ANALISIS PERFORMA EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA DENGAN NEGARA
tingkatan integrasi ekonomi yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan nasionalnya melalui
integrasi keuangan, ketenagakerjaan dan perdagangan dengan skema ekspor-impor yang lebih
mudah dari banyak sisi, salah satunya ASEAN. Association of South East Asian Nations
(ASEAN) merupakan salah satu kawasan yang melakukan integrasi ekonomi pada kawasan Asia
Tenggara yang didirikan pada tanggal 8 Agustus 1967 melalui Deklarasi Bangkok, dengan
maksud dan tujuan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial dan budaya
serta menciptakan keamanan, stabilitas dan perdamaian khususnya di kawasan Asia
Tenggara.
Salah satu kegiatan integrasi ekonomi ASEAN membentuk kawasan perdagangan bebas
ASEAN atau ASEAN Free Trade Area (selanjutnya disebut AFTA) yang ditandatangani pada
1992 dan terbentuk pada 2003. Selanjutnya perjanjian tersebut ditingkatkan lagi dengan
membentuk Masyarakat Ekonomi ASEAN atau ASEAN Economic Community (AEC)
yang
mulai resmi diberlakukan pada tanggal 31 Desember 2015. Pada AEC Blueprints, tercantum
tujuan utama dari integrasi ekonomi ini adalah 0% tarif untuk seluruh transaksi barang dan jasa
antar negara-negara ASEAN.
Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar dan wilayah negara terluas di ASEAN,
Indonesia sebenarnya memiliki potensi sumber daya terbesar untuk menggerakkan roda
perekonomian. Kekayaan sumber daya alam sudah seharusnya menjadi nilai ekspor bagi
negara-negara ASEAN. Dengan adanya program integrasi ekonomi ASEAN, khususnya MEA, sudah
semestinya menjadi kesempatan besar untuk Indonesia guna mendistribusikan ekspor yang lebih
aktif ke wilayah negara ASEAN. Namun, integrasi ekonomi yang berjalan antar negara ASEAN
belum memberi dampak positif yang nyata pada performa ekspor Indonesia terhadap
negara-negara di ASEAN. Justru, 250 juta penduduk menjadi ancaman bagi Indonesia karena menjadi
tujuan perdagangan utama negara-negara ASEAN, di mana angka impor secara konsisten
mengalahkan angka ekspor. Berdasarkan data yang bersumber dari Kemendag, posisi ekspor
Indonesia dibanding impor Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan dengan Malaysia,
Thailand, Vietnam dan Singapura. Sedangkan pada negara ASEAN lainnya, angka ekspor
menggembirakan diperoleh dengan kerja sama perdagangan dengan Filipina, dan surplus tipis
dari negara ASEAN lainnya, seperti Myanmar, Kamboja, Brunei, dan Laos. Peran AEC terhadap
performa ekspor Indonesia kemudian menjadi pertanyaan utama dilakukannya penelitian ini.
B.
Metodologi
C.
Analisis Daya Saing Ekspor Indonesia
Profil ASEAN Economic Community
Tabel 1 PDB Negara ASEAN per Januari 2017
Negara
Populasi
Indonesia
258,802
1,220,515
20,895
3,257,123
21,432
Malaysia
31,176
309,860
5,623
922,057
17,636
Singapura
5,591
291,861
16,431
514,837
18,724
Thailand
68,981
432,898
6,265
1,226,407
17,749
Filipina
104,195
294,716
3,102
878,908
8,270
Vietnam
92,637
215,829
2,305
648,234
6,925
Myanmar
52,254
68,277
1,212
342,205
6,501
Kamboja
15,776
19,476
1,144
64,365
4,020
Laos
7,163
13,761
1,787
44880
6,149
Brunei
Darussala
m
0,423
10,458
5.993
35,817
83,513
Sumber: IMF
(Helna)
Analisis
Revealed Comparative Advantage
(RCA)
Bahan Kimia
Indonesia
1.48
1.79
1.80
1.34
0.87
2.48
0.57
0.98
Malaysia
1.06
0.71
0.48
0.54
0.96
0.93
0.71
1.67
Singapur
a
0.35
0.56
1.01
0.77
1.10
0.76
1.40
0.90
Filipina
0.82
0.29
0.72
0.75
0.36
0.87
0.37
0.34
Thailand
1.91
1.76
0.82
1.58
1.24
0.74
1.00
0.64
Kamboja
0.73
1.91
5.00
0.86
0.11
2.03
0.65
0.51
Vietnam
3.10
2.55
2.11
3.30
0.42
1.16
0.30
0.83
Tabel 1 Nilai RCA rata-rata sektor industri prioritas negara-negara ASEAN tahun 2001-2013
(Sumber: Isventina 2015)
Indonesia sebagai negara yang menganut sistem perekonomian terbuka, perdagangan
internasional khususnya ekspor merupakan faktor penting dalam mendorong pertumbuhan
ekonomi. Produk domestik bruto (PDB) Indonesia sekitar 30% berasal dari ekspor (BEI, 2008).
Pada Tabel 1 di atas, dapat terlihat Indonesia memiliki 5 dari 7 sektor industri dengan nilai RCA
> 1. Namun, hanya Indonesia hanya memiliki 1 sektor industri, yaitu industri logam dasar, yang
memiliki nilai RCA tertinggi dibanding negara ASEAN lainnya.
Analisis Ekspor Impor Intra ASEAN
20100 2011 2012 2013 2014 2015
20000 40000 60000 80000 100000 120000 140000
Ekspor Intra ASEAN
Brunei Darussalam Cambodia Indonesia
Laos Malaysia Myanmar
Filipina Singapura Thailand
Vietnam
20100 2011 2012 2013 2014 2015 10000
20000 30000 40000 50000 60000 70000 80000 90000
Impor Intra ASEAN
Brunei Darussalam Cambodia Indonesia
Laos Malaysia Myanmar
Filipina Singapura Thailand
Vietnam
Gambar 2 Statistik Impor Intra ASEAN (Sumber: Data Diolah)
(Helna)
Selain kegiatan ekspor dan impor intra ASEAN yang belum menunjukkan perubahan
yang signifikan, arus ekspor Indonesia ke beberapa negara ASEAN juga tidak menunjukkan trend
positif yang signifikan. Jika ditelusuri dari tahun 2012 ke 2015, tren ekspor positif Indonesia
ditunjukkan pada negara Vietnam, Laos, Myanmar, Filipina dan Kamboja. Sedangkan pada pasar
utama ekspor ASEAN, yaitu Malaysia, Singapura, dan Thailand, kinerja ekspor Indonesia tidak
memberikan performa yang menggembirakan. Setelah diberlakukannya AEC pada tanggal 1
Januari 2016, volume perdagangan antar Indonesia dengan mayoritas negara-negara ASEAN pun
tidak mengalami peningkatan. Hal ini ditunjukkan pada grafik di bawah.
2012 2013 2014 2015 2016
0.00 5,000,000.00 10,000,000.00 15,000,000.00 20,000,000.00
Ekspor Indonesia Ke Negara ASEAN
Malaysia Singapura Thailand
Vietnam Laos Myanmar
Brunei Darussalam Filipina Kamboja
Khususnya di bidang ekspor, pada tahun 2016 saat AEC sudah diberlakukan, tingkat
ekspor Indonesia yang meningkat hanya ke Vietnam, Filipina, dan sedikit peningkatan pada
ekspor ke Myanmar. Sedangkan pada negara tujuan ekspor lainnya seperti Malaysia, Singapura,
Thailand, Laos, Brunei Darussalam dan Kamboja, volume ekspor Indonesia mengalami
penurunan. Sementara pada tingkat impor, peningkatan volume impor terdapat pada distribusi
komoditas yang berasal dari Thailand, Vietnam, Laos, Filipina dan Kamboja, sementara pada
lima negara ASEAN lainnya, angka impor mengalami penurunan. Menurut Kementerian
Keuangan (2014), tekanan nilai tukar, pelemahan kebutuhan input impor untuk produksi komoditi
ekspor dan domestik, serta kekhawatiran akan tekanan inflasi menyebabkan perlambatan pada
pertumbuhan impor tersebut. Menurunnya angka impor ini menyebabkan terjadi penurunan
defisit pada neraca perdagangan Indonesia dengan negara-negara ASEAN.
2012 2013 2014 2015 2016
0.00
Impor Indonesia Dari Negara ASEAN
Malaysia Singapura Thailand
Vietnam Laos Myanmar
Brunei Darussalam Filipina Kamboja
Sumber: Data diolah
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Sukarni (2016), banyaknya sumber daya di Indonesia
belum mampu menjadi sumber daya yang unggul terhadap peningkatan nilai ekspor di wilayah
ASEAN. Hal ini ditunjukkan oleh posisi Indonesia yang bertengger di posisi ke-2 dari 10 negara
pengimpor terbesar di ASEAN. Hal ini mempertegas fakta bahwa
Indonesia masih mempunyai ketergantungan kepada negara lain untuk memenuhi kecukupan komoditi secara nasional. Dengan angka yang sedemikian besar ini menjadikan Indonesia menjadi negara tujuan impor yang sangat diperhitungkan oleh negara ASEAN lainnya melihat jumlah penduduknya yang sangat besar dan negara belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakatnya secara mandiri. Jika negara tidak mampu menekan jumlah impor ini dan tidak segera berbenah maka akan berdampak pada perekonomian Indonesia di masa yang akan datang. Ditambah lagi, angka surplus relatif tipis yang diperoleh Indonesia menunjukkan posisi tawar Indonesia dalam perdagangan dengan negara-negara ASEAN masih harus menjadi perhatian.Tabel 1. Neraca Perdagangan Indonesia dengan 9 Negara ASEAN
(dalam ribu
US$) 2012 2013 2014 2015 2016
Darussalam
Laos 20.481,70 -1.698,80 -46.712,90 6.935,40 1.676,90
Myanmar 338.056,90 483.223,30 444.829,90 455.252,00 502.343,90 Jumlah -11.190.498,60 -13.221.127,70 -11.057.844,30 -5.217.969,70 -1.494.112,40
Sumber: Data diolah
Studi yang dilakukan oleh Ernst & Young (2015), Indonesia memiliki beberapa
kelemahan yang menyebabkan ketidaksiapan untuk menjadi negara dengan posisi ekspor yang
kuat di wilayah ASEAN setelah diberlakukannya MEA, yang meliputi kurangnya infrastruktur,
politik yang cenderung kurang stabil, korupsi, hambatan bahasa,
beragam populasi dengan
puluhan etnis, sistem pendidikan dan birokrasi yang buruk, produktivitas yang stagnan, dan
tingginya inflasi. Kurangnya infrastruktur juga menyebabkan membuat bisnis lokal tidak dapat
menekan biaya produksi. Selain itu, dengan kondisi geografis Indonesia, hal ini menyebabkan
produk lokal memiliki biaya logistik tertinggi di antara negara-negara ASEAN. Ditambah lagi,
menurut lansiran Kementerian Keuangan (2014), daya saing Indonesia dalam dunia bisnis pada
tahun 2014 berada di urutan ke-8 dari 10 negara ASEAN.
Oleh karena kelemahan yang ada pada Indonesia serta daya saing yang belum cukup kuat,
dengan pelaksanaan AEC, produk dari negara-negara ASEAN lainnya akan memasuki pasar
Indonesia jauh lebih cepat dan mudah dibandingkan dengan penetrasi komoditas ekspor
Indonesia. Dalam jangka panjang, apabila tidak dilakukan intervensi dari pemerintah untuk
menyelamatkan produk lokal, maka produk lokal Indonesia akan sangat terpukul karena kalah
bersaing dengan produk impor.
D.
Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Performa ekspor Indonesia yang menurun di tahun 2016 pada beberapa negara ASEAN
masih belum menunjukkan AEC dapat memberi pengaruh positif pada kinerja ekspor
Indonesia.
2.
Turunnya defisit neraca perdagangan bukan disebabkan oleh naiknya angka ekspor,
namun disebabkan oleh melambatnya laju impor karena ada penurunan kebutuhan input
impor.
E.
Saran
(Helna)
DAFTAR PUSTAKA
Kementerian Perdagangan. Neraca Perdagangan Indonesia dengan Negara ASEAN. Diakses di:
http://kemendag.go.id
Sukarni. 2016. Analisis Ekspor Impor Indonesia dengan Negara ASEAN dalam Menghadapi
MEA.
P-ISSN
: 2460-0113 I
E-ISSN
: 2541-4461
Ernst & Young. 2015. The ASEAN Economic Community: Can the reality match the vision?
Diakses di:
Kementerian Keuangan. 2014. Laporan Dampak Asean Economic Community Terhadap
Sektor Industri Dan Jasa, Serta Tenaga Kerja Di Indonesia. Diakses di:
https://www.kemenkeu.go.id/sites/default/files/Kajian%20Dampak%20ASEAN.pdf