SEJARAH AHMADIYAH DI SALATIGA DAN SEKITARNYA TAHUN 1965-2008
SKRIPSI
Diajukan Kepada Ushuludin, Adab dan Humaniora
IAIN Salatiga Untuk Memenuhi Syarat
Guna Memperoleh Gelar Sarjana Humaniora (S.Hum)
Oleh : ROHAYATI NIM. 216-14-007
JURUSAN SEJARAH PERADABAN ISLAM FAKULTAS USHULUDIN, ADAB, DAN HUMANIORA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA
SEJARAH AHMADIYAH DI SALATIGA DAN SEKITARNYA TAHUN 1965-2008
SKRIPSI
Diajukan Kepada Ushuludin, Adab dan Humaniora
IAIN Salatiga Untuk Memenuhi Syarat
Guna Memperoleh Gelar Sarjana Humaniora (S.Hum)
Oleh : ROHAYATI NIM. 216-14-007
JURUSAN SEJARAH PERADABAN ISLAM FAKULTAS USHULUDIN, ADAB, DAN HUMANIORA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA
PERNYATAAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH
Bismillahirrahmanirrahim
Nama : Rohayati
NIM : 216-14-007
Jurusan : Sejarah Peradaban Islam
Fakultas : Ushuludin, Adab, dan Humaniora
Judul : SejarahAhmadiyah Di Salatiga Dan SekitarnyaTahun
1965-2008
Dengan ini saya menyatakan bahwa saya menyetujui untuk:
1. Memberikan hak bebas Royalty, kepada Perpustakaan IAIN Salatiga atas
penulisan karya ilmiah saya, demi pengembangan ilmu pengetahuan.
2. Memberikan hak menyimpan, mengalih mediakan/ mengalih formatkan,
mengelola, dalam bentuk pangkalan data (database), mendistribusikannya,
serta menampilkannya dalam bentuk softcopy untuk kepentingan akademis
kepada Perpustakaan IAIN Salatiga. Tanpa meminta izin dari saya selama
MOTTO
Banyak kegagalan dalam hidup ini di kerenakan orang- orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan saat mereka menyerah.
-Thomas Alva Edison-
Dewasa itu belum tentu di lihat dari segi umur, namun dewasa dapat dilihat seberapa bijak menyelesaikan masalah.
-
Penulis-Sebaik- baik Manusia adalah yang Berguna bagi Manusia Lainya
HALAMAN PERSEMBAHAN
Dengan Mengucapkan Syukur Alhamdulilah Skripsi Ini Penulis Persembahkan Buat:
1. Skripsi ini saya persembahkan kepada kedua orangtua saya yang tercinta Ayah
Robanidan Alm. Ibu Sulastri yang tidak pernah lelah mendidikku,
membesarkanku, mendoakan setiap langkahku, dan telah bekerja keras penuh
peluh, Terimakasih tanpa mereka saya bukan apa-apa.
2. Teruntuk ibu Sri wahyuni yang telah memberikan dorongan Terimakasih atas
keikhlasan yang telah diberikan.
3. Teruntuk Bapak Beny Ridwan, Bapak Haryo Aji dan Bapak A. Faidi yang telah
membantu di setiap kesulitan dan memberi pengtahuan baru dalam
menyelesaikan tugas akhir saya.
4. Kakak – kakak kandung kutercinta. Triyono, Supriyono, kartatik, Asna, tidak
pernah lelah, memotivasi dan selalu mengingatkan saya untuk menyelesaikan
tugas akhir saya.
5. Teruntuk teman special Reserse Irvan Fauzi. yang telah mengenalkan makna
cinta dan arti kesetian serta mensport dan motivasi saya untuk menyelesaikan
tugas akhir saya.
6. Teruntuk sahabat- sahabat Sejarah Perdaban Islam Angkatan 2014
7. Teruntuk Sahabat Seperjuangan. Susanti, Siti Miladil Camaliyah, Sriyatun, Leni,
Ela, Wihartatik. Semoga ukhuwah kita juga selalu terjaga
KATA PENGANTAR
AssalamualaikumWrWb.
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
segala Puji dan Syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan hidayah dan
karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar. Shalawat
serta salam senantiasa tercurah terhadap Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa
kita dari zaman jahiliyah hingga zaman terang benderang. Skripsi ini disusun sebagai
syarat mencapai Gelar Sarjana Humaniora pada Jurusan Sejarah Peradaban Islam
Fakultas Ushuludin, Adabdan Humaniora IAIN Salatiga.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu
dan memberikandoronganbaikmorilmapunmateriil, sehingga skripsi ini dapat
terselesaikan. Oleh karena itu, melalui ruang penulisan mengucapkan penghargaan dan
terimakasih kepada:
1. Bapak Dr. H . Rahmat Haryadi, M.Pd., selaku Rektor IAIN Salatiga
2. Bapak Dr. Benny Ridwan, M. Hum selaku Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab,
dan Humaniora. Serta selaku dosen pembimbing skripsi ini dan membantu
memberikan banyak masukan yang sangat berguna bagi penulis.
3. Bapak Haryo Aji. S.Sos., M.Hum. selaku Ketua Jurusan Sejarah Peradaban
Islam. Serta yang telah membantu penulisan menyelesaikan skripsi ini.
4. Kepada Bapak Ibu Dosen serta karyawan IAIN Salatiga yang telah memberikan
ilmu, semangat, dan inspirasinya kepada panulis.
5. Keluarga besar penulis yang telah mencurahkan do‟a dan menyemangati penulis
untuk kesuksesan skripsi ini.
6. Keluarga Besar Jamaah Ahmadiyah telah membantu dalam kesulitan
menyelesaikan skripsi.
8. Dan semua pihak yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini yang tidak
bisa kami sebutkan satu persatu semoga amal bantuan dalam bentuk apapun
mendapatkan balasan yang sebaik-baiknya di sisi Allah SWT.
Akhirnya penulis berharap, semoga jasa dan bantuan yang telah diberikan
menjadi amal baik dan mendapat balasan Allah SWT. Dalam penyusunan skripsi
ini, Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Hal ini
dikerenakan keterbatasan dari segala aspek yang dimiliki oleh penulis sendiri.
Untuk itu, kritik dan saran terbuka luas dan penulis harapkan dari pembaca yang
budiman guna kesempurnaanya. Mudah-mudahan skripsi yang sederhana ini
mampu memberikan manfaat bagi penulis dan pembaca.
WassalamualaikumWr. Wb
Salatiga, 7 September 2018
Peneliti
ROHAYATI
ABSTRAK
Rohayati.2018 .Sejarah Ahamdiyah di Salatiga dan Sekitarnya Tahun 1965-2008.
Skripsi. Jurusan Sejarah Peradaban Islam Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Humaniora. Institut Agama Islam Negeri Salatiga.2018 .
Kata Kunci: Sejarah, Ahmadiyah, di Salatiga, danSekitarnya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejarah Ahmadiyah di Salatiga dan sekitarnya Tahun 1965-2008, dan interaksinya dengan masyarakat. Jamaah Ahmadiyah adalah gerakan yang didirikan Mirza Ghulam Ahmad yang secara singkat ajaranya sedikit berbeda dengan Islam pada umumya, seperti Tafsir nabi.
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif naratif sejarah. Sumber data diperoleh langsung dari sumbernya melalui wawancara. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yaitu, heuristik, verivikasi, interpretasi, dan historiografi. Sedangkan skripsi ini lebih mengarah pada sejarah, dalam sejarah Ahmadiyah di Salatiga berdiri pada tahun 1965. Kemudian tahun 1982 Ahmadiyah semakin berkembang sehingga mempunyai cabang yang meliputi, cabang Susukan, Getasan.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PERSETUJUAN ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ...iii
HALAMANPERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... iv
HALAMAN PERNYATAAN PUBLIKASI ILMIAH ... v
HALAMAN MOTTO ... vii
HALAMAN PERSEMBAHAN ...viii
KATA PENGANTAR ... ix
ABSTRAK ... xii
DAFTAR ISI ...xiii
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah... 4
C. Tujuan Penelitian ... 5
D. Manfaat Penelitian ... 5
E. Tinjauan Pustaka... 8
F. Metode penelitian ... 10
BAB II.
GAMBARAN UMUM AHMADIYAH
A. Sejarah Ahmadiyah... 17
B. Masuknya Ahmadiyah diIndonesia ... 21
C. Faham keagamaan Ahmadiyah ... 24
BAB III. GAMBARAN UMUM MASYARAKAT SALATIGA DAN KELOMPOK AHMADIYAH DI KOTA SALATIGA A. Profil Salatiga ... 36
B. Kondisi Sosial Masyarakat Ahmadiyah di Salatiga dan Sekitarnya ... 37
C. Kondisi keagamaan Masyarakat Ahmadiyah di Salatiga ... 39
BAB IV. SEJARAH BERDIRINYA DAN BERKEMBANGNYA AHMADIYAH DI SALATIGA A. Awal berdirinya Ahmadiyah di Salatiga ... 41
B. Kehidupan Ahmadiyah di Salatiga ... 48
C. Perkembangan Ahmadiyah padaTahun 1932-2008 ... 48
D. Peran Ahmadiyah di Salatiga dan Sekitarnya... 50
- Sosial Ekonomi ... 51
BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN ... 57
B. SARAN ... 58
DAFTAR PUSTAKA ... 60
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Islam merupakan salah satu agama besar di dunia saat ini. Agama ini
lahir dan berkembang di tanah Arab. Pembawa ajaran ialah Muhammad SAW.
Agama ini lahir salah satuya sebagai reaksi atas rendahnya moral manusia pada
saat itu. Islam mulai disiarkan sekitar tahun 612 di Mekkah.
Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi rahmatan lil’ala min,
seharusnya memberikan nuansa kedamaian dan kesejukan bagi seluruh
penganut dan lingkungannya. Manusia yang menganutnya seharusnya memiliki
karakter yang sama dalam membawa misi yang ketika mereka berinteraksi
dengan kelompok mereka sendiri, mereka sangat akrab dan penuh kekeluargaan,
dan di Indonesia adalah Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.
Islam di Indonesia merupakan moyoritas terbesar ummat Muslim di Indonesia.1
Hal ini dikarenakan setiap manusia merasakan bahwa dirinya ada sesuatu yang
lebih tinggi yang mengatur dan menguasai seluruh alam termasuk manusia.
Oleh karena itu manusia membutuhkan sesuatu yang dapat melindungi dirinya
dari kekuatan yang luar biasa tersebut, yaitu sistem yang dapat memberikan
perlindungan, ketentraman dan ketenangan jiwa dalam menghadapinya. Sistem
kepercayaan akan mempengaruhi sikap dan tingkah laku manusia dalam
kehidupan bermasyarakat.
1Abdul Rohman,” Karakter kelompok aliran Islam dalam respon Islamic social network”
Bentuk dari sistem kepercayaan tersebut adalah agama. Dengan
beragama manusia akan merasa terlindungi, tentram dan juga akan menemukan
ketenangan dalam jiwanya. Masing-masing individu mempunyai hak untuk
menentukan dan memilih dalam menganut salah satu kepercayaan yang
dianggapnya benar. Oleh karena itu keberagamaan beragama adalah sesuatu
yang wajar terjadi dalam masyarakat.
Ajaran Islam dalam pengertian generik adalah inti saripati dari semua
agama para Nabi dan Rasul. Sekalipun secara sosiologis dan formal
kemasyarakatan seseorang adalah beragama islam atau muslim, namun jika tidak
ada padanya ketulusan sikap al-Islam itu (sikap penuh pasrah dan berserah diri
kepada Allah ) maka ia juga termasuk kategori keagamaan yang tidak sejati dan
tertolak.2
Dilihat dari terjadinya agama, maka agama itu dapat dibedakan menjadi
dua kategori yaitu agama samawi atau agama langit dan agama wad‟i atau
agama bumi. Agama samawi adalah agama yang diungkapkan dengan wahyu (
revealed religion ) yang bersumber dari wahyu Tuhan. Yang termasuk dalam
agama samawi adalah Yahudi, Kristen dan Islam. Agama wad‟i adalah agama
dunia ( natural religion ) yang tidak bersumber pada wahyu Illahi melainkan
hasil ciptakan akal pikiran dan perilaku manusia, oleh karena disebut juga
2
dengan agama budaya. Yang termasuk dalam agama wad‟i adalah, Hindu,
budhha, Tao, Kong Hu Cu dan berbagai Aliran keagamaan lainya.3
Islam sebagai salah satu agama samawi diyakini para pemeluknya
sebagai ajaran yang diwahyukan oleh Allah kepada Nabi Muhammad, sebagai
Nabi terakhir untuk disampaikan kepada manusia sebagai petunjuk di dunia
dan di akhirat. Islam juga mengatur tata hubungan manusia dengan Tuhan,
manusia dengan manusia, dan antara manusia dengan lingkungan yang
semuanya itu terdapat dalam Al-Qur‟an dan Hadist sebagai sumber hukum
pokok dalam agama ini. Dalam perkembangan Islam mengalami kemajuan yang
pesat dibandingkan agama- agama yang lain, yaitu dengan banyaknya penganut
agama Islam dan munculnya Aliran-aliran yang ada di seluruh dunia seperti
aliran perkataan syiah, khawarij, Qodariyah, jabariyah, Sunny ( Ahlussunah Wal
Jamaah ), Asy-Ariah, siah. Namun ada juga yang berkeyakinan bahwa
munculnya aliran- aliran dalam Islam karena adanya golongan yang ingin
menghancurkan Islam baik itu secara langsung maupun tidak.
Di Indonesia sendiri yang mayoritas penduduknya beragama Islam.4 Dan
dari sebuah mayoritas pastilah ada bagian-bagian kecil yang membentuk
mayoritas tersebut. Yang dimaksud bagian-bagian kecil dari mayoritas tersebut
3
Prof. H. Hilman Hadikusuma, S.H, Antropologi Agama bagian I ( Pendektan Budaya Terhadap Aliran Kepercayaan Agama Hindu, Budha, Kong Hu Cu di Indonesia, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1993, hlm. 20.
4
yaitu organisasi-organisasi dalam agama Islam. Banyak organisasi dalam islam
seperti NU, Muhammadiyah dan Ahmadiyah.
Ahmadiyah merupakan organisasi yang telah memiliki jamaah cukup
banyak, namun, organisasi ini masih belum begitu popular sehingga jarang pula
organisasi ini belum banyak yang mengetahui secara agama maupun
keorganisasiannya. Baik secara nasional maupun internasional. Oleh sebab itu
penulis mencoba memberikan ulasan dan sebuah karya tulis ilmiah tentang
Ahmadiyah yang ditinjau dari segi sejarahnya diwilayah salatiga (kelompok
Ahmadiyah Qadian).
Jamaah Ahmadiyah Indonesia berhasil membangun dan
mengembangkan kebeberapa cabang yaitu salah satunya Cabang jamaah
Ahamdiyah di Salatiga. Peneliti merasa tertarik dengan Ahamdiyah karena
Peneliti merasa ada sesuatu yang harus diungkap dari sejarah Ahmadiyah
disalatiga guna untuk memberikan khasanah keilmuan tentang Ahmadiyah
kepada akademisi dan masyarakat umum. Penelitian ini akan mengulas lebih
lanjut dan menyajikannya dalam bentuk skripsi dengan judul “Sejarah
Ahmadiyah di Salatiga dan sekitarnya Pada tahun 1965 –2008 “.
B. Batasan Dan Rumusan Masalah
Batasan spesial dalam penelitian Sejarah Ahmadiyah ini diambil hanya
ruang lingkup Salatiga dan sekitarnya yang meliputi.Getasan, susukan peneliti
cabang Ahmadiyah Salatiga. Batasan temporal dalam penelitian ini adalah
tahun 1965-2008.
Pembatasan ini dikarenakan pada tahun1965 merupakan awal berdirinya
jamaah Ahmadiyah di Salatiga. Pembatasan selanjutnya yaitu tahun 2008 di
karenakan tahun tersebut Ahmadiyah mulai berkembang dan memiliki banyak
cabang di area Salatiga dan sekitarnya.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dapat dikemukakan inti
permasalahan dari penelitian ini, yaitu mengenai Sejarah Ahmadiyah di Salatiga.
Permasalahan tersebut dapat dikemukakan dalam beberpa rumusan masalah
sebagai berikut :
1. Bagaimana gambaran umum Ahmadiyah di Indonesia?
2. Bagaimana gambaran umum masyarakat Salatigadan kelompok Ahmadiyah
di kota Salatiga?
3. Bagiamana Sejarah berdirinya dan berkembangnya Ahmadiyah di Salatiga
dan Sekitarnya tahun1965-2008 ?
C. Tujuan dan Ruang Lingkup Penelitian
Sesuai dengan objek dan pembahasan diatas maka penelitian ini
bertujuan untuk mengtahui, menjelaskan serta menganalisis data tentang.
1. Menguraikan gambaran sejarah Ahmadiyah di Indonesia
3. Untuk mengetahui Sejarah berdirinya dan berkembangnya Ahmadiyah di
Salatiga dan Sekitarnya tahun 1965-2008.
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan dapat digunakan :
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan bacaan bagi
mahasiswa dan mampu memberikan informasi, pengetahuan, serta
pemahaman tentang Sejarah Ahmadiyah di Salatiga 1965-2008.
2. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan tambahan koleksi sehingga
memberikan wawasan dan pengetahuan bagi pembaca.
3. Hasil Penelitian ini dapat menjadi pengetahuan dan pengalaman secara
nyata bagi peneliti.
D. Tinjuan Pustaka
Dalam penelitian ini menggunakan sumber berupa pustaka-pustaka,
sumber-sumber pustaka yang digunakan dalam penelitian ini antara lain:
Jurnal yang berjudul, “karakter kelompok aliran Islam dalam merespons
Islamic social networking di kabupaten banyumas” yang disusun oleh Abdul Rahman pada juni 2014. Yang menjelaskan tentang Islam sebagai agama yang
bagi seluruh penganutnya seharusnya memiliki karakter yang sama dalam
membawa misi yang ketika berinteraksi dengan kelompok mereka senidri.5
Kedua Jurnal yang berjudul “ Hak atas kebebasan Beragama di
Indonesia” yang di susun oleh Aniqotul Ummah pada tahun 2016 yang menjelaskan tentang Ahmadiyah masuk ke Manislor ( Kuningan jawa barat )
tahun 1952 sejak itulah Ahmadiyah berkembang pesat di desa tersebut.
6
Perbedaan dengan skripsi saya adalah menjelaskan tentang sejarah masuknya
Ahmadiyah di salatiga pada tahun 1965-2008.
Ketiga, jurnal yang berjudul “ Teologi Ahmadiyah dulu, sekarang dan
akan datang di Indonesia” yang di susun oleh Ridwan A. Malik. Agustus 2013 yang menjelaskan tentang perbedaan Ahmadiyah Qadian dan Lahore.
7
Ahmadiyah Qadian berbeda pandangan dengan umat Islam secara umum yang
mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW. Bedanya dengan penelitian saya
adalah Ahmadiyah Qadian meyakini nabi terakhir adalah Nabi Muhammad
namun Ahamdiyah Qadian juga meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah
Nabi yang membawa Syariat.
Keempat, skripsi yang berjudul “ Islam Dalam Pandangan oleh Herbert
Schuman” yang disusun oleh Ahmad Sayafiq universitas Islam Negeri 2016
yang menjelaskan tentang Tuhan Allah dalam pandangan Muhammad lalu
Schuman menjelaskan tentang hakikat agama, yaitu pada dasarnya mengajarkan
5
Abdul Rohman,” Karakter Kelompok aliran Islam daalam respon Islamic social network” Tahun IV, Nomor 2 juni 2014.
6
Aniqotul Ummah, “ Hak atas kebebasan Beragama di Indonesia” Tahun 2016 7
kebaikan hanya saja persepsi manusia kurang tepat dalam memahami agama.
8
Perbedaan dengan skripsi saya adalah lebih jelasnya membahas tentang
Ahamdiyah di salatiga bagaimana tentang respon masyarakat salatiga
menanggapi adanya Ahmadiyah di salatiga.
Kelima, Skripsi yang berjudul “ Ahmadiyah Lahore di Yogyakarta
1924-1930 suatu pertumbuhan awal di pulai jawa” yang di susun oleh Dwi Rendy Maulana universitas Indonesia 2010, yang menjelaskan tentang masuknya
Ahamdiyah Lahore di Yogyakarta9. Sedangkan perbedan dengan skripsi saya
adalah lebih fokusnya menjelaskan Sejarah Ahamdiyah Qadian di Salatiga.
Keenam, Skripsi yang berjudul “ Ekstensi Jemaah Ahmadiyah Indonesia
di Yogyakarta pasca SKB 3 menteri Tahun 2008 tentang Ahmadiyah” yang di
susun oleh Pratina Ikhtiyarini Universitas Negeri Yogyakarta 2012, yang
menjelaskan tentang keberadaan Ahamdiyah di Indonesia.10 Bedanya dengan
penelitian saya adalah menjelaskan keberadaan Ahmadiyah di Salatiga serta
ingin mengtahui perkembangan Ahamdiyah disalatiga.
E. Kerangka Konseptual
Dalam penelitian ini penulis menggunakan teori-teori dalam
menjabarkan materi dalam penelitian ini. Penulis menyusun penelitian ini
menggunakan kerangka konseptual berupa gerakan Ahmadiyah melalui
organisasi Masyarakat Ahmadiyah.
8
Ahmad Sayafiq, “ Islam dalam Pandangan oleh Herbert Schuman “ Tahun 2016 9
Dwi Rendi Maulana” Ahmadiyah Lahore di Yogyakarta 1924-1930 suatu pertumbuhan awal di pulai jawa” tahun2010.
10
Seperti diketahui, kebangkitan Islam dimulai sejak pertengahan abad
ke-19 dan mengkristalkan dalam wujud semeraknya gerakan Islam pada permulaan
abad ke-20 sampai saat ini. Dari berbagai bentuk gerakan Islam, ada gerakan–
gerakan yang menekankan aspek Islam tertentu atau menekankan kehidupan
duniawi dari individu-individu atau masyarakat Islam. Gerakan Islam dalam
pengertian tersebut, misalnya Mu‟tazilah dan Asy‟ariyah.
Secara tipologis, ada gerakan-gerakan puritanis dan fundamentalis Islam.
Dalam bidang politik ada gerakan Negara Islam. Dalam bidang ekonomi, ada
gerakan antimonopoly tembakau dan gerakan Islam dalam Nasionalisasi minyak
dirian sekitar tahun 1950. Gerakan Islam dapat pula berupa gerakan
pembebasan, seperti gerakan rakyat Afghanistan, Aljazair, dan Kashmir.
11
Semua itu dipandang sebagai gerakan yang muncul kerena dipengaruhi Islam
dan merupakan bagian-bagian dari seluruh gerakan yang berkeseimbangan.
Dalam kaitanya dengan gerakan- gerakan Islam di India, Wilfred C.
Smith memasukan Mirza Ghulam Ahmad dengan gerakan Ahmadiyah ke dalam
gerakan teologi. Akan tetapi Gibb cenderung memasukanya ke dalam gerakan
intelektual, walaupun aspek intelektual Ahmadiyah hanya merupakan unsur
yang tidak begitu dominan di dunia Islam. Aspek Intelektual Ahmadiyah ini
hanya sedikit artinya sebagai pembawa tafsiran- tafsiran Islam yang bersifat
Liberal. Sebagaimana pemikiran Islam lainya, Mirza Ghulam Ahmad berusaha
memperbaiki keadaan umat Islam India melalui perubahan pola pikir dalam
11
memahami agama Islam yang disesuaikan dengan perubahan zaman.
dibandingkan dengan Akhmad Khan dan Amir Ali yang terlalu rasional bagi
zamanya, pikiran Mirza Ghulam Ahmad Menurut B.J. Esser, dapat memuaskan
emosi keagamaan sebagaian umat Islam India.
Ahmadiyah merupakan gerakan Islam yang berpusat di India. Gerakan
merupakan aspek-aspek ideologis-eskatologis karena gerakan ini bersifat
mahadiistik. dengan keyakinan bahwa al- Mahdi dipandang sebagai ” Hakim
peng- ishlah” atau sebagai “ Juru Damai “. Menurut keyakinannya, al- Mahdi
mempunyai tugas untuk mempersatukan kembali perpecahan umat Islam, baik di
bidang kaidah maupun Syari‟ah. Ahmadiyah beberapa umat Islam bersatu
kembali seperti pada zaman Nabi Muhammad Saw. Lebih dari itu, al-Mahdi
juga diyakini bertujuan mempersatukan kembali semua agama, terutama agama
Nasrani dan Hindu, agar melebur kedalam Islam.12
Paham al-Mahdi sebagaimana diketahui, adalah ajaran yang meyakini
adanya juru selamat atau messiah bagi umat yang tertindas akibat merajalelanya
kezaliman penguasa. Tokoh penyelamat tersebut dikenal sebagai” al- Mahdi
yang dijanjikan”. Paham milenaristik ini juga pernah muncul di Indonesia
sekitar abad ke-19 dan ke 20 , khususnya dijawa pada masa pemerintahan
Kolonial Belanda.
Tokoh gerakan tersebut di kenal masyarakat Jawa dengan nama “ Ratu
Adil “ dengan demikian Mahadisme merupakan tradisi gerakan Islam mesikipun
12
ditandai dengan corak yang berbeda- beda. Dalam konteks keindonesiaan,
Ahmadiyah sebagai organisasi kegamaan dapat digolongkon ke dalam aliran
pemikiran dan gerakan. Ahmadiyah masuk ke Indonesia mulai abad ke-20
seiring dengan mulai semeraknya paham kebangsaan sejak perempat awal abad
ke-20. Ahmadiyah di Indonesia sampai saat ini masih tetap eksis walaupun
pendukungya tidak sebanyak Muhammadiyah atau Nu.
F. Metode Penelitian
Langkah awal dalam melakukan penelitian adalah melakukan pemilihan
topik, seperti yang disampaikan Kuntowijoyo berdasarkan kedekatan emosional
dan kedekatan intelektual. Topik yang dipilih oleh peneliti menyangkut masalah
sejarah Ahmadiyah di Salatiga dan sekitarnya.
Setiap ilmu pasti mempunyai metode. Tanpa adanya metode, kumpulan
pengetahuan tentang obyek tertentu tidak bisa dikatakan sebagai ilmu meskipun
ada ketentuan lain.13 Metode itu berbeda dengan metodologi. Menurut Kenneth
D. Bailey, metode adalah teknik penelitian atau alat yang dipergunakan untuk
menggumpulkan data, sedangkan metodologi adalah falsafah tentang proses
penelitian yang di dalamnya mencakup asumsi-asumsi, nilai-nilai, standar atau
kriteria yang digunakan untuk menafsirkan data dan mencari kesimpulan.14
Metode dalam ilmu sejarah adalah seperangat aturan dan secara sintesis,
menilainya secara kritis dan mengajukan sintesis secara tertulis atau suatu
dokumen-dokumen otentik menjadi suatu kisah yang saling berhubungan.
Kuntowijoyo mengartikan metode sejarah sebagai petunjuk pelaksanaan dan
teknis tentang bahan, kritik, dan interpretasi sejarah serta dalam penyajian dalam
bentuk tulisan.15
`Menurut penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa metode sejarah
merupakan cara atau teknik merekontruksi peristiwa masa lampau, melalui
empat tahapan kerja yaitu: heuristik (pengumpulan sumber), kritik sumber
(eksternal dan internal), interpretasi (penafsiran), dan historiografi (penulisan
sejarah).16
a. Tahap pertama adalah Heuristik atau pengumpulan sumber. Heuristik adalah
mencari dan menghimpun sumber- sumber sejarah yang berkaitan dengan
objek yang diteliti, baik sumber primer maupun sekunder. Data- data yang
diperoleh melalui studi kepustakaan, studi kepustakaan adalah suatu cara
untuk menelusuri data baik primer maupun sekunder yang terkait dengan
obyek penelitian, atau hasil penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan
terkait dengan obyek penelitian. Dalam penelitian ini dipergunakan sumber-
sumber primer yang ditemukan di perpustakan, dari internet dan untuk arsip
dapat diperoleh atau dikantor-kantor.
Adapun proses heuristik yang dilakukan untuk mendapatkan data dan
informasi yang dibutuhkan untuk menyusun kajian ini yakni:
15
Ibid., hlm 42.
16
1. Penelitian lapangan
Penelitian lapangan adalah suatu penelitian yang dilakukan oleh peneliti
secara langsung ke lapangan untuk meneliti serta mencari data dan informasi yang
berkaitan dengan masalah yang akan diteliti, agar dapat dibahas berdasarkan
informasi atau bukti data yang ditemukan. Ada 2 teknik yang digunakan peneliti
untuk mengumpulkan data dan informasi penelitian lapangan yaitu:
- Pengamatan ( observasi )
Adalah suatu teknik yang dilakukan peneliti untuk mengamati secara
langsung objek yang berkaitan dengan penelitian dan bukti-bukti tentang
Sejarah Ahmadiyah di Salatiga.
- Tradisi Lisan / Wawancara
Adalah suatu teknik yang dilakukan pengumpulan data dengan
pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang bersifat turun temurun.
Misalnya dengan mengadakan wawancara langsung dengan pelaku atau
dengan orang- orang yang mengtahui tentang Sejarah Ahmadiyah di
Salatiga, peneliti akan mengadakan wawancara langsung kepada Bpk Dudi
selaku Mubalig Jamaah Ahmadiyah di Salatiga.
Selanjutnya peneliti juga melakukan wawancara kepada Ibu
Hamidah selaku warga Ahmadiyah di Tuntang Alasan penulis
mewawancari ibu Hamidah adalah karena beliau sudah lama menjadi
anggota Ahmadiyah.Tentang Sejarah Ahmadiyah di Salatiga karena
b. Kritik Sumber atau Verifikasi (perbandingan)
Penulisan sejarah dikenal dua macam sumber yaitu sumber primer dan
sumber skunder. Sumber primer adalah kesaksian dari seseorang dengan mata
kepala sendiri atau saksi dengan panca indra yang lain atau dengan alat mekanis.
Sumber kedua adalah sumber skunder, adalah merupakan kesaksian dari siapapun
yang bukan saksi mata, yakni dari orang yang tidak hadir pada peristiwa yang
dikisahkan. Kritik sumber merupakan verifikasi sumber yaitu pengujian kebenaran
atau ketetapan dari sumber sejarah. Kritik sumber ada dua yaitu kritik eksteren dan
kritik intern untuk menguji kredibilitas sumber.
- Kritik ekstern merupakan kritik yang berguna untuk menetapkan keaslian
data atau autentitas data. Kritik ekstern juga menjelaskan tentang apakah
data maupun fakta peninggalan atau dokumen itu merupakan yang
sebenarnya, bukan palsu. Berbagai tes dapat dipergunakan untuk menguji
keaslian tersebut. Misalnya untuk mengetahui secara umum dokumen yang
diteliti dengan melibatkan tanda tangan, tulisan tangan, penggunaan bahasa,
dll.
- Kritik internal, setelah dilakukan pengujian suatu dokumen melalui kritik
ekstern, berikutnya dilakukan kritik internal. Kritik internal biasanya
dilakukan untuk mengetahui isi yang ada dalam kandungan suatu dokumen
tertentu yang kemudian dapat memberikan suatu kritikan terhadap isi atau
c. Intepretasi (penafsiran)
Dalam tahap ini dilakukan analisis berdasarkan data-data yang diperoleh
dan akhirnya dihasilkan suatu sintesis dari seluruh hasil penelitiannya maka disebut
tulisan atau karya sejarah. Interpretasi adalah menafsirkan fakta sejarah dan
merangkai fakta tersebut hingga menjadi satu kesatuan yang harmonis dan masuk
akal. Dari berbagai fakta yang ada untuk menghindari suatu penafsiran yang
semena-mena akibat pemikiran yang sempit. Bagi sejarawan akademis, interpretasi
yang bersifat deskriptif saja belum cukup. Dalam perkembangan terakhir,
sejarawan masih dituntut untuk mencari landasan penafsiran yang digunakan.
d. Historiografi (penulisan)
Dalam tahap ini proses penulisan dilakukan agar fakta-fakta yang
sebelumnya terlepas satu sama lain dapat disatukan, sehingga menjadi satu
perpaduan yang logis dan sistematis dalam bentuk narasi kronologis.
Historiografi adalah proses penyusunan fakta-fakta sejarah dan berbagai sumber
yang telah diseleksi dalam sebuah bentuk penulisan sejarah. Setelah melakukan
penafsiran terhadap data-data yang ada, sejarawan harus sadar bahwa tulisan itu
bukan hanya sekedar untuk kepentingan dirinya, tetapi juga untuk dibaca orang
lain. Oleh karena itu perlu dipertimbangkan struktur dan gaya bahasa penulisannya.
Sejarawan harus menyadari dan berusaha agar orang lain dapat mengerti
pokok-pokok pemikiran yang diajukan.
Untuk memperoleh suatu karya yang sistematis, kornologis dan mudah
dipahami, maka peneliti menyusun pembahasan penelitian menjadi lima bab :
Bab I merupakan pendahuluan yang terdiri dari Latar Belakang, Batasan
dan Rumusan Masalah, Tujuan dan Ruang Lingkup Penelitian, Kerangka
Konseptual , Kajian Pustaka, Metode Penelitian, Sistematika Penulisan.
Bab II ini akan membahas mengenai gambaran umum Ahmadiyah yang
meliputi ; Sejarah Ahmadiyah, Masuknya Ahmadiyah di Indonesia, Faham
keagamaan Ahmadiyah.
Bab III ini akan membahas gambaran umum masyarakat Salatiga yang
meliputi : Profil Salatiga, Kondisi Sosial Masyarakat Salatiga, kondisi
keagamaan Masyarakat Salatiga.
Bab IV ini akan membahas mengenai Sejarah berdiri dan
berkembangnya Ahmadiyah di Salatiga yang meliputi : Awal berdirnya
Ahmadiyah di Salatiga, Kehidupan Ahamdiyah di Salatiga, perkembangan
Ahmadiyah di Salatiga Tahun 1932-2008. Peran social- Ekonomi Ahmadiyah di
Dalatiga,
- Sosial-Ekonomi
- Social Agama
BAB II
GAMBARAN UMUM AHMADIYAH A. Sejarah Ahmadiyah
Munculnya Ahmadiyah merupakan serangkian peristiwa sejarah dalam
Islam yang tidak terlepas dari situasi dan kondisi umat Islam pada saat itu.
Sejenak kekalahan Turki Usmani dalam serangannya Benteng Wina pada tahun
1683, pihak Barat mulai bangkit menyerang kerajaan tersebut sampai pada abad
ke-18 selanjutnya, bangsa Eropa, didorong oleh semangat revolusi industri,
mampu melahirkan berbagai penemuan baru dengan menciptakan senjata-
senjata modern. Maka dari itu, di satu sisi mereka dapat menjarah daerah- daerah
Islam, sedangkan di sisi lain umat Islam sendiri masih tenggelam dalam
kebodohan.
Dengan sikap apatis serta fatalistis, jadi tidak heran Inggris dapat
merampas India dan Mesir, perancis dapat menguasai afrika Utara, sedangkan
bangsa Eropa lainya dapat menjarah daerah- daerah Islam lainya.17
Pasca India menjadi kolonia Inggris, tampaknya sikap umat Islam yang
masih sangat tradisional dan fatalistis, dengan disertai semangat antipasti dan
fanantisme keagamaan yang berlebihan dalam menghadapi tradisi Barat,
menyebabkan mereka semakin terisolasi. Keadaan kaum muslim India ini
semakin terpuruk terutama setelah pembrontakan Muktinya pada tahun 1857.
17Ridwan A. Malik.” Teologi Ahmadiyah dulu, sekarang dan akan datang di Indonesia “,
Sebagai akibat pemberontakan tersebut, pihak Inggris lebih curiga dan
bersikap reaksioner terhadap umat Islam . Inggris berkeyakinan bahwa umat
Islam-lah yang menjadi biang keladi pembrontakan tersebut. Selain itu, Inggris
menuding umat Islam ingin mengembalikan hak- hak kemaharajaan Mughal,
dan mengagap oposisi umat Islam karena di dorong oleh semangat nasionalisme
yang menyala-nyala. Hal ini berbeda dengan Umat Hindu yang tampak dapat
menyembunyikan, sehingga umat Hindu dapat bekerja sama dengan pemerintah
Inggris.
Sikap non-kooperatif umat Islam India pada saat itu semakin
memojokkan posisi mereka dan membawanya ke dalam situasi ketersinggungan
di negeri sendiri. Umat Islam India semakin tenggelam dalam keterbelakangan
dan perselisihan dengan sesama Muslim, karena masalah khilaffiyah di satu
pihak dan di pihak lain hubungan anatara mereka, terutama yang telah mendapat
didikan system Barat.18
Keadaan demikian, Intelektual kaum ulama Islam semakin tenggelam
sampai ke tingkat yang paling bawah. Sehingga pertarungan antara sesama
kelompok Muslim karena perbedaan paham yang kecil saja telah dipandang
sebagai pengabdian terhadap Islam yang paling besar dan menghukum Muslim.
lainya sebagai kafir. Demikianlah situasi umat Islam yang melatar belakangi
munculnya gerakan Mahadiisme Ahmadiyah. Sebagaimana yang telah disinyalir
di atas bahwa kemahdian Ahmadiyah berorientasi pada pembaruan pemikiran.
18
Disini Mirza Ghulam Ahmad yang mengaku telah diangkat sebagai-almahdi dan
al-Masih oleh Tuhan merasa mempunyai tanggung jawab moral untuk
memajukan Islam dan Muslim dangan memberikan interprestasi baru terhadap
ayat- ayat Al- Qur‟an sesuai dengan tuntunan zamannya sebagai yang
diilhamkan Tuhan kepadanya. Motif Mirza Ghulam Ahmad ini tampaknya
didorong oleh gencaranya serangan misionaris Kristen dan propaganda umat
Hindu terhadap umat Islam saat itu.
Oleh karena itu Ahmadiyah yang lahir menjelang akhir abad ke-19, di
tengah hura- hara runtuhnya masyarakat Islam lama dan infiltrasi budaya
dengan dengan sikapnya yang baru, serangan gencar kaum misionaris Kristen
terhadap Islam dan berdirinya Universitas Aligarh yang baru, maka lahirnya
Ahmadiyah adalah sebagai protes terhadap keberhasilan kaum misionaris19
Kristen memperoleh pengikut- pengikut baru. Di samping itu, juga sebagai
protes terhadap paham rasionalis dan westernisasi yang dibawa oleh Sayyid
Ahmad Khan dengan Aligarh-nya.
Di samping itu, di saat yang sama, demikian menambahkan, lahirnya
Ahmadiyah juga sebagai protes atas kemrosotan Islam pada umumya.
Sayangnya pembaharuan al-Mahdi Ahmadiyah ini menyentuh keyakinan umat
Islam yang sangat sensitive, yaitu 20masih adanya nabi dan wahyu yang di
turunkan Tuhan sesudah masih adanya Nabi dan wahyu yang diturunkan
Tuhan sesudah Al-Qur‟an dan sesudah kerasulan Nabi Muhammad saw. Inilah
19
kiranya yang menyebabkan timbulnya reaksi keras dan permusuhan umat Islam
terhadap Aliran yang baru lahir.
Melihat genealogi aliran Ahmadiyah di atas, dapat disimpulkan bahwa
Ahmadiyah adalah nama ajaran dan gerakan yang dipelopori oleh Mirza
Ghulam Ahmad ( 1839-1908 ) di Qadyan, Punjab, India. Ahmadiyah adalah
gerakan Mesianik dalam Islam Modern. Gerakan ini merupakan salah satu
gerakan yang paling aktif dan paling kontroversial sejak kelahiranya di India
pada masa penjajahan Inggris pada tahun 1889. Ia berhasil mempertahankan
kegiatanya selama lebih dari se-abad dan tidak tersaingi dalam menyebarkan
keyakinan.21
Gerakan ini dipimpin oleh Hazrat Mirz Ghulam Ahmad atau yang sering
disebut Ahmad saja, pendiri dari Ahmadiyah Ia adalah keturunan Haji Barlas,
raja kawasan Qesh. Di sebabkan sebuah serangan, keluarganya akhirnya
mengungsi hingga ke Khorasan, India. Mirza Ghulam Ahmad lahir di Desa
Qodyan, Punjab, India pada tanggal 13 Febuari 1835. Ia terlahir dari keluarga
yang berkecukupan. Saudara kembarnya meninggal saat lahir. Sejak kecil ia
sangat tertarik mendalami agama Islam. Berjam- jam waktunya dihabiskan
untuk membaca Al-Qur‟an atau sekedar masalah keagamaan dengan ahli agama
Islam ataupun agama lainya. Hal ini mengecewakan ayahnya yang berharap ia
dapat menjadi seorang pengacara atau pegawai negeri.
21Ian Adamson “ Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian “Pustaka Marwa, Yogyakarta. 19
Pada usia 40 tahun, Mirza Ghulam Ahmad atau yang sering disebut Ahmad
mengaku memperoleh wahyu dari Tuhan. Ia lalu menulis banyak karya yang
isinya pembelaan atas pandangan- pandangan miring yang menghajut Islam. Ia
juga mengaku sabagai mujaddid ( pembaru ), al- masih, dan al- Mahdi yang
dijanjikan. Menurutnya, Ahmadiyah bertujuan menegakkan syari‟at Islam,
dengan meremajakan moral dan nilai- nilai dalam Islam. Baginya, Ahmadiyah
bukan sebuah agama baru, namun merupakan bagian dari agama Islam.22
B. Masuknya Ahmadiyah di Indonesia
Informasi tentang dua paham Ahmadiyah di Indonesia tidaklah jelas.
Ketidak jelasan itu terlihat dari latar belakang kedatangannya di Indonesia.
Orang- orang Indonesia, khususnya pemuda- pemuda di Sumatra,mengtahui
kehadiran Ahmadiyah aliran Qadian melalui sekolah- sekolah di Qadian.
Berbeda dengan Ahmadiyah Lahore yang tampaknya yang lebih suka memakai
cara mengirim propagandis- propagandis ke Indonesia tanpa harus melalui
permintaan dan orang – orang Indonesia.23
Berkenan dengan awal kemunculan Ahamdiyah di Indonesia, Howward
M. Federspiel menyatakan bahwa Ahmadiyah pada awalnya sampai ke
Indonesia melalui para siswa yang kembali dari sekolah Ahmadiyah di India
pada akhir abad ke-19. Akan tetapi, secara kronologis versi itu dipermasalahkan
tidak setuju dengan fakta- fakta tentang proses orang- orang Indonesia yang
pada awalnya bersekolah ( Ahmadiyah di Qadian ).24
Hamka menyatakan bahwa berita tentang Ahmadiyah tersebar melalui
buku- buku dan majalah- majalah yang terbit di luar negeri. Sebaliknya, artikel
yang muncul belakang menunjukkan bahwa bahwa Ahmadiyah tidak dikenal di
Indonesia sampai tiga orang siswa Indonesia pergi belajar ke India pada 1922
M.Setelah mendengar pengajaranya Islam di India tidak kurang hebatnya
dibandingkan dengan pengajaran Islam di Timur Tengah, sejak itu banyak murid
Indonesia berangkat keindia untuk meneruskan pendidikannya ke Lahore
menuju kampung Qadian. Dari situ mereka kemudian mengirim informasi
melalui surat tentang gerakan itu kepada orang- orang Islam di Indonesia.
Ajaran Ahmadiyah tersebar melalui pelajar Sumatra yang belajar di India
dan kembali ke Indonesia sekitar tahun 1925 M. Sebagai contoh Abdul Sami
Sumantri, seorang siswa asal Sumatra yang sedang sekolah di Ahmadiyah
School Qadian yang mengirim surat sekolah tersebut. Ia menginformasikan
bahwa sekolah di Ahmadiyah School sangat menyenangkan. Di sekolah itu ada
pelajaran bahasa Arab yang cukup, bahasa Inggris , bahasa persi, bahasa Urdu,
dan bahasa Hindustan yang merupakan bahasa sehari- sehari.
Selain itu, terdapat pelajaran lain seperti yang diajarkan di Indonesia.
Pendidikanya di rancang untuk delapan tahun.25 Menurut penulis Ahmadiyah
24
Qadian, pada akhir tahun 1924, sekembalinya Khalifah II Mirza Basyiruddin
Mahmud Ahmad dari London ( dalam rangka menghadiri konfrensi agama-
agama dan peletakan batu pertama pendirian masjid Fadhl), ia diundang para
pelajar Indonesia untuk menghadiri acara jamaah beserta para tokoh jema‟at.
Pelajar Ahmadiyah Indonesia saat itu berjumlah 19 orang. Di antaranya adalah
Abu Bakar Ayyub, Ahmad Nurruddin, Zaini Dahlan, H. Mahmud, Muhammad
Nur, Abdul Qayyum, Mohammad samin, Samsudin, Samsuddin Rao- Rao,
Mohammad Jusyak, Muhammad Ilyas, Hajiudduin, Abdul Aziz Syareef, Moh
Idria, dan Abdul Samik.
Dalam jamuan tersebut, pihak pelajar membacakan pidatonya dalam
bahasa Arab yang diwakili oleh Haji Mahmud. Isinya meminta Khalifah II agar
dapat mengadakan kunjungan ke Indonesia. Atas permintaan tersebut, ia
menunjukan Maulana Rahmat Ali yang waktu itu bertugas sebagai guru
Ta‟limul Islam High School di Qadian sebagai Mubaligh untuk Sumatra dan
Jawa. Dengan demikian kedatangan Ahmadiyah Qadian di Indonesia sebenarnya
atas permintaan pemuda- pemuda Indonesia sendiri yang pernah belajar di
Qadian, termasuk bekas murid- murid dari perguruan Sumatra Thawalib, seperti
Ahmad Nuruddin, Abu Bakar Ayyub, dan Zaini Dahlan yang kemudian menjadi
Tokoh penyebar paham Ahmadiyah di kampung halamannya.26
25
Iskandar Zulkarnain ,gerakan Ahmadiyah di Indonesia, Pt Lkis Pelangi Aksara, Yogyakarta, 2005, hlm. 174
26
Rahmat Ali lahir pada 1893 M. setelah lulus sebagai pelajar generasi
pertama dari Madrasah Ahmadiyah di Qadian 1917, menjadi guru bahasa Arab
dan agama Ta‟limul Islam High School Qadian. Pada 1924, ia dipindahkan ke
Departeman Tabligh. Kemudian pada bulan juli 1925 hingga Mei 1950, ia
bertugas sebagai mubaligh di Indonesia. Namun beberapa tahun setelah itu dia
ditugaskan sebagai mubaligh di Pakistan Timur hingga Agustus 1958 dan
meninggal dunia di Rabwah.
Dengan demikian, Maulana Rahmat ali adalah pembawa paham
Ahmadiyah di Qadian ke Indonesia bersama pemuda- pemuda Indonesia yang
belajar di Qadian. Oleh karena itu, Maulana Rahmat Ali di pandang sebagai
perintis Ahmadiyah Qadian di Indonesia yang dalam perkembangannya menjadi
sebuah organisasi dengan nama Jema‟at Ahmadiyah Indonesia.
Ahmadiyah adalah suatu organisasi keagamaan dengan ruang lingkup
Internasional yang memiliki cabang di 178 negara yang tersebar di Afrika,
Amerika Utara, Amerika Selatan, Asia, Australia, dan Eropa. Saat ini jumlah
keanggotaanya di seluruh dunia mencapai 200 juta orang, dan angkanya terus
bertambah dari hari ke hari. Jamaah ini adalah golongan Islam yang paling
dinamis dalam sejarah era modern.
C. Faham Keagamaan Ahmadiyah
Mengenai pemahamaan tentang keagamaan Ahmadiyah yaitu salah
kaum Muslim pada umumnya. Ahmadiyah memunculkan tiga klasifikasi terkait
mengenai ajaran kenabian.
a. Nabi Shahib asy- Syari‟ah Mustaqil. Nabi Shabib asy- syari‟ah adalah
nabi pembawa syariat ( hukum – hukum ) untuk manusia. Sementara
Nabi Mustaqil adalah hamba Allah SWT yang menjadi Nabi dengan tidak
mengikuti nabi sebelumnya, seperti Nabi Musa a.s : ia menjadi nabi
membawa syari‟at baru. dalam arti bahwa ia ditugaskan oleh Allah Swt
untuk menjalankan syari‟at yang dibawa nabi sebelumnya . para Nabi
yang tergolong atau masuk ke dalam Nabi Mustaqil Ghair at- Tasyri adalah
Nabi Harun, Daud, Sulaiman , Zakaria, Yahya, dan Nabi Isa a.s. semuanya
menjadi Nabi langsung ( mustaqil ), karena tidak hasil mengikuti para Nabi
yang mendahuluinya, mereka secara langsung diangkat oleh Allah SWT
menjadi Nabi dan ditugaskan menjalankan syariat Nabi Musa a.s yang ada
dalam kitab Taurat.
27
Maulana Ali, Qur’an Suci, Teks Arab, Terjemah dan Tafsir Bahasa Indonesia. Ter. H, M Bachrun ( Jakarta: Darul Kutub al- Islamiyah. 1979 ), hlm. 53
28
c. Nabi zhili Ghair at- tasyri yakni hamba Tuhan yang mendapat anugerah
dari Allah Swt menjadi Nabi semata- mata karena hasil kepatuhan kepada
29Nabi sebelumnya dan juga karena mengikuti syari‟atnya. Karena itu,
tingkatnya berada di bawah kenabian sebelumnya dan ia juga tidak
membawa syari‟at baru. Hamba Tuhan yang masuk ke dalam golongan
nabi zhili Ghair at- Tasyri‟I adalah Mirza Ghulam Ahmad yang mengikuti
syariat Nabi Muhammad SAW.
Menurut pemahaman ahmadiyah, hanya nabi yang membawa syariat saja
yang sudah berakhir karena lembaga kenabian telah tertutup, sedangkan nabi-
nabi yang tidak membawa syariat akan terus berlangsung.Ahmadiyah
menyatakan bahwa Nabi zhili Ghair at- Tasyri‟I hanya muncul dari dari
30
seorang ummati, yakni seorang pengikut Nabi Muhammad SAW.Ahmadiyah
menggunakan istilah nabi Zhili atau buruzi artinya Nabi Bayangan.
Pandangan Ahmadiyah tentang Khatam an- Anabiyyin bahwa menurut
mereka, berita akan datangnya kembali Nabi Isa a.s sebagaimana diriwayatkan
dari hadis- hadis shahih adalah jelas, sekalipun Nabi Isa.a.s tidak membawa
syari‟at baru, dan bahkan ia harus mengikuti syari‟at Nabi Muhammad SAW.
Namun ia sebagai Nabi zhili atau buruzi. Oleh karena itu kata Khatam an-
Anabiyyin menurut Ahmadiyah di artikan sebagai Nabi yang paling mulia dari
disambung dengan kaum atau golongan maka kata itu mempunyai makna
pujian.
Atas dasar keterangan tersebut, jamaah Ahmadiyah mengartikanya tidak
ada nabi lagi sesudah Nabi Muhammad SAW.yang membawa syari‟at baru.Jika
yang datang itu Isa as, yang sebelumnya sudah menjadi Nabi maka yang
demikian ini tidak akan dapat mematahkan pembuktian ini. Oleh karena itu
kata tersebut tidak menunjukan arti “ akhir para nabi “ Mirza Ghulam Ahmad
menjelaskan mengenai Khatam an-nubuwwah sebagai berikut.
1. Dengan sungguh-sungguh saya percaya bahwa Nabi Muhammad SAW, adalah
Kahatam al-anbiya. Seseorang yang tidak percaya pada Khatam al-anbiya
Rasullah SAW maka dia adalah orang yang tidak beriman dan berada di luar
lingkungan Islam.
2. Inti dari kepercayaannya adalah La Ilaha illallah, Muhammad Rasullah,
kepercayaan ini menjadi pegagan Ahmadiyah dalam hidup dan Kepada Allah
SWT dengan rahmat dan Karunia- Nya berpegang sampai akhir hayat bumi ini.
Junjungan dan penghulu Ahmadiyah, Nabi Muhammad SAW. Adalah Khatam
an- nabiyyin dan hair al- mursalin, yang termulia di antara para nabi.
2. Konsep Wahyu dalam ajaran Ahmadiyah
Pembahasan tentang wahyu di kalangan Ahmadiyah penting untuk
dilakukan karena wahyu merupkan salah satu ajaran pokok Ahmadiyah penting
tidak dapat dipisahkan dengan kemahdian Ahmadiyah. Menurut pengikut
Ahmadiyah al- Mahdi Ahmadiyah tidak dapat dipisahkan dengan al- masih karena
al- Mahdi dan al- Masih adalah satu tokoh dan satu pribadi, dimana wahyu yang
disampaikan kepada Al- Mahdi adalah untuk menginterprestasikan Al-Qur‟an
sesuai dengan ide pembaharuanya. Kata wahyu biasa diterjemahkan sebagai„
isyarat yang cepat. Wahyu itu sendiri adalah sabda yang diilhamkan masuk ke
dalam kalbu para nabi 31dan orang- orang tulus.
Pengertian wahyu secara bahasa adalah pemberitahuan secara tersembunyi
kepada yang lain.wahyu Allah tidak hanya di turunkan kepada para Nabi dan
utusan Allah SWT saja , tetapi dikaruniakan juga kepada semua umat manusia, dan
bahkan di karuniakan kepada semua ciptaan –Nya termasuk barang- barang yang
tidak bernyawa.
Dalam Al-Qur‟an, ada lima macam wahyu Allah SWT, yaitu
1. Wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Makhluk yang tak bernyawa, seperti
bumi dan langit.
2. Wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada binatang ,seperti lebah .
3. Wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Malaikat
4. Wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Manusia biasa, baik laki- laki
maupun perempuan ( bukan nabi ), seperti para sahabat, Nabi Isa as, dan Ibu
Nabi Musa
31
5. Wahyu Allah SWT yang di turunkan kepada Nabi dan Rasul.32
mempercayai bahwa bukan hanya wahyu yang akan datang terus menerus setelah
Nabi Muhammad SAW. Melainkan Nabi pun juga akan berlangsung terus menerus.
Pengakuan pengikut Ahmadiyah terhadap kenabian Mirza Ghulam Ahmad
karena meyakini sebagai duplikat Nabi Isa. a.s yang bersetatus nabi dan menerim
wahyu. disampaikan itu, berita kehadiran al- Masih juga disebutkan dalam hadis-
hadis shahih, kemudian Ahmadiyah mencoba menguatkan keyakinan tersebut
dengan menggunakan dalil- dalil yang meyakinkan.
Dengan demikian pemahaman tentang wahyu di kalangan Ahmadiyah
mempercayai bahwa selain wahyu nubuwah atau wahyu tasyri atau wahyu matluw
masih ada wahyu lain sampai hari kiamat.Dalam menggunakan istilah wahyu dan
Ilham, pendiri Ahmadiyah mengakui bahwa petunjuk yang diterimanya dari Tuhan
sebagai Ilham, kemudian oleh para pengikutnya di nyatakan sebagai wahyu.
Dengan demikian, Ahmadiyah tidak membedakan antara Ilham dan wahyu
32
sehingga digunakan istilah- istilah baru seperti wahyu nubuwwah : Anugrah
untuk umat manusia. wahyu tasyri’ : sejarah pembinaan atau pembentukan hukum
yang mengkaji sampai akhir zaman nanti. wahyughair tasyri: adalah Sunnah yang
tidak ada maksud untuk diteladani. wahyu walayah: adalah rembulanya dan
cahaya-cahaya makrifat serta maknawi lewat perantaraan mereka memancarkan
kepada segenap alam dan manusia. wahyu matluw: adalah wahyu yang khusus
para Nabi atau Rasul Allah yang secara teknis. wahyu ghair matluw : adalah
wahyu tak diucapkan dengan terang.33 Di kalangan sunni, wahyu dan ilham adalah
berbeda. Wahyu hanya untuk para nabi dan Rasul Allah SWT, dan tidak mungkin
lagi turun sesudah Nabi Muhammas SAW wafat, sedangkan ilham hanya
diperuntukkan bagi manusia biasa. Dengan demikian drajat Ilham tidak akan
sampai ke drajat wahyu.
3. Al-Masih dan Al-Mahdi
Pembahasan mengenai al- Mahdi dan al- masih adalah ajaran penting dalam
Ahmadiyah. Menurut Ahmadiyah ajaran tentang al- Mahdi tidak dapat dipisahkan
dari masalah kedatangan Isa al- Masih di akhir zaman. Hal itu karena al- Mahdi dan
al- masih adalah satu tokoh, satu pribadi yang kedatangannya telah dijanjikan
Tuhan. Ia di tugaskan Tuhan untuk membunuh Dajjal dan mematahkan tiang salib,
yakni mematahkan argument- argument agama Nasrani dengan dalil- dalil atau
bukti- bukti yang meyakinkan serta menunjukan kepada para pemeluknya tentang
33
kebenaran Islam34. Selain itu ia ditugaskan untuk menegakkan kembali syariat Nabi
Muhammad SAW.Sesudah umatnya mengalami kemerosotan dalam kehidupan
beragama.35
Ahmadiyah memahami kata Imammukum minakum menunjukan seseorang
diantara umat Islam sendiri. Artinya bukan seorang imam yang datang dari luar
seorang umat Muhammad yang mempunyai persamaan dengan Isa al –Masih a.s,
dengan demikian tokoh itu pula yang disebut al- Mahdi. Jadi al- masih dan al-
Mahdi itu satu pribadi, dan tidak seperti yang di pahami orang pada umumya.
Mereka hanya mengambil beberapa hadis mahdiyyah yang sesuai dengan
keyakinannya, sedangkan para pengikut Ahmadiyah memandang hadis
Mirza Bayiruddin Mahmud Ahmad, Invitation to Ahmadiyyat ( London, Boston and Henely: Routledge & Keagen Paul Ltd., 1980), hlm. 30-31
35
tersebut menjadi “ seorang yang telah di beri petunjuk oleh Tuhan “ dengan cara
yang menakjubkan dan sangat pribadi. Berdasarkan hal tersebut dapat di katakan
bahwa orang yang di sebut Mahdi adalah orang yang benar- benar telah mendapat
bimbingan Tuhan36. dikalangan syiah Al- Mahdi merupakan keyakinan yang
penting sebagai kalangan Ahmadiyah, umumnya dipahami sebagai seorang imam
yang di tunggu- tunggu. Ia akan datang memenuhi bumi dengan keadilan karena
bumi dipenuhi dengan kecurangan. Corak kemahdiannya lebih bersifat politis dan
mengarah pada tindakan balas dendam terhadap lawan- lawan politknya.
Munculnya paham al- Mahdi adalah akibat dari kegagalan dalam berperang di
bidang politik.37
Berkenan dengan Imam Mahdi, ada 4 macam pengakuan:
1. Bahwa Al-Mahdi ialah Isa Ibnu Maryam itu sendiri
2. Dimaksudkan dengan Al-Mahdi itu ialah Khalifah yang bernama Al-Mahdi dari
Bani Abbassiyah, maka dia itu sudah berlalu.
3. Al-Mahdi seorang Lelaki dari Ahlul-bait anak cucu Hasan atau Husain
4. Pengakuan Rafidah ( Syiah ) yang mengatakan Al-Mahdi adalah Muhammad.38
4. Kitab Tadzkirah
H.A.R. Gibb dan Kremers (ed ), Shorter Enclopedia of Islam ( Leiden: E.J. Brill, 1974 ), hlm. 310
37
Ibid.hlm. 311
38
SAW. Kitab Tadzkirah adalah sebuah buku yang berisi kumpulan wahyu – wahyu,
kasyaf- kasyaf, serta mimpi- mimpi yang diterima Hazrat Mirza Ghulam Ahmad
dalam hidupnya selama lebih dari 30 tahun39. Selama pendiri Ahmadiyah hidup,
tidak ada Kitab yang bernama Tadzkirah dalam lingkungan Ahmadiyah serta tidak
pernah ditulis Oleh Mirza Ghulam Ahmad.
Kitab Tadzkirah dibuat atas prakarsa Mirza Ghulam Bashiruddin Mahmud
Ahmad pada tahun 1935, ia mengintruksikan kepada Nazarat Ta’lif wa Tashnif,
sebuah biro penerangan dan penerbitan jamaah Ahmadiyah pada waktu itu untuk
menghimpun wahyu kasyaf, dan mimpi yang diterima pendiri Ahamdiyah
sebagaimana terdapat dalam berbagai macam terbitan ( buku – buku, Jurnal –
jurnal, selebaran, majalah dan surat Kabar ) yang mana terbitan itu telah
disebarkan kepada khalayak umum pada saat itu serta ada keterangan pengalaman
rohani Mirza Ghulam Ahmad.40
Kemudian juga adanya kesaksian dari para Sahabat, anggota keluarga,
kerabat, dan lain- lainya, di mana mereka diberitahu oleh Mirza Ghulam Ahmad
mengenai wahyu, kasyaf, dan mimpi yang ia terima dari Allah SWT.41
Penerbit kitab Tadzkirah pertama kali di lakukan oleh BookDepot Ta’lifwa
Isyaa’at Qadian. Pada tahun 1935, terdiri dari 664 halaman, sedangkan penerbit
39
M.A. Suryawan, Bukan Sekedar Hitam Putih: Penjelasan Atas Keberatan Yang Sering Diajukan Kepada Ahmadiyah ( Jakarta: Arista Brahmatyasa, 2004 ), hlm. 58
40
Ahmad Sulaeman, Ekky, Klarifikasi Terhadap “ Kesesatan Ahmadiyah “ Dan “ Plagiator” ( Bogor: Mubarak Publishing, 2011 ), hlm. 41
41
kedua pada tahun 1956 dan ketiga tahun 1969 oleh As- Syirkatul Islamiyah
Limited Rabwah di Pakistan, masing – masing terdiri atas 840 serta 818 halaman.42
Materi yang di jelaskan dalam kitab Tadzkirah sebagai berikut :
1. Tadzkirah merupakan buah mimpi dari Mirza Ghulam Ahmad
2. Pernyataan tersebut dilukiskan dalam sebuah mimpi dan dituangkan
dalam kitab Tadzkirah.
3. Pernyataan Mirza Ghulam Ahmad ditafsirkan murid – muridnya dalam
bahasa Urdu dengan intisari yaitu. (1) membenarkan dan memberikan
penjelasan tentang kenabianya : (2) seruan dan pujian kepada Mirza
Ghulam Ahmad : (3) kedatangan dengan Allah SWT tentang kebenaran
Ahmadiyah dan keberuntungan bagi yang mendapatkanya.43
Di Indonesia jumlah pemilik kitab Tadzkirah sangan terbatas dan hanya dimiliki
oleh pengikut Ahmadiyah yang mengerti bahasa Urdu. Isi Kitab Tadzkirah terbagi
menjaadi dua bagian :
1. Tadzkirah ( mimpi – mimpi ), kasyaf- kasyaf ( visions ) dan wahyu dalam bentuk
lisan yang diterima oleh Masih Mau’ud as,44 dimana materi ini telah diterbitkan
serta disebarluaskan kepada khalayak umum selama hidupnya Mirza Ghulam
Ahmad.
42
Abdul Basit, Klarifikasi Atas Tela‟ah Kitab Tadzkirah ( Jakarta: Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 2003 ), hlm.3-4
43
Ibid., hlm.5-6
44
2. Zameema Tadzkirah ( wahyu – wahyu, kasyaf- kasyaf , dan mimpi- mimpi yang
tidak diterbitkan selama waktu hidupnya Masih Mau’ud as 45). Materi ini
dikumpulkan dari kesaksian para Sahabat , Ummul Mukminin, anggota keluarga,
dan kerabat, dimana mereka diberitahu oleh Mirza Ghulam Ahmad mengenai
wahyu- wahyu, kasyaf- kasyaf , dan mimpi – mimpi yang diterima olehnya.
Dalam bagian ini, wahyu yang diterima Oleh Mirza Ghulam Ahmad , disusun oleh
para ulama Muslim Ahmadi secara kronologi mulai dari :
1. Periode masa remaja sampai dengan tahun 1870. Dalam periode ini, wahyu yang
diterima oleh Mirza Ghulam Ahmad sebagian besar dalam bentuk mimpi,
beberapa dalam bentuk kasyaf dan sedikit dalam bentuk wahyu secara lisan.
2. Periode tahun 1870 sampai dengan 1908. Pada periode ini sangat banyak wahyu
yang di terima, baik dalam bentuk wahyu secara lisan, kasyaf, ataupun mimpi.
Pada bagian ini dapat ditemukan pengalaman- pengalaman rohani
pendiri Ahmadiyah, baik dalam bentuk mimpi Kasyaf, dimana sejak masa
remaja Mirza Ghulam Ahmad telah melihat dan bertemu dengan Nabi Besar
Muhammad SAW, Nabi Isa as, Ali ra, Fatimah Zahra ra, Hassan ra, Khrisna,
Guru Baba Nanak, Syekh Abdul Qodir Jailani, serta dengan nama
malaikat.Mirza Ghulam Ahmad terima dalam kitab Tadzkirah sebagian besar
berbahasa Arab Urdu, tetapi juga dalam bahas Persia dan Inggris.
Dalam Kitab Tadzkirah ada beberapa wahyu yang ia terima merupakan
pengulangan dari ayat- ayat suci Al- Qur‟an. Hal tersebut dimaksudkan sebagai
45
penekankan pada beberapa segi konotasi ayat- ayat tertentu dan penerapanya
pada situasi tertentu. 46 Kemudian adanya beberapa wahyu yang sama
redaksinya dengan ayat suci Al-Qur‟an serta diulang-ulang bukan pilihan, dan
keinginan dari Mirza Ghulam Ahmad sebagai penerima wahyu tetapi merupakan
kehendak dari Allah SWT semata sebagai pemberi wahyu.
46
BAB III
GAMBARAN UMUM MASYARAKAT SALATIGA DAN KELOMPOK AHMADIYAH KOTA SALATIGA
A. Profil Salatiga
Kota Salatiga merupakan salah satu daerah otonom di Jawa Tengah yang
memiliki 4 kecematan dari 23 kelurahan. Kota Salatiga terletak di daerah pedalaman
kaki Gunung Merbabu, Gunung Gajah Mungkur, Gunung Telomoyo dan Gunung
Sumbing, Kota Salatiga beriklim tropis dengan udara yang sejuk, sebagai kota
pendidikan.Penduduk Kota Salatiga belum menyebar secara merata di seluruh
wilayah Kota Salatiga pedesaan.
Pada tahun 2006, jumlah penduduk Kota Salatiga sebesar 176.795 jiwa atau naik
besar di bandingkan jumlah penduduk laki- laki.Hal ini terlihat dari rasio jenis
kelamin ( rasio jumlah penduduk laki- laki terhadap jumlah penduduk perempuan
terbesar 97,74. Kota Salatiga memiliki keberagamaan agama dalam
masyarakatnya.Kota Salatiga merupakan kota penting pada masa pendudukkan
Belanda di Jawa Tengah, Kota Salatiga menjadi persinggahan bagi pejabat-pejabat
Belanda pada masa Pemerintahan Hindia-Belanda.Maka tidak heran bila ditemui
berbagai arsitektur bangunan Belanda di sudut-sudut Kota Salatiga.
Kehidupan beragama yang harmonis sangat didambakan masyarakat, hal ini
terlihat dari tempat-tempat peribadatan yang ada di sekitar warga, seperti masjid,
gereja, dan pesantren-pesantren. Banyak tempat peribadatan di Kota Salatiga pada
13,25 persen Gereja Kristen dan Khatolik dan sisanya berupa Pura. Bangunan
rumah ibadah dari berbagai agama mencerminkan kehidupan masyarakat Salatiga
yang hidup dalam keberagaman serta hidup berdampingan di tengah perbedaan.
Keberagaman tidak menjadi curang pemisah antar umat beragama karena terjadi
jalinan sosial yang harmonis antar umat beragama.47
B. Kondisi Sosial Masyarakat Ahmadiyah di Salatiga dan Sekitarnya
Menurut pendapat ibu Suryati selaku warga jamaah Ahmadiyah kondisi sosial
Ahmadiyah di Salatiga yaitu
“ Kondisi keuangan Ahmadiyah di salatiga, susukan getasan. sangat
independen dan mandiri. Beraneka ragam pekerjaan Anggota Ahmadiyah
seperti, tukang rosok, guru, pedagang PNS. Mubaligh. Namun yang bekerja
sebagai Mubaligh tidak boleh memperjualkan dirinya harus tetap satu tujan
mengabdi kepada Allah. Para Jamaah Ahamdiyah setiap bulanya
menyisihkan uang nya untuk membayar Candah”48
Dalam pemaparan tersebut diartikan bahwa keungan jamaah Ahmadiyah
bersifat Independen dan mandiri. Semua kegiatan jamaah Ahmadiyah berasal
dari iuran wajib anggotanya dan tidak ada sumbangan dari pihak pemerintan
termasuk di Indonesia Khususnya di Salatiga. Dengan cara begitulah, jamaah
Ahmadiyah hidup dan berkembang.
47
https://mikolei.wodpress.com/profil-kotasalatiga/diakses pada tanggal 13 September 2017, Pukul 09.32 WIB
48
Candah Infaq atau Sumbangan Ahmadiyah
Dalam Metode Ahmadiyah Qadian menentukan kadar candah :1/10,
1/16,1/20 dan 1/3 adalah metode talfiq-bayani. Artinya dalam proses penggalian
hukum Ahmadiyah mengambil dan mengembangkan beberapa ketentuan kadar
yang sudah ada dalam ketentuan zakat pertanian dan wasiat dalam harta waris.
Dimana Chandah Wasiya (1/10-1/3) mengikuti ketentuan kadar zakat
pertanian:1/10, dan ketentuan wasiat dalam waris: 1/3 adapun Chandah Jalsah
Salanah (1/10) atau ( 1/16 atau 6,25 % ), ketentuan kadarnya murni dari inisiatif
dan kreativitas dari Khalifah yang kedua, Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad.49
Terbentuknya candah pengajahwantahan dari perintah Allah di surat
Al-Baqarah. Ayat 4. Yang Artinya:
“ dan mereka yang beriman kepada Kitab ( Al- Qur’an ) yang telah
diturunkan kepadamu dan kitab- kitab yang telah diturunkan sebelummu,
serta mereka yakin akan adanya ( kehidupan ) akhirat.”
Dengan menejemen modern yang dapat mengantarkan candah atau
sumbangan menjadi bagian dari penyelesaian masalah kondisi kebangsaan yang
terus berkembang.50
Progam penyaluran candah kota Salatiga adalah untuk pembangunan masjid-
masjid, bencana alam, seperti gempa, tsunami dll.
49
Skripsi Hamka Husein Hasibun,Kontruksi Candah Dalam Ahmadiyah Qadian ,Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, 2017.hlm. 85
50
Adanya aturan menikah dengan sesama Ahmadiyah ini menjadi penting
bagi sistema Candah, karena untuk menjalankan peraturan Jamaah Ahmadiyah
juga membutuhkan kesepakatan ( dan kerja sama ) antara istri dan Suami. Jika
pasangan berasal dari kepercayaan agama yang tidak sepaham, dikhawatirkan akan
menghalangi dan melarang para Ahmadi unuk melaksanakan kewajibanya,
termasuk membayar Candah. Hal itu bisa berdampak pada berkurangnya dana
penopang jamaah Ahmadiyah.
C. Kondisi Keagamaan Ahmadiyah Salatiga dan Sekitarnya.
Memilih suatu agama atau keyakinan merupakan hak dasar kita sebagai
manusia. Dimana kita dapat menerapkan ajaran agama tersebut pada kehidupan kita
sehari- hari, tanpa paksaan dan pengaruh dari orang lain tentunya. Beragama
merupakan hak pilih tidak jauh berbeda dengan kehidupan Ahmadiyah diSalatiga.
Menurut pendapat Bapak Imam Maridi selaku ketua cabang di Susukan kondisi
Keagamaan Ahmadiyah di Salatiga yaitu:
“ Secara khusunya kehidupan Ahmadiyah diSalatiga selama ini baik-baik saja
normal di terima oleh masyarakat dengan baik , dalam kegiatan sosial sama
dengan yang lain, bahkan di cabang Susukan Ahmadiyah tidak sedikit orang
yang ditokohkan oleh masyarakat keberadaan Ahmadiyah sendiri disalatiga
belum pernah mendapatkan tantangan yang menyebabkan terjadinya
kekerasan.”51
51
Dalam pemaparan tersebut dapat diartikan bahwa sejak berdirinya
Ahmadiyah di Salatiga sampai sekarang hubungan antar masyarakat baik-baik saja,
bahkan hubungan antara masyarakat beda Agamapun terjalin silaturahmi dengan
baik. Ahmadiyah selalu menjaga kerukunan antar umat beragama dan
memperjuangkan keutuhan NKRI.
Semakin terjalinya silaturahmi antar beda agama Ahmadiyah sering
mengikuti kegiatan-kegiatan pertemuan seperti sobat muda mengadakan pertemuan
buka bersama dengan tema” Kebersamaan Dalam antar umat beragama “
dilaksanakan di Greja Jln. Diponegoro dihadiri oleh beberapa antara Agama seperti
Kristen,Hindu, bahkan ada mahasiswa oragnisasi dari PMII.