Bab 5 ANALISIS KELEMBAGAAN
OPERASIONALISASI KPHP TASIK BESAR
SERKAP DI PROVINSI RIAU
Tujuan
Mendeskripsikan kondisi arena aksi yang menyebabkan terjadinya kelambatan
beroperasinya organisasi KPHP−TBS. Akan mencakup:
1) Pengaruh faktor eksogen: aspek biofisik, rules in-use, dan atribut komunitas thd
arena aksi;
2) Struktur situasi aksi dan karakteristik para partisipan di dalam arena aksi; dan
3) Pola interaksi dan outcome yang dihasilkan.
Keterangan
• Bab 3 pengaruh kondisi biofisik dan peraturan pemanfaatan hutan • Bab 4 analisis peraturan (rules-in use) dlm pembentukan org KPH
• Bab 5 menggunakan seluruh komponen kerja IAD-framewok untuk mengalisis fenomena proses operasionalisasi KPHP–TBS.
(Ostrom 2005): Hutan (komunal/negara) sbgCPRs > Sifat sulit
mengeksklusi para pengambil manfaat (ekskludabilitas rendah), smentara
pengambilan manfaat olh seseorg menyebabkan berkurangnya
ketersediaan unit manfaat barang (substractable). > menghadapi masalah Free riding. Al. karena ukuran luas hutan. Luas : 513.276 ha; 90% gambut -> Beban perlindungan yg tinggi, smntara hslnya belum jelas Disinsentif
bagi Pemda.
Terdapat 20 unit ijin konsesi: IUPHHK-HT 17; IUPHHK-HA 1 unit; IUPHHK-RE 1 unit; HD 1 unit (Daftar izin) -> Amacher et al. (2012) -> lahanKorupsi. Bukti di Riau: tlh terpidana 3 mantan Kadishut, 2 mantan Bupati , 1 mantan Gub (Thn 2008-2014); Penelitian KPK akhir 2013; Banyaknya ijin konsesi mbuka
peluang besar (KKN) bagi oknum; mnghambat pemb. KPH > (pengalihan
sebagian wewenang Dishut kpd KPH, mis PP6/2007 jo 3/2008 psl 75).
PENGARUH FAKTOR EKSOGEN: (1) Kondisi Biofisik
❶ Sifat ekonomi –
institusi SDH
❷ Keberadaan
ijin-ijin konsesi
sbg implikasi dr
TGHK
❸Perlengkapan
dan pembiayaan
organisasi KPHP
Permendagri 61/2010 -> KPHP adalah OPD.
Infrastruktur, SDM, Pembiayaan -> tgjawab pemda.
Di sisi lain struktur insentif di dlm peraturan belum ada ->
HASIL DAN PEMBAHASAN
❶Kesesuaian antara
Nilai-nilai kebijakan dengan
Budaya birokrasi kehutanan
❷
Tingkat Kesepahaman
(Common understanding)
Terhadap Kebijakan
❸Homogenitas
Preferensi terhadap
Strategi Kebijakan
Paradigma & budaya lama:
Timber extraction, posisi
Birokrat kehut sbg
Administratur hutan;
swasta/BUMN sbg pengelola
hutan; sarat dg budaya KKN.
Paradigma & budaya baru:
Pergeseran ttk tumpu Birokrat
kehut dari FA > FM;
Governance: meningkatkan
transparansi dan akuntabilitas.
Resistensi (lihat Yilmaz &
Kılıçoğlu 2013)
Belum terjadi
kesepahaman ->
Statement Kadishut :
“ …. yang saya khawatirkan, ini hanya sekedar skenario. Membentuk lembaga ini (KPH), seolah-olah ingin memberikan kewenangan lebih besar kepada daerah, tetapi pada prakteknya adalah melemparkan tanggungjawab ke daerah.
Ostrom (2005) pentingnya peran komunikasi dan membangun saling percaya
kerjasama
.
Thd 2 aspek: Thd
strategi implementasi
kebijakan KPH >
Preferensi berbeda >
(Incremental
vs
Tuntaskan dlu prbaikan
praturan scr menyelrh)
Thd konsep KPH >
Preferensi sama >
(Perlu ada organisasi
pengelola hutan di
tingkat tapak)
Hasil Analisis Peraturan
Rules in Use
Temuan
❶Aturan posisi Pengaturan posisi-poosisi para partisipan belum sepenuhnya dirancang berdasarkan pertimbangan prospek keterjaminan kelancaran proses.
❷Aturan
keanggotaan
Ketiga peraturan yang dianalisis tidak mengatur mekanisme keanggotaan ke dalam arena aksi pembangunan KPHL/KPHP, namun diatur “secara umum” pada peraturan yang lain. Dalam konteks pembangunan KPHL/KPHP sebagai suatu konsep dan institusi baru, salah satu dampaknya adalah terjadinya kesenjangan pemahaman di antara para partisipan. Maka konsekwensinya hrs didampingi oleh pensuplai pengetahuan (akademisi dlm jml banyak) kpd para praktisi.
❸Aturan otoritas Ditemukan ketidak-sinkronan pengaturan kewenangan penetapan organisasi KPHL/KPHPantara PP No. 6/2007 jo. PP No. 3/2008 dengan Permendagri No. 61/2010.
❹Aturan agregasi
Ketiga peraturan belum menyediakan aturan agregasi untuk mengantipasi terjadinya ketidak-mufakatan di antara para partisipan dalam pembentukan dan operasionalisasi KPHL/KPHP.
❺Aturan informasi Tidak diatur di dalam ketiga peraturan, namun diatur di dalam peraturan lain. Kinerja dari aturan informasi yang ada sudah cukup baik. ❻Aturan lingkup Kriteria di dalam Permendagri No. 61/2010 untuk menyusun organisasi KPHP/KPHLbelum lengkap dan belum aplikatif.
❼Aturan
biaya-manfaat
Peraturan KPH belum dirancang berdasarkan pendekatan insentif-disinsentif, masih lebih bercorakkan pola komando.
ARENA AKSI: a) Situasi Aksi
❶Partisipan ❷Posisi Tindakan❸Jenis ❹Tingk Kontrol ❺KetersediaanInformasi ❻Biaya
-Manfaat ❼Dampak Potensial
Nasional/Pusat 1. Kemenhut 2. Kemendagri 3. Akademisi 4. Lembaga donor (GIZ) 5. Bappenas Daerah 1. Gubernur 2. DPRD 3. Kadishut 4. Staf Dishut 5. Akademisi 6. LSM 7. Perusahaan 8. Masyarakat PJ dan Pemb tehnis Pembina organisasi Expert Funding Pendukung kebijakan Pengam kptsan Pengam kptsan Pemberi pertimbangan Staf birokrasi Expert Fasilitator Anggota forum Anggota forum Merumuskan peraturan Menyusun rencana nasional Sosialisasi Fasilitasi Pembinaan Meng kptsan (eksekutif) Meng kptsan (legislatif) Menyiapkan keputusan Menyusun rencana KPH Fasilitasi Mendukung atau menolak Kontrol Kemenhut pada lingkup partisipan nasional Tinggi Kontrol Kemenhut pada pengambil kebijakan daerah Rendah Kontrol Kadishut bersama Gubernur pada lingkup partisipan daerah Tinggi Informasi KPH: (konsepsi, peraturan, manual, skema pembiayaan, hsl penelitian, dll) relatif masih sedikit. Ada 2-3 bh buku ttg KPH, ada situs informasi KPH Kemenhut. Dlm tahap membangun Tingkat ketersebaran informasi msh relatif terbatas Di pusat: ketrsediaan dan akses anggaran relatif cukup. Manfaat jangka pndek memenuhi target IKU, jangka panjang terciptanya hutan lestari rakyat sejahtera. Bagi daerah mnfaatnya belum jelas, bebannya sudah jelas Ada tiga kemungkinan, Pemda: 1. Menerima penuh pemenuhan syarat berjalan lancar 2. Setengah hati berjalan tersendat, tergantung kpd inisiatif dan bantuan pusat. 3. Menolak tdkk berjalan
b) Karakteristik partisipan
Nasional (Pusat): 1. Kemenhut 2. Kemendagri 3. Akademisi 4. Donor (GIZ) 5. Bappenas Daerah: 1. Gubernur 2. DPRD 3. Kadishut 4. Staf Dishut 5. Akademisi 6. LSM 7. Perusahaan 8. MasyarakatPartisipan ❶Sumberdaya / Pengaruh ❷Tingkat Keaktifan ❸Preferensi Thd StrategiKebijakan ❹Kemampuan &Cara Memproses Informasi ❺KriteriaSeleksi
+++ ++ ++ ++ ++ +++ +++ +++ + + + ++ + +++ + +++ +++ +++ ++ -+++ + ++ ++ + +
Pusat lebih menyukai strategi “incremental process”.
Di provinsi Riau terbagi ke dalam tiga kelompok: 1. Tuntaskan dahulu peraturan ttg pembagian kewenangan, kelembagaan dan pay-off (1,2,3); 2. Mendukung incremental procces (5,6,8); dan 3. Pengikut (4,7). Ketersediaan informasi Tabel 3 kolom 5 Pastisipan pusat menggunakan informasi sbg dasar untuk menyusun renja dan strategi. Pemprov Riau menggunakan informasi (khususnya peraturan) sbg dasar untuk mengajukan keberatan. Pusat: Peraturan Rencana kerja Pengetahu an Daerah: Peraturan Pay-off Politis
POLA INTERAKSI
• Pemerintah (Kemenhut) Pemprov Riau.
• Pemerintah sbg pembuat kebijakan; Pemprov Riau
sbg pelaksana kebijakan
7
Pendekatan Kemenhut kpd pemda ->
– Lbh banyak pend STRUKTURAL (instrumen peraturan) dan FISIK (bantuan sarpras, diklat pegawai, penyusunan rencana jangka panjang, dsb).
– Pendakatan unt membangun
KESEFAHAMAN, penyebaran ILMU PENGETAHUAN, dan membangun rasa SALING PERCAYA msh kurang dilakukan.
Pemprov Riau ->
– Belum sepenuhnya MEMAHAMI MANFAAT KPH bagi
EFEKTIVITAS dan EFISIENSI pengelolaan hutan.
– Memandang PERATURAN KPH masih banyak yang PERLU
DIREVISI (kewenangan, biaya-manfaat, dan kriteria
organisasi).
– Masih terpaku kepada KESULITAN2 JANGKA PENDEK yang ditemui pada tahap awal pembentukan organisasi KPH (SDM, Tahubja, penganggaran, dll).
– Ada masalah conflict of interest
Tidak
Asosiatif
OUTCOME
Pemenuhan syarat-syarat
beroperasinya KPHP-TBS
(Penempatan personil,
penyed. anggaran, dll)
oleh Pemprov Riau
berjalan lambat
(cenderung
ditunda-tunda).
– Maka Pemprov Riau cenderung merespon kebijakan KPH dengan sikap KURANG DAPAT
BEKERJASAMA dan TDK MAU BERGERAK SENDIRI (Sangat tgt
kpd inisiatif dan bantuan dari pemerintah).