Kendali Sipil Atas Militer di Negara
Demokrasi
Kendali sipil atas militer merupakan kelaziman di negara-negara demokrasi, di negara-negara-negara-negara yang dipimpin dan dikelola oleh pejabat-pejabat publik hasil pemilihan umum. Secara umum prinsip dasarnya adalah bahwa
Meski berpijak pada pengakuan yang sama terhadap
prinsip kendali sipil atas militer, pada kenyataannya
implementasi di lapangan di berbagai negara sangat
beragam. Ada negara dimana kepemimpinan politisi
sipil sebatas menentukan kebijakan dan tujuan dari
kebijakannya secara umum dan memberikan
kewenangan penuh kepada kepemimpinan militer
untuk secara leluasa menerjemahkan ke dalam
strategi dan rencana operasional.
Indonesia memiliki sejarah unik, sejarah pergerakan politik dan sejarah perjuangan fisik, yang mau tidak mau
mempengaruhi hubungan sipil-militer hingga masa kini. Pergolakan yang mewarnai masa mempertahankan
kemerdekaan dan konsolidasi beberapa tahun setelah
Proklamasi Kemerdekaan 1945, lalu hubungan sipil-militer semasa orde lama yang sangat tidak harmonis dan
Reformasi 1998 membuka lembaran baru ditandai dengan demokratisasi secara cepat, diikuti dengan penataan kembali tentang hubungan sipil-militer. Proses demokratisasi yang terjadi selama 15 tahun terakhir ini sesungguhnya
menyediakan momentum yang baik untuk menata kembali hubungan sipil-militer dan mengarahkannya sesuai dengan norma demokrasi yang sehat. Kendali sipil atas militer
Kemauan TNI untuk segera menjalankan reformasi
internalnya, sejak saat awal digulirkannya reformasi, harus dapat disikapi oleh civil society dengan langkah yang
seirama, agar momentum demokratisasi utamanya yang terkait dengan hubungan sipil militer dapat segera tertata dengan baik sesuai dengan norma demokrasi yang berlaku, dengan tanpa ada yang harus merasa tercederai.
Tekanan kepada TNI untuk segera menyesuaikan diri dengan norma demokrasi, namun tanpa disertai adanya itikad
Dihilangkannya bisnis TNI, tanpa didukung dengan langkah nyata perbaikan atas kondisi kehidupan para prajurit dan keluarganya, ditariknya wakil TNI di lembaga Legislatif tanpa didukung segera dengan pengembalian hak para prajurit
untuk memilih dalam pemilu telah menyebabkan secara moril, para prajurit TNI merasa benar-benar tersisihkan sebagai bagian dari anak bangsa. Setiap 5 tahun sekali
masyarakat melakukan ritual demokrasi yang gegap gempita namun tidak bagi prajurit. Kesemua itu sama sekali tidak ada pengaruhnya bagi mereka, kecuali harus meningkatkan
kesiagaan guna mengatisipasi terjadinya kerusuhan. lalu
selaku garda bangsa terdepan dalam menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah yang tidak didukung dengan alutsista yang memadai, kesemua itu telah mendorong munculnya perasaan
Sebagai warga bangsa yang memiliki perasaan inferiority,
Prajurit menjadi mudah tersinggung. Banyak kasus-kasus yang menunjukan akan hal itu.
Ingat peristiwa perwira TNI AU yang dengan kasar melakukan pencegahan atas peliputan jatuhnya pesawat tempur TNI AU di Lanud Pakan Baru, Kasus penyerangan Polres OKU oleh prajurit TNI AD, kasus Lapas Cebongan dan terakhir kasus di markas PDIP.
Itu semua sesungguhnya adalah reaksi dari dorongan bawah sadar dari para prajurit TNI untuk sekedar ingin menunjukan eksistensi mereka di tengah masyarakat yang telah
Kondisi seperti itu tentu tidak dapat terus-menerus kita
biarkan, terlebih para pemimpin sipil yang menutup mata atas semua kondisi di atas. Keadaan akan menjadi semakin buruk saat masyarakat menyudutkan dan menghakimi para prajurit setiap saat di Media tanpa adanya keinginan utamanya dari para pimpinan sipil untuk menyadari bahwa sesungguhnya
para prajurit tersebut membutuhkan perhatian, membutuhkan untuk diposisikan sekedar setara dengan warganegara lainnya.
Semoga apa yang saya uraikan ini dapat membuka kesadaran kita semua, utamanya mereka yang selama ini merasa
sebagai kampiun pejuang demokrasi, untuk mengupayakan segera dalam memposisikan prajurit kita sebagaimana