ANALISIS KEBUTUHAN ENERGI DOMINAN DALAM PERTANDINGAN PENCAK SILAT KATEGORI TANDING.

169 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

ANALISIS KEBUTUHAN ENERGI DOMINAN DALAM PERTANDINGAN PENCAK SILAT KATEGORI TANDING

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta

untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh:

KARTINI

NIM 11602241011

PROGRAM PENDIDIKAN KEPELATIHAN OLAHRAGA FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN

(2)

ii

PERSETUJUAN

Skripsi dengan judul “Analisis Kebutuhan Energi Dominan Dalam Pertandingan Pencak Silat Kategori Tanding” yang disusun oleh Kartini NIM 11602241011 ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diuji.

Yogyakarta, 19 Februari 2015 Pembimbing

Awan Hariono, M. Or

(3)

iii

SURAT PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini benar-benar karya saya sendiri. Sepanjang pengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat yang ditulis atau diterbitkan orang lain kecuali sebagai acuan atau kutipan dengan mengikuti tata penulisan karya ilmiah yang telah lazim.

Tanda tangan dosen penguji yang tertera dalam halaman pengesahan adalah asli. Jika tidak asli, saya siap menerima sanksi ditunda yudisium pada periode berikutnya.

Yogyakarta, 19 Februari 2015 Yang menyatakan,

Kartini

(4)

iv

PENGESAHAN

Skripsi dengan judul “Analisis Kebutuhan Energi Dominan dalam Pertandingan

Pencak Silat Kategori Tanding” yang disusun oleh Kartini NIM 11602241011 ini telah dipertahankan di depan Dewan Penguji pada tanggal 6 Maret 2015 dan

Faidillah Kurniawan, M.Or Sekretaris Penguji

……… ……….

Dr. Siswantoyo, M.Kes., AIFO Penguji I (Utama)

……… ……….

Drs. Agung Nugroho AM.,M.Si Penguji II (Pendamping)

……… ……….

Yogyakarta, Maret 2015 Fakultas Ilmu Keolahragaan Dekan,

(5)

v

MOTTO

“Sherlock Holmes”

(6)

vi

PERSEMBAHAN

Saya persembahkan tugas akhir ini kepada: Bapak (in memories) dan Mimi tercinta, Aang Tersayang,

(7)

vii

ANALISIS KEBUTUHAN ENERGI DOMINAN DALAM PERTANDINGAN PENCAK SILAT KATEGORI TANDING

Oleh: Kartini NIM 11602241011

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan: (1) mengetahui persentase kebutuhan energi dominan yang digunakan dalam pertandingan pencak silat kategori tanding putra dan putri pada Kejuaraan Nasional Pencak Silat Antar Perguruan Tinggi Ke-V tahun 2014 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, (2) mengetahui persentase kebutuhan energi dominan yang digunakan dalam pertandingan pencak silat kategori tanding putra pada Kejuaraan Nasional Pencak Silat Antar Perguruan Tinggi Ke-V tahun 2014 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, dan (3) mengetahui persentase kebutuhan energi dominan yang digunakan dalam pertandingan pencak silat kategori tanding putri pada Kejuaraan Nasional Pencak Silat Antar Perguruan Tinggi Ke-V tahun 2014 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan metode survai, teknik pengumpulan data menggunakan observasi langsung/direct observation dengan cara melakukan perekaman pertandingan menggunakan handycame. Populasi dan sampel pada penelitian ini adalah peserta baik putra maupun putri yang mengikuti Kejuaraan Nasional Pencak Silat Antar Perguruan Tinggi ke-V tahun 2014 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang berjumlah 31 pertandingan. Pemilihan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu atau sampel bertujuan. Pemilihan sampel dalam penelitian ini adalah pertandingan dalam babak semifinal dan babak final. Sampel yang dijadikan sebagai data penelitian berjumlah 19 partai kategori tanding putra dan 12 partai kategori tanding putri. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi dan handycame. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif yang digambarkan dalam bentuk persentase.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) energi dominan yang digunakan pada kategori tanding putra dan putri adalah sistem anaerobik alaktik dengan waktu kerja rata-rata 2,82 detik, maka persentase penggunaan energi 79,02% ATP-PC, 10,98% LA-O2, dan O2 10%, (2) energi dominan yang digunakan pada kategori

tanding putra adalah sistem anaerobik alaktik dengan waktu kerja rata-rata 2,81 detik, maka persentase penggunaan energi 79,59% ATP-PC, 10,41% LA-O2, dan O2 10%,

dan (3) energi dominan yang digunakan pada kategori tanding putri adalah sistem anaerobik alaktik dengan rata-rata waktu kerja 2,83 detik, maka persentase penggunaan energi 78,09% ATP-PC, 11,91% LA-O2, dan O2 10%.

(8)

viii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penyusunan skripsi ini dapat diselesaikan. Dalam proses penyelesaian skripsi tentunya mengalami kesulitan dan hambatan, namun berkat bantuan dari berbagai pihak maka berbagai kesulitan dan hambatan yang timbul tersebut dapat diatasi. Oleh karena itu dalam kesempatan ini diucapkan terima kasih kepada yang terhormat:

1. Rektor Universitas Negeri Yogyakarta yang telah memberikan ijin penelitian. 2. Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta yang telah

memberi kesempatan dan ijin dalam melakukan penelitian.

3. Ketua Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta.

4. Bapak Dr. Siswantoyo, M. Kes. AIFO selaku dosen pembimbing akademik yang telah membimbing dalam pengambilan matakuliah selama perkuliahan. 5. Bapak Awan Hariono, M. Or. selaku dosen pembimbing skripsi yang telah

memberikan bimbingan, semangat, pengarahan, saran, dan koreksi dalam menyusun skripsi ini.

6. Bapak dan Ibu Dosen yang telah memberikan bekal ilmu selama penulis kuliah di Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta.

(9)

ix

8. Seluruh panitia pelaksana dalam Kejuaraan Nasional Pencak Silat Antar Perguruan Tinggi ke-V tahun 2014 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang telah memberikan ijin untuk mengambil data penelitian.

9. Teman-teman UKM Pencak Silat UNY dan Prodi Kepelatihan Olahraga tahun 2011 yang telah memberikan semangat dan bantuan selama proses penyusunan skripsi.

10. Teman-teman Kos Sendowo F. 156, Mba Eni, Danisi, Mba Puji, Mba Nunik, Mba Puji akhiroh, Ilma, Reni dan Sahabatku Siti Nur Janah yang telah memberikan dukungan dan semangat dalam penulisan ini.

11. Kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah memberikan bantuan dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.

Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan balasan-Nya kepada mereka dengan yang lebih baik. Amin.

Yogyakarta, Februari 2015

(10)

x

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ………... vii

KATA PENGANTAR ………. viii

DAFTAR ISI ……… x

DAFTAR TABEL ……… xii

DAFTAR GAMBAR ………... xiii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ……… 1

B. Identifikasi Masalah ……… 10

C. Batasan Masalah ………. 11

D. Rumusan Masalah ……… 11

E. Tujuan Penelitian ……… 12

F. Manfaat Penelitian ……….. 12

BAB II KAJIAN TEORI A. Deskripsi Teori ……… 14

1. Pengertian Latihan ……… 14

2. Tujuan dan Sasaran Latihan ………. 16

3. Sistem Energi ……… 19

4. Pencak Silat Kategori Tanding ……… 28

(11)

xi

C. Kerangka Berfikir ……… 40

D. Pertanyaan Penelitian ………..……… 41

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Desain Penelitian ………. 42

B. Definisi Operasional Variabel Penelitian ……… 42

C. Populasi dan Subjek Penelitian ………... 43

D. Instrumen dan Teknik Pengumpulan Data ……….. 45

E. Teknik Analisis Data ………... 48

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data Penelitian ……… 49

B. Hasil Penelitian ………... 51

C. Pembahasan ………. 77

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ………. 83

B. Implikasi ………. 84

C. Keterbatasan Penelitian ……….. 84

D. Saran ………... 84

DAFTAR PUSTAKA ……….. 86

(12)

xii

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Kelas dan Berat Badan Kategori Tanding Putra ………. 29

Tabel 2. Kelas dan Berat Badan Kategori Tanding Putri ………. 29

Tabel 3. Nilai Prestasi Teknik ………... 35

Tabel 4. Kisi-kisi Pengumpulan Data ………... 47

Tabel 5. Hasil Kalibrasi Alat Ukur Kecepatan ………. 50

Tabel 6. Rekapitulasi Data Dalam Satu Partai Kategori Tanding Putra……….. 50

Tabel 7. Rekapitulasi Data Dalam Satu Partai Kategori Tanding Putri 51 Tabel 8. Perhitungan Data Kategori Tanding Putra dan Putri ……….. 52

Tabel 9. Perhitungan Data Kategori Tanding Putra ……….. 60

(13)

xiii

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Gelanggang Pencak Silat ……… 30 Gambar 2. Diagram Persentase Penggunaan Energi pada Kategori

Tanding Putra dan Putri ………... 53

Gambar 3. Diagram Persentase Penggunaan Energi pada Kategori

Tanding Putra ………... 60

Gambar 4. Diagram Persentase Penggunaan Energi pada Kategori

(14)
(15)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Pencak silat adalah gerak bela serang yang teratur menurut sistem,

waktu, dan tempat dengan selalu menjaga kehormatan masing-masing secara

ksatria, tidak mau melukai perasaan (Agung Nugroho, 2004: 15). Pencak silat

dapat dibedakan menjadi 4 (empat) jenis yakni: (1) pencak silat mental

spiritual, (2) pencak silat beladiri, (3) pencak silat seni, (4) pencak silat

olahraga. Namun, dewasa ini pencak silat berkembang pesat pada jenis

pencak silat untuk olahraga, artinya pencak silat yang dipertandingkan secara

resmi dengan tujuan memperoleh prestasi. Pertandingan pencak silat

dilaksanakan dalam empat kategori, yaitu kategori tanding, kategori tunggal,

kategori ganda, dan kategori regu.

Menurut Persilat (2012: 1) kategori tanding adalah pertandingan pencak

silat yang menampilkan 2 (dua) orang pesilat dari sudut yang berbeda, keduanya

saling berhadapan menggunakan unsur pembelaan dan serangan yaitu,

menangkis/mengelak/mengena/menyerang pada sasaran dan menjatuhkan lawan;

menggunakan teknik dan taktik bertanding, ketahanan stamina dan semangat

juang, menggunakan kaidah dengan memanfaatkan kekayaan teknik dan

jurus. Teknik yang digunakan dalam pertandingan kategori tanding sangat

beragam, oleh karena itu diperlukan latihan yang intensif, teratur, terprogram

(16)

2

Pencak silat kategori tanding merupakan olahraga body contact,

sehingga kemungkinan terjadinya cedera sangat tinggi pada saat pertandingan

berlangsung. Untuk itu diperlukan kemampuan biomotor yang baik agar pesilat

dapat melakukan setiap gerak teknik serangan maupun belaan dengan baik

tanpa mengalami cedera yang berarti. Adapun komponen biomotor yang

diperlukan dalam pencak silat kategori tanding adalah ketahanan, kekuatan,

kecepatan, koordinasi dan fleksibilitas (Awan Hariono, 2005: 429).

Aspek yang mendukung dalam pencapaian prestasi puncak dalam

pertandingan pencak silat kategori tanding diantaranya adalah fisik, teknik,

taktik, dan mental. Agung Nugroho (2000: 92) menyebutkan bahwa aspek fisik

merupakan faktor pertama dalam olahraga pencak silat karena fisik yang baik

akan mendukung aktivitas dalam pencapaian prestasi maksimal. Kualitas fisik

antara lain ditentukan oleh kebugaran otot dan kebugaran energi. Menurut

Awan Hariono (2006: 41) kebugaran otot mencakup komponen biomotor yaitu

kekuatan, ketahanan, kecepatan, fleksibilitas, dan koordinasi. Sedangkan

kebugaran energi mencakup sistem energi aerobik dan sistem energi anaerobik.

Secara garis besar komponen biomotor dalam pencak silat dipengaruhi oleh

kebugaran energi. Selama ini belum ada penelitian yang mengungkapkan

masalah kebutuhan energi dominan yang digunakan dalam pertandingan

pencak silat, khususnya dalam kategori tanding. Untuk menentukan persentase

kebutuhan energi dominan yang digunakan selama pertandingan pencak silat

kategori tanding perlu mempertimbangkan antara lain: lamanya waktu

(17)

3

yang terjadi, waktu recovery pada saat pertandingan berlangsung, dan interval

antar babak (Awan Hariono, 2006: 34).

Proses latihan fisik salah satunya untuk meningkatkan kemampuan

sistem energi aerobik dan anaerobik pesilat, untuk dapat memberikan latihan

tersebut pelatih harus mengetahui kebutuhan energi dominan dalam

pertandingan pencak silat kategori tanding. Energi dominan yang digunakan

dalam pencak silat kategori tanding berfungsi untuk menentukan jenis latihan

yang dilakukan. Pelatih yang mengetahui sistem energi dominan akan dapat

menyusun program latihan dengan metode, model dan pembebanan latihan

yang tepat, sehingga kebugaran energi dapat ditingkatkan dengan tepat.

Metode dalam latihan pencak silat adalah cara yang harus ditempuh

untuk mencapai tujuan latihan. Sedangkan model latihan dalam pencak silat

adalah pola atau bentuk latihan yang akan dilaksanakan untuk mencapai

tujuan latihan. Adapun pembebanan latihan adalah segala bentuk tuntutan dan

rangsangan yang diberikan kepada pesilat dalam latihan yang dapat

menimbulkan efek latihan (trainings effect) (Syafruddin, 2010. diunduh dari

www.wordpress .com. pada tanggal 6 Juni 2014).

Pada pertandingan pencak silat kategori tanding, perencanaan program

latihan fisik perlu memperhatikan energi dominan yang digunakan, ketahanan

sistem energi yang baik akan mempermudah pesilat melakukan serangkaian

gerak teknik maupun melaksanakan taktik dalam pertandingan maupun dalam

proses latihan, oleh karena itu kecepatan dalam melakukan serangkaian gerak

(18)

4

pertandingan pencak silat kategori tanding gerakan teknik dilakukan dengan

cepat dan mendadak dalam waktu yang singkat dan berulang-ulang selama 2

(dua) menit bersih sebanyak 3 (tiga) babak. Maka dibutuhkan penyelenggaraan

sistem latihan yang baik, pemilihan rancangan program latihan dan metode

latihan yang tepat sehingga dapat meningkatkan kemampuan biomotor dan

kebugaran energi, serta dapat mengurangi resiko cedera.

Pelatih pencak silat kategori tanding dalam proses latihan fisik harus

memperhatikan kebutuhan energi dominan yang digunakan, agar kondisi fisik

yang akan di kembangkan dapat tercapai sesuai dengan periodisasi latihan.

Namun pada kenyataannya, sebagian besar pelatih tidak memperhatikan

kebutuhan energi dominan dalam proses berlatih melatih, hal ini dapat dilihat

dari penerapan latihan yang dilakukan secara umum dalam setiap periode

latihan, akibatnya prinsip kekhususan latihan dalam pencak silat kategori

tanding tidak dapat tercapai dengan tepat. Bahkan masih ada pelatih yang

beranggapan bahwa ketika seorang pesilat menjalani latihan harus selalu

melebihi waktu kerja yang diperlukan saat bertanding. Oleh karena itu,

diperlukan analisis mengenai kebutuhan energi dominan yang digunakan

dalam pertandingan pencak silat khususnya kategori tanding, sehingga

penyusunan program latihan dapat disesuaikan menurut periodisasi latihan

yang sedang dijalani.

Pengetahuan pelatih dalam penggunaan energi dominan dapat menjadi

pedoman pada penyusunan menu latihan fisik sesuai dengan periodisasi

(19)

5

yang baik, dengan begitu pesilat akan lebih mudah menggunakan berbagai

macam teknik dan taktik dalam proses beralatih maupun bertanding secara

berulang-ulang. Hal ini selaras dengan pertandingan pencak silat kategori

tanding yang menggunakan berbagai macam teknik untuk mendapatkan nilai,

serangkaian teknik serangan atau belaan dilakukan dengan cepat dan

mendadak selama 3 babak penuh, oleh karena itu energi dominan yang

digunakan harus betul-betul dipahami oleh seorang pelatih. Dalam proses

berlatih yang berkaitan dengan kebutuhan energi dominan di Daerah

Istimewa Yogyakarta khususnya kategori tanding secara keseluruhan belum

dapat digunakan dengan tepat, pada kenyataan dilapangan masih terdapat

pelatih yang hanya mengutamakan peningkatan komponen biomotor seperti

kecepatan dalam melakukan salah satu teknik tanpa diimbangi terlebih dahulu

dengan kapasitas kebugaran energi yang tepat, sehingga teknik-teknik yang

digunakan hanya monoton. Kebutuhan energi dominan pada pencak silat

kategori tanding yang belum diketahui sebagian pelatih di Daerah Istimewa

Yogyakarta mengakibatkan pesilat yang memiliki kondisi fisik baik didominasi

dari salah satu perguruan tinggi saja, oleh karena itu sistem latihan dengan

mengetahui kebutuhan energi dominan perlu diterapkan dalam upaya

meningkatkan prestasi pesilat.

Prestasi puncak dalam pencak silat kategori tanding dapat tercapai

melalui sebuah proses latihan yang panjang, sistematis dan adanya

pembebanan yang progresif. Proses latihan dapat dilakukan dengan adanya

(20)

6

Dengan adanya program latihan maka dosis latihan dan skala prioritas sasaran

latihan telah disusun dengan sistematis. Agar terjadi proses adaptasi latihan

maka prinsip progresif harus diterapkan dengan memperhatikan beban latihan

yang akan diberikan. Dengan demikian, proses latihan untuk kebugaran

energi harus disesuaikan dengan periode latihan sehingga kemampuan

biomotor pun dapat meningkat secara seimbang.

Aspek yang mendukung dalam pencapaian prestasi puncak dalam

pertandingan pencak silat kategori tanding diantaranya adalah fisik, teknik,

taktik, dan mental. Pada pencak silat kategori tanding, kemenangan dalam

pertandingan ditentukan apabila pesilat mendapatkan nilai tertinggi sampai

pertandingan berakhir. Nilai dalam pertandingan pencak silat dapat diperoleh

jika serangan dilakukan dengan mantap dan tepat pada bidang sasaran yang

diperbolehkan tanpa terhalang apapun, sehingga menghasilkan bunyi pada body

protector. Untuk setiap serangan yang dilakukan oleh pesilat harus dilakukan

dengan kuat dan cepat sehingga lawan tidak dapat menangkis, menghindar atau

menangkap serangan tersebut. Untuk itu diperlukan kemampuan power yang

bagus agar serangan yang dilakukan tidak dapat diantisipasi oleh lawan.

Menurut Persilat (2012: 11) serangan yang dinilai pada pencak silat

kategori tanding adalah serangan yang mengenai sasaran yang sah dengan

menggunakan kaidah, mantap, dan bertenaga. Serangan dan pembelaan yang

dilakukan harus berpola dari sikap awal (pasang), pola langkah, serta adanya

koordinasi yang baik dalam melakukan serangan dan pembelaan. Oleh karena

(21)

7

dengan dimulai dari sikap pasang, melakukan pola langkah untuk mengukur

jarak ketika akan melakukan fight terhadap lawan, mengkoordinasikan

serangkaian gerakan untuk melakukan serangan atau belaan, dan kembali pada

sikap pasang. Artinya, dalam upaya mendekati lawan, pesilat tidak dibolehkan

berlari maupun melompat melainkan harus menggunakan pola langkah.

Gerak pesilat dalam melakukan pola langkah dan kaidah untuk mendekati

lawan termasuk dalam gerak siklus atau dilakukan dengan terus menerus.

Pada pencak silat kategori tanding, serangan sejenis dengan

menggunakan tangan maupun kaki akan dinilai satu serangan. Artinya, teknik

pukulan dan tendangan hanya dapat dilakukan secara efektif sebanyak satu

kali dalam satu rangkaian gerak serang atau belaan, selebihnya merupakan

usaha dalam mempertahankan nilai. Untuk itu, pesilat harus menggunakan

kombinasi serangan baik menggunakan tangan atau kaki, sehingga setiap

gerak teknik yang masuk pada sasaran dapat mendapatkan nilai. Berdasarkan

uraian tersebut menunjukan bahwa macam gerak dalam pencak silat kategori

tanding didominasi oleh gerak non siklus (Awan Hariono, 2006: 36).

Adapun serangan yang dilakukan secara beruntun oleh pesilat harus

tersusun dengan teratur dan berangkai dengan berbagai cara kearah sasaran

sebanyak-banyaknya 6 (enam) teknik serangan (Persilat, 2012: 12). Pesilat

yang melakukan rangkaian serang bela lebih dari 6 (enam) teknik serangan atau

belaan akan dihentikan oleh wasit. Selain itu pada proses tangkapan untuk

menjatuhkan lawan diberikan waktu selama (lima) detik (Persilat, 2012: 16),

(22)

8

diberhentikan oleh wasit. Berdasarkan dari pengamatan, rata-rata dalam

melakukan 6 (enam) gerak teknik tersebut dibutuhkan waktu kira-kira 4

(empat) sampai 5 (lima) detik, apabila pada serangan terakhir masing-masing

pesilat melakukan enam jenis serangan atau belaan kemudian kaki dapat

ditangkap oleh lawan dan tidak terjadi jatuhan, maka akumulasi waktu yang

diperlukan selama proses tersebut maksimal kira-kira 10 detik. Serangan atau

belaan yang dilakukan secara beruntun dan terus menerus selama tiga babak

mengakibatkan densitas gerak teknik yang tinggi dalam pertandingan pencak

silat kategori tanding. Untuk itu, pada kategori tanding komponen biomotor

kecepatan, koordinasi dan fleksibilitas sangat diperlukan agar pesilat dapat

melakukan teknik serangan atau belaan tanpa mengalami kesulitan.

Menurut Persilat (2012: 10) kategori tanding berlangsung sebanyak 3

(tiga) babak, setiap babak terdiri atas 2 (dua) menit bersih, diantara babak

diberikan waktu istirahat 1 (satu) menit. Waktu ketika wasit menghentikan

fight dan waktu pengesahan terhadap pesilat yang jatuh tidak termasuk waktu

bertanding. Kategori tanding umumnya terjadi (1) fight (pertarungan) dengan

pergerakan yang cepat dan mendadak, (2) recovery aktif untuk melakukan

fight berikutnya, dan (3) istirahat pasif (interval antar babak). Selama dua

menit bersih pesilat melakukan fight dengan menggunakan teknik dan taktik

yang efektif dan efisien, rangkaian serang bela yang beruntun dengan

berbagai cara kearah sasaran hanya boleh dilakukan sebanyak-banyaknya 6

(enam) kali serangan atau belaan (masing-masing pesilat). Oleh sebab itu,

(23)

9

melakukan serangan maupun belaan dengan mantap dan bertenaga selama

tiga babak, selain itu pesilat yang memiliki kemampuan daya tahan yang baik

dapat dengan cepat merecovery kelelahan pada saat bertanding.

Pentingnya pengetahuan pelatih dalam hal kebutuhan energi dominan

yang digunakan pada pencak silat kategori tanding yaitu untuk (1) menentukan

pola bermain pesilat, (2) menyusun program latihan sesuai dengan sistem energi

yang dibutuhkan, (3) pelatih dapat menentukan model dan metode dalam upaya

meningkatkan kemampuan aerobik dan anaerobik pesilat, (4) dapat menentukan

pembebanan latihan dengan tepat (Zouhal, 2010: 1), dan (5) pengetahuan ini

berguna untuk membantu pelatih dalam pelaksanaan yang benar dari program

latihan yang dirancang untuk mengoptimalkan produksi metabolisme ATP dan

karenanya mencapai kinerja puncak (Duffield, dkk. 2005: 305).

Apabila kebutuhan energi dominan pada pencak silat kategori tanding

tidak dapat dipahami oleh pelatih maka akan berakibat pada program latihan

yang keliru, program latihan yang keliru akan berakibat negatif untuk pesilat,

misalnya: (1) pesilat tidak dapat mencapai peak performancenya, (2) pesilat akan

mengalami over training, (3) pesilat mudah mengalami cedera, (4) mengganggu

fungsional tubuh (Bafirman, 2013: 41-47), dan (5) tidak ada kekhususan proses

latihan dalam penggunaan sistem energi sehingga kemampuan anaerobik

maupun aerobik tidak meningkat (Spencer & Gastin, 2000: 157).

Seperti yang telah dikemukakan di atas, pelatih harus memperhatikan

kebutuhan energi dominan pada pencak silat kategori tanding untuk

(24)

10

menyusun program latihan dengan model, metode, dan pembebanan latihan

yang tepat, sehingga pesilat dapat meraih prestasi dengan optimal. Penelitian

dalam hal kebutuhan energi dominan dalam pencak silat pun belum ada, oleh

karena itu peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul analisis

kebutuhan energi dominan dalam pertandingan pencak silat kategori tanding.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat diidentifikasi beberapa

masalah sebagai berikut:

1. Belum ada penelitian tentang kebutuhan energi dominan pada pencak silat

kategori tanding.

2. Sebagian besar pelatih belum memahami kebutuhan energi dominan pada

pencak silat kategori tanding.

3. Sebagian besar pelatih di Daerah Istimewa Yogyakarta tidak menggunakan

ketentuan kebutuhan energi dominan pada pencak silat kategori tanding

dalam menyusun program latihan.

4. Banyak pelatih yang melakukan kesalahan dalam memberikan beban

latihan karena keterbatasan pengetahuan terhadap kebutuhan energi

(25)

11 C. Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah serta

untuk menghindari salah penafsiran dalam penelitian ini, maka perlu adanya

pembatasan masalah. Adapun permasalahan dalam penelitian ini adalah

analisis kebutuhan energi dominan dalam pertandingan pencak silat kategori

tanding pada Kejuaraan Nasional Pencak Silat antar Perguruan Tinggi ke-V

tahun 2014 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah serta batasan

masalah di atas maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai

berikut:

1. Bagaimanakah persentase kebutuhan energi dominan yang digunakan

dalam pertandingan pencak silat kategori tanding putra dan putri dewasa

pada Kejuaraan Nasional Pencak Silat Antar Perguruan Tinggi Ke-V

tahun 2014 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta?

2. Bagaimanakah persentase kebutuhan energi dominan yang digunakan

dalam pertandingan pencak silat kategori tanding putra dewasa pada

Kejuaraan Nasional Pencak Silat Antar Perguruan Tinggi Ke-V tahun

2014 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta?

3. Bagaimanakah persentase kebutuhan energi dominan yang digunakan

dalam pertandingan pencak silat kategori tanding putri dewasa pada

Kejuaraan Nasional Pencak Silat Antar Perguruan Tinggi Ke-V tahun

(26)

12 E. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui persentase kebutuhan energi dominan yang digunakan

dalam pertandingan pencak silat kategori tanding putra dan putri pada

Kejuaraan Nasional Pencak Silat Antar Perguruan Tinggi Ke-V tahun

2014 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

2. Untuk mengetahui persentase kebutuhan energi dominan yang digunakan

dalam pertandingan pencak silat kategori tanding putra pada Kejuaraan

Nasional Pencak Silat Antar Perguruan Tinggi Ke-V tahun 2014 di

Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

3. Untuk mengetahui persentase kebutuhan energi dominan yang digunakan

dalam pertandingan pencak silat kategori tanding putri pada Kejuaraan

Nasional Pencak Silat Antar Perguruan Tinggi Ke-V tahun 2014 di

Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

F. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

a) Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi

kepada para pelatih tentang kebutuhan sistem energi dalam

pertandingan pencak silat kategori tanding.

b) Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan

kepada pelatih dalam menyusun program latihan dengan metode,

model, dan pembebanan yang tepat sesuai dengan sistem energi

(27)

13

c) Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan

kepada pelatih mengenai pentingnya sistem energi dalam proses latihan.

2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan untuk

(28)

14 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Deskripsi Teori

1. Pengertian latihan

Pengertian latihan yang berasal dari kata practice adalah aktivitas untuk meningkatkan keterampilan (kemahiran) dalam berolahraga dengan menggunakan berbagai peralatan sesuai dengan tujuan dan kebutuhan cabang olahraganya. Proses berlatih melatih practice bersifat sebagai bagian dari proses latihan yang berasal dari kata exercise. Artinya dalam setiap proses latihan yang berasal dari kata exercises pasti terdapat bentuk latihan practice. Latihan yang berasal dari kata exercise adalah perangklat utama dalam proses latihan harian untuk meningkatkan kualitas fungsi sistem organ tubuh manusia, sehingga mempermudah olahragawan dalam penyempurnaan geraknya. Latihan exercise merupakan materi latihan yang dirancang dan disusun oleh pelatih untuk satu sesi latihan. Susunan materi latihan dalam satu kali tatap muka pada umumnya berisikan antara lain: 1) pembukaan, 2) pemanasan, 3) latihan inti, 4) latihan tambahan, dan 5) cooling down/penutup. Sedangkan materi dan bentuk latihan dalam pembukaan, pemanasan, dan penutup pada umumnya sama, bagi istilah practice maupun istilah exercise. Latihan exercise sifatnya sebagai bagian dari istilah kata training yang dilakukan

(29)

15

Salah satu ciri dari latihan, baik yang berasal dari kata practice, exercise maupun training adalah adanya beban latihan. Oleh karena

beban latihan selama proses berlatih melatih diperlukan agar hasil latihan dapat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas fisik, psikis, sikap, dan sosial olahragawan, sehingga puncak prestasi dapat dicapai dalam waktu yang singkat dan dapat bertahan lebih lama (Sukadiyanto, 2011: 6).

Beberapa definisi di atas menunjukkan bahwa latihan merupakan sebuah upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas fisik dan keterampilan gerak sesuai dengan cabang olahraga guna mendapatkan performa yang optimal. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Bompa (1994: 3) yang mengartikan latihan sebagai program pengembangan olahragawan untuk event khusus, melalui peningkatan keterampilan dan kapasitas energi. Selain itu latihan juga sering didefinisikan sebagai suatu proses yang sistematis dari berlatih yang dilakukan berulang-ulang dengan mengunakan penambahan beban (Herre, 1982 dalam Bafirman, 2013: 40). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa latihan merupakan proses yang berulang-ulang secara sistematis untuk meningkatkan keterampilan dan fisik olahraga dilakukan dengan pemberian beban yang tetap meningkat secara progresif.

(30)

16

beberapa faktor pendukung, diantaranya adalah pelatih profesional. Dengan melibatkan pelatih profesional dalam proses latihan diharapkan dapat mencapai kesempurnaan dalam meningkatkan peforma atlet baik dari kemampuan kondisi fisik maupun faktor pendukung yang lain.

Penyempurnaan dalam latihan berarti meningkatkan kemampuan dari apa yang telah dimiliki oleh atlet ke tingkat yang lebih baik. Proses latihan harus menggunakan pendekatan ilmiah, artinya proses latihan menggunakan metode yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara keilmuan bukan karena faktor kebetulan, ketidaksengajaan maupun trial and error (Djoko Pekik Irianto, 2002: 12).

2. Tujuan dan Sasaran Latihan

Tujuan latihan secara umum adalah membantu para pembina, pelatih, dan guru olahraga agar dapat menerapkan dan memiliki kemampuan konseptual dalam membantu mengungkapkan potensi atlet dalam mencapai prestasi optimal. Sedangkan sasaran latihan adalah untuk meningkatkan kemampuan dan kesiapan atlet dalam mencapai prestasi optimal (Awan Hariono, 2006: 3). Menurut Sukadiyanto (2011: 9-10) secara garis besar sasaran dan tujuan latihan antara lain untuk:

a. Meningkatkan kualitas fisik dasar secara umum dan menyeluruh

(31)

17

b. Mengembangakan dan meningkatkan potensi fisik khusus

Upaya mengembangkan dan meningkatkan potensi fisik khusus harus disesuaikan dengan cabang olahraga, diantaranya: lama pertandingan yang akan berlangsung, kebutuhan gerak selama dalam pertandingan, irama gerak, dan sistem energi yang digunakan sehingga mendukung atlet dalam menampilkan potensi kemampuan yang dimiliki.

c. Menambah dan menyempurnakan teknik

Teknik dasar yang tidak benar akan mempercepat terjadinya stagnasi prestasi, sehingga atlet tidak pernah dapat mencapai prestasi secara optimal. Untuk itu, teknik dasar dalam cabang olahraga harus dikuasai dengan baik dan benar oleh karena akan mempengaruhi dalam efisiensi dan efektifitas gerak. Selain itu, penguasaan teknik dasar yang baik dan benar merupakan modal dasar menuju prestasi yang lebih tinggi.

d. Mengembangkan dan menyempurnakan strategi, taktik, serta pola bermain

(32)

18

kecerdasan atlet dalam mengatasi beberapa permasalahan yang mungkin muncul selama dalam pertandingan berlangsung.

e. Meningkatkan kualitas dan kemampuan aspek psikis

Aspek psikis merupakan salah satu faktor pendukung dalam pencapaian prestasi puncak yang seringkali masih mendapatkan perhatian relatif kecil dalam sesi latihan. Hampir setiap kekalahan dalam olahraga, khususnya dalam cabang olahraga pencak silat dipengaruhi oleh aspek psikis, oleh karena pencak silat merupakan cabang olahraga body contact maka aspek psikis memberikan sumbangan yang besar selama pertandingan. Untuk itu, aspek psikis harus dilatihkan sejak awal periodisasi latihan sampai dengan menjelang pertandingan (Awan Hariono, 2006: 4).

Tujuan dan sasaran latihan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap hasil latihan, aspek-aspek yang dapat mempengaruhi latihan harus diperhatikan secara tepat. Menurut Djoko Pekik Irianto (2002: 62-63), ciri-ciri sasaran latihan yang baik adalah sebagai berikut:

1. Berjenjang (jangka panjang, menengah, dan pendek) 2. Spesifik dan obyektif

3. Kesepakatan bersama antara atlet dan pelatih 4. Tidak terlalu banyak sasaran dalam satu sesi latihan 5. Tertulis, sehingga mudah dikontrol oleh semua pihak 6. Menetapkan sasaran keberhasilan

a. Performance goal, sasaran berdasarkan proses b. Outcome goal, sasaran berdasarkan hasil 7. Sasaran latihan meliputi:

(33)

19

c. Latihan teknik: meningkatkan speed of decision d. Latihan psikis: meningkatkan maturasi emosi. 3. Sistem Energi

Ada dua sistem energi yang diperlukan dalam setiap aktivitas latihan yang dilakukan oleh seorang atlet, yaitu sistem energi aerobik dan sistem energi anaerobik. Perbedaan kedua sistem energi tersebut adalah pada penggunaan bantuan dari oksigen (O2) selama proses pemenuhan kebutuhan energi berlangsung (Sukadiyanto, 2011: 36). Menurut Catherin Sellers (diunduh di www.asc.com. pada tanggal 12 Juni 2014), energi standar semua gerak manusia adalah pelepasan energi dari ATP (Adenosin trifosfat). Oleh karena itu, semua komponen terkait dengan resynthesis

atau penambahan ATP atau penghapusan dan/atau penyebaran dari produk limbah yang berhubungan dengan menjaga persediaan ATP.

(34)

20 a. Sistem energi anaerobik

Sistem energi anaerobik dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: (a) sistem energi anaerobik alaktik dan (b) sistem energi anaerobik laktik. Sistem energi anaerobik alaktik disediakan oleh sistem ATP-PC sedangkan sistem energi anaerobik laktik disediakan oleh sistem asam laktat (Bompa, 1994: 22). Proses pemenuhan kedua jenis sistem energi tersebut tidak memerlukan bantuan oksigen (O2). Semua energi yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi tubuh berasal dari ATP, yang hanya menopang kerja kira-kira 6 (enam) detik bila tidak ada sistem energi yang lain (Soekarman, 1991: 29).

(35)

21

ATP dalam otot sangat terbatas dan oleh karena itu perlu terus dibentuk ATP baru agar sumber energi yang dimiliki tidak segera habis. Walaupun demikian di dalam otot terdapat sejumlah sistem yang berfungsi sebagai perbantuan dan secara konstan melakukan resintesis ATP dari ADP. Dengan cara ini jumlah ATP tetap cukup untuk melanjutkan aktivitas selama intensitasnya rendah sampai sedang (Shadiqin, 2013: 29). Aktivitas anaerobik merupakan aktivitas dengan intensitas tinggi yang membutuhkan energi secara cepat dalam waktu yang singkat namun tidak dapat dilakukan secara continue untuk durasi waktu yang lama. Aktivitas ini biasanya juga

akan membutuhkan interval istirahat agar ATP dapat diregenerasi sehingga kegiatannya dapat dilanjutkan kembali (Anwari, 2007: 2).

Phosphor Creatin merupakan sumber energi yang paling

cepat membentuk ATP pada saat terjadi proses pemenuhan energi. Jumlah sistem ATP-PC dapat ditingkatkan melalui pemberian latihan dengan gerakan yang cepat dan pembebanan yang tinggi. ATP dan PC sering disebut sebagai sistem fosfagen yang merupakan sumber energi yang dapat digunakan secara cepat, tidak memerlukan oksigen (O2), dan ATP-PC tertimbun dalam mekanisme kontraktil dalam otot (Soekarman, 1991 dalam Awan Hariono, 2006: 29).

(36)

22

energi yang digunakan untuk meresintesis ADP+P menjadi ATP, dan selanjutnya akan dirubah lagi menjadi ADP+P yang menyebabkan terjadinya pelepasan energi yang dibutuhkan untuk kontraksi otot. Perubahan CP ke C+P tidak mengahsilkan tenaga yang dapat digunakan langsung untuk kontraksi otot, melainkan digunakan untuk meresintesis ADP+P menjadi ATP (Awan Hariono, 2006: 29).

Sistem anaerobik merespon pelatihan dengan intensitas tinggi melalui biokimia, saraf, dan adaptasi anatomi. Salah satu faktor penting yang membedakan latihan bersifat anaerobik dan latihan bersifat aerobik yaitu intensitas dosis latihan. Untuk latihan yang bersifat anaerobik dosis latihan tinggi dan dilakukan mendekati kelelahan. Disamping itu sistem anaerobik dapat langsung dinilai dengan tes kinerja yang dilakukan pada sebuah gerakan (Cahill, dkk. 1997: 1). Pelatihan yang tepat dan spesifik akan menentukan kemampuan untuk mengeksekusi gerakan secara efisien. Bentuk pelatihan untuk kinerja yang kurang dari 10 detik yaitu dengan pengulangan yang spesifik dan jarak yang pendek (Shepard, R. J. 1978: 9-15).

(37)

23

tersebut akan mempersulit lawan dalam mengantisipasi serangan karena tendangan dan pukulan dilakukan dengan kombinasi mengelak, menghindar dan menangkap. Serangan dapat memperoleh nilai apabila mengenai sasaran yang telah ditentukan dengan menggunakan pola langkah, tidak terhalang, mantap, bertenaga, dan tersusun dalam koordinasi teknik serangan atau pembelaan yang baik. Untuk itu, diperlukan kemampuan kecepatan dan kekuatan yang bagus agar pesilat dapat melakukan serangan dengan sempurna (Awan Hariono, 2006: 30).

(38)

24

dengan menggunakan teknik serangan tangan yang sama dinilai satu serangan (Persilat, 2012). Oleh karena itu, gerakan harus dilakukan dengan eksplosif agar lawan tidak dapat melakukan pembelaan, apabila serangan telah enam kali maka wasit akan memberi aba-aba berhenti. Pada saat pesilat akan membanting melalui sebuah tangkapan, maka hanya ada waktu 5 (lima) detik untuk menyelesaikan proses tersebut sebelum wasit menghentikan fight.

Berdasarkan pengamatan secara langsung, rata-rata pesilat memerlukan waktu antara 3-5 detik untuk melakukan serangan (kedua pesilat melakukan enam kali serangan). Adapun ciri-ciri dari sistem energi anaerobik alaktik (ATP-PC) adalah: 1) intensitas kerja maksimal, 2) lama kerja kira-kira sampai 10 detik, 3) irama kerja eksplosif (cepat mendadak), 4) aktivitas mengahasilkan Adhenosin diphospat (ADP)+energi (Sukadiyanto, 2011: 38).

(39)

25

ciri-ciri dari sistem energi anaerobik laktik adalah sebagai berikut: 1) intensitas kerja maksimal, 2) lama kerja antara 10-120 detik, 3) irama kerja eksplosif, 4) aktivitas mengahsilkan asam laktat dan energi (Sukadiyanto, 2011: 38-39).

b. Sistem energi aerobik

(40)

26

(Pate, 1993: 239). Untuk itu, kegiatan olahraga yang memerlukan penggunaan oksigen dengan intensitas sedang sangat tergantung pada sistem metabolisme aerobik.

Glikolisis adalah pemecahan glikogen secara kimiawi, dan aerobik adalah adanya bantuan oksigen. Glikolisis aerobik adalah pemecahan glikogen dengan menggunakan bantuan oksigen. Ada perbedaan antara glikolisis aerobik dan glikolisis anaerobik, yaitu dengan adanya bantuan oksigen maka asam laktat tidak tertimbun di dalam otot. Dengan kata lain berkat bantuan oksigen akan menghambat terjadinya timbunan asam laktat di dalam otot, tetapi oksigen tersebut tidak meresintesis ATP. Fungsi oksigen dalam proses ini adalah untuk mengalihkan asam laktat dengan asam pyruvate ke dalam sistem aerobik setelah diresentesis ATP (Sukadiyanto, 2011: 39).

(41)

27

berhubungan erat dengan daya tahan kardiorespirasi. Sedangkan aktivitas fisik yang berasal dari sistem energi anaerobik memiliki kecenderungan menggunakan power yang tinggi dan berkaitan erat dengan power otot serta ketahanan otot. Berikut adalah ciri-ciri sistem aerob: (1) intensitas kerja sedang, (2) lama kerja lebih dari 3 menit, (3) irama gerak (kerja) lancar dan terus-menerus (kontinyu), dan (4) selama aktivitas menghasilkan karbondioksida+air (CO2+H2O). Sistem energi aerobik harus dikembangkan dalam proses latihan, oleh karena dapat membantu dalam penghapusan asam laktat, sehingga atlet dapat lebih mentorelir laktat tersebut (Sellars, 2014. diunduh di www.asc.com. pada tanggal 12 Juni 2014).

Sistem energi aerobik dalam pertandingan pencak silat kategori tanding tetap diperlukan untuk membentuk ATP, meskipun persentasenya tidak terlalu besar. Perbedaan sistem energi anaerobik dengan aerobik adalah seberapa besar tingkat penggunaan bantuan dari oksigen. Selama otot beraktivitas ketiga sistem energi tersebut saling bekerja bergantian dan memenuhi satu sama lain. Untuk itu, sistem energi merupakan serangkaian proses pemenuhan tenaga secara terus menerus dan saling bekerja bergantian (Soekarman, 1991: 17).

(42)

28

memiliki kemampuan daya tahan aerobik yang bagus akan lebih cepat dalam merecovery tubuhnya, sehingga tidak akan mengalami kelelahan yang berarti sebagai akibat dari pemberian beban latihan yang diberikan. Latihan aerobik juga akan membantu pesilat meningkatkan kekuatan ligamen, tendon, dan serabut-serabut otot sehingga dapat mengurangi kemungkinan terjadinya cedera selama proses berlatih maupun bertanding (Awan Hariono, 2006: 33).

4. Pencak silat kategori tanding a. Pengertian kategori tanding

(43)

29

Tabel 1. Kelas dan Berat Badan Kategori Tanding Putra Tanding Putra

Tabel 2. Kelas dan Berat Badan Kategori Tanding Putri Tanding Putri

(44)

30

dengan ketebalan matras 3 (tiga) sampai 5 (lima) centimeter. Berikut gambar gelanggang dalam pertandingan pencak silat:

Gambar 1. Gelanggang Pencak Silat (www.terateemas.com)

(45)

31

begitu seterusnya sampai peringatan ketiga yaitu diskualifikasi. Pesilat yang mempunyai fisik yang baik, dalam hal ini kemampuan aerobik dan anaerobik yang bagus maka akan mudah memanfaatkan bidang pertandingan tersebut. Oleh karena pesilat akan lebih mudah mengatur pola permainan yang lebih efektif tanpa harus keluar dari garis lingkaran.

b. Karakteristik pencak silat kategori tanding 1) Waktu pertandingan kategori tanding

Menurut Persilat (2012: 10) pertandingan pencak silat dilangsungkan dalam 3 (tiga) babak, setiap babak terdiri atas 2 (dua) menit bersih, waktu istirahat antar babak yaitu 1 (satu) menit. Waktu ketika wasit menghentikan pertandingan tidak termasuk waktu bertanding, penghitungan terhadap pesilat yang jatuh karena serangan yang sah tidak termasuk waktu bertanding. Dengan demikian waktu bertanding dalam pertandingan pencak silat yaitu ketika wasit memberi aba-aba “mulai” sampai dengan aba-aba “berhenti”.

(46)

berkali-32

kali. Pesilat yang bertanding dalam satu kelas umumnya harus bermain sebanyak 5 (lima) kali untuk sampai ke partai final, oleh karena itu unsur ketahanan dan kecepatan dalam pertandingan pencak silat kategori tanding sangat diperlukan.

2) Macam gerak kategori tanding

Macam gerak dibedakan menjadi dua yaitu siklus dan non-siklus, meskipun dalam aktivitas seringkali merupakan kombinasi serangkaian gerak siklus dan non-siklus. Gerak siklus adalah gerak yang dilakukan secara terus menerus, sedangkan gerak non-siklus adalah gerak yang dilakukan secara terputus-putus (Sukadiyanto, 2011: 54). Macam gerak dalam pertandingan pencak silat kategori tanding yaitu kombinasi dari kedua macam gerak tersebut, hal ini dapat dilihat dari pergerakan pesilat pada saat melakukan fight dan recovery antar fight. Pada saat pesilat melakukan fight, macam gerak yang

(47)

33

Pertandingan pencak silat kategori tanding berlangsung dengan pesilat yang saling berhadapan menggunakan unsur pembelaan dan serangan yaitu menangkis/mengelak, mengenakan sasaran dan menjatuhkan lawan, menerapkan kaidah pencak silat serta mematuhi aturan-aturan yang ditentukan. Maksud dari kaidah pencak silat adalah bahwa dalam mencapai prestasi teknik, seorang pesilat harus mengembangkan pola bertanding yang dimulai dari sikap pasang, langkah serta mengukur jarak terhadap lawan dan mengkoordinasikan jenis serangan/pembelaan serta kembali pada sikap pasang (Persilat, 2012: 12). Hal ini berarti pesilat dalam pertandingan pencak silat kategori tanding tidak diperbolehkan meloncat-loncat, berlari maupun berjalan cepat untuk mendekati lawan. Melainkan harus menggunakan kaidah pencak silat yang dikombinasikan dengan serangkaian pola langkah.

(48)

34

harus dilakukan dengan cepat, mendadak dan juga terputus. Adapun serangan beruntun yang dilakukan oleh satu orang pesilat harus tersusun dengan teratur dan berangkai dengan berbagai cara kearah sasaran sebanyak-banyaknya 6 (enam) teknik serangan. Pesilat yang melakukan rangkaian serang-bela lebih dari 6 (enam) teknik serangan akan diberhentikan oleh wasit. Adapun serangan terus menerus dengan menggunakan teknik serangan tangan yang sama dinilai satu serangan (Persilat, 2012: 12).

Berdasarkan uraian di atas macam gerak yang dominan digunakan dalam pertandingan pencak silat yaitu macam gerak non-siklus. Gerak siklus pada pencak silat kategori tanding terjadi pada saat pesilat melakukan kaidah dan pola langkah, sedangkan gerak non-siklus terjadi pada saat pesilat melakukan serang-bela dengan menggunakan berbagai macam teknik, seperti: pukulan, tendangan, jatuhan, elakan atau hindaran dan tangkisan.

3) Irama gerak kategori tanding

(49)

35

dalam usahanya memperoleh nilai. Apabila pesilat berhasil menjatuhkan lawan secara langsung maupun tidak langsung maka pesilat tersebut akan memperoleh nilai lebih besar dari pada melakukan teknik pukulan atau tendangan. Teknik jatuhan tersebut dapat dilakukan secara langsung menggunakan kaki (sapuan bawah, sapuan atas, dan menggunting) dan jatuhan dengan diawali gerak tangkapan kemudian disusul dengan usaha menjatuhkan lawan. Dalam pertandingan pencak silat dikenal istilah nilai prestasi teknik yaitu dapat dijelaskan sebagai berikut: Tabel 3. Nilai Prestasi Teknik

Nilai Prestasi Teknik

Nilai 1 Serangan dengan tangan yang masuk pada sasaran, tanpa terhalang.

Nilai 1+1 Berhasil menggagalkan serangan lawan, diikuti dengan serangan balik dengan tangan.

Nilai 2 Serangan dengan kaki yang masuk pada sasaran, tanpa terhalang.

Nilai 1+2 Berhasil menggagalkan serangan lawan, diikuti dengan serangan balik dengan kaki.

Nilai 3 Teknik serangan langsung yang berhasil menjatuhkan lawan.

Nilai 1+3 Berhasil menangkap serangan lawan, diikuti dengan keberhasilan menjatuhkan lawan.

Sumber: (Persilat, 2012: 15)

(50)

36

melaksanakan teknik tersebut pesilat harus memiliki kemampuan biomotor kecepatan, fleksibilitas dan koordinasi yang apabila dilakukan secara bersamaan akan membentuk kelincahan (agility). Sedangkan dalam melaksanakan teknik tangkapan dan bantingan pesilat harus melakukan gerakan tersebut dengan irama cepat dan berkesinambungan agar lawan yang akan dijatuhkan mengalami ketidakkeseimbangan sehingga mudah untuk dijatuhkan. Teknik bantingan dengan mengangkat badan lawan lazim ditemui dalam setiap pertandingan pencak silat kategori tanding baik putra maupun putri, pesilat yang mampu melakukan teknik tersebut jelas memiliki kekuatan otot yang baik karena secara aturan berat badan dalam satu kelas hanya diperbolehkan terpaut 5 (lima) kilogram.

(51)

37

dalam melakukan hindaran, elakan, tangkisan, maupun tangkapan. Sebaliknya, pada saat bertahan pesilat harus mampu mengantisipasi setiap gerak yang akan dilakukan oleh lawan agar lawan mengalami kesulitan dalam memperoleh nilai. Dengan mengetahui sikap pasang yang dilakukan lawan, memungkinkan bagi pesilat untuk memprediksi kemungkinan serangan yang akan dilakukan oleh lawan. Hal tersebut menunjukkan bahwa pesilat harus memiliki kemampuan antisipasi yang didukung oleh kemampuan kecepatan dan kemampuan respon yang baik dari seorang pesilat.

Teknik tendangan yang dilakukan pesilat dalam melakukan respon terhadap gerakan lawan merupakan teknik counter attack yang membutuhkan konsentrasi tinggi, dalam

satu kali serangan membutuhkan kecermatan agar serangan tersebut tepat mengenai sasaran dan termasuk nilai bersih yang diperoleh pesilat, hal ini dapat dilakukan oleh pesilat yang memiliki kemampuan kecepatan yang baik. Sehingga pada saat melakukan counter attack lawan tidak sempat melakukan belaan seperti menghindar, mengelak, menangkis, maupun menangkap serangan yang dilakukan.

(52)

38

mengantisipasi hal ini seorang pesilat harus memiliki kecepatan dalam hal mengelak untuk mengamankan nilai yang telah didapat. Bisa juga dengan melakukan tangkapan apabila lawan melakukan serangan kaki, kemudian disusul dengan teknik jatuhan secara cepat dan mendadak.

Berdasarkan uraian di atas menggambarkan bahwa serangan-serangan yang dilakukan dalam pertandingan pencak silat kategori tanding berirama capat dan mendadak. Untuk itu, dapat disimpulkan bahwa irama gerak dalam pencak silat adalah irama gerak cepat dan mendadak (eksplosif).

Melihat waktu yang digunakan, macam gerak, dan irama gerak dalam pertandingan pencak silat, maka dapat diidentifikasi komponen biomotor yang penting dalam olahraga pencak silat kategroi tanding. Adapun komponen biomotor yang penting dalam pencak silat yaitu, ketahanan, kekuatan, kecepatan, fleksibilitas, dan koordinasi (Awan Hariono, 2006: 43).

B. Penelitian yang Relevan

(53)

39

gebrakan rata-rata 13 detik. Persentase dari waktu yang digunakan selama dalam pertandingan selama 3 (tiga) ronde adalah 10% untuk gebrakan (waktu kerja), 65% untuk recovery antar fight, dan 25% untuk interval antar babak. Untuk itu, total waktu istirahat baik aktif maupun pasif sebanyak 90%, sedangkan total waktu efektif yang digunakan untuk fight selama dalam pertandingan sebanyak 10%. Dengan dilihat dari waktu kerja singkat dan intensitas tinggi yang digunakan dapat disimpulkan sistem energi yang dominan dalam pertandingan taekwondo kyoruki adalah anaerobik.

Butir penelitian yang relevan dengan penelitian ini, yaitu: 1) substansi pembahasan, dan 2) teknik analisis data. Penelitian tersebut menggambarkan kebutuhan energi predominan dalam pertandingan kyoruki taekwondo. Penelitian tersebut bertujuan untuk menganalisis kebutuhan sistem energi yang dominan digunakan atlet dalam pertandingan kyoruki. Sampel dipilih melalui purpose sampling mulai dari babak penyisihan, semi final, hingga final dengan persyaratan pertandingan terjadi full round tanpa terjadi knock out atau penambahan ronde (suddent death), kemudian dari keseluruhan

(54)

40

melakukan gerakan dalam usahanya meraih point dan dalam kondisi anaerobik serta teknik yang digunakan pesilat dalam pertandingan.

C. Kerangka Berfikir

Prestasi olahraga pencak silat masih perlu ditingkatkan, peningkatan tersebut akan membawa pesilat menuju prestasi puncak. Salah satu hal yang penting dalam hal upaya meningkatkan prestasi tersebut adalah adanya program latihan yang mempunyai tujuan dan sasaran yang tepat dan jelas. Pelatih dalam menyusun program latihan harus menyesuaikan dengan waktu yang terjadi pada saat pertandingan sebenarnya.

(55)

41 D. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan kajian teori dan kerangka berfikir di atas maka muncul pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1. Berapa besar persentase kebutuhan energi dominan dalam pertandingan pencak silat kategori tanding putra dan putri dewasa pada Kejuaraan Nasional Pencak Silat Antar Perguruan Tinggi Ke-V tahun 2014 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta?

2. Berapa besar persentase kebutuhan energi dominan dalam pertandingan pencak silat kategori tanding putra dewasa pada Kejuaraan Nasional Pencak Silat Antar Perguruan Tinggi Ke-V tahun 2014 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta?

(56)

42

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan menggunakan metode survai. Menurut Suharsimi Arikunto (2005: 234) yang dimaksud penelitian deskriptif adalah penelitian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi mengenai status suatu gejala yang ada, yaitu keadaan gejala menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan. Oleh karena itu, peneliti hanya mengambil apa yang terjadi pada objek dengan direkam atau dipotret sesuai dengan apa adanya, kemudian memaparkan gejala tersebut dalam bentuk laporan penelitian secara lugas dan alami. Sedangkan metode survai dalam penelitian bertujuan untuk mengumpulkan informasi dari sebagian populasi dengan data yang sifatnya nyata (tangible) (Donal Ary, dkk. dalam Suharsimi Arikunto, 2005: 237).

B. Definisi Operasional Variabel Penelitian

(57)

43

1. Kebutuhan energi

Kebutuhan energi dikatakan sistem anaerobik alaktik apabila aktivitas kerja otot dibawah 10 detik, dikatakan anaerobik laktik apabila aktivitas kerja otot lebih dari 10 detik dan kurang dari 120 detik, serta dikatakan aerobik apabila aktivitas kerja otot lebih dari 120 detik.

2. Pencak silat kategori tanding

Pertandingan yang dilakukan antara dua orang pesilat dari kubu yang berbeda yang menempati masing-masing sudutnya yakni sudut biru dan sudut merah, dalam pertandingan tersebut pesilat akan bertanding melakukan serangkaian gerak teknik dan taktik untuk mendapatkan nilai dengan diawali posisi pasang, kaidah, melakukan fight, dan kembali ke posisi pasang setelah wasit memberi aba-aba “berhenti”.

C. Populasi dan Subjek Penelitian

1. Populasi penelitian

(58)

44

2. Teknik pengambilan sampel

(59)

45

D. Instrumen dan Teknik Pengumpulan Data

1. Instrumen penelitian

Menurut Sugiyono (2012: 102) instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi dan handycam.

a. Lembar observasi

Pada penelitian ini instrumen yang digunakan yaitu lembar observasi yang memuat tentang: (1) Waktu kerja, yaitu waktu yang diperlukan pesilat dalam melakukan serangan atau pembelaan dengan menggunakan teknik dan taktik dengan cepat sehingga terjadi body contack dengan lawan; (2) Recovery aktif antar fight, yaitu waktu yang terjadi sebelum terjadi fight berikutnya yaitu ketika pesilat berada pada posisi aerobik dengan pergerakan aktif seperti melakukan pola langkah dan kaidah pencak silat; dan (3) Recovery pasif atau interval antar babak, yaitu interval antar babak adalah ketika pesilat berada pada sudutnya masing-masing dalam kondisi pasif (istirahat).

(60)

46

2. Teknik pengumpulan data

(61)

47

terletak di tribun tepat diatas sudut netral sebelah kiri dewan wasit juri dengan jarak 7 meter dari garis luar gelanggang.

Pencatatan waktu menggunakan duration recording. Duration recording adalah teknik pengamatan yang menyediakan informasi pada penggunaan waktu (Judith, 2010: 331-333). Tabel berikut merupakan kisi-kisi dalam teknik pengumpulan data.

Tabel 4. Kisi-kisi Pengumpulan Data

No. Sampel pesilat melakukan body contack dengan gerakan yang cepat. pesilat melakukan kaidah sebelum terjadinya fight dan setelah melakukan fight sebelum wasit memberikan aba-aba “berhenti”

(62)

48

E. Teknik Analisis Data

Data yang telah terkumpul akan dianalisis sehingga dapat diperoleh suatu gambaran. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan statistik deskriptif kuantitatif. Menurut Sugiyono (2012: 147) statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi. Dalam penelitian ini untuk mengetahui rata-rata

data dengan menggunakan rumus dimana Σ (X) adalah jumlah

keseluruhan dari penjumlahan X dan N adalah banyaknya sampel, sedangkan data yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu: (1) waktu kerja, (2) waktu recovery aktif, dan (3) recovery pasif atau interval antar babak, kemudian setelah diketahui jumlah rata-rata data waktu kerja, data waktu recovery aktif dan data waktu recovery pasif maka akan dihitung persentasenya dengan

menggunakan rumus , dimana Σ (X) adalah jumlah rata-rata

(63)

49 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data Penelitian

Data dalam penelitian ini diperoleh dari hasil Kejuaraan Nasional Pencak Silat Antar Perguruan Tinggi Ke-V Tahun 2014. Sampel penelitian berjumlah 31 partai yang terdiri dari 19 pertandingan di kelas putra dan 12 pertandingan di kelas putri pada babak semifinal dan babak final. Sampel data yang diambil adalah data yang telah mewakili keseluruhan pertandingan, yakni:

1. Pertandingan yang berlangsung selama 3 babak, tidak ada tambahan babak. 2. Tidak terjadi WMP (Wasit Menghentikan Pertandingan).

3. Pertandingan yang tidak terjadi Kemenangan Teknik, dan 4. Pesilat yang tidak di diskualifikasi.

Untuk menghindari terjadinya bias data maka pengambilan waktu dilakukan dengan menggunakan softwarekinovea dan juga dibandingkan dengan menggunakan stopwatch. Untuk itu perlu dilakukan kalibrasi terhadap alat ukur yang digunakan dalam perhitungan. Pengambilan waktu ditandai dengan:

1. Wasit memberi aba-aba “mulai” sampai memberikan aba-aba berhenti. 2. Sebelum dan sesudah kedua pesilat melakukan body contack maka waktu

tersebut termasuk dalam perhitungan waktu recovery aktif.

3. Pada saat pesilat melakukan serang bela maka waktu tersebut termasuk dalam waktu kerja, dan Istirahat antar babak atau istirahat pasif.

(64)

50 Tabel 5. Hasil kalibrasi alat ukur kecepatan

No Media Audio Visual tfight (dtk) Menggunakan

Dari 10 percobaan, penyimpangan berkisar ± 0,01 detik 1. Deskripsi data kategori tanding putra

Kategori tanding putra terdiri atas 19 pertandingan dari babak final dan semi final dalam Kejuaraan Nasional antar Perguruan Tinggi ke-V. Berikut adalah deskripsi data yang dapat dilihat pada tabel 6. Tabel 6. Rekapitulasi Data Dalam Satu Partai Kategori Tanding Putra

(65)

51 2. Deskripsi data kategori tanding putri

Kategori tanding putri terdiri atas 12 pertandingan dalam Kejuaraan Nasional antar Perguruan Tinggi ke-V. Berikut adalah deskripsi data yang dapat dilihat pada tabel 7.

Tabel 7. Rekapitulasi data dalam satu partai kategori tanding putri No. Sampel ke- JF WB (dtk) WK (dtk) WRA (dtk) WRP (dtk)

(66)

52

Setelah dihitung melalui microsoft excel maka perhitungan sampel dihitung

menggunakan rumus: , dimana merupakan jumlah keseluruhan dari

penjumlahan X, dan N merupakan banyaknya sampel. Berikut adalah pembahasan perhitungan deskripsi data yang telah diperoleh:

1. Hasil perhitungan data kategori tanding putra dan putri

Kategori tanding putra dan putri terdiri atas 31 pertandingan dari babak final dan babak semifinal dalam Kejuaraan Nasional antar Perguruan Tinggi ke-V. Tabel 8 berikut adalah hasil perhitungan data pada kategori tanding putra dan putri:

(67)

53

Diagram dibawah ini menunjukkan perhitungan persentase waktu yang digunakan dalam pertandingan pencak silat kategori tanding putra dan putri.

Gambar 2. Diagram persentase penggunaan waktu dalam pertandingan pencak silat kategori tanding putra dan putri.

a. Jumlah satu kali fight dalam satu partai

Jumlah fight dihitung dari pengamatan video melalui

software kinovea, dimana pesilat melakukan serang bela setelah

wasit memberikan aba-aba “mulai” sampai terdengar aba-aba “berhenti”. Data yang diperoleh di atas kemudian dihitung reratanya

dengan menjumlahkan keseluruhan fight dan dibagi dengan banyaknya sampel yang digunakan dengan rumus:

(68)

54

Hasil perhitungan di atas menunjukkan bahwa dalam satu partai dilakukan rata-rata 36,29 fight selama tiga babak atau dalam satu babak terjadi rata-rata 12,09 kali fight. Data fight tersebut dapat menjadi acuan seberapa banyak fight yang harus dilakukan oleh pesilat dengan maksimal. Kemudian dengan melihat banyaknya fight seorang pelatih dapat meyusun strategi yang akan dilakukan di gelanggang mengingat setiap pesilat memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Seperti pada pesilat yang bertanding dalam kelas kecil (berat badan kecil) kecenderungan melakukan fight lebih banyak dibandingkan dengan kelas yang memiliki berat badan besar.

b. Waktu bersih dalam satu partai

Waktu bersih pada pertandingan pencak silat yakni keseluruhan jumlah waktu yang dapat dihitung dari aba-aba “mulai” sampai dengan aba-aba “berhenti” selama 3 babak. Data yang

diperoleh di atas kemudian dihitung reratanya dengan menjumlahkan keseluruhan waktu bersih dan dibagi dengan banyaknya sampel yang digunakan dengan rumus:

dtk

Keterangan:

(69)

55

Hasil perhitungan rumus di atas menunjukkan bahwa rerata waktu bersih dalam satu kali partai adalah 379,75 detik untuk tanding putra dan putri. Waktu tersebut ternyata tidak sesuai dengan ketentuan dalam munas 2012 yakni dengan asumsi waktu 360 detik. Hal ini terjadi karena waktu dalam pertandingan pencak silat tidak berjalan dengan otomatis tetapi menggunakan pengawasan dari seorang timer. Ketika wasit memberikan aba-aba “berhenti” dengan segera timer harus menghentikan waktu sehingga waktu yang berhenti sesuai dengan aba-aba wasit. Oleh karena itu, meskipun telah menggunakan sistem digital scoring tidak menutup kemungkinan terjadinya kelebihan waktu pertandingan.

Melihat waktu bersih tersebut pesilat harus mempunyai kemampuan biomotor yang baik khususnya ketahanan untuk mendukung gerakan serang bela dengan cepat selama 3 babak. Pesilat dalam meraih juara harus memenangkan setidaknya 5 kali pertandingan dalam satu kejuaraan nasional. Untuk itu, pesilat baik putra maupun putri harus memiliki tingkat ketahanan atau kemampuan aerobik yang baik. Adapun ciri-ciri dari sistem energi aerobik adalah (a) intensitas kerja sedang, (2) lama kerja lebih dari 3 menit, (3) irama kerja lancar dan kontinyu, dan (4) selama melakukan aktivitas menghasilkan CO2 dan H2O.

(70)

56

melakukan gerakan serang bela secara berulang-ulang yang dilakukan dengan cepat.

c. Waktu kerja dalam satu partai

Waktu kerja yang dimaksud adalah ketika pesilat melakukan gerakan serang bela dengan cepat dan terjadi body contack. Adapun perhitungan waktu dimulai ketika pesilat bergerak pertama kali untuk melakukan serangan atau belaan. Data yang diperoleh di atas kemudian dihitung reratanya dengan menjumlahkan keseluruhan waktu kerja dan dibagi dengan banyaknya sampel yang digunakan

(71)

57

dengan sistem energi lain untuk menambah waktu kerja otot karena gerakan cepat dalam pertandingan pencak silat terjadi berulang-ulang selama 3 babak. Adapun ciri-ciri dari sistem energi anaerobik alaktik (ATP-PC) adalah: 1) intensitas kerja maksimal, 2) lama kerja kira-kira sampai 10 detik, 3) irama kerja eksplosif (cepat mendadak), dan 4) aktivitas mengahasilkan Adhenosin diphospat (ADP)+energi.

Pada pertndingan pencak silat kategori tanding, pesilat bergerak cepat dan singkat dalam melakukan serangan maupun belaan dengan arah yang berubah-ubah, oleh karena itu dibutuhkan kemampuan biomotor kecepatan, kekuatan dan koordinasi yang baik sehingga pesilat tidak mengalami kesulitan yang berarti pada saat melakukan usaha untuk memperoleh nilai.

d. Reovery aktif dalam satu partai

Recovery aktif terjadi ketika pesilat melakukan kaidah

Figur

Tabel 1. Kelas dan Berat Badan Kategori Tanding Putra …………….
Tabel 1 Kelas dan Berat Badan Kategori Tanding Putra . View in document p.12
Tabel 1. Kelas dan Berat Badan Kategori Tanding Putra
Tabel 1 Kelas dan Berat Badan Kategori Tanding Putra . View in document p.43
Tabel 2. Kelas dan Berat Badan Kategori Tanding Putri
Tabel 2 Kelas dan Berat Badan Kategori Tanding Putri . View in document p.43
gambar gelanggang dalam pertandingan pencak silat:
gambar gelanggang dalam pertandingan pencak silat: . View in document p.44
Tabel 3. Nilai Prestasi Teknik
Tabel 3 Nilai Prestasi Teknik . View in document p.49
Tabel 4. Kisi-kisi Pengumpulan Data
Tabel 4 Kisi kisi Pengumpulan Data . View in document p.61
Tabel 6. Rekapitulasi Data Dalam Satu Partai Kategori Tanding Putra
Tabel 6 Rekapitulasi Data Dalam Satu Partai Kategori Tanding Putra . View in document p.64
Tabel 5. Hasil kalibrasi alat ukur kecepatan
Tabel 5 Hasil kalibrasi alat ukur kecepatan . View in document p.64
Tabel 7. Rekapitulasi data dalam satu partai kategori tanding putri
Tabel 7 Rekapitulasi data dalam satu partai kategori tanding putri . View in document p.65
Tabel 8. Perhitungan data kategori tanding putra dan putri
Tabel 8 Perhitungan data kategori tanding putra dan putri . View in document p.66
Gambar 2. Diagram persentase penggunaan waktu dalam pertandingan pencak silat kategori tanding putra dan putri
Gambar 2 Diagram persentase penggunaan waktu dalam pertandingan pencak silat kategori tanding putra dan putri. View in document p.67
Gambar 3. Diagram persentase penggunaan waktu dalam pertandingan pencak silat kategori tanding putra
Gambar 3 Diagram persentase penggunaan waktu dalam pertandingan pencak silat kategori tanding putra. View in document p.74
Tabel 9. Perhitungan data kategori tanding putra
Tabel 9 Perhitungan data kategori tanding putra . View in document p.74
Tabel 10. Perhitungan data kategori tanding putri
Tabel 10 Perhitungan data kategori tanding putri . View in document p.83
Gambar 4. Diagram persentase penggunaan waktu dalam pertandingan pencak silat kategori tanding putri
Gambar 4 Diagram persentase penggunaan waktu dalam pertandingan pencak silat kategori tanding putri. View in document p.83

Referensi

Memperbarui...