Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

Allah berfirman dalam surat At-taubah ayat 60 :

Artinya : “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah: 60)

Soal zakat disebutkan dalam al-Quran secara ringkas, bahkan lebih ringkas lagi seperti hal shalat. Quran tidak menyebutkan harta yang wajib dizakat, juga tidak menyebut berapa besar zakat itu dan apa syarat-syaratnya. Seperti syarat haul (genab setahun), batas nisab dan gugurnya wajib zakat sebelum nisab.

Kemudian datanglah sunnah sebagai penjabaran pelaksaan, baik keterangan itu berupa perkataan ataupun perbuatan. Sunah menyebutkan perincian zakat itu seperti juga halnya salat, sunat tersebut diperoleh dari Rasulullah berdasarkan keterangan yang dapat dipercaya, kemudian disampaikan oleh satu anggatan kepada anggatan lain sampai pada kita. sunah itu tidak mudah difahami tanpa ilmu pendukung lainnya yang memadai, seperti ilmu tafsir, saraf dan ilmu- ilmu lain sebagai penunjang untuk memahami sunnah yang begitu singkat dan sarat maknanya.

(2)

PEMBAHASAN

Orang yang Berhak Menerima Zakat

Orang yang berhak menerima zakat ada delapan golongan Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam QS At Taubah ayat 60 :

“ Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang kafir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana’

1. Orang-orang Fakir

Orang-orang fakir kata fuqaraa adalah jamak dari kata faqir, yaitu orang yang tidak mendapatkan sesuatu kebutuhan dasar tanggungannya, berupa makanan, minuman, pakaian, atau tempat tinggal.

Mereka berhak menerima zakat sejumlah kebutuhan dasarnya dan kebutuhan dasar tanggungannya untuk satu tahun. Kata Miskin, juga berasal dari Bahasa Arab “Sakana” yang berarti diam, tidak banyak bergerak, karena miskin. Inilah yang terbanyak di negeri kita.

Dalam Ilmu Fikih, orang miskin ialah orang yang berpenghasilan rendah, dan tidak mencukupi penghasilan yang ia peroleh. Sedang fakir ialah orang yang tidak berharta dan tidak berpenghasilan. Kedua istilah ini sering digabung menjadi Fakirmiskin, sebagai gambaran orang yang lemah dan perlu di tolong.

(3)

“ dan pada harta-harta mereka, ada hak oran yang meminta dan tidak meminta “ Menurut salah satu ayat dalam Surah Al-Ma’un, seorang muslim sekalipun ia mengerjakan salat masih dapat disebut orang celaka, jika tidak suka membantu orang miskin. Bahkan makna Pendusta agama itu, diantaranya orang yang “ WALA YAHUDDHU… “( Orang yang tidak menganjurkan memberi makanan orang miskin ).

Menurut ulama Tafsir WALA YAHUDDHU berarti, tidak menganjurkan. Atau tidak menyadari dan tidak menangani orang miskin sebagai tugas tugas kita semua. Termasuk bagi mereka yang hidupnya menengah ( pas-pasan ) Jika tidak memungkinkan dapat menyumbang uang dan harta, maka yang harus dilakukan adalah menyumbangkan tenaganya dengan jalan menganjurkan atau ikut Tim yang dapat mengentaskan orang-orang Miskin.

Dari ayat tersebut dapat dipahami, bahwa orang-orang yang akan menghuni neraka nanti ialah orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak pula mendorong orang lain, memberi makan orang-orang miskin disekelilingnya.

2. Orang-orang Miskin

Kata masaakin adalah bentuk jamak dari kata miskiin yaitu orang yang dapat memenuhi kebutuhan setengah dari kebutuhan dasarnya dan kebutuhan dasar tanggungannya seperti orang yang memiliki 100.000 rupiah namun kebutuhannya mencapai 200.000 rupiah. Orang semacam ini berhak mendapatkan zakat sejumlah dan kebutuhan tanggungan selama satu tahun penuh.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

“Bukanlah termasuk orang miskin mereka yang keliling meminta-minta kepada manusia, kemudian hanya dengan sesuap atau dua suap makanan dan satu atau dua buah kurma ia kembali pulang.” Para Sahabat bertanya, “Kalau begitu siapakah yang dikatakan sebagai orang miskin, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang miskin adalah orang yang tidak mempunyai sesuatu yang bisa mencukupi kebutuhannya. Namun tidak ada yang mengetahui keadaannya sehingga ada yang mau memberinya sedekah dan ia juga tidak meminta-minta kepada manusia.”

(4)

Amil dalam zakat adalah semua pihak yang bertindak mengerjakan yang berkaitan dengan pengumpulan, penyimpanan, penjagaan, pencatatan, dan penyaluran atau distribusi harta zakat.

Mereka diangkat oleh pemerintah dan memperoleh izin darinya atau dipilih oleh instansi pemerintah yang berwenang atau oleh masyarakat Islam untuk memungut dan membagikan serta tugas lain yang berhubungan dengan zakat, seperti penyadaran atau penyuluhan masyarakat tentang hukum zakat, menerangkan sifat-sifat pemilik harta yang terkena kewajiban membayar zakat dan mereka yang menjadi mustahiq, mengalihkan, menyimpan dan menjaga serta menginvestasikan harta zakat sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam rekomendasi pertama Seminar Masalah Zakat Kontemporer Internasional ke-3, di Kuwait.

Lembaga-lembaga dan panitia-panitia pengurus zakat yang ada pada zaman sekarang ini adalah bentuk kontemporer bagi lembaga yang berwenang mengurus zakat yang ditetapkan dalam syari’at Islam. Oleh karena itu, petugas (amil) yang bekerja di lembaga tersebut harus memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan.

Tugas-tugas yang dipercayakan kepada amil zakat ada yang bersifat pemberian kuasa (karena berhubungan dengan tugas pokok dan kepemimpinan) yang harus memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan oleh para ulama fikih, antara lain muslim, laki-laki, jujur, dan mengetahui hukum zakat Ada tugas-tugas sekunder lain yang boleh diserahkan kepada orang yang hanya memenuhi sebagian syarat-syarat di atas, yaitu akuntansi]], penyimpanan, dan perawatan aset yang dimiliki lembaga pengelola zakat, pengetahuan tentang ilmu fikih zakat, dan lain-lain.

Para amil zakat berhak mendapat bagian zakat dari kuota amil yang diberikan oleh pihak yang mengangkat mereka, dengan catatan bagian tersebut tidak melebihi dari upah yang pantas, walaupun mereka orang fakir. Dengan penekanan supaya total gaji para amil dan biaya administrasi itu tidak lebih dari seperdelapan zakat (13.5%). Perlu diperhatikan, tidak diperkenankan mengangkat pegawai lebih dari keperluan. Sebaiknya gaji para petugas ditetapkan dan diambil dari anggaran pemerintah, sehingga uang zakat dapat disalurkan kepada mustahiq lain.

4. Mu’allaf

(5)

disebutkan bahwa para mu’allaf termasuk orang-orang yang berhak menerima zakat. Ada tiga kategori mualaf yang berhak mendapatkan zakat:

a. Orang-orang yang dirayu untuk memeluk Islam: sebagai pendekatan terhadap hati orang yang diharapkan akan masuk Islam atau ke-Islaman orang yang berpengaruh untuk kepentingan Islam dan umat Islam.

b. Orang-orang yang dirayu untuk membela umat Islam: Dengan memersuasikan hati para pemimpin dan kepala negara yang berpengaruh, baik personal maupun lembaga, dengan tujuan ikut bersedia memperbaiki kondisi imigran warga minoritas muslim dan membela kepentingan mereka. Atau, untuk menarik hati para pemikir dan ilmuwan demi memperoleh dukungan dan pembelaan mereka dalam permasalahan kaum muslimin. Misalnya, membantu orang-orang non-muslim korban bencana alam, jika bantuan dari harta zakat itu dapat meluruskan pandangan mereka terhadap Islam dan kaum muslimin.

c. Orang-orang yang baru masuk Islam kurang dari satu tahun yang masih memerlukan bantuan dalam beradaptasi dengan kondisi baru mereka, meskipun tidak berupa pemberian nafkah, atau dengan mendirikan lembaga keilmuan dan sosial yang akan melindungi dan memantapkan hati mereka dalam memeluk Islam serta yang akan menciptakan lingkungan yang serasi dengan kehidupan baru mereka, baik moril maupun materiil.

Salah satu contoh kejadian pada masa Rasulullah yaitu “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan Shafwan bin Umayyah harta dari hasil rampasan perang Hunain, dan dia ikut berperang dalam keadaan masih musyrik, ia bercerita, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak henti-hentinya memberiku harta rampasan hingga akhirnya beliau menjadi manusia yang paling aku cintai, padahal sebelum itu beliau adalah manusia yang paling aku benci.”

5. Fi al-riqab

Fi Al-Riqab yaitu hamba sahaya yang dijanjikan merdeka. Maksud al-Riqab di sini adalah para budak yang mukatab, yang dijanjikan akan merdeka bila membayar sejumlah harta kepada tuannya. Budak yang telah mengikat perjanjian kitabah secara sah dengan tuan-tuannya, tetapi tidak mampu membayarnya, dapat diberikan bagian dari zakat untuk membantu mereka memerdekakan dirinya

(6)

a. Membantu para budak mukatab, yaitu budak yang sedang menyicil pembayaran sejumlah tertentu untuk pembebasan dirinya dari majikannya agar dapat hidup merdeka. Mereka berhak mendapatkannya dari zakat.

b. membeli budak kemudian dimerdekakan

Pada zaman sekarang ini, sejak penghapusan sistem perbudakan di dunia, mereka sudah tidak ada lagi. Tetapi menurut sebagian madzhab Maliki dan Hanbali, pembebasan tawanan muslim dari tangan musuh dengan uang zakat termasuk dalam bab perbudakan. Dengan demikian maka mustahik ini tetap akan ada selama masih berlangsung peperangan antara kaum muslimin dengan musuhnya.

6. Gharimun

Al-Gharimun adalah bentuk jamak dari Gharim, artinya : adalah orang yang berhutang dan tidak mampu membayarnya. Menurut Mazhab Abu Hanifah, gharim adalah orang yang mempunyai hutang, dan tidak memiliki bagian yang lebih dari dari hutangnya. Menurut Imam Malik, Syafi’I dan Ahmad, bahwa orang yang mempunyai hutang terbagi kepada dua golongan, masing-masing mempunyai hukum tersendiri, ada dua macam jenis gharim, yaitu:

a. Al-Gharim untuk kepentingan dirinya sendiri.

Yaitu orang yang berhutang untuk menutup kebutuhan primer pribadi dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya, seperti rumah, makan, pernikahan, perabotan. Atau orang yang terkena musibah sehingga kehilangan hartanya, dan memaksanya untuk berhutang. Mereka dapat diberi zakat dengan syarat:

1. Membutuhkan dana untuk membayar hutang

2. Hutangnya untuk mentaati Allah atau untuk perbuatan mubah bukan untuk berbuat maksiat kepada Allah.

3. Hutangnya jatuh tempo saat itu atau pada tahun itu

4. Tagihan hutang dengan sesama manusia, maka hutang kifarat tidak termasuk dalam jenis ini, karena tidak ada seorangpun yang dapat menagihnya.

Syarat ini dikemukakan oleh imam Maliki, sedangkan para fuqaha lain tida mensyaratkan apapun. Imam Ath-Thabari meriwayatkan dari Abu Ja’far dan Qatadah : Gharim adalah orang yang mempunyai hutang dengan tidak berlebihan.

(7)

Orang-orang yang mempunyai nilai-nilai kemanusiaan dan kemuliaan yang tinggi, dan cita-cita yang tinggi pula. Seperti orang yang berhutang untuk mendamaikan dua orang muslim yang sedang berselisih, dan harus mengeluarkan dana untuk meredam kemarahannya. Maka, siapapun yang mengeluarkan dana untuk kemaslahatan umum yang diperbolehkan agama, lalu ia berhutang untuk itu, ia dibantu melunasinya dari zakat. Diperbolehkan membayar hutangnya mayit dari zakat. Karena gharim mencakup yang masih hidup dan yang sudah mati. Demikian madzhab Maliki, berdasarkan hadits Nabi yang bersabda, “Aku adalah yang terdekat pada seorang mukmin daripada diri mereka sendiri. Barangsiapa yang meninggalkan harta, maka itu untuk ahli warisnya; dan barangsiapa yang meninggalkan hutang atau kehilangan, maka kepadaku dan kewajibanku.” (muttafaq alaih)

Sebagian ulama hari ini memperbolehkan zakat dipinjamkan dengan qardhul hasan karena qiyas aulawiy (prioritas), yaitu jika hutang yang sudah terjadi boleh dibayarkan dari zakat, maka qardhul hasan yang bersih dari riba lebih prioritas dari pada pembagian zakat. Berhutang dalam dua keadaan itu tujuannya sama, yaitu untuk menutup kebutuhan. Orang ini dapat diberi zakat untuk membayar hutangnya apabila tidak mampu membayarnyya, dan tidak dapat pula menuntut orang yang dihutanginya karena ia miskin.

7. Fi Sabilillah

Fi Sabilillah, yaitu orang-orang yang berjuang di jalan Allah. Sabilillah ini meliputi kepentingan agama Islam dan umatnya. Orang yang berperang membela dan menegakkan kalimat Allah, mendapat bagian zakat bila tidak digaji, atau tentara sukarela walaupun ia orang kaya, diberikan zakat itu untuk sekadar biaya perang.

Menurut tafsir Ibnul Atsir, tentang kata Sabilillah berkonotasi umum, yaitu :

a. Bahwa arti asal kata ini menurut bahasa, adalah setiap amal perbuatan ikhlas yang untuk bertaqarrub kepada Allah SWT, baik yang bersifat pribadi maupun kemasyarakatan.

b. Bersifat mutlak, adalah jihad, sehingga karena seringnya dipergunakan untuk itu, seolah-olah artinya khusus untuk jihad.1[5]

Menurut golongan Hanafi, “sabilillah” adalah sukarelawan yang terputus bekalnya. Yaitu mereka yang tidak sanggup bergabung dengan tentara Islam, karena kefakiran mereka, dengan rusaknya perbekalan atau kendaraan mereka. Maka

(8)

dihalalkan bagi mereka zakat.

Menurut Imam Muhammad, yaitu : jama’ah haji yang habis perbekalannya.’golongan Hanafi sepakat, bahwa zakat adalah hak seseorang, karenanya zakat tidak boleh untuk biaya pembangunan Masjid dan yang lainnya.

Menurut Ulama Mazhab Maliki, seperti Qadhi Ibnu Arabi dalam Ahkam al-Qur’an menafsirkan dengan bahwa sabilillah adalah tentara yang berperang. Muhammad bin Abdul Hakam berkata : “dikeluarkan zakat untuk membuat baju perang, senjata yang diperlukan, untuk mencegah serbuan musuh. Pendapat Mazhab Maliki bisa disimpulkan :

1. Sabilillah itu berkaitan dengan perang, jihad dan yang semakna dengan itu.

2. Mereka berpendapat bahwa boleh memberi bagian dari zakat kepada mujahid dan pengawal perbatasan walaupun dia kaya.

3. Jumhur Ulama Maliki membolehkan mengeluarkan zakat untuk kepentingan jihad. Seperti senjata, kuda-kuda, benteng, kapal-kapal perang dan sebagainya.

Sedangkan menurut Mazhab Syafi’i bahwa Sabilillah itu sebagaimana tertera di dalam Minhaj, Imam Nawawi dan syarahnya, oleh Ibnu Hajar al-Haitami, bahwa mereka adalah sukarelawan yang tidak mendapat tunjangan tetap dari pemerintah, atau yang tidak tertera dalam daftar gaji. Tetapi mereka berperang bila kuat dan sehat. Bila tidak mereka kembali kepada pekerjaan asalnya.

Imam Syafi’i didalam kitab al-Um, harus diberi zakat dari bagian harta zakat kepada tentara yang berperang walaupun dia kaya atau miskin. Dan bagi yang menghalangi orang Musyrikin boleh juga diberi bagian.

Imam nawawi berkata : “adapun orang yang berperang harus diberi perbekalan dan oakaian selama pulang pergi dan selama tinggal di medan perang.

Dan menurut pendapat dari Mazhab Hambali sama dengan menurut pendapat Syafi’i. Adapun untuk ibadah haji, terdapat dua riwayat dari Imam Ahmad. Pertama, termasuk sabilillah orang fakir yang berhak diberi zakat, yang menyebabkan ia dapat melaksanakan ibadah haji wajib, atau yang dapat menolong melaksanakannya. Kedua, bahwa tidak boleh menyerahkan bagian sabilillah untuk keperluan ibadah haji, sebagaimana pendapat jumhur ulama.2[6]

(9)

Menurut empat madzhab, mereka bersepakat bahwa jihad termasuk ke daladi m makna fi sabilillah, dan zakat diberikan kepadanya sebagai personil mujahidin. Sedangkan pembagian zakat kepada selain keperluan zakat, madzhab Hannafi tidak sependapat dengan madzhab lainnya, sebagaimana mereka telah bersepakat untuk tidak memperbolehkan penyaluran zakat kepada proyek kebaikan umum lainnya seperti majid, madrasah, dan lain-lain.

Rasyid Ridha berkata, sabilillah di sana adalah kemaslahatan umum kaum muslimin yang digunakan untuk menegakkan urusan dunia dan agama, bukan pada individunya. Yang utama dan pertama adalah persiapan perang seperti pembelian senjata, perbekalan tentara, alat transportasi, pemberangkatan pasuka. dan termasuk juga dalam hal ini adalah mendirikan rumah sakit, membuka jalan, mempersiapkan para dai yang menyerukan Islam, mengirimkan mereka ke daerah-daerah kafir (lihat Tafsir Al-Manar).3[7]

Syeikh Mahmud Syaltut dalam bukunya Islam Aqidah dan Syari’ah dalam hal ini menyatakan, sabilillah adalah seluruh kemaslahatan umum yang tidak dimiliki oleh seseorang dan tidak memberi keuntungan kepada perorangan. Lalu dia menyebutkan, setelah pembentukan satuan perang adalah rumah sakit, jalan, rel kereta, dan mempersiapkan para dai.

8. Ibnu Sabil

Menurut Jumhur Ulama, Mereka adalah kiasan untuk para musafir, yaitu orang yang melintas dari satu daerah kedaerah lain.

Ibnu sabil Dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an menerangkan lafaz ini sebanyak delapan tempat dalam keadaan menunjuk kasih saying berbuat baik kepadanya. Seperti firman Allah dalam surat al-Isra ayat 26 :

Artinya : “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu

(10)

hamburkan (hartamu) secara boros”. Dan dalam surat ar-Rum ayat 38 :

Artinya : “Maka berikanlah kepada Kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan[1171]. Itulah yang lebih baik bagi orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka Itulah orang-orang beruntung.

Adapun rahasia mementingkan ibnu sabil dalam Qur’an ini, karena Islam senantiasa merangsang untuk melakukan bepergian dan memberi khabar gembira, karena sebab yang banyak :

a. Ada perjalanan yang diperintahkan Islam untuk mencari rizki.

b. Ada pula perjalanan yang disuruh Islam untuk mencari Ilmu, memperhatikan dan merenungkan tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta.

c. Ada pula perjalanan yang disuruh Islam untuk berperang di jalan Allah

d. Ada pula perjalanan yang disuruh Islam untuk melaksanakan ibadah yang tinggi dan istimewa. Yaitu ibadah haji.

Pendapat Jumhur Ulama

Bahwa orang yang bermaksud mengadakan perjalanan tidak termasuk pada ibnu sabil, dengan alasan :

a. Ibnu sabil artinya orang yang tidak berpisah dengan jalan yang ada padanya. Orang berada di negerinya tentu tidak berjalan.

b. orang asing yang ada di negeri tersebut yang melakukan perjalanan, baginya mendapat bagian.

Pendapat Imam Syafi’i tentang Ibnu Sabil

(11)

memenuhi kebutuhan, karena orang yang bermaksud melakukan perjalanan bukan untuk bermaksiat.

Ibnu sabil yang kehabisan biaya di negera lain, meskipun ia kaya di kampung halamannya. Mereka dapat menerima zakat sebesar biaya yang dapat mengantarkannya pulang ke negerinya, meliputi ongkos jalan dan perbekalan, dengan syarat:

a. Ia membutuhkan di tempat ia kehabisan biaya.

b. Perjalanannya bukan perjalanan maksiat, yaitu dalam perjalanan sunnah atau mubah. c. Sebagian madzhab Maliki mensyaratkan: tidak ada yang memberinya pinjaman dan ia

mampu membayarnya.

Berapa besar bagian Ibnu sabil diberikan

a. mereka berhak diberi biaya dan pakaian hingga mencukupi atau berhasil sampai tempat hartanya, apabila ia memilika harta ditengah perjalannya. Dan mencukupi sampai tujuan bagi yang tidak mempunyai harta sama ekali.

b. persiapkan baginya kendaraan, apabila perjalanannya jauh.

c. diberi semua biaya perjalanan dan tidak boleh lebih dari itu, ini adalah pendappat yang Shahih.

Yang tidak berhak menerima zakat :

1. keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (Ahlul Bait)

Mereka tidak boleh makan harta zakat sedikitpun berdasarkan pernyataan tegas dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

سسانننلا خخاسنووأن ينهس امننننإس ددمننحنمخ لسآلس يغسبننوتن الن ةنقندنصننلا نننإس

“Sesungguhnya zakat tidak boleh diberikan kepada keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, zakat adalah kotoran manusia.” (HR. Muslim 1072, An-Nasai 2609, dan yang lainnya).

Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

(12)

“Zakat adalah kotoran harta manusia, tidak halal bagi Muhammad, tidak pula untuk keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Abu Daud 2985)

2. Orang kaya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak ada hak zakat untuk orang kaya, maupun orang yang masih kuat bekerja..” (HR. Nasa’i 2598, Abu Daud 1633, dan dishahihkan Al-Albani).

Orang Kaya yang Dapat Zakat

Mereka adalah orang kaya yang masuk dalam daftar 8 golongan penerima zakat: Amil, muallaf, orang yang berperang, orang yang terlilit utang karena mendamaikan dua orang yang sengketa, dan Ibnu Sabil yang memiliki harta di kampungnya.

3. Hamba sahaya, karena masih mendapat nafkah atau tanggungan dari tuannya. 4. Orang yang dalam tanggungan yang berzakat, misalnya anak dan istri.

Termasuk aturan baku terkait penerima zakat, zakat tidak boleh diberikan kepada orang yang wajib dinafkahi oleh muzakki (wajib zakat). Seperti istri, anak dan seterusnya ke bawah atau orang tua dan seterusnya ke atas. (Mausu’ah Al-Fiqhiyah, 23/326).

Zakat kepada anak atau orang tua yang tidak mampu, atau kepada orang yang wajib dia nafkahi, akan menggugurkan kebutuhan nafkah mereka. Sehingga ada sebagian manfaat zakat yang kembali kepada Muzakki.

5. Orang kafir.

(13)

KESIMPULAN

Mustahiq Zakat adalah orang yang berhak menerima zakat. Jelas sekali di dalam Al-Quran Surah At-Taubah Ayat 60 bahwa orang yang menerima zakat Ada 8 asnaf (golongan):

1. Fakir

2. Miskin

3. ‘Amil (petugas zakat)

4. Muallaf

5. Riqab

6. Ghorim

7. Fisabilillah

8. Ibnu sabil

Zakat dapat diberikan oleh muzakki atau orang yang memberikan zakat kepada mustahiq secara langsung atau bisa pula melalui badan amil zakat yang dikelola oleh pemerintah.

Sedangkan orang yang tidak dapat menerima zakat adalah 1. keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (Ahlul Bait) 2. Orang Kaya

3. Hamba sahaya, karena masih mendapat nafkah atau tanggungan dari tuannya. 4. Orang yang dalam tanggungan yang berzakat, misalnya anak dan istri.

5. Orang Kafir

(14)

http://www.MursyidMesra.com/sasaran zakat min.

Murad, Jawad, Mughniyah, Fiqih 5 Mazhab, PT. Lentera Basritama, cet ke 12, 2004, Jakarta, Hlm :189.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (14 Halaman)