“
War Crime
di Republik Afrika Tengah
dan Intervensi Atas Nama Kemanusiaan oleh Perancis
”
oleh:
Yang Leprilian
Bachelor of International Relations Diponegoro University
“A pure moral will doesn’t exist in political life, and it shouldn’t be necessary to
pretend to that kind of purity. The leaders of states have a right, indeed, they have
an obligation, to consider the interest of their own people, even when they are
acting to help other people”
Michael Walzer, 2002.
Pada tahun 2013, media internasional menyoroti sebuah kejahatan perang yang terjadi di Republik
Afrika Tengah (RAT). Di RAT sendiri terjadi konflik antar-etnis beragama yang sebenarnya dimulai
pada akhir tahun 2012. Konflik ini terjadi ketika pemberontakan di RAT yang dipimpin oleh Seleka
atau "aliansi" - koalisi bersenjata kelompok minoritas muslim, mengakibatkan banyak kerusakan
parah infrastruktur keamanan negara dan ketegangan etnis, yang secara kolektif meningkatkan risiko
kekejaman massal. Seleka melancarkan serangan terhadap pemerintahan dari Presiden Francois
Bozize pada Desember 2012, dan berhasil merebut ibukota Bangui di bulan Maret 2013.
Konsekuensinya, dibentuklah koalisi Anti-balaka, yaitu koalisi pejuang Kristen yang dibentuk untuk
melakukan pembalasan terhadap pejuang Seleka.1
Republik Afrika Tengah merupakan negara yang miskin, bahkan menurut World Bank dan UNFPA,
RAT adalah salah satu negara termiskin di muka bumi dengan banyak permasalahan dan konflik di
dalamnya. Kondisi RAT dijelaskan juga oleh Komisi Tinggi PBB sebagai "negara dengan krisis yang
paling diabaikan di dunia." Rakyat disana kini makin diperparah setelah kekerasan kudeta oleh
kelompok Seleka pada maret 2013, sehingga situasi kemanusiaan makin memburuk. Konflik ini
sendiri menyebabkan gelombang pengungsi yang meluas di negara tetangganya.2
1“Violance in Central African Republic,” Council on Foreign Relations, 2014,
http://www.cfr.org/global/global-conflict-tracker/p32137#!/?marker=26
2“Central African Republic,” Mercy Corps, 2015,
Konflik antara kedua kelompok beragama ini terus berlanjut bahkan setelah pemimpin Seleka, Michel
Djotodia berhasil mengkudeta Francois Bozize dan menjadi pemimpin muslim pertama di negara
mayoritas kristen ini. Pembentukan kelompok Anti-balaka sendiri merupakan respon atas hal ini,
sehingga terjadilah konflik antara kedua kelompok yang berdasarkan agama ini. Laporan dari
Amnesty internasional menyatakan bahwa disana telah terjadi pelanggaran serius terhadap hukum
humaniter internasional dan pelanggaran HAM berat, termasuk kejahatan perang dan kejahatan
terhadap kemanusiaan, karena keduanya (pejuang Seleka dan milisi Anti-balaka) secara sistematis
menyerang penduduk sipil, kedua kelompok ini pergi rumah ke rumah, mendobrak pintu dan
mencari orang-orang untuk dibunuh. Kedua kelompok ini dalam beberapa kasus mengaku akan
mencari militan musuh, namun mereka tidak melakukan upaya berarti untuk membedakan antara
militan non-militan,3 sehingga yang jelas terjadi adalah tindak kejahatan perang, tindak pembersihan
etnis serta pembunuhan sektarian yang menewaskan ribuan orang.
Dewan Keamanan PBB memperingatkan kasus di RAT akan menimbulkan risiko terhadap stabilitas
regional, bahkan sekjen PBB Ban Ki-moon mengatakan RAT telah mengalami "kerusakan hukum dan
ketertiban secara total".4 Maka dari itu pasukan Perancis dikerahkan untuk melakukan intervensi
kemanusiaan sebagai bagian dari Operasi Sangaris pada Desember 2013, yang ditujukan untuk
melindungi warga sipil dan menjaga kestabilan disana. "Pasukan pemelihara perdamaian yang ada
hadir untuk melindungi warga sipil, bukan untuk menyerang mereka,” kata Lewis Mudge, peneliti Human Rights Watch Afrika terkait kasus RAT.5
Terkait kejahatan perang yang terjadi di Republik Afrika Tengah, dalam pidato singkatnya Presiden
Perancis, Francois Hollande menjustifikasi intervensi Perancis, dengan mengatakan "sudah tugas
Perancis untuk membawa bantuan dan solidaritas untuk negara kecil, negara termiskin di dunia, yang
harus dibantu ini. ... Perancis harus bertindak untuk menghindari bencana kemanusiaan; dan saya
memiliki keyakinan penuh dalam pasukan kami untuk operasi ini."6
Presiden Francois Hollande menegaskan bahwa Perancis tidak akan menggunakan militer untuk
membela pemerintahan Bozize.7 Disini jelas bahwa apa yang dilakukan oleh Perancis dalam
3“”Non of Us Are Safe”: War Crimes and Crimes Against Humanity in the Central African Republic,” Amnesty International
Public Statement, 19 December 2013.
4“Central African Republic profile,” BBC News, 2015,
http://www.bbc.com/news/world-africa-13150044
5
“Central African Republic: Civillian in Danger,” Human Rights Watch, 2014,
http://www.hrw.org/news/2014/09/15/central-african-republic-civilians-danger
6Kumaran Ira, “France steps up military intervention into Central African Republic,”World Socialist Web Site, 2013, http://www.wsws.org/en/articles/2013/12/06/car-d06.html
7Scott Sayare, “
Central Africa on the Brink, Rebels Halt Their Advance,” International New York Times, 2013,
intervensinya adalah atas nama kemanusiaan, bukan kepentingan politik, sehingga apa yang
dilakukan Perancis disana adalah intervensi atas kemanusiaan, bukannya intervensi militer.
Definisi intervensi kemanusiaan sendiri menurut Hozgrefe adalah "ancaman atau penggunaan
kekerasan lintas batas negara dengan negara (atau kelompok negara) yang bertujuan unt uk
mencegah atau mengakhiri pelanggaran hak-hak asasi manusia selain warga negaranya sendiri, tanpa
izin dari negara dalam wilayah tersebut."8 Sedangkan disisi lain intervensi militer sendiri seperti yang
dimaksudkan K.J. Holsti adalah pengiriman sejumlah besar pasukan, baik untuk memantapkan suatu
rejim terhadap pemberontak atau membantu pemberontak menggulingkan suatu perangkat
penguasa yang telah mapan.9 Dalam hal ini Perancis sama sekali tidak terindikasi dalam keterlibatan
politik diantara pihak yang berkonflik.
Perlu diingat bahwa penurunan pasukan di negara lain itu memakan biaya yang tidak sedikit. Namun
dalam hal ini perancis tetap mau menurunkan pasukannya, padahal disisi lain, nyawa adalah taruhan
yang pasti di dalam keadaan konflik yang chaos. Konsekuensinya adalah sudah ada dua tentara
Prancis yang tewas dalam pertempuran di Republik Afrika Tengah.10 Lalu yang menjadi pertanyaan
adalah, mengapa Perancis mau mengeluarkan banyak biaya dan mempertaruhkan nyawa tentaranya
dalam misi intervensi kemanusiaan, hanya untuk orang asing yang ada di Republik Afrika Tengah?
Intervensi Kemanusiaan Perancis : Realisme Ofensif
Dalam menjelaskan perilaku Perancis ini, pandangan realisme ofensif dirasa sangat relevan untuk
dijadikan dasar analisa. Inti dari realisme ofensif adalah seperti yang dikatakan Mearsheimer bahwa
sistem internasional mendorong negara-negara untuk memaksimalkan jatah kekuasaan dunia,
termasuk untuk mengejar hegemoni dunia, sehingga kemudian cenderung untuk mengintensifkan
persaingan antar negara. Adalah strategi yang masuk akal bagi negara-negara untuk mendapatkan
kekuatan sebisanya sebanyak mungkin, dan jika keadaannya tepat, negara harus mengejar
hegemoni.11 Lebih lanjut lagi realis ofensif menjelaskan beberapa asumsinya yaitu bahwa aktor
utama dalam perpolitikan dunia adalah negara adidaya (great powers), dan bahwa sistem
internasional adalah anarki, negara-negara memiliki kapabilitas militer yang ofensif, kemudian
negara tidak memiliki kepastian akan negara lainnya (distrust), serta untuk mencapai tujuan lainnya
8
J. L. Holzgrefe, Robert O. Keohane, “Humanitarian Intervention: Ethical, Legal and Political Dilemmas,” (Cambridge:
Cambridge University Press, 2003), hlm. 18. 9
K. J. Holsti, “Politik Internasional,” (Jakarta: Erlangga, 1983), hlm. 25.
10
“French soldiers killed on peace-keeping mission to Central African Republic,” The Telegraph, 2013,
http://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/africaandindianocean/centralafricanrepublic/10507931/French-soldiers-killed-on-peace-keeping-mission-to-Central-African-Republic.html
11
negara harus bisa survive, negara juga merupakan aktor yang rasional, dan ingin yang
memaksimalkan prospek mereka untuk dapat survive.12
Sesuai dengan paradigmanya, logika realis adalah logic of consequences. Negara merupakan aktor
yang rasional yang memikirkan untung-rugi dalam melakukan suatu hal. Konsekuensinya realis
sangat skeptis akan adanya moralitas dan etika internasional, semua itu tidak penting dibandingkan
dengan kepentingan nasional. Kepentingan nasional adalah hal yang harus dijunjung tinggi dan
diutamakan negara dalam bertindak, dan negara dapat menghalalkan segala cara untuk
mendapatkan interestnya. Arena internasional itu anarki dengan yang ada hanyalah self-help, seperti
digambarkan Mearsheimer yaitu sebuah “arena brutal di mana negara-negara mencari peluang untuk mengambil keuntungan dari satu sama lain”.13 Perancis dalam hal ini adalah aktor yang rasional, dimana dia tidak akan menurunkan dan mengorbankan pasukannya hanya untuk melakukan
intervensi atas nama kemanusiaan jika tidak ada kepentingan nasional dibalik itu semua. Tujuan
Perancis dalam hal ini adalah untuk dapat mendominasi dunia dan menjadi hegemon, terutama di
wilayah Afrika.
Mengutip kalimat dari E.H Carr “Morality can only be relative, not universal. Ethics must be interpreted in terms of politics; and the search for an ethical norm outside politics is doomed to
frustration.”14 Sejalan dengan Carr, Morgenthau juga dalam bukunya Politik Antarbangsa menyatakan bahwa prinsip moral internasional harus disesuaikan dengan adanya kepentingan atau
tidak, “bangsa-bangsa mengakui kewajiban moral untuk menahan diri dari perbuatan yang menyebabkan kematian atau penderitaan dalam kondisi tertentu walaupun ada kemungkinan
membenarkan tindakan itu dengan alasan untuk ‘tujuan yang lebih mulia’ seperti kepentingan nasional.”15
Jelaslah bahwa sebenarnya negara sangat skeptis akan adanya etika dan moralitas
internasional, walaupun memang moralitas dan etika itu dibuat dengan tujuan yang baik, namun itu
tidak serta merta merubah sifat negara yang self-help, karena memenuhi kepentingan nasional lebih
mulia dibandingkan dengan moralitas dan etika internasional.
Kemudian dalam pandangan realis, Lowenheim menyatakan ada 3 alasan bagi negara untuk
melakukan intervensi, yaitu; intervensi sebagai cover untuk ekspansi dan aneksasi, intervensi sebagai
respon terhadap ancaman terhadap kepentingan nasional, dan intervensi dengan tujuan untuk
12
Ibid, hlm. 73-74.
13
John Mearsheimer, “The False Promise of International Institution,” dalam Richard Ned Lebow, International Relations Theories: Discipline and Diversity (New York: Oxford University Press, 2007), hlm. 55.
14Edward Hallet Carr, “The Twenty Year Crisis 1919
-1939: An Introduction to the Study of International Relations,” (London: Palgrave Macmillan, 2001), hlm. 21.
mengamankan opini yang baik di dunia atau regional.16 Alasan yang disebutkan terakhir adalah
alasan yang paling masuk akal bagi Perancis, karena sebagai salah satu great powers, Perancis
berusaha membangun opini di dunia internasional terutama di regional Afrika, dan apa yang Perancis
lakukan dalam intervensi atas nama kemanusiaan di RAT adalah bagian dari show off force ataupun
demonstrate power kepada dunia internasional bahwa Perancis adalah negara yang hegemon.
Dalam melakukan sebuah intervensi atas nama kemanusiaan, keadilan selalu dijadikan justifikasi oleh
negara. Moral dan etika berupa keadilan dijadikan tidak lebih hanya sebagai alat untuk pemenuhan
kepentingan negara. Konsep ini disebut dengan victors’ justice. Konsep ini selalu menjadi kontroversi, dimana kontroversi ini selalu mengacu kepada pemberian hak istimewa (veto) terhadap para
pemenang perang dunia ke-2. Dalam pembentukannya selama negosiasi di Konferensi San Francisco
(25 April - 26 Juni 1945), banyak Negara kecil dan menengah memprotes status istimewa dari lima
anggota tetap sebagai bentuk dari victors’ justice dan itu merupakan pelanggaran hak atas kesetaraan kedaulatan negara yang tidak dapat diterima.17 Sebagai anggota P-5, Perancis memiliki
hak veto, dimana melalui resolusi buatan Perancis, PBB mengizinkan intervensi kemanusiaan
dilakukan Perancis, dalam hal ini Perancis dapat melakukan apapun termasuk memasuki wilayah
negara lain dan menjadikan moral serta etika dalam mengintervensi di RAT sebagai alat pemenuhan
kepentingan nasional Perancis semata. Buktinya dapat dilihat dari sikap Perancis yang unilateral
dengan pengiriman pasukannya secara tergesa-gesa tiga hari sebelum jadwal yang ditentukan PBB
pada 5 desember.18 Sangat jelas disini bahwa Perancis sebagai great power dan anggota tetap DK
PBB dapat melakukan apapun sesuai kepentingannya.
Doktrin Hollande: Intervensi untuk Hegemoni
Dalam melihat sikap Perancis, ada sebuah doktrin yang menarik mengenai sikap intervensionis
Perancis yaitu doktrin Hollande. Sejak menjabat pada Mei 2012, Francois Hollande telah
memerintahkan operasi militer Perancis di Pantai Gading, Somalia, Mali serta Republik Afrika Tengah,
dia juga pendukung intervensi militer Barat di Suriah. Keterlibatan tersebut didahului oleh intervensi
Anglo-Perancis di Libya pada tahun 2011, di bawah pendahulu Hollande, Nicolas Sarkozy. Dalam sikap
intervensionis Perancis, masing-masing intervensi memiliki fokus utama kemanusiaan, Tapi mereka
juga telah melakukannya untuk meningkatkan prestise internasional Prancis yang memudar. Doktrin
16
Oded Lowenheim, “Do Ourselves Credit and Render a Lasting Service to Mankind: British Moral Prestige, Humanitarian Intervention, and the Barbary Pirates,” dalamInternational Studies Quarterly, Vol. 47, No. 1, 2003, hlm. 23-48.
17Jan Wouters, Tom Ruys, “Security Council Reform: A New Veto for A New Century?,”
Institute for International Law, No. 78, 2005, hlm 4-5.
Hollande mempromosikan agenda yang lebih luas, tentang bagaimana "menjaga" keamanan
internasional. Dikutip dari New York Times "RAT telah menjadi fokus terbaru dari upaya Hollande
untuk menyusun kembali dan menghidupkan kembali pengaruh bangsanya di benua mana
pengaruhnya telah ditantang oleh kekuasaan China". Ini merupakan kepentingan Perancis untuk
menjaga pengaruh di region yang pernah didominasi, sikap intervensionis Perancis ini, memiliki
tujuan utama, yaitu adalah La Francophonie redux (kebangkitan kembali Perancis).19 Hal ini sangat
relevan dengan pandangan realisme ofensif yang telah dikemukakan diawal, bahwa perancis, selain
bertujuan menjaga opini baik di dunia dan regional, namun juga memiliki agenda tersendiri untuk
menjadi negara hegemon di dunia terutama di region Afrika.
Hal ini juga kemudian ditegaskan Hollande bahwa kehadiran pasukan Perancis di RAT adalah demi
kepentingan Perancis semata, "Jika kami hadir, itu bukanlah untuk melindungi rezim, namun itu
adalah untuk melindungi warga negara kita dan kepentingan kita, dan kita sama sekali tidak
melakukan intervensi dalam urusan internal negara, dalam hal ini Republik Afrika Tengah."20
Walaupun intervensi tersebut dijustifikasi atas nama kemanusiaan, namun secara jelas Hollande
mengatakan bahwa pasukan Perancis hadir di RAT juga atas nama kepentingan nasional.
Lebih jelas lagi dalam sebuah wawancara eksklusif dengan RFI, Hollande menegaskan Perancis masih
merupakan kekuatan yang hegemonik. "Intervensi ini akan menelan biaya sekitar 400-500 juta euro,"
katanya kepada RFI.
"mungkin tampak seperti banyak, terutama pada saat kita memiliki keterbatasan
anggaran dan kami menuntut pengorbanan orang-orang Perancis. Banyak mungkin
yang bertanya-tanya, apa gunanya? Mengapa Perancis di Mali, mengapa Perancis di
Republik Afrika Tengah? Tapi kita harus bertanya kepada diri sendiri pertanyaan
-pertanyaan yang melampaui angka-angka ini. Apa peran Perancis? Apakah misi
Perancis? Apa tanggung jawab Perancis? Yaitu untuk menjadi kekuatan dunia."
Intervensi ini, dia melanjutkan, "akan menunjukkan keampuhan kekuatan kami."21
Sangat jelas perntayaan dari Presiden Hollande bahwa intervensi kemanusiaan Perancis di RAT
memiliki tujuan lain dari kemanusiaan dan keadilan, yaitu untuk memenuhi kepentingan nasional
mereka, menunjukan opini baik di dunia, menegaskan kekuatan militer mereka (show off power), dan
19Simon Tisdall, “France in the Central African Republic is latest use of 'Hollande doctrine',” The Guardian, 2013, http://www.theguardian.com/commentisfree/2013/dec/05/france-central-african-republic-hollande-doctrine
20
Henry Samuel, “Francois Hollande Says Days of Propping up African Regimes ‘are over’,” The Telegraph, 2012,
http://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/francois-hollande/9767503/Francois-Hollande-says-days-of-propping-up-African-regimes-are-over.html
21Exclusive Interview with President Francois Hollande, “France to Restore Peace in CAR Within Sixth Month, Hollande,”
untuk menjadi negara yang hegemon di dunia internasional, terutama di regional Afrika. Dari analisa
dan bukti diatas, benarlah apa yang dikatakan Walzer, Carr maupun Morgenthau bahwa mereka
skeptis akan adanya moral dan etika yang murni dari negara. Terlihat jelas bahwa Perancis hanya
menjadikan etika dan moralitas internasional sebagai alat justifikasi untuk pemenuhan kepentingan
nasional mereka.
Referensi:
1. J. L. Holzgrefe, Robert O. Keohane, “Humanitarian Intervention: Ethical, Legal and Political Dilemmas,” (Cambridge: Cambridge University Press, 2003), hlm. 18.
2. K. J. Holsti, “Politik Internasional,” (Jakarta: Erlangga, 1983), hlm. 25.
3. John Mearsheimer, “Structural Realism,” dalam International Relations Theories: Discipline and Diversity, ed. Tim Dunne, Milja Kurki, Steve Smith. (New York: Oxford University Press, 2007), hlm. 71-72.
4. John Mearsheimer, “The False Promise of International Institution,” dalam Richard Ned Lebow, International Relations Theories: Discipline and Diversity (New York: Oxford University Press, 2007), hlm. 55.
5. Edward Hallet Carr, “The Twenty Year Crisis 1919-1939: An Introduction to the Study of
International Relations,” (London: Palgrave Macmillan, 2001), hlm. 21.
6. Hans Morgenthau, Kenneth W. Thompson, “Politik Antarbangsa,” (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1990), hlm. 94.
7. Oded Lowenheim, “Do Ourselves Credit and Render a Lasting Service to Mankind: British Moral Prestige, Humanitarian Intervention, and the Barbary Pirates,” dalam International Studies Quarterly, Vol. 47, No. 1, 2003, hlm. 23-48.
8. Jan Wouters, Tom Ruys, “Security Council Reform: A New Veto for A New Century?,” Institute for International Law, No. 78, 2005, hlm 4-5.
9. “”Non of Us Are Safe”: War Crimes and Crimes Against Humanity in the Central African
Republic,” Amnesty International Public Statement, 19 December 2013.
10.“Violance in Central African Republic,” Council on Foreign Relations, 2014,
http://www.cfr.org/global/global-conflict-tracker/p32137#!/?marker=26
11.“Central African Republic,” Mercy Corps, 2015, http://www.mercycorps.org/central-african-republic
12.“Central African Republic profile,” BBC News, 2015, http://www.bbc.com/news/world-africa-13150044
13.“Central African Republic: Civillian in Danger,” Human Rights Watch, 2014, http://www.hrw.org/news/2014/09/15/central-african-republic-civilians-danger
14.Kumaran Ira, “France steps up military intervention into Central African Republic,”World Socialist Web Site, 2013, http://www.wsws.org/en/articles/2013/12/06/car-d06.html
15.Scott Sayare, “Central Africa on the Brink, Rebels Halt Their Advance,” International New York Times, 2013, http://www.nytimes.com/2013/01/03/world/africa/central-africa-on-the-brink-rebels-halt-their-advance.html?_r=0
16.“French soldiers killed on peace-keeping mission to Central African Republic,” The Telegraph,
2013,
http://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/africaandindianocean/centralafricanrepublic/ 10507931/French-soldiers-killed-on-peace-keeping-mission-to-Central-African-Republic.html 17.Finnian Cunningham, “France Fuels Sectarian Killing in CAR,” NSNBC International, 2013,
18.Simon Tisdall, “France in the Central African Republic is latest use of 'Hollande doctrine',” The Guardian, 2013, http://www.theguardian.com/commentisfree/2013/dec/05/france-central-african-republic-hollande-doctrine
19.Henry Samuel, “Francois Hollande Says Days of Propping up African Regimes ‘are over’,” The
Telegraph, 2012,
http://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/francois- hollande/9767503/Francois-Hollande-says-days-of-propping-up-African-regimes-are-over.html