BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tembakau yang telah dicacah (Triswanto, 2007). bahan lainnya yang dihasilkan dari tanaman Nicotin Tobacum, Nicotiana Rustica

17 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Rokok

2.1.1 Pengertian rokok

Rokok adalah slinder dari kertas berukuran panjang antra 70 hingga 120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah (Triswanto, 2007).

Rokok adalah hasil olahan tembakau berbungkus termasuk cerutu atau bahan lainnya yang dihasilkan dari tanaman Nicotin Tobacum, Nicotiana Rustica

lainya atau sintesisnya yang mengandung nikotin dan tar dengan atau bahan tambahan (Tendra, 2003).

2.1.2 Bahan baku rokok

Rokok terbuat dari tembakau yang diperoleh dari tanaman Nicotiana Tabacum L. Tembakau dipergunakan sebagai bahan untuk sigaret, cerutu, temabakau untuk pipa serta pemakaian oral. Di Indonesia temabakau ditambah cengkih dan bahan-bahan lain dicampur untuk dibuat rokok kretek. Selain kretek, temabakau juga dapat digunakan sebagai rokok linting, rokok putih, cerutu, pokok pipa, dan tembakau tanpa asapa atau tembakau kunyah (Triswanto, 2007).

2.1.3 Bahan-bahan Kimia yang Terkandung dalam Rokok

Rokok mengandung 4000 lebihjenis bahan kimia, 40 jenis diantaranya bersifat karsinogenik (dapat menyebabkan kanker), dan setidaknya 200 diantaranya berbahaya bagi kesehatan (Triswanto, 2007). zat-zat beracun yang terdapat dalam rokok antara lain adalah sebagai berikut:

(2)

2.1.3.1 Nikotin

Nikotin yaitu zat atau bahan senyawa porilidin yang terdapat dalam

Nicotoana Tabacum, Nicotiana Rustica dan spesies lainnya yang sintesisnya bersifat adiktif dan dapat mengakibatkan ketergantungan. Nikotin yang tergantung didalam asap rokok antara 0,5-3 mg, dan semuanya diserap , sehingga didalam cairan ndarah atau plasma antara 40-50 mg/ml. Nikotin juga memiliki karakteristik efek ediktif dan psikoaktif. dalam jangka panjang, nikotin akan menekan kemampuan otak untuk mengalami kenikmatan, sehingga perokok akan selalu membutuhkan kadar nikotin yang semakin tinggi untuk mencapai tingkat kepuasan dan ketagihannya. Nikotin ini dapat meracuni saraf tubuh, meningkatkan tekanan darah, menyempitkan pembuluh perifer dan menyebabkan ketagihan atau serta ketergantungan pada pemakainnya.

2.1.3.2. Karbon Monoksida (CO)

Gas kabon Monoksida (CO) adalah sejenis gas yang tidak memiliki bau. Gas ini bersifat toksis yang bertentangan dengan oksigen dalam transpor maupun penggunaannya dan menyebabkan kadar oksigen dalam darah berkurang. Gas CO yang dihasilkan sebatang rokok dapat mencapai 3-6%, sedangkan CO yang dihisap oleh perokok paling rendah sejumlah 400 ppm (Paris per million) sudah dapat meningkatkan kadar karboksi haemoglobin dalam darah sejumlah 2-16%. 2.1.3.3 Tar

Tar adalah senyawa polinuklin hidrokarbon aromatika yang bersifat karsinogenik. Dengan adanya kandungan tar yang beracun ini, sebagian dapat merusak sel paru karena dapat lengket dan menempel pada jalan nafas dan

(3)

paru-paru sehingga menimbulkan iritasi pada saluran nafas, menyebabkan bronchitis, kanker nasofaring dan kanker paru. Pada saat rokok dihisap, tar masuk kedalam rongga mulut sebagai uap padat asap rokok. setelah dingin akan menjadi padat dan membentuk endapan berwarna coklat pada permukaan gigi, saluran pernafasan dan paru-paru. pengendapan ini bervariasi antara 3-40 mg perbatang rokok, sementara kadar dalam rokok berkisar 24-45 mg.

2.1.3.4 Amoniak

Amoniak adlah gas yang tidak berwarna yang terdiri dari nitrogen dan hidrogen zat ini merupakan salah satu bahan pembuat cairan pembersih toilet. Karena kerasnya racun yang ada pada amoniak sehingga jika masuk kedalam peredaran darah akan mengakibatkan seseorang pingsan atau koma.

2.1.3.4 Hidrogen sianida (HCN)

Hidrogen sianida merupakan sejenis gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan tidak memiliki rasa. Zat ini merupakan zat yang paling ringan, mudah terbakar. Jika masuk kedalam tubuh, HCN akan menghalangi pernafasan dan merusak saluran pernafasan.

2.1.3.6 Fenol

Fenol adalah campuran dari kristal yang dihasilkan dari distilasi beberapa zar organik seperti kayu dan arang, serta diperoleh dari tar arang. Zat ini beracun dari membahayakan karena fenol ini terikat keprotein dan menghalangi aktivitas enzim.

(4)

2.1.3.7 Hidrogen Sulfida

Hidrogen sulfida adalah sejenis gas yang beracun yang gampang terbakar dengan bau yang keras. Zat ini mengahalangi oksidasi enzim (zat besi yang berisi pigmen).

2.1.3.8 Kadmium

Radmium adalah salah satu bahan beracun pembuat batu baterai. Jika masuk kedalam tubuh manusia, Zat ini dapat meracuni jaringan tubuh terutama ginjal. 2.1.3.9 Formaldehida

Formaldehida adalah sejenis gas tidak berwarna dengan bau tajam. Gas ini tergolong sebagai pengawet dan membasmi hama. Gas ini juga sangat beracun keras terhadap semua organisme hidup.

2.2 Perilaku Merokok 2.2.1 Perilaku

Perilaku adalah segala tindakan yang dilakukan oleh manusia yang mencakup kegiatan motoris dan juga aktifitas atau kegiatan yang bersifat praktis atau jiwani.

Kalangie (1994: 87) mengatakan bahwa perilaku merupakan tindakan atau kegiatan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang untuk kepentingan atau pemenuhan kebutuhan tertentu berdasarkan pengetahuan, kepercayaan, nilai, dan norma kelompok yang bersangkutan.

Krakteristik perilaku ada dua macam yaitu perilaku terbuka dan perilaku tertutup. Perilaku terbuka adalah perilaku yang dapat diketahui oleh orang lain tanpa menggunakan alat bantu. Perilaku tertutup adalah perilaku yang hanya dapat

(5)

dimengerti dengan menggunakan alat atau metode tertentu misalnya berpikir, sedih, berkhayal, bermimpi, takut.

Perilaku merupakan perwujudan dari adanya kebutuhan. Perilaku dikatakan wajar apabila ada penyesuaian diri yang harus diselaraskan peran manusia sebagai makhluk individu, sosial dan berketuhanan.

Sehubungan dengan perilaku manuasia ada empat faktor yang mempengaruhi perilaku yaitu :

2.2.1.1 Faktor genetik

Keturunan diartikan sebagai pembawaan yang merupakan karunia dari Tuhan Yang Maha Esa. Teori tentang keturunan disampaikan oleh Gragor Mendel yang dikenal dengan hipotesa genetik. Teori Mendel menyatakan bahwa :

a. Tiap sifat makhluk hidup dikendalikan oleh faktor keturunan. b. Tiap pasangan merupakan penentu alternatif bagi keturunannya.

c. Pada waktu pembentukan sel kelamin, pasangan keturunan memisah dan menerima pasangan faktor terbuka.

Dalam keturunan terdapat empat azas yaitu :

a. Azas reproduksi yaitu kecakapan dari ayah atau ibu tidak dapat diturunkan kepada anakn ya karena kecakapan merupakan hasil belajar tiap individu. b. Azas variasi yang penurunan sifat dari orang tua pada keturunanya terdapat

variasi baik kualitas maupun kuantitas.

c. Azas regresi fillial yaitu adanya penyusustan siafat-sifat orang tua yang diturunkan kepada anaknya.

(6)

d. Azas jenis menyilang yaitu apa yang diturunkan yaitu apa yang diturunkan kepada anak mempunyai sasaran menyolang.

e. Azas konfromitas yaitu setiap individu akan menyerupai ciri-ciri yang diturunkan oleh kelompok rasnya.

2.2.1.2 Faktor lingkungan

Lingkungan dalam pengertian psikologi adalah segala apa yang berpengaruh pada diri individu dalam perilaku. Lingkungan turut berpengaruh terhadap perkembangan pembawaan dan kehidupan manusia. Lingkungan dapat digolongkan :

a. Lingkungan manusia. Yang termasuk dalam lingkungan ini adalah keluarga, sekolah dan masyarakat, termasuk didalamnya kebudayaan, agama, taraf kehidupan dan sebagainya.

b. Lingkungan benda yaitu benda yang terdapat dijiwa manusia yang turut memberi warna pada jiwa manusia yang berbeda disekitarnya.

c. Lingkungan geografis. Latar geografis turut mepengaruhi corak kehidupan manusia.

Lingkungan sosial manusia menerima , mempertahankan dan melanjutkan warisan hasil ciptaan manusia sebelumnya. Hasil ciptaan manusia dapat juga dinyatakan dalam bentuk adat, tari-tarian. Lingkungan sebagai faktor yang mepengaruhi bagi pengembangan sifat dan perilaku individu mulai mengalami dan mengecap alam dan sekitarnya.

(7)

2.2.2 Alat Ukur Perilaku 2.2.2.1 Pengetahuan

pengetahuan adalah hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Tanpa pengetahuan seseorang tidak mempunyai dasar untuk mengambil keputusan dan menentukan tindakan terhadap masalah yang dihadapi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang:

a. Faktor Internal : faktor dari dalam dari sendiri, misalnyaintelegensi, minat, kondisi fisik.

b. Faktor Eksternal : faktor dari luar diri, misalnya keluarga, masyarakat, sarana.

c. Faktor pendekatan belajar: faktor upaya belajar, misalnya strategidan metode dalam pembelajaran.

2.2.2.2 Sikap

Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Ada tiga komponen pokok:

a. Kepercayaan (keyakinan), ide, konsep terhadap suatu objek. b. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek. c. kecenderungan untuk bertindak.

sikap terdiri dari berbagai tingkatan: a. Menerima

Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (obyek).

(8)

b. Merespon

memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.

c. Menghargai

Megngajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tga.

d. Bertanggung jawab

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang paling tinggi.

2.2.2.3 Praktik atau Tindakan

Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan. Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan yang nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas dan faktor dukungan praktik ini mempunyai beberapa tingkatan:

a. Persepsi

Mengenal dan memilih berbagai objek sepengaruh dengan tindakan yang akan diambil adalah merupakan praktik tingkat pertama.

b. Respon terpimpin

Dapat melakukan sesuatu dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh adalah merupakan indikator praktik tingkat kedua.

(9)

c. Mekanisme

Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan, maka ia sudah mencapai praktik tingkat tiga.

2.2.3 Perilaku Merokok

Perilaku merokok merupakan hal biasa dijumpai perokok berasal dari berbagai kelas sosial dan kelompok umur yang berbeda. hal ini mungkin mungkin disebabkan karena rokok dengan mudah dan dapat diperoleh dimanapun dan kapanpun.

2.2.4 Tipe Perilaku Merokok

Menurut Smet (1994) ada 3 tipe perokok yang diklasifikasikan berdasarkan banyaknya rokok yang dihisap. tiga tipe tersebut adalah perokok berat, perokok sedang dan perokok ringan. Dikatakan perokok berat ketika seseorang menghisap rokok 15 batang rokok dalam sehari. Perokok sedang ringan merupakan perokok yang menghisap 1-4 batang rokok dalam sehari.

Mu’tadin (2002) menggolongkan tipe perilaku merokok berdasarkan tempat dimana seseorang menghisap rokok menjadi dua golongan.

a Merokok di tempat-tempat umum/ruang publik

kelompok homogen (sama-sama perokok), secara bergerombol mereka menikmati kebiasaan mereka merokok. Umumnya mereka masih menghargai orang lain karena mereka menempatkan diri di smoking area.

Sedangkan kelompok yang heterogen (merokok di tengah-tengah orang lain yang tidak merokok, anak kecil, orang jompo, orang sakit, dll).

(10)

b Merokok di tempat-tempat yang bersifat pribadi

tempat yang bersifat pribadi contohnya kantor dan kamar tidur pribadi. Perokok memilih tempat-tempat seperti ini digolongkan sebagai individu yang kurang menjaga kebersihan diri dan slalu gelisah. Selain itu, toilet yang menjadi salah satu tempat merokok. perokok jenis ini dapat digolongkan sebagai orang yang suka berfantasi.

Silvan dan tomkins dalam Mu’tadin (2002) menambahkan terdapat empat tipe perilaku merokok yang berdasarkan pada managemen of affect theory, yaitu :

2.2.4.1 Tipe perokok yang dipengaruhi oleh perasaan positif

1. Pleasure relaxation. Perilaku merokok hanya menambah atau meningkatkan kenikmatan yang sudah didapat, misalnya merokok setelah minum kopi atau makan.

2. Simulation to pick them up. Perilaku merokok hanya dilakukan sekedarnya untuk menyenagkan perasaan.

3. Pleasure of handling the cigarette. Kenikmatan yang diperoleh dari memegang rokok.

2.2.4.2 Perilaku merokok yang dipengaruhi perasaan negatif

Banyak orang yang merokok untuk menguranggi perasaan negatif dalam dirinya. Mereka menghisap rokok agar terhindar dari perasaan yang tidak enak, misalnya merokok apabila marah, cemas, gelisah.

(11)

2.2.4.3 Perilaku merokok yang adiktif

Perokok yang sudah adiksi akan menambah dosis rokok yang dihisap setiap efek rokok yang telah dihisapnya berkurang.

2.2.4.4 Perilaku merokok yang sudah menjadi kebiasaan.

Mereka menggunakan rokok sama sekali bukan untuk mengendalikan perasaan mereka, tetapi karena merokok sudah menjadi kebiasaan.

2.2.5 Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku merokok

Menurut Lewin dalam komasari dan Helmi (2000) mengatakan bahwa perilaku merokok disebabkan oleh faktor diri sendiri dan faktor lingkungan. sedangkan Mu’tadin (2002) mengemukakan faktor-faktor yang menyebabkan seseorang merokok, yaitu:

2.2.5.1 Pengaruh Orang tua

Seseorang yang bersal dari keluarga yang konservatif (keluarga yang menjaga dan memperhatikan anak-anaknya) lebih sulit untuk terlibat dengan rokok. Sedangkan seseorang yang berasal dari keluarga yang premitif (keluarga yang tidak terlalu menjaga anknya dan menerima perilaku anak ) cenderung akan mudah untuk terlibat dengan rokok.

2.2.5.2 Pengaruh Teman Sebaya

Kajian telah menunjukkan bahwa remaja mempunyai kawan-kawan yang merokok adalah lebih mungkin merokok berbanding dengan yang sebaliknya. Banyak orang terdorong menjadi perokok pemula karena menyesuaikan diri pada sebuah komunitas pergaulan. Rokok membuat mereka merasa lebih terima oleh banyak orang .

(12)

2.2.5.3 Faktor Kepribadian

Orang mencoba untuk merokok karena alasan ingin tahu atau ingin melepaskan diri dari rasa sakit dan kebosanan. Secara kepribadian, kondisi mental yang sedang menurun seperti stres, gelisah, takut, kecewa, dan putus asa sering mendorong orang untuk menghisap asap rokok. Mereka merasa lebih tenang dan lebih mudah melewati masa-masa sulit setalh merokok. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa ada 2 hal dari rokok yang memberi efek tenang, yaitu nikotin dan isapan rokok.

2.2.5.4. Pengaruh Iklan

Iklan merupakan media informasi yang dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menarik para konsumen atau khalayak secara sukarela terdorong untuk melakukan suatu tindakan sesuai dengan yang diiinginkan pengiklanan. Banyaknya iklan rokok di media cetak, elektronik dan media luar ruang telah mendorong rasa ingin tahu penonton termasuk remaja tentang produk rokok. 2.3. Dampak resiko remaja merokok

Kerugian yang ditimbulkan dari perilaku merokok sangat banyak bagi kesehatan tapi sayangnya masi saja banyak orang yang tetap memilih untuk menikmatinya. Dalam asap rokok terdapat 4000 zat kimia berbahaya untuk kesehatan, dua diantaranya adalah nikotin yang bersifat adiktif dan tar yang bersifat karsiogenik.

Sebagaimana halnya berbagai aktivitas, merokok ada dampak yang ditimbulkannya, baik dampak positif maupun dampak negatif. Namun jika kita kaji lebih dalam merokok banyak mengandung dampak negatifnya dibanding

(13)

dampak positifnya. Meskipun demikian, jumlah perokok tiap tahunnya semakin meningkat.

2.3.1 Dampak Negatif

Sebenarnya jika kita mengetahui apa yang dihasilkan dari merokok adalah suatu hal yang belum jelas ada manfaatnya bahkan tidak ada manfaatnya terlebih lagi dari segi kesehatan, merokok sangat berbahaya bagi kesehatan. Dalam bungkus rokok itu sendiri dicantumkan peringatan pemerintah bahwa merokok dapat menyebabkan serangan jantung, paru-paru, kanker, impotensi serta gangguan kehamilan dan janin. Dibawah ini akan disampaikan kerugian dari merokok antara lain:

a Rokok mengandung 4000 jenis bahan racun yang berbahaya bagi kesehatan, antara lain yang telah dikenal baik adalah karbon monoksida (co) yang bisa mematikan, nikotin yang mendorong pengapuran jantung dan pembuluh darah, tar yang dapat menyumbat dan mengurangi fungsi saluran nafas dan menyebabkan kanker, serta berbagai racun pada hati, otak dan pembentuk kanker.

b Rokok menurunkan konsentrasi, misalnya sewaktu mengemudi dan berpikir. c Rokok menurunkan kebugaran.

d Rrokok bukan hanya meracuni para perokok sendiri, namun juga orang disekitarnya (sebagai perokok pasif) dengan bahaya yang sama.

e Rokok menimbulkan ketergantungan dan perasaan kehilangan sesuatu. Kalau rokok tidak tersedia, yang berakibat pada penurunan prestasi belajar dan bekerja.

(14)

f Rokok memboroskan

g Rokok dapat menyulut kebakaran (PMI, 1996: 40)

Selain beberapa hal di atas juga ada bebrapa kerugian lainnya dari merokok yaitu:

a Merokok dapat menyebabkan penyakit pada alat pencernaan. b Merokok meningkatkan tekanan darah.

c Merokok meningkatkan prevalensi gondok.

d Merokok dapat menyebabkan gangguan pada pembuluh darah. e Merokok dapat memperpendek usia.

f Merokok menghambat buang air kecil.

g Merokok menimbulkan amblyopia atau penglihatan menjadi kabur. h Merokok bersifat adiksi (ketagihan)

i Merokok membuat lebih cepat tua dan memperburuk wajah.

j Rokok penyebab polusi udara dalam ruangan.(Sitepoe, 2000: 38-41)

Beberapa kerugian atau dampak negatif tentang merokok yang telah disampaikan di atas sebenarnya lebih memperjelas bahwa merokok itu banyak sekali kerugiannya. Sering kita dengar istilah merokok dapat menyebabkan kematian, sebenarnya merokok bukan penyebab kematian melainkan merokok dapat memicu suatu penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Begitu banyaknya kerugian yang ditimbulkan akibat merokok semoga saja para perokok menyadari akan kerugian-kerugian itu dan meninggalkan aktivitas merokok. 2.4. Pencegahan Merokok

(15)

pemberian informasi tentang bahaya merokok bagi kesehatan. program tersebut berdasarkan asumsi bahwa jika kaum muda tahu mengapa merokok itu tidak sehat, maka mereka tidak akan memilih menjadi perokok. program pencegahan yang menekankan resiko kesehatan jangka panjang yang dihubungkan dengan merokok lebih efektif pada dewasa, sedangkan remaja lebih cenderung berorientasi saat ini daripada yang akan datang. Ada dua pendekatan psikososial untuk pencegahan merokok yaitu :

a Pendekatan pengaruh sosial ( social influences approach )

Pendekatan pengaruh sosial didasarkan pada asumsi bahwa model tersebut adalah faktor yang utama dalam memulai perilaku merokok dan bahwa anak-anak dan remaja perlu diajari cara menahan tekanan sosial terhadap merokok. Kebanyaan tekanan sosial terhadap merokok datang dari orang tua, saudara kandung, teman dan media.

b Pendekatan melatih cara menghadapi kehidupan ( life skills training approach )

Pendekatan ini didasarkan pada asumsi bahwa yang menyebabkan merokok dan bentuk lain penggunaan zat-zat tertentu adalah kurangnya intelegensi personal dan sosial. Beberapa defisit personal yang bisa membuat seseorang lebih peka terhadap penggunaan zat-zat tertentu adalah rendah diri, kurangnya komunikasi dan sosialisasi, kurangnya motivasi untuk berprestasi, dan kurangnya strategi yang kuat mengahadapi stres. 2.5 Remaja

(16)

gampang orang mendefinisikan remaja sebagai periode transisi antara masa anak-anak ke masa dewasa, atau disebut juga usia belasan. Hurlock (1999: 206) menyatakan bahwa “secara psikologis masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa”.

Remaja merupakan peralihan antara masa kehidupan anak dan orang dewasa. Masa remaja atau masa adolesensi adalah suatu fase perkembangan yang dinamis dalam kehidupan seorang individu. Masa ini merupakan periode transisi dari masa anak-anak ke masa dewasa yang ditandai dengan percepatan perkembangan fisik, mental, emosional dan sosial dan berlangsung pada dekade kedua masa kehidupan (pardede, 2002).

Berdasarkan kronologi dan berbagai kepentingan, terdapat beberapa defenisi tentang remaja (Soetjiningsih, 2004) yaitu:

a Pada buku -buku pediatric, pada umumnya mendefeniasikan remaja adalah apabila seorang anak telah mencapai umur 10-18 tahun untuk anak perempuan dan 12-20 tahun untuk anak laki-laki.

b Menurut Undang-Undang no. 4 tahun 1979 mengenai kesejahteraan anak, remaja adalah individu yang belum mencapai 21 tahun dan belum menikah. c Menurut Undang-Undang perburuhan, anak dianggap remaja apabila telah

mencapai umur 16-18 tahun dan sudah menikah dan mempunyai tempat untuk tingga

d Menurut Undang-Undang perkawinan No. 1 tahun1979, anak dianggap remaja apabila cukup matang untuk menikah, yaitu umur 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun untuk anak laki-laki.

(17)

e Menurut Diknas anak dianggap remaja apabila anak sudah berumur 18 tahun, yang sesuai saat lulus sekolah menengah.

f Menurut WHO, remaja bila anak mencapai umur 10-18 tahun.

Remaja dalam tumbuh kembangnya menuju dewasa, berdasarkan kematangan psikososial sosial, akan melewati tahap berikut: masa remaja awal/dini (early adolescence) umur 12-15 tahun, masa remaja pertengahan (middle adolescence) umur 15-18 tahun, masa remaja lanjut (Late adolescence) umur 19-22 tahun (Soetijiningsih, 2004).

Menjadi perokok berat merupakan hasil dari proses eksperimen yang umumnya dimulai sejak masa remaja. Mula-mula individu mencoba merokok, merasakan tekanan rekan sebaya untuk merokok, dan mengembangkan sikap tentang seperti apa seorang perokok. Setelah melalui proses-proses tersebut, barulah individu menentukan apakah akan mengkonsumsi nikotin atau tidak. dalam proses tersebut peran teman sebaya menjadi lebih penting mengingat akan tahapan perkembangan remaja yang menitik beratkan pada penerimaan dari rekan sebaya. Berbagai faktor meliputi fisiologis, psikologis, dan faktor-faktor sosial menjadi alasan seseorang remaja menjadi perokok (Sentika, 2008)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :