LAJU PERTUMBUHAN DAN KANDUNGAN AGAR Gracilaria
verrucosa DENGAN PERLAKUAN BOBOT BIBIT TERHADAP
JARAK TANAM DI TAMBAK BALAI LAYANAN USAHA
PRODUKSI PERIKANAN BUDIDAYA KARAWANG, JAWA
BARAT
LA ODE ALIFATRI
SKRIPSI
DEPARTEMEN ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012
Dengan ini saya menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul:
LAJU PERTUMBUHAN DAN KANDUNGAN AGAR Gracilaria
verrucosa DENGAN PERLAKUAN BOBOT BIBIT TERHADAP
JARAK TANAM DI TAMBAK BALAI LAYANAN USAHA
PRODUKSI PERIKANAN BUDIDAYA KARAWANG, JAWA
BARAT
Adalah benar merupakan hasil karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir Skripsi ini.
Bogor, Juni 2012
LA ODE ALIFATRI C54070001
RINGKASAN
LA ODE ALIFATRI. Laju Pertumbuhan dan Kandungan Agar Gracilaria verrucosa dengan Perlakuan Bobot Bibit terhadap Jarak Tanam di Tambak Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya Karawang, Jawa Barat. Dibimbing oleh MUJIZAT KAWAROE dan MEUTIA SAMIRA ISMET.
Rumput laut Gracilaria verrucosa merupakan salah satu jenis alga merah (Rhodophyta) yang tumbuh di daerah tropik dan subtropik perairan laut dangkal.
Gracilaria verrucosa dapat dibudidayakan di kawasan pertambakan dengan kondisi lingkungan yang sesuai. Budidaya rumput laut Gracilaria verrucosa
hingga saat ini masih terus dilakukan khususnya dalam menentukan bobot dan jarak tanam yang sesuai untuk digunakan. Oleh karena itu diperlukan penelitian mengenai perlakuan bobot bibit dan jarak tanam kaitannya terhadap parameter kualitas air tambak.
Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh bobot dan jarak tanam terhadap laju pertumbuhan dan kandungan agar rumput laut jenis Gracilaria verrucosa.
Gracilaria verrucosa ditanam menggunakan metode rakit apung dengan perlakuan bobot 50 gr, 100 gr dan 150 gr terhadap jarak tanam 20 cm, 30 cm dan 40 cm serta pengaruh parameter kualitas air terhadap bibit Gracilaria verrucosa
pada perairan tambak BLUPPB Karawang, Jawa Barat.
Hasil pengamatan kualitas air menunjukkan bahwa suhu antara 26-28 ˚C, salinitas 31-34 psu, pH 7,5-8, oksigen terlarut 5,5-6,5 mg/l, nitrat 0,15-0,20 mg/l, fosfat 0,15-0,25 mg/l, kedalaman 60-65 cm, kecerahan 50-55%. Pada lingkungan perairan ditemukan organisme penempel seperti lumut dari jenis Enteromorpha intestinalis, Chaetomorpha sp., Ectocarpus, kerang dari jenis Limnea glabra dan ikan bandeng.
Hasil pengamatan laju pertumbuhan menunjukkan bahwa laju
pertumbuhan rata-rata pada perlakuan bobot bibit 50 gr terhadap jarak tanam 40 cm adalah 3,45 gr/hari dengan kandungan agar sebesar 16,08%, pada perlakuan jarak tanam 30 cm adalah 3,06 gr/hari dengan kandungan agar sebesar 15,98% dan pada perlakuan jarak tanam 20 cm adalah 2,62 gr/hari dengan kandungan agar sebesar 15,80%. Pada perlakuan bobot bibit 100 gr terhadap jarak tanam 40 cm adalah 4,25 gr/hari dengan kandungan agar sebesar 15,56%, pada perlakuan jarak tanam 30 cm adalah 4,21 gr/hari dengan kandungan agar sebesar 15,45% dan pada perlakuan jarak tanam 20 cm adalah 4,09 gr/hari dengan kandungan agar sebesar 15,38%. Pada perlakuan bobot bibit 150 gr terhadap jarak tanam 40 cm adalah 4,52 gr/hari dengan kandungan agar sebesar 15,49%, pada perlakuan jarak tanam 30 cm adalah 4,44 gr/hari dengan kandungan agar sebesar 15,23% dan pada perlakuan jarak tanam 20 cm adalah 4,21 gr/hari dengan kandungan agar sebesar 15,16%. Analisis faktorial menghasilkan kategori bibit menjadi tiga tipe yaitu sangat baik (jarak tanam 40 cm dengan bobot 150 gr, 100 gr dan 50 gr), baik (jarak tanam 30 cm dengan bobot 150 gr, 100 gr dan 50 gr) dan tidak baik (jarak tanam 20 cm dengan bobot 150 gr, 100 gr dan 50 gr).
© Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor, tahun 2012
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber
a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB
2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian/seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB
LAJU PERTUMBUHAN DAN KANDUNGAN AGAR Gracilaria
verrucosa DENGAN PERLAKUAN BOBOT BIBIT TERHADAP
JARAK TANAM DI TAMBAK BALAI LAYANAN USAHA
PRODUKSI PERIKANAN BUDIDAYA KARAWANG, JAWA
BARAT
LA ODE ALIFATRI
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ilmu Kelautan pada
Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan
DEPARTEMEN ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012
Judul : LAJU PERTUMBUHAN DAN KANDUNGAN AGAR
Gracilaria verrucosa DENGAN PERLAKUAN BOBOT BIBIT TERHADAP JARAK TANAM DI TAMBAK BALAI LAYANAN USAHA PRODUKSI PERIKANAN BUDIDAYA KARAWANG, JAWA BARAT
Nama : La Ode Alifatri
NRP : C54070001
Departemen : Ilmu dan Teknologi Kelautan
Menyetujui, Dosen Pembimbing
Dr. Ir. Mujizat Kawaroe, M.Si Meutia Samira Ismet, S.Si, M.Si NIP. 19651213 199403 2 002 NIP. 19800325 200701 2 002
Mengetahui,
Prof. Dr. Ir. Setyo Budi Susilo, M.Sc NIP. 19580909 198303 1 003
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, hidayah dan kasih sayang-Nya yang diberikan, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Laju Pertumbuhan dan Kandungan Agar Gracilaria verrucosa dengan Perlakuan Bobot Bibit terhadap Jarak Tanam di Tambak
Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya Karawang, Jawa
Barat”.
Penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada :
1. Dr. Ir Mujizat Kawaroe, M.Si. dan Meutia Samira Ismet, S.Si, M.Si. selaku pembimbing yang telah berkenan meluangkan waktu, tenaga, pikiran dan bimbingannya selama penyusunan skripsi.
2. Bapak Rosyid, Bapak Hadi, Bapak Iyan dan seluruh staff BLUPPB yang telah membantu dalam pelaksanaan penelitian di lapangan.
3. Rekan-rekan ITK 44 yang telah banyak membantu dan memberikan saran dalam penyusunan skripsi.
4. Keluarga tercinta, kedua orang tua, kakak dan adik atas segala dukungan, doa dan kasih sayangnya.
Penulis berharap, skripsi ini dapat memberikan kontribusi informasi dan wawasan yang berguna bagi penulis dan pihak yang membacanya.
Bogor, Juni 2012
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
1. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Tujuan ... 3
1.3. Manfaat ... 3
2. TINJAUAN PUSTAKA ... 4
2.1. Morfologi dan Klasifikasi Rumput Laut ... 4
2.2. Ekologi Gracilaria verrucosa ... 5
2.2.1. Suhu ... 5
2.2.2. Salinitas ... 6
2.2.3. Derajat keasaman (pH) ... 6
2.2.4. Oksigen terlarut (DO) ... 7
2.2.5. Kecerahan ... 8
2.2.6. Intensitas cahaya ... 9
2.2.7. Kedalaman ... 9
2.2.8. Faktor biologi ... 10
2.3. Perkembangbiakan Rumput Laut ... 10
2.4. Pertumbuhan Rumput Laut ... 11
2.5. Habitat dan Penyebaran Rumput Laut di Indonesia ... 12
2.6. Penyakit Rumput Laut ... 14
2.7. Agar dan Kandungan Agar ... 16
2.8. Budidaya Rumput Laut ... 17
2.8.1. Pengadaan, pemilihan dan pemeliharaan bibit ... 17
2.8.2. Teknik penanaman ... 19
3. METODE PENELITIAN ... 21
3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian ... 21
3.2. Bahan dan Alat ... 22
3.3. Metode Penelitian ... 23 3.3.1. Penanaman ... 23 3.3.2. Pengamatan ... 25 3.4. Analisa Data ... 25 3.4.1. Laju pertumbuhan ... 25 3.4.2. Kandungan agar ... 26 3.4.3. Analisis statistika ... 26
4. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 28
4.1. Kondisi Kualitas Air ... 28
4.1.1. Suhu ... 28
4.1.2. Salinitas ... 29
4.1.3. Derajat keasaman (pH) ... 30
4.1.4. Oksigen terlarut (DO) ... 31
4.1.5. Nitrat ... 32
4.1.6. Fosfat ... 32
4.1.7. Kedalaman dan kecerahan ... 33
4.1.8. Substrat dasar ... 34
4.1.9. Organisme penempel ... 34
4.2. Pertumbuhan Rumput Laut ... 35
4.2.1. Perlakuan bobot bibit 50 gr, 100 gr dan 150 gr terhadap jarak tanam 20 cm, 30 cm dan 40 cm ... 35
4.3. Laju Pertumbuhan Harian Rumput Laut ... 38
4.3.1. Perlakuan bobot bibit terhadap jarak tanam ... 38
4.4. Kandungan Agar Rumput Laut ... 46
4.5. Pengaruh dan Penentuan Perlakuan yang Baik Untuk Rumput Laut Gracilaria verrucosa ... 48
4.6. Pengaruh Perbedaan Bobot dan Jarak Tanam Terhadap Lama Hidup Gracilaria verrucosa ... 49
5. KESIMPULAN DAN SARAN ... 51
5.1. Kesimpulan ... 51
5.2. Saran ... 51
DAFTAR PUSTAKA ... 52
1. Produksi perikanan budidaya rumput laut di Indonesia tahun 2007-2009 ... 2 2. Jenis-jenis rumput laut di Indonesia ... 13 3. Parameter kualitas air yang diukur ... 23 4. Rata-rata parameter kualitas air di lokasi penelitian perairan tambak
BLUPPB ... 28 5. Laju pertumbuhan (gr/hari) Gracilaria verrucosa pada perlakuan
bobot dan jarak tanam ... 39 6. Pertumbuhan bobot basah rata-rata (gr) rumput laut Gracilaria
DAFTAR GAMBAR
No. Halaman
1. Gracilaria verrucosa ... 4
2. Daur hidup rumput laut (Mubarak, 1990) ... 11
3. Metode penanaman Gracilaria sp. di tambak ... 20
4. Peta lokasi penelitian ... 21
5. Rancangan penelitian ... 24
6. Desain rakit apung perlakuan bobot bibit (50 gr, 100 gr dan 150 gr) terhadap jarak tanam (20 cm, 30 cm dan 40 cm) tampak atas ... 24
7. Suhu perairan pada lokasi penelitian ... 28
8. Salinitas perairan pada lokasi penelitian ... 29
9. pH perairan pada lokasi penelitian ... 30
10. Oksigen terlarut pada lokasi penelitian ... 31
11. Pertumbuhan rata-rata bobot basah (gr) Gracilaria verrucosa dengan perlakuan bobot 50 gr terhadap jarak tanam yang berbeda ... 36
12. Pertumbuhan rata-rata bobot basah (gr) Gracilaria verrucosa dengan perlakuan bobot 100 gr terhadap jarak tanam yang berbeda ... 37
13. Pertumbuhan rata-rata bobot basah (gr) Gracilaria verrucosa dengan perlakuan bobot 150 gr terhadap jarak tanam yang berbeda ... 38
14. Laju pertumbuhan (gr/hari) rumput laut Gracilaria verrucosa perlakuan bobot 50 gr terhadap jarak tanam yang berbeda ... 41
15. Laju pertumbuhan (gr/hari) rumput laut Gracilaria verrucosa perlakuan bobot 100 gr terhadap jarak tanam yang berbeda ... 43
16. Laju pertumbuhan (gr/hari) rumput laut Gracilaria verrucosa perlakuan bobot 150 gr terhadap jarak tanam yang berbeda ... 44
17. Kandungan agar Gracilaria verrucosa pada perlakuan bobot bibit terhadap jarak tanam ... 46
1. Sketsa lokasi tambak penelitian ... 58
2. Data bobot basah (gr) pada masing-masing perlakuan ... 59
3. Laju pertumbuhan (gr/hari) pada perlakuan bobot bibit dan jarak tanam ... 60
4. Proses ekstraksi agar ... 62
5. Data kandungan agar ... 63
6. Pengaruh perbedaan bobot bibit dan jarak tanam terhadap lama hidup ... 64
7. Data kualitas air di lokasi penelitian ... 68
8. Statistika deskriptif dari parameter lingkungan ... 69
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Rumput laut Gracilaria verrucosa merupakan salah satu jenis alga merah (Rhodophyta) yang tumbuh di daerah tropik dan subtropik perairan laut dangkal.
Gracilaria verrucosa dapat dibudidayakan di kawasan pertambakan dengan kondisi lingkungan yang sesuai. Gracilaria verrucosa merupakan jenis rumput laut yang berpotensi dikembangkan untuk ekspor karena mengandug agar-agar yang sangat tinggi dan bermanfaat untuk berbagai keperluan.
Budidaya Gracilaria verrucosa di tambak Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya mempunyai arti penting bagi masyarakat/petani dalam meningkatkan hasil produksinya dengan peranannya sebagai produksi tambahan dari kegiatan pembudidayaan hasil-hasil perikanan lainnya seperti udang, sidat, lele, kerapu, kerang dan bandeng. Hal ini dikarenakan proses pembudidayaan rumput laut dapat dilakukan hanya dengan menggunakan peralatan sederhana dan tenaga yang relatif lebih kecil.
Proses pembudidayaan rumput laut di tambak lebih banyak keuntungannya bila dibandingkan dengan budidaya di laut (Zatnika, 2009). Pengembangan budidaya rumput laut Gracilaria verrucosa yang dilakukan di tambak BLUPPB Karawang Jawa Barat merupakan salah satu pemanfaatan tambak sebagai upaya untuk memenuhi permintaan rumput laut yang semakin meningkat.
Pada umumnya kondisi perairan tambak rumput laut di BLUPPB
merupakan perairan yang cukup potensial sebagai tempat untuk budidaya rumput laut. Hal ini dikarenakan beberapa faktor antara lain kemudahan memperoleh bibit alam, kehidupan masyarakat sebagian tergantung dari rumput laut dan
adanya jalur pemasaran antara petani dengan pengumpul rumput laut. Namun demikian sistem budidaya Gracilariaverrucosa yang dilaksanakan oleh petani/nelayan BLUPPB dengan sistem rakit apung belum dapat mencapai produksi yang diharapkan, sehingga belum dapat mencukupi tingginya permintaan pasar, terutama permintaan Gracilaria kering sebagai bahan baku utama penghasil agar. Tabel 1 ini menunjukkan besaran produksi budidaya rumput laut di kondisi alami dan tambak.
Tabel 1 Produksi perikanan budidaya rumput laut di Indonesia tahun 2007-2009
Komoditas Utama Produksi (ton) Kenaikan pertahun
2007 2008 2009
Rumput Laut (Laut) 1,485,654 1,937,591 2,791,688 37,25 Rumput Laut (tambak) 242,821 207,47 171,868 -15,86 Sumber : Direktorat jenderal perikanan budidaya
Kendala utama dalam pencapaian jumlah produksi adalah adanya penentuan bobot bibit dan jarak tanam yang sangat bervariasi. Oleh karena itu diperlukan suatu penelitian terkait dengan faktor-faktor kualitas rumput laut. Faktor-faktor tersebut berupa faktor eksternal (faktor lingkungan) dan faktor internal (perlakuan bobot bibit dan jarak tanam) dari rumput laut Gracilaria verrucosa terutama di Perairan tambak BLUPPB Karawang, Jawa Barat. Hasil yang diharapkan dari penelitian tersebut adalah dapat menentukan perlakuan yang baik untuk bibit dan faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan rumput laut Gracilaria verrucosa.
1.2 Tujuan
Tujuan dari penelitian ini untuk :
1. Mengkaji pengaruh bobot dan jarak tanam terhadap laju pertumbuhan bobot rumput laut jenis Gracilaria verrucosa.
2. Mengkaji pengaruh bobot dan jarak tanam terhadap kandungan agar rumput laut jenis Gracilaria verrucosa.
1.3 Manfaat
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dalam menentukan bibit yang tepat sehingga dapat memperbaiki kualitas produksi basah yang maksimal dalam upaya peningkatan pendapatan masyarakat petani budidaya rumput laut di tambak BLUPPB Karawang, Jawa Barat.
2. TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Morfologi dan Klasifikasi Rumput Laut
Rumput laut memiliki morfologi yang tidak memperlihatkan adanya perbedaan antara akar, batang dan daun. Secara kesuluruhan, tanaman ini mempunyai struktur tubuh yang mirip, walaupun sebenarnya berbeda, yang disebut sebagai thallus. Ciri morfologi Gracilaria sp. adalah thallus yang menyerupai silinder, licin, berwarna coklat atau kuning hijau, percabangan tidak beraturan memusat di bagian pangkal dan bercabang lateral memanjang
menyerupai rambut dengan ukuran panjang berkisar 15-30 cm (Ditjen perikanan, 2004). Berikut Gambar 1 Gracilaria verrucosa :
Gambar 1. Gracilaria verrucosa
Sinulingga (2006) mengklasifikasikan Gracilaria verrucosa dalam taksonomi sebagai berikut :
Divisi : Rhodophyta
Class : Rhodophyceae Ordo : Gigartinales
Familia : Gracilariaceae Genus : Gracilaria
Spesies : Gracilaria verrucosa
2.2 Ekologi Gracilaria verrucosa
Rumput laut (Gracilaria verrucosa) umumnya terdapat di daerah dengan kondisi tertentu. Kebanyakan tumbuh di daerah pasang surut (intertidal) atau pada daerah yang selalu terendam air (subtidal) melekat pada substrat di dasar perairan yang berupa karang batu mati, karang batu hidup, batu gamping atau cangkang molusca. Umumnya genus Gracilaria sp. tumbuh dengan baik di daerah pantai terumbu (reef). Hal ini dikarenakan pada tempat tersebut beberapa persyaratan untuk pertumbuhan rumput laut dapat terpenuhi, diantaranya adalah faktor kedalaman perairan, cahaya, substrat dan pergerakan air. Habitat khas rumput laut adalah daerah yang memperoleh aliran air laut tetap. Gracilaria sp.
lebih menyukai variasi suhu harian yang kecil dan substrat batu karang yang mati. Rumput laut ini tumbuh mengelompok dengan berbagai jenis rumput laut lainnya.
Berbagai faktor lingkungan seperti cahaya, suhu, salinitas, pH, gerakan air (arus), zat hara dan faktor biologis, berpengaruh penting pada laju pertumbuhan dan kelangsungan hidup rumput laut. Uraian di bawah ini menjelaskan betapa pentingnya faktor lingkungan bagi rumput laut yang erat hubungannya dengan laju pertumbuhan rumput laut Gracilaria verrucosa.
2.2.1 Suhu
Suhu perairan merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam mempelajari gejala-gejala fisika air laut pada perairan yang dapat mempengaruhi kehidupan hewan dan tumbuhan pada suatu perairan. Kemampuan adaptasi rumput laut Gracilaria sp. terhadap suhu bervariasi, tergantung dimana rumput laut tersebut hidup sehingga dimungkinkan akan tumbuh subur pada daerah yang
sesuai dengan suhu pertumbuhannya. Suhu yang optimal untuk pertumbuhan rumput laut Gracilaria verrucosa adalah berkisar antara 20-28°C (Zatnika, 2009).
2.2.2 Salinitas
Salinitas merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan rumput laut. Kondisi salinitas yang baik untuk pertumbuhan rumput laut yaitu berkisar antara 15-34 ppt (Zatnika, 2009). Dahuri (2002) menjelaskan bahwa secara umum salinitas permukaan perairan Indonesia rata-rata berkisar antara 32– 34 ppt. Selanjutnya ditambahkan oleh Sutika (1989) bahwa salinitas air laut pada umumnya berkisar antara 33 ppt sampai 37 ppt dan dapat berubah berdasarkan waktu dan ruang. Nilai salinitas sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain suplai air tawar ke air laut, curah hujan, musim, topografi, pasang surut dan evaporasi (Nybakken, 2000). Selain itu Nontji (1993) juga menyatakan bahwa sebaran salinitas dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan, curah hujan dan aliran sungai.
2.2.3 Derajat Keasaman (pH)
Pemilihan lokasi untuk budidaya Gracillaria verrucosa, harus
memperhatikan faktor biologis, fisika dan kimiawi. Salah satu faktor kimiawi tersebut adalah pH. Pertumbuhan rumput laut memerlukan pH air laut optimal yang berkisar antara 6-9 (Zatnika, 2009). Chapman (1962 in Supit 1989) menyatakan bahwa hampir seluruh rumput laut menyukai kisaran pH 6,8-9,6 sehingga variasi pH yang tidak terlalu besar tidak akan menjadi masalah bagi pertumbuhan rumput laut.
2.2.4 Oksigen Terlarut (DO)
Oksigen terlarut (DO) merupakan salah satu faktor yang sangat penting bagi organisme air. DO biasanya dijumpai dalam konsentrasi tinggi pada lapisan permukaan karena adanya proses difusi oksigen dari udara ke dalam air.
Organisme fotosintetik seperti fitoplankton juga membantu menambah jumlah kadar oksigen terlarut pada lapisan permukaan diwaktu siang hari. Penambahan ini disebabkan oleh terlepasnya gas oksigen sebagai hasil dari fotosintesis. Kelarutan oksigen di perairan sangat penting dalam mempengaruhi
kesetimbangan kimia air laut dan juga dalam kehidupan organisme. Selain itu oksigen dibutuhkan oleh hewan dan tanaman air termasuk mikroorganisme untuk proses respirasinya.
Effendi (2003) menjelaskan bahwa hubungan antara kadar oksigen terlarut jenuh dengan suhu berbanding terbalik, semakin tinggi suhu maka kelarutan oksigen dan gas-gas lain juga berkurang dengan meningkatnya salinitas. Sehingga kadar oksigen terlarut di laut cenderung lebih rendah dari pada kadar oksigen di perairan tawar. Selanjutnya dikatakan bahwa peningkatan suhu sebesar 1˚C akan meningkatkan konsumsi oksigen sekitar 10%.
Sutika (1989) juga mengatakan bahwa pada dasarnya proses penurunan oksigen dalam air disebabkan oleh proses kimia, fisika dan biologi. Proses-proses tersebut antara lain proses respirasi baik oleh hewan maupun tanaman serta proses penguraian (dekomposisi) bahan organik dan proses penguapan. Kelarutan oksigen ke dalam air terutama dipengaruhi oleh faktor suhu, oleh karena itu kelarutan gas oksigen pada suhu rendah relative lebih tinggi jika dibandingkan pada suhu tinggi. Hal ini didukung oleh Fardiaz (1992) yang menyatakan bahwa
kejenuhan oksigen dalam air dipengaruhi oleh suhu air, dimana semakin tinggi suhu maka konsentrasi oksigen terlarut semakin turun. Konsentrasi dan distribusi oksigen di laut ditentukan oleh kelarutan gas oksigen dalam air dan proses
biologis yang mengontrol tingkat konsumsi dan pembebasan oksigen. Sulistijo dan Atmadja (1996) menyatakan bahan baku mutu DO untuk rumput laut adalah lebih dari 5 mg/l. Hal ini berarti jika oksigen terlarut dalam perairan mencapai 5 mg/l maka metabolisme rumput laut dapat berjalan dengan optimal. Buesa (1977 in Iksan 2005) menyatakan perubahan oksigen harian dapat terjadi di perairan dan bisa berakibat nyata terhadap pertumbuhan rumput laut. Namun kadar oksigen biasanya selalu cukup untuk proses metabolisme rumput laut (Chapman 1962 in Iksan 2005).
2.2.5 Kecerahan
Cahaya matahari adalah merupakan sumber energi dalam proses fotosintesis. Pada proses fotosintesis terjadi pembentukan bahan organik yang diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembangan. Widodo dan Suadi (2006) menyatakan bahwa cahaya menyediakan energi bagi terlaksananya fotosintesis, sehingga kemampuan penetrasi cahaya pada kedalaman tertentu sangat
menentukan distribusi vertikal organisme perairan. Hal yang berhubungan erat dengan penetrasi cahaya adalah kecerahan perairan.
Kecerahan perairan yang ideal lebih dari 1 m. Air yang keruh (biasanya mengandung lumpur) dapat menghalangi tembusnya cahaya matahari di dalam air sehingga proses fotosintesis menjadi terganggu. Hal ini akan berdampak buruk terhadap pertumbuhan dan perkembangan rumput laut (Ditjen perikanan, 1997).
2.2.6 Intensitas Cahaya
Radiasi matahari menentukan intensitas cahaya pada suatu kedalaman tertentu dan juga sangat mempengaruhi suhu perairan. Cahaya sinar matahari yang menembus permukaan air berperan penting dalam produktivitas perairan. Cahaya mempunyai pengaruh besar terhadap biota laut yaitu sebagai sumber energi untuk proses fotosintesis tumbuh-tumbuhan (Romimohtarto dan Juwana, 2001).
Hutabarat dan Evans (2001) mengatakan bahwa penyinaran cahaya matahari akan berkurang secara cepat sesuai dengan makin tingginya kedalaman perairan. Adanya bahan-bahan yang melayang dan tingginya nilai kekeruhan di perairan dekat pantai akan menyebabkan berkurangnya penetrasi cahaya di tempat tersebut. Intensitas cahaya yang diterima sempurna oleh thallus merupakan faktor utama dalam proses fotosintesis yang menentukan tingkat pertumbuhan rumput laut. Penetrasi cahaya lebih optimal bila menggunakan metode terapung dalam pembudidayaan rumput laut.
2.2.7 Kedalaman
Direktorat jenderal perikanan 1997 mengatakan bahwa kedalaman perairan yang baik untuk budidaya rumput laut Gracilaria verrucosa adalah 0,5-1,0 m pada waktu surut terendah di lokasi yang beraruskencang. Sementara kedalaman perairan yang baik untuk budidaya dengan metode lepas dasar antara 2-15 m dan metode rakit apung antara 5-20 m. Kondisi ini untuk menghindari rumput laut mengalami kekeringan dan mengoptimalkan perolehan sinar matahari (Ditjen perikanan,1997).
2.2.8 Faktor Biologi
Faktor biologi yang mempengaruhi pertumbuhan rumput laut adalah organisme penempel dan hewan herbivora. Hasil penelitian Sulistijo (1985) menyatakan bahwa tanaman penempel yang terdapat pada rak percobaan baik yang terapung ataupun yang didasar pada umumnya hampir sama dan juga ditemukan menempel pada tanaman yang dibudidayakan. Tanaman penempel tersebut antara lain : Acanthopora sp.; Hypnea sp.; Amphiroa sp.; Padina sp.;
Valonia sp.; Laurencia sp.; Gelidiopsis sp.; Caulerpa sp.; Sargassum sp.;
Polysiphonia sp. dan Chaetomorpha sp.
Kehadiran tanaman ini sudah terjadi sejak semula karena terbawa oleh bibit dari alam berupa spora dan terbawa arus. Sedangkan hewan herbivora adalah ikan yang memanfaatkan alga yang dikultur sebagai makanannya seperti famili Pomancetridae, Platacidae, dan Aluteridae. Contoh ikan-ikan herbivora tersebut adalah ikan Bandeng (Chanoschanos), ikan Beronang (Siganus sp.), bulu babi (Diadema setosum) dan penyu (Chelonia mydas) (Soegiarto et al 1977).
2.3 Perkembangbiakan Rumput Laut
Perkembangbiakan rumput laut pada dasarnya terbagi 2 yaitu secara seksual dan aseksual. Pada perkembangbiakan secara seksual, gametofit jantan yang telah dewasa menghasilkan sel-sel spermatangial yang nantinya menjadi spermatangia. Sedangkan gametofit betina menghasilkan sel khusus yang disebut karpogonia yang dihasilkan dari cabang-cabang karpogonial. Perkembangbiakan secara aseksual terdiri dari penyebaran tetraspora, vegetatif dan konjugatif.
germinasi (berkecambah) tumbuh menjadi tanaman beralat kelamin, yaitu
gametofit jantan dan gametofit betina.
Perkembangan secara vegetatif adalah dengan cara stek. Potongan seluruh bagian dari thallus akan membentuk percabangan baru dan tumbuh berkembang menjadi tanaman dewasa (Poncomulyo, 2006). Berikut gambar 2 daur hidup rumput laut Gracilaria verrucosa
Gambar 2. Daur hidup rumput laut (Mubarak, 1990)
(Sumber : http://lib.uin-malang.ac.id/thesis/fullchapter/03520013-abdul-hamid.ps)
2.4 Pertumbuhan Rumput Laut
Pertumbuhan adalah perubahan ukuran suatu organisme yang dapat berupa berat atau panjang dalam waktu tertentu. Pertumbuhan rumput laut sangat
dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang berpengaruh antara lain jenis, galur, thallus (bibit) dan umur. Sedangkan faktor eksternal yang berpengaruh antara lain lingkungan atau oseanografi, bobot bibit, jarak tanam dan teknik penanaman (Kamlasi, 2008).
Pertumbuhan rumput laut menunjukkan adanya pertumbuhan besar, panjang serta cabang. Hal ini dikarenakan adanya pertumbuhan dari sel-sel yang
menyusun rumput laut tersebut. Perbanyakan sel-sel dapat terjadi karena
pembelahan pada sel-sel yang menyusun rumput laut. Proses pembelahan sel ini dimulai dengan pembelahan intinya yang selanjutnya terjadi pembelahan plasma atau pembelahan sel. Dalam pembelahan sel ada tiga cara yaitu amitosis, mitosis
dan miosis.
Budidaya rumput laut yang dilakukan oleh para petani atau nelayan kebanyakan menggunakan dengan cara stek, karena pemilihan metode ini bersifat mudah dan lebih murah dari pada cara seksual. Thallus atau cabang yang diambil untuk metode ini adalah cabang yang masih muda (Sutrian, 2004). Laju
pertumbuhan rumput laut yang dianggap cukup menguntungkan adalah 3% pertambahan berat per hari.
2.5 Habitat dan Penyebaran Rumput Laut di Indonesia
Gracilaria sp hidup di alam dengan cara menempel pada substrat dasar perairan atau benda lainnya di daerah pasang surut. Bahkan di daerah Sulawesi pada musim-musim tertentu rumput laut jenis Gracilaria sp. banyak terdampar di pantai karena hempasan gelombang dalam jumlah yang sangat besar dan berakibat over produksi. Anggadiredja (2007) mengatakan Gracilaria sp. tersebar luas di sepanjang pantai daerah tropis danumumnya tumbuh di perairan yang
mempunyai rataan terumbu karang, melekat pada substrat karang mati atau kulit kerang dan batu gamping di daerah intertidal dan subtidal.
Rumput laut yang umumnya dibudidayakan di tambak di Indonesia adalah jenis Gracilariaverrucosa dan Gracilaria gigas. Jenis ini berkembang di
perairan Sulawesi Selatan (Jeneponto, Takalar, Sinjai, Bulukumba, Wajo, Paloppo, Bone, Maros), Pantai utara P. Jawa (Serang, Tangerang, Bekasi,
Karawang, Brebes, Pemalang, Tuban dan Lamongan) dan Lombok Barat. Rumput laut Gracilaria sp.umumnya dipanen dari hasil budidaya dan juga dari alam. Namun hasil dari alam memiliki kualitas budidaya kurang baik karena tercampur dengan jenis lain (Anonymous, 2005).
Pengetahuan tentang penyebaran tiap-tiap spesies di wilayah Indonesia akan membantu dalam menentukan spesies yang akan ditanam dan yang akan diteliti pada daerah tersebut. Perairan pantai yang potensial di Indonesia menyebabkan hampir seluruh perairan pantai di tiap propinsi dapat ditumbuhi rumput laut. Beberapa jenis rumput laut di Indonesia yang dimanfaatkan untuk ekspor yaitu dari marga Eucheuma sp.; Glacilaria sp.; Gelidium sp.dan Hypnea
sp. Berikut ini dalah jenis-jenis rumput laut di Indonesia (Tabel 2). Tabel 2 Jenis-jenis rumput laut di Indonesia
Daerah Jenis Rumput Laut
Sumatra Utara Eucheuma spinosum, Eucheuma edule.
Sumatra Barat Gracilaria intricate, Gracilaria coronopifolia, Gracilaria
salikornia, Gracilaria arcuata, Gelidium sp. Riau
Eucheuma spinosum, Eucheuma edule, Gracilaria confervoides, Gracilaria cuchemioides, Gracilaria cylindrical, Gelidium amansii, Hypnea cervicornis, Hypnea musciformis, Hypnea spp. Bali Gracilaria spp, Gelidium spp, Eucheuma spp.
Nusa Tenggara Barat
Gelidium spp, Gracilaria spp, Hypnea spp, Eucheuma spinosum, Eucheuma cottonii.
Nusa Tenggara Timur
Eucheuma spinosum, Eucheuma muricatum, Eucheuma edule, Eucheuma serra, Gracilaria rigida, Gracilaria confervoides, Gracilaria lichenoides, Gracilaria eucheumiodes, Gracilaria verrucosa, Gelidium rigida, Gelidium letifolium, Hypnea choroides, Hypnea cornata, Hypnea musciformis.
Maluku
Eucheuma spinosum, Eucheuma edule, Eucheuma cottonii, Gracilaria blodgetti, Gracilaria eucheumiodes, Gracilaria aruata, Hypnea cornata, Hypnea musciformis, Hypnea
nidulans. Jawa
Eucheuma cottonii, Eucheuma spinosum, Gracilaria verrucosa, Gracilaria confervoides, Gracilaria lichenoides, Hypnea cervicornis, Hypnea musciformis, Sargassum aquifolium, Sargassum polycstum, Turbinaria ornata, Turbinaria conoides.
2.6 Penyakit Rumput Laut
Penyakit yang terjadi pada rumput laut pertama kali diketahui pada tahun 1974 di Filipina dengan gejala yang dilaporkan adanya bercak pada thallus yang terinfeksi dan selanjutnya berubah warna dan mati kemudian hancur. Penyakit yang banyak menyerang tanaman rumput laut Gracilaria sp. adalah Ice-ice. Penyakit ini ditandai dengan timbulnya bintik/bercak-bercak pada sebagian
thallus yang lama-kelamaan menjadi pucat dan berangsur-angsur menjadi putih dan akhirnya thallus tersebut putus. Penyakit ini timbul karena adanya mikroba yang menyerang tanaman rumput laut yang lemah. Gejala yang diperlihatkan adalah pertumbuhan yang lambat, terjadinya perubahan warna menjadi pucat dan
thallus pada beberapa cabang menjadi putih dan membusuk (Direktorat Jenderal Perikanan, 2004).
Trono (1974) menjelaskan adanya perubahan lingkungan (seperti arus, suhu dan kecerahan) di lokasi budidaya dapat memicu terjadinya penyakit ice-ice. Tingkat penyerangannya terjadi dalam waktu yang cukup lama. Selain itu
korelasi positif terjadinya penyakit ice-ice dikarenakan keadaan lingkungan yang kurang mendukung, diantaranya air yang tenang atau pergerakan arusnya lemah. Bercak putih (ice-ice) pada rumput laut merupakan penyakit yang timbul pada musim laut tenang dan arus lemah diikuti dengan musim panas yang dapat merusak areal tanaman sampai mencapai 60-80% dan lamanya 1-2 bulan (Sulistijo 2002).
Direktorat Jenderal Perikanan (2004) menjelaskan terjadinya penyakit ice-ice dipengaruhi oleh berkembangnya jenis rumput laut lain yang menempel atau
berkembangnya rumput laut jenis lain akan mengakibatkan penurunan unsur hara yang diperlukan oleh pertumbuhan. Sampai saat ini belum ada metode yang dapat diterapkan untuk mengendalikan penyakit ice-ice tetapi untuk mengurangi
kerugian. Untuk mengatasi hal tersebut maka tanaman harus dipanen sesegera mungkin jika telah terjangkit. Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan memonitor adanya perubahan-perubahan lingkungan. Selain itu dapat dilakukan penurunan posisi tanaman lebih dalam untuk mengurangi penetrasi cahaya sinar matahari.
Penelitian terhadap bakteri yang menyebabkan penyakit pada rumput laut ini pernah dilakukan oleh Laboratorium mikrobiologi P2O-LIPI dan hasilnya diduga ada 8 jenis bakteri tersebut yang menimbulkan penyakit ice-ice, ke-8 jenis bakteri tersebut adalah Pseudomonas gelatica, Pseudomonas icthyodermis,
Bacillus megaterium, Pseudomodas nigricaciens, Pseudomonas fluorescens,
Vibrio granii, Bacillus cereus dan Vibrio agarliquefaciens, namun tingkat patogenitas bakteri tersebut belum diketahui. Kemudian dilanjutkan dengan penelitian uji patogenitas dari 8 jenis bakteri tersebut yang hasilnya menunjukkan hanya 5 bakteri yang dapat menimbulkan penyakit ice ice. Lima bakteri tersebut adalah Pseudomodas nigricaciens, Pseudomonas fluorescens, Vibrio granii, Bacillus cereus dan Vibrio agarliquefaciens. Sementara bakteri Pseudomonas gelatica, Pseudomonas icthyodermis dan Bacillus megaterium tidak menyebabkan gejala penyakit ice ice. Hasil uji patogenitas terhadap kelima bakteri tersebut dilanjutkan dan ditemukan yang memiliki daya patogenitas tertinggi adalah Vibrio agarliquefaciens (Nasution 2005). Cara membasmi penyakit ice-ice sampai saat ini belum diketahui, namun upaya yang dilakukan untuk menghindari penyakit
tersebut adalah dengan menghentikan proses pembudidayaan rumput laut saat penyakit mulai ada.
2.7 Agar dan Kandungan Agar
Agar merupakan senyawa poligalaktosa yang diperoleh dari pengolahan rumput laut jenis agarophyte. Agar-agar disebut sebagai gelosa atau gelosa bersulfat, dengan rumus molekul ( ) atau ( )n . Selain mengandung polisakarida sebagai senyawa utama, agar-agar juga mengandung kalsium dan mineral lainnya. Kandungan kalsium ini cukup tinggi dibandingkan dengan mineral-mineral lain (Angka dan Suhartono, 2000).
Menurut Glicksman (1983) agar-agar merupakan kompleks polisakarida linier yang mempunyai berat molekul 120 000 dan tersusun dari beberapa jenis polisakarida seperti 3,6-anhidro-L-galaktosa, D-galaktopiranosa dan sejumlah kecil metil D-galaktosa. Kandungan agar Gracilaria beragam menurut jenis dan lokasi penanamannya. Umumnya kandungan agar Gracilaria sp. berkisar antara 16-45%. Kandungan agar Gracilaria sp. di Indonesia mencapai 47,34% (Kadi dan Atmadja, 1988 in Ritawati, 1990). Khususnya G. Lichenoides mengandung agar 28,0-36,6% (Nelson, S.G., S.S. Yang, C.Y. Wang dan Y.M.Ciang, 1983 in
Ritawati, 1990).
Ren (1985) in Ritawati (1990) menyatakan bahwa sebagian besar agar digunakan dalam industri makanan terutama sebagai stabilisator dan pengental. Dalam bidang farmasi agar yang tekandung dalam rumput laut dapat digunakan sebagai obat, pelarut air dan cetakan gigi. Selain itu pemakaian agar juga dapat digunakan untuk keperluan laboratorium seperti elektroforesa, immunologi, kromatografi, sistem immobilisasi dan media kultur bagi mikro-organisme.
Pengolahan agar-agar dari Gracilaria verrucosa masih jarang dilakukan, padahal sangat mudah dilakukan secara sederhana yaitu secara skala rumah tangga dan skala industri. Proses ekstraksi agar dapat dilakukan melaui tahapan yaitu pencucian dan pembersihan, disortasi, pemucatan, pemasakan (ekstraksi), penghancuran, pemucatan, penyaringan, pendinginan, pencetakan, pengepresan, pengeringan, pemanasan dan perhitungan rendemen agar (Ayuningtyas, 2011).
2.8 Budidaya Rumput Laut
2.8.1 Pengadaan, Pemilihan dan Pemeliharaan Bibit
Bibit rumput laut yang baik untuk dibudidayakan adalah monospesies, muda, bersih dan segar. Zatnika (2009) menyatakan bibit yang baik dicirikan dengan thallus yang baik (muda, keras dan segar), warna agak gelap (coklat-kecoklatan), usia minimal 2 minggu. Selanjutnya pengumpulan, pengangkutan dan penyimpanan bibit harus selalu dilakukan dalam keadaan lembab serta terhindar dari panas, minyak, air tawar dan bahan kimia lain (Kolang, 1996). Kualitas dan kuantitas produksi budidaya rumput laut sangat ditentukan oleh bibit rumput lautnya, sehingga kegiatan penyediaan bibit harus direncanakan dan memperhatikan sumber perolehan.
Syahputra (2005) menjelaskan bahwa pemilihan bibit dalam budidaya rumput laut merupakan hal yang sangat penting. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :
1. Bibit yang berupa stek dipilih dari tanaman yang segar, dapat diambil dari tanaman yang tumbuh secara alami ataupun dari tanaman bekas budidaya. Selain itu, bibit harus baru dan masih muda.
3. Bibit sebaiknya dikumpulkan dari perairan pantai sekitar lokasi usaha budidaya dalam jumlah yang sesuai dengan luas area budidaya.
4. Pengangkutan bibit harus dilakukan dengan hati-hati dan cermat, dimana bibit harus tetap dalam keadaan basah ataupun terendam air.
5. Sebelum ditanam, bibit dikumpulkan pada tempat tertentu seperti dikeranjang atau jaring yang bermata kecil.
Sulistijo (2002) menyatakan bahwa rumput yang baik adalah bercabang banyak dan rimbun, tidak terdapat penyakit bercak putih dan mulus tanpa ada cacat terkelupas. Bibit rumput laut yang terpilih tidak lebih dari 24 jam penyimpanan ditempat kering dan harus terlindung dari sinar matahari juga pencemaran (terutama minyak) dan tidak boleh direndam air laut dalam wadah. Indriani dan Sumiarsih (1999) menyatakan bahwa bibit yang diperoleh dari bagian ujung tanaman (muda) umumnya memberikan pertumbuhan yang baik dan hasil panen mengandung kandungan agar yang lebih tinggi dibandingkan dengan bibit dari sisa hasil panen atau tanaman tua.
Zatnika (2009) menyatakan saat yang baik untuk penebaran maupun penanaman bibit adalah pada saat cuaca teduh (tidak mendung) dan yang paling baik adalah pagi hari atau sore hari menjelang malam. Tahap pemeliharaan dilakukan seminggu setelah penanaman, bibit yang ditanam harus diperiksa dan dipelihara dengan baik melalui pengawasan yang teratur dan kontinyu. Bila kondisi perairan kurang baik, seperti ombak yang keras, angin serta suasana perairan yang dipengaruhi musim hujan atau kemarau, maka perlu pengawasan 2-3 hari sekali, sedangkan hal lain yang penting diperhatikan adalah menghadapi serangan predator dan penyakit (Zatnika, 2009).
2.8.2 Teknik Penanaman
Sunarto (1985) in Hamid (2009) menyatakan bahwa seiring kebutuhan rumput laut yang semakin meningkat, baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan luar negeri, sekaligus memperbesar devisa Negara dari sektor
nonmigas, maka perlu teknik penanaman rumput laut yang sesuai dengan kondisi lingkungan untuk meningkatkan hasil budidaya rumput laut yang banyak dan berkualitas ekspor.
Teknik yang dipakai oleh para nelayan di perairan tambak BLUPPB adalah teknik rakit apung (floating monoline method). Teknik ini menggunakan bambu atau pelampung plastik sebagai pelampung. Bambu dibingkai seperti rakit yang terdiri dari 2 potong bambu yang panjangnya tiap potong 5 meter dan 2 potong bambu yang masing-masing panjangnya 2,5 meter. Bila menggunakan pelampung plastik, bingkai rakit semuanya terbuat dari kayu atau bambu.
Potongan bambu yang sudah disiapkan dibuat rakit persegi empat dengan mengikat keempat sudutnya. Agar rakit lebih kuat dan ikatan tidak mudah bergeser, maka tiap-tiap sudut dari rakit ini diberi pasak. Ukuran rakit dapat berkisar antara 2,5 × 5 m atau 2,5 × 5 . Bila rakit lebih panjang dari ukuran itu, maka tali nilon monofilament kurang teregang dengan baik.
Rakit dapat dibuat dari dua potongan kayu dan dua potongan bambu, atau dapat juga rakit dibuat dari 4 potong kayu dan digunakan pelampung plastik. Ukuran memilih model-model ini, kita harus memperhitungkan harga dan daya tahan bahan tersebut. Berikut gambar 3 metode penanaman Gracilaria sp. di tambak.
Gambar 3. Metode penanaman Gracilaria sp. di tambak
Agar produksi tiap satuan luas areal tinggi, maka beberapa rakit digabung untuk dijadikan satu modul. Makin banyak jumlah rakit persatuan modul,
produksi tiap satuan areal makin tinggi, akan tetapi ada satu titik atau jumlah optimal yang ditentukan oleh faktor pergerakan air atau ombak tidak dapat mencapai rakit yang berada pada posisi di tengah dari kumpulan atau modul rakit tersebut, maka tanaman yang ada pada rakit tersebut (rakit bagian tengah) tidak dapat tumbuh dengan baik, bahkan sering mengalami kerusakan.
Kamlasi (2008) menyatakan bahwa hasil percobaan memperlihatkan bahwa tanaman yang ditanam dengan menggunakan metode rakit apung memiliki angka pertumbuhan yang lebih tinggi dibanding dengan metode lepas dasar.
Keuntungan yang diperoleh dengan metode rakit apung adalah tanaman bebas dari serangan biota penganggu (bulu babi), pertumbuhan tanaman lebih baik, bisa digunakan pada dasar perairan yang keras, di mana sukar untuk menancapkan pancang, seperti pada metode lepas dasar. Sedangkan kelemahan dari metode ini adalah diperlukan lebih banyak waktu untuk pembuatan
3.
METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dari tanggal 31 Oktober 2011 sampai 18 Desember 2011 selama 42 hari masa pemeliharaan di Tambak Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya Karawang, Jawa Barat. Lokasi ini merupakan lokasi usaha budidaya rumput laut jenis Gracilaria verrucosa. Berikut pada gambar 4 ini disajikan peta lokasi penelitian :
Gambar 4. Peta lokasi penelitian
Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang terletak di Desa Pusakajaya Utara RT 04/ RW 01 Kecamatan Cilebar Kabupaten Karawang Provinsi Jawa Barat dengan luaslahan ± 450 Ha. Pada penelitian ini digunakan tambak budidaya rumput laut seluas 0,5 Ha.
Pemilihan lokasi di tambak didasarkan pada potensi sumberdayanya yang cukup besar dimana secara ekonomis dapat meningkatkan pendapatan dan memberikan nilai tambah bagi BLUPPB dan masyarakat di pesisir pantai, karena dirangsang untuk memanfaatkan lahan produktif untuk kesejahteraan keluarga melalui kegiatan budidaya rumput laut, serta kebijakan pemerintah daerah yang mendukung dalam pengembangan budidaya rumput laut secara berkelanjutan khususnya di tambak, untuk memenuhi permintaan rumput laut yang semakin meningkat. Selain itu budidaya rumput laut di tambak memiliki banyak
keuntungan dibanding budidaya di laut. Keuntungan tersebut antara lain adalah tanaman rumput laut agak terlindung dari pengaruh lingkungan seperti ombak, arus laut yang kuat, binatang predator dan mudah mengontrol kualitas airnya.
3.2 Bahan dan Alat
Bahan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah bibit rumput laut jenis Gracilaria verrucosa yang diperoleh dari hasil budidaya rumput laut di sekitar daerah penelitian. Pemilihan bibit dilakukan dengan penyortiran sehingga didapatkan bibit yang berasal dari rumput laut yang masih muda. Bibit tanaman yang digunakan masing-masing perlakuan memiliki berat awal 50, 100 dan 150 gr.
Alat-alat yang diperlukan untuk membantu pelaksanaan penelitian adalah timbangan untuk mengukur bobot basah rumput laut, meteran untuk membedakan masing-masing jarak tanam yang digunakan (20 cm, 30 cm dan 40 cm), tali ris dari bahan nilon (Polyethylene) yang disimpulkan pada tali rafia sebagai tempat untuk mengikat bibit rumput laut, bambu 6 buah dengan panjang ± 3 m sebagai
tempat untuk mengikat tali ris dan alat-alat pengukur parameter fisika kimia dan biologi seperti tercantum pada Tabel 3.
Tabel 3. Parameter kualitas air yang diukur
No Parameter Satuan Metoda/alat Spesifikasi Keterangan Fisika 1 Suhu ˚C Termometer Hg Termometer tempel Lapangan
2 Kedalaman cm Papan ukur Lapangan
3 Kecerahan cm Secci disk Lapangan
4 Substrat dasar - Visual Lapangan
Kimia 1 Salinitas ppt Refraktometer Atago-Japan (Hand-held refractometer) Lapangan 2 Oksigen terlarut mg/l DO meter Horiba (DO meter
QM-51) Lapangan
3 Nitrat mg/l Spektrofotometer Laboratorium
4 Fosfat mg/l Spektrofotometer Laboratorium
5 Derajat keasaman (pH) - pH meter Multi 340i Lapangan Biologi 1 Biota penganggu Ind/ Identifikasi jenis Visual 2 Laju pertumbuhan
bobot thallus gr/hari Timbangan (gr) Ketelitian 0.01 gr Lapangan
3.3 Metode Penelitian
3.3.1 Penanaman
Penelitian ini menggunakan metode penanaman rakit apung. Metode ini adalah cara penanaman yang dilakukan pada permukaan air dan terapung sehingga mengikuti naik turunnya permukaan air. Metode ini diambil berdasarkan dari keputusan Direktorat Jenderal Perikanan (2004) yang
menyatakan bahwa metode yang paling baik digunakan yaitu metode rakit apung, selain itu metode ini didasarkan oleh penelitian Soegiarto et al (1999) yang menyatakan bahwa metode rakit apung lebih baik dibandingkan dengan metode lepas dasar. Bibit yang digunakan dibuat sebanyak tiga perlakuan dengan
masing-masing tiga ulangan yaitu bobot bibit 50 gr terhadap jarak tanam (20 cm, 30 cm dan 40 cm), bobot bibit 100 gr terhadap jarak tanam (20 cm, 30 cm dan 40 cm) dan bobot bibit 150 gr terhadap jarak tanam (20 cm, 30 cm dan 40 cm). Berikut disajikan Gambar 5 rancangan penelitian.
Gambar 5. Rancangan penelitian
Posisi penanaman terhadap garis pantai dapat dilihat di lampiran 1,
sedangkan posisi penanaman tanaman uji untuk setiap bobot terhadap jarak tanam disajikan pada Gambar 6 (Penanaman dilakukan sejajar garis pantai dengan luas tambak 0,5 Ha).
Jarak tanam 20 cm
Jarak tanam 30 cm Jarak tanam 40 cm Keterangan :
: Bobot 150 gr : Bobot 100 gr : Bobot 50 gr : Pelampung (botol aqua) : Tali ris : Bambu Gambar 6. Desain rakit apung perlakuan bobot bibit (50 gr, 100 gr dan 150 gr)
terhadap jarak tanam (20 cm, 30 cm dan 40 cm) tampak atas
3.3.2 Pengamatan
Penimbangan bibit dilakukan setelah tanaman masing-masing berumur 7, 14, 21, 28, 35 dan 42 hari (minggu ke-1 sampai minggu ke-6) untuk dipantau
Bobot 50 gr Jarak 30 cm Jarak 20 cm Jarak 40 cm Bobot 100 gr Jarak 20 cm Jarak 30 cm Jarak 40 cm Bobot 150 gr Jarak 20 cm Jarak 30 cm Jarak 40 cm Perhitungan Laju Pertumbuhan
pertambahan laju pertumbuhannya, dengan cara menimbang bibit secara acak (3 ulangan) dan dicatat pertambahan bobot. Sebelum ditimbang, ikatan tali ris dibuka satu-persatu dan rumput laut yang akan ditimbang direndam dalam air untuk menghindari kekeringan. Pengamatan parameter kualitas air (fisika kimia dan biologi perairan) dilakukan bersamaan dengan pengukuran pertumbuhan bobot basah setiap minggu. Data kandungan agar diperoleh dari sampel rumput laut yang diambil pada hari ke-42 (masa panen) untuk dianalisa di laboratorium fisika kimia perairan BLUPPB .
3.4 Analisa Data
3.4.1 Laju Pertumbuhan
Analisis untuk menghitung laju pertumbuhan harian Gracilaria verrucosa
menggunakan rumus dari Zonneveld et al. (1991) :
... (1) Keterangan :
: Laju pertumbuhan (gr/hari)
: Bobot rumput laut pada akhir percobaan (gr) : Bobot rumput laut pada awal percobaan (gr)
t : Lama percobaan (hari)
Laju pertumbuhan ini dihitung sebagai parameter utama apakah masing-masing perlakuan berbeda dan apakah berpengaruh nyata terhadap kondisi rumput laut yang ditanam, yang berupa laju pertumbuhannya.
3.4.2 Kandungan Agar
Kandungan agar diperoleh setelah rumput laut berumur minggu ke-6 (masa panen). Data tersebut dianalisa dan ditentukan kandungan agar yang paling tinggi pada setiap perlakuan dalam waktu 42 hari (6 minggu) masa pemeliharaan. Presentase kandungan agar diukur dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Kandungan agar (%) = B
B × 100% ...
(2)
3.4.3 Analisis Statistika
Pengujian data untuk melihat perbedaan laju pertumbuhan berdasarkan bobot bibit dan jarak tanam dengan menggunakan software SAS 9.1.3. Dalam penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari dua faktor utama yaitu bobot bibit dan jarak tanam,dimana faktor pertama terdiri dari 3 taraf dan faktor kedua terdiri dari 3 taraf sebagai berikut :
1. Faktor bobot bibit (B), terdiri atas 3 taraf : B1 (50 gr), B2 (100 gr), B3 (150 gr).
2. Faktor jarak tanam (J), terdiri atas 3 taraf : J1 (20 cm), J2 (30 cm), J3 (40 cm).
Faktor pertama dan kedua yang masing-masing terdiri dari 3 taraf setelah dikombinasikan maka tampilannya sebagai berikut :
B1J1 B1J2 B1J3
B2J1 B2J2 B3J3
Hipotesis ini untuk menguji hipotesis adanya pengaruh bobot bibit dan jarak tanam terhadap pertumbuhan bobot basah rumput laut. Adapun model yang digunakan adalah :
µ+ + + + ...
(3) dimana :
= Laju pertumbuhan rumput laut ke-k yang dihasilkan dari bobot bibit ke-i dan jarak tanam ke-j
µ = Pengaruh rata-rata
= Pengaruh bobot bibit ke-i = Pengaruh jarak tanam ke-j
= Pengaruh interaksi bobot bibit ke-i dan jarak tanam ke-j = Pengaruh sisa
Nilai parameter kualitas air dibuat grafik time series plot pada Ms.Excel dan
4. HASIL
DAN
PEMBAHASAN
4.1 Kondisi Kualitas Air
Faktor lingkungan sangat mempengaruhi kehidupan rumput laut. Oleh karena itu gambaran tentang biofisik perairan penting untuk diketahui. Faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan rumput laut adalah faktor fisika, kima dan biologi. Hasil pengukuran dan pemantauan kualitas air di lokasi penelitian dicirikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Rata-rata parameter kualitas air di lokasi penelitian perairan tambak BLUPPB
No Parameter Satuan Nilai/Jenis Ideal Sumber pustaka
1 Suhu ˚C 26-28 20-28 Zatnika (2009)
2 Salinitas psu 31-34 15-34 Zatnika (2009)
3 Derajat keasamaan (pH) - 7,5-8 6-9 Zatnika (2009) 4 Oksigen terlarut mg/l 5,5-6,5 > 4 Sulistijo (1996)
5 Nitrat mg/l 0,15-0,20 0,9-3,5 Andarias (1991)
6 Fosfat mg/l 0,15-0,25 0,09-1,80 Andarias (1991)
7 Kedalaman cm 60-65 50-80 Zatnika (2009)
8 Kecerahan cm 50-55 - Zatnika (2009)
4.1.1 Suhu
Suhu mempunyai peranan yang penting bagi kehidupan dan pertumbuhan rumput laut. Berikut disajikan Gambar 7 kondisi suhu perairan
Gambar 7. Suhu perairan pada lokasi penelitian
25 26 27 28 29 0 1 2 3 4 5 6 Suhu ( ˚C ) Mingguke‐ Suhu 28
Suhu air selama penelitian relatif stabil dari minggu ke-1 sampai minggu ke-6, yaitu antara 26-28 ˚C dengan rata-rata suhu perairan sebesar 27±0,82 ˚C. Suhu tertinggi berdasarkan waktu pengamatan terjadi pada minggu ke-1 yaitu 28 ˚C. Suhu terendah terjadi pada minggu ke-3 dan ke-6 yaitu 26 ˚C. Namun
kisaran suhu selama penelitian masih cukup ideal untuk pertumbuhan rumput laut. Hal ini didukung oleh penelitian Zatnika (2009) bahwa kisaran suhu perairan yang baik untuk rumput laut Gracilaria verrucosa adalah 20-28 ˚C. Selain itu Afrianto dan Liviawaty (1993) menyatakan bahwa rumput laut tumbuh dan berkembang dengan baik pada perairan yang memiliki kisaran suhu 26-33 ˚C.
4.1.2 Salinitas
Salinitas merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan rumput laut. Berikut disajikan Gambar 8 kondisi salinitas perairan
Gambar 8. Salinitas perairan pada lokasi penelitian
Selama penelitian terlihat salinitas berkisar antara 31-34 psu, salinitas tertinggi terjadi pada minggu ke-3 ke-5 dan ke-6 yaitu 34 psu dan salinitas terendah terjadi pada minggu ke-4 yaitu 31 psu. Kisaran salinitas yang terukur selama penelitian masih dalam kisaran yang dapat ditolerir sehingga mampu mendukung pertumbuhan rumput laut. Hal ini sesuai pendapat Zatnika (2009)
30 31 32 33 34 35 0 1 2 3 4 5 6 Salinitas (ppt) Minggu ke-Salinitas
yang menyatakan bahwa salinitas perairan untuk budidaya rumput laut jenis
Gracilaria verrucosa berkisar antara 15-34 psu. Kadi (2006) bahwa kisaran pertumbuhan rumput laut dapat berada pada salinitas perairan 32-34 psu.
4.1.3 Derajat Keasaman (pH)
Derajat keasaman (pH) merupakan kondisi kimia air yang berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan rumput laut. Menurut Soesono (1989), bahwa pengaruh pH bagi organisme sangat besar dan penting. Kisaran pH yang kurang dari 6,5 akan menekan laju pertumbuhan bahkan tingkat keasamannya dapat mematikan dan tidak ada laju reproduksi, sedangkan kisaran pH antara 6,5-9 merupakan kisaran optimal dalam suatu perairan. Berikut disajikan Gambar 9 kondisi pH perairan
Gambar 9. pH perairan pada lokasi penelitian
Nilai pH selama penelitian berkisar antara 7,5-8. Niai pH tertinggi berdasarkan waktu pengamatan terjadi pada minggu ke-4 dan ke-5 yaitu 8,0. Nilai pH terendah terjadi pada minggu ke-2 dan ke-3 yaitu 7,5. Kondisi pH ini relatif stabil dan berada pada kisaran normal dalam mendukung kehidupan dan pertumbuhan rumput laut. Hal ini sesuai dengan pernyataan Zatnika (2009),
7.0 7.5 8.0 8.5 0 1 2 3 4 5 6 pH Minggu ke-pH
bahwa hampir seluruh alga mempunyai kisaran daya penyesuaian terhadap pH antara 6-9.
4.1.4 Oksigen Terlarut (DO)
Oksigen dihasilkan dari rumput laut dan menjadi kelanjutan kehidupan biota perairan karena dibutuhkan oleh hewan dan bakteri untuk respirasi. Fitoplankton juga membantu menambah jumlah kadar oksigen terlarut pada lapisan permukaan di waktu siang hari sebagai hasil dari fotosintesis. Berikut disajikan Gambar 10 kondisi oksigen terlarut perairan
Gambar 10. Oksigen terlarut pada lokasi penelitian
Gambar 10 menunjukkan kisaran nilai DO pada lokasi penelitian yaitu antara 5,5-6,5 mg/l dengan nilai DO rata-rata pada daerah penelitian yaitu 5,86±0,3780 mg/l. Diduga yang menyebabkan tingginya nilai DO pada minggu ke-6 dikarenakan hasil fotosintesis. Hal ini didukung oleh Effendi (2003) yang menyatakan bahwa sumber oksigen terlarut dapat berasal dari difusi oksigen yang terdapat di atmosfer (35%) dan aktifitas fotosintesis oleh tumbuhan air dan
fitoplankton.
Kisaran oksigen terlarut yang diperoleh selama penelitian masih
mendukung pertumbuhan rumput laut. Menurut Zatnika (2009) kondisi oksigen
5 5.5 6 6.5 7 0 1 2 3 4 5 6 DO (mg/l) Minggu ke-DO
terlarut yang optimal dibutuhkan oleh rumput Gracilaria verrucosa berkisar antara 3-8 mg/l.
4.1.5 Nitrat
Nitrat merupakan salah satu unsur yang dibutuhkan untuk pertumbuhan rumput laut. Nilai nitrat selama penelitian berkisar antara 0,15-0,20 mg/l dengan nilai rata-rata 0,15±0,05 mg/l. Menurut Simanjutak (2006), kandungan nitrogen yang tinggi disuatu perairan dapat disebabkan oleh limbah yang berasal dari domestik, pertanian, peternakan dan industri.
Konsentrasi nitrat yang diperoleh selama penelitian cukup stabil hal ini menunjukkan bahwa kondisi lingkungan perairan lokasi penelitian cukup baik dimana aktifitas biologis organisme perairan cukup tinggi, selain itu dapat mendukung pertumbuhan rumput laut. Hal ini sesuai dengan pendapat Andarias (1992) bahwa kisaran nitrat yang layak untuk pertumbuhan rumput laut adalah 0,9-3,5 mg/l.
4.1.6 Fosfat
Fosfat diperlukan rumput laut untuk pertumbuhannya. Kandungan fosfat dilokasi penelitian berkisar antara 0,15-0,25 mg/l dengan rata-rata 0,17±0,03 mg/l. Kandungan fosfat yang terukur selama penelitian masih dalam kisaran yang dapat ditolerir sehingga dapat mendukung pertumbuhan rumput laut. Hal ini sesuai dengan pendapat Andarias (1992) menyatakan bahwa kisaran fosfat yang baik untuk pertumbuhan rumput laut adalah 0,09-1,80 mg/l.
Tinggi rendahnya nilai fosfat di lokasi penelitian dapat disebabkan karena pengadukan massa air yang mengangkat kandungan fosfat yang terdapat di dasar
perairan ke permukaan. Hal ini sesuai pendapat Simanjutak (2006) bahwa tingginya kadar fosfat disebabkan oleh arus dan pengadukan massa air yang mengakibatkan terangkatnya kandungan fosfat yang tinggi dari dasar ke lapisan permukaan.
4.1.7 Kedalaman dan Kecerahan
Kedalaman perairan tambak di lokasi penelitian berkisar antara 60-65 cm, kedalaman perairan merupakan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan rumput laut. Hal ini dinyatakan oleh Zatnika (2009) yang menyatakan bahwa kedalaman yang sesuai untuk pertumbuhan Gracilaria verrucosa berkisar antara 50-80 cm.
Kecerahan perairan merupakan salah satu faktor yang penting untuk pertumbuhan rumput laut, sebab rendahnya kecerahan mengakibatkan cahaya matahari yang masuk ke dalam perairan berkurang. Itensitas cahaya matahari yang diterima secara sempurna oleh thallus merupakan faktor utama dalam proses fotosintesis. Dalam proses fotosintesis rumput laut sangat membutuhkan cahaya dan apabila aktifitas fotosintesisnya terganggu akan mengakibatkan pertumbuhan rumput laut yang tidak optimal, sebagai contoh adanya cahaya matahari yang berlebihan mengakibatkan tanaman menjadi putih, karena hilangnya protein yang dibutuhkan untuk hidup.
Hasil pengukuran pada lokasi penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kecerahan perairan di lokasi penelitian berkisar antara 50-55%. Tingkat
kecerahan ini termasuk kriteria baik dan sangat ideal untuk budidaya rumput laut
Gracilaria verrucosa di tambak, hal ini ditandai dengan pernyataan Zatnika (2009) yang menyatakan bahwa persyaratan lokasi budidaya Gracilaria, tidak
keruh (sinar matahari menembus sampai dasar tambak) dengan kata lain tingkat kecerahan disesuaikan dengan kedalaman tambak.
4.1.8 Substrat Dasar
Secara visual dasar perairan (tambak) di lokasi penelitian memiliki jenis substrat lumpur berpasir. Menurut Zatnika (2009) keadaan dasar tambak untuk membudidayakan rumput laut di perairan (tambak) sebaiknya adalah tanah lumpur berpasir karena tidak mudah menyerap air dan kaya bahan organik (zat hara) sehingga mempercepat pertumbuhan tanaman. Sehingga substrat yang ada di lokasi penelitian dapat dikategorikan baik untuk melakukan proses
pembudidayaan dan baik untuk menunjang pertumbuhan rumput laut.
4.1.9 Organisme Penempel
Rumput laut yang dibudidayakan tidak terlepas dari pengaruh predator, pencemaran dan penyakit. Fungsi ekologis dari rumput laut sebagai pendukung kehidupan dilaut yaitu sebagai makanan dan pelindung organisme yang selalu mempengaruhi pembentukan spora rumput laut. Organisme ini pada awalnya hanya memakan tumbuhan penempel disekitar rumput laut tetapi kemudian mulai memakan rumput laut itu sendiri. Biota pengganggu budidaya rumput laut umumnya merupakan organisme laut yang memangsa tanaman rumput laut. Organisme ini hidup dengan rumput laut sebagai makanan utamanya atau
sebagian masa hidupnya memakan rumput laut. Organisme pengganggu ini dapat menimbulkan kerusakan secara fisik pada tanaman budidaya, seperti terkelupas, patah atau habis dimakan.
Selama penelitian terlihat pada tanaman uji diperairan (tambak) ditemukan berbagai jenis organime penempel seperti lumut dari jenis Enteromorpha
intestinalis, Chaetomorpha sp. dan Ectocarpus serta kerang dari jenis Limnea glabra yang menyerang tanaman uji (Gracilaria verrucosa) dengan cara melekat dan membelit sehingga dapat menghambat pertumbuhan tanaman uji (Gracilaria verrucosa). Berdasarkan pengamatan semakin lama waktu tanam maka jumlah dari organisme tersebut akan semakin banyak pula. Hal ini ditandai dengan semakin menurunya laju pertumbuhan Gracilaria verrucosa, sehingga dapat mengganggu penyerapan nutrisi dan fotosintesis untuk pertumbuhan. Namun untuk mencegah banyaknya organisme penempel tersebut dengan memasukkan ikan bandeng (Chanos-chanos) yang dimana ikan ini berfungsi untuk memakan lumut yang mengganggu tanaman uji. Namun kadangkala ikan bandeng yang dimasukkan kedalam perairan (tambak) sering memakan tanaman uji (Gracilaria verrucosa) apabila lumut yang menyerang tanaman uji sudah habis. Selain itu untuk mencegah banyaknya organisme penempel ini dapat dilakukan dengan mencabut langsung atau membersihkan tali-tali pengikat tanaman uji setiap minggunya.
4.2 Pertumbuhan Rumput Laut
4.2.1 Perlakuan Bobot Bibit 50 gr, 100 gr dan 150 gr terhadap Jarak Tanam 20 cm, 30 cm dan 40 cm.
Perlakuan bobot bibit terhadap jarak tanam yang berbeda selama 6 minggu pengamatan umumnya menunjukkan peningkatan setiap minggunya dan mencapai puncak pertumbuhan bobot basah rata-rata tertinggi pada minggu ke-6. Bobot
basah masing-masing perlakuan pada setiap minggu pengamatan dapat dilihat pada Lampiran 2.
Kecenderungan pola pertumbuhan bobot basah ini terjadi pada rumput laut yang mempunyai bobot awal 50 gr, 100 gr dan 150 gr, namun pada rumput laut dengan jarak tanam 40 cm memperlihatkan puncak bobot yang lebih tinggi dibandingkan jarak tanam 20 cm dan 30 cm. Rumput laut jarak tanam 40 cm pertumbuhannya cenderung lebih baik dari pada jarak tanam 30 cm dan 20 cm, sedangkan jarak tanam 30 cm cenderung lebih baik dari pada jarak tanam 20 cm. Berikut masing-masing disajikan Gambar 11, 12 dan 13 pertumbuhan Gracilaria verrucosa
Gambar 11. Pertumbuhan rata-rata bobot basah (gr) Gracilaria verrucosa dengan perlakuan bobot 50 gr terhadap jarak tanam yang berbeda
Gracilaria verrucosa dengan bobot bibit 50 gr terhadap jarak tanam 20 cm, 30 cm dan 40 cm menunjukkan peningkatan pertumbuhan bobot basah
rata-40 65 90 115 140 165 190 0 1 2 3 4 5 6 Bobot (gr) Minggu ke‐ Jarak 20 cm 40 65 90 115 140 165 190 0 1 2 3 4 5 6 Bobot (gr) Minggu ke‐ Jarak 30 cm 40 65 90 115 140 165 190 0 1 2 3 4 5 6 Bobot (gr) Minggu ke‐ Jarak 40 cm
rata yang hampir sama selama 6 minggu pengamatan. Perbedaannya terjadi pada minggu ke-4, terlihat jarak tanam 40 cm dan 30 cm mengalami peningkatan yang lebih baik dibandingkan jarak tanam 20 cm. Adapun bobot basah tertinggi terjadi pada minggu ke-6 yaitu jarak tanam 40 cm sebesar 195±10 gr, jarak tanam 30 cm sebesar 178,3±12,58 gr dan jarak tanam 20 cm sebesar 160±8,66 gr.
Gambar 12. Pertumbuhan rata-rata bobot basah (gr) Gracilaria verrucosa dengan perlakuan bobot 100 gr terhadap jarak tanam yang berbeda
Gracilaria verrucosa dengan bobot bibit 100 gr terhadap jarak tanam 20 cm, 30 cm dan 40 cm menunjukkan peningkatan pertumbuhan bobot basah rata-rata yang hampir sama selama 6 minggu pengamatan. Perbedaannya terjadi pada minggu ke-4, terlihat jarak tanam 40 cm mengalami peningkatan yang lebih baik dibandingkan jarak tanam 20 cm dan 30 cm. Adapun bobot basah tertinggi terjadi pada minggu ke-6 yaitu jarak tanam 40 cm sebesar 278,33±10,41 gr, jarak tanam 30 cm sebesar 276,67±5,77 gr dan jarak tanam 20 cm sebesar 271,67±5,77 gr.
100 140 180 220 260 300 0 1 2 3 4 5 6 Bobot (gr) Minggu ke‐ Jarak 20 cm 100 140 180 220 260 300 0 1 2 3 4 5 6 Bobot (gr) Minggu ke‐ Jarak 30 cm 100 140 180 220 260 300 0 1 2 3 4 5 6 Bobot (gr) Minggu ke‐ Jarak 40 cm
Gambar 13. Pertumbuhan rata-rata bobot basah (gr) Gracilaria verrucosa dengan perlakuan bobot 150 gr terhadap jarak tanam yang berbeda
Gracilaria verrucosa dengan bobot bibit 150 gr terhadap jarak tanam 20 cm, 30 cm dan 40 cm menunjukkan peningkatan pertumbuhan bobot basah rata-rata yang hampir sama selama 6 minggu pengamatan. Perbedaannya tidak terlalu signifikan, namun terlihat jarak tanam 40 cm mengalami peningkatan yang lebih baik dibandingkan jarak tanam 20 cm. Adapun bobot basah tertinggi terjadi pada minggu ke-6 yaitu jarak tanam 40 cm sebesar 340±10 gr, jarak tanam 30 cm sebesar 336,67±11,55 gr dan jarak tanam 20 cm sebesar 326,67±2,89 gr.
4.3 Laju Pertumbuhan Harian Rumput Laut
4.3.1 Perlakuan Bobot Bibit terhadap Jarak Tanam
Laju pertumbuhan (gr/hari) rumput laut Gracilaria verrucosa pada
perlakuan bobot bibit dan jarak tanam dapat dilihat pada Tabel 5. Terlihat bahwa
100 140 180 220 260 300 340 0 1 2 3 4 5 6 Bobot (gr) Minggu ke‐ Jarak 20 cm 100 140 180 220 260 300 340 0 1 2 3 4 5 6 Bobot (gr) Minggu ke‐ Jarak 30 cm 100 140 180 220 260 300 340 0 1 2 3 4 5 6 Bobot (gr) Minggu ke‐ Jarak 40 cm
pada bobot 150 gr memiliki laju pertumbuhan rata-rata sebesar 4,39±0,16 gr/hari lebih tinggi bila dibandingkan dengan bobot bibit 100 gr dan 50 gr yang memiliki laju pertumbuhan rata-rata sebesar 4,27±0,11 gr/hari dan 3,04±0,42 gr/hari (Lampiran 3).
Sedangkan pada jarak tanam 40 cm memiliki laju pertumbuhan rata-rata sebesar 4,07±0,56 gr/hari lebih tinggi bila dibandingkan dengan jarak tanam 30 cm dan 20 cm yang memiliki laju pertumbuhan rata-rata sebesar 3,90±0,74 gr/hari dan 3,64±0,87 gr/hari (Lampiran 3).
Tabel 5. Laju pertumbuhan (gr/hari) Gracilaria verrucosa pada perlakuan bobot dan jarak tanam
Hari ke- Perlakuan B50J20 B50J30 B50J40 B100J20 B100J30 B100J40 B150J20 B150J30 B150J40 7 5 5,48 5,24 4,29 5 5,24 6,43 6,67 7,62* 14 2,62 2,38 2,86 7,14 7,14 7,38 9,52 10,24* 9,52 21 4,05 4,76 5,71 5,71 6,19 6,90* 4,05 4,05 4,76 28 2,14 3,81* 2,86 0,71 0,95 2,38 1,19 0,71 0,95 35 1,19 0,95 2,14 4,05* 3,10 1,90 3,10 3,81 2,86 42 0,71 0,95 1,90 2,62 2,86* 1,67 0,95 1,19 1,43 Jumlah 15,71 18,33 20,71 24,52 25,24 25,48 25,24 26,67 27,14 Rataan 2,62 3,06 3,45 4,09 4,21 4,25 4,21 4,44 4,52 Keterangan : J = Jarak (cm) B = Bobot (gr)
* = Laju pertumbuhan tertinggi tiap minggu
Cetak tebal menunjukkan laju pertumbuhan harian terbesar dari masing-masing perlakuan.
Keseluruhan bobot dan jarak tanam Pada hari ke-7 terlihat bahwa pada perlakuan jarak tanam 40 cm dengan bobot 150 gr memiliki laju pertumbuhan tertinggi (7,62 gr/hari) dan pada perlakuan jarak tanam 20 cm dengan bobot 100 gr memiliki laju pertumbuhan terendah (4,29 gr/hari). Pada hari ke-14 terlihat bahwa pada perlakuan jarak tanam 30 cm dengan bobot 150 gr memiliki laju
pertumbuhan tertinggi (10,24 gr/hari) dan pada perlakuan jarak tanam 30 cm dengan bobot 50 gr memiliki laju pertumbuhan terendah (2,38 gr/hari). Pada hari ke-21 terlihat bahwa pada perlakuan jarak tanam 40 cm dengan bobot 100 gr memiliki laju pertumbuhan tertinggi (6,90 gr/hari) dan pada perlakuan jarak tanam 20 cm dan 30 cm dengan bobot 50 gr dan 150 gr memiliki laju pertumbuhan terendah (4,05 gr/hari). Pada hari ke-28 terlihat bahwa pada perlakuan jarak tanam 30 cm dengan bobot 50 gr memiliki laju pertumbuhan tertinggi (3,81 gr/hari) dan pada perlakuan jarak tanam 20 cm dan 30 cm dengan bobot 100 gr dan 150 gr memiliki laju pertumbuhan terendah (0,71 gr/hari). Pada hari ke-35 terlihat bahwa pada perlakuan jarak tanam 20 cm dengan bobot 100 gr memiliki laju pertumbuhan tertinggi (4,05 gr/hari) dan pada perlakuan jarak tanam 30 cm dengan bobot 50 gr memiliki laju pertumbuhan terendah (0,95 gr/hari). Pada hari ke-42 terlihat bahwa pada perlakuan jarak tanam 30 cm dengan bobot 100 gr memiliki laju pertumbuhan tertinggi (2,86 gr/hari) dan pada perlakuan jarak tanam 20 cm dengan bobot 50 gr memiliki laju pertumbuhan terendah (0,71 gr/hari).
Berbedanya laju pertumbuhan pada masing-masing perlakuan diduga karena adanya persaingan antar perlakuan (tanaman uji) dalam memanfaatkan nutrien dan unsur hara. Hal ini dapat disebabkan jarak yang tidak memadai pada masing-masing perlakuan (hanya sekitar 20 cm sampai 40 cm).
Laju pertumbuhan (gr/hari) dibagi menjadi 3 fase yaitu fase I (masa tanam 7-14 hari), fase II (masa tanam 21-28 hari) dan fase III (masa tanam 35-42 hari). Perlakuan ini dilakukan untuk membedakan laju pertumbuhan harian pada awal, tengah dan akhir pengamatan dari laju pertumbuhan Gracilaria verrucosa yang