• Tidak ada hasil yang ditemukan

Qureta Reformasi Politik Hampir Reform

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Qureta Reformasi Politik Hampir Reform"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Menjelang dua dekade Reformasi 1998 titik pandang kita acap disandingkan dengan cakupan politik. Pengertian reformasi ini amat jelas memberi warna politis karena ditandai oleh keruntuhan Soeharto. Orde Baru sebagai sistem yang dilanggengkan oleh presiden kedua Republik Indonesia kelahiran Kemusuk itu ikut runtuh pula.

Sekalipun Orde Baru telah gulung tikar, kroni-kroninya masih bertransformasi di balik euforia

reformasi. Bejibun nama pejabat Orde Baru bersalin rupa dan tetap menegaskan gurita kekuasannya melalui rezim berikutnya. Dengan kata lain, Orde Baru secara simbolis memang tutup buku, namun secara semantis ia meredefinisikan diri menjadi nama dan format baru.

Sejauh ini reformasi kerap diandaikan pada pengertian konstelasi pemerintahan. Terobosan para reformis telah mencapai titik itu, tapi sektor pendidikan agaknya luput, bahkan diabaikan sepenuhnya. Wilayah pendidikan nasional masih sedikit-banyak terjerat beban Orde Baru. Baik secara konseptual maupun praksis, nasib pendidikan di Indonesia belum beranjak dari keterjeratan itu.

(2)

fisik—ingat sekolah Inpres?—dan pengadaan buku teks besar-besaran sejak tahun 80-an, Orde Baru tak terlepas dari torehan rapor merah. Titik kelam itu, antara lain, mencakup pencerabutan secara total konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang telah dibumikan sejak permulaan Demokrasi Terpimpin era Soekarno.

Ki Hadjar terpilih sebagai Menteri Pengajaran pertama usai Indonesia menegaskan secara politik Republik Indonesia. Tokoh pergerakan yang sebelum Indonesia merdeka telah mendirikan Perguruan Tamansiswa itu disinyalir merupakan menteri yang memimpin tidak dengan tangan kosong.

Ia sudah memiliki seperangkat konsep pembaruan bagi sektor pendidikan. Tak sekadar meneruskan cetak biru pendidikan kolonial, Ki Hadjar menawarkan paket pendidikan yang dianggap relevan secara sosiologis dan antropologis bangsa Indonesia. Daya tawar ini membuat Panglima Besar Revolusi tertarik dan merekrutnya di kursi kabinet.

Antara Bakat dan Tuntutan Industri

Sejak awal kepemimpinan, pelbagai sektor pemerintahan, hendak dibawa Soeharto ke arah pembangunan. Sikap ini diperjelas olehnya dengan menarasikan jargon Repelita. Ranah ekonomi, terutama, Soeharto gencarkan melalui tangan teknorat Widjojo Nitisastro dan tim jebolan University of California, Berkeley, Amerika Serikat.

Pembangunan ekonomi diprioritaskan agar tak mengulangi kesalahan para pendahulunya. Narasi Revolusi Belum Usai yang dipidatokan Soekarno di mimbar-mimbar tak lagi dibunyikan. Soeharto menggantinya secara imperatif: pembangunan, pembangunan, dan pembangunan. Baginya revolusi telah mencapai senjakala.

Geliat pembangunan ekonomi yang semakin sistematis dan masif berdampak total terhadap politik pendidikan nasional. Kurikulum pendidikan diarahkan sepenuhnya untuk mencetak individu yang kelak mengisi pos-pos industri. Sekolah, dengan demikian, harus diorientasikan agar membangun manusia yang memiliki keterampilan lapangan.

Sekolah tak ubahnya seperti pabrik. Pembelajaran di kelas dikonstruksi sedemikian rupa agar peserta didik memiliki pandangan futuristik. Guru di masa Orde Baru sering menanyakan kepada siswa: kalau sudah besar, kalian ingin menjadi apa? Frasa “ingin menjadi” ini dieksploitasi terus-menerus supaya siswa bersiap menghadapi pasar kerja.

Guru juga sering kali memberi doktrin opsional kepada peserta didiknya. Yang sukses itu adalah ketika menjadi dokter, astronot, pengusaha, arsitek, polisi, dan lain sebagainya. Pilihan-pilihan

semacam itu dituangkan ke dalam kepala sang anak. Siswa, karenanya, termotivasi oleh ujaran guru, bukan berkat keinginan sendiri atas dasar bakat, melainkan cenderung doktriner.

Orde Baru memberi cakrawala anak didiknya dengan imajinasi-imajinasi “agar kelak menjadi” seperti figur tertentu. Posisi bakat yang semula menjadi preferensi Ki Hadjar dalam mengembangkan konsep pendidikan nasional lambat-laun direduksi secara subtil. Filsafat pendidikan bukan lagi

membebaskan manusia, melainkan menjerat manusia dengan dan melalui tuntutan industri.

Belajar Karena atau Belajar Dari?

Sekolah di bawah rezim Orde Baru, bahkan menjalar hingga sekarang, menempatkan peserta didik

(3)

sebagai objek. Siswa tak diberi tempat untuk membuka peluang personalnya untuk menemukan dan mengasah bakat. Ia hanya diperlakukan sebagai objek yang tak tahu-menahu dan perlu diberitahu. Paket mata pelajaran menjadi asupan sistematis untuk membangun manusia yang sesuai harapan negara.

Kebebasan berkreativitas di sekolah diredusir atas nama penyeragaman. Siswa di Indonesia diberi tempat untuk bersaing antarliyan guna memperebutkan nomor satu. Sistem perangkingan dianggap sebagai parameter keberhasilan akademik yang meniscayakan dikotomi siswa bodoh dan pintar. Keberbedaan atas konsekuensi dari kreativitas dikategorikan sebagai anomali. Sementara anomali, di satu sisi, perlu dibereskan agar kembali ke “koridor” yang dikehendaki sekolah. Model

pembelajaran demikian berangkat “dari” keinginan negara—melalui kurikulum penyeragaman nasional—dan jauh “karena” bakat peserta didik.

Problem pendidikan ini sudah lama memberi sinyal merah bagi segenap praktisi sekaligus regulator di setiap sektor. Bila tak segera dibenahi, setidaknya disadari, nasib pendidikan di republik akan terus terombang-ambing di ombak artifisial. Meneruskan kenyataan ini sama saja memantati mandat Ki Hadjar Dewantara seratus tahun lampau.

0 Comments Sort by

Facebook Comments plug-in

Newest

(4)
(5)

Referensi

Dokumen terkait

Era Reformasi atau Era Pasca Soeharto di Indonesia disebabkan karena tumbangnya orde baru sehingga membuka peluang terjadinya reformasi politik di Indonesia pada pertengahan

KeTiKa presiden soeharto mengundurkan diri dan peme- rintahan orde Baru bubar, berakhirlah lebih dari tiga dasawarsa kepemimpinan otoriter dan harapan pun  bangkit kembali

Sejak kemerdekaan dalam sistem ketatanegaraan Republik Indonesia, yaitu Orde Lama, Orde Baru, dan Reformasi, terdapat ketentuan hukum maupun praktik yang berbeda-beda

Maka, sebagai akibat dari kebijakan-kebijakan agraria Orde Baru, yang menjauhi semangat UUPA 1960 yang telah dirintis Pemerintahan Presiden Soekarno, dan

PARTISIPASI POLITIK Pola Perilaku Pemilih Pemilu Masa Orde Baru dan Reformasi.

Namun harus diakui bahwa setelah masa Orde Baru, setelah rezim itu runtuh pada tahun 1998, gagasan Islam kultural menjadi tidak “menarik” bagi sebagian kalangan di Indonesia

Demokrasi Pancasila Orde Baru (1966 s.d.. Reformasi lahir setelah Presiden Soeharto mengundurkan diri sejak 21 Mei 1998 dan digantikan oleh wakil presiden Dr. Berhentinya

Rekuitmen politik Proses rekuitmen politik pada masa orde baru adalah Rekrutmen tertutup, dengan menggunakan Kekuasaan presiden yaitu mengontrol rekruitmen lembaga tinggi negara,