SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) Program Studi Farmasi

61 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

i

OPTIMASI KARBOPOL 940 DAN PROPILEN GLIKOL PADA SEDIAAN GEL NANOPARTIKEL LIPID DENGAN BAHAN AKTIF

4-n-BUTYLRESORCINOL: APLIKASI CENTRAL COMPOSITE DESIGNs

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Program Studi Farmasi

Oleh:

Ni Kadek Dwi Putri Kusuma Dewi 178114119

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(2)

ii

OPTIMASI KARBOPOL 940 DAN PROPILEN GLIKOL PADA SEDIAAN GEL NANOPARTIKEL LIPID DENGAN BAHAN AKTIF

4-n-BUTYLRESORCINOL: APLIKASI CENTRAL COMPOSITE DESIGN

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Program Studi Farmasi

Oleh:

Ni Kadek Dwi Putri Kusuma Dewi 178114119

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(3)

vii ABSTRAK

Nanopartikel memiliki ukuran partikel 1-100 nm dan dapat dijadikan sebagai suatu sistem pembawa obat. Salah satu bentuk nanopartikel adalah nanopartikel lipid. Sistem nanopartikel lipid dapat mengalami agregasi seiring waktu penyimpanannya sehingga diperlukan suatu pembawa yang dapat mengurangi agregasi tersebut. Sistem nanopartikel lipid yang diformulasikan dalam sediaan gel dapat menambah matriks sehingga mengurangi agregasi tersebut. Penelitian ini mengenai optimasi karbopol 940 dan propilen glikol pada sediaan gel nanopartikel lipid 4-n-butylresorcinol. Tujuan dari penelitian ini yaitu mendapatkan komposisi yang optimum dari karbopol 940 dan prolilen glikol dengan bahan aktif

4-n-butylresorcinol.

Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimental dengan variabel bebas yaitu karbopol 940 dan propilen glikol serta variabel tergantung yaitu sifat fisik dan stabilitas fisik sediaan. Central Composite Design (CCD) digunakan sebagai metode optimasi pada penelitian ini. CCD digunakan untuk memperoleh model regresi serta melihat pengaruh faktor yang diberikan terhadap respon pH, daya sebar, dan viskositas gel.

Hasil dari penelitian ini yaitu karbopol 940 sebesar 0,46078 gram dan propilen glikol sebesar 9,23033 mL ditetapkan sebagai titik optimum yang diperoleh dari titik terkecil pada area optimum menggunakan metode CCD.

Kata kunci: Nanopartikel lipid, 4-n-butylresorcinol, karbopol 940, propilen glikol, CCD

(4)

viii ABSTRACT

The nanoparticles have a particle size 1-100 nm and can serve as a drug carrier system. One form of nanoparticles is lipid nanoparticles. Lipid nanoparticle systems can aggregate over time so that a carrier is needed to reduce the aggregation. The lipid nanoparticle system formulated in a gel preparation can increase the matrix thereby reducing the aggregation. This study is about the optimization of carbopol 940 and propylene glycol in 4-n-butylresorcinol lipid nanoparticle gel preparations. This study aims to obtain the optimum composition of carbopol 940 and prolylene glycol with the active ingredient 4-n-butylresorcinol. This research is a quasi-experimental study with independent variables, namely carbopol 940 and propylene glycol and also dependent variables, namely physical properties and physical stability of the preparation. Central Composite Design (CCD) was used as an optimization method in this study. CCD was used to obtain a regression model and to see the effect of the given factors on the pH response, dispersion, and viscosity of the gel.

The results of this study were carbopol 940 of 0.46078 grams and propylene glycol of 9.23033 mL were determined as the optimal point obtained from the most appropriate point in the optimal area with CCD method.

Key words: Lipid nanoparticles, 4-n-butylresorcinol, carbopol 940, propylene glycol, CCD

(5)

ix DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

PENDAHULUAN ... 1

METODE PENELITIAN ... 5

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 12

KESIMPULAN DAN SARAN ... 29

DAFTAR PUSTAKA ... 30

LAMPIRAN ... 34

(6)

x

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel I. Formula Acuan untuk Pembuatan Gel ... 5

Tabel II. Faktor dan Level dalam Penelitian ... 6

Tabel III. Rancangan Formula untuk Optimasi Sediaan Gel Nanopartikel Lipid 4nBR: Aplikasi CCD dengan lima level menggunakan software Minitab 17 ... 7

Tabel IV. Formula Nanopartikel Lipid 4nBR ... 7

Tabel V. Formula Gel Nanopartikel Lipid 4nBR... 8

Tabel VI. Hasil Uji pH Sediaan Selama 3 Siklus... 15

Tabel VII. Hasil Uji Daya Sebar Sediaan Selama 3 Siklus... 16

(7)

xi

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Hasil Uji pH pada Siklus 0 hingga Siklus 3 ... 15

Gambar 2. Hasil Uji Daya Sebar Siklus 0 dan Siklus 3 ... 17

Gambar 3. Hasil Uji Viskosiras Siklus 0 dan Siklus 3 ... 18

Gambar 4. Data Tipe Aliran Sediaan Gel diwakili dengan Formula F1 ... 19

Gambar 5. Regresi Respon Permukaan pH vs Blok, Karbopol 940, dan Propilen Glikol ... 20

Gambar 6. Regresi Respon Permukaan Daya Sebar vs Blok, Karbopol 940, dan Propilen Glikol ... 22

Gambar 7. (a) Contour Plot 2D dari Respon Daya Sebar terhadap Propilen Glikol dan Karbopol 940. (b) Surface Plot dari Daya Sebar vs Karbopol 940 dan Propilen Glikol ... 23

Gambar 8. Regresi Respon Permukaan Viskositas vs Blok, Karbopol 940, dan Propilen Glikol ... 24

Gambar 9. (a) Contour Plot 2D dari Respon Viskositas terhadap Propilen Glikol dan Karbopol 940. (b) Surface Plot dari Viskositas vs Propilen Glikol dan Karbopol 940 ... 25

Gambar 10. Contour Plot Superimposed Respon Daya Sebar dan Viskositas Sediaan Gel Nanopartikel Lipid 4nBR ... 26

(8)

xii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Lampiran 1. Hasil Uji Ukuran Partikel ... 34 Lampiran 2. Data Sifat Fisik Gel Nanopatikel Lipid 4-n-butylresorcinol ... 38 Lampiran 3. Dokumentasi ... 51

(9)

1 PENDAHULUAN

Nanopartikel didefinisikan sebagai partikel yang memiliki rentang ukuran 1 hingga 100 nm (Potočnik, 2011). Namun, jika ukuran partikel < 10 nm maka nanopartikel yang dihasilkan akan lebih mudah terpenetrasi ke dalam rute sistemik dibandingkan dengan partikel yang memiliki ukuran > 30 nm (Gautam et al., 2011). Nanopartikel mengandung material bahan aktif yang terlarut, terjerat, atau terenkapsulasi. Seiring berkembangnya teknologi, kini nanopartikel mulai dikembangkan dalam bidang kesehatan sebagai sistem penghantaran obat dan terapi (Cooper et al., 2014). Nanopartikel memiliki beberapa keunggulan seperti kemampuan untuk menembus ruang-ruang antar sel yang hanya dapat ditembus oleh partikel koloidal, memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menembus dinding sel, dan mempunyai fleksibilitas jika dikembangkan dengan teknologi lain sehingga memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan dalam target obat (Martien et al., 2012). Pembuatan nanopartikel dapat dilakukan dengan sistem pembentukan koloidal spesifik, salah satu contohnya adalah pembuatan liposom menggunakan lesitin kedelai.

Lesitin kedelai (soy lecithin) merupakan salah satu bahan dalam pembuatan liposom yang di dalamnya mengandung asam lemak tak jenuh sehingga mempunyai kemampuan untuk terpenetrasi dengan baik dalam tubuh (Kang et al., 2005). Pada lesitin kedelai terdapat fosfatidilkolin yang merupakan fosfolipid utama dalam pembentukan lesitin kedelai (Risselada and Marrink, 2009). Fosfolipid fosfatidilkolin sendiri memiliki sifat ampifilik karena pada strukturnya terdiri dari kepala yang hidrofilik dengan ekor yang hidrofobik sehingga dapat mempermudah dalam pembentukan bilayer konsentris (Dwiastuti et al., 2016; Puri

et al., 2009). Pembentukan nanopartikel dapat menggunakan fosfolipid lesitin

kedelai dengan metode sonikasi dan pemanasan (Christania et al., 2020). Nanopartikel lipid merupakan nanopartikel yang mengandung komponen-komponen dari molekul lipid (lemak) yang mempunyai beberapa kelebihan, misalnya toksisitas yang rendah secara in vivo, memiliki kemampuan untuk meningkatkan sifat fisika suatu zat aktif, efisiensi penjeratan obat, dan memperbaiki potensi pelepasan obat (Dwiastuti et al., 2018). Keunggulan yang dimiliki

(10)

nanopartikel lipid tersebut menjadikannya potensi dalam pengembangan obat dengan target transdermal yang digunakan untuk mengobati permasalahan kulit, misalnya melasma.

Melasma merupakan istilah yang menggambarkan suatu kondisi kulit yang menyebabkan adanya area (spot) berwarna cokelat muda hingga cokelat tua pada daerah yang sering terpapar sinar matahari dan hal ini sering terlihat pada wanita. Melasma dapat terjadi karena beberapa hal seperti paparan sinar UVA dan UVB, hormonal, faktor genetik, dan malnutrisi. Kondisi melasma disebabkan oleh aktivitas enzim tyrosinase yang berperan pada sintesis melanin. Beberapa obat seperti hidrokuinon dan tretinoin telah digunakan untuk mengobati masalah kulit ini, akan tetapi obat tersebut dilaporkan menimbulkan adverse events pada pasien.

Adverse events tersebut adalah exogenous ochronosis yang disebabkan oleh

penumpukan homogentisic acid pada kulit sehingga terjadi degenerasi kolagen dan serat elastis pada kulit, adverse events lainnya adalah depigmentasi permanen dapat memicu destruksi melanosit akibat penggunaan hidrokuinon jangka panjang, selain itu dapat menimbulkan hal lain seperti eritema dan iritasi (Shin and Park, 2014). Maka dari itu, dikembangkan sediaan dengan bahan aktif 4-n-butylresorcinol (4nBR) untuk menghindari adverse events yang mungkin terjadi (Madan Mohan et

al., 2016). Pada sebuah penelitian, bahan aktif 4-n-butylresorcinol secara signifikan

dapat menurunkan kadar melanin dalam 8 minggu tanpa menimbulkan adverse

events apapun. Bahan aktif 4-n-butylresorcinol memiliki aktivitas hipopigmentasi

karena dapat menghambat kerja enzim tyrosinase dan tyrosinase-related protein-1 (TRP-1) dan terbukti efektif untuk mengobati melasma (Madan Mohan et al., 2016; Shin and Park, 2014).

Bahan aktif 4-n-butylresorcinol memiliki sifat fisik yang kurang stabil yaitu dapat terdiskolorisasi akibat adanya oksidasi sehingga diperlukan solusi untuk mencegah hal tersebut (Love et al., 2003). Oleh karena itu, nanopartikel lipid dapat dipilih untuk menjadi solusi dalam memperbaiki stabilitas bahan aktif

4-n-butylresorcinol yang kurang stabil akibat adanya oksidasi (Dwiastuti et al., 2018).

Nanopartikel lipid yang memiliki matriks lipid bilayer dapat membantu memperbaiki stabilitas dari bahan aktif yang mudah teroksidasi karena bahan aktif

(11)

akan terperangkap di dalam matriks lipid bilayer yang terdapat pada nanopartikel lipid (Puglia and Bonina, 2012). Formulasi dalam nanopartikel lipid menghasilkan ukuran partikel yang kecil dapat menyebabkan adanya kontak antar permukaan partikel sehingga dapat terjadi agregasi yang cepat (Hotze et al., 2010; Martien et

al., 2012). Pada penelitian ini nanopartikel lipid dengan bahan aktif 4-n-butylresorcinol diformulasikan dalam bentuk sediaan gel yang diharapkan dapat

menghambat kontak antar partikel akibat adanya matriks gel sehingga dapat mencegah terjadinya agregasi secara cepat.

Menurut Depkes RI (2014) dalam Farmakope Indonesia V, gel adalah sistem semipadat yang tersusun dari suspensi yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar, dan terpenetrasi oleh suatu cairan. Gel tersusun dari beberapa komponen seperti gelling agent dan humektan. Gelling

agent dapat berfungsi untuk menyusun konsistensi sediaan gel (Wijoyo, 2016),

contoh dari gelling agent adalah karbopol yang dapat dengan mudah terdispersi dalam air dan dapat dengan mudah memberikan kekentalan atau viskositas yang cukup walau dalam konsentrasi kecil (Sari et al., 2016). Humektan pada sediaan gel dapat berfungsi untuk menjaga kestabilan gel dengan cara mengabsorbsi lembab serta mengurangi penguapan air pada sediaan, contoh dari humektan adalah propilen glikol (Sayuti, 2015). Komponen gelling agent dan humektan pada sediaan gel akan sangat memengaruhi sifat fisik dan stabilitas fisik. Gelling agent akan membentuk jaringan struktural pada sistem gel dan humektan berperan untuk menyerap lembab dan mengurangi penguapan air dari sediaan gel sehingga kestabilan sediaan dapat dipertahankan (Sayuti, 2015). Oleh karena itu, perlu adanya optimasi formula gelling agent dan humektan agar dapat menghasilkan sediaan gel yang baik. Terdapat berbagai desain eksperimental yang dapat digunakan untuk proses optimasi, salah satunya ialah Central Composite Design (Riswanto et al., 2019).

Central Composite Design (CCD) adalah salah satu bagian desain

eksperimental dari Response Surface Methodology (Polowczyk and Kozlecki, 2017). Metode CCD dapat digunakan untuk menentukan jumlah percobaan yang kemudian dievaluasi untuk optimasi respon dan variabel (Adeleke et al., 2019).

(12)

Pada metode CCD mempunyai tiga titik yang berbeda yaitu titik faktorial, titik axial (star points), dan titik pusat (central point). Titik faktorial berasal dari desain faktorial penuh atau fraksional yang kemudian tingkat level faktor minimum dan maksimumnya dilambangkan sebagai -1 dan +1. Titik pusat (central points) adalah titik yang umumnya direplikasi pada metode ini, titik ini dapat memberikan perkikaraan dari kesalahan eksperimental. Titik axial (star points) yang juga bisa disebut dengan α, titik ini terletak pada sumbu sistem koordinat yang simetris dengan titik pusat (Asghar et al., 2014; Sahoo and Barman, 2012). Pada pengaplikasiannya, metode ini umumnya menggunakan design expert software atau Minitab (Asghar et al., 2014).

(13)

5 METODE PENELITIAN

Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini ialah 4-n-butylresorcinol

medicine grade (Shireej Pharmaceutical), soy lecithin serbuk farmasetis (Nacalai

Tesque), karbopol 940 (MKR Chemical), propilen glikol (Brataco), metilparaben (Brataco), etanol 70% (Brataco), TEA (MKR Chemical), dan aquabidest yang diperoleh dari Laboratorium Kimia Analisis Instrumen Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Alat

Alat yang digunakan dalam penelitian adalah neraca analitik (OHAUS), blender (Waring Commercial), ultra-turrax (Yetral GmbH D-7801 Dottingen),

bath sonicator (Elmasonic), viskometer (Rheosys Micra Merlyn VR), hotplate stirrer (JLabtech), magnetic stirrer, water purificator (Adrona), alat uji daya sebar,

alat uji daya lekat, nampan plastik, wadah pot plastik, thermometer, pH meter pen (OHAUS), freezer (Samsung), oven (Memmert), pipet tetes, plastic wrap, gelas beaker (PYREX), gelas ukur (PYREX), batang pengaduk, sudip, mortir dan stamper, cawan porselen, kaca objek, kaca bundar, software Minitab 17, dan

Particle Size Analyzer (PSA) dengan Particle size: Dynamic Light Scattering (DLS)

Universitas Islam Indonesia. Tata Cara Penelitian 1. Formula

Formula yang digunakan pada penelitian ini merupakan formula yang diadaptasi kemudian dimodifikasi dari penelitian Retnowati (2013), formula acuan tersebut disajikan pada Tabel I sebagai berikut:

Tabel I. Formula Acuan untuk Pembuatan Gel

Bahan F1 (%) F2 (%) F3 (%) F4(%)

Minyak atsiri buah adas 5,0 5,0 5,0 5,0

Propilen glikol 4 4 16 16

Carbopol 0,5 1 0,5 1

TEA 1 1 1 1

(14)

Pada penelitian ini dilakukan modifikasi formula pada komposisi karbopol 940 dan propilen glikol dengan menggunakan metode Central Composite

Design. Hasil level yang diperoleh dari metode Central Composite Design setelah

memasukkan level rendah dan level tinggi pada setiap faktor yaitu didapatkan lima level yang ditampilkan pada Tabel II.

Tabel II. Faktor dan Level dalam Penelitian

Faktor Level (%)

-α -1 0 +1 +α

Karbopol 940 (A) 0,2928 0,5 1,0 1,5 1,7071 Propilen glikol (B) 9,1716 10 12 14 14,8284 Keterangan Tabel:

- α = level minus axial points -1 = level rendah

0 = level center points +1 = level tinggi

= level plus axial points

Perhitungan nilai α adalah sebagai berikut: 𝛼 = √24 𝑛

= √24 2 = 1,414

Keterangan: 𝑛 adalah jumlah faktor

Nilai nilai axial points dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut

axial points = x̄ ± 𝛼 ((range)/2)

Karbopol 940 = 1,0 ± 1,414 ((1,5-0,5)/2) = 1,0 ± 1,414 (0,5) = 1,0 ± 0,707 (-α = 0,293 dan +α = 1,707) Propilen Glikol = 12 ± 1,414 ((14-10)/2) = 12 ± 1,414 (2) = 12 ± 2,828 (-α = 9,172 dan +α = 14,828) (Olawoye, 2016)

(15)

Setelah dilakukan perancangan formula dengan metode Central

Composite Design menggunakan software Minitab 17, maka diperoleh hasil

rancangan formula optimasi yang ditunjukkan pada Tabel III.

Tabel III. Rancangan Formula untuk Optimasi Sediaan Gel Nanopartikel Lipid 4nBR: Aplikasi CCD dengan lima level menggunakan software

Minitab 17

StdOrder RunOrder PtType Blocks Karbopol 940 (%) Propilen Glikol (%) 1 1 1 1 0.50000 10.0000 2 2 1 1 1.50000 10.0000 3 3 1 1 0.50000 14.0000 4 4 1 1 1.50000 14.0000 5 5 0 1 1.00000 12.0000 6 6 0 1 1.00000 12.0000 7 7 0 1 1.00000 12.0000 8 8 0 1 1.00000 12.0000 9 9 -1 2 0.29289 12.0000 10 10 -1 2 1.70711 12.0000 11 11 -1 2 1.00000 9.1716 12 12 -1 2 1.00000 14.8284 13 13 0 2 1.00000 12.0000 14 14 0 2 1.00000 12.0000 15 15 0 2 1.00000 12.0000 16 16 0 2 1.00000 12.0000

Jumlah percobaan (run) yang akan dilakukan dapat dihitung sebagai berikut: N = k2 + 2k + n

N = 22 + 2.2 + (4+4)

N = 16

Keterangan: N adalah jumlah percobaan; k adalah jumlah faktor, dan n adalah jumlah replikasi pada central point (pada penelitian ini central point tiap block dilakukan replikasi sebanyak 4 kali).

Tabel IV. Formula Nanopartikel Lipid 4nBR

Bahan Formula 1-16 (g) 4nBR (%b/v) 0,1 Soy lecithin (g) 8,7 Etanol PA qs Aquabidest Add 100 mL (Dwiastuti et al., 2018)

(16)

Tabel V. Formula Gel Nanopartikel Lipid 4nBR Run Order Formula Faktor (%) Nano-partikel Lipid 4nBR (mL) Metilparaben (%) Etanol 70% A B 1 F1 0,5 10 100 0,05 qs 2 F2 1,5 10 100 0,05 qs 3 F3 0,5 14 100 0,05 qs 4 F4 1,5 14 100 0,05 qs 5 F5 1 12 100 0,05 qs 6 F6 1 12 100 0,05 qs 7 F7 1 12 100 0,05 qs 8 F8 1 12 100 0,05 qs 9 F9 0,293 12 100 0,05 qs 10 F10 1,707 12 100 0,05 qs 11 F11 1 9,171 100 0,05 qs 12 F12 1 14,828 100 0,05 qs 13 F13 1 12 100 0,05 qs 14 F14 1 12 100 0,05 qs 15 F15 1 12 100 0,05 qs 16 F16 1 12 100 0,05 qs Keterangan:

Faktor (A) adalah karbopol 940 Faktor (B) adalah propilen glikol.

2. Pembuatan Nanopartikel Lipid 4-n-butylresorcinol (4nBR)

Nanopartikel lipid dibuat dengan cara mendispersikan soy lecithin sebanyak 8,7 g ke dalam 100 mL air bidestilata pada suhu 60oC. Langkah awal yaitu menimbang soy lecithin sebanyak 8,7 g kemudian didispersikan ke dalam air bidestilata yang bersuhu 60oC kemudian dihomogenkan di atas hotplate stirrer. Hasil dispersi soy lecithin ini disebut dengan liposom. Setelah terdispersi, kondisikan soy lecithin pada suhu 60oC. Lalu dihomogenkan dengan menggunakan blender selama 60 detik pada kecepatan tinggi (high). Setelah itu dikondisikan lagi pada suhu 60oC kemudian dihomogenkan kembali dengan ultraturrax selama 60

detik pada skala 5. Lalu dilakukan sonikasi untuk memperkecil ukuran partikel dengan menggunakan bath sonicator selama 30 menit pada suhu 60oC. Pada awal

sonikasi ditambahkan 0,1 g zat aktif 4nBR yang telah dilarutkan dengan ethanol 70% secukupnya (Dwiastuti et al., 2018).

(17)

3. Pembuatan Gel Nanopartikel Lipid dengan Bahan Aktif 4nBR

Nanopartikel lipid mengandung 4nBR yang telah dibuat sebelumnya kemudian digunakan untuk pembuatan sediaan gel. Sebanyak 100 mL nanopartikel lipid digunakan untuk mengembangkan karbopol 940 (sesuai dengan komposisi formula yang ditentukan). Nanopartikel lipid mula-mula dimasukkan ke dalam wadah plastik kemudian ditambahkan karbopol 940 lalu ditutup dengan plastic

wrap. Pengembangan karbopol 940 dilakukan selama 24 jam. Setelah karbopol 940

mengembang, basis gel karbopol 940 dimasukkan ke dalam mortir lalu ditambahkan dengan TEA hingga sesuai dengan pH kulit yaitu 4,5-7,0. Kemudian basis gel tersebut dihomogenkan dengan mixer selama 1 menit. Setelah itu ditambahkan propilen glikol (sesuai dengan komposisi formula yang ditentukan) lalu dihomogenkan dengan mixer selama 3 menit. Pada wadah terpisah, dilarutkan metilparaben dengan etanol 70% kemudian metilparaben yang telah larut dicampurkan ke dalam mortir yang berisi campuran basis gel dan humektan, dilakukan pengadukan hingga terbentuk massa gel yang homogen (Christania et al., 2020). Setelah itu gel disimpan dalam wadah pot plastik untuk dilakukan uji sifat fisik dan stabilitasnya.

4. Uji Ukuran Partikel

Ukuran partikel menjadi parameter penting dalam pembuatan nanopartikel. Nanopartikel lipid yang baik memiliki rentang ukuran partikel antara 1-100 nm. Namun, ketika ukuran partikel berada pada nilai < 10 nm akan lebih mudah terpenetrasi ke dalam rute sistemik maka pada penelitian ini diharapkan rentang ukuran partikel yaitu 30-100 nm. Pengujian ukuran partikel dapat dilakukan dengan menggunakan Particle Size Analyzer dengan prinsip Dynamic Light

Scattering.

Sebanyak 0,5 µL nanopartikel lipid dimasukkan ke dalam labu ukur 25 mL. kemudian di ad dengan air bidestilata hingga tanda batas. Lalu sebanyak 2 mL larutan dimasukkan ke dalam kuvet untuk diukur dengan PSA. Ukuran partikel yang diharapkan yaitu 30-100 nm dengan nilai polidispersitas 0-0,5.

(18)

5. Uji Sifat Fisik Sediaan

Uji Organoleptis dilakukan dengan cara pengamatan secara langsung untuk melihat warna, bau, dan konsistensi dari sediaan yang dihasilkan (Ardana et al., 2015). Uji Homogenitas dilakukan dengan cara mengoleskan sejumlah sediaan (sampel) pada sekeping kaca objek. Kemudian diamati sediaan pada kaca objek tersebut. Sediaan yang homogen tidak akan menampakkan butiran kasar (Ardana et

al., 2015).

Uji Viskositas dilakukan dengan mengambil sejumlah sediaan kemudian diletakkan pada spindle. Viskositas sediaan gel dapat diukur menggunaan instrumen viscometer rheosys dengan spindle 25 mm concentric cylinders dengan kecepatan 10 rpm. Nilai viskositas yang diharapkan dalam penelitian ini yaitu dengan rentang 5-100 Pa.s (Nurahmanto et al., 2017). Selain mengukur viskositas,

viscometer rheosys juga dapat menggambarkan sifat alir sediaan. Uji pH pada

penelitian ini menggunakan instrumen berupa pH meter pen OHAUS. Elektroda dibilas dengan aquabidest lalu dikeringkan dengan menggunakan tissue (Ardana et

al., 2015). Uji pH dilakukan dengan memasukkan elektroda ke dalam sediaan

kemudian dilihat pH yang ditunjukkan pada alat. Nilai pH sediaan gel yang baik yaitu sesuai atau mendekati pH kulit berkisar pada rentang 4,5-7,0 (Widyaningrum

et al., 2019). Uji Daya Sebar dilakukan dengan cara ditimbang sebanyak 0,5 g

sediaan lalu diletakkan pada kaca bulat berskala. Kemudian kaca ditutup pada bagian atasnya. Digunakan pemberat 150 g untuk diletakkan di atas kaca penutup. Didiamkan selama 1 menit lalu diukur diameter daya sebar yang dihasilkan. Nilai daya sebar yang diharapkan yaitu dengan rentang 5-7 cm (Sayuti, 2015)

6. Uji Stabilitas Fisik dengan Freeze and Thaw

Uji stabilitas ini dilakukan hingga 3 (tiga) siklus uji. Pada tiap-tiap siklus, sediaan dibekukan (freeze) dalam freezer selama 24 jam dengan suhu 4±2ºC. Setelah itu dicairkan (thaw) dalam suhu (40±2oC) selama 24 jam pula (1 siklus). Pada awal dan akhir tiap siklus dilakukan pengamatan meliputi organoleptis, viskositas, dan pH kemudian hasil pengamatan dicatat (Warnida et al., 2016).

(19)

7. Analisis Data

Hasil yang akan diperoleh dalam penelitian ini yaitu hasil uji sifat fisik dan stabilitas fisik gel nanopartikel lipid dengan bahan aktif 4-n-butylresorcinol. Area yang optimum diperoleh dengan cara mengolah data menggunakan aplikasi Minitab setelah sebelumnya dilakukan rancangan eksperimen menggunakan Central

Composite Design. Data yang terdistribusi normal dan homogen dapat dianalisis

menggunakan two-way ANOVA dengan tingkat kepercayaan 95%. Bila diperoleh nilai p < 0,05 maka dapat dinyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan baik pada sifat fisik maupun stabilitas fisik yang dihasilkan.

(20)

12 HASIL DAN PEMBAHASAN

Pembuatan Nanopartikel Lipid 4-n-butylresorcinol (4nBR)

Bahan aktif 4nBR merupakan salah satu komponen utama pembuatan nanopartikel lipid ini diikuti dengan soy lecithin untuk membentuk sistem lipid

bilayer. Penambahan soy lecithin ini akan membuat bahan aktif 4nBR terjerat

dalam sistem lipid bilayer setelah proses sonikasi. Metode sonikasi dan pemanasan adalah metode yang digunakan untuk pembuatan nanopartikel lipid 4nBR pada penelitian ini yang diacu dari penelitian yang dilakukan oleh Putri et al. pada tahun 2017. Hasil sediaan nanopartikel lipid yang dihasilkan yaitu berwarna kuning karena mengandung soy lesithin yang berwarna kuning pula serta dengan dilakukannya sonikasi menyebabkan sediaan menjadi lebih jernih. Hasil tersebut dapat dilihat pada Lampiran 3.

Pengujian dan Karakteristik Nanopartikel Lipid 4nBR

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui ukuran partikel dan indeks polidispersitas (IP) sediaan nanopartikel lipid 4nBR. Alat yang digunakan yaitu

Particle Size Analyzer (PSA) dengan prinsip Dynamic Light Scattering. Pada Dynamic Light Scattering sinar laser akan bertemu dengan molekul bahan uji,

kemudian incident light akan tersebar ke segala arah dan scattering intensity akan terekam oleh detektor. Monochromatic incident light akan mengalami fenomena yang disebut pelebaran Doppler karena molekul bahan uji terus bergerak dalam larutan (Sandhu et al., 2018). Pada penggunaan PSA untuk pengukuran partikel data yang akan diperoleh berupa data size (Z-average) dan data nilai indeks polidispersitas (IP). Nilai IP menggambarkan ukuran distribusi partikel dalam sampel. Jika nilai IP berada pada rentang 0-0,5 maka menggambarkan bahwa sebaran ukuran partikel telah homogen. Jika nilai IP > 0,5 maka menggambarkan bahwa ukuran partikel yang diuji memiliki tingkat heterogenitas yang tinggi (Silfia

et al., 2019). Pada penelitian ini ukuran partikel yang diharapkan yaitu 30-100 nm

dengan nilai IP pada rentang 0-0,5.

Hasil yang diperoleh setelah dilakukan pengujian menggunakan instrument PSA yaitu didapatkan ukuran partikel sediaan sebesar 87,9 nm dengan nilai IP sebesar 0,297. Hasil yang didapatkan telah sesuai dengan nilai yang diharapkan. Pada nilai IP telah masuk pada rentang yang diharapkan yaitu 0-0,5, maka dapat

(21)

dinyatakan bahwa nanopartikel lipid yang telah dibuat memiliki distribusi ukuran partikel yang homogen.

Pembuatan Gel Nanopartikel Lipid 4nBR

Pada pembuatan gel nanopartikel lipid 4nBR menggunakan beberapa bahan yakni karbopol 940, propilen glikol, TEA, metilparaben, dan alkohol 70%, serta sediaan nanopartikel lipid 4nBR. Fungsi dari setiap bahan yaitu karbopol 940 berperan sebagai gelling agent, propilen glikol sebagai humektan, TEA yang berfungsi sebagai agen pembasa, metilparaben sebagai pengawet, alkohol 70% untuk melarutkan metilparaben, dan sediaan nanopartikel lipid 4nBR yang berfungsi sebagai media untuk mengembangkan karbopol 940. Hasil dari gel yang dibuat yaitu memiliki warna kuning karena dibuat dengan sediaan nanopartikel lipid 4nBR yang mengandung soy lecithin.

Hasil Uji Sifat Fisik dan Stabilitas Fisik Sediaan

Pada penelitian ini dilakukan beberapa uji sifat fisik yang meliputi uji organoleptis, uji homogenitas, uji viskositas, uji pH, dan uji daya sebar. Tujuan dilakukannya uji sifat fisik yaitu untuk menilai sediaan yang dihasilkan telah memberikan hasil sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Selain uji sifat fisik, dilakukan pula uji stabilitas sediaan dengan metode freeze and thaw untuk menilai kestabilan sediaan selama masa penyimpanan. Uji stabilitas dengan metode freeze

and thaw dilakukan dalam 3 siklus, setiap satu siklus terdiri dari 24 jam

penyimpanan dalam keadaan freeze dan selanjutnya disimpan selama 24 jam dalam kondisi thaw. Setelah terlewati 1 siklus, sediaan akan diamati perubahan fisiknya yang meliputi organoleptis, homogenitas, viskositas, pH, dan daya sebar.

Uji Organoleptis dan Homogenitas

Pada uji organoleptis hal yang diamati yaitu warna, bau, dan bentuk sediaan gel, pengamatan ini dilakukan secara visual. Pada uji homogenitas dilakukan pengamatan pada sediaan gel, pengamatan dilakukan dengan cara mengoleskan sejumlah gel pada kaca objek kemudian bagian atas kaca objek ditumpuk dengan kaca objek yang lain kemudian diamati kaca objek tersebut, sediaan gel yang homogen tidak akan memperlihatkan adanya butiran kasar (Ardana et al., 2015).

(22)

Hasil uji organoleptis dan uji homogenitas sediaan gel nanopartikel lipid 4nBR pada siklus 0 dan siklus 3 yaitu berwarna kuning pucat, berbau khas kedelai karena salah satu bahannya adalah soy lecithin, bentuk setiap sediaan yaitu semisolid dan tidak terjadi pemisahan pada gel. Namun, pada F9 dengan konsentrasi karbopol 940 yang rendah yaitu 0,293 menghasilkan bentuk gel yang lebih cair, hal ini mungkin disebabkan karena konsentrasi yang ditambahkan berada di bawah konsentrasi gelling agent yang dianjurkan yaitu 0,5-2,0% (Rowe et al., 2009) sehingga menyebabkan basis gel tidak terbentuk dengan sempurna dan berakibat pada bentuk gel yang menjadi lebih cair. Hasil uji homogenitas pada sediaan yaitu diperoleh bahwa seluruh sediaan homogen dan tidak terlihat adanya basis gel yang masih menggumpal serta semua gel tidak mengalami pemisahan setelah siklus 3.

Uji pH

Pada pembuatan sediaan topikal, pengukuran pH penting untuk dilakukan agar dapat melihat tingkat keasaman dari suatu sediaan. Nilai pH yang terlalu tinggi ataupun terlalu rendah dapat menyebabkan iritasi pada kulit. Oleh karena itu, pH sediaan yang diharapkan yaitu sesuai dengan pH kulit dalam rentang 4,5-7,0 (Widyaningrum et al., 2019).

(23)

Tabel VI. Hasil Uji pH Sediaan Selama 3 Siklus

Keterangan:

Faktor (A) adalah karbopol 940 Faktor (B) adalah propilen glikol.

Gambar 1. Hasil Uji pH pada Siklus 0 hingga Siklus 3

Formula Faktor (%) Uji pH

A B Siklus 0 Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3

F1 0,5 10 6.3 6.1 6.1 6.1 F2 1,5 10 6.3 6.3 6.3 6.3 F3 0,5 14 6.3 6.2 6.3 6.3 F4 1,5 14 6.1 6.1 6.1 6.2 F5 1 12 6.6 6.6 6.6 6.6 F6 1 12 6.0 6.0 6.0 6.0 F7 1 12 6.0 6.1 6.2 6.1 F8 1 12 6.1 6.0 6.1 6.1 F9 0,293 12 6.9 7.0 7.0 7.0 F10 1,707 12 6.8 6.8 6.8 7.0 F11 1 9,171 6.2 6.0 6.0 6.3 F12 1 14,828 6.5 6.5 6.6 6.7 F13 1 12 6.2 6.5 6.4 6.5 F14 1 12 6.5 6.5 6.6 6.7 F15 1 12 6.7 6.5 6.7 6.8 F16 1 12 6.7 6.6 6.7 6.8

(24)

Hasil yang diperoleh dari setiap sediaan mulai siklus 0 hingga siklus 3 menunjukkan bahwa setiap formula berada pada rentang pH yang diharapkan yaitu 4,5-7,0 dan pada penelitian ini diperoleh nilai pH pada rentang 6,0-7,0. Berdasarkan data yang ditampilkan pada Gambar 1, terlihat bahwa pada beberapa formula mengalami perubahan nilai pH. Meskipun demikian, nilai pH pada setiap sediaan masuk ke dalam rentang pH kulit yaitu 4,5-7,0. Nilai pH yang tidak sesuai dengan pH kulit dapat menyebabkan iritasi maupun membuat kulit menjadi kering (Sayuti, 2015).

Uji Daya Sebar

Pada penelitian ini dilakukan uji daya sebar untuk mengetahui kemampuan gel tersebar pada kulit ketika diaplikasikan. Nilai daya sebar yang diharapkan pada penelitian ini yaitu pada rentang 5-7 cm. Grafik berikut ini menampilkan hasil pengujian daya sebar pada siklis 0 dan siklus 3 selama perlakuan uji stabilitas freeze

and thaw.

Tabel VII. Hasil Uji Daya Sebar Sediaan Selama 3 Siklus

Formula Faktor (%) Siklus 0 (cm) Siklus 1 (cm) Siklus 2 (cm) Siklus 3 (cm) A B F1 0,5 10 5.075 5.5 5.225 5.05 F2 1,5 10 4.125 3.75 3.975 3.8 F3 0,5 14 5.575 5.175 5.6 5.325 F4 1,5 14 4.125 3.95 4.25 4.125 F5 1 12 4.85 4.4 4.4 3.575 F6 1 12 5.000 4.15 4.375 3.900 F7 1 12 4.600 4.075 4.55 4.175 F8 1 12 4.65 4.175 4.375 4.200 F9 0,293 12 8.4 8.25 8.475 8.65 F10 1,707 12 4.075 3.725 3.85 3.825 F11 1 9,171 4.5 4.475 4.325 4.125 F12 1 14,828 4.85 4.8 4.4 4.7 F13 1 12 4.55 3.675 4.2 4.275 F14 1 12 4.675 3.675 4.45 4.375 F15 1 12 4.5 4.475 4.4 4.5 F16 1 12 4.45 4.675 4.35 4.325

(25)

Keterangan:

Faktor (A) adalah karbopol 940 Faktor (B) adalah propilen glikol.

Gambar 2. Hasil Uji Daya Sebar Siklus 0 dan Siklus 3

Hasil pengukuran daya sebar menunjukkan bahwa hanya F1 dan F3 yang memenuhi kriteria daya sebar yang diharapkan karena nilai daya sebar F1 dan F3 masuk dalam rentang yang diharapkan yaitu 5-7 cm. Komposisi karbopol 940 dan propilen glikol pada F1 adalah 0,5 gram dan 10 mL, sedangkan pada F3 yaitu 0,5 gram dan 14 mL. Formula lainnya yang memiliki nilai daya sebar yang rendah menandakan bahwa sediaan gel nanopartikel lipid yang dihasilkan akan sulit tersebar ketika diaplikasikan pada kulit. Daya sebar yang rendah pada sediaan gel dapat dipengaruhi oleh jumlah gelling agent yang ditambahkan pada formula. Semakin banyak gelling agent yang ditambahkan maka semakin rendah pula nilai daya sebar yang dihasilkan (Utami and Laurany, 2019). Nilai daya sebar dan viskositas dalam sediaan gel adalah berbanding terbalik, dengan kata lain semakin tinggi viskositas maka nilai daya sebar akan semakin rendah dan sebaliknya (Sayuti, 2015).

Uji Viskositas

Pengujian viskositas dilakukan dengan tujuan untuk menilai kekentalan gel yang dihasilkan. Nilai viskositas yang diharapkan pada penelitian ini yaitu pada rentang 5-100 Pa.s (Nurahmanto et al., 2017). Hasil uji viskositas sediaan gel nanopartikel lipid pada siklus 0 dan siklus 3 ditunjukkan pada table dan grafik berikut.

(26)

Tabel VIII. Hasil Uji Viskositas Sediaan Selama 3 Siklus Formula Faktor (%) Siklus 0 (Pa.s) Siklus 1 (Pa.s) Siklus 2 (Pa.s) Siklus 3 (Pa.s) A B F1 0,5 10 8.8821 9.7243 11.3347 12.2516 F2 1,5 10 37.0526 35.4212 40.2502 41.7213 F3 0,5 14 8.29844 8.4496 9.6079 10.4347 F4 1,5 14 26.3917 28.1643 30.5631 31.923 F5 1 12 20.0971 21.4844 22.4271 23.5367 F6 1 12 19.3093 22.4811 25.5805 25.4941 F7 1 12 20.6506 25.5862 25.0742 27.0395 F8 1 12 21.5111 23.9641 25.6582 26.5946 F9 0,293 12 0.2060 0.2407 0.2763 0.3174 F10 1,707 12 31.9268 36.2998 34.4282 37.7656 F11 1 9,171 20.0986 25.6859 28.3249 30.3829 F12 1 14,828 16.8496 18.1847 18.7504 19.4616 F13 1 12 21.0179 24.0857 25.5946 26.0905 F14 1 12 17.6951 20.5168 22.2231 22.9628 F15 1 12 19.5506 20.4711 22.4937 22.463 F16 1 12 20.8785 22.1654 23.8657 23.6997 Keterangan:

Faktor (A) adalah karbopol 940 Faktor (B) adalah propilen glikol.

Gambar 3. Hasil Uji Viskosiras Siklus 0 dan Siklus 3

(27)

Setelah dilakukan uji viskositas dengan menggunakan Viscometer Rheosys diperoleh nilai viskositas yang memenuhi kriteria yang diharapkan pada setiap formula yaitu masuk ke dalam rentang 5-100 Pa.s. Namun, pada F9 diperoleh nilai viskositas yang sangat rendah dan tidak masuk ke dalam rentang yang diharapkan karena bentuk sediaan pada F9 yang cair sehingga memiliki nilai viskositas yang rendah. Jumlah konsentrasi karbopol 940 sebesar 0,293 gram pada formula F9 diperoleh dari rancangan CCD yaitu pada level -α (axial point). Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa penambahan konsentrasi karbopol 940 sebagai gelling agent berpengaruh terhadap viskositas sediaan. Semakin rendah konsentrasi karbopol 940 maka viskositas sediaan yang dihasilkan juga akan semakin rendah begitu pula sebaliknya, jika karbopol 940 yang ditambahkan semakin banyak maka viskositas sediaan akan semakin tinggi pula (Mursal et al., 2019). Pada penelitian ini menggunakan viscometer rheosys untuk uji viskositas dan tipe alir sediaan. Seluruh sediaan gel menghasilkan tipe aliran pseudoplastis di setiap formula. Hal ini terlihat dengan adanya penurunan nilai viskositas seiring dengan peningkatan shear rate pada saat pengukuran (Astusti et al., 2010). Pada Gambar 4 menunjukkan data tipe aliran dari formula F1 sebagai contoh bahwa tipe aliran yang dihasilkan merupakan tipe aliran pseudoplastis karena semakin bertambahnya shear rate pada saat pengukuran menyebabkan nilai viskositas menurun.

Gambar 4. Data Tipe Aliran Sediaan Gel diwakili dengan Formula F1 Hasil Analisis Data

Pada penelitian ini, analisis data dilakukan dengan memasukkan hasil pengukuran pH, daya sebar, dan viskositas yang diperoleh ke dalam aplikasi Minitab 17 dengan metode CCD. Setelah memasukkan semua hasil pengukuran maka akan diperoleh respon dari setiap variabel. Uji statistik ANOVA akan menunjukkan nilai P (p-value) pada setiap faktor beserta dengan interaksinya (berpengaruh atau tidak) terhadap respon. Aplikasi Minitab 17 dengan metode CCD juga akan memberikan analisis terhadap model. Suatu model dinyatakan valid

(28)

apabila memberikan p-value sebesar < 0,05 yang artinya bahwa model tersebut memberikan pengaruh secara nyata (signifikan) terhadap respon. Jika p-value suatu model tidak signifikan maka model tersebut tidak dapat digunakan untuk menentukan area yang optimum. Selain p-value model, hal lain yang diperhatikan adalah nilai lack of fit yaitu untuk melihat ketidaksesuaian model. Jika nilai P lack

of fit lebih dari 0,05 maka dinyatakan tidak signifikan (Dewi and Gapsari, 2013;

Hardjono et al., 2020). Pada penelitian ini jika nilai P pada model < 0,5 maka dinyatakan bahwa faktor yang ditambahkan memberikan pengaruh terhadap respon. Respon pH

Hasil respon yang diperoleh pada aplikasi Minitab 17 setelah memasukkan data pengukuran pH, didapatkan analisis dari regresi respon pH vs blok, karbopol 940, dan propilen glikol sebagai berikut

Gambar 5. Regresi Respon Permukaan pH vs Blok, Karbopol 940, dan Propilen Glikol

Berdasarkan hasil ANOVA tersebut dapat terlihat bahwa model yang dihasilkan yaitu tidak signifikan dengan p-value sebesar 0,099 sehingga model tersebut dinyatakan tidak valid. Pada data respon p-value lack of fit diperoleh nilai sebesar 0,868 (> 0,05) yang artinya tidak signifikan terhadap ketidaksesuaian model sehingga model tersebut sesuai (Hendrawan et al., 2016). Nilai R2 yang diperoleh yaitu 63,09% dan nilai Adjusted R2 yang diperoleh sebesar 38,48%, selisih nilai R2 dan nilai Adjusted R2 yang diterima yaitu kurang dari 20% (Prabudi et al., 2018).

(29)

Pada penelitian ini menggunakan TEA sebagai agen pembasa untuk menetralkan pH karbopol 940 yang bersifat asam.

Penambahan TEA berguna untuk membuat suasana pH agar mendekati pH netral yaitu 7,0. TEA yang ditambahkan ke dalam dispersi karbopol 940 dengan nanopartikel lipid akan membentuk cross link pada polimer-polimer karbopol 940 yang awalnya acak menjadi formasi yang lebih stabil menyerupai sarang lebah, semakin banyak penggunaan karbopol 940 maka struktur dari cross link yang menyerupai sarang lebah tersebut akan membentuk dinding yang kuat dan akan berpengaruh terhadap viskositas gel (Ande, 2014). Namun, pada penelitian ini jumlah TEA yang ditambahkan tidak dikendalikan yaitu ditambahkan tetes demi tetes hingga sesuai dengan pH kulit yaitu 4,5-7,0 dan pada beberapa formula penambahan TEA tidak ditambahkan hingga pH sediaan mendekati netral yaitu 7,0. Hal tersebut berpengaruh terhadap nilai viskositas yang dihasilkan pada setiap sediaan. Berdasarkan data tersebut maka model yang diperoleh tidak dapat dipilih untuk memprediksi kondisi respon pH yang optimum (Hardjono et al., 2020). Persamaan regresi yang diperoleh dari respon pH adalah sebagai berikut

pH = 3,17 – 0,79 (X1) + 0,589 (X2) + 0,650 (X12) – 0,0219 (X22) – 0,050 (X1X2) (3) Keterangan:

X1 = Karbopol 940 X2 = Propilen glikol

Pada penelitian ini, menggunakan TEA sebagai agen pembasa untuk menetralkan sifat karbopol 940 yang asam. Penambahan TEA tetes demi tetes hingga mencapai pH kulit normal yaitu 4,5-7,0. Oleh karena penambahan TEA yang disesuaikan maka pada penelitian ini tidak terdapat perbedaan yang jauh antar nilai pH sehingga diperoleh hasil yang tidak signifikan pada respon pH penelitian ini.

Respon Daya Sebar

Hasil yang diperoleh setelah memasukkan hasil pengukuran daya sebar pada penelitian ini ke dalam aplikasi Minitab 17 dengan metode CCD didapatkan

(30)

analisis ANOVA dari regresi respon daya sebar vs blok, karbopol 940, dan propilen glikol sebagai berikut

Gambar 6. Regresi Respon Permukaan Daya Sebar vs Blok, Karbopol 940, dan Propilen Glikol

Berdasarkan respon yang diperoleh, dihasilkan p-value model yaitu kurang dari 0,05 yakni sebesar 0,006 sehingga dapat dinyatakan bahwa model tersebut valid karena terdapat perbedaan yang signifikan. Model yang valid pada respon ini menunjukkan adanya pengaruh nyata dari faktor yang diberikan terdahap respon daya sebar. Pada Gambar 6 ditunjukkan bahwa faktor karbopol 940 memiliki

p-value 0,000 (< 0,05), sedangkan faktor propilen glikol menunjukkan nilai yang

tidak signifikan dengan p-value sebesar 0.546 (> 0,05) sehingga dapat dinyatakan bahwa karbopol 940 yang ditambahkan berpengaruh terhadap respon daya sebar. Interaksi antara faktor karbopol 940 dan propilen glikol tidak menunjukkan hasil yang signifikan yaitu dengan p-value 0,666 sehingga dapat dinyatakan bahwa interaksi kedua faktor tersebut tidak memengaruhi respon daya sebar pada penelitian ini. Pada data tersebut juga diperoleh p-value dari lack of fit sebesar 0,000 yakni kurang dari 0,05 sehingga dinyatakan nilai lack of fit signifikan. Nilai R2 yang diperoleh yaitu 81,92% dan nilai Adjusted R2 yang diperoleh yaitu sebesar 69,87% sehingga selisih yang diperoleh telah memenuhi syarat yaitu kurang dari 20%. Persamaan regresi yang diperoleh dari model adalah sebagai berikut.

Daya sebar = 0,64 – 5,53 (X1) + 1,25 (X2) + 2,444 (X12) – 0,0441 (X22) – 0,125

(31)

Keterangan:

X1 = Karbopol 940 X2 = Propilen glikol

(a)

(b) Gambar 7. (a) Contour Plot 2D dari Respon Daya Sebar terhadap Propilen Glikol dan Karbopol 940. (b) Surface Plot dari Daya Sebar vs Karbopol 940

dan Propilen Glikol

Pada Gambar 7 yang menunjukan hasil Contour Plot 2D terdapat beberapa perbedaan warna. Warna merah menunjukkan daya sebar yang kurang dari 4 cm, warna orange menunjukkan daya sebar yang berada pada rentang 4-5 cm, warna kuning menunjukkan daya sebar yang berada pada rentang 5-6 cm, warna hijau menunjukkan nilai daya sebar 6-7 cm dan warna biru menunjukkan nilai daya sebar yang lebih dari 7 cm. Penelitian ini memilih nilai daya sebar pada rentang 5-7 cm,

(32)

sehingga daerah yang menunjukkan nilai daya sebar yang diterima pada penelitian ini yaitu daerah dengan warna kuning dan hijau.

Respon Viskositas

Pada penelitian ini analisis varian (ANOVA) juga dilakukan untuk melihat pengaruh antara faktor terhadap respon viskositas. Hasil respon regresi dari viskositas vs blok, karbopol 940, dan propilen glikol ditunjukkan pada gambar berikut berikut

Gambar 8. Regresi Respon Permukaan Viskositas vs Blok, Karbopol 940, dan Propilen Glikol

Berdasarkan hasil ANOVA yang diperoleh menunjukkan bahwa model tersebut signifikan dengan p-value senilai 0,000 (< 0,05) sehingga dapat dinyatakan bahwa model yang diperoleh valid dan memberikan pengaruh secara nyata terhadap respon viskositas. Pada Gambar 8 menunjukkan faktor yang diberikan yaitu karbopol 940 dan propilen glikol memberikan nilai p-value yang signifikan pula dengan nilai 0,000 dan 0.005 (< 0,05) yang mengartikan bahwa kedua faktor tersebut memberikan pengaruh terhadap respon viskositas pada penelitian ini. Interaksi dari kedua faktor juga menunjukkan adanya pengaruh keduanya terhadap respon viskositas karena memiliki p-value sebesar 0,009 (< 0,05). Pada lack of fit juga menunjukkan bahwa p-value yang diperoleh yaitu 0,182 (> 0,05).

Pada nilai R2 diperoleh nilai sebesar 98,19% dan nilai Adjusted R2 sebesar

96,98% sehingga selisih kedua nilai tersebut telah sesuai karena kurang dari 20%. Hasil respon viskositas yang diperoleh yaitu model yang signifikan sehingga model regresi yang dihasilkan dapat dijadikan untuk prediksi kondisi respon yang

(33)

optimum untuk respon viskositas. Persamaan regresi yang dihasilkan dari model tersebut adalah sebagai berikut

Viskositas = -29,3 + 63,3 (X1) + 2,04 (X2) – 5,16 (X12) – 0,021 (X22) – 2,519 (X1X2) (5) Keterangan: X1 = Karbopol 940 X2 = Propilen glikol (a) (b)

Gambar 9. (a) Contour Plot 2D dari Respon Viskositas terhadap Propilen Glikol dan Karbopol 940. (b) Surface Plot dari Viskositas vs Propilen Glikol

(34)

Perbedaan warna pada contour plot merujuk pada respon yang diperoleh penambahan komposisi faktor. Berdasarkan hasil contour plot yang diperoleh menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi karbopol 940 dan semakin rendah konsentrasi propolen glikol yang diberikan maka akan menghasilkan nilai viskositas yang tinggi. Pada contour plot yang dihasilkan oleh Aplikasi Minitab 17 dengan metode CCD diperoleh pembagian warna yakni rentang viskositas < 0 ditunjukkan dengan warna merah, rentang 0-10 ditunjukkan dengan warna oranye, rentang 10-20 ditunjukkan dengan warna kuning, rentang 30-40 ditunjukkan dengan warna hijau, sedangkan viskositas dengan rentang > 40 ditunjukkan dengan ungu.

Penentuan Area Optimum

Pada penelitian ini untuk menentukan area optimum menggunakan aplikasi Minitab 17 dengan cara melihat hasil contour plot superimposed yang menunjukkan area optimum dengan memplotkan respon daya sebar dan viskositas karena hanya model dayas sebar dan viskositas yang valid pada penelitian ini. Pada Gambar 10 menunjukkan area berwarna putih sebagai area yang optimum (feasible) karena memenuhi kriteria penerimaan yang telah ditentukan, sedangkan area yang berwarna kuning menunjukkan area yang tidak optimum (not feasible) karena tidak memenuhi kriteria penerimaan yang diharapkan yaitu pada rentang 5-7 cm untuk daya sebar dan 5-100 Pa.s untuk viskositas.

Gambar 10. Contour Plot Superimposed Respon Daya Sebar dan Viskositas Sediaan Gel Nanopartikel Lipid 4nBR

(35)

Berdasarkan hasil dari Contour Plot Superimposed maka dapat ditentukan titik optimum dalam pembuatan gel nanopartikel lipid 4-n-butylresorcinol yang dipilih dengan mengambil titik pada area yang berwarna putih. Titik dengan komposisi karbopol 940 yaitu sebesar 0,46078 gram dan propilen glikol sebesar 9,23033 mL dapat dipilih karena jumlah kedua faktor tersebut diperoleh dari titik terkecil yang dapat menghasilkan nilai daya sebar dan viskositas pada rentang yang diharapkan yaitu 5-7 cm dan 5-100 Pa.s sehingga dapat membantu dalam meningkatkan efisiensi bahan. Berdasarkan prediksi tersebut, nilai daya sebar yang akan dihasilkan yaitu 5,815 cm dengan nilai viskositas sebesar 5,1065 Pa.s.

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari pengujian sifat fisik sediaan yang meliputi organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, dan daya sebar terdapat dua formula yang memenuhi seluruh kriteria penerimaan pada penelitian ini. Formula yang dimaksud adalah formula F1 yang memiliki komposisi karbopol 940 sejumlah 0,5 gram dan propilen glikol sejumlah 10 mL, formula selanjutnya adalah formula F3 yang memiliki komposisi karbopol 940 sejumlah 0,5 gram dan propilen glikol sejumlah 14 mL. Pada aplikasi Minitab 17 juga dapat diperoleh prediksi komposisi yang optimum dengan target penerimaan tertentu melalui menu response optimizer. Menu response optimizer dapat digunakan untuk memberikan prediksi komposisi yang optimum dari faktor yang diberikan sesuai dengan target penerimaan yang diinginkan. Pada penelitian ini disasarkan target pada nilai pH, daya sebar, dan viskositas. Setelah memasukkan nilai target pada menu response

optimizer maka diperoleh prediksi pada Gambar 11.

(36)

Pada Gambar 11 menunjukkan bahwa prediksi formula yang optimum untuk memperoleh nilai daya sebar dengan target 6 cm, nilai viskositas sebesar 30 Pa.s, dan nilai pH dengan target 6,0 maka kombinasi formula yang diprediksikan yaitu karbopol sejumlah 0,6786 gram dan propilen glikol sejumlah 14,8284 mL. Berdasarkan hasil yang diperoleh, program memberikan nilai desirability yang disimbolkan dengan huruf “D” yaitu sebesar 0,5508. Nilai desirability adalah nilai yang menunjukkan kemampuan program untuk bisa menghasilkan kriteria yang telah ditetapkan. Rentang nilai desirability yaitu 0 hingga 1,0. Jika nilai desirability semakin mendekati 1,0 maka menunjukkan bahwa kemampuan program untuk memberikan hasil yang tepat semakin baik sehingga dapat menghasilkan nilai yang sesuai dengan prediksi. Tidak terdapat nilai minimum untuk nilai desirability agar dapat dijadikan acuan untuk optimasi karena tujuan optimasi yiatu untuk mencari kondisi terbaik yang dapat mempertemukan semua tujuan (Risfaheri et al., 2019). Oleh karena itu, komposisi yang diberikan hanya berupa prediksi sehingga perlu dilakukan validasi di laboratorium untuk membuktikan bahwa prediksi yang diperoleh sesuai dengan hasil uji secara aktual.

(37)

29 KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Gel nanopartikel lipid 4-n-butylresorcinol F1 dengan karbopol 940 dan propilen glikol sejumlah 0,5 gram dan 10 mL, serta F3 dengan jumlah karbopol 940 dan propilen glikol sebanyak 0,5 gram dan 14 mL memenuhi kriteria penerimaan pada penelitian ini sehingga ditetapkan sebagai titik optimum formula gel nanopartikel lipid 4-n-butylresorcinol komposisi karbopol 940 dan propilen glikol dengan metode CCD.

2. Jumlah karbopol 940 sebesar 0,46078 gram dan propilen glikol sebesar 9,23033 mL ditentukan sebagai titik optimum karena jumlah tersebut merupakan titik terkecil pada area optimum yang diperoleh dari contour plot superimposed dan dapat membantu dalam meningkatkan efisiensi bahan serta diprediksikan akan memberikan nilai daya sebar maupun viskositas sesuai dengan kriteria yang diharapkan.

Saran

1. Perlu dilakukan validasi pada area optimum yang diperoleh

2. Perlu dilakukan penetapan kadar bahan aktif pada gel nanopartikel lipid

4-n-butylresorcinol

3. Perlu dilakukan validasi pada komposisi yang diprediksikan dapat menghasilkan sifat fisik sediaan dengan target pH 6.0, daya sebar 6.0, dan viskositas 30 Pa.s

(38)

30

DAFTAR PUSTAKA

Adeleke, O.A., Aziz, A., Latiff, A., Saphira, M.R., Daud, Z., Ismail, N., Ahsan, A., Aziz, N.A.A., Ndah, M., Kumar, V., Al-gheethi, A., Rosli, M.A., Hijab, M., 2019. Locally Derived Activated Carbon From Domestic, Agricultural and Industrial Wastes for the Treatment of Palm Oil Mill Effluent, Nanotechnology in Water and Wastewater Treatment. Elsevier Inc.

Ande, B., 2014. Pengaruh Penambahan Konsentrasi Carbopol® 940 Pada Sediaan Sunscreen Gel Ekstrak Temu Giring (Curcuma heyneana Val.) terhadap Sifat Fisik dan Stabilitas Sediaan dengan Sorbitol sebagai Humectant. Universitas

Sanata Dharma,.

Ardana, M., Aeyni, V., Ibrahim, A., 2015. Formulasi Dan Optimasi Basis Gel Hpmc (Hidroxy Propyl Methyl Cellulose) Dengan Berbagai Variasi Konsentrasi. Journal Of Tropical Pharmacy And Chemistry, 3(2), 101–108. Asghar, A., Raman, A.A.A., Daud, W.M.A.W., 2014. A Comparison of Central

Composite Design and Taguchi Method for Optimizing Fenton Process.

Scientific World Journal, 2014.

Astusti, S.., Andrawulan, N., Hariyadi, P., 2010. Formulasi dan Karakterisasi Gel Minyak Sawit (Palm Oil Gel) Kaua Karoteniod sebagai Ingredien Pangan Fungsional. Institut Pertanian Bogor,.

Christania, F.S., Dwiastuti, R., Yuliani, S.H., 2020. Lipid and Silver Nanoparticles Gels Formulation of Tempeh Extract. Journal of Pharmaceutical Sciences and

Community, 16(2), 56–62.

Çira, S.C., Daǧ, A., Karakuş, A., 2016. Application of Response Surface Methodology and Central Composite Inscribed Design for Modeling and Optimization of Marble Surface Quality. Advances in Materials Science and

Engineering, 2016.

Cooper, D.L., Conder, C.M., Harirforoosh, S., 2014. Nanoparticles in drug delivery: Mechanism of action, formulation and clinical application towards reduction in drug-associated nephrotoxicity. Expert Opinion on Drug

Delivery, 11(10), 1661–1680.

Dewi, F.G.U., Gapsari, F., 2013. Optimasi Parameter Pembubutan Terhadap Kekasaran Permukaan Produk. Rekayasa Mesin, 4(3), 177–181.

Dwiastuti, R., 2010. Pengaruh Penambahan CMC (Carboxymethyl Cellulose) sebagai Gelling agent dan Propilen Glikol Sebagai Humektan Dalam Sediaan gel Sunscreen Ekstrak Kering Polifenol Teh Hijau (Camellia Sinensis L).

Jurnal Penelitian, 13(2), 227–240.

Dwiastuti, R., Marchaban, Istyastono, E.P., Riswanto, F.D.O., 2018. Analytical method validation and determination of free drug content of 4-n-butylresorcinol in complex lipid nanoparticles using RP-HPLC method.

Indonesian Journal of Chemistry, 18(3), 496–502.

Dwiastuti, R., Noegrohati, S., Istyastono, E.P., Marchaban, 2016. Metode Pemanasan Dan Sonikasi Menghasilkan Nanoliposom dari Fosfolipid Lesitin Kedelai (Soy Lecithin). Junal Farmasi Sains dan Komunitas, 13(1), 23–27. Fujiastuti, T., Sugihartini, N., 2015. Sifat Fisik Dan Daya Iritasi Gel Ekstrak Etanol

(39)

Pharmacy, 12(1), 11–20.

Garcia-Jimenez, A., Teruel-Puche, J.A., Ortiz-Ruiz, C.V., Berna, J., Tudela, J., Garcia-Canovas, F., 2016. 4-N-Butylresorcinol, a Depigmenting Agent Used in Cosmetics, Reacts With Tyrosinase. IUBMB Life, (June), 663–672.

Gautam, A., Singh, D., Vijayaraghavan, R., 2011. Dermal Exposure of Nanoparticles: An Understanding. Journal of Cell and Tissue Research, 11(1), 2703–2708.

Hardjono, H., Lusiani, C.E., Wibowo, A.A., Iswara, M.A.I., 2020. Aplikasi Response Surface Methodology pada Optimasi Penambahan Blast Furnace Slag Terhadap Waktu Pengikatan dan Kuat Tekan Semen. Jurnal Teknik

Kimia dan Lingkungan, 4(1), 61.

Hendrawan, Y., Susilo, B., Putranto, A.W., Riza, D.F. Al, Maharani, D.M., Amri, M.N., 2016. Optimasi dengan Algoritma RSM-CCD pada Evaporator Vakum Waterjet dengan Pengendali Suhu Fuzzy pada Pembuatan Permen Susu (RSM-CCD Algorithm for Optimizing Waterjet Vacuum Evaporator Using Fuzzy Temperature Control in The Milk Candy Production). Jurnal Agritech, 36(2), 226.

Hotze, E.M., Phenrat, T., Lowry, G. V., 2010. Nanoparticle Aggregation: Challenges to Understanding Transport and Reactivity in the Environment.

Journal of Environmental Quality, 39(6), 1909–1924.

Kang, K.C., Lee, C. Il, Pyo, H.B., Jeong, N.H., 2005. Preparation and Characterization of Nano-Liposomes using Phosphatidylcholine. Journal of

Industrial and Engineering Chemistry,.

Love, A.R., Kerschner, J.L., Barratt, M.J., Zhou, Y., 2003. Stabilization of Resorcinol Derivatives in Cosmetic Compositions. U.S. Patent, 0180234A1.,. Madan Mohan, N.T., Gowda, A., Jaiswal, A.K., Sharath Kumar, B.C., Shilpashree, P., Gangaboraiah, B., Shamanna, M., 2016. Assessment of efficacy, safety, and tolerability of 4-n-butylresorcinol 0.3% cream: An indian multicentric study on melasma. Clinical, Cosmetic and Investigational Dermatology, 9, 2– 21.

Martien, R., Mada, U.G., Adhyatmika, A., Mada, U.G., Farida, V., Sari, D.P., 2012. Perkembangan Teknologi Nanopartikel dalam Sistem Penghantaran Obat.

Jurnal Farmaka, 8(August 2015), 133–144.

Miller, J.N., Miller, J.C., 2010. Statistics and Chemometrics for Analytical Chemistry Sixth Edition, Pearson Education Limited.

Mursal, I.L.P., Kusumawati, A.H., Puspasari, D.H., 2019. Pengaruh Variasi Konsentrasi Gelling Agent Carbopol 940 Terhadap Sifat Fisik Sediaan Gel Hand Sanitizer Minyak Atsiri Daun Kemangi (Ocimum sanctum L.). Pharma

Xplore : Jurnal Ilmiah Farmasi, 4(1), 268–277.

Nurahmanto, D., Mahrifah, I.R., Azis, R.F.N.I., Rosyidi, V.A., 2017. Formulasi Sediaan Gel Dispersi Padat Ibuprofen : Studi Gelling Agent Dan Senyawa Peningkat Penetrasi. Jurnal Ilmiah Manuntung, 3(1), 96–105.

Olawoye, B., 2016. A Comprehensive Handout on Central Composite Design (CCD). Obafemi Awolowo University.

Polowczyk, I., Kozlecki, T., 2017. Central composite design application in oil agglomeration of talc. Physicochemical Problems of Mineral Processing,

(40)

53(2), 1061–1078.

Potočnik, J., 2011. Commission Recomendation of 18 October 2011 on the Definition of Nanomaterial. Official Journal of the European Union, (L275), 30–40.

Prabudi, M., Nurtama, B., Purnomo, E.H., Magister, S., Teknologi, P., Pascasarjana, S., Pertanian, F.T., 2018. Aplikasi Response Surface Methodology ( RSM ) dengan Historical Data pada Optimasi Proses Produksi Purger. Jurnal Mutu Pangan, 5(2), 109–115.

Puglia, C., Bonina, F., 2012. Lipid Nanoparticles as Novel Delivery Systems for Cosmetics and Dermal Pharmaceuticals. Expert Opinion on Drug Delivery, 9(4), 429–441.

Puri, A., Loomis, K., Smith, B., Lee, J.H., Yavlovich, A., Heldman, E., Blumenthal, R., 2009. Lipid-Based Nanoparticles as Pharmaceutical Drug Carriers: From Concepts to Clinic. Critical Reviews in Therapeutic Drug Carrier Systems, 26(6), 523–580.

Retnowati, A.D., 2013. Optimasi Formula Gel Minyak Atsiri Buah Adas. Muhammadiyah Surakarta.

Risfaheri, Setyadjit, Handayani, A.A., 2019. Optimasi Produksi Bawang Merah Utuh (Allium ascalonicum L.) In Brine. Jurnal Penelitian Pascapanen

Pertanian, 15(1), 25.

Risselada, H.J., Marrink, S.J., 2009. Curvature Effects on Lipid Packing and Dynamics in Liposomes Revealed by Coarse Grained Molecular Dynamics Simulations. Physical Chemistry Chemical Physics, 11(12), 2056–2067. Riswanto, F.D.O., Rohman, A., Pramono, S., Martono, S., 2019. Application of

response surface methodology as mathematical and statistical tools in natural product research. Journal of Applied Pharmaceutical Science, 9(10), 125–133. Rowe, R.C., Sheskey, P.J., Quinn, M.E., 2009. Handbook of Pharmaceutical

Excipients, Sixth. ed. Pharmaceutical Press.

Sahoo, P., Barman, T.K., 2012. ANN Modelling of fFractal Dimension in Machining, in: Mechatronics and Manufacturing Engineering. Elshevier, pp. 159–226.

Salehi, M.B., Moghadam, A.M., 2012. Study of Salinity and pH Effects on Gelation Time of a Polymer Gel Using Central Composite Design Method. Journal of

Macromolecular Science Part B, 1–14.

Sari, R., Nurbaeti, S.N., Pratiwi, L., 2016. Optimasi Kombinasi Karbopol 940 dan HPMC Terhadap Sifat Fisik Gel Ekstrak dan Fraksi Metanol Daun Kesum (Polygonum minus Huds.) dengan metode Simplex Lattice Design.

Pharmaceutical Sciences and Research, 3(2), 72–79.

Sayuti, N.A., 2015. Formulasi dan Uji Stabilitas Fisik Sediaan Gel Ekstrak Daun Ketepeng Cina (Cassia alata L .). Jurnal Kefarmasian Indonesia, 5(2), 74–82. Shin, J.W., Park, K.C., 2014. Current clinical use of depigmenting agents.

Dermatologica Sinica, 32(4), 205–210.

Silfia, S., Failisnur, F., Sofyan, S., 2019. Analysis of Functional Groups, Distribution, and Particle Size of Stamp Ink From Gambier (Uncaria gambir Roxb) With NaOH and Al2(SO4)3 Complexing Compounds. Jurnal Litbang

(41)

Utami, S.M., Laurany, Q., 2019. Pengaruh Basis Carbopol Terhadap Formulasi Sediaan Gel Dari Ekstrak Daun Katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr). Edu

Masda Journal, 3(1), 1–12.

Warnida, H., Juliannor, A., Sukawaty, Y., 2016. Formulasi Pasta Gigi Gel Ekstrak Etanol Bawang Dayak (Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb.). Jurnal Sains

Farmasi & Klinis, 3(1), 42–49.

Widyaningrum, N., Novitasari, M., Puspitasary, K., 2019. Perbedaan Variasi Formula Basis CMC Na terhadap Sifat Fisik Gel Ekstrak Etanol Kulit Kacang Tanah (Arachis hypogaea L). Avicenna : Journal of Health Research, 2(2), 121–134.

Wijayanti, L.P.., Darsono, F.L., Ervina, M., 2017. Penggunaan Carbormer 940 sebagai Gelling Agent dalam Formula Pasta Gigi Ekstrak Buah Apel (Malus

sylvestris Mill.) dalam Bentuk Gel. Journal of Pharmacey Science and Practice, 4(1), 11–17.

Wijoyo, V., 2016. Optimasi Formula Sediaan Gel Hand Sanitizer Minyak Atsiri Jeruk Bergamot dengan Gelling Agent Carbopol dan Humektan Propilen Glikol. Universitas Sanata Dharma,. Sanata Dharma.

(42)

34 LAMPIRAN

Lampiran 1. Hasil Uji Ukuran Partikel

(43)
(44)
(45)
(46)

Lampiran 2. Data Sifat Fisik Gel Nanopartikel Lipid 4-n-butylresorcinol 1. pH

Lampiran 2. Data Sifat Fisik Gel Nanopatikel Lipid 4-n-butylresorcinol Data Uji pH

Formula Uji pH

Siklus 0 Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3 SD

F1 6.3 6.1 6.1 6.1 0.100 F2 6.3 6.3 6.3 6.3 0.000 F3 6.3 6.2 6.3 6.3 0.050 F4 6.1 6.1 6.1 6.2 0.050 F5 6.6 6.6 6.6 6.6 0.000 F6 6.0 6.0 6.0 6.0 0.000 F7 6.0 6.1 6.2 6.1 0.082 F8 6.1 6.0 6.1 6.1 0.050 F9 6.9 7.0 7.0 7.0 0.050 F10 6.8 6.8 6.8 7.0 0.100 F11 6.2 6.0 6.0 6.3 0.150 F12 6.5 6.5 6.6 6.7 0.096 F13 6.2 6.5 6.4 6.5 0.141 F14 6.5 6.5 6.6 6.7 0.096 F15 6.7 6.5 6.7 6.8 0.126 F16 6.7 6.6 6.7 6.8 0.082

(47)

2. Viskositas

Formula Siklus 0 Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3 F1 8.8821 9.7243 11.3347 12.2516 F2 37.0526 35.4212 40.2502 41.7213 F3 8.29844 8.4496 9.6079 10.4347 F4 26.3917 28.1643 30.5631 31.923 F5 20.0971 21.4844 22.4271 23.5367 F6 19.3093 22.4811 25.5805 25.4941 F7 20.6506 25.5862 25.0742 27.0395 F8 21.5111 23.9641 25.6582 26.5946 F9 0.2060 0.2407 0.2763 0.3174 F10 31.9268 36.2998 34.4282 37.7656 F11 20.0986 25.6859 28.3249 30.3829 F12 16.8496 18.1847 18.7504 19.4616 F13 21.0179 24.0857 25.5946 26.0905 F14 17.6951 20.5168 22.2231 22.9628 F15 19.5506 20.4711 22.4937 22.463 F16 20.8785 22.1654 23.8657 23.6997

Profil Reologi Gel Nanopartikel Lipid a. Siklus 0

(48)

Profil Reologi Formula 2

Profil Reologi Formula 3

(49)

Profil Reologi Formula 5

Profil Reologi Formula 6

(50)

Profil Reologi Formula 8

Profil Reologi Formula 9

(51)

Profil Reologi Formula 11

Profil Reologi Formula 12

(52)

Profil Reologi Formula 14

Profil Reologi Formula 15

(53)

b. Siklus 3

Profil Reologi Formula 1

Profil Reologi Formula 2

(54)

Profil Reologi Formula 4

Profil Reologi Formula 5

(55)

Profil Reologi Formula 7

Profil Reologi Formula 8

(56)

Profil Reologi Formula 10

Profil Reologi Formula 11

(57)

Profil Reologi Formula 13

Profil Reologi Formula 14

(58)

Profil Reologi Formula 16

(59)

Data Uji Daya Sebar Formula Siklus 0 (cm) Siklus 1 (cm) Siklus 2 (cm) Siklus 3 (cm) F1 5.075 5.5 5.225 5.05 F2 4.125 3.75 3.975 3.8 F3 5.575 5.175 5.6 5.325 F4 4.125 3.95 4.25 4.125 F5 4.85 4.4 4.4 3.575 F6 5.000 4.15 4.375 3.900 F7 4.600 4.075 4.55 4.175 F8 4.65 4.175 4.375 4.200 F9 8.4 8.25 8.475 8.65 F10 4.075 3.725 3.85 3.825 F11 4.5 4.475 4.325 4.125 F12 4.85 4.8 4.4 4.7 F13 4.55 3.675 4.2 4.275 F14 4.675 3.675 4.45 4.375 F15 4.5 4.475 4.4 4.5 F16 4.45 4.675 4.35 4.325 Lampiran 3. Dokumentasi

Nanopartikel Lipid Sebelum dan Sesudah Sonikasi

(60)

Nanopartikel Lipid 4nBR

Lampiran 3. Dokumentasi

Pengembangan Basis Gel

Gel Nanopartikel Lipid 4nBR

(61)

53

BIOGRAFI PENULIS

Nama lengkap penulis adalah Ni Kadek Dwi Putri Kusuma Dewi, lahir di Denpasar pada 01 Maret 1999. Penulis merupakan putri kedua dari pasangan I Nengah Subangsawan dan Ni Made Natha Yuliani. Penulis pernah bersekolah di TK Saraswati 1 Denpasar pada tahun 2003-2005, SD Saraswati 2 Denpasar pada tahun 2005-2011, SMP N 4 Denpasar pada tahun 2011-2014, dan SMA N 1 Denpasar pada tahun 2014-2017. Selanjutnya penulis melanjutkan pendidikannya di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Program Studi Farmasi sejak tahun 2017.

Selama menempuh pendidikan S1 penulis aktif dalam berbagai kegiatan. Penulis pernah menjadi Sie Dekorasi PROTON 2017, Sie Perlengkapan Faction #3 2018. Penulis juga aktif dalam berorganisasi. Penulis pernah menjabat sebagai Bendahara Cosmetic Student Club periode 2017/2018, Humas Internal Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma (KMHD) Universitas Sanata Dharma periode 2017/2018, Menteri Koordinator Pengembangan Internal Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sanata Dharma (BEM USD) Kabinet Kolaborasi Kerja Nyata 2018/2019. Selain berorganisasi, penulis juga aktif dalam kegiatan lomba. Penulis menjadi Juara II di Herbal Cosmetic Competition SICON 2019 yang diadakan oleh Universitas Sanata Dharma, Juara I Patient Counceling Competition Pharmacovorev 2020 yang diadakan oleh Universitas Singaperbangsa Karawang, dan Juara III Patient Counseling Event 2020 yang diadakan oleh HIMAFAR Universitas Jambi.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :