• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEJARAH AHMADIYAH DI SALATIGA DAN SEKITARNYA TAHUN 1965-2008 - Test Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "SEJARAH AHMADIYAH DI SALATIGA DAN SEKITARNYA TAHUN 1965-2008 - Test Repository"

Copied!
88
0
0

Teks penuh

(1)

SEJARAH AHMADIYAH DI SALATIGA DAN SEKITARNYA TAHUN 1965-2008

SKRIPSI

Diajukan Kepada Ushuludin, Adab dan Humaniora

IAIN Salatiga Untuk Memenuhi Syarat

Guna Memperoleh Gelar Sarjana Humaniora (S.Hum)

Oleh : ROHAYATI NIM. 216-14-007

JURUSAN SEJARAH PERADABAN ISLAM FAKULTAS USHULUDIN, ADAB, DAN HUMANIORA

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA

(2)
(3)

SEJARAH AHMADIYAH DI SALATIGA DAN SEKITARNYA TAHUN 1965-2008

SKRIPSI

Diajukan Kepada Ushuludin, Adab dan Humaniora

IAIN Salatiga Untuk Memenuhi Syarat

Guna Memperoleh Gelar Sarjana Humaniora (S.Hum)

Oleh : ROHAYATI NIM. 216-14-007

JURUSAN SEJARAH PERADABAN ISLAM FAKULTAS USHULUDIN, ADAB, DAN HUMANIORA

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA

(4)
(5)
(6)
(7)

PERNYATAAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH

Bismillahirrahmanirrahim

Nama : Rohayati

NIM : 216-14-007

Jurusan : Sejarah Peradaban Islam

Fakultas : Ushuludin, Adab, dan Humaniora

Judul : SejarahAhmadiyah Di Salatiga Dan SekitarnyaTahun

1965-2008

Dengan ini saya menyatakan bahwa saya menyetujui untuk:

1. Memberikan hak bebas Royalty, kepada Perpustakaan IAIN Salatiga atas

penulisan karya ilmiah saya, demi pengembangan ilmu pengetahuan.

2. Memberikan hak menyimpan, mengalih mediakan/ mengalih formatkan,

mengelola, dalam bentuk pangkalan data (database), mendistribusikannya,

serta menampilkannya dalam bentuk softcopy untuk kepentingan akademis

kepada Perpustakaan IAIN Salatiga. Tanpa meminta izin dari saya selama

(8)
(9)

MOTTO

Banyak kegagalan dalam hidup ini di kerenakan orang- orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan saat mereka menyerah.

-Thomas Alva Edison-

Dewasa itu belum tentu di lihat dari segi umur, namun dewasa dapat dilihat seberapa bijak menyelesaikan masalah.

-

Penulis-Sebaik- baik Manusia adalah yang Berguna bagi Manusia Lainya

(10)

HALAMAN PERSEMBAHAN

Dengan Mengucapkan Syukur Alhamdulilah Skripsi Ini Penulis Persembahkan Buat:

1. Skripsi ini saya persembahkan kepada kedua orangtua saya yang tercinta Ayah

Robanidan Alm. Ibu Sulastri yang tidak pernah lelah mendidikku,

membesarkanku, mendoakan setiap langkahku, dan telah bekerja keras penuh

peluh, Terimakasih tanpa mereka saya bukan apa-apa.

2. Teruntuk ibu Sri wahyuni yang telah memberikan dorongan Terimakasih atas

keikhlasan yang telah diberikan.

3. Teruntuk Bapak Beny Ridwan, Bapak Haryo Aji dan Bapak A. Faidi yang telah

membantu di setiap kesulitan dan memberi pengtahuan baru dalam

menyelesaikan tugas akhir saya.

4. Kakak – kakak kandung kutercinta. Triyono, Supriyono, kartatik, Asna, tidak

pernah lelah, memotivasi dan selalu mengingatkan saya untuk menyelesaikan

tugas akhir saya.

5. Teruntuk teman special Reserse Irvan Fauzi. yang telah mengenalkan makna

cinta dan arti kesetian serta mensport dan motivasi saya untuk menyelesaikan

tugas akhir saya.

6. Teruntuk sahabat- sahabat Sejarah Perdaban Islam Angkatan 2014

7. Teruntuk Sahabat Seperjuangan. Susanti, Siti Miladil Camaliyah, Sriyatun, Leni,

Ela, Wihartatik. Semoga ukhuwah kita juga selalu terjaga

(11)

KATA PENGANTAR

AssalamualaikumWrWb.

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,

segala Puji dan Syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan hidayah dan

karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar. Shalawat

serta salam senantiasa tercurah terhadap Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa

kita dari zaman jahiliyah hingga zaman terang benderang. Skripsi ini disusun sebagai

syarat mencapai Gelar Sarjana Humaniora pada Jurusan Sejarah Peradaban Islam

Fakultas Ushuludin, Adabdan Humaniora IAIN Salatiga.

Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu

dan memberikandoronganbaikmorilmapunmateriil, sehingga skripsi ini dapat

terselesaikan. Oleh karena itu, melalui ruang penulisan mengucapkan penghargaan dan

terimakasih kepada:

1. Bapak Dr. H . Rahmat Haryadi, M.Pd., selaku Rektor IAIN Salatiga

2. Bapak Dr. Benny Ridwan, M. Hum selaku Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab,

dan Humaniora. Serta selaku dosen pembimbing skripsi ini dan membantu

memberikan banyak masukan yang sangat berguna bagi penulis.

3. Bapak Haryo Aji. S.Sos., M.Hum. selaku Ketua Jurusan Sejarah Peradaban

Islam. Serta yang telah membantu penulisan menyelesaikan skripsi ini.

4. Kepada Bapak Ibu Dosen serta karyawan IAIN Salatiga yang telah memberikan

ilmu, semangat, dan inspirasinya kepada panulis.

5. Keluarga besar penulis yang telah mencurahkan do‟a dan menyemangati penulis

untuk kesuksesan skripsi ini.

6. Keluarga Besar Jamaah Ahmadiyah telah membantu dalam kesulitan

menyelesaikan skripsi.

(12)

8. Dan semua pihak yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini yang tidak

bisa kami sebutkan satu persatu semoga amal bantuan dalam bentuk apapun

mendapatkan balasan yang sebaik-baiknya di sisi Allah SWT.

Akhirnya penulis berharap, semoga jasa dan bantuan yang telah diberikan

menjadi amal baik dan mendapat balasan Allah SWT. Dalam penyusunan skripsi

ini, Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Hal ini

dikerenakan keterbatasan dari segala aspek yang dimiliki oleh penulis sendiri.

Untuk itu, kritik dan saran terbuka luas dan penulis harapkan dari pembaca yang

budiman guna kesempurnaanya. Mudah-mudahan skripsi yang sederhana ini

mampu memberikan manfaat bagi penulis dan pembaca.

WassalamualaikumWr. Wb

Salatiga, 7 September 2018

Peneliti

ROHAYATI

(13)

ABSTRAK

Rohayati.2018 .Sejarah Ahamdiyah di Salatiga dan Sekitarnya Tahun 1965-2008.

Skripsi. Jurusan Sejarah Peradaban Islam Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Humaniora. Institut Agama Islam Negeri Salatiga.2018 .

Kata Kunci: Sejarah, Ahmadiyah, di Salatiga, danSekitarnya.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejarah Ahmadiyah di Salatiga dan sekitarnya Tahun 1965-2008, dan interaksinya dengan masyarakat. Jamaah Ahmadiyah adalah gerakan yang didirikan Mirza Ghulam Ahmad yang secara singkat ajaranya sedikit berbeda dengan Islam pada umumya, seperti Tafsir nabi.

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif naratif sejarah. Sumber data diperoleh langsung dari sumbernya melalui wawancara. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yaitu, heuristik, verivikasi, interpretasi, dan historiografi. Sedangkan skripsi ini lebih mengarah pada sejarah, dalam sejarah Ahmadiyah di Salatiga berdiri pada tahun 1965. Kemudian tahun 1982 Ahmadiyah semakin berkembang sehingga mempunyai cabang yang meliputi, cabang Susukan, Getasan.

(14)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ...iii

HALAMANPERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... iv

HALAMAN PERNYATAAN PUBLIKASI ILMIAH ... v

HALAMAN MOTTO ... vii

HALAMAN PERSEMBAHAN ...viii

KATA PENGANTAR ... ix

ABSTRAK ... xii

DAFTAR ISI ...xiii

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah... 4

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 5

E. Tinjauan Pustaka... 8

F. Metode penelitian ... 10

(15)

BAB II.

GAMBARAN UMUM AHMADIYAH

A. Sejarah Ahmadiyah... 17

B. Masuknya Ahmadiyah diIndonesia ... 21

C. Faham keagamaan Ahmadiyah ... 24

BAB III. GAMBARAN UMUM MASYARAKAT SALATIGA DAN KELOMPOK AHMADIYAH DI KOTA SALATIGA A. Profil Salatiga ... 36

B. Kondisi Sosial Masyarakat Ahmadiyah di Salatiga dan Sekitarnya ... 37

C. Kondisi keagamaan Masyarakat Ahmadiyah di Salatiga ... 39

BAB IV. SEJARAH BERDIRINYA DAN BERKEMBANGNYA AHMADIYAH DI SALATIGA A. Awal berdirinya Ahmadiyah di Salatiga ... 41

B. Kehidupan Ahmadiyah di Salatiga ... 48

C. Perkembangan Ahmadiyah padaTahun 1932-2008 ... 48

D. Peran Ahmadiyah di Salatiga dan Sekitarnya... 50

- Sosial Ekonomi ... 51

(16)

BAB V

PENUTUP

A. KESIMPULAN ... 57

B. SARAN ... 58

DAFTAR PUSTAKA ... 60

DAFTAR LAMPIRAN

(17)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Islam merupakan salah satu agama besar di dunia saat ini. Agama ini

lahir dan berkembang di tanah Arab. Pembawa ajaran ialah Muhammad SAW.

Agama ini lahir salah satuya sebagai reaksi atas rendahnya moral manusia pada

saat itu. Islam mulai disiarkan sekitar tahun 612 di Mekkah.

Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi rahmatan lil’ala min,

seharusnya memberikan nuansa kedamaian dan kesejukan bagi seluruh

penganut dan lingkungannya. Manusia yang menganutnya seharusnya memiliki

karakter yang sama dalam membawa misi yang ketika mereka berinteraksi

dengan kelompok mereka sendiri, mereka sangat akrab dan penuh kekeluargaan,

dan di Indonesia adalah Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Islam di Indonesia merupakan moyoritas terbesar ummat Muslim di Indonesia.1

Hal ini dikarenakan setiap manusia merasakan bahwa dirinya ada sesuatu yang

lebih tinggi yang mengatur dan menguasai seluruh alam termasuk manusia.

Oleh karena itu manusia membutuhkan sesuatu yang dapat melindungi dirinya

dari kekuatan yang luar biasa tersebut, yaitu sistem yang dapat memberikan

perlindungan, ketentraman dan ketenangan jiwa dalam menghadapinya. Sistem

kepercayaan akan mempengaruhi sikap dan tingkah laku manusia dalam

kehidupan bermasyarakat.

1Abdul Rohman,” Karakter kelompok aliran Islam dalam respon Islamic social network”

(18)

Bentuk dari sistem kepercayaan tersebut adalah agama. Dengan

beragama manusia akan merasa terlindungi, tentram dan juga akan menemukan

ketenangan dalam jiwanya. Masing-masing individu mempunyai hak untuk

menentukan dan memilih dalam menganut salah satu kepercayaan yang

dianggapnya benar. Oleh karena itu keberagamaan beragama adalah sesuatu

yang wajar terjadi dalam masyarakat.

Ajaran Islam dalam pengertian generik adalah inti saripati dari semua

agama para Nabi dan Rasul. Sekalipun secara sosiologis dan formal

kemasyarakatan seseorang adalah beragama islam atau muslim, namun jika tidak

ada padanya ketulusan sikap al-Islam itu (sikap penuh pasrah dan berserah diri

kepada Allah ) maka ia juga termasuk kategori keagamaan yang tidak sejati dan

tertolak.2

Dilihat dari terjadinya agama, maka agama itu dapat dibedakan menjadi

dua kategori yaitu agama samawi atau agama langit dan agama wad‟i atau

agama bumi. Agama samawi adalah agama yang diungkapkan dengan wahyu (

revealed religion ) yang bersumber dari wahyu Tuhan. Yang termasuk dalam

agama samawi adalah Yahudi, Kristen dan Islam. Agama wad‟i adalah agama

dunia ( natural religion ) yang tidak bersumber pada wahyu Illahi melainkan

hasil ciptakan akal pikiran dan perilaku manusia, oleh karena disebut juga

2

(19)

dengan agama budaya. Yang termasuk dalam agama wad‟i adalah, Hindu,

budhha, Tao, Kong Hu Cu dan berbagai Aliran keagamaan lainya.3

Islam sebagai salah satu agama samawi diyakini para pemeluknya

sebagai ajaran yang diwahyukan oleh Allah kepada Nabi Muhammad, sebagai

Nabi terakhir untuk disampaikan kepada manusia sebagai petunjuk di dunia

dan di akhirat. Islam juga mengatur tata hubungan manusia dengan Tuhan,

manusia dengan manusia, dan antara manusia dengan lingkungan yang

semuanya itu terdapat dalam Al-Qur‟an dan Hadist sebagai sumber hukum

pokok dalam agama ini. Dalam perkembangan Islam mengalami kemajuan yang

pesat dibandingkan agama- agama yang lain, yaitu dengan banyaknya penganut

agama Islam dan munculnya Aliran-aliran yang ada di seluruh dunia seperti

aliran perkataan syiah, khawarij, Qodariyah, jabariyah, Sunny ( Ahlussunah Wal

Jamaah ), Asy-Ariah, siah. Namun ada juga yang berkeyakinan bahwa

munculnya aliran- aliran dalam Islam karena adanya golongan yang ingin

menghancurkan Islam baik itu secara langsung maupun tidak.

Di Indonesia sendiri yang mayoritas penduduknya beragama Islam.4 Dan

dari sebuah mayoritas pastilah ada bagian-bagian kecil yang membentuk

mayoritas tersebut. Yang dimaksud bagian-bagian kecil dari mayoritas tersebut

3

Prof. H. Hilman Hadikusuma, S.H, Antropologi Agama bagian I ( Pendektan Budaya Terhadap Aliran Kepercayaan Agama Hindu, Budha, Kong Hu Cu di Indonesia, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1993, hlm. 20.

4

(20)

yaitu organisasi-organisasi dalam agama Islam. Banyak organisasi dalam islam

seperti NU, Muhammadiyah dan Ahmadiyah.

Ahmadiyah merupakan organisasi yang telah memiliki jamaah cukup

banyak, namun, organisasi ini masih belum begitu popular sehingga jarang pula

organisasi ini belum banyak yang mengetahui secara agama maupun

keorganisasiannya. Baik secara nasional maupun internasional. Oleh sebab itu

penulis mencoba memberikan ulasan dan sebuah karya tulis ilmiah tentang

Ahmadiyah yang ditinjau dari segi sejarahnya diwilayah salatiga (kelompok

Ahmadiyah Qadian).

Jamaah Ahmadiyah Indonesia berhasil membangun dan

mengembangkan kebeberapa cabang yaitu salah satunya Cabang jamaah

Ahamdiyah di Salatiga. Peneliti merasa tertarik dengan Ahamdiyah karena

Peneliti merasa ada sesuatu yang harus diungkap dari sejarah Ahmadiyah

disalatiga guna untuk memberikan khasanah keilmuan tentang Ahmadiyah

kepada akademisi dan masyarakat umum. Penelitian ini akan mengulas lebih

lanjut dan menyajikannya dalam bentuk skripsi dengan judul “Sejarah

Ahmadiyah di Salatiga dan sekitarnya Pada tahun 1965 –2008 “.

B. Batasan Dan Rumusan Masalah

Batasan spesial dalam penelitian Sejarah Ahmadiyah ini diambil hanya

ruang lingkup Salatiga dan sekitarnya yang meliputi.Getasan, susukan peneliti

(21)

cabang Ahmadiyah Salatiga. Batasan temporal dalam penelitian ini adalah

tahun 1965-2008.

Pembatasan ini dikarenakan pada tahun1965 merupakan awal berdirinya

jamaah Ahmadiyah di Salatiga. Pembatasan selanjutnya yaitu tahun 2008 di

karenakan tahun tersebut Ahmadiyah mulai berkembang dan memiliki banyak

cabang di area Salatiga dan sekitarnya.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dapat dikemukakan inti

permasalahan dari penelitian ini, yaitu mengenai Sejarah Ahmadiyah di Salatiga.

Permasalahan tersebut dapat dikemukakan dalam beberpa rumusan masalah

sebagai berikut :

1. Bagaimana gambaran umum Ahmadiyah di Indonesia?

2. Bagaimana gambaran umum masyarakat Salatigadan kelompok Ahmadiyah

di kota Salatiga?

3. Bagiamana Sejarah berdirinya dan berkembangnya Ahmadiyah di Salatiga

dan Sekitarnya tahun1965-2008 ?

C. Tujuan dan Ruang Lingkup Penelitian

Sesuai dengan objek dan pembahasan diatas maka penelitian ini

bertujuan untuk mengtahui, menjelaskan serta menganalisis data tentang.

1. Menguraikan gambaran sejarah Ahmadiyah di Indonesia

(22)

3. Untuk mengetahui Sejarah berdirinya dan berkembangnya Ahmadiyah di

Salatiga dan Sekitarnya tahun 1965-2008.

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan dapat digunakan :

1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan bacaan bagi

mahasiswa dan mampu memberikan informasi, pengetahuan, serta

pemahaman tentang Sejarah Ahmadiyah di Salatiga 1965-2008.

2. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan tambahan koleksi sehingga

memberikan wawasan dan pengetahuan bagi pembaca.

3. Hasil Penelitian ini dapat menjadi pengetahuan dan pengalaman secara

nyata bagi peneliti.

D. Tinjuan Pustaka

Dalam penelitian ini menggunakan sumber berupa pustaka-pustaka,

sumber-sumber pustaka yang digunakan dalam penelitian ini antara lain:

Jurnal yang berjudul, “karakter kelompok aliran Islam dalam merespons

Islamic social networking di kabupaten banyumas” yang disusun oleh Abdul Rahman pada juni 2014. Yang menjelaskan tentang Islam sebagai agama yang

(23)

bagi seluruh penganutnya seharusnya memiliki karakter yang sama dalam

membawa misi yang ketika berinteraksi dengan kelompok mereka senidri.5

Kedua Jurnal yang berjudul “ Hak atas kebebasan Beragama di

Indonesia” yang di susun oleh Aniqotul Ummah pada tahun 2016 yang menjelaskan tentang Ahmadiyah masuk ke Manislor ( Kuningan jawa barat )

tahun 1952 sejak itulah Ahmadiyah berkembang pesat di desa tersebut.

6

Perbedaan dengan skripsi saya adalah menjelaskan tentang sejarah masuknya

Ahmadiyah di salatiga pada tahun 1965-2008.

Ketiga, jurnal yang berjudul “ Teologi Ahmadiyah dulu, sekarang dan

akan datang di Indonesia” yang di susun oleh Ridwan A. Malik. Agustus 2013 yang menjelaskan tentang perbedaan Ahmadiyah Qadian dan Lahore.

7

Ahmadiyah Qadian berbeda pandangan dengan umat Islam secara umum yang

mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW. Bedanya dengan penelitian saya

adalah Ahmadiyah Qadian meyakini nabi terakhir adalah Nabi Muhammad

namun Ahamdiyah Qadian juga meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah

Nabi yang membawa Syariat.

Keempat, skripsi yang berjudul “ Islam Dalam Pandangan oleh Herbert

Schuman” yang disusun oleh Ahmad Sayafiq universitas Islam Negeri 2016

yang menjelaskan tentang Tuhan Allah dalam pandangan Muhammad lalu

Schuman menjelaskan tentang hakikat agama, yaitu pada dasarnya mengajarkan

5

Abdul Rohman,” Karakter Kelompok aliran Islam daalam respon Islamic social network” Tahun IV, Nomor 2 juni 2014.

6

Aniqotul Ummah, “ Hak atas kebebasan Beragama di Indonesia” Tahun 2016 7

(24)

kebaikan hanya saja persepsi manusia kurang tepat dalam memahami agama.

8

Perbedaan dengan skripsi saya adalah lebih jelasnya membahas tentang

Ahamdiyah di salatiga bagaimana tentang respon masyarakat salatiga

menanggapi adanya Ahmadiyah di salatiga.

Kelima, Skripsi yang berjudul “ Ahmadiyah Lahore di Yogyakarta

1924-1930 suatu pertumbuhan awal di pulai jawa” yang di susun oleh Dwi Rendy Maulana universitas Indonesia 2010, yang menjelaskan tentang masuknya

Ahamdiyah Lahore di Yogyakarta9. Sedangkan perbedan dengan skripsi saya

adalah lebih fokusnya menjelaskan Sejarah Ahamdiyah Qadian di Salatiga.

Keenam, Skripsi yang berjudul “ Ekstensi Jemaah Ahmadiyah Indonesia

di Yogyakarta pasca SKB 3 menteri Tahun 2008 tentang Ahmadiyah” yang di

susun oleh Pratina Ikhtiyarini Universitas Negeri Yogyakarta 2012, yang

menjelaskan tentang keberadaan Ahamdiyah di Indonesia.10 Bedanya dengan

penelitian saya adalah menjelaskan keberadaan Ahmadiyah di Salatiga serta

ingin mengtahui perkembangan Ahamdiyah disalatiga.

E. Kerangka Konseptual

Dalam penelitian ini penulis menggunakan teori-teori dalam

menjabarkan materi dalam penelitian ini. Penulis menyusun penelitian ini

menggunakan kerangka konseptual berupa gerakan Ahmadiyah melalui

organisasi Masyarakat Ahmadiyah.

8

Ahmad Sayafiq, “ Islam dalam Pandangan oleh Herbert Schuman “ Tahun 2016 9

Dwi Rendi Maulana” Ahmadiyah Lahore di Yogyakarta 1924-1930 suatu pertumbuhan awal di pulai jawa” tahun2010.

10

(25)

Seperti diketahui, kebangkitan Islam dimulai sejak pertengahan abad

ke-19 dan mengkristalkan dalam wujud semeraknya gerakan Islam pada permulaan

abad ke-20 sampai saat ini. Dari berbagai bentuk gerakan Islam, ada gerakan–

gerakan yang menekankan aspek Islam tertentu atau menekankan kehidupan

duniawi dari individu-individu atau masyarakat Islam. Gerakan Islam dalam

pengertian tersebut, misalnya Mu‟tazilah dan Asy‟ariyah.

Secara tipologis, ada gerakan-gerakan puritanis dan fundamentalis Islam.

Dalam bidang politik ada gerakan Negara Islam. Dalam bidang ekonomi, ada

gerakan antimonopoly tembakau dan gerakan Islam dalam Nasionalisasi minyak

dirian sekitar tahun 1950. Gerakan Islam dapat pula berupa gerakan

pembebasan, seperti gerakan rakyat Afghanistan, Aljazair, dan Kashmir.

11

Semua itu dipandang sebagai gerakan yang muncul kerena dipengaruhi Islam

dan merupakan bagian-bagian dari seluruh gerakan yang berkeseimbangan.

Dalam kaitanya dengan gerakan- gerakan Islam di India, Wilfred C.

Smith memasukan Mirza Ghulam Ahmad dengan gerakan Ahmadiyah ke dalam

gerakan teologi. Akan tetapi Gibb cenderung memasukanya ke dalam gerakan

intelektual, walaupun aspek intelektual Ahmadiyah hanya merupakan unsur

yang tidak begitu dominan di dunia Islam. Aspek Intelektual Ahmadiyah ini

hanya sedikit artinya sebagai pembawa tafsiran- tafsiran Islam yang bersifat

Liberal. Sebagaimana pemikiran Islam lainya, Mirza Ghulam Ahmad berusaha

memperbaiki keadaan umat Islam India melalui perubahan pola pikir dalam

11

(26)

memahami agama Islam yang disesuaikan dengan perubahan zaman.

dibandingkan dengan Akhmad Khan dan Amir Ali yang terlalu rasional bagi

zamanya, pikiran Mirza Ghulam Ahmad Menurut B.J. Esser, dapat memuaskan

emosi keagamaan sebagaian umat Islam India.

Ahmadiyah merupakan gerakan Islam yang berpusat di India. Gerakan

merupakan aspek-aspek ideologis-eskatologis karena gerakan ini bersifat

mahadiistik. dengan keyakinan bahwa al- Mahdi dipandang sebagai ” Hakim

peng- ishlah” atau sebagai “ Juru Damai “. Menurut keyakinannya, al- Mahdi

mempunyai tugas untuk mempersatukan kembali perpecahan umat Islam, baik di

bidang kaidah maupun Syari‟ah. Ahmadiyah beberapa umat Islam bersatu

kembali seperti pada zaman Nabi Muhammad Saw. Lebih dari itu, al-Mahdi

juga diyakini bertujuan mempersatukan kembali semua agama, terutama agama

Nasrani dan Hindu, agar melebur kedalam Islam.12

Paham al-Mahdi sebagaimana diketahui, adalah ajaran yang meyakini

adanya juru selamat atau messiah bagi umat yang tertindas akibat merajalelanya

kezaliman penguasa. Tokoh penyelamat tersebut dikenal sebagai” al- Mahdi

yang dijanjikan”. Paham milenaristik ini juga pernah muncul di Indonesia

sekitar abad ke-19 dan ke 20 , khususnya dijawa pada masa pemerintahan

Kolonial Belanda.

Tokoh gerakan tersebut di kenal masyarakat Jawa dengan nama “ Ratu

Adil “ dengan demikian Mahadisme merupakan tradisi gerakan Islam mesikipun

12

(27)

ditandai dengan corak yang berbeda- beda. Dalam konteks keindonesiaan,

Ahmadiyah sebagai organisasi kegamaan dapat digolongkon ke dalam aliran

pemikiran dan gerakan. Ahmadiyah masuk ke Indonesia mulai abad ke-20

seiring dengan mulai semeraknya paham kebangsaan sejak perempat awal abad

ke-20. Ahmadiyah di Indonesia sampai saat ini masih tetap eksis walaupun

pendukungya tidak sebanyak Muhammadiyah atau Nu.

F. Metode Penelitian

Langkah awal dalam melakukan penelitian adalah melakukan pemilihan

topik, seperti yang disampaikan Kuntowijoyo berdasarkan kedekatan emosional

dan kedekatan intelektual. Topik yang dipilih oleh peneliti menyangkut masalah

sejarah Ahmadiyah di Salatiga dan sekitarnya.

Setiap ilmu pasti mempunyai metode. Tanpa adanya metode, kumpulan

pengetahuan tentang obyek tertentu tidak bisa dikatakan sebagai ilmu meskipun

ada ketentuan lain.13 Metode itu berbeda dengan metodologi. Menurut Kenneth

D. Bailey, metode adalah teknik penelitian atau alat yang dipergunakan untuk

menggumpulkan data, sedangkan metodologi adalah falsafah tentang proses

penelitian yang di dalamnya mencakup asumsi-asumsi, nilai-nilai, standar atau

kriteria yang digunakan untuk menafsirkan data dan mencari kesimpulan.14

Metode dalam ilmu sejarah adalah seperangat aturan dan secara sintesis,

menilainya secara kritis dan mengajukan sintesis secara tertulis atau suatu

(28)

dokumen-dokumen otentik menjadi suatu kisah yang saling berhubungan.

Kuntowijoyo mengartikan metode sejarah sebagai petunjuk pelaksanaan dan

teknis tentang bahan, kritik, dan interpretasi sejarah serta dalam penyajian dalam

bentuk tulisan.15

`Menurut penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa metode sejarah

merupakan cara atau teknik merekontruksi peristiwa masa lampau, melalui

empat tahapan kerja yaitu: heuristik (pengumpulan sumber), kritik sumber

(eksternal dan internal), interpretasi (penafsiran), dan historiografi (penulisan

sejarah).16

a. Tahap pertama adalah Heuristik atau pengumpulan sumber. Heuristik adalah

mencari dan menghimpun sumber- sumber sejarah yang berkaitan dengan

objek yang diteliti, baik sumber primer maupun sekunder. Data- data yang

diperoleh melalui studi kepustakaan, studi kepustakaan adalah suatu cara

untuk menelusuri data baik primer maupun sekunder yang terkait dengan

obyek penelitian, atau hasil penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan

terkait dengan obyek penelitian. Dalam penelitian ini dipergunakan sumber-

sumber primer yang ditemukan di perpustakan, dari internet dan untuk arsip

dapat diperoleh atau dikantor-kantor.

Adapun proses heuristik yang dilakukan untuk mendapatkan data dan

informasi yang dibutuhkan untuk menyusun kajian ini yakni:

15

Ibid., hlm 42.

16

(29)

1. Penelitian lapangan

Penelitian lapangan adalah suatu penelitian yang dilakukan oleh peneliti

secara langsung ke lapangan untuk meneliti serta mencari data dan informasi yang

berkaitan dengan masalah yang akan diteliti, agar dapat dibahas berdasarkan

informasi atau bukti data yang ditemukan. Ada 2 teknik yang digunakan peneliti

untuk mengumpulkan data dan informasi penelitian lapangan yaitu:

- Pengamatan ( observasi )

Adalah suatu teknik yang dilakukan peneliti untuk mengamati secara

langsung objek yang berkaitan dengan penelitian dan bukti-bukti tentang

Sejarah Ahmadiyah di Salatiga.

- Tradisi Lisan / Wawancara

Adalah suatu teknik yang dilakukan pengumpulan data dengan

pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang bersifat turun temurun.

Misalnya dengan mengadakan wawancara langsung dengan pelaku atau

dengan orang- orang yang mengtahui tentang Sejarah Ahmadiyah di

Salatiga, peneliti akan mengadakan wawancara langsung kepada Bpk Dudi

selaku Mubalig Jamaah Ahmadiyah di Salatiga.

Selanjutnya peneliti juga melakukan wawancara kepada Ibu

Hamidah selaku warga Ahmadiyah di Tuntang Alasan penulis

mewawancari ibu Hamidah adalah karena beliau sudah lama menjadi

anggota Ahmadiyah.Tentang Sejarah Ahmadiyah di Salatiga karena

(30)

b. Kritik Sumber atau Verifikasi (perbandingan)

Penulisan sejarah dikenal dua macam sumber yaitu sumber primer dan

sumber skunder. Sumber primer adalah kesaksian dari seseorang dengan mata

kepala sendiri atau saksi dengan panca indra yang lain atau dengan alat mekanis.

Sumber kedua adalah sumber skunder, adalah merupakan kesaksian dari siapapun

yang bukan saksi mata, yakni dari orang yang tidak hadir pada peristiwa yang

dikisahkan. Kritik sumber merupakan verifikasi sumber yaitu pengujian kebenaran

atau ketetapan dari sumber sejarah. Kritik sumber ada dua yaitu kritik eksteren dan

kritik intern untuk menguji kredibilitas sumber.

- Kritik ekstern merupakan kritik yang berguna untuk menetapkan keaslian

data atau autentitas data. Kritik ekstern juga menjelaskan tentang apakah

data maupun fakta peninggalan atau dokumen itu merupakan yang

sebenarnya, bukan palsu. Berbagai tes dapat dipergunakan untuk menguji

keaslian tersebut. Misalnya untuk mengetahui secara umum dokumen yang

diteliti dengan melibatkan tanda tangan, tulisan tangan, penggunaan bahasa,

dll.

- Kritik internal, setelah dilakukan pengujian suatu dokumen melalui kritik

ekstern, berikutnya dilakukan kritik internal. Kritik internal biasanya

dilakukan untuk mengetahui isi yang ada dalam kandungan suatu dokumen

tertentu yang kemudian dapat memberikan suatu kritikan terhadap isi atau

(31)

c. Intepretasi (penafsiran)

Dalam tahap ini dilakukan analisis berdasarkan data-data yang diperoleh

dan akhirnya dihasilkan suatu sintesis dari seluruh hasil penelitiannya maka disebut

tulisan atau karya sejarah. Interpretasi adalah menafsirkan fakta sejarah dan

merangkai fakta tersebut hingga menjadi satu kesatuan yang harmonis dan masuk

akal. Dari berbagai fakta yang ada untuk menghindari suatu penafsiran yang

semena-mena akibat pemikiran yang sempit. Bagi sejarawan akademis, interpretasi

yang bersifat deskriptif saja belum cukup. Dalam perkembangan terakhir,

sejarawan masih dituntut untuk mencari landasan penafsiran yang digunakan.

d. Historiografi (penulisan)

Dalam tahap ini proses penulisan dilakukan agar fakta-fakta yang

sebelumnya terlepas satu sama lain dapat disatukan, sehingga menjadi satu

perpaduan yang logis dan sistematis dalam bentuk narasi kronologis.

Historiografi adalah proses penyusunan fakta-fakta sejarah dan berbagai sumber

yang telah diseleksi dalam sebuah bentuk penulisan sejarah. Setelah melakukan

penafsiran terhadap data-data yang ada, sejarawan harus sadar bahwa tulisan itu

bukan hanya sekedar untuk kepentingan dirinya, tetapi juga untuk dibaca orang

lain. Oleh karena itu perlu dipertimbangkan struktur dan gaya bahasa penulisannya.

Sejarawan harus menyadari dan berusaha agar orang lain dapat mengerti

pokok-pokok pemikiran yang diajukan.

(32)

Untuk memperoleh suatu karya yang sistematis, kornologis dan mudah

dipahami, maka peneliti menyusun pembahasan penelitian menjadi lima bab :

Bab I merupakan pendahuluan yang terdiri dari Latar Belakang, Batasan

dan Rumusan Masalah, Tujuan dan Ruang Lingkup Penelitian, Kerangka

Konseptual , Kajian Pustaka, Metode Penelitian, Sistematika Penulisan.

Bab II ini akan membahas mengenai gambaran umum Ahmadiyah yang

meliputi ; Sejarah Ahmadiyah, Masuknya Ahmadiyah di Indonesia, Faham

keagamaan Ahmadiyah.

Bab III ini akan membahas gambaran umum masyarakat Salatiga yang

meliputi : Profil Salatiga, Kondisi Sosial Masyarakat Salatiga, kondisi

keagamaan Masyarakat Salatiga.

Bab IV ini akan membahas mengenai Sejarah berdiri dan

berkembangnya Ahmadiyah di Salatiga yang meliputi : Awal berdirnya

Ahmadiyah di Salatiga, Kehidupan Ahamdiyah di Salatiga, perkembangan

Ahmadiyah di Salatiga Tahun 1932-2008. Peran social- Ekonomi Ahmadiyah di

Dalatiga,

- Sosial-Ekonomi

- Social Agama

(33)

BAB II

GAMBARAN UMUM AHMADIYAH A. Sejarah Ahmadiyah

Munculnya Ahmadiyah merupakan serangkian peristiwa sejarah dalam

Islam yang tidak terlepas dari situasi dan kondisi umat Islam pada saat itu.

Sejenak kekalahan Turki Usmani dalam serangannya Benteng Wina pada tahun

1683, pihak Barat mulai bangkit menyerang kerajaan tersebut sampai pada abad

ke-18 selanjutnya, bangsa Eropa, didorong oleh semangat revolusi industri,

mampu melahirkan berbagai penemuan baru dengan menciptakan senjata-

senjata modern. Maka dari itu, di satu sisi mereka dapat menjarah daerah- daerah

Islam, sedangkan di sisi lain umat Islam sendiri masih tenggelam dalam

kebodohan.

Dengan sikap apatis serta fatalistis, jadi tidak heran Inggris dapat

merampas India dan Mesir, perancis dapat menguasai afrika Utara, sedangkan

bangsa Eropa lainya dapat menjarah daerah- daerah Islam lainya.17

Pasca India menjadi kolonia Inggris, tampaknya sikap umat Islam yang

masih sangat tradisional dan fatalistis, dengan disertai semangat antipasti dan

fanantisme keagamaan yang berlebihan dalam menghadapi tradisi Barat,

menyebabkan mereka semakin terisolasi. Keadaan kaum muslim India ini

semakin terpuruk terutama setelah pembrontakan Muktinya pada tahun 1857.

17Ridwan A. Malik.” Teologi Ahmadiyah dulu, sekarang dan akan datang di Indonesia “,

(34)

Sebagai akibat pemberontakan tersebut, pihak Inggris lebih curiga dan

bersikap reaksioner terhadap umat Islam . Inggris berkeyakinan bahwa umat

Islam-lah yang menjadi biang keladi pembrontakan tersebut. Selain itu, Inggris

menuding umat Islam ingin mengembalikan hak- hak kemaharajaan Mughal,

dan mengagap oposisi umat Islam karena di dorong oleh semangat nasionalisme

yang menyala-nyala. Hal ini berbeda dengan Umat Hindu yang tampak dapat

menyembunyikan, sehingga umat Hindu dapat bekerja sama dengan pemerintah

Inggris.

Sikap non-kooperatif umat Islam India pada saat itu semakin

memojokkan posisi mereka dan membawanya ke dalam situasi ketersinggungan

di negeri sendiri. Umat Islam India semakin tenggelam dalam keterbelakangan

dan perselisihan dengan sesama Muslim, karena masalah khilaffiyah di satu

pihak dan di pihak lain hubungan anatara mereka, terutama yang telah mendapat

didikan system Barat.18

Keadaan demikian, Intelektual kaum ulama Islam semakin tenggelam

sampai ke tingkat yang paling bawah. Sehingga pertarungan antara sesama

kelompok Muslim karena perbedaan paham yang kecil saja telah dipandang

sebagai pengabdian terhadap Islam yang paling besar dan menghukum Muslim.

lainya sebagai kafir. Demikianlah situasi umat Islam yang melatar belakangi

munculnya gerakan Mahadiisme Ahmadiyah. Sebagaimana yang telah disinyalir

di atas bahwa kemahdian Ahmadiyah berorientasi pada pembaruan pemikiran.

18

(35)

Disini Mirza Ghulam Ahmad yang mengaku telah diangkat sebagai-almahdi dan

al-Masih oleh Tuhan merasa mempunyai tanggung jawab moral untuk

memajukan Islam dan Muslim dangan memberikan interprestasi baru terhadap

ayat- ayat Al- Qur‟an sesuai dengan tuntunan zamannya sebagai yang

diilhamkan Tuhan kepadanya. Motif Mirza Ghulam Ahmad ini tampaknya

didorong oleh gencaranya serangan misionaris Kristen dan propaganda umat

Hindu terhadap umat Islam saat itu.

Oleh karena itu Ahmadiyah yang lahir menjelang akhir abad ke-19, di

tengah hura- hara runtuhnya masyarakat Islam lama dan infiltrasi budaya

dengan dengan sikapnya yang baru, serangan gencar kaum misionaris Kristen

terhadap Islam dan berdirinya Universitas Aligarh yang baru, maka lahirnya

Ahmadiyah adalah sebagai protes terhadap keberhasilan kaum misionaris19

Kristen memperoleh pengikut- pengikut baru. Di samping itu, juga sebagai

protes terhadap paham rasionalis dan westernisasi yang dibawa oleh Sayyid

Ahmad Khan dengan Aligarh-nya.

Di samping itu, di saat yang sama, demikian menambahkan, lahirnya

Ahmadiyah juga sebagai protes atas kemrosotan Islam pada umumya.

Sayangnya pembaharuan al-Mahdi Ahmadiyah ini menyentuh keyakinan umat

Islam yang sangat sensitive, yaitu 20masih adanya nabi dan wahyu yang di

turunkan Tuhan sesudah masih adanya Nabi dan wahyu yang diturunkan

Tuhan sesudah Al-Qur‟an dan sesudah kerasulan Nabi Muhammad saw. Inilah

19

(36)

kiranya yang menyebabkan timbulnya reaksi keras dan permusuhan umat Islam

terhadap Aliran yang baru lahir.

Melihat genealogi aliran Ahmadiyah di atas, dapat disimpulkan bahwa

Ahmadiyah adalah nama ajaran dan gerakan yang dipelopori oleh Mirza

Ghulam Ahmad ( 1839-1908 ) di Qadyan, Punjab, India. Ahmadiyah adalah

gerakan Mesianik dalam Islam Modern. Gerakan ini merupakan salah satu

gerakan yang paling aktif dan paling kontroversial sejak kelahiranya di India

pada masa penjajahan Inggris pada tahun 1889. Ia berhasil mempertahankan

kegiatanya selama lebih dari se-abad dan tidak tersaingi dalam menyebarkan

keyakinan.21

Gerakan ini dipimpin oleh Hazrat Mirz Ghulam Ahmad atau yang sering

disebut Ahmad saja, pendiri dari Ahmadiyah Ia adalah keturunan Haji Barlas,

raja kawasan Qesh. Di sebabkan sebuah serangan, keluarganya akhirnya

mengungsi hingga ke Khorasan, India. Mirza Ghulam Ahmad lahir di Desa

Qodyan, Punjab, India pada tanggal 13 Febuari 1835. Ia terlahir dari keluarga

yang berkecukupan. Saudara kembarnya meninggal saat lahir. Sejak kecil ia

sangat tertarik mendalami agama Islam. Berjam- jam waktunya dihabiskan

untuk membaca Al-Qur‟an atau sekedar masalah keagamaan dengan ahli agama

Islam ataupun agama lainya. Hal ini mengecewakan ayahnya yang berharap ia

dapat menjadi seorang pengacara atau pegawai negeri.

21Ian Adamson “ Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian “Pustaka Marwa, Yogyakarta. 19

(37)

Pada usia 40 tahun, Mirza Ghulam Ahmad atau yang sering disebut Ahmad

mengaku memperoleh wahyu dari Tuhan. Ia lalu menulis banyak karya yang

isinya pembelaan atas pandangan- pandangan miring yang menghajut Islam. Ia

juga mengaku sabagai mujaddid ( pembaru ), al- masih, dan al- Mahdi yang

dijanjikan. Menurutnya, Ahmadiyah bertujuan menegakkan syari‟at Islam,

dengan meremajakan moral dan nilai- nilai dalam Islam. Baginya, Ahmadiyah

bukan sebuah agama baru, namun merupakan bagian dari agama Islam.22

B. Masuknya Ahmadiyah di Indonesia

Informasi tentang dua paham Ahmadiyah di Indonesia tidaklah jelas.

Ketidak jelasan itu terlihat dari latar belakang kedatangannya di Indonesia.

Orang- orang Indonesia, khususnya pemuda- pemuda di Sumatra,mengtahui

kehadiran Ahmadiyah aliran Qadian melalui sekolah- sekolah di Qadian.

Berbeda dengan Ahmadiyah Lahore yang tampaknya yang lebih suka memakai

cara mengirim propagandis- propagandis ke Indonesia tanpa harus melalui

permintaan dan orang – orang Indonesia.23

Berkenan dengan awal kemunculan Ahamdiyah di Indonesia, Howward

M. Federspiel menyatakan bahwa Ahmadiyah pada awalnya sampai ke

Indonesia melalui para siswa yang kembali dari sekolah Ahmadiyah di India

pada akhir abad ke-19. Akan tetapi, secara kronologis versi itu dipermasalahkan

(38)

tidak setuju dengan fakta- fakta tentang proses orang- orang Indonesia yang

pada awalnya bersekolah ( Ahmadiyah di Qadian ).24

Hamka menyatakan bahwa berita tentang Ahmadiyah tersebar melalui

buku- buku dan majalah- majalah yang terbit di luar negeri. Sebaliknya, artikel

yang muncul belakang menunjukkan bahwa bahwa Ahmadiyah tidak dikenal di

Indonesia sampai tiga orang siswa Indonesia pergi belajar ke India pada 1922

M.Setelah mendengar pengajaranya Islam di India tidak kurang hebatnya

dibandingkan dengan pengajaran Islam di Timur Tengah, sejak itu banyak murid

Indonesia berangkat keindia untuk meneruskan pendidikannya ke Lahore

menuju kampung Qadian. Dari situ mereka kemudian mengirim informasi

melalui surat tentang gerakan itu kepada orang- orang Islam di Indonesia.

Ajaran Ahmadiyah tersebar melalui pelajar Sumatra yang belajar di India

dan kembali ke Indonesia sekitar tahun 1925 M. Sebagai contoh Abdul Sami

Sumantri, seorang siswa asal Sumatra yang sedang sekolah di Ahmadiyah

School Qadian yang mengirim surat sekolah tersebut. Ia menginformasikan

bahwa sekolah di Ahmadiyah School sangat menyenangkan. Di sekolah itu ada

pelajaran bahasa Arab yang cukup, bahasa Inggris , bahasa persi, bahasa Urdu,

dan bahasa Hindustan yang merupakan bahasa sehari- sehari.

Selain itu, terdapat pelajaran lain seperti yang diajarkan di Indonesia.

Pendidikanya di rancang untuk delapan tahun.25 Menurut penulis Ahmadiyah

24

(39)

Qadian, pada akhir tahun 1924, sekembalinya Khalifah II Mirza Basyiruddin

Mahmud Ahmad dari London ( dalam rangka menghadiri konfrensi agama-

agama dan peletakan batu pertama pendirian masjid Fadhl), ia diundang para

pelajar Indonesia untuk menghadiri acara jamaah beserta para tokoh jema‟at.

Pelajar Ahmadiyah Indonesia saat itu berjumlah 19 orang. Di antaranya adalah

Abu Bakar Ayyub, Ahmad Nurruddin, Zaini Dahlan, H. Mahmud, Muhammad

Nur, Abdul Qayyum, Mohammad samin, Samsudin, Samsuddin Rao- Rao,

Mohammad Jusyak, Muhammad Ilyas, Hajiudduin, Abdul Aziz Syareef, Moh

Idria, dan Abdul Samik.

Dalam jamuan tersebut, pihak pelajar membacakan pidatonya dalam

bahasa Arab yang diwakili oleh Haji Mahmud. Isinya meminta Khalifah II agar

dapat mengadakan kunjungan ke Indonesia. Atas permintaan tersebut, ia

menunjukan Maulana Rahmat Ali yang waktu itu bertugas sebagai guru

Ta‟limul Islam High School di Qadian sebagai Mubaligh untuk Sumatra dan

Jawa. Dengan demikian kedatangan Ahmadiyah Qadian di Indonesia sebenarnya

atas permintaan pemuda- pemuda Indonesia sendiri yang pernah belajar di

Qadian, termasuk bekas murid- murid dari perguruan Sumatra Thawalib, seperti

Ahmad Nuruddin, Abu Bakar Ayyub, dan Zaini Dahlan yang kemudian menjadi

Tokoh penyebar paham Ahmadiyah di kampung halamannya.26

25

Iskandar Zulkarnain ,gerakan Ahmadiyah di Indonesia, Pt Lkis Pelangi Aksara, Yogyakarta, 2005, hlm. 174

26

(40)

Rahmat Ali lahir pada 1893 M. setelah lulus sebagai pelajar generasi

pertama dari Madrasah Ahmadiyah di Qadian 1917, menjadi guru bahasa Arab

dan agama Ta‟limul Islam High School Qadian. Pada 1924, ia dipindahkan ke

Departeman Tabligh. Kemudian pada bulan juli 1925 hingga Mei 1950, ia

bertugas sebagai mubaligh di Indonesia. Namun beberapa tahun setelah itu dia

ditugaskan sebagai mubaligh di Pakistan Timur hingga Agustus 1958 dan

meninggal dunia di Rabwah.

Dengan demikian, Maulana Rahmat ali adalah pembawa paham

Ahmadiyah di Qadian ke Indonesia bersama pemuda- pemuda Indonesia yang

belajar di Qadian. Oleh karena itu, Maulana Rahmat Ali di pandang sebagai

perintis Ahmadiyah Qadian di Indonesia yang dalam perkembangannya menjadi

sebuah organisasi dengan nama Jema‟at Ahmadiyah Indonesia.

Ahmadiyah adalah suatu organisasi keagamaan dengan ruang lingkup

Internasional yang memiliki cabang di 178 negara yang tersebar di Afrika,

Amerika Utara, Amerika Selatan, Asia, Australia, dan Eropa. Saat ini jumlah

keanggotaanya di seluruh dunia mencapai 200 juta orang, dan angkanya terus

bertambah dari hari ke hari. Jamaah ini adalah golongan Islam yang paling

dinamis dalam sejarah era modern.

C. Faham Keagamaan Ahmadiyah

Mengenai pemahamaan tentang keagamaan Ahmadiyah yaitu salah

(41)

kaum Muslim pada umumnya. Ahmadiyah memunculkan tiga klasifikasi terkait

mengenai ajaran kenabian.

a. Nabi Shahib asy- Syari‟ah Mustaqil. Nabi Shabib asy- syari‟ah adalah

nabi pembawa syariat ( hukum – hukum ) untuk manusia. Sementara

Nabi Mustaqil adalah hamba Allah SWT yang menjadi Nabi dengan tidak

mengikuti nabi sebelumnya, seperti Nabi Musa a.s : ia menjadi nabi

membawa syari‟at baru. dalam arti bahwa ia ditugaskan oleh Allah Swt

untuk menjalankan syari‟at yang dibawa nabi sebelumnya . para Nabi

yang tergolong atau masuk ke dalam Nabi Mustaqil Ghair at- Tasyri adalah

Nabi Harun, Daud, Sulaiman , Zakaria, Yahya, dan Nabi Isa a.s. semuanya

menjadi Nabi langsung ( mustaqil ), karena tidak hasil mengikuti para Nabi

yang mendahuluinya, mereka secara langsung diangkat oleh Allah SWT

menjadi Nabi dan ditugaskan menjalankan syariat Nabi Musa a.s yang ada

dalam kitab Taurat.

27

Maulana Ali, Qur’an Suci, Teks Arab, Terjemah dan Tafsir Bahasa Indonesia. Ter. H, M Bachrun ( Jakarta: Darul Kutub al- Islamiyah. 1979 ), hlm. 53

28

(42)

c. Nabi zhili Ghair at- tasyri yakni hamba Tuhan yang mendapat anugerah

dari Allah Swt menjadi Nabi semata- mata karena hasil kepatuhan kepada

29Nabi sebelumnya dan juga karena mengikuti syari‟atnya. Karena itu,

tingkatnya berada di bawah kenabian sebelumnya dan ia juga tidak

membawa syari‟at baru. Hamba Tuhan yang masuk ke dalam golongan

nabi zhili Ghair at- Tasyri‟I adalah Mirza Ghulam Ahmad yang mengikuti

syariat Nabi Muhammad SAW.

Menurut pemahaman ahmadiyah, hanya nabi yang membawa syariat saja

yang sudah berakhir karena lembaga kenabian telah tertutup, sedangkan nabi-

nabi yang tidak membawa syariat akan terus berlangsung.Ahmadiyah

menyatakan bahwa Nabi zhili Ghair at- Tasyri‟I hanya muncul dari dari

30

seorang ummati, yakni seorang pengikut Nabi Muhammad SAW.Ahmadiyah

menggunakan istilah nabi Zhili atau buruzi artinya Nabi Bayangan.

Pandangan Ahmadiyah tentang Khatam an- Anabiyyin bahwa menurut

mereka, berita akan datangnya kembali Nabi Isa a.s sebagaimana diriwayatkan

dari hadis- hadis shahih adalah jelas, sekalipun Nabi Isa.a.s tidak membawa

syari‟at baru, dan bahkan ia harus mengikuti syari‟at Nabi Muhammad SAW.

Namun ia sebagai Nabi zhili atau buruzi. Oleh karena itu kata Khatam an-

Anabiyyin menurut Ahmadiyah di artikan sebagai Nabi yang paling mulia dari

(43)

disambung dengan kaum atau golongan maka kata itu mempunyai makna

pujian.

Atas dasar keterangan tersebut, jamaah Ahmadiyah mengartikanya tidak

ada nabi lagi sesudah Nabi Muhammad SAW.yang membawa syari‟at baru.Jika

yang datang itu Isa as, yang sebelumnya sudah menjadi Nabi maka yang

demikian ini tidak akan dapat mematahkan pembuktian ini. Oleh karena itu

kata tersebut tidak menunjukan arti “ akhir para nabi “ Mirza Ghulam Ahmad

menjelaskan mengenai Khatam an-nubuwwah sebagai berikut.

1. Dengan sungguh-sungguh saya percaya bahwa Nabi Muhammad SAW, adalah

Kahatam al-anbiya. Seseorang yang tidak percaya pada Khatam al-anbiya

Rasullah SAW maka dia adalah orang yang tidak beriman dan berada di luar

lingkungan Islam.

2. Inti dari kepercayaannya adalah La Ilaha illallah, Muhammad Rasullah,

kepercayaan ini menjadi pegagan Ahmadiyah dalam hidup dan Kepada Allah

SWT dengan rahmat dan Karunia- Nya berpegang sampai akhir hayat bumi ini.

Junjungan dan penghulu Ahmadiyah, Nabi Muhammad SAW. Adalah Khatam

an- nabiyyin dan hair al- mursalin, yang termulia di antara para nabi.

2. Konsep Wahyu dalam ajaran Ahmadiyah

Pembahasan tentang wahyu di kalangan Ahmadiyah penting untuk

dilakukan karena wahyu merupkan salah satu ajaran pokok Ahmadiyah penting

(44)

tidak dapat dipisahkan dengan kemahdian Ahmadiyah. Menurut pengikut

Ahmadiyah al- Mahdi Ahmadiyah tidak dapat dipisahkan dengan al- masih karena

al- Mahdi dan al- Masih adalah satu tokoh dan satu pribadi, dimana wahyu yang

disampaikan kepada Al- Mahdi adalah untuk menginterprestasikan Al-Qur‟an

sesuai dengan ide pembaharuanya. Kata wahyu biasa diterjemahkan sebagai„

isyarat yang cepat. Wahyu itu sendiri adalah sabda yang diilhamkan masuk ke

dalam kalbu para nabi 31dan orang- orang tulus.

Pengertian wahyu secara bahasa adalah pemberitahuan secara tersembunyi

kepada yang lain.wahyu Allah tidak hanya di turunkan kepada para Nabi dan

utusan Allah SWT saja , tetapi dikaruniakan juga kepada semua umat manusia, dan

bahkan di karuniakan kepada semua ciptaan –Nya termasuk barang- barang yang

tidak bernyawa.

Dalam Al-Qur‟an, ada lima macam wahyu Allah SWT, yaitu

1. Wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Makhluk yang tak bernyawa, seperti

bumi dan langit.

2. Wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada binatang ,seperti lebah .

3. Wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Malaikat

4. Wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Manusia biasa, baik laki- laki

maupun perempuan ( bukan nabi ), seperti para sahabat, Nabi Isa as, dan Ibu

Nabi Musa

31

(45)

5. Wahyu Allah SWT yang di turunkan kepada Nabi dan Rasul.32

mempercayai bahwa bukan hanya wahyu yang akan datang terus menerus setelah

Nabi Muhammad SAW. Melainkan Nabi pun juga akan berlangsung terus menerus.

Pengakuan pengikut Ahmadiyah terhadap kenabian Mirza Ghulam Ahmad

karena meyakini sebagai duplikat Nabi Isa. a.s yang bersetatus nabi dan menerim

wahyu. disampaikan itu, berita kehadiran al- Masih juga disebutkan dalam hadis-

hadis shahih, kemudian Ahmadiyah mencoba menguatkan keyakinan tersebut

dengan menggunakan dalil- dalil yang meyakinkan.

Dengan demikian pemahaman tentang wahyu di kalangan Ahmadiyah

mempercayai bahwa selain wahyu nubuwah atau wahyu tasyri atau wahyu matluw

masih ada wahyu lain sampai hari kiamat.Dalam menggunakan istilah wahyu dan

Ilham, pendiri Ahmadiyah mengakui bahwa petunjuk yang diterimanya dari Tuhan

sebagai Ilham, kemudian oleh para pengikutnya di nyatakan sebagai wahyu.

Dengan demikian, Ahmadiyah tidak membedakan antara Ilham dan wahyu

32

(46)

sehingga digunakan istilah- istilah baru seperti wahyu nubuwwah : Anugrah

untuk umat manusia. wahyu tasyri’ : sejarah pembinaan atau pembentukan hukum

yang mengkaji sampai akhir zaman nanti. wahyughair tasyri: adalah Sunnah yang

tidak ada maksud untuk diteladani. wahyu walayah: adalah rembulanya dan

cahaya-cahaya makrifat serta maknawi lewat perantaraan mereka memancarkan

kepada segenap alam dan manusia. wahyu matluw: adalah wahyu yang khusus

para Nabi atau Rasul Allah yang secara teknis. wahyu ghair matluw : adalah

wahyu tak diucapkan dengan terang.33 Di kalangan sunni, wahyu dan ilham adalah

berbeda. Wahyu hanya untuk para nabi dan Rasul Allah SWT, dan tidak mungkin

lagi turun sesudah Nabi Muhammas SAW wafat, sedangkan ilham hanya

diperuntukkan bagi manusia biasa. Dengan demikian drajat Ilham tidak akan

sampai ke drajat wahyu.

3. Al-Masih dan Al-Mahdi

Pembahasan mengenai al- Mahdi dan al- masih adalah ajaran penting dalam

Ahmadiyah. Menurut Ahmadiyah ajaran tentang al- Mahdi tidak dapat dipisahkan

dari masalah kedatangan Isa al- Masih di akhir zaman. Hal itu karena al- Mahdi dan

al- masih adalah satu tokoh, satu pribadi yang kedatangannya telah dijanjikan

Tuhan. Ia di tugaskan Tuhan untuk membunuh Dajjal dan mematahkan tiang salib,

yakni mematahkan argument- argument agama Nasrani dengan dalil- dalil atau

bukti- bukti yang meyakinkan serta menunjukan kepada para pemeluknya tentang

33

(47)

kebenaran Islam34. Selain itu ia ditugaskan untuk menegakkan kembali syariat Nabi

Muhammad SAW.Sesudah umatnya mengalami kemerosotan dalam kehidupan

beragama.35

Ahmadiyah memahami kata Imammukum minakum menunjukan seseorang

diantara umat Islam sendiri. Artinya bukan seorang imam yang datang dari luar

seorang umat Muhammad yang mempunyai persamaan dengan Isa al –Masih a.s,

dengan demikian tokoh itu pula yang disebut al- Mahdi. Jadi al- masih dan al-

Mahdi itu satu pribadi, dan tidak seperti yang di pahami orang pada umumya.

Mereka hanya mengambil beberapa hadis mahdiyyah yang sesuai dengan

keyakinannya, sedangkan para pengikut Ahmadiyah memandang hadis

Mirza Bayiruddin Mahmud Ahmad, Invitation to Ahmadiyyat ( London, Boston and Henely: Routledge & Keagen Paul Ltd., 1980), hlm. 30-31

35

(48)

tersebut menjadi “ seorang yang telah di beri petunjuk oleh Tuhan “ dengan cara

yang menakjubkan dan sangat pribadi. Berdasarkan hal tersebut dapat di katakan

bahwa orang yang di sebut Mahdi adalah orang yang benar- benar telah mendapat

bimbingan Tuhan36. dikalangan syiah Al- Mahdi merupakan keyakinan yang

penting sebagai kalangan Ahmadiyah, umumnya dipahami sebagai seorang imam

yang di tunggu- tunggu. Ia akan datang memenuhi bumi dengan keadilan karena

bumi dipenuhi dengan kecurangan. Corak kemahdiannya lebih bersifat politis dan

mengarah pada tindakan balas dendam terhadap lawan- lawan politknya.

Munculnya paham al- Mahdi adalah akibat dari kegagalan dalam berperang di

bidang politik.37

Berkenan dengan Imam Mahdi, ada 4 macam pengakuan:

1. Bahwa Al-Mahdi ialah Isa Ibnu Maryam itu sendiri

2. Dimaksudkan dengan Al-Mahdi itu ialah Khalifah yang bernama Al-Mahdi dari

Bani Abbassiyah, maka dia itu sudah berlalu.

3. Al-Mahdi seorang Lelaki dari Ahlul-bait anak cucu Hasan atau Husain

4. Pengakuan Rafidah ( Syiah ) yang mengatakan Al-Mahdi adalah Muhammad.38

4. Kitab Tadzkirah

H.A.R. Gibb dan Kremers (ed ), Shorter Enclopedia of Islam ( Leiden: E.J. Brill, 1974 ), hlm. 310

37

Ibid.hlm. 311

38

(49)

SAW. Kitab Tadzkirah adalah sebuah buku yang berisi kumpulan wahyu – wahyu,

kasyaf- kasyaf, serta mimpi- mimpi yang diterima Hazrat Mirza Ghulam Ahmad

dalam hidupnya selama lebih dari 30 tahun39. Selama pendiri Ahmadiyah hidup,

tidak ada Kitab yang bernama Tadzkirah dalam lingkungan Ahmadiyah serta tidak

pernah ditulis Oleh Mirza Ghulam Ahmad.

Kitab Tadzkirah dibuat atas prakarsa Mirza Ghulam Bashiruddin Mahmud

Ahmad pada tahun 1935, ia mengintruksikan kepada Nazarat Ta’lif wa Tashnif,

sebuah biro penerangan dan penerbitan jamaah Ahmadiyah pada waktu itu untuk

menghimpun wahyu kasyaf, dan mimpi yang diterima pendiri Ahamdiyah

sebagaimana terdapat dalam berbagai macam terbitan ( buku – buku, Jurnal –

jurnal, selebaran, majalah dan surat Kabar ) yang mana terbitan itu telah

disebarkan kepada khalayak umum pada saat itu serta ada keterangan pengalaman

rohani Mirza Ghulam Ahmad.40

Kemudian juga adanya kesaksian dari para Sahabat, anggota keluarga,

kerabat, dan lain- lainya, di mana mereka diberitahu oleh Mirza Ghulam Ahmad

mengenai wahyu, kasyaf, dan mimpi yang ia terima dari Allah SWT.41

Penerbit kitab Tadzkirah pertama kali di lakukan oleh BookDepot Ta’lifwa

Isyaa’at Qadian. Pada tahun 1935, terdiri dari 664 halaman, sedangkan penerbit

39

M.A. Suryawan, Bukan Sekedar Hitam Putih: Penjelasan Atas Keberatan Yang Sering Diajukan Kepada Ahmadiyah ( Jakarta: Arista Brahmatyasa, 2004 ), hlm. 58

40

Ahmad Sulaeman, Ekky, Klarifikasi Terhadap “ Kesesatan Ahmadiyah “ Dan “ Plagiator” ( Bogor: Mubarak Publishing, 2011 ), hlm. 41

41

(50)

kedua pada tahun 1956 dan ketiga tahun 1969 oleh As- Syirkatul Islamiyah

Limited Rabwah di Pakistan, masing – masing terdiri atas 840 serta 818 halaman.42

Materi yang di jelaskan dalam kitab Tadzkirah sebagai berikut :

1. Tadzkirah merupakan buah mimpi dari Mirza Ghulam Ahmad

2. Pernyataan tersebut dilukiskan dalam sebuah mimpi dan dituangkan

dalam kitab Tadzkirah.

3. Pernyataan Mirza Ghulam Ahmad ditafsirkan murid – muridnya dalam

bahasa Urdu dengan intisari yaitu. (1) membenarkan dan memberikan

penjelasan tentang kenabianya : (2) seruan dan pujian kepada Mirza

Ghulam Ahmad : (3) kedatangan dengan Allah SWT tentang kebenaran

Ahmadiyah dan keberuntungan bagi yang mendapatkanya.43

Di Indonesia jumlah pemilik kitab Tadzkirah sangan terbatas dan hanya dimiliki

oleh pengikut Ahmadiyah yang mengerti bahasa Urdu. Isi Kitab Tadzkirah terbagi

menjaadi dua bagian :

1. Tadzkirah ( mimpi – mimpi ), kasyaf- kasyaf ( visions ) dan wahyu dalam bentuk

lisan yang diterima oleh Masih Mau’ud as,44 dimana materi ini telah diterbitkan

serta disebarluaskan kepada khalayak umum selama hidupnya Mirza Ghulam

Ahmad.

42

Abdul Basit, Klarifikasi Atas Tela‟ah Kitab Tadzkirah ( Jakarta: Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 2003 ), hlm.3-4

43

Ibid., hlm.5-6

44

(51)

2. Zameema Tadzkirah ( wahyu – wahyu, kasyaf- kasyaf , dan mimpi- mimpi yang

tidak diterbitkan selama waktu hidupnya Masih Mau’ud as 45). Materi ini

dikumpulkan dari kesaksian para Sahabat , Ummul Mukminin, anggota keluarga,

dan kerabat, dimana mereka diberitahu oleh Mirza Ghulam Ahmad mengenai

wahyu- wahyu, kasyaf- kasyaf , dan mimpi – mimpi yang diterima olehnya.

Dalam bagian ini, wahyu yang diterima Oleh Mirza Ghulam Ahmad , disusun oleh

para ulama Muslim Ahmadi secara kronologi mulai dari :

1. Periode masa remaja sampai dengan tahun 1870. Dalam periode ini, wahyu yang

diterima oleh Mirza Ghulam Ahmad sebagian besar dalam bentuk mimpi,

beberapa dalam bentuk kasyaf dan sedikit dalam bentuk wahyu secara lisan.

2. Periode tahun 1870 sampai dengan 1908. Pada periode ini sangat banyak wahyu

yang di terima, baik dalam bentuk wahyu secara lisan, kasyaf, ataupun mimpi.

Pada bagian ini dapat ditemukan pengalaman- pengalaman rohani

pendiri Ahmadiyah, baik dalam bentuk mimpi Kasyaf, dimana sejak masa

remaja Mirza Ghulam Ahmad telah melihat dan bertemu dengan Nabi Besar

Muhammad SAW, Nabi Isa as, Ali ra, Fatimah Zahra ra, Hassan ra, Khrisna,

Guru Baba Nanak, Syekh Abdul Qodir Jailani, serta dengan nama

malaikat.Mirza Ghulam Ahmad terima dalam kitab Tadzkirah sebagian besar

berbahasa Arab Urdu, tetapi juga dalam bahas Persia dan Inggris.

Dalam Kitab Tadzkirah ada beberapa wahyu yang ia terima merupakan

pengulangan dari ayat- ayat suci Al- Qur‟an. Hal tersebut dimaksudkan sebagai

45

(52)

penekankan pada beberapa segi konotasi ayat- ayat tertentu dan penerapanya

pada situasi tertentu. 46 Kemudian adanya beberapa wahyu yang sama

redaksinya dengan ayat suci Al-Qur‟an serta diulang-ulang bukan pilihan, dan

keinginan dari Mirza Ghulam Ahmad sebagai penerima wahyu tetapi merupakan

kehendak dari Allah SWT semata sebagai pemberi wahyu.

46

(53)

BAB III

GAMBARAN UMUM MASYARAKAT SALATIGA DAN KELOMPOK AHMADIYAH KOTA SALATIGA

A. Profil Salatiga

Kota Salatiga merupakan salah satu daerah otonom di Jawa Tengah yang

memiliki 4 kecematan dari 23 kelurahan. Kota Salatiga terletak di daerah pedalaman

kaki Gunung Merbabu, Gunung Gajah Mungkur, Gunung Telomoyo dan Gunung

Sumbing, Kota Salatiga beriklim tropis dengan udara yang sejuk, sebagai kota

pendidikan.Penduduk Kota Salatiga belum menyebar secara merata di seluruh

wilayah Kota Salatiga pedesaan.

Pada tahun 2006, jumlah penduduk Kota Salatiga sebesar 176.795 jiwa atau naik

besar di bandingkan jumlah penduduk laki- laki.Hal ini terlihat dari rasio jenis

kelamin ( rasio jumlah penduduk laki- laki terhadap jumlah penduduk perempuan

terbesar 97,74. Kota Salatiga memiliki keberagamaan agama dalam

masyarakatnya.Kota Salatiga merupakan kota penting pada masa pendudukkan

Belanda di Jawa Tengah, Kota Salatiga menjadi persinggahan bagi pejabat-pejabat

Belanda pada masa Pemerintahan Hindia-Belanda.Maka tidak heran bila ditemui

berbagai arsitektur bangunan Belanda di sudut-sudut Kota Salatiga.

Kehidupan beragama yang harmonis sangat didambakan masyarakat, hal ini

terlihat dari tempat-tempat peribadatan yang ada di sekitar warga, seperti masjid,

gereja, dan pesantren-pesantren. Banyak tempat peribadatan di Kota Salatiga pada

(54)

13,25 persen Gereja Kristen dan Khatolik dan sisanya berupa Pura. Bangunan

rumah ibadah dari berbagai agama mencerminkan kehidupan masyarakat Salatiga

yang hidup dalam keberagaman serta hidup berdampingan di tengah perbedaan.

Keberagaman tidak menjadi curang pemisah antar umat beragama karena terjadi

jalinan sosial yang harmonis antar umat beragama.47

B. Kondisi Sosial Masyarakat Ahmadiyah di Salatiga dan Sekitarnya

Menurut pendapat ibu Suryati selaku warga jamaah Ahmadiyah kondisi sosial

Ahmadiyah di Salatiga yaitu

“ Kondisi keuangan Ahmadiyah di salatiga, susukan getasan. sangat

independen dan mandiri. Beraneka ragam pekerjaan Anggota Ahmadiyah

seperti, tukang rosok, guru, pedagang PNS. Mubaligh. Namun yang bekerja

sebagai Mubaligh tidak boleh memperjualkan dirinya harus tetap satu tujan

mengabdi kepada Allah. Para Jamaah Ahamdiyah setiap bulanya

menyisihkan uang nya untuk membayar Candah”48

Dalam pemaparan tersebut diartikan bahwa keungan jamaah Ahmadiyah

bersifat Independen dan mandiri. Semua kegiatan jamaah Ahmadiyah berasal

dari iuran wajib anggotanya dan tidak ada sumbangan dari pihak pemerintan

termasuk di Indonesia Khususnya di Salatiga. Dengan cara begitulah, jamaah

Ahmadiyah hidup dan berkembang.

47

https://mikolei.wodpress.com/profil-kotasalatiga/diakses pada tanggal 13 September 2017, Pukul 09.32 WIB

48

(55)

Candah Infaq atau Sumbangan Ahmadiyah

Dalam Metode Ahmadiyah Qadian menentukan kadar candah :1/10,

1/16,1/20 dan 1/3 adalah metode talfiq-bayani. Artinya dalam proses penggalian

hukum Ahmadiyah mengambil dan mengembangkan beberapa ketentuan kadar

yang sudah ada dalam ketentuan zakat pertanian dan wasiat dalam harta waris.

Dimana Chandah Wasiya (1/10-1/3) mengikuti ketentuan kadar zakat

pertanian:1/10, dan ketentuan wasiat dalam waris: 1/3 adapun Chandah Jalsah

Salanah (1/10) atau ( 1/16 atau 6,25 % ), ketentuan kadarnya murni dari inisiatif

dan kreativitas dari Khalifah yang kedua, Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad.49

Terbentuknya candah pengajahwantahan dari perintah Allah di surat

Al-Baqarah. Ayat 4. Yang Artinya:

“ dan mereka yang beriman kepada Kitab ( Al- Qur’an ) yang telah

diturunkan kepadamu dan kitab- kitab yang telah diturunkan sebelummu,

serta mereka yakin akan adanya ( kehidupan ) akhirat.”

Dengan menejemen modern yang dapat mengantarkan candah atau

sumbangan menjadi bagian dari penyelesaian masalah kondisi kebangsaan yang

terus berkembang.50

Progam penyaluran candah kota Salatiga adalah untuk pembangunan masjid-

masjid, bencana alam, seperti gempa, tsunami dll.

49

Skripsi Hamka Husein Hasibun,Kontruksi Candah Dalam Ahmadiyah Qadian ,Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, 2017.hlm. 85

50

(56)

Adanya aturan menikah dengan sesama Ahmadiyah ini menjadi penting

bagi sistema Candah, karena untuk menjalankan peraturan Jamaah Ahmadiyah

juga membutuhkan kesepakatan ( dan kerja sama ) antara istri dan Suami. Jika

pasangan berasal dari kepercayaan agama yang tidak sepaham, dikhawatirkan akan

menghalangi dan melarang para Ahmadi unuk melaksanakan kewajibanya,

termasuk membayar Candah. Hal itu bisa berdampak pada berkurangnya dana

penopang jamaah Ahmadiyah.

C. Kondisi Keagamaan Ahmadiyah Salatiga dan Sekitarnya.

Memilih suatu agama atau keyakinan merupakan hak dasar kita sebagai

manusia. Dimana kita dapat menerapkan ajaran agama tersebut pada kehidupan kita

sehari- hari, tanpa paksaan dan pengaruh dari orang lain tentunya. Beragama

merupakan hak pilih tidak jauh berbeda dengan kehidupan Ahmadiyah diSalatiga.

Menurut pendapat Bapak Imam Maridi selaku ketua cabang di Susukan kondisi

Keagamaan Ahmadiyah di Salatiga yaitu:

“ Secara khusunya kehidupan Ahmadiyah diSalatiga selama ini baik-baik saja

normal di terima oleh masyarakat dengan baik , dalam kegiatan sosial sama

dengan yang lain, bahkan di cabang Susukan Ahmadiyah tidak sedikit orang

yang ditokohkan oleh masyarakat keberadaan Ahmadiyah sendiri disalatiga

belum pernah mendapatkan tantangan yang menyebabkan terjadinya

kekerasan.”51

51

(57)

Dalam pemaparan tersebut dapat diartikan bahwa sejak berdirinya

Ahmadiyah di Salatiga sampai sekarang hubungan antar masyarakat baik-baik saja,

bahkan hubungan antara masyarakat beda Agamapun terjalin silaturahmi dengan

baik. Ahmadiyah selalu menjaga kerukunan antar umat beragama dan

memperjuangkan keutuhan NKRI.

Semakin terjalinya silaturahmi antar beda agama Ahmadiyah sering

mengikuti kegiatan-kegiatan pertemuan seperti sobat muda mengadakan pertemuan

buka bersama dengan tema” Kebersamaan Dalam antar umat beragama “

dilaksanakan di Greja Jln. Diponegoro dihadiri oleh beberapa antara Agama seperti

Kristen,Hindu, bahkan ada mahasiswa oragnisasi dari PMII.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil validasi dan uji keterbacaan ini menunjukkan bahwa LKPD yang disusun layak digunakan sebagai bahan ajar materi keanekaragaman hayati kelas X tingkat SMA.. Kata Kunci

merupakan kondisi kejiwaan seseorang yang penuh khawatiran dan ketakutan, dengan perasaan tertekan, tidak tenang dan berpikiran kacau mengenai UNBK. Mengacu pada

Faktor utama yang mendorong petani muda untuk terjun dalam bidang pertanian adalah dukungan orangtua dan lingkungan serta peluang yang cukup menjanjikan pada subsektor

Penelitian ini berusaha untuk membuktikan pengaruh tidak langsung antara komponen siklus perubahan kas terhadap nilai perusahaan melalui profitabilitas yang belum diteliti oleh

Desain yang dirancang pada bandara ini ingin menampilkan kesan yang rapi, bersih, terawat, modern sehingga mencitrakan Bandara Kualanamu yang memiliki kualitas fasilitas di atas

終焉以降は更に変化していく. 日本社会は 1980 年代になると,前半は第二次オイルショック,後半はバブル経済の発生 と拡大,そして

Pasien post operasi yang mengalami kualitas tidur baik karena mendengarkan musik klasik mozart berturut-turut selama 30 menit dalam waktu 2 malam, hal ini

Masyarakat masih belum jelas mengenai Harga Tebus Beras (HTR) yang sebenarnya, masyarakat hanya mengetahui besaran uang yang harus dibayar untuk mendapatkan beras