Uji Toksisitas Subkronik Ekstrak Etanol Daun Kembang Bulan (Tithonia diversifolia (Hemsley) A.Gray) pada Mencit Jantan

20  Download (0)

Teks penuh

(1)

6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1Uraian Tumbuhan

2.1.1 Habitat dan daerah tumbuh

Tumbuhan kembang bulan (Tithonia diversifolia (Hemsley) A. Gray)umumnya tumbuh liar di tempat-tempat curam, misalnya di tebing-tebing, tepisungai dan selokan. Tumbuhan ini sekarang banyak ditanam sebagai tanamanhias karena warna bunganya yang kuning indah dan sebagai pagar untukmencegah kelongsoran tanah. Termasuk tumbuhan tahunan yang kerap tumbuhdi tempat terang dan banyak sinar matahari langsung. Tumbuh dengan mudahdi tempat atau di daerah berketinggian 5-1500 m di atas permukaan laut(Anonim, 2012).

2.1.2 Morfologi

Tumbuhan kembang bulan merupakan tumbuhan perdu yang tegakdengan ketinggian lebih kurang 5 m. Batang tegak, bulat, berkayu, danberwarna hijau. Daunnya tunggal, bertoreh sampai setengah panjang tulangdaun, bergerigi, berseling, panjang 26-32 cm dan lebar 15-25 cm, ujung danpangkal daun runcing, pertulangan menyirip, berwarna hijau. Bungamerupakan bunga majemuk yang terdapat di ujung ranting, berbentuk cawan,tangkai bulat, kelopak berbentuk tabung, berbulu halus, hijau. Mahkotaberlekatan, berbentuk pita, halus, dan berwarna kuning. Benang sari bulat,kuning, putik melengkung, kuning. Buahnya bulat, jika masih muda berwarnahijau setelah tua berwarna coklat. Bijinya bulat, keras, dan berwarna coklat.Akarnya berupa akar tunggang berwarna putih kotor (Widyaningrum, 2011).

(2)

7

2.1.3 Sistematika tumbuhan

Sistematika tumbuhan kembang bulan (Hutapea, 1994)adalah sebagai berikut:

Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledoneae Bangsa : Asterales Suku : Asteraceae Marga : Tithonia

Jenis : Tithonia diversifolia (Hemsley) A. Gray

2.1.4 Nama lain

Tumbuhan kembang bulan memiliki nama lain yaitu Mirasolia diversifolia Hemsley (Widyaningrum, 2011), dengan nama daerah rondosemoyo,sibunga-bunga atau sipahit-pahit (Tapanuli Utara), harsaga (Jawa),kirinyu (Sunda), kayu paik (Minang). Nama asing adalah Mary Gold, Shrub Sunflower, Mexican Sunflower (Inggris), Mirasol (Guatemala), Yellow Flower (Portugis)(Anonim,

2012).

2.1.5 Khasiat dan penggunaan

Tumbuhan kembang bulan digunakan sebagai obat luka atau lukalebam, dan sebagai obat sakit perut kembung. Untuk obat sakit perut kembungdipakai ± 7 gram daun segar, dicuci, direbus dengan 2 gelas air selama25 menit, setelah dingin disaring. Hasil saringan diminum sekaligus(Widyaningrum, 2011).

Hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap khasiat daun kembang bulan antara lain, ekstrak n-heksan sebagai antidiabetes (Sumarny dan Soetjipto, 2011),ekstrak estil asetat, ekstrak n-heksan dan ekstrak etanol sebagai antibakteri

(3)

8

(Sibagariang, 2014), ekstrak etanol sebagai antiinflamasi (Verawati, dkk.,2011), ekstrak metanol dan klorofom sebagai anti plasmodium (Syarif, dkk., 2006), sebagai insektsida (Taofik, dkk., 2010) dan efek sitotoksik ekstrak etanol (Mardihusodo, dkk., 2011).

2.1.6 Kandungan kimia

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap daun kembang bulan, terdapat kandungan senyawa kimia golongan alkaloid, steroid/triterpenoid, glikosida, flavonoid, saponin dan tanin (Sibagariang, 2014;Taofik, dkk., 2010).

2.2Ekstraksi

Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan menggunakan suatu pelarut cair. Senyawa aktif yang terdapat dalam berbagai simplisia dapat digolongkan kedalam golongan minyak atsiri, alkaloida, flavonoida dan lain-lain. Dengan diketahuinya senyawa aktif yang dikandung simplisia akan mempermudah pemilihan pelarut dengan cara ekstraksi yang tepat(Ditjen, POM., 2000).

Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok, di luar pengaruh cahaya matahari langsung (Ditjen POM,1979).Tujuan utama ekstraksi ini adalah untuk mendapatkan atau memisahkan sebanyak mungkin zat-zat yang memiliki khasiat pengobatan (Syamsuni, 2006).

Beberapa metode ekstraksi yang sering digunakan dalam berbagai penelitian antara lain yaitu:

a. Cara dingin

(4)

9 1. Maserasi

Maserasi adalah proses penyarian simplisia menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperature ruangan, sedangkan remaserasi merupakan pengulangan penambahan pelarut setelah dilakukan penyaringan maserat pertama, dan seterusnya (Ditjen, POM., 2000).

Maserasi dilakukan dengan cara memasukkan 10 bagian simplisia atau campuran simplisia dengan derajat halus yang cocok ke dalam sebuah bejana, dituangi dengan 75 bagian cairan penyari, ditutup, kemudian dibiarkan selama 5 hari terlindung dari cahaya sambil sering diaduk, diserkai, diperas, dicuci ampas dengan cairan penyari secukupnya hingga diperoleh 100 bagian. Dipindahkan ke dalam bejana tertutup, dibiarkan di tempat sejuk, terlindung dari cahaya selama 2 hari. Dienaptuangkan dan disaring (Ditjen POM, 1979).

2. Perkolasi

Perkolasi adalah suatu proses penyarian simplisia menggunakan alat yang disebut perkolator dimana simplisia terendam dalam cairan penyari, zat-zat akan terlarut dan larutan tersebut akan menetes secara beraturan. Prosesnya terdiri dari tahapan pengembangan bahan, tahap perendaman antara, tahap perkolasi sebenarnya (penetesan/ penampungan perkolat) sampai diperoleh ekstrak (Ditjen, POM., 2000).

Prosedur perkolasi yaitu 10 bagian simplisia atau campuran simplisia dengan derajat halus yang cocok dibasahi dengan 2,5 bagian sampai 5 bagian cairan penyari, dimasukkan ke dalam bejana tertutup sekurang-kurangnya selama 3 jam. Massa dipindahkan sedikit demi sedikit ke dalam perkolator sambil tiap kali di tekan hati-hati, dituangi dengan cairan penyari secukupnya sampai cairan mulai menetes dan di atas simplisia masih terdapat selapis cairan penyari, tutup

(5)

10

perkolator, biarkan selama 24 jam. Biarkan cairan menetes dengan kecepatan 1 mL per menit, cairan penyariberulang-ulangditambahkan secukupnya sehingga selalu terdapat selapis cairan penyari di atas simplisia, hingga diperoleh 80 bagian perkolat. Massa diperas,cairan perasan dicampurkan ke dalam perkolat, ditambahkan cairan penyari secukupnya hingga diperoleh 100 bagian. Cairan dipindahkan ke dalam bejana, ditutup, dibiarkan selama 2 hari di tempat yang sejuk, terlindung dari cahaya dan dienaptuangkan atau disaring (Ditjen POM, 1979).

b. Cara panas 1. Refluks

Refluks adalah proses penyarian simplisia dengan menggunakan alat pada temperatur titik didihnya dalam waktu tertentu dimana pelarut akan terkondensasi menuju pendingin dan kembali ke labu(Ditjen, POM., 2000).

2. Sokletasi

Sokletasi adalah proses penyarian dengan menggunakan pelarut yang selalu baru, dilakukan dengan menggunakan alat soklet dimana pelarut akan terkondensasi dari labu menuju pendingin, kemudian jatuh membasahi sampel (Ditjen, POM., 2000).

3. Digesti

Digesti adalah proses penyarian dengan pengadukan kontinu pada temperatur lebih tinggi dari temperatur kamar, yaitu secara umum dilakukan pada temperatur 40-50°C(Ditjen, POM., 2000).

4. Infudasi

Infudasi adalah proses penyarian dengan menggunakan pelarut air pada temperatur 90°C selama 15 menit (Ditjen, POM., 2000).

(6)

11 5. Dekoktasi

Dekoktasi adalah proses penyarian dengan menggunakan pelarut air pada temperatur 90°C selama 30 menit (Ditjen, POM., 2000).

2.3 Toksisitas

Uji toksisitas adalah suatu uji untuk mendeteksi efek toksik suatu zat pada sistem biologi dan untuk memperoleh data dosis-respon yang khas dari sediaan uji. Data yang diperoleh dapat digunakan untuk memberi informasimengenai derajat bahaya sediaan uji tersebut bila terjadi pemaparan padamanusia, sehingga dapat ditentukan dosis penggunaannya demi keamananmanusia.

Uji toksisitas menggunakan hewan uji sebagai model berguna untukmelihat adanya reaksi biokimia, fisiologik dan patologik pada manusiaterhadap suatu sediaan uji. Hasil uji toksisitas tidak dapat digunakan secaramutlak untuk membuktikan keamanan suatu bahan/ sediaan pada manusia,namun dapat memberikan petunjuk adanya toksisitas relatif dan membantuidentifikasi efek toksik bila terjadi pemaparan pada manusia (Ditjen, POM., 2014).

1. Uji toksisitas akut oral

Uji toksisitas akut oral adalah suatu pengujian untuk mendeteksi efektoksik yang muncul dalam waktu singkat setelah pemberian sediaan uji yangdiberikan secara oral dalam dosis tunggal atau dosis berulang yang diberikandalam waktu 24 jam.Prinsip uji toksisitas akut oral yaitu, sediaan uji dalam beberapa tingkatdosis diberikan pada beberapa kelompok hewan uji dengan satu dosis perkelompok, kemudian dilakukan pengamatan terhadap adanya efek

(7)

12

toksik dankematian. Hewan yang mati selama percobaan dan yang hidup sampai akhirpercobaan diotopsi untuk dievaluasi adanya gejala-gejala toksisitas.

Tujuan uji toksisitas akut oral adalah untuk mendeteksi toksisitas intrinsik suatu zat, menentukan organ sasaran, kepekaan spesies, memperolehinformasi bahaya setelah pemaparan suatu zat secara akut, memperolehinformasi awal yang dapat digunakan untuk menetapkan tingkat dosis,merancang uji toksisitas selanjutnya, memperoleh nilai LD50 suatu bahan/sediaan, serta penentuan penggolongan bahan/ sediaan dan pelabelan (Ditjen, POM., 2014).

2. Uji toksisitas subkronis oral

Uji toksisitas subkronis oral adalah suatu pengujian untuk mendeteksi efek toksik yang muncul setelah pemberian sediaan uji dengan dosis berulang yangdiberikan secara oral pada hewan uji selama sebagian umur hewan, tetapitidak lebih dari 10% seluruh umur hewan.

Prinsip dari uji toksisitas subkronis oral adalah sediaan uji dalam beberapa tingkat dosis diberikan setiap hari pada beberapa kelompok hewan uji dengansatu dosis per kelompok selama 28 atau 90 hari, bila diperlukanditambahkan kelompok satelit untuk melihat adanya efek tertunda atau efekyang bersifat reversibel. Selama waktu pemberian sediaan uji, hewan harusdiamati setiap hari untuk menentukan adanya toksisitas. Hewan yang matiselama periode pemberian sediaan uji, bila belum melewati periode rigor mortis(kaku) segera diotopsi,dan organ serta jaringan diamati secara makropatologidan histopatologi.

(8)

13

Pada akhir periode pemberian sediaan uji, semua hewanyang masih hidup diotopsi selanjutnya dilakukan pengamatan secaramakropatologi pada setiap organ dan jaringan,pemeriksaan hematologi, biokimia klinis dan histopatologi.

Tujuan uji toksisitas subkronis oral adalah untuk memperoleh informasiadanya efek toksik zat yang tidak terdeteksi pada uji toksisitas akut, informasikemungkinan adanya efek toksik setelah pemaparan sediaan uji secaraberulangdalam jangka waktu tertentu; informasi dosis yang tidakmenimbulkan efek toksik (No Observed Adverse Effect Level / NOAEL); danmempelajari adanya efek kumulatif dan efek reversibilitas zat tersebut (Ditjen, POM., 2014).

3. Uji toksisitas kronis oral

Uji toksisitas kronis oral adalah suatu pengujian untuk mendeteksi efektoksik yang muncul setelah pemberian sediaan uji secara berulang sampaiseluruh umur hewan. Uji toksisitas kronis pada prinsipnya sama dengan ujitoksisitas subkronis, tetapi sediaan uji diberikan selama tidak kurang dari12 bulan. Tujuan dari uji toksisitas kronis oral adalah untuk mengetahui profilefek toksik setelah pemberian sediaan uji secara berulang selama waktu yangpanjang, untuk menetapkan tingkat dosis yang tidak menimbulkan efek toksik(NOAEL). Uji toksisitas kronis harus dirancang sedemikianrupa sehingga dapatdiperoleh informasi toksisitas secara umum meliputi efek neurologi, fisiologi,hematologi, biokimia klinis dan histopatologi (Ditjen, POM., 2014).

4. Uji teratogenisitas

Uji teratogenisitas adalah suatu pengujian untuk memperoleh informasiadanya abnormalitas fetus yang terjadi karena pemberian sediaan uji selamamasa pembentukan organ fetus (masa organogenesis). Informasi

(9)

14

tersebutmeliputi abnormalitas bagian luar fetus (morfologi), jaringan lunak sertakerangka fetus.

Prinsip uji teratogenisitas adalah pemberian sediaan uji dalambeberapa tingkat dosis pada beberapa kelompok hewan bunting selama palingsedikit masa organogenesis dari kebuntingan, satu dosis per kelompok. Satuhari sebelum waktu melahirkan induk dibedah, uterus diambil dan dilakukan evaluasi terhadap fetus (Ditjen, POM., 2014).

5. Uji sensitisasi kulit

Uji sensitisasi kulit adalah suatu pengujian untuk mengidentifikasi suatu zat yang berpotensi menyebabkan sensitisasi kulit. Prinsip uji sensitisasi kulitadalah hewan uji diinduksi dengan dan tanpa Freund’s Complete Adjuvant(FCA) secara injeksi intradermal dan topikal untuk membentuk respon

imun,kemudian dilakukan uji tantang (challenge test). Tingkat dan derajat reaksikulit dinilai berdasarkan skala Magnusson dan Kligman (Ditjen, POM., 2014).

6. Uji iritasi mata

Uji iritasi mata adalah suatu uji pada hewan uji (kelinci albino) untukmendeteksi efek toksik yang muncul setelah pemaparan sediaan uji pada mata.Prinsip uji iritasi mata adalah sediaan uji dalam dosis tunggal dipaparkankedalam salah satu mata pada beberapa hewan uji dan mata yang tidak diberiperlakuan digunakan sebagai kontrol. Derajat iritasi/korosi dievaluasi denganpemberian skor terhadap cedera pada konjungtiva, kornea, dan iris padainterval waktu tertentu. Tujuan uji iritasi mata adalah untuk memperolehinformasi adanya kemungkinan bahaya yang timbul pada saat sediaan ujiterpapar pada mata dan membran mukosa mata (Ditjen, POM., 2014).

(10)

15 7. Uji mutagenik

Uji mutagenik adalah uji yang dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai kemungkinan terjadinya efek mutagenik suatu senyawa. Efek mutagenik merupakan efek yang menyebabkan terjadinya perubahan pada sifat genetika sel tubuh makhluk hidup (Lu, 1995).

8. Uji karsinogenik

Uji karsinogenik dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai efek korsinogenik suatu senyawa pada hewan percobaan. Suatu senyawa bersifat karsinogenik jika senyawa tersebut dapat menginduksi karsinoma (pembentukan tumor). Uji ini memerlukan biaya yang banyak dan waktu yang lama (Lu, 1995).

2.4Hati

Salah satu organ yang sering menderita karena adanya zat-zat toksik adalah hati, bahan kimia kebanyakan mengalami metabolisme dalam hati dan oleh karenanya maka banyak bahan kimia yang berpotensi merusak sel-sel hati. Bahan kimia yang dapat mempengaruhi hati disebut hipotoksik (Wicaksono, 2002).

2.4.1Anatomi hati

Secara anatomi hati terdiri dari beberapa lobus, tergantung pada spesiesnya. Hepar mencit (Mus musculus L.) memiliki empat lobus utama yang saling berhubungan satu sama lain dan dapat tampak keseluruhannya pada bagian dorsal organ ini. Keempat lobus tersebut dapat dibedakan, yakni: sebuah lobus median, dua lobus lateral (kiri dan kanan), dan satu lobus caudal yang terbagi setengah dibagian dorsal dan setengah lainnya di bagian ventral (Covelli, 1972).

Manusia (Homo sapiens) memiliki hepar dengan dua lobus utama, yakni lobus kanan dan kiri yang masing-masing terdiri dari dua segmen (Hage, 1982).

(11)

16

Hati merupakan organ tubuh terbesar kedua di tubuh dan kelenjar terbesar dalam tubuh, dengan berat rata-rata sekitar 1,5 kg. Organ ini terletak dalam rongga perut di bawah diafragma (Junqueira dan Carneiro, 2005).

2.4.2Fisiologi hati

Organ hati terlibat dalam metabolisme zat makanan serta sebagian besar obat dan toksikan (Lu, 1994). Hati mempunyai fungsi yang sangat banyak dan kompleks yang penting untuk mempertahankan hidup (Husada, 1996) yaitu : a. Fungsi pembentukan dan ekskresi empedu

Hal ini merupakan fungsi utama hati. Hati mengekskresikan sekitar satu liter empedu setiap hari. Garam empedu penting untuk pencernaan dan absorbsi lemak dalam usus halus.

b. Fungsi metabolik

Hati berperaan penting dalam metabolisme karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan juga memproduksi energi. Hati mengubah ammonia menjadi urea, untuk dikeluarkan melalui ginjal dan usus.

c. Fungsi pertahanan tubuh

Gambar 2.1 Gambaran makroskopik hati manusia (Putz dan Pabst, 2007)

(12)

17

Hati mempunyai fungsi detoksifikasi dan fungsi perlindungan. Fungsi detoksifikasi dilakukan oleh enzim- enzim hati yang melakukan oksidasi, reduksi, hidrolisis, atau konjugasi zat yang kemungkinan membahayakan dan mengubahnya menjadi zat yang secara fisiologis tidak aktif. Fungsi perlindungan dilakukan oleh sel kupfer yang terdapat di dinding sinusoid hati.

d. Fungsi vaskuler hati

Pada orang dewasa jumlah aliran darah ke hati diperkirakan mencapai 1500 cc tiap menit. Hati berfungsi sebagai ruang penampung dan bekerja sebagai filter karena letaknya antara usus dan sirkulasi umum.

2.4.3Histologi hati

Sel–sel yang terdapat di hati antara lain: hepatosit, sel endotel, dan sel makrofag yang disebut sebagai sel kuppfer, dan sel ito (sel penimbun lemak). Sel hepatosit berderet secara radial dalam lobulus hati dan membentuk lapisan sebesar 1-2 sel serupa dengan susunan bata. Lempeng sel ini mengarah dari tepian lobulus ke pusatnya dan beranastomosis secara bebas membentuk struktur seperti labirin dan busa. Celah diantara lempeng-lempeng ini mengandung kapiler yang disebut sinusoid hati (Junquiera dan Carneiro, 2007).

Sinusoid hati adalah saluran yang berliku–liku dan melebar, diameternya tidak teratur, dilapisi sel endotel bertingkat yang tidak utuh. Sinusoid dibatasi oleh 3 macam sel, yaitu sel endotel (mayoritas) dengan inti pipih gelap, sel kupffer yang fagositik dengan inti ovoid, dan sel stelat atau sel Ito atau liposit hepatik yang berfungsi untuk menyimpan vitamin A dan memproduksi matriks ekstraseluler serta kolagen. Aliran darah di sinusoid berasal dari cabang terminal vena portal dan arteri hepatik, membawa darah kaya nutrisi dari saluran pencernaan dan juga kaya oksigen dari jantung (Eroschenko, 2010; Junqueira and

(13)

18

Carneiro, 2005).Darah yang mengandung toksin dibawa dari usus, masuk ke hati melalui vena porta kemudian melewati sinusoid menuju vena sentralis (Macfarlane,et al., 2000).

2.4.4Pat

ologi hati

Kerusakan pada hati dapat terjadi oleh beberapa faktor yaitu onset pemaparan yang terlalu lama, durasi pemaparan, dosis dan sel inang yang rentan (Jubb, 1993). Kerusakan yang terjadi pada sel hati dapat bersifat sementara (reversible) dan tetap (irreversible) (Wicaksono, 2002). Sel akan mengalami perubahan untuk beradaptasi mempertahankan hidupnya, perubahan ini biasa disebut degenerasi. Degenerasi sel dapat berupa degenerasi hidropis dan degenerasi lemak.Degenerasi terjadi karena adanya gangguan biokimiawi yang disebabkan oleh iskemia, anemia, metabolisme abnormal dan zat kimia yang bersifat toksik(Cheville, 1999).

Degenerasi hidropis merupakan peristiwa meningkatnya kadar air di intraseluler yang menyebabkan sitoplasma dan organel-organel membengkak dan membentuk vakuola-vakuola. Rusaknya permeabilitas membran sel menyebabkan

Gambar 2.2 Lobulus hepatik (Gartner, 2003)

(14)

19

terhambatnya aliran Na+ keluar dari sel sehingga menyebabkan ion-ion dan air masuk secara berlebihan kedalam sel. Degenerasi hidropis merupakan respon awal sel terhadap bahan-bahan yang bersifat toksik, serta merupakan proses awal dari kematian sel (Jones, et al., 1997; Cheville, 1999). Kadar Na+ intrasel diatur oleh pompa Na+ yang memerlukan ATP, jika ATP berkurang maka akan mengakibatkan masuknya Na+ ke intrasel melebihi jumlah normalnya (Priyanto, 2009).

Kerusakan sel secara terus-menerus akan mencapai suatu titik sehingga terjadi kematian sel (Lu, 1995).Paparan zat toksik pada sel apabila cukup hebat atau berlangsung cukup lama, maka sel tidak dapat lagi mengkompensasi dan tidak dapat melanjutkan metabolisme(Juhriyyah, 2008). Inti sel yang mati dapat terlihat lebih kecil dan menjadi lebih padat (piknosis), hancur bersegmen-segmen (karioreksis) dan kemudian inti sel menghilang (kariolisis)(Underwood, 1994).

2.4.5 SGPT

Kerusakan pada sel hati yang sedang berlangsung dapat diketahui dengan mengukur parameter fungsi hati berupa zat dalam peredaran darah yang dibentuk oleh sel hati yang rusak atau mengalami nekrosis. Pemeriksaan enzim seringkali menjadi satu-satunya petunjuk adanya penyakit hati yang dini atau setempat (Widman, 1995).Tes fungsi hati yang umum untuk mengetahui adanya gangguan dalam organ hati adalah SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) atau ALT (Alanine Aminotransferase) (Wibowo, dkk., 2005). ALT/SGPT merupakan suatu enzim yang ditemukan terutama pada sel-sel hepar, efektif dalam mendiagnosa kerusakan hepatoseluler (Lefever, 2007).

GPT dan GOT merupakan indikator yang kuat dan peka terhadap kelainan sel –sel hati. Enzim glutamate piruvat transaminase (GPT) merupakan enzim

(15)

20

sitosol yang sebagian besar terdapat di dalam hati, jantung dan otot. Enzim ini sebagai indikator yang lebih spesifik untuk kerusakan sel-sel hati dibandingkan GOT, karena GOT merupakan enzim mitokondria yang ada dalam jumlah besar di dalam jantung, hati, otot rangka dan ginjal (Murtini, dkk.,2010). Jika kadar ALT tinggi maka ada indikasi terjadi kerusakan sel di dalam hati (Widjaja, 2010).SGPT darah mencit normal adalah 17–77 IU/L (Anonymous, 2009).

2.5 Ginjal

2.5.1 Anatomi ginjal

Ginjal terletak di bagian belakang abdomen atas, di belakang peritoneum,di depan dua iga terakhir, dan tiga otot besar transversus abdominis,kuadratus llumborum, dan psoas mayor. Ginjal dipertahankan dalam posisitersebut oleh bantalan lemak yang tebal. Kelenjar adrenal terletak diataskutub masing-masing ginjal. Ginjal terlindung dengan baik dari trauma langsung di sebelah posterior dilindungi oleh kosta dan otot-otot yangmeliputi kosta, sedangkan di anterior dilindungi oleh bantalan usus yang tebal, sedikit lebih rendah daripada ginjal kiri karena besarnya lobushepatis dekstra (Price dan Wilson, 2006).

Pada orang dewasa, panjang ginjal adalah sekitar 12 cm sampai 13 cm (4,7hingga 5,1 inci), lebarnya 6 cm (2,4 inci), tebalnya 2,5 cm (1 inci) danberatnya sekitar 150 g. Ukurannya tidak berbeda menurut bentuk danukuran tubuh. Perbedaan panjang dari kutub ke kutub kedua ginjal yanglebih dari 1,5 cm (0,6 inci) atau perubahan bentuk merupakan tanda yangpenting karena sebagian besar manifestasi penyakit ginjal adalah perubahanstruktur (Price dan Wilson, 2006).

(16)

21

Gambar 2.3 Anatomi ginjal manusia (Moore dan Agur, 2002)

Secara anatomis ginjal terbagi menjadi 2 bagian korteksdan medulaginjal (Junquiera dan Carneiro, 2007). Di dalam korteks terdapat berjuta–juta nefronsedangkan di dalam medula banyak terdapat duktuli ginjal. Ginjal mendapatkan aliran darah dari arteri renalis yang merupakan cabanglangsung dari aorta abdominalis, sedangkan darah vena dialirkan melaluivena renalis yang bermuara ke dalam vena kava inferior. Sistem arteriginjal adalah end arteries yaitu arteri yang tidak mempunyai anastomosisdengan cabang–cabang dari arteri lain, sehingga jika terdapat kerusakansalah satu cabang arteri ini, berakibat timbulnya iskemia/nekrosis padadaerah yang dilayaninya (Purnomo, 2009).

2.5.2 Fisiologi ginjal

Menurut Guyton dan Hall (2008), ginjal adalah organ utama untukmembuang produk sisa metabolisme yang tidak diperlukan lagi oleh tubuh.Produk-produk ini meliputi urea (dari sisa metabolisme asam

(17)

22

amino),kreatin asam urat (dari asam nukleat), produk akhir dari pemecahanhemoglobin

(bilirubin).Berikut ini adalah fungsi spesifik yang dilakukan oleh ginjal, yangsebagian besar ditujukkan untuk mempertahankan kestabilan lingkungancairan internal:

Fungsi Eksresi:

1. Mempertahankan osmolalitas plasma sekitar 285 mili Osmoldengan mengubah-ubah ekresi air.

2. Mempertahankan volume ECF dan tekanan darah denganmengubah-ubah ekresi natrium.

3. Mempertahankan konsentrasi plasma masing-masing elektrolitindividu dalam rentang normal.

4. Mempertahankan derajat keasaman atau pH plasma sekitar 7,4 dengan mengeluarkan kelebihan hidrogen dan membentuk kembali karbonat.

5. Mengeksresikan produk akhir nitrogen dari metabolisme protein(terutama urea, asam urat dan kreatinin).

6. Bekerja sebagai jalur eksretori untuk sebagian besar obat (Guyton dan Hall, 2008).

Fungsi non eksresi :

Menyintesis dan mengaktifkan hormon:

1. Renin: penting dalam pengaturan tekanan darah.

2. Eritropoitin: merangsang produksi sel darah merah oleh sumsumtulang.

3. 1,25-dihidroksivitamin D3 sebagai hidroksilasi akhir vitamin D3menjadi bentuk yang paling kuat.

(18)

23

4. Prostaglandin: sebagian besar adalah vasodilator bekerja secara lokal dan melindungi dari kerusakan iskemik ginjal.

5. Degradasi hormon polipeptida, insulin, glukagon, paranthormon, prolaktin hormon pertumbuhan, ADH, dan hormon gastrointestinal(Guyton dan Hall, 2008).

2.5.3 Histologi ginjal

Unit kerja fungsional ginjal disebut sebagi nefron. Dalam setiap ginjal terdapat sekitar 1 juta nefron yang pada dasarnya mempunyai struktur dan fungsi yang sama. Dengan demikian, kerja ginjal dapat dianggap sebagai jumlah total dari fungsi semua nefron tersebut (Price dan Wilson, 2006). Setiap nefron terdiri atas bagian yang melebaryakni korpuskel renalis, tubulus kontortus proksimal, segmen tipis, dan tebal ansa henle, tubulus kontortus distal, dan duktus koligentes (Junquieraand Carneiro, 2007).

(19)

24

Gambar 2.4 Ginjal manusia(Moore dan Agur, 2002)

2.5.4 Patologi ginjal

Menurut Junquiera (2007), Pada keadaan normal glomerulus tidak dapat dilalui oleh protein yang bermolekul besar, tetapi pada keadaan patologis protein tersebut dapat lolos. Sel tubulus selain berfungsi mereabsorbsi, juga menambahkan zat-zat kimiawi seperti yodium, amonia dan hippuric acid. Pada disfungsi glomerulus, bahan-bahan asing tiba di tubulus dalam kadar yang abnormal melalui ruang Bowman. Hal ini menyebabkan sel epitel tubulus mengalami degenerasi bahkan kematian jika terlalu banyak bahan-bahan yang harus diserap kembali.

Tubulus proksimal memiliki fungsi utama yaitu menyerap kembali natrium, albumin, glukosa dan air, dan juga bermanfaat dalam penggunaan kembali bikarbonat. Epitelium tubulus proksimalis merupakan bagian yang paling sering terserang iskemia atau rusak akibat toksin, karena kerusakan yang terjadi akibat laju metabolisme yang tinggi (Suyanti, 2008).

Nefrosis merupakan istilah morfologik untuk kelainan ginjal degeneratif terutama yang mengenai tubulus. Kelainan tubulus dapat menyebabkan albuminuria dan sedimen abnormal di urin. Secara mikroskopis kelainan dijumpai pada tubulus kontortus proksimal berupa degenerasi hidropis, degenerasi lemak, nekrosis dan kalsifikasi (Suyanti, 2008).

2.5.5 Kreatinin

Analisis biokimia yang dapat dilakukan untuk mendeteksi fungsi ginjalyaitu kadar kreatinin dan ureum. Bila ginjal rusak atau kurang baik fungsinya maka kadar ureum darah dapat meningkat dan meracuni sel-sel tubuh karena terjadi penurunan proses filtrasi glomerulus. Kreatinin adalah produksi

(20)

25

katabolisme otot yang berasal dari pemecahan kreatinin otot dan kreatinin folat. Jumlah produksi kreatinin sesuai dengan massa otot. Kreatinin serum secara khusus berguna dalam mengevaluasi fungsi glomerulus. Kreatinin serum dinilai lebih sensitif dan merupakan indikator penyakit ginjal yang lebih spesifik. Kreatinin ini kemudian meningkat dan tidak dipengaruhi diet atau masukan cairan (Lefever, K.J., 2007). Nilai kreatinin pada mencit yang sehat berada dalam rentang 0,2-0,9 mg/dl (Anonymous, 2009).

Kelemahan kadar kreatinin sebagai parameter fungsi ginjal yaitu peningkatannya dalam darah terjadi jika laju filtrasi glomerulus (LFG) telah menurun dibawah 70 % dari normal, sehingga tidak dapat digunakan untuk mendeteksi kerusakan ginjal dini (IDAI, 1993). Kadar kreatinin dan ureum bukanlah satu-satunya indikator kerusakan ginjal, tetapi perlu dikonfirmasi lagi dengan histologi jaringan ginjal (Michael, 2013).

Figur

Gambar 2.1 Gambaran makroskopik hati manusia (Putz dan Pabst, 2007)

Gambar 2.1

Gambaran makroskopik hati manusia (Putz dan Pabst, 2007) p.11
Gambar 2.2ologi hati  Lobulus hepatik (Gartner, 2003)

Gambar 2.2ologi

hati Lobulus hepatik (Gartner, 2003) p.13
Gambar 2.3 Anatomi ginjal manusia (Moore dan Agur, 2002)

Gambar 2.3

Anatomi ginjal manusia (Moore dan Agur, 2002) p.16

Referensi

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di