• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user 1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Bahasa merupakan perangkat yang penting dan sangat bermanfaat bagi manusia untuk menjalin komunikasi dengan orang lain. Melalui penggunaan bahasa, orang-orang dapat mengutarakan pendapat dan saling memahami. Bahasa digunakan sebagai alat untuk menyampaikan suatu ide, pikiran, hasrat, dan keinginan kepada orang lain. Terkadang kita menggunakan bahasa bukan untuk menyampaikan isi pikiran kepada orang lain, tetapi hanya ditujukan pada diri sendiri, seperti saat berbicara sendiri baik yang dilisankan atau hanya dalam hati. Akan tetapi, yang paling penting adalah ide, pikiran, hasrat, dan keinginan tersebut dituangkan melalui bahasa.

Keterampilan berbahasa ada empat, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat keterampilan tersebut merupakan modal manusia dalam berbahasa sehari-hari. Berbicara merupakan aktivitas berbahasa kedua yang dilakukan manusia dalam kehidupan berbahasa setelah aktivitas mendengarkan. Berdasarkan bunyi-bunyi bahasa yang didengarkan itulah kemudian manusia belajar mengucapkan dan akhirnya mampu untuk berbicara (Nurgiyantoro, 2001: 276).

Keterampilan berbicara menjadi suatu keterampilan yang harus dikuasai oleh siswa. Apabila siswa memiliki keterampilan berbicara yang baik, dia akan memperoleh keuntungan sosial yang berkaitan dengan kegiatan interaksi sosial antarindividu. Tujuan dari pembelajaran berbicara adalah setelah kegiatan belajar mengajar berlangsung, siswa diharapkan mampu berkomunikasi untuk mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan, dan perasaan dalam berbagai ragam topik sastra maupun nonsastra.

Dalam pembelajaran berbicara SMP, terdapat kompetensi dasar bercerita yang menuntut siswa untuk tampil bercerita di depan kelas. Namun, kenyataannya banyak siswa yang tidak berani bercerita di depan kelas karena takut, bahkan ada

(2)

commit to user

yang tidak lancar dan diam membisu. Akibatnya keterampilan bercerita siswa tidak berkembang secara optimal.

Masalah lain yang muncul adalah siswa yang tampil pada umumnya merupakan siswa yang mempunyai keberanian lebih dibandingkan teman-temannya. Keberanian mereka yang berbeda-beda disebabkan oleh potensi keterampilan bercerita mereka relatif bervariasi. Sejumlah siswa sudah mampu menyatakan keinginan, perasaan senang, perasaan sedih, perasaan sakit, secara lancar. Sementara itu, beberapa siswa yang lain belum mampu menyatakan pendapatnya secara runtut, bahkan di antaranya ada yang gagap dalam menyampaikan pendapat dan perasaannya. Selain itu, karena siswa tampil satu per satu, hal ini menyebabkan waktu pembelajaran semakin lama. Kurangnya waktu pembelajaran tersebut mengakibatkan guru kurang memberikan perhatian terhadap pembelajaran bercerita. Hal ini dapat dilihat dari metode yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran. Metode yang digunakan adalah siswa tampil bercerita secara individu sehingga banyak menyita waktu pembelajaran bahasa Indonesia. Waktu pembelajaran yang hanya 80 menit tiap pertemuan tidak dapat menyelesaikan praktik bercerita seluruh siswa dalam satu kelas. Permasalahan tersebut terjadi pada kelas VII C SMP Negeri 1 Andong Boyolali. Hal ini nampak dari nilai hasil survei awal pada pembelajaran bercerita yang dilakukan di kelas VII C SMP Negeri 1 Andong. Siswa yang mampu mencapai ketuntasan belajar (KKM ≥ 75) sebanyak 26,40% atau 9 siswa, sedangkan siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar (KKM ≥ 75) sebanyak 73,60% atau 25 siswa.

Berdasarkan informasi dari guru dan beberapa siswa, rendahnya keterampilan bercerita siswa VII C SMP Negeri 1 Andong Boyolali disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:

1. Rendahnya keberanian berbicara siswa di depan kelas sehingga siswa

kurang bersemangat apabila guru meminta siswa tampil bercerita di depan kelas yang disebabkan kurangnya motivasi yang dimiliki siswa untuk berani tampil di depan kelas.

(3)

commit to user

2. Siswa kesulitan dalam mengembangkan ide dan mengorganisasikan

gagasan secara lancar dan runtut yang disebabkan kurangnya penggunaan media yang digunakan guru dalam merangsang kreatifitas siswa dalam mengembangkan ide dan mengorganisasikan gagasan.

3. Rendahnya perbendaharaan kata yang dimiliki siswa disebabkan siswa

belum dapat menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sehingga tidak jarang siswa malu dan takut jika saat mereka menyampaikan pendapat terdapat kesalahan ucap atau kurang lancar, mereka akan ditertawakan oleh teman yang lain.

4. Penggunaan metode konvensional yaitu metode bercerita secara individu

yang masih diterapkan guru yang menyebabkan alokasi waktu untuk praktik bercerita kurang sehingga diperlukan sebuah metode yang dapat mengefektifkan alokasi waktu praktik bercerita siswa.

Berdasarkan masalah yang diperoleh dari lapangan, peneliti memilih

menerapkan metode paired storytelling yang memberi kesempatan siswa untuk

tampil bercerita di hadapan teman-temannya secara berpasangan. Djamarah dan Zain (2010: 46) menyatakan bahwa metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Metode digunakan guru sebagai strategi untuk membuat siswa menjadi lebih aktif, lebih semangat, lebih inovatif, dan mempermudah siswa dalam mengikuti pelajaran. Menurut Lie (2007: 70),

metode paired storytelling dikembangkan sebagai pendekatan interaktif antara

siswa, pengajar, dan bahan pelajaran.

Metode paired storytelling merangsang siswa untuk mengembangkan

kemampuan berpikir dan berimajinasi. Dalam proses pembelajaran bercerita, dengan siswa tampil secara berpasangan diharapkan dapat memotivasi siswa lain dan menumbuhkan sikap kerja sama dan kekompakan pada diri siswa. Senada

dengan hal tersebut, Isjoni (2010: 80) mengemukakan bahwa metode paired

storytelling menuntut siswa untuk bekerja dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan komunikasi. Dengan metode ini, guru dapat mengefektifkan waktu pembelajaran karena siswa diminta tampil berbicara di depan kelas dengan

(4)

commit to user

salah seorang temannya. Selain itu, metode paired storytelling dapat memupuk

motivasi dalam diri siswa untuk berani tampil di depan kelas bersama salah seorang temannya.

Media gambar seri juga diterapkan dalam penelitian ini. Media merupakan segala bentuk atau saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi kepada pihak lainnya (Karwati dan Priansa, 2014: 223). Menurut Arsyad (2002: 111), gambar seri adalah kumpulan dari beberapa gambar yang menceritakan suatu kejadian atau peristiwa yang menarik, yang disusun secara acak dan berurutan untuk dijadikan sebuah cerita. Penerapan media gambar seri dalam pembelajaran bercerita memudahkan siswa untuk mengembangkan ide dan mengorganisasikan gagasan cerita secara jelas dan runtut.

Penerapan metode paired storytelling dan media gambar seri diharapkan

dapat mengembangkan kemampuan berpikir dan daya imajinasi siswa dalam pembelajaran bercerita. Melalui media gambar seri, siswa diharapkan dapat mengembangkan ide cerita berdasarkan kumpulan gambar yang diberikan. Setelah itu,cerita yang telah disusun dapat ditampilkan di depan kelas secara berpasangan

menerapkan metode paired storytelling sehingga siswa dapat meningkatkan

kekompakan dan kerja sama dalam kelompok.

Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, penulis akan melakukan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan keterampilan bercerita siswa kelas

VII C SMP Negeri 1 Andong Boyolali melalui metode paired storytelling dan

media gambar seri.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut.

1. Apakah penerapan metode paired storytelling dan media gambar seri dapat

meningkatkan kualitas proses pembelajaran siswa kelas VII C SMP Negeri 1 Andong Boyolali?

(5)

commit to user

2. Apakah penerapan metode paired storytelling dan media gambar seri dapat

meningkatkan keterampilan bercerita siswa kelas VII C SMP Negeri 1 Andong Boyolali?

C. Tujuan Penelitian

Berkaitan dengan rumusan masalah tersebut, tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Meningkatkan kualitas proses pembelajaran siswa kelas VII C SMP Negeri 1

Andong Boyolali melalui metode paired storytelling dan media gambar seri.

2. Meningkatkan keterampilan bercerita siswa kelas VII C SMP Negeri 1

Andong Boyolali melalui metode paired storytelling dan media gambar seri.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Bagi siswa

a. Sebagai sarana peningkatan keberanian berbicara siswa.

b. Meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran bercerita.

c. Meningkatkan kreativitas siswa dalam belajar.

2. Bagi guru

a. Sebagai referensi metode pembelajaran bercerita yang menyenangkan.

b. Meningkatkan motivasi guru untuk berupaya menyelenggarakan

pembelajaran dengan cara yang lebih inovatif.

c. Mengefektifkan waktu pembelajaran bahasa Indonesia.

3. Bagi sekolah

a. Sebagai sarana peningkatan kualitas pembelajaran bercerita baik proses

maupun hasil.

b. Sebagai acuan dalam upaya pengadaan inovasi pembelajaran bagi para

guru bahasa Indonesia yang lain dan memotivasi untuk selalu melakukan inovasi dengan strategi berbeda.

Referensi

Dokumen terkait

Untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan maka harus diadakannya pembelajaran bahasa Arab, pembelajaran bahasa Arab mempunyai hirarki kesulitan dari tahapan yang

Proses pengklasifikasian teknik penerjemahan dilakukan dengan membandingkan bahasa seksual dalam bahasa sumber (bahasa Inggris) dengan subtitle-nya versi bahasa Indonesia

Adapun metode yang peneliti gunakan itu adalah untuk meningkatkan kemampuan menghafal mufrodat siswa pada mata pelajaran bahasa arab yaitu metode bernyanyi.dimana metode

Metode pembelajaran di luar sekolah atau luring ini salah satu metode yang dapat diterapkan sementara waktu untuk melakukan pembelajaran, namun sebaiknya materi yang

Pembelajaran bahasa Indonesia dengan menggunakan metode kooperatif jigsaw diharapkan dapat mengaktifkan siswa melalui kerja sama antar siswa dengan pembentukan kelompok,

Sebagai bahasa yang kompleks secara silabel, dengan banyak pengecualian dan ambiguitas, silabifikasi bahasa Indonesia sulit diaplikasikan pada barisan grafem dengan menggunakan

KTSP yang memiliki Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) menyebutkan pada pembelajaran Bahasa Indonesia kelas XI SMA semester I terdapat.. SK yang

Menurut S.Badudu menyatakan bahwa bahasa merupakan alat penghubung atau alat komunikasi antara anggota masyarakat yang terdiri dari individu-individu yang menyatakan pikiran, perasaan,