Wardoyo, Cipto. 2015. Analisis Humor dalam Tindak Tutur di Serial Komedi “Preman Pensiun”. Makalah dalam prosiding Konferensi Analisis Humor dalam Tindak Tutur di Serial Komedi “Preman Pensiun”
Cipto Wardoyo
UIN Sunan Gunung Djati Bandung [email protected]
Abstrak
Humor adalah sesuatu yang penting dalam kehidupan, kehadirannya sangat diperlukan seperti garam di dalam menu masakan. Setiap sisi kehidupan manusia walaupun sulit dan rumit namun sebenarnya di sana ada tersisip hal-hal jenaka yang mampu membuat hidup lebih rileks dan menyenangkan. Fenomena mengenai wacana humor sangat menarik terutama humor verbal apabila dikaji secara linguistik, karena tidak saja melibatkan tuturan kata dalam kalimat tetapi juga konteks tuturan yang mendasarinya terutama terkait dengan situasi dan konteks budaya. Serial komedi “Preman Pensiun” mampu menyuguhkan realitas kehidupan masyarakat Bandung dengan menampilkan keseharian masyarakat dengan alur cerita dan dialog yang jenaka. Serial komedi ini mampu menampilkan sisi kehidupan preman yang humanis dan lucu, komedi ini tidak hanya membuat penonton tertawa tetapi juga mampu memberikan pesan-pesan moral yang dikemas secara lucu dan menarik. Penelitian ini mencoba untuk membahas dua hal, pertama untuk mengetahui tindak tutur apa yang mengandung humor dalam serial komedi “Preman Pensiun”, kedua untuk mengetahui penyimpangan prinsip kerjasama yang dapat menciptakan humor. Dalam makalah ini penulis menggunakan teori humor, teori tindak tutur, dan prinsip kerjasama. Penulis mencoba untuk menganalisis humor dalam serial komedi “Preman Pensiun” secara pragmatik dengan menggunakan teori tindak tutur Searle, dan prinsip kerjasama Grice. Data penelitian ini diambil dari tuturan percakapan tokoh yang mengandung unsur humor dengan menggunakan metode simak catat. Penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menganalisis setiap tuturan jenaka secara pragmatik.
Kata Kunci: Pragmatik, Humor, Tindak Tutur, Prinsip Kerjasama
Latar belakang
Problematika kehidupan dan persaingan dunia kerja memicu manusia untuk bekerja keras, disiplin dan hidup dengan penuh rasa khawatir. Setiap manusia dalam kehidupannya membutuhkan humor untuk menjadikan hidupnya lebih rileks, lebih tenang dan jauh dari stres. Hal ini menandakan bahwa humor adalah hal yang penting dalam kehidupan manusia. Humor sangat digemari masyarakat sehingga tidak mengherankan jika banyak acara televisi yang menayangkan humor seperti Overa Van Java, Tawa Sutra, Sketsa, The Comment dan lain-lain. Bahkan setiap program televisi memiliki program unggulan yang bertema humor, hal ini karena semua kalangan menyukai humor sebagai hiburan dalam kehidupannya. Ini menandakan humor semakin penting dalam kehidupan manusia, hal ini terlihat juga dengan banyaknya iklan komersial yang mengandung humor untuk menarik para pemirsa.
Humor memiliki banyak manfaat seperti untuk membuat komunikasi tidak tegang dan hubungan akan menjadi lebih harmonis. Humor juga bermanfaat secara psikologis yakni humor yang menyebabkan orang tertawa akan membuat hidup lebih bahagia, dengan tertawa maka jantung manusia akan semakin sehat karena aliran darah ke jantung lancar. Fenomena humor sebagai kajian linguistik merupakan fenomena menarik karena tidak hanya berbicara tentang struktur kalimat dan maknanya tetapi juga pengaruh budaya. Kajian tentang humor sudah menjadi kajian akademis yang cukup menarik baik secara semantik, pragmatik maupun sosiolinguistik.
Wardoyo, Cipto. 2015. Analisis Humor dalam Tindak Tutur di Serial Komedi “Preman Pensiun”. Makalah dalam prosiding Konferensi verbal tulis pada buku mangkunteng. Hyunisa Rahmanadia (2010) Ambiguitas makna dalam anekdot berbahasa Rusia.
Menurut Ross (1998) humor adalah sesuatu yang membuat seseorang tersenyum atau tertawa, lebih lanjut Ross menjelaskan bahwa humor juga terkait dengan prilaku sosial dan budaya, bisa jadi menurut seseorang sesuatu itu dianggap lucu tapi menurut orang lain itu dianggap tidak lucu atau bahkan memalukan. Nash di dalam Gretchi (2004) humor adalah kharaktersitik yang spesifik dari kemanusiaan, humor hadir dalam konvensi sosial dan artefak budaya serta muncul dalam interaksi dengan orang lain.
Tindak tutur menurut Austin(1962) adalah ketika seseorang mengucapkan sesuatu pada hakikatnya ia telah melakukan tindakan melalui kata-katanya. Lebih jauh Searle (1972) membagi tindak tutur menjadi lima kategori yakni representatif (memberi informasi atau sesuatu yang diyakini kebenarannya), direktif (meminta seseorang untuk melakukan sesuatu), ekspresif ( mengekspresikan apa yang dirasakannya), komisif (berencana melakukan sesuatu yang telah dikatakannya) dan deklaratif (meciptakan hal atau kondisi yang baru) . Ketika seseorang mengucapkan perasaan gembiranya maka pada saat itu ia telah melakukan tindak tutur ekspresif, ketika seseorang meyuruh seseorang pada saat itu ia sedang melakukan tindak tutur direktif.
Humor atau sesuatu yang jenaka karena dalam teks humor tersebut ada ambiguitas, menurut Ullman di dalam Rahmanadia (2010) ambiguitas makna dikelompokkan menjadi tiga yakni ambiguitas fonetik, leksikal dan gramatikal. Ambiguitas fonetik terjadi karena membaur atau tidak jelasnya struktur fonetik suatu kata atau frasa, misalnya kata “bantuan” bisa dimaknai ganda yakni “bantuan” dan “ban tuan”. Ambiguitas gramatikal adalah ambiguitas yang disebabkan oleh faktor gramatikal atau struktur suatu kata, frasa atau kalimat, contoh kalimat “pukul” apabila diberi imbuhan peN maka akan menjadi “pemukul” yang memiliki makna ganda yakni orang yang memukul atau alat untuk memukul. Ambiguitas leksikal adalah ambiguitas pada tataran leksem, misalnya kata “bank” dan “bang” meski secara pengucapan sama tapi memiliki makna yang berbeda.
Grice di dalam Chaer (2010) mengatakan bahwa pertuturan akan berlangsung baik apabila penutur dan mitra tutur mentaati prinsip-prinsip kerjasama dalam percakapan. Grice mengatakan bahwa peserta tutur harus mentaati empat maksim agar komunikasi mereka berhasil dengan baik, pertama maksim kuantitas yakni peserta tutur harus memberi informasi yang cukup, tidak kurang dan juga tidak terlalu berlebihan. Kedua maksim kualitas bahwa peserta tutur harus mengatakan yang sebenarnya. Ketiga maksim relevansi, peserta tutur harus memberikan kontribusi yang relevan dengan masalah atau topik tuturan. Maksi keempat adalah peserta tutur harus berbicara secara langsung, tidak ambigu dan tidak bertele-tele. Ketika maksim Grice ini dilanggar biasanya akan terjadi kesalahpahaman dan ini juga sering menjadi faktor munculnya hal lucu atau humor.
Makalah ini mencoba untuk mendeskripsikan tuturan humor yang ada dalam serial komedi “Preman Pensiun”. Komedi ini bernuansa kental budaya Sunda yang menggambarkan kondisi kehidupan masyarakat Bandung secara apik dan apa adanya. Serial komedi ini menggambarkan sisi kehidupan preman yang humanis dan lucu. Preman yang biasanya digambarkan sebagai seorang yang kasar, tak mememiliki empati dan kejam, namun di serial komedi ini preman digambarkan sebagai sosok manusia yang seutuhnya dengan berbagai karakter unik yang dimilikinya.
Metodologi
Wardoyo, Cipto. 2015. Analisis Humor dalam Tindak Tutur di Serial Komedi “Preman Pensiun”. Makalah dalam prosiding Konferensi dari serial komedi “Preman Pensiun”, penulis mentranskrip data humor verbal lalu memilah data yang mengandung humor. Tuturan yang mengandung humor kemudian dideskripsikan secara kualitatif dan selanjutnya data diinterpretasi berdasarkan teori humor.
Pembahasan
Dalam pembahasan tindak tutur humor di serial “Preman Pensiun” ini penulis memaparkan data yang ditemukan dan mendeskripsikan fenomena humor yang muncul di setiap data.
Data 1
Komar : Di pasar ada tukang dagang namanya Supardi. Dia suka dibantu sama anaknya. Gua sukaaaa ama dia.
Herman : Sama Supardi? Komar : Ihh…Anaknya!
Tuturan di atas adalah dialog antara Komar dan Herman, keduanya adalah preman anak buah Muslihat. Komar ditugasi untuk menjaga keamanan pasar, tetapi Komar malah sering menggoda perempuan yang berdagang di pasar. Komar menyatakan perasaannya dengan tindak tutur ekspresif bahwa dia menyukai seseorang di pasar dengan tindak tutur ekspresif “gua sukaaa ama dia”, namun Herman salah persepsi terhadap referen orang yang disukai oleh Komar. Kelucuan dari dialog di atas disebabkan karena Komar tidak mentaati maksim cara karena kata-katanya memiliki ambiguitas makna sehingga Herman menangkap makna bahwa Komar menyukai Supardi bukan anaknya Supardi.
Data 2 Amin: Imas
Imas: Ada apa? Amin: Kopi dong..
Imas: Nanti kalau kebanyakan minum kopi kamu tambah item
Amin: Kamu jangan menghina, ini itemnya item kurma biar item manis rasanya Imas: Imas bikinin kopi susu ya?
Amin: boleh
Imas: biar gak terlalu item
Dialog di atas adalah percakapan antara Amin dan Imas, keduanya adalah pembantu kang Bahar, percakapan ini mengandung humor karena ketika Amin melakukan tindak tutur permintaan untuk dibuatkan kopi dengan mengucapkan tuturan “kopi dong”, Imas malah menjawab dengan sindiran bahwa Amin akan bertambah hitam kulitnya kalau minum kopi. Amin tidak marah, ia menghibur dirinya dengan ungkapan “item kurma” yang artinya biar hitam tapi manis rasanya. Imas menimpali jawaban Amin dengan mengatakan bahwa dia akan membuatkan kopi susu untuk Amin agar dia kulitnya tidak terlalu hitam. Kelucuan ini disebabkan karena Imas tidak mentaati maksim relevansi, tidak adanya relevansi antara minum kopi dan pengaruhnya terhadap hitamnya kulit seseorang. Tuturan Imas ini adalah bentuk sindiran kepada Amin yang berkulit hitam.
Data 3
Muslihat: Langsung aja
Supardi : langsung apanya kang?
Muslihat: Tadi katanya bapak mau minta tolong ke saya. Saya khan belum tau bapak minta tolong apa ke saya.
Supardi : jadi begini kang Mus. Saya biasanya di pasar dibantu anak saya si Sari, tetapi sekarang si Sari gak mau bantuin saya di pasar, kang.
Muslihat: Terus bapak minta tolong ke saya untuk membujuk si Sari untuk membantu bapak di pasar? Supardi : Bukan Kang
Muslihat: atau bapak meminta saya gantiin si Sari? Supardi :Juga bukan
Muslihat: Jadi saya harus nolong apa?
Wardoyo, Cipto. 2015. Analisis Humor dalam Tindak Tutur di Serial Komedi “Preman Pensiun”. Makalah dalam prosiding Konferensi Muslihat: Ya udah selesaikan aja dulu omongannya
Esih : Silakan pak,,tehnya diminum dulu
Supardi : Maaf tadi kang Mus nyuruh saya menyelesaikan omongan saya dulu
Dialog di atas adalah percakapan antara Muslihat dan Supardi, Supardi ingin mengadukan prilaku Komar anak buah Muslihat yang sering menggoda anaknya sehingga anaknya tidak mau lagi membantunya di pasar. Muslihat pada awal tuturan melakukan pelanggaran maksim kuantitas dengan mengatakan “langsung saja” yang membuat Supardi bingung karena dia tidak tahu maksud ucapan Muslihat. Tuturan Muslihat berikutnya juga Muslihat tidak mentaati maksim kuantitas karena ia memotong perkataan Supardi sehingga ia tidak memahami maksud mitra tuturnya. Selanjutnya ketika istri Muslihat yang bernama Esih datang menawarkan minum untuk tamunya, Supardi menjawab dengan mengatakan “Maaf tadi kang Mus nyuruh saya menyelesaikan omongan saya dulu” ini tentu tidak mentaati maksim relevansi karena tawaran untuk meminum teh dijawab dengan mengatakan bahwa ia harus menyelesaikan pembicaraan terlebih dahulu.
Data 4
Amin : Eh kang Mus, makin ganteng aja (Muslihat mendekati Amin dan menamparnya) Amin : Kok saya ditampar?
Muslihat : Kamu jangan coba-coba bohongin saya ya! Amin : Bohongin apa?
Muslihat: Kamu kira saya setiap hari enggak ngaca? Saya tuh tambah jelek tambah tua…
Data di atas adalah percakapan antara Muslihat preman yang merupakan bawahan kang Bahar dan Amin sopir kang Bahar. Amin mengucapkan pujian kepada Muslihat dengan mengatakan “Eh kang Mus, makin ganteng aja” tanpa disangka Muslihat marah dengan pujian itu. Muslihat lalu menampar Amin, Amin karena tidak tahu kesalahannya keheranan. Muslihat menganggap bahwa Amin telah membohonginya, Amin seakan-akan mengejeknya dengan tuturan “Kamu kira saya setiap hari enggak ngaca? Saya tuh tambah jelek tambah tua…”. Tuturan di atas Amin telah melanggar maksim kualitas dengan mengatakan sesuatu yang tidak sesuai realita, sehingga Muslihat bukannya senang tetapi malah marah.
Data 5
Bahar : Ada apa senyum senyum sendiri, Ada apa senyum senyum sendiri? Hey Ada apa senyum senyum sendiri?
Kinanti :Gak ada apa-apa, pi
Bahar : Nanti sore kamu ke dokter Hasan di daerah lengkong, ya Kinanti : Bawa Mami ke sana?
Bahar : Bukan, kamu..kamu yang diperiksa
Kinanti : Emang kenapa? Kinanti gak kenapa-napa kok Bahar : Kamu diperiksa karena dia adalah dokter ahli THT Kinanti : Ey papi apaan sih, dikirain serius
Bahar : Eh papi serius. Papi udah nanya tiga kali kamu baru aja dengar, padahal jarak kita deket banget
Percakapan di atas antara kang Bahar dan anaknya yang bernama Kinanti yang sedang asyik dengan telepon pintarnya, prilaku Kinanti yang tidak menjawab pertanyaan ayahnya membuat jengkel sehingga kang Bahar mengatakan tuturan memerintah Kinanti ke dokter Hasan, Kinanti mengira bahwa ia diperintah ayahnya untuk membawa ibunya yang sedang sakit ke dokter Hasan. Kelucuan percakapan di atas karena kang Bahar tidak mentaati maksim relevansi, Kinanti yang tidak mendengar pertanyaannya karena sibuk dengan telepon pintarnya seakan-akan dianggap memiliki gangguan pada telinga sehingga perlu ke dokter THT (Telinga Hidung Tenggorokan).
Data 6
Wardoyo, Cipto. 2015. Analisis Humor dalam Tindak Tutur di Serial Komedi “Preman Pensiun”. Makalah dalam prosiding Konferensi Bahar : Susi siapa?
Amin :Susi Susilawati?
Bahar : Susi Susilawati itu siapa?
Amin :Istrinya Maman Suherman kalau gak salah Bahar : Maman Suherman itu siapa?
Amin :Katanya yang ikut kang Mus Bahar : Mau apa?
Amin :Mau minta tolong Bahar : Mau minta tolong apa?
Amin :Tadi bilangnya cuma itu… mau minta tolong
Dialog antara kang Bahar dan pembantunya yang bernama Amin, Amin memberikan informasi kepada kang Bahar bahwa ada seorang perempuan yang ingin bertemu kang Bahar. Tindak tutur kang Bahar untuk menggali informasi dari Amin menimbulkan kelucuan karena jawaban Amin tidak cukup informatif, dalam hal ini Amin tidak mentaati maksim kuantitas karena jawabannya tidak cukup informatif dan tidak memberikan informasi secara jelas dan lengkap.
Data 7
Warga: Maman Suherman Itu yang mana ya Kang? Komar: Itu yang badannya tinggi gede
Warga: Oh, ya ya… Komar: Kenal?
Warga: Gak kenal Kang, Cuma tahu aja Komar: Tahu rumahnya?
Warga: Gak juga
Komar: Heuuu..hau..hau…
Percakapan di atas antara Komar dan warga yang ditemui komar di jalan, ia hendak mencari alamat Maman Suherman tetapi ia tidak tahu alamatnya, maka Komar memutuskan untuk bertanya alamat yang dicarinya pada orang yang ditemuinya di jalan. Warga yang ditemui Komar ternyata tidak bisa memberikan informasi secara jelas dan lengkap karena ia tidak mengenal Maman Suherman. Kelucuan dialog di atas karena warga tidak mentaati maksim kuantitas, sebenarnya di awal percakapan sudah disampaikan secara implisit bahwa warga tersebut tidak kenal Maman Suherman dengan tuturan kalimat “Maman Suherman itu yangmana ya,Kang?” tetapi Komar tetap menggali informasi dari warga tersebut. Simpulan
Dari pemaparan makalah di atas dapat disimpulkan bahwa tindak tutur yang memunculkan kelucuan disebabkan oleh ambiguitas dan pelanggaran maksim kerjasama. Pelanggaran maksim kerjasama merupakan penyebab dominan dari kelucuan dari serial komedi “Preman Pensiun”. Penelitian ini masih jauh dari kata cukup, karena masih banyak hal yang belum digali dalam makalah ini seperti hubungan antara gender dan humor, fungsi humor dalam tuturan dan respon pembaca atau penonton terhadap humor yang ada dalam serial komedi.
Referensi
Austin, John L.1962. How to Do Things with Words. Great Britain: Oxford University Press Attardo, Salvatore. 1962. Linguistic Theories of Humor. Berlin: Mouton de Gruyter. Chaer, Abdul. 2010. Kesantunan Berbahasa. Jakarta: PT Rineka Cipta
Creswell, J. W. (1994). Research Design: Qualitative and Quantitative Approaches. Thousand Oaks: Sage Publications
Marvasti, Amir. 2004. Qualitative Research in Sociology: An Introduction. Great Britain: The Cromwell Press Ltd. Rahmanadia, Hyunisa. 2010. Ambiguitas Makna Dalam Anekdot Berbahasa Rusia. Program Studi Bahasa Rusia
Universitas Indonesia.
Ritchie, Graeme. 2004. The Linguistic Analysis of Jokes. London: Routledge
Wardoyo, Cipto. 2015. Analisis Humor dalam Tindak Tutur di Serial Komedi “Preman Pensiun”. Makalah dalam prosiding Konferensi Ross, Alison. 1998. Language of Humor. USA: Routledge