• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Orang dengan paparan timbal mempunyai kecenderungan lebih besar untuk menjadi anemia dibandingkan dengan orang yang tidak terpapar timbal. Padahal anemia sudah menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Menurut WHO (2001) hal ini dikarenakan anemia merupakan faktor risiko terjadinya masalah kesehatan lainnya antara lain terganggunya perkembangan kognitif, penurunan konsentrasi dan kemampuan belajar, penurunan respon imunitas terhadap penyakit infeksi, penurunan kapasitas dan produktivitas kerja, kematian pada bayi dan ibu hamil, keguguran, bayi lahir prematur, berat bayi lahir ringan (BBLR). Menurut Wirjatmadi (2006) pada anemia tingkat sedang dapat menurunkan kapasitas angkut oksigen dalam darah. Seseorang dengan anemia mengalami penurunan kualitas hidup yang pada akhirnya dapat berdampak kepada kematian. Selain itu anemia dihubungkan dengan mengalami lemah dan kelelahan panjang atau secara terus menerus.

Prevalensi anemia menurut WHO (2001) pada tahun 1990-1995 secara keseluruhan sebesar 475.300 orang dan yang paling banyak adalah di Asia Tenggara yaitu 184.752 orang. Berdasarkan WHO (2001) diperkirakan prevalensi anemia pada laki-laki dewasa usia 15 sampai 59 tahun di kota industri pada tahun 1990-1995 adalah sebesar 4,3% dan di kota non-industri sebesar 30%. Berdasarkan data Riskesdas 2007 prevalensi anemia di Indonesia menurut SK Menkes adalah 14,8% dan anemia pada usia laki-laki dewasa sebesar 33,4%.

Anemia ditandai dengan badan terasa lemah, lelah, kurang energi, kurang nafsu makan, daya konsentrasi menurun, sakit kepala, stamina tubuh menurun, dan pandangan berkunang-kunang terutama bila bangkit dari duduk. Kriteria anemia dapat ditentukan secara klinis maupun laboratorium. Kriteria secara klinis adalah wajah, selaput lendir kelopak mata, bibir, dan kuku penderita tampak pucat. Sedangkan laboratorium salah satunya adalah

(2)

2

pengukuran kadar hemoglobin. Seseorang dikatakan mengalami anemia menurut WHO (2001) bila memiliki kadar hemoglobin darah kurang dari 13 g/dL.

Menurut Hoffbrand dan Mehta (2008) anemia merupakan penyakit akibat kurangnya sel darah merah dimana sel darah merah tersusun atas hemoglobin yang merupakan pekerja utama dalam mendukung fungsi darah sebagai pelaku transportasi oksigen dan karbondioksida ke jaringan atau dari jaringan. Corwin (2009) mendefinisikan anemia sebagai status keadaan kadar hemoglobin darah lebih rendah daripada nilai normal untuk kelompok orang yang bersangkutan. Menurut Klaassen (2001) kecenderungan penurunan kadar hemoglobin dalam darah dapat terjadi akibat paparan zat toksik, salah satunya adalah logam berat timbal yang disebarkan bersama dengan asap kendaraan bermotor. Berdasarkan data dari Kantor Kepolisian Republik Indonesia jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mengalami peningkatan 8 sampai 13% setiap tahunnya. Pada tahun 2011 mencapai lebih dari 85 juta unit, yaitu 85.601.351 unit. Kenaikan jumlah kendaraan bermotor tentunya akan diikuti oleh kenaikan jumlah konsumsi bensin. Menurut Yudhistira (2013), rata-rata konsumsi minyak di Indonesia mengalami kenaikan sekitar 3% setiap tahunnya, yakni dari 1,184 juta barel per hari pada tahun 2002 menjadi 1,565 juta barel perhari pada tahun 2012. Radhi (2013) menambahkan bahwa selama tahun 2012 konsumsi premium di Indonesia telah mencapai 45,07 juta kilo Liter dan meningkat mencapai 48,01 juta kilo Liter pada Agustus 2013. Padahal menurut Klaassen (2001), dalam bensin sengaja ditambahkan Tetra Ethyl Lead (TEL) untuk menaikkan performa mesin, meskipun disisi lain dapat menimbulkan adanya partikel timah hitam (Pb) dalam asap yang dikeluarkan ke udara bebas oleh kendaraan bermotor.

Palar (2004) menjelaskan bahwa timbal (Pb) dalam asap kendaraan bermotor dapat masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernafasan, pencernaan, dan kulit. Di dalam tubuh, Murray et al. (1993) menjelaskan bahwa timbal dapat mengganggu sintesis heme dengan cara berikatan dengan gugus SH pada enzim yang berperan dalam sintesis heme, yaitu ferokelatase

(3)

3

dan ALA dehidratase. Kegagalan sintesis heme mengakibatkan menurunnya kadar hemoglobin.

Berdasarkan hasil penelitian Sukenty (2006) pada Tukang Becak di Kota Semarang diketahui bahwa 51% responden memiliki kadar hemoglobin tidak normal yang 6 responden (31,5%) diantaranya mempunyai kadar timbal dalam darah yang melebihi batas yang diperkenankan WHO, yaitu pada orang dewasa normal adalah 10 sampai 25 μg/dL. Tukang becak yang memiliki kadar hemoglobin tidak normal (rendah) dan berkadar timbal tinggi menunjukkan gejala gangguan kesehatan yang diduga disebabkan oleh penurunan kadar hemoglobin. Berdasarkan hasil penelitian Zukhri (2007) pada anak jalanan di Yogyakarta diketahui bahwa timbal (Pb) berpengaruh terhadap kadar Hemoglobin secara signifikan. Berdasarkan kedua penelitian tersebut diketahui bahwa orang dengan kadar timbal darah yang tinggi mempunyai kecenderungan lebih besar untuk menjadi anemia dibandingkan dengan orang yang lebih rendah atau normal kadar timbal dalam darahnya.

Tukang becak merupakan salah satu kelompok yang berisiko tinggi terpapar Pb setiap hari karena mereka bekerja di jalan raya yang banyak dilalui oleh kendaraan bermotor. Surabaya sebagai kota metropolis dan menjadi pusat bisnis, perdagangan, industri, pendidikan dan sebagai pusat transportasi menjadikannya padat lalu lintas dan menyebabkan kemacetan yang terus meningkat setiap tahun. Jumlah kendaraan bermotor di Surabaya mengalami kenaikan setiap tahun. Dari tahun 2011 ke 2012 naik sekitar 138.837 unit. Sampai bulan November 2012 tercatat sebanyak lebih dari 4 juta unit, yaitu 4.166.847 unit yang didominasi oleh kendaraan bermotor roda dua (sepeda motor) yaitu sebanyak 3.333.947 unit, urutan kedua adalah mobil penumpang yaitu sebanyak 604.060 unit, berikut mobil beban sebanyak 220.712 unit, bus sebanyak 7.185 unit, dan mobil beban sebanyak 945 unit. Berdasarkan hasil studi awal pendahuluan diketahui bahwa rata-rata jumlah kendaraan yang melintas di 10 titik padat lalu lintas Kota Surabaya sebanyak 120 kendaraan setiap menitnya. Berdasarkan studi analitik Hermawan (2011) pada Tukang Becak di Kota Surabaya diketahui bahwa semua sampel

(4)

4

(100%), memiliki kadar timbal (Pb) yang melebihi nilai ambang batas yang diperkenankan WHO, yaitu 10 sampai 25 μg/dL. Menurut Murray et al. (1993), akumulasi Pb dalam darah yang relatif tinggi akan menyebabkan terganggunya biosintesis heme dan mengakibatkan penurunan kadar hemoglobin darah. Berdasarkan uraian diatas maka perlu dilakukan penelitian mengenai hubungan antara kadar timbal dalam darah Tukang Becak di Surabaya dengan kadar hemoglobin.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang tersebut di atas, dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:

Apakah terdapat hubungan antara kadar timbal (Pb) dalam darah dengan kadar hemoglobin (Hb) darah pada tukang becak di Kota Surabaya?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kadar timbal (Pb) dalam darah dengan kadar hemoglobin (Hb) darah pada tukang becak di Kota Surabaya.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Diharapkan dapat memberikan manfaat terutama bagi peneliti sendiri sebagai tambahan pengetahuan dan pengalaman penelitian.

2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan sebagai bahan masukan bagi Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Dinas Kesehatan Lingkungan Kota Surabaya dan kota lainnya yang padat lalu lintas, dan Pemerintah Pusat dalam menetapkan kebijakan untuk mencegah dan menanggulangi anemia dan penyakit akibat kerja lainnya pada tukang becak serta gangguan

(5)

5

kesehatan pada masyarakat lainnya yang memiliki risiko terpapar timbal (Pb).

Bagi petugas kesehatan di Puskesmas atau Dinas Kesehatan Kota Surabaya dan kota lainnya dapat menjadi bahan pertimbangan untuk melaksanakan tindakan dalam rangka mencegah anemia, penyakit akibat kerja, dan gangguan kesehatan lainnya akibat paparan timbal (Pb).

E. Keaslian Penelitian

Keaslian penelitian dapat dilihat pada Tabel 1 Keaslian Penelitian berikut ini.

Tabel 1. Keaslian Penelitian PENULIS

(TAHUN)

JUDUL PERSAMAAN PERBEDAAN

Darmadji (2002)

Hubungan antara kadar timah hitam (plumbum/Pb) dalam darah dengan kadar hemoglobin (Studi pada petugas parkir ruang bawah tanah di Plaza Simpang Lima Semarang Tahun 2002) Variabel bebas: kadar (timbal) Pb darah Variabel terikat: kadar hemoglobin (Hb). Jenis penelitian: explanatory (cross sectional). Variabel perancu: merokok Subyek penelitian: petugas parkir ruang bawah tanah di Plaza

Simpang Lima Semarang. Terdapat variabel pendahulu: konsentrasi Pb di udara Variabel pengganggu antara variabel pendahulu dengan variabel bebas:

Lama bekerja, jam kerja/hari, APD, kebiasaan merokok, umur.

Variabel pengganggu antara variabel bebas dengan variabel terikat: riwayat perdarahan, riwayat sakit (penyakit TBC, malaria, kecacingan, Sum-sum tulang, keganasan, darah)

(6)

6 Laili (2002) Hubungan pemaparan partikel timah hitam (Pb) dengan timah hitam (Pb) darah dan gangguan kadar hemoglobin pada Pekerja Industri Peleburan Timah Hitam. Jenis penelitian: observasional (cross sectional). Subyek: pekerja industri peleburan timah hitam di Semarang Variabel bebas: pemaparan partikel timah hitam (Pb)

Variabel terikat: timah hitam (Pb) darah dan hemoglobin (Hb) Zukhri (2007) Hubungan antara kadar timbal (Pb) dalam darah dengan kadar hemoglobin (Hb) pada anak jalanan

di Kota

Yogyakarta (Kasus dampak pencemaran udara oleh timah hitam)

Variabel bebas: kadar timbal (Pb) darah Variabel terikat: kadar hemoglobin (Hb). Jenis penelitian: observasional (cross sectional). Variabel perancu: merokok Subyek penelitian: anak jalanan di Kota Yogyakarta

variabel perancu: alkohol, status gizi, lama paparan

Suciani (2008)

Kadar timbal dalam darah polisi lalu lintas dan hubungannya dengan kadar hemoglobin (Studi pada polisi lalu lintas yang bertugas di Jalan Raya Kota Semarang) Variabel bebas: kadar timbal darah Variabel terikat: kadar hemoglobin Variabel perancu: kebiasaan merokok Metode survei (cross sectional). Subyek penelitian:polisi lalu lintas laki-laki di Kota Semarang

Variabel perancu: lama kerja

Waktu penelitian: Tahun 2006 sampai 2007

(7)

7 Setiyawati (2009) Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar timbal (Pb) dalam darah anak jalanan di bawah asuhan rumah singgah Girlan Nusantara Prambanan, Yogyakarta Metode penelitian: cross sectional.

Variabel bebas: status gizi, kebiasaan merokok, kebiasaan minum alkohol, lama pajanan

Variabel terikat: kadar Pb darah

Variabel pengganggu: intake nutrisi yaitu protein, total lemak, asupan makromineral (Ca, Mg, P) Kurniawan (2011) Hubungan kadar Pb dalam darah dengan profil darah pada mekanik kendaraan bermotor di Kota Pontianak Variabel bebas: kadar Pb darah Variabel terikat: kadar Hb, jumlah eritrosit, leukosit, trombosit, hematokrit, MCV, MCH, MCHC. Variabel perancu: intake Fe, energi, protein, B12, asam folat, dan kebiasaan merokok Jenis penelitian: observasional analitik (cross sectional). Subyek penelitian: mekanik kendaraan bermotor beberapa bengkel di Kota Pontianak. Variabel perancu: Riwayat sakit (penyakit

TBC, malaria, kecacingan, sum-sum ulang, keganasan darah), gangguan metabolisme Fe (pendukung: intake vitamin C, penghambat: intake tanin),riwayat minum obat, riwayat minum alkohol, lama kerja, APD (Alat Pelindung Diri)

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah subjek penelitian ini adalah tukang becak di Surabaya pada tahun 2014, variabel asupan zat gizi (protein, vitamin C, Fe, dan zinc) dan infeksi/penyakit yang diduga sebagai variabel perancu dikendalikan pada awal penelitian dengan menjadikannya sebagai kriteria inklusi, dan dilakukan uji stratifikasi pada variabel kebiasaan merokok yang tidak dapat dikendalikan pada awal penelitian. Selain itu, pada penelitian ini masalah utama pada kerangka teori adalah anemia dan bukan timbal (Pb).

Gambar

Tabel 1. Keaslian Penelitian  PENULIS

Referensi

Dokumen terkait

[r]

- SAHAM SEBAGAIMANA DIMAKSUD HARUS DIMILIKI OLEH PALING SEDIKIT 300 PIHAK & MASING2 PIHAK HANYA BOLEH MEMILIKI SAHAM KURANG DARI 5% DARI SAHAM DISETOR SERTA HARUS DIPENUHI

underwear rules ini memiliki aturan sederhana dimana anak tidak boleh disentuh oleh orang lain pada bagian tubuhnya yang ditutupi pakaian dalam (underwear ) anak dan anak

 Biaya produksi menjadi lebih efisien jika hanya ada satu produsen tunggal yang membuat produk itu dari pada banyak perusahaan.. Barrier

Aksi diselenggarakan kelompok afi nitas akan menjadi tujuan akhirnya, namun tindakan kolektif infoshop hanya salah satu dari berbagai tugas yang dibutuhkan untuk mempertahankan

Furthermore, this sensitivity is much higher for about 24-fold compared to that of ammonia gas sensor based on polyaniline by using optical measurement [ 12 ].. The on/off

yang berkualitas, harga yang wajar, lokasi yang strategis dekat dengan jalan raya. pelayanan yang baik dan ramah, strategi promosi yang dilakukan sesuai

and you can see from the radar screen – that’s the screen just to the left of Professor Cornish – that the recovery capsule and Mars Probe Seven are now close to convergence..