Peranan mengikuti kegiatan persekutuan doa Karismatik Katolik di Gereja Santo Antonius Kotabaru Keuskupan Agung Semarang terhadap keaktifan anggota dalam hidup menggereja - USD Repository

159  14 

Teks penuh

(1)

PERANAN MENGIKUTI KEGIATAN PERSEKUTUAN DOA KARISMATIK KATOLIK

DI GEREJA SANTO ANTONIUS KOTABARU KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG

TERHADAP KEAKTIFAN ANGGOTA DALAM HIDUP MENGGEREJA

S K R I P S I

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik

Oleh:

Maria Wardayanti Perdani NIM: 091124010

PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)
(3)
(4)

iv PERSEMBAHAN

(5)

v MOTTO

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”

(6)
(7)
(8)

viii ABSTRAK

Skripsi ini berjudul PERANAN MENGIKUTI KEGIATAN PERSEKUTUAN DOA KARISMATIK KATOLIK DI GEREJA SANTO ANTONIUS KOTABARU KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG TERHADAP KEAKTIFAN ANGGOTA DALAM HIDUP MENGGEREJA. Skripsi ini dipilih berdasarkan perkembangan komunitas PDKK (Persekutuan Doa Karismatik Katolik) di gereja-gereja Katolik yang ada di Yogyakarta, baik PDKK kaum muda, maupun PDKK bagi orang tua yang masih menimbulkan pro dan kontra di kalangan Gereja.

Penulis mengulas tentang keberadaan dan perkembangan PDKK dalam Gereja St. Antonius Kotabaru KAS yang saat ini semakin tumbuh. Dalam skripsi ini, penulis membuat suatu penelitian tentang peranan PDKK terhadap hidup menggereja dalam bentuk skala Likert dan beberapa wawancara untuk menambahkan data tentang kegiatan-kegiatan yang ada dan berjalan di paroki St. Antonius Kotabaru.

Sebagian besar anggota PDKK yang menjadi responden telah mengerti dan mengetahui tentang Gereja, karismatik, peranan mengikuti karismatik dan hidup menggereja. Mereka diharapkan dapat semakin menghayati makna menjadi anggota Gereja yang sejati dan semakin aktif dalam hidup menggereja, sehingga Gereja semakin berkembang ke arah yang lebih baik lagi dalam menjalankan tugas perutusan Yesus untuk mewartakan kabar sukacita.

Di dalam skripsi ini juga, penulis menguraikan tentang karismatik Katolik, secara khusus dari asal kata karismatik, kekhasan, sampai pada dasar biblis yang membuktikan dan memperkuat bahwa karismatik ini benar-benar Katolik dan tidak melenceng dari ajaran dan tradisi Gereja. Penulis menggunakan dokumen Gereja untuk mendukung adanya PDKK. Para pemimpin umat Katolik pun telah menyetujui dan memberikan pernyataan agar kegiatan PDKK didukung dan oleh umat. Karismatik Katolik terlibat dalam lima dasar hidup menggereja beserta peranannya dalam mengembangkan hidup menggereja bagi anggota PDKK.

Dalam proses menghayati makna menjadi anggota Gereja dan hidup menggereja, anggota PDKK memerlukan pendampingan iman dari pihak Gereja. Penulis mengusulkan bentuk katekese model Shared Christian Praxis (SCP).

(9)

ix ABSTRACT

This thesis title is THE ROLE OF FOLLOWING CHARISMATIC PRAYER FELLOWSHIP ACTIVITY IN SAINT ANTHONY KOTABARU ARCHDIOSCE OF SEMARANG UPON MEMBERS ACTIVENESS IN CHURCH LIFE. This title is choosed based on the development PDKK (Persekutuan Doa Karismatik Katolik) community in Catholic churches in Yogyakarta, both youth PDKK and PDKK for adults that still occur problem inside the church an also its people.

Writer explores about the existence and development PDKK at St. Antonius church’s that is in growing process. In this thesis, writer made a research in likert scale and some interviews to add data about activities that exist on St. Antonius Kotabaru Church.

Most of the PDKK’s members that become respondents have understood and known about church, charismatic, the role of joining charismatic and church’s life. They are expected to live the meaning of being genuine church member and be more active in church’s life, so that church developes in better direction in doing Jesus duty to spread the Good News.

In this thesis, writer also describes about Catholic charismatic specifically is taken from term charismatic, its typical up to biblical base that proves and strengthen charismatic truely catholic and not miss from church teaching and tradition. Writer use church document to support. The Catholic leaders also has approved and make statement so that PDKK activity supported by all its people. Catholic charismatic is also connected to five church’s life foundation with its role in developing church’s life to PDKK’s member.

In proccess of living the meaning of being church’s member and church’s life, PDKK members need guidance from Church authority. Writer reccomends

Shared Christian Praxis as Cathecese model are model that suitable to share experience among PDKK’s member because this model lies on the PDKK’s member faith experience concretely. Therefore, PDKK’s member will be strengthened eachother in their life journey in this world as Christ messenger.  

(10)

x KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan penyertaan-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul:

PERANAN MENGIKUTI KEGIATAN PERSEKUTUAN DOA KARISMATIK KATOLIK DI GEREJA SANTO ANTONIUS KOTABARU KESUUPAN AGUNG SEMARANG TERHADAP KEAKTIFAN ANGGOTA DALAM HIDUP MENGGEREJA.

Dalam proses penulisan skripsi ini, penulis mengalami banyak hal yang mendukung maupun yang membuat tersendatnya penulisan. Banyak sekali suka dan duka yang membuat penulis semakin tangguh. Pengalaman suka yang penulis alami adalah mendapat pengalaman baru dengan mengikuti PDKK di Gereja St. Antonius Kotabaru, mendapatkan kenalan baru yang lebih dewasa sehingga menambah tali persaudaraan. Sedangkan pengalaman duka yang penulis alami adalah, banyaknya anggota PDKK yang sudah tua sehingga sulit untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi.

Dengan segala suka duka yang penulis alami, penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak terlepas dari dukungan dan bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, perkenankanlah penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada:

(11)

xi

2. Dra. Y. Supriyati, M.Pd., selaku dosen pembimbing akademik, dosen penguji II yang membantu penelitian dan yang selalu memberikan semangat, kesetiaan, masukan, dan kritikan dalam proses penelitian dan penulisan skripsi serta selama menjalani kuliah di Prodi IPPAK.

3. Yoseph Kristianto, SFK., M.Pd., sebagai bapak yang telah banyak membantu dan memberikan dukungan dalam bentuk doa dan finansial bagi penulis dalam perjalanan kuliah ini dan selama penulis menyelesaikan skripsi ini, serta sebagai dosen penguji III.

4. Drs. F.X. Heryatno W.W., S.J., M.Ed., selaku Kaprodi IPPAK-USD yang telah mendukung dan memberi kesempatan kepada penulis untuk mempertanggungjawabkan skripsi ini.

5. Keluargaku di Lampung yang selalu mendukung, mendoakan, dan memberikan kepercayaan kepada penulis sehingga dapat dengan tenang menyelesaikan skripsi ini.

6. Segenap Staf Dosen, Karyawan, dan Mahasiswa Prodi IPPAK, Universitas Sanata Dharma yang telah mendidik, membimbing, memudahkan, serta mendukung penulis selama belajar sampai selesainya skripsi ini.

7. Komunitas Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK) St. Antonius Kotabaru Keuskupan Agung Semarang, sebagai komunitas yang telah bersedia menjadi responden dan terbuka sehingga sangat membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

(12)
(13)

xiii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR SINGKATAN ... xvii

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A.Latar Belakang ... 1

B.Rumusan Masalah ... 4

C.Tujuan Penelitian ... 4

D.Manfaat Penelitian ... 5

E.Metode Penulisan ... 5

F. Sistematika Penulisan ... 6

BAB II. SITUASI UMUM PERSEKUTUAN DOA KARISMATIK KATOLIK DI KOTABARU ... 8

A.Situasi Paroki Kotabaru ... 8

1. Situasi Umum Umat Paroki Kotabaru ... 9

2. Kegiatan dalam Paroki Kotabaru Periode Satu Tahun Terakhir ... 10

B.Persekutuan Doa Karismatik Katolik di Kotabaru ... 15

1. Struktur Organisasi Persekutuan Doa Karismatik Katolik di Kotabaru Selama Satu Tahun terahir ... 15

(14)

xiv

3. Kegiatan yang Dilakukan Persekutuan Doa Karismatik Katolik

(PDKK) Kotabaru Selama 1 Tahun terakhir ... 19

4. Langkah-Langkah Pertemuan Persekutuan Doa Karismatik Katolik di Kotabaru ... 20

C.Penelitian tentang Peranan Mengikuti Krgiatan Persekutuan Doa Karismatik Katolik di Paroki St. Antonius Kotabaru terhadap Keaktifan Anggota dalam Hidup Menggereja ... 22

1. Gambaran Peranan Mengikuti Kegiatan Persekutuan Doa Karismatik Katolik di Paroki St. Antonius Kotabaru terhadap Keaktifan Anggota dalam Hidup Menggereja ... 27

2. Keaktifan dalam Hidup Menggereja ... 31

E.Pembahasan Hasil Penelitian ... 37

1. Gambaran Peranan Mengikuti Kegiatan Persekutuan Doa Karismatik Katolik di Paroki St. Antonius Kotabaru Terhadap Keaktifan Anggota Dalam Hidup Menggereja ... 37

2. Keaktifan dalam Hidup Menggereja ... 40

BAB III. KARISMATIK DALAM GEREJA ... 45

A. Karismatik Katolik ... 45

1. Sejarah Perkembangan Karismatik Dunia dan Indonesia ... 46

2. Pengertian Karismatik Katolik dan Pergantian Nama ... 51

3. Ciri Khas Karismatik: Buah-buah Roh dan Bahasa Roh ... 53

4. Dasar-dasar Teologi Karismatik Katolik ... 61

(15)

xv

1. Pengertian Hidup Menggereja ... 79

2. Dasar-dasar Hidup Menggereja ... 80

3. Peranan Hidup Menggereja ... 85

4. Peran PDKK dalam 5 Bentuk Hidup Menggereja ... 86

BAB IV. USULAN PROGRAM KATEKESE PERSEKUTUAN DOA KARISMATIK KATOLIK DI GEREJA ST. ANTONIUS KOTABARU MELALUI KATEKESE MODEL SHARED CHRISTIAN PRAXIS (SCP) UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN HIDUP MENGGEREJA ... 90

A.Latar Belakang Pemilihan Program ... 91

B.Alasan Pemilihan Tema dan Tujuan ... 91

C.Rumusan Tema dan Tujuan ... 92

D.Penjabaran Program ... 94

E.Petunjuk Pelaksanaan Program ... 98

F. Contoh Persiapan Katekese ... 98

BAB V. PENUTUP ... 112

A.Kesimpulan ... 112

B.Saran ... 114

DAFTAR PUSTAKA ... 116

LAMPIRAN ... 118

Lampiran 1: Surat ijin penelitian di Gereja St. Antonius Kotabaru ... (1)

Lampiran 2: Salah satu contoh instrumen ... (3)

Lampiran 3: Pedoman wawancara anggota organis Kotabaru ... (6)

Lampiran 4: Pedoman wawancara anggota pendamping PIA Kotabaru ... (7)

Lampiran 5: Pedoman wawancara anggota PATEMON Kotabaru ... (8)

Lampiran 6: Pedoman wawancara anggota OMK Kotabaru ... (9)

Lampiran 7: Pedoman wawancara anggota PDKK Kotabaru ... (10)

Lampiran 8: Pedoman wawancara koordinator PDKK ... (11)

Lampiran 9: Pedoman wawancara koordinator PDKK ... (12)

Lampiran 10: Hasil wawancara anggota organis Kotabaru ... (13)

Lampiran 11: Hasil wawancara anggota pendamping PIA ... (14)

(16)

xvi

Lampiran 13: Hasil wawancara anggota OMK Kotabaru ... (16)

Lampiran 14: Hasil wawancara anggota PDKK Kotabaru ... (17)

Lampiran 15: Hasil wawancara koordinator PDKK Kotabaru ... (18)

Lampiran 16: Hasil wawancara koordinator PDKK Kotabaru ... (19)

Lampiran 17: Instrumen penelitian ... (20)

(17)

xvii DAFTAR SINGKATAN

A. SINGKATAN KITAB SUCI

Seluruh singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti Kitab Suci Perjanjian Baru: dengan Pengantar dan Catatan Singkat. (Dipersembahkan kepada Umat Katolik Indonesia oleh Ditjen Bimas Katolik Departemen Agama Republik Indonesia dalam rangka PELITA IV). Ende: Arnoldus, 1984/1985, hal. 7-8.

B. SINGKATAN DOKUMEN GEREJA

AA : Apostolicam Actuositatem, Dekrit Konsili Vatikan II tentang Kerasulan Awam, 7 Desember 1965.

DV : Dei Verbum, Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II tentang Wahyu Ilahi, 18 November 1965

LG : Lumen Gentium, Konstitusi Dogmatik Konsili Vatikan II

tentang Gereja, 21 November 1964.

C. SINGKATAN LAIN

Art : Artikel

CB : Carolus Boromeus

GPK : Gerakan Pembaruan Karismatik HUT : Hari Ulang Tahun

(18)

xviii KWI : Konferensi Waligereja Indonesia MAWI : Majelis Agung Waligereja Indonesia OCD : OrdoCarmelitarum Discalceatorum

OMK : Orang Muda Katolik

PA : Pemandu Acara

PAPITA : Putra-putri Altar PATEMON : Paguyuban TV Monitor

PD : Persekutuan Doa

PDKK : Persekutuan Doa Karismatik Katolik PIA : Pendamping Iman Anak

PIR : Pendamping Iman Remaja PKK : Pembaruan Karismatik Katolik

Rm : Romo

SCP : Shared Christian Praxis

SJ : Serikat Jesus

Sr : Suster

(19)

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Belakangan ini semakin marak terdengar gema suara karismatik di Gereja-gereja Indonesia. Hampir di setiap Gereja mendirikan PD (Persekutuan Doa) ini, terutama di perkotaan. Karismatik memang cenderung mengarah pada agama Kristen. Banyak orang mengira kegiatan karismatik hanya ada pada Gereja Kristen saja. Namun, sekarang ini semakin banyak Gereja Katolik yang mendirikan Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK), dengan ritus Katolik. Kebanyakan PDKK ini mengikuti susunan acara seperti ibadat, dengan pilihan lagu-lagu yang khas karismatik.

Dari hasil wawancara yang penulis lakukan, ternyata umat Katolik sendiri banyak yang belum mengetahui tentang Persekutuan Doa Karismatik Katolik ini. Masih banyak umat yang ragu untuk masuk ke dalam PD ini, karena takut seandainya ajaran itu sesat. Konsili Vatikan pada dokumen Lumen Gentium art. 12 menegaskan bahwa:

Dari butir ini mau mengingatkan bahwa pemahaman karisma sebagai sesuatu yang jarang dan terbatas, maupun sebagai yang umum menunjuk pada sifat mendasar karisma sebagai sesuatu yang “istimewa”. Disebut istimewa karena karisma/karunia itu adalah karunia istimewa berdasarkan ‘cara’ bagaimana karunia-karunia itu diberikan dan berdasarkan ‘tujuan’ untuk karunia-karunia itu diberikan.

Memang kewaspadaan sangat diperlukan karena di PDKK juga banyak yang menggunakan ritus Protestan yang sangat berbeda dengan ritus Katolik.

(20)

Kotabaru. Penulis sudah mengikuti Persekutuan Doa ini selama bulan pertemuan di Kotabaru. Hal ini penulis lakukan pertama-tama karena keingintahuan penulis sendiri tentang PD ini. Apalagi setelah penulis mengetahui bahwa banyak orang yang belum mengetahui apa yang terjadi di dalam setiap persekutuan ini.

Banyak sekali hal-hal negatif yang muncul dan beredar berhubungan dengan Persekutuan Doa Karismatik Katolik, maka dari itu penulis merasa perlu mencari tahu yang sebenarnya. Sebagian karismatik yang ada di Yogyakarta memang menggunakan ritus Kristen dengan penyembuhan luka batin secara gaib. Dalam setiap doa, ritus Kristen ini memanggil roh-roh yang bukan Roh Kudus. Lalu pemandu mulai membuat umat jatuh pingsan dan sebagainya. Namun, banyak juga Persekutuan Doa Karismatik Katolik yang sehat. Dengan memanggil Roh Kudus hadir di tengah mereka. “Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya” (Kis 2:4). Memang tidak semua orang dapat mengucapkan bahasa Roh tersebut namun sebagian orang dapat menafsirkannya. “Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa Roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya” (1 Kor 14:13).

(21)

Dalam surat gembala, KWI, 30 November 1993 dikatakan bahwa Gereja memahami Babtis dalam Roh sebagai doa permohonan iman yang sungguh-sungguh agar berkat rahmat Babtis dan karisma hidup umat digairahkan dan dipenuhi dengan kekuasaan Roh Kudus. Doa permohonan diucapkan dengan penumpangan tangan sebagai tanda cinta persaudaraan (KWI, 1993: 308). Dengan begitu diri kita pribadi dapat menilai apakah kegiatan itu sehat atau malah membawa kita pada ajaran sesat yang menyimpang dari ajaran Yesus sendiri.

Dalam observasi yang penulis lakukan, penulis tidak hanya hadir dalam pertemuan, tetapi juga mengikuti kegiatannya, sehingga penulis benar-benar dapat merasakan apa yang terjadi. Selama mengikuti Persekutuan Doa Karismatik Katolik di Gereja St. Antonius Kotabaru, penulis mengetahui bahwa ternyata kegiatan ini menggunakan susunan acara seperti saat ibadat sabda diserta lagu-lagu khas karismatik yang penuh semangat. Kegiatan karismatik yang penulis ikuti juga ternyata tidak hanya diam sebagai suatu lembaga tersendiri, tetapi mereka ada di dalam Gereja, karena yang menjadi pesertanya adalah umat Katolik. Dengan penelitian ini, penulis berharap dapat memberikan informasi selengkap-lengkapnya tentang keberadaan Persekutuan Doa Karismatik Katolik ini.

(22)

Seribu pertanyaan dan pernyataan muncul di benak umat dan semoga dengan adanya penelitian ini, penulis dapat menjawab pertanyaan yang selama ini membuat bingung dan ragu dalam mengikuti kegiatan ini, karena kita tidak bisa memukul rata bahwa semua kegiatan dalam Persekutuan Doa Karismatik adalah ajaran sesat. Penulis juga berharap karya tulis ini dapat membantu umat menemukan jalan sejati menuju kenyamanan dalam berdoa, berinteraksi dengan Yesus dan sesama serta mendapatkan kedamaian melalui ungkapan-ungkapan hati dalam karismatik.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana situasi umum Persekutuan Doa Karismatik Katolik di Kotabaru yang telah berjalan selama ini?

2. Bagaimana perkembangan karismatik dalam Gereja selama ini? 3. Usulan program apa yang tepat bagi PDKK St. Antonius Kotabaru?

C. TUJUAN PENELITIAN

1. Mengetahui situasi umum yang ada di dalam Persekutuan Doa Karismatik Katolik di Kotabaru.

2. Mengetahui perkembangan karismatik di dalam Gereja.

3. Menemukan bentuk pendampingan yang cocok sebagai usulan program yang tepat bagi PDKK St. Antonius Kotabaru.

(23)

D. MANFAAT PENULISAN

Penelitian ini diharapkan akan memberikan pengetahuan mengenai pengaruh karismatik terhadap keaktifan anggota dalam kegiatan menggereja. Adapun harapan tersebut antara lain sebagai berikut:

1. Bagi para calon katekis, dapat menambah wawasan bahwa kegiatan karismatik adalah sarana umat untuk memuji dan menyembah Allah dengan lebih leluasa dan bebas berekspresi.

2. Bagi umat, dapat memberikan pengertian bahwa tidak sedikit umat yang terlibat dalam kegiatan karismatik merasakan ketenangan dan kenyamanan dalam berinteraksi dengan Allah sendiri, jadi setidaknya umat mengetahui bahwa tidak semua kegiatan kharismatik itu adalah sesat.

3. Bagi penulis sendiri, dengan menulis proposal ini, penulis menjadi semakin mendalami dan mendapatkan wawasan yang luas dalam hal kegiatan menggereja yang sebelumnya tidak penulis ketahui. Selain itu yang terpenting adalah bahwa penulis mengetahui adanya pengaruh mengikuti kegiatan kharismatik ini dengan keaktifan hidup menggereja.

4. Bagi umat yang sudah masuk dalam persekutuan doa karismatik, dapat lebih menguatkan keyakinan mereka akan Roh Allah yang menaungi mereka dan semakin memperkuat iman mereka akan Allah dan Putra-Nya, Yesus.

E. METODE PENULISAN

(24)

cara wawancara dengan anggota PDKK, dan memberikan instrumen penelitian menggunakan skala Likert serta hasil studi pustaka sebagai acuan yang dapat menunjang penulisan skripsi ini. Penulis mencoba untuk memaparkan tentang situasi umat yang menjadi anggota PDKK di Gereja St. Antonius Kotabaru, dan keaktifan mereka dalam hidup menggereja.

F. SISTEMATIKA PENULISAN

Judul dari skripsi ini adalah PERANAN MENGIKUTI KEGIATAN PERSEKUTUAN DOA KARISMATIK KATOLIK SANTO ANTONIUS KOTABARU KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG TERHADAP KETERLIBATAN ANGGOTA DALAM HIDUP MENGGEREJA.

Sistematika penulisan akan diuraikan dalam 5 (lima) bab sebagai berikut: Dalam bab I, penulis akan berbicara tentang latar belakang penulisan, yaitu alasan-alasan penulis mengangkat masalah ini untuk diteliti dengan dukungan dari wawancara, observasi dan pendapat para pakar serta solusi yang diharapkan dari hasil tulisan ini. Penulis juga menuliskan rumusan masalah yang ada di dalam PDKK St. Antonius Kotabaru, tujuan penulisan, metode penulisan, manfaat dari penulisan skripsi ini, serta metode penulisan dan sistematika penulisan.

(25)

akan melaksanakan penelitian berkaitan dengan judul skripsi, sekaligus dengan pembahasannya.

Bab III berisi tentang karismatik Katolik dalam Gereja yang meliputi sejarah karismatik Katolik, pengertian karismatik, ciri khas karismatik Katolik, dasar-dasar teologi karismatik Katolik. Dalam bab ini juga penulis akan membahas tentang peranan PDKK dalam hidup menggereja yang meliputi pengertian hidup menggereja, dasar-dasar hidup menggereja, peranan hidup menggereja, dan peran PDKK dalam 5 (lima) bentuk hidup menggereja.

Bab IV mengemukakan usulan program katekese bagi anggota PDKK St. Antonius Kotabaru, dengan model katekese Shared Christian Praxis (SCP). Bab IV meliputi latar belakang pemilihan program, alasan pemilihan tema dan tujuan, rumusan tema dan tujuan, penjelasan program, petunjuk pelaksanaan program dan yang terakhir adalah contoh persiapan katekese model SCP.

Bab V merupakan akhir dari penulisan yang berisi kesimpulan dari keseluruhan isi skripsi ini dan saran yang mendukung bagi koordinator dan pengurus inti PDKK St. Antonius Kotabaru, bagi pastor paroki Gereja St. Antonius Kotabaru dan bagi umat secara keseluruhan.

(26)

BAB II

SITUASI UMUM PERSEKUTUAN DOA KARISMATIK KATOLIK DI KOTABARU

Gereja St. Antonius Kotabaru adalah Gereja yang gedungnya terletak di pusat kota Yogyakarta. Gereja St. Antonius Kotabaru ini adalah salah satu gereja yang paling populer dan terkenal di kalangan umat Katolik Yogyakarta. Setiap perayaan ekaristi, gereja St. Antonius Kotabaru selalu dipenuhi umat yang notabene berasal dari berbagai paroki yang berada di Yogyakarta yang selalu

membludak pada saat hari-hari besar (Natal, Tri Hari Suci, dan Paskah).

Gereja St. Antonius Kotabaru sangat cocok dengan situasi umat perkotaan yang sibuk dan serba cepat. Selain itu, letaknya juga sangat strategis yaitu di pinggir jalan dan dengan memiliki area parkir yang luas dan mudah, walaupun seringkali masih kurang juga. Itulah situasi umum yang ada di Gereja St. Antonius Kotabaru.

Paroki St. Antonius Kotabaru juga memiliki berbagai macam kegiatan yang mendukung umat untuk terlibat aktif mengembangkan iman. Salah satu kegiatan yang berjalan di paroki St. Antonius Kotabaru adalah PDKK (Persekutuan Doa Karismatik Katolik). PDKK ini adalah sebuah kegiatan yang memiliki struktur organisasi yang lengkap dan menggunakan ritus ibadat dalam setiap kegiatan doanya.

A. SITUASI PAROKI KOTABARU

(27)

membentuk, membangun, mempertahankan dan mengisi serta melayani umat Katolik di paroki St. Antonius Kotabaru.

Untuk mempertahankan dan mengembangkan umat, di paroki ini juga diadakan banyak kegiatan yang mendukung iman umat mulai dari umat yang masih kecil sampai yang dewasa dan tua. Banyak wadah yang dibangun untuk memperkembangkan iman umat, salah satunya adalah Persekutuan Doa Karismatik Katolik.

1. Situasi Umum Umat Paroki Kotabaru

(28)

Tarekat yang ada yaitu biara suster-suster Abdi Darah Mulia, biara suster Carolus Boromeus, biara bruder Maria Tidak Bercela, biara bruder Conggregatio Santo Aloysius, dan tarekat Sarekat Yesus. Sedangkan lembaga Gereja yang melayani masyarakat meliputi Lembaga Pengabdian Masyarakat Realino, Margasiswa Kemahasiswaan dan Moderasi Kuliah Agama Katolik. Ditambah dengan RS panti Rapih yang menjadi subyek pelayanan pastoral bagi orang sakit (Mutiara Andalas, 2011: 23). Sebagai Paroki yang berada di perkotaan, maka Paroki St. Antonius Kotabaru ini menyesuaikan dengan kebutuhan umat perkotaan yang serba cepat tetapi mendalam, sehingga ekaristi yang dilaksanakan memang relatif lebih cepat dan dikemas dengan menarik.

2. Kegiatan dalam Paroki Kotabaru Periode Tiga Tahun Terakhir

Sebagai paroki yang berada di tengah kota Yogyakarta dan cukup terkenal di Keuskupan Agung Semarang, paroki St. Antonius Kotabaru memiliki upaya-upaya untuk mengembangkan iman umat dalam rangka melaksanakan tugas perutusan dalam hubungannya dengan sesama umat beriman dalam terang kasih Injili, sesuai dengan visinya yaitu: “Paroki St. Antonius Kotabaru, sebagai umat Allah KAS, menjadi pribadi-pribadi umat beriman yang berlandaskan nilai-nilai Injil terutama belas kasih, keterbukaan, kebenaran, empati dan pelayanan untuk mengembangkan persekutuan umat Allah yang mempu memajukan persaudaraan sejati dengan siapapun yang berkehendak baik” (Mutiara Andalas, 2011: 28).

(29)

a. PIR (Pendamping Iman Remaja)

Menurut Erika dalam sebuah blog yang berjudul PIRKOBAR.com, keanggotaan PIR terbuka untuk semua remaja Katolik. Mereka mengadakan pertemuan yang dinamakan Teen Time setiap hari Sabtu pukul 18.00 di GKS Widya Mandala. Dalam Teen Time kegiatan yang dilakukan dimulai dengan doa pembukaan, game-game seru, pembacaan Injil (bergantian perayat), kemudian pendamping akan menghubungkan Injil tersebut dengan pengalaman nyata sesuai tema Teen Time saat itu, dilanjutkan dengan sharing anggota, mengambil inti sari dan ditutup dengan doa penutup. Tidak hanya mengadakan pertemuan rutin, tetapi PIR juga berpartisipasi dalam EKR (Ekaristi Kaum Remaja) setiap dua bulan sekali.

PIR Kotabaru memiliki kepengurusan yang diketuai oleh R. Afiral Devian Rangga B. PIR Kotabaru didampingi oleh OMK Kotabaru. Dalam sebuah blog berjudul Lentera Jiwa (Erika, 2013: 1), komunitas PIR Kotabaru pernah mengadakan sebuah acara bertemakan “Lentera Jiwa”. Acara ini bertujuan untuk mempererat keakraban anggota komunitas PIR Kotabaru sehingga semakin yakin akan kemampuan komunitas untuk terus mengobarkan semangat kristiani sebagai remaja Katolik. Sasarannya adalah anggota komunitas PIR Kotabaru (Erika, 2013: 3).

b. PIA (Pendamping Iman Anak)

(30)

setiap hari Jumat pukul 18.00 WIB yang diawali dengan berdoa ala PIA, dilanjutkan dengan membahas siapa yang dapat mendampingi adik-adik PIA pada hari Minggu dan membahas tentang EKA (Ekaristi Anak) kemudian ditutup dengan doa penutup. Selain pertemuan rutin antar pendamping, PIA Kotabaru juga mendampingi adik-adik PIA secara bergiliran setiap hati Minggu pukul 08.30-10.00. Kegiatan tersebut berlangsung di perpustakaan GKS Widya Mandala.

PIA juga pernah mengadakan kegiatan bertemakan HAN (Hari Anak Nasional) yang diadakan di auditorium IPPAK Sanata Dharma. Tujuan dari kegiatan itu adalah mengakrabkan anak-anak PIA yang berada di paroki dan sekolah-sekolah Katolik di sekitar Kotabaru. Sasarannya adalah anak-anak PIA dan anak-anak Katolik yang berada di sekolah Katolik [Lampiran 10: (14)].

c. PATEMON (Paguyuban TV Monitor)

Menurut hasil wawancara dengan Laurentius Anang Widi Prakosa yang telah menjadi anggota PATEMON selama satu tahu, PATEMON Kotabaru memiliki 23 anggota yang aktif. PATEMON bertugas mensyuting, mengontrol TV dan monitor yang ada di sudut-sudut Gereja agar umat terbantu dalam mengikuti misa kudus.

(31)

d. OMK (Orang Muda Katolik)

Veronika Dwi Lestari menyatakan bahwa OMK Kotabaru memiliki kegiatan rutin setiap bulan yang bernama Savari Lingkungan. Kegiatan ini bertujuan untuk menggugah OMK agar peka pada lingkungan sekitar. Sasarannya adalah OMK Kotabaru. Ketua OMK Kotabaru adalah Yuyus Kurniado [Lampiran 13: (16)].

e. Organis

Menurut hasil wawancara dengan seorang anggota komunitas organis Kotabaru yang bernama Yulius Frendi Pradinato yang sudah bergabung dalam organis Kotabaru selama kurang lebih 2,5 tahun, organis Kotabaru seringkali mengadakan acara pertemuan bersama apabila mendekati hari raya-hari raya besar, seperti Natal, Paskah, Rabu Abu, dan tri hari suci. Temanya adalah hari raya, dengan tujuan untuk mengkoordinasi atau membagi tugas pengiring dalam setiap koor pada hari raya. Sasarannya adalah anggota organis Kotabaru [Lampiran 10: (13)].

f. PDKK (Persekutuan Doa Karismatik Katolik)

PDKK Kotabaru memiliki anggota kurang lebih 50 orang. Komunitas ini berada di bawah asuhan romo paroki Kotabaru. Pertemuan komunitas ini diadakan setiap Selasa pukul 18.00 di GKS Widya Mandala lantai dua. Langkah-langkah kegiatannya sesuai dengan ritus ibadat Gereja Katolik.

(32)

Maria. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan iman kepercayaan dalam perantaraan Bunda Maria ibu Yesus, dengan sasaran anggota PDKK Kotabaru [Lampiran 14: (17)].

g. Komunitas 25+

Berdasarkan dari sebuah website www.komunitas25plus.org, komunitas 25+ adalah komunitas yang memberikan wadah bagi anggota Gereja yang sudah bekerja dan di atas usia OMK. Komunitas ini memiliki 23 anggota yang didampingi oleh Romo Kepada Gereja St. Antomius Kotabaru. Komunitas ini mengadakan pertemuan sebulan sekali sesuai dengan kesepakatan yang dikoordinasi oleh sekretaris komunitas 25+ yaitu Yohanes Indun .S. Pertemuan dilaksanakan di GKS Widya Mandala dengan langkah-langkah sebagai berikut: doa bersama, membahas kegiatan yang akan dilakukan, ngobrol santai dan ditutup doa. Komunitas ini juga seringkali mengadakan kegiatan salah satunya adalah ziarah ke Gua Maria Tritis pada tanggal 8 Desember 2013. Kegiatan ini bertema “Wisata Rohani spesial edisi Advent” dengan tujuan untuk menghormati Bunda Maria dan mengakrabkan setiap anggota. Sasarannya adalah anggota komunitas 25+ Kotabaru (Adhi Wiraswata, 2014: 2).

h. PAPITA (Putra-putri Altar)

(33)

silaturahmi antara PAPITA St. Antonius Kotabaru dengan PAPITA St. Yusup Cirebon. Sasarannya adalah anggota PAPITA St. Antonius Kotabaru dan St. Yusup Cirebon.

Komunitas-komunitas tersebut adalah komunitas yang masih berjalan aktif sampai 3 tahun terakhir ini. Salah satu komunitas yang juga masih aktif sampai sekarang adalah PDKK (Persekutuan Doa Karismatik Katolik). Kegiatan yang didirikan dengan susah payah dan mengalami pasang surut ini ternyata tidak hanyut dan hilang begitu saja, sebaliknya malahan semakin berkembang dari hari ke hari, terlihat dari perkembangan jumlah anggota yang hadir dalam setiap kegiatan PDKK berlangsung. Mereka sangat antusias menyambut semua orang yang datang untuk bergabung dalam kegiatan doa di komunitas PDKK ini.

B. PERSEKUTUAN DOA KHARISMATIK KATOLIK DI KOTABARU Persekutuan Doa Karismatik Katolik St. Antonius Kotabaru bukanlah suatu kegiatan yang didirikan hanya untuk mengisi waktu luang. Kegiatan ini sengaja didirikan untuk mengembangkan iman umat melalui Roh Kudus, maka dari itu, kegiatan PDKK memiliki struktur organisasi yang lengkap sesuai dengan fungsinya masing-masing. Selain itu, PDKK juga memiliki sejarah bagaimana berdirinya PDKK di Gereja St. Antonius Kotabaru dengan berbagai kesulitan dan tantangan yang dihadapinya.

1. Struktur Organisasi Persekutuan Doa Karismatik Katolik di Kotabaru selama 3 Tahun Terakhir

(34)

yang diberi kepercayaan untuk mengelola PDKK sehingga organisasi ini dapat terus berlanjut sampai saat ini, bahkan selalu berkembang setiap tahunnya. Bapak Beni Susanto koordinator PDKK Kotabaru menyatakan bahwa struktur organisasi Persekutuan Doa Karismatik Katolik Paroki Gereja St. Antonius Kotabaru adalah sebagai berikut [Lampiran 15: (18)]:

 

• Koordinator memiliki tugas untuk mengecek semua personil yang dibutuhkan dalam setiap kegiatan PDKK.

• Wakil koordinator memiliki peran membantu pekerjaan koordinator.

• Sekretaris memiliki tanggung jawab untuk mencatat setiap kegiatan dan jumlah orang yang hadir setiap kegiatan.

• Bendahara memiliki peran untuk menghitung jumlah anggaran yang keluar dan masuk.

Koordinator:

Bapak Benny Susanto

Sie

Ibu Tini Indrayati

(35)

• Sie liturgi bertanggung jawab untuk mempersiapkan segala hal saat PDKK bertugas di Gereja.

• Sie konsumsi selalu bersiap menyediakan makanan untuk setiap kegiatan karismatik dan setiap setelah iabadat karismatik.

• Sie pelayanan memiliki peran untuk mempersiapkan dan bertanggung jawab saat PDKK akan melaksanakan suatu kegiatan pelayanan.

• Sie pemerhati, bertanggungjawab untuk memperhatikan berjalannya kegiatan. • Sie terima tamu, bertanggung jawab untuk mempersilakan semua anggota

PDKK yang baru datang dalam suatu kegiatan.

• Sie perkab, bertanggung jawab atas seluruh sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam setiap kegiatan termasuk saat ibadat karismatik.

2. Sejarah Persekutuan Doa Karismatik Katolik di Kotabaru

(36)

tentang kegiatan tersebut pada tanggal 9 Januari 1983 di gereja St. Antonius Kotabaru. Kemudian, pada hari Selasa (11 Januari 1983), pertemuan perdana Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK) dilaksanakan di Gedung Widya Mandala (Ben, 1999: 121).

Dalam perjalanan selanjutnya, terjadi jatuh bangun pada Persekutuan Doa Karismatik Katolik Kotabaru. Umat yang hadir hanya terlihat banyak kalau ada acara besar seperti HUT PDKK atau Natal dan Paskah saja, sedangkan pada kegiatan rutin hanya sedikit yang hadir. Hal tersebut jadi terasa membosankan. Akhirnya, untuk menanggapi dan sebagai jalan keluar dari permasalahan tersebut, Bapak Frans Hudoro (salah satu anggota PDKK) mulai mengadakan pendekatan pada tiap pribadi untuk mengenalkan visi dan misi PDKK. Tidak hanya itu, ternyata Roh Kudus mengalir di tengah mereka dengan menggerakkan PDKK Bunda Elisabeth Puren dengan pembimbing Sr. Eligia, CB untuk membantu. Alhasil, PDKK St. Antonius Kotabaru perlahan-lahan terlihat perkembangannya, dan semakin dikenal oleh umat lain (Ben, 1999: 121).

Melihat perjalanan PDKK St. Antonius Kotabaru sampai saat ini, tampak bahwa ada semangat dan motivasi dalam diri para tokoh dan atau para pemimpin tim serta anggota PDKK St. Antonius Kotabaru, sehingga masih mau bergabung dan ikut serta dalam kegiatan PDKK. Adapun semangat dan motivasi PDKK (Ben, 1999: 122)adalah:

a. Mengalami kuasa Allah secara pribadi dalam hidup. Sentuhan kasih-Nya lewat kuasa Roh Kudus dialami secara khusus. Situasi ‘mengalami’ kasih Allah yang pribadi, memotivasi dirinya untuk mengajak orang lain agar ikut mengalami kasih Allah yang khusus dan pribadi.

(37)

c. Kerinduan berkumpul untuk memuji dan memuliakann Tuhan. Membalas kasih Tuhan dengan pujian dan penyembahan, yang dilakukan dengan bebas, baik itu dalam pertobatan, permohonan, maupun ungkapam syukur. d. Adanya kesaksian otentik dari beberapa peserta yang mengalami sendiri

sentuhan kasih Allah, yang sifatnya menguatkan atau meneguhkan iman. e. Kerinduan untuk mengalami pencurahan Roh Kudus, terutama karunia

penyembuhan.

f. Keinginan untuk mengalami pembaharuan hidup iman. Persekutuan Doa Karismatik Katolik dirasakan sebagai salah satu wadah untuk meningkatkan kualitas hidup iman.

g. Reaksi-reaksi yang positif dari umat yang belum mengenal Persekutuan Doa Karismatik Katolik terhadap kelompok doa ini, setelah melihat buah-buahnya yang baik. Kemudian termotivasi untuk mengenal lebih dekat apa itu Persekutuan Doa Karismatik Katolik, dan terlibat di dalamnya.

3. Kegiatan yang Dilakukan Persekutuan Doa Karismatik Kotabaru (PDKK) selama 1 Tahun Terakhir

Persekutuan Doa Karismatik Katolik adalah suatu lembaga yang bersatu dengan Gereja. Lembaga ini berdiri untuk membantu umat dalam menemukan kesejatian Tuhan dalam doa. Persekutuan Doa Karismatik Katolik di Gereja St. Antonius Kotabaru adalah salah satu bukti konkret bahwa tidak semua karismatik itu menentang ajaran Katolik. PDKK ini, menggunakan ritus-ritus yang masih mempertahankan tradisi Katolik yaitu dengan ritus ibadat. Selain itu, PDKK ini juga membuktikan bahwa mereka berdiri untuk berbagi kasih dengan sesama. PDKK tidak hanya berkumpul untuk ibadat, berdoa dan memuji Tuhan, tetapi mereka juga merancang kegiatan-kegiatan yang secara konkret dapat membantu orang-orang yang memang membutuhkan bantuan secara materi.

(38)

selesai kegiatan PDKK), bakti sosial, Doa Taize, Doa Yesus, Sharing, Doa Rosario bersama (selama bulan Maria dan bulan Rosario), Praise and Worship, Pelayanan Doa, dan Retret Hidup Baru dalam Roh Kudus (Retret Awal) yang diadakan dua tahun sekali, kira-kira bulan September dan Februari. Dalam retret ini peserta diajak untuk mengalami dan merasakan kembali cinta kasih dari Allah dan pembaharuan hidup dalam Roh Kudus. Kegiatan lain yang juga dilakukan oleh PDKK adalah pendampingan PIA, berkunjung ke panti asuhan, ziarah bersama, liburan bersama, tugas Koor di Gereja St. Antonius Kotabaru dan Kebangunan Rohani Katolik (KRK).

Semua kegiatan tersebut dilakukan secara bergantian sepanjang tahun sesuai dengan situasi yang tepat seperti bulan Rosario dan bulan Maria. PDKK (Persekutuan Doa Karismatik Katolik) St. Antonius Kotabaru selalu berusaha melakukan sesuatu yang terbaik bagi anggotanya dan bagi semua orang yang membutuhkan pelayanan, terutama bagi perkembangan Gereja untuk meningkatkan keaktifan hidup menggereja khususnya di Gereja At. Antonius Kotabaru, Yogyakarta [Lampiran 15: (19)].

4. Langkah-langkah Pertemuan Persekutuan Doa Karismatik Katolik di Kotabaru

Seperti yang telah diuraikan di atas, kegiatan doa dalam komunitas PDKK menggunakan ritus ibadat, jadi langkah-langkah yang terjadi dalam Persekutuan Doa Karismatik Katolik juga menggunakan model ibadat, walaupun seringkali PDKK mengundang pastor untuk datang memberikan Ekaristi.

(39)

dimulai. Lagu-lagu yang dipilih juga menggambarkan semangat dalam Roh Kudus.

Dalam pelaksanaan PDKK, lagu-lagu memang lebih mendominasi. Lagu-lagu tersebut dipimpin oleh pemandu acara dan dilakukan secara bersama-sama dengan semua anggota yang hadir dengan gerakan-gerakan tubuh yang lebih bebas berekspresi. Langkah-langkah dalam PDKK di Gereja St. Antonius Kotabaru dapat dibandingkan dengan Pusat Musik Liturgi (2009: 287).

¾ Lagu pujian

Lagu pujian digunakan sebagai lagu pembukaan kegiatan doa. Pada saat lagu pujian, umat dipimpin oleh pemandu acara menyanyikan dua lagu yang dipilih.

¾ Doa pembukaan

Doa pembukaan dilakukan oleh pemandu dengan diiringi instrument, kemudian dilanjutkan dengan lagu penghantar tobat.

¾ Doa tobat

Doa tobat menggunakan rumusan doa “Saya Mengaku”, yang didoakan bersama-sama.

¾ PA (Pemandu Acara)

Pemandu acara Menghantar umat untuk mengungkapkan syukur kepada Allah secara spontan (secara bergantian).

¾ Penyembahan

(40)

¾ Firman

Pada saaat firman, maka salah seorang akan maju ke depan membacakan Injil (bila tidak ada imam) dilanjutkan dengan renungan dan kesaksian (dapat diisi sharing pengalaman).

¾ Kolekte diiringi dengan lagu persembahan ¾ Lagu penghantar doa umat

Lagu penghantar doa umat dinyanyikan bersama-sama. ¾ Doa umat

Doa umat dilakukan dengan spontan dari seluruh umat secara bergantian, dan disinilah juga terjadi nubuat dan orang yang merasa menerima nubuat tersebut, akan mendaraskannya dengan suara lantang sehingga semua umat bisa mendengarkan.

¾ Doa Bapa Kami bersama-sama yang dilanjutkan Doa Salam Maria. ¾ Pengumuman dari sie Liturgi.

¾ Penutupan dengan lagu pujian yang dinyanyikan bersama-sama. ¾ Perjamuan Kasih

Perjamuan kasih adalah acara makan bersama yang selalu dilakukan setelah kegiatan doa berakhir.

C. PENELITIAN TENTANG PERANAN MENGIKUTI KEGIATAN

PERSEKUTUAN DOA KARISMATIK KATOLIK DI PAROKI ST. ANTONIUS KOTABARU TERHADAP KEAKTIFAN ANGGOTA DALAM HIDUP MENGGEREJA

(41)

tersebut, maka dengan penelitian ini diharapkan dapat menjawab keraguan umat dan meneguhkan anggota PDKK untuk semakin berkembang dalam hidup menggereja.

Untuk mengetahui situasi umum kegiatan persekutuan doa karismatik Katolik di paroki St. Antonius Kotabaru, penulis akan mengadakan sebuah penelitian terlebih dahulu. Metodologi penelitian yang akan penulis lakukan adalah sebagai berikut:

1. Tujuan penelitian

a. Mengetahui gambaran sejauh mana peserta Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK) aktif dalam hidup menggereja.

b. Mencari jawaban bagaimana peranan mengikuti Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK) terhadap keaktifan dalam hidup menggereja.

2. Manfaat penelitian

a. Mendapatkan gambaran keaktifan anggota Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK) dalam hidup menggereja.

b. Mengetahui Peranan mengikuti Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK) terhadap keaktifan dalam hidup menggereja.

3. Jenis penelitian

(42)

kebelakang untuk melihat faktor-faktor yang dapat menimbulkan kejadian tersebut (Jamal, 2011:190).

4. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode survai. Sebelum melaksanakan penelitian, penulis melakukan metode survai dengan datang pada saat kegiatan doa PDKK dilaksanakan. Penulis melaksanakan metode survai ini selama 1 bulan dengan 4 kali pertemuan. Metode survai cocok dilakukan oleh penulis karena metode ini dapat dilakukan pada penelitian populasi besar maupun kecil. Adapun tujuannya adalah mengumpulkan informasi tentang variabel dari sekelompok obyek/populasi (Jamal, 2011: 44).

5. Tempat dan waktu pelaksanaan

Penulis melaksanakan penelitian ini di Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK) Gereja St. Antonius Kotabaru Keuskupan Agung Semarang yang diadakan setiap hari Selasa pukul 18.00 WIB di Gedung Widya Mandala. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2013 pada saat kegiatan PDKK sedang berlangsung.

6. Responden Penelitian

Responden penelitian adalah seluruh anggota Persekutuan Doa Karismatik Katolik St. Antonius Kotabaru. Populasi penelitian adalah anggota PDKK di

(43)

yang akan diteliti oleh penulis berjumlah 30 orang karena sebagian anggota PDKK adalah orang lansia (orang tua lanjut usia) yang sudah sulit untuk

membaca dan menulis.

Pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik purposive sampling. Menurut Sutrisno Hadi (1982: 91) dalam purposive sampling, pemilihan sekelompok subjek didasarkan atas ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu yang dipandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya. Responden yang dipilih adalah anggota PDKK yang masih dapat membaca dan menulis dengan lancar. Dengan kriteria tersebut, maka ada 30 responden yang memenuhi krtiteria sebagai responden.

7. Instrumen Penelitian

Jenis instrumen yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah skala Likert. Sugiono (2010: 134) menyatakan bahwa skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Sesuai dengan penelitian yang dilaksanakan yaitu mengukur pengaruh PDKK terhadap keterlibatan anggotanya dalam hidup menggereja.

(44)

8. Variabel Penelitian

Kisi-kisi variabel peranan mengikuti kegiatan kharismatik di Kotabaru terhadap keaktifan anggota dalam kegiatan menggereja adalah sebagai berikut:

Tabel 1 Variabel penelitian

No Variabel Aspek Indikator Jumlah item

(1) (2) (3) (4) (5)

1. Mampu mengetahui

pengertian Persekutuan Doa Kharismatik Katolik.

2. Mampu memahami proses

pelaksanaan kegiatan PDKK 3. Mampu memiliki kepekaan

akan apa yang terjadi dalam PDKK.

4. Mampu bersyukur akan segala rahmat Tuhan melalui pelayanan pada sesama.

1,2,3,

1. Memiliki pengertian apa itu Gereja.

2. Memiliki kepekaan terhadap apa yang terjadi dan apa yang ada di dalam Gereja.

3. Mampu dan mau menjadi

pewarta kabar gembira di tengah masyarakat dan menjadi contoh bagi orang lain.

4. Mampu melakukan perubahan

dari hidup yang kurang baik ke hidup yang lebih baik (rekonsiliasi).

16,17,18 19,20,21

22,23,24,25

26,27,28,29,30

Jumlah item keseluruhan 30

9. Teknik Pengumpulan Data

(45)

bahwa tujuan pengelompokkan tersebut adalah untuk menemukan arti data dengan menarik hubungan-hubungan sesuai permasalahan yang ingin dijawab dalam penelitian.

D. HASIL PENELITIAN

Dalam bagian ini, penulis akan memaparkan hasil dari penelitian yang telah dilaksanakan.

1. Gambaran Peranan Mengikuti Kegiatan Persekutuan Doa Karismatik Katolik di Paroki Santo Antonius Kotabaru Keuskupan Agung Semarang Terhadap Keaktifan Anggota dalam Hidup Menggereja

Gambaran Peranan Mengikuti Kegiatan Persekutuan Doa Karismatik Katolik di Paroki Santo Antonius Kotabaru Keuskupan Agung Semarang terhadap Keaktifan Anggota Dalam Hidup Menggereja adalah mengenai pengertian Persekutuan Doa Karismatik Katolik, proses pelaksanaan kegiatan PDKK, kepekaan akan apa yang terjadi dalam PDKK, dan kemampuan bersyukur akan segala rahmat Tuhan yang diterima pada melalui pelayanan pada sesama.

Tabel 2

Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK) (N=30)

No

Item Pernyataan Alternatif jawaban Jumlah

Persen (%)

(1) (2) (3) (4) (5)

1. Persekutuan Doa Karismatik Katolik

(PDKK) adalah sarana yang digunakan untuk mengembangkan iman kepada Kristus.

(4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju

12

2. PDKK selalu mengutamakan peranan

Roh Kudus.

(4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju

(46)

(1) (2) (3) (4) (5)

3. Semua anggota Karismatik dapat

mendaraskan Bahasa Roh.

(4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju

1

4. Kegiatan PDKK menggunakan

banyak lagu dengan gerakan sebagai ungkapan iman.

(4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju

6

5. Kegiatan PDKK menggunakan

kerangka ibadat.

(4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju

9

6. Doa umat selalu mengikutsertakan

umat untuk dengan spontan mengungkapkan doanya.

(4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju

10

7. Dapat mempersiapkan kegiatan

PDKK.

(4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju

3

8. Kegiatan PDKK membuat orang

semakin merindukan Tuhan.

(4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju

9. Dengan mengikuti kegiatan PDKK,

umat semakin rajin ke Gereja.

(4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju

10. Saya merasakan Roh Kudus

benar-benar hadir dalam PDKK.

(4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju

10

11. PDKK membuat saya menjadi lebih

peduli terhadap lingkungan sekitar.

(4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju

6

12. Saya dapat menjadi Pemandu Umat

dalam kegiatan PDKK.

(4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju

1

13. PDKK mendorong saya untuk lebih

melayani sesama saya yang membutuhkan bantuan.

(4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju

6

14. Saya mau menjadi relawan. (4) Sangat setuju

(3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju

2

15. Saya mau memberi sumbangan

kepada korban bencana alam.

(4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju

(47)

Hasil penelitian menyatakan bahwa kebanyakan dari responden memilih setuju untuk hampir semua pernyataan dari nomor 1 sampai 13. Pada item 1, ada 18 responden yang memilih setuju (60%). Hal tersebut menyatakan responden yakin bahwa PDKK adalah sarana untuk mengembangkan iman umat. Hal ini positif karena tidak ada yang memilih kurang setuju (0%) dan tidak setuju (0%).

Pada item 2, terdapat 16 responden yang memilih setuju (53,3%), namun ada 1 responden yang tampak ragu-ragu dan memilih kurang setuju (3,3%) dengan pernyataan tersebut. Dilihat dari persentase yang ada, secara garis besar, responden setuju dengan pernyataan PDKK selalu mengutamakan peranan Roh Kudus.

Pada pernyataan di item 3, ada 19 responden yang memilih jawaban kurang setuju (63,3%), 1 responden menjawab tidak setuju (3,3%) Hal tersebut menunjukkan bahwa secara garis besar responden kurang menyetujui akan pertanyaan bahwa semua anggota PDKK dapat mendaraskan bahasa Roh.

Pada item ke-4, ada 22 responden yang memilih jawaban setuju (73,3%), dan

tidak ada yang memilih tidak setuju (0%), maka dapat disimpulkan bahwa responden setuju dengan pernyataan item nomor 4 yaitu kegiatan PDKK

menggunakan banyak lagu dengan gerakan sebagai ungkapan iman.

Ada 20 responden yang memilih jawaban setuju (66,7%) untuk item nomor 5

dan 1 responden menjawab kurang setuju (3,3%). Hasil tersebut menunjukkan bahwa secara keseluruhan responden setuju pada pernyataan kegiatan PDKK

menggunakan kerangka ibadat. Walaupun ada yang tampak ragu-ragu.

(48)

(0%). Dari hasil tersebut menunjukkan responden setuju bahwa doa umat selalu

mengikutsertakan umat untuk dengan spontan mengungkapkan doanya. Dan responden juga sudah turut serta dalam doa umat secara spontan.

Pada item nomor 7, ada 19 responden yang setuju (63,3%) bahwa mereka

dapat mempersiapkan kegiatan PDKK dan ada 2 orang yang tidak menyanggupinya (6,7%). Dengan begitu berarti secara keseluruhan responden

dapat mempersiapkan kegiatan PDKK.

Item nomor 8 sungguh mendapatkan respon dari responden, karena ada 19

orang yang menyatakan setuju (63,3%) dan tidak ada satupun responden yang ragu-ragu dan tidak setuju (0%). Hal tersebut menunjukkan semua responden

setuju bahwa kegiatan PDKK membuat orang semakin merindukan Tuhan. Semua responden merasakan kerinduan tersebut.

Semua responden menyetujui item nomor 9 yaitu dengan mengikuti PDKK, umat semakin rajin ke Gereja. Ada yang yakin, bahkan sangat yakin yaitu 24 orang menyatakan yakin (80%) dan 6 responden yang sangat yakin (20%). Hal tersebut memperlihatkan bahwa responden merasa dengan mengikuti PDKK, semakin termotivasi untuk pergi ke Gereja.

Selanjutnya, pada item nomor 10, ada 20 responden yang setuju (66,7%) bahwa mereka merasakan Roh Kudus benar-benar hadir dalam PDKK. Bahkan ada 10 responden yang sangat yakin dengan pernyataan tersebut (33,3%).. Semua merasakan bahwa Roh Kudus benar-benar hadir di tengah mereka saat PDKK.

(49)

lingkungan sekitar. Namun, ada 1 responden merasa ragu-ragu dan 1 responden tidak terdorong untuk peduli pada lingkungan sekitar dengan mengikuti PDKK. Secara garis besar, responden setuju dengan pernyataan bahwa PDKK membuat saya menjadi lebih peduli terhada lingkungan sekitar.

Item nomor 12, menyatakan bahwa responden dapat menjadi pemandu dalam PDKK. Memang ada yang menyadari diri bahwa mereka kurang mampu untuk menjadi seorang pemandu dalam PDKK namun ada 19 responden yang setuju bahwa mereka dapat menjadi pemandu dalam PDKK (63,3%), dan ada 1 orang yang sangat setuju dan yakin bahwa dia dapat menjadi pemandu dalam PDKK.

Pada item nomor 13, responden tampak antusias dengan pernyataan bahwa PDKK mendorong responden untuk lebih melayani sesama yang membutuhkan bantuan. Ada 24 reponden yang menyatakan setuju (80%) dan 6 responden yang sangat setuju (20%).

Pada item nomor 14, ada 23 responden menyatakan mau dan setuju untuk menjadi relawan (76,7%), dan ada 2 orang yang sangat setuju untuk menjadi relawan (6,7%). Akhirnya, pada item nomor 15, ada 26 responden yang setuju (86,7%) untuk memberikan sumbangan pada korban bencana alam, dan tidak ada satupun responden yang ragu-ragu atau tidak setuju untuk memberikan sumbangan (0%). Semuanya mendukung untuk memberikan sumbangan pada korban bencana alam.

2. Keaktifan dalam Hidup Menggereja

(50)

dalam hidup menggereja. Untuk mengetahui seberapa besar peranan PDKK (Persekutuan Doa Karismatik Katolik) terhadap keaktifan anggota dalam hidup menggereja, maka penulis akan memaparkan secara kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan dan gagasan) dan sikap (aksi konkret) tentang keaktifan anggota dalam hidup menggereja. Di bawah ini akan diuraikan tentang hasil dari penelitian yang telah dilaksanakan oleh penulis terhadap 30 anggota Persekutuan Doa Karismatik Katolik di St. Antonius Kotabaru:

Tabel 3

Pengertian Gereja dan Kepekaan terhadap Segala Hal di dalam Gereja N=30

No

Item Pernyataan Alternatif jawaban Jumlah

Persen (%)

(1) (2) (3) (4) (5)

16. Gereja adalah gedung dimana

umat Katolik menjalankan kewajiban agamanya.

(4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju

17. Persekutuan umat yang percaya

kepada Kristus disebut Gereja.

(4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju

18. Gereja dapat digunakan untuk

mencari penghasilan.

(4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju

19. Saya merasa Yesus masuk ke

dalam hati saya ketika saya makan Hosti.

(4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju 20. Damai sejahtera ada di dalam hati

saya sepulang dari Gereja.

(4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju

13

21. Yesus hadir dalam Konsekrasi

pada Doa Syukur Agung.

(4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju Pada item nomor 16, ada 26 responden yang menyatakan setuju (76,7%)

dengan pernyataan Gereja adalah gedung dimana umat Katolik menjalankan

(51)

Kemudian, pada item nomor 17, terdapat 17 responden yang menyatakan

setuju (56,7%) dengan pernyataan bahwa persekutuan umat yang percaya kepada

Kristus disebut Gereja. Dan tidak ada satupun responden yang memilih tidak

setuju (0%). Secara keseluruhan maka dapat dikatakan bahwa responden setuju

dengan pernyataan pada item 17.

Selanjutnya, ada 20 responden yang menyatakan tidak setuju (66,7%), dan 1

responden setuju (3,3%) dengan pernyataan pada item 18 bahwa Gereja dapat

digunakan untuk mencari penghasilan. Berarti, secara garis besar, responden

merasa tidak setuju dengan pernyataan tersebut, karena responden merasa gereja

adalah tempat untuk beribadah.

Pada item nomor 19, terdapat 22 responden yang menjawab sangat setuju (73,3%) dan Tidak ada responden yang meragukan adan tidak merasakan kehadiran Yesus (0%). Hal tersebut menunjukkan bahwa semua responden benar-benar merasakan Yesus yang masuk ke dalam hati ketika makan Hosti.

(52)

Tabel 4

Kemampuan dan Kemauan Menjadi Pewarta Kabar Gembira di Tengah Masyarakat dan Menjadi Contoh Bagi Orang Lain

N=30 No

Item Pernyataan Alternatif jawaban Jumlah

Persen (%)

(1) (2) (3) (4) (5)

22. Berani membuat tanda salib di

manapun saya berada.

(4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju

23. Berdoa menjadi keutamaan dalam

menjalani aktivitas hidup sehari-hari.

(4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju 24. Berpartisipasi dalam kegiatan Gereja

untuk mempersiapkan calon komuni pertama.

(4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju 25. Ikut serta dalam kerja bakti di

Gereja untuk menyambut Paskah.

(4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju

Pada item 22, ada 19 responden menyatakan sangat setuju untuk berani

membuat tanda salib di manapun berada (63,3%). Namun ada 1 responden yang

kurang berani untuk membuat tanda salib dimanapun dia berada (3,3%). Pada

item 23, ada 16 responden merasa sangat setuju (53,3%) dan 14 responden yang

merasa setuju (46,7%) bahwa berdoa menjadi keutamaan dalam menjalani

aktivitas hidup sehari-hari. Tidak ada responden yang meragukan pernyataan

tersebut dan tidak setuju. Hal ini menunjukkan bahwa semua responden

menjadikan berdoa sebagai keutamaan dalam menjalani aktivitas.

Kemudian, pada item 24, ada 16 responden menyatakan setuju (53,3%) dan 2

(53)

semua responden mampu berpartisipasi dalam kegiatan gereja dengan cara

mempersiapkan calon komuni pertama. Hal tersebut memang memerlukan bekal

yang cukup banyak. Namun sebagian besar menyatakan setuju untuk

berpartisipasi. Pada item 25, ada 25 responden setuju (83,3%) untuk ikut serta

dalam kerja bakti menyambut Paskah, dan 1 responden tidak setuju (3,3%) karena

merasa tidak sanggup yang disebabkan faktor usia dan kesehatan yang semakin

menurun.

Tabel 5

Kemampuan melakukan perubahan dari hidup yang kurang baik ke hidup yang lebih baik (rekonsiliasi)

N=30

No

Item Pernyataan Alternatif jawaban Jumlah

Persen (%)

(1) (2) (3) (4) (5)

26. Saya adalah anggota Gereja yang

peka.

(4) Sangat setuju (3) Setuju (2)Kurang setuju (1) tidak setuju

2

27. Berani meminta maaf kepada orang

yang disakiti.

(4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju

28. Perubahan tingkah laku saya

membuahkan kedamaian di tengah masyarakat tempat saya tinggal.

(4) Sangat setuju (3) Setuju

29. Ada dukungan dari lingkungan

sekitar saya yang membuat saya rajin ke Gereja.

(4) Sangat setuju (3) Setuju (2)Kurang setuju (1) tidak setuju

2

30. Saya mengaku dosa dan

melaksanakan penitensi tobat saya secara konkret.

(54)

sudah menjadi anggota Gereja yang peka, hal tersebut berarti 2 responden tersebut bukanlah anggota Gereja yang peka.

Selanjutnya, pada item 27, terdapat 17 responden menyatakan setuju (56,7%) bahwa mereka berani meminta maaf kepada orang yang disakiti. Tidak ada responden yang memilih jawaban tidak setuju (0%)

Pada item 28, ada 21 responden yang setuju (70%) dengan pernyataan bahwa perubahan tingkah lakunya dapat membawa kedamaian kepada masyarakat tempat dia tinggal. Ternyata PDKK membuat tingkah laku mereka berubah dan membawa kedamaian bagi masyarakat mereka. Namun, ada 2 responden yang kurang setuju (6,7%) karena mereka belum mengalami perubahan tingkah laku yang membawa kedamaian. Secara keseluruhan, responden setuju bahwa dengan ikut PDKK, responden bisa membawa kedamaian bagi masyarakat, walaupun ada beberapa yang belum mengalaminya.

Kemudian, pada item 29, terdapat 20 responden menyatakan setuju (66,7%)

bahwa mereka mendapatkan dukungan dari lingkungan tempat tinggalnya

sehingga dapat membuat mereka untuk rajin ke gereja dan 2 responden tidak setuju (6,7%). Pada item yang terakhir yaitu item 30, ada 17 responden yang

menyatakan setuju (56,7%). Hal tersebut berarti mereka mengaku dosa dan

melaksanakan penitensi tobatnya secara konkret dalam kehidupannya. Namun, ada 1 responden yang tidak setuju (3,3%) jadi responden ini kemungkinan tidak

pernah mengaku dosa dan tidak pernah menjalankan penitensi tobatnya secara

(55)

E. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Setelah mengetahui hasil penelitian dari 30 responden, maka penulis akan

menguraikan pembahasan dari hasil penelitian di atas sebagai berikut:

1. Gambaran Peranan Mengikuti Kegiatan Persekutuan Doa Karismatik Katolik di Paroki St. Antonius Kotabaru Keuskupan Agung Semarang Terhadap Keaktifan Anggota Dalam Hidup Menggereja

Hasil pada tabel 2 menunjukkan bahwa rata-rata anggota sudah memiliki pengetahuan tentang PDKK. Anggota kebanyakan sudah mengetahui bahwa PDKK adalah sarana yang digunakan untuk mengembangkan iman. Hal itu terbukti ada 18 (60%) anggota menyetujui pernyataan tersebut, dan ada 12 (40%) anggota yang sangat setuju. Para anggota juga menyadari bahwa PDKK selalu mengutamakan peranan Roh Kudus di dalam setiap kegiatannya. Ada 16 (53,3%) anggota sangat merasakan karya Roh Kudus tersebut. Namun ada 1 anggota meragukan peranan Roh Kudus dalam setiap kegiatan PDKK. Sebaiknya diberikan penjelasan lebih lanjut agar seluruh anggota benar-benar yakin bahwa Roh Kudus datang dan menaungi dalam setiap kegiatan PDKK.

(56)

tentang bahasa roh. Kegiatan PDKK yang menggunakan ritus ibadat memang berbeda dengan ibadat yang biasa kita lakukan. Dalam PDKK terdapat banyak gerak dan lagu yang dinyanyikan bersama-sama. Para anggota sangat mengetahui hal tersebut berdasarkan pengalaman mereka mengikuti PDKK, terbukti dengan adanya 22 (66,7%) anggota mengalami hal tersebut, namun ada 2 (6,7%) anggota yang ragu-ragu. Kesimpulannya, 2 anggota ini perlu mengikuti PDKK dengan lebih rajin lagi.

PDKK menggunakan kerangka ibadat dalam pelaksanaan kegiatannya. 20 (66,7%) anggota telah mengetahuinya dengan baik, namun ada 1 (3,3%) anggota yang meragukannya, maka sebaiknya anggota diberikan susunan acara dalam setiap kegiatan, sehingga menyadari bahwa PDKK menggunakan kerangka ibadat untuk mempertahankan kekatolikannya. Dalam kegiatannya, PDKK selalu mengikutsertakan anggota dalam doa umat. Ada 20 (66,7%) anggota yang menyatakan bahwa mereka ikut ambil bagian dan 10 (33,3%) anggota sangat antusias dalam berpartisipasi.

Kegiatan PDKK selalu tampak dipersiapkan dengan baik dalam setiap

kegiatannya. Hal tersebut dirasakan oleh anggota. Ada 19 (63,3%) anggota yang

menyatakan dapat mempersiapkan kegiatan PDKK dengan baik, namun ada 2

(6,7%) anggota yang menyatakan tidak dapat mempersiapkan kegiatan PDKK.

Sebenarnya, cara mempersiapkan ibadat PDKK dapat dipelajari, maka sebaiknya

diberikan pelatihan bagi yang ingin berlatih mempersipakan kegiatan PDKK.

Dalam setiap kegiatannya, PDKK tidak pernah kehilangan anggotanya, para

(57)

kegiatan ini. Semua anggota merasakan hal yang sama, terlihat dari hasil

penelitian ada 19 (63,3%) anggota yang merindukan Tuhan dan bahkan 11

(36,7%) anggota sangat merindukan Tuhan dengan mengikuti kegiatan PDKK.

Kesimpulannya, kegiatan ini perlu dilestarikan, diteruskan untuk mengembangkan

Gereja.

Akibat dari kerinduan mendalam kepada Tuhan, 24 (80%) anggota menyatakan bahwa mereka semakin rajin ke Gereja, dan bahkan 6 (20%) anggota menjadi rajin sekali ke Gereja. Hal yag dapat dipetik adalah bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi umat dan mendorong mereka untuk lebih dekat dengan Tuhan dalam persekutuan sebagai Gereja. Anggota PDKK juga merasakan Roh Kudus yang sama seperti yang diterima oleh para rasul. Dalam setiap kegiatan PDKK, 20 (66,7%) anggota merasakan kehadiran Roh Kudus di tengah mereka, dan 10 (33,3%) anggota sangat percaya dan merasakan kehadiran Roh Kudus itu. Kesimpulannya, Roh kudus benar-benar bekerja dan berkarya di tengah umat manusia, khususnya Gereja.

PDKK tidak berhenti pada doa saja, namun juga berlanjut pada tindakan nyata dalam keseharian. 22 (73,3%) anggota merasa digerakkan oleh Roh Kudus untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar, namun sungguh disesalkan ada 1 (3,3%) anggota yang tidak menjadi lebih peka dengan lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa Roh Kudus berkarya pada ladang yang telah siap ditanam, namun tidak akan berbuah jika seseorang itu belum menyiapkan ladangnya untuk karya Roh Kudus. Setiap orang harus belajar membuka diri bagi Tuhan.

(58)

anggota, ada 19 (63,3%) anggota menyatakan siapa untuk menjadi seorang PA dan bahkan ada 1 (3,3) anggota yang sangat siap. Hal ini menunjukkan besarnya minat dan keinginan anggota untuk terjun sebagai anggota yang aktif ikut menghidupkan PDKK, hal itu sungguh sangat baik untuk dikembangkan. Melayani ada suatu tindakan yang diajarkan oleh Yesus sendiri. para anggota PDKK, sangat menyadari hal itu terbukti ada 24 orang terdorong untukk melayani sesama dan bahkan 6 anggota sangat terdorong untuk melayani dan membantu sesama yang menderita.

PDKK telah memberikan pengaruh baik bagi para anggotanya. Walaupun mereka adalah orang tua, namun apabila ada musibah, 23 (76,7%) mereka siap menjadi relawan. Dan 2 orang bahkan sangat siap. Dan mereka juga mau memberikan sumbangan secara sukarela. Anggota PDKK menyadari bahwa membantu sesama ada sesuatu yang diajarkan Yesus tanpa andang bulu. Ada 26 (86,7%) anggota bersedia membantu dan memberikan sumbangan kepada korban bencana alam dan 4 (13,3%) anggota sangat siap memberikan sumbangan.

2. Keaktifan dalam Hidup Menggereja

(59)

Rata-rata anggota sangat mengetahui bahwa persekutuan umat yang percaya kepada Yesus disebut Gereja. Hal ini terbukti dengan adanya 17 (56,7%) anggota yang mengetahui hal itu. Namun, ada 3 (10%) anggota yang masih meragukan pernyataan tersebut. Perlu diberikan suatu pertemuan dalam PDKK yang dengan tema Gereja, sehingga semakin memperkuat keyakinan setiap anggota Gereja tentang jati dirinya. Sebagaimana makna Gereja sebagai persekutuan umat beriman, maka hampir semua anggota PDKK menyatakan tidaklah baik jika Gereja dipandang sebagai tempat untuk mencari penghasilan. Namun ada 1 (3,3%) yang memandang Gereja sebagai temapt mencari penghasilan. Ini sangat disayangkan dan diperlukan bantuan dari anggota PDKK lainnya untuk menyadarkan dan memberikan pemahaman tentang Gereja.

Anggota PDKK menyadari dan percaya bahwa hosti yang diterima saat misa kudus adalah Yesus sendiri. 18 (60%) anggota benar-benar merasakan Yesus yang memasuki hati mereka saat menyambut hosti, dan bahkan 12 (43,3%) anggota sungguh sangat merasakan Yesus. Damai yang diberikan Yesus begitu nyata dalam hati umatnya, apalagi sepulangnya kita dari perayaan ekaristi. Hampir semua anggota PDKK merasakan damai Tuhan. Terbukti ada 16 (53,3%) anggota menyetujui pernyataan tersebut karena mengalami hal serupa, namun sayangnya, masih ada 1 (3,3%) orang anggota yang meragukan damai Yesus atau mungkin meragukan datangnya kedamaian yang dari Yesus sendiri.

(60)

suatu pertemuan untuk membahas tentang ekaristi yang menjadi kehidupan bagi umat Katolik.

Selanjutnya, tabel 4 menunjukkan bahwa anggota PDKK sudah memiliki kemampuan dan kemauan menjadi pewarta kabar gembira di tengah masyarakat dan menjadi contoh bagi orang lain. Hal ini dibuktikan dengan adanya 19 (63,3%) anggota PDKK yang sangat berani untuk membuat tanda salib di manapun mereka berada, tanpa malu-malu. Namun memang ada 1 (3,3%) anggota PDKK yang masih ragu-ragu untuk membuat tanda salib di tempat umum. Sebagai anggota PDKK mereka semua menyadari bahwa doa adalah bagian dari hidup mereka. Hal ini tampak dengan adanya 16 (53,3%) anggota yang sangat menjadikan doa sebagai keutamaan dalam menjalani aktivitas hidup sehari-hari, didukung dengan 14 (46,3%) anggota yang juga menyetujui hal itu.

PDKK sebagai bentuk hidup menggereja juga ikut membantu dalam kegiatan menggereja lainnya. Anggota PDKK menyadari hal itu dengan adanya 16 (53,3%) anggota yang mau berpartisipasi dalam mempersiapkan calon komuni pertama, namun memang ada 2 (6,7%) anggota yang tidak mau membantu dalam persiapan komuni pertama, dikarenakan faktor usia. Selain itu, pada saat menjelang Paskah, umat sebagai Gereja mengadakan kerja bakti untuk membersihkan lingkungan gereja. Anggota PDKK juga menyadari hal itu dan mau ikutserta di dalamnya. Hal ini dibuktikan dengan ada 25 (83,3%) anggota yang menyatakan kesanggupannya ikut kerja bakti, namun memang ada 1 (3,3%) anggota yang tidak mau, diduga karena faktor usia.

(61)

yang lebih baik (rekonsiliasi). Rata-rata anggota sudah menjadi anggota Gereja yang peka. 22 (73,3%) anggota menyatakan perubahannya, namun memang ada 2 (6,7%) anggota yang masih belum bias berubah lebih peka. Diperlukan adanya pelatihan untuk mengasah hati agar lebih peka kepada orang lain. Di samping kepekaan, dengan mengikuti PDKK juga para anggota belajar untuk memaafkan orang lain. Hampir semua anggota sudah dapat melakukannya. Ada 17 (56,7%) anggota yang sudah dapat melakukannya, namun ada 1 (3,3%) anggota yang masih ragu-ragu untuk mencoba.

Perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik biasanya membuahkan kedamaian di lingkungan sekitar. Begitu pula yang dirasakan dan dialami oleh anggota PDKK. 21 (70%) anggota PDKK sudah merasakan hal itu, walaupun ada 2 (6,7%) anggota yang masih ragu-ragu.

Lingkungan yang baik akan menghasilkan manusia yang baik pula. Begitu juga dengan anggota PDKK. 20 (66,7%) dari mereka menyatakan bahwa keadaan lingkungan mereka sangat mendukung mereka untuk rajin ke Gereja, dan mereka merasakan hal itu. Namun, ada 2 (6,7%) anggota PDKK yang menyatakan bahwa sebenarnya lingkungan mereka tidak mendukung untuk rajin ke gereja. Dari pernyataan tersebut terdapat hal positif bahwa walaupun kondisi lingkungan tidak mendukung rajin ke Gereja, 2 orang ini tetap rajin ke Gereja.

(62)
(63)

 

BAB III

KARISMATIK KATOLIK DALAM GEREJA

Sakramen babtis mempersatukan umat Katolik dengan Tritunggal Mahakudus. Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus bersemayam dalam seseorang yang telah dibabtis, oleh karena itu, seseorang yang sudah dibabtis juga mengemban tiga tugas pokok Yesus, Putra Allah sebagai nabi (mewartakan), imam (menguduskan) dan raja (memimpin dan mempersatukan).

Melakukan tiga tugas pokok sebagai nabi, imam dan raja bukanlah hal yang mudah, namun dengan bimbingan dari Roh Kudus tugas pokok sangat mungkin dilakukan. Seorang beriman dapat melakukan tugas tersebut dalam berbagai bentuk atau kegiatan yang mendukung terwujudnya tiga tugas itu.

Sebagai umat Katolik rahmat yang diberikan oleh Allah Bapa ini berperan untuk mengembangkan Gereja. Rahmat ini digunakan sebagai dasar hidup menggereja dalam koinonia (persekutuan), leiturgia (liturgi), kerygma

(pewartaan), diakonia (pelayanan) dan martyria (kesaksian). Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK) memiliki peranan dalam mewujudkan kelima bentuk hidup menggereja tersebut dengan segala kegiatannya.

A. KARISMATIK KATOLIK

Figur

Tabel 1  Variabel penelitian
Tabel 1 Variabel penelitian . View in document p.44
Gambaran Peranan Mengikuti Kegiatan Persekutuan Doa Karismatik Katolik
Gambaran Peranan Mengikuti Kegiatan Persekutuan Doa Karismatik Katolik . View in document p.45
Tabel 3  Pengertian Gereja dan Kepekaan terhadap Segala Hal di dalam Gereja
Tabel 3 Pengertian Gereja dan Kepekaan terhadap Segala Hal di dalam Gereja . View in document p.50
Tabel 4
Tabel 4 . View in document p.52
Tabel 5  Kemampuan melakukan perubahan dari hidup yang kurang baik ke hidup
Tabel 5 Kemampuan melakukan perubahan dari hidup yang kurang baik ke hidup . View in document p.53

Referensi

Memperbarui...