1
EVALUASI KEBIJAKAN ANGGARAN BELANJA NEGARA (Studi Kasus Anggaran Belanja Kementerian Kesehatan Dalam Mencapai Target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Bidang Kesehatan
Tahun 2010-2014)
Janji Mustawa1
Abstrak
Kesehatan merupakan hal yang sangat dibutuhkan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Masyarakat yang sehat tentu akan membawa dampak positif terhadap pembangunan. Untuk menciptakan kesehatan bagi masyarakat tidak hanya menjadi tanggungjawab atau kesadaran individu sebagai manusia namun juga harus ada intervensi yang dilakukan oleh pemerintah yang diwakili oleh Kementerian Kesehatan dalam melaksanakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Upaya untuk mengintervensi kondisi kesehatan masyarakat dituangkan dalam kebijakan-kebijakan yang salah satunya ada pada RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) yang diselenggarakan selama lima tahun. Dalam RPJMN dari program, sasaran, dan indikator keberhasilan yang telah ditentukan. Untuk mencapai target yang telah dibuat tentunya ada sumberdaya yang digunakan oleh Kementerian Kesehatan salah satunya adalah anggaran. Anggaran akan berpengaruh besar dalam pencapaian target RPJMN 2010-2014 Kesehatan. Alokasi anggaran yang tertuang dalam Undang-Undang No 36 tahun 2009 tentang Kesehatan sebesar 5% dari total belanja negara diluar dari gaji pegawai. Namun pada kenyataannya anggaran kesehatan pada RPJMN 2010-2014 dan realisasinya tidak sempai 5%, Anggaran yang tidak memenuhi konstitusi tersebut juga tidak dikelola dengan baik. Kedua permasalahan ini kemudian akan mempengaruhi dari pencapaian RPJMN 2010-2014 Kesehatan.
Kata Kunci : Kesehatan, Anggaran, RPJMN
Pendahuluan
Kesehatan merupakan suatu kebutuhan masyarakat yang sangat penting. Karena masyarakatlah yang menunjang pertumbuhan ekonomi suatu Negara.Tanpa masyarakat yang sehat mustahil bagi suatu Negara untuk meningkatkan produktifitas kerja dan menunjang pertunbuhan ekonomi. Sebagai kebutuhan dasar masyarakat, pelayanan kesehatan warga Negara wajib dipenuhi oleh pemerintah dengan sebaik-baiknya sesuai dengan amanat UUD 1945 yang diatur pada pasal 28H ayat 1.2
Pentingnya pelayanan Kesehatan bagi masyarakat juga dibahas dalam pertemuan dengan negara anggota PBB pada tahun 1990, merumuskan suatu konsep yang bertujuan sebagai indikator keberhasilan Negara guna pemenuhan dasar hak-hak rakyatnya. Konsep ini sering kita sebut dengan MDGs (millennium development goals) yang berisi delapan tujuan yang harus dipenuhi pemerintah terhadap rakyatnya. Delapan tujuan tersebut adalah menanggulangi kemiskinan, pendidikan dasar untuk semua, medorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, menurunka n
1 Penulis adalah mahasiswa Ilmu Politik Tahun 2010.
2
angka kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, memerangi HIV/AIDS dan penyakit menular lainnya, memastikan keberlangsungan lingkungan hidup, membangun kemitraan global. Kedelapan poin inilah merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh negara anggota PBB dengan target-target pencapaian yang telah dirumuskan sampai pada tahun 2015 mendatang. Dari kedelapan variabel tersebut ada tiga poin yang bersinggungan langsung dengan pelayanan kesehatan, yaitu menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, memerangi HIV/AIDS dan penyakit menular lainnya.
Di Indonesia Kementerian Kesehatan memiliki tanggungjawab dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Untuk memenuhi tanggungjawab tersebut, ada dua faktor penting yang akan mempengaruhi tingkat pelayanan kesehatan pada masyarakat. Pertama, target yang telah ditetapkan oleh pemerintah baik itu RKP (Rencana Kerja Pemerintah), RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) dan RPJP (Rencana Pembanguna n Jangka Panjang). RKP merupakan rencana kerja pemerintah yang harus direalisasikan dalam waktu satu tahun yang dirumuskan berdasarkan RPJMN. Sedangkan RPJMN merupakan penjabaran visi dan misi presiden terpilih dan harus direalisasikan dalam jangka waktu lima tahun. Kedua, alokasi anggaran yang diberikan untuk memenuhi target RPJMN tersebut.
Pada dokumen RPJMN 2010-2014 Kesehatan yang ada dalam buku evaluasi paruh waktu RPJMN 2010-2014 yang dikeluarkan oleh BAPENAS/Kementerian PPN pada lampiran 3 (tiga) memiliki 15 prioritas kegiatan, 15 sasaran kegiatan dan 28 indikator kesehatan. Diantaranya adalah Bidang kesehatan masyarakat, Pelaksanaan upaya kesehatan preventif terpadu yang meliputi: Penurunan tingkat kematian ibu saat melahirkan dari 228 (2007) menjadi 118 per 100.000 kelahiran hidup (2014); Penurunan tingkat kematian bayi dari 34 (2007) menjadi 24 per 1.000 kelahiran hidup (2014); Pemberian imunisasi dasar kepada 90% bayi pada tahun 2014; Penyediaan akses sumber air bersih yang menjangkau 67% penduduk dan akses terhadap sanitasi dasar berkualitas yang menjangkau 75% penduduk sebelum tahun 2014.
Bidang sarana kesehatan, dengan target ketersediaan dan peningkatan kualitas layanan rumah sakit berakreditasi internasional di minimal 5 kota besar di Indone sia dengan target 3 kota pada tahun 2012 dan 5 kota pada tahun 2014. Bidang Obat, target Pemberlakuan Daftar Obat Esensial Nasional sebagai dasar pengadaan obat di seluruh Indonesia dan pembatasan harga obat generik bermerek pada tahun 2010. Bidang asuransi kesehatan nasional, target Penerapan Asuransi Kesehatan Nasional untuk seluruh keluarga miskin dengan cakupan 100% pada tahun 2011 dan diperluas secara bertahap untuk keluarga Indonesia lainnya antara tahun 2012-2014. Bidang Keluarga Berencana, dengan target peningkatan kualitas dan jangkauan layanan KB melalui 23.500 klinik pemerintah dan swasta selama 2010-2014. Pengendalian penyakit menular, target menurunnya angka kesakitan akibat penyakit menular pada 2014, yang ditandai dengan: menurunnya prevalensi tuberculosis dari 235 menjadi 224 per 100.000 penduduk; menurunnya kasus malaria (annual parasite index-api) dari 2 menjadi 1 per 1.000 penduduk; terkendalinya prevalensi HIV pada populasi dewasa (persen) hingga menjadi < 0,5.
3
masuk 10 besar Kementerian yang mendapat alokasi terbesar. Bahkan Kementerian Kesehatan berada posisi kelima dari 10 Kementerian yang mendapat belanja terbanyak pada RAPBN 2014. Anggaran Kementerian Kesehatan tersebut setiap tahun mengalami kenaikan baik secara persentase maupun nominal, kenaikkan anggaran tersebut tidak diikuti dengan belanja fungsi Pemerintah pusat. Belanja fungsi kesehatan pada RAPBN 2014 hanya sebesar 12 trilyun atau 1,35%. Belanja fungsi kesehatan ini cenderung fliktuatif dari tahun 2007-2014, ini menandakan bahwa alokasi anggaran di Kementerian Kesehatan tidak sepenuhnya digunakan untuk pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Dalam UU No 36 tahun 2009 pasal 171 tentang kesehatan diatur tentang anggaran kesehatan sebesar 5% dari APBN diluar gaji pegawai. Jumlah anggaran yang diatur dalam Undang-Undang tersebut tentunya masih sangat minim. Jika dibandingkan dengan Negara-negara berkembang lainnya seperti singapura dan Malaysia yang memiliki jumlah anggaran lebih dari 10% dari belanja Negara. Apalagi jika kita melihat jumlah penduduk Indonesia yang besar kurang lebih 250 juta dan rata-rata tidak memiliki akses kesehatan yang memadai terutama di Indonesia bagian timur.
Tahun 2009 dimana Undang-Undang kesehatan itu disahkan, tidak serta-merta pemerintah mentaati amanat Undang-Undang tersebut. Pada tahun 2009 anggaran kesehatan hanya 3% dari belanja negara, dan sampai dengan tahun 2012 anggaran tersebut tidak beranjak dari 3%. Alokasi anggaran untuk kesehatan ini sampai sekarangpun belum mencapai amanat UU No 36 tahun 2009. Bahkan sejak tahun 2007-2014 belanja fungsi kesehatan rata-rata hanya 1,35% dari belanja Negara. Dengan memenuhi ketentuan Undang-Undang Kesehatan saja jumlah anggarannya tadi kita asumsikan masih sangatlah kurang apa lagi jika tidak memenuhi Undang-Undang tersebut. Jumlah ini tentunya sangat minim guna memberikan pelayanan kesehatan yang layak bagi masyarakat Indonesia yang sebagian besar kurang memahami bagaimana hidup sehat dan menjaga kesehatan.
Teori Perencanaan
Perencanaan atau planning merupakan salah satu tahapan manajemen di setiap organisasi. Dalam penggunaannya planning sering diartikan sama atau diterjemahka n dengan istilah rencana atau a plan, yang pada dasarnya memiliki perbedaan pokok. George R. Terry mengatakan bahwa planning adalah suatu proses, suatu aktivitas, sedang plan (rencana) adalah suatu kewajiban/perbuatan yang dianggap perlu untuk mencapai hasil tertentu.3 Dengan demikian antara plan (rencana) dan planning (perencanaan) sangat berkaitan erat. Rencana merupakan hasil yang diperoleh setelah sebuah organisasi melakukan perencanaan. Perencanaan ini digunakan oleh organisasi sebagai sebuah pedoman arah gerak organisasi untuk mencapai sebuah tujuan yang dicita-citakan. P lanning (Perencanaan) ialah suatu proses pemikiran yang rasional dan penetapan secara tepat dari berbagai macam persoalan yang akan dikerjakan untuk masa yang akan datang dalam usaha untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.4
4
Politik Anggaran
Politik anggaran adalah penetapan berbagai kebijakan tentang proses anggaran yang mencakup berbagai pertanyaan bagaimana pemerintah membiayai kegiatannya, bagaimana uang publik didapatkan, dikelola dan disdistribusikan, siapa yang diuntungkan dan dirugikan, peluang-peluang apa saja yang tersedia baik untuk penyimpangan negatif maupun untuk meningkatkan pelayanan publik.
Selain itu ada 3 pengertian lainnya yang menjelaskan tentang politik anggaran yaitu sebagai berikut :
Politik anggaran bisa juga diartikan sebagai proses saling mempengaruhi di antara berbagai pihak yang berkepentingan dalam menentukan skala prioritas pembangunan akibat terbatasnya sumber dana publik yang tersedia.
Politik anggaran adalah proses mempengaruhi kebijakan alokasi anggaran yang dilakukan oleh berbagai pihak yang berkepentingan dengan anggaran.
Politik anggaran adalah proses penegasan kekuasan atau kekuatan politik di antara berbagai pihak yang terlibat dalam penentuan kebijakan maupun alokasi anggaran.
Sejak awal hingga saat ini anggaran merupakan bagian integral dari sistem politik bangsa, karena anggaran diletakkan pada pengambilan kebijakan publik, artinya dapat dimaknai sebagai investasi politik warga dengan memiliki hak untuk menentukan dalam setiap proses politik yang diselenggarakan negara. Upaya untuk menemukan formulasi yang tepat dalam penentuan anggaran adalah mengena i keadilan anggaran, maka seharusnya politik anggaran tentu akan berkaitan erat dengan usaha negara dan pemerintah memberikan jaminan sosial yang tepat bagi rakyat. Pola hubungan yang transparan, akuntabel, demokratis antara pemerinta h dengan rakyat akan berdampak pada rasa curiga akan terhindari manakala mampu melakukan proses dengan baik.5
Untuk menciptakan budaya birokrasi yang baik dan ditumjang oleh mekanisme kerja yang sistematis dalam pengelolaan anggaran maka ada beberapa asas yang biasa dan telah lama digunakan dalam sistem penganggaran dan pengelolaan keuangan negara. seperti asas tahunan, asas universalitas, asas kesatuan dan asas spesialitas. Namun harus dipahami juga dalam pengelolaan anggaran yang baik harus memenuhi prinsip-prinsip anggaran yaitu : Transparan, akuntabel, ekonomis, efisiensi dan efektif, disiplin anggaran, format anggaran, rasional dan terukur, keadilan anggaran, pendekatan kinerja, dokumen publik.6
Kondisi kesehatan Masyarakat Indonesia
Kesehatan menurut WHO (world health organization) adalah keadaan fisik, mental dan kesejahteraan sosial secara lengkap dan bukan hanya sekedar tidak mengidap penyakit atau kelemahan. Sementara itu pengertian kesehatan berdasarkan UU No 36 tahun 2009 tentang Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Dari pengertian diatas masyarakat Indonesia yang tergolong produktif adalah manusia yang sehat secara fisik, mental, spritual dan sosial.
5
Terkait dengan kesehatan mental atau kejiwaan, berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Sekitar 0,46 persen dari total populasi Indonesia atau setara dengan 1.093.150 penduduk Indonesia berisiko mengala mi gangguan jiwa berat.7 Parahnya lagi hanya 10 % dari total penderita gangguan jiwa yang memeriksakan diri ke Rumah Sakit dan mendapatkan pelayanan kesehatan. Hal ini disebabkan karena ketidaktahuan masyarakat tentang gangguan jiwa dan Undang – Undang No 3 tahun 1966 tentang kesehatan jiwa sudah terlalu lama dan tidak sesuai dengan perkembangan zaman, sedangkan Undang-Undang yang baru masih menjadi wacana di Komisi IX DPR RI.
Isu mengenai kesehatan masyarakat di Indonesia memang masih jarang sekali diungkap baik oleh media massa maupun oleh pemerintah. Pemerintah seolah menutup mata terhadap kondisi kesehatan masyarakatnya. Survei-survei dunia Internasional tentang kesehatan masyarakat diberbagai negara sangat banyak, diantaranya adalah angka harapan hidup, IPM (Indeks Pembangunan Manusia) dll. Bahkan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) melalui komitmen besar anggota-anggotanya membuat agenda pembangunan yang sangat baik melalui Millenium Development Goals (MDGs) yang terbagi menjadi 8 tujuan (goals), 20 target dan 60 indikator, yang hampir semua tujuannya memiliki keterkaitan erat dengan kesehatan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia yang salah satu Indikatornya adalah angka harapan hidup dan berkaitan langsung dengan kesehatan mengala mi peningkatan. Berdasarkan data yang diliris UNDP (United Nations Development P rogramme) tiga tahun terakhir 2010-2012 IPM Indonesia terus meningkat, pada tahun 2010 sebesar 0,600, 2011 sebesar 0,617, dan tahun 2012 0,629. Kenaikkan ini menempati Indonesia pada peringkat 121 dari 185 negara. Walaupun meningkat Indonesia masih tergolong kepada negara kelas menenga h kebawah jika dilihat dari peringkatnya di dunia Internaional, dan masih sangat jauh dari negara Norwegia diperingkat pertama IPM sebesar 0,965.
Sementara itu angka harapan hidup masyarakat Indonesia berdasarkan data WHO tahun 2011 adalah 68 tahun untuk laki-laki dan 71 tahun untuk wanita. Angka statistik ini menempatkan Indonesia di 108 dari 191 anggota PBB. Data statistik dari organisasi internasional ini menunjukkan Indonesia masih berada pada negara yang menengah kebawah dalam melakukan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Data WHO juga menyebutkan bahwa jumlah kematian bayi dan jumlah kematian balita di Indonesia juga masih sangat tinggi. tahun 2012 jumlah kematian bayi berjumlah 31 per 1.000 kelahiran hidup dan angka kematian balita 26 per 1.000. jumlah ini masih sangat besar daripada Negara-negara tetangga kita Malaysia dan singapura. Dan jumlah kematian manusia dewasa yang berada dalam usia produktif 16-60 tahun, pada 2011 rata-rata 183 orang per 1.000 populasi, kematian manusia diusia produktif ya ng sangat banyak ini merupakan kerugian besar bagi pemerintah karena pembanguna n dapat terhambat apalagi kematian didominasi oleh penduduk berjenis kelamin laki-laki.
Dari segi penyakit menular, indonesia merupakan negara yang banyak penduduknya rawan terserang penyakit. Tercatat ada beberapa penyakit menular yang
6
belum bisa teratasi dengan baik seperti HIV/AIDS, Tuberkulosis, Avian influenza (flu burung), khusus jenis penyakit yang terakhir Indonesia dianggap sebagai tempat yang paling rawan untuk penyakit yang muncul karena iklim, keanekaragaman hayati, interaksi yang dekat antara manusia dengan binatang, kerusakan hutan dan perubahan tata guna lahan.8 Belum lagi penyakit-penyakit menular yang menghinggapi negara-negara tropis seperti kaki gajah dan cacing usus, sebanyak 125 juta orang Indonesia beresiko terkena penyakit ini.
Kondisi keadaan lingkungan yang sehat di Indonesia juga sangat mengkhawatirkan. Penyakit yang diakibatkan oleh air, sanitasi dan masalah kebersihan (hygiene) berdasarkan data World Health Organization (WHO) 2008 menyumbangkan 3,5 persen dari total kematian di Indonesia, Sedangkan salah satu penyakit akibat ketiga hal tersebut, yaitu diare, menyumbang kematian nomor satu pada balita di Indonesia sebesar 25 persen.9 Selain menyebabkan kematian pada balita, hal ini juga mengakibatkan kerugian secara finansial bagi pemerintah data dari Water Sanitation Programme (WSP) World Bank pada 2008 menunjukkan sanitasi yang buruk menyebabkan kerugian sebesar Rp1,4 triliun di sektor pariwisata dan Rp29 triliun di sektor kesehatan.10
Rendahnya peringkat Indonesia jika dibandingkan dengan Negara-negara anggota PBB dalam memenuhi pelayanan kesehatan kepada penduduknya dipengaruhi oleh beberapa faktor. Diantaranya adalah infrastruktur yang kurang memadahi, kesenjangan fasilitas kesehatan, kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan yang minim terutama didaerah Indonesia bagian timur, dan ketersediaan obat yang minim.
Tahun 2012 Indonesia mempunyai 1.744 Rumah Sakit yang terakreditasi oleh Kementerian Kesehatan, baik itu rumah sakit umum maupun rumah sakit khusus. Namun hanya ada lima rumah sakit yang memiliki akreditasi Internasional dari Joint Commission-Accreditation (JCI) diantaranya adalah RS Siloam Karawaci Hospital, RS Eka Bumi Serpong Damai di Tangerang, RS Santosa Bandung dan RS Bintaro Premier dan RS Premier Jatinegara di Jakarta. Semua rumah sakit yang memilik i akreditasi Internasional ini merupakan Rumah Sakit Swasta, dan berlokasi di Pulau Jawa dekat dengan Ibukota Negara.
Kemudian Puskesmas yang merupakan tumpuan pelayanan kesehatan bagi masyarakat menengah kebawah di Indonesia ternyata kondisi dan jumlahnya sangat memprihatinkan. Data yang dikeluarakan oleh Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan, semua Rumah Sakit dan Puskesmas Di Indonesia kekurangan ruangan rawat inap dan Kasur dengan perbandingan 1/1.000 penduduk. Dari kondisi kesehatan masyarakat Indonesia yang masih sangat kekurangan. Kementerian Kesehatan sebagai penanggungjawab dalam menyelenggarakan kesehatan perlu melakukan kebijakan yang pro terhadap penyehatan lingkungan dan infrastruktur kesehatan yang memadai guna memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Kedua elemen
8 KESEHATAN, http://www.usaid.gov/id/indonesia/health, diakses 2 Maret 2014. Jam 12.20.
9 Krisis Air Bersih, Cirebon Wa spa da Wa ba h Dia re , http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/11/10/09/lsssp5-air-sanitasi-dan-masalah-kebersihan-masih-sumbang-kemat ian, diakses 2 maret 2013. Jam 12.50 WIB.
7
kesehatan tersebut merupakan faktor terpenting dalam meningkatkan drajat kesehatan masyarakat Indonesia.
Kebijakan RPJMN 2010-2014 Kesehatan
Sistem perencanaan pembangunan nasional Indonesia mengharuska n pemerintah membuat acuan atau rancangan kerja yang sistematis dan disesuaikan dengan isu-isu atau kekurangan dalam pencapaian perancanaan pembangunan tahun-tahun sebelumnya. RPJMN yang dilaksanakan dalam jangka waktu lima tahun-tahun dilandaskan dengan Peraturan Pemerintah No 40 tahun 2006. Bidang kesehatan memiliki prioritas dalam meningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, antara lain, ditandai oleh meningkatnya angka harapan hidup, menurunnya tingkat kematian bayi, dan kematian ibu melahirkan.11 Tabel 1 dibawah ini menunjukkan rencana pembangunan kesehatan selama lima tahun sekaligus dengan pagu anggaran yang dibutuhkan yang dilakukan oleh pemerintah.
Tabel 1 RPJMN 2010-2014 Kesehatan
Pelaksanaan upaya kesehatan preventif terpadu yang meliputi: penurunan tingkat kematian ibu saat melahirkan dari 228 (2007) menjadi 118 per 100.000 kelahiran hidup (2014); penurunan tingkat kematian bayi dari 34 (2007) menjadi 24 per 1.000 kelahiran hidup (2014 ); pemberian imunisasi dasar kepada 90% bayi pada tahun 2014 penyediaan akses sumber air ber sih yang menjangkau 67% penduduk dan akses terhadap sanitasi dasar berkualitas yang menjangkau 75% penduduk sebelum tahun 2014.
1 Pe mbinaan Pe layanan Ke se hatan ibu dan re pruduksi
2 Pe mbinaan Pelayanan Kesehatan Anak
1.723
Cakupan pelayanan kesehatan bayi Persen
(%) 84 85 86 87 90
Cakupan pelayanan kesehatan balita Persen
(%) 78 80 81 83 85
3 Pe mbinaan Imunisasi dan Karantina Kesehatan
1.205,
8
akses terhadap air minum berkualitas Persen
(%) 62 62,5 63 63,5 67
6* Pe ngaturan, pembangunan, pegawasan, dan pelaksanaan pe ngembangan sistem pe nyediaan air minum*
9.900
1.063 kawasan dan 4.650
desa Jumlah kawasan dan desa yang terfasilitasi pembangunan air minum
7* Pe ngaturan, pembangunan, pegawasan, dan pelaksanaan pe ngembangan sanitasi dan pe rsampahan*
10.845
Ketersediaan dan peningkatan kualitas layanan rumah sakit berakreditasi internasional di minimal 5 kota besar di Indonesia de ngan target 3 kota pada tahun 2012 dan 5 kota pada tahun 2014
1 Pe mbinaan Upaya Ke sehatan Rujukan
434,5
Pemberlakuan Daftar Obat Esensial Nasional sebagai dasar pengadaan obat di seluruh Indonesia dan pembatasan harga obat generik bermerek pada tahun 2010
1 Pe ningkatan ketersediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan
7.473,
4. Asuransi Ke se hatan Nasional
Penerapan Asuransi Kesehatan Nasional untuk seluruh keluarga miskin dengan cakupan 100% pada tahun 2011 dan diperluas secara bertahap untuk keluarga Indonesia lainnya antara tahun 2012 -2014
1 Pe mbinaan Pengembangan Pembiayaan dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan
824,4
2 Pe layanan kesehatan rujukan bagi masyarakat miskin (jamkesmas)
24.782
3 Pe layanan kesehatan dasar bagi masyarakat miskin (jamkesmas)
6.477,
Peningkatan kualitas dan jangkauan layanan KB melalui 23.500 klinik pemerintah dan swasta selama 2010 -2014
1* Pe ngembangan kebijakan dan pembinaan kesertaan ber-KB
4.478,
9
Menurunnya angka kesakitan akibat penyakit menular pada 2014, yang ditandai dengan: Menurunnya prevalensi T uberculosis dari 235 menjadi 224 per 100.000 penduduk; Menurunnya kasus malaria (Annual Parasite Index -API) dari 2 menjadi 1 per 1.000 penduduk; T erkendalinya prevalensi HIV pada populasi dewasa (persen) hingga menjadi < 0,5.
1 Pe ngendalian Penyakit Menular Langsung
1.237,
Persentase kasus baru T B Paru (BTA positif) yang ditemukan
persen (%)
73 75 80 85 90
Persentase kasus baru T B Paru (BTA positif) yang disembuhkan
2 Pe ngendalian penyakit bersumber binatang
1.254
Data RPJMN 2010-2014 memperlihatkan ketidakseriusan pemerintah dalam memperbaiki kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia. Pada tabel 4.4 diatas tidak ada prioritas program untuk menanggulangi masyarakat yang mengalami ganggua n jiwa. Padahal angka penderita gangguan jiwa di Indonesia lumayan tinggi, sebagian besar masyarakat yang mengalami gangguan jiwa tidak mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak. Tabel 1 menggambarakan minimnya optimisme atau kerja keras dari pemenrintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan. Dengan anggaran yang cukup, rata-rata target yang ingin dicapai sangatlah minim. Seperti program Pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat miskin (Jamkesmas) yang mempunya i anggaran sebesar Rp 6.477 Milyar, mereka hanya menargetkan 9.000 Puskesmas yang angka awalnya 8.481 Puskesmas, ini berarti dalam lima tahun Kementerian Kesehatan hanya membuat 519 Puskesmas. Jumlah ini sangatlah minim untuk mempermuda h akses masyarakat terhadap layanan kesehatan padahal jumlah masyarakat miskin di Indonesia pada tahun 2013 berdasarkan data BPS sebanyak 28 Juta orang dan penduduk miskin rata-rata rentan terhadap masalah kesehatan.
Kemudian program pengendalian penyakit menular langsung, diantaranya ada Prevalensi tuberkolosis dengan selisih 0,3 % dari target, Prevalensi HIV selisih 11%, Persentase kasus baru tuberculosis paru dengan jenis bakteri yang tahan asam positif (BTA positif) yang ditemukan selisih 17%, Persentase kasus baru tuberculosis paru (BTA positif) yang disembuhkan selisih 3%, Persentase penduduk 15 tahun ke atas menurut pengetahuan tentang HIV dan AIDS selisih 30% dalam lima tahun. Padahal untuk melaksanakan program tersebut mereka mengalokasikan dana sebesar Rp 1,237,3 milyar. Target yang ingin dicapai Kementerian Kesehatan dalam Persentase kasus baru tuberculosis paru (BTA positif) yang ditemukan sebesar 90% namun yang ingin disembuhkan hanya 88%, ini menandakan bahwa ada 2% masyarakat Indonesia yang mengidap penyakit TB Paru tidak disembuhkan.
10
indikator kesehatan persentase penduduk yang memiliki akses terhadap air minum berkualitas dan persentase penduduk yang menggunakan jamban berkualitas. Padahal seperti yang sudah kita urai sebelumnya bahwa lingkungan yang kurang sehat dan minimnya air minum berkualitas menyebakan kematian balita yang sangat besar karena penyakit diare.
Analisis Anggaran Kesehatan 2010-2014
Anggaran Kesehatan merupakan salah satu elemen penting dalam terlaksananya kebijakan prioritas kesehatan yang diterapkan pada RPJMN 2010-2014. UU No 36 tahun 2009 pasal 170 menyebutkan pembiayaan kesehatan bertujuan untuk penyediaan pembiayaan kesehatan yang berkesinambungan dengan jumlah yang mencukupi, teralokasi secara adil, dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan agar meningkatkan derajat kesehatan masyarakat setinggi-tingginya. Sumber dari pembiayaan kesehatan ini berasal dari Pemerintah, Pemerintah Daerah, masyarakat, swasta dan sumber lain.12 Peraturan ini menggambarkan bahwa dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan pemerintah, masyarakat dan swasta bergotong-royong dalam melakukan pembiayaan kesehatan.
UU No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 171, juga membuat suatu patokan bagi pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dalam mengalokas ika n anggaran kesehatan sebagaimana berikut :
1. Besar anggaran kesehatan Pemerintah dialokasikan minimal sebesar 5% (lima persen) dari anggaran pendapatan dan belanja negara di luar gaji.
2. Besar anggaran kesehatan pemerintah daerah provinsi, kabupaten/kota dialokasikan minimal 10% (sepuluh persen) dari anggaran pendapatan dan belanja daerah di luar gaji.
3. Besaran anggaran kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diprioritaskan untuk kepentingan pelayanan publik yang besarannya sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari anggaran kesehatan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara dan anggaran pendapatan dan belanja daerah.
UU inilah yang seharusnya menjadi acuan bagi pemerintah dalam melaksanakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Gambar 1 Alokasi Anggaran Kesehatan dan Kementerian Kesehatan
11
Sumber : Diolah dari UU APBN tahun 2010-2014
Namun fakta menyebutkan keadaan yang berbeda, sejak dikeluarkannya UU Kesehatan pada tahun 2009 alokasi anggaran kesehatan tidak pernah sampai 5 % sesuai dengan amanat kontitusi. Pada gambar 4.6. dari tahun 2010-2014 pemerinta h mengalokasikan anggaran kesehatan rata-rata sebesar 3,54 % dari Anggaran belanja negara. Sedangkan alokasi anggaran untuk Kementerian Kesehatan rata-rata hanya 2 % dari Anggaran belanja negara.
Pada Tahun 2010 anggaran Kesehatan hanya sebesar Rp 31.584 milyar atau 2,99% dari APBN, kemudian meningkat cukup signifikan pada tahun 2011 sebesar Rp 43.813 milyar atau 3,56%. Kenaikkan ini dikarenakan APBN pada tahun tersebut tumbuh sebesar 16,38% dari tahun sebelumnya, bukan karena pemerintah lebih memperhatikan sektor kesehatan ini. Tren kenaikkan anggaran Kesehatan ini terus berlanjut sampai pada tahun 2014 yang sebesar Rp 67.500 milyar.
Anggaran yang tidak mencapai Konstitusi tersebut sebenarnya sudah dipermasalahkan oleh masyarakat Indonesia. Kongres Kesehatan Rakyat Indonesia (KKRI) yang terdiri dari sejumlah organisasi profesi bidang kesehatan, telah mengajukan judicial review terhadap Rancangan Undang-Undang (RUU) APBN 2014 ke Mahkamah Konstitusi (MK). Gugatan ini dilancarkan lantaran RAPBN dinilai tidak memenuhi amanah UU No 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, khusus mengenai besaran anggaran kesehatan minimal 5% dari belanja APBN. Namun upaya tersebut gagal karena anggaran kesehatan tetap tidak memenuhi amanat Konstitusi.
Pelanggaran pemerintah terhadap konstitusi ini menandakan bahwa perhatian Pemerintah Indonesia sangat minim terhadap permasalahan kesehatan padahal jumlah penduduk makin bertambah dan permasalahan kesehatan yang dihadapi akan semakin kompleks. Asumsi ini diperkuat oleh data yang dikeluakan oleh WHO (World Health Organization) Anggaran belanja pemerintah per kapita untuk kesehatan dengan menggunakan kurs rata-rata (US $) pada tahun 2011 hanya sebesar $ 32,4 per tahun dan menempatkan Indonesia di peringkat 151 dari 191 negara. Angka ini jauh dibawah Negara tetangga Malaysia sebesar $ 211,2 diperingkat 92, Thailand sebesar $ 152,3 diperingkat 107 atau bahkan Negara yang baru merdeka Timor leste sebesar $ 33,1 satu tingkat diatas Indonesia.
Kementerian Kesehatan yang bertanggungjawab dalam melaksanakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat tentunya mendapatkan ujian yang sangat berat. Anggaran Kesehatan yang tidak memenuhi konstitusi tersebut tidak sepenuhnya dikelola oleh Kementerian Kesehatan. Kementerian Kesehatan dari tahun 2010-2014
-12
hanya mengelola rata-rata 60% anggaran kesehatan. Sisanya 40 % dialokasikan melalui seluruh Kementerian atau Lembaga, subsidi untuk air bersih, Askes PNS (belanja pegawai), DAK (Dana Alokasi Khusus) Kesehatan, dan dana otonomi khusus kesehatan untuk Papua dan Papua Barat. Masuknya anggaran untuk Askes PNS pada anggaran Kesehatan ini sangat membebani dan melanggar konstitusi. Pada tahun 2012 Rp 2.646 milyar anggaran kesehatan dipergunakan untuk Askes PNS tersebut.
Anggaran Kementerian Kesehatan dari tahun 2011 meningkat 23 % dari tahun 2010 yang sebesar Rp 22.445 milyar menjadi Rp 27.657 milyar. Kemudian meningkat lagi di tahun 2012 sebesar Rp 29.916 milyar dan di tahun 2013 sebesar Rp 34.582 milyar dan meningkat kembali pada tahun 2014 sebesar Rp 46.459. Kenaikkan ini lebih disebabkan karena pada tahun 2010-2014 tersebut APBN selalu meningkat. Sehingga alokasi anggaran di setiap kementeria n ikut meningkat, namun meningkatnya anggaran Kementerian Kesehatan dalam angka nominal setiap tahunnya tapi secara persentase dari anggaran belanja Negara stagnan di kisaran 3-4%.
Pola penganggaran Kementerian Kesehatan juga menjadi permasalahan, pada tabel 4.5. kita bisa melihat bahwa program yang paling banyak menggunaka n anggaran adalah pelayanan Pelayanan kesehatan rujukan bagi masyarakat miskin (Jamkesmas) sebesar Rp 24,783 milyar. Jumlah tersebut masih tergolong kecil bagi masyarakat miskin yang berjumlah 28 juta orang, dengan alokasi sebesar itu maka hitung-hitungan kasarnya satu masyarakat miskin hanya memperoleh bantuan sebesar Rp 900 ribu dalam lima tahun. Inilah yang menyebabkan banyak kasus dimana masyarakat miskin ditelantarkan oleh pihak rumah sakit.
Tabel 2 Alokasi Anggaran Belanja Kementerian Kesehatan Berdasarkan Jenis Belanja (dalam Ribu rupiah)
2013
Unit O rganisasi Be lanja
Pe gawai Be lanja Barang Be lanja Modal Bantuan Sosial Jumlah
Sekretariat Jenderal 1,787,454,175 1,103,361,959 163,145,462 - 3,053,961,596
Inspektorat Jenderal 16,008,089 82,311,675 2,151,136 - 100,470,900
Ditjen Bina Gizi
Dan Kesehatan Ibu Dan Anak 30,078,032 1,910,165,976 34,684,033 - 1,974,928,041 Ditjen Bina Upaya Kesehatan 1,841,048,956 6,808,766,776 5,758,898,109 8,098,800,000 22,507,513,841 Ditjen Pengendaliaan Penyakit
Dan Penyehatan Lingkungan 221,547,042 1,046,404,720 364,435,557 7,850,000 1,640,237,319 Ditjen Bina Kefarmasian
Dan Alat Kesehatan 13,210,038 1,668,906,061 6,693,230 - 1,688,809,329 Badan Penelitian
Dan Pengembangan Kesehatan 80,432,909 437,597,297 35,216,733 - 553,246,939 Badan Pengembangan
Dan Pemberdayaan SDM Kesehatan 749,995,800 1,713,389,318 599,404,302 - 3,062,789,420 T otal 4,739,775,041 14,770,903,782 6,964,628,562 8,106,650,000 34,581,957,385
2014
Unit O rganisasi Be lanja
Pe gawai Be lanja Barang Be lanja Modal Bantuan Sosial Jumlah
Sekretariat Jenderal 1,662,976,303 1,914,118,208 1,696,789,437 19,937,480,000 25,211,363,948
13
Ditjen Bina Gizi
Dan Kesehatan Ibu Dan Anak 27,983,405 1,997,442,459 22,431,809 - 2,047,857,673 Ditjen Bina Upaya Kesehatan 1,712,838,758 7,062,198,529 4,193,233,168 - 12,968,270,455 Ditjen Pengendaliaan Penyakit
Dan Penyehatan Lingkungan 237,603,548 1,184,047,740 304,943,524 - 1,726,594,812 Ditjen Bina Kefarmasian
Dan Alat Kesehatan 13,292,615 1,444,722,229 25,973,642 - 1,483,988,486 Badan Penelitian Dan
Pengembangan Kesehatan 74,831,581 426,440,854 48,343,167 - 549,615,602
Badan Pengembangan Dan
Pemberdayaan SDM Kesehatan 697,766,276 1,629,459,059 43,646,250 - 2,370,871,585 T otal 4,442,185,776 15,741,432,971 6,337,934,714 19,937,480,000 46,459,033,461 Sumber : Diolah penulis dari rincian APBN tahun 2013 dan 2014
Anggaran yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan jika dilihat dari jenis belanja akan terlihat pada tabel 4.6. Dari data yang dikumpulkan pada tahun 2013 dan 2014 ada kenaikkan sebesar 34%, atau bertambah Rp 11.877 milyar pada tahun 2014. Kemudian jika kita melihat alokasi anggaran berdasarkan jenis belanja maka total yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan untuk belanja pegawai rata-rata sebesar Rp 4.590 milyar atau 12% dari total belanja, yang terbesar terjadi pada tahun 2013 sebesar Rp 4.739 milyar atau 14%. Jumlah ini sangat besar karena belanja pegawai hanya dialokasikan untuk pembayaran rutin gaji pokok dan tunjangan pegawai di Kementerian Kesehatan yang total memiliki 51.000 pegawai.
Belanja barang di Kementerian Kesehatan merupakan jenis belanja terbesar di Kementerian Kesehatan setiap tahunnya rata-rata sebesar 38 % dari total belanja. Tahun 2013 jumlah anggaran yang dikeluarkan sebesar Rp 14.770 milyar atau 43 % dari total belanja kementerian, dan meningkat di tahun 2014 sebesar Rp 15.741 milyar. Besarnya alokasi belanja barang ini juga merupakan pemborosan dan tidak berdampak signifikan terhadap pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Belanja ini terdiri dari belanja barang dan jasa, belanja pemeliharaan dan belanja perjalanan dinas. belanja barang ini lebih bersifat pengeluaran untuk menampung pembelian barang dan jasa yang habis pakai untuk memproduksi barang dan jasa yang dipasarkan maupun yang tidak dipasarkan serta pengadaan barang yang dimaksudkan untuk diserahkan atau dijual kepada masyarakat.
Belanja modal merupakan Pengeluaran anggaran yang digunakan, dalam rangka memperoleh atau menambah aset tetap dan aset lainnya yang memberi manfaat lebih dari satu periode akuntansi serta melebihi batasan minimal kapitalisasi aset tetap atau aset lainnya yang ditetapkan pemerintah. Aset Tetap tersebut dipergunakan untuk operasional kegiatan sehari-hari suatu satuan kerja bukan untuk dijual.13 Dalam artian diatas maka belanja modal menambah infrastruktur yang akan digunakan untuk kegiatan opersaional sehari – hari. Kementerian Kesehatan mengalokasikan belanja modal pada tahun 2013 sebesar Rp 6.964 milyar atau 20 % dari total belanja Kementerian, kemudian berkurang pada tahun 2014 sebesar Rp 6.337 milyar. Berkurangnya anggaran belanja modal di Kementerian Kesehatan ini menandakan akan berkurangnya infrastruktur, sarana dan prasarana yang akan dibangun guna menjalankan tugas melayani masyarakat.
14
Belanja bantuan sosial merupakan belanja yang memiliki kenaikkan cukup signifikan di tahun 2014. Pada tahun 2013 Rp 8.106 milyar kemudian meningkat lebih dari 100% di tahun 2014 sebesar Rp 19.937 milyar. Kenaikkan belanja bantuan sosial berarti juga meningkatkan pelayanan langsung kepada masyarakat. Karena belanja bantuan sosial ini pada dasarnya merupakan anggaran yang diberikan kepada masyarakat untuk menanggulangi resiko – resiko sosial yang akan maupun sedang terjadi. Pada tahun 2013 belanja bantuan sosial dialokasikan ke dua unit organisasi yaitu Bina upaya kesehatan sebesar Rp 8.098 milyar dan Ditjen pengendaliaa n penyakit dan penyehatan lingkungan Rp 7 juta, namun di tahun 2014 Belanja bantuan sosial dimonopoli oleh Sekertariat Jenderal dan sebagian besar digunakan untuk kegiatan pembinaan, pengembangan pembiayaan dan jaminan pemeliharaa n kesehatan.
Pemborosan Anggaran Di Kementerian Kesehatan
Kementerian Kesehatan memiliki anggaran yang cukup besar jika dilihat dari alokasi belanja pemerintah pusat ke Kementerian atau Lembaga, walaupun pada kenyataannya anggaran tersebut tidak memenuhi amanat konstitusi. Dengan alokasi anggaran yang sedemikian tersebut seharusnya dapat digunakan oleh Kementerian Kesehatan untuk mengadakan pelayanan kepada masyarakat.
Alokasi anggaran di Kementerian Kesehatan pada tahun 2013-2014 banyak terjadi pemborosan dan berpotensi juga terjadi pada tahun-tahun sebelumnya karena anggaran ini disusun satu tahun sekali dan kecenderungannya selalu mengala mi kenaikain. Pemborosan anggaran yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan diantaranya adalah Belanja Rutin layanan Perkantoran, pengadaan dan perawatan kendaraan bermotor, dan perawatan gedung yang total menghabiskan Rp 3.127 milyar pada tahun 2013 dan Rp 3.267 milyar Tahun 2014 atau rata-rata sekitar 10 % dari total Anggaran Kementerian Kesehatan.
Belanja layanan kantor di Kementerian Kesehatan memiliki anggaran yang sangat besar total rata-rata dihabiskan Rp 2,278 milyar untuk kedua Item ini yang terbagi menjadi belanja layanan perkantoran Rp 1.629 milyar dan belanja fasilitas dan peralatan kantor sebesar Rp 650 milyar. Ada 59 item layanan perkantoran yang harus dibayarkan Kementerian Kesehatan dan yang terbesar dari penggunaan layanan tersebut adalah Sekertariat jenderal sebanyak 20 item.
Jika kita melihat tabel dibawah ini maka eselon yang paling banyak melakukan belanja layanan perkantoran adalah Badan pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan rata-rata Rp 1.066 milyar, Ditjen pengendaliaa n penyakit dan penyehatan lingkungan rata-rata Rp 310 milyar, Badan penelitian dan pengembangan kesehatan rata-rata Rp 125 milyar, Ditjen bina gizi dan kesehatan ibu dan anak rata-rata Rp 624 milyar, Ditjen bina kefarmasian dan alat kesehatan rata-rata Rp 28 milyar, Inspektorat jenderal rata-rata Rp 22 milyar, Ditjen bina upaya kesehatan rata-rata Rp 10 milyar, Sekretariat jenderal rata-rata Rp 1,6 milyar.
15
pakai. Penghematan anggaran ini nantinya bisa dialokasikan ke program pelayanan langsung kepada masyarakat.
Pemborosan kedua yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan yang kedua adalah pengadaan kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat. Tahun 2013-2014 anggaran pembelian kendaraan bermotor di Kementerian Kesehatan rata-rata sebesar Rp 105 milyar. Berdasarkan tabel 4.9 Ditjen buna upaya kesehatan memiliki anggaran rata-rata Rp 62 milyar tahun 2013-2014. Anggaran tersebut digunakan untuk membeli 32 kendaraan bermotor baik roda empat maupun roda dua, kendaraan bermotor dalam mendukung pelayanan kesehatan dasar sebanyak 20 unit, dan kendaraan khusus dua unit. Jumlah ini terbilang sangat mahal karena setiap satu unit kendaraan dihargai Rp 1,149 milyar.
Kemudian eselon kedua yang memiliki anggaran pengadaan kendaraan bermotor adalah Ditjen pengendaliaan penyakit dan penyehatan lingkungan yang rata-rata sebesar Rp 21 milyar. Anggaran yang cukup besar ini digunakan untuk pembelian kendaraan khusus sebanyak 26 unit, kendaraan bermotor sebanyak 76 unit dan kendaraan operasional roda dua sebanyak 20 unit. Badan pengembangan dan pemberdayaan SDM kesehatan mendapatkan jatah anggaran pembelian kendaraan bermotor rata-rata sebesar Rp 13 milyar, yang digunakan untuk membeli 83 unit kendaraan bermotor. Yang berarti satu unit kendaraan dihargai sebesar Rp 160 juta.
Sekertariat Jenderal Kementerian Kesehatan juga mendapatkan jumlah anggaran yang cukup besar rata-rata Rp 8 milyar digunakan untuk pengadaan kendaraan bermotor pada tahun 2013-2014. Anggaran tersebut digunakan untuk membeli 33 unit kendaraan bermotor roda empat dan dua unit kendaraan bermotor roda dua. Ditjen bina gizi dan kesehatan ibu dan anak juga mendapatkan anggaran Rp 732 juta yang digunakan untuk membeli dua unit kendaraan bermotor roda empat dan satu unit kendaraan bermotor roda dua. Dan yang terakhir adalah Badan penelit ia n dan pengembangan kesehatan Rp 40 juta yang digunakan untuk membeli dua unit kendaraan bermotor fungsional.
Jika kita menganalisis lebih dalam jumlah kendaraan yang dibeli oleh Kementerian Kesehatan sebagian besar bukanlah kendaraan khusus operasional kegiatan atau program kesehatan, melainkan kendaraan dinas yang digunakan sehari-hari oleh pejabat di lingkungan Kementeraian Kesehatan.
Anggaran perawatan gedung atau bangunan ini juga memiliki jumlah yang sangat besar, hampir Rp 1 trilyun digunakan untuk melakukan perawatan atau pembangunan gedung yang dimiliki oleh Kementerian Kesehatan. Pada tahun 2013 anggaran perawatan gedung mencapai Rp 862 milyar, kemudian mengala mi penurunan sedikit pada tahun 2014 sebesar Rp 855 milyar. Penurunan ini lebih disebabkan karena penurunan alokasi anggaran pada 2014 untuk Kementerian Kesehatan sehingga mereka dipaksa berhemat dalam membelanjakan anggarannya.
16
Selanjutnya Sekertariat Jenderal menggunakan dana sebesar Rp 65 milyar yang digunakan untuk pemeliharaan dua buah gedung dan pemeliharaan gedung penanggulangan krisis kesehatan regional. Sementara itu Ditjen bina gizi dan kesehatan ibu dan anak memiliki Rp 14 milyar yang digunakan untuk perawatan dua buah gedung selama satu tahun. Rp 8 milyar juga digunakan Badan penelitian dan pengembangan kesehatan untuk pemeliharaan tiga unit laboratorium dan satu unit gedung/bangunan. Ditjen bina kefarmasian dan alat kesehatan memiliki anggaran yang paling sedikit Rp 667 juta digunakan untuk satu unit bangunan.
Anggaran untuk pemeliharaan gedung/bangunan selama satu tahun ini tentunya sangatlah besar. Contohnya adalah pemeliharaan satu unit gedung dengan luas 1.200 M2, di Ditjen bina kefarmasian dan alat kesehatan menggunakan anggaran sebesar Rp 667 juta dalam satu tahun. padahal harga pemeliharaan sebesar itu dapat membuat satu unit gedung baru dengan luas tanah yang sama. Hal ini juga terjadi di eselon lain dilingkungan Kementerian Kesehatan.
Kesimpulan
RPJMN 2010-2014 Kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kondisi kesehatan masyarakat Indonesia yang tidak mengalami peningkatan secara signifika n. Didalam rencana pembangunan lima tahunan itu terdapat program-program yang seharusnya mampu mengentaskan permasalahan-permasalahan kesehatan yang ada di Indonesia. Namun pada kenyataannya banyak dari rencana pembangunan di bidang kesehatan itu diperkirakan akan meleset dari apa yang sudah direncanakan sebelumnya.
Faktor utama yang mempengaruhi melesetnya target-target pembangunan di bidang kesehatan ini adalah ketersediaan anggaran yang minim, dan alokasi anggaran yang tidak tepat sasaran. UU No 36 Tahun 2009 tentang kesehatan sudah ditetapkan DPR RI sejak tahun 2009. Undang-Undang ini mengamanatkan anggaran kesehatan sebesar 5% dari APBN diluar dari belanja pegawai. Namun kenyataannya setelah melewati proses politik anggaran di DPR RI, ternyata anggaran kesehatan bukan merupakan prioritas bagi pemerintah. Ini terbukti sejak disahkannya Undang-Undang ini pada tahun 2009, anggaran kesehatan tidak pernah mencapai amanat konstitusi.
Anggaran minim tersebut diperparah dengan alokasi anggaran yang tidak tepat sasaran. Anggaran yang dikelola oleh kementerian kesehatan lebih banyak habis untuk belanja pegawai dan belanja rutin tahunan. Sehingga menyebabkan sulitnya Kementerian Kesehatan untuk mencapai target-target yang sudah ditetapkan dalam RPJMN 2010-2014 Kesehatan. Lebih lanjutnya hasil penelitian ini secara terperinci disimpulkan sebagai berikut :
1. Kondisi Kesehatan Masyarakat Indonesia dinilai sudah cukup membaik jika kita melihat dari Indikator IPM (Indeks Pembangunan Manusia) dan angka harapan hidup yang semakin meningkat.
2. Angka Kematian Ibu (AKI), keadaan gizi balita, sanitasi yang buruk dan pengendalian penyakit menular, serta masalah gangguan jiwa masyarakat Indonesia masih sangat tinggi.
3. Kualitas tenaga kesehatan dan kondisi infrastruktur kesehatan tidak merata antara Indonesia bagian barat dan Indonesia bagian timur.
17
5. Target pembangunan kesehatan yang ada dalam dokumen RPJMN 2010-2014 masih dipasang rendah dibeberapa indikator kesehatan.
6. Kementerian Kesehatan rata-rata hanya mendapat 60 % dari total Anggaran Kesehatan. Tabel dibawah ini menunjukkan alokasi anggaran yang diberikan ke Kementerian Kesehatan.
7. Pemerintah sepertinya lebih suka mengambil kebijakan “mengobati terlebih dahulu baru mencegah”.
8. Beberapa prioritas program yang ada dalam RPJMN 2010-2014 tidak menjadi prioritas dalam alokasi anggaran.
9. Berdasarkan jenis belanja, maka belanja pegawai dan belanja barang masih menggunakan anggaran yang cukup besar. Alokasi belanja modal dan belanja bantuan sosial minim.
10.Terjadi pemborosan anggaran sebesar Rp 3.000 Milyar digunakan untuk belanja layanan perkantoran, belanja fasilitas kantor, belanja kendaraan bermotor dan belanja perawatan gedung atau bangunan.
11.Dalam RPJMN 2010-2014 Ada 12 indikator kesehatan yang terancam gagal mencapai target pada tahun 2014 dan 15 indikator kesehatan yang berhasil mencapai target pada tahun 2013
Daftar Pustaka
Buku
Budiarjo, Miriam. 2008, Dasar-dasar ilmu politik, Jakarta: Gramedia.
laksmi, Adinda. 2013, Janji P olitik dalam kampanye dan realisasi anggaran pemerintah provinsi Jawa Timur, Skripsi tidak diterbitkan. Malang : FISIP Universitas Brawijaya.
Mardiasmo. 2009, Akuntansi sektor publik, Yogyakarta: Andi.
Moleong, Lexy. 2007, Metode P enelitian Kualitatif, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Munandar. 2007. Budgeting: P erencanaan Kerja, P engkoordinasian Kerja, P engawasan Kerja (edisi 2), Yogyakarta : BPFE.
Nazir, Muhammad. 1999, Metode penelitian. Jakarta: Erlangga.
Sari, afriana. 2012, Strategi Dan Inovasi P enca paian MDGs 2015 Di Indonesia. Bekasi : Universitas Islam ‘45’.
Silalahi, ulber. 2012, Metode P enelitian Sosial. Bandung : PT Refika Aditama. Sugiyono. 2011, Metode P enelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, Bandung :
alfabetha.
Suraji. 2012, Mengkaji Substansi P olitik Anggaran. Yogyakarta : Matapenainstitute. Wirawan. 2012, Evaluasi : Teori, Model, Standar, Aplikasi, dan P rofesi, Jakarta :
Rajagrafindo Persada.
Wursanto. 1983, Dasar-Dasar Manajemen Umum, Jakarta: Pustaka Dian.
Yuna, Farhan. Et.al. 2012, Tahun pembajakan anggaran oleh elit mengabaikan kesejahteraan rakyat, Jakarta : Seknas Fitra.
Dokumen Resmi Pemerintah
18
Republik Indonesia . 2009. P eraturan P residen No 59 tahun 2009 Tentang Rincian Anggaran Belanja P emerintah P usat Tahun Anggaran 2010. Kementerian Keuangan. Jakarta.
Republik Indonesia . 2010. P eraturan Menteri Kesehatan No: 1144/MENKES/P ER/VIII/2010 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan. Kementerian Kesehatan. Jakarta.
Republik Indonesia. 2003. Undang – Undang No 17 tahun 2003 Tentang Keuangan
Negara. Sekertariat Negara. Jakarta.
Republik Indonesia. 2003. Undang – Undang No 17 tahun 2003 Tentang Keuangan
Negara. Kementerian Keuangan. Jakarta.
Republik Indonesia. 2004. Undang-Undang No 25 Tahun 2004 Tentang Sistem P erencanaan P embangunan Nasional (SP P N).Bappenas/Kementerian PPN. Jakarta.
Republik Indonesia. 2006. P eraturan P emerintah No 40 tahun 2006, Tentang Tata Cara P enyusunan Rencana P embangunan Nasional. Sekertariat Negara. Jakarta.
Republik Indonesia. 2009. Undang – Undang No 36 tahun 2009 Tentang Kesehatan. Sekertariat Negara. Jakarta.
Republik Indonesia. 2009. Undang – Undang No 47 tahun 2009 Tentang Anggaran P endapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2010. Kementerian Keuangan. Jakarta.
Republik Indonesia. 2010. Keputusan P residen No 26 Tahun 2010 Tentang Rincian Anggaran Belanja P emerintah P usat Tahun Anggaran 2011. Kementerian Keuangan. Jakarta.
Republik Indonesia. 2010. P eraturan P residen No 5 tahun 2010 Tentang Rencana P embangunan Jangka Menengah Nasional 2010-2014. Bappenas/Kementer ia n PPN. Jakarta.
Republik Indonesia. 2010. Undang – Undang No 10 tahun 2010 Tentang Anggaran P endapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2011. Kementerian Keuangan. Jakarta.
Republik Indonesia. 2011. Keputusan P residen No 32 Tahun 2011 Tentang Rincian Anggaran Belanja P emerintah P usat Tahun Anggaran 2012. Kementerian Keuangan. Jakarta.
Republik Indonesia. 2011. Undang – Undang No 22 tahun 2011 Tentang Anggaran P endapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2012. Kementerian Keuangan. Jakarta.
Republik Indonesia. 2012. Keputusan P residen No 37 Tahun 2012 tentang rincian anggaran belanja pemerintah pusat tahun anggaran 2013. Kementerian Keuangan. Jakarta.
Republik Indonesia. 2012. Undang – Undang No 19 tahun 2012 Tentang Anggaran P endapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2013. Kementerian Keuangan. Jakarta.
19
Republik Indonesia. 2013. Undang – Undang No 23 tahun 2013 Tentang Anggaran P endapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2014. Kementerian Keuangan. Jakarta.
Website
Ahmad, chairul. 2011. Krisis Air Bersih, Cirebon Waspada Wabah Diare, Republika
Online :
http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/11/10/09/lsssp5-air-sanitasi-dan- masalah-kebersihan- masih-sumbang-kematian, diakses 2 maret 2013.
Amirsyah. 2013. Mengenal Jenis-jenis Belanja P emerintah P usat Dalam AP BN,
http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2013/09/02/mengenal-jenis-jenis-belanja-pemerintah-pusat-dalam-apbn-586086.html, diakses 23 februri 2014. Cholis, akbar. 2013. Sejuta P enduduk Indonesia berisiko Gangguan Jiwa Berat,
http://www.hidayatullah.com/read/2013/08/01/5752/sejuta-penduduk-indonesia-berisiko- gangguan-jiwa-berat.html. Diakses 7 Maret 2014.
Rahmaningtyas, Ayu. 2013. Sanitasi buruk, Indonesia rugi Rp56 triliun, Sindonews online :http://ekbis.sindonews.com/read/2013/10/29/34/799653/sanitasi-bur uk-indonesia-rugi-rp56-triliun, diakses 2 maret 2013.
Uki, Sukirno. 2012, Evaluasi Kebijakan Anggaran Dalam Rangka Efisiensi P embiayaan Akademik P ada Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu P endidikan Kusuma Negara Jakarta, http://sukirnouki.blogspot.com/2012/05/evalua s i-kebijakan-anggaran-efisiensi.html, Diakses 20 November 2013.