BAB II LANDASAN TEORI. Self-confidence atau percaya diri adalah sejauhmana anda punya keyakinan terhadap

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

A.Self Confidence

1. Pengertian self confidence

Self-confidence atau percaya diri adalah sejauhmana anda punya keyakinan terhadap penilaian anda atas kemampuan anda dan sejauh mana anda bisa merasakan adanya “kepantasan” untuk berhasil. Ignoffo (1999) secara sederhana mendefenisikan self confidence berarti memiliki keyakinan terhadap diri sendiri. Menurut Neill (dalam Hadi & Putri, 2005) self confidence adalah kombinasi dari self esteem dan self-efficacy.

Lauster (dalam Fasikhah, 1994), menyatakan bahwa self confidence merupakan suatu sikap atau perasaan yakin atas kemampuan diri sendiri sehingga orang yang bersangkutan tidak terlalu cemas dalam tindakan-tindakannya, dapat merasa bebas untuk melakukan hal-hal yang disukainya dan bertanggung jawab atas perbuatannya, hangat dan sopan dalam berinteraksi dengan orang lain, dapat menerima dan menghargai orang lain, memiliki dorongan untuk berprestasi serta dapat mengenal kelebihan dan kekurangannya.

Self confidence adalah sikap positif seorang individu yang merasa memiliki kompetensi atau kemampuan untuk mengembangkan penilaian positif baik terhadap dirinya maupun lingkungan (Jacinta, 2002). Menurut Hasan (dalam Iswidharmanjaya, 2004) menyatakan self confidence adalah percaya akan kemampuan sendiri yang memadai dan menyadari kemampuan yang dimiliki, serta dapat memanfaatkan secara tepat.

(2)

Coopersmith (dalam Nazwali, 1996) menjelaskan bahwa ketika individu lebih aktif, mempunyai perilaku yang bertujuan, bersemangat dalam menjalankan kehidupan sehari-hari baik yang bersifat individual maupun yang bersifat kelompok cenderung memiliki self confidence yang tinggi. Sedangkan menurut Hakim (2002) menjelaskan self confidence yaitu sebagai suatu keyakinan seseorang terhadap segala aspek kelebihan yang dimilikinya dan keyakinan tersebut membuatnya merasa mampu untuk dapat mencapai berbagai tujuan dalam hidupnya. Menurut Uqshari (2005) self confidence adalah keyakinan seorang individu akan kemampuan yang dimiliki sehingga merasa puas dengan keadaan dirinya.

Bandura (dalam Sakinah, 2005) mendefenisikan self confidence sebagai suatu keyakinan seseorang yang mampu berperilaku sesuai dengan yang diharapkan dan diinginkan. Sedangkan Breneche dan Amich (dalam Kumara, 1988) self confidence merupakan suatu perasaan cukup aman dan tahu apa yang dibutuhkan dalam kehidupannya sehingga tidak perlu membandingkan dirinya dengan orang lain dalam menentukan standar, karena ia selalu dapat menentukan sendiri.

Self confidence bukan merupakan sesuatu yang sifatnya bawaan tetapi merupakan sesuatu yang terbentuk dari interaksi. Waterman (dalam Sakinah, 2005) mengatakan bahwa untuk menumbuhkan self confidence diperlukan situasi yang memberikan kesempatan untuk berkompetisi, karena menurut Markus dan Wurf (dalam Sakinah, 2005) seseorang belajar tentang dirinya sendiri melalui interaksi langsung dan komparasi sosial. Dari interaksi langsung dengan orang lain akan diperoleh informasi tentang diri dan dengan melakukan komparasi sosial seseorang dapat menilai dirinya sendiri bila dibandingkan dengan orang lain. Seseorang akan dapat memahami diri sendiri dan akan

(3)

tahu siapa dirinya yang kemudian akan berkembang menjadi percaya diri atau self confidence.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa self confidence adalah perasaan yakin akan kemampuan diri sendiri yang mencakup penilaian dan penerimaan yang baik terhadap dirinya secara utuh, bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh orang lain sehingga individu dapat diterima oleh orang lain maupun lingkungannya. Penerimaan ini meliputi penerimaan secara fisik dan psikis.

2. Karakteristik self confidence

Menurut Ignoffo (1999), terdapat beberapa karakteristik yang menggambarkan individu yang memiliki self confidence yaitu :

a. Memiliki cara pandang yang positif terhadap diri. b. Yakin dengan kemampuan yang dimiliki.

c. Melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dipikirkan. d. Berpikir positif dalam kehidupan.

e. Bertindak mandiri dalam mengambil keputusan. f. Memiliki potensi dan kemampuan.

Menurut Hakim (2002) mengungkapkan beberapa ciri-ciri orang yang memiliki self confidence adalah :

a. Selalu bersikap tenang dan tidak mudah menyerah. b. Mempunyai potensi dan kemampuan yang memadai.

c. Mampu menetralisasi ketegangan yang muncul pada situasi tertentu. d. Memiliki kondisi mental dan fisik cukup menunjang penampilan.

(4)

e. Memiliki kecerdasan yang cukup.

f. Memiliki tingkat pendidikan formal yang cukup.

g. Memiliki keahlian dan keterampilan yang menunjang kehidupannya, misal keterampialn bahasa asing.

h. Memiliki kemampuan sosialisasi.

i. Memiliki latar belakang pendidikan keluarga yang baik.

j. Memiliki pengalaman hidup yang menempah mentalnya menjadi kuat dan tahan dalam menghadapi berbagai cobaan.

k. Selalu bersikap positif dalam menghadapi berbagai masalah.

l. Mampu menyesuaikan diri dan berkomunikasi dalam berbagai situasi.

Menurut Lauster (dalam Fasikhah, 1994), terdapat beberapa karakteristik untuk menilai self confidence dalam diri individu, diantaranya:

a. Percaya kepada kemampuan sendiri

Suatu keyakinan atas diri sendiri terhadap segala fenomena yang terjadi yang ber-hubungan dengan kemampuan individu untuk mengevaluasi serta mengatasi fenomena yang terjadi tersebut.

b. Bertindak mandiri dalam mengambil keputusan

Dapat bertindak dalam mengambil keputusan terhadap apa yang dilakukan secara mandiri tanpa adanya keterlibatan orang lain. Selain itu, mempunyai kemampuan untuk meyakini tindakan yang diambilnya tersebut.

c. Memiliki konsep diri yang positif

Adanya penilaian yang baik dari dalam diri sendiri, baik dari pandangan maupun tindakan yang dilakukan yang menimbulkan rasa positif terhadap diri sendiri.

(5)

d. Berani mengungkapkan pendapat

Adanya suatu sikap untuk mampu mengutarakan sesuatu dalam diri yang ingin diungkapkan kepada orang lain tanpa adanya paksaan atau hal yang dapat menghambat pengungkapan perasaan tersebut.

Sejalan dengan yang dikemukakan oleh Lauster (dalam Fasikhah, 2004) menyebutkan bahwa ciri-ciri orang yang memiliki self confidence adalah tidak mementingkan diri sendiri, cukup toleran, cukup berambisi, tidak perlu dukungan orang lain, tidak berlebihan, optimistik, mampu bekerja secara efektif, bertanggung jawab atas pekerjaannya, dan merasa gembira.

Waterman (dalam Yulianti, 2005) mengatakan bahwa orang yang mempunyai self confidence adalah mereka yang mampu bekerja secara efektif, dapat melaksanakan tugas dengan baik dan bertanggung jawab serta mempunyai rencana terhadap masa depannya. Menurut Lauster dan Rakhmat (dalam Afiatin & Martaniah, 1998 ) ciri-ciri individu yang memiliki self confidence yang rendah adalah sebagai berikut :

a. Individu merasa bahwa tindakan yang dilakukan tidak adekuat. Ia cenderung merasa tidak aman dan tidak bebas bertindak, cenderung ragu-ragu dan membuang-buang waktu dalam mengambil keputusan, memiliki perasaan rendah diri dan pengecut, kurang bertanggung jawab dan cenderung menyalahkan pihak lain sebagai penyebab masalahnya, serta merasa pesimis dalam menghadapi rintangan.

b. Individu merasa tidak diterima oleh kelompoknya atau orang lain. Ia cenderung menghindari situasi komunikasi karena merasa takut disalahkan atau direndahkan, merasa malu jika tampil di hadapan orang banyak.

(6)

c. Individu tidak percaya terhadap dirinya dan mudah gugup. Ia merasa cemas dalam mengemukakan gagasannya dan selalu membandingkan keadaan dirinya dengan orang lain.

Menurut Ignoffo (1999), terdapat 7 ciri-ciri individu yang memiliki self confidence yang rendah pada individu, yaitu :

a. Perfeksionis b. Penilaian negatif c. Pasrah dan putus asa. d. pemikiran yang dangkal e. Rasa cemas.

f. Berpikir sebagai korban, g. Self-Fulfilling Prophecy

Dapat disimpulkan bahwa orang yang percaya diri atau self confidence memiliki sikap yang tenang dan bersikap positif dalam menghadapi berbgai masalah dan tidak mudah menyerah, memiliki kemampuan sosialisasi yang baik, percaya kepada kemampuan sendiri, berani mengungkapkan pendapat, tidak mementingkan diri sendiri melaksanakan tugas dengan baik dan bertanggung jawab serta mempunyai rencana terhadap masa depannya. Dengan kemampuan-kemampuan tersebut individu mempunyai kemungkinan untuk lebih sukses dalam menjalani kehidupan bila dibandingkan dengan orang yang kurang atau tidak percaya diri atau self confidence rendah.

(7)

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi self confidence

Self confidence merupakan sesuatu yang berasal dan berakar dari pengalaman masa kanak-kanak dan berkembang, terutama sebagai akibat dari hubungan kita dengan orang lain. Pengalaman saat berhubungan dengan orang lain dan bagaimana orang lain memperlakukan kita akan membentuk gagasan dan penilaian dalam diri kita yang dapat mempengaruhi percaya diri atau self confidence.

Menurut Iswidharmanjaya (dalam Yulianti, 2007) ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi self confidence, yaitu :

a. Orang tua

Dalam hal informasi dan cermin tentang diri seseorang, orang tua memegang peranan yang paling istimewa. Jika orang tua secara tulus dan konsisten menunjukkan cinta dan sayang maka akan memberikan pandangan kepada anak bahwa dia pantas dicintai baik oleh orang lain maupun oleh dirinya sendiri. Sebaliknya, jika orang tua tidak memberikan kehangatan, penerimaan dan cinta dalam hubungan dengan anak, maka anak akan tumbuh dengan rasa percaya diri yang kurang. Penilaian yang diberikan oleh orang tua sebagian besar akan menjadi penilaian yang dipegang oleh anak. Harapan orang tua akan menjadi masukan ke dalam cita-cita anak. Jika anak tidak mampu memenuhi harapan-harapan itu, maka ada kemungkinan anak akan mengembangkan rasa tidak berguna dan percaya diri yang rendah.

b. Saudara sekandung

Hubungan dengan saudara kandung juga penting dalam pembentukan rasa percaya diri. Anak sulung yang diperlakukan seperti pemimpin oleh adik-adiknya dan mendapat banyak kesempatan untuk berperan sebagai penasehat, mendapat banyak

(8)

keuntungan untuk mengembangkan rasa percaya dirinya. Sedangkan anak bungsu mungkin mengalami hal yang berlawanan. Mungkin dia terus menerus dianggap dan diperlakukan sebagai anak kecil, akibatnya self confidence berkembang amat lambat bahkan sulit tumbuh.

c. Sekolah

Siswa yang sering mendapat perlakuan buruk (dihukum dan ditegur) cenderung lebih sulit mengembangkan rasa percaya dirinya. Sebaliknya siswa yang banyak dipuji, mendapat penghargaan, dan diberi hadiah cenderung mempunyai self confidence yang tinggi.

d. Teman sebaya

Dalam pergaulan dengan teman-teman, apakah kita disenangi, dikagumi, dan dihormati atau tidak, ikut menentukan dalam pembentukan rasa percaya diri seseorang. Penerimaan dan perlakuan yang baik oleh teman sebaya akan menimbulkan rasa percaya diri dalam diri seseorang. Sebaliknya, penolakan oleh teman sebaya menyebabkan seseorang akan menarik diri dan merasa bahwa dirinya memiliki banyak kekurangan sehingga tidak pantas untuk bergaul dengan teman-teman yang lain. Dengan demikian, lama kelamaan percaya diri akan menghilang. Jadi, untuk dapat diterima dalam pergaulan seorang remaja cenderung untuk bertingkah laku sesuai dengan perilaku teman sekelompoknya.

e. Masyarakat

Sebagai anggota masyarakat kita dituntut untuk bertindak menurut cara dan norma dalam masyarakat. Semakin mampu seseorang memenuhi norma dan diterima oleh masyarakat, maka percaya dirinya akan semakin berkembang. Self confidence atau

(9)

percaya diri seseorang juga dipengaruhi oleh penilaian yang diberikan oleh masyarakat. Jika seseorang sudah dicap jelek, maka akan sulit baginya untuk mengubahnya.

f. Pengalaman

Banyak pandangan mengenai diri seseorang yang dipengaruhi oleh pengalaman, keberhasilan, dan kegagalan yang dialami. Keberhasilan akan memudahkan seseorang untuk mengembangkan self confidence sedangkan kegagalan dapat menghambat pengembangan percaya diri.

Selain itu Iswidharmanjaya (dalam Yulianti, 2007) menyatakan ada tiga faktor yang mempengaruhi timbulnya self confidence:

a. Proses belajar

Untuk menumbuhkan rasa percaya diri dirasakan sejak usia dini. Pola asuh yang diberikan orang tua memiliki peranan yang besar dalam menumbuhkan percaya diri anak. Pola asuh yang diberikan meliputi kasih sayang, perhatian, penerimaan, serta yang paling penting adalah kelekatan emosi dengan orang tua secara tulus. Dengan adanya kehangatan dan asuhan dari orang tua, rasa percaya diri anak akan mulai bersemi. Kalau anak merasa dirinya berharga dan bernilai dimata orang tuanya, akan cenderung manjadi anak yang semakin percaya diri.

Selain pola asuh, perilaku orang tua juga memiliki peran dalam proses pembentukan sikap percaya diri, karena biasanya anak yang masih kecil akan menirukan apa yang diperbuat oleh orang tuanya. Sebaliknya orang tua yang kurang memberikan perhatian, suka mengkritik, tidak pernah memberikan pujian ataupun tidak pernah puas melihat prestasi anaknya akan menurunkan percaya diri anaknya.

(10)

b. Konsep diri

Untuk menjadi pribadi yang memiliki percaya diri, seorang individu membutuhkan konsep diri yang positif. Konsep diri adalah gambaran yang dipegang seseorang menyangkut dirinya sendiri. Jika seorang individu sudah mengenal keadaan dirinya dan dapat menerima kelebihan dan kekurangan yang dimiliki maka individu tersebut akan memiliki percaya diri yang baik.

c. Interaksi dengan lingkungan

Seseorang akan belajar mengenai diri sendiri melalui interaksi langsung dengan orang lain. Dengan berinteraksi, seorang individu akan memperoleh informasi mengenai dirinya dari orang lain. Tetapi jika tidak ada orang lain yang menilai maka individu tersebut tidak mengenal dirinya lebih dalam.

Jadi, dalam menyusun alat ukur guna melihat perbedaan self confidence antara siswa SMP yang aktif dan siswa SMP yang tidak aktif dalam OSIS. Peneliti mengacu pada teori yang dikemukakan oleh Ignoffo(1999). Alat ukur di susun berdasarkan karakteristik dari self confidence yaitu memiliki cara pandang yang positif terhadap diri, yakin dengan kemampuan yang dimiliki, melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dipikirkan, berpikir positif dalam kehidupan, bertindak mandiri dalam mengambil keputusan, serta memiliki potensi dan kemampuan.

(11)

B. Siswa

1. Pengertian siswa

Siswa adalah peserta didik pada satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah. Pada tahap ini, menurut Erickson (dalam Hanum, 2000) siswa memasuki tahap awal dari perkembangan remaja. Siswa adalah subjek atau pribadi yang unik (khas untuk dirinya) sehingga perlu adanya peraturan program belajar yang selaras dengan kemampuan dasar sikap siswa (Samana, 1992).

Menurut Monks (dalam Hanum, 2000), pada umumnya siswa adalah remaja masih belajar di sekolah menengah atau perguruan tinggi. Rata-rata remaja menyelesaikan sekolah lanjutan pada usia kurang lebih 18 tahun.

2. Pengertian siswa sekolah menengah pertama

Siswa sekolah menengah pertama adalah individu yang sedang menjalani pendidikan di sekolah menengah pertama. Menurut Sulaeman (1995), siswa SMP secara kronologis berusia antara 12-15 tahun. Batasan usia remaja menurut Monks (dalam Hanum, 2000) adalah antara 12-21 tahun, dengan perincian 12-15 tahun merupakan masa remaja awal, 15-18 tahun merupakan masa remaja pertengahan, 18-21 tahun merupakan masa remaja akhir.

Secara teoritis beberapa tokoh psikologi mengemukakan tentang batas-batas umur remaja, tetapi dari sekian banyak tokoh yang mengemukakan tidak dapat menjelaskan secara pasti tentang batasan usia remaja karena masa remaja ini adalah masa peralihan. Dari kesimpulan yang diperoleh maka masa remaja dapat dibagi dalam dua periode yaitu: pertama, periode masa puber usia 12-18 tahun, dalam tahap ini anak tidak suka

(12)

diperlakukan seperti anak kecil lagi, anak mulai bersikap kritis. mulai cemas dan bingung tentang perubahan fisiknya, memperhatikan penampilan, plin-plan, suka berkelompok dengan teman sebaya dan senasib. Kedua, periode remaja adolesen usia 19-21 tahun, dalam tahap ini perhatian anak tertutup pada hal-hal realistis, mulai menyadari akan realitas, sikapnya mulai jelas tentang hidup, dan mulai nampak bakat dan minatnya (Putri & Hadi, 2005).

Jadi, siswa SMP berada pada tahap perkembangan remaja awal ataupun periode masa puber, berusia 12-15 tahun. Pada tahap ini remaja lebih banyak berada di luar rumah bersama teman-teman sebaya, maka dapatlah dikatakan bahwa hubungan dengan teman sebaya di sekolah ataupun di masyarakat mempengaruhi self confidence mereka.

3. Pengertian siswa SMP yang aktif dan tidak aktif dalam OSIS

Siswa SMP yang aktif dalam organisasi adalah individu yang telah menyelesaikan Sekolah Dasar atau sedang menjalani pendidikan di sekolah menengah pertama dan tergabung dalam organisasi di sekolah. Siswa SMP yang tidak aktif dalam organisasi adalah individu yang telah menyelesaikan Sekolah Dasar atau sedang menjalani pendidikan di sekolah menengah pertama tetapi tidak tergabung dan tidak pernah bergabung dalam salah satu organisasi sekolah (Asmiana, 2003).

C. Organisasi Sekolah

Secara umum adalah kelompok kerjasama antara pribadi yang diadakan untuk mencapai tujuan bersama. Organisasi dalam hal ini dimaksudkan satuan atau kelompok

(13)

kerjasama para siswa yang dibentuk dalam usaha untuk mencapai tujuan bersama, yaitu mendukung terwujudnya pembinaan kesiswaan.

Secara Organisasi OSIS adalah satu-satunya wadah organisasi siswa yang sah di sekolah. Oleh karena itu setiap sekolah wajib membentuk Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), yang tidak mempunyai hubungan organisatoris dengan OSIS di sekolah lain dan tidak menjadi bagian / alat dari organisasi lain yang ada di luar sekolah. Secara Sematis di dalam Surat Keputusan Direktur Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 226/C/Kep/0/1993 disebutkan bahwa organisasi kesiswaan di sekolah adalah OSIS.

Kepanjangan OSIS terdiri dari, Organisasi, Siswa, Intra, Sekolah: Masing-masing mempunyai pengertian:

1. Organisasi, secara umum adalah kelompok kerjasama antara pribadi yang diadakan untuk mencapai tujuan bersama. Organisasi dalam hal ini dimaksudkan satuan atau kelompok kerjasama para siswa yang dibentuk dalam usaha untuk mencapai tujuan bersama, yaitu mendukung terwujudnya pembinaan kesiswaan.

2. Siswa adalah peserta didik pada satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah.

3. Intra adalah berarti terletak di dalam dan di antara. Sehingga OSIS berarti suatu organisasi siswa yang ada di dalam dan di lingkungan sekolah yang bersangkutan. 4. Sekolah adalah satuan pendidikan tempat menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar secara berjenjang dan berkesinambungan.

OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Perbaungan meliputi Perwakilan Kelas dan Pengurus OSIS sebagai perangkat utamanya, merupakan wadah bagi siswa dalam menyalurkan, membina, meningkatkan kemampuan,

(14)

kreativitas dan intelektual mereka dalam bidang non akademis pada umumnya dan keorganisasian pada khususnya. Kondisi umum suatu organisasi mempengaruhi kinerja organisasi tersebut dalam menjalankan fungsi dan tugasnya. Begitu pula Perwakilan Kelas sebagai salah satu perangkat utama OSIS Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Perbaungan.

Adapun faktor-faktor pendukung yang menunjang tercapainya visi misi Perwakilan Kelas yang sesuai dengan tujuan OSIS ialah anggota Perwakilan Kelas yang solid dan berperan aktif, tanggapan dan partisipasi yang positif dari seluruh warga Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Perbaungan, kebijakan-kebijakan komprehensif dari pihak sekolah, kerja sama yang baik dari pihak DPO, PO, dan sub seksi dalam setiap pelaksanaan program kerjanya dan komunikasi dua arah yang cukup baik dengan seluruh elemen di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Perbaungan.

Sedangkan hal-hal yang dapat menghambat kinerja Perwakilan Kelas diantaranya adalah kurang optimalnya proses fungsi PK, kegiatan akademis sekolah yang sedang dalam masa peningkatan sehingga ruang gerak kegiatan non akademis menjadi terbatas seperti sulitnya mendapat izin dalam melaksanakan program kerja, dan adanya perdebatan konseptual dalam perumusan pelaksanaan program kerja.

Dikarenakan kondisi-kondisi tersebut di atas maka Perwakilan kelas dituntut untuk lebih peka, kritis, fleksibel, dan dinamis terhadap situasi yang ada dan lebih transparan dalam sosialisasi hasil kinerja Perwakilan Kelas sebagai media aspirasi berlandaskan Anggaran Dasar OSIS, Anggaran Rumah Tangga Perwakilan Kelas, dan Kode Etik Perwakilan Kelas.

(15)

1. VISI

Perwakilan Kelas SMP Negeri 1 Perbaungan sebagai perangkat OSIS yang berfungsi sebagai legislator, supervisor, korektor, dan advisor bagi seluruh kegiatan OSIS, serta sebagai media aspirasi siswa dalam bidang kesiswaan pada khususnya dan sekolah pada umumnya yang berlandaskan IMTAQ, IPTEK, budi pekerti luhur, serta semangat kekeluargaan yang selaras dengan profesionalitas kerja sesuai dengan AD/ART dan Kode Etik Perwakilan Kelas.

2. MISI

Untuk mencapai visi di atas, maka Perwakilan Kelas periode 2008-2009 memiliki misi-misi sebagai berikut :

a. Berpegang teguh kepada Ketuhanan Yang Maha Esa.

b. Menerapkan dan mengaplikasikan IMTAQ dalam kehidupan sehari-hari. c. Mengedepankan profesionalitas kerja tanpa mengesampingkan kekeluargaan.

d. Mempelajari secara seksama serta berperilaku sesuai dengan Tata Tertib Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Perbaungan.

e. Membahas, menimbang, merevisi, dan mengesahkan Anggaran Rumah Tangga (ART) dan standarisasi pengawasan serta aturan perundangan OSIS lainnya sebagai perwujudan fungsi Legislator.

f. Menampung, menyortir serta mengakomodir seluruh aspirasi yang terkait dengan kinerja OSIS dari berbagai elemen di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Perbaungan sebagai perwujudan fungsi Media Aspirasi.

g. Melaksanakan pengawasan secara maksimal terhadap kinerja OSIS sebagai perwujudan fungsi Supervisor.

(16)

h. Meninjau kembali serta memberikan pembetulan atas perkara yang terkait dengan kinerja OSIS sebagai perwujudan fungsi Korektor.

i. Memberikan masukan baik pada saat pra pelaksanaan, pelaksanaan maupun pasca pelaksanaan yang bertujuan untuk meningkatkan kredibilitas OSIS sebagai perwujudan fungsi Advisor.Berupaya secara maksimal dalam menempatkan diri sebagai rekan kerja Pengurus OSIS (PO) dan semua sub seksi yang ada di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Perbaungan.

j. Melaksanakan kaderisasi untuk mencari bibit- bibit unggul dalam rangka regenerasi kepengurusan OSIS Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Perbaungan.

Secara fungsional, dalam rangka pelaksanaan kebijaksanaan pendidikan khususnya di bidang pembinaan kesiswaan arti yang terkandung lebih jauh dalam pengertian OSIS adalah sebagai salah satu dari empat jalur pembinaan kesiswaan, di samping ketiga jalur yang lain yaitu : Latihan Kepemimpinan, Ekstrakurikuler dan Wawasan Wiyatamandala. Secara Sistem, apabila OSIS dipandang suatu sistem, berarti OSIS sebagai tempat kehidupan berkelompok siswa bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama. Dalam hal ini OSIS dipandang sebagai sistem, dimana sekumpulan para siswa mengadakan koordinasi dalam upaya menciptakan suatu organisasi yang mampu mencapai tujuan. Oleh karena OSIS sebagai suatu sistem memiliki beberapa ciri pokok:

1. Berorientasi pada tujuan.

2. Memiliki susunan kehidupan kelompok. 3. Memiliki sejumlah peranan.

4. Terkoordinasi.

(17)

Salah satu ciri pokok suatu organisasi ialah memiliki berbagai macam fungsi dan peranan. Demikianlah pada OSIS sebagai suatu organisasi memiliki beberapa peranan atau fungsi dalam mencapai tujuan. Sebagai suatu organisasi perlu untuk memperhatikan faktor-faktor yang sangat berperan, agar OSIS sebagai organisasi tetap hidup dalam arti tetap memiliki kemampuan beradaptasi dengan lingkungan dan perkembangan.

Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan agar OSIS tetap eksis yaitu: 1. Sumber daya.

2. Efisiensi.

3. Koordinasi kegiatan sejalan dengan tujuan. 4. Pembaharuan.

5. Kemampuan beradaptasi dengan lingkungan luar. 6. Terpenuhinya fungsi dan peran seluruh komponen.

Berdasarkan prinsip-prinsip organisasi tersebut agar OSIS selalu dapat mewujudkan peranannya sebagai salah satu jalur pembinaan kesiswaan perlu di pahami apa sebenarnya arti, peran dan manfaat apa saja yang diperoleh melalui OSIS tersebut.

Peranan adalah manfaat atau kegunaan yang dapat disumbangkan OSIS dalam rangka pembinaan kesiswaan. Sebagai salah satu jalur pembinaan kesiswaan, peranan OSIS adalah:

1. Sebagai wadah

Organisasi Siswa Intra Sekolah merupakan satu-satunya wadah kegiatan para siswa di Sekolah bersama dengan jalur pembinaan yang lain untuk mendukung tercapainya tujuan pembinaan kesiswaan. Oleh sebab itu OSIS dalam mewujudkan fungsinya sebagai wadah. Wahana harus selalu bersama-sama dengan jalur lain, yaitu latihan

(18)

kepemimpinan, ekstrakurikuler, dan wawasan wiyatamandala. Tanpa saling berkerjasama dari berbagai jalur, peranan OSIS sebagai wadah tidak akan berfungsi lagi.

2. Sebagai penggerak atau motivator

Motivator adalah perangsang yang menyebabkan lahirnya keinginan, semangat para siswa untuk berbuat dan melakukan kegiatan bersama dalam mencapai tujuan. OSIS akan tampil sebagai penggerak apabila para pembina, pengurus mampu membawa OSIS selalu dapat menyesuaikan dan memenuhi kebutuhan yang diharapkan, yaitu menghadapi perubahan, memiliki daya tangkal terhadap ancaman, memanfaatkan peluang serta perubahan, yang paling penting adalah memberikan kepuasan kepada anggota. Dengan bahasa manajemen OSIS mampu memainkan fungsi intelektual, yaitu mampu meningkatkan keberadaan OSIS baik secara internal maupun eksternal. Apabila OSIS dapat berfungsi demikian sekaligus OSIS berhasil menampilkan peranannya sebagai motivator.

3. Peranan yang bersifat preventif

Apabila peran yang bersifat intelek dalam arti secara internal OSIS dapat menggerakan sumber daya yang ada secara eksternal OSIS mampu mengadaptasi dengan lingkungan, seperti : menyelesaikan persoalan perilaku menyimpang siswa dan sebagainya. Dengan demikian secara preventif OSIS berhasil ikut mengamankan sekolah dari segala ancaman yang datang dari dalam maupun dari luar. Peranan Preventif OSIS akan terwujud apabila peranan OSIS sebagai pendorong lebih dahulu harus dapat diwujudkan.

(19)

1. Meningkatkan nilai-nilai ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 2. Meningkatkan kesadaran berbangsa, bernegara dan cinta tanah air. 3. Meningkatkan kepribadian dan budi pekerti luhur.

4. Meningkatkan kemampuan berorganisasi, pendidikan politik dan kepemimpinan. 5. Meningkatkan keterampilan, kemandirian dan rasa percaya diri.

6. Meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani.

7. Menghargai dan menjiwai nilai-nilai seni, meningkatkan dan mengembangkan kreasi seni.

D. Perbedaan Self Confidence Pada Siswa SMP yang Aktif dan Tidak Aktif dalam OSIS.

Remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan. Pendapat Stanley Hall pada saat itu yaitu bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress). Menurut Erickson (dalam Santrock, 1995) masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau pencarian identitas diri. Gagasan Erickson ini diperkuat oleh Marcia yang menemukan bahwa ada empat status identitas diri pada remaja yaitu identity diffusion/ confussion, moratorium, foreclosure, dan identity achieved (Papalia, 2001). Tahapan remaja terdiri dari remaja awal dan remaja akhir.

Remaja awal berada pada tahap usia 12-15 tahun, pada usia ini biasanya remaja duduk di bangku SMP. Remaja berusaha untuk menemukan jati dirinya, remaja membutuhkan interaksi dengan orang lain dalam proses pencarian jati diri, yaitu teman sebaya, sekolah, orang tua maupun masyarakat. Dalam kenyataannya untuk berinteraksi maka individu

(20)

harus mempunyai keberanian atau self confidence untuk menjalin interaksi dengan orang lain ( Putri & Hadi, 2005).

Self confidence itu sendiri menurut Lauster (dalam Sakinah, 2005) adalah sikap positif individu yang memampukan dirinya untuk mengembangkan penilaian positif baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan atau situasi yang dihadapinya. Menurut Afiatin dan Martaniah (1998), self confidence merupakan aspek kepribadian manusia yang berfungsi penting untuk mengaktualisasikan potensi atau kemampuan yang dimilikinya. Self confidence dapat dikembangkan melalui interaksi dengan lingkungan, baik lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat (Iswidharmanjaya, 2004).

Bentuk interaksi remaja di sekolah salah satunya dengan mengikuti organisasi yang ada di sekolah. Sekolah memiliki organisasi yang biasa disebut OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah). OSIS memiliki beragam kegiatan yang berhubungan dengan orang banyak. Seseorang yang aktif berorganisasi di sekolah cenderung mempunyai self-confidence yang tinggi. Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi self-self-confidence adalah orang tua, saudara sekandung, sekolah, teman sebaya, masyarakat, dan pengalaman (Iswidharmanjaya, 2004).

Penelitian oleh Asmiana (2003) mengenai perbedaan rasa percaya diri antara mahasiswa yang aktif dengan mahasiswa yang tidak aktif dalam organisasi kemahasiswaan di Universitas Muhammadiyah Malang. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pada mahasiswa yang aktif dalam organisasi kemahasiswaan dan yang tidak aktif. Mahasiswa yang aktif dalam berorganisasi memiliki rasa percaya diri yang tinggi dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak aktif dalam organisasi.

(21)

Penelitian oleh Isnandar (2005), mengenai hubungan antara rasa percaya diri dan aktivitas berorganisasi dengan prestasi belajar yang diberikan kepada siswa di SMK Gesi kelas X. Dari perhitungan yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang positif antara rasa percaya diri dan aktivitas berorganisasi secara bersama dengan prestasi belajar siswa kelas X SMK Negeri 1 Gesi Kabupaten Sragen tahun 2005/2006.

E. Hipotesis

Berdasarkan uraian di atas diketahui bahwa ada perbedaan self confidence pada siswa SMP yang aktif dan tidak aktif dalam OSIS, yaitu siswa SMP yang aktif dalam OSIS memiliki self confidence lebih tinggi daripada siswa SMP yang tidak aktif dalam OSIS.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :