DALAM SOSIALISASI ANAK
A. Sosialisasi Anak di Play Group Islam Permata Hati
Sebagaimana diuraikan dalam bab II bahwa sosialisasi merupakan suatu proses belajar membentuk kepribadian yang dilandasi oleh norma yang ada dalam masyarakat atau lingkungan yang didiaminya.
Proses sosialisasi anak ini pada dasarnya berawal dari keluarga, sekolah dan masyarakat. Dalam lingkungan keluarga, anak belajar bersosialisasi pada orang tua, saudara kandung, dan anggota keluarga yang lainnya. Oleh karenanya peranan orang / anggota keluarga sangatlah penting dalam pengembangan potensi sosialisasi anak.
Kemudian anak memasuki lingkungan yang lain, yang skup-nya lebih luas dari keluarga, yaitu dalam lingkungan pendidikan pra sekolah (play group). Mereka mulai mengenal teman-teman sebaya, guru, dan bentuk permainan yang heterogen. Sehingga disinilah anak dituntut (dengan sendirinya) untuk bersosialisasi dan beradaptasi dengan mereka.
Secara psikologis, dalam proses sosialiasasi anak, peranan seorang guru sangatlah menentukan, terlebih dalam penciptaan suasana yang tepat (kondusif) dalam bermain atau belajar anak. Karena dalam proses perkembangan kepribadian anak, lingkungan tenpat anak bersosialisasi sangatlah menentukan.
Dalam proses sosialisasi ini, Play Group Islam Permata Hati mencoba menciptakan lingkungan yang mengarah pada proses pembentukan kepribadian yang humanis-islamis; artinya lingkungan yang memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan yang didasarkan pada nilai-nilai islami. Hal ini dapat terlihat dalam proses pembelajarannya, misalkan sebelum siswa memulai aktivitasnya, anak disuruh untuk berdo’a, penanaman keimanan-keislaman
dengan menghafal do’a-do’a dan surat-surat pendek dan memberikan pengetahuan-pengetahuan iman-Islam. Disamping itu anak juga dibiasakan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan sopan-santun, misalnya dibiasakan untuk salam ketika bertemu dengan guru, mencium tangannya sebelum masuk kelas maupun pulang.
Lebih penting lagi, anak-anak diajak untuk bermain dan belajar dalam suasana penuh keakraban, misalkan bernyanyi dan makan bersama, serta bermain permainan yang memicu perkembangan kognitif dan kepribadian yang mulia, seperti bermain peran, dan menyanyi lagu-lagu islami secara bersama-sama.
Dengan kondisi demikianlah, maka dalam proses sosialisasi anak sungguhlah urgen, karena dengan penciptaan lingkungan yang menyenangkan serta pola ajar (hubungan dalam kegiatan belajar mengajar (KBM)) yang akrab akan menjadi fundamen dalam pembentukan kepribadian anak.
B. Peranan Guru Dalam Sosialisasi Anak
Peranan guru pada dasarnya adalah suatu usaha “menciptakan” serangkaian tingkah laku yang saling berkaitan yang dilakukan dalam situasi tertentu serta berhubungan dengan kemajuan perubahan tingkah laku dan perkembangan siswa yang menjadi tujuannya.
Dalam proses belajar mengajar anak pra-sekolah (play group) merupakan serangkaian kegiatan yang memberikan dasar / fundamen dalam pengembangan kognitif dan kepribadian anak. Dalam proses sosialisasi anak inilah maka peranan guru sangat menentukan.
Oleh karenanya dalam mewujudkan tanggung jawabnya tersebut, guru memiliki beberapa peranan yang harus dipenuhinya, antara lain :
1. Informator
Dalam hal ini ia berperan untuk memberikan pengetahuan “transfer of knowledge” dan “transfer of value” kepada anak didik terutama yang berhubungan dengan sosialisasi pada anak.
Memberikan pengetahuan artinya mendidik, mengarahkan, menanamkan nilai-nilai kemuliaan secara mendasar kepada anak didik, meliputi : takwa, yang meliputi syahadat, wudlu dan sholat, ukhuwah, yang meliputi jalinan persahabatan, kasih sayang, yang meliputi saling menyayangi, itsar, yangg meliputi mau menunggu giliran, memaafkan, yang meliputi saling memaafkan, al-jur’ah, yang meliputi berani menegur teman yang tidak membuang sampah pada tempatnya, berani bicara di muka umum, dan lain-lain. Adapun wujud pelaksanaan penanaman dasar-dasar kemuliaan, yakni : pemeliharaan hak-hak orang lain, meliputi :
a. Hak kepada kedua orang tua, yakni menghormati, dengan mencium tangan mereka ketika pergi dan pulang dari sekolah serta tidak lupa mengucapkan salam “assalamu’alaikum”, menyayangi dan mendo’akan orang tua setiap hari. Membantu orang tua dengan sebisa mungkin tidak menangis jika tidak dibelikan sesuatu. patuh kepada orang tua, yakni dengan mau mendengarkan perkataan abah dan umi. Mengucapkan terima kasih dengan baik setelah ia diberi sesuatu.
b. Hak kepada guru, yakni menghormati dan menyayangi, mencium tangan bu guru ketika masuk sekolah dan ketika pulang sekolah, mengucapkan salam “assalamu’alaikum”, patuh kepada guru, yakni dengan mau mendengarkan perkataan bu guru.
c. Hak kepada teman, yakni menyayangi mereka, mau berbagi mainan dengan teman, bertanggung jawab atas dirinya sendiri, artinya bisa menjaga perasaan teman, memberinya semangat disaat ia membutuhkan, bisa membedakan milik sendiri dengan milik temannya. Selanjutnya melaksanakan tata krama yang berlaku umum, meliputi : etika makan dan minum, yakni mencuci tangan, berdo’a sebelum makan, menggunakan tangan kanan, makan dengan duduk, dan diakhiri dengan membaca do’a sesudah makan, berbicara, artinya berbicara dengan kata-kata yang baik dan tidak jorok, bergurau, artinya bergurau dengan tidak melampui batas, menjenguk orang sakit, dan etika bersin dan menguap.
Adapun dalam pelaksanaannya guru menggunakan metode dongeng, pembiasaan dan keteladanan. Untuk lebih jelasnya sebagai berikut :
Metode dongeng digunakan untuk melatih anak menemukan sifat-sifat baik yang ada di dalam dirinya, seperti berhati lembut, bersahaja, bertanggung jawab, bertenggang rasa, cerdik, menghargai orang lain, ramah tamah, rasa kasih sayang, rela berkorban, rendah hati dan setia.
Sedangkan metode pembiasaan digunakan untuk membiasakan anak-anak dasar-dasar kemuliaan, meliputi : syahadat, wudlu dan sholat (dalam gerakan-gerakan saja), menjalin persahabatan, saling menyayangi, mau menunggu giliran, saling memaafkan, berani menegur teman yang tidak membuang sampah pada tempatnya, berani bicara di muka umum, dan lain-lain. Kebiasaan akan menjadikan mereka lambat laun, lama kelamaan dengan sedikit demi sedikit akan terbiasa melakukan perbuatan itu.
Selanjutnya metode keteladanan digunakan agar mereka dapat mencontoh apa yang dilakukan oleh guru, seperti dalam kegiatan wudlu dan sholat, guru memperagakan gerakan-gerakan dalam wudlu dan sholat. Guru mengucapkan salam setiap hari kepada anak sehingga anak pun akan mencontoh perkataan itu.
Dan metode bermain peran makro yang merujuk pada bahan bermain dengan ukuran sesungguhnya yang digunakan anak untuk menciptakan dan memainkan peran-peran, misalnya bermain rumah-rumahan, yang di dalamnya ada berbagai macam karakter, antara lain : ada yang menjadi bapak, ada yang menjadi ibu, ada yang menjadi anak, dan guru ikut serta di dalamnya dengan menjadi karakter tamu, kemudian memainkan adegan menerima tamu dengan ramah tamah, seperti mengucapkan salam, menanyakan kabar, dan menyiapkan minuman dan cemilan, kemudian melakukan adegan makan, yakni dengan mencuci tangan, berdo’a bersama-sama, makan sambil duduk dengan menggunakan tangan kanan, berdo’a sesudah makan, dan merapikan tempat/alat yang digunakan untuk makan.
Metode diatas digunakan oleh guru karena dirasa efektif karena dapat menyentuh perasaan anak-anak tanpa bermaksud mengekang mereka dan membebaskan imajinasi mereka.
Jadi peranan guru sebagai informator dalam sosialiasi anak yang meliputi : penanaman dasar-dasar kemuliaan dimaksudkan sebagai dasar bagi anak-anak. Dengan dasar-dasar kemuliaan ini maka akan menimbulkan kepekaan perasaan sayang, mengasihi, menghargai dan menghormati orang lain. 2. Organisator
Agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik, maka perlu ada pengorganisasian, yang meliputi perencanaan, yang berisi merencanakan kegiatan harian, kegiatan mingguan, kegiatan bulanan dan kegiatan semesteran. Membuat silabi dan mengatur jadwal.
Pengorganisasian merupakan “jantung tujuan”, ketika tidak ada pengorganisasian, maka yang terjadi pembelajaran tidak akan berlangsung dengan baik. Jadi peranan guru sebagai organisator sangat dibutuhkan demi kelancaran proses belajar mengajar yang mengarahkan anak agar dapat beradaptasi dengan lingkungannya dan dapat diterima dilingkungannya. Jadi peranan guru sebagai organisator dalam sosialisasi anak meliputi : membuat silabi yang disesuaikan dengan kadar kemampuan anak, seperti dalam aspek ibadah, anak-anak hanya diajarkan mengenai gerakan-gerakan wudlu dan sholat saja. Dalam aspek akhlak, anak baru dikenalkan tentang etika terhadap orang tua, guru dan teman. Dalam aspek disiplin etika social anak baru dikenalkan mengenai etika makan, minum, berbicara yang sopan, bergurau yang tidak berlebihan, mengucapkan salam dan terima kasih dengan baik, etika bersin dan menguap, serta menjenguk para manula di panti jompo dalam rangka menumbuhkan kepekaan rasa sayang dan peduli dengan orang lain. Dalam tugas yang lain, mengatur jadwal kegiatan apa saja yang nantinya akan diberikan pada anak, misalnya pada hari jum’at anak diajak untuk melakukan kegiatan bermain peran dengan tema etika menerima tamu, yang kemudian guru mempersiapkan buku yang berguna untuk mencatat sejauh mana pencapaian anak didik terhadap tema tersebut
sehingga dapat dijadikan acuan / pedoman guna peningkatan kualitas dalam kegiatan selanjutnya.
Semua ini dimaksudkan agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik.
3. Motivator
Peranan guru sebagai motivator yakni guru berperan dalam merangsang dan memberikan dorongan serta reinforcement untuk mendinamisasikan potensi siswa, menumbuhkan aktifitas, daya cipta sehingga terjadi dinamika dalam proses belajar mengajar.
Adapun cara yang digunakan dalam peranannya sebagai motivator adalah dengan metode dongeng, yang dapat membangkitkan semangat anak-anak untuk melakukan sesuatu yang baik seperti yang ada di dalam dongeng yang diceritakan oleh guru. Metode ini dilakukan karena anak-anak lebih suka melakukan sesuatu dengan tidak dipaksa, dengan metode dongeng maka akan menyentuh perasaan anak. Kemudian dengan metode reward, yakni pemberian bintang pada anak yang telah berhasil melakukan sesuatu hal yang baik, jika telah mencapai 10 bintang, maka dapat ditukarkan dengan sebuah hadiah sederhana yang disukai anak. metode ini dilakukan karena dapat membangkitkan semangat mereka dalam belajar terutama yang berhubungan dengan sosialisasi, misalnya ketika anak mau antri menunggu giliran, maka anak tersebut akan diberi bintang. Hal ini tentunya akan memotivasi mereka sehingga ia akan melakukan hal itu lagi tanpa diperintah oleh guru.
Jadi pemberian semangat pada anak-anak usia dini dilakukan sesuai dengan apa yang bisa merangsang anak untuk melakukan hal yang baik, misalnya dengn diberi hadiah, pujian dan yang sejenisnya itu.
4. Pengarah/direktor (pembimbing)
Pengarah merupakan salah satu dari peranan guru yang penting karena guru berperan dalam membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai yang dicita-citakan. Dalam hal ini beliau berperan membantu membimbing dan mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh
anak-anak. Adapun cara yang dilakukan oleh guru dalam peranannya sebagai pengarah dalam sosialisasi anak adalah dengan metode nasehat. Cara ini dilakukan karena dapat memberikan pengertian-pengertian pada anak-anak tentang suatu masalah yang sedang ia hadapi.
Peran guru sebagai pengarah (pembimbing) sangat berkaitan erat dengan praktek kesehariannya. Oleh karena itu guru harus mampu memperlakukan muridnya dengan baik, menghormati dan menyayanginya. Karena pada dasarnya anak merupakan manusia yang mempunyai berbagai macam karakter dan kepribadian, ada anak yang biasa saja, ada yang hiperaktif dan ada pula yang pendiam, sehingga mereka jangan sampai merasa diremehkan dan direndahkan akan tetapi mereka harus diperlakukan secara adil.
Jadi ketika guru mengarahkan mereka, diusahakan agar mereka merasa tentram, tidak tersinggung, tidak tertekan dan tidak menjadi dendam.
dengan demikian peran guru sebagai pengarah dalam sosialisasi anak ialah dengan memposisikan dirinya sebagai sosok yang bisa menjadikan anak merasa dibimbing dan diarahkan serta tidak dibiarkan tersesat oleh guru.
5. Fasilitator
Peranan guru sebagai fasilator berarti guru berperan dalam memberikan fasilitas atau kemudahan pada anak didik dalam PBM sehingga tercipta suasana belajar yang serasi dan atraktif sehingga anak tidak menjadi jenuh. Dalam hal ini ia memberikan kemudahan pada anak didiknya berupa sumber belajar yang sifatnya non alamiyah, meliputi alat media, benda-benda budaya, alat peraga, gambar, poster, alat memasak yang ditata rapi, tata ruang yang menyenangkan dan sumber belajar yang sifatnya alamiah, meliputi, kegiatan out door activity, dimana anak mendapatkan informasi langsung mengenai kantor polisi, sawah, hutan, perkapalan, lapangan udara, peternakan atau pemadam kebakaran. Karena sumber belajar merupakan faktor pendukung kegiatan belajar mengajar anak. Dengan demikian peran guru sebagai fasilitator dalam sosialisasi anak, yakni guru menyediakan apa saja yang menjadi kebutuhan anak dalam pengenalan terhadap
lingkungannya. Yang pada akhirnya ia menjadi senang dan dengan demikian proses belajar mengajar pun dapat berjalan lancar.
Namun disisi lain, ada keterbatasan yang dimiliki oleh guru dalam memberikan kemudahan bagi anak didiknya mengingat mereka terdiri dari berbagai macam karakteristik. Sehingga hal ini dirasakan perlunya guru mengatur fasilitas apa saja yang dibutuhkan oleh anak-anak sebagai individu.
6. Demonstrator
Peran guru sebagai demonstrator dalam sosialisasi anak artinya ia berperan sebagai alat peraga bagi anak didiknya dalam proses belajar mengenal dan menghayati lingkungannya. Misalnya, guru berpakaian rapi, maka hal ini tentu akan menjadikan anak terilhami kemudian menirunya sehingga anak memakai pakaian yang rapi. Dalam bertutur kata, seorang guru bertutur kata yang baik sehingga anak pun akan menirunya.
Guru mempraktekkan tata cara wudlu dalam gerakan saja, mulai dari berkumur, kemudian membasuh muka yang disertai dengan mengucapkan niat, kemudian membasuh tangan, kemudian membasuh sebagian rambut kepala, lalu kedua telinga, dan yang terakhir membasuh kaki. Seorang guru mempraktekkan tata cara sholat muali dari takbiratul ikhrom hingga salam. Adapun cara yang digunakan guru adalah dengan metode pembiasaan. Hal ini dikar enakan metode ini bisa membuat anak-anak melakukan perbuatan baik itu dengan tidak terpaksa.
Peran guru sebagai demonstrator dalam sosialisasi anak sangat diperlukan mengingat anak didik adalah anak-anak usia dini / pra sekolah yang cenderung meniru apa yang dilihatnya, lebih-lebih guru sebagai sosok yang dijadikan panutan bagi mereka. oleh karena itu dalam melaksanakan perannya ini guru harus dapat menjadi teladan yang baik bagi anak didiknya.
7. Pengelola Kelas
Peranan guru sebagai pengelola kelas dalam sosialisasi pada anak, artinya ia dapat mengelola kelas yang nyaman dimana anak didik dapat belajar
dengan baik. Dalam sebuah kelas terdapat berbagai macam tipe anak didik, ada anak yang hiperaktif (jahil, aktif dalam semua permainan), introfet (tertutup), sensitive dan biasa saja. Oleh karena itu guru dituntut dapat mengkondisikan dalam proses pengelolaan kelas agar tetap tenang, yakni dengan mengajak mereka semuanya berkumpul, kemudian berbicara dan mengaturnya dengan kasih sayang. Misalnya ketika dalam kegiatan di kelas, anak-anak menjadi rame, tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh guru, maka guru langsung berinisiatif mengambil langkah, yakni guru mengumpulkan mereka pada satu tempat (di karpet, di tengah-tengah), setelah itu guru menyerukan “tepuk diam” dan “tepuk duduk”, dan anak yang mau diam (dengan rahasia) anak diberi sebuah bintang.
Mengingat beraneka ragamnya karakter yang dimiliki anak, maka guru dihadapkan pada situasi yang cukup dilematis, yang mana disatu sisi ia harus menciptakan suasana yang nyaman tapi disisi lain dalam pelaksanaannya guru dihadapkan pada anak-anak yang rentan dari segi kejiwaan dikarenakan mereka masih kecil. Oleh karena itu dalam upaya mengkondisikannya guru harus menyesuaikan dengan perkembangan jiwa anak sehingga guru tidak boleh mengkondisikan mereka seperti layaknya orang dewasa, misalnya mengaturnya dengan kasih sayang, lemah lembut dan yang sejenisnya.
8. Evaluator
Untuk mendukung proses perkembangan anak, guru perlu mengadakan evaluasi atas segala bentuk kegiatan yang pernah diadakan. Dalam hal ini guru berperan dalam menilai sejauhmana keberhasilan siswanya. guru sebagai menuntutnya agar dapat membedakan mana yang salah dan mana yang benar, artinya ia menilai dan mengoreksi semua sikap, tingkah laku, perbuatan anak didik. Adapun cara yang digunakan dalam peranannya sebagai evaluator adalah dengan membuat catatan-catatan harian dan mingguan yang dijadikan rujukan dalam menilai keberhasilan dan kemajuan anak-anak. Dengan cara ini akan memudahkan guru dalam mengontrol
perkembangan anak-anak, yang diantaranya meliputi perkembangan emosional dan sosial.
Sebagaimana pembahasan diatas mengenai kepribadian anak didik, maka dalam mengevaluasi anak usia pra sekolah tidak sama dengan seperti mengevaluasi orang dewasa, yang menggunakan tes tertulis.
Dalam hal ini guru mengevaluasi anak-anak melihat dari perkembangannya setiap hari melalui satuan kegiatan harian dan mingguan yang nantinya akan dibicarakan bersama orang tua sehingga akan tercipta umpan balik antara orang tua dan guru dalam memantau anak didik. Misalnya dalam kegiatan di sekolah guru mengamati anak-anak dan ternyata ada anak yang tiba-tiba menjadi nakal, pada saat itu juga guru memperingatkan mereka agar tidak nakal dengan cara yang halus, lembut dan penuh kasih sayang sehingga mereka pun akan menerima dengan baik. Kemudian setelah itu guru mencatatnya dan pada pertemuan dengan orang tua lewat buku pantauan guru dan orang tua, maka sikap anak yang nakal tadi dikonsultasikan pada orang tua untuk dicari apakah ada penyebabnya dirumah, jika ada / tidak maka guru dan orang tua bekerjasama guna mengevaluasi tingkah laku anak dan membantu mereka agar dapat kembali menjadi anak yang baik.