PERENCANAAN PROGRAM DAKWAH GERAKAN
PELAJAR TANPA PACARAN SURABAYA
TESIS
Diajukan untuk Memenuhi Sebagai Syarat
Memperoleh Gelar Magister dalam Program Studi Dirasah Islamiyah
Oleh Ani Rufaidah NIM. F12915284
PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
▸ Baca selengkapnya: melakukan gerakan beregu membutuhkan
(2)(3)(4)(5)(6)
ABSTRAK
Dakwah dilakukan dengan tujuan mengajak atau menyeru umat manusia yang belum mengenal ajaran Islam agar mengikuti syariat-Nya dan menjauhi larangan-Nya atau menyempurnakan keimanan mereka yang telah beriman pada Allah sehingga bisa mendapatkan kehidupan yang bahagia baik di dunia maupun akhirat. Dalam mencapai tujuan dakwah, sebuah lembaga atau organisasi dakwah memerlukan serangkaian program atau kegiatan untuk mengantarkan organisasi mewujudkan tujuannya. Tanpa perencanaan yang jelas program dakwah menjadi tidak terarah sehingga berefek pada pelaksanaannya akan melenceng juga dari visi atau tujuan organisasi yang dibuat. Di tengah maraknya persoalan pacaran yang
kelewat batas dan mengarah pada zina yang dilarang oleh syari’at Islam, muncullah
gerakan Pelajar Tanpa Pacaran yang dipelopori oleh para pelajar dari komunitas
Da’i Berkemajuan yang berada dalam naungan Ikatan Pelajar Muhammadiyah.
Dalam menjalankan serangkaian kegiatannya, gerakan ini terlihat merencanakan betul program-program yang akan dijadikan panduan mewujudkan visi terwujudnya pelajar tanpa pacaran. Proses perencanaan program yang dilakukan oleh gerakan ini diantaranya mengidentifikasi tujuan dari serangkaian program, melakukan pemetaan kondisi gerakan, melakukan analisis SWOT untuk memunculkan program-program gerakan jangka panjang hingga menggambarkan serangkaian program yang akan dijalankan kedepannya meliputi menentukan tujuan, sasaran, penanggung jawab, dan gambaran umum kegiatannya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana perencanaan program yang dilakukan oleh Gerakan Pelajar Tanpa Pacaran ini.
ABSTRACT
Dakwah is to invite or summon people who do not know the teachings of Islam in order to follow His law and avoid His prohibitions or enhance the faith of those who believe in God in order to get a happy life in this world and the hereafter. In order to achieve the purpose of propaganda, a propaganda agency or organization requires a series of activities or program to bring the organization to realize its objectives. Without a clear plan, a program of propaganda become undirected and affect to the implementation will also deviate from the vision or goals of the organization which are made. In the midst of courting problem which too far and lead to adultery which is forbidden by Islamic law, emerged Gerakan Pelajar Tanpa
Pacaran who spearheaded by students from Komunitas Da’i Berkemajuan, a
community under the auspices of Muhammadiyah Student Association. In carrying out a series of activities, this movement make a plan programs that will serve as a guide to realize their vision to realizing students without courtship. Program planning process undertaken by the movement among others identify the purpose of a series of programs, mapping the movement, do a SWOT analysis to come up with programs motion long term to describe a series of programs that will be run in the future, including setting goals, objectives, responsibility, and a sense public activities. This study aims to describe how the planning program conducted by Gerakan Pelajar Tanpa Pacaran.
DAFTAR ISI
HALAMAN DEPAN ... i
PERNYATAAN KEASLIAN ... ii
PERSETUJUAN ... iii
PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iv
PEDOMAN TRANSLITERASI ... v
MOTTO ... vi
ABSTRAK ... vii
ABSTRACT ... viii
UCAPAN TERIMA KASIH ... x
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xv
DAFTAR GAMBAR ... xvi
BAB I ... 1
PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah... 1
B. Identifikasi Masalah ... 7
C. Rumusan Masalah ... 8
D. Tujuan penelitian ... 8
E. Manfaat Penelitian ... 8
1. Manfaat teoritik ... 8
2. Manfaat praktis ... 9
F. Kerangka Teoritik ... 9
2. Prasyarat perencanaan ... 10
3. Tahap dasar perencanaan ... 12
4. Program ... 13
G. Penelitian Terdahulu ... 14
H. Metode Penelitian ... 18
1. Jenis Penelitian ... 18
2. Subjek dan objek penelitian ... 19
3. Lokasi Penelitian ... 19
4. Sumber dan Teknik Pengumpulan Data ... 19
5. Uji Keabsahan Data ... 23
6. Teknik Analisa Data ... 23
I. Sistematika Pembahasan ... 24
BAB II ... 26
TINJAUAN PUSTAKA ... 26
A. Pengertian Perencanaan ... 26
B. Prasyarat Perencanaan... 27
C. Bentuk – bentuk Perencanaan ... 28
1. Rencana Global ... 28
2. Rencana Strategis ... 29
3. Rencana Operasional ... 29
D. Tahap Dasar Perencanaan ... 30
1. Menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan ... 30
2. Merumuskan keadaan saat ini ... 31
4. Mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk mencapai
tujuan ... 32
E. Proses Perencanaan ... 32
F. Program ... 39
G. Organisasi Dakwah ... 40
1. Pengertian organisasi dakwah ... 40
2. Unsur organisasi dakwah ... 42
BAB III ... 46
GAMBARAN SUBYEK PENELITIAN ... 46
A. Latar Belakang Lahirnya Komunitas Pelajar Tanpa Pacaran Surabaya .... 46
B. Struktur Pengurus ... 49
BAB IV ... 52
DATA DAN ANALISA DATA ... 52
A. Kronologis perumusan program... 52
B. Perencanaan program dakwah Gerakan Pelajar Tanpa Pacaran ... 54
1. Menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan ... 54
2. Merumuskan kondisi saat ini ... 55
3. Analisa hambatan dan kemudahan ... 60
4. Mengembangkan serangkaian program untuk mencapai tujuan ... 66
i. Dakwah lewat media sosial………...…………...73
ii. Rekrutmen anggota pelajar tanpa pacaran………... 80
iii. Membuat kartu tanda anggota pelajar tanpa pacaran………...84
iv. Membuat kostum elajar tanpa pacaran……..………...89
v. Membuat koordinator PTP di tiap sekolah SMP-SMA-SMK……….92
vii. Sosialisasi ke Sekolah-sekolah tentang Gerakan Pelajar Tanpa
Pacaran………...…..97
viii. Memasang poster di Sekolah-sekolah………...…………...99
ix. Berkerjasama dengan guru BP/BK dan kesiswaan di tiap Sekolah...101
x. Mengadakan Kajian Rutin………..103
xi. Mengadakan Tabligh Akbar……….………..109
xii. Mengadakan diskusi online (WhatsApp)……..……..………...112
xiii. Mengadakan aksi di tempat ramai……….……….114
xiv. Mengadakan audensi dengan Majelis Tarjih & Tajdid dan Majelis Dikdasmen PDM kota Surabaya dan MUI tingkat Kota Surabaya untuk membuat kebijakan (fatwa) tentang larangan Pacaran khususnya pelajar……….117
xv. Membuat surat desakan kepada PP IPM untuk melakukan audiensi dengan Majelis Tarjih & Tajdid PP Muhammadiyah dan MUI pusat untuk mengeluarkan fatwa pacaran haram……….119
xvi. Membuat buku Pelajar Tanpa Pacaran………...121
BAB V ... 125
PENUTUP ... 125
A. Kesimpulan ... 125
B. Saran ... 126
DAFTAR PUSTAKA ... 128
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Perbandingan dengan Penelitian Terdahulu ... 16
Tabel 1.2 Instrumen Wawancara, Sumber Data, dan Teknik Pengumpulan
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Lingkungan Organisasi ... 34
Gambar 2.2 Analisis Portofolio Produk ... 37
Gambar 2.3 Analisis Kesenjangan Perencanaan ... 38
Gambar 4.1 Dakwah Sosmed Gerakan Pelajar Tanpa Pacaran ... 78
Gambar 4.2 Dakwah Sosmed Gerakan Pelajar Tanpa Pacaran ... 78
Gambar 4.3 Rancangan Kartu Tanda Anggota PTP ... 87
Gambar 4.4 Undangan Kajian Pelajar Kekinian ... 104
Gambar 4.5 Surat Undangan Kajian Pelajar Kekinian ... 105
Gambar 4.6 Undangan Tabligh Akbar Gerakan PTP ... 105
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dakwah berasal dari bahasa Arab da’a artinya memanggil atau menyeru,
mengajak atau mengundang. Jika diubah menjadi da’watun maka maknanya
berubah menjadi seruan, panggilan atau undangan.1 Sedangkan arti dakwah
menurut pendapat Syekh Ali Mahfudz adalah mengajak manusia untuk
mengerjakan kebaikan dan mengikuti petunjuk, menyuruh mereka berbuat baik dan
melarang mereka dari perbuatan jelek agar mereka mendapatkan kebahagiaan dunia
dan akhirat.2 Menurut Asmuni Syukri, dakwah bisa dilihat dari dua sudut pandang
yakni dakwah yang bersifat pembinaan dan pengembangan.
Pengertian dakwah yang bersifat pembinaan adalah suatu usaha
mempertahankan, melestarikan dan menyempurnakan ummat manusia agar mereka
tetap beriman kepada Allah, dengan menjalankan syariat-Nya sehingga mereka
menjadi manusia yang hidup bahagia di dunia maupun di akhirat. Sedangkan
pengertian dakwah yang bersifat pengembangan adalah usaha mengajak ummat
manusia yang belum beriman kepada Allah SWT agar mentaati syariat Islam
(memeluk Agama Islam) supaya nantinya dapat hidup bahagia dan sejahtera di
dunia maupun di akhirat.3
1 Muhammad Sulthon, Desain Ilmu Dakwah Kajian Ontologis, Epistemologis dan Aksiologis
(Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2003), 25.
2 Rahmat Semesta, Metode Dakwah (Jakarta: Kencana, 2003), 6.
2
Berdasarkan pengertian di atas dapat dilihat bahwa dakwah dilakukan
dengan tujuan mengajak atau menyeru umat manusia yang belum mengenal ajaran
Islam agar mengikuti syariat-Nya dan menjauhi larangan-Nya atau
menyempurnakan keimanan mereka yang telah beriman pada Allah sehingga bisa
mendapatkan kehidupan yang bahagia baik di dunia maupun akhirat. Untuk
mewujudkan tujuan dakwah yang mulia di atas, seorang pendakwah baik yang
melakukan dakwah secara perorangan maupun dengan berorganisasi perlu
membuat serangkaian perencanaan.
Robbins dan Coulter menyampaikan bahwa : “Planning is management
function that involves setting goals, establishing strategies for achieving those
goals, and developing plans to integrate and coordinate activities.”4 Hal ini berarti
perencanaan adalah fungsi manajemen yang melibatkan penentuan tujuan,
penetapan strategi untuk mencapai tujuan tersebut, serta merumuskan sistern
perencanaan yang menyeluruh untuk mengintegrasikan dan mengoordinasikan
seluruh pekerjaan organisasi hingga tercapainya tujuan organisasi.
Perencanaan dapat menjawab tentang siapa, apa, kapan, di mana, dan
bagaimana tindakan-tindakan tersebut dapat dilaksanakan.5 Apabila diterapkan
dalam konteks dakwah maka perencanaan dakwah akan menjelaskan bagaimana
tujuan dakwah akan dicapai, perencanaan juga lah yang akan berpengaruh pada
sukses dan gagalnya pencapaian tujuan dakwah sekaligus menjadi panduan bagi
para pendakwah untuk melakukan aktivitas dakwahnya pada masyarakat.
3
Untuk mewujudkan tujuan dakwah, sebuah organisasi dakwah harus
membuat kegiatan-kegiatan untuk mewujudkan tujuannya. Kegiatan-kegiatan
tersebut biasanya diistilahkan dengan program. Mengutip pendapat Harold Koontz,
Cyril O’Donnel, dan Heinz Weihrich, program dimaknai sebagai rangkaian dari tujuan, kebijakan, prosedur, pembagian tugas, langkah-langkah yang harus diambil,
sumber-sumber yang harus dimanfaatkan, dan unsur-unsur yang diperlukan untuk
mencapai arah tindakan yang ditentukan.
Sebagaimana perencanaan secara umum, program dakwah pun perlu
direncanakan karena tanpa perencanaan yang jelas program dakwah menjadi tidak
terarah, antara apa yang ingin dicapai dan program yang dibuat tidak linier dan
melenceng dari visi atau tujuan dakwah yang dibuat oleh lembaga dakwah tersebut.
Di tengah perkembangan zaman yang tidak lepas dari pengaruh hedonisme
dan liberalisme, dakwah pada remaja menjadi hal yang penting. Sebagai generasi
penerus bangsa, remaja tidak hanya butuh dididik secara skill saja tetapi yang tidak
kalah penting adalah pendidikan moral dan keagamaan agar mereka tidak
terjerumus dalam pengaruh hedonisme dan liberalisme. Salah satu pengaruh
liberalisme yang berkembang di kalangan remaja adalah budaya pacaran yang tidak
sehat dan mengarah pada perzinahan.
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Komite Perlindungan Anak
Indonesia (KPAI), dan Kementrian Kesehatan (Kemenkes) pada Oktober 2013
didapatkan hasil sekitar 62,7% remaja di Indonesia telah melakukan hubungan seks
di luar nikah, 20% dari 94.270 perempuan yang mengalami hamil di luar nikah juga
4
Kemudin pada kasus terinfeksi HIV dalam rentang 3 bulan sebanyak 10.203 kasus,
30% penderitanya berusia remaja.6 Penelitian sejenis yang dilakukan oleh empat
mahasiswa ITS di tahun 2016 dengan menyebarkan kuesioner pada 300 responden
pelajar jenjang SMA, SMK, dan MA di Surabaya, yang disebar secara acak pada
61 siswa SMA, 140 siswa SMK, dan 99 siswa MA juga menghasilhan hasil yang
memprihatinkan. Sebanyak 36% menyatakan wajar berpelukan saat berpacaran dan
19% wajar berciuman. Hasil lainnya, 17% dari responden hanya ingin jalan berdua
tanpa mengajak teman, 9% ingin bergandengan tangan, 5% memilih tempat sepi
saat kencan, 3 persen tidak malu bermesraan di depan umum, dan 2% berhubungan
seks menjadi tanda cinta.7
Fakta-fakta maraknya pacaran yang mengarah pada perbuatan zina tersebut
tidak sejalan dengan ajaran Islam yang melarang keras perbuatan yang mendekati
zina sebagaimana tertulis dalam Surat Al-Israa’ ayat 32.8
ًليِبس ءاسو ًةش ِحاف ناك هَنِإ ان ِ زلا اوبرْقت َو
Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk (QS. Al-Israa’ 32).
Maraknya pergaulan bebas remaja yang diawali dari pacaran menjadikan
dakwah untuk menyadarkan remaja agar menjaga pergaulannya sangat penting
untuk dilakukan. Persoalannya adalah remaja saat ini cenderung tidak minat
6 Diolah dari
http://www.kompasiana.com/rumahbelajar_persada/63-persen-remaja-di-indonesia-melakukan-seks-pra-nikah_54f91d77a33311fc078b45f4.
7 Diolah dari
http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/16/06/22/o94sk7361-astaga-remaja-surabaya-anggap-wajar-berciuman Rabu, 22 Juni 2016, 00:00 WIB Astaga, Remaja Surabaya Anggap Wajar Berciuman Red: Ilham corbis.
8 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Jakarta: Pustaka Agung Harapan, 2006),
5
mendatangi masjid atau majelis taklim yang notabenenya menjadi media untuk
dakwah pada remaja. Remaja lebih senang mengikuti kegiatan-kegiatan yang bisa
memberikan hiburan dan kesenangan pada mereka daripada mengkaji Islam.
Berdasarkan pengamatan peneliti di beberapa masjid sekitar tempat tinggal peneliti
di daerah Surabaya Barat, program-program dakwah yang diselenggarakan
masjid-masjid untuk remaja tidak banyak, diantaranya kepanitiaan hari besar, Al-Banjari,
tadarus, dan pengajian remaja. Itu pun yang berminat tidak banyak, kalaupun
awalnya yang datang banyak namun berikutnya tidak datang lagi dan makin lama
makin berkurang. Ketika peneliti menanyakan pada beberapa remaja di sekitar sana
juga banyak yang tidak berminat ikut karena kegiatannnya itu-itu saja dan
membosankan.
Begitu juga dengan kajian-kajian Islam yang peneliti amati di beberapa
sekolah maupun luar sekolah di Surabaya Barat juga terlihat tidak banyak diminati
remaja karena dipandang membosankan. Padahal di tengan budaya liberalisme dan
hedonisme yang marak di kalangan remaja, peran lembaga dakwah baik yang
berwujud masjid maupun organisasi-organisasi Islam sangat dibutuhkan untuk
memberikan pengajaran agama dan moralitas agar remaja tidak terjerumus pada
hal-hal yang merusak moral remaja, salah satunya pacaran yang mengarah pada
perzinahan. Karena itulah dibutuhkan program dakwah yang direncanakan dengan
baik agar lembaga dakwah yang ingin mendakwahi remaja bisa menjalankan misi
dakwahnya dengan baik.
Ditengah maraknya budaya pacaran remaja yang mengkhawatirkan, peneliti
6
Surabaya yang dalam mewujudkan misi dakwahnya membuat perencanaan tentang
program-program apa yang akan dibuatnya untuk mewujudkan visi pelajar tanpa
pacaran. Gerakan ini lahir sebagai bentuk keprihatinan pada nasib remaja yang
mengalami degradasi moral remaja akibat pacaran yang sudah di luar batas. Untuk
mencapai visi pelajar tanpa pacaran, Gerakan PTP membuat 16 program yang
dalam pembuatannya berdasarkan penuturan Alfian selaku founder gerakan ini,
tidak cukup satu hari bahkan satu bulan. Dalam proses perumusannya pengurus
dilibatkan untuk memberikan saran tentang konsep gerakan ini kedepannya. Tiap
anggota sebelum rapat diberikan tugas untuk menyiapkan 2-3 program untuk
dibahas dalam rapat program inti PTP.9 Saat proses penyaringan program, menurut
penuturan Ramadhani selaku Ketua Gerakan ini juga dilakukan
pertimbangan-pertimbangan hingga didapatkan kelayakan bahwa program-program ini siap
dijalankan di lapangan.
Program dakwah lewat media sosial misalnya, dilandasi atas pertimbangan
bahwa pelajar saat ini sangat update dengan media sosial sehingga menjadi lebih
efektif untuk menyampaikan gerakan PTP ini pada remaja. Dalam menjalankan
program tersebut juga dirumuskan topik yang menarik dengan desain yang menarik
pula dan pelaksanaannya ditangani oleh tim khusus yang paham akan media dan
desain, hingga saat penelitian ini dilakukan, followers akun Instagram PTP
mencapai lima ratusan dan mayoritas berasal dari kalangan remaja dari sekolah
setingkat SMP sampai SMA di Surabaya.
7
Program berikutnya, yakni aksi turun ke jalan di Taman Bungkul Surabaya
untuk menyebarkan stiker pelajar tanpa pacaran dan orasi agar pelajar menolak
pacaran juga terlihat banyak diikuti pelajar. Terlihat ratusan pelajar antusias
mengikuti aksi ini sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap nasib pelajar yang
mengalami degradasi moral akibat budaya pacaran diluar batas. Kemudian di bulan
Desember tahun lalu, sebanyak 500 pelajar dari berbagai sekolah terlihat mengikuti
salah satu program PTP yakni deklarasi dan Tabligh Akbar bertema “Pemuda
Idaman Surga”.
Respon positif terhadap program-program gerakan ini juga terlihat banyak
mengalir, mulai dari Diknas Surabaya, Wakil Walikota Surabaya Wisnu Sakti
Buana10, Komunitas Pecinta Film Islami, beberapa mahasiswi STEI Tazkia Bogor,
beberapa Guru SMA Muhammadiyah, IPM Al-Furqon, dan masih banyak lagi.11
Selain itu juga terlihat banyaknya permintaan dari daerah-daerah agar gerakan ini
disosialisasikan pada para pelajar di daerahnya. Permintaan tersebut diantaranya
dari Pontianak, Jakarta, Bandung, Medan.
Adanya antusiasme remaja tidak hanya dari Surabaya saja tapi juga daerah
lain untuk mengikuti gerakan ini, serta dukungan dari berbagai pihak menunjukkan
bahwa program Gerakan PTP ini cukup diminati kalangan remaja. Hasil yang
positif dari beberapa program yang berjalan tersebut tentu tak lepas dari
perencanaan program yang dibuat oleh Gerakan PTP ini. Karena itulah peneliti
ingin meneliti lebih dalam lagi bagaimana perencanaan program Gerakan Pelajar
10 Lihat Muhammad Alfian Hidayatullah, “Dukungan dari Wakil Walikota Surabaya Wisnu Sakti
Buana, S.T. Untuk gerakan pelajar tanpa pacaran” dalam https:// www. youtube.com /watch?v= KY2cB-P0F-Y (24 Januari 2017).
8
Tanpa Pacaran Surabaya yang kini telah merubah namanya menjadi Komunitas
Pelajar Tanpa Pacaran Surabaya.12
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat diidentifikasi beberapa
permasalahan, diantaranya :
1. Dakwah perlu direncanakan agar tujuan dakwah tercapai. Untuk mewujudkan
tujuan dakwah diperlukan program-program dakwah yang tepat.
2. Pentingnya dakwah pada remaja di tengah pengaruh hedonisme dan liberalisme
sedangkan di satu sisi minat remaja terhadap kegiatan keagamaan rendah.
3. Dibutuhkan program dakwah yang direncanakan secara tepat untuk menarik
minat remaja terhadap kegaiatan keagamaan.
4. Gerakan Pelajar Tanpa Pacaran Surabaya sebagai gerakan dakwah yang ingin
mewujudkan pelajar tanpa pacaran terlihat merencanakan programnya dengan
baik dan hasilnya diminati kalangan pelajar, terutama di Surabaya
Mengingat luasnya persoalan di atas, penelitian ini akan dibatasi pada
proses perencanaan program dakwah yang dilakukan oleh Gerakan Pelajar Tanpa
Pacaran ini. Penelitian ini akan mendeskripsikan secara jelas serangkaian langkah
yang dilakukan oleh Gerakan Pelajar Tanpa Pacaran dalam menyusun
program-programnya agar tujuan dakwah mewujudkan pelajar tanpa pacaran bisa tercapai.
12 Meskipun merubah namanya namun secara program tidak ada berubahan kecuali jika dalam
9
C. Rumusan Masalah
“Bagaimana Perencanaan Program Dakwah Gerakan Pelajar Tanpa Pacaran
Surabaya?”
D. Tujuan penelitian
Mengetahui serangkaian proses perencanaan program Gerakan Pelajar Tanpa
Pacaran Surabaya.
E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat teoritik
Adanya penelitian ini diharapkan bisa memberikan kontribusi dalam
pengembangan keilmuan manajemen dakwah spesifiknya dalam
perencanaan program dakwah pada pelajar.
2. Manfaat praktis
Penelitian ini bisa menjadi referensi bagi organisasi-organisasi dakwah
pelajar lainnya yang juga akan membuat program dakwah yang sejenis
dengan Gerakan Pelajar Tanpa Pacaran ini.
F. Kerangka Teoritik
1. Pengertian perencanaan
Perencanaan menurut Newman, dikutip oleh Manullang : “Planning is deciding in advance what is to be done.” Jadi, perencanaan adalah
penentuan terlebih dahulu apa yang akan dikerjakan.13 Sedangkan Beishline
10
menyatakan bahwa fungsi perencanaan memberi jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan tentang siapa, apa, apabila, dimana, bagaimana, dan mengapa.14
Robbins dan Coulter dikutip dari Ernie Tisnawati mendefinisikan
perencanaan sebagai sebuah proses yang dimulai dari penetapan tujuan
organisasi, menentukan strategi untuk pencapaian tujuan organisasi tersebut
secara menyeluruh, serta merumuskan sistem perencanaan yang
menyeluruh untuk mengintegrasikan dan mengoordinasikan seluruh
pekerjaan organisasi hingga tercapainya tujuan organisasi.15 Sebelum
manajer dapat mengorganisasi, mengarahkan atau mengawasi, mereka
harus membuat rencana-rencana yang memberikan tujuan dan arah
organisasi. Dalam perencanaan, manajer memutuskan “Apa yang harus dilakukan, kapan melakukannya, bagaimana melakukannya, dan siapa yang
melakukannya”. 16
Berdasarkan pendapat di atas, terlihat bahwa perencanaan adalah
gambaran tentang apa-apa yang akan dilakukan mulai dari penetapan
tujuan, strategi untuk mencapai tujuan hingga sistem perencanaan untuk
mengkordinasikan dan mengintegrasikan seluruh pekerjaan organisasi
sehingga tujuan bisa tercapai. Hal ini sekaligus menjawab juga apa saja
yang harus dilakukan, kapan, bagaimana, dan siapa yang akan
melakukannya.
2. Prasyarat perencanaan
14 Ibid., 39-40.
11
Perencanaan yang baik paling tidak memiliki berbagai persyaratan
yang harus dipenuhi, yaitu faktual atau realistis, logis dan rasional, fleksibel,
komitmen, dan komprehensif.17 Berikut penjelasannya :
“Faktual Atau Realistis.” Perencanaan yang baik perlu memenuhi persyaratan faktual atau realistis. Artinya, apa yang dirumuskan oleh
perusahaan sesuai dengan fakta dan wajar untuk dicapai dalam
kondisi tertentu yang dihadapi perusahaan.
“Logis Dan Rasional.” Perencanaan yang baik juga perlu untuk memenuhi syarat logis dan rasional. Artinya, apa yang dirumuskan
dapat diterima oleh akal, dan oleh sebab itu maka perencanaan
tersebut bisa dijalankan. Menyelesaikan sebuah bangunan
bertingkat hanya dalam waktu satu hari adalah sebuah perencanaan
yang selain Tidak realistis, sekaligus juga tidak logis dan irasional
jika dikerjakan dengan menggunakan sumber daya orang-orang
yang terbatas dan mengerjakan dengan pendekatan yang tradisional
tanpa bantuan alat-alat modern.
“Fleksibel.” Perencanaan yang baik juga tidak berarti kaku dan kurang fleksibel. Perencanaan yang baik justru diharapkan tetap
dapat beradaptasi dengan perubahan di masa yang akan datang,
sekalipun tidak berarti bahwa planning dapat kita ubah seenaknya.
“Komitmen.” Perencanaan yang baik harus merupakan dan melahirkan komitmen terhadap seluruh anggota organisasi untuk
12
bersama-sama berupaya mewujudkan tujuan organisasi. Komitmen
dapat dibangun dalam sebuah perusahaan jika seluruh anggota di
perusahaan "beranggapan bahwa perencanaan yang dirumuskan
telah sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh organisasi.
“Komprehensif.” Perencanaan yang baik juga harus memenuhi syarat komprehensif artinya menyeluruh dan mengakomodasi
aspek-aspek yang terkait langsung maupun tak langsung terhadap
perusahaan. Perencanaan yang baik tidak hanya terkait dengan
bagian yang harus kita jalankan, tetapi juga dengan
mempertimbangkan koordinasi dan integrasi dengan bagian lain di
perusahaan.” 18 3. Tahap dasar perencanaan :
a. Menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan
Perencanaan dimulai dengan keputusan-keputusan tentang kegiatan
atau kebutuhan organisasi atau kelompok kerja. Tanpa rumusan
yang jelas, organisasi akan menggunakan sumber dayanya secara
tidak efektif. 19
b. Merumuskan keadaan saat ini
Pemahaman akan posisi perusahaan sekarang dari tujuan yang
hendak dicapai atau sumber daya - sumber daya yang tersedia untuk
18 Ibid., 99.
13
pencapaian tujuan, adalah sangat penting, karena tujuan dan rencana
menyangkut waktu yang akan datang. 20
c. Mengidentifikasi segala kemudahan dan hambatan
Segala kekuatan dan kelemahan seta kemudahan dan hambatan
perlu diidentifikasikan untuk mengukur kemampuan organisasi
dalam mencapai tujuan. Oleh karena itu perlu diketahui faktor-faktor
lingkungan intern dan ekstern yang dapat membantu organisasi
mencapai tujuannya, atau yang mungkin menimbukan masalah. 21
d. Mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk
mencapai tujuan
Tahap terakhir dalam proses perencaan meliputi pengembangan
berbagai alternative kegiatan untuk pencapaian tujuan, penilaian
alternatif-alternatif tersebut dan pemilihan alternative terbaik
(paling memuaskan) diantara berbagai alternative yang ada. 22
4. Program
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, program didefinisikan
sebagai rancangan mengenai asas-asas serta usaha-usaha yang akan
dijalankan.23
Program dapat diartikan juga sebagai kegiatan yang memuat
komponen-komponen, diantaranya : tujuan, sasaran, isi dan jenis kegiatan,
20 Ibid. 21 Ibid. 22 Ibid., 79-80.
23 W.J.S Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (Jakarta: Balai Pustaka,
14
proses kegiatan, waktu, fasilitas, alat, biaya, organisasi penyelenggaraan,
dan sebagainya.24
Program adalah rangkaian dari tujuan, kebijakan, prosedur,
pembagian tugas, langkah-langkah yang harus diambil, sumber-sumber
yang harus dimanfaatkan, dan unsur-unsur yang diperlukan untuk mencapai
arah tindakan yang ditentukan. Suatu program pokok juga dimungkinkan
memiliki program-program turunan. 25
Isi dari program pada umumnya memuat berbagai hal, diantaranya :26
a. Nama program
b. Unit atau departemen yang terkait program
c. Penjelasan tentang maksud dan tujuan program
d. Sasaran-sasaran program
e. Pengorganisasian program
f. Prosedur-prosedurnya
g. Jadual kegiatan
h. Anggaran masing-masing kegiatan
i. Kewenangan pengecekan yaitu siapa yang ditunjuk untuk melakukan
pengecekan dan menandatangi berita acara
24 Lihat Suharsimi Arikunto dan Cepi Safruddin Abdul Jabar, Evaluasi Program Pendidikan
Pedoman Teoritis Praktis Bagi Mahasiswa dan Praktisi Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), 3.
25 Lihat Harold Koontz, Cyril O’Donnel, dan Heinz Weihrich, Manajemen (Jakarta : Erlangga,
1994), 132-133.
15
G. Penelitian Terdahulu
1. Perencanaan Program Kegiatan Masjid Al-Hidayah Purwosari Sinduadi
Mlati Sleman D.I Yogyakarta oleh Rahman Refki tahun 2016
Penelitian ini membahas tentang perencanaan program kegiatan Masjid
Al-Hidayah Purwosari Sleman. Subjek penelitian ini adalah ta’mir, remaja masjid dan jamaah Masjid Al Hidayah Purwosari Sinduadi Mlati Sleman
D.I. Yogyakarta. Sedangkan objek penelitian ini adalah tentang
Perencanaan Program Masjid Al-Hidayah Purwosari Sinduadi Mlati
Sleman D.I. Yogyakarta. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Masjid
ini telah melakukan tujuh perencanaan yang terdiri dari forecasting,
objektivies, policies, programming, scheduling, procedure dan budgeting.
2. Perencanaan Dakwah Masjid Jendral Sudirman Kolombo Demangan Baru
Yogyakarta (Tahun 2014-2015) oleh Al Ambari tahun 2015
Subjek penelitian ini adalah ketua takmir harian, sekretaris takmir harian,
bendahara harian takmir dan seksi dakwah dan pendidikan takmir masjid
jendral sudirman yogyakarta. Sedangkan objek penelitian ini adalah
perencanaan dakwah di Masjid Jendral Sudirman Kolombo Demangan Baru
Yogyakarta. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa seluruh kegiatan
dakwah di Masjid ini sudah melalui mekanisme langkah-langkah
perencanaan dakwah yang meliputi perkiraan dan perhitungan masa depan,
penentuan dan perumusan sasaran dalam rangka pencapaian tujuan dakwah,
16
penetapan metode dakwah, penetapan dan penjadwalan waktu, penetapan
lokasi, dan penetapan biaya.
3. Pengelolaan Dakwah Di Masjid Al Ikhlas PT Phapros Semarang oleh
Suhono tahun 2015
Subjek penelitian ini adalah pimpinan-pimpinan masjid Al Ikhlas PT
Phapros Semarang. Sedangkan objek penelitiannya adalah Pengelolaan
Dakwah Di Masjid Al Ikhlas PT Phapros Semarang. Hasil penelitian
tersebut menunjukkan bahwa Masjid al-Ikhlas melakukan fungsi
pengelolaan kegiatan dakwah meliputi empat tahap, yaitu: (1) Planning
(perencanaan), (2) Organizing (pengorganisasian), (3) Actuating
(pelaksanaan), dan (4) Controlling (pengawasan) dengan menerapkan
rincian prinsip - prinsip keempat tahap tersebut.
Tabel 1.1 Perbandingan dengan Penelitian Terdahulu
19
H. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jika dilihat dari teknik pengumpulan data dan analisis datanya, penelitian
ini menggunakan teknik pengumpulan data kualitatif. Karena hasil yang
diharapkan dari penelitian ini akan diberupakan dalam bentuk data berupa
gambar dan kata-kata baik secara verbal maupun non verbal dan bukan data
angka sehingga tidak menggukan prosedur statistik. Hal ini sesuai dengan
pengertian penelitian kualitatif yang disampaikan Koentjoroningrat dalam
kutipan HB. Sutopo bahwa Penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian
yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari
orang-orang dan perilaku yang dapat diamati dalam lingkup tertentu. Data
deskriptif merupakan data berupa gambar, kata-kata baik secara verbal
maupun non verbal dan bukan data angka.27 Dalam penelitian ini akan
dideskripsikan bagaimana perencanaan Gerakan Pelajar Tanpa Pacaran di
Surabaya yang dipelopori oleh beberapa anggota Da’i Berkemajuan dan
pelajar.
2. Subjek dan objek penelitian
Subjek penelitan ini adalah pengurus gerakan PTP Surabaya. Sedangkan
objek penelitiannya adalah perencanaan program gerakan PTP ini.
3. Lokasi Penelitian
27 Lihat H.B. Sutopo, Pengantar Penelitian Kualitatif: dasar-dasar teroritis dan praktis (Surakarta:
20
Penelitian ini akan dilakukan di sekretariat Gerakan PTP di Gedung
Dakwah Muhammadiyah, Jalan Sutorejo No. 73-77 dan SMA
Muhammadiyah 1 Surabaya tempat dimana ketua dan founder Gerakan PTP
berdomisili.
4. Sumber dan Teknik Pengumpulan Data
Sumber data dalam penelitian terbagi atas dua antara lain : sumber
data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer menurut
Loftland dan Loftland berasalkan dari kata-kata dan tindakan. Sedangkan
sumber data sekunder berasalkan dari dokumen dan lain – lain.28
Sumber data primer dalam penelitian ini adalah para penggagas
gerakan PTP dan pengurus gerakan PTP mengikuti bagaimana proses
perencanaan program PTP, diantaranya :
a. Founder Gerakan PTP, M. Alfian Hidayatullah
b. Ketua Gerakan PTP, Ramadhanai Jaka Samudra
c. Anggota Tim Syiar, diantaranyaa Ricky dan Walidah
d. Anggota Tim Konseling, Arika
Sedangkan untuk sumber data sekundernya adalah dokumen dan
gambar baik yang berasal dari arsip gerakan PTP, media sosial diantaranya
: instagram, youtube, facebook, maupun website yang memuat berita
tentang gerakan ini.
28 Lexy Z Moleong, Metode Penelitian Kualitatif Edisi Revisi (Bangdung: PT Remaja Rosdakarya,
21
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
diantaranya :
a. Wawancara semi terstruktur
Jenis wawancara ini sudah termasuk dalam kategori in-depth interview
dimana dalam pelaksanaannya lebih bebas bila dibandingkan dengan
wawancara terstruktur. Tujuan dari wawancara jenis ini adalah untuk
menemuan permasalahan lebih terbuka, dimana pihak yang
diwawancarai dimintai pendapat, dan ide-idenya. 29
b. Dokumentasi
Studi Dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data yang tidak
ditujukan langsung kepada subyek penelitian. Dokumen yang diteliti
dapat berbagai macam, tidak hanya dokumen resmi, bisa berupa buku
harian, surat pribadi, laporan, notulen rapat, catatan khusus (case
records) dalam pekerjaan social, dan dokumen lainnya. Menurut
Soegiyono, studi dokumentasi merupakan pelengkap dari penggunaan
metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Bahkan
kredibilitas hasil penelitian ini akan semakin tinggi jika
melibatkan/menggunakan studi dokumentasi dalam metode penelitian
kualitatif.30 Dalam penelitian ini dokumentasi akan dihimpun dari
arsip gerakan PTP maupun postingan foto, gambar, maupun tulisan
yang dipublish di akun sosial media gerakan PTP ini.
29 Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif (Bandung: Alfabeta, 2014),73.
22
Tabel 1.2 Instrumen Wawancara, Sumber Data, dan Teknik Pengumpulan Data
Instrumen Wawancara Sumber data Teknik pengumpulan data
1. Bagaimana sejarah
terbentuknya gerakan
PTP?
Pengurus PTP Wawancara semi
terstruktur
Pengurus PTP Wawancara semi
terstruktur
4. Hal-hal apa saja yang
menjadi pertimbangan
dalam perumusan
program-program
tersebut?
Pengurus PTP Wawancara semi
terstruktur
5. Kondisi apa saja yang
dianggap sebagai
kemudahan dan
hambatan saat
merumuskan
program-program tersebut?
Pengurus PTP Wawancara semi
23
a. Maksud dan tujuan
program
b. Sasaran-sasaran
program
c. Proses kegiatan
d. Departemen yang
terkait program
e. Waktu pelaksanaan
f. Pengorganisasian
program
g. Penanggung jawab
kegiatan
h. Anggaran kegiatan
dimuat di media
online
5. Uji Keabsahan Data
Pengujian keabsahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah
teknik triangulasi. Norman K. Denkin mendefinisikan triangulasi digunakan
sebagai gabungan atau kombinasi berbagai metode yang dipakai untuk
mengkaji fenomena yang saling terkait dari sudut pandang dan perspektif yang
berbeda. Untuk kepentingan analisa keabsahan data ini peneliti menggunakan
metode triangulasi teknik dan sumber.
Dalam melakukan triangulasi sumber peneliti akan mengumpulkan
data dari beberapa sumber dengan melakukan wawancara mendalam kemudian
melakukan uji konsistensinya. Sedangkan dalam melakukan triangulasi teknik
peneliti akan mengumpulkan dari dari wawancara dan dokumentasi untuk
24
6. Teknik Analisa Data
Analisis data dalam penelitian kualitatif, dilakukan pada saat
pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data
dalam periode tertentu.31 Miles and Huberman, dalam Sugiyono
mengemukakan bahwa analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif
dan berlangsung terus menerus sampai tuntas hingga datanya sudah jenuh.
Aktivitas analisis data terdiri atas data reduction, data display, dan
conclusion drawing/verification.
Dalam proses reduksi data peneliti akan memilah data-data yang
pokok dan memfokuskan pada hal-hal penting yang peneliti cari terkait
dengan perencanaan program gerakan PTP. Setelah data direduksi, langkah
berikutnya yang peneliti lakukan adalah mendisplaykan data dalam bentuk
uraian data yang bersifat naratif berdasarkan proses perumusan perencanaan
yang dibuat oleh gerakan PTP. Langkah terakhir yakni penarikan
kesimpulan dan verifikasi. Sebelum melakukan penarikan kesimpulan akan
peneliti verifikasi kembali data-data yang sudah terkumpul terkait dengan
perencanaan program gerakan PTP ini, jika dirasa masih ada data yang
belum kredibel akan dilakukan pengumpulan data kembali ke lapangan
hingga benar-benar dihasilkan data yang valid dan bisa ditarik kesimpulan
bagaimana sesungguhnya perencanaan program yang dilakukan oleh
gerakan PTP ini.
25
I. Sistematika Pembahasan
1. Bab I : Latar Belakang Masalah, Identifikasi Masalah, Rumusan
Masalah, Tujuan Penelitian, dan Manfaat Penelitian dan penelitian
terdahulu.
2. Bab II : Tinjauan Pustaka
Berisikan tentang pengertian perencanaan, prasyarat perencanaan,
bentuk-bentuk perencanaan, tahap dasar perencanaan, proses
perencanaan, program, dan organisasi dakwah.
3. Bab III : Gambaran Umum Penelitian
Berisikan tentang profil Gerakan PTP
4. Bab IV : Data dan Analisa terkait perencanaan program Gerakan Pelajar
Surabaya
5. Bab V : Kesimpulan dan Saran terkait perencanaan program Gerakan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Perencanaan
Perencanaan menurut Newman, dikutip oleh Manullang : “Planning is deciding in advance what is to be done.” Jadi, perencanaan adalah penentuan
terlebih dahulu apa yang akan dikerjakan.32 Sedangkan Beishline menyatakan
bahwa fungsi perencanaan memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan
tentang siapa, apa, apabila, dimana, bagaimana, dan mengapa.33
Robbins dan Coulter dikutip dari Ernie Tisnawati mendefinisikan
perencanaan sebagai sebuah proses yang dimulai dari penetapan tujuan
organisasi, menentukan strategi untuk pencapaian tujuan organisasi tersebut
secara menyeluruh, serta merumuskan sistem perencanaan yang menyeluruh
untuk mengintegrasikan dan mengoordinasikan seluruh pekerjaan organisasi
hingga tercapainya tujuan organisasi.34 Sebelum manajer dapat mengorganisasi,
mengarahkan atau mengawasi, mereka harus membuat rencana-rencana yang
memberikan tujuan dan arah organisasi. Dalam perencanaan, manajer
memutuskan “apa yang harus dilakukan, kapan melakukannya, bagaimana
melakukannya, dan siapa yang melakukannya.” 35
32 Manullang, Dasar-dasar Manajemen, 39. 33 Ibid., 39-40.
27
Berdasarkan pendapat di atas, terlihat bahwa perencanaan adalah
gambaran tentang apa-apa yang akan dilakukan mulai dari penetapan tujuan,
strategi untuk mencapai tujuan hingga sistem perencanaan untuk
mengkordinasikan dan mengintegrasikan seluruh pekerjaan organisasi
sehingga tujuan bisa tercapai. Hal ini sekaligus menjawab juga apa saja yang
harus dilakukan, kapan, bagaimana, dan siapa yang akan melakukannya.
B. Prasyarat Perencanaan
Perencanaan yang baik paling tidak memiliki berbagai persyaratan
yang harus dipenuhi, yaitu faktual atau realistis, logis dan rasional, fleksibel,
komitmen, dan komprehensif.36 Berikut penjelasannya:
“Faktual Atau Realistis.” Perencanaan yang baik perlu memenuhi
persyaratan faktual atau realistis. Artinya, apa yang dirumuskan oleh perusahaan sesuai dengan fakta dan wajar untuk dicapai dalam kondisi tertentu yang dihadapi perusahaan.
“Logis Dan Rasional.” Perencanaan yang baik juga perlu untuk
memenuhi syarat logis dan rasional. Artinya, apa yang dirumuskan dapat diterima oleh akal, dan oleh sebab itu maka perencanaan tersebut bisa dijalankan. Menyelesaikan sebuah bangunan bertingkat hanya dalam waktu satu hari adalah sebuah perencanaan yang selain Tidak realistis, sekaligus juga tidak logis dan irasional jika dikerjakan dengan menggunakan sumber daya orang-orang yang terbatas dan mengerjakan dengan pendekatan yang tradisional tanpa bantuan alat-alat modern.
“Fleksibel.” Perencanaan yang baik juga tidak berarti kaku dan
kurang fleksibel. Perencanaan yang baik justru diharapkan tetap dapat beradaptasi dengan perubahan di masa yang akan datang, sekalipun tidak berarti bahwa planning dapat kita ubah seenaknya.
“Komitmen.” Perencanaan yang baik harus merupakan dan
melahirkan komitmen terhadap seluruh anggota organisasi untuk bersama-sama berupaya mewujudkan tujuan organisasi. Komitmen dapat dibangun dalam sebuah perusahaan jika seluruh anggota di perusahaan "beranggapan bahwa perencanaan yang dirumuskan telah sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh organisasi.
28
“Komprehensif.” Perencanaan yang baik juga harus memenuhi
syarat komprehensif artinya menyeluruh dan mengakomodasi aspek-aspek yang terkait langsung maupun tak langsung terhadap perusahaan. Perencanaan yang baik tidak hanya terkait dengan
bagian yang harus kita jalankan, tetapi juga dengan
mempertimbangkan koordinasi dan integrasi dengan bagian lain di
perusahaan.” 37
C. Bentuk – bentuk Perencanaan
Berdasarkan luas cakupan masalah dan jangkauan waktunya perencanaan
dapat dibedakan menjadi tiga macam bentuk:
1. Rencana Global
Rencana global ini merupakan penentuan tujuan yang menyeluruh atau
keseluruhan dan yang menyangkut jangka panjang dari organisasi
tersebut sebagai keseluruhan atau totalitas.38
Perencanaan global dalam suatu perusahaan biasa diistilahkan dengan
Corporate Plan. Di dalam Corporate Plan ini diuraikan tujuan pokok
yang akan dicapai perusahaan serta sasaran-sasaran jangka panjang
yang akan dicapai sebagai misi yang dibawa perusahaan.
Analisis penyusunan Corporate Plan sering dinamakan analisis
“SWOT” yang berasal dari singkatan:39
a. Strength, yaitu kekuatan-kekuatan yang dimiliki.
b. Weaknesses, yaitu kelemahan-kelemahan yang ada.
c. Opportunity, atau kesempatan-kesempatan yang terbuka.
37 Ibid., 99.
29
d. Treath atau tekanan-tekanan yang dihadapi perusahaan.
2. Rencana Strategis
Rencana ini disusun untuk menentukan tujuan-tujuan kegiatan yang
mempunyai arti strategis dan berdimensi jangka panjang. Arti strategis
dalam penyusunan rencana ini adalah untuk menyusun dan memilih
urutan bidang mana yang akan dicapai terlebih dahulu dan
berikut-berikutnya. Untuk menyusun rencana strategis kita harus mengetahui
keadaan saat ini dan dihubungkan dengan perkembangan masa depan
yang paling mungkin terjadi dan bagaimana usaha kita untuk merubah
keadaan sesuai tujuan yang dikehendaki. Dipandang dari dimensi
waktunya perencanaan strategis merupakan perencanaan jangka
panjang dan biasanya dibuat oleh tingkatan manajemen atas.
Perencanaan strategis menyangkut keputusan tujuan apa yang ingin
dicapai oleh perusahaan secara keseluruhan, dan alat apa yang
digunakan untuk mencapai tujuan tersebut.40
3. Rencana Operasional
Rencana operasional meliputi perencanaan terhadap kegiatan kegiatan
operasional yang berjangka pendek guna menopang pencapaian tujuan
jangka panjang baik dalam perencanaan global maupun perencanaan
strategis.41 Perencanaan ini biasa disebut dengan perencanaan taktis.
30
D. Tahap Dasar Perencanaan
1. Menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan
Perencanaan dimulai dengan keputusan-keputusan tentang kegiatan
atau kebutuhan organisasi atau kelompok kerja. Tanpa rumusan yang jelas,
organisasi akan menggunakan sumber dayanya secara tidak efektif. 42
Tujuan adalah keadaan masa depan yang diinginkan yang ingin
direalisasikan organisasi. Tujuan adalah penting karena organisasi ada
untuk suatu alasan, dan tujuan mendefinisikan dan menegaskan
tujuan alasan tersebut. Rencana adalah cetak biru untuk pencapaian tujuan
dan menentukan alokasi sumber daya yang diperlukan, jadwal,
tugas, dan tindakan lainnya. Tujuan menentukan tujuan masa depan;
rencana menentukan cara hari ini. Konsep perencanaan biasanya
menggabungkan kedua gagasan tersebut; artinya menentukan tujuan
organisasi dan menetukan untuk mencapainyanya.43
Dari segi keluasan dan waktu pencapaian, tujuan juga dapat
dibedakan menjadi tiga, yaitu tujuan strategis (strategic goals), tujuan taktis
(tactical goals), dan tujuan operasional (operational goals ).44
Tujuan strategis adalah tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan
dalam jangka waktu yang relatif lama, biasanya antara 3 hingga 5 tahun,
atau juga lebih dan dalam pencapaiannya membutuhkan waktu yang relatif
lama.
42 Hani Handoko, Manajemen, 79.
43 Diterjemahkan dari Richard L. Dhaft, Management, Ninth Edition, (Mason : South-Western
Cengage Learning, 2010),160.
31
Tujuan taktis adalah tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan
dalam jangka waktu menengah, relatif lebih singkat dari tujuan strategis.45
Dalam pencapaiannya membutuhkan waktu antara 1-3 tahun. Tujuan ini
merupakan tujuan turunan dari tujuan strategis, artinya tujuan strategis akan
tercapai jika tujuan taktis tercapai.
Tujuan operasional adalah tujuan yang ingin dicapai dalam satu
periode kegiatan perusahaan, biasanya antara 6 bulan hingga 1 tahun.
Kadangkala juga dapat hingga mencapai 2 tahun. Tujuan operasional ini,
dalam evaluasinya terkait dengan masa pelaporan keuangan perusahaan
yang biasanya juga antara 6 bulan hingga 1 tahun.46
2. Merumuskan keadaan saat ini
Pemahaman akan posisi perusahaan sekarang dari tujuan yang
hendak dicapai atau sumber daya-sumber daya yang tersedia untuk
pencapaian tujuan, adalah sangat penting, karena tujuan dan rencana
menyangkut waktu yang akan datang.47 Setelah keadaan ini dianalisa
barulah rencana dapat dirumuskan untuk menggambarkan rencana lebih
lanjutnya. Untuk mendapatkan keadaan saat ini diperlukan informasi
tentang keuangan dan data statistik perusahaan yang didapatkan melalui
komunikasi dalam organisasi.
45 Ibid. 46 Ibid.
32
3. Mengidentifikasi segala kemudahan dan hambatan
Segala kekuatan dan kelemahan serta kemudahan dan hambatan
perlu diidentifikasikan untuk mengukur kemampuan organisasi dalam
mencapai tujuan. Oleh karena itu perlu diketahui faktor-faktor lingkungan
intern dan ekstern yang dapat membantu organisasi mencapai tujuannya,
atau yang mungkin menimbukan masalah. 48
4. Mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk mencapai
tujuan
Tahap terakhir dalam proses perencaan meliputi pengembangan
berbagai alternative kegiatan untuk pencapaian tujuan, penilaian
alternatif-alternatif tersebut dan pemilihan alternatif terbaik (paling
memuaskan) diantara berbagai alternatif yang ada. 49
E. Proses Perencanaan
Proses perencanaan adalah suatu proses tentang bagaimana suatu
kegiatan itu kita rencanakan.50 Ada tiga pendekatan dalam proses perencanaan
yaitu:
1. Pendekatan perkembangan yang menguntungan.
2. Pendekatan SWOT.
3. Pendekatan portofolio dan kesenjangan perencanaan.
Proses perencanaan dengan pendekatan perkembangan yang
menguntungkan dilakukan dengan cara menganalisis sarana produksi yang
33
dimiliki dan dihubungkan dengan kebutuhan yang muncul dari lingkungan
masyarakat. Dari situ kita bisa mengetahui kemungkinan-kemungkinan untuk
memanfaatkan sarana yang dimiliki dengan kebutuhan tersebut dan
mengusahakan keseimbangan antara saran yang dimiliki dan kebutuhan
lingkungan masyarakat. Apabila terjadi perkembangan terus-menerus yang
menjadikan keadaan bergeser dan menimbulkan ketidakseimbangan maka kita
harus mencari jalan agar selalu terjadi keseimbangan karena kondisi itulah
yang akan menguntungkan perusahaan.51
Proses perencanaan dengan pendekatan SWOT dilakukan dengan
mempertimbangkan dan menganalisa faktor-faktor ekstern maupun intern.
Lingkungan organisasi eksternal mencakup semua elemen yang ada di luar
batas organisasi yang memiliki potensi untuk mempengaruhi organisasi,
meliputi pesaing, sumber daya, teknologi, dan kondisi ekonomi yang
memengaruhi organisasi. Dalam hal ini tidak termasuk kejadian-kejadian yang
begitu jauh dari organisasi yang dampaknya tidak dirasakan oleh organisasi.
Sedangkan lingkungan internal meliputi hal-hal yang mencakup unsur-unsur
dalam batas-batas organisasi.
34
Gambar 2.1 Lingkungan Organisasi52
Lingkungan eksternal organisasi dapat dikonseptualisasikan lebih jauh
dengan memiliki dua lapisan, yakni lingkungan umum dan lingkungan tugas
sebagaimana yang tampak pada Gambar 2.1.
Lingkungan umum adalah lapisan luar yang tersebar luas dan
memengaruhi organisasi secara tidak langsung. Diantaranya mencakup sosial,
ekonomi, hukum / politik, internasional, alam, dan faktor teknologi yang
mempengaruhi semua organisasi secara sama. Dimensi internasional
merupakan bagian dari lingkungan eksternal yang merepresentasikan
kejadian-kejadian yang berasal dari luar negeri yang bisa menjadi peluang bagi
organisasi untuk mendirikan perusahaannya di luar negeri. Dimensi teknologi
52 Diambil dari Richard L Dhaft, Management, Ninth Edition, (Mason : South-Western Cengage
35
adalah dimensi umum yang meliputi ilmu pengetahuan dan kemajuan
teknologi dalam industri dan masyarakat luas. Dimensi sosiokultural adalah
dimensi umum yang mewakili karakteristik demografi, norma, adat istiadat,
dan nilai masyarakat dimana organisasi beroperasi. Dimensi ekonomi
mewakili kesehatan ekonomi negara atau wilayah dimana organisasi
beroperasi. Dimensi hukum atau politik mencakup peraturan pemerintah
federal, negara bagian, dan pemerintah daerah dan kegiatan politik yang
didesain untuk mempengaruhi perilaku perusahaan. Dimensi alam adalah
dimensi yang mencakup semua elemen yang terjadi secara alami di bumi,
termasuk didalamnya tanaman, hewan, batu, sumber daya seperti udara, air,
dan iklim.
Lingkungan tugas merupakan lingkungan yang lebih dekat dengan
organisasi dan termasuk sektor yang melakukan transaksi sehari-hari dengan
organisasi dan secara langsung berpengaruh terhadap operasi dan kinerja
organisasi. Diantaranya yang termasuk lingkungan ini adalah pesaing,
pemasok, pelanggan, dan pasar tenaga kerja. Pelanggan adalah orang yang
mendapatkan barang atau jasa dari organisasi. Pesaing adalah organisasi lain
yang memiliki industri sama atau jenis usaha yang sama yang disedikan untuk
pelanggan. Pemasok adalah orang atau organisasi yang menyediakan barang
mentah yang diperlukan organisasi untuk menghasilkan output produksinya.
Pasar tenaga kerja adalah masyarakat yang tersedia untuk disewa organisasi.
Lingkungan internal organisasi diantaranya adalah karyawan saat ini,
36
di lingkungan internal organisasi dan seberapa baik organisasi akan
beradaptasi dengan lingkungan eksternal.
Setelah melakukan identifikasi terhadap faktor-faktor internal dan
eksternal, berikutnya adalah melakukan analisis terhadap faktor-faktor
tersebut. Analisa faktor-faktor haruslah dapat menghasilkan adanya kekuatan
(strength) yang dimilliki oleh suatu organisasi, serta dapat mengetahui
kelemahan yang terdapat pada organisasi itu (weaknesses). Sedangkan analisa
terhadap faktor ekstern harus dapat mengetahui opportunity atau kesempatan
yang terbuka bagi organisasi serta dapat mengetahui pula tekanan yang dialami
oleh organisasi yang bersangkutan (treath). Setelah diketahui kekuatan,
kelemahan, kesempatan serta tekanan-tekanan yang dihadapi maka kita bisa
menyusun rencana strategis untuk mencapai tujuan organisasi. Rencana
strategis tersebut kemudian diterjemahkan dalam rencana operasional yang
mencantumkan adanya target-target yang akan dicapai dan kemudian
diterjemahkan menjadi anggaran operasional. 53
Proses perencanaan dengan pendekatan portofolio dan kesenjangan
perencanaan dilakukan pada konteks perusahaan dengan berbagai jenis usaha
dan produk. Kondisi itu akan menimbulkan adanya perbedaan-perbedaan
dalam masa umur (siklus) kehidupan produk yang diusahakannya. Analisa
portofolio produk dapat digambarkan sebagai berikut:
37
Gambar 2.2 Analisis Portofolio Produk54
Pada kuadran ke-I disebut bintang (star) melambangkan produk yang
sedang mengalami masa kejayaann di mana produk itu memiliki potensi pasar
yang tinggi dengan kemampuan perusahaan yang tinggi pula dalam
mengusahakan atau mengeksploitasikan kesempatan pasar tersebut.55
Pada kuadran ke-II yang disebut tanda tanya (Question mark)
melambangkan suatu produk yang penuh tantangan untuk dikembangkan di
mana potensi pasar cukup tinggi akan tetapi perusahaan belum mampu untuk
mengeksploatasikannya. Produk ini sering juga disebut dalam keadaan
perscalan anak-anak (problem children).56
Kuadran ke-III disebut sapi perah (cash cow). Produk ini merupakan
sumber pemasukan uang yang cukup besar bagi perusahaan. Hal ini
54 Indriyo Gitosudarmo, Prinsip Dasar Manajemen (Yogyakarta : BPFE Yogyakarta, 1990), 127. 55 Ibid.
38
disebabkan karena perusahaan telah mampu menguasai pasar dengan baik
sehingga dapat mengalahkan pesaing-pesaingnya.57
Kuadran ke-IV disebut anjing (dog), tau lebih tepat apabila disebut
"under dog" yaitu produk yang belum punya reputasi apa-apa di mana potensi
pasamya rendah sedangkan kemampuan perusahaan untuk mengusahakannya
juga rendah.58
Dari analisa Portofolio Produk itulah kemudian maka berkembang suatu
proses perencanaan yang disebut dengan Kesenjangan Perencanaan atau
Planning Gap. Perencanaan ini yang pada hakekatnya adalah merupakan
perencanaan strategis jangka panjang dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar 2.3 Analisis Kesenjangan Perencanaan59
57 Ibid. 58 Ibid.
39
Planning Gap adalah potensi-potensi baru yang mungkin diusahakan,
dikembangkan, dan dieksploitasikan. Potensi baru tersebut dimulai dari yang
paling mudah dan sederhana yaitu mengembangkan pasar baru. Berikutnya
yang lebih sulit dan megandung resiko adalah mengembangkan produk baru
karena upaya ini memerlukan pemikiran dan pembahasan yang lebih
terperinci. Sedangkan strategi yang paling sulit adalah mencari bentuk-bentuk
usaha baru yang sama sekali berbeda dari usaha yang dilakukan sebelumnya.60
F. Program
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, program didefinisikan
sebagai rancangan mengenai asas – asas serta usaha – usaha yang akan dijalankan.61 Program adalah rangkaian dari tujuan, kebijakan, prosedur,
pembagian tugas, langkah-langkah yang harus diambil, sumber-sumber yang
harus dimanfaatkan, dan unsur-unsur yang diperlukan untuk mencapai arah
tindakan yang ditentukan. Suatu program pokok juga dimungkinkan memiliki
program-program turunan.62 Isi dari program pada umumnya memuat berbagai
hal, diantaranya: 63
1. Nama program
2. Unit atau departemen yang terkait program
3. Penjelasan tentang maksud dan tujuan program
4. Sasaran-sasaran program
60 Lihat Indriyo Gitosudarmo, 129-130.
61 W.J.S Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, (Jakarta : Balai Pustaka,
2007), 911.
62 Lihat Harold Koontz, Cyril O’Donnel, dan Heinz Weihrich, Manajemen (Jakarta : Erlangga,
1994), 132-133.
40
5. Pengorganisasian program
6. Prosedur-prosedurnya
7. Jadual kegiatan
8. Anggaran masing-masing kegiatan
9. Kewenangan pengecekan yaitu siapa yang ditunjuk untuk melakukan
pengecekan dan menandatangi berita acara
G. Organisasi Dakwah
1. Pengertian organisasi dakwah
Menurut Edgar H. Schein dalam Sutarto, organisasi adalah: “An Organization is the rational coordination of the activities of a number of
people for the achievement of some common explicit purpose or goa, through
division of labour and function, and through a hierarchy of authority and
responsibility.”64
Sedangkan menurut Richard A. Jhonson, dkk dalam Sutarto, Organisasi
adalah : ”The Organization is an assemble of people, materials, machines, and other resources geared to task accomplishment through a series of interaction
and integrated into a social system.”65
Dua pendapat di atas menunjukkan bahwa organisasi adalah kordinasi
rasional dari aktivitas-aktivitas sejumlah orang untuk mencapai tujuan bersama
melalui pembagian kerja yang jelas dan jenjang wewenang dan tanggung
64 Edgar Schein, dalam Sutarto, Dasar-dasar Organisasi (Yogyakarta: Gajah Mada University
Press, 1993), 35.
65 Richard A. Johnson, dkk dalam Sutarto, Dasar-dasar Organisasi (Yogyakarta: Gajah Mada
41
jawab. Didalam sebuah organisasi juga terdapat barang, mesin, dan
sumber-sumber lain yang menghubungkan penyempurnaan tugas organisasi dalam
mewujudkan perwujudan tujuan bersama.
Dakwah secara etimologis (kebahasaan) merupakan bentuk mashdar
(verbal noun) berasal dari kata kerja da'a (madli pasttense), yad'u (mudlari',
presenttense), da'watan (mashdar, verbalnoun) yang berarti memanggil,
mengundang, mengajak, menyeru dan mendorong (to call, to invite, to
summon, to propagate and to urge).66
Secara terminologis (istilah) dakwah berarti mengajak dan menyeru
umat manusia baik perorangan maupun kelompok kepada agama Islam,
pedoman hidup yang diridlai oleh Allah dalam bentuk amar ma'ruf, nahi
mungkar dan amal sholeh dengan cara lisan (lisanul maqal) maupun perbuatan
(lisanul hal) guna mencapai kebahagiaan hidup kini di dunia dan nanti di
akhirat. 67
Dari pendekatan kebahasaan dan istilah tersebut bisa diambil
kesimpulan bahwa tujuan dakwah adalah untuk mengajak perorangan maupun
kelompok pada ajaran Islam sehingga bisa mendapatkan kebahagiaan hidup di
dunia dan akherat.
Organisasi dakwah berarti kordinasi rasional dari aktivitas-aktivitas
sejumlah orang untuk mencapai tujuan dakwah mengajak perorangan maupun
42
kelompok pada ajaran Islam melalui pembagian kerja yang jelas dan jenjang
wewenang dan tanggung jawab.
2. Unsur organisasi dakwah
Menurut Muhtarom, unsur-unsur organisasi dakwah diantaranya
sebagai berikut:
a. Terdapat sejumlah orang untuk melakukan kegiatan dakwah.
b. Ada kehendak saling bekerjasama melakukan amar ma'ruf,
nahi mungkar dan amal sholeh.
c. Pembagian pekerjaan berdasarkan kemampuan dan keahlian
menurut ketentuan yang disepakati.
d. Terdapat tujuan bersama yang ingin dicapai, yaitu terwujudnya umat
yang baik, sejahtera dan bahagia.
e. Kadar umat yang disebut baik adalah berdasarkan nilai-nilai dan ajaran
Islam.
f. Arah yang dituju setiap usaha adalah aktualisasi nilai dan
ajaran Islam.
g. Tujuan mudah dipahami oleh semua pihak didalam dan
diluar organisasi.
Sedangkan jika unsur organisasi dilihat secara lengkap terdiri dari Man
(orang-orang), kerjasama, tujuan bersama, peralatan, lingkungan, kekayaan
alam, dan kerangka atau konstruksi mental organisasi.68
68 Lihat Ig. Wursanto dalam Dasar-dasar Ilmu Organisasi (Yogyakarta : Penerbit Andi, 2002),
43
Man (orang-orang) adalah seluruh anggota atau warga organisasi yang
menurut tingkatannya terdiri dari unsur pimpinan tertinggi organisasi
(administrator), manager yang memimpin satuan kerja sesuai fungsinya
masing-masing, dan pekerja. Administrator dan para manajer merupakan unsur
pimpinan yang diserahi tugas untuk mengelola, menjalankan dan
menggerakkan organisasi guna mencapai tujuan yang ditetapkan.69
Kerjasama adalah perbuatan bantu-membantu untuk mencapai tujuan
bersama organisasi. Tujuan bersama ini menggambarkan apa yang atentang
apa yang akan dicapai dan merupakan titik akhir tentang apa yang harus
dikerjakan. Tujuan juga menggambarkan tentang apa yang harus dicapai
melalui prosedur, program, pola, kebijaksanaa, strategi, anggaran, dan
peraturan-peraturan yang telah ditetapkan.70
Unsur keempat, peralatan dari organisasi adalah peralatan yang terdiri
atas semua sarana/ tool, berupa materi, mesin-mesin, uang, dan barag modal
lainnya (tanah/gedung/bangunan/kantor).
Berikutnya adalah unsur lingkungan. Yang termasuk dalam unsur ini
diantaranya adalah:71
a. Kondisi yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh
pada daya gerak dan kehidupan organisasi.
b. Tempat atau lokasi, erat kaitannya dengan komunikasi dan
transportasi yang dilakukan organisasi.
44
c. Wilayah operasi yang dijadikan sasaran kegiatan organisasi. Wilayah
operasi dibedakan menjadi:
i. Wilayah kegiatan, menyangkut jenis kegiatan apa yang boleh
dilakukan sesuai dengan tujuan organisasi.
ii. Wilayah jangkauan, wilayah teritorial dimana organisasi
beroperasi.
iii. Wilayah personil, menyangkut pihak baik orang maupun
lembaga yang mempunyai hubungan dan kepentingan dengan
orgaisasi.
iv. Wilayah kewenangan atau kekuasaan, menyangkut semua
persoalan, kewajiban, tugas, tanggung jawab dan kebijaksanaan
yang harus dilakukan dalam batas-batas tertentu yang tidak
boleh dilampaui sesuai dengan aturan main yang ditetapkan dan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Unsur kelima yakni kekayaan alam, misalnya keadaan iklim, udara,
cuaca (geografi, hidrologi, geologi, klimatologi), flora dan fauna. Unsur
terakhir yakni kerangka atau konstruksi mental organisasi yang berisikan
prinsip-prinsip organisasi, diantaranya:
a. Pembagian tugas
b. Pendelegasian wewenang
c. Disiplin
45
e. Kesatuan arah
f. Rentang pengawasan
g. Koordinasi
h. Jenjang organisasi
i. Sentralisasi
j. Inisiatif, dan