• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perencanaan program dakwah Gerakan Pelajar Tanpa Pacaran Surabaya.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Perencanaan program dakwah Gerakan Pelajar Tanpa Pacaran Surabaya."

Copied!
142
0
0

Teks penuh

(1)

PERENCANAAN PROGRAM DAKWAH GERAKAN

PELAJAR TANPA PACARAN SURABAYA

TESIS

Diajukan untuk Memenuhi Sebagai Syarat

Memperoleh Gelar Magister dalam Program Studi Dirasah Islamiyah

Oleh Ani Rufaidah NIM. F12915284

PASCASARJANA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA

▸ Baca selengkapnya: melakukan gerakan beregu membutuhkan

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

ABSTRAK

Dakwah dilakukan dengan tujuan mengajak atau menyeru umat manusia yang belum mengenal ajaran Islam agar mengikuti syariat-Nya dan menjauhi larangan-Nya atau menyempurnakan keimanan mereka yang telah beriman pada Allah sehingga bisa mendapatkan kehidupan yang bahagia baik di dunia maupun akhirat. Dalam mencapai tujuan dakwah, sebuah lembaga atau organisasi dakwah memerlukan serangkaian program atau kegiatan untuk mengantarkan organisasi mewujudkan tujuannya. Tanpa perencanaan yang jelas program dakwah menjadi tidak terarah sehingga berefek pada pelaksanaannya akan melenceng juga dari visi atau tujuan organisasi yang dibuat. Di tengah maraknya persoalan pacaran yang

kelewat batas dan mengarah pada zina yang dilarang oleh syari’at Islam, muncullah

gerakan Pelajar Tanpa Pacaran yang dipelopori oleh para pelajar dari komunitas

Da’i Berkemajuan yang berada dalam naungan Ikatan Pelajar Muhammadiyah.

Dalam menjalankan serangkaian kegiatannya, gerakan ini terlihat merencanakan betul program-program yang akan dijadikan panduan mewujudkan visi terwujudnya pelajar tanpa pacaran. Proses perencanaan program yang dilakukan oleh gerakan ini diantaranya mengidentifikasi tujuan dari serangkaian program, melakukan pemetaan kondisi gerakan, melakukan analisis SWOT untuk memunculkan program-program gerakan jangka panjang hingga menggambarkan serangkaian program yang akan dijalankan kedepannya meliputi menentukan tujuan, sasaran, penanggung jawab, dan gambaran umum kegiatannya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana perencanaan program yang dilakukan oleh Gerakan Pelajar Tanpa Pacaran ini.

(7)

ABSTRACT

Dakwah is to invite or summon people who do not know the teachings of Islam in order to follow His law and avoid His prohibitions or enhance the faith of those who believe in God in order to get a happy life in this world and the hereafter. In order to achieve the purpose of propaganda, a propaganda agency or organization requires a series of activities or program to bring the organization to realize its objectives. Without a clear plan, a program of propaganda become undirected and affect to the implementation will also deviate from the vision or goals of the organization which are made. In the midst of courting problem which too far and lead to adultery which is forbidden by Islamic law, emerged Gerakan Pelajar Tanpa

Pacaran who spearheaded by students from Komunitas Da’i Berkemajuan, a

community under the auspices of Muhammadiyah Student Association. In carrying out a series of activities, this movement make a plan programs that will serve as a guide to realize their vision to realizing students without courtship. Program planning process undertaken by the movement among others identify the purpose of a series of programs, mapping the movement, do a SWOT analysis to come up with programs motion long term to describe a series of programs that will be run in the future, including setting goals, objectives, responsibility, and a sense public activities. This study aims to describe how the planning program conducted by Gerakan Pelajar Tanpa Pacaran.

(8)

DAFTAR ISI

HALAMAN DEPAN ... i

PERNYATAAN KEASLIAN ... ii

PERSETUJUAN ... iii

PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iv

PEDOMAN TRANSLITERASI ... v

MOTTO ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT ... viii

UCAPAN TERIMA KASIH ... x

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

BAB I ... 1

PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Identifikasi Masalah ... 7

C. Rumusan Masalah ... 8

D. Tujuan penelitian ... 8

E. Manfaat Penelitian ... 8

1. Manfaat teoritik ... 8

2. Manfaat praktis ... 9

F. Kerangka Teoritik ... 9

(9)

2. Prasyarat perencanaan ... 10

3. Tahap dasar perencanaan ... 12

4. Program ... 13

G. Penelitian Terdahulu ... 14

H. Metode Penelitian ... 18

1. Jenis Penelitian ... 18

2. Subjek dan objek penelitian ... 19

3. Lokasi Penelitian ... 19

4. Sumber dan Teknik Pengumpulan Data ... 19

5. Uji Keabsahan Data ... 23

6. Teknik Analisa Data ... 23

I. Sistematika Pembahasan ... 24

BAB II ... 26

TINJAUAN PUSTAKA ... 26

A. Pengertian Perencanaan ... 26

B. Prasyarat Perencanaan... 27

C. Bentuk – bentuk Perencanaan ... 28

1. Rencana Global ... 28

2. Rencana Strategis ... 29

3. Rencana Operasional ... 29

D. Tahap Dasar Perencanaan ... 30

1. Menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan ... 30

2. Merumuskan keadaan saat ini ... 31

(10)

4. Mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk mencapai

tujuan ... 32

E. Proses Perencanaan ... 32

F. Program ... 39

G. Organisasi Dakwah ... 40

1. Pengertian organisasi dakwah ... 40

2. Unsur organisasi dakwah ... 42

BAB III ... 46

GAMBARAN SUBYEK PENELITIAN ... 46

A. Latar Belakang Lahirnya Komunitas Pelajar Tanpa Pacaran Surabaya .... 46

B. Struktur Pengurus ... 49

BAB IV ... 52

DATA DAN ANALISA DATA ... 52

A. Kronologis perumusan program... 52

B. Perencanaan program dakwah Gerakan Pelajar Tanpa Pacaran ... 54

1. Menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan ... 54

2. Merumuskan kondisi saat ini ... 55

3. Analisa hambatan dan kemudahan ... 60

4. Mengembangkan serangkaian program untuk mencapai tujuan ... 66

i. Dakwah lewat media sosial………...…………...73

ii. Rekrutmen anggota pelajar tanpa pacaran………... 80

iii. Membuat kartu tanda anggota pelajar tanpa pacaran………...84

iv. Membuat kostum elajar tanpa pacaran……..………...89

v. Membuat koordinator PTP di tiap sekolah SMP-SMA-SMK……….92

(11)

vii. Sosialisasi ke Sekolah-sekolah tentang Gerakan Pelajar Tanpa

Pacaran………...…..97

viii. Memasang poster di Sekolah-sekolah………...…………...99

ix. Berkerjasama dengan guru BP/BK dan kesiswaan di tiap Sekolah...101

x. Mengadakan Kajian Rutin………..103

xi. Mengadakan Tabligh Akbar……….………..109

xii. Mengadakan diskusi online (WhatsApp)……..……..………...112

xiii. Mengadakan aksi di tempat ramai……….……….114

xiv. Mengadakan audensi dengan Majelis Tarjih & Tajdid dan Majelis Dikdasmen PDM kota Surabaya dan MUI tingkat Kota Surabaya untuk membuat kebijakan (fatwa) tentang larangan Pacaran khususnya pelajar……….117

xv. Membuat surat desakan kepada PP IPM untuk melakukan audiensi dengan Majelis Tarjih & Tajdid PP Muhammadiyah dan MUI pusat untuk mengeluarkan fatwa pacaran haram……….119

xvi. Membuat buku Pelajar Tanpa Pacaran………...121

BAB V ... 125

PENUTUP ... 125

A. Kesimpulan ... 125

B. Saran ... 126

DAFTAR PUSTAKA ... 128

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Perbandingan dengan Penelitian Terdahulu ... 16

Tabel 1.2 Instrumen Wawancara, Sumber Data, dan Teknik Pengumpulan

(13)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Lingkungan Organisasi ... 34

Gambar 2.2 Analisis Portofolio Produk ... 37

Gambar 2.3 Analisis Kesenjangan Perencanaan ... 38

Gambar 4.1 Dakwah Sosmed Gerakan Pelajar Tanpa Pacaran ... 78

Gambar 4.2 Dakwah Sosmed Gerakan Pelajar Tanpa Pacaran ... 78

Gambar 4.3 Rancangan Kartu Tanda Anggota PTP ... 87

Gambar 4.4 Undangan Kajian Pelajar Kekinian ... 104

Gambar 4.5 Surat Undangan Kajian Pelajar Kekinian ... 105

Gambar 4.6 Undangan Tabligh Akbar Gerakan PTP ... 105

(14)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dakwah berasal dari bahasa Arab da’a artinya memanggil atau menyeru,

mengajak atau mengundang. Jika diubah menjadi da’watun maka maknanya

berubah menjadi seruan, panggilan atau undangan.1 Sedangkan arti dakwah

menurut pendapat Syekh Ali Mahfudz adalah mengajak manusia untuk

mengerjakan kebaikan dan mengikuti petunjuk, menyuruh mereka berbuat baik dan

melarang mereka dari perbuatan jelek agar mereka mendapatkan kebahagiaan dunia

dan akhirat.2 Menurut Asmuni Syukri, dakwah bisa dilihat dari dua sudut pandang

yakni dakwah yang bersifat pembinaan dan pengembangan.

Pengertian dakwah yang bersifat pembinaan adalah suatu usaha

mempertahankan, melestarikan dan menyempurnakan ummat manusia agar mereka

tetap beriman kepada Allah, dengan menjalankan syariat-Nya sehingga mereka

menjadi manusia yang hidup bahagia di dunia maupun di akhirat. Sedangkan

pengertian dakwah yang bersifat pengembangan adalah usaha mengajak ummat

manusia yang belum beriman kepada Allah SWT agar mentaati syariat Islam

(memeluk Agama Islam) supaya nantinya dapat hidup bahagia dan sejahtera di

dunia maupun di akhirat.3

1 Muhammad Sulthon, Desain Ilmu Dakwah Kajian Ontologis, Epistemologis dan Aksiologis

(Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2003), 25.

2 Rahmat Semesta, Metode Dakwah (Jakarta: Kencana, 2003), 6.

(15)

2

Berdasarkan pengertian di atas dapat dilihat bahwa dakwah dilakukan

dengan tujuan mengajak atau menyeru umat manusia yang belum mengenal ajaran

Islam agar mengikuti syariat-Nya dan menjauhi larangan-Nya atau

menyempurnakan keimanan mereka yang telah beriman pada Allah sehingga bisa

mendapatkan kehidupan yang bahagia baik di dunia maupun akhirat. Untuk

mewujudkan tujuan dakwah yang mulia di atas, seorang pendakwah baik yang

melakukan dakwah secara perorangan maupun dengan berorganisasi perlu

membuat serangkaian perencanaan.

Robbins dan Coulter menyampaikan bahwa : “Planning is management

function that involves setting goals, establishing strategies for achieving those

goals, and developing plans to integrate and coordinate activities.”4 Hal ini berarti

perencanaan adalah fungsi manajemen yang melibatkan penentuan tujuan,

penetapan strategi untuk mencapai tujuan tersebut, serta merumuskan sistern

perencanaan yang menyeluruh untuk mengintegrasikan dan mengoordinasikan

seluruh pekerjaan organisasi hingga tercapainya tujuan organisasi.

Perencanaan dapat menjawab tentang siapa, apa, kapan, di mana, dan

bagaimana tindakan-tindakan tersebut dapat dilaksanakan.5 Apabila diterapkan

dalam konteks dakwah maka perencanaan dakwah akan menjelaskan bagaimana

tujuan dakwah akan dicapai, perencanaan juga lah yang akan berpengaruh pada

sukses dan gagalnya pencapaian tujuan dakwah sekaligus menjadi panduan bagi

para pendakwah untuk melakukan aktivitas dakwahnya pada masyarakat.

(16)

3

Untuk mewujudkan tujuan dakwah, sebuah organisasi dakwah harus

membuat kegiatan-kegiatan untuk mewujudkan tujuannya. Kegiatan-kegiatan

tersebut biasanya diistilahkan dengan program. Mengutip pendapat Harold Koontz,

Cyril O’Donnel, dan Heinz Weihrich, program dimaknai sebagai rangkaian dari tujuan, kebijakan, prosedur, pembagian tugas, langkah-langkah yang harus diambil,

sumber-sumber yang harus dimanfaatkan, dan unsur-unsur yang diperlukan untuk

mencapai arah tindakan yang ditentukan.

Sebagaimana perencanaan secara umum, program dakwah pun perlu

direncanakan karena tanpa perencanaan yang jelas program dakwah menjadi tidak

terarah, antara apa yang ingin dicapai dan program yang dibuat tidak linier dan

melenceng dari visi atau tujuan dakwah yang dibuat oleh lembaga dakwah tersebut.

Di tengah perkembangan zaman yang tidak lepas dari pengaruh hedonisme

dan liberalisme, dakwah pada remaja menjadi hal yang penting. Sebagai generasi

penerus bangsa, remaja tidak hanya butuh dididik secara skill saja tetapi yang tidak

kalah penting adalah pendidikan moral dan keagamaan agar mereka tidak

terjerumus dalam pengaruh hedonisme dan liberalisme. Salah satu pengaruh

liberalisme yang berkembang di kalangan remaja adalah budaya pacaran yang tidak

sehat dan mengarah pada perzinahan.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Komite Perlindungan Anak

Indonesia (KPAI), dan Kementrian Kesehatan (Kemenkes) pada Oktober 2013

didapatkan hasil sekitar 62,7% remaja di Indonesia telah melakukan hubungan seks

di luar nikah, 20% dari 94.270 perempuan yang mengalami hamil di luar nikah juga

(17)

4

Kemudin pada kasus terinfeksi HIV dalam rentang 3 bulan sebanyak 10.203 kasus,

30% penderitanya berusia remaja.6 Penelitian sejenis yang dilakukan oleh empat

mahasiswa ITS di tahun 2016 dengan menyebarkan kuesioner pada 300 responden

pelajar jenjang SMA, SMK, dan MA di Surabaya, yang disebar secara acak pada

61 siswa SMA, 140 siswa SMK, dan 99 siswa MA juga menghasilhan hasil yang

memprihatinkan. Sebanyak 36% menyatakan wajar berpelukan saat berpacaran dan

19% wajar berciuman. Hasil lainnya, 17% dari responden hanya ingin jalan berdua

tanpa mengajak teman, 9% ingin bergandengan tangan, 5% memilih tempat sepi

saat kencan, 3 persen tidak malu bermesraan di depan umum, dan 2% berhubungan

seks menjadi tanda cinta.7

Fakta-fakta maraknya pacaran yang mengarah pada perbuatan zina tersebut

tidak sejalan dengan ajaran Islam yang melarang keras perbuatan yang mendekati

zina sebagaimana tertulis dalam Surat Al-Israa’ ayat 32.8

ًليِبس ءاسو ًةش ِحاف ناك هَنِإ ان ِ زلا اوبرْقت َو

Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk (QS. Al-Israa’ 32).

Maraknya pergaulan bebas remaja yang diawali dari pacaran menjadikan

dakwah untuk menyadarkan remaja agar menjaga pergaulannya sangat penting

untuk dilakukan. Persoalannya adalah remaja saat ini cenderung tidak minat

6 Diolah dari

http://www.kompasiana.com/rumahbelajar_persada/63-persen-remaja-di-indonesia-melakukan-seks-pra-nikah_54f91d77a33311fc078b45f4.

7 Diolah dari

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/16/06/22/o94sk7361-astaga-remaja-surabaya-anggap-wajar-berciuman Rabu, 22 Juni 2016, 00:00 WIB Astaga, Remaja Surabaya Anggap Wajar Berciuman Red: Ilham corbis.

8 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Jakarta: Pustaka Agung Harapan, 2006),

(18)

5

mendatangi masjid atau majelis taklim yang notabenenya menjadi media untuk

dakwah pada remaja. Remaja lebih senang mengikuti kegiatan-kegiatan yang bisa

memberikan hiburan dan kesenangan pada mereka daripada mengkaji Islam.

Berdasarkan pengamatan peneliti di beberapa masjid sekitar tempat tinggal peneliti

di daerah Surabaya Barat, program-program dakwah yang diselenggarakan

masjid-masjid untuk remaja tidak banyak, diantaranya kepanitiaan hari besar, Al-Banjari,

tadarus, dan pengajian remaja. Itu pun yang berminat tidak banyak, kalaupun

awalnya yang datang banyak namun berikutnya tidak datang lagi dan makin lama

makin berkurang. Ketika peneliti menanyakan pada beberapa remaja di sekitar sana

juga banyak yang tidak berminat ikut karena kegiatannnya itu-itu saja dan

membosankan.

Begitu juga dengan kajian-kajian Islam yang peneliti amati di beberapa

sekolah maupun luar sekolah di Surabaya Barat juga terlihat tidak banyak diminati

remaja karena dipandang membosankan. Padahal di tengan budaya liberalisme dan

hedonisme yang marak di kalangan remaja, peran lembaga dakwah baik yang

berwujud masjid maupun organisasi-organisasi Islam sangat dibutuhkan untuk

memberikan pengajaran agama dan moralitas agar remaja tidak terjerumus pada

hal-hal yang merusak moral remaja, salah satunya pacaran yang mengarah pada

perzinahan. Karena itulah dibutuhkan program dakwah yang direncanakan dengan

baik agar lembaga dakwah yang ingin mendakwahi remaja bisa menjalankan misi

dakwahnya dengan baik.

Ditengah maraknya budaya pacaran remaja yang mengkhawatirkan, peneliti

(19)

6

Surabaya yang dalam mewujudkan misi dakwahnya membuat perencanaan tentang

program-program apa yang akan dibuatnya untuk mewujudkan visi pelajar tanpa

pacaran. Gerakan ini lahir sebagai bentuk keprihatinan pada nasib remaja yang

mengalami degradasi moral remaja akibat pacaran yang sudah di luar batas. Untuk

mencapai visi pelajar tanpa pacaran, Gerakan PTP membuat 16 program yang

dalam pembuatannya berdasarkan penuturan Alfian selaku founder gerakan ini,

tidak cukup satu hari bahkan satu bulan. Dalam proses perumusannya pengurus

dilibatkan untuk memberikan saran tentang konsep gerakan ini kedepannya. Tiap

anggota sebelum rapat diberikan tugas untuk menyiapkan 2-3 program untuk

dibahas dalam rapat program inti PTP.9 Saat proses penyaringan program, menurut

penuturan Ramadhani selaku Ketua Gerakan ini juga dilakukan

pertimbangan-pertimbangan hingga didapatkan kelayakan bahwa program-program ini siap

dijalankan di lapangan.

Program dakwah lewat media sosial misalnya, dilandasi atas pertimbangan

bahwa pelajar saat ini sangat update dengan media sosial sehingga menjadi lebih

efektif untuk menyampaikan gerakan PTP ini pada remaja. Dalam menjalankan

program tersebut juga dirumuskan topik yang menarik dengan desain yang menarik

pula dan pelaksanaannya ditangani oleh tim khusus yang paham akan media dan

desain, hingga saat penelitian ini dilakukan, followers akun Instagram PTP

mencapai lima ratusan dan mayoritas berasal dari kalangan remaja dari sekolah

setingkat SMP sampai SMA di Surabaya.

(20)

7

Program berikutnya, yakni aksi turun ke jalan di Taman Bungkul Surabaya

untuk menyebarkan stiker pelajar tanpa pacaran dan orasi agar pelajar menolak

pacaran juga terlihat banyak diikuti pelajar. Terlihat ratusan pelajar antusias

mengikuti aksi ini sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap nasib pelajar yang

mengalami degradasi moral akibat budaya pacaran diluar batas. Kemudian di bulan

Desember tahun lalu, sebanyak 500 pelajar dari berbagai sekolah terlihat mengikuti

salah satu program PTP yakni deklarasi dan Tabligh Akbar bertema “Pemuda

Idaman Surga”.

Respon positif terhadap program-program gerakan ini juga terlihat banyak

mengalir, mulai dari Diknas Surabaya, Wakil Walikota Surabaya Wisnu Sakti

Buana10, Komunitas Pecinta Film Islami, beberapa mahasiswi STEI Tazkia Bogor,

beberapa Guru SMA Muhammadiyah, IPM Al-Furqon, dan masih banyak lagi.11

Selain itu juga terlihat banyaknya permintaan dari daerah-daerah agar gerakan ini

disosialisasikan pada para pelajar di daerahnya. Permintaan tersebut diantaranya

dari Pontianak, Jakarta, Bandung, Medan.

Adanya antusiasme remaja tidak hanya dari Surabaya saja tapi juga daerah

lain untuk mengikuti gerakan ini, serta dukungan dari berbagai pihak menunjukkan

bahwa program Gerakan PTP ini cukup diminati kalangan remaja. Hasil yang

positif dari beberapa program yang berjalan tersebut tentu tak lepas dari

perencanaan program yang dibuat oleh Gerakan PTP ini. Karena itulah peneliti

ingin meneliti lebih dalam lagi bagaimana perencanaan program Gerakan Pelajar

10 Lihat Muhammad Alfian Hidayatullah, “Dukungan dari Wakil Walikota Surabaya Wisnu Sakti

Buana, S.T. Untuk gerakan pelajar tanpa pacaran” dalam https:// www. youtube.com /watch?v= KY2cB-P0F-Y (24 Januari 2017).

(21)

8

Tanpa Pacaran Surabaya yang kini telah merubah namanya menjadi Komunitas

Pelajar Tanpa Pacaran Surabaya.12

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas dapat diidentifikasi beberapa

permasalahan, diantaranya :

1. Dakwah perlu direncanakan agar tujuan dakwah tercapai. Untuk mewujudkan

tujuan dakwah diperlukan program-program dakwah yang tepat.

2. Pentingnya dakwah pada remaja di tengah pengaruh hedonisme dan liberalisme

sedangkan di satu sisi minat remaja terhadap kegiatan keagamaan rendah.

3. Dibutuhkan program dakwah yang direncanakan secara tepat untuk menarik

minat remaja terhadap kegaiatan keagamaan.

4. Gerakan Pelajar Tanpa Pacaran Surabaya sebagai gerakan dakwah yang ingin

mewujudkan pelajar tanpa pacaran terlihat merencanakan programnya dengan

baik dan hasilnya diminati kalangan pelajar, terutama di Surabaya

Mengingat luasnya persoalan di atas, penelitian ini akan dibatasi pada

proses perencanaan program dakwah yang dilakukan oleh Gerakan Pelajar Tanpa

Pacaran ini. Penelitian ini akan mendeskripsikan secara jelas serangkaian langkah

yang dilakukan oleh Gerakan Pelajar Tanpa Pacaran dalam menyusun

program-programnya agar tujuan dakwah mewujudkan pelajar tanpa pacaran bisa tercapai.

12 Meskipun merubah namanya namun secara program tidak ada berubahan kecuali jika dalam

(22)

9

C. Rumusan Masalah

“Bagaimana Perencanaan Program Dakwah Gerakan Pelajar Tanpa Pacaran

Surabaya?”

D. Tujuan penelitian

Mengetahui serangkaian proses perencanaan program Gerakan Pelajar Tanpa

Pacaran Surabaya.

E. Manfaat Penelitian

1. Manfaat teoritik

Adanya penelitian ini diharapkan bisa memberikan kontribusi dalam

pengembangan keilmuan manajemen dakwah spesifiknya dalam

perencanaan program dakwah pada pelajar.

2. Manfaat praktis

Penelitian ini bisa menjadi referensi bagi organisasi-organisasi dakwah

pelajar lainnya yang juga akan membuat program dakwah yang sejenis

dengan Gerakan Pelajar Tanpa Pacaran ini.

F. Kerangka Teoritik

1. Pengertian perencanaan

Perencanaan menurut Newman, dikutip oleh Manullang : “Planning is deciding in advance what is to be done.” Jadi, perencanaan adalah

penentuan terlebih dahulu apa yang akan dikerjakan.13 Sedangkan Beishline

(23)

10

menyatakan bahwa fungsi perencanaan memberi jawaban atas

pertanyaan-pertanyaan tentang siapa, apa, apabila, dimana, bagaimana, dan mengapa.14

Robbins dan Coulter dikutip dari Ernie Tisnawati mendefinisikan

perencanaan sebagai sebuah proses yang dimulai dari penetapan tujuan

organisasi, menentukan strategi untuk pencapaian tujuan organisasi tersebut

secara menyeluruh, serta merumuskan sistem perencanaan yang

menyeluruh untuk mengintegrasikan dan mengoordinasikan seluruh

pekerjaan organisasi hingga tercapainya tujuan organisasi.15 Sebelum

manajer dapat mengorganisasi, mengarahkan atau mengawasi, mereka

harus membuat rencana-rencana yang memberikan tujuan dan arah

organisasi. Dalam perencanaan, manajer memutuskan “Apa yang harus dilakukan, kapan melakukannya, bagaimana melakukannya, dan siapa yang

melakukannya”. 16

Berdasarkan pendapat di atas, terlihat bahwa perencanaan adalah

gambaran tentang apa-apa yang akan dilakukan mulai dari penetapan

tujuan, strategi untuk mencapai tujuan hingga sistem perencanaan untuk

mengkordinasikan dan mengintegrasikan seluruh pekerjaan organisasi

sehingga tujuan bisa tercapai. Hal ini sekaligus menjawab juga apa saja

yang harus dilakukan, kapan, bagaimana, dan siapa yang akan

melakukannya.

2. Prasyarat perencanaan

14 Ibid., 39-40.

(24)

11

Perencanaan yang baik paling tidak memiliki berbagai persyaratan

yang harus dipenuhi, yaitu faktual atau realistis, logis dan rasional, fleksibel,

komitmen, dan komprehensif.17 Berikut penjelasannya :

“Faktual Atau Realistis.” Perencanaan yang baik perlu memenuhi persyaratan faktual atau realistis. Artinya, apa yang dirumuskan oleh

perusahaan sesuai dengan fakta dan wajar untuk dicapai dalam

kondisi tertentu yang dihadapi perusahaan.

“Logis Dan Rasional.” Perencanaan yang baik juga perlu untuk memenuhi syarat logis dan rasional. Artinya, apa yang dirumuskan

dapat diterima oleh akal, dan oleh sebab itu maka perencanaan

tersebut bisa dijalankan. Menyelesaikan sebuah bangunan

bertingkat hanya dalam waktu satu hari adalah sebuah perencanaan

yang selain Tidak realistis, sekaligus juga tidak logis dan irasional

jika dikerjakan dengan menggunakan sumber daya orang-orang

yang terbatas dan mengerjakan dengan pendekatan yang tradisional

tanpa bantuan alat-alat modern.

“Fleksibel.” Perencanaan yang baik juga tidak berarti kaku dan kurang fleksibel. Perencanaan yang baik justru diharapkan tetap

dapat beradaptasi dengan perubahan di masa yang akan datang,

sekalipun tidak berarti bahwa planning dapat kita ubah seenaknya.

“Komitmen.” Perencanaan yang baik harus merupakan dan melahirkan komitmen terhadap seluruh anggota organisasi untuk

(25)

12

bersama-sama berupaya mewujudkan tujuan organisasi. Komitmen

dapat dibangun dalam sebuah perusahaan jika seluruh anggota di

perusahaan "beranggapan bahwa perencanaan yang dirumuskan

telah sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh organisasi.

“Komprehensif.” Perencanaan yang baik juga harus memenuhi syarat komprehensif artinya menyeluruh dan mengakomodasi

aspek-aspek yang terkait langsung maupun tak langsung terhadap

perusahaan. Perencanaan yang baik tidak hanya terkait dengan

bagian yang harus kita jalankan, tetapi juga dengan

mempertimbangkan koordinasi dan integrasi dengan bagian lain di

perusahaan.” 18 3. Tahap dasar perencanaan :

a. Menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan

Perencanaan dimulai dengan keputusan-keputusan tentang kegiatan

atau kebutuhan organisasi atau kelompok kerja. Tanpa rumusan

yang jelas, organisasi akan menggunakan sumber dayanya secara

tidak efektif. 19

b. Merumuskan keadaan saat ini

Pemahaman akan posisi perusahaan sekarang dari tujuan yang

hendak dicapai atau sumber daya - sumber daya yang tersedia untuk

18 Ibid., 99.

(26)

13

pencapaian tujuan, adalah sangat penting, karena tujuan dan rencana

menyangkut waktu yang akan datang. 20

c. Mengidentifikasi segala kemudahan dan hambatan

Segala kekuatan dan kelemahan seta kemudahan dan hambatan

perlu diidentifikasikan untuk mengukur kemampuan organisasi

dalam mencapai tujuan. Oleh karena itu perlu diketahui faktor-faktor

lingkungan intern dan ekstern yang dapat membantu organisasi

mencapai tujuannya, atau yang mungkin menimbukan masalah. 21

d. Mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk

mencapai tujuan

Tahap terakhir dalam proses perencaan meliputi pengembangan

berbagai alternative kegiatan untuk pencapaian tujuan, penilaian

alternatif-alternatif tersebut dan pemilihan alternative terbaik

(paling memuaskan) diantara berbagai alternative yang ada. 22

4. Program

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, program didefinisikan

sebagai rancangan mengenai asas-asas serta usaha-usaha yang akan

dijalankan.23

Program dapat diartikan juga sebagai kegiatan yang memuat

komponen-komponen, diantaranya : tujuan, sasaran, isi dan jenis kegiatan,

20 Ibid. 21 Ibid. 22 Ibid., 79-80.

23 W.J.S Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (Jakarta: Balai Pustaka,

(27)

14

proses kegiatan, waktu, fasilitas, alat, biaya, organisasi penyelenggaraan,

dan sebagainya.24

Program adalah rangkaian dari tujuan, kebijakan, prosedur,

pembagian tugas, langkah-langkah yang harus diambil, sumber-sumber

yang harus dimanfaatkan, dan unsur-unsur yang diperlukan untuk mencapai

arah tindakan yang ditentukan. Suatu program pokok juga dimungkinkan

memiliki program-program turunan. 25

Isi dari program pada umumnya memuat berbagai hal, diantaranya :26

a. Nama program

b. Unit atau departemen yang terkait program

c. Penjelasan tentang maksud dan tujuan program

d. Sasaran-sasaran program

e. Pengorganisasian program

f. Prosedur-prosedurnya

g. Jadual kegiatan

h. Anggaran masing-masing kegiatan

i. Kewenangan pengecekan yaitu siapa yang ditunjuk untuk melakukan

pengecekan dan menandatangi berita acara

24 Lihat Suharsimi Arikunto dan Cepi Safruddin Abdul Jabar, Evaluasi Program Pendidikan

Pedoman Teoritis Praktis Bagi Mahasiswa dan Praktisi Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), 3.

25 Lihat Harold Koontz, Cyril O’Donnel, dan Heinz Weihrich, Manajemen (Jakarta : Erlangga,

1994), 132-133.

(28)

15

G. Penelitian Terdahulu

1. Perencanaan Program Kegiatan Masjid Al-Hidayah Purwosari Sinduadi

Mlati Sleman D.I Yogyakarta oleh Rahman Refki tahun 2016

Penelitian ini membahas tentang perencanaan program kegiatan Masjid

Al-Hidayah Purwosari Sleman. Subjek penelitian ini adalah ta’mir, remaja masjid dan jamaah Masjid Al Hidayah Purwosari Sinduadi Mlati Sleman

D.I. Yogyakarta. Sedangkan objek penelitian ini adalah tentang

Perencanaan Program Masjid Al-Hidayah Purwosari Sinduadi Mlati

Sleman D.I. Yogyakarta. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Masjid

ini telah melakukan tujuh perencanaan yang terdiri dari forecasting,

objektivies, policies, programming, scheduling, procedure dan budgeting.

2. Perencanaan Dakwah Masjid Jendral Sudirman Kolombo Demangan Baru

Yogyakarta (Tahun 2014-2015) oleh Al Ambari tahun 2015

Subjek penelitian ini adalah ketua takmir harian, sekretaris takmir harian,

bendahara harian takmir dan seksi dakwah dan pendidikan takmir masjid

jendral sudirman yogyakarta. Sedangkan objek penelitian ini adalah

perencanaan dakwah di Masjid Jendral Sudirman Kolombo Demangan Baru

Yogyakarta. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa seluruh kegiatan

dakwah di Masjid ini sudah melalui mekanisme langkah-langkah

perencanaan dakwah yang meliputi perkiraan dan perhitungan masa depan,

penentuan dan perumusan sasaran dalam rangka pencapaian tujuan dakwah,

(29)

16

penetapan metode dakwah, penetapan dan penjadwalan waktu, penetapan

lokasi, dan penetapan biaya.

3. Pengelolaan Dakwah Di Masjid Al Ikhlas PT Phapros Semarang oleh

Suhono tahun 2015

Subjek penelitian ini adalah pimpinan-pimpinan masjid Al Ikhlas PT

Phapros Semarang. Sedangkan objek penelitiannya adalah Pengelolaan

Dakwah Di Masjid Al Ikhlas PT Phapros Semarang. Hasil penelitian

tersebut menunjukkan bahwa Masjid al-Ikhlas melakukan fungsi

pengelolaan kegiatan dakwah meliputi empat tahap, yaitu: (1) Planning

(perencanaan), (2) Organizing (pengorganisasian), (3) Actuating

(pelaksanaan), dan (4) Controlling (pengawasan) dengan menerapkan

rincian prinsip - prinsip keempat tahap tersebut.

Tabel 1.1 Perbandingan dengan Penelitian Terdahulu

(30)
(31)
(32)

19

H. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

Jika dilihat dari teknik pengumpulan data dan analisis datanya, penelitian

ini menggunakan teknik pengumpulan data kualitatif. Karena hasil yang

diharapkan dari penelitian ini akan diberupakan dalam bentuk data berupa

gambar dan kata-kata baik secara verbal maupun non verbal dan bukan data

angka sehingga tidak menggukan prosedur statistik. Hal ini sesuai dengan

pengertian penelitian kualitatif yang disampaikan Koentjoroningrat dalam

kutipan HB. Sutopo bahwa Penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian

yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari

orang-orang dan perilaku yang dapat diamati dalam lingkup tertentu. Data

deskriptif merupakan data berupa gambar, kata-kata baik secara verbal

maupun non verbal dan bukan data angka.27 Dalam penelitian ini akan

dideskripsikan bagaimana perencanaan Gerakan Pelajar Tanpa Pacaran di

Surabaya yang dipelopori oleh beberapa anggota Da’i Berkemajuan dan

pelajar.

2. Subjek dan objek penelitian

Subjek penelitan ini adalah pengurus gerakan PTP Surabaya. Sedangkan

objek penelitiannya adalah perencanaan program gerakan PTP ini.

3. Lokasi Penelitian

27 Lihat H.B. Sutopo, Pengantar Penelitian Kualitatif: dasar-dasar teroritis dan praktis (Surakarta:

(33)

20

Penelitian ini akan dilakukan di sekretariat Gerakan PTP di Gedung

Dakwah Muhammadiyah, Jalan Sutorejo No. 73-77 dan SMA

Muhammadiyah 1 Surabaya tempat dimana ketua dan founder Gerakan PTP

berdomisili.

4. Sumber dan Teknik Pengumpulan Data

Sumber data dalam penelitian terbagi atas dua antara lain : sumber

data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer menurut

Loftland dan Loftland berasalkan dari kata-kata dan tindakan. Sedangkan

sumber data sekunder berasalkan dari dokumen dan lain – lain.28

Sumber data primer dalam penelitian ini adalah para penggagas

gerakan PTP dan pengurus gerakan PTP mengikuti bagaimana proses

perencanaan program PTP, diantaranya :

a. Founder Gerakan PTP, M. Alfian Hidayatullah

b. Ketua Gerakan PTP, Ramadhanai Jaka Samudra

c. Anggota Tim Syiar, diantaranyaa Ricky dan Walidah

d. Anggota Tim Konseling, Arika

Sedangkan untuk sumber data sekundernya adalah dokumen dan

gambar baik yang berasal dari arsip gerakan PTP, media sosial diantaranya

: instagram, youtube, facebook, maupun website yang memuat berita

tentang gerakan ini.

28 Lexy Z Moleong, Metode Penelitian Kualitatif Edisi Revisi (Bangdung: PT Remaja Rosdakarya,

(34)

21

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini

diantaranya :

a. Wawancara semi terstruktur

Jenis wawancara ini sudah termasuk dalam kategori in-depth interview

dimana dalam pelaksanaannya lebih bebas bila dibandingkan dengan

wawancara terstruktur. Tujuan dari wawancara jenis ini adalah untuk

menemuan permasalahan lebih terbuka, dimana pihak yang

diwawancarai dimintai pendapat, dan ide-idenya. 29

b. Dokumentasi

Studi Dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data yang tidak

ditujukan langsung kepada subyek penelitian. Dokumen yang diteliti

dapat berbagai macam, tidak hanya dokumen resmi, bisa berupa buku

harian, surat pribadi, laporan, notulen rapat, catatan khusus (case

records) dalam pekerjaan social, dan dokumen lainnya. Menurut

Soegiyono, studi dokumentasi merupakan pelengkap dari penggunaan

metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Bahkan

kredibilitas hasil penelitian ini akan semakin tinggi jika

melibatkan/menggunakan studi dokumentasi dalam metode penelitian

kualitatif.30 Dalam penelitian ini dokumentasi akan dihimpun dari

arsip gerakan PTP maupun postingan foto, gambar, maupun tulisan

yang dipublish di akun sosial media gerakan PTP ini.

29 Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif (Bandung: Alfabeta, 2014),73.

(35)

22

Tabel 1.2 Instrumen Wawancara, Sumber Data, dan Teknik Pengumpulan Data

Instrumen Wawancara Sumber data Teknik pengumpulan data

1. Bagaimana sejarah

terbentuknya gerakan

PTP?

Pengurus PTP Wawancara semi

terstruktur

Pengurus PTP Wawancara semi

terstruktur

4. Hal-hal apa saja yang

menjadi pertimbangan

dalam perumusan

program-program

tersebut?

Pengurus PTP Wawancara semi

terstruktur

5. Kondisi apa saja yang

dianggap sebagai

kemudahan dan

hambatan saat

merumuskan

program-program tersebut?

Pengurus PTP Wawancara semi

(36)

23

a. Maksud dan tujuan

program

b. Sasaran-sasaran

program

c. Proses kegiatan

d. Departemen yang

terkait program

e. Waktu pelaksanaan

f. Pengorganisasian

program

g. Penanggung jawab

kegiatan

h. Anggaran kegiatan

dimuat di media

online

5. Uji Keabsahan Data

Pengujian keabsahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah

teknik triangulasi. Norman K. Denkin mendefinisikan triangulasi digunakan

sebagai gabungan atau kombinasi berbagai metode yang dipakai untuk

mengkaji fenomena yang saling terkait dari sudut pandang dan perspektif yang

berbeda. Untuk kepentingan analisa keabsahan data ini peneliti menggunakan

metode triangulasi teknik dan sumber.

Dalam melakukan triangulasi sumber peneliti akan mengumpulkan

data dari beberapa sumber dengan melakukan wawancara mendalam kemudian

melakukan uji konsistensinya. Sedangkan dalam melakukan triangulasi teknik

peneliti akan mengumpulkan dari dari wawancara dan dokumentasi untuk

(37)

24

6. Teknik Analisa Data

Analisis data dalam penelitian kualitatif, dilakukan pada saat

pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data

dalam periode tertentu.31 Miles and Huberman, dalam Sugiyono

mengemukakan bahwa analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif

dan berlangsung terus menerus sampai tuntas hingga datanya sudah jenuh.

Aktivitas analisis data terdiri atas data reduction, data display, dan

conclusion drawing/verification.

Dalam proses reduksi data peneliti akan memilah data-data yang

pokok dan memfokuskan pada hal-hal penting yang peneliti cari terkait

dengan perencanaan program gerakan PTP. Setelah data direduksi, langkah

berikutnya yang peneliti lakukan adalah mendisplaykan data dalam bentuk

uraian data yang bersifat naratif berdasarkan proses perumusan perencanaan

yang dibuat oleh gerakan PTP. Langkah terakhir yakni penarikan

kesimpulan dan verifikasi. Sebelum melakukan penarikan kesimpulan akan

peneliti verifikasi kembali data-data yang sudah terkumpul terkait dengan

perencanaan program gerakan PTP ini, jika dirasa masih ada data yang

belum kredibel akan dilakukan pengumpulan data kembali ke lapangan

hingga benar-benar dihasilkan data yang valid dan bisa ditarik kesimpulan

bagaimana sesungguhnya perencanaan program yang dilakukan oleh

gerakan PTP ini.

(38)

25

I. Sistematika Pembahasan

1. Bab I : Latar Belakang Masalah, Identifikasi Masalah, Rumusan

Masalah, Tujuan Penelitian, dan Manfaat Penelitian dan penelitian

terdahulu.

2. Bab II : Tinjauan Pustaka

Berisikan tentang pengertian perencanaan, prasyarat perencanaan,

bentuk-bentuk perencanaan, tahap dasar perencanaan, proses

perencanaan, program, dan organisasi dakwah.

3. Bab III : Gambaran Umum Penelitian

Berisikan tentang profil Gerakan PTP

4. Bab IV : Data dan Analisa terkait perencanaan program Gerakan Pelajar

Surabaya

5. Bab V : Kesimpulan dan Saran terkait perencanaan program Gerakan

(39)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Perencanaan

Perencanaan menurut Newman, dikutip oleh Manullang : “Planning is deciding in advance what is to be done.” Jadi, perencanaan adalah penentuan

terlebih dahulu apa yang akan dikerjakan.32 Sedangkan Beishline menyatakan

bahwa fungsi perencanaan memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan

tentang siapa, apa, apabila, dimana, bagaimana, dan mengapa.33

Robbins dan Coulter dikutip dari Ernie Tisnawati mendefinisikan

perencanaan sebagai sebuah proses yang dimulai dari penetapan tujuan

organisasi, menentukan strategi untuk pencapaian tujuan organisasi tersebut

secara menyeluruh, serta merumuskan sistem perencanaan yang menyeluruh

untuk mengintegrasikan dan mengoordinasikan seluruh pekerjaan organisasi

hingga tercapainya tujuan organisasi.34 Sebelum manajer dapat mengorganisasi,

mengarahkan atau mengawasi, mereka harus membuat rencana-rencana yang

memberikan tujuan dan arah organisasi. Dalam perencanaan, manajer

memutuskan “apa yang harus dilakukan, kapan melakukannya, bagaimana

melakukannya, dan siapa yang melakukannya.” 35

32 Manullang, Dasar-dasar Manajemen, 39. 33 Ibid., 39-40.

(40)

27

Berdasarkan pendapat di atas, terlihat bahwa perencanaan adalah

gambaran tentang apa-apa yang akan dilakukan mulai dari penetapan tujuan,

strategi untuk mencapai tujuan hingga sistem perencanaan untuk

mengkordinasikan dan mengintegrasikan seluruh pekerjaan organisasi

sehingga tujuan bisa tercapai. Hal ini sekaligus menjawab juga apa saja yang

harus dilakukan, kapan, bagaimana, dan siapa yang akan melakukannya.

B. Prasyarat Perencanaan

Perencanaan yang baik paling tidak memiliki berbagai persyaratan

yang harus dipenuhi, yaitu faktual atau realistis, logis dan rasional, fleksibel,

komitmen, dan komprehensif.36 Berikut penjelasannya:

“Faktual Atau Realistis.” Perencanaan yang baik perlu memenuhi

persyaratan faktual atau realistis. Artinya, apa yang dirumuskan oleh perusahaan sesuai dengan fakta dan wajar untuk dicapai dalam kondisi tertentu yang dihadapi perusahaan.

“Logis Dan Rasional.” Perencanaan yang baik juga perlu untuk

memenuhi syarat logis dan rasional. Artinya, apa yang dirumuskan dapat diterima oleh akal, dan oleh sebab itu maka perencanaan tersebut bisa dijalankan. Menyelesaikan sebuah bangunan bertingkat hanya dalam waktu satu hari adalah sebuah perencanaan yang selain Tidak realistis, sekaligus juga tidak logis dan irasional jika dikerjakan dengan menggunakan sumber daya orang-orang yang terbatas dan mengerjakan dengan pendekatan yang tradisional tanpa bantuan alat-alat modern.

“Fleksibel.” Perencanaan yang baik juga tidak berarti kaku dan

kurang fleksibel. Perencanaan yang baik justru diharapkan tetap dapat beradaptasi dengan perubahan di masa yang akan datang, sekalipun tidak berarti bahwa planning dapat kita ubah seenaknya.

“Komitmen.” Perencanaan yang baik harus merupakan dan

melahirkan komitmen terhadap seluruh anggota organisasi untuk bersama-sama berupaya mewujudkan tujuan organisasi. Komitmen dapat dibangun dalam sebuah perusahaan jika seluruh anggota di perusahaan "beranggapan bahwa perencanaan yang dirumuskan telah sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh organisasi.

(41)

28

“Komprehensif.” Perencanaan yang baik juga harus memenuhi

syarat komprehensif artinya menyeluruh dan mengakomodasi aspek-aspek yang terkait langsung maupun tak langsung terhadap perusahaan. Perencanaan yang baik tidak hanya terkait dengan

bagian yang harus kita jalankan, tetapi juga dengan

mempertimbangkan koordinasi dan integrasi dengan bagian lain di

perusahaan.” 37

C. Bentuk – bentuk Perencanaan

Berdasarkan luas cakupan masalah dan jangkauan waktunya perencanaan

dapat dibedakan menjadi tiga macam bentuk:

1. Rencana Global

Rencana global ini merupakan penentuan tujuan yang menyeluruh atau

keseluruhan dan yang menyangkut jangka panjang dari organisasi

tersebut sebagai keseluruhan atau totalitas.38

Perencanaan global dalam suatu perusahaan biasa diistilahkan dengan

Corporate Plan. Di dalam Corporate Plan ini diuraikan tujuan pokok

yang akan dicapai perusahaan serta sasaran-sasaran jangka panjang

yang akan dicapai sebagai misi yang dibawa perusahaan.

Analisis penyusunan Corporate Plan sering dinamakan analisis

“SWOT” yang berasal dari singkatan:39

a. Strength, yaitu kekuatan-kekuatan yang dimiliki.

b. Weaknesses, yaitu kelemahan-kelemahan yang ada.

c. Opportunity, atau kesempatan-kesempatan yang terbuka.

37 Ibid., 99.

(42)

29

d. Treath atau tekanan-tekanan yang dihadapi perusahaan.

2. Rencana Strategis

Rencana ini disusun untuk menentukan tujuan-tujuan kegiatan yang

mempunyai arti strategis dan berdimensi jangka panjang. Arti strategis

dalam penyusunan rencana ini adalah untuk menyusun dan memilih

urutan bidang mana yang akan dicapai terlebih dahulu dan

berikut-berikutnya. Untuk menyusun rencana strategis kita harus mengetahui

keadaan saat ini dan dihubungkan dengan perkembangan masa depan

yang paling mungkin terjadi dan bagaimana usaha kita untuk merubah

keadaan sesuai tujuan yang dikehendaki. Dipandang dari dimensi

waktunya perencanaan strategis merupakan perencanaan jangka

panjang dan biasanya dibuat oleh tingkatan manajemen atas.

Perencanaan strategis menyangkut keputusan tujuan apa yang ingin

dicapai oleh perusahaan secara keseluruhan, dan alat apa yang

digunakan untuk mencapai tujuan tersebut.40

3. Rencana Operasional

Rencana operasional meliputi perencanaan terhadap kegiatan kegiatan

operasional yang berjangka pendek guna menopang pencapaian tujuan

jangka panjang baik dalam perencanaan global maupun perencanaan

strategis.41 Perencanaan ini biasa disebut dengan perencanaan taktis.

(43)

30

D. Tahap Dasar Perencanaan

1. Menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan

Perencanaan dimulai dengan keputusan-keputusan tentang kegiatan

atau kebutuhan organisasi atau kelompok kerja. Tanpa rumusan yang jelas,

organisasi akan menggunakan sumber dayanya secara tidak efektif. 42

Tujuan adalah keadaan masa depan yang diinginkan yang ingin

direalisasikan organisasi. Tujuan adalah penting karena organisasi ada

untuk suatu alasan, dan tujuan mendefinisikan dan menegaskan

tujuan alasan tersebut. Rencana adalah cetak biru untuk pencapaian tujuan

dan menentukan alokasi sumber daya yang diperlukan, jadwal,

tugas, dan tindakan lainnya. Tujuan menentukan tujuan masa depan;

rencana menentukan cara hari ini. Konsep perencanaan biasanya

menggabungkan kedua gagasan tersebut; artinya menentukan tujuan

organisasi dan menetukan untuk mencapainyanya.43

Dari segi keluasan dan waktu pencapaian, tujuan juga dapat

dibedakan menjadi tiga, yaitu tujuan strategis (strategic goals), tujuan taktis

(tactical goals), dan tujuan operasional (operational goals ).44

Tujuan strategis adalah tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan

dalam jangka waktu yang relatif lama, biasanya antara 3 hingga 5 tahun,

atau juga lebih dan dalam pencapaiannya membutuhkan waktu yang relatif

lama.

42 Hani Handoko, Manajemen, 79.

43 Diterjemahkan dari Richard L. Dhaft, Management, Ninth Edition, (Mason : South-Western

Cengage Learning, 2010),160.

(44)

31

Tujuan taktis adalah tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan

dalam jangka waktu menengah, relatif lebih singkat dari tujuan strategis.45

Dalam pencapaiannya membutuhkan waktu antara 1-3 tahun. Tujuan ini

merupakan tujuan turunan dari tujuan strategis, artinya tujuan strategis akan

tercapai jika tujuan taktis tercapai.

Tujuan operasional adalah tujuan yang ingin dicapai dalam satu

periode kegiatan perusahaan, biasanya antara 6 bulan hingga 1 tahun.

Kadangkala juga dapat hingga mencapai 2 tahun. Tujuan operasional ini,

dalam evaluasinya terkait dengan masa pelaporan keuangan perusahaan

yang biasanya juga antara 6 bulan hingga 1 tahun.46

2. Merumuskan keadaan saat ini

Pemahaman akan posisi perusahaan sekarang dari tujuan yang

hendak dicapai atau sumber daya-sumber daya yang tersedia untuk

pencapaian tujuan, adalah sangat penting, karena tujuan dan rencana

menyangkut waktu yang akan datang.47 Setelah keadaan ini dianalisa

barulah rencana dapat dirumuskan untuk menggambarkan rencana lebih

lanjutnya. Untuk mendapatkan keadaan saat ini diperlukan informasi

tentang keuangan dan data statistik perusahaan yang didapatkan melalui

komunikasi dalam organisasi.

45 Ibid. 46 Ibid.

(45)

32

3. Mengidentifikasi segala kemudahan dan hambatan

Segala kekuatan dan kelemahan serta kemudahan dan hambatan

perlu diidentifikasikan untuk mengukur kemampuan organisasi dalam

mencapai tujuan. Oleh karena itu perlu diketahui faktor-faktor lingkungan

intern dan ekstern yang dapat membantu organisasi mencapai tujuannya,

atau yang mungkin menimbukan masalah. 48

4. Mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk mencapai

tujuan

Tahap terakhir dalam proses perencaan meliputi pengembangan

berbagai alternative kegiatan untuk pencapaian tujuan, penilaian

alternatif-alternatif tersebut dan pemilihan alternatif terbaik (paling

memuaskan) diantara berbagai alternatif yang ada. 49

E. Proses Perencanaan

Proses perencanaan adalah suatu proses tentang bagaimana suatu

kegiatan itu kita rencanakan.50 Ada tiga pendekatan dalam proses perencanaan

yaitu:

1. Pendekatan perkembangan yang menguntungan.

2. Pendekatan SWOT.

3. Pendekatan portofolio dan kesenjangan perencanaan.

Proses perencanaan dengan pendekatan perkembangan yang

menguntungkan dilakukan dengan cara menganalisis sarana produksi yang

(46)

33

dimiliki dan dihubungkan dengan kebutuhan yang muncul dari lingkungan

masyarakat. Dari situ kita bisa mengetahui kemungkinan-kemungkinan untuk

memanfaatkan sarana yang dimiliki dengan kebutuhan tersebut dan

mengusahakan keseimbangan antara saran yang dimiliki dan kebutuhan

lingkungan masyarakat. Apabila terjadi perkembangan terus-menerus yang

menjadikan keadaan bergeser dan menimbulkan ketidakseimbangan maka kita

harus mencari jalan agar selalu terjadi keseimbangan karena kondisi itulah

yang akan menguntungkan perusahaan.51

Proses perencanaan dengan pendekatan SWOT dilakukan dengan

mempertimbangkan dan menganalisa faktor-faktor ekstern maupun intern.

Lingkungan organisasi eksternal mencakup semua elemen yang ada di luar

batas organisasi yang memiliki potensi untuk mempengaruhi organisasi,

meliputi pesaing, sumber daya, teknologi, dan kondisi ekonomi yang

memengaruhi organisasi. Dalam hal ini tidak termasuk kejadian-kejadian yang

begitu jauh dari organisasi yang dampaknya tidak dirasakan oleh organisasi.

Sedangkan lingkungan internal meliputi hal-hal yang mencakup unsur-unsur

dalam batas-batas organisasi.

(47)

34

Gambar 2.1 Lingkungan Organisasi52

Lingkungan eksternal organisasi dapat dikonseptualisasikan lebih jauh

dengan memiliki dua lapisan, yakni lingkungan umum dan lingkungan tugas

sebagaimana yang tampak pada Gambar 2.1.

Lingkungan umum adalah lapisan luar yang tersebar luas dan

memengaruhi organisasi secara tidak langsung. Diantaranya mencakup sosial,

ekonomi, hukum / politik, internasional, alam, dan faktor teknologi yang

mempengaruhi semua organisasi secara sama. Dimensi internasional

merupakan bagian dari lingkungan eksternal yang merepresentasikan

kejadian-kejadian yang berasal dari luar negeri yang bisa menjadi peluang bagi

organisasi untuk mendirikan perusahaannya di luar negeri. Dimensi teknologi

52 Diambil dari Richard L Dhaft, Management, Ninth Edition, (Mason : South-Western Cengage

(48)

35

adalah dimensi umum yang meliputi ilmu pengetahuan dan kemajuan

teknologi dalam industri dan masyarakat luas. Dimensi sosiokultural adalah

dimensi umum yang mewakili karakteristik demografi, norma, adat istiadat,

dan nilai masyarakat dimana organisasi beroperasi. Dimensi ekonomi

mewakili kesehatan ekonomi negara atau wilayah dimana organisasi

beroperasi. Dimensi hukum atau politik mencakup peraturan pemerintah

federal, negara bagian, dan pemerintah daerah dan kegiatan politik yang

didesain untuk mempengaruhi perilaku perusahaan. Dimensi alam adalah

dimensi yang mencakup semua elemen yang terjadi secara alami di bumi,

termasuk didalamnya tanaman, hewan, batu, sumber daya seperti udara, air,

dan iklim.

Lingkungan tugas merupakan lingkungan yang lebih dekat dengan

organisasi dan termasuk sektor yang melakukan transaksi sehari-hari dengan

organisasi dan secara langsung berpengaruh terhadap operasi dan kinerja

organisasi. Diantaranya yang termasuk lingkungan ini adalah pesaing,

pemasok, pelanggan, dan pasar tenaga kerja. Pelanggan adalah orang yang

mendapatkan barang atau jasa dari organisasi. Pesaing adalah organisasi lain

yang memiliki industri sama atau jenis usaha yang sama yang disedikan untuk

pelanggan. Pemasok adalah orang atau organisasi yang menyediakan barang

mentah yang diperlukan organisasi untuk menghasilkan output produksinya.

Pasar tenaga kerja adalah masyarakat yang tersedia untuk disewa organisasi.

Lingkungan internal organisasi diantaranya adalah karyawan saat ini,

(49)

36

di lingkungan internal organisasi dan seberapa baik organisasi akan

beradaptasi dengan lingkungan eksternal.

Setelah melakukan identifikasi terhadap faktor-faktor internal dan

eksternal, berikutnya adalah melakukan analisis terhadap faktor-faktor

tersebut. Analisa faktor-faktor haruslah dapat menghasilkan adanya kekuatan

(strength) yang dimilliki oleh suatu organisasi, serta dapat mengetahui

kelemahan yang terdapat pada organisasi itu (weaknesses). Sedangkan analisa

terhadap faktor ekstern harus dapat mengetahui opportunity atau kesempatan

yang terbuka bagi organisasi serta dapat mengetahui pula tekanan yang dialami

oleh organisasi yang bersangkutan (treath). Setelah diketahui kekuatan,

kelemahan, kesempatan serta tekanan-tekanan yang dihadapi maka kita bisa

menyusun rencana strategis untuk mencapai tujuan organisasi. Rencana

strategis tersebut kemudian diterjemahkan dalam rencana operasional yang

mencantumkan adanya target-target yang akan dicapai dan kemudian

diterjemahkan menjadi anggaran operasional. 53

Proses perencanaan dengan pendekatan portofolio dan kesenjangan

perencanaan dilakukan pada konteks perusahaan dengan berbagai jenis usaha

dan produk. Kondisi itu akan menimbulkan adanya perbedaan-perbedaan

dalam masa umur (siklus) kehidupan produk yang diusahakannya. Analisa

portofolio produk dapat digambarkan sebagai berikut:

(50)

37

Gambar 2.2 Analisis Portofolio Produk54

Pada kuadran ke-I disebut bintang (star) melambangkan produk yang

sedang mengalami masa kejayaann di mana produk itu memiliki potensi pasar

yang tinggi dengan kemampuan perusahaan yang tinggi pula dalam

mengusahakan atau mengeksploitasikan kesempatan pasar tersebut.55

Pada kuadran ke-II yang disebut tanda tanya (Question mark)

melambangkan suatu produk yang penuh tantangan untuk dikembangkan di

mana potensi pasar cukup tinggi akan tetapi perusahaan belum mampu untuk

mengeksploatasikannya. Produk ini sering juga disebut dalam keadaan

perscalan anak-anak (problem children).56

Kuadran ke-III disebut sapi perah (cash cow). Produk ini merupakan

sumber pemasukan uang yang cukup besar bagi perusahaan. Hal ini

54 Indriyo Gitosudarmo, Prinsip Dasar Manajemen (Yogyakarta : BPFE Yogyakarta, 1990), 127. 55 Ibid.

(51)

38

disebabkan karena perusahaan telah mampu menguasai pasar dengan baik

sehingga dapat mengalahkan pesaing-pesaingnya.57

Kuadran ke-IV disebut anjing (dog), tau lebih tepat apabila disebut

"under dog" yaitu produk yang belum punya reputasi apa-apa di mana potensi

pasamya rendah sedangkan kemampuan perusahaan untuk mengusahakannya

juga rendah.58

Dari analisa Portofolio Produk itulah kemudian maka berkembang suatu

proses perencanaan yang disebut dengan Kesenjangan Perencanaan atau

Planning Gap. Perencanaan ini yang pada hakekatnya adalah merupakan

perencanaan strategis jangka panjang dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 2.3 Analisis Kesenjangan Perencanaan59

57 Ibid. 58 Ibid.

(52)

39

Planning Gap adalah potensi-potensi baru yang mungkin diusahakan,

dikembangkan, dan dieksploitasikan. Potensi baru tersebut dimulai dari yang

paling mudah dan sederhana yaitu mengembangkan pasar baru. Berikutnya

yang lebih sulit dan megandung resiko adalah mengembangkan produk baru

karena upaya ini memerlukan pemikiran dan pembahasan yang lebih

terperinci. Sedangkan strategi yang paling sulit adalah mencari bentuk-bentuk

usaha baru yang sama sekali berbeda dari usaha yang dilakukan sebelumnya.60

F. Program

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, program didefinisikan

sebagai rancangan mengenai asas – asas serta usaha – usaha yang akan dijalankan.61 Program adalah rangkaian dari tujuan, kebijakan, prosedur,

pembagian tugas, langkah-langkah yang harus diambil, sumber-sumber yang

harus dimanfaatkan, dan unsur-unsur yang diperlukan untuk mencapai arah

tindakan yang ditentukan. Suatu program pokok juga dimungkinkan memiliki

program-program turunan.62 Isi dari program pada umumnya memuat berbagai

hal, diantaranya: 63

1. Nama program

2. Unit atau departemen yang terkait program

3. Penjelasan tentang maksud dan tujuan program

4. Sasaran-sasaran program

60 Lihat Indriyo Gitosudarmo, 129-130.

61 W.J.S Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, (Jakarta : Balai Pustaka,

2007), 911.

62 Lihat Harold Koontz, Cyril O’Donnel, dan Heinz Weihrich, Manajemen (Jakarta : Erlangga,

1994), 132-133.

(53)

40

5. Pengorganisasian program

6. Prosedur-prosedurnya

7. Jadual kegiatan

8. Anggaran masing-masing kegiatan

9. Kewenangan pengecekan yaitu siapa yang ditunjuk untuk melakukan

pengecekan dan menandatangi berita acara

G. Organisasi Dakwah

1. Pengertian organisasi dakwah

Menurut Edgar H. Schein dalam Sutarto, organisasi adalah: “An Organization is the rational coordination of the activities of a number of

people for the achievement of some common explicit purpose or goa, through

division of labour and function, and through a hierarchy of authority and

responsibility.”64

Sedangkan menurut Richard A. Jhonson, dkk dalam Sutarto, Organisasi

adalah : ”The Organization is an assemble of people, materials, machines, and other resources geared to task accomplishment through a series of interaction

and integrated into a social system.”65

Dua pendapat di atas menunjukkan bahwa organisasi adalah kordinasi

rasional dari aktivitas-aktivitas sejumlah orang untuk mencapai tujuan bersama

melalui pembagian kerja yang jelas dan jenjang wewenang dan tanggung

64 Edgar Schein, dalam Sutarto, Dasar-dasar Organisasi (Yogyakarta: Gajah Mada University

Press, 1993), 35.

65 Richard A. Johnson, dkk dalam Sutarto, Dasar-dasar Organisasi (Yogyakarta: Gajah Mada

(54)

41

jawab. Didalam sebuah organisasi juga terdapat barang, mesin, dan

sumber-sumber lain yang menghubungkan penyempurnaan tugas organisasi dalam

mewujudkan perwujudan tujuan bersama.

Dakwah secara etimologis (kebahasaan) merupakan bentuk mashdar

(verbal noun) berasal dari kata kerja da'a (madli pasttense), yad'u (mudlari',

presenttense), da'watan (mashdar, verbalnoun) yang berarti memanggil,

mengundang, mengajak, menyeru dan mendorong (to call, to invite, to

summon, to propagate and to urge).66

Secara terminologis (istilah) dakwah berarti mengajak dan menyeru

umat manusia baik perorangan maupun kelompok kepada agama Islam,

pedoman hidup yang diridlai oleh Allah dalam bentuk amar ma'ruf, nahi

mungkar dan amal sholeh dengan cara lisan (lisanul maqal) maupun perbuatan

(lisanul hal) guna mencapai kebahagiaan hidup kini di dunia dan nanti di

akhirat. 67

Dari pendekatan kebahasaan dan istilah tersebut bisa diambil

kesimpulan bahwa tujuan dakwah adalah untuk mengajak perorangan maupun

kelompok pada ajaran Islam sehingga bisa mendapatkan kebahagiaan hidup di

dunia dan akherat.

Organisasi dakwah berarti kordinasi rasional dari aktivitas-aktivitas

sejumlah orang untuk mencapai tujuan dakwah mengajak perorangan maupun

(55)

42

kelompok pada ajaran Islam melalui pembagian kerja yang jelas dan jenjang

wewenang dan tanggung jawab.

2. Unsur organisasi dakwah

Menurut Muhtarom, unsur-unsur organisasi dakwah diantaranya

sebagai berikut:

a. Terdapat sejumlah orang untuk melakukan kegiatan dakwah.

b. Ada kehendak saling bekerjasama melakukan amar ma'ruf,

nahi mungkar dan amal sholeh.

c. Pembagian pekerjaan berdasarkan kemampuan dan keahlian

menurut ketentuan yang disepakati.

d. Terdapat tujuan bersama yang ingin dicapai, yaitu terwujudnya umat

yang baik, sejahtera dan bahagia.

e. Kadar umat yang disebut baik adalah berdasarkan nilai-nilai dan ajaran

Islam.

f. Arah yang dituju setiap usaha adalah aktualisasi nilai dan

ajaran Islam.

g. Tujuan mudah dipahami oleh semua pihak didalam dan

diluar organisasi.

Sedangkan jika unsur organisasi dilihat secara lengkap terdiri dari Man

(orang-orang), kerjasama, tujuan bersama, peralatan, lingkungan, kekayaan

alam, dan kerangka atau konstruksi mental organisasi.68

68 Lihat Ig. Wursanto dalam Dasar-dasar Ilmu Organisasi (Yogyakarta : Penerbit Andi, 2002),

(56)

43

Man (orang-orang) adalah seluruh anggota atau warga organisasi yang

menurut tingkatannya terdiri dari unsur pimpinan tertinggi organisasi

(administrator), manager yang memimpin satuan kerja sesuai fungsinya

masing-masing, dan pekerja. Administrator dan para manajer merupakan unsur

pimpinan yang diserahi tugas untuk mengelola, menjalankan dan

menggerakkan organisasi guna mencapai tujuan yang ditetapkan.69

Kerjasama adalah perbuatan bantu-membantu untuk mencapai tujuan

bersama organisasi. Tujuan bersama ini menggambarkan apa yang atentang

apa yang akan dicapai dan merupakan titik akhir tentang apa yang harus

dikerjakan. Tujuan juga menggambarkan tentang apa yang harus dicapai

melalui prosedur, program, pola, kebijaksanaa, strategi, anggaran, dan

peraturan-peraturan yang telah ditetapkan.70

Unsur keempat, peralatan dari organisasi adalah peralatan yang terdiri

atas semua sarana/ tool, berupa materi, mesin-mesin, uang, dan barag modal

lainnya (tanah/gedung/bangunan/kantor).

Berikutnya adalah unsur lingkungan. Yang termasuk dalam unsur ini

diantaranya adalah:71

a. Kondisi yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh

pada daya gerak dan kehidupan organisasi.

b. Tempat atau lokasi, erat kaitannya dengan komunikasi dan

transportasi yang dilakukan organisasi.

(57)

44

c. Wilayah operasi yang dijadikan sasaran kegiatan organisasi. Wilayah

operasi dibedakan menjadi:

i. Wilayah kegiatan, menyangkut jenis kegiatan apa yang boleh

dilakukan sesuai dengan tujuan organisasi.

ii. Wilayah jangkauan, wilayah teritorial dimana organisasi

beroperasi.

iii. Wilayah personil, menyangkut pihak baik orang maupun

lembaga yang mempunyai hubungan dan kepentingan dengan

orgaisasi.

iv. Wilayah kewenangan atau kekuasaan, menyangkut semua

persoalan, kewajiban, tugas, tanggung jawab dan kebijaksanaan

yang harus dilakukan dalam batas-batas tertentu yang tidak

boleh dilampaui sesuai dengan aturan main yang ditetapkan dan

sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang

berlaku.

Unsur kelima yakni kekayaan alam, misalnya keadaan iklim, udara,

cuaca (geografi, hidrologi, geologi, klimatologi), flora dan fauna. Unsur

terakhir yakni kerangka atau konstruksi mental organisasi yang berisikan

prinsip-prinsip organisasi, diantaranya:

a. Pembagian tugas

b. Pendelegasian wewenang

c. Disiplin

(58)

45

e. Kesatuan arah

f. Rentang pengawasan

g. Koordinasi

h. Jenjang organisasi

i. Sentralisasi

j. Inisiatif, dan

Gambar

Tabel 1.2 Instrumen Wawancara, Sumber Data, dan Teknik Pengumpulan
Tabel 1.1 Perbandingan dengan Penelitian Terdahulu
gambar baik yang berasal dari arsip gerakan PTP, media sosial diantaranya
gambaran program
+6

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi Program Kemitraan yang dilakukan oleh unit PKBL Perum Jasa Tirta II sebagai

(4) Kiat-kiat yang hams dilakukan dalam mengantisipasi hambatan-hambatan guna mencapai efektivitas penggunaan informasi dalam proses perencanaan di Sub Bagian Bina Program

Salah satu upaya yang dilakukan oleh JANMA yang didukung dari program CSR PT Tirta Investama-Aqua Mambal, adalah melakukan Gerakan Aksi Penanaman Pohon Bersama, dengan

Pembahasan mengenai program ruang dilakukan dengan melakukan pengumpulan data-data yang dibutuhkan dalam perencanaan dan perancangan Rumah Sakit TNI AU Yogyakarta, yaitu

1. Model Evaluasi Formatif: Tujuan untuk memahami dan memperbaiki program sebelum atau selama pelaksanaan. Evaluasi formatif membantu mengidentifikasi kelemahan dalam perencanaan atau implementasi program pengamanan pemilu, sehingga perbaikan dapat dilakukan sebelum pemilu berlangsung. 2. Model Evaluasi Partisipatif: Tujaun untuk melibatkan pemangku kepentingan dalam proses evaluasi termasuk pihak berwenang, lembaga pemilihan, partai politik, masyarakat sipil, dan pemilih. Model ini dapat membantu mendapatkan perspektif yang beragam dan membangun dukungan yang kuat untuk program pengamanan pemilu. 3. Model Evaluasi Responsif: Model ini mengukur sejauh mana program pengamanan pemilu merespons perubahan dalam situasi dan tantangan yang muncul selama pemilu. Ini memungkinkan program untuk beradaptasi dengan cepat sesuai kebutuhan. 4. Model Evaluasi Penilaian Risiko: Model ini berfokus pada identifikasi dan penilaian risiko selama pemilu. Ini membantu dalam merencanakan respons yang tepat terhadap situasi yang berpotensi

Tujuan Tugas Akhir ini adalah melakukan analisa pemodelan kondisi eksisting dan alternatif penanggulangan tanggul yang dilakukan dengan menggunakan program PLAXIS 2D berdasarkan

Dalam proses perencanaan dan pelaksanaan layanan format klasikal dapat dilakukan dalam lima langkah, yaitu menentukan tujuan, melakukan penilaian awal, membuat program yang obyektif dan