BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pembangunan bidang ketenagakerjaan diarahkan untuk mendorong terciptanya lapangan kerja yang luas serta meningkatkan kesejahteraan pekerja. Selain itu, diharapkan pula terciptanya pasar kerja fleksibel yang ditandai dengan; produktivitas pekerja yang tinggi, pengelolaan pelatihan tenaga kerja bagi program pelatihan strategis, kompetensi pekerja yang sesuai dengan dinamika kebutuhan industri dan persaingan global, hubungan industrial yang harmonis dengan perlindungan yang layak, keselamatan kerja yang memadai, serta terwujudnya proses penyelesaian perselisihan industrial yang memuaskan semua pihak. Sedangkan pembangunan bidang ketransmigrasian diarahkan untuk mendukung penanggulangan kemiskinan, pembangunan perdesaan di wilayah tertinggal, wilayah perbatasan, wilayah strategis dan cepat tumbuh serta pengembangan ekonomi lokal dan daerah.
Berikut perkembangan Ketenagakerjaan Periode Agustus 2016 Gambar 1.1
Tenaga Kerja 2010 2011 Perkembangan Ketenagakerjaan (Agustus) 2012 2013 2014 2015 2016
Penduduk (000 Jiwa) 1722.10 1753 1783.70 1814.40 1844.80 1874.90 1904.80 Penduduk Usia Kerja (000 jiwa) 1189.90 1235.70 1262.90 1290.40 1318 1345.80 - Angkatan Kerja (000 Jiwa) 855 867.70 885.80 872.20 900.10 951 997.90 Bekerja (000 Jiwa) 815.70 837.70 853.80 832 868.80 904.30 965 Penganggur (000 Jiwa) 39.30 30 32 40.20 31.3 46.70 32.90 TPAK (%) 71.86 70,22 70,14 67,59 68,30 70.70 72.70 TPT (%) 4,59 3,46 3,62 4,61 3,50 4,90 3.30
Sumber data; badan pusat Statistik, Agustus 2016
Penyerapan tenaga kerja hingga Agustus 2016 masih didominasi penduduk bekerja berpendidikan rendah yakni tamat sekolah Dasar (SD) kebawah sebanyak 344,4 ribu orang atau 35,7 persen dan tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebanyak 192,3ribu orang atau 19,9 persen dengan total sebanyak 536,7ribu orang atau sebesar 55,6persen. Sedangkan berpendidikan
tinggi hanya sebanyak 150,7ribu orang atau 15,6 persen yang terdiri dari 24,4ribu orang berpendidikan Diploma atau 2,5persen dan 126,3ribu orang atau 13,1 persen berpendidikan Universitas.Perbaikan kualitas penduduk yang bekerja ditunjukkan oleh kecenderungan meningkatnya penduduk bekerja berpendidikan tinggi atau tamat Diploma dan Universitas.Dalam setahun terakhir Agustus 2015 – Agustus 2016 yang terjadi di Provinsi Bengkulu penduduk bekerja berpendidikan rendah mengalami penurunan sebanyak 37,8 ribu orang atau turun sebesar 6,6 persen. Penduduk bekerja berpendidikan tinggi mengalamipeningkatan sebanyak 43,7ribuorang atau naik 3,7persen.
Berkenaan dengan kondisi ketenagakerjaan umum di atas, telah dilakukan upaya-upaya untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja yang dilakukan melalui pelatihan berbasis kompetensi di Balai Latihan Kerja. Untuk mendukung pelaksanaan pelatihan maka dilakukan kegiatan pengembangan standar kompetensi kerja, revitalisasi lembaga pelatihan kerja melalui penyediaan sarana pelatihan kerja, peningkatan kompetensi Instruktur dan tenaga pelatihan. Untuk menjamin kompetensi tenaga kerja dilakukan sertifikasi kompetensi yang dilaksanakan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi ( BNSP ) melalui lembaga Sertifikasi Profesi.
Pada bidang penempatan tenaga kerja dan perluasan kesempatan kerja terdapat peningkatan fasilitasi pelayanan penempatan tenaga kerja melalui peningkatan fungsi lembaga pasar kerja di tingkat provinsi dan kabupaten/kota dalam upaya melayani pencari kerja dan pengguna tenaga kerja. Peningkatan lembaga ini, dilaksanakan melalui pendayagunaan tenaga fungsional Pengantar Kerja di pemerintahan provinsi dan kabupaten/kota. Peningkatan fungsi pasar kerja juga dilaksanakan melalui pemberdayaan informasi pasar kerja, optimalisasi mekanisme antar kerja, penempatan melalui job fair, dan peningkatan kebijakan penempatan dan perlindungan tenaga kerja luar negeri. Upaya perlindungan tenaga kerja juga dilaksanakan melalui pengendalian penggunaan tenaga kerja asing. Di samping itu, peningkatan perluasan kesempatan kerja dilaksanakan melalui pemberdayaan masyarakat seperti padat karya, tenaga kerja mandiri, tenaga kerja sukarela, dan terapan teknologi tepat guna, serta inkubasi bisnis. Pemberdayaan masyarakat juga dilaksanakan melalui peningkatan kemampuan tenaga kerja khusus seperti tenaga kerja wanita, muda, penyandang disabilitas dan lanjut usia.
Pada bidang hubungan industrial dan jaminan sosial tenaga kerja telah dilakukan upaya antara lain : penyempurnaan peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan khususnya bidang hubungan industrial dan jaminan sosial tenaga kerja, peningkatan kualitas dan profesionalitas para pelaku hubungan industrial, peningkatan peran serikat pekerja/serikat buruh dalam penciptaan hubungan industrial yang harmonis, peningkatan syarat kerja non diskriminasi melalui pelayanan Peraturan Perusahaan (PP) dan Perjanjian Kerja Bersama (PKB),
perlindungan pekerja melalui asuransi dan jaminan sosial, pengurangan tingkat pemutusan hubungan kerja (PHK), pemogokan kerja dan perselisihan hubungan industrial, peningkatan kesejahteraan pekerja melalui kebijakan penetapan upah.
Pada Bidang Pengawasan Ketenagakerjaan telah dilakukan upaya untuk meningkatkan kuantitas perusahaan yang menerapkan norma ketenagakerjaan dan norma K3, penurunan tingkat pekerja anak dan perlindungan tenaga kerja perempuan, peningkatan kepesertaan norma jaminan sosial tenaga kerja, penurunan pelanggaran norma kerja, penurunan angka kecelakaan kerja/penyakit akibat kerja dan peningkatan penerapan SMK3 serta meningkatnya kepatuhan perusahaan terhadap norma ketenagakerjaan dan K3 melalui penegakan hukum yang berdampak peningkatan perlindungan dan kesejahteraan tenaga kerja, iklim investasi dan peningkatan produktivitas nasional. Seiring dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, perlu dilakukan peningkatan, penataan Pengawas Ketenagakerjaan dan penguatan kelembagaan pengawasan ketenagakerjaan serta pengelolaan tenaga Pengawas Ketenagakerjaan. Pemerintah perlu meningkatkan peran, fungsi dan independensi pengawasan ketenagakerjaan dalam penerapan norma ketenagakerjaan dan K3 di perusahaan/tempat kerja, dan penurunan angka pelanggaran sehingga adanya peningkatan perlindungan Hak pekerja dan pengembangan dunia usaha.
Dalam konteks pembangunan daerah, keberhasilan pembangunan daerah salah satunya ditentukan oleh keberhasilan pembangunan ketenagakerjaan di daerah yang bersangkutan. Namun, berdasarkan fakta - fakta yang ada, ketidakpastian dinamika kondisi perekonomian, sosial-budaya, demografis dimasa mendatang, serta banyaknya stakeholders dan faktor yang terkait dengan pembangunan ketenagakerjaan mulai dari hulu sampai hilir, kenyataannya telah menjadi faktor utama yang cukup mengganggu dalam pelaksanaan pembangunan ketenagakerjaan di daerah.
Dalam upaya mewujudkan keberhasilan dan kesinambungan pembangunan bidang ketenagakerjaan dan ketransmigrasian dalam jangka panjang tersebut, maka perlu disusun Rencana Strategis Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu sebagai penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah. Rencana Strategis bidang ketenagakerjaan dan ketransmigrasian yang berisi kondisi umum, visi, misi dan tahapan pembangunan ketenagakerjaan dan ketransmigrasian dalam kurun waktu 2016-2021 ini menjadi pedoman bagi pelaksanaan pembangunan bidang ketenagakerjaan dan ketransmigrasian dalam periode tersebut. Namun demikian, Rencana Strategis ini bersifat fleksibel dan terbuka dalam arti tetap memperhatikan perkembangan lingkungan strategis yang mempengaruhi pembangunan bidang ketenagakerjaan, baik dalam lingkup lokal, nasional maupun global, serta tetap
memperhatikan, mengacu dan disesuaikan dengan visi, misi dan program Gubernur yang dipilih secara langsung oleh rakyat.
Tujuan yang ingin dicapai dengan disusunnya Rencana Strategis ini adalah:
1. Mewujudkan aspek keberlanjutan (continuity) dan kesinambungan (sustainability) pembangunan jangka menengah bidang ketenagakerjaan dan ketransmigrasian dalam perspektif jangka panjang.
2. Mendukung koordinasi antar pelaku (stakeholder) pembangunan dalam pencapaian tujuan jangka panjang pembangunan Bidang Ketenagakerjaan dan Ketransmigrasian. 3. Mewujudkan integrasi, sinkronisasi dan sinergi baik antar unit kerja di pusat, maupun
dengan Dinas yang membidangi Ketenagakerjaan dan Ketransmigrasian di daerah. Pembangunan sebagai upaya perubahan yang terencana mengandung pemahaman mengenai kebutuhan akan waktu yang cukup panjang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kebutuhan akan waktu tersebut disebabkan karena tingginya kompleksitas kondisi yang mesti dihadapi dalam suatu proses pembangunan sehingga kecil kemungkinan dapat dilakukan dalam kurun waktu yang relatif singkat. Pembangunan tersebut harus dilakukan melalui serangkaian tahapan yang disusun secara sistematis dalam jangka panjang. Oleh karena itu, maka dalam suatu proses pembangunan diperlukan rencana strategis yang berfungsi sebagai guidance dalam mengarahkan berbagai kebijakan, strategi, dan program untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai. Untuk mencapai tujuan pembangunan jangka panjangnya, maka Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu juga memerlukan Rencana Strategis. Rencana ini dibutuhkan untuk memberikan arahan mengenai kebijakan, strategi, dan tahapan-tahapan program yang perlu ditetapkan untuk mencapai tujuan jangka menengah sampai dengan tahun 2021. Dengan adanya Rencana Strategis Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu, maka tujuan pembangunan jangka panjang bidang ketenagakerjaan dan ketransmigrasian akan ditempuh secara lebih sistematis, terukur, efektif, efisien dan tepat sasaran.
Paradigma baru sistem perencanaan dan penganggaran ditandai dengan Anggaran Berbasis Kinerja (ABK) dan penerapan Anggaran Responsif Gender (ARG) dalam penyusunan kebijakan, program dan kegiatan. Hal tersebut karena meningkatnya tuntutan masyarakat di era reformasi terhadap pelayanan publik yang mengharuskan pengelolaan pemerintahan yang ekonomis, efisien, efektif, transparan, akuntabel dan responsif. Untuk mewujudkan pembangunan yang adil bagi perempuan dan laki-laki, diterapkan Pengarusutamaan Gender (PUG) dan Anggaran Responsif Gender (ARG) sebagai strategi dan alat yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Dalam Konstitusi Negara Pasal 28D ayat 2, UUD 1945, yang berbunyi
“Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapatkan imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja”. Namun dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara masih terjadi diskriminasi terhadap perempuan.
Fakta kesenjangan gender terjadi di berbagai bidang pembangunan seperti rendahnya partisipasi perempuan untuk bekerja dan berusaha, rendahnya akses perempuan terhadap sumber daya ekonomi, perempuan masih dianggap sebagai pencari nafkah tambahan, masih adanya persepsi perempuan tidak mampu memimpin dan lain sebagainya. Kondisi ini menuntut penyelenggara negara berkewajiban untuk mengeliminasi diskriminasi, yang terjadi dalam kelompok masyarakat, khususnya di bidang ketenagakerjaan dan ketransmigrasian. Untuk mewujudkan kesetaraan gender, pemerintah telah mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional. Instruksi Presiden tersebut mengamanatkan kepada pemerintah dan pemerintah daerah untuk menerapkan strategi Pengarusutamaan Gender (PUG). Penerapan Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam pembangunan nasional harus dipahami sebagai kerangka yang terintegrasi dalam mendorong, mengefektifkan serta mengoptimalkan upaya Pengarusutamaan Gender (PUG) secara terpadu dan terkoordinasi.
Adanya Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 pada dasarnya cukup mempunyai pengaruh terhadap mekanisme pelembagaan Pengarusutamaan Gender (PUG) melalui penentuan kebijakan dalam siklus pembangunan nasional yang meliputi proses perencanaan, penyusunan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi program serta kegiatan yang mengharuskan berperspektif gender. Agar pelembagaan Pengarus-utamaan Gender (PUG) bisa berjalan efektif dan efisien, diperlukan komitmen pemerintah, dan masyarakat untuk menerapkan Anggaran Responsif Gender (ARG). Oleh karena itu strategi mewujudkan Anggaran Responsif Gender (ARG) perlu dilandasi dengan pengintegrasian isu gender dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional /Daerah (RPJPN/D), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional/Daerah (RPJMN/D), Renstra KL dan Daerah, dan Rencana Kerja Tahunan melalui penyusunan RKA-KL Perangkat Daerah (PD) yang responsif gender. Strategi Pengarusutamaan Gender (PUG) ke dalam perencanaan dan penganggaran dewasa ini semakin diakui menjadi kebutuhan dan alat untuk merumuskan kebijakan pembangunan nasional yang bertujuan mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Hal tersebut ditegaskan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2010, tentang Program Pembangunan yang berkeadilan. Melalui instruksi ini beberapa Kementerian/Lembaga (K/L) diwajibkan untuk menyusun program yang pro rakyat, berkeadilan untuk semua dan mencapai tujuan pembangunan millennium.
Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender (PUG) masih mengalami hambatan dan tantangan. Oleh karena itu pelaksanaan Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam berbagai dimensi pembangunan belum berjalan maksimal, hal ini terjadi karena komitmen dari penyelengara negara termasuk perencana pada pemerintah pusat dan daerah belum memahami teknis mengintegrasikan gender ke dalam proses penyusunan anggaran. Selain itu, permasalahan utama adalah masih banyak program dan kegiatan yang disusun tanpa menggunakan data terpilah, penentuan indikator kinerja yang belum terukur, pelaporan kinerja yang belum menunjukkan manfaat bagi perempuan dan laki-laki. Dalam menghadapi tantangan dan hambatan ini diperlukan dukungan sumberdaya manusia yang kompeten dan profesional dalam menyusun perencanaan dan penganggaran yang menerapkan Anggaran Responsif Gender (ARG). Permasalahan di atas tidaklah mengurangi komitmen Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu untuk mengembangkan kebijakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang responsif gender, terutama untuk mewujudkan kesetaraan bagi tenaga kerja dan transmigran, baik perempuan maupun laki-laki.
Harus dipahami bahwa perencanaan dan penganggaran responsif gender merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan sistem anggaran yang berlaku. Selain itu, substansi anggaran responsif gender merupakan bagian dari proses anggaran kinerja. Penerapan Anggaran Responsif Gender (ARG) merupakan alat untuk mengurangi kesenjangan, partisipasi dalam pengambilan keputusan dan pemanfaatan hasil pembangunan antara perempuan dan laki-laki. Ada 4 (empat) faktor penting yang mendasari perlunya dilakukan perencanaan dan penganggaran responsif gender, yaitu:
Pertama, mengurangi diskriminasi terhadap perempuan dan laki-laki dalam pekerjaan, meningkatkan keterampilan perempuan dan laki-laki, melindungi kelompok masyarakat miskin.
Kedua, memberikan cakrawala baru bagi perencana untuk memahami dan menerapkan prinsip-prinsip Anggaran Responsif Gender (ARG) dalam menyusun rencana kerja dan anggaran responsif gender. Hal itu menjadi dasar dan alat melakukan perubahan dalam mengalokasikan anggaran yang efisien, efektif, dan adil bagi semua masyarakat sesuai prinsip tata pemerintahan yang baik serta menerapkan prinsip pengelolaan keuangan publik yang baik.
Ketiga. memperbaiki posisi laki-laki dan perempuan yang belum seimbang, seperti kemiskinan struktural di berbagai daerah, kesenjangan gender bidang pendidikan, kesehatan dan ekonomi, sistem nilai dan budaya yang belum berubah, konflik sosial, yang merugikan perempuan. Selain itu juga masalah perdagangan manusia dan permainan media yang menempatkan perempuan sebagai komoditi, yang tentunya merugikan perempuan serta partisipasi perempuan dalam politik dan ekonomi.
Keempat. Mengimplementasikan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 104/PMK.02/2010 yang secara jelas mengamanatkan penerapan prinsip-prinsip Anggaran Responsif Gender (ARG) dalam penyusunan dokumen perencanaan dan penganggaran di berbagai bidang pembangunan.
1.2. Landasan Hukum
Penyusunan Renstra 2016-2021 dalam rangka melaksanakan visi dan misi pembangunan ketenagakerjaan dan ketransmigrasian berlandaskan pada :
1. Undang Undang No. 9 Tahun 1967 junto PP No. 20 Tahun 1968 Tentang Pembentukan Provinsi Bengkulu (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2828);
2. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 29, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3277)
3. Undang–Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 74, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4287);
4. Undang–Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389);
5. Undang–Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);
6. Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah;
7. Undang–Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);
8. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 39, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4279); 9. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian (Lembaran Negara
Indonesia Tahun 3682) sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 29 tahun 2009 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 131, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5050);;
10. Undang Undang No. 9 Tahun 2015 Tentang Perubahan Kedua atas Undang Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah;
11. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Berita Negara Republik Indonesia Nomor 4578);
12. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 Tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan SPM;
13. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4663);
14. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi,dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);
15. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 19, Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4815);
16. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4817);
17. Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2000 Tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Pemerintah Provinsi;
18. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014;
19. Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional;
20. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 08 Tahun 2010 tentang Pedoman Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Ketenagakerjaan dan Ketransmigrasian;
21. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri No 59 tahun 2007 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri No 13 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;
22. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No 8 Tahun 2008 tentang Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;
23. Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan pengarusutamaan Gender di Daerah;
24. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 18 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Rencan Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2017;
25. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Ketenagakerjaan dan Ketransmigrasian Tahun 2010 -2025;
26. Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2016 tentang Rencana Strategis Kementerian Ketenagakerjaan Tahun 2015-2019;
27. Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2015 tentang Rencana Strategis Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Tahun 2015-2019;
28. Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi Bengkulu Tahun 2005-2025 (Lembaran Daerah Provinsi Bengkulu Tahun 2008 Nomor 4);
29. Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2010 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah (Lembaran Daerah Provinsi Bengkulu Tahun 2010 Nomor 6);
30. Peraturan Daerah Provinsi Bengkulu Nomor 6 Tahun 2016 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Bengkulu Tahun 2016 – 2021;
31. Peraturan Gubernur Bengkulu Nomor 55 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi
1.3. Maksud dan Tujuan
Penyusunan Renstra Perangkat Daerah (PD) dengan tujuan sebagai acuan atau pedoman penyusunan rencana kerja pembangunan ketenagakerjaan dan ketransmigrasian tahunan. Dengan demikian pelaksanaan pembangunan bidang ketenagakerjaan dan ketransmigrasian lima tahun mendatang dapat terarah dan dapat mencapai sasaran yang telah ditetapkan.
Adapun yang berubah di dalam penyusunan Renstra 2016-2021 ini terdapat 5 point: 1. Adanya Perubahan RPJMD 2016-2021.
2. Di Bab 4.1 adanya perubahan isi Tabel yang berisikan Sasaran dan indikator Kinerja 3. Hasil Evaluasi RPJMD 2016-2021 terdapat bahwa untuk target jumlah tenaga kerja
yang mendapatkan sertifikat kompetensi masih sangat rendah, jadi perlu adanya kenaikan target capaian tersebut.
4. Penyusunan review renstra Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi menjadi tolak ukur keberhasilan Pembangunan Ketenagakerjaan yang tertuang di dalam dokumen Perencanaan Tenaga Kerja.
5. Adanya penyesuaian pagu dan kegiatan di tahun anggaran 2016-2021.
1.4. Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang
Menyajikan latar belakang pentingnya penyusunan Rencana Strategis (Renstra) Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu Tahun 2016-2021.
2. Landasan Hukum
Menyajikan seluruh dasar hukum disusunnya Rencana Strategis (Renstra) Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu Tahun 2016-2021.
3. Maksud dan Tujuan
Menyajikan tujuan disusunnya Rencana Strategis (Renstra) Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu Tahun 2016-2021.
4. Sistematika Penulisan
Menyajikan sistematika penulisan Rencana Strategis (Renstra) Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu Tahun 2016-2021.
BAB II GAMBARAN PELAYANAN Perangkat Daerah (PD) 1. Tugas, Fungsi, dan Struktur Organisasi Perangkat Daerah (PD)
Menyajikan gambaran umum tugas, fungsi dan struktur organisasi Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu.
2. Sumber Daya Perangkat Daerah (PD)
Menyajikan gambaran kekuatan personel yang ada di Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu.
3. Kinerja Pelayanan Perangkat Daerah (PD)
Menyajikan kinerja pelayanan Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu.
4. Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan Perangkat Daerah (PD)
Menyajikan tantangan dan peluang dalam pengembangan pelayanan Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu.
BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI
1. Identifikasi permasalahan berdasarkan tugas dan fungsi pelayanan Perangkat Daerah (PD).
Menyajikan identifikasi permasalahan yang dihadapi oleh Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu berdasarkan tugas pokok dan fungsi yang dimiliki. 2. Telaahan Visi, Misi dan Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah terpilih.
Menyajikan hasil telaahan visi, misi dan program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.
3. Telaahan Renstra K/L dan Renstra Kab/Kota
Menyajikan hasil telaahan Renstra Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI dan Renstra Kab./Kota dalam Provinsi Bengkulu.
4. Telaahan Rencana Tata Ruang Wilayah dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis
Menyajikan hasil telaahan Rencana Tata Ruang Wilayah dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis Provinsi Bengkulu.
5. Penentuan Isu-isu Strategis
Menyajikan isu-isu strategis yang dihadapi oleh Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu.
BAB IV VISI , MISI TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN 1. Visi dan Misi Perangkat Daerah (PD)
Menyajikan visi dan misi Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu. 2. Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah Perangkat Daerah (PD)
Menyajikan tujuan dan sasaran jangka menengah Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu.
3. Strategi dan Kebijakan Perangkat Daerah (PD)
Menyajikan strategi dan kebijakan Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu.
BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN DAN PENDANAAN INDIKATIF
Menyajikan rencana program dan kegiatan, indikator kinerja, kelompok sasaran dan pendanaan indikatif Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu.
BAB VI INDIKATOR KINERJA PERANGKAT DAERAH (PD) YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN RPJMD
Menyajikan indikator kinerja Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD perubahan Provinsi Bengkulu Tahun 2016-2021.
BAB II
GAMBARAN PELAYANAN PERANGKAT DAERAH (PD)
2.1. Tugas, Fungsi dan Struktur Perangkat Daerah (PD)
Memperhatikan kondisi ketenagakerjaan dan ketransmigrasian saat ini, pembangunan bidang ketenagakerjaan dan ketransmigrasian lima tahun kedepan akan semakin berat dan kompleks, hal ini ditandai dengan meningkatnya jumlah penganggur terbuka, berkurangnya lapangan kerja formal akibat rendahnya daya beli masyarakat dan tidak berkembangnya bidang usaha, banyaknya pekerja yang bekerja di sektor yang kurang produktif dan semakin banyak munculnya masalah dalam penyediaan tanah transmigrasi dan pembangunan UPT Transmigrasi.
Peraturan Gubernur Bengkulu Nomor 55 Tahun 2016 Tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu pada Bab II pasal 2 menyatakan Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu mempunyai tugas pokok "membantu Gubernur melaksanakan urusan pemerintahan dan urusan wajib bidang tenaga kerja dan bidang transmigrasi.".
Untuk melaksanakan tugas pokok itu Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu mempunyai fungsi:
:a. Perumusan kebijakan teknis bidang ketenagakerjaan dan transmigrasi.
b. Pelaksanaan kebijakan teknis bidang ketenagakerjaan dan transmigrasi. c. Pelaksanaan evaluasi dna pelaporan sesuai dengan lingkup tugasnya. d. Pelaksanaan administrasi dinas dan
e. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Gubernur terkait dengan tugas dan fungsinya.
Sesuai dengan prioritas pembangunan daerah maka pembangunan bidang ketenagakerjaan yang diarahkan pada kualitas dan produktivitas tenaga kerja, perluasan dan pengembangan kesempatan kerja serta perlindungan dan pengembangan lembaga tenaga kerja dalam rangka pengurangan pengangguran, pengentasan kemiskinan dan pertuimbuhan ekonomi daerah. Pembangunan bidang ketransmigrasian diarahkan pada pengembangan kawasan transmigrasi yang akan berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Provinsi Bengkulu yang akan meningkatkan kesejahteraan warga transmigran dan penduduk sekitarnya.
Struktur Organisasi Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu dapat dilihat pada halaman sebelumnya.
2.2. Sumber Daya Perangkat Daerah (PD)
Kekuatan personel dan sarana dan prasarana yang ada di Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu sampai dengan Pertengahan tahun 2017 adalah sebagai berikut:
a) Menurut Golongan No Golongan Jumlah 1 IV 24 Orang 2 III 216 Orang 3 II 21 Orang 4 I 4 Orang
JUMLAH SELURUH 265 Orang
b) Menurut Tingkat Pendidikan
No PENDIDIKAN JUMLAH
1 SD 1 Orang
2 SMTP 9 Orang
3 SMTA 83 Orang
4 D2 7 Orang
5 D3/ Sarjana Muda 35 Orang
6 S1 124 Orang
7 S2 7 Orang
JUMLAH SELURUH 266 Orang
c) Pejabat Fungsional
Jumlah pejabat fungsional pada Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu sampai dengan akhir tahun 2016 sebanyak 66 orang terdiri dari :
1) Instruktur : = 51 orang - BLK Bengkulu = 29 orang - BLK Curup = 10 orang - BPPD Bengkulu = 3 orang - Balai Hyperkes = 1 orang - Balaitrans = 3 orang 2) Pengawas Ketenagakerjaan = 5 orang 3) Pengantar Kerja = 8 orang 4) Perantara PHI = 4 orang 5) Kearsipan = 1 orang 6) Ketransmigrasian = 2 orang
d) Kondisi Sarana dan Prasarana yang dimiliki :
No. Sarana / Prasarana Kondisi Jumlah Ket.
Baik Rusak Lengkap Mencukupi Kurang
1. Gedung Kantor 6 0 - √ - 2. Kend. Roda 2 10 12 - - √ 3. Kend. Roda 4 3 0 - - √ 4. Meubeler 210 218 - - √ 5. Komputer 11 18 - - √ 6. Aset Lainnya 0 0 - - -
2.3. Kinerja Pelayanan Perangkat Daerah (PD)
Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu melaksanakan pelayanan ke masyarakat sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang tertuang dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Ketenagakerjaan. Standar Pelayanan Minimal ini meliputi:
No. Pelayanan Dasar
Standar Pelayanan Minimal
Indikator Nilai
1. Pelayanan Pelatihan Kerja
1. Besaran tenaga kerja yang mendapat pelatihan berbasis kompetensi
60% 2. Besaran tenaga kerja yang mendapat pelatihan
Kewirausahaan
60% 2. Pelayanan Penempatan
Tenaga Kerja
1. Besaran pencari kerja yang terdaftar yang ditempatkan 40% 3. Pelayanan Penyelesaian
Perselisihan Hubungan Industrial
1. Besaran kasus yang diselesaikan dengan Perjanjian Bersama (PB)
50%
4. Pelayananan
Kepesertaan Jamsostek
1. Besaran pekerja/buruh yang menjadi peserta program Jamsostek aktif
50% 5. Pelayanan Pengawasan
Ketenagakerjaan
1. Besaran pemeriksaan perusahaan 45%
2. Besaran pengujian peralatan di perusahaan 50%
Standar Pelayanan Minimal (SPM) diatas dilaksanakan melalui sejumlah kegiatan yang antara lain adalah sebagai berikut:
1. Pelaksanaan pelatihan keterampilan kerja meliputi jenis pelatihan kejuruan mobil bensin, menjahit, elektronika, komputer, las karbit, instalasi penerangan, meubel, peternakan, tata rias, sepeda motor dan processing makanan untuk pencari kerja dan pelatihan peningkatan produktivitas untuk tenaga kerja. Untuk mendukung program prioritas Bapak Gubernur Bengkulu telah dilakukan perubahan kejuruan pelatihan berupa penambahan kejuruan baru seperti bahasa asing.
2. Pelaksanaan penempatan pencari kerja lokal, ke luar negeri melalui pengiriman Tenaga Kerja Indonesia (TKI) bekerja sama dengan PJTKI (Perusahaan Jasa Tenaga Kerja
Indonesia) dan pengiriman tenaga kerja magang ke Jepang bekerja sama dengan IMM Japan (International Manpower Development of Medium and Small Enterprises Japan) melalui Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI.
3. Pengawasan peraturan hukum ketenagakerjaan dan Jamsostek serta pemeriksaan kesehatan pekerja dan lingkungan kerja.
4. Mediasi dan penyelesaian perselisihan ketenagakerjaan.
5. Pembinaan masyarakat transmigran dan pengembangan sarana dan prasarana di UPT serta pembangunan Kota Terpadu Mandiri.
2.4. Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan Perangkat Daerah (PD)
Dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya, Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu menghadapi sejumlah tantangan yang cukup serius yaitu:
1. Dalam beberapa tahun kedepan sebagian besar PNS senior yang telah menguasai tugas pokok dan fungsinya akan pensiun dan PNS yang baru masuk belum menguasai sepenuhnya tugas pokok dan fungsi mereka. Hal ini sangat terasa pada jabatan fungsional instruktur dimana dalam beberapa tahun yang akan datang sebagaian besar instruktur senior akan pensiun dan PNS baru yang telah mengikuti diklat dasar Instuktur dan menjadi Instruktur Latihan Kerja (ILK) sangat terbatas. Selain itu kurangnya pelatihan untuk personel yang berada di UPTD yang baru dibentuk seperti UPTD Balai Hiperkes dan KK Provinsi Bengkulu yang masih kekurangan tenaga teknis untuk menunjang operasionalnya. 2. Program Prioritas Pembangunan Daerah membutuhkan perubahan pelaksanaan pelatihan
keterampilan di BLK Bengkulu dan BLK Kepahiang berupa perubahan paket pelatihan keterampilan yang baru seperti kejuruan bahasa asing dan perhotelan. Pelaksanaan pelatihan kejuruan yang baru ini membutuhkan instruktur dan ruang pelatihan yang baru. 3. Peralatan latihan yang ada di BLK Bengkulu dan BLK Kepahiang sudah tidak memadai
baik kuantitas maupun kualitasnya. Sebagian besar peralatan latihan yang ada berasal dari era orde baru bahkan ada yang berasal dari tahun 1980-an. Hanya sebagaian kecil saja yang mengikuti perkembangan teknologi.
4. Kendaraan operasional yang masih kurang karena sebagian diantaranya sudah tidak layak digunakan.
5. Perkembangan teknologi yang sangat cepat dan tidak diikui oleh penyesuaian kurikulum pelatihan dan SDM yang ada.
6. Selalu terdapat masalah dalam penempatan warga transmigran dan pembinaan mereka. Hal ini dapat berupa masalah legalitas lahan yang belum jelas, kurangnya luas lahan yang
diterima, adanya konflik dengan masyarakat setempat dan tidak tersedianya sarana dan prasarana seperti tenaga listrik di UPT.
7. Paradigma baru sistem perencanaan dan penganggaran ditandai dengan Anggaran Berbasis Kinerja (ABK) dan penerapan Anggaran Responsif Gender (ARG) dalam penyusunan kebijakan, program dan kegiatan. Hal tersebut karena meningkatnya tuntutan masyarakat di era reformasi terhadap pelayanan publik yang mengharuskan pengelolaan pemerintahan yang ekonomis, efisien, efektif, transparan, akuntabel dan responsif. Untuk mewujudkan pembangunan yang adil bagi perempuan dan laki-laki, diterapkan Pengarusutamaan Gender (PUG) dan Anggaran Responsif Gender (ARG) sebagai strategi dan alat yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Dalam Konstitusi Negara Pasal 28D ayat 2, Undang Undang Dasar 1945, yang berbunyi “Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapatkan imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja”. Namun dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara masih terjadi diskriminasi terhadap perempuan. Fakta kesenjangan gender terjadi di berbagai bidang pembangunan seperti rendahnya partisipasi perempuan untuk bekerja dan berusaha, rendahnya akses perempuan terhadap sumberdaya ekonomi, perempuan masih dianggap sebagai pencari nafkah tambahan, masih adanya persepsi perempuan tidak mampu memimpin dan lain sebagainya. Kondisi ini menuntut penyelenggara negara berkewajiban untuk mengeliminir diskriminasi, yang terjadi dalam kelompok masyarakat, khususnya di bidang ketenagakerjaan dan ketransmigrasian. Untuk mewujudkan kesetaraan gender, pemerintah telah mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam Pembangunan Nasional. Inpres tersebut mengamanatkan kepada pemerintah dan pemerintah daerah untuk menerapkan strategi Pengarusutamaan Gender. Penerapan Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam pembangunan nasional harus dipahami sebagai kerangka yang terintegrasi dalam mendorong, mengefektifkan, serta mengoptimalkan upaya Pengarusutamaan Gender (PUG) secara terpadu dan terkoordinasi. Adanya Instruksi presiden Nomor 9 Tahun 2000 pada dasarnya cukup mempunyai pengaruh terhadap mekanisme pelembagaan Pengarusutamaan Gender (PUG) melalui penentuan kebijakan dalam siklus pembangunan nasional, yang meliputi proses perencanaan, penyusunan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi program serta kegiatan yang mengharuskan berperspektif gender. Agar pelembagaan Pengarusutamaan Gender (PUG) bisa berjalan efektif dan efisien diperlukan komitmen pemerintah dan masyarakat untuk menerapkan Anggaran Responsif Gender (ARG). Selain itu, permasalahan utama adalah masih banyak program dan kegiatan yang disusun tanpa menggunakan data terpilah,
penentuan indikator kinerja yang belum terukur, pelaporan kinerja yang belum menunjukkan manfaat bagi perempuan dan laki-laki. Dalam menghadapi tantangan dan hambatan ini diperlukan dukungan sumber daya manusia yang kompeten dan profesional dalam menyusun perencanaan dan penganggaran yang menerapkan Anggaran Responsif Gender (ARG).
8. Keadaan dunia kerja Provinsi Bengkulu yang masih belum berkeadilan gender. Hal ini terlihat dari data keadaan Penduduk Usia Kerja Provinsi Bengkulu bulan Agustus 2015 dimana terdapat 1.372,8 orang Penduduk Usia Kerja di Provinsi Bengkulu. Jumlah Penduduk Usia Kerja ini terbagi menjadi Angkatan Kerja dan Bukan Angkatan Kerja. Jumlah Angkatan Kerja Provinsi Bengkulu bulan Agustus 2015 mencapai 951.007 orang terdiri dari 368.569 orang Perempuan (38,76%) dan 582.438 orang Laki-laki (61,24%). Jumlah Bukan Angkatan Kerja Provinsi Bengkulu bulan Agustus 2015 mencapai 394.747 orang terdiri dari 292.129 orang Perempuan (74,00%) dan 102.618 orang Laki-laki (26,00%). Angkatan Kerja sendiri terbagi kembali menjadi Bekerja dan Penganggur Terbuka. Pada bulan Agustus 2015 terdapat 904.317 orang yang Bekerja terdiri dari 347.740 orang Perempuan (38,45%) dan 556.577 orang Laki-laki (61,55%). Penganggur Terbuka berjumlah 46.690 orang terdiri dari 20.829 orang Perempuan (44,61%) dan 25.861 orang Laki-laki (55,39%). Data-data tersebut menunjukkan bahwa persentase Perempuan yang bekerja (38,45%) lebih kecil dari pada persentase Perempuan dalam Usia Kerja (49,10%) dan persentase Perempuan yang termasuk Angkatan Kerja (38,76%). Keadaan ini menyebabkan nilai Tingkat Pengangguran Terbuka Perempuan (5,65%) lebih tinggi dari pada nilai Tingkat Pengangguran Terbuka Laki-laki (4,44%) dan nilai Tingkat Pengangguran Terbuka Provinsi Bengkulu (4,91%). Kondisi ini memperlihatkan kurangnya penyerapan pencari kerja Perempuan khususnya untuk jenjang pendidikan tinggi (nilai Tingkat Pengangguran Terbuka Perempuan berpendidikan D1 sampai dengan S3 mencapai 10,73% berbanding nilai Tingkat Pengangguran Terbuka Laki-laki berpendidikan D1 sampai dengan S3 yang hanya 8,56%) . Hal ini memperlihatkan pasar tenaga kerja belum memberikan akses pada pekerja perempuan, karena lebih memilih mempekerjakan laki-laki dibanding perempuan. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan (55,78%) lebih rendah dibandingkan laki-laki (85,02%). Akses kesempatan kerja masih lebih banyak diberikan pada laki-laki dibandingkan perempuan, kondisi ini tidak terlepas dari adanya anggapan bahwa pekerjaan perempuan merupakan pekerjaan sampingan dalam keluarga.
Tantangan yang menghadang bukanlah akhir yang akan mematikan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu. Tetap terdapat sejumlah peluang yang dapat diambil untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi yang dimiliki. Sejumlah peluang itu adalah sebagai berikut:
1. Dapat dibuka pelatihan kejuruan keterampilan yang baru seperti pelatihan penunjang dunia pariwisata atau pelatihan lain yang menyesuaikan kebutuhan daerah dan perkembangan teknologi dan budaya masyarakat lokal Provinsi Bengkulu maupun regional dan nasional bahkan masyarakat internasional terutama untuk mendukung program prioritas Bapak Gubernur Bengkulu.
2. Adanya sejumlah besar PNS baru yang ditempatkan di Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu dan memiliki tingkat pendidikan yang memadai dan sesuai dengan formasi dan penempatan mereka. Mereka akan dapat dididik dan dilatih dengan mudah untuk mengisi jabatan kosong yang ditinggalkan oleh PNS yang pensiun. 3. Kekurangan instruktur pelatihan kejuruan yang baru dapat diatasi dengan cara bekerja
sama dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri dan Swasta dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) di Provinsi Bengkulu. Kerja sama penggunaan tenaga pengajar milik Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri dan Swasta dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) ini pada dasarnya dapat dilakukan dengan mudah karena pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri dan Swasta ini sudah menjadi kewenangan OPD Pendidikan Pemerinta Provinsi Bengkulu. Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) yang menjadi mitra pelaksanaan pelatihan adalah LPK yang menjadi binaan Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu.
4. Kekurangan ruangan tempat pelaksanaan pelatihan kejuruan pendukung program prioritas Bapak Gubernur dapat diatasi dengan cara bekerja sama dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri dan Swasta yang ada di Provinsi Bengkulu. Kerja sama penggunaan ruang belajar milik Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri dan Swasta ini pada dasarnya dapat dilakukan dengan mudah karena pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri dan Swasta ini sudah menjadi kewenangan OPD Pendidikan Pemerinta Provinsi Bengkulu.
5. Peralatan pelatihan yang sudah tidak layak dapat diganti menggunakan dana APBN Kementrian Ketenagakerjaan RI dan Kementrian Desa, PDT dan Transmigrasi RI dan APBD Provinsi Bengkulu. Selain itu dapat pula digunakan kerja sama dengan pihak swasta untuk pelaksanaan pelatihan sesuai dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2012 tentang Kerjasama Penggunaan Balai Latihan Kerja oleh Swasta.
6. Perkembangan teknologi yang sangat cepat dapat diatasi dengan pemanfaatan teknologi yang sangat cepat berkembang itu sendiri. Teknologi internet dapat digunakan untuk mengatasi kurangnya bahan pelajaran dan pengetahuan Pejabat Fungsional tentang teknologi terbaru. Pejabat Fungsional dan personel lain dapat memanfaatkan semua bentuk aplikasi internet mulai dari sosial media, blog dan milis untuk menambah pengetahuan dan melengkapi kebutuhan sumber daya lainnya.
7. Untuk mengatasi permasalahan penempatan dan pembinaan warga transmigran, akan dilakukan tindakan-tindakan berupa rapat-rapat persiapan, koordinasi dan pengawasan secara terpadu dan terjadwal penyiapan lahan, pembangunan sarana dan prasarana dan penempatan warga transmigran.
8. Untuk mengatasi tantangan paradigma baru sistem perencanaan dan penganggaran yang ditandai dengan Anggaran Berbasis Kinerja (ABK) dan penerapan Anggaran Responsif Gender (ARG) dalam penyusunan kebijakan, program dan kegiatan, Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu telah memiliki fokal point gender yang telah mendapatkan bimbingan teknis dan pelatihan dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Bengkulu. Untuk memastikan program dan kegiatan yang dilaksanakan responsif gender maka dilakukan penyusunan dokumen analisis gender berupa penyusunan dokumen GAP (Gender Analysis Pathway) dan dokumen GBS (Gender Budget Statement) terutama untuk kegiatan yang didanai menggunakan APBD. Selain itu juga akan dilakukan pembentukan Kelompok Kerja (Pokja) Pengarusutamaan Geender (PUG) Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu sesuai arahan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Bengkulu. 9. Pasar kerja yang masih belum berkeadilan gender dapat diatasi dengan melakukan
pembinaan ke perusahaan melalui penyusunan rencana tenaga kerja mikro di perusahaan dan dengan melakukan pelatihan keterampilan kerja dan bantuan usaha untuk perempuan yang berada pada usia kerja. Tindakan ini akan membutuhkan dukungan anggaran yang memadai dan kerja sama dengan Perangkat Daerah (PD) lainnya.
BAB III
PERMASALAHAN DAN ISU STRATEGIS PERANGKAT DAERAH
3.1. Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan Perangkat Daerah (PD)
Permasalahan yang dihadapi oleh Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya antara lain adalah:
1. Bonus Demografi yang yang diperkirakan akan terjadi pada tahun 2025 tetapi telah mulai dirasakan sejak saat ini hal ini menyebabkan tingginya pertambahan angka pencari kerja setiap tahun. Jumlah pencari kerja selalu tumbuh lebih cepat dibandingkan tumbuhnya kesempatan kerja yang ada.
2. Penduduk Usia Kerja (PUK) masih didominasi oleh mereka yang berpendidikan Sekolah Dasar (SD) ke bawah (data pada bulan Agustus 2015 terdapat 39,92% Penduduk Usia Kerja berpendidikan SD ke bawah (537.268 Orang Penduduk Usia Kerja berpendidikan SD ke bawah dari 1.345.754 orang Penduduk Usia Kerja).
3. Rendahnya pertambahan kesempatan kerja. Jumlah kesempatan kerja/lowongan kerja yang ada selalu sangat rendah dan tidak dapat menampung seluruh pencari kerja yang ada. 4. Tidak terpenuhinya kesempatan kerja yang ada. Tidak terisinya lowongan kerja ini dapat
dikarenakan tidak sesuainya kualitas pencari kerja dengan kebutuhan pasar kerja dan dapat pula disebabkan oleh tidak sampainya informasi kesempatan kerja yang ada ke pencari kerja.
5. Sebagian besar hutan di Provinsi Bengkulu adalah kawasan konservasi yang tidak dapat digunakan untuk pembangunan Unit Permukiman Tranmsigrasi (UPT) sehingga lahan yang dapat digunakan semakin sempit dan terpencar. Hal ini akan sangat menyulitkan pembangunan UPT baru di Provinsi Bengkulu.
3.2. Telaahan Visi, Misi dan Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Terpilih.
Dalam penyusunan Rencana Strategis ini, sangat diperhatikan visi, misi dan program dari Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur Bengkulu terpilih periode 2016-2021. Visi tersebut berbunyi: “Mewujudkan Bengkulu Yang Maju, Sejahtera, Bermartabat, dan Berdaya Saing Tinggi”.
Pemahaman Bengkulu maju, sejahtera, bermartabat dan berdaya saing tinggi adalah (1) terpenuhinya kebutuhan layanan dasar masyarakat yang berkualitas; (2) meningkatnya hasil-hasil pembangunan yang berkeadilan dengan didukung oleh kondisi aman, pemerintahan bersih dan berwibawa, efektif, transparan dan mengayomi; (3) mewujudkan masyarakat Provinsi Bengkulu yang berjiwa menghargai keberbedaan, memiliki kebanggaan terhadap sumberdaya yang ada dan menjunjung tinggi martabat bangsa; (4) meningkatnya daya saing Provinsi Bengkulu dalam beragam aspek kehidupan dan pembangunan.
Bengkulu yang maju mengandung makna masyarakat Provinsi Bengkulu yang
berpengetahuan dan sadar akan kebutuhan secara individual atau kelompok serta mampu menyesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan regional, nasional dan global dengan tetap mempertahankan ciri dan identitas masyarakat Provinsi Bengkulu yang beragam serta bijaksana dalam menghargai adat istiadat dan kearifan lokal.
Bengkulu yang sejahtera mengandung makna masyarakat Provinsi Bengkulu yang
terpenuhinya layanan dasar di bidang pendidikan, kesehatan dan perekonomian rakyat serta terpenuhinya kebutuhan jasmaniah dan rohani dalam kerangka kehidupan yang berkeseimbangan secara lahir dan batin. Melalui pelaksanaan visi ini diharapkan akan terwujud derajat kehidupan masyarakat Provinsi Bengkulu yang mampu memenuhi kebutuhan dasar, sesuai dengan potensi sumberdaya alam dan lingkungan.
Bengkulu yang bermartabat mengandung makna masyarakat Provinsi Bengkulu yang
memiliki kebanggaan dan dihargai sebagai masyarakat yang memiliki kompetensi, bertakwa serta memiliki nilai-nilai luhur budaya bangsa. Visi ini dapat tercapai apabila masyarakat Provinsi Bengkulu sudah maju dalam segenap aspek kehidupan, sejahtera dalam aspek jasmani dan rohani, dan bermartabat dalam aspek kemampuan dan keunggulan diri.
Bengkulu yang berdaya saing tinggi mengandung makna bahwa Provinsi Bengkulu
memiliki keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif, yang tercermin dalam tata kelola pemerintahan, profesionalisme aparatur, pelayanan publik, iklim usaha dan investasi, infrastruktur dasar dan infrastruktur strategis, komoditas unggulan, kemaritiman serta kepemudaan dan keolahragaan.
Misi dan Program 2016 - 2021
Untuk mewujudkan masyarakat Provinsi Bengkulu yang maju, sejahtera dan bermartabat, Pemerintah Provinsi Bengkulu melaksanakan 8 (delapan) misi yaitu:
Misi Pertama: Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) dan pemerintahan yang bersih (clean government)
Misi ini bertujuan untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih dan profesional melalui perbaikan tata kelola pemerintahan; pengelolaan APBD yang efisien, transparan, akuntabel dan partisipatif serta konsisten dengan perencanaan daerah; peningkatan daya saing daerah dan investasi; mewujudkan aparatur yang bersih dan berwibawa; peningkatan kualitas pengelolaan pemerintahan melalui model e-goverment.
Misi Kedua: Meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan kesejahteraan sosial dan layanan dasar dibidang pendidikan, kesehatan serta perekonomian rakyat berbasis keunggulan local
Misi ini bertujuan untuk mewujudkan masarakat Provinsi Bengkulu yang sejahtera melalui peningkatan kuantitas dan kualitas di bidang kesejahteraan sosial, pendidikan, kesehatan dan bidang pemberdayaan ekonomi rakyat berbasis keunggulan lokal.
2.1. Bidang Kesejahteraan Sosial
Misi ini difokuskan pada uaya-upaya meningkatkan kualitas perlindungan sosial, rehabilitasi sosial dan pembangunan sosial lainnya, termasuk di dalamnya penanganan kebencanaan.
2.2. Bidang Pendidikan
Peningkatan akses dan pemerataan layanan pendidikan untuk semua lapisan masyarakat; peningkatan sarana dan prasarana pendidikan; dan peningkatan kuantitas/kualitas guru (kualitas pendidikan); peningkatan kualitas pembelajaran (daya saing di pasar kerja); pemerataan kualifikasi dan penempatan guru; dan pemantapan kesejahteraan guru.
2.3. Bidang Kesehatan
Peningkatan sarana dan prasarana kesehatan yang memadai; peningkatan akses pelayanan kesehatan di wilayah-wilayah terpencil; peningkatan kuantitas dan kualitas dokter dan paramedis; kepastian layanan jaminan kesehatan; pengembangan program kader dokter desa; dan pemantapan kesejahteraan dokter dan paramedis.
2.4. Pemberdayaan ekonomi rakyat berbasis keunggulan lokal
Peningkatan akses permodalan bagi pengusaha kecil, menengah dan koperasi dalam bentuk kemitraan yang saling menguntungkan; peningkatan daya saing produk UKMK melalui pelatihan dan pendampingan; pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal; revitalisasi koperasi dan kelompok usaha baru (KUB); menggalakkan ekspose produk UKMK di tingkat nasional dan regional.
Misi Ketiga: Meningkatkan dan memantapkan kapasitas infrastruktur dasar dan infrastruktur strategis
Misi ini bertujuan untuk mewujudkan Provinsi Bengkulu maju, sehat dan cerdas melalui peningkatan kualitas dan kuantitas infrastruktur dasar dan infrastruktur strategis:
3.1. Infrastruktur Dasar
Kualitas dan kuantitas infrastruktur dasar dilakukan melalui peningkatan kapasitas dan pembangunan sarana dan prasarana irigasi perdesaan; jalan dan jembatan; peningkatan jangkauan listrik perdesaan; pembangunan dan atau perbaikan jalan desa ke sentra-sentra produksi; dan peningkatan akses penduduk terhadap sanitasi dan air bersih dan revitalisasi pasar desa. Misi ini terutama ditujukan untuk menanggulangi kemiskinan dan ketertinggalan desa-desa terpencil dan terisolir.
3.2. Infrastruktur Strategis:
3.2.1. Meningkatkan Kapasitas Pelabuhan Pulau Baai
Mengingat potensi peran Pelabuhan Pulau Baai dalam pembangunan ekonomi Provinsi Bengkulu, maka diperlukan adanya terobosan kebijakan untuk optimalisasi kapasitas pelabuhan melalui: peningkatan kapasitas sarana dan prasarananya, maupun tata kelolanya; dan pembangunan beberapa terminal pelabuhan (seperti peti kemas, benda cair, karantina hewan, pengantongan semen curah pengembangan kerjasama dengan multi pihak untuk menjadikan
Pelabuhan Pulau Baai sebagai pusat koneksi pelabuhan samudera di Indonesia Bagian Barat. Peningkatan kapasitas pelabuhan ini harus mencerminkan adanya keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif dibandingkan dengan pelabuhan sejenis yang ada di provinsi lain.
3.2.2. Bandara Udara Fatmawati
Perluasan kapasitas bandara sebagai sarana transportasi orang dan barang; pembangunan sarana dan prasarana kargo sesuai dengan standar internasional; menjadikan Bandara Fatmawati sebagai pusat kegiatan lalu intas arus barang dan orang, paling tidak di wilayah sumatera bagian selatan. Perluasan kapasitan bandara ini juga harus mampu mencerminkan keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif dibandingkan dengan bandara lain.
3.2.3. Infrastrukur Kelistrikan
Pembangunan jaringan internal provinsi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan industri; pembangunan pembangkit listrik tenaga batu bara (padat dan cair); pembangunan transmisi yang menjangkau provins-provinsi tetangga; re-orientasi bisnis kelistrikan Provinsi Bengkulu sebagai pemasok tenaga listrik provinsi-provinsi di wilayah sumatera bagian selatan.
3.2.4. Peningkatan akses Lintas Provinsi
Tujuan misi ini adalah: membuka keterisolasian dan atau kelancaran arus barang dan orang dari dan ke Provinsi Bengkulu; membangun dan atau meningkatkan kapasitas infrastruktur jalan lintas provinsi dari aspek jarak tempuh dan pengurangan biaya angkut; membangun kerjasama dengan provinsi sekitar untuk membangun pola-pola pembangunan koridor. Peningkatan akses lintas provinsi ini ditujukan agar Provinsi Bengkulu memiliki keunggulan kompetitif dan berdaya saing untuk menarik minat investor
Misi Keempat: Mewujudkan pola pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan yang berkeadilan dan berkelanjutan
Misi ini bertujuan untuk mewujudkan Provinsi Bengkulu yang sejahtera, bermartabat dan berdaya saing melalui program-program antara lain: mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya mineral yang berkelanjutan; meningkatkan akses masyarakat terhadap sumberdaya laut; memanfaatkan sumberdaya panas bumi (geothermal) untuk memenuhi kebutuhan listrik lokal dan regional; pemanfaatan batubara untuk kebutuhan pembangkit tenaga listrik; penciptaan nilai tambah produksi perkebunan; pengelolaan sumberdaya hutan berbasis masyarakat; pengolahan
produksi hasil ikutan hutan untuk menciptakan nilai tambah; pemanfaatan sumberdaya mineral untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dan optimalisasi produksi ikan tangkap dan ikan budidaya.
Selain itu, misi pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan yang berkelanjutan dan berkeadilan ini juga diarahkan untuk mewujudkan pembangunan kepariswisataan yang tangguh dan berdaya saing. Misi ini dapat dilakukan melalui kebijakan dan atau program antara lain: (1) re-orientasi kebijakan yang integratif kepariwisataan di Provinsi Bengkulu; (2) peningkatan kapasitas sarana dan prasarana kepariwisataan; (3) peningkatan kapasitas insan kepariwisataan; (4) optimalisai promosi dan ekspose potensi wisata Provinsi Bengkulu; (5) penyediaan tenaga ahli dan terampil dalam bidang manajemen kepariwisataan; membangun jaringan wisata internasional; dan (6) kemudahan investasi dibidang kepariwisataan.
Misi Kelima: Mewujudkan pembangunan kemaritiman yang integratif dan berdaya saing
Pembangunan kemaritiman diarahkan untuk menunjang pembangunan poros maritim nasional melalui perumusan kebijakan dan program penanganan sektor- sektor kelautan antara lain (1) Sektor perikanan tangkap melalui modernisasi alat tangkap dan pengolahan; (2) Sektor wisata bahari, pemanfaatan maritim sebagai obyek dan daya tarik seperti wisata pantai, keragaman hayati, seperti taman laut wisata alam, wisata bisnis, wisata budaya maupun wisata olah raga, (3) Sektor transportasi laut yakni memanfaatkan transportasi laut sebagai penunjang aktivitas ekspor dan impor Provinsi Bengkulu; (4) industri maritim seperti Pembangunan Industri Kelautan dengan berbagai jenis industri sebagai penciptaan nilai tambah; pengembangan Industri Pariwisata Bahari; pengembangan Industri Kreatif Kebaharian; pembangunan Infrastruktur Kelautan, seperti pelabuhan dan Industri Perkapalan baik yang kecil, menengah dan besar, industri pemeliharaan dan perbaikan kapal dan atau galangan kapal; (5) Sektor pertambangan (Energi dan Sumberdaya Mineral), yaitu mengoptimalkan sumberdaya mineral di kawasan laut Provinsi Bengkulu, baik yang bersifat potensial maupun aktual; (6) Sektor bangunan laut yakni peningkatan kualitas, kuantitas serta kapasitas pelabuhan laut yang ada di Provinsi Bengkulu sebagai pusat aktivitas perekonomian barang dan jasa (antar pulau, ekspor maupun impor), sehingga keberadaannya sangat diperlukan dalam pembangunan kelautan; (7) Sektor jasa kelautan dapat berupa aktivitas ekonomi yang meliputi jasa perdagangan, penelitian dibidang kelautan dan jasa-jasa lainnya.
Misi Keenam: Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
Misi ini dilakukan melalui kebijakan-kebijakan dan atau program antara lain: (1) Meningkatkan kualitas dan kuantitas layanan dasar bagi perempuan (pendidikan, kesehatan dan ekonomi); (2) Memperkuat kapasitas kelembagaan pengarusutamaan (mainstreaming) gender dalam setiap tahapan pembangunan; (3) Meningkatkan keterlibatan perempuan dalam proses politik dan jabatan publik dengan tidak menghilangkan kodratnya sebagai perempuan; (4) Menghapus berbagai bentuk kekerasan dan ketidakadilan terhadap perempuan dan anak; (5) Meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan perempuan dan anak; (6) Meningkatkan akses pelayanan Keluarga Berencana ( KB) dan peningkatan peran kaum laki-laki ber-KB; (7) Meningkatkan akses pelayanan kesehatan reproduksi remaja berbasis gender; (8) Perlindungan anak dari tindakan kekerasan; dan (9) Menyediakan data dan informasi Program Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga.
Misi Ketujuh: Meningkatkan daya saing Kepemudaan dan Keolahragaan
Peningkatan daya saing kepemudaan dilakukan : (1) Peningkatan kompetensi pemuda melalui pola pengkaderan secara terencana sistematis dan berkelanjutan sesuai dengan metode pendidikan, pelatihan, pemagangan, pembimbingan, pendampingan, serta pemanfaatan kajian, kemitraan; (2) Pengembangan kapasitas kepemudaan sebagai agen pembangunan dan perubahan yang bertanggung jawab, berjiwa wirausaha dan mandiri; (3) Peningkatan pengetahuan pemuda dini terhadap bahaya penyalahgunaan narkotika dan obat-obat terlarang lainnya sejak dini; (4) Pembentukan dan pengembangan kelompok-kelompok kepemudaan sebagai media penyaluran minat dan bakat; (5) Peningkatan profesionalisme dan etika pembina, penyelenggara dan pengelola kegiatan kepemudaan; Peningkatan daya saing keolahragaan dilakukan melalui: (1) Pemanfaatan kemitraan lintas sektoral antar tingkat pemerintah daerah, masyarakat dan dunia usaha untuk mendukung pemassalan, pembudayaan, serta pengembangan industri dan sentra-sentra olahraga; (2) Peningkatan kapasitas sarana dan prasarana olah raga yang menunjang pencapaian prestasi agar mampu bersaing tingkat nasional, regional maupun internasional; (3) Mewujudkan yang olahragawan berprestasi pada kompetisi bertaraf nasional, regional dan internasional melalui peningkatan kemampuan dan potensi olahragawan muda potensial dan olahragawan andalan nasional secara sistematis, terpadu, berjenjang dan berkelanjutan; (4) Meningkatkan profesionalisme dan etika pembina, penyelenggara, pengelola dan pelaksana kegiatan keolahragaan.
Misi Kedelapan: Mewujudkan masyarakat Bengkulu yang agamis, berbudaya dan demokratis
Misi ini bertujuan untuk mewujudkan Provinsi Bengkulu yang sejahtera dan bermartabat. Sebagai provinsi yang merefleksikan miniatur Indonesia yang didalamnya terdiri dari berbagai suku, agama dan golongan dengan beragam kepentingan. Oleh karena itu, diperlukan peran pemerintah daerah untuk menjaga dan menjamin rasa aman bagi umat beragama dalam menjalankan aktivitas-aktivitas keagamaannya. Oleh karena itu, program yang harus dilakukan antara lain:
a. Memfasilitasi dialog antar umat beragama untuk menyamakan pandangan terhadap kehidupan bermasyarakat dan bernegara;
b. Meningkatkan peran tokoh-tokoh agama untuk berperan aktif sebagai agen perubahan (agents of change) untuk membina umat;
c. Menciptakan kondisi dimana prinsip-prinsip keagamaan diintegrasikan ke dalam kegiatan pemerintahan dan pelayanan publik;
d. Meningkatkan indeks demokrasi sebagai cerminan masyarakat Provinsi Bengkulu yang demokratis dan berbudaya;
e. Melakukan pembinaan secara berkelanjutan terhadap insan budaya Provinsi Bengkulu melalui pagelaran-pagelaran seni budaya; dan
f. Mempromosikan budaya daerah ke kancah nasional sebagai perwujudan ciri kepribadian masyarakat Provisi Bengkulu.
Dari kedelapan misi diatas, Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu melaksanakan misi kedua yaitu Meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan kesejahteraan sosial dan layanan dasar dibidang pendidikan, kesehatan serta perekonomian rakyat berbasis keunggulan lokal.
Selain misi diatas, Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu juga turut mendukung Lima Program Prioritas Pembangunan Daerah yang terdiri dari:
1. Program pengentasan kemiskinan dan peretasan ketertinggalan; 2. Program penguatan komoditas unggulan agromaritim dan hilirisasi; 3. Program pengembangan infrastruktur strategis dan industrialisasi;
4. Program transformasi birokrasi dan tata kelola pemerintahan berbasis TI; 5. Program Visit 2020 Wonderful Bengkulu.
Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu akan memfokuskan diri pada Program pengentasan kemiskinan dan peretasan ketertinggalan dengan tidak melupakan program prioritas yang lainnya. Program prioritas lainnya akan didukung dengan memperhatikan tugas dan fungsi Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu.
3.3. Telaahan Renstra Kementrian Ketenagakerjaan dan Kementrian Desa, PDT dan Transmigrasi
3.3.1. Telaahan Renstra Kementrian Ketenagakerjaan RI
Kementrian Ketenagakerjaan RI telah menyusun Rencana Strategis Kementrian Ketenagakerjaan RI Tahun 2015 – 2019 yang tertuang dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 27 Tahun 2016 Tentang Rencana Strategis Kementerian Ketenagakerjaan Tahun 2015-2019 yang menyatakan:
Kemandirian suatu bangsa tercermin pada antara lain: ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu memenuhi tuntutan kebutuhan dan kemajuan pembangunannya; kemandirian aparatur pemerintah dan aparatur penegak hukum dalam menjalankan tugasnya; kemampuan untuk memenuhi pembiayaan pembangunan yang bersumber dari dalam negeri yang makin kokoh dan berkurangnya ketergantungan kepada sumber luar negeri; serta kemampuan memenuhi sendiri kebutuhan pokok yang disertai dengan keunggulan dalam inovasi, kreativitas, integritas, dan etas kerja sumber daya manusia. Selain itu, kemajuan suatu bangsa juga ditandai dengan sumber daya manusia yang memiliki kepribadian bangsa, berakhlak mulia, dan memiliki tingkat pendidikan, produktivitas, dan harapan hidup yang tinggi. Bangsa yang maju adalah bangsa yang mampu memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya, meningkatkan pendapatan dan distribusinya, menyediakan infratruktur yang baik, serta memiliki sistem dan kelembagaan politik, termasuk hukum yang berjalan dengan baik, ditandai dengan keadilan bagi seluruh rakyatnya, keterjaminan hak-haknya, kearnanan, dan ketentraman warganya tanpaada diskriminasi dalam bentuk apapun.
Upaya untuk mewujudkan tujuan negara tersebut dilaksanakan melalui proses yang bertahap, terencana, terpadu dan berkesinarnbungan, sesuai dengan Undang Undang No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional tahun 2005-2025 dengan visi pembangunan nasional:
“Indonesa yang Mandiri, Maju, Adil dan Makmur”
memiliki peranan yang sangat penting untuk menciptakan SDM yang berkualitas, khususnya pada aspek human capital dalam pembangunan Indonesia, Berdasarkan review selama lima tahun terakhir dapat diketahui bahwa terjadi dinamika dalam pembangunan ketenagakerjaan. Mengingat kondisi ketenagakerjaan sebagai muara dari berbagai kondisi di hulu, maka keberpihakan pemerintah dalam bentuk kebijakan ekonomi, politik maupun sosial sangat berpengaruh kepada akselerasi pembangunan bidang ketenagakerjaan. Kondisi ketenagakerjaan Indonesia secara urnurn, jumlah angkatan kerja di Indonesia pada tahun 2014 sebesar 121,87 Juta orang. Dari total angkatan kerja tersebut, sekitar 94,06 % (114,63 Juta orang) adalah penduduk yang bekerja dan sekitar 5,94 % (7,24 Juta orang) adalah pengangguran. Dari jumlah penduduk yang bekerja tersebut, sebagian besar pekerja bekerja pada sektor pertanian (34%), sektor perdagangan (21,66 %), dan sektor jasa kemasyarakatan (16,07 %). Menurut jumlah jam kerja selarna seminggu, sekitar 68,80 % bekerja 35 jam/minggu. Sedangkan pengangguran didominasi oleh penganggur yang berpendidikan SMA (20,79 %), SMP (7,15 %), dan < SD (3,04 %).
Berkenaan dengan kondisi ketenagakerjaan umum di atas, telah dilakukan upaya-upaya untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja yang dilakukan melalui pelatihan berbasis kompetensi di Balai Latihan Kerja. Untuk mendukung pelaksanaan pelatihan maka dilakukan kegiatan pengembangan standar kompetensi kerja, revitalisasi lembaga pelatihan kerja melalui penyediaan sarana pelatihan kerja, peningkatan kompetensi Instruktur dan tenaga pelatihan. Untuk menjamin kompetensi tenaga kerja dilakukan sertifikasi kompetensi yang dilaksanakan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP).
Pada bidang penempatan tenaga kerja dan perluasan kesempatan kerja terdapat peningkatan fasilitasi pelayanan penempatan tenaga kerja melalui peningkatan fungsi lembaga pasar kerja di tingkat provinsi dan kabupaten/kota dalam upaya melayani pencari kerja dan pengguna tenaga kerja. Peningkatan lembaga ini, dilaksanakan melalui pendayagunaan tenaga fungsional Pengantar Kerja di pemerintahan provinsi dan kabupaten/kota. Peningkatan fungsi pasar kerja juga dilaksanakan melalui pemberdayaan informasi pasar kerja, optimalisasi mekanisme antar kerja, penempatan melalui job fair, dan peningkatan kebijakan penempatan dan perlindungan tenaga kerja luar negeri. Upaya perlindungan tenaga kerja juga dilaksanakan melalui pengendalian penggunaan tenaga kerja asing. Di samping itu, peningkatan perluasan kesempatan kerja dilaksanakan melalui pemberdayaan masyarakat seperti padat karya, tenaga kerja mandiri, tenaga kerja sukarela, dan terapan teknologi tepat guna, serta inkubasi bisnis. Pemberdayaan