• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI NILAI-NILAI PERSATUAN DAN KEMANUSIAAN DALAM TRADISI SAMBATAN DI DESA KARANGAN KECAMATAN JUMANTONO KABUPATEN KARANGANYAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IMPLEMENTASI NILAI-NILAI PERSATUAN DAN KEMANUSIAAN DALAM TRADISI SAMBATAN DI DESA KARANGAN KECAMATAN JUMANTONO KABUPATEN KARANGANYAR"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI NILAI-NILAI PERSATUAN DAN KEMANUSIAAN DALAM TRADISI SAMBATAN DI DESA KARANGAN KECAMATAN JUMANTONO

KABUPATEN KARANGANYAR

(Studi Kasus di Desa Karangan Kecamatan Jumantono)

Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajat Sarjana S-1 Program Studi Pendidikan

Pancasila dan Kewarganegaraan

Oleh:

KENGKIN DITA HESTI KARTIKASARI A220120016

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2017

(2)

i

HALAMAN PERSUTUJUAN

IMPLEMENTASI NILAI-NILAI PERSATUAN DAN KEMANUSIAAN DALAM TRADISI SAMBATAN DI DESA KARANGAN KECAMATAN JUMANTONO

KABUPATEN KARANGANYAR

(Studi Kasus di Desa Karangan Kecamatan Jumantono)

PUBLIKASI ILMIAH

Diajukan Oleh:

KENGKIN DITA HESTI KARTIKASARI A220120016

Artikel publikasi ini telah disetujui oleh pembimbing skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta untuk

dipertanggungjawabkan di hadapan tim penguji skripsi

Surakarta, 14 September 2016 Dosen Pembimbing

Drs, Yulianto Bambang Setyadi, M.Si NIP. 196107301987031002

(3)

ii

HALAMAN PENGESAHAN

IMPLEMENTASI NILAI-NILAI PERSATUAN DAN KEMANUSIAAN DALAM TRADISI SAMBATAN DI DESA KARANGAN KECAMATAN JUMANTONO

KABUPATEN KARANGANYAR

(Studi Kasus di Desa Karangan Kecamatan Jumantono)

Oleh:

KENGKIN DITA HESTI KARTIKASARI A220120016

Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Muhammadiyah Surakarta Pada hari Selasa tanggal

11 Oktober 2016

dan dinyatakan telah memenuhi syarat

Dewan Penguji:

1. Drs. Yulianto Bambang Setyadi, M.Si ( )

2. Dr. Ahmad Muhibbin, M.Si ( )

3. Dra. Sundari S.H. M.Hum ( )

Dekan,

Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum NII.19650428 1993031 001

(4)

iii

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam naskah publikasi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan orang lain, kecuali secara tertulis diacu dalam naskah dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Apabila kelak terbukti ada ketidakbenaran dalam pernyataan saya di atas, maka akan saya pertanggungjawabkan sepenuhnya.

Surakarta, 8 Oktober 2016 Penulis

Kengkin Dita Hesti Kartikasari A220120016

(5)

1

IMPLEMENTASI NILAI-NILAI PERSATUAN DAN KEMANUSIAAN DALAM TRADISI SAMBATAN

(Studi Kasus di Desa Karangan Kecamatan Jumantono Kabupaten Karanganyar) Kengkin Dita Hesti Kartikasari A220120016 Pendidikan Pancasila dan

Kewarganegaraan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta

ditaums94@gmail.com

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan implementasi, hambatan dan usaha masyarakat untuk mengatasi hambatan dalam implementasi nilai-nilai persatuan dan kemanusiaan dalam tradisi sambatan di Desa Karangan Kecamatan Jumantono Kabupaten Karanganyar. Pengumpulan data pada penelitian ini dengan wawancara, observasi, dan dokumen. Teknik analisis data dengan menerapkan model interaktif melalui pengumpulan data, reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Uji keabsahan data dalam penelitian ini dengan cara triangulasi sumber data dan triangulasi teknik pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Implementasi nilai-nilai persatuan dalam tradisi sambatan desa di Desa Karangan Kecamatan Jumantono Kabupaten Karanganyar tercermin perasaan sama dalam kebersamaan dan senasib antar masyarakat, terdorong oleh sifat kodrat manusia sebagai mahkluk sosial, adanya sebuah kebutuhan ketergantuan antara manusia satu dengan lainnya, adanya dorongan jiwa sama tinggi dan sama rendah, dan adanya dorongan untuk membantu kesusahan orang lain; 2) Impementasi nilai-nilai kemanusiaan dalam tradisi sambatan di Desa Karangan Kecamatan Jumantono Kabupaten Karanganyar mengakui persamaan derajat persamaan hak dan persamaan kewajiban antar sesame manusia, saling mencintai sesama manusia, mengembangkan sikap tenggang rasa dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan; 3) Hambatan dalam mengimplementasikan nilai persatuan dan kemanusiaan dalam tradisi sambatan di Desa Karangan Kecamatan Jumantono Kabupaten Karanganyar yaitu rasa iri dan dengki sebagian anggota masyarakat terhadap serta warga yang merantau; 4) Usaha yang dilakukan masyarakat untuk mengatasi hambatan dalam meng-implementasi nilai-nilai persatuan dan kemanusiaan dalam tradisi sambatan di Desa Karangan Kecamatan Jumantono Kabupaten Karanganyar yaitu penyuluhan dan pengajian yang diikuti tentang materi pentingnya memberikan pertolongan kepada orang lain yang benar-benar membutuhkan bantuan atau pertolongan.

Kata kunci: implementasi, nilai-nilai, persatuan, kesatuan, tradisi sambatan. Abstract

This study aims to describe the implementation, the constraints and the efforts in the implementation of the values of unity and humanity in the tradition of a splice in the village of Karangan Jumantono district of Karanganyar regency. Collecting data in this study with interviews, observations, and documents. Data analysis techniques by applying interactive models through data collection, reduction, presentation, and

(6)

2

drawing conclusions. Test the validity of the data in this study by means of triangulation techniques and resources. The results showed that: 1) Implementation of the values of unity in the tradition of a splice village in the village of Karangan District of Jumantono Karanganyar Regency which reflected the same feeling in togetherness and kinship between the people, compelled by the nature of human nature as a creature of social, existence of a needs dependency between human one with others, the encouragement of the same soul and the same height low and their urge to help the distress of others. 2) Implementation human values in the tradition of a splice in the village of Karangan District of Jumantono Karanganyar Regency value contained strong unity in the tradition a splice that despite coming from a wealthy family, the poor, and the different levels of education and work to make the spirit of unity becomes stronger. A splice is a form of cooperation are joined together in helping meringan-the work of community members. 3) Obstacles in implementing values of unity and humanity in the tradition of a splice in the village of Karangan District of Jumantono Karanganyar Regency is jealous and envious as well as residents who migrated; 4) The work done by the community to overcome the barriers to the implementation of the values of unity and humanity in the tradition of a splice in the village of Karangan District of Jumantono Karanganyar Regency namely counseling and study that followed about the material importance of giving help to others who really need assistance or help.

Keywords: implementation, values, the unity, unity, tradition a splice.

1. PENDAHULUAN

Suatu pembahasan mengenai gotong royong di pedesaan ditinjau dari perspektif sejarah tidak hanya dapat dilakukan secara jelas tanpa harus menggunakan kerangka pengertian mengenai desa, masyarakat, atau komunitas desa, serta solidaritasnya. Kegiatan mengenai perkembangan sistem sambatan sebagai fenomena sosial dimasa lampau, maka dianggap perlu menempatkan nama dalam perubahan sosial khususnya bentuk komunitas pedesaan yang ditempati, sehingga akan tampak jelas bahwa sistem sambatan itu merupakan fungsi dari masyarakat atau kehidupan kolektifnya. Menurut Koentjaraningrat (1985:57):

Istilah gotong royong untuk pertama kali tampak dalam bentuk tulisan dalam karangan-karangan tentang hukum adat dan juga dalam karangan-karangan-karangan-karangan tentang aspek sosial dari pertanian (terutama di Jawa Timur) oleh para ahli pertanianBelanda lulusan Wageningen.

Problematika masyarakat di setiap tempat memiliki karakteristik masing-masing termasuk pada masyarakat transmigran. Kondisi pemukiman baru dengan jumlah tenaga

(7)

3

terbatas, sedangkan cukup luas tanah yang dikerjakan, maka di desa-desa transmigrasi timbul kelompok-kelompok yang dinamakan regu yang beranggotakan belasan orang. Bentuk nyata memajukan wilayahnya para anggota saling membantu, dengan cara menyediakan tenaga kerja ataupun ganti kerugian atau imbalan bagi yang tidak ada waktu untuk kegiatan sambatan.

Menurut Kartodirjo (1994: 104-105), istilah yang berlaku di daerah itu ialah sambatan, ada beberapa jenis sambatan, yaitu:

Pertama, Untuk membangun desa dikerahkan hampir seluruh penduduk, umpamanya untuk membangun balai pengobatan, pasar, jalan, dan sebagainya. Pada umumnya tidak disediakan jaminan atau penggantian apa-apa. Kedua, Sambatan mendirikan rumah mengarahkan 7 sampai 15 orang sebanyak-banyaknya. Yang mendirikan rumah menjamin makan dan minum.Banyaknya orangyang dikerahkan tergantung fase pembangunan seperti mengangkut bahan dilakukan beramai-ramai oleh 20 orang, tetapi itu cukup untuk satu atau setengah hari saja. Ketiga, sambatan dalam bidang pertanian, seperti membuka hutan dan mengolah tanah. Waktu yang diperlukan untuk sambatan membuka hutan tidak ditentukan.Tenaga diperlukan pada saat-saat permulaan dan apabila pekerjaan dapat dilakukan sendiri oleh yang berkepentingan, maka sambatan dihentikan.Sudah suatu kelaziman bahwa tidak ada jaminan, masing-masing membawa bekal sendiri.

Menurut Koentjaraningrat (1985:58), “istilah sambatan itu berasal dari kata sambat, artinya “minta bantuan”. Zaeni sebagaimana dikutip Jusuf (2010) menyatakan:

Sambatan adalah istilah salah satu bentuk interaksi yang berkomunal yang intinya membantu orang yang sedang membutuhkan banyak tenaga, yang banyak dipakai diwilayah Jawa Tengah, sambatan diistilahkan sebagai ‘rewang’ di sebagian besar masyarakat Jawa Timur.

Merujuk beberapa kegiatan tentang masyarakat, ditemukan hasil bahwa masih banyak desa yang melalukan tradisi sambatan. Ketidakmauan masyarakat melakukam sambatan dikarenakan ketidak mengertian masyarakat desa akan pengertian sambatan itu. Rimba (2012) mengatakan:

Sambatan adalah tradisi masyarakat untuk membantu tetangga.Seringnya sambatan ini berupa membongkar rumah karena aka nada perbaikan atau direhab. Sang pemilik

(8)

4

rumah akan meminta kepada beberapa tetangga dekat untuk membantu ikut membongkar rumah. Dari mulai hanya mengganti genting rumah atau bahkan sampai merobohkan dinding rumah yang akan diganti bangunan yang baru. Sambatan ini hanya dilakukan seperlunya saja membongkar rumah.Itu artinya tidak sampai sepenuhnya sampai kemudian bangunhan rumah berdiri dengan bentuk yang baru.

Kegiatan sambatan bersifat sukarela, orang-orang yang dimintai bantuin tenaga tidak diberi upah sebagaimana tukang bangungan semestinya. Mereka hanya diberi makanan dan minuman dari sang pemilik rumah atau yang memiliki hajat tersebut. Kata kunci dalam tradisi sambatan ini adalah keiklasan atau sukarela seseorang untuk membantu tetangga dekatnya. Ketika ada waktu yang luang mereka diminta membantu, tetapi ketika tidak bisa, mereka tidak akan dipaksa untuk ikut membatu. Sambatan didasari oleh rasa bahwa kenyataan hidup bermasyarakat setiap individu sebagai masyarakat yang saling membutuhkan satu terhadap yang lain atau rasa saling ketergantungan antara yang satu dengan yang lainnya.

Menurut Robjanuar (2009), “mekanisme undangan dalam tradisi sambatan tidak perlu repot-repot dengan rapat besar ataupun pembentukan panitia, cukup dari mulut ke mulut”. Pemilik rumah atau tuan rumah hanya meminta tolong kepada tetangga. Menurut Koentjaningrat ( 1985:59-60), bentuk sambatan tidak terbatas produksi pertanian, aktifitas tolong menolong juga tampak dalam aktivitas masyarakat lainnya. Aktivitas yang dimaksud meliputi:

Aktivitas tolong menolong antara tetangga yang tinggal berdekatan, untuk pekerjaan-pekerjaan kecil sekitar rumah dan pekarangan, misalnya mengganti dinding bambu dari rumah, memperbaiki rumah dan sebagainya. Aktivitas tolong menolong antara kaum kerabat dalam penyelanggaraan perkawinan pesta sunat atau upacar-upacara adat lain sekitar pada lingkaran hidup individu (tujuh bulanan), serta aktivitas spontan tanpa permintaan dan tanpa pamrih untuk membantu secara tiba-tiba pada saat seorang tetangga mengalami kematian atau bencana.

Banyak faktor yang menyebabkan tradisi sambatan semakin luntur di negeri ini. Salah satu faktor penyebab lunturnya tradisi sambatan adalah pola kehidupan sekarang lebih mencerminkan sikap kesendirian untuk tidak lebih banyak bergaul dengan masyarakat lainnya, merampungkan pekerjaan dengan adanya imbalan bagi bekerja. Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas hal itu sebenarnya telah menumbuhkan sikap

(9)

5

persatuan dan kemanusiaan di masyarakat. Menurut Kalandia (2004) bahwa nilai-nilai kemanusiaan yang menyatukan bangsa termasuk kerjasama, komunikasi dan kebaikan sebagai sarana dasar interaksi manusia, sedangkan alasan utama kesalahpahaman antara bangsa terhubung dengan kurangnya koordinasi di bidang politik, mentalitas yang berbeda dan intoleransi kemanusiaan.

Menurut Zaeni (2010) sebagaimana dikutip oleh Jusuf (2010):

Saat ini, esensi gotong royong sebuah sambatan makin hilang. Esensi sambatan yang merupakan tradisi tolong menolong saling membantu sesama manusia sudah mulai luntur, dimulai dari rasa “ ewuh perkewuh”, maksudnya sambatan sebagai pamrih jika dia tidak datang maka masyarakat akan mengucilkan. Hal tersebut bukanlah sebenarnya esensi dari sambatan yang lebih kearah tolong menolong.Selain itu memudarnya tradisi sambatan tidak terlepas dari kemajuan zaman mengingat saat ini orang sudah tidak ada waktu lagi untuk sambatan dan orang lebih mempercayakan kepada orang-orng yang profesional dan ahlinya.

Penyebab luntur atau hilangnya tradisi sambatan adalah melemahnya rasa persatuan dan kemanusiaan yang mulai hilang dalam diri masyarakat desa. Banyaknya pendatang di masyarakat membuat warga asli yang tumbuh besar disitu tidak mampu berbuat banyak karena jumlah mereka lebih sedikit, sehingga tradisi sambatan kurangnampak lagi, khususnya bagi bapak-bapak. Hal ini juga berpengaruh terhadap guru PPKn sebagaimanananti akan diterapkan nilai sambatan (gotong-royong) disekolah, maka diharapkan guru PPKn dapat membina dan mendidik siswanya dengan menjalin nilai persatuan dan kemanusiaan. Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan diatas, hal ini mendorong peneliti untuk mengadakan penelitian tentang “Implementasi Nilai-nilai Persatuan dan Kemanusiaan dalam Tradisi Sambatan di Desa Karangan Kecamatan Jumantono Kabupaten Karanganyar”.

2. METODE PENELITIAN

Tempat penelitian ini di Desa Karangan Kecamatan Jumantono Kabupaten Karanganyar.Tahap-tahap pelaksanaan dalam penelitian ini dimulai dari persiapan sampai dengan penulisan laporan penelitian.Secara keseluruhan semua kegiatan semua kegiatan dilakukan selama kurang lebih 4 bulan, mulai bulan Februari sampai dengan

(10)

6

April 2016.Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, karena data penelitian ini berupa kata-kata tertulis atau lisan, perilaku dari orang-orang yang diamati, juga data tertulis dari dokumen. Kasus dalam penelitian ini adalah implementasi nilai-nilai persatuan dan kemanusiaan dalam tradisi sambatan, berikut bagaimana implementasi nilai-nilai persatuan dalam tradisi sambatan desa di Desa Karangan Kecamatan Jumantono Kabupaten Karanganyar, bagaimana implementasi nilai-nilai kemanusiaan dalam tradisi sambatan di Desa Karangan Kecamatan Jumantono Kabupaten Karanganyar, hambatan dalam mengimplementasikan nilai persatuan dan kemanusiaan dalam tradisi sambatan di Desa Karangan Kecamatan Jumantono Kabupaten Karanganyar, dan usaha yang dilakukan masyarakat untuk mengatasi hambatan dalam mengimpelementasikan nilai-nilai persatuan dan kemanusiaan dalam tradisi sambatan di Desa Karangan Kecamatan Jumantono Kabupaten Karanganyar.

Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawan-cara, dan dokumentasi atau arsip.Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu teknik analisis data model interaktif. Menurut Miles dan Huberman sebagaimana dikutip oleh Sugiyono (2014:338), proses analisis data dimulai dengan mengumpulkan data di lokasi penelitian dengan melakukan observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan menentukan strategi pengumpulan data yang dipandang tepat dan untuk menentukan fokus serta pendalaman data pada proses pengumpulan data berikutnya.

3. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Implementasi nilai-nilai persatuan dalam tradisi sambatan desa di Desa Karangan Kecamatan Jumantono Kabupaten Karanganyar adalah “Nilai persatuan merupakan hasil dari kreativitas manusia dalam rangka melakukan kegiatan sosial, baik itu berupa cinta, simpati, dan lain-lain”.Selanjutnya menurut Suhadi (1982:11), “perkataan “persatuan” berarti bersatunya berbagai corak garam menjadi satu kebulatan tunggal.Istilah “Indonesia” berarti bangsa yang hidup di wilayah Indonesia”. Nilai-nilai persatuan terwujud dari pelaksanaan gotong royong berupa sambatan warga desa Karangan

(11)

7

Kecamatan Jumantono merupakan tindakan turun-temurun yang sampai sekarang masih terjaga kelestariannya salah satu contohnya dengan kegiatan sambatan yang dilaksanakan oleh salah satu warga yang lain. Hal tersebut biasa dilakukan oleh warga desa Karangan Jumantono Kabupaten Karanganyar.Nilai persatuan yang terkandung kuat di dalamnya yaitu meskipun berasal dari keluarga kaya, miskin, dan berbeda tingkat pendidikan maupun pekerjaannya menjadikan semangat persatuan menjadi semakin kuat.Hal tersebut tercermin dari pelaksanaan sambatan pembangunan rumah Bapak Suharyadi dari awal hingga selesai. Bnatuan yang diberikan oleh para warga antara lain berupa pemikiran, tenaga, dan material.

Kemanusiaan terutama berarti hakikat dan sifat-sifat khas manusia sesuai dengan martabatnya.Kemanusiaan yang adil dan beradab (sila ke-2) ialah kesadaran sikap dan perbuatan yang didasarkan pada kompetensi budi nurani manusia dalam hubungan dengan norma-norma dan kesusilaan umumnya, baik terhadap diri sendiri, sesama manusia, maupun terhadap alam dan hewan.Potensi kemanusiaan tersebut dimiliki oleh semua manusia, tanpa kecuali.Mereka harus diperlakukan sesuai nilai-nilai kemanusiaan, sesuai dengan fitrahnya, sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.Nikitina (2015) menyatakan bahwa nilai-nilai kemanusiaan yang universal sebagai sebuah komplek nilai-nilai yang sangat penting, menghubungkan individu dengan masyarakat dan menciptakan persatuan manusia dan dunia, telah mengembangkan seiring dengan perkembangan peradaban manusia.

Kegiatan sambatan mengandung berbagai nilai.Nilai-nilai yang tergantung dalam tradisi sambatan adalah nilai-nilai kemanusiaan yang berwujud kebersamaan, nilai gotong-royong, nilai saling menolong, nilai kemanusiaan. Proses dalam pelaksanaan sambatan tidak perlu repot-repot dengan rapat besar ataupun pembentukan panitia, cukup dari mulut ke mulut atau yang berkepentingan menyuruh seseorang untuk mengundang mereka beberapa hari sebelumnya. Sambatan dilakukan oleh warga kampungdengan sukarela tanpa mengharapkan imbalan upah atas pekerjaannya itu karena di dasari apa yang membantu tetangganya yang membutuhkan maka suatu saat pasti ia akan dibantu ketika sedang membutuhkan. Sambatan juga dilandasi oleh filsafah

(12)

8

hidup siapa nandu kebecikan, mesti bakal ngunduh (siapa menanam kebaikan akan memetik hasilnya).

Hambatan dalam mengimplementasikan nilai persatuan dan kemanusiaan dalam tradisi sambatan di Desa Karangan Kecamatan Jumantono Kabupaten Karanganyar adalah hal seperti iri dan dengki dan warga yang merantau penyebab hambatan pelaksanaan budaya gotong royong berupa sambatan. Mungkin saja tak sepenuhnya benar, tetapi paling tidak dari kedua alasan tersebut berdasarkan pengalaman selama bermasyarakat.Bahkan masih ada alasan-alasan lain yang muncul, apalagi sekarang era globalisasi yang membuat orang terkadang berfikir praktis. Kurangnya kepeduliaan terhadap lingkungan membuat orang menjadi tidak mau atau malas-malasan untuk bergotong royong, kalau sudah begitu, budaya warisan leluhur tersebut lambat laun akan menghilang.

Usaha yang dilakukan masyarakat untuk mengatasi hambatan dalam mengimplementasikan nilai-nilai persatuan dan kemanusiaan dalam tradisi sambatan di Desa Karangan Kecamatan Jumantono Kabupaten Karanganyar adalah penyuluhan dan pengajian yang diikuti tentang pentingnya memberikan pertolongan kepada orang lain yang benar-benar membutuhkan bantuan atau pertolongan. Sikap menghargai orang lain dengan memperlakukan sesuai dengan harga dirinya. Sikap positif terhadap nilai-nilai pancasila sila kemanusiaan yang adil dan beradab, di antaranya dapat ditunjukkan dengan melakukan pebuatan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Memberikan pertolongan kepada orang lain yang membutuhkan bantuan atau pertolongan. Sikap menghargai orang lain dengan memperlakukan sesuai dengan martabatnya, mengakui bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.

4. PENUTUP

Implementasi nilai persatuan tercermin dalam persatuan sama dalam kebersamaan dan senasib antar masyarakat, terdorong oleh sifat kodrat manusia sebagai makhluk sosial, adanya sebuah kebutuhan ketergantungan antara manusia satu dengan lainnya,

(13)

9

adanya dorongan jiwa sama tinggi dan sama rendah dan adanya dorongan untuk membantu kesusahan orang lain.

Implementasi nilai-nilai kemanusiaan dalam tradisi sambatan di Desa Karangan Kecamatan Jumantono Kabupaten Karanganyar. Pelaksanaannya sambatan dalam bentuk gotong royong yang dilakukan secara bersama-sama yang berfungsi juga untuk meringankan beban kerja, membantu, agar lekas selesai karena dikerjakan secara bersama-sama atau serempak.Nilai persatuan yang terkandung kuat di dalamnya yaitu meskipun berasal dari keluarga kaya, miskin dan berbeda tingkat pendidikan maupun pekerjaanya menjadikan semangat persatuan menjadi semakin kuat. Sambatan merupakan bentuk kerja sama secara bergotong-royong dalam membantu meringankan pekerjaan anggota masyarakat.

Hambatan dalam tradisi sambatan di Desa Karangan Kecamatan Jumantono Kabupaten Karanganyar yaitu rasa iri dan dengki sebagian anggota masyarakat terhadap warga yang merantau menjadi penyebab hambatan pelaksanaan budaya gotong royong berupa sambatan, kedua alasan tersebut berdasarkan pengalaman selama bermasyarakat. Bahkan masih ada alasan-alasan lain yang muncul, apalagi sekarang era globalisasi yang membuat orang menjadi tidak mau atau malas-malasan untuk bergotong royong.

Upaya yang dilakukan untuk menghadapi hambatan yang ada antara lain penyuluhan dan pengajian yang diikuti tentang materi pentingnya memberikan pertolongan kepada orang lain yang benar-benar membutuhkan bantuan atau pertolongan. Sikap menghargai orang lain dengan memperlakukan sesuai dengan harga dirinya. Sikap positif terhadap nilai-nilai pancasila sila kemanusiaan yang adil dan beradab, di antaranya dapat ditunjukkan dengan melakukan perbuatan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Memberikan pertolongan kepada orang lain yang benar-benar membutuhkan bantuan atau pertolongan. Sikap menghargai orang lain dengan memperlakukan sesuai dengan martabatnya, mengakui bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup seendiri tanpa bantuan orang lain.

(14)

10 DAFTAR PUSTAKA

Jusuf. 2010. “Sambatan”. http;// Jusufpsikologi, blogspot.com/2010/12/sabatan. Diakses pada hari Selasa tanggal 15 Maret 2016 pukul 20.00 WIB.

Kalandia, ID. 2014. “Sistem nilai-nilai kemanusiaan dalam dinamika dan dialog peradaban dalam konteks globalisasi”. Prosiding Simposium Internasional. www. Kabbalah.info/forums/. Diakses pada hari Rabu tanggal 6 April 2016 Pukul 17.00 WIB.

Kartodirjo, Sartono. 1994. Kebudayaan Pembangunan dalam Perspektif Sejarah. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Koentjaraningrat.1985. Pengantar Antropologi. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Nikitina, N. 2015. “Dukhovno-nravstvennoe vospitanie: ego Priroda i zadachi [humanity and Ethical Education: Its Nature and Challenges]”.Pedagogy of Culture:

Scientific and Educational Pedagogical

Journal.(http:pedagogika- cultura.ru/po-rubrikam-3/problemy-obrazovaniya-formirovanie-dukhovnosti-

i-kultury/nikitina-n-dukhovno-nravstvennoe-vospitanie-sushchnost-i-problemy. Diakses hari Kamis tanggal 7 April 2016 Pukul 15.00 WIB)

Rimba. 2012. “Sambatan, Tradisi Gotong Royong”. http//Rimba Palangka. Blogspot.com /2012/04/ sambatan-tradisi-gotong-royong html. Diakses pada hari Jumat 8 April 2016 Pukul 15.20 WIB.

Robjanuar. 2012. “Sambatan”. http://Sosbud.Kompasiana.com/2009/09/03/sambatan. Diakses pada hari Jumat 8 April 2016 Pukul 15.40 WIB.

Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan yang akan dicapai dalam penulisan penelitian ini adalah menguji secara empirik untuk mengetahui pengaruh variabel-variabel independen yaitu struktur kepemilikan yang

(3) Karakteristik pelaksanaan pembelajaran IPS di SMP Negeri 1 Selogiri sudah dilaksanakan dengan mengikuti prinsip-prinsip khas yang edukatif, yaitu kegiatan yang berfokus

r. The length plus the width of rectangle ABCR is 8, and the perimeter of the shaded region is 10 + 3 π.. One urn contains two pieces of candy–one green and one red. A second

Sedang pada uji organoleptik penelitian ini, semua pengawet tidak berbeda nyata kecuali dengan tahu kontrol yang sudah tidak segar pada hari ketiga, dan tahu yang direndam

that the said Convention and the operating agreement on the International Maritime Satellite Organization (INMARSAT) shall also apply to Berlin (West) with effect from

Penelitian sebelumnya ”Analisis penggunaan Z-score Altman untuk menilai tingkat kebangkrutan perusahaan pada sektor Adhesive Di Bursa Efek Jakarta Periode 1997-2001” yang

Pengujian pengaruh level pendidikan universitas terhadap pendapatan seluruh tenaga kerja, serta formal dan informal diperoleh probabilitas tingkat kesalahan lebih kecil

Sehubungan dengan penelitian saya untuk tugas akhir (skripsi) di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma yang berjudul “ PERBANDINGAN KEPUASAN PELANGGAN TERHADAP KUALITAS