departemen ini kemudian berganti nama menjadi Departemen Ilmu Ekonomi pada tahun 2004.

Selama masa kuliah penulis aktif mengikuti kegiatan kemahasiswaan dan berbagai organisasi kemahasiswaan. Penulis pernah menjabat sebagai Sekretaris Komisi II Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Manajemen (DPM FEM) IPB periode 2004/2005 dan juga menjadi staf divisi penelitian dan pengembangan Himpunan Profesi dan Peminat Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan (HIPOTESA) pada periode yang sama. Karier organisasi penulis diakhiri dengan menjabat sebagai Ketua Departemen Pengembangan Kreativitas dan Minat Bakat Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Manajemen (BEM FEM) IPB periode 2005/2006.

(8)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur penulis haturkan kehadirat Allah SWT karena atas izin dari-Nya skripsi ini dapat diselesaikan. Tidak lupa salawat serta salam agar terus tercurah kepada nabi akhir zaman beserta sahabat dan keluarganya sebagai penuntun jalan yang lurus kepada umatnya Rasulullah Muhammad SAW.

Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Februari sampai dengan Mei 2006 dengan judul “Efek Perubahan (Pass-Through Effect) Kurs Terhadap Indeks Harga Konsumen di ASEAN-5, Jepang dan Korea Selatan. Penelitian ini

memiliki tiga tujuan utama. Pertama, menganalisis derajat pass-through di ASEAN-5, Jepang dan Korea Selatan. Kedua, menganalisis pengaruh efek perubahan kurs (pass-through effect) terhadap IHK di negara ASEAN-5, Jepang dan Korea Selatan. Ketiga, menganalisis peranan kurs dalam menjelaskan fluktuasi IHK di negara ASEAN-5, Jepang dan Korea Selatan.

Penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Noer Azam Achsani, Ph.D yang telah memberikan bimbingan baik secara teoritis maupun teknis, transfer ilmu serta menyisihkan waktu luangnya untuk konsultasi kepada penulis selama proses pengerjaan skripsi ini. Ucapan terima kasih juga tidak lupa penulis sampaikan kepada segenap pihak yang telah memberikan kontribusi dalam penelitian ini diantaranya :

1. Ibu Rina Oktaviani, Ph.D yang telah bersedia menjadi dosen penguji dalam ujian sidang penulis serta memberikan saran dan masukan untuk perbaikan dan kesempurnaan skripsi ini.

2. Ibu Widyastutik, S.E, M.Si yang telah bersedia menjadi komisi pendidikan dalam ujian sidang penulis serta memberikan saran dan masukan untuk perbaikan dan kesempurnaan skripsi ini.

3. Bapak Andriansyah, M.Sc yang telah memberikan izin pengambilan data melalui Bloomberg di BAPEPAM Departemen Keuangan.

4. Mba Yati Nuryati, M.S dan Bang Adrian Lubis, M.S yang sangat membantu dalam proses pengolahan data.

(9)

H14102111

5. Bapak Syamsul Hidayat Pasaribu, S.E, M.Si yang telah memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis serta pinjaman literatur ekonometrika dan ekonomi keuangan internasional.

6. Bapak Dr. Djoni Hartono yang telah meminjamkan literatur ekonometrika.

7. Bapak Dr. Sahminan Pulungan atas pemberian data harga impor negara ASEAN.

8. Thamic, Iqbal, Imam, Ionk, Mala, Wirda, Tasya, Lia, Ary, Andros dan Rudi yang juga senantiasa membantu, menghibur dan senantiasa memberikan motivasi kepada penulis sampai dengan skripsi ini dapat terselesaikan.

9. Rekan-rekan departemen ilmu ekonomi angkatan 39 (Ary, Galih, Nova, Edi, Aan, Mardi, Juned, Herry, Nina, Hanie, Ade) yang senantiasa membantu penulis dalam bertukar pikiran selama proses pengerjaan skripsi sampai dengan skripsi ini selesai.

Akhirnya penulis ingin memberikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada keluarga penulis terutama Wiwit Widyawati dan Adil Nugraha selaku Ibu dan Ayah yang telah banyak mendukung dan membesarkan penulis dan kepada adik-adik yaitu Fachri dan Fitry. Skripsi ini mungkin tidak akan begitu penting bagi keluarga penulis akan tetapi setidaknya mereka mengetahui ada sesuatu yang terjadi selama mereka mengorbankan waktu untuk penulis.

Penulis menyadari bahwa dalam penelitian ini masih terdapat banyak sekali kekurangan dan kelemahan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang semata-mata ditujukan untuk memperbaiki berbagai kelemahan yang ada sangat penulis harapkan. Semoga penelitian ini bermanfaat bagi perkembangan ekonomi Indonesia terutama dalam menghadapi perekonomian global serta dapat menambah khazanah pengetahuan kita.

Bogor, Juli 2006 Wassalam,

(10)

DAFTAR ISI

Halaman RINGKASAN

KATA PENGANTAR

DAFTAR TABEL...x

DAFTAR GAMBAR...xi

DAFTAR LAMPIRAN...xii

DAFTAR SINGKATAN ...xi v I. PENDAHULUAN...1 1.1. Latar Belakang ...1 1.2. Permasalahan...6

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian ...10

1.4. Ruang Lingkup Penelitian ...11

II. TINJAUAN PUSTAKA...12

2.1. Kurs (Exchange Rate) ...12

2.1.1. Kurs Nominal ...12

2.1.2. Kurs Riil...13

2.1.3. Kurs Efektif Nominal...13

2.2. Jumlah Uang Beredar...15

2.3. Teori Purchasing Power Parity (PPP)...15

2.3.1. Paritas daya beli absolut...15

2.3.2. Paritas daya beli relatif...15

2.4.Pendekatan KonseptualExchange Rate Pass-Through (ERPT) ...16

2.4.1. Complete Pass-Through...18

2.4.2. Incomplete Pass-Through ...18

2.4.3. Zero Pass-Through ...19

(11)

2.5. Analisis Pass-Through Effect...19

2.5.1. Efek Langsung (Direct Effect) ...19

2.5.2. Efek Tidak Langsung (Indirect Effect) ...22

2.6. Inflasi ...23

2.7. Jenis Inflasi ...24

2.7.1. Demand pull inflation...24

2.7.2. Cost push inflation...25

2.7.3. Ekspektasi inflasi (expected inflation) ...26

2.7.4. Perspektif Inflasi ...26

2.8. Hubungan Nilai Tukar Dengan Tingkat Harga...28

2.9. Indeks Harga Konsumen (IHK) ...30

2.10. Determinasi Kurs ...31

2.10.1. Pendekatan Neraca Pembayaran ...32

2.10.2. Pendekatan Moneter...32

2.10.3. Pendekatan Neraca Portofolio...35

2.11. Indeks Produksi Industri (IPX) ...36

2.12. Indeks Harga Produsen (PPI)...37

2.13. Indeks Harga Perdagangan Besar (WPI)...37

2.14. Indeks Harga Impor (IPC)...38

2.15. Tinjauan Penelitian Terdahulu ...38

2.16. Kerangka Pemikiran...42

III. METODOLOGI PENELITIAN...47

3.1. Jenis dan Sumber Data...47

3.2. Metode Analisis ...48

3.2.1. Metode Pengolahan dan Analisis Data ...48

3.2.2. Analisis Structural Vector Autoregression (SVAR)...48

3.2.3. Analisis Vector Error Correction Model (VECM)...52

3.2.4. Data Generating Process (DGP) ...53

3.2.5. Restriksi Sementara...57

3.2.6. Model Restriksi ...57

(12)

3.2.7.1 Impulse Response Function (IRF)...61

3.2.7.2. Decomposition of Forecasting Error Variance (DFEV) ....61

3.2.8. Derajat Pass-Through...62

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN...63

4.1. Sekilas Kondisi Perekonomian di Asia...63

4.2. Tren Kurs di ASEAN, Jepang dan Korea Selatan...64

4.3. Data Generating Process (DGP) ...68

4.3.1. Uji Stasioneritas Data...69

4.3.2. Penentuan Lag Optimal...71

4.3.3. Pengujian Stabilitas VAR ...73

4.3.3. Pengujian Kointegrasi ...73

4.4. Hasil Empiris...75

4.4.1. Simulasi Analisis Impuls Respon...76

4.4.2. Simulasi Analisis Dekomposisi Varian...95

4.5. Efek Perubahan (Pass-Through Effect) Kurs Terhadap IHK...105

V. KESIMPULAN DAN SARAN...119

5.1. Kesimpulan ...119

5.2. Saran...121

DAFTAR PUSTAKA...123

(13)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

3.1. Variabel Penelitian yang Digunakan... 47

4.1. Transformasi Rezim Kurs di Beberapa Negara Asia Pasca Krisis ... 68

4.2. Uji Stasioneritas Data ASEAN-5... 69

4.3. Uji Stasioneritas Data Jepang dan Korea Selatan... 70

4.4. Pengujian lag optimal VAR ... 71

4.5. Uji Stabilitas model SVAR ASEAN-5, Jepang dan Korea Selatan... 73

4.6. Pengujian Kointegrasi Berdasarkan Trace Statistics... 74

4.7. Dekomposisi Varian IHK di ASEAN-5, Jepang dan Korea Selatan... 96

4.8. Derajat Pass-Through di ASEAN-5, Jepang dan Korea Selatan ... 105

4.9. Nilai Suku Bunga Nominal di ASEAN-5, Jepang dan Korea Selatan... 108

4.10. Peranan Faktor Eksternal Terhadap Fluktuasi di ASEAN-5, Jepang dan Korea Selatan ... 110

(14)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman 1.1. Grafik Indeks Nilai Tukar Domestik (1990=100) Terhadap US$

di Negara ASEAN-5, Jepang dan Korea Selatan periode 1990-2005... 4

1.2. Grafik Perekembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) (1990=100) di Negara ASEAN-5, Jepang dan Korea Selatan 1990-2005... 7

2.1. Kurva Demand Pull Inflation... 24

2.2. Kurva Cost Push Inflation... 25

2.3. Kurva Model Mundell Flemming Jangka Pendek dan Jangka Panjang ... 29

2.4. Kerangka Pemikiran Teoritis Efek Perubahan Kurs Terhadap IHK... 43

4.1. Tren Kurs Domestik Terhadap US$ di Negara ASEAN-5 Periode 1990-2005 ... 66

4.2. Tren Kurs Domestik Terhadap US$ di Negara Jepang dan Korea Selatan Periode 1990-2005 ... 67

4.3. Respon Kurs Domestik Terhadap Guncangan Kurs di ASEAN-5, Jepang dan Korea Selatan ... 77

4.4. Respon PPI Terhadap Guncangan Kurs di ASEAN-5, Jepang dan Korea Selatan ... 81

4.5. Respon IPX Terhadap Guncangan Kurs di ASEAN-5, Jepang dan Korea Selatan ... 85

4.6. Respon IHK Terhadap Guncangan Kurs di ASEAN-5, Jepang dan Korea Selatan ... 91

4.7. Efek Perubahan (Pass-Through) Kurs Terhadap IHK di Indonesia... 109

4.8. Efek Perubahan (Pass-Through) Kurs Terhadap IHK di Malaysia... 111

4.9. Efek Perubahan (Pass-Through) Kurs Terhadap IHK di Thailand ... 112

4.10. Efek Perubahan (Pass-Through) Kurs Terhadap IHK di Filipina... 113

4.11. Efek Perubahan (Pass-Through) Kurs Terhadap IHK di Singapura ... 114

4.12. Efek Perubahan (Pass-Through) Kurs Terhadap IHK di Jepang ... 116

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

INDONESIA

Lampiran 1. Uji Akar Unit... 127

Lampiran 2. Uji Lag Optimal ... 131

Lampiran 3. Uji Stabilitas VAR... 132

Lampiran 4. Restriksi Sementara ... 133

Lampiran 5. Uji Kointegrasi ... 135

Lampiran 6. Impulse Response Function... 136

Lampiran 7. Forecasting Error Variance Decomposition... 137

MALAYSIA Lampiran 1. Uji Akar Unit... 137

Lampiran 2. Uji Lag Optimal ... 141

Lampiran 3. Uji Stabilitas VAR... 142

Lampiran 4. Restriksi Sementara ... 143

Lampiran 5. Uji Kointegrasi ... 145

Lampiran 6. Impulse Response Function... 147

Lampiran 7. Forecasting Error Variance Decomposition... 148

THAILAND Lampiran 1. Uji Akar Unit... 148

Lampiran 2. Uji Lag Optimal ... 153

Lampiran 3. Uji Stabilitas VAR... 154

Lampiran 4. Restriksi Sementara ... 155

Lampiran 5. Uji Kointegrasi ... 157

Lampiran 6. Impulse Response Function... 158

Lampiran 7. Forecasting Error Variance Decomposition... 159

FILIPINA Lampiran 1. Uji Akar Unit... 160

(16)

Lampiran 3. Uji Stabilitas VAR... 165

Lampiran 4. Restriksi Sementara ... 166

Lampiran 5. Uji Kointegrasi ... 168

Lampiran 6. Impulse Response Function... 169

Lampiran 7. Forecasting Error Variance Decomposition... 170

SINGAPURA Lampiran 1. Uji Akar Unit... 171

Lampiran 2. Uji Lag Optimal ... 175

Lampiran 3. Uji Stabilitas VAR... 176

Lampiran 4. Restriksi Sementara ... 177

Lampiran 5. Uji Kointegrasi ... 179

Lampiran 6. Impulse Response Function... 180

Lampiran 7. Forecasting Error Variance Decomposition... 181

JEPANG Lampiran 1. Uji Akar Unit... 182

Lampiran 2. Uji Lag Optimal ... 183

Lampiran 3. Uji Stabilitas VAR... 187

Lampiran 4. Restriksi Sementara ... 188

Lampiran 5. Uji Kointegrasi ... 190

Lampiran 6. Impulse Response Function... 191

Lampiran 7. Forecasting Error Variance Decomposition... 192

KOREA SELATAN Lampiran 1. Uji Akar Unit... 193

Lampiran 2. Uji Lag Optimal ... 197

Lampiran 3. Uji Stabilitas VAR... 198

Lampiran 4. Restriksi Sementara ... 199

Lampiran 5. Uji Kointegrasi ... 201

Lampiran 6. Impulse Response Function... 202

(17)

DAFTAR SINGKATAN

ASEAN = Association of SouthEast Asian Nation

IMF = International Monetary Fund

IFS = International Financial Statistic

ERPT = Exchange Rate Pass-Through

PDB = Produk Domestik Bruto FDI = Foreign Direct Investment

PPP = Purchasing Power Parity

AFC = Asian Financial Crisis

SBI = Sertifikat Bank Indonesia PPI = Producer Price Index

IPX = Industrial Production Index

CPI = Consumer Price Index

IHK = Indeks Harga Konsumen DGP = Data Generating Process

ADF = Augmented Dickey Fuller

AIC = Akaike Information Criterion

SBC = Schwarz Bayesian Criterion

HQC = Hannan-Quinn Criterion

OLS = Ordinary Least Squares VAR = Vector Autoregression

SVAR = Structural Vector Autoregression

VECM = Vector Error Correction Model

IRF = Impulse Response Function

(18)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Rezim kurs yang diterapkan hampir di sebagian besardunia sampai dengan tahun 1929 menggunakan standar emas (gold system) yang mengikat nilai mata uang kepada nilai emas (Microsoft Encarta Library, 2005). Saat itu, emas memiliki peran utama dalam sistem ekonomi dunia baik untuk pembayaran saat itu (present payment) maupun yang akan datang (future payment), saving dari pendapatan dan juga sebagai penerimaan.

Implikasi penggunaan standar emas dalam sistem moneter internasional yaitu pertama, kecukupan suplai emas dalam jumlah besar karena emas digunakan sebagai instrumen utama perekonomian dunia (trade and capital movement). Kedua, kepercayaan yang kuat dalam emas sebagai uang. Ketiga, harus adanya mekanisme yang efektif dalam menyesuaikan permintaan dan persediaan internasional dari mata uang setiap negara yang berpartisipasi dalam sistem ini. Ketiga implikasi ini dapat berjalan dengan baik sebelum tahun 1914.

Selama 25 tahun setelah Perang Dunia II, sistem moneter internasional didasarkan pada kurs tetap dan dikenal sebagai Bretton Woods System. Bretton Woods System merupakan nama lain dari rezim kurs tetap (fixed exchange rate regimes). Pada sistem kurs ini negara anggota diwajibkan untuk menganut sistem kurs dimana mata uang negara yang bersangkutan memiliki pegged rate terhadap emas yang didenominasikan dalam mata uang Dollar US yaitu US$ 35/ons. Artinya untuk mendapatkan satu ons emas harus ditebus dengan uang sebesar

(19)

US$ 35. Nilai tukar ini tidaklah tetap untuk selamanya akan tetapi ada devaluasi yang sekali-kali dari mata uang untuk mengoreksi ketidakseimbangan pokok dalam Balance of Payment (BOP).

Setelah Perang Dunia II, Amerika memegang US$ 26 miliar dalam cadangan emasnya. Angka ini meliputi 60 persen dari total cadangan emas yang ada di dunia sebesar US$ 40 miliar. Komitmen Amerika untuk membantu negara Eropa pasca Perang Dunia II diwujudkan dalam Marshall-Plan (The European Recovery Program) melalui bantuan dana daripada pemberian pinjaman. Sejak tahun 1947 sampai 1958 terjadi aliran keluar (outflow) Dollar ke berbagai negara Eropa. Sisi positifnya, perdagangan dunia pun mulai bergairah kembali tetapi sisi negatifnya menyebabkan cadangan emas Amerika semakin berkurang seiring bergeraknya perekonomian dunia. Akibatnya, pada tahun 1958 Amerika pun mengalami defisit neraca pembayaran. Pesatnya perekonomian dunia pada pertengahan tahun 1960-an juga menyebabkan Eropa dan Jepang menjadi kekuatan ekonomi internasional dengan total reserve yang melebihi Amerika dan pendapatan per kapita yang mulai mendekati Amerika (Microsoft Encarta Library, 2005).

Ketidakpuasan Eropa dan Jepang terhadap sistem moneter internasional yang berlaku serta tekanan yang senantiasa meningkat terhadap Amerika di tahun 1960-an membuat kebijakan untuk menahan Dollar. Hal ini dilakukan mengingat banyaknya negara yang tidak setuju terhadap politik Amerika, misalnya perang Vietnam. Selain itu Jerman Barat juga sepakat untuk tidak membeli emas dari Amerika. Hal ini diperparah lagi ketika Presiden Richard Nixon mengimpor

(20)

minyak dengan tujuan untuk mengurangi biaya energi. Hasilnya justru mengakibatkan dollar flight dan mengurangi cadangan emas. Puncaknya pada awal 1970-an menyebabkan inflasi dan untuk pertama kalinya dalam abad ke-20 Amerika tidak hanya mengalami defisit neraca pembayaran tetapi juga neraca perdagangan.

Upaya IMF untuk membendung dollar flight dengan menerbitkan Special Drawing Rights (SDR) pun tidak berlangsung efektif. Pada tahun 1971 Amerika mengalami defisit sebesar US$ 56 miliar dan untuk menutupinya kebanyakan diambil dari cadangan emasnya. Selain itu tindakan Presiden Nixon untuk mencetak Dollar dalam membiayai defisit anggaran semakin memperburuk kondisi ekonomi Amerika saat itu sekaligus mengakhiri berakhirnya sistem kurs tetap berbasis emas.

Sejak bulan Desember 1971 harga emas pun mulai meningkat tajam dan sempat mencapai US$ 70,3/ons. Mulai tahun 1972 mata uang dibiarkan mengambang dan pada bulan Februari 1973 Bretton Woods currency exchange market dengan resmi ditutup sekaligus menandai dimulainya rezim baru dalam sistem moneter internasional atau dikenal dengan istilah rezim kurs mengambang bebas (floating exchange rate regimes)pada bulan Maret 1973.

Namun demikian, berlakunya rezim kurs mengambang bebas juga bukan berarti tanpa masalah. Pemberlakuan rezim kurs mengambang bebas merupakan salah satu penyebab terjadinya structural breaks atau lebih dikenal dengan istilah Krisis Keuangan Asia (Asian Financial Crisis) 1997-1998 (Sahminan, 2005). Keputusan pemerintah Thailand untuk mendevaluasi Baht pada 2 Juli 1997

(21)

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 140 150 160 170 180 Jan -90 Agus t-90 Mar-9 1 Okt-9 1 M ei-92 De s-92 Ju l-93 Fe b-94 Sep -94 Apr-9 5 No p-95 Jun -96 Ja n-97 Agu st-97 Mar-9 8 Okt-9 8 Mei -99 De s-99 Ju l-00 Feb-0 1 Sep -01 Apr-0 2 No p-02 Jun -03 Ja n-04 Agu st-0 4 Mar-0 5 Okt-0 5 PERIODE

merupakan penyebab krisis keuangan yang menjalar di ASEAN yang kemudian disusul adanya kepanikan luar biasa di bursa saham dan mata uang. Krisis selanjutnya menjalar ke Korea Selatan, Malaysia, Indonesia, Filipina, Singapura dan Hongkong (Achsani, 2001).

Krisis Asia 1997-1998 telah memberikan eksternalitas negatif bagi negara-negara di Asia terutama negara-negara Asia Tenggara khususnya Indonesia. Negara yang terkena dampak paling parah adalah Indonesia. Kurs Rupiah Indonesia bahkan sempat terdepresiasi mencapai Rp. 15.000/US$ pada pertengahan bulan Juni 1998 yang semula berada pada nilai Rp. 4.650/US$ pada bulan Desember 1997. Gambar 1.1 dibawah ini menampilkan perkembangan kurs domestik terhadap US$ selama periode 1990-2005. Berdasarkan Gambar 1.1, terlihat bahwa Indonesia mengalami depresiasi kurs tertajam dibandingkan negara Asia lainnya.

Sumber: data Bloomberg tahun 1990-2005 (diolah)

Gambar 1.1. Grafik Indeks Nilai Tukar Domestik (1990=100) Terhadap US$ di Negara ASEAN-5, Jepang dan Korea Selatan periode 1990-2005

(22)

Masalah yang melatarbelakangi perbedaan besaran inflasi pada saat terjadinya krisis terletak pada masalah kurs. Depresiasi kurs mengakibatkan harga barang-barang impor menjadi meningkat. Peningkatan harga barang impor akan meningkatkan harga bahan baku impor sehingga akan meningkatkan biaya produksi. Efek akhirnya adalah meningkatnya tingkat harga secara umum atau inflasi.

Salah satu isu sentral dalam ekonomi internasional saat ini adalah

exchange rate pass-through (ERPT) yang didefinisikan sebagai persentase perubahan harga (domestik, impor maupun ekspor) sebagai akibat perubahan satu persen dalam kurs. Dalam perdagangan internasional, misalnya depresiasi Rupiah terhadap Dollar sebesar 10 persen (0,1), karena produsen asing ingin mengejar

market share dan laba tinggi di Indonesia maka ia menurunkan harga ekspor ke Indonesia sebesar 5 persen (0,05). Menurut doktrin PPP (asumsi harga produk lokal tetap) jika kurs nominal terdepresiasi 10 persen maka kurs riil akan berubah sebesar 10 persen akan tetapi perubahannya hanya sebesar 5 persen karena produsen asing menurunkan harga ekspornya ke Indonesia sebesar 5 persen. Hal ini yang dinamakan incomplete pass-through of exchange rate. Hal ini juga mengindikasikan terjadinya fenomena pricing to market di suatu negara.

Terkait dengan tantangan era perdagangan bebas di kawasan Asia yaitu kesepakatan ASEAN-China Free Trade Area dan juga Joint Declaration on the Comprehensive Economic Partnership antara ASEAN-Jepang menjadi tantangan sendiri bagi perekonomian Asia. Saat itu persaingan tidak hanya dengan sesama negara ASEAN, tetapi juga dengan China dan Jepang yang merupakan dua dari

(23)

tiga kekuatan ekonomi terbesar dunia saat ini selain Amerika Serikat (Achsani, 2001). Tantangan ini kemudian diperkuat lagi dengan disepakatinya untuk mengintegrasikan ekonomi ASEAN kedalam komunitas tunggal (single community) pada tahun 2020 pada pertemuan ASEAN yang ke-36. Beberapa ekonom mengemukakan bahwa pasar tunggal membutuhkan adanya suatu kesamaan mata uang (common curency). Hal ini diperlukan guna meminimalisir biaya transaksi dan resiko yang timbul dari perbedaan kurs yang mengarah kepada diferensiasi harga (Lloyd dan Smith, 2004). Sehingga masalah kurs akan menjadi topik utama bagi kesiapan negara-negara Asia dalam menghadapi tantangan tersebut.

Masih minimnya penelitian mengenai ERPT di negara berkembang khususnya di Asia dan negara berkembang melatarbelakangi penulis untuk mencoba meneliti mengenai efek perubahan (pass-through effect) kurs terhadap indeks harga konsumen (IHK) di negara Asia dengan menggunakan alat analisis

StructuralVector Autoregression (SVAR).

1.2. Permasalahan

Pemberlakuan rezim kurs mengambang bebas yang menimbulkan volatilitas kurs merupakan hal yang fenomena yang menarik untuk diteliti, terutama untuk dilihat pengaruhnya terhadap indeks harga konsumen di Asia. Disamping itu menurut Sato, Ito dan Sasaki (2005) terjadinya perbedaan besaran inflasi pada saat terjadinya krisis keuangan di Asia terletak pada perbedaan kecenderungan pergerakan kurs di negara Asia yang ditunjukkan oleh

(24)

Gambar 1.1. Akibatnya efek perubahan kurs terhadap inflasi pun juga cenderung berbeda terutama saat dan pasca terjadinya krisis keuangan di Asia tahun 1997-1998. Fluktuasi inflasi yang diidentifikasi melalui IHK yang terjadi akibat perubahan kurs di beberapa negara Asia dapat dilihat pada Gambar 1.2 di bawah ini

Berdasarkan Gambar 1.2 dapat diketahui bahwa setelah bulan Agustus 1997 tren IHK di Indonesia meningkat tajam dan lebih tinggi dibanding negara Asia lainnya. Hal ini diakibatkan oleh fenomena depresiasi kurs Rupiah terhadap USD. Menurut IMF, kurs Rupiah terhadap Dollar Amerika terdepresiasi tajam mencapai Rp. 15.000/US$ yang semula berada pada kisaran Rp. 4.700/US$. Artinya, dibandingkan negara Asia lainnya terutama di kawasan Asia Tenggara Indonesia mengalami efek terparah sebagai akibat dari perubahan kurs yang terjadi saat itu. Gambar 1.2 juga mengimplikasikan bahwa pasca krisis Indonesia

0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 500 550 600 650 700 Jan-90 Aug-90 Mar -91 Oct-91 May-92 Dec-92 Jul -93 Feb-94 Sep-94 Apr -95 Nov-95 Jun-96 Jan-97 Aug-97 Mar -98 Oct-98 May-99 Dec-99 Jul -00 Feb-01 Sep-01 Apr -02 Nov-02 Jun-03 Jan-04 Aug-04 Mar -05 Oct-05 Periode

Sumber: data Bloomberg tahun 1990-2005 (diolah)

Gambar 1.2. Grafik Perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) (1990=100) di Negara ASEAN-5, Jepang dan Korea Selatan periode 1990-2005

(25)

masih mengalami mengalami tren pertumbuhan IHK yang tinggi dibanding negara Asia lainnya. Dengan demikian, fenomena ini juga dapat dipandang sebagai konsekuensi dari penerapan rezim kurs mengambang yang diterapkan di Indonesia.

Rezim kurs mengambang bebas telah memberikan fenomena dalam perdagangan internasional dimana harga untuk barang yang sama antar negara harus dalam paritas yang sama. Doktrin Purchasing Power Parity (PPP) memberikan implikasi bahwa nilai atau harga suatu barang yang sama antara negara satu dengan negara yang lain haruslah sama yang didenominasikan dalam mata uang yang berlaku di negara tersebut.

Namun demikian, dalam kaitannya dengan rezim kurs mengambang maka pada aplikasinya terjadi deviasi dari teori PPP ini. Pada kenyataannya, nilai atau harga suatu barang sama tadi, yang telah didenominasikan dalam mata uang negara tersebut, dapat berbeda satu sama lain. Masalah yang melatarbelakangi perbedaan ini terletak pada masalah exchange rate (kurs). Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa isu sentral dalam ekonomi internasional saat ini adalah exchange rate pass- through (ERPT) yang didefinisikan sebagai persentase perubahan harga (domestik, impor maupun ekspor) sebagai akibat perubahan satu persen dalam kurs.

ERPT telah menjadi subyek dari studi para ekonom sejak 1970-an terutama pasca jatuhnya Bretton Woods System. Mann dalam Sahminan (2005) menemukan bahwa pada negara yang volatilitas permintaan agregatnya tinggi maka efek dari pass-through akan berpengaruh sedikit terhadap perekonomian

(26)

negara tersebut. Windarti (2004) dalam penelitiannya menemukan bahwa efek perubahan kurs di Indonesia akan direspon secara negatif oleh tingkat harga. Artinya ketika Rupiah terdepresiasi maka akan meningkatkan tingkat harga secara umum.

Menurut Flamini (2003) dampak yang ditimbulkan akibat ERPT terhadap IHK akan berbeda saat bank sentral mengadopsi strict CPI dan flexible CPI

inflation targeting. Menurut Sato, et al ,(2005) jika kebijakan moneter di suatu negara bersifat strict inflation targeting maka pengaruh ERPT terhadap IHK akan minimal dan begitu juga sebaliknya. Selain itu Sato, et al ,(2005) juga menemukan bahwa ERPT pada negara-negara yang mengalami krisis di Asia seperti Indonesia, Korea dan Thailand memiliki pengaruh yang cukup kuat terhadap harga domestik.

Dalam kasus Indonesia misalnya, depresiasi Rupiah terhadap US$ sebesar 0,8 persen per hari pada tahun 1997-1998 menyebabkan total ekspor Indonesia menurun sebesar 8,5 persen pada akhir 1998 dibandingkan tahun 1997. Dari segi volume, total ekspor barang dagang mengalami rata-rata penurunan sebesar 14 persen antara kuartal kedua tahun 1998 dan kuartal pertama tahun 1999 (Siregar dan Rajan dalam Sahminan, 2005). Selanjutnya penurunan nilai ekspor akan mempengaruhi pendapatan eksportir dan laju inflasi di Indonesia melalui keseimbangan permintaan dan penawaran di pasar domestik.

Sampai sejauh ini tidak ada pendekatan yang seragam dalam menganalisis

pass-through terhadap IHK, akan tetapi berdasarkan penelitian terdahulu (McCarthy, 2000; Hyder dan Sah,2004; Hartati, 2004; Windarti, 2004; Sato, et al,

(27)

2005) derajat pass-through akan dianalisis dengan menggunakan Cholesky Decomposition melalui guncangan struktural terhadap IHK. Identifikasi guncangan struktural selengkapnya dapat dilihat pada bab III dalam penelitian ini. Lebih khusus lagi poin-poin yang akan dibahas dalam penelitian ini yaitu :

a. Bagaimana derajat pass-through di ASEAN-5, Jepang dan Korea Selatan? b. Bagaimana efek perubahan (pass-through effect) kurs terhadap indeks

harga konsumen (IHK) di negara ASEAN-5, Jepang dan Korea Selatan ? c. Bagaimana peranan kurs dalam menjelaskan fluktuasi indeks harga

konsumen (IHK) di negara ASEAN-5, Jepang dan Korea Selatan ?

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan penelitian ini yaitu :

1. Menganalisis derajat pass-through di ASEAN-5, Jepang dan Korea Selatan.

2. Menganalisis pengaruh efek perubahan (pass-through effect) kurs terhadap IHK di negara ASEAN-5, Jepang dan Korea Selatan.

3. Menganalisis peranan kurs dalam menjelaskan fluktuasi IHK di negara ASEAN-5, Jepang dan Korea Selatan.

Adapun manfaat dari penelitian ini yaitu :

1. Memberikan wawasan mengenai pengaruh ERPT terhadap indeks harga konsumen di negara ASEAN-5, Jepang dan Korea Selatan.

2. Sebagai bahan referensi kepada para pembuat kebijakan baik di tingkat nasional maupun internasional.

(28)

3. Menjelaskan pengaruh jangka pendek dan jangka panjang fenomena ERPT di negara ASEAN-5, Jepang dan Korea Selatan.

4. Mengetahui efek simultan akibat efek perubahan kurs bagi perdagangan internasional terutama di Asia.

5. Sebagai media komparatif antara teori yang selama ini dipelajari di bangku kuliah dengan fakta yang terjadi di dunia nyata.

1.4. Ruang Lingkup Penelitian

Fokus dari penelitian ini adalah untuk menganalisis efek perubahan (pass-through effect) kurs terhadap IHK di negara ASEAN. Adapun ruang lingkup penelitian ini mengambil sampel lima negara utama ASEAN yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan Singapura. Namun terkait dengan era perdagangan bebas ASEAN yang akan melibatkan Jepang, Cina dan Korea Selatan maka penulis memasukkan ketiga negara tersebut ke dalam lingkup penelitian ini Namun demikian, keterbatasan ketersediaan data negara Cina menyebabkan tidak memungkinkan untuk dianalisis. Sehingga dalam penelitian ini hanya mencakup negara ASEAN, Jepang dan Korea Selatan (ASEAN+2).

(29)

e = Pd / Pf (1)

II. TINJAUAN PUSTAKA

Dalam hubungannya dengan penelitian ini maka beberapa teori yang mendukung sebagai alat bantu teoritis untuk menganalisis efek perubahan kurs terhadap IHK adalah sebagai berikut :

2.1. Kurs (exchange rate)

Nilai tukar atau kurs (exchange rate) didefinisikan sebagai harga satuan mata uang dalam negeri (domestic currency) terhadap mata uang luar negeri (Salvatore, 1997). Nilai tukar antara dua negara adalah harga di mana penduduk kedua negara saling melakukan perdagangan (Mankiw, 2000). Dalam kenyataannya kurs dibedakan menjadi tiga jenis yaitu kurs nominal, kurs riil dan kurs efektif nominal. Adapun definisi dari ketiganya dapat dilihat dibawah ini : 2.1.1. Kurs nominal

Kurs nominal (e) adalah harga relatif dari mata uang dua negara. Biasanya kurs nominal (e) disebut juga kurs bilateral karena hanya membandingkan nilai mata uang dua negara. Sebagai contoh jika kurs nominal antara Indonesia dengan Amerika sebesar Rp.10.000 per Dollar maka artinya untuk memperoleh satu Dollar Amerika (1 US$) harus ditukarkan dengan uang sebesar Rp.10.000. Menurut Moosa (2004) nilai tukar uang nominal (e) dapat dirumuskan sebagai berikut :

(30)

t 1 m i it i

E

wV

=

=

1 , .0 i i i m i i i i t it i X M w X M S V S = + = + =

* p q =e p (2) (3) (4) (5) 2.1.2. Kurs riil

Kurs riil (q) adalah harga relatif dari barang-barang kedua negara. Dengan kata lain kurs riil menyatakan tingkat dimana kita bisa memperdagangkan barang-barang dari suatu negara untuk barang-barang-barang-barang dari negara lain. Kurs riil (q) kadang-kadang disebut terms of trade. Menurut Batiz (1994), kurs riil dapat dirumuskan sebagai berikut :

dimana q adalah kurs nominal, Pd adalah tingkat harga domestik dan Pf adalah

tingkat harga luar negeri. 2.1.3. Kurs efektif nominal

Kurs efektif nominal (Et) adalah indeks (diukur relatif terhadap periode

dasar) dari rata-rata tertimbang kurs nominal terhadap mata uang dari mitra dagang utama (major trading partners). Kurs efektif nominal mengukur harga dari mata uang dalam negeri terhadap beberapa negara (multilateral) mitra dagang utama (major trading partners). Menurut Moosa (2004) kurs efektif pada waktu t

dihitung sebagai rata-rata tertimbang dari dari kurs relatif (exchange rate relatives) dan dapat dirumuskan sebagai berikut :

(31)

M1 = Mo + traveler’s checks + demand deposits + other checkable Deposits + total M1

M2 = M1 + small-denomination time deposits + saving deposit and money market deposits accounts + total M2

M3 = M2 + large-denomination time deposits + money market mutual fund shares+ term repurchase agreements + term Eurodollars + total M3

(6)

(7) (8) dimana Et adalah kurs efektif nominal pada waktu ke t, m adalah jumlah mata

uang negara mitra dagang utama, wi adalah rata-rata perdagangan yang

didenominasikan dalam mata uang negara i, Vit adalah kurs relatif dari mata

uang negara i pada waktu t, Si adalah kurs pada spot market saat ini, S0 adalah

kurs pada periode dasar (base period), Xi adalah nilai ekspor domestik ke negara

i dan Mi adalah nilai impor dari negara i.

2.2. Jumlah Uang Beredar (Money Supply)

Jumlah uang yang tersedia disebut penawaran uang (money supply) (Mankiw, 2000). Dalam arti luas jumlah penawaran uang dapat dibedakan menjadi tiga jenis base money (Mo), M1, M2 dan M3. Uang beredar yang dipengaruhi oleh bank sentral sebagai instrument kebijakan moneter adalah Mo (base money). Komposisi jumlah uang yang beredar di masyarakat dapat kita bedakan menjadi dua bagian. Pertama adalah uang beredar dalam pengertian sempit, yang digunakan untuk transaksi yaitu M1 (narrow money), dan kedua adalah uang beredar dalam pengertian luas yang biasa disebut dengan M2 (broad money). Komposisi jumlah uang beredar M1 dan M2 adalah sebagai berikut (Mishkin, 2001):

(32)

*

ˆ ˆ ˆ

P e P= +

(9)

(10)

2.3. Teori Purchasing Power Parity (PPP)

Teori Purchasing Power Parity (PPP) atau paritas daya beli menggambarkan hubungan antara tingkat harga umum dan kurs pada waktu tertentu. Versi dasar dari Purchasing Power Parity (PPP) dapat dipandang sebagai generalisasi dari Hukum Satu Harga (The Law of One Price). Implikasinya adalah bahwa harga komoditi yang diperdagangkan antar negara haruslah sama walaupun didenominasikan dalam mata uang negara yang berlaku. Menurut Batiz (1994) PPP dapat dibedakan menjadi dua yaitu :

2.3.1. Paritas daya beli absolut (absolute purchasing power parity)

Paritas daya beli absolut mengindikasikan bahwa kurs memiliki hubungan dengan harga relatif suatu barang. Hubungan antara kurs dengan harga barang atau tingkat harga umum direfleksikan melalui rumus berikut :

P = e P*

atau

dimana P adalah harga domestik, e adalah kurs nominal, P* adalah harga luar negeri (harga impor), ˆP adalah perubahan harga domestik, eˆ adalah perubahan kurs nominal dan Pˆ* adalah perubahan harga luar negeri.

2.3.2. Paritas daya beli relatif (relative purchasing power parity)

Konsep paritas daya beli relatif menyatakan bahwa perubahan kurs sepanjang waktu t ke t + T akan sebanding dengan perubahan paritas daya beli antara dua negara. Konsep ini juga menekankan adanya penghitungan periode

(33)

(

)

(

*

) (

*

)

/ / 1

e e e e

t T t t t t t

S+S S = π −π +π (11)

dasar (base period) dalam persamaan paritas daya beli. Maka persamaan paritas daya beli relatif adalah sebagai berikut :

dimana e t T

S+ adalah expected exchange rate, St adalah kurs pada periode dasar (base period), e

t

π adalah inflasi di dalam negeri, e* t

π adalah inflasi di luar negeri. Model persamaan ini mengimplikasikan bahwa perubahan dalam ekspektasi kurs (expected exchange rate) akan berhubungan dengan perubahan dalam ekspektasi inflasi (expected inflation).

2.4. Pendekatan Konseptual Exchange Rate Pass-Through (ERPT)

Exchange rate pass-through (ERPT) didefinisikan sebagai perubahan harga (harga ekspor, harga impor maupun harga domestik) sebagai akibat perubahan satu persen dalam kurs domestik terhadap kurs asing. Menurut Moosa (2004) dan Batiz (1994), ERPT dapat disebut sebagai efek perubahan kurs atau persentase perubahan kurs terhadap persentase perubahan harga ekspor dan harga impor. Konsep ERPT dapat didekati melalui penurunan rumus PPP, yaitu :

*

ˆ ˆ ˆ ˆ

P + q = e + P (12) dimana ˆP adalah perubahan harga domestik, ˆq adalah perubahan kurs riil, eˆ

adalah perubahan kurs nominal dan Pˆ* adalah perubahan harga luar negeri.

Selain itu pengembangan model exchange rate pass-through juga dapat dikembangkan dari model ekonomi mikro sebagai berikut (Sahminan, 2005):

(34)

* j j j j j t t t t t t PM =E PX =E λ C (13) * j j t t j t t P E C α λ = ⎜⎛ ⎞ ⎝ ⎠ (14) dimana j t

PM adalah harga impor negara j dalam mata uangnya pada waktu t,

j t

PX adalah harga ekspor ke negara j dalam mata uangnya pada waktu t, j t

E adalah kurs nominal negara j terhadap negara pengimpor (mitra dagang), *

t

C adalah

marginal cost dalam mata uang negara pengekspor, j t

λ adalah biaya mark up produksi dan j

t

P adalah harga kompetitor untuk jenis barang yang sama di negara j.

Dengan mengasumsikan bahwa perusahaan pengekspor menetapkan mark up ( j

t

λ ) dengan memasukkan tekanan kompetitif (competitive pressure) ke dalam pasar impor dan tekanan kompetitif ini dihitung dari gap antara harga barang pesaing dalam pasar impor dan biaya produksi perusahaan. Maka persamaan ini disubtitusikan ke dalam persamaan di atas:

(

*

) ( )

1

j j j

t t t t

PM = E C −α P α (15)

Dengan menerapkan logaritma natural pada persaman di atas maka persamaan akhirnya :

*

(1 ) t t (1 ) t

pm= −α eP+ −α c (16) Pada persamaan di atas fenomena exchange rate pass-through dilihat dari koefisien (1−α). Exchange rate pass-through pada persamaan di atas

(35)

didefinisikan sebagai elastisitas parsial terhadap harga impor yang ditunjukkan oleh (1−α).

Dengan demikian fenomena ERPT pada persamaan PPP dapat dianalisis manakala terjadi perubahan kurs nominal (eˆ) maka akan berpengaruh terhadap harga domestik ( ˆ P ). Fenomena ERPT ini dapat dibedakan menjadi empat jenis yaitu :

2.4.1. Completepass-through

Jika perubahan kurs nominal (eˆ) sebanding dengan perubahan harga domestik (Pˆ ) maka fenomena ini dinamakan full atau complete pass-through.

Misalnya jika diasumsikan perubahan harga domestik sama dengan nol. Maka jika perubahan kurs nominal (eˆ) sebesar 0,1 maka kurs riil ( ˆq ) akan bernilai sebesar 0,1. Pada kasus ini perubahan kurs riil sebanding atau sama dengan perubahan kurs nominal.

2.4.2 Incomplete pass-through

Jika perubahan kurs nominal (eˆ) tidak sebanding dengan perubahan harga domestik (Pˆ ) maka fenomena ini dinamakan partial atau incomplete pass-through. Misalnya jika diasumsikan perubahan harga domestik sama dengan nol. Maka jika perubahan kurs nominal (eˆ) sebesar 0,1 lalu produsen asing melakukan intervensi harga produk sebesar 0,05 maka kurs riil ( ˆq ) akan bernilai sebesar 0,05. Pada kasus ini perubahan kurs riil tidak sebanding atau tidak sama dengan perubahan kurs nominal

(36)

2.4.3. Zero pass-through

Jika perubahan kurs nominal (eˆ) tidak mempengaruhi perubahan harga domestik (Pˆ ) maka fenomena ini dinamakan zero pass-through. Artinya berapa pun perubahan kurs yang terjadi maka tidak berpengaruh pada tingkat harga. Dengan demikian respon yang dialami tingkat harga sebagai akibat perubahan kurs berapa persen pun adalah nol.

2.4.4. Delayed pass-through

Jika perubahan kurs nominal (eˆ) mempengaruhi perubahan harga domestik (Pˆ ) setelah interval waktu tertentu maka fenomena ini dinamakan

delayed pass-through. Misalnya jika diasumsikan perubahan harga domestik sama dengan nol.

2.5. Analisis Pass-Through Effect

Analisis efek perubahan nilai tukar (pass through effect) pada umumnya adalah untuk mengetahui efek perubahan nilai tukar terhadap perubahan tingkat harga baik itu berupa harga impor, harga ekspor maupun tingkat harga umum yang diukur melalui IHK. Akan tetapi analisis ini dapat dikembangkan lagi untuk dilihat dampaknya terhadap investasi dan volume perdagangan (Hartati, 2004). Pada dasarnya pass-through effect akan menimbulkan dampak langsung dan tidak langsung dalam perekonomian terbuka.

2.5.1. Efek Langsung (Direct Effect)

Menurut McCarthy (2000) dampak langsung lintasan kurs (direct pass-through) nilai tukar terhadap inflasi adalah melalui perubahan harga

(37)

barang-barang impor. Dalam konsep ini depresiasi mata uang akan menyebabkan kenaikan harga barang-barang impor (imported inflation). Barang-barang tersebut dapat berupa barang konsumsi, bahan baku, dan barang modal.

Dampak perubahan nilai tukar yang langsung mempengaruhi inflasi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu (Majardi dalam Hartati, 2004) pertama, first direct pass-through, yaitu dampak melalui barang konsumsi karena perubahan harga barang impor dapat langsung mempengaruhi harga jual produk dalam negeri. Kelompok barang ini memiliki elastisitas yang tinggi terhadap perubahan kurs. Kedua, second direct pass-through, yaitu dampak melalui impor bahan baku dan barang modal. Proses pembentukan harganya melalui proses produksi terlebih dahulu, sehingga elastisitasnya lebih rendah dibandingkan kelompok barang konsumsi. Melalui first direct pass-through, dampak fluktuasi nilai tukar terhadap inflasi dapat terjadi seketika (contemporaneous). Sementara pada second direct pass-through mempunyai efek tunda (lag effect).

Dampak langsung perubahan nilai tukar mempengaruhi inflasi melalui perubahan indeks harga barang domestik yang berasal dari impor barang-barang konsumsi (final goods). Dimana jika terjadi fluktuasi nilai tukar (depresiasi mata uang) maka harga barang luar negeri akan menjadi mahal.

McCarthy (2000) dengan menggunakan model of pricing along distribution chain menganalisis efek langsung dari perubahan nilai tukar melalui beberapa tahap yaitu (1) guncangan dari sisi penawaran (supply shock) yang diidentifikasi melalui inflasi harga minyak (oil price), (2) guncangan dari sisi permintaan (demand shock) yang diidentifikasi dengan menggunakan proksi

(38)

1 1 2 ( ) ( ) ( ) oil oil s it t n it it s d it t n it i it it s d e it t n it i it i it it E y E y a e E e a a π π ε ε ε ε ε ε − − − = + = + + Δ = Δ + + + (17) (18) (19) (20) (21) (22) output gap yang dihitung dari selisih output riil dengan output potensial ditambah guncangan dari sisi penawaran dan (3) guncangan dari sisi kurs yang diidentifikasi melalui perubahan pergerakan kurs ditambah guncangan sisi permintaan dan penawaran. Lebih jelasnya perumusan model dapat dilihat dibawah ini:

Pada tahap selanjutnya efek perubahan kurs akan mempengaruhi inflasi secara langsung melalui harga barang impor dan secara tidak langsung melalui PPI. Dengan menggunakan persamaan (17), (18) dan (19) maka tingkat inflasi di negara i pada periode waktu t dapat ditulis sebagai berikut :

dimana :

oil it

π : inflasi harga minyak (oil price) di negara i pada waktu t

it

y : output gap di negara i pada waktu t

it

e

Δ : perubahan kurs (kurs efektif nominal) di negara i pada waktu t

m it

π : imported inflation (harga impor) di negara i pada waktu t

ppi it

π : inflasi PPI di negara i pada waktu t

cpi it

π : inflasi IHK di negara i pada waktu t ( oil)

t n it

E π : ekspektasi harga minyak berdasarkan periode sebelumnya di negara i

( )

t n it

E y : ekspektasi output gap berdasarkan periode sebelumnya di negara i

( )

t n it

E Δe : ekspektasi perubahan kurs berdasarkan periode sebelumnya di negara i pada waktu t

m it

( )

t n

E π : ekspektasi inflasi imported inflation berdasarkan periode

m m it ( it ) 1 2 3 s d e m t n i it i it i it it E b b b

π

=

π

+

ε

+

ε

+

ε

+

ε

ppi ppi it ( it ) 1 2 3 4 + s d e m ppi t n i it i it i it i it it E c c c c π = π + ε + ε + ε + ε ε cpi cpi it ( it ) 1 2 3 4 + 5i s d e m ppi cpi t n i it i it i it i it it it E d d d d d π = π + ε + ε + ε + ε ε +ε

(39)

sebelumnya di negara i pada waktu t

ppi it

( )

t n

E π : ekspektasi inflasi PPI berdasarkan periode sebelumnya di negara i pada waktu t

cpi it

( )

t n

E π : ekspektasi inflasi IHK berdasarkan periode sebelumnya di negara i pada waktu t

s it

ε : guncangan sisi penawaran

d it

ε : guncangan sisi permintaan

e it

ε : guncangan kurs

m it

ε : guncangan imported inflation

ppi it ε : guncangan PPI cpi it ε : guncangan IHK

2.5.2. Efek Tidak Langsung (Indirect Effect)

Menurut McCarthy (2000) efek tidak langsung yang diakibatkan oleh perubahan nilai tukar ditransmisikan melalui Producer Price Index (PPI). Sementara itu Sato et, al (2005) dan Menon dalam Sahminan (2005) menemukan bahwa efek tidak langsung yang ditimbulkan oleh perubahan kurs melalui guncangan sisi permintaan dan sisi penawaran. Analisis dari sisi permintaan mengindikasikan bahwa peningkatan pendapatan eksportir dalam negeri akan meningkatkan permintaan mereka terhadap barang dan jasa. Kemudian dari sisi penawaran adalah peningkatan harga bahan baku (intermediate input) yang memiliki komponen impor yang pada selanjutnya akan meningkatkan biaya produksi perusahaan. Hyder dan Shah (2004) juga menemukan bahwa di Pakistan efek tidak langsung yang bersumber dari peningkatan harga bahan baku pada akhirnya akan meningkatkan harga barang ekspor sehingga ekspor menjadi tidak murah lagi ketika terjadi depresiasi mata uang Pakistan (Pak Rupee).

(40)

2.6. Inflasi

Inflasi didefinisikan sebagai kenaikan harga secara umum dan berlanjut atas barang dan jasa karena adanya ketidakseimbangan di dalam perekonomian. Kenaikan temporer atau kenaikan musiman, serta kenaikan harga akibat perubahan kebijakan harga oleh pemerintah tidak masuk ke dalam definisi inflasi dalam pengertian tersebut (Majardi dalam Hartati, 2004). Bank Indonesia mendefinisikan inflasi sebagai kecenderungan dari harga-harga untuk meningkat secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan) kepada kenaikan pada barang lainnya. Kebalikan dari inflasi disebut deflasi.

Sementara tingkat harga merupakan rata-rata tertimbang harga barang dan jasa di perekonmian yang diperoleh dengan bantuan indeks harga. Indeks harga yang banyak digunakan adalah indeks harga konsumen (IHK) atau Consumer Price Index (CPI), PDB deflator dan Whole Price Index (WPI). Namun hampir semua negara dalam perhitungan inflasi menggunakan IHK.

Inflasi dapat dibedakan antara inflasi yang dipengaruhi oleh kebijakan moneter, yaitu inflasi inti (core inflation) dan inflasi yang tidak dipengaruhi oleh kebijakan moneter, yaitu inflasi sesaat (noise). Adapun indikator inflasi yaitu :

1. Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan indikator yang umum digunakan untuk menggambarkan pergerakan harga. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat.

(41)

2. Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) merupakan indikator yang menggambarkan pergerakan harga dari suatu komoditi yang diperdagangkan di suatu daerah.

2.7 Jenis Inflasi

2.7.1. Demand pull inflation

Faktor penyebab terjadinya demand pull inflation adalah tingginya permintaan barang dan jasa relatif terhadap ketersediaannya sedangkan produksi telah berada pada keadaan full employment. Kurva demand pull inflation

ditunjukkan oleh Gambar 2.1 di bawah ini.

Sumber : Mishkin (2001)

Gambar 2.1. Kurva Demand Pull Inflation

Tingkat Harga Umum (P) 

(42)

Gambar 2.2. Kurva Cost Push Inflation

Y*

Dalam konteks makroekonomi, kondisi ini digambarkan oleh output riil yang melebihi output potensialnya atau permintaan total (agregat demand) lebih besar daripada kapasitas perekonomian akibatnya penambahan permintaan hanyalah akan menaikkan harga saja.

2.7.2. Cost push inflation

Dalam cost push inflation inflasi disebabkan oleh pergeseran ke kiri atas kurva agregat suplai. Penyebab pergeseran ini antara lain kenaikan harga minyak dunia, tuntutan kenaikan upah oleh buruh sehingga meningkatkan biaya produksi dan menggeser kuva AS1 ke kiri atas dan keseimbangan berada di titik 1’.

Kemudian pergeseran dalam kurva AS akan menimbulkan reaksi dari pemerintah agar tidak terjadi ouput gap dengan menggeser AD melalui pengeluaran pemerintah sehingga keseimbangan bergeser ke titik 2’ (kembali ke titik Yf). Kurva cost push inflation ditunjukkan oleh Gambar 2.2 di bawah ini.

Sumber : Mishkin (2001) Kuantitas Agregat (Y)

(43)

dimana : M = Penawaran Uang

V = Tingkat Perputaran Uang (velocity of money) P = Tingkat Harga Barang T = Transaksi Barang 2.7.3. Ekspektasi inflasi (expected inflation)

Faktor ekspektasi inflasi dipengaruhi oleh perilaku masyarakat dan pelaku ekonomi apakah lebih cenderung bersifat adaptif atau forward looking. Hal ini tercemin dari perilaku pembentukan harga di tingkat produsen dan pedagang terutama pada saat menjelang hari-hari besar (lebaran, natal dan tahun baru) dan penentuan upah minimum (minimum wages).

2.7.4. Perspektif Inflasi

Pada dasarnya, teori inflasi dibedakan menjadi dua aliran, yaitu aliran Monetaris dan aliran Keynesian. Aliran Monetaris menganggap bahwa inflasi merupakan murni fenomena moneter. Sementara aliran Keynessian menganggap bahwa inflasi tidak saja merupakan fenomena moneter tetapi juga fenomena sector riil. Salah satu penganut aliran Monetaris adalah Irving Fisher, yang mengemukakan tentang teori kuantitas uang (quantity theory of money). Teori Irving Fisher atau dikenal dengan nama Fisher Effect merupakan persamaan identitas sebagai berikut (Mankiw, 2000) :

(44)

Sementara aliran Keynessian mengasumsikan bahwa uang dapat digunakan untuk transaksi, berjaga-jaga dan spekulasi. Dengan demikian permintaan uang riil merupakan fungsi sebagai berikut (Mankiw, 2000) :

(24)

dimana M adalah stok uang, P adalah tingkat harga, i adalah tingkat suku bunga nominal dan Y adalah output riil, maka tingkat harga :

(25) Sementara, tingkat bunga khususnya suku bunga riil merupakan biaya modal yang merupakan salah satu komponen faktor produksi. Besarnya tingkat suku bunga nominal ditunjukkan oleh persamaan Fisher berikut ini (Mankiw, 2000) :

(26)

Artinya perubahan suku bunga nominal akan dipengaruhi oleh perubahan tingkat suku bunga riil (r) dan tingkat ekspektasi inflasi (πe). Tingkat suku bunga

nominal mempunyai hubungan positif terhadap inflasi dengan demikian tingkat harga atau inflasi dapat dipengaruhi oleh :

(27)

Maka dengan demikian inflasi selain dipengaruhi oleh jumlah uang beredar (M) juga dipengaruhi oleh tingkat suku bunga riil, ekspektasi inflasi dan output.

( , ) M L i Y P = P ( , ) M L i Y = e

i r

= +

π

( , e, ) M P L r π Y =

(45)

2.8. Hubungan Nilai Tukar Dengan Tingkat Harga

Hubungan antara nilai tukar dalam makro ekonomi dapat melalui pasar barang maupun pasar uang. Salah satu model yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara nilai tukar dengan tingkat harga adalah model Mundell-Flemming yang dikembangkan pada awal tahun 1960-an oleh Robert A Mundell dan J Marcus Flemming. Model ini mengasumsikan bahwa perekonomian adalah perekonomian kecil terbuka (small-opened economy). Model ini menggambarkan interaksi pasar barang yang direpresentasikan oleh kurva IS dan pasar uang yang direpresentasikan oleh kurva LM dalam perekonomian terbuka. Salah satu poin penting dalam model ini adalah bahwa perilaku perekonomian tergantung pada sistem kurs yang diadopsinya dan mobilitas modal sempurna yang artinya bahwa tingkat suku bunga domestik (r) ditentukan oleh tingkat suku bunga dunia ( *

r ). Secara matematis kita bisa menulis asumsi ini sebagai berikut (Mankiw, 2000) :

*

r r= (28)

Untuk mengkaji penyesuaian harga dalam perekonomian terbuka, kita harus membedakan antara kurs nominal (e) dan kurs riil (q). Kita bisa menulis model

Mundell-Flemming sebagai berikut (Mankiw, 2000):

(29) (30) Persamaan pertama menjelaskan kurva IS dan persamaan kedua menjelaskan kurva LM. Gambar 2.3 berikut ini menunjukkan bagaimana keseimbangan jangka panjang dan jangka pendek melalui kurva IS dan LM dalam perekonomian terbuka kecil. * * ( ) ( ) ( )... Y C Y T= − +I r + +G NX q IS * * ( , )... M L r Y LM P=

(46)

Sumber : Mankiw (2000)

Gambar 2.3. Model Mundell-Flemming Jangka Pendek dan Jangka Panjang

Kurs riil (q)

Pendapatan,Output (Y)

Tingkat Harga (P) 

(A) Kurva Model Mundell Flemming

(B) Kurva Model Penawaran dan Permintaan Agregat

(47)

Titik K dalam kedua gambar menunjukkan keseimbangan di bawah asumsi keynessian bahwa tingkat harga tetap (sticky) pada P1. Pada keseimbangan ini,

permintaan terhadap barang dan jasa terlalu rendah untuk mempertahankan perekonomian berproduksi pada tingkat alamiah. Sepanjang waktu, permintaan yang rendah menyebabkan tingkat harga turun. Penurunan dalam tingkat harga meningkatkan keseimbangan uang riil, yang pada selanjutnya menggeser kurva LM ke kanan. Kurs riil mengalami depresiasi, sehingga ekspor bersih naik. Berangsur-angsur perekonomian mencapai titik C, keseimbangan jangka panjang. Kecepatan transisi antara keseimbangan jangka panjang dan jangka pendek tergantung pada secepat apa tingkat harga menyesuaikan untuk mengembalikan perekonomian ke tingkat alamiah. Kapan pun pembuat kebijakan mempertimbangkan perubahan dalam kebijakan, mereka perlu mempertimbangkan dampak jangka panjang dan jangka pendek dari keputusan mereka.

2.9. Indeks Harga Konsumen (IHK)

Indeks Harga Konsumen (IHK) atau Consumer Price Index ( CPI), sering digunakan untuk menentukan biaya hidup dan dahulu disebut cost-of-living index, mengukur perubahan harga untuk suatu kombinasi belanja barang dan jasa. Jika GDP mengubah jumlah berbagai barang dan jasa menjadi sebuah angka tunggal yang mengukur nilai produksi, maka IHK mengubah harga berbagai barang dan jasa menjadi sebuah indeks tunggal yang mengukur seluruh tingkat harga. IHK juga dapat didefinisikan sebagai harga sekelompok barang dan jasa relatif

(48)

(31) terhadap harga sekelompok barang dan jasa yang sama pada tahun dasar (Mankiw, 2000).

Sebagai contoh, anggaplah seorang konsumen membeli lima apel dan dua jeruk setiap bulan. Maka kelompok barang itu terdiri dari lima apel dan dua jeruk, dan IHK-nya adalah

Pada IHK ini, tahun 1992 adalah tahun dasar. Indeks itu menyatakan berapa biaya yang harus dibelanjakan untuk membeli lima apel dan dua jeruk sekarang relatif terhadap harga buah yang sama pada tahun 1992.

2.10. Determinasi Kurs

Determinasi kurs dalam pasar uang internasional tentunya menjadi hal yang sangat penting bagi pelaku pasar. Apresiasi atau depresiasi kurs saat ini menjadi tolak ukur pelaku pasar dalam menganalisis ekspektasi kurs di masa yang akan datang. Dalam teori Keynessian (IS-LM) yang menggerakkan nilai tukar adalah perbedaan suku bunga domestik (r) dan suku bunga internasional (r*). Jika suku bunga domestik (r) lebih tinggi dari suku bunga internasional

(r*) maka akan terjadi aliran modal masuk (capital inflow), selanjutnya akan

menyebabkan apresiasi kurs. Berikut ini akan dipaparkan beberapa pendekatan popular mengenai determinasi kurs :

(

) (

)

(

) (

)

5 X Harga Apel Sekarang 2 X Harga Jeruk Sekarang IHK =

5 X Harga Apel 1992 2 X Harga Jeruk 1992 +

(49)

(32) 2.10.1. Pendekatan Neraca Pembayaran

Melalui rezim kurs mengambang bebas, nilai dari mata uang suatu negara ditentukan oleh interaksi antara permintaan dan penawaran mata uang itu sendiri. Maka melalui pendekatan neraca pembayaran secara matematis determinasi nilai tukar dapat ditulis sebagai berikut (Tucker, Madura dan Chiang, 1998):

dimana st adalah perubahan kurs nominal, ptadalah perubahan harga domestik,

*

t

p adalah perubahan harga luar negeri, yt adalah perubahan pendapatan domestik, *

t

y adalah perubahan pendapatan luar negeri, r adalah perubahan suku bunga domestik, *

t

r adalah perubahan suku bunga luar negeri, , dan η φ λadalah koefisien dari variabel.

Maka melalui pendekatan neraca pembayaran, ketika pendapatan domestik meningkat akan menyebabkan impor naik dan selanjutnya akan menyebabkan depresiasi nilai tukar (kurs nominal). Begitu juga ketika tingkat harga dometik meningkat maka akan menyebabkan depresiasi nilai tukar. Sebaliknya ketika tingkat suku bunga domestik meningkat akan menyebabkan

capital inflow dan pada akhirnya akan menyebabkan apresiasi nilai tukar. 2.10.2.Pendekatan Moneter

Pendekatan moneter lebih terfokus kepada kondisi keseimbangan stok uang dalam pasar uang. Selanjutnya pendekatan moneter dapat dibedakan menjadi dua yaitu pendekatan moneter dengan asumsi harga fleksibel (flexible price) dan harga kaku (sticky price). Pertama-tama kita akan mulai dari

* * *

( ) ( ) ( )

t t t t t t t

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa terdapat kontribusi yang positif dan signifikan kontribusi perilaku kepemimpinan kepala sekolah, kontribusi

equivalent languages in terms of weightage of marks, content, periods in Time Table etc. Hence he is permitted to choose Telugu under Language I of TET Paper I or II or both... Ex

Pembuatan alat pengukur kecepatan dan arah angin diharapkan dapat membuat alat pengukur kecepatan dan arah angin dengan biaya yang lebih efisien dan dapat digunakan pada kehidupan

Kebanyakan prosedur ekstraksi cair-cair melibatkan ekstraksi analit dari fasa air kedalam pelarut organic yang bersifat non-polar  atau agak polar seperti n-heksana, metil benzene

Tablica 63: Regresijski koeficijenti i pokazatelji kolinearnosti u regresijskom modelu utjecaja upravljanja promjenama na strategijski razvoj

Sedangkan pada AOMDV memiliki nilai yang lebih kecil karena pencarian rute dilakukan ketika suatu node akan berkomunikasi dengan node lain, sehingga dapat

konstruktivisme di atas adalah model pembelajaran yang dianggap dapat memenuhi cara belajar siswa aktif dan konstruktif dilihat dari kerangka

Acara ini terwujud berkat kerjasama Pemerintah Provinsi Lampung dengan Non Goverment Organization (NGO) yang tergabung dalam Jaringan Kelola Ekosistem Lampung (