• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEOLOGI FEMINIS PERSPEKTIF ALI SYARI ATI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TEOLOGI FEMINIS PERSPEKTIF ALI SYARI ATI"

Copied!
72
0
0

Teks penuh

(1)

TEOLOGI FEMINIS

PERSPEKTIF ALI SYARI‘ATI

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Agama (S.Ag.)

Disusun Oleh: Citra Eka Pratiwi NIM. 11160331000004

PROGRAM STUDI AQIDAH DAN FILSAFAT ISLAM FAKULTAS USHULUDDIN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA 1441 H / 2020 M

(2)

i

TEOLOGI FEMINIS

PERSPEKTIF ALI SYARI‘ATI

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Agama (S.Ag.)

Oleh:

Citra Eka Pratiwi

11160331000004

Pembimbing:

Dr. Humaidi, M.Ud.

PROGRAM STUDI AQIDAH DAN FILSAFAT ISLAM FAKULTAS USHULUDDIN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA 1441 H / 2020

(3)
(4)
(5)

iv ABSTRAK

Penelitian ini membahas tentang Teologi Feminis, yaitu salah satu isu wacana feminisme dan gender dalam Islam di Abad Modern yang secara praktis mengedepankan aspek normatifitas Islam sebagai landasan di dalam diskursus wacana feminis dan gender dalam Islam. Peneliti menganggap bahwa adanya dilema dan kekosongan di sebagian perempuan Muslim terjadi karena faktor westernisasi di segala penjuru dunia khususnya di bagian negara-negara Timur, sehingga menimbulkan kekhawatiran dari berbagai kelompok seperti kelompok konservatif dan tradisionalis masyarakat Timur yang dikonfrontasikan dengan gerakan kebebasan Barat ini. Maka, berbagai upaya dilakukan oleh para Feminis maupun Teolog Islam untuk memberikan jalan tengah dalam mengambil tindakan yang dihadapkan dengan arus Westernisasi. Tokoh yang pemikirannya yang mengarah ke Teologi Feminis adalah Ali Syari„ati, salah satu Revolusioner Islam dari Iran yang membawa semangat Jihad Revolusi dan telah berkontribusi berupa gerakan pembebasan (liberation) di segala aspek kehidupan masyarakat Islam. Ali Syari„ati tidak terpaku pada ajaran agama, tetapi juga memperhatikan sejarah Islam. Sehingga pemikirannya tidak mengalami stagnasi meskipun zaman terus berkembang.

Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian perpustakaan (library research). Metode pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi, dan analisis datanya menggunakan metode analisis untuk membuat deskripsi tentang suatu keadaan objektif. Adapun teknis analisisnya menggunakan metode deskripsi, heuristika, dan interpretasi. Tujuan dari penelitian ini adalah memahami konsep teologi feminis perspektif Ali Syari„ati.

(6)

v

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kenikmatan kepada hambanya, berupa nikmat iman dan kesehatan. Sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir studi. Shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada baginda Rasūlallāh SAW yang telah memberikan suri tauladan kepada umatnya.

Skripsi yang berjudul Teologi Feminis Perspektif Ali Syari‟at disusun untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S1) Fakultas Ushuluddin di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dalam penyusunan skripsi ini penulis banyak mendapatkan bimbingan dan saran-saran dari berbagai pihak sehingga penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan. Untuk itu penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Dr. Humaidi, M.Ud. selaku Dosen Pembimbing yang telah membimbing dan menasehati dengan setulus hati dalam memberi masukan serta arahan yang baik kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir atau skripsi ini.

2. Dra. Tien Rohmatin, M.A., Ketua Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam, Dra. Banun Binaningrum, M.Pd. selaku Sekretaris Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam dan juga jajarannya yang telah membantu penulis dalam mengurus segala keperluan untuk menyelesaikan penulisan judul skripsi ini.

3. Seluruh Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang tidak bisa penulis sebut namanya satu persatu. Semoga ilmu yang telah diajarkan kepada penulis dapat diamalkan dan semoga kelak mendapat balasan dari Allah.

4. Prof. Dr. Hj. Amany Burhanuddin Umar Lubis, Lc., M.A., selaku Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Dr. Yusuf Rahman, M.A. selaku Dekan Fakultas Ushuluddin.

5. Kedua orang tua tercinta, Bapak Bambang Suntoro dan Ibu Kastirah yang telah mendoakan dan mendukung kepada penulis untuk

(7)

vi

melanjutkan pendidikannya di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, karena berkat doa kedua orang tualah penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar serta menyelesaikan pendidikan ini dengan baik.

6. Adik-adikku, Oppa Ichan tercinta yang selalu memberi semangat, dukungan, dan doa kepada penulis hingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan semangat.

7. Teman-teman jurusan Aqidah dan Filsafat Islam 2016 tercinta yang telah memberikan waktu luang untuk berdiskusi dan mensupport penulis. Oleh karena itu penulis sampaikan ucapan terima kasih banyak. 8. Teman-teman KPMDB yang telah memberikan dedikasi dan

supportnya Oleh karena itu penulis sampaikan ucapan terima kasih banyak.

9. Teman-teman Bidik Misi 2016 yang memberikan semangat kepada penulis. Penulis sampaikan ucapan terima kasih banyak.

Penulis hanya bisa mengucapkan terima kasih banyak atas doa, dukungan dan motivasinya kepada semuanya. Penulis juga tidak lupa mohon maaf apabila masih ada yang belum penulis sebut namanya satu persatu. Semoga segala kebaikan yang telah diberikan oleh semuanya menjadi amal baik dan diberi balasan oleh Allah SWT., Aamiiin.

Ciputat, 5 November 2020

(8)

vii

PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN

Transliterasi kata-kata Arab yang dipakai dalam penyusunan Skripsi ini berpedoman pada Surat Keputusan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Nomor: 507 Tahun 2017.

A. Padanan Aksara

Berikut adalah daftar aksara Arab dan padanannya dalam aksara latin:

Huruf Arab Huruf Latin Keterangan ا tidak dilambangkan ب B Be ث T Te ث Ts te dan ts ج J Je

ح H h dengan garis di bawah

ر Kh k dan h د D De ذ Dz de dan zet ر R Er ز Z Zet س S Es ش Sy es dan ye

ص S es dengan garis di bawah

ض D de dengan garis di bawah

ط T te dengan garis di bawah

ظ Z zet dengan garis di bawah

ع „ koma terbalik di atas hadap kanan

غ Gh ge dan ha ف F Ef ق Q Ki ك K Ka ل L El م M Em ى N En و W We ھ H Ha ء ` Apostrof

(9)

viii

ي Y Ye

B. Vokal

Vokal dalam bahasa Arab, seperti vocal Indonesia, terdiri dari vocal tunggal atau monoftong dan vocal rangkap atau diftong. Untuk vocal tunggal, ketentuan alih aksaranya adalah sebagai berikut:

Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan

ـَــ A Fathah

ـِــ I Kasrah

ُ ــ U Dammah

Adapun untuk vocal rangkap, ketentuan alih aksaranya adalah sebagai berikut:

Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan

ي ـَـ Ai a dan i

و ـَـ Au a dan u

C. Vokal Panjang

Ketentuan alis aksara vocal panjang (mad), yang dalam bahasa Arab dilambangkan dengan harakat dan huruf, yaitu:

Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan

اـَـ Â a dengan topi di atas

ُْيــِـ Î i dengan topi di atas

ُْوــ ـ Û u dengan topi di atas

D. Kata Sandang

Kata sandang, yang dalam sistem aksara Arab dilambangkan dengan huruf, yaitu dialihaksarakan menjadi huruf /l/, baik diikuti huruf syamsiyah maupun huruf kamariah. Contoh: al-rijâl bukan ar-rijâl, al-dîwân bukan ad-dîwân.

E. Syaddah (Tasydîd)

Syaddah atau tasydîd yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan sebuah tanda (ـّــ) dalam alih aksara ini dilambangkan dengan huruf, yaitu dengan menggandakan huruf yang diberi tanda syaddah itu. Akan tetapi, hal ini tidak berlaku jika huruf yang menerima tanda syaddah itu terletak setelah kata sandang yang diikuti oleh huruf-huruf syamsiyah. Misalnya, kata (ةرورضلا) tidak ditulis ad-darûrah melainkan al-darûrah, demikian seterusnya.

F. Ta Marbûtah

Berkaitan dengan alih aksara ini, jika huruf ta marbûtah terdapat pada kata yang berdiri sendiri, maka huruf tersebut dialihaksarakan menjadi huruf

(10)

ix

/h/ (lihat contoh 1 di bawah). Hal yang sama juga berlaku jika tamarbûtah tersebut diikuti oleh kata sifat (na„t) (lihat contoh 2). Namun, jika huruf ta marbûtah tersebut diikuti kata benda (ism), maka huruf tersebut dialihaksarakan menjadi huruf /t/ (lihat contoh 3).

No Kata Arab Alih Aksara

1 تقیرط Tarîqah

2 ُتیهلاسلإا تعهاجلا jâmî‟ah

al-islâmiyyah

3 دوجولاُةددو wahdat al-wujûd

G. Huruf Kapital

Meskipun dalam sistem tulisan Arab huruf kapital tidak dikenal, dalam alih aksara ini huruf kapital tersebut juga digunakan, dengan mengikuti ketentuan yang berlaku dalam Ejaan Bahasa Indonesia (EBI), antara lain untuk menuliskan 35 permulaan kalimat, huruf awal nama tempat, nama bulan, nama diri, dan lain-lain. Jika nama diri didahului oleh kata sandang, maka yang ditulis dengan huruf kapital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal atau kata sandangnya. Contoh: Abû Hâmid al-Ghazâlî bukan Abû Hâmid Al-Ghazâlî, al-Kindi bukan Al-Kindi. Beberapa ketentuan lain dalam EBI sebetulnya juga dapat diterapkan dalam alih aksara ini, misalnya ketentuan mengenai huruf cetak miring (italic) atau cetak tebal (bold). Jika menurut EBI, judul buku itu ditulis dengan cetak miring, maka demikian halnya dalam alih aksaranya, demikian seterusnya. Berkaitan dengan penulisan nama, untuk nama-nama tokoh yang berasal dari dunia Nusantara sendiri, disarankan tidak dialihaksarakan meskipun akar katanya berasal dari bahasa Arab. Misalnya ditulis Abdussamad al-Palimbani, tidak „Abd al- Samad al-Palimbânî; Nuruddin al-Raniri, tidak Nûr al-Dîn al-Rânîrî.

H. Cara Penulisan

Kata Setiap kata, baik kata kerja (fi„l), kata benda (ism), maupun huruf (harf) ditulis secara terpisah. Berikut adalah beberapa contoh alih aksara atas kalimat-kalimat dalam bahasa Arab, dengan berpedoman pada ketentuan-ketentuan di atas:

Kata Arab Alih Aksara

ُ لاُ َةَھَذ

ُ ذاَتْس dzahaba al-ustâdzu

ُ ر ْجَلاُجَبَث tsabata al-ajru

تَّیِرْصَعلاُتَمَرذَلا al-harakah al-„asriyyah اللهَُّلاِإَُھلِإَُلاُ ْىَأُ دَھْشأ asyhadu an lâ ilâha illâ Allâh

خِلاَّصلاُلِلَهُاَنَلاْوَه Maulânâ Malik al-Sâlih

اللهُ ن م رِثَؤ ی Yu‟atstsirukum Allâh

(11)

x

Penulisan nama orang harus sesuai dengan tulisan nama diri mereka. Nama orang berbahasa Arab tetapi bukan asli orang Arab tidak perlu dialihaksarakan. Contoh: Nurcholish Madjid, bukan Nûr Khâlis Majîd; Mohamad Roem, bukan Muhammad Rûm; Fazlur Rahman, bukan Fadl al-Rahmân.

(12)

xi DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

LEMBAR PERNYATAAN ... iii

ABSTRAK ... iv

KATA PENGANTAR ... v

PEDOMAN TRANSLITERASI ... vii

DAFTAR ISI ... ix

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Batasan dan Rumusan Masalah ... 7

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7

D. Tinjauan Pustaka ... 8

E. Metode Penelitian ... 9

F. Sistematika Penulisan ... 10

BAB II BIOGRAFI ALI SYARI‘ATI A. Biografi Ali Syari„ati ... 12

B. Latar Belakang Pemikiran Ali Syari„ati ... 16

C. Karya-Karya Ali Syari„ati ... 20

BAB III SEJARAH TEOLOGI FEMINIS DAN PEMIKIRAN TEOLOGI FEMINIS ALI SYARI‘ATI A. Teologi Feminis Barat ... 22

B. Transisi Teologi Feminis dalam Islam dan Pandangan Ali Syari„ati terhadap Feminisme ... 29

BAB IV KONSEP PEMIKIRAN ALI SYARI‘ATI TERHADAP TEOLOGI FEMINIS A. Penciptaan Perempuan dalam Pandangan Ali Syari„ati ... 38

B. Gender dalam Pandangan Ali Syari„ati ... 40

C. Kedudukan dan Peran Perempuan dalam Islam melalui Fatimah Az-Zahra ... 42

D. Hijab dalam Pandangan Ali Syari„ati ... 49

(13)

xii

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ... 54 B. Saran ... 55

(14)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sepanjang sejarah persoalan peran, hak, dan kedudukan perempuan selalu dipandang sebagai suatu masalah intelektual. Berbagai kalangan di bidang keagamaan, filsafat, hukum, dan sosial membicarakan hal ini. Di negara Barat pada abad ke-20-an krisis masalah perempuan dan kebebasan perempuan dimulai, dan menarik perhatian seluruh masyarakat dunia termasuk kalangan masyarakat religius dan tradisionalis.1 Salah satu yang menjadi pusat perhatian adalah tentang hak dan kebebasan yang digerakan oleh kaum feminisme.

Paham feminisme yang memasuki wilayah masyarakat Timur menimbulkan kontradiksi antar kelompok masyarakat yang berbeda. Diantaranya kelompok masyarakat yang menganggap persoalan tersebut merupakan bentuk modernisme dan kemajuan intelektual. Sehingga bentuk-bentuk paham feminis yang masuk ke wilayah masyarakat Timur dapat diterima.2 Namun, sebagian masyarakat Timur yang lain menganggap bahwa paham feminisme identik dengan pergaulan bebas yang bebas mengeksploitasi tubuh demi kepentingan seksual dan komersial. Sedang sebagian masyarakat yang lain tetap berpegang teguh dengan budaya dan tradisi setempat (lokal) yang membuat perempuan menjadi buta pendidikan, informasi, dan kemajuan teknologi.3

Contoh dari salah satu negara Islam yang pernah mengalami masa revolusi yang besar dan berdampak secara menyeluruh di segala aspek kehidupan masyarakat dan di berbagai lapisan masyarakat yaitu Iran, khususnya setelah Revolusi Iran (pasca-revolusi). Di mana perempuan ikut berpartisipasi di dalam Revolusi Iran yang pada waktu itu dikuasai oleh Rezim

1

Ali Syari„ati, Harapan Wanita Masa Kini, terj. M. Hashem, Cet. 1, (Bandar Lampung, YAPI, 1987), h. 13.

2

Ali Syari„ati, Harapan Wanita Masa Kini, h.14.

3Musdah Mulia, Indahnya Islam Menyuarakan Kesetaraan Gender dan Keadilan Gender,

(15)

Syah Pahlevi pada tahun 1979.4 Sempat membawa dampak perubahan sosial khususnya perempuan. Syah Reza memberikan hak pilih pada perempuan, ditekan untuk mengadopsi bentuk pakaian yang kebaratan sehingga perempuan dilarang mengenakan hijab atau cadar, dan dikirim untuk belajar di universitas-universitas yang mengadopsi pendidikan Barat. Perlu dicatat bahwa dampak dari reformasi rezim Syah Reza adalah peran perempuan di ranah publik semakin kuat sehingga kebanyakan perempuan lupa akan peran utamanya sebagai ibu dari keluarga mereka dan gaya hidup konsumerisme tidak terelakan meskipun alasannya sebagai hiburan semata namun hal itu tetap saja sesuatu yang berlebihan yang akan menimbulkan kerusakan.5 Di sisi lain dari kelompok lain yaitu kelompok masyarakat fundamentalis terpaksa dikonfrontasikan dengan perubahan yang menurut pandangan mereka jauh dari nilai-nilai Islam. Maka, kedua dari kelompok ini baik kelompok yang mengaku lebih modern dan maju maupun fundamentalis yang lebih Islami, keduanya sama-sama tidak dapat memberikan solusi yang tepat untuk menempatkan posisi perempuan, sehingga perempuan dilema mencari jati diri yang sebenarnya bagaimana? Apakah tepat mengambil bentuk Barat yang dikenal lebih modern? atau menjadi perempuan tradisional yang lebih tepat sebagai tempatnya perempuan? Inilah mengapa muncul seruan “Women Question”, pertanyaan yang menandakan dilemanya perempuan, bagaimana tepatnya peran perempuan Muslim di ranah publik, sosial, ekonomi, dan keluarga. Maka sebagai solusi atas permasalahan ini Ali Syari„ati memberikan jalan alternatif yang ke-3 yaitu mengilhami dan mempraktekan dari peran putri Rasūlallāh yaitu Fatimah az-Zahra. Namun, untuk memahami nilai-nilai yang terkandung dalam peran Fatimah, bagaimana Islam memandang kesetaraan gender, dan bagaimana Islam memposisikan perempuan. Maka, perlu memahami paham feminisme.

Jadi, pada mulanya kebebasan perempuan ditandai dengan munculnya gerakan feminisme yang ada Abad ke-18 sampai pada Abad ke-20 Masehi.

4Budi Sujati, “Peran Ayatullah Khomeini dalam Revolusi Islam di Iran 1979”, Jurnal

Rihlah, Vol. 7, No. 1, (Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati: Bandung, 2019), h. 2.

5

Abby Linn, “When Motherhood Meets Protest: Fatima Through the Lens of Ayatollah Khomeini and Ali Shariati”, Thesis of Degree of Bachelor of Arts, (United States: Brown University, 2015), h. 30.

(16)

Gerakan feminisme lahir dengan upaya untuk melawan ideologi penindasan atas nama gender, mencari sumber penindasan terhadap perempuan, dan menciptakan kebebasan perempuan untuk berdikari.6 Gerakan feminisme terdapat dua gelombang sejarah yaitu pada gelombang pertama feminisme ditandai dengan adanya isu-isu perjuangan untuk mencapai peran dan posisi perempuan dalam kehidupan masyarakat di berbagai sektor sosial, sedangkan gelombang kedua ditandai adanya perjuangan melawan budaya dan tradisi masyarakat yang dikuasai oleh sistem patriarki dan merekonstruksi ulang simbol-simbol sistem teologi Kristen yang dinilai seksis dan rasis terhadap perempuan.7 Pada gelombang kedualah gerakan feminisme mengkritisi doktrin agama yang dianggap mendiskriminasi perempuan.

Dalam Islam gerakan feminisme menjadi cikal bakal perkembangan teologi pembebasan (liberation theology) terhadap perempuan atau disebut dengan teologi feminis (feminist theology). Teologi feminis merupakan mazhab dari teologi pembebasan yang pertama kalinya dicetuskan oleh James Cone (1960-an) yang berkebangsaan kulit hitam di Amerika Serikat dan teologi pembebasannya dimaksudkan untuk membebaskan kaum buruh tani yang tertindas.8

Teologi feminis pada dasarnya lahir dari kesadaran diri perempuan yang merupakan bagian dari kesatuan alam, ideologi, budaya, sosial, dan agama. Dalam kesadaran beragama yang dilakukan adalah mencari makna teks dalam kitab suci dan hubungan Tuhan dengan perempuan berdasarkan pengalaman perempuan.9 Mencari makna teks dalam kitab suci di sini adalah berusaha memahami dan merekonstruksi ulang makna tradisi agama seperti simbol, ritual, bahasa, etika, dan seluruh struktur tradisi agama.10 Sehubungan dengan

6Nuryati, “Feminisme dalam Kepemimpinan”, Jurnal Istinbath, No. 16, Th. XIV,

(Palembang: UIN Raden Fatah, 2015), h.163.

7Minggus M. Pranoto, “Selayang Pandang tentang Teologi Feminisme dan Metode

Berteologinya”, Jurnal Abdiel, Vol. 2, No.1, (Semarang: Sekolah Tinggi Theologia Abdiel, 2018), h. 2.

8Masthuriyah Sa‟dam, “Rekonstruksi Materi Dakwah untuk Pemberdayaan Perempuan:

Perspektif Teologi Feminisme”, Jurnal Harkat, Vol. 12, No. 1, (Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2016), h. 39-45.

9Gloria L. Schaab, S.S.J., “Feminist Theological Methodology: Toward a Kaleidoscopic

Model”, Sage Journals, Number 62, (America: Society of Jesus, 2001), h.343.

10Gloria L. Schaab, S.S.J., “Feminist Theological Methodology: Toward a Kaleidoscopic

(17)

ini, teologi feminis dalam Islam terdapat beberapa persoalan teologis yang berkaitan dengan isu feminis yaitu konsep penciptaan manusia dalam Alquran, hijab-isasi (pembatasan) perempuan untuk berperan dalam wilayah publik, dan soal metodologi penafsiran yang dinilai mendiskriminasi perempuan.11

Teologi feminis secara normatif bergerak berdasarkan kesadaran beragama bahwa agama menjunjung tinggi nilai kesetaraan gender yaitu antara perempuan dan laki-laki. Namun, realitasnya banyak persoalan bias gender dalam masyarakat bahkan terjadinya kasus penindasan terhadap perempuan. Artinya pola pikir masyarakat dalam menanggapi persoalan perempuan tidak memahami antara idealis dengan realitas. Salah satu contohnya melakukan poligami adalah sunah rasul. Namun, realitasnya tidak dapat berlaku adil terhadap para istrinya. Contoh lainnya perempuan dalam Islam dikenal sebagai makhluk yang beretika atau baik akhlaknya, baik intelektualnya, pemberani, dan islami. Namun, realitasnya masih banyak perempuan Islam yang jauh dari kata tersebut. Menurut Ali Syari„ati realitas perlu diperhatikan, sehingga idealis (nilai-nilai Islam) tetap berjalan seimbang.12

Menurut Basya untuk mencapai keadilan dan kesetaraan gender, tidak bisa terlepas dari kerangka teologis.13 Seperti paham beban gender perempuan merupakan kodrat dari Tuhan, maka persepsi ini akan membuat konsepsi bahwa perempuan adalah makhluk lemah, perlu diajari, dibimbing, dan diamankan. Maka dengan hal ini perempuan sebagai makhluk lemah, tidak bisa berperan di ruang publik, dan harus tinggal di dalam rumah adalah suatu pembenaran.14 Dengan demikian teks kitab suci (Alquran) harus didialogkan dengan persoalan manusia, sehingga teologi dalam Islam begitu modern dan

11Syarif Hidayatullah, Teologi Feminisme Islam, Cet. 1, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,

2010), h. v-vi.

12

Ali Syari„ati,h. Fatimah adalah Fatimah: Perempuan sebagai Rumah Cinta, Air Mata dan Kebangkitan, terj. Muhammad Hashem Assagaf, Cet. 1, (Yogyakarta: RausyanFikr Institute, 2013), h. 84.

13M. Hilaly Basya adalah dosen tetap di Program Studi: Studi Islam Universitas

Muhammadiyah Jakarta,(Sumber: Pangkalan Data Pendidikan Tinggi, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, diakses melalui https://forlap.ristekdikti.go.id/dosen/detail/ ODFBNzY1QkEtNU5Mi00NkU0LTIGNzUtMDE4RDcyMDY1MUVG/0, pada tanggal 9 Maret 2020, pukul 09.00 WIB).

14

(18)

relevan sesuai dengan kebutuhan manusia. Maka melalui teologi feminis, perempuan mendapatkan hak dan kedudukan yang setara.

Dalam pandangan Ali Syari„ati Islam bukanlah agama yang sekedar memperhatikan aspek spiritual, etika, dan hubungan manusia dengan Tuhan saja, melainkan merupakan ideologi pembebasan kaum tertindas.15 Ali Syari„ati berkeyakinan bahwa manusia mempunyai kehendak bebas, sehingga manusia dapat menentukan kehidupan yang lebih baik.16

Menurut Ali Syari„ati Islam sebagai agama Tauhid tidak memandang kelas, melainkan sebagai agama pembebasan terhadap orang-orang yang tertindas dan terdiskriminasi. Tauhid dalam Islam merupakan dasar dari segala eksistensi di alam semesta ini, sehingga kehidupan merupakan bentuk tunggal, seluruh organisme di muka bumi yang hidup dan sadar, mempunyai kehendak, intelek, perasaan, dan tujuan.17 Maka dari itu, diskriminasi merupakan bentuk yang berlawanan dengan nilai-nilai ketuhanan.18

Ali Syari„ati berpendapat untuk menghilangkan segala bentuk diskriminasi dan mengubah bentuk-bentuk tradisi jahiliyah adalah melalui rausyanfikr, yaitu manusia yang memimpin masyarakat menuju revolusi.19 Gerakan revolusioner bertujuan untuk menghilangkan segala bentuk penindasan dan ketidakadilan. Konsep teologi pembebasan Ali Syari„ati di atas menunjukkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi kesetaraan gender, hak dan kebebasan perempuan dalam berperan di segala bidang.

Menurut Nasaruddin Umar, Islam secara normatif memiliki banyak kesetaraan gender, yaitu: 1) laki-laki dam perempuan sama-sama sebagai hamba, 2) laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai khalifah, 3) laki-laki dan perempuan sama-sama menerima perjanjian primordial yang sama, 4)

15Yulia Nasrul Latifi, “Rekonstruksi Gender dan Islam dalam Sastra: Analisis Kritik Sastra

Feminis Terhadap Novel Zainah Karya Nawal As-Sa‟dawi”, Jurnal Musâwa, Vol 15, No. 2, (Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2016), h.226.

16

Ali Syari„ati, Sosiologi Islam: Padangan Dunia Islam dalam Kajian Sosiologi untuk Gerakan Sosial Baru, terj. Arif Mulyadhi , Cet. 2, (Yogyakarta: RausyanFikr Institute, 2013), h. 128.

17Ali Syari„ati, Sosiologi Islam: Padangan Dunia Islam dalam Kajian Sosiologi untuk

Gerakan Sosial Baru, h. 117.

18Yulia Nasrul Latifi, “Rekonstruksi Gender dan Islam dalam Sastra: Analisis Kritik Sastra

Feminis Terhadap Novel Zainah Karya Nawal As-Sa‟dawi”, h. 267.

19Yulia Nasrul Latifi, “Rekonstruksi Gender dan Islam dalam Sastra: Analisis Kritik Sastra

(19)

Adam dan Hawa, sama-sama terlibat secara aktif dalam drama kosmis; dan 5) laki-laki dan perempuan sama-sama berpotensi meraih prestasi.20 Hal inilah yang perlu diperjuangkan masyarakat Islam, agar perempuan tidak lagi mengalami perampasan hak dan diskriminasi.

Teologi feminis perspektif Ali Syari„ati menggunakan pemahaman tentang peran perempuan dari dua pendekatan yaitu pembacaan ayat atau teks Alquran yang dikaitkan dengan konteks sejarah atau sebab turunnya ayat atau teks Alquran seperti praktek pengobatan perempuan di Iran.21 Dari pendekatan lainnya adalah memeriksa dan menolak keras terhadap teori Barat tentang praktek peran perempuan di dalam masyarakat.

Dasar dari pendekatan yang pertama adalah kepercayaan Ali Syari„ati terhadap kemauan manusia dan penolakannya terhadap konsep predestinasi. Syari„ati berpandangan bahwa melalui pengetahuan seseorang mendapatkan kemauan dan menjadi bertanggung jawab atas tindakannya. Sejak manusia mempunyai bebas kemauan dan menjadi bertanggung jawab atas tindakannya, mereka harus mencoba memahami norma-norma waktu dan tempat di mana mereka tinggal, dan harus memperbaiki kehidupan mereka dan kehidupan orang lain melalui pengetahuan yang didapatnya. Itulah tanggung jawab setiap Muslim untuk mendapatkan pengetahuan dari studi Islam; sejarah, dan nilai-nilai dalam teks-teks Alquran. Sedangkan untuk memahami Islam seseorang harus memahami norma-norma sosial Arab pada saat kebangkitan Islam. Seseorang juga harus memahami perkembangan yang dialami oleh Islam di sepanjang sejarah Islam. Seperti perubahan yang terjadi pada laki-laki dan masyarakat, maka perempuan juga harus diperbolehkan untuk berubah.Para perempuan muslim tidak dapat tinggal di dalam tradisi lama tetapi harus bergerak progresif dengan memanfaatkan metode ilmiah kontemporer untuk mendapatkan pengetahuan baru. Alquran sebagai sumber utama harus dibaca dan dipahami semua dimensinya, terutama tentang relasi antar orang dan dengan Tuhan. Konsepsi Ali Syari„ati terhadap Alqur‟an sebagai ringkasan yang dipahami oleh semua generasi sesuai perubahan zaman yang diikuti

20

Syarif Hidayatullah, Teologi Feminisme Islam, h. 4.

21Adele K. Ferdows, “Women and The Islamic Revolution”, Journal Middle East, United

(20)

menurut pandangannya, yang sebelumnya mengundang perhatian para reformis Muslim bahwa Alqur‟an menggunakan bahasa simbolis yang sifatnya terbuka untuk dilakukan sebuah interpretasi baru yang sesuai dengan perkembangan waktu dan tempatnya. Jadi peristiwa lalu harus dilihat dan dievaluasi dan peristiwa hari ini harus dilihat berdasarkan perspektif hari ini. Intinya seseorang apabila ingin menilai sesuatu harus berdasarkan konteks waktu dan tempat terjadinya. Maka, isu-isu seperti peran gender khususnya perempuan, tentang hijab atau cadar, dan isu pernikahan khususnya poligami perlu dilihat berdasarkan konteks dan waktunya.

Berdasarkan latar belakang inilah yang mendorong peneliti untuk mengkaji lebih dalam bagaimana konsepsi teologi feminis Ali Syari„ati.

A. Batasan dan Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti membatasi pokok permasalahan ini pada konsep teologi feminis Ali Syari„ati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana konsep pemikiran Ali Syari„ati terhadap teologi feminis. Agar pembahasan lebih terarah, peneliti akan membatasi dalam beberapa hal yaitu pembahasan mengenai teologi, peneliti fokus pada konsep teologi feminis Ali Syari„ati yang berkaitan dengan gender dan perempuan. Sedangkan dalam pembahasan feminisme, peneliti menentukan posisi pemikiran Ali Syari„ati terhadap teologi feminis, apakah ia berkiblat pada feminisme Barat atau Islam?

Dari pembatasan masalah di atas dapat dirumuskan permasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini yaitu: Bagaimana konsep pemikiran Ali Syari„ati terhadap teologi feminis?

B. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan dari penelitian ini adalah:

a. Mengetahui latar belakang kehidupan dan pemikiran Ali Syari„ati. b. Mengerti konsep teologi feminis menurut Ali Syari„ati.

c. Mengetahui kontribusi dari pandangan Ali Syari„ati terhadap teologi feminis.

(21)

2. Manfaat dari penelitian ini adalah:

a. Menambah wawasan tentang kajian filsafat dan teologi Islam yang berkembang di Iran, khususnya konsep teologi feminis Ali Syari„ati b. Memperkenalkan pemikiran Ali Syari„ati kepada para akademisi

terutama yang tertarik dalam kajian filsafat maupun teologi Islam. c. Menawarkan analisa-deskriptif mengenai konsep teologi feminis

menurut Ali Syari„ati.

C. Tinjauan Pustaka

Teologi feminis Islam yang penulis ketahui sudah pernah dibahas baik dalam buku maupun jurnal dan penulis belum menemukan satu pun skripsi yang membahas teologi feminis perspektif Ali Syari„ati, namun ada skripsi yang satu tema dengan yang penulis akan teliti sebagai berikut;

Pertama, Supriadin (2013), “Kesetaraan Gender dalam Perspektif Ashgar Ali Engineer: Suatu Tinjauan Filosofis”, Makassar: Filsafat dan Politik, Fakultas Ushuluddin, UIN Alauddin Makassar. Di mana di dalam skripsi ini membahas tentang paham kesetaraan gender di dalam masyarakat Islam dari segi aspek budaya dan politik perspektif Ashgar Ali Engineer.

Kedua, Hasriyani Mahmud (2014), “Feminisme dalam Islam (Telaah Pemikiran Murtadha Muthahhari)”, Yogyakarta: Jurusan Filsafat Agama, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Di mana di dalam skripsi membahas tentang pemikiran feminisme Murtadha Muthahhari seperti kedudukan perempuan di dalam Alquran, wanita dan kemerdekaan sosialnya, perbedaan perempuan dan laki-laki, dan gerakan feminisme Murtadha Muthahhari dalam Islam seperti persoalan mahar dan nafkah, warisan, hak talak, poligami, pernikahan mut‟ah, dan pertunangan.

Ketiga, Lucky Nella (2013), “Teologi Feminisme Perspektif Amina Wadud: Integrasi Logika Normatifitas dan Historisitas”, Jurnal Al-„Adâlah, Vol. 16, No. 1, Pekanbaru: Universitas Abdurrab Pekanbaru. Satu tema dengan objek yang penulis teliti di mana di dalam jurnal ini membahas

(22)

sebab-sebab terjadinya isu-isu bias gender dalam penafsiran Alquran dan Hadis misoginis.

Keempat, M. Mukhtasar dan Arqom Koeswanjono (1999), “Teologi Feminisme Riffat Hassan dan Rekonstruksi Pemahaman Atas Kedudukan dan Peran Wanita”, Jurnal Filsafat, Seri 29, Yogyakarta: Universitas Gajah Mada. Satu tema dengan pembahasan yang penulis teliti di mana di dalam jurnal ini hanya membahas tentang persoalan bias gender dalam proses penciptaan manusia yang terdapat dalam Alquran dan Hadis.

Berdasarkan tinjauan penelitian di atas, maka peneliti dalam penelitian ini mengangkat pemikiran Ali Syari„ati dengan sudut pandang yang berbeda, latar belakang yang berbeda, dan konsep teologi feminis Ali Syari„ati yang berbeda karena dalam penelitian ini tidak sekedar membahas isu gender dan persoalan perempuan saja, melainkan membahas bagaimana hubungan teologi dengan feminis sebagai jalan tengah dalam menghadapi realitas zaman modern.

D. Metode Penelitian

Metode Penelitian diperlukan sebagai cara untuk penataan dan pengelolaan data suatu penelitian. Berikut ini adalah langkah metode yang peneliti lakukan sebagai prosedur dalam mengerjakan penelitian ini:

Pertama, pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan penelitian perpustakaan (library research). Dalam pengambilan data penelitian perpustakaan peneliti mengambil rujukan-rujukan yang berbentuk karya ilmiah akademik (skripsi, tesis, dan disertasi) ataupun karya publikasi (buku, Koran, majalah). Adapun pengumpulan data perpustakaan terbagi antara data primer dan sekunder. Data primer dalam penelitian ini yaitu beberapa buku karangan Ali Syari„ati yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia seperti: 1) Fatimah adalah Fatimah: Rumah Cinta, Air Mata, dan Kebangkitan, terjemahan dari Muhammad Hashem Assegaf, 2) Harapan Wanita Masa Kini, terjemahan dari Muhammad Hashem Assegaf, 3) Sosiologi Islam, terjemahan Arif Mulyadi, dan 4) Mengapa Nabi Berpoligami?, terjemahan dari Sofyan Abu Bakar. Penulis hanya merujuk

(23)

pada sumber buku terjemahan dikarenakan penulis tidak mampu berbahasa Parsi, karena semua karangan Ali Syari„ati menggunakan bahasa Parsi. Sedangkan data sekunder dalam penelitian ini adalah buku-buku dan jurnal yang berhubungan dengan penelitian ini.

Kedua, dalam melakukan analisis penelitian ini penulis menggunakan pendekatan filosofis dengan metode interpretasi, heuristika, deskripsi, dan analisis. Metode interpretasi, yaitu meganalisis karya tokoh untuk mendapatkan arti dan maksud dari tokoh guna mencapai pemahaman yang benar sesuai dengan konteks pemikiran tokoh. Metode heuristika, yaitu menampilkan konsep dasar teologi feminis Ali Syari„ati yang dapat memberikan alternatif pemecahan masalah terhadap konsep-konsep pemahaman atas hak, peran, dan kedudukan perempuan yang telah ada. Metode deskripsi, yaitu merumuskan pemikiran dan pandangan Ali Syari„ati untuk dijadikan acuan bagi upaya merekonstruksi pemahaman mengenai bias gender dan isu-isu feminisme dalam Islam. Metode analisis, yaitu menganalisis konsep teologi feminis menurut Ali Syari„ati.

Ketiga, Teknik penulisan dalam penelitian ini merujuk pada buku Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan Disertasi) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang diterbitkan pada tahun 2017 berdasarkan SK REKTOR No. 507.

E. Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah pembahasan dalam penelitian ini, maka penelitian ini disusun dalam 5 Bab besar sebagai berikut:

Bab I berisi Pendahuluan. Bahasan dalam bab ini adalah sebagai langkah awal dalam penelitian ini. Menjelaskan gambaran umum dan latar belakang serta alasan dari penelitian ini.

Bab II berisi Biografi Ali Syari„ati, di mana dalam bab ini menjelaskan secara detail baik riwayat hidupnya, pendidikannya, latar belakang pemikirannya, ideologinya, pemikiran filosofinya, dan karya-karyanya.

Bab III berisi Sejarah Teologi Feminis baik di Barat maupun di dalam Islam itu sendiri serta makna atau definisi dari Teologi Feminis. Sehingga

(24)

dalam penelitian ini mampu memberikan gambaran tentang suasana ketidakadilan dan penindasan yang dirasakan oleh kaum perempuan dari zaman ke zaman.

Bab IV berisi Teologi Feminis Perspektif Ali Syari„ati, dalam bab ini dijelaskan mengenai konsep perempuan, kesetaraan gender, posisi dan peran perempuan, dan poligami dalam Islam.

Bab V berisi Kesimpulan dan Penutup yaitu benang merah dalam penelitian ini.

(25)

12

BAB II

BIOGRAFI ALI SYARI‘ATI

A. Biografi Ali Syari‘ati

Ali Syari„ati dikenal oleh banyak orang sebagai “Bapak Revolusi Iran” pada tahun 1979.1 Ia merupakan anak laki-laki pertama dari keluarga Muhammad-Taqi dan Zahra yang lahir di desa Kahak pada tanggal 24 November 1933.2 Ia mempunyai tiga saudara perempuan yang bernama Tehereh, Tayebeh, dan Batul (Afsaneh), keluarga Ali Syari„ati merupakan keluarga menengah ke bawah, namun memiliki semangat religius dan kepedulian terhadap pendidikan yang tinggi.3 Ayahnya merupakan seorang guru yang terhormat di Iran.4 Ayahnya juga merupakan pekerja politik di lebih dari satu institusi pendidikan, sedangkan ibunya hanya sebagai ibu rumah tangga.5

Ali Syari„ati mendapatkan pendidikan yang sangat baik dari keluarganya, selain mendapatkan pendidikan religius dari keluarganya, ia mendapatkan pendidikan umum pertama kali oleh ayahnya.6 Pada tahun 1941 yaitu pada masa sebulan setelah sekutu menginvansi Iran, Ali Syari„ati memasuki sekolah dasarnya pada tahun pertama. Kondisi saat itu sangat sulit untuk mendapatkan makanan karena keberadaan dan gerakan tentara-tentara Uni Soviet di Masyhad. Pendidikan dasarnya ia tempuh di sekolah dasar swasta tempat ayahnya mengajar dan sebagai direktur studi di sekolah dasar Ibnu Yamin.7 Pada masa pendidikan sekolah dasarnya Ali dikenal sebagai murid yang pemalas, pendiam, dan tidak tertarik dengan sekolah bahkan sering bolos sekolah, namun hanya ia tertarik dengan koleksi buku-buku di

1Ali Rahnema, Ali Syari„ati: Biografi Politik Intelektual Revolusioner, terj. Dien Wahid,

M.A., dkk., (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2002), h. v.

2Menurut versi yang lain dalam buku “Ali Syari„ati: Melawan Hegemoni Barat: Agama,

Ideologi, dan Dentuman Revolusi Sosial Perspektif Intelektual Indonesia ”, pada halaman xxvii bahwa Ali Syari„ati lahir di desa Mazinan sebalah timur Iran.

3

Ali Rahnema, Ali Syari„ati: Biografi Politik Intelektual Revolusioner, h. 53.

4M. Ramadhan, M.Ag., “Teologi Kemanusiaan Studi Atas Pemikiran Ali Syari„ati”, Jurnal

Teologia, Vol. 22, No. 2, (Sumatra Utara: IAIN Sumatera Utara, 2011), h. 2.

5

Ali Rahnema, Ali Syari„ati: Biografi Politik Intelektual Revolusioner, h. 53.

6

Ali Rahnema, Ali Syari„ati: Biografi Politik Intelektual Revolusioner, h. 54.

(26)

perpustakaan milik ayahnya yang berjumlah 2000 buku dan ia telah membaca bahkan hafal semua koleksi buku ayahnya.8

Setelah menamatkan pendidikan dasarnya di Ibnu Yamin pada bulan September 1947, Ali Syari„ati melanjutkan pendidikan menengahnya di Sekolah Menengah Firdausi di Masyhad, dan di sekolah ini ayahnya bekerja sebagai guru bahasa Arab dan Sastra. Pada masa sekolah menengahnya Ali dikenal sebagai anak yang mampu bersosialisasi, ramah, bijaksana, kalem dan suka bergurau.9

Setelah menamatkan pendidikan sekolah menengahnya pada tahun 1950, Ali Syari„ati masuk ke Institut Keguruan Danesyara-ye Moqaddamati di Masyhad.10 Masuknya Ali ke Institut Keguruan ini berdasarkan atas permintaan ayahnya, hal ini dikarenakan agar Ali mengikuti jejak ayahnya sebagai pendidik. Aktif sebagai mahasiswa di Institut Keguruan Danesyara-ye Moqaddamati, ia bergabung dan aktif berpolitik dalam gerakan danesyamuzan-e melli (mahasiswa nasionalis) yaitu perkumpulan mahasiswa pendukung Mosaddeq, seorang Perdana Mentri Iran dan salah satu figur yang berpengaruh di kampusnya. Gerakan nasionalisme ini bertujuan untuk menggulingkan rezim Syah Pahlevi.

Selain aktif dalam gerakan nasionalisme pendukung Mohammad Mosaddeq, Ali juga aktif bergerak dalam organisasi yang dibawa oleh ayahnya yang bernama “Gerakan Sosialis Penyembah Tuhan”. Ali dan ayahnya juga bergabung dalam “Gerakan Perlawanan Nasional” di Masyhad yang didirikan oleh Mehdi Bazargan, karena keterlibatannya dalam gerakan ini Ali dan ayahnya sempat di penjara selama delapan bulan di Qazil Qal‟eh, Teheran.11 Selain aktif dalam gerakan sosialis dan nasionalis di Masyhad, Ali mendirikan Asosiasi Pelajar di Masyhad yang bertujuan untuk menasionalisasi perusahaan minyak di Iran.12

8Ernita Dewi, “Pemikiran Filosofi Ali Syari„ati”, Jurnal Substantia, Vol. 14, No. 2, (Aceh:

Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry, 2012), h.233.

9

Ali Rahnema, Ali Syari„ati: Biografi Politik Intelektual Revolusioner, h. 59.

10Ali Rahnema, Ali Syari„ati: Biografi Politik Intelektual Revolusioner, h. 61. 11Mashadi, “Pemikiran dan Perjuangan Ali Syari„ati”, Jurnal Al-Ulum, Vol 11, No. 1,

(Gorontalo: IAIN Sultan Amai, 2011), h.122.

12Sabara, “Pemikiran Teologi Pembebasan Ali Syari„ati”, Jurnal Al-Fikr, Vol. 20, No. 2,

(27)

Ali Syari„ati menamatkan pendidikan tingginya sebagai diploma di Institut Keguruan Danesyara-ye Moqaddamati pada tahun 1952. Setelah kelulusannya Ali bekerja di Kementerian Pendidikan dan dikirim ke Sekolah Dasar Ketabpur di Ahmadabad. Pada tahun 1955, Ali Syari„ati melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Masyhad.13 Ia menamatkan pendidikannya sebagai Sarjana Sastra pada tahun 1959.14 Di universitas ini, Ali bertemu dengan Puran-e Syariat Razavi dan menjadikannya istri. Setelah satu tahun kemudian Ali dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Ehsan.15

Oleh karena Ali berprestasi dalam bidang akademiknya maka setelah lulus dari Universitas Masyhad Ali Syari„ati melanjutkan pendidikan pascasarjananya di Universitas Sorbone, Paris. Selama menjalankan pendidikannya di Paris Ali dekat dengan beberapa tokoh intelektual yang terkenal di dunia Barat, seperti Jean Paul Sartre, Louis Massignon, dan Che Guevara dan ia suka mempelajari pemikiran Chandell dan Jacques Schwartz.16 Tokoh lainnya yang pernah dekat dengan Ali adalah Prants Panon, Gures Gurevich, Henry Bergson, dan Albert Camus.17

Masa studi Ali di Paris diselesaikan selama lima tahun dan mendapatkan gelar Doktor Sosiologi. Setelah menamatkan pendidikannya di Paris, Ali kembali ke Iran pada tahun 1963.18 Tetapi, kedatangan Ali di perbatasan Iran yaitu di Bazargan, Ali dituding sebagai salah seorang yang termasuk dalam kelompok politik yang menentang rezim Syah Pahlevi. Oleh karena itu Ali sempat dipenjarakan selama enam bulan penjara dan setelah masa penahanan Ali berakhir, Ali bertugas sebagai pengajar di sekolah lanjutan dan di Akademi Pertanian.19

Pada tahun 1966, Ali Syari„ati mulai mengajar di Universitas Masyhad. Ia mengajar dua mata kuliah yaitu “Sejarah Iran Pasca Islam” dan Sejarah

13Ali Rahnema, Ali Syari„ati: Biografi Politik Intelektual Revolusioner, h. 63. 14Sabara, “Pemikiran Teologi Pembebasan Ali Syari„ati”, h. 215.

15Ali Syari„ati,h. Fatimah adalah Fatimah: Perempuan sebagai Rumah Cinta, Air Mata

dan Kebangkitan, terj. Muhammad Hashem Assagaf, Cet. 1, (Yogyakarta: RausyanFikr Institute, 2013), h. 14.

16

Ekky Maliky, Seri Tokoh Filsafat: Ali Syari„ati: Filosof Etika dan Arsitek Iran Modern (Jakarta: Teraju, 2004), h.16.

17Mashadi, “Pemikiran dan Perjuangan Ali Syari„ati”, h. 122. 18Ernita Dewi, “Pemikiran Filosofi Ali Syari„ati”, h.233. 19Mashadi, “Pemikiran dan Perjuangan Ali Syari„ati”, h. 123.

(28)

Peradaban”.20

Selama mengajar di Universitas Masyhad Ali banyak memberikan pemikiran-pemikiran yang dikenal radikal oleh kebanyakan mahasiswa yang mengikuti perkuliahannya. Di luar perkuliahannya ia mengadakan diskusi bersama mahasiswanya dan memberikan ide-idenya yang berhubungan dengan isu politik pada masanya termasuk isu politik pada masa pemerintahan Syah Pahlevi.21

Ali di Universitas Masyhad selain dikenal sebagai sosok pemikir yang bebas oleh mahasiswanya, ia juga dikenal sebagai sosok dosen yang menentang sistem perkuliahan di Masyhad oleh bagian administrasi dan dosen lainnya. Satu hal yang membuat Ali Syari„ati dikagumi oleh kebanyakan mahasiswanya adalah ia sedikitpun tidak pernah menghina dan menolak semua argumen yang menolak pemikirannya. Namun, tidak ada satupun argumen yang Ali terima dan penolakan yang secara halus itu ia sampaikan dengan alasannya. Karena Ali terkenal luas oleh kalangan mahasiswa dan bahkan dikenal oleh universitas lain karena pemikiran dan gaya oratornya yang bebas sehingga menarik perhatian banyak mahasiswa dan dosen di luar Universitas Masyhad, maka ia diundang untuk memberikan ceramah dan perkuliahan di universitas lain. Semua mahasiswa yang hadir dalam perkuliahan Ali sangat antusias untuk mencatat dan merekam semua isi dari pidato atau ide-idenya.22

Pada tahun 1971, Ali berhenti mengajar di Universitas Masyhad dan pergi ke Teheran untuk mengajar di Husainiyah Irsyad. Kemudian Ali menjadikan Husainiyah Irsyad sebagai “Universitas Islam” yang dikenal radikal dan modernis. Tidak lama setelah Ali berada di Husainiyah Irsyad Ali terus menggerakan pemikirannya hingga Husainiyah Irsyad aktif bergerak di berbagai peristiwa politik, khususnya peristiwa penolakan terhadap pemerintahan Syah Pahlevi di Iran. Namun, satu tahun kemudian tepatnya pada tahun 1972 Ali dipenjarakan kembali karena dianggap mengecam

20

Ali Rahnema, Ali Syari„ati: Biografi Politik Intelektual Revolusioner, h. 271.

21Mashadi, “Pemikiran dan Perjuangan Ali Syari„ati”, h. 123.

(29)

pemerintahan Syah Pahlevi, sementara itu Husainiyah Irsyad resmi ditutup oleh pemerintah.23

Pada tahun 1977, Ali pergi ke London, Inggris secara illegal dengan nama Ali Mazinani.24 Sementara di Iran intelijen SAVAK telah mengetahui kepergiannya. Namun, pada tanggal 21 Juni 1977 di Shoutthamton, Inggris yaitu setelah dua hari kematiannya pada tanggal 19 Juni, Ali dinyatakan oleh pihak kesehatan bahwa Ali meninggal karena gagal jantung.25 Kemudian jenazah Ali dimakamkan di kota Damaskus tepatnya di tempat pemakaman Zainab anak dari Fatimah Az-Zahra.26

B. Latar Belakang Pemikiran dan Gerakan Ali Syari‘ati

Ali Syari„ati yang berasal dari latar belakang keluarga yang religius dan terdidik telah berperan membentuk kehidupan Ali sebagai pemikir Islam. Masa-masa kecilnya tidak dihabiskan dengan banyak bermain melainkan lebih senang menyendiri dan merenung, dan gemar membaca koleksi buku di perpustakaan milik ayahnya. Ayahnya banyak mengajarkan berbagai pengetahuan bahasa dan logika sehingga mempengaruhi Ali tertarik pada dunia bahasa dan sastra.

Ali dikenal sebagai orang yang keras dalam berfikir, sesekali teman-temannya sewaktu sekolah menengah melihat Ali sedang melamun dalam pandangannya yang serius sambil merokok. Memasuki perkuliahan Ali sangat aktif mengikuti gerakan sosial politik di kampusnya. Kondisi Iran yang pada waktu itu banyak mengalami peristiwa politik membuat Ali menjadi seseorang yang reaksioner.

Pada tahun 1978-1979, di Iran terjadi demonstrasi besar-besaran, di mana pada tahun ini revolusi Iran hampir mencapai pada puncaknya. Dalam situasi ini, ada dua foto tokoh yang terpajang di sepanjang jalanan Teheran

23Ali Syari„ati, Fatimah adalah Fatimah: Perempuan sebagai Rumah Cinta, Air Mata dan

Kebangkitan, h. 15.

24Faiq Tobroni, “Pemikiran Ali Syari„ati dalam Sosologi: Dari Teologi Menuju Revolusi”,

Jurnal Sosiologi Reflektif, Vol. 10, No.1, (Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia, 2015), h. 244.

25Pada versi lain dari Ernita Dewi, “Pemikiran Filosofi Ali Syari„ati”, Jurnal Substantia,

Vol. 14, No. 2, (Aceh: Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry, 2012), h.233, dikatakan bahwa Ali Syari„ati meninggal karena dibunuh secara diam-diam oleh inteligen SAVAK yang merupakan utusan dari pemerintahan Syah Pahlevi.

(30)

yaitu Imam Khomeini dan Ali Syari„ati. Keduanya berkerjasama untuk kebangkitan revolusi Iran dan menjatuhkan pemerintahan Syah Reza Pahlevi. Posisi Ali dengan Imam Khomeini adalah sebagai ideology dan penggerak pemuda Iran dalam memperjuangkan revolusi Iran, sedangkan Imam Khomeini sebagai pemimpin revolusi Iran.27

Sebelum revolusi Iran aliran dan ideologi gerakan dibagi menjadi empat golongan, yaitu: nasionalis-sekular, marxis-komunis, Islam-revolusioner (sosialis) dan Islam-fundamentalis.28 Namun, Ali Syari„ati tidak dapat ditentukan apakah ia termasuk golongan nasionalis atau marxis. Jelasnya Ali dalam perjalanan gerakan politiknya tidak terhindar dari pengaruh ideologi Syi‟ah Ali dan pengaruh filsafat Marxis. Baginya Syi‟ah Ali merupakan Islam asli yang pernah dibawa oleh Nabi Muhammad yang wataknya membawa pembaharuan (revolusioner) terhadap ketidakadilan dan kejumudan.29 Maka, pemikiran Ali Syari„ati tidak jauh dari pengaruh paradigma keislaman. Baik pemikiran dan gerakannya fokus pada isu sosial politik-keagamaan, Azyumardi Azra mengatakan:

“Pandangan dunia Ali Syari„ati yang paling menonjol adalah menyangkut hubungan antara agama dan politik, yang dapat dikatakan menjadi dasar ideologi pergerakannya. Dalam konteks ini, Ali Syari„ati dapat disebut pemikir politik-keagamaan (politico religio thinker).”30

Aktivitas politik Ali yang dimulai sejak zaman kuliah di Institute Keguruan. Ali aktif dalam Pusat Penyebaran Kebenaran Islam (Center for the Propagation of Islamic Truth) pada tahun 1950 yang pendirinya adalah ayahnya sendiri (Muhammad-Taqi).31 Pada tahun 1953 Ali sudah menjadi pembicara utama dalam organisasi ini untuk menggantikan ayahnya yang

27

M. Riza Sihbudi, “Ali Syari„ati: Melawan Hegemoni Barat”, Cet. 1, Ed. M. Deden Ridwan, (Yogyakarta: RausyanFikr Institute, 2013), h. 65.

28Anjar Nugroho, “Pengaruh Pemikiran Islam Revolusioner Ali Syari„ati terhadap Revolusi

Iran”, Jurnal PROFETTIKA, Vol. 15, No. 2, (Purwokerto: Fakultas Agama Islam Universitas Muhiyah Purwokerto, 2014), h. 192-200.

29

Edward W. Said, “Ali Syari„ati: Melawan Hegemoni Barat”, h. xxix.

30

Edward W. Said, “Ali Syari„ati: Melawan Hegemoni Barat: Agama, Ideologi, Dentuman Revolusi Sosial Perspektif Intelektual Indonesia, h. xxvii.

31Ali Syari„ati, Sosiologi Islam: Pandangan Dunia Islam dalam Kajian Sosiologi untuk

(31)

sedang sakit, selain itu Ali juga sempat mengajarkan filsafat dan seni beretorika di The High School Students‟ Islamic Association.32

Ali sangat produktif menulis karya-karyanya, ia aktif menulis terjemahan, artikel-artikel sosial politik, teoretis dan kadang-kadang biografis di surat kabar harian ternama Khorasan dan puisi. Apa yang Ali tulis selalu berhubungan dengan keadaan sosial dan politik Iran pada waktu itu. Terjemahan pertama yang berkaitan dengan kondisi sosial dan politik di Iran adalah Abu Zar-e Qifari; Khoda Parast-e Socialist pada tahun 1955. Buku Abu Zar al-Ghifari merupakan buku karangan dari Abd al-Hamid Jawdat as-Sahar, seorang penulis kontemporer dari Mesir. Ali melanjutkan terjemahan ini dari ayahnya yang hanya sampai pada pengantar buku. Dalam judulnya Ali bermaksud ingin menunjukkan bahwa Abu Zar merupakan sosok sosialis bertuhan yang idealis atau sempurna.33

Terjemahan lainnya yaitu surat yang ditulis oleh Muhammad Husein Kasyf al-Gita dengan judul „Nemunehha-ye ali-ye akhlaqi dar Eslam ast na dar Behamdoon‟ atau „Nilai-nilai dasar harus dicari dalam Islam bukan di Behamdon‟. Artikel pertama dan terkenal yang ditulis Ali adalah Maktab-e Vaseteh-e Eslam (Mazhab Jalan Tengah Islam) yang dipublikasikan pada harian ternama di Mayshad, Khorasan, artikel tetang tokoh „Sayyid Jamal al-Din Asadabadi‟, „Freud Penemu Mazhab Cinta‟, „Doktor Alexis Carrel‟, „Maurice Maeterlinck‟, dan „Muhammad Iqbal‟. Sedangkan karya puisinya yang diterbitkan di Khorasan adalah Morgh-e absyar (Burung Air Terjun) dan Yek Negah („Sebuah pandangan sekilas‟).34

Ali sangat antusias untuk menyumbangkan pemikirannya dalam pergerakan sosial dan politik di Iran. Hampir seluruh pemikirannya ia peroleh berdasarkan potret kehidupan sosial dan politik di Iran melalui pengalaman intelektualnya. Pengalaman intelektualnya yang ia peroleh ternyata inspirasi dari leluhurnya yang merupakan kalangan ulama yang terkenal di Iran. Hal ini berdasarkan kutipan dalam tulisannya ia sendiri, sebagai berikut:

32

Ali Rahnema, Ali Syari„ati: Biografi Politik Intelektual Revolusioner, h. 90.

33

Ali Rahnema, Ali Syari„ati: Biografi Politik Intelektual Revolusioner, h. 92-99.

(32)

Sekitar delapan puluh lima tahun yang lalu, sebelum awal dari Revolusi Konstitusional, kakekku mempelajari ilmu kalam, filsafat dan fikih melalui paman dan pihak ibunya, Allamah Bahmanabadi, dan sibuk dalam perdebatan filsafat dengan Hakim Asrar. Meskipun ia hidup di desa terpencil dan tak dikenal di dusun Bahmanabad dekat Mazinan, popularitasnya menyebar ke lingkungan-lingkungan terpelajar di Teheran, Masyhad, Isfahan, Bukhara dan Najaf. Di Teheran khususnya ia dikenal sebagai seorang jenius, sehingga Nashiruddin Syah mengundangnya ke ibukota. Di sana ia mengajar filsafat di Madrasah Sipahsalar, namun dorongan untuk menyendiri dan mengisolasi diri mencengkeram kuat dalam darahnya, membuatnya mundur ke tempat pengasingannya di Bahmanabad. Itulah masa kematangannya, ketika ia berhasil memiliki kedudukan dan otoritas, memangku kepemimpinan dan bimbingan masyarakat, serta memiliki popularitas dan pengaruh. Namun ia menjauhkan diri dari semuanya itu dengan sengaja.35

Realitas membuka jalan pemikiran Ali Syari„ati, sehingga ia menaruh keinginan yang besar pada masyarakat muslim Iran. Apa yang ia perjuangkan adalah pembelaan terhadap masyarakat yang tertindas, sehingga ia terus-menerus mengeluarkan gagasan-gagasan tentang Islam progresif yang anti penindasan, imperialisme, monarki, dan ketidakadilan. Tidak sekedar membela masyarakat yang tertindas, ia berusaha membangun kesadaran masyarakat muslim Iran akan pentingnya memahami sejarah, kultur, dan bahasa masyarakat. Dalam hal ini Ali Syari„ati terus-menerus memberikan ceramahnya kepada mahasiswa dan masyarakat umum yang biasa ia berikan di Husainiyah Irsyad.

Tema pokok utama dalam ceramah Ali adalah gerakan revolusioner Islam yang bertujuan sebagai pembebasan terhadap masyarakat tertindas, baik secara budaya, politik, maupun ekonomi. Menurut Ali Syari„ati bahwa negara dalam dunia ketiga khususnya di Iran, membutuhkan dua bentuk revolusi. Pertama, revolusi nasional yang bertujuan untuk mengakhiri seluruh bentuk dominasi westernisasi (kebarat-baratan), melainkan menghidupkan kembali identitas nasional suatu negara. Kedua, revolusi sosial untuk menghapuskan

35

Ali Syari„ati, Sosiologi Islam: Pandangan Dunia Islam dalam Kajian Sosiologi untuk Gerakan Sosial Baru, h. 13.

(33)

semua bentuk eksploitasi dan kemiskinan guna menciptakan masyarakat yang berkeadilan dan kesetaraan.36

Ali berpendapat seperti ini semata-mata berusaha untuk menyadarkan masyarakat muslim Iran dengan membangkitkan kembali semangat nasionalis dan keagamaan sebagai muslim, maka masyarakat akan terbebas dari segala bentuk penindasan. Tidak hanya itu, semangat Ali dalam gerakan dan pemikirannya tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam. Dapat dilihat semua karya-karyanya merujuk pada sejarah dan peradaban Islam dengan cara memanifestasikan atau menyimbolkan beberapa tokoh-tokoh Islam terutama perjuangannya dalam membela kaum tertindas. Ali sangat cerdas dalam hal ini ia melakukan pendekatan yang kebanyakan masyarakat dapat memahami karya-karyanya sehingga sepanjang ceramah-ceramah yang ia lakukan mengundang perhatian masyarakat terutama pemuda-pemuda Iran. Meskipun tidak semua sependapat bahkan ia dituduh sebagai pemberontak, ia tetap optimis dan berupaya mencerahkan masyarakat Iran.

A. Karya-Karya Ali Syari‘ati

Ali Syari„ati merupakan pemikir Islam yang sangat produktif, ia semasa mudanya terkenal sebagai orang yang gemar berpikir dan merenung. Semua yang ia pikirkan dan rasakan dalam hatinya, ia tuangkan ke dalam berbagai karyanya baik ceramah maupun tulisannya. Tujuan dari karya-karyanya adalah untuk menjawab permasalahan atas isu-isu sosial, budaya, politik, dan agama. Ciri khas dari karyanya adalah tidak sekedar teoritis dan kritik saja, melainkan solusi praktisnya, sehingga menarik perhatian aktivis, mahasiswa, tokoh intelektual, dan masyarakat. Sedangkan jumlah karya-karya Ali Syari„ati yang berbentuk buku dan yang telah diterbitkan, diketahui berjumlah 35 buah buku.37 Namun, beberapa karya yang akan penulis sebutkan adalah yang berhubungan dengan penelitian ini, berikut adalah beberapa karya-karyanya yang dikemas dalam buku;

36

Azyumardi Azra, “Ali Syari„ati: Melawan Hegemoni Barat: Agama, Ideologi, Dentuman Revolusi Sosial Perspektif Intelektual Indonesia, h. 7.

(34)

1. Fatimah adalah Fatimah: Perempuan sebagai Rumah Cinta, Air Mata, dan Kebangkitan. Di dalam buku ini, Ali Syari„ati menguraikan tentang persoalan isu-isu perempuan dalam Islam terutama persoalan identitas perempuan muslim, status atau kedudukan perempuan dalam masyarakat Islam, kesetaraan gender, hak dan kewajiban perempuan muslim melalui simbolisasi dari tokoh Fatimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib.

2. Harapan Wanita Masa Kini. Pembahasan di dalam buku ini adalah kritik terhadap Barat tentang gender, hak, dan posisi perempuan dalam kehidupan budaya dan tradisi masyarakat.

3. Mengapa Nabi Saw. Berpoligam?i. Di dalam buku ini berisi tanggapan Ali Syari„ati terhadap orientalis Barat tentang isu poligami di dalam kehidupan masyarakat Islam.

4. Sosiologi Islam. Pembahasan di dalam buku ini adalah Konsep Manusia dan Pendekatan Memahami Islam, Pandangan Dunia Tauhid, Kajian Antropologi Tuhan-Manusia, Filsafat Sejarah, Dialektika Sosiologi, Konsep Ummah sebagai Tawaran Praktis. Sebagian besar isi dalam buku ini mewakili dari semua karya-karya Ali Syari„ati yang dijadikan satu dan beberapa dimuat tersendiri berdasarkan tema pembahasan.

(35)

22

BAB III

SEJARAH TEOLOGI FEMINIS

A. Teologi Feminis Barat

Dalam sejarah teologi feminis tidak terlepas dari sejarah perkembangan feminisme di Barat. Untuk memahami bagaimana peteologi feminis berkembang, maka perlu mengetahui tipologi feminisme yang berkembang yaitu sejak kemunculan gerakan feminisme pada akhir abad ke-18 di Barat. Gerakan feminisme mengundang perhatian dunia khususnya tokoh kaum perempuan untuk berkontribusi menyuarakan kebebasan perempuan.1 Seperti pada abad ke-18 yaitu pada masa sosial dan ekonomi mengalami kemunduran di Eropa, Mary Wollstonecraft yang merupakan pelopor feminis liberal pada tahun 1759-1799 dalam karyanya yang berjudul “A Vindication of The Rights of Women” (Perlindungan Hak-Hak Kaum Perempuan) mengangkat isu perempuan yang terdiskriminasi dan pembatasan ruang gerak perempuan dalam ranah publik sehingga menimbulkan kondisi buruk terhadap psikologis perempuan dan sifat ketergantungan ekonomi terhadap laki-laki.2 Menurut Wollstonecraft, keadaan perempuan yang dianggap lemah intelektualitas dan rasionalitasnya Kelompok gerakan feminisme lainnya dari latar belakang yang berbeda yaitu feminisme radikal (radical feminism) yang muncul sebagai kritik terhadap bias gender yang dinilai rasis dan mendiskriminasi perempuan dari segi fisik dan sifatnya. Bias gender yang identik dengan ideologi patriarki membedakan secara biologi antara perempuan dan laki-laki yang mengklaim bahwa laki-laki selalu mendominasi perempuan karena kemaskulinannya dan perempuan selalu disubordinasi oleh laki-laki karena kefemininannya.

1

Terdapat tiga jenis gerakan perempuan menurut Anne Homes, yaitu: 1) gerakan feminisme, 2) gerakan emansipasi perempuan, 3) gerakan pembebasan perempuan (woman‟s liberation). Pengaruh dari pada gerakan ini adalah memberikan perubahan terhadap perempuan khususnya peran perempuan di ruang publik (sosial, politik, dan ekonomi), kesempatan mendapatkan pendidikan yang sejajar, dan haknya dalam spiritualitas. Edi Sugianto, “Refleksi Biblis-Teologis Terhadap Teologi Feminis”, Jurnal Quaerens, Vol. 1, No. 2, (Surabaya: Sekolah Tinggi Teologi Tarbenakel Indonesia, 2019), h. 185.

2Rosemarie Tong, Feminist Thought: A More Comprehensive Introduction (Colorado:

(36)

Menurut Kate Millet (Aktivis feminis Amerika, 1934-2017), hal ini terjadi karena lembaga pendidikan, gereja, dan keluarga sepakat dengan perbedaan biologis antara perempuan dan laki-laki sehingga terjadi subordinasi terhadap perempuan. 1 Oleh karena itu feminisme radikal berusaha merekonstruksi ulang paham gender yang berkembang di dalam masyarakat terutama masyarakat tradisional yang menganut paham ideologi patriarki. Selain itu, feminisme radikal juga berusaha memerdekakan diri perempuan dalam hal seksual, reproduksi, dan pengasuhan anak.2

Seiring dengan kemunculan gerakan feminis liberal dan radikal, pada tahun 1970-an ketika para feminis terus melakukan upaya mencari tahu tentang penyebab ketertindasan perempuan dari perspektif lain, muncul feminisme Marxis dan sosialis yang menggunakan teori Marxis sebagai dasar analisis sebab ketertindasan perempuan.3 Feminisme Marxis terpengaruh oleh materialisme yang mengatakan bahwa pada dasarnya sifat kebutuhan manusia itu semata-mata untuk memenuhi kepentingan pribadi.4 Hal ini sejalan dengan terjadinya subordinasi di dalam keluarga yaitu pihak suami yang dituntut menjadi kepala rumah tangga untuk mencari nafkah (publik dan produksi), maka suami dalam keluarga mempunyai posisi yang superior daripada istri dan anak-anak karena suami memegang kekuasaan ekonomi dalam keluarga. Dalam budaya masyarakat istri dan anak-anak merupakan aset suami, bahkan istri dianggap sebagai budak dalam rumah tangga untuk mengurus pekerjaan di dalam rumah (domestik dan reproduksi) karena pekerjaan domestik dan reproduksi dianggap sebagai pekerjaan perempuan.5 Kejadian dikotomi domestik-publik, maskulin-feminin dan dominan-subordinasi terhadap perempuan dalam keluarga berlangsung lama dan mengakibatkan terjadinya penindasan serta ketidakadilan terhadap perempuan, karena posisi dan kedudukan perempuan yang lemah. Menurut Engels (Filsuf Jerman,

1Rosemarie Tong, Feminist Thought: A More Comprehensive Introduction, h. 52.

2Abdullah Muslich Rizal Maulana, “Feminisme sebagai Diskursus Pandangan Hidup”,

Jurnal Kalimah, Vol. 11, No. 2, (Ponorogo: Universitas Darussalam Gontor, 2013), h. 275.

3Martha A. Gimenez, Kapitalisme dan Penindasan terhadap Perempuan: Kembali ke Marx

(Bandung: Pustaka Indoprogress, 2016), h. 1.

4Dr. Ratna Megawangi, “Perkembangan Teori Feminisme Masa Kini dan Mendatang serta

Kaitannya dengan Pemikiran Keislaman”, Jurnal Tarjih, edisi 1, (Yogyakarta: Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 1996), h. 17.

(37)

1895), suami merupakan gambaran dari kaum borjuis dan istri gambaran dari kaum proletariat yang tertindas.6 Maka menurutnya, agar subordinasi dan penindasan terhadap perempuan dapat berakhir yaitu dengan memberikan hak pada perempuan untuk berperan dalam ruang publik.7

Dalam upaya mencari akar penindasan terhadap perempuan, feminisme sosialis berusaha merekonstruksi ulang stratifikasi terhadap gender di dalam masyarakat kapitalis.8 Awalnya stratifikasi di dalam masyarakat kapitalis membawa dampak adanya pembagian kelas-kelas masyarakat seperti kelas pemodal (Borjuis) dan kelas buruh atau pekerja (proletariat) yang secara tidak langsung perempuan kelas pekerja sebagai kelas kedua dari segi gender dalam struktur ekonomi kapitalis mengalami penindasan karena eksploitasi yang dilakukan oleh kelas pemodal, misalnya upah yang diberikan kepada pekerja perempuan dihargai murah. Sebenarnya, tidak hanya perempuan kelas pekerja saja yang mengalami penindasan oleh sistem kapitalis, sebelum kapitalisme berkembang dalam relasi gender (laki-laki dan perempuan) menurut Marx telah mengalami pembagian kerja berdasarkan seks yaitu peran, kegiatan, dan tujuan. Di dalam On the Jewish Question dan The Economic and Philosophic Manuscript, Marx menjelaskan tentang relasi antara laki-laki dan perempuan sebagai gambaran dari tingkatan bangunan ekonomi dalam masyarakat.9 Perempuan mendapat peran membesarkan anak dan mengurus pekerjaan domestik sebagaimana yang sudah dijelaskan dalam feminisme Marxis. Marx mengungkapkan bahwa tindakan ini dikarenakan perempuan sebagai aset dalam keluarga yang dimiliki oleh laki-laki karena dalam struktur masyarakat sosialis dan ekonomi status perempuan dipandang sebagai alat reproduksi

6Rosemarie Tong, Feminist Thought: A More Comprehensive Introduction, h. 105.

7Dr. Ratna Megawangi, “Perkembangan Teori Feminisme Masa Kini dan Mendatang serta

Kaitannya dengan Pemikiran Keislaman”, h. 18.

8

Feminisme Sosialis dalam mencari akar penindasan perempuan menggunakan dua metode analisis Marxis. Pertama, metode analisis kelas masyarkat yang diperlukan untuk studi kekuasaan. Kedua, metode analisis historis dan dialektika. Namun, yang sering digunakan adalah medote dialektika sebagai studi kelas dan konflik kelas yang juga digunakan untuk menganalisis hubungan patriarki yang mengatur perempuan hingga berpotensi sebagai adanya gerakan revolusi perempuan. Zillah R. Eisenstein (ed.), Capitalist Patriarchy and The Case for Socialist Feminism (London: Monthly Review Press, 1979), h. 6.

9

Zillah R. Eisenstein (ed.), Capitalist Patriarchy and The Case for Socialist Feminism (London: Monthly Review Press, 1979), h. 10.

(38)

semata.10 Marx dalam Ideologi Jerman dan Kapitalis, bahwa industri modern yang berbasis kapitalis menyebabkan posisi hubungan atau relasi dalam keluarga borjuis menjadi relasi uang.11 Maka dengan demikian, keluarga sebagai struktur terkecil dalam masyarakat telah terjadi adanya kapitalisme dan hal ini juga merupakan basis dari struktur masyarakat kapitalis. Berdasarkan teori tersebut feminisme sosialis melakukan langkah awalnya dengan melalui jalan penyadaran terhadap perempuan, bahwa perempuan adalah korban dari sistem patriarki dalam masyarakat kapitalis. Hal ini bertujuan guna membangkitkan emansipasi perempuan untuk mendapatkan hak, kesetaraan dan keadilan.

Pencarian akar penindasan terhadap perempuan dalam diskursus feminisme meluas hingga ranah keagamaan sebagai bentuk kebebasan perempuan (women‟s liberation). Seperti di dalam agama Kristen secara khusus gerakan feminis fokus memperjuangkan hak-hak perempuan seperti kesetaraan gender dan kedudukan perempuan dalam struktur kehidupan masyarakat beragama. Gerakan yang dikenal sebagai teologi feminis ini merupakan ekspresi pemahaman diri perempuan terhadap Tuhan dan keterkaitan hubungan perempuan dengan Tuhan untuk mencapai pemahaman spiritualitas berdasarkan aspek realitas. Dalam diskursus teologi feminis beberapa diskusi keagamaan dan doktrin agama yang berkembang perlu adanya perbaikan atau revisi makna yang terkandung di dalam kitab suci.12 Hal ini perlu dilakukan guna meluruskan pemahaman gender seperti kedudukan dan peran perempuan di dalam masyarakat.

Dalam pemikiran Barat istilah feminin (feminine) bertujuan untuk melengkapi sifat maskulin. Hadirnya tema feminitas ke tema maskulinitas dalam berteologi mendorong timbulnya pembaruan paradigma gender. Dalam hal ini teologi feminis mengkritik sistem patriarki yang memposisikan laki-laki sebagai makhluk superior karena dianggap lebih unggul baik secara rasio

10Zillah R. Eisenstein (ed.), Capitalist Patriarchy and The Case for Socialist Feminism, h.

12.

11Zillah R. Eisenstein (ed.), Capitalist Patriarchy and The Case for Socialist Feminism, h.

10.

12Lisa Isherwood and Dorothea McEwan, “An Introduction to Feminist Theology and the

Case for its Study in and Academic Setting”, Journal Feminist Theology, Vol. 1, Iss. 2, (California: Sage Publication, 1975), h. 10.

Referensi

Dokumen terkait