• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penguatan Literasi Sejarah Sebagai Motor (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Penguatan Literasi Sejarah Sebagai Motor (1)"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Penguatan Literasi Sejarah Sebagai Motor

Perubahan Sosial

1

David Efendi, MA

Dosen Ilmu Pemerintahan UMY

Ketua Serikat Taman Pastaka & Pegiat Rumah Baca Komunitas @pekerjaliterasi

“Jutaan orang menyebarangi sungai Rubicon, tapi hanya Julius Caesar yang mendapat perhatian sejarawan.”

–E.H Carr,1964

“Orang tidak akan belajar sejarah kalua tidak ada gunanya,” kata Prof Kuntowijoyo dalam buku Pengantar Ilmu Sejarah yang cetak berulang-ulang. Begitu juga urusan literasi. Sejarah sendiri tak pernah diproduksi sebagai karya peradaban manusia tanpa daya literasi yang memadai. Karya-karya sejarah tidak semua berbentuk buku, namun bentuk buku dianggap paling cepat dan portable di dalam hasanah penyebaran nilai-nilai yang terkandung dalam denyut nadi kehidupan suatu bangsa. Jadi, literasi dan sejarah adalah dua hal yang tak terpisahkan sehingga cocok dipadukan sebaga salah satu cabang kajian, literasi sejarah.

Sejarah dan literasi itu umurnya relative sama, kalaupun terpaut itu tidak lama. Literasi bukanlah kata yang baru bagi kita. Sejak zaman dahulu literasi sudah menjadi bagian dari kehidupan dan perkembangan manusia, dari zama pra sejarah hingga zaman moderen. Pada zaman manusia purba sudah ada yang namanya membaca dan menulis, tetapi tidaklah sama membaca dari zaman pra sejara ke zaman sejarah. pada zaman pra sejarah mereka hanya membaca tanda-tanda alam untuk berburu dan mempertahankan diri. Mereka menulis simbol-simbol dan gambar buruannya pada dinding gua, seiring dengan perubahan waktu berkembanglah taraf kehidupan manusia, dari tidak mengenal tulisan hingga melahirkan pemikiran untuk membuat kode-kode dengan angka dan huruf, maka dikatakanlah manusia berfikir. yang pada akhirnya melahirkan suatuk kebudayaan.

Sejarah tulisan mencatat perkembangan bahasa ekspresi dengan huruf atau tanda - tanda lainnya. Sejarah mencatat bahwa bahasa telah berkembang secara berbeda pada tiap peradaban manusia. Awal mula tulisan diketahui pada masa proto dengan sistem ideografik dan simbol mnemonik. Penemuan tulisan ditemukan pada dua tempat yang berbeda: Mesopotamia (khususnya Sumer kuno) sekitar 3200 SM dan Mesoamerika sekitar 600 SM. Dua belas naskah kuno Mesoamerika diketahui berasal dari Zapotec, Meksiko. Sementara itu, tempat berkembangnya tulisan masih menjadi perdebatan antara di Mesir sekitar 3200 SM atau di China pada 1300 SM (dari beragam sumber). Jika disambungkan dengan pengertian

1 Paper ini disiapkan untuk bahan seminar literasi dalam rangkaian kegiatan NgabubuREAD yang diselenggarakan

(2)

literasi, maka pengertian literasi yang berkaitan dengan pemahaman terhadap informasi tertulis menjadi sangat relevan. Informasi hanya dapat dipahami apabila ada pengetahuan mengenai simbul, Bahasa, budaya terkait.

Secara umum, pengertian literasi adalah kemampuan individu mengolah dan memahami informasi saat membaca atau menulis. Literasi lebih dari sekedar kemampuan baca tulis, oleh karena itu, literasi tidak terlepas dari ketrampilan bahasa yaitu pengetahuan bahasa tulis dan lisan yang memerlukan serangkaian kemampuan kognitif, pengetahuan tentang genre dan kultural. Meskipun literasi merupakan sebuah konsep yang memiliki makna kompleks, dinamis, terus ditafsirkan dan didefinisikan dengan beragam cara dan sudut pandang, namun hakekatnya kemampuan baca tulis seseorang merupakan dasar utama bagi pengembangan makna literasi secara lebih luas. Istilah literasi dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Inggris literacy yang secara etimologi berasal dari bahasa Latin literatus, yang berarti orang yang belajar. Dalam bahasa Latin juga terdapat istilah littera (huruf) yaitu sistem tulisan dengan konvensi yang menyertainya. Sementara menurut UNESCO, literasi dipahami sebagai seperangkat keterampilan nyata, khususnya keterampilan kognitif membaca dan menulis, yang terlepas dari konteks di mana keterampilan itu diperoleh dari siapa serta cara memperolehnya.

Pengertian tersebut menjadi penanda bagaimana titik pertemuan antara sejarah dan literasi sangat jelas—yaitu tradisi membaca dan menulis sebagai aspek yang sama dan identic. Lierasi dan sejarah menjadi literasi sejarah. Maka apabila sejarah dapat menggerakkan perubahan, maka gerakan literasi pun demikian takdirnya. Maka keberadaan literasi sejarah sebagai suatu keniscayaan yaitu skill atau kemampuan terkait pemahaman sejarah baik membaca maupun menulis yang berkaitan dengan sejarah termasuk pemahaman atas beragam aspek di dalamnyanya (metode, pendekatan, daya kritis, obyektifikasi, Bahasa, budaya, simbol, dan sebagainya). Menurut saya, penulisan sejarah adalah kerja mendokumentasikan amal sholeh, tindakan baik, inspiratif dan bermakna dan ini juga merupakan pekerjaan seorang pegiat literasi. Artinya, jika kita mau menghidupkan hasrat menuliskan sejarah, maka kita pun harus menghidupkan (aktifasi) praktik literasi di masyarakat (grassroot).

Apa Sejarah dan Apa guna menulis sejarah?

Adalah A.L Rowse (2014) membangun pemahaman yang optimis tentang sejarah yaitu dengan mendefinisikan Sejarah sebagai ilmu memahami masyarakat dan semua produk budayanya yang memungkinkan seseorang punya peta menjalani hidup masa kini dan masa depan dengan memahami masa lalu. Dalam bukunya, Apa Guna Sejarah Rowse juga memaparan beragam kegunaan sejarah yang menentukan takdir negara-negara di zaman persaingan saling ekspansi kekuasaan. Penguasaans sejarah menjadi kunci utama.

(3)

demikian kemudian telah didekonstruksi sedemikian radikal dengan menguatnya historiografi Indonesia seperti yang dipelopori Sartono Kartodirjo. Sejarah kemudian tidak lagi dimonopoli kisah bangsawan, sejarah juga bisa dituliskan sebaliknya: sejarah rakyat, biografi sejarah orang-orang biasa, dan sebagainnya. Penulisan sejarah pun harus didorong untuk lebih obyektif dan dengan mendayagunakan tafsir kritis di dalam menerangkan fakta sejarah yang selalu tidak tunggal karena dipengaruhi oleh lingkungan sosial politiknya (Carr,2014). “Sejarawan adalah mereka yang menulis sejarah., demikian pemahaman dari Kuntowijoyo.

Dari bukunya Sartono Kartodirjo, Pemberontakan Petani Banten 1888, kita akan menyadari saat itu bahwa petani ternyata juga punya sejarah dan bisa membuat sejarah. Sejarah bukanlah cerita tentang elit dan pergantian kekuasaan, tapi juga perjuangan rakyat kecil untuk mempertahankan haknya akan tanah, air dan budayanya. Sejarah dari dalam istana dan kaum elite-bangsawan, hanyalah salah satu fenomena buku sejarah.

Menarik untuk mengetahui apa alasan George Orwell untuk menulis. “Saya menulis karena ada kepalsuan yang ingin saya ungkapkan. Memang benar bahwa tulisan Orwell adalah tulisan tentang pengungkapan kepalsuan-kepalsuan. Ia menelanjangi dominasi Inggris di India dan Burma, menelanjangi para intelektual yang bersembunyi pada paham nasionalis sehingga rela untuk berbohong. Ia mengkritik perasaan antisemitik yang tidak diakui oleh para terpelajar Inggris dan kejujuran para sastrawan yang sering terbelenggu oleh rezim (partai yang berkuasa). Penulisan sejarah di tengah rezim ketakutan adalah penting untuk membunyikan suara-suara yang bungkam dan ini ada banyak kegunaan untuk sebuah agenda perubahan jangka panjang. Dengan menuliskan secara berani artinya aka nada tafsir yang dinegosiasikan atau diperselisihkan—demokratisasi pengetahuan memaklumkan adanya diskursus, dialaktika, dan narasi yang beragam. Dari situlah kegairahan melakukan kerja-kerja literasi, kerja kerja sejarah menjadi kuat dan prolifik.

Pasti ada banyak alasan mengapa seseorang menulis atau membunyikan suara jiwa. Saya mencoba menyelami lebih intim ihwal ini semua. Sudah seminggu lalu saya membaca buku George Orwell yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul ‘mereka yang tertindas terbit tahun 1990. Karya terjemahan ini diterbitkan tahun 1968 di Inggris. Dia menyampaikan empat alasan mengapa George Orwell (1968)menulis. singkay cerita begini detailnya empat alasan tersebut. Pertama, Kepentingan diri sendiri. kedua, Kegairahan estetika. ketiga, dorongan sejarah dan terakhir adalah untuk tujuan Politik. Senada dengan Orwell, menurut saya, kepercayaan akan pentingnya sejarah harus ditulis disebabkan setidaknya empat hal. Pertama, fakta bahwa dinamika pergerakan (asumsi sejarah: ”bahwa segala sesuatu mengalami perubahan”). Kedua, kebutuhan mendokumentasikan ‘amal sholeh’ dan perbuatan mulia. Ketiga, merebut tafsir/Menyajikan alternatif kontruksi sejarah (the new history)/ dekonstruksi sebagai semangat menuliskan ulang sejarah, dan terakhir adalah sebagai kritik sosial, budaya dan politi—di mana selalu ada tafsir dan narasi yang didialogkan.

(4)

Marlborough. Sebaliknya, pengalaman-pengalaman mengabaikan sejarah telah menjadikan Jerman dan Jepang gagal menguasai dunia. Di negara kita, sebuah bangunan bersejarah terasing dari lingkungan dan penghuninya terlihat angkuh ketika mengabaikan sejarah. Film, laporan jurnalistik, dan proses perumusan kebijakan publik bisa kacau jika menegasikan sejarah.

Buku Sejarah dan Gerakan Literasi Aktual

Memang secara umum dapat dikatakan, bahwa penulis sejarah adalah jumlah populasi yang kecil di republik ini. Karena minimnya kekuatan penulis sejarah akibatnya adalah banyak pengalaman terburuk dan terbaik.sejarah gagal menjadi guru yang mengajarkan banyak kearifan. Tragedi demi tragedy tak mengubah kita menjadi bangsa yang lebih baik. Sejarah lebih sering dilihat sebagai warisan ketimbang sebagai pelajaran (Baskara T Wardaya, 2001) Padahal sejarah itu Ilmu, menuliskan sejarah ihwal apa saja berarti meneguhkan identitas keberadaban suatu bangsa sehingga kerja menuliskan buku sejarah dengan apa pun genrenya adalah bekerja untuk menentukan takdir hari depan manusia (nations).

Dalam pengantar penulisan sejarah, Kuntowijoyo menjelaskan inti sejarah sebagai ilmu tentang waktu, ilmu tentang makna sosial, sebagaii lmu tentang sesuatu yang tertentu, satu-satunya (Unique), dan terperinci. Karena kedekatannya dengan ‘waktu’ maka sisi lain pengertian sejarah adalah rekontruksi masa lalu (Kuntowijoyo, 1995). Dengan nalar sekejarahan demikian, kira-kira hal-hal yang ditulis dalam buku sejarah adalah mengenai peristiwa yang diingat dan dilupakan, yang ajeg, berulang, dan yang berubah (change and continuity), yang sama dan yang berbeda, yang biasa (normative) dan yang tidak biasa, yang Nampak dan yang tersembunyi, dan hal-hal dari dalam dan dari luar. Kesemuanya itu dapat dituliskan secara kornologis atau tematis dengan bertumpuh pada metodologi penulisan sejarah sebagaimana yang banyak didedah di berbagai buku Ilmu Sejarah.2

Buku-buku sejarah adalah referensi tentang kesatuan antara masa lalu, hari ini dan masa depan (Kuntowijoyo) mengenai manusia, termasuk interaksi dengan dunia sekitar, alam raya, dan sebagainya. Sebagai Contoh: kajian Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya dalam 3 jilid yang mengupas Jawa berdasarkan pembongkaran atas 3 lapis peradaban yang mempengaruhinya; Hindu‒Budha‒India; Cina dan Islam; serta Barat.

Proses perkembangan metode penulisan sejarah itu cukup progresif saya kira. penulisan sejarah sendiri bukan berarti tanpa mitos yang terus mempengaruhi hasanah penulisan buku sejarah.3 Historiografi Indonesia bergerak dalam tiga gelombang (Kuntowijoyo). Gelombang

2 Kita ingin menuliskan perubahan sosial, pembangunan ekonomi, dan modernisasi sebagai setting. Di dalamnya

memuat periodisasi, pembabakan dalam sejarah. (Suwarsono & Alvin Y So,1994) Misal: Muhamamdiyah zaman PKI, zaman peralihan rezim kekuasaan, dll. Dapat juga menuliskan mengenai aktor-aktor: organisasi, pergerakan, tokoh, tokoh yang tidak banyak dikenal tetapi perannya penting

3 Nashih Lutfi mencatat, setidaknya ada empat mitos dalam penulisan sejarah yaitu sejarah bebas politik, sejarah

(5)

pertama terjadi tatkala dilakukan dekolonisasi pengetahuan sejarah dari Neerlando‒sentris menuju Indonesia‒sentris (1957), Gelombang kedua adalah ketika digunakannya social scientific approach dalam penulisan sejarah (1970). Pendekatan ini menekankan problem oriented. Gelombang ketiga, sejarah sebagai kritik sosial. Ia kritis dalam prosedur keilmuan, namun sekaligus fungsional dalam masyarakat sebagai kritik sosial.

Prof. Dr.Kuntowijoyo dalam buku Pengantar Ilmu Sejarah menerangkan bahwa kesimpulan sejarah harus didasarkan dengan empat tahapan:

1. heuristik atau pengumpulan data sejarah yang betul-betul valid dan otentik yang kemudian terbagi data primer dan sekunder;

2. kemudian masuk kritik atau pengujian kebenaran dari data yang disajikan tersebut. Seandainya sudah betul-betul lulus uji alias kebenarannya tidak disangsikan maka data itu disebut fakta sejarah;

3. selanjutnya masuk interpretasi. Fakta-fakta sejarah tadi kemudian diinterpretasikan dengan menggunakan bantuan ilmu-ilmu sosial atau ilmu bantu lainnya sehingga dapat diketahui hakikat dibalik kejadian sejarah atau fakta sejarah;

4. apabila sudah melakukan interpretasi baru masuk tahapan mnyimpulkan dengan menuliskannya. Tahap inilah tahap yang disebut historiografi. Jadi, tidak asal menarik kesimpulan.

Banyak tentu saja sejarah memberi warna perjalanan sebuah peradaban masyarakat. Setidaknya, sejarah telah menyumbangkan pembangunan imajinasi kebangsaan dan identitas nasion. Hal ini telah direkam secara argumentative dalam artikel Ita Fatia Nadia (2011) sebagaimana yang dikutib di bawah iniL

“Sejarah memberi bentuk dalam kita menentukan identitas kita, dan juga hubungan kita dengan komunitas. Sejarah menempatkan kita dalam ruang dan waktu, dan membantu kita dalam memberi arti pada hidup kita. Sejarah bisa menjadi simpai yang penting, yang mengikat suatu kelompok orang, masyarakat atau bangsa di dalam satu ikatan bersama, seperti yang diperlihatkan dengan nyata oleh masyarakat Yogyakarta dalam menghadapi kasus sejarah

keistimewaan DIY sekarang ini.”

Penutup: Harapan dan Revolusi Pengetahuan

Baik sejarawan muda, sejarawan cum aktifis dan juga pegiat literasi telah saya yakini sebagai motor penggerak perubahan—dari sinilah energi perubahan, semangat melawan

(6)

keterbatasan dan bahkan melawan arus utama politik dapat hidup. Sangat tepat, setiap pelaku sejarah seyogyanya dapat menuliskannya sendiri termasuk dinamika gerakan literasi kontemporer saat ini yang variannya beragam dan kreatifitasnya luar biasa ini harus dituliskan, jika tidak maka akan hilang Bersama waktu. Selain itu, kehidupan seorang manusia bukanlah di ruang hampa sosial, budaya, politik sehingga sangat tepat kalua kita juga terus memulai bekerja mendokumentasikan beragam pengetahuan lokal, tokoh, inspirasi, nilai-nilai dan sebagainya di mana kita tinggal dan menjadi manusia literated. Dari inilah revolusi pengetahahun sebagai revolusi harapan itu dapat menemukan pijakannya yang kuat dan tak tertangkis oleh kekuatan perusak: post-trut, anti kebenaran, disinformasi yang terus melanda kehidupan manusia digital hari ini.

Maka, jadilah pegiat literasi yang juga menuliskan sejarah mengenai banyak hal untuk mendorong kehidupan yang lebih baik, lebih adil dan manusiawi untuk mempersiapkan seratus tahun kemerdekaan Indonesia, jugauntuk bertahan serta dapat menjadi aktor menentukan warna peradaban di tengah gelombang zaman yang semakin brutal.

Daftar Bacaan

Carr, E.H. 2013. Apa itu Sejarah. Jakarta: Komunitas Bambu

Dewayani, Soefi & Retnaningdyah, Pratiwi. 2017. Suara dari Marjin: literasi sebagai Praktik Sosial. Bandung: Rosda

Dewayani, Soefi. 2017. Menghidupkan Literasi di Ruang Kelas. Yogyakarta: Kanisius

Holik, Abdul. 2014. Taman Bacaan Masyarakat dalam Rekaman Relawan. Bandung: Penerbit Alvabeta

Kuntowijiyo. 1995.Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Penerbit Bentang

Kuntowijoyo, Indonesian Historiography in Search of Identity, Humaniora. No. I, 2000.

Kuntowijoyo, Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2003, xiii. Nadia, Fatia. 2011. Sumbangan Ilmu Sejarah bagi kemnauisaan.

https://etnohistori.org/sumbangan-ilmu-sejarah-untuk-kemanusiaan-refleksi-pekerja-kemanusiaan-ita-nadia.html

Luthfi, Ahmad N. 2013. Penulisan Sejarah Indonesia: Menuju “The New History”, tulisan di

http://etnohistori.org/edisi-seri-pemikiran-ilmu-sosial-indonesia-penulisan-sejarah-indonesia-menuju-the-new-history-oleh-ahmad-nashih-luthfi.html Orwell, George. 1990. Mereka yang tertindas. Jakarta: Buku Obor

Peter Burke, New Perspective on Historical Writing. Oxford: Polity Press, 2001, hlm. 7. Rowse, A.L. 2014. Apa Guna Sejarah. Jakarta: Komunitas Bambu

https://indoprogress.com/2013/05/wilson-organisasi-rakyat-harus-menuliskan-sendiri-sejarahnya/

Referensi

Dokumen terkait

Sehingga beberapa buku panduan menulis berita menyebut lebih dari 10 lead yang bisa dipakai dalam sebuah berita.. Namun, hal yang tak boleh dilupakan dalam menulis lead adalah unsur

Berbagai metode yang dapat diterapkan untuk kepentingan tersebut adalah: menga- jak atau menugaskan peserta didik menelaah peristiwa sejarah yang mengandung nilai

Ari Sapto, menjelaskan bahwa sejarah adalah studi keilmuan tentang peristiwa masa lalu manusia pada tempat tertentu yang tidak berulang dan bukti- buktinya dapat ditemukan.. Setelah

Kajian ini memiliki tujuan agar dapat membantu menelaah kegiatan Kuliah Lapangan Sejarah yang dilakukan oleh Dosen Prodi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Lubuklinggau

Meskipun fakta-fakta yang dipelajari dalam buku teks sejarah sangat penting, siswa sekolah yang diajarnya lebih mudah memahami periode waktu dan peristiwa tertentu melalui

Seperti berulang dicatat buku sejarah, tokoh paling penting dalam gerakan pembaruan ini adalah Nurcholish Madjid, sarjana Islam yang memiliki semua syarat menjadi pembaharu..

Hal tersebut tampak dalam tema-tema historiografi Indonesia yang sudah berkembang dan secara teoritis telah ditulis oleh para sejarawan aliran sejarah baru Abdullah & Surjomihardjo,

Objek tersebut berperan sangat penting dalam sebuah sejarah yang memaparkan dan menjabarkan peristiwa yang menyangkut manusia, dalam kurun waktu masa lampau.6 Pada zaman Positivisme,