HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG

11 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

JIK.SH / Nomor 1 / Volume 2 / September 2015 Pendahuluan

A. Latar Belakang

Pemasangan infus merupakan tindakan yang cukup sering dilakukan di Rumah Sakit terutama di Unit Gawat Darurat. Tindakan pemasangan infus akan berkualitas bila dalam pelaksanaannya selalu mengacu pada standar yang telah ditetapkan. Perawat harus memiliki dasar pengetahuan dan kompetensi mengenal protokol pelaksanaan dan implementasi untuk mencegah terjadinya komplikasi.

Salah satu parameter yang penting pada mutu pelayanan rumah sakit adalah terkendalinya infeksi. Perawat profesional yang bertugas di Rumah Sakit semakin hari semakin diakui eksistensinya dalam setiap

tatanan pelayanan sehingga dalam melakukan tindakan interdependen tidak terlepas dari tindakan prosedural yang bersifat invansif tersebut. Tindakan pemasangan infus akan berkualitas apabila dalam pelaksanaannya selalu patuh pada standar prosedur operasional yang telah ditetapkan demi terciptanya pelayanan kesehatan yang bermutu (Notoatmojo 2010:127) Rumah sakit merupakan suatu tempat dimana orang yang sakit dirawat dan ditempatkan dalam jarak yang sangat dekat. Di tempat ini pasien mendapatkan terapi dan perawatan untuk dapat sembuh. Tetapi, rumah sakit selain untuk mencari kesembuhan, juga merupakan tempat bagi berbagai macam penyakit yang berasal dari penderita maupun HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG

PEMASANGAN INFUS DENGAN KEPATUHAN PELAKSANAAN PROTAP PEMASANGAN INFUS DI INSTALASI GAWAT DARURAT

RS TK II PELAMONIA MAKASSAR

” Suprapto”

Dosen Tetap Akademi Keperawatan Sandi Karsa Makassar

ABSTRAK

Pemasangan infus merupakan tindakan yang cukup sering dilakukan di Rumah Sakit terutama di Unit Gawat Darurat. Tindakan pemasangan infus akan berkualitas bila dalam pelaksanaannya selalu mengacu pada standar yang telah ditetapkan. Perawat harus memiliki dasar pengetahuan dan kompetensi mengenal protokol pelaksanaan dan implementasi untuk mencegah terjadinya komplikasi.Diketahui hubungan antara tingkat pengetahuan perawat tentang pemasangan infus dengan kepatuhan melaksanakan protap pemasangan infus.

Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental deskriptif korelasi dengan pendekatan rancangan cross sectional. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2015. Tehnik analisis yang dipakai adalah korelasi Spearman Rank. Subjek penelitian ini adalah perawat yang bekerja di Instalasi Gawat Darurat RS TK II Pelamonia Makassar. Jumlah subjek yang diteliti sebanyak 22 orang perawat. Pengumpulan data diperoleh melalui observasi dan kuesioner.

Berdasarkan penelitian diperoleh data responden yang memiliki pengetahuan baik dan kepatuhan patuh terdapat 20 responden (90,9%), pengetahuan baik dan kepatuhan kurang patuh terdapat 1 responden (4,5%), dan pengetahuan kurang dan kepatuhan patuh terdapat 1 responden (4,5%) dan pengetahuan kurang dan kepatuhan kurang patuh terdapat 0 responden (0,0%). Berdasarkan data tersebut didapatkan sebagian besar perawat di IGD RS TK II Pelamonia Makassar memiliki pengetahuan baik dan kepatuhan patuh.

(2)

JIK.SH / Nomor 1 / Volume 2 / September 2015 dari pengunjung yang berstatus karier. Kuman penyakit ini dapat hidup dan berkembang di lingkungan rumah sakit, seperti; udara, air, lantai, makanan dan benda-benda medis maupun non medis. Adanya infeksi karena terapi intravena disebabkan oleh beberapa faktor antara lain : faktor hospes, faktor alat dan larutan, serta faktor orang ke orang yaitu petugas perawatan kesehatan dan pasien.

Keberhasilan pengendalian infeksi nasokomial, baik itu pada tindakan pemasangan infus maupun tindakan invansif lainnya, bukannlah ditentukan dari canggihnya peralatan yang ada, tetapi ditentukan oleh kesempurnaan perilaku petugas dalam melaksanakan perawatan klien secara benar ( the proper

nursing care). Dalam penelitiannya ditemukan

beberapa faktor yang berhubungan dengan penerapan standar pemasangan infs antara lain: latar belakang pendidikan, pengetahuan, fasilitas, lingkungan dan motivasi. Untuk memaksimalkan tujuan terapi intravena dan meminimalkan efek samping yang tidak diinginkan, perawat diharapkan memiliki pengetahuan tentang volume dan komposisi kompartemen cairan, jenis-jenis cairan intravena dan pencegahan terhadap komplikasi. Sering kali biaya untuk infeksi nasokomial tidak diganti, oleh karena itu pencegahan memiliki pengaruh finansial yang menguntungkan dan merupakan bagian penting dalam penatalaksanaan perawatan (Sunatrio, 2013).

Instalasi Gawat Darurat RS TK II Pelamonia Makassar merupakan pintu gerbang awal masuknya pasien. Selain menangani kasus-kasus emergency, sebelum pasien diputuskan untuk rawat inap atau rawat jalan pasien di periksa di Instalasi Gawat Darurat. Perawat yang bekerja di Instalasi Gawat Darurat RS TK II Pelamonia Makassar sebanyak 22 orang dengan latar belakang pendidikan yang beragam. Perawat di rumah sakit ini rata-rata telah bekerja dari lebih dari 3 bulan. Biasanya pemasangan infus dilakukan oleh setiap perawat jaga. Jadi semua perawat dituntut untuk memiliki pengetahuan dan ketrampilan mengenai pemasangan infus.

Berdasarkan uraian di atas terlihat bahwa pelaksanaan standar asuhan keperawatan dalam tindakan pemasangan infus merupakan masalah yang serius dan perawat diharapkan memiliki pengetahuan dan kompetensi dalam penatalaksanaan pemasangan infus maka peneliti tertarik untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan perawat tentang prosedur pemasangan infus dengan kepatuhan perawat melaksanakan standar kegiatan

pemasangan infus yang biasanya di rumah sakit disebut protap.

Berdasarkan kondisi diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Hubungan Tingkat Pengetahuan Perawat Tentang Pemasangan Infus Dengan Kepatuhan Melaksanakan Protap Pemasangan Infus di Instalasi Gawat Darurat RS Pelamonia Makassar“.

Menurut data surveilans World Health

Organisation (WHO) dinyatakan bahwa angka

kejadian pemasangan infus di Instalasi Gawat Darurat cukup tinggi yaitu 85% per tahun, 120 juta orang dari 190 juta pasien yang di rawat di rumah sakit dengan menggunakan infus. Dan didapatkan juga 70% perawat tidak patuh dalam melaksanakan standar pemasangan infus berdasarkan sop yang telah ditetapkan. Hasil penelitian didapatkan data bahwa terdapat beberapa pasien yang di infus di instalasi gawat darurat sebelum masuk ke ruang rawat inap.

Menurut Depkes RI Tahun 2006 dikutip Wijayasari jumlah pemasangan infus di rumah sakit di Indonesia sebanyak (17,11%). Sejalan dengan penelitian yang dilakukan di IGD RS TK II Pelamonia Makassar, sebanyak 60% pasien yang mendapat cairan intravena. Dan didapatkan juga 50% perawat tidak patuh dalam melaksanakan standar pemasangan infus berdasarkan sop yang telah ditetapkan Angka tersebut memang tidak terlalu besar namun masih di atas standard yang ditetapkan oleh

Intravenous Nurses Society (INS) 5%.

Data dinas kesehatan kota Makassar tahun 2012 menyebutkan pemasangan infus yang sesuai dengan standar sop hanya dilakukan oleh 50% dari 89% perawat yang ada di rumah sakit.

Berdasarkan latar belakang di atas dan dikarenakan Banyaknya perawat yang kurang pengetahuan tentang pemasangan infus dan tidak patuh dalam pelaksanaan protap pemasangan infus, sehingga peneliti tertarik melakukan penelitian tentang “Hubungan Pengetahuan Perawat Tentang Pemasangan Infus Dengan Kepatuhan Melaksanakan Protap Pemasangan Infus Di IGD RS TK II Pelamonia Makassar”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut diatas maka dapat dirumuskan permasalahan “Adakah Hubungan Tingkat Pengetahuan Perawat Tentang Pemasangan Infus Dengan Kepatuhan Perawat Melaksanakan Protap Pemasangan Infus di Instalasi Gawat Darurat RS TK II Pelamonia Makassar?”

(3)

JIK.SH / Nomor 1 / Volume 2 / September 2015 C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mengetahui tingkat pengetahuan perawat tentang pemasangan infus terhadap kepatuhan melaksanakan prosedur tetap pemasangan infus. 2. Tujuan Khusus

Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah :

a. Mengetahui tingkat pengetahuan perawat tentang pemasangan infus di IGD RS TK II Pelamonia Makassar

b. Mengetahui tingkat kepatuhan perawat dalam melaksanakan protap pemasangan infus di IGD RS TK II Pelamonia Makassar

c. Mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan perawat tentang pemasangan infus dengan kepatuhan melaksanakan protap di IGD RS TK II Pelamonia Makassar.

D. Manfaat Penelitian 1. Institusi Pendidikan

a. Sebagai bahan masukan dalam kegiatan belajar mengajar.

b. Sebagai bahan bacaan dan menambah wawasan mahasiswa kesehatan khususnya mahasiswa ilmu keperawatan.

2. Rumah Sakit

a. Memberikan masukan dan pertimbangan dalam menetapkan kebijakan sehubungan dengan peningkatan mutu pelayanan keperawatan

b. Sebagai masukan dalam menentukan kebijakan operasional yang berkaitan dengan pelaksanaan infus sesuai dengan standar asuhan keperawatan.

3. Masyarakat

Sebagai bahan untuk memberikan informasi dan pengetahuan serta bagi masyarakat.

4. Peniliti

Dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan bagi peneliti, serta hasil penelitian dapat dijadikan bahan pembelajaran di tempat praktek.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Pemasangan Infus

1. Pengertian

Infus cairan intravena (intravenous

fluids infusion) adalah pemberian

sejumlah cairan ke dalam tubuh, melalui sebuah jarum, ke dalam pembuluh vena (pembuluh balik) untuk menggantikan kehilangan cairan atau zat-zat makanan dari tubuh (Astaqauliyah, 2006).

Terapi intravena adalah menempatkan cairan steril melalui jarum langsung ke vena pasien. Biasanya cairan steril mengandung elektrolit (natrium, kalsium, kalium), nutrien (biasanya glukosa), vitamin atau obat (Ester, 2007).

Terapi cairan parenteral atau infus intravena adalah memasukkan jarum atau kanula ke dalam pembuluh darah vena untuk dilewati cairan infus atau sebagai pengobatan dengan tujuan untuk menyediakan air, elektrolit, nutrisi guna memenuhi kebutuhan sehari-hari, untuk menggantikan air, memperbaiki kekurangan elektrolit dan untuk pemberian obat secara intravena (Brunner & Suddarth (2012:281). 2. Tujuan dan Indikasi Pemasangan Infus

Pasien yang memiliki indikasi pemasangan infus antara lain pasien dengan kekurangan cairan dan elektrolit, pasien pra dan pasca bedah, pasien yang memerlukan pengobatan yang pemberiannya melalui infus, pasien yang tidak bisa makan atau minum melalui mulut, dan pasien yang mengalami kekurangan nutrisi berat. Menurut Potter & Perry (2010:146), tujuan dari pemasangan infus adalah untuk mengoreksi atau mencegah gangguan cairan dan elektrolit.

Indikasi Pemasangan Infus melalui Jalur Pembuluh Darah Vena

(Peripheral Venous Cannulation) antara

lain : pemberian cairan intravena

(intravenous fluids), pemberian nutrisi

parenteral (langsung masuk ke dalam darah) dalam jumlah terbatas, pemberian kantong darah dan produk darah, pemberian obat yang terus-menerus (continue), upaya profilaksis (tindakan pencegahan) sebelum prosedur (misalnya pada operasi besar dengan risiko perdarahan, dipasang jalur infus intravena untuk persiapan

(4)

JIK.SH / Nomor 1 / Volume 2 / September 2015 jika terjadi syok, juga untuk memudahkan pemberian obat), dan upaya profilaksis pada pasien-pasien yang tidak stabil, misalnya risiko dehidrasi (kekurangan cairan) dan syok (mengancam nyawa), sebelum pembuluh darah kolaps (tidak teraba), sehingga tidak dapat dipasang jalur infus.

b. Alat Pemasang Infus

Alat pemasangan infus terdiri dari tiang infus, botol atau cairan infus, selang infus, kanula atau jarum infus, penutup kanula infus, alkohol, torniket, sarung tangan, pengalas.

1) Tiang Infus

Biasanya berupa kayu atau mungkin terbuat dari besi yang dipergunakan untuk menggantung botol infus.

2) Cairan Infus

Ada beberapa jenis cairan infus yang digunakan sesuai keperluan dengan berupa berbagai komponen yang diperlukan oleh tubuh (Brunner & Suddrath , 2006:282) diantaranya :

a) Cairan isotonik merupakan cairan yang mempunyai osmolitas total mendekati cairan ekstra seluler dan tidak menyebabkan sel darah merah mengkerut atau bengkak (seperti : sodium isotonik, normasalin atau NaCL 0,9 %, Riger L aktat atau normasalin R). Cairan isotonik banyak dipergunakan untuk pengobatan perdarahan, hipovolemik, kekurangan cairan ekstra seluler (penatalaksanaan dehidrasi).

b) Cairan Hipotonik merupakan cairan yang mempunyai osmolitas lebih rendah dibandingkan dengan cairan tubuh (normasalin atau NaCl 0,45%) gunanya untuk mengganti cairan seluler karena cairan ini bersifat hipotonik dibandingkan dengan plasma. Tujuan lainnya untuk menyediakan air bebas untuk ekskresi sampah tubuh.

c) Cairan Hipertonik merupakan cairan yang mempunyai konsentrasi lebih tinggi dari cairan tubuh yang berguna untuk menggantikan cairan intraseluler (dekstrosa 5% di tambahkan pada normasalin atau larutan ringer). 3) Selang Infus

Selang infus adalah selang plastik yang dibuat secara khusus untuk bergabung dengan jarum plastik atau dimasukkan

kepembuluh darah vena dengan perantara kanula atau jarum infus.

4) Kanula (Jarum Infus)

Sebagian besar infus intravena sering menggunakan ukuran 20 atau 22 untuk ukuran dewasa. Runcingan jarum yang pendek mengurangi tingkat kerusakan pembuluh darah vena. Jarum suntik kupu-kupu pemakaiannya lebih mudah.

5) Balutan Infus, desinfektan dan tourniquet. Penutup kanula infus terdiri dari : kassa steril, plester dan verban. Sedang kapas alkohol digunakan untuk mengusap daerah yang akan ditusuk jarum atau kanula infus dan tourniquet untuk membendung aliran darah vena yang akan dipasang infus. a. Komplikasi Pemasangan infus

Terdapat 2 komplikasi yang berhubungan dengan terapi cairan parenteral di antaranya:

b. Komplikasi Sistemik 1. Kelebihan Beban Cairan

Membebani sistem sirkulatori dengan cairan intravena yang berlebihan akan menyebabkan peningkatan tekanan darah dan tekanan vena sentral, dispnea berat, dan sianosis. Tanda dan gejala tambahan termasuk batuk dan kelopak mata membengkak. Penyebab yang mungkin muncul termasuk infus larutan IV yang cepat atau penyakit hati, jantung, atau ginjal.

2. Emboli Udara.

Emboli udara paling sering berkaitan dengan kanulasi vena-vena sentral. Adanya embolisme udara mungkin dimanisfestasikan dengan dispnea dan sianosis. Hipotensi ; nadi yang lemah, cepat, hilangnya kesadaran dan nyeri dada, bahu, dan punggung bawah. 3. Septikemia

Adanya subtansi pirogenik baik dalam larutan infus atau alat pemberian dapat mecetuskan terjadinya reaksi demam dan septikemia. Dengan reaksi semacam ini, perawat dapat melihat kenaikan suhu tubuh mendadak segera setelah infus dimulai, sakit punggung, sakit kepala, peningkatan nadi dan frekuensi pernapasan, mual, muntah, diare, demam dan mengigil, malaise umum dan jika parah, kolaps vaskuler. 4. Infeksi

Infeksi beragam dalam keparahannya mulai dari keterlibatan lokal dan tempat penusukan sampai penyebaran sistemik organisme melalui aliran darah, seperti

(5)

JIK.SH / Nomor 1 / Volume 2 / September 2015 pada septikemia. Tindakan untuk mencegah infeksi merupakan hal yang penting pada saat melakukan pemasangan jalur IV dan sepanjang periode pemberian infus.

B. Pengetahuan

Pengetahuan (knowledge) merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pada waktu pengindraan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian persepsi terhadap obyek (Notoatmodjo: 2007; Wawan dan Dwi: 2010).

Faktor-faktor yang ada hubungannya dengan pengetahuan adalah tingkat pendidikan, umur, tempat tinggal, status ekonomi, status pekerjaan, dan status sosial. 1. Proses Adopsi Perilaku

Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan.

a. Awareness (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus atau objek.

b. Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut.

c. Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya.

d. Trial, dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus. e. Adoption, dimana subjek telah

berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.

Namun demikian, dari penelitian selanjutnya Rogers menyimpulkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu melewati tahap-tahap diatas. Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang posistif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng. Sebaliknya apabila perilaku itu tidak

didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama.

2. Tingkat pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang

(overt behavior). Pengetahuan diperlukan

sebagai dorongan pikir dalam membubuhkan kepercayaan diri maupun dorongan sikap dan perilaku, sehingga dapat dikatakan bahwa pengetahuan merupakan stimuli terhadap tindakan seseorang. Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat yaitu : a. Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk kedalam pengetahuan ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. “Tahu“ ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah yang dimulai ketika seseorang mengalami suatu kejadian. b. Memahami (comprehension)

Diartikan sebagai kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat meginterpretasikan materi tersebut secara benar.

c. Aplikasi (application)

Merupakan kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi rill (sebenarnya). d. Analisis (analysis)

Adalah suatu kemampuan untuk menggunakan materi atau objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.

e. Sintesis (syinthesis)

Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru, dengan kata lain sistesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi yang telah ada.

f. Evaluasi ( evaluation )

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Dalam memperoleh pengetahuan diperlukan adanya proses belajar. Belajar antara lain berusaha mengetahui hal-hal baru, teknik baru, metode baru, cara berfikir baru bahkan perilaku baru. Salah satu bentuk nyata dari telah seseorang adalah perubahan

(6)

JIK.SH / Nomor 1 / Volume 2 / September 2015 dalam persepsi, perubahan dalam kemauan dan perubahan dalam perilaku.

C. Perawat

Upaya keperawatan kesehatan masyarakat adalah pelayanan profesional yang terintegrasi dengan pelayanan kesehatan di puskesmas yang dilaksanakan oleh perawat. Perawat puskesmas mempunyai tugas pokok memberikan keperawatan dalam bentuk asuhan keperawatan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.

Peran dapat diartikan sebagai seperangkat prilaku yang diharapkan oleh individu sesuai dengan status sosialnya. Jika seorang perawat, peran yang dijalankannya harus sesuai dengan lingkup kewenangan perawat. Peran menggambarkan otoritas seseorang dalam memiliki peran yang sama. Kesamaan peran bukan berarti sama dalam segala hal. Peran boleh sama tetapi ruang lingkup atau kewenangan masing- masing profesi tentu berbeda (Asmadi, 2008).

Peran perawat adalah cara untuk menyatakan aktivitas perawat dalam praktik, dimana telah menyelesaikan pendidikan formalnya yang diakui dan diberi kewenangan oleh pemerintah untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab keperawatan secara profesional sesuai dengan kode etik professional (Mubarak, 2009).

1. Elemen Peran Perawat

Menurut pendapat Doheny (dalam Mubarak, 2009) ada beberapa elemen peran perawat professional antara lain : Pemberi Perawatan (Care Giver)Pada peran ini perawat harus mampu memberikan pelayanan kepada individu, keluarga, kelompok atau masyarakat sesuai diagnosis masalah yang terjadi mulai dari masalah yang bersifat sederhana sampai masalah yang kompleks. Memperhatikan klien berdasarkan kebutuhan signifikan dari klien. Perawat menggunakan proses keperawatan untuk mengidentifikasi diagnosis keperawatan mulai dari masalah fisik sampai pada masalah psikologis (Mubarak, 2009).

b. Pembela Klien (Client Advocate)

Sebagai pembela klien tugas perawat disini adalah bertanggung jawab membantu klien dan keluarga dalam menginterprestasikan informasi dari berbagai pemberi pelayanan dan dalam memberi informasi lain yang

diperlukan untuk mengambil persetujuan

(inform consent) atas tindakan keperawatan

yang diberikan kepadanya. Mempertahankan dan melindungi hak-hak klien yang sakit dan dirawat akan berinteraksi dengan banyak petugas kesehatan (Mubarak, 2009).

Perawat adalah anggota tim kesehatan yang paling lama kontak dengan klien, sehingga diharapkan perawat harus mampu membela hak-hak klien. Seorang pembela klien adalah pembela dari hak-hak klien. Pembelaan tersebut termasuk didalamnya peningkatan apa yang terbaik untuk klien, memastikan kebutuhan klien terpenuhi dan melindungi hak-hak klien. Hak- hak klien antara lain, hak atas pelayanan yang sebaik-baiknya, hak atas informasi tentang penyakitnya, hak atas privasi, hak untuk menentukan nasibnya sediri dan hak untuk menerima ganti rugi akibat kelalaian tindakan. Hak-hak tenaga kesehatan antara lain, hak atas informasi yang benar, hak untuk bekerja sesuai standar, hak untuk mengakhiri hubungan dengan klien, hak untuk menolak tindakan yang kurang cocok, hak atas rahasia pribadi dan hak atas balas jasa (Disparty, dalam Mubarak, 2009).

D. Kepatuhan

Kepatuhan adalah suatu perilaku manusia yang taat terhadap aturan, perintah, prosedur, dan displin. Kepatuhan perawat adalah perilaku perawat sebagai seorang professional terhadap suatu anjuran, prosedur atau peraturan yang harus dilakukan atau ditaati (Setiadi, 2010).

Perilaku kepatuhan bersifat sementara karena perilaku ini akan bertahan bila ada pengawasan. Jika pengawasan hilang atau mengendur maka akan timbul perilaku ketidakpatuhan. Perilaku kepatuhan ini akan optimal jika perawat itu sendiri mengganggap perilaku ini bernilai positif yang akan diintegrasikan melalui tindakan asuhan keperawatan. Perilaku keperawatan ini akan dapat dicapai jika manajer keperawatan merupakan orang yang dapat dipercaya dan dapat memberikan motivasi (Sarwono, 2011)

Ketidakpatuhan adalah perilaku yang dapat menimbulkan konflik yang dapat menghasilkan perasaan bersalah pada seseorang dimana perilaku ditujukan. Perilaku ini dapat berbentuk verbal dan nonverbal. Perilaku ini terbagi menjadi tiga jenis menurut Murphy dalam Swansburg (2010), yaitu: (1) Competitive Bomber yang

(7)

JIK.SH / Nomor 1 / Volume 2 / September 2015 mudah menolak untuk bekerja. Orang ini sering menggerutu dengan bergumam dan dengan wajah yang cemberut dapat pergi meninggalkan manajer perawat atau tidak masuk kerja. (2) Martyred Accomodator yang menggunakan kepatuhan palsu. Orang tipe ini dapat bekerja sama tetapi juga sambil melakukan ejekan, hinaan, mengeluh dan mengkritik untuk mendapatkan dukungan yang lainnya. (3)

Advoider yang bekerja dengan

menghindarkan kesepakatan, berpartisipasi dan tidak berespon terhadap manajer perawat.

1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan

Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan (Setiadi, 2013), terbagi atas dua yaitu:

a. Faktor Internal 1) Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Pengetahuan merupakan faktor yang sangat penting membentuk tindakan atau perilaku seseorang (Notoatmodjo, 2010).

Proses adopsi perilaku, menurut Notoatmodjo (2010), yang mengutip pendapat (Rogers, 2009), sebelum seseorang mengadopsi perilaku, di dalam diri orang tersebut terjadi suatu proses yang berurutan. Tingkatan pengetahuan mencakup enam pengetahuan, yaitu:

a) Tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Tahu artinya dapat mengingat atau mengingat kembali suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. b) Memahami, artinya

kemampuan untuk

menjelaskan dan

menginterpretasikan dengan benar tentang objek yang diketahui. Seseorang yang telah paham tentang sesuatu harus dapat menjelaskan, memberikan contoh, dan meyimpulkan.

c) Penerapan, yaitu kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi nyata atau dapat menggunakan hukum-hukum, rumus, metode dalam situasi nyata.

d) Analisis artinya adalah

kemampuan untuk

menguraikan objek ke dalam bagian-bagian lebih kecil, tetapi masih di dalam suatu struktur objek tersebut dan masih terkait satu sama lain. e) Sintesis, yaitu suatu

kemampuan untuk

menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru atau kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.

f) Evaluasi, yaitu kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu objek. Evaluasi dapat menggunakan kriteria yang telah ada atau disusun sendiri.

2) Sikap

Sikap merupakan penentu dari perilaku karena keduanya berhubungan dengan persepsi, kepribadiaan, perasaan, dan motivasi. Sikap merupakan keadaan mental yang dipelajari dan diorganisasikan melalui pengalaman, menghasilkan pengaruh spesifik pada respon seseorang terhadap orang lain, objek, situasi yang berhubungan. Sikap menentukan pandangan awal seseorang terhadap pekerjaan dan tingkat kesesuaian antara individu dan organisasi (Ivancevich et al, 2013).

Sikap mempunyai tingkat berdasarkan intensitas yang menurut Notoatmodjo (2009), terdiri dari menerima, menanggapi, menghargai, bertanggung jawab. Sikap juga dapat dibentuk melalui pengalaman pribadi, pengaruh orang lain yang dianggap penting, pengaruh kebudayaan, media massa, lembaga pendidikan dan agama, dan faktor emosional. 3) Kemampuan

(8)

JIK.SH / Nomor 1 / Volume 2 / September 2015 Kemampun adalah bakat seseorang untuk melakukan tugas fisik atau mental. Kemampuan seseorang pada umumnya stabil. Kemampuan merupakan faktor yang dapat membedakan karyawan yang berkinerja tinggi dan yang berkinerja rendah.

Kemampuan individu

mempengaruhi karateristik pekerjaan, perilaku, tanggung jawab, pendidikan dan memiliki hubungan secara nyata terhadap kinerja pekerjaan (Ivancevich et

al, 2010).

Manajer harus berusaha menyesuaikan kemampuan dan keterampilan seseorang dengan kebutuhan pekerjaan. Proses penyesuaian ini penting karena tidak ada kepemimpinan, motivasi, atau sumber daya organisasi yang dapat mengatasi kekurangan kemampuan dan keterampilan meskipun beberapa keterampilan dapat diperbaiki melalui latihan atau pelatihan (Ivancevich et al, 2009).

4) Motivasi

Motivasi adalah konsep yang menggambarkan kondisi ekstrinsik yang merangsang perilaku tertentu, dan respon instrinsik yang menampakkan perilaku manusia. Respon instrinsik ditopang oleh sumber energi, yang disebut motif yang dapat diartikan sebagai kebutuhan, keinginan, atau dorongan. Motivasi dapat mempengaruhi seseorang untuk melaksanakan suatu pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya.

Maslow menyatakan bahwa motivasi didasarkan pada teori holistik dinamis yang berdasarkan tingkat kebutuhan manusia. Individu akan lebih puas bila kebutuhan fisiologis telah terpenuhi dan apabila kebutuhan tersebut tercapai maka individu tersebut tidak perlu dimotivasi. Tingkat kebutuhan yang paling mempengaruhi motivasi adalah tingkat kebutuhan aktualisasi diri. Aktualisasi diri merupakan upaya individu tersebut untuk menjadi seseorang yang seharussnya

(Ivancevich et al, 2011).

dapat menurunkan motivasi perawat terhadap pekerjaannya, dapat menyebabkan stress, dan menimbulkan kepenatan (Swansburg, 2012).

Metode Penelitian A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penilitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional.

Penilitian ini digunakan untuk mengetahui tingkat pengetahuan perawat tentang pemasangan infus dan kepatuhan melaksanakan prosedur tetap pemasangan infus di Unit Gawat Darurat RS TK II Pelamonia Makassar.

B. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan dari suatu variable yang menyangkut masalah yang diteliti (Suyanto 2011).

Populasi pada penelitian ini adalah perawat yang bekerja di Instalasi Gawat Darurat RS Pelamonia Makassar. Jumlah perawat di IGD sebanyak 22 orang.

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih dengan cara tertentu hingga mewakili populasinya. Sampel yang digunakan dalam penelitian adalah seluruh populasi penelitian yang berjumlah 22 orang perawat. Jadi bisa dikatakan pada penelitian ini adalah penelitian populasi. Tehnik Sampling dalam penelitian ini, menggunakan Sampling Jenuh.

Tehnik sampling jenuh adalah tehnik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. C. Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama penelitian adalah mendapatkan data” (Sugiyono, 2006).

Dilihat dari sumber datanya pengumpulan data dapat menggunakan sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer adalah secara langsung diambil dari objek penelitian oleh peneliti perorangan maupun organisasi dan sumber sekunder adalah data yang didapat tidak secara langsung dari objek penelitian (Handoko Riwidikdo, 2006:12).

(9)

JIK.SH / Nomor 1 / Volume 2 / September 2015 Dalam penelitian ini digunakan data primer yaitu data secara lansung diambil dari objek penelitian yaitu perawat Instalasi Gawat Darurat RS TK II Pelamonia Makassar.

Pembahasan A. Hasil Penilitian

Penilitian ini dilakukan di IGD RS TK II Pelamonia Makassar yang dilaksanakan mulai tanggal 28-30 juli 2015 dengan jumlah sampel 22 responden. Data yang diperoleh dengan cara observasi kepatuhan responden dan membagikan kuisioner kepada responden untuk dijawab kemudian kuisioner dikembalikan kepada peneliti untuk diolah, dan untuk memperoleh “Hubungan tingkat pengetahuan perawat tentang pemasangan infus dengan kepatuhan pelaksanaan protap pemasangan infus di IGD RS TK II Pelamonia Makassar”. Setelah data terkumpul dilakukan pemeriksaan kemudian data diolah dan berikut ini peneliti akan menyajikan frekuensi dan persentase dalam bentuk tabel yang dilengkapi dengan penjelasannya.

1. Data Tingkat Pengetahuan Responden

Pengetahuan perawat tentang pemasangan infus diukur melalui pengisian kuesioner dan dihitung jawaban yang benar kemudian diprosentasekan dan dikategorikan. Pengetahuan yang diukur adalah kemampuan kognitif yang dimiliki perawat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan tindakan pemasangan infus meliputi pengertian, tujuan dan indikasi, peralatan, prosedur, monitoring dan komplikasi dari tindakan pemasangan infus.

Dapat kita lihat bahwa dari 22 responden, sebagian besar memiliki tingkat pengetahuan Baik yaitu sebanyak 21 responden (95,5%). terdapat 1 (4,5%) responden yang memiliki pengetahuan kurang baik.

Adanya variasi pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain : tingkat pendidikan , umur, tempat tinggal, status ekonomi, status pekerjaan, dan status sosial. Pengetahuan diperlukan sebagai dorongan pikir dalam menumbuhkan kepercayaan diri maupun dorongan sikap dan perilaku, sehingga dapat

dikatakan bahwa pengetahuan merupakan stimuli terhadap tindakan seseorang (Notoatmojo, 2003).

Disebutkan juga oleh Notoatmojo (2003) bahwa tingkat pengetahuan juga dipengaruhi oleh pengalaman. Pengalaman dapat dikaitkan dengan lamanya masa kerja. Didapatkan data pada responden yang berlatar belakang pendidikan DIII dengan pengetahuan kurang memiliki pengalaman kerja 6 tahun. Pendidikan yang bermutu memiliki kaitan kedepan (Forward

linkage) dan kaitan kebelakang

(Backward linkage). Forward linkage berupa bahwa pendidikan yang bermutu merupakan syarat utama untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang maju, modern dan sejahtera. Sejarah perkembangan dan pembangunan bangsa-bangsa mengajarkan pada kita bahwa bangsa yang maju, modern, makmur, dan sejahtera adalah bangsa-bangsa yang memiliki sistem pendidikan yang bermutu. Backward

linkage berupa bahwa pendidikan yang

bermutu sangat tergantung pada keberadaan guru yang berkualitas, yakni guru yang profesional, sejahtera dan bermartabat (Jogja diknas.com).

Menurut Lubis dan Juwono (1993), dalam Mintarsih (2001), terbatasnya pengetahuan pada latar belakang pendidikan tinggi dapat juga disebabkan karena berbagai kendala yang dihadapi, baik dari pemberi informasi maupun berasal dari sasaran informasi yang menyebabkan informasi tersebut tidak sampai ke sasaran sebagaimana yang diharapkan. Faktor lain yang dapat menyebabkan kurangnya nilai pengetahuan responden juga dapat disebabkan karena faktor situasional dan kesungguhan responden saat mengisi kusioner karena terlihat adanya jawaban yang tidak di isi atau dikosongkan.

2. Data Kepatuhan Responden

Kepatuhan responden terhadap protap pemasangan infus diukur melalui observasi pada saat responden melakukan tindakan pemasangan infus. Peneliti mengobservasi responden dari tahap persiapan alat, tahap pre interaksi, tahap interaksi, tahap kerja dan tahap terminasi dengan

(10)

JIK.SH / Nomor 1 / Volume 2 / September 2015 berpedoman pada cheklist yang telah disiapkan. Kategori diperoleh dari penjumlahan skor dari tiap item yang telah ditentukan sebelumnya kemudian diprosentasekan dan dikategorikan.

Dapat kita lihat bahwa dari 22 responden, terdapat 21 responden (95,5%) termasuk kategori patuh dan 1 responden (4,5%) termasuk kategori kurang patuh.

Banyak faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kepatuhan antara lain kemampuan, motivasi, pengetahuan, masa kerja, latar belakang pendidikan, fasilitas atau peralatan, bahan serta kejelasan prosedur.

3. Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Pemasangan Infus dengan Kepatuhan Perawat Melaksanakan Protap Pemasangan Infus

Berdasarkan tersebut dapat diketahui bahwa responden yang memiliki pengetahuan baik dan patuh terhadap pelaksanaan protap pemasangan infus terdapat 20 responden (90,9%), responden yang memiliki pengetahuan baik dan kurang patuh terhadap pelaksanaan protap pemasangan infus terdapat 1 responden (4,5%). Sedangkan responden yang memiliki pengetahuan kurang dan kurang patuh terhadap pelaksanaan protap pemasangan infus terdapat 1 responden (4,5%). Hasil uji chi-square didapatkan nilai p = 0,001. Nilai p < α (0,05) yang artinya ada hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan perawat dalam melaksanakan protap pemasangan infus di IGD RS TK II Pelamonia Makassar.

Dari hasil penelitian ini peneliti berpendapat bahwa perawat yang memiliki pengetahuan baik tentang pemasangan infus tentu akan patuh dalam melaksanaan prosedur tetap (protap) pada saat memasang infus. Perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan, karena dengan pengetahuan, perawat mengerti hal-hal yang harusnya dipatuhi, agar tidak terjadi resiko yang tidak diinginkan. Keberhasilan pengendalian infeksi nasokomial, baik itu pada tindakan pemasangan infus maupun tindakan invansif lainnya, bukanlah ditentukan dari canggihnya peralatan yang ada,

tetapi ditentukan oleh kesempurnaan perilaku petugas dalam melaksanakan perawatan klien secara benar. Adapun dalam penelitian ini ditemukan responden yang kurang patuh itu disebabkan karena beberapa faktor yang berhubungan dengan penerapan standar pemasangan infus antara lain: latar belakang pendidikan, pengetahuan, fasilitas, dan lingkungan. Untuk memaksimalkan tujuan terapi intravena dan meminimalkan efek samping yang tidak diinginkan, perawat diharapkan memiliki pengetahuan yang tinggi dan patuh terhadap prosedur yang telah ditetapkan, dan untuk memberikan pelayanan yang berkualitas kepada klien.

Perawat yang memiliki pengetahuan baik belum tentu memiliki kepatuhan baik pula, ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kepatuhan antara lain kemampuan, motivasi, pengetahuan, masa kerja, latar belakang pendidikan, fasilitas atau peralatan, bahan serta kejelasan prosedur. Kemampuan seseorang dalam melakukan pekerjaan berbeda dengan seseorang yang lain, meskipun pendidikan dan pengalamannya sama, dan bekerja pada suatu pekerjaan atau tugas yang sama. Artinya kemampuan tersebut dapat berkembang karena pendidikan atau pengalaman tetapi sampai pada batas-batas tertentu saja. Motivasi adalah perasaan atau pikiran yang mendorong seseorang melakukan pekerjaan atau menjalankan kekuasaan terutama dalam berperilaku (Sbortell & Kaluzny, 2009:59). Kelengkapan fasilitas rumah sakit turut menentukan kepatuhan perawat dalam melaksanakan prosedur yang telah ditetapkan.

(11)

JIK.SH / Nomor 1 / Volume 2 / September 2015 Kesimpulan Dan Saran

A. Kesimpulan

Kesimpulan dalam penelitian ini adalah : 1. Sebagian besar perawat di Instalasi

Gawat Darurat RS TK II Pelamonia Makassar memiliki pengetahuan yang baik tentang pemasangan infus. 2. Sebagian besar perawat di Instalasi

Gawat Darurat RS TK II Pelamonia Makassar patuh terhadap prosedur pemasangan infus.

3. Ada hubungan antara tingkat pengetahuan perawat tentang pemasangan infus dengan kepatuhan perawat dalam melaksanakn protap pemasangan infus di instalasi gawat darurat RS TK II Pelamonia Makassar.

B. Saran

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini, saran yang dapat diberikan yaitu:

1. Institusi

Perlu terus dilakukannya peningkatan dan mempertahankan kepatuhan perawat melaksanakan protap pemasangan infus untuk meningkatkan kualitas pelayanan dengan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan protap dan memperhatikan aspek-aspek yang terkait dengan pelaksanaan protap. 2. Perawat

a. Diharapkan terus meningkatkan kepatuhannya dalam pelaksanaan protap pemasangan infus untuk meningkatkan kualitas asuhan keperawatan.

b. Diharapkan lebih memperhatikan tiap point pada tindakan pemasangan infus seperti pada penggunaan pengalas atau modifikasinya dan mencuci tangan dengan desinfektan sebelum dan sesudah melakukan tindakan untuk

mencegah transmisi

mikroorganisme. 3. Peneliti

Menambah wawasan peneliti dan memperkaya ilmu Pengetahuan dibidang kesehatan khususnya yang berhubungan dengan tingkat pengetahuan perawat dalam melaksanakan prosedur pemasangan infus. Dan peneliti ikut serta dalam mematuhi pelaksanaan prosedur pemasangan infus yang telah ditetapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Akrodhana, (2007). Kepatuhan Petugas Dalam

Melaksanakan Prosedur Tetap Menjahit Luka di Unit Gawat

Darurat RSUD Kabupaten

Sleman, Skripsi, Falkutas

Kedokteran UGM, Yogyakarta. (Unpublished).

Arikunto, Suharsimi (2006). Prosedur

PeneIltian Suatu Pendekatan

Praktek, Jakarta : PT Rineka

Cipta.

Brunner & Suddarth, (2012). Buku Ajar

Keperawatan Medikal-Bedah

Edisi 8, Jakarta: EGC.

Mubarok. B., (2009). Perawat Sebagai Pendidik, Jakarta: EGC.

Notoatmojo. (2010).Teori pengetahuan kepatuhan perawat

Elly. N & Ratna S.S, (2013). Buku Saku

Prosedur Keperawatan Medikal-Bedah, Jakarta: EGC.

Handayani, (2006). Faktor-faktor Yang

Mempengaruhi Kepatuhan

Perawat Dalam Pelaksanaan

Protap Pemasangan dan Dressing Kateter Uretra di Bangsal Rawat

Inap RSUP Dr. Soeradji

Tirtonegoro Klaten. Skripsi,

Falkutas Kedokteran UGM. Yogyakarta. (Unpublished). Lestari (2001). Hubungan Tingkat Pengetahuan

Perawat Proses

Pendokumentasian di Rawat Inap RSU Tidar Magelang. Skripsi,

Falkutas Kedokteran UGM, Yogyakarta. (Unpublished). Perry & Potter, (2013). Fundamental

Keperawatan : Konsep, Proses dan Praktek Edisi 4, Jakarta: EGC.

Sudarwati. (Faktor-faktor Yang Mempengaruhi

Pada Kepatuhan (Compliance)

Petugas Imunisasi di Kodya

Semarang. Tesis, Pasca Sarjana

UGM, Yogyakarta. (Unpublished). Setyaningsih, (2006). Perilaku Perawat Dalam

Penerapan Asuhan Keperawatan Pada Kasus Bedah di Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta. Tesis,

Program Pasca Sarjana UGM. Yogyakarta. (Unplished).

Sugiono, (2006). Metode Penelitian Pendidikan

Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, Bandung: Alfabeta.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :