SUPERVISI AKADEMIK DAPAT MENINGKATKAN KOMPETENSI GURU MELAKSANAKAN PROSES PEMBELAJARAN. Oleh Zainuddin*

Teks penuh

(1)

SUPERVISI AKADEMIK DAPAT MENINGKATKAN KOMPETENSI GURU MELAKSANAKAN PROSES PEMBELAJARAN

Oleh Zainuddin*

Abstrak

Supervisi akademik berpengaruh kepada kegiatan membantu guru dalam mengembangkan pembelajaran baik dalam menyusun perencanaan, melaksanakan dan melakukan penilaian pembelajaran serta melakukan tindak lanjut hasil penilaian berupa pembimbingan siswa, baik dilakukan melalui kunjungan kelas, bimbingan individu dan kelompok guru sebagai sebuah tanggung jawab dalam mencapai keberhasilan pembelajaran di sekolah. Pelaksanaan supervisi akademik yang baik akan menghasilkan output yang baik pula. Pembelajaran yang dilaksanakan dengan baik akan berdampak pada peningkatan prestasi peserta didik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui upaya meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran kelas dan untuk mengetahui Supervisi Akademik yang dilakukan kepala sekolah kepada guru dapat meningkatkan kualitas pembelajaran kelas pada SD Negeri 28 Peusangan Kabupaten Bireuen. Adapun tehnik dalam penelitian ini adalah melaksanakan kunjungan kelas, memberikan saran perbaikan baik dalam merencanakan, melakanakan, dan mengevaluasi pembelajaran dengan pendekatan persuasif, kemampuan guru di sekolah dapat ditingkatkan dan memperoleh hasil yang sangat memuaskan. Penelitian Tindakan ini dilaksanakan di SD Negeri 28 Peusangan terhadap 10 orang guru SD Negeri 28 Peusangan Kabupaten Bireuen dengan merencanakan, melaksanakan, observasi dan refleksi terhadap kemampuan guru dalam pembelajaran diperoleh hasil yaitu: yaitu (Pra Siklus) ; tidak ada guru dengan katagori Sangat Baik, 1 orang Baik, 7 orang Cukup, dan 2 orang Kurang baik. (Siklus 1) ; 5 guru berada pada kagori Baik, dan 5 orang Cukup, (Siklus 2) ; 3 orang guru Sangat Baik, 6 orang guru Baik, 1 orang Cukup dan tidak ada lagi guru yang berada pada katagori Kurang Baik.

Kata Kunci : Supervisi Akademik, Meningkatkan, Kompetensi Guru.

PENDAHULUAN

Supervisi Akademik merupakan salah satu dimensi kompetensi Kepala Sekolah sesuai dengan Permendiknas Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah, dimensi kompetensi supervisi. Supervisi yang harus dilakukan Kepala Sekolah adalah supervisi akademik, yaitu serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran demi pencapaian tujuan pembelajaran.

Supervisi akademik berpengaruh kepada kegiatan membantu guru dalam mengembangkan pembelajaran baik dalam hal membuat perencanaan, melaksanakan dan melakukan penilaian pembelajaran serta melakukan tindak lanjut hasil penilaian berupa pembimbingan siswa, baik dilakukan melalui

kunjungan kelas, bimbingan individu dan kelompok guru sebagai sebuah bertanggung jawab dalam mencapai keberhasilan pembelajaran di sekolah. Pelaksanaan supervisi akademik yang baik akan menghasilkan output yang baik pula. Pembelajaran yang dilaksanakan dengan baik akan berdampak pada peningkatan prestasi siswa.

Di SD Negeri 28 Peusangan Kabupaten Bireuen yang memiliki sasaran supervisi sebanyak 10 orang guru, kenyataan menunjukkan bahwa berbagai kekurangan guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan evaluasi pembelajaran, dari 10 orang guru yang sudah disupervisi ternyata 85 % diantaranya, guru-guru memiliki kelemahan dan kekurangannya, guru-guru merasa takut, segan, gundah dan merasa tidak nyaman

(2)

mengajar ketika pertama kali dilaksanakan supervisi oleh kepala sekolah, bahkan ketika program ini disosialisasi, para guru ini terkejut mendengar akan ada supervisi akademik dilakukan.

Sebagai Kepala Sekolah dengan tanggung jawab tertentu dapat merobah kesan takut, segan, gundah dan merasa tidak nyaman mengajar secara perlahan-lahan dapat berobah menjadi butuh kepada supervisi akademik yang dilakukan secara berkelanjutan serta melakukan berbagai perbaikan dalam merencanakan, melaksanakan pembelajaran, dan melaksanakan evaluasi pembelajaran di kelas, serta melaksanakan tindak lanjut hasil evaluasi berupa upaya peningkatakan hasil pembelajaran baik dalam hal perbaikan dan pengayaan.

Supervisi akademik telah memperoleh hasil yang memuaskan guru, aktifitas belajar menjadi hidup dan berkembang, peran serta siswa meningkat, proses pembelajaran menjadi lebih menarik, terjadi perbaikan yang signifikan dalam meningkatkan aktifitas siswa, pengembangan pembelajaran dalam hal ekplorasi, elaborasi dan komfirmasi belajar siswa dapat lebih meningkat. Dari 10 orang guru yang disupervisi selama semester terakhir aktifitas pembelajaran yang dilaksanakan guru di kelas dapat meningkat hanya 6 s/d 7 orang guru dengan perkembangan sedikit lambat, 3 s/d 4 orang lainnya dapat meningkatkan proses pembelajaran yang sesuai harapan. Program supervisi ini telah menumbuhkan kepercayaan diri guru dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas, sehingga ditentukan sebagai suatu pembinaan yang terus menerus, dengan tindakan “Supervisi Akademik Dapat Meningkatkan Kompetensi Guru Melaksanakan Proses Pembelajaran”.

Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana meningkatkan kompetensi

guru dalam melaksanakan pembelajaran kelas pada SD Negeri 28 Peusangan Kabupaten Bireuen.

2. Apakah melalui Supervisi Akademik yang dilakukan kepala sekolah dapat meningkatkan kompetensi guru dalam melaksanakan pembelajaran kelas di SD Negeri 28 Peusangan Kabupaten Bireuen.

Sesuai dengan permasalahan yang dijabarkan di atas, maka tujuan penelitian yang hendak dicapai adalah:

1. Untuk mengetahui upaya meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran kelas pada SD Negeri 28 Peusangan Kabupaten Bireuen.

2. Untuk mengetahui Supervisi Akademik yang dilakukan kepala sekolah dapat meningkatkan kompetensi guru dalam melaksanakan pembelajaran kelas pada SD Negeri 28 Peusangan Kabupaten Bireuen.

TINJAUAN PUSTAKA

Supervisi Akademik adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. (Daresh,1989,Glickman,et al;2007).

Untuk melaksanakan supervisi akademik secara efektif diperlukan ketrampilan Konjanual, interpersonal dan teknikal (Glickman, at al; 2007) . oleh sebab itu, setiap kepala sekolah harus memiliki dan menguasai konsep supervisi akademik yang meliputi: - Pengertian;

- Tujuan dan fungsi; - Prinsip-prinsip; dan

- Dimesi-dimensi substansi supervisi akademik.

Dengan demikian berarti esensi supervisi akademik itu bukan menilai kinerja guru dalam mengelola proses pembelajaran, melainkan membantu guru mengembangkan kemampuan profesionalismenya. Namun demikian, supervisi akademik tidak terlepas dari penilaian unjuk kerja guru dalam mengelola pembelajaran. Sergiovanni (1987) menegaskan bahwa : “Refleksi praktis penilaian kinerja guru dalam supervisi akademik adalah melihat kondisi nyata kinerja guru dalam mengelola proses pembelajaran sebagai suatu proses pemberian estimasi mutu kerja guru, yang merupakan bagian integral dari serangkaian kegiatan supervisi akademik”.

Agar supervisi akademik dapat membantu guru mengembangkan kemampuannya, maka untuk pelaksanaannya terlebih dahulu perlu diadakan penilaian kemampuan guru, sehingga bisa ditetapkan

(3)

aspek yg perlu dikembangkan dan cara mengembangkannya.

Kompetensi supervisi akademik intinya adalah membina guru dalam meningkatkan mutu proses pembelajaran. Sasaran supervisi akademik adalah guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, yang terdiri dari materi pokok dalam proses pembelajaran, penyusunan silabus dan RPP, pemilihan strategi/metode/teknik pembelajaran, penggunaan media dan teknologi informasi dalam pembelajaran.

Jadi supervisi Akademik merupakan upaya seorang kepala sekolah dalam pembinaan guru agar dapat meningkatkan kualitas mengajarnya dengan langkah-langkah perencanaan, ketrampilan dan penampilan mengajar yang nyata serta mengadakan perubahan dengan cara yang rasional dalam usaha meningkatkan hasil belajar siswa.

Dalam konteks profesi pendidikan, khususnya profesi mengajar, mutu pembelajaran merupakan refleksi dari kemampuan profesional guru. Karena itu, supervisi Akademik berhubungan langsung dengan peningkatan kemampuan profesional guru yang berdampak terhadap peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran. Pembelajaran dimaksud adalah dimulai dari perencanaan, melaksanakan proses pembelajaran di kelas, melaksanakan evaluasi, dan tindak lanjut hasil evaluasi, serta melakukan pembinaan/pembimbingan siswa dalam kegiatan perbaikan dan pengayaan, perbaikan bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar dan pengayaan bagi siswa yang mengalami kemajuan dalam belajar. A. Sasaran Supervisi Akademik

Proses pembelajaran siswa mempunyai tujuan untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran. Proses pembelajaran dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti: guru, peserta didik, kurikulum, alat dan buku-buku pelajaran, serta kondisi lingkungan sosial dan fisik sekolah. Dalam konteks ini, guru merupakan faktor yang paling dominan. Karena itu, supervisi akademik menaruh perhatian utama pada upaya-upaya yang bersifat memberikan kesempatan kepada guru-guru untuk berkembang secara profesional, sehingga mereka lebih mampu dalam melaksanakan tugas pokoknya, yaitu melaksanakan dan meningkatkan proses dan

hasil pembelajaran yang direfleksikan dalam kemampuan-kemampuan, antara lain: (1) Kemampuan merencanakan kegiatan pembelajaran; (2) Kemampuan melaksanakan kegiatan pembelajaran; (3) Kemampuan menilai proses dan hasil pembelajaran; (4) Kemampuan memanfaatkan hasil penilaian bagi peningkatan layanan pembelajaran; (5) Kemampuan memberikan umpan balik secara tepat, teratur, dan terus-menerus kepada peserta didik; (6) Kemampuan melayani peserta didik yang mengalami kesulitan belajar; (7) Kemampuan menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan; (8) Kemampuan mengembangkan dan memanfaatkan alat bantu dan media pembelajaran; (9) Kemampuan memanfaatkan sumber-sumber belajar yang tersedia; (10) Kemampuan mengembangkan interaksi pembelajaran (strategi, metode, dan teknik) yang tepat; dan (11) Kemampuan melakukan penelitian praktis bagi perbaikan pembelajaran.

a. Menjadikan kepala sekolah dan guru sebagai professional learners.

Sasaran lain dari supervisi akademik adalah menjadikan kepala sekolah dan guru sebagai professional learners, yaitu para profesional yang menciptakan budaya belajar dan mereka mau belajar terus menyempurnakan pekerjaannya. Budaya ini memungkinkan terjadinya peluang iMarasi dari bawah (bottom-up in Maration) dalam proses pembelajaran.

Pemberdayaan akuntabilitas profesional guru hanya akan berkembang apabila didukung oleh penciptaan budaya sekolah sebagai organisasi belajar. Istilah organisasi belajar dimaksudkan sebagai suatu organisasi di mana para anggotanya menunjukkan kepekaan terhadap masalah-masalah yang dihadapi dan berupaya untuk mengatasi masalah tersebut tanpa desakan atau perintah dari pihak luar. Kepala sekolah dan guru tidak hanya bekerja menunaikan tugas dan kewajiban yang dibebankan kepadanya, melainkan pula memiliki sikap untuk selalu meningkatkan mutu pekerjaannya, dan oleh karenanya mereka terus belajar untuk mempelajari cara-cara yang paling baik. Mereka dapat dikelompokkan sebagai “professional learners”.

(4)

b. Membina kepala sekolah dan guru-guru untuk memiliki kemampuan manajemen sumber daya pendidikan.

Kemampuan manajemen sumber daya pendidikan meliputi kemampuan dalam pengadaan, penggunaan/pemanfaatan, dan merawat/memelihara. Hal ini disebabkan karena aspek yang akan mendukung pemberdayaan akuntabilitas profesional guru adalah tersedianya sumber daya pendidikan untuk mendukung produktivitas sekolah, khususnya mendukung proses pembelajaran yang bermutu. Alat peraga, alat pelajaran, fasilitas laboratorium, perpustakaan, dan sejenisnya sangat diperlukan bagi terwujudnya proses pembelajaran yang bermutu. Sumber daya pendidikan seperti itu memungkinkan peserta didik terlibat secara aktif melalui bervariasinya kegiatan pembelajaran yang lebih kaya.

C. Tehnik–Tehnik Supervisi Akademik Satu di antara tugas kepala sekolah adalah melaksanakan supervisi akademik. Untuk melaksanakan supervisi akademik secara efektif diperlukan ketrampilan konJanual, interpersonal dan tehnical (Glick Man.at al : 2007).

Teknik supervisi ada dua macam:

1. Teknik individual adalah adalah pelaksanaan supervisi perseorangan terhadap guru.

2. Teknik supervisi kelompok adalah satu cara melaksanakan program supervisi yang ditunjukkan pada dua orang atau lebih.

Supervisi kelas dilaksanakan atas dasar keyakinan sebagai berikut:

Teknik supervisi individual ada lima macam: a. Kunjungan kelas.

b. Observasi kelas. c. Pertemuan individual. d. Kunjungan antar kelas. e. Menilai diri sendiri.

Teknik supervisi kelompok menurut Gwynn (1961) ada 13 macam:

a. Kepanitiaan-kepanitiaan. b. Kerja kelompok.

c. Laboratorium dan kurikulum. d. Membaca terpimpin. e. Demonstrasi pembelajaran. f. darmawisata. g. Kuliah/studi. h. Diskusi panel. i. Perpustakaan. j. Organisasi professional. k. Bulletin supervisi. l. Pertemuan guru

D. Peran dan Perilaku Supervisor Peran Supervisor

Pembinaan profesional dilakukan karena satu alasan, yaitu memberdayakan akuntabilitas profesional guru yang pada gilirannya meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran. Untuk maksud tersebut, para supervisor hendaknya melakukan peranan sebagai berikut:

1) Peneliti. Seorang supervisor dituntut

untuk mengenal dan memahami masalah-masalah pengajaran. Karena itu ia perlu mengidentifikasi masalah-masalah pengajaran dan mempelajari faktor-faktor atau sebab-sebab yang mempengaruhinya.

2) Konsultan atau Penasihat. Seorang

supervisor hendaknya dapat membantu guru untuk melakukan cara-cara yang lebih baik dalam mengelola proses pembelajaran. Oleh sebab itu, para pengawas hendaknya selalu mengikuti perkembangan masalah-masalah dan gagasan-gagasan pendidikan dan pengajaran mutakhir. Ia dituntut untuk banyak membaca dan menghadiri pertemuan-pertemuan profesional, sehingga ia memiliki kesempatan untuk saling tukar informasi tentang masalah-masalah pendidikan dan pengajaran yang relevan, yaitu gagasan-gagasan baru mengenai teori dan praktik pengajaran.

3) Fasilitator. Seorang supervisor harus

mengusahakan agar sumber-sumber profesional, baik materi seperti buku dan alat pelajaran maupun sumber manusia yaitu narasumber mudah diperoleh guru-guru. Dengan perkataan lain, hendaknya supervisor dapat menyediakan kemudahan-kemudahan bagi guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya. 4) Motivator. Seorang supervisor hendaknya

membangkitkan dan memelihara kegairahan kerja guru untuk mencapai prestasi kerja yang semakin baik. Guru-guru didorong untuk mempraktikkan gagasan-gagasan baru yang dianggap baik bagi penyempurnaan proses pembelajaran, bekerjasama dengan guru (individu atau kelompok) untuk mewujudkan perubahan

(5)

yang dikehendaki, merangsang lahirnya ide baru, dan menyediakan rangsangan yang memungkinkan usaha-usaha pembaruan dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

5) Pelopor Pembaharuan. Para supervisor jangan merasa puas dengan cara-cara dan hasil yang sudah dicapai. Pengawas harus memiliki prakarsa untuk melakukan perbaikan, agar guru pun melakukan hal serupa. Ia tidak boleh membiarkan guru mengalami kejenuhan dalam pekerjaannya, karena mengajar adalah pekerjaan dinamis. Guru-guru perlu dibantu untuk menguasai kecakapan baru, untuk itu para supervisor harus menyusun program latihan dan pengembangan dengan cara merencanakan pertemuan atau penataran sesuai dengan kebutuhan setempat. Supervisi sebagai pembinaan profesional guru diwujudkan dalam perilaku para supervisor sebagai pembina. Perilaku Supervisor

Perilaku supervisor tergantung pada pemahamannya mengenai tujuan pembinaan profesional. Jika dianalisis, tingkat kualitas perilaku pembinaan berwujud: (1) memperhatikan, (2) mengerti atau memahami, (3) membantu dan membimbing, (4) memupuk evaluasi diri bagi perbaikan dan pengembangan. (5) memupuk kepercayaan diri, dan (6) memupuk, mendorong bagi pengembangan inisiatif, kreativitas, dan pertumbuhan diri secara profesional. Supervisor diharapkan memiliki perilaku pembinaan profesionalnya pada tingkat tertinggi. Secara rinci ciri supervisor yang baik adalah (1) Baik hati, (2) Murah hati, (3) Mendengarkan Anda, (4) Menyemangati Anda, (5) Mempercayai Anda, (6) Menjaga kepercayaan diri, (7) Memberi kesempatan untuk memahami, (8) Membantu Anda, (9) Mendengar dan memperhatikan pendapat guru, (10) Menyampaikan hasil kerja guru, (11) Tidak gampang menyerah, (12) Membuat guru merasa pintar, (13) Mengganggap mitra, (14) Menyatakan kebenaran, (15) Memaafkan. E. Hipotesis Tindakan

Sesuai dengan permasalahan yang telah diangkat untuk penelitian tindakan sekolah ini, dalam judul penelitian ini sebagaimana telah disebutkan yaitu Melalui Supervisi Akademik Dapat Meningkatkan Kemampuan

Melaksanakan Pembelajaran Kelas di SD Negeri 28 Peusangan Kabupaten Bireuen. Maka rumusan hipotesis tindakan yaitu “Melalui Supervisi Akademik dapat meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran di SD Negeri 28 Peusangan Kabupaten Bireuen”.

METODE PENELITIAN

Untuk memudahkan dan memperoleh hasil penelitian, maka perlu dirancang dengan tindakan siklus secara berulang sebanyak dua kali (siklus 1 dan 2), siklus ini dengan prosedure perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.

Siklus :

1. Perencanaan

a. Dialog dengan guru tentang rencana supervisi akademik.

b. Membuat tahapan kegiatan supervisi akademik.

c. Menentukan subjek yang akan menjadi sasaran supervisi akademik. d. Menentukan jadwal supervisi

akademik.

e. Diskusi dan pertemuan awal menyangkut rencana supervisi akademik.

f. Merencanakan tehnik supervisi akademik.

g. Menyusun instrumen dalam kegiatan supervisi akademik.

h. Menentukan pelaksanaan supervisi akademik.

2. Pelaksanaan.

a. Melaksanakan dan memeriksa RPP guru.

b. Guru melaksanakan PBM. c. Guru melaksanakan evaluasi d. Guru melaksanakan pembimbingan

siswa.

e. Melaksanakan tindak lanjut hasil evaluasi.

f. Mengadakan kunjungan kelas dan melihat pembelajaran guru di kelas g. Melaksanakan kunjungan kelas. h. Mengisi format dan instrumen

supervisi akademik di kelas.. i. Pengamatan/Observasi

j. Mengamati pembelajaran guru di kelas.

k. Melakukan supervisi akademikdi kelas.

(6)

l. Mengisi format dan instrumen supervisi akademik di kelas.. m. Mengobservasi guru dalam

pembelajaran di kelas.

n. Mengamati kegiatan pembelajaran di kelas.

o. Menilai hasil pembelajaran (PBM) di kelas.

4. Refleksi

a. Menilai hasil pembelajaran yang dilaksanakan guru di kelas. b. Mencatat hasil pelaksanaan pembelajaran guru di kelas. c. Memberikan masukan dari hasil

pelaksanaan pembelajaran.

d. Memperbaiki dengan saran perbaikan kepada guru.

HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Hasil Siklus I

Dalam melaksanakan proses supervisi akademik, terdapat empat tahap kegiatan agar dapat berjalan lancar, yaitu: (1) Tahap Perencanaan, (2) Tahap Tindakan, (3) Tahap observasi dan (4) Tahap Refleksi.

a. Tahap Perencanaan

Pada tahap perencanaan peneliti menyiapkan dan menentukan metode serta pendekatan yang akan digunakan dalam kegiatan supervisi akademik. Beberapa kriteria dan teknik perencanaan supervisi akademik antara lain:

(1) Mengadakan pertemuan dengan guru dalam suasana yang menyenangkan, tidak “mengancam” dan menakut-nakuti; (2) Memberitahukan bahwa apa yang harus

dan diamati selama pelajaran berlangsung dan bagaimana mencatat hasil observasi sesuai dengan instrument yang sebelumnya sudah dibagikan kepada guru. (3) Peneliti (Supervisor) menjelaskan

pengalaman penampilan guru untuk melihat indikator atau aspek-aspek keterampilan yang akan diperbaiki atau disempurnakan, sesuai dengan lembar penilaian pelaksanaan pembelajaran. b. Tahap Tindakan

Tindakan yang dilakukan oleh peneliti, adalah mengamati kegiatan proses pembelajaran di dalam kelas yang meliputi : kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup, dengan mempedomani

aspek-aspek yang diamati pada instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran.

Hasil dari pelaksanaan proses pembelajaran, hasil pengamatan sesudah supervisi dari siklus I, yaitu dari guru yang berjumlah 10 orang yang di amati didapatkan hasil seperti berikut:

a. Guru yang telah dapat dikategorikan baik dalam proses pembelajaran berjumlah orang 5 orang atau 50%.

b. Guru yang belum berhasil dengan baik atau masih pada posisi cukup dalam melaksanakan proses pembelajaran berjumlah 5 orang atau 50% .

c. Tahap Observasi

Pada pelaksanaan observasi, menemukan 5 orang guru yang sudah memiliki rata-rata 50% yang dikatagorikan baik dalam kegiatan proses pembelajaran. Sedangkan jumlah guru yang belum dapat mengajar dengan baik berjumlah 5 orang dan memiliki rata-rata nilai 50% termasuk dalam katagori cukup.

Tahap pelaksanaan merupakan kegiatan lapangan supervisor dengan mengadakan kunjungan/observasi tentang apa yang akan disupervisi sesuai dengan rencana program. Fungsi utama observasi adalah berusaha “menangkap” apa yang terjadi selama pembelajaran berlangsung secara lengkap, agar supervisor dan guru dapat secara tepat mengingat kembali pembelajaran atau bagian dari pembelajaran. Tujuan tahapan ini mengadakan analisis secara objektif terhadap situasi nyata pembelajaran yang berlangsung.

Untuk mencatat atau merekam kemampuan mengajar guru dan atau situasi pembelajaran yang akan diobservasi, dapat digunakan berbagai format atau instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran. Skor/dari indicator-indikator yang sudah diamati dan sudah diberikan skor masing-masing disimpan dengan baik akan sangat bermanfaat untuk dijadikan data dalam analisis dan komentar kemudian. Kepala sekolah dan sebagai peneliti perlu melatih diri agar memiliki kepekaan terhadap indikator-indikator yang menunjukkan sikap, perilaku dan proses yang produktif sesuai dengan tuntutan situasi kegiatan tertentu.

Hal-hal yang harus diperhatikan pada tahap observasi ini adalah:

(7)

Peneliti mencatat sebanyak mungkin kejadian-kejadian selama pembelajaran berlangsung. Hasil pencatatan merupakan bukti-bukti bagi guru dan supervisor untuk dikemukakan pada waktu menganalisis apa yang telah terjadi selama proses pembelajaran berlangsung. Semakin spesifik yang digambarkan, semakin berarti analisis peneliti. 2. Fokus

Karena tidak mungkin untuk mencatat segala sesuatu yang terjadi dalam kelas, maka supervisor harus memiliki aspek-aspek keterampilan yang akan dicatat. Hal ini sebaiknya dilakukan dengan persetujuan guru sebelumnya yaitu di dalam pertemuan pendahuluan, yang sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya diwujudkan dalam bentuk semacam kontrak. Misalnya dalam suatu pelajaran tertentu adalah baik untuk memfokuskan observasi tersebut pada reaksi siswa terhadap pernyataan guru, atau pada penyebaran pertanyaan, dan sebagainya. 3. Menyesuaikan Observasi dengan Periode

Perkembangan Mengajar Guru

Observasi mungkin harus menjadi lebih selektif bila praktik atau latihan mengajar guru berkembang. Jika perhatian lebih terfokus pada aspek-aspek yang guru inginkan untuk lebih diperhatikan misalnya guru mempunyai kesulitan mengadakan model dalam pelajaran maka hal tersebut merupakan sesuatu yang perlu difokuskan dalam observasi.

4. Mencatat Komentar

Walaupun proses mencatat harus seobjektif mungkin, peneliti mencatat komentar-komentarnya agar tidak terlupakan. Cara terbaik untuk melakukan hal ini adalah dengan memisahkan komentar dari catatan tentang proses pengajaran. Catatan ini ditempatkan pada tepi format observasi atau dengan menggunakan tanda kurung.

d. Tahab Refleksi

Pada kegiatan refleksi yang dilakukan peneliti adalah: setelah kegiatan proses pembelajaran selesai, maka guru diberi kesempatan untuk mengungkapkan hambatan-hambatan yang dihadapi dalam proses pembelajaran yang telah dilakukan oleh guru. Peneliti medengarkan hambatan-hambatan guru tersebut dan peneliti melakukan refleksi dengan kemudian memberikan saran-saran yang harus dilaksanakan berupa rencana tindakan yang harus dilaksanakan oleh guru

pada proses pemantauan atau observasi berikutnya. Rencana tindakan tersebut adalah: a. Guru yang belum membuat atau belum

menyelesaikan perangkat mengajarnya hendaknya dapat menyusun RPP yang sesuai dengan kegiatan proses pembelajaran yang akan dilakukan. Guru menggunakan perangkat pengajaran dalam menyampaikan materi di kelas dengan sungguh-sungguh selama proses pembelajaran berlangsung.

b. Peneliti memberi bimbingan langsung kepada guru yang bersangkutan untuk memecahkan masalah yang ditemukan pada saat supervisi kelas.

c. Mengadakan bimbingan kelompok dalam kesempatan pertemuan dalam MGMP sekolah atau sejenisnya.

d. Memberikan kesempatan kepada guru untuk mencobakan alternatif pemecahan yang terpilih.

e. Berkunjung ke kelas lain (pembelajaran guru lain) untuk mengambil pengalaman-pengalaman pembelajaran yang bermanfaat untuk dirinya.

Deskripsi Hasil Siklus 2

1. Pada perencanaan tindakan, peneliti melakukan kegiatan persiapan yaitu : 1. Mereview RPP yang telah dibuat oleh

guru untuk kegiatan proses pembelajaran di kelas.selanjutnya. 2. Memperlihatkan instrumen hasil

penilaian pelaksanaan pembelajaran yang telah dilaksanakan pada siklus pertama, agar guru tersebut dapat memperhatikan kelemahan/ indikator aspek yang perlu ditingkatkan lagi dalam pelaksanaan proses pembelajaran selanjutnya pada siklus yang ke dua.

3. Mempersiapkan instrumen baru dalam pelaksanaan pengamatan pada siklus ke dua.

2. Tahap Tindakan

Tindakan yang dilakukan oleh peneliti, adalah mengamati kegiatan proses pembelajaran di dalam kelas yang meliputi: kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup, hingga aspek kepribadian rasa percaya diri, penampilan dan pakaian.

Pada siklus 2 dari jumlah guru yang berjumlah 5 orang yang belum berhasil dengan

(8)

baik masih katagori cukup sudah dapat meningkatkan kemampuannya: ada peningkatan kemampuan guru dengan nilai Amat Baik 30%, Baik 60%, dan hanya 10% guru berada pada katagori cukup.

3. Tahap Observasi

Pada pelaksanaan observasi yang dilakukan oleh peneliti, didapat hal-hal sebagai berikut: a. Guru telah melakukan kegiatan seperti

yang diharuskan, antara lain menyusun RPP yang sesuai yang akan dilaksanakan di dalam proses pembelajaran.

b. Guru telah memiliki kemampuan yang baik dadlam melaksanakan PMB di kelas. c. Peneliti telah memberi bimbingan

langsung kepada guru yang bersangkutan untuk memecahkan masalah yang ditemukan pada saat supervisi akademik. d. Beberapa guru telah mencobakan

alternatif pemecahan masalah dalam prose pembelajaran.

e. Beberapa guru telah berkunjung ke kelas lain (pembelajaran guru lain) untuk mengambil pengalaman-pengalaman pembelajaran yang bermanfaat untuk dirinya.

4. Tahap Refleksi

Pada kegiatan refleksi yang dilakukan adalah: pengamatan sesudah proses pembelajaran selesai, guru diberi kesempatan untuk mengungkapkan pengalaman perbaikan proses pembelajaran yang telah dilakukan oleh guru. Kemudian peneliti mendengarkan pengalaman tersebut dan peneliti melakukan refleksi, kemudian memberikan saran masukan dan konfirmasi serta tindakan yang harus dilaksanakan oleh guru pada proses pembelajaran berikutnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Setelah dilakukan bimbingan yang intensif disertai dengan supervisi akademik kepada guru, maka terjadi kenaikan jumlah guru yang dapat dikategorikan baik, hal ini menunjukkan bahwa pelaksanaan supervisi akademik dan bimbingan intensif terhadap proses pembelajaran sangat berpengaruh positif pada hasil peningkatan proses pembelajaran. Hal tersebut dapat terjadi karena guru dalam melaksanakan tugas pokoknya ketika melaksanakan proses

pembelajaran tetap berpedoman pada perangkat yang telah dipersiapkan. Untuk memudahkan para guru menguasai penyusunan perangkat pembelajaran sesuai dengan jadwal yang ditentukan yakni begitu dimulainya pelaksanaan proses belajar mengajar, maka perangkat pembelajarannya harus sudah siap.

KESIMPULAN

1. Berdasarkan hasil Suprevisi Akademik yang dilaksanakan dalam pembelajaran terjadinya peningkatan kemampuan guru dalam proses pembelajaran yaitu (Pra Siklus) ; tidak ada guru dengan katagori Sangat Baik, 1 orang Baik, 7 orang Cukup, dan 2 orang Kurang. (Siklus 1) ; 5 guru berada pada kagori Baik, dan 5 orang Cukup, (Siklus 2) ; 3 orang guru Sangat Baik, 6 orang guru Baik, 1 orang Cukup dan tidak ada lagi guru yang berada pada katagori Kurang.

2. Supervisi Akademik yang dilakukan kepala sekolah kepada guru dapat meningkatkan kualitas pembelajaran kelas pada SD Negeri 28 Peusangan Kabupaten Bireuen.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Muhammad. 1988. Metode Penelitian Kependidikan. Jakarta : Rineka Cipta. Hasibuan, Malayu SP. 1999. Organisasi dan

Motivasi. Jakarta : Bumi Aksara. Mulyasa, E. 2004. Menjadi Kepala Sekolah

Profesional. Bandung: Remaja

Rosdakarya.

Pidarta, Made. 1996. Pemikiran tentang Supervisi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.

Purwanto, M. Ngalim. 2004. Administrasi dan

Supervisi Pendidikan. Bandung:

Remaja Rosdakarya.

Sahertian, Piet A. dan Ida Aleida Sahertian, 1992. Supervisi pendidikan dalam rangka inservice Education. Jakarta : Rineka Cipta.

Tim Pelatih Proyek PGSM. 1999. Classroom Action Research. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Guru Sekolah Menengah, Jakarta.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...