BUNGA SEMERAH DARAH
KARYA W. S. RENDRA
Ni Nengah Citra Dwi Anggraeni1, Ni Wayan Ayu Permata Sari2 1Universitas Bina Sarana Informatika
2Universitas Indraprasta PGRI 1[email protected]
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan tindak tutur yang terdapat dalam naskah drama Bunga Semerah Darah karya W. S. Rendra. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi alternatif bahan pembelajaran mengenai tindak tutur. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriprif kualitatif dengan teknik analisis isi. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa naskah drama tersebut banyak mengandung tindak tutur yang meliputi lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Hasil dari
analisis pada naskah drama “Bunga Semerah Darah” Karya W. S. Rendra, adalah :
tindak tutur lokusi terdapat digunakan sebanyak 17 yang digunakan dalam pasangan ujaran; tindak tutur ilokusi terdapat digunakan sebanyak 32 yang digunakan dalam pasangan ujaran; tindak tutur perlokusi terdapat digunakan sebanyak 3 yang digunakan dalam pasangan ujaran.
Kata kunci: tindak tutur, naskah drama, W. S. Rendra
Abstract
This study aims to reveal the speech acts contained in the drama script Bunga Semerah Darah by W. S. Rendra. The results of this study are expected to be an alternative learning material regarding speech acts. The research method used is descriptive qualitative with content analysis techniques. The results of this study indicate that the drama script contains a lot of speech acts which include locusions, illocution, and perlocution. The results of the analysis of the drama script "Bunga Semerah Darah" by W. S. Rendra, were: 17 locus speech acts were used in speech pairs; There are 32 illocutionary speech acts used in speech pairs; There are 3 perlocution speech acts used in speech pairs.
A. PENDAHULUAN
Manusia dikaruniai bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi antar sesama. Begitu banyak makna yang dihasilkan oleh bahasa yang diujarkan. Bahasa dan seluk beluk bahasa dipelajari dalam linguistik. Linguistik sebagai ilmu kajian bahasa yang memiliki berbagai cabang. Cabang-cabang itu diantaranya adalah fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, pragmatik, dsb. Fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik mempelajari struktur bahasa secara internal, sedangkan pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara ekternal, yaitu bagaimana satuan kebahasaan itu digunakan dalam komunikasi.
Di dalam pragmatik terdapat jenis-jenis tindak tutur yang diantaranya adalah tindak lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Makna yang beragam sering menjadi masalah dalam berkomunikasi sehingga tujuan dalam berkomunikasi negatif. Untuk meneliti sebuah masalah mengenai tindak tutur dalam pragmatik, naskah drama bisa dijadikan objek penelitian. Menurut Kinayati Djosuroto (2007: 66) dalam bukunya Dasar-dasar Teori Apresiasi Prosa menyatakan bahwa drama adalah kisah lakuan (kisah yang dilakonkan). Istilah drama berasal dari dramai yang artinya berbuat menirukan suatu kejadian. Drama berbeda dengan karya sastra lainnya Karena drama memiliki dialog. Dialog itulah yang diungkapkan sebagai tiruan. Objek dengan tulisan lebih mudah meneliti daripada lisan. Oleh karena itu, peneliti mengambil objek naskah drama dan fokus penelitian ini adalah tindak tutur
yang terdapat dalam naskah tersebut.
Hakikat Pragmatik
Linguistik sebagai ilmu kajian bahasa yang memiliki berbagai cabang. Cabang-cabang itu diantaranya adalah fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, pragmatik, dsb. Fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik mempelajari struktur bahasa secara internal, sedangkan pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara ekternal, yaitu bagaimana satuan kebahasaan itu digunakan dalam komunikasi. Wijana dan Muhammad Rohmadi (2010: 3-4) menjelaskan mengenai pragmatik “Pragmatics is distinct
from grammar, which is the study of the internal structure of language. Pragmatics is the study of how language is used to communicate
(Parker, 1986:11)”. Secara ekternal
bila dilihat dari penggunaannya, kata “bagus” tidak selalu bermakna “baik” atau “tidak buruk”, seperti terlihat di bawah ini :
(a) Ayah : Bagaimana ujian
matematikamu? Anton : Wah, hanya dapat 45, Pak.
Ayah : Bagus, besok
jangan belajar. Nonton terus saja. Kata “bagus” dalam (a) tidak bermakna “baik” atau “tidak buruk”, tetapi sebaliknya. Dari uraian di atas terlihat bahwa makna yang ditelaah oleh pragmatik adalah makna yang terikat konteks. Dengan demikian, pragmatic bersifat terikat konteks (context dependent) (Purwo, 1984: 16). Bila diamati lebih jauh, makna yang menjadi kajian pragmatic adalah maksud penutur (speaking
meaning) dan (speaker sense). (periksa Verhaar, 1977; Parker, 1986:32).
Menurut leech (1983: 13) dalam Wijana (2010: 5-6) menyatakan pragmatis sebagai cabang ilmu bahasa yang mengkaji pengguanaan bahasa berintegrasi dengan tata bahasa yang terdiri dari fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik melalui semantik.
Penelitian mengenai tindak tutur pernah diteliti oleh Hilman Pardede dan Herman dalam judul A Study of Speech Act Between Seller and Buyers
in ‘Sinaga Shop’. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui tindak tutur antara penjual dan pembeli di 'Toko Sinaga Jalan Melanthon Siregar Pematangsiantar. Tindak tutur terkait dengan ujaran. para peneliti menemukan bahwa ada beberapa kata kerja yang digunakan oleh penjual dan pembeli dalam percakapan transaksional harian mereka, yaitu: Perwakilan termasuk menyarankan, melaporkan, menyatakan, menginformasikan, mengeluh. Petunjuk termasuk bertanya, meminta, memesan. Ekspresif termasuk meminta maaf, terima kasih, maaf. Termasuk di dalamnya adalah penawaran dan Deklaratif mencakup hukuman (Pardede & Herman, 2020). Berbeda dengan penelitian ini, objek yang dikaji adalah dialog dalam sebuah naskah drama sehingga penelitian ini mampu menghubungkan antara linguistik dengan sastra.
Penelitian ini diharapkan menambah khasanah ilmu mengenai tindak tutur dan sastra.
Hakikat Tindak Tutur
Searle di dalam bukunya Speech Acts An Essay in The Philosophy of
Language (1969, 23-24) mengemukakan bahwa secara pragmatis setidak-tidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur, yakni tindak lokusi (Locutionary Act), tindak ilokusi (Ilocutionary Act), dan tindak perlokusi (Perlocutionary Act).
Tindak Lokusi
Tindak lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu. Tindak tutur itu disebut sebagai The Act of Saying Something. Sebagai contoh :
i. Ikan paus adalah binatang
menyusui.
ii. Jari tangan jumlahnya lima.
Kalimat (i) dan (ii) diutarakan oleh penuturnya semata-mata untuk menginformasikan sesuatu tanpa tendensi untuk melakukan sesuatu, apalagi untuk mempengaruhi lawan tuturnya.
Bila diamati secara seksama konsep lokusi itu adalah konsep yang berkaitan dengan proposisi kalimat. Kalimat atau tuturan dalam hal ini dipandang sebagai suatu satuan yang terdiri dari dua unsur, yakni subjek dan predikat (Nababan, 1987:4). Lebih jauh tindak lokusi adalah tindak tutur yang relative paling mudah untuk diidentifikasikan karena pengidentifikasiannya cenderung dapat dilakukan tanpa menyertakan konteks tuturan yang tercakup dalam situasi tutur. Jadi, dari perspektif pragmatik tindak lokusi sebenarnya tidak atau kurang begitu penting peranannya untuk memahami tindak tutur (Parker, 1986: 15).
Tindak Ilokusi
Sebuah tuturan selain berfungsi
untuk mengatakan atau
menginformasikan sesuatu, dapat juga dipergunakan untuk melakukan sesuatu. Bila hal ini terjadi, tindak tutur yang terbentuk adalah tindak ilokusi. Kalimat (iii) misalnya
cenderung tidak hanya
menginformasikan sesuatu, tetapi juga melakukan sesuatu sejauh situasi tuturnya dipertimbangkan secara seksama.
iii. Ada anjing gila.
Kalimat (iii) yang biasa ditemui di pintu pagar atau bagian depan rumah pemilik anjing tidak hanya berfungsi untuk memberikan informasi, tetapi untuk memberikan peringatan. Akan tetapi, bila ditujukan kepada pencuri, tuturan itu mungkin pula diutarakan untuk menakut-nakuti.
Tindak Perlokusi
Tindak tutur yang
pengutaraannya dimaksudkan untuh mempengaruhi lawan tutur disebut dengan tindak perlokusi. Berikut ini contoh tindak perlokusi:
iv. Rumahnya jauh.
Kalimat (iv) tidak hanya mengandung lokusi, tetapi jika diutarakan oleh seseorang ketua perkumpulan, maka ilokusinya adalah secara tidak langsung menginformasikan bahwa orang yang dibicarakan tidak terlalu aktif dalam organisasinya. Adapun efek perlokusi yang mungkin diharapkan agar ketua tidak terlalu banyak memberikan tugas kepadanya.
Hakikat Naskah Drama
Menurut N. Riantiarno (2003: 8) dalam bukunya Menyentuh Teater, drama berasal dari bahasa Yunani, dramai Artinya ‘bertindak/ berlaku/ berbuat/ beraksi’. Drama juga sering diartikan sebagai kehidupan manusia yang berbuat atau beraksi. Berangkat dari ‘sebab’ dan ‘berakibat’. Saat ini pengertian drama lebih dihubungkan dengan karya sastra. Bisa juga berarti naskah lakon.
Senada dengan N. Riantiarno, Djojosuroto (2007: 66) dalam bukunya Dasar-dasar Teori Apresiasi Prosa menyatakan bahwa drama adalah kisah lakuan (kisah yang dilakonkan). Istilah drama berasal dari dramai yang artinya berbuat menirukan suatu kejadian.
Naskah drama (lakon) pada umumnya disebut skenario, berupa susunan (komposisi) dari adegan-adegan dalam penuangan sebagai karya tulis, biasanya memiliki keterbatasan sesuai dengan fitrahnya.
Seni drama modern di Indonesia menurut Rendra seperti yang telah dikutip Syamsul Edeng Ma’arif (2001: 34), tim kehadirannya timbul dari golongan elit yang tidak puas dengan komposisi drama rakyat dan seni drama tradisional. Naskah sandiwara mulai sangat dibutuhkan, karena dialog yang dalam dan otentik dianggap sebagai mutu yang penting.
Naskah drama adalah suatu cerita drama dalam bentuk dialog atau dalam bentuk tanya jawab/percakapan antar pelaku. Sedangkan penyajiannya melalui dialog dan gerak para pelaku dari sebuah panggung kepada penonton.
Dalam persiapan sebuah pertunjukan drama atau pun produksi film maupun sinetron, naskah drama adalah instansi pertama yang berperan sebelum sampai ke tangan sutradara dan para aktor. Naskah drama (lakon) bisa berdiri sendiri sebagai bacaan berupa buku cerita (klasifikasi sastra lakon). Ketika naskah itu akan dimainkan, biasanya diketik kembali dalam format yang khusus untuk para pemain dan awak produksi.
Naskah drama (lakon) merupakan penuangan dari ide cerita ke dalam alur cerita dan susunan lakon. Seorang penulis naskah drama dalam proses berkaryanya bertolak dari tema cerita. Tema itu disusun jadi sebuah cerita yang terdiri dari peristiwa-peristiwa, yang memiliki alur yang jelas dengan ukuran dan panjang yang perhitungkan menurut kebutuhan sebuah pertunjukan. Bisa untuk satu jam duan jam atau lebih. Karena itu dalam penyusunannya harus berpegang pada azas kesatuan (Unity) (Anirun, 1998: 51). Aristoteles (384-322 SM) menggariskan tiga azas kesatuan, yakni kesatuan waktu tempat dan lakon. Seni drama adalah tontonan yang ephemeral, artinya bermula dari suatu malam dan berakhir pada malam yang sama.
Karya sastra memiliki unsur Intrinsik dan Ekstrinsik. Unsur Intrinsik adalah pendekatan yang memusatkan perhatian kepada faktor-faktor yang membentuk karya sastra dari dalam, misalnya tema, alur, gaya bahas dalam genre prosa atau metafor, simbol, citra dalam genre puisi. Sedangkan pendekatan ekstrinsik adalah pendekatan terhadap karya sastra yang
menitikberatkan perhatian kepada factor-faktor di luar karya sastra yang mempengaruhi terbentuknya suatu karya sastra. Faktor-faktor ini misalnya faktor pribadi pengarang, faktor sosial, kemasyarakatan, filsafat, agama, dan sebagainya (Djojosuroti, 2007: 99).
a. Tema
Tema dibagi mebjadi dua, yaitu tema utama/mayor dan tema
tambahan/minor. Tema
utama/mayor adalah makna pokok cerita yang menjadi dasar atau gagasan umum karya itu. Sedangkan tema tambahan/minor adalah tema yang bersifat mendukung dan atau mencerminkan makna utama keseluruhan cerita. (Nurgiyantoro, 2007). Tema tambahan disebut juga tema sampingan.
b. Alur/Plot
Alur/ plot yaitu jalan cerita. Dalam alur sebuah naskah drama bukan permasalahan maju-mundurnya sebuah cerita seperti yang dimaksudkan dalam karangan prosa, tetapi alur yang membimbing cerita dari awal hingga tuntas. Dimulai dengan pemaparan (perkenalan awal tokoh dan penokohan), adanya masalah (konflik), konflikasi (masalah baru), krisis (pertentangan mencapai titik puncak–klimak s.d. antiklimaks), resolusi (pemecahan masalah), dan ditutup dengan ending (keputusan). Ada pula yang menggambarkan alur dalam sebah naskah drama itu pemaparan—masalah—pemecahan masalah/resolusi—keputusan.
Rentetan kejadian dalam karya fiksi yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya disebut plot. Seperti dikemukakan oelh M.Atar Semi (1998), plot adalah struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang
disusun sebagai sebuah interelasi fungsional yang sekaligus menandai urutan bagian-bagian dalam keseluruhan fiksi.
c. Latar/Setting
Latar/ setting yaitu tempat kejadian. Latar atau setting berbicara masalah tempat, suasana, dan waktu. Latar adalah tempat secara umum dan waktu atau masa dimana peristiwa-peristiw terjadi, seperti lingkungan keluarga, menatomi atau metafora, latar sosial. Jadi, seluruh keterangan mengenai tempat (ruang), waktu, dan suasana sebagai lokasi dan situasi yang melingkungi tokoh-tokoh dalam karya sastra, itulah yang disebut latar.
d. Penokohan
Tokoh merupakan bagian atau unsur dari keutuhan artistik dalam karya sastra yang harus selalu menunjang keutuhan artistik itu (Kenney, 1966 : 25). Penokohan adalah penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh (Sudjiman, 1986: 58). Berdasarkan fungsinya, tokoh dalam cerita dapat dibedakan menjadi rokoh sentral dan tokoh bawahan. Tokoh yang memegang peran penting disebut tokoh utama atau protagonis (Sudjiman, 1986: 61) e. Perwatakan
Perwatakan ialah kualutas tokoh, nalar, jiwa seorang tokoh yang berbeda dengan tokoh lainnya. Perwatakan dijelaskan oleh Atar Semi (1998) sebagai berikut : salah satu yang membedakan fiksi narasi dan fiksi deskripsi adalah aksi, perilaku atau tindak tanduk.
f. Amanat
Amanat adalah hal-hal yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca etelah membaca ceritanya. Ada pengarang yang menyampaikan
amanat secara implisit, ada yang secara eksplisit.
g. Sudut pandang
Sudut pandang adalah teknik, siasat, strategi yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Dalam karya fiksi, segala sesuatu yang dikemukakan pengarang adalah milik pengarang, baik tentang pandangan hidup dan
penafsirannya terhadap
kehidupan.namun semuanya itu disalurkan melalui sudut pandang tokoh, melalui kaca mata sang pengarang. Oleh sebab itu, sudut pandang ini dapat disamakan dengan istilah focus of narration atau pusat perhatian.
h. Gaya bahasa
Gaya sesungguhnya merupakan perwujudan pribadi pengarangnya, sehingga masing-masing pengarang itu selalu memiliki gaya tersendiri yang berbeda dengan gaya pengarang yang lain. Penelitian yang relevan pada penelitian ini adalah artikel Internasional Tri Kartika Handayani, Sri Megawati dan Lia Malia dengan judul Nilai-Nilai Karakter dalam Tindak Tutur Ilokusi Dalam Buku Wir Besuchen Eine Moschee. Penelitian lainnya adalah artikel internasional Mukaromah dengan judul Tindak Tindak Pragmatik Anak Usia Prasekolah Dwibahasawan Jawa-Indonesia.
B. METODE PENELITIAN
Penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi. Adapun langkah kajian berupa pengumpulan data dengan membaca secara keseluruhan dan berulang-ulang naskah drama Bunga Semerah Darah Karya W. S. Rendra. Setelah
itu, mendata tindak tutur yang ada di dalam naskah.
C. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Pasangan ujaran 1 merupakan
bentuk tindak tutur yang terdiri dari :
Lokusi, lokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat interogatif yang menanyakan tentang Siapa Ujang tersebut. 2. Pasangan ujaran 2 merupakan
bentuk tindak tutur yang terdiri dari :
Perlokusi, perlokusi dalam pasangan ujaran ini termasuk perlokusi negative: lawan bicara hanya diam.
3. Pasangan ujaran 3 merupakan bentuk tindak tutur yang terdiri dari :
Ilokusi, ilokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat Interjeksi: menyatakan adanya perpindahan topic dari lawan bicara.
4. Pasangan ujaran 4 merupakan bentuk tindak tutur yang terdiri dari :
Ilokusi, ilokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat Interjeksi: menyatakan adanya perpindahan topic dari lawan bicara.
Lokusi, lokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat Imperatif: Ali meminta bahwa kalau ada orang batuk jangan ditertawakan.
5. Pasangan ujaran 5 merupakan bentuk tindak tutur yang terdiri dari :
Lokusi, lokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat Imperatif: Ali meminta bahwa kalau ada orang batuk jangan
6. Pasangan ujaran 6 merupakan bentuk tindak tutur yang terdiri dari :
Lokusi, lokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat Deklaratif: menginformasikan bahwa Ali besar kepala dan kepala Ujang pun seperti balon-balon karet.
7. Pasangan ujaran 7 merupakan bentuk tindak tutur yang terdiri dari :
Lokusi, lokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat Deklaratif: menginformasikan bahwa Ali besar kepala dan kepala Ujang pun seperti balon-balon karet.
Ilokusi, ilokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat Deklaratif: adanya respon dari lawan bicara dalam sebuah informasi.
8. Pasangan ujaran 8 merupakan bentuk tindak tutur yang terdiri dari :
Ilokusi, ilokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat Deklaratif: adanya respon dari lawan bicara dalam sebuah informasi.
9. Pasangan ujaran 9 merupakan bentuk tindak tutur yang terdiri dari :
Ilokusi, ilokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat Imperatif: meminta agar Ali memaafkan Ujang.
Perlokusi, pasangan ujaran ini termasuk perlokusi Negatif: Ujang tidak bermaksud menyakitkan hati Ali.
10. Pasangan ujaran 10 merupakan bentuk tindak tutur yang terdiri dari :
Ilokusi, ilokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat
Imperatif: meminta agar Ali memaafkan Ujang.
Perlokusi, pasangan ujaran ini termasuk perlokusi Negatif: Ujang tidak bermaksud menyakitkan hati Ali.
Ilokusi, ilokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat Deklaratif: menyatakan bahwa Ali memaafkan Ujang.
11. Pasangan ujaran 11 merupakan bentuk tindak tutur yang terdiri dari :
Ilokusi, ilokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat Deklaratif: menyatakan bahwa Ali memaafkan Ujang.
Ilokusi, ilokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat interogatif: menanyakan apakah sudah berobat ke dukun.
12. Pasangan ujaran 12 merupakan bentuk tindak tutur yang terdiri dari :
Ilokusi, ilokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat interogatif: menanyakan apakah sudah berobat ke dukun.
Ilokusi, ilokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat
Deklaratif: Ali
menginformasikan bahwa yang butuh dukun itu ibunya.
13. Pasangan ujaran 13 merupakan bentuk tindak tutur yang terdiri dari :
Ilokusi, ilokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat
Deklaratif: Ali
menginformasikan bahwa yang butuh dukun itu ibunya.
Ilokusi, ilokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat interjeksi: menandakan bahwa terjadi pergantian topik.
Lokusi, lokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat
interogatif: menanyakan nama ayah Ali.
14. Pasangan ujaran 14 merupakan bentuk tindak tutur yang terdiri dari :
Ilokusi, ilokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat Interjeksi: menandakan bahwa terjadi pergantian topic.
Lokusi, lokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat interogatif: menanyakan nama ayah Ali.
15. Pasangan ujaran 15 merupakan bentuk tindak tutur yang terdiri dari :
Lokusi, lokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat Deklaratif: menyatakan bahwa ayah Ali adalah Amat.
Ilokusi, ilokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat Deklaratif: menyatakan bahwa ayah Ali adalah sopir becak, agak pendek, dan kuning.
16. Pasangan ujaran 16 merupakan bentuk tindak tutur yang terdiri dari :
Ilokusi, ilokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat Deklaratif: menyatakan bahwa ayah Ali adalah sopir becak, agak pendek, dan kuning.
Ilokusi, ilokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat interogatif: menanyakan apa Ujang kenal dengan ayah Ali. 17. Pasangan ujaran 17
merupakan bentuk tindak tutur yang terdiri dari :
Ilokusi, ilokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat interogatif: menanyakan apa Ujang kenal dengan ayah Ali. Ilokusi, ilokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat Deklaratif: menyatakan bahwa
Ujang kenal dan belakang sering bergaul dengan ayah Ali.
18. Pasangan ujaran 18 merupakan bentuk tindak tutur yang terdiri dari :
Ilokusi, ilokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat Deklaratif: menyatakan bahwa Ujang kenal dan belakang sering bergaul dengan ayah Ali dan
memberitahukan bahwa
ayahnya tidak pulang ke rumah. 19. Pasangan ujaran 19
merupakan bentuk tindak tutur yang terdiri dari :
Ilokusi, ilokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat deklaratif: memberitahukan bahwa ayahnya tidak pulang ke rumah.
Ilokusi, ilokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat interogatif: menanyakan bahwa apakah nama ibunya Mirah. 20. Pasangan ujaran 20
merupakan bentuk tindak tutur yang terdiri dari :
Ilokusi, ilokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat interogatif: menanyakan bahwa apakah nama ibunya Mirah. Lokusi, lokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat interogatif: menanyakan apakah kenal dengan Mirah.
21. Pasangan ujaran 21 merupakan bentuk tindak tutur yang terdiri dari :
Lokusi, lokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat interogatif: menanyakan apakah kenal dengan Mirah.
Lokusi, lokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat deklaratif: menyatakan bahwa Ujang tahu tentang percekcokan itu.
22. Pasangan ujaran 22 merupakan bentuk tindak tutur yang terdiri dari :
Lokusi, lokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat deklaratif: menyatakan bahwa Ujang tahu tentang percekcokan itu dan menyatakan bahwa ibunya tidak main gila dengan Den Harjo.
23. Pasangan ujaran 23 merupakan bentuk tindak tutur yang terdiri dari :
Lokusi, lokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat deklaratif: menyatakan bahwa Ujang tahu tentang percekcokan itu dan menyatakan bahwa ibunya tidak main gila dengan Den Harjo.
24. Pasangan ujaran 24 merupakan bentuk tindak tutur yang terdiri dari :
Lokusi, lokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat deklaratif: menyatakan bahwa Ali sangat cinta pada ibunya. Ilokusi, ilokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat interogatif: menanyakan apa masih sangsi atas kebersihan ibu Ali.
25. Pasangan ujaran 25 merupakan bentuk tindak tutur yang terdiri dari :
Ilokusi, ilokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat interogatif: menanyakan apa masih sangsi atas kebersihan ibu Ali.
Ilokusi, ilokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat imperative: meminta maaf pada Ali.
26. Pasangan ujaran 26 merupakan bentuk tindak tutur yang terdiri dari :
Ilokusi, ilokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat imperative: meminta maaf pada Ali.
Lokusi, lokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat deklaratif: menyatakan bahwa sudah lupakan saja masalah itu. 27. Pasangan ujaran 27
merupakan bentuk tindak tutur yang terdiri dari :
Lokusi, lokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat deklaratif: menyatakan bahwa sudah lupakan saja masalah itu. Ilokusi, ilokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat interjektif: adanya pergantian topic.
Ilokusi, ilokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat interogatif: menanyakan nama Ali.
28. Pasangan ujaran 28 merupakan bentuk tindak tutur yang terdiri dari :
Ilokusi, ilokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat interjektif: adanya pergantian topic.
Ilokusi, ilokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat interogatif: menanyakan nama Ali.
29. Pasangan ujaran 29 merupakan bentuk tindak tutur yang terdiri dari :
Ilokusi, ilokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat interogatif: menanyakan nama Ali.
Ilokusi, ilokusi dalam pasangan ujaran ini berbentuk kalimat Imperatif: meminta agar Ali tidak muram.
D. SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian terhadap naskah drama “Bunga Semerah Darah” Karya W. S. Rendra diperoleh informasi tentang tindak tutur. Simpulan yang didapat antara lain:
1. Tindak tutur Lokusi terdapat digunakan sebanyak 17 yang digunakan dalam pasangan ujaran.
2. Tindak tutur Ilokusi terdapat digunakan sebanyak 32 yang digunakan dalam pasangan ujaran.
3. Tindak tutur Perlokusi terdapat digunakan sebanyak 3 yang digunakan dalam pasangan ujaran.
Tindak tutur Lokusi terdapat digunakan sebanyak 17 yang digunakan dalam pasangan ujaran, meliputi :
1. Lokusi Deklaratif sebanyak 10 yang digunakan dalam pasangan ujaran.
2. Lokusi Interogatif sebanyak 5 yang digunakan dalam pasangan ujaran.
3. Lokusi Imperatif sebanyak 2 yang digunakan dalam pasangan ujaran.
4. Lokusi Interjeksi sebanyak 0 yang digunakan dalam pasangan ujaran.
Tindak tutur Ilokusi terdapat digunakan sebanyak 32 yang digunakan dalam pasangan ujaran, meliputi :
1. Ilokusi Deklaratif sebanyak 11 yang digunakan dalam pasangan ujaran.
2. Ilokusi Interogatif sebanyak 10 yang digunakan dalam pasangan ujaran.
3. Ilokusi Imperatif sebanyak 5 yang digunakan dalam pasangan ujaran.
4. Ilokusi Interjeksi sebanyak 6 yang digunakan dalam pasangan ujaran.
Tindak tutur Perlokusi terdapat digunakan sebanyak 3 yang digunakan dalam pasangan ujaran, meliputi :
1. Perlokusi Positif sebanyak 0 yang digunakan dalam pasangan ujaran.
2. Perlokusi Negatif sebanyak 3 yang digunakan dalam pasangan ujaran.
DAFTAR PUSTAKA
Anirun, Suyatna. (1998). Menjadi Aktor, Bandung: Studiklub Teater Bandung.
Djojosuroto, Kinayati. (2007). Dasar-dasar Teori Apresiasi Prosa,
Jakarta: Universitas Negeri Jakarta.
Ma’arif, Edeng Syamsul. (2001). Absurditas dalam Naskah Drama Arifin C. Noer, Yogyakarata: IAIN Sunan Kalijaga.
Pardede, H., & Herman. (2020). A study of speech act between seller and buyers in ‘Sinaga shop.’ Wiralodra English Journal,
4(1), 65–81.
https://doi.org/10.31943/wej.v 4i1.87
Purwo, Bambang Kuswanti. (1984). Deiksis dalam Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka.
Riantiarno, N. (2003). Menyentuh Teater: Tanya Jawab Seputar Teater Kita, Jakarta: MU: 3 Books.
Wijana, I Dewa Putu dan Muhammad Rohmadi. (2010). Analisis Wacana. Surakarta: Yuma Pustaka.