• Tidak ada hasil yang ditemukan

Remotivi Kinerja Televisi Selama Pemilu Presiden 2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Remotivi Kinerja Televisi Selama Pemilu Presiden 2014"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

INDEPENDENSI TELEVISI

DALAM PEMILU PRESIDEN

2014

Ketika Media Menjadi Corong Kepentingan Politik Pemiliknya (penelitian lengkap bisa diunduh di

remotivi.or.id)

Muhamad Heychael

(2)

Latarbelakang

Survey The Broadcasting Boards of Governors dan Gallup

tentang “Penggunaan Media di Indonesia pada Tahun 2012”, sebanyak 95,9% penduduk usia 17 tahun ke atas mencari berita melalui televisi setidaknya seminggu sekali.

Dengan jangkaun yang demikian luas televisi adalah tambang

emas bagi partai dan aktor politik.

Kampanye politik melalui televisi sudah terbukti

(3)

Berbeda dengan pemilu 2009, pada pemilu 2014 para pemilik media terjun langsung dalam politik praktis. Dua pemilik, Aburizal Bakrie dan Harry Tanoesoedibjo

mencalonkan diri sebagai presiden dan wakil presiden. • Ditengah situasi yang demikian, masihkah televisi

mungkin bersikap independen? Atau justru menjadi kendaraan politik pemiliknya? Jika yang kedua terjadi, maka sejauh apa eksploitasi televisi sebagai sarana

politik dan dengan strategi seperti apa televisi mengemas informasi yang bias kepentingan golongan tertentu

(4)

Strategi Penelitian

Dalam upaya pemantauan terhadap kinerja televisi selama pemilu

2014, Remotivi melakukan tiga penelitian terkait independensi media yang mengambil data pada 1-7 November 2013, 1-7 Mei 2014, dan terakhir 1-7 Juni 2014.

Untuk memeriksa independensi media kami melakukan kajian atas

isi siaran di 11 stasiun televisi (kecuali pada 1-7 November 2013 yang hanya 6 Stasiun televisi).

Kami membagi isi televisi menjadi 3 bagian, yaitu: Berita, non berita,

dan iklan.

Kami memberi perhatian khusus pada berita. Jika pada program

non berita kami hanya melihat frekuensi kemunculan kontestan politik dan pada iklan politik kami mengukur frekuensi dan durasi, maka pada berita selain frekuensi dan durasi kami juga

(5)

Data

Pada periode 1-7 November 2013 data yang kami analisis meliputi 310 item berita dengan durasi 64.810 detik, 215

spot iklan, dan 98 titik kemunculan dalam program non-jurnalistik.

Periode 1-7 Mei 2014: 512 berita berdurasi 72.879 detik,

229 spot iklan berdurasi 14.168 detik, dan 58 titik kemunculan program non-berita.

Periode 1-7 Juni 2014: 3.305 item berita berdurasi

500.981 detik, 1043 spot iklan berdurasi 30.482 detik, dan

(6)

Temuan

Benarkah stasiun televisi bersikap Independen? Jawabnya

TIDAK. Tiga kelompok usaha media yang pemiliknya berafiliasi langsung dengan partai politik terindikasi partisan. Faktanya gerak pemberitaan seiring sejalan dengan gerak koalisi partai politik.

Dengan cara apa stasiun televisi mengemas informasi yang

bersifat partisan? Pembingkain melalui seleksi topik.

Temuan lain yang juga menarik adalah bias kepentingan elit

(7)

Metro TV

Sebelum pemilu legislatif berdasar pada data Remotivi 1-7

November 2013, frekuensi berita Jokowi berjumlah 12%. Frekuensi pemberitaan tertinggi Metro TV diberikan pada Surya Paloh (20.5%). Tidak hanya itu, Surya paloh adalah figur yang paling banyak diberitakan secara positif

(47.6%).

Situasi ini berubah setelah fakta koalisi Nasdem dengan

PDI-P. Pada penelitian berikutnya yang mengambil data 1-7 Mei 2014, frekuensi pemberitaan Jokowi di Metro TV

meningkat menjadi 74.4%. Dengan nada positif sebesar 31.1%. Sementara frekuensi pemberitaaan Prabowo

(8)

TV ONE dan ANTV

Sebelum koalisi antara Golkar dengan Gerindra, berdasar data Remotivi pada 1-7 Mei 2014, Aburizal Bakrie adalah tokoh yang paling banyak diberitakan oleh ANTV (50%) dan TV One (39%). Situasi ini berubah setelah pada 19 Mei 2014 teradi kesepakatan koalisi antara Golkar dan Gerindra untuk mengusung pasangan Capres Prabowo-Hatta.

(9)
(10)

MNC Grup

Pada riset yang ngambil data 1-7 Mei, RCTI hanya memiliki satu berita mengenai Prabowo dan itu pun bernada negatif. Namun, setelah Harry Tanoe resmi

bergabung dengan koalisi merah putih pada 22 mei 2014 terjadi perubahan drastis

(11)

Tren yang sama terjadi di dua stasiun televisi milik MNC Grup lainnya, MNC TV dan Global TV. Seluruh berita

positif di MNC TV adalah milik pasangan no urut 1

(Prabowo 55% dan Hatta 45%). Sementara di Global TV, 83% berita positif adalah milik Prabowo.

Bersamaan dengan meningkatnya pemberitaan dan iklan politik Prabowo di Stasiun televisi milik Viva dan MNC

Grup, terjadi pemberitaan yang tidak berimbang pada pasangan no urut 2 (Jokowi dan Jusuf Kalla).

Jokowi adalah Figur yang paling banyak diberitakan

(12)

Iklan Politik

Metro TV

Pada periode penelitian 1-7 November 2013, tidak ada sama sekali iklan politik Jokowi di Metro TV. Frekuensi Iklan tertinggi di Metro TV dimiliki oleh Partai Nasdem, 100 kali dengan durasi 4.910 detik. Situasi ini berubah seiring dengan koalisi Nasdem-PDIP, pada periode 1-7 Mei seluruh iklan politik yang ada di Metro TV adalah milik Jokowi (31 Spot dengan durasi 930 detik).

TV One dan ANTV

Pada periode 1-7 November 2013, Aburizal Bakrie adalah tokoh yang paling banyak beriklan di TV One dengan 152 spot dengan durasi

6.060 detik. Pada periode 1-7 Juni terjadi perubahan drastis, iklan politik Prabowo yang sebelumnya nihil di TV One, melonjak drastis

(13)

RCTI, MNC TV, dan Global TV

Pada periode 1-7 November 2013 dan 1-7 Mei 2014 Iklan politik di RCTI 100% milik pasangan Win-HT. Situasi ini tidak berubah sampai ketika HT memutuskan bergabung dengan poros Prabowo. Pada 1-7 Juni, Prabowo

(14)

Program Non-Berita

Kecuali yang dilakukan oleh MNC Grup dengan kuis

Indonesia Cerdas dan Kuis Kebangsaan, tidak ditemui upaya sistemastis di kelompok usaha lain untuk

menggunakan program non-berita sebaga sarana kampanye politik.

Pada periode 1-7 November 2013 saja ada 14 kemunculan

Win-HT dalam Kuis Kebangsaan di RCTI. Ini artinya dalam satu hari ada dua kuis. Dan pada 1-7 Mei ada 7

kemunculan Win-HT dalam kuis Indonesia Cerdas di

Global TV dan 5 kemunculan di Kuis Kebangsaan di RCTI. Kuis kebangsaan dan Indonesia Cerdas hilang seiring

(15)

Topik Berita : Strategi Pembingkaian Kontestan

Politik Oleh Stasiun Televisi

Topik khas Jokowi pada 1-7 Mei 2014 adalah “Kinerja Pemda DKI” yang mencapai 13% dari seluruh berita

Jokowi di 11 Stasiun televisi (Sebagian besar disumbang oleh Metro TV). Sementara isu khas Prabowo adalah

“Ketenagakerjaan” yang mencapai 16% dari total berita Prabowo di 11 stasiun televisi.

Fakta menarik adalah TV One dan ANTV tidak pernah mengangkat topik “Kinerja Pemda DKI” ketika

memberitakan Jokowi. Sebaliknya, Isu yang kerap diangkat dua stasiun televisi milik Bakrie ketika

(16)

Strategi seleksi isu juga dilakukan oleh kelompok MNC Grup. Ketika banyak televisi lain memberita isu

perpecahan di Partai Hanura, tiga stasiun televisi dalam kelompok MNC Grup tak satupun memberitakannya.

Lebih dari sekadar melakukan sensor informasi, televisi bahkan dijadikan alat untuk memoles citra diri pemiliknya. Praktik ini teridentifikasi, misalnya, lewat TV One yang

(17)
(18)

Gagalnya Jurnalisme Televisi Kita

pada 1-7 Mei 2014, berita topik berita “koalisi partai politik” merupakan

topik paling dominan yang melekat pada aktor-aktor politik. Topik ini juga menjadi tema umum berita televisi.

1. Prabowo 72%

2. Wiranto 69%

3. Harry Tanoe 67% 4. Aburizal Bakrie 66% 5. Jokowi 40%

Pada 1-7 Juni, topik dominan berita televisi adalah “dukungan ormas

pada capres dan cawapres. Setiap kontestan politik mendapat rata-rata 50% berita berkait dengan topik tersebut.

Berita televisi cenderung seremonial. Mengikuti tahap-tahap prosedural

(19)
(20)

Daftar Pustaka

Heychael, Muhamad dan Holy Rafika Dhona. 2014.

“Independensi Televisi Menjelang Pemilu 2014: Ketika Media Menjadi Corong Kepentingan Politik Pemilik”. Jakarta: Remotivi, remotivi.or.id, 25 April 2014.

Heychael, Muhamad. 2014. “Independensi Televisi Menjelang

Pemilu Presiden 2014: Ketika Media Menjadi Corong

Kepentingan Politik Pemilik (Bagian 2)”. Remotivi, remotivi.or.id, 27 Juni 2014.

Heychael, Muhamad. 2014. “Independensi Televisi Menjelang

Pemilu Presiden 2014: Ketika Media Menjadi Corong

Referensi

Dokumen terkait

inakurasi dari sensor sebesar 1 bisa merepresentasikan 2 titik nilai tegangan 3,68 V, bisa antarmuka air dan minyak 14 c disebut dengan histeresis. Histeresis yang

DIUTAMAKAN memiliki dana pendamping dari fakultas (dan/atau sumber lainnya) yang dinyatakan dengan surat pernyataan oleh fakultas yang ditandatangani oleh Dekan

Pada bagian di atas kolarn reaktor, kondensat hasil pendinginan sistem ventilasi kolarn reaktor (KLA 60) di kembalikan ke kolarn penyimpanan bahan bakar bekas (JAA 02).

Dalam melaksanakan tugasnya, Kepala, Kepala Bagian, Kepala Bidang, Kepala Subbagian, Kepala Seksi dan Koordinator Kelompok Jabatan Fungsional wajib menerapkan prinsip

ájQƒà°SO ᪵ AɰûfEÉH IQôµàŸG áÑdÉ£ŸG øe ºZôdÉHh.. ΩÉY πµ°ûH á«WGô≤ÁódG

Dari tampilan grafik hasilnya sama dengan tampilan grafik di monitoring Visul C# namun di MySQL data Tegangan, Arus dan Daya ditampilkan di satu grafik sehingga data arus

Dari hasil uraian kategori menurut alat makan terdiri dari Bacillus subtilis ditemukan sebanyak 10 sampel (41,7%), Kokus gram negatif ditemukan sebanyak 3 sampel (12,5%),

Sistem yang berlaku adalah sistem borongan, dalam hal ini upah dihitung berdasarkan banyaknya pekerjaan penyusunan kayu yang bisa dilakukan oleh karyawan selama jam kerja (1