• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENANAMAN KARAKTER RELIGIUS BERBASIS PERMAINAN TRADISIONAL DI RAUDHATUL ATHFAL JAMIATUL KHAER SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENANAMAN KARAKTER RELIGIUS BERBASIS PERMAINAN TRADISIONAL DI RAUDHATUL ATHFAL JAMIATUL KHAER SKRIPSI"

Copied!
162
0
0

Teks penuh

(1)

i

PENANAMAN KARAKTER RELIGIUS BERBASIS PERMAINAN TRADISIONAL DI RAUDHATUL ATHFAL JAMIATUL KHAER

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Anak Usia Dini Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan

Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh DHITA WAHYUNI

105450001415

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2020

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

vi

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Waktu terus berputar dan waktumu terbatas, jangan habiskan dengan mengurusi

Hidup orang lain (Dhita Wahyuni 2019)

Kuperuntukkan karya ini buat: Kedua orang tuaku, saudaraku, dan sahabatku Atas keikhlasan dan doanya dalam mendukung penulis Mewujudkan harapan menjadi kenyataan

(7)

vii ABSTRAK

Dhita Wahyuni. 2019. skripsi. Penanaman Karakter Religisu Berbasis Permainan Tradisional DI Raudhatul Athfal Jamiatul Khaer. Skripsi. Jurusan Pendidikan Anak Usia Dini Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Rusmayadi dan pembimbing II Intisari.

Masalah utama dalam pebelitian ini yaitu bagaimana penanaman karakter religius religius berbasis permainan tradisional di raudhatu athfal jamiatul khaer kelurahan mangasa kecamatan tamalate kota makassar penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penanaman karakter religius berbasis permainan tradisional do Raudhatul Athfal Jamiatul Khaer kelurahan mangasa kecamatan tamalate kota makassar

Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuallitatif yang terdapat empat permainan yang dilaksanakan sebanyak empat kali pertemuan. Prosedur penelitian meliputi identifikasi masalah, pembatasan masalah, penetapan fokus masalah, pelaksanaan penelitian, pengolahan dan pemaknaan data, pemunculan teori dan pelaporan hasil penelitian. Subjek dalam penelitian ini adalah anak didik kelompok B2 Raudhatul Athfal Jamiatul Khaer kelurahan mangasa kecamatan tamalate kota makassar. Hasil penelitian permainan mallo-allogo dari 16 anak didik hanya 14 anak didik atau 87,5%. Yang berada pada kategori berkembang sesuai harapan. Permainan tikus dan kucing dari 16 anak didik semua berada pada kategori berkembang sesuai harapan 100%. Permainan dende-dende dari 16 anak didik hanya 14 anak didik atau 87,5% yang berada pada kategori berkembang sesuai harapan. Permainan dende-dende dari 16 anak didik hanya 14 atau 87,5% yang berada pada kategori berkembang sesuai harapan. Permainan petak umpet dari 16 anak didik semua berada pada kategori berkembang sesuai harapan 100%.

(8)

viii

KATA PENGANTAR

Allah Maha penyayang dan pengasih, demikian kata untuk mewakili atas segala karunia dan nikmat-Nya. Jiwa ini takkan henti bertahmid atas anugerah pada detik waktu, denyut jantung, gerak langkah, serta rasa dan rasio pada-Mu, Sang khalik. Skripsi ini adalah setitik dari sederetan berkah-Mu.

Setiap orang dalam berkarya selalu mencari kesempurnaan, tetapi kadang kesempurnaan itu terasa jauh dari kehidupan seseorang. Kesempurnaan bagaikan fatamorgana yang semakin dikejar semakin menghilang dari pandangan, bagai pelangi yang terlihat indah dari kejauhan, tetapi menghilang jika didekati. Demikian juga tulisan ini, kehendak hati ingin mencapai kesempurnaan, tetapi kapasitas penulis dalam keterbatasan, segala daya dan upaya telah penulis kerahkan untuk membuat tulisan ini selesai dengan baik dan bermanfaat dalam dunia pendidikan, khususnya dalam ruang lingkup Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar.

Motivasi dari berbagai pihak sangat membantu dalam perampungan tulisan ini. Segala rasa hormat, penulis mengucapkan terimah kasih kepada kedua orang tua Mardani dan Arniati yang telah berjuang, berdoa, mengasuh membesarkan, mendidik, dan membiayai penulis dalam proses pencarian ilmu. Demikian pula, penulis mengucapkan kepada para keluarga yang tak hentinya memberikan motivasi dan selalu menemaniku dengan candanya, kepada Dr. Rusmayadi, M.Pd dan Intisari, S.Pd.,M.Pd pembimbing I dan pembimbing II, yang telah memberikan bimbingan, arahan serta motivasi sejak awal penyusunan proposal hingga selesainya skripsi ini.

(9)

ix

Tidak lupa juga penulis mengucapkan terimah kasih kepada: Prof. Dr. H. Abd. Rahman Rahim, SE.,MM. Rektor Universitas Muhammadiyah

Makassar, Erwin Akib,M.Pd,.Ph.D. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, dan Tasrif Akib,S.Pd.,M.Pd Ketua Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini serta seluruh dosen dan para staf pegawai dalam lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah membekali penulis dengan serangkaian ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi penulis.

Ucapan terimah kasih yang sebesar-besarnya juga penulis ucapkan kepada Kepala Sekolah, guru, staf Raudhatul Athfal Jamiatul Khaer dan ibu Sandra dewi selaku guru di sekolah tersebut yang telah memberikan izin dan bantuan untuk melakukan penelitian. Penulis juga mengucapkan terimah kasih kepada teman seperjuanganku oktaviana, Nurul Magfirah, Andi junil hera dan Ratri eka noor mustari yang selalu menemaniku dalam suka dan duka, sahabat-sahabatku terkasih serta seluruh rekan mahasiswa jurusan Pendidikan Anak Usia Dini Angkatan 2015 atas segala kebersamaan, motivasi, saran, dan bantuannya kepada penulis yang telah memberikan pelangi dalam hidupku.

Akhirnya, dengan segala kerendahan hati, penulis senantiasa mengharapkan kritikan dan saran dari berbagai pihak, selama saran dan kritikan tersebut sifatnya membangun karena penulis yakin bahwa suatu persoalan tidak akan berhenti sama sekali tanpa adanya kritikan. Mudah-mudahan dapat memberi manfaat bagi para pembaca, terutama bagi diri pribadi penulia. Amin.

Makassar, Desember 2019

(10)

x DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

SURAT PERNYATAAN ... iv

SURAT PERJANJIAN ... v

MOTTO ... vi

ABSTRAK ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 8

1. Identifikasi Masalah ... 8

2. Alternatif Pemecahan Masalah ... 9

3. Rumusan Masalah ... 9

C. Tujuan Penelitian ... 9

D. Manfaat Penelitian ... 9

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 11

A. Kajian Teori ... 11

B. Kerangka Pikir ... 22

C. Hipotesis Tindakan ... 24

BAB III METODE PENELITIAN ... 25

A. Jenis Penelitian ... 25

B. Lokasi dan Subjek Penelitian ... 25

(11)

xi

D. Prosedur Penelitian ... 26

E. Instrumen Penelitian ... 26

F. Teknik Pengumpulan Data ... 28

G. Teknik Analisis Data ... 30

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 32

A. Hasil Penelitian ... 34

1. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 34

2. Deskripsi Hasil Penelitian ... 35

1. Permainan Mallo-allogo... 35

2. Permainan Tikus dan Kucing ... 41

3. Permainan Dende-dende ... 49

4. Permainan Petak Umpet ... 59

B. Pembahasan ... 66

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 73

A. Simpulan... 73

B. Saran ... 74

DAFTAR PUSTAKA ... 76 LAMPIRAN

(12)

xii

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

(13)

xiii

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

(14)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran

1. Kisi-kisi instrument observasi

2. Lembar Observasi (checklist) instrument penilaian anak dan instrument pedoman guru

3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) 4. Hasil Instrumen Penelitian Wawancara dan Observasi 5. Lampiran Persuratan

(15)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah pendidikan yang diberikan bagi anak usia (0-6 tahun) yang dilakukan melalui pemberian berbagai rangsangan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan baik jasmani maupun rohani agar anak memiliki kesempatan untuk memasuki jenjang pendidikan berikutnya. Melalui PAUD, diharapkan anak dapat mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya yang meliputi pengembangan moral dan nilai-nilai agama, fisik, sosial emosional, bahasa, seni, menguasai sejumlah pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan perkembangan, serta memiliki motovasi dan sikap belajar untuk berkreasi. Menurut Undang-undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 28 ayat (1), menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar (Susanto, 2017:16 )

Mengenai pengertian lebih lanjut pendidikan anak usia dini sesuai dengan Permendikbud Nomor 146 Tahun 2014 pasal yang menegaskan PAUD diselenggarakan berdasarkan kelompok usia dan jenis layanannya. Dimana PAUD untuk usia sejak lahir sampai dengan usia enam tahun terdiri dari taman penitipan anak dan Satuan PAUD Sejenis (SPS). Usia 2-4 tahun terdiri dari kelompok bermain (KB) dan usia 4-6 tahun terdiri dari TK/RA/Bustanul Athfal (BA). Hal ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional sebagaimana disebut diatas, yang intinya bahwa pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar.

(16)

Mengapa penanaman karakter harus dilakukan sejak usia dini? Para ahli pendidikan dan psikologi berpendapat bahwa tahap-tahap awal kehidupan seorang anak merupakan masa yang sangat penting untuk meletakkan dasar-dasar kepribadian yang akan memberi warna ketika ia menjadi dewasa. Pada usia ini perluh pembentukan dasar kemampuan pengindraan, berpikir dan pertumbuhan standar nilai-nilai dan moral agama sebagai awal pencapaian identitas diri anak. Sikap, kebiasaan dan perilaku yang dibentuk pada tahun-tahun awal kehidupan seorang anak sangat menentukan seberapah jauh ia berhasil menyesuaikan diri dalam kehidupan ketika dewasa.

Penanaman karakter diartikan sebagai the deliberate us of all dimensions of school life ti foster optimal character development (usaha kita secara sengaja dari seluruh dimensi kehidupan sekolah untuk membantu pengembangan karakter dengan optimal). Hal ini berarti bahwa untuk mendukung perkembangan karakter peserta didik harus melibatkan seluruh komponen di sekolah baik dari aspek isi kurikulum (the content of the curriculum), proses pembelajaran (the procces of instruction), kualitas hubungan (the quality of relationshios), penanganan mata pelajaran (the handing of discipline), pelaksanaan aktivitas ko-kurikuler, serta etos seluruh lingkungan sekolah.

Dalam grand desain pendidikan karakter, pendidikan karakter merupakan proses pembudayaan dan pemberdayaan nilai-nilai luhur dalam lingkungan satuan pendidikan (sekolah), lingkungan keluarga, dan lingkungan masyarakat. Nilai-nilai luhur ini berasal dari teori-teori pendidikan, psikologi pendidikan, Nilai-nilai-Nilai-nilai sosial budaya, ajaran agama, Pancasila dan UUD 1945, dan UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, serta pengalaman terbaik dan praktik

(17)

nyata dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembudayaan dan pemberdayaan nilai-nilai luhur ini juga perluh dilakukan oleh komitmen dan kebijakan pemangku kepentingan serta pihak-pihak terkait lainnya termasuk dukungan sarana dan prasarana yang diperlukan.

Religius adalah ketaatan dan kepatuhan dalam memahami dan melaksanakan ajaran agama (aliran kepercayaa) termasuk sikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama (aliran kepercayaan) lain, serta hidup rukun dan berdampingan. Religius adalah nilai karakter dalam hubungan dengan Tuhan. Seseorang yang memiliki karakter religius akan menunjukkan bahwa pikiran, perkataan dan tindakan diupayakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai ketuhanan dan atau ajaran agamanya.

Sesungguhnya, pada jiwa manusia sudah tertanam benih keyakinan religius tentang adanya Tuhan. Rasa kereligiusan sudah merupakan fitrah (naluri insani). Inilah yang disebut naluri keagamaan (religius instinc). Manusia religius berkeyakinan bahwa semua yang ada di alam semesta ini merupakan bukti yang nyata terhadap adanya tuhan

Manusia hidup dalam sebuah pergaulan antara manusia dalam masyarakat, berbangsa atau bernegara. Dalam kehidupan tersebut manusia satu dengan manusia yang lain boleh jadi berbeda agama satu sama lain. Di Indonesia sendiri, agama yang diakui sebagai yang dianut bangsa adalah Islam, Kristen, Katholik, Hindu, dan Budha. Semua kenyataan religius itu harus di hadapi secara arif dalam kehidupan bermasyarakat.

(18)

Nilai karakter religius mencerminkan keberimanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang diwujudkan dalam perilaku melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan yang dianut, menghargai perbedaan agama, menjunjung tinggi sikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama dan kepercayaan lain, hidup rukun dan damai dengan pemeluk agama yang lain. Nilai karakter religius ini meliputi tiga dimensi relasi sekaligus, yaitu hubungan individu dengan tuhan, individu dengan sesama, dan individu dengan alam semesta (lingkungan).

Nilai karakter religius ini ditunjukkan dalam perilaku mencintai dan menjaga keutuhan ciptaan. Subnilai religius antara lain cinta damai, toleransi, menghargai perbedaan agama dan kepercayaan, teguh pendirian, percaya diri, kerja sama antara pemeluk agama dan kepercayaan, antibuli dan kekerasan, persahabatan, ketulusan, tidak memaksakan kehendak, mencintai lingkungan, melindungi yang kecil dan tersisih.

Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat religius. Nilai-nilai agama tampak nyata dalam berbagai fenomena kehidupan masyarakat Indonesia, baik pada tingkat individual maupun sosial. Bahkan berbagai fenomena kehidupan kenegaraan pun di bangun di atas nilai-nilai keagamaan dan kepercayaan. Oleh karena itu, nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa harus didasarkan pada nilai-nilai yang berasal dari agama.

Karakter seseorang tidak bisa dilepaskan dari nilai budaya yang hidup di tengah-tengah masyarakat di mana ia berada. Nilai-nilai budaya tersebut dijadikan dasar dalam pemberian makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antar-anggota masyarakat. Kedudukan dan peran budaya yang begitu penting

(19)

dalam kehidupan masyarakat meniscayakan budaya menjadi sumber nilai dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa.

Kegiatan bermain senantiasa dilakukan anak setiap saat. Pada masa sekarang, kegiatan bermain anak cenderung dilakukan didalam rumah. Hal ini berbeda dengan permainan pada masa lalu atau kita menyebutnya dengan permainan tradisional. Anak-anak pada masa lalu sangat senang bermain diluar bersama teman-temannya. Berjam-jam anak sangat betah bermain diluar rumah karena permainan tradisional menuntut banyak berinteraksi dengan orang lain.

Bermain bagi anak merupakan hal yang mengasyikan. Apalagi permainan tradisional yang di dalamnya melibatkan banyak anak dan berada diruang terbuka. Maka, tak salah dengan hasil penelitian kurniati. Dalam penelitiannya, ia menunjukkan bahwa permainan tradisional dapat menstimulasi anak dalam mengembangkan kerja sama, membantu anak menyesuaikan diri, saling berinteraksi secara positif, dapat mengkondisikan anak dalam mengontrol diri, mengembangkan sikap empati terhadap teman, menaati aturan, serta menghargai orang lain. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa permainan tradisional dapat memberikan dampak yang sangat baik dalam membantu mengembangkan keterampilan emosi dan sosial anak.

Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya. Setiap daerah mempunyai karakteristik, adat, budaya, yang berbeda satu dengan orang lain. Oleh karena itu, permainan tradisional pun sangatlah banyak dan bervariasi. Sejatinya, permainan tradisional mengandung beberapa nilai yang dapat ditanamkan. Nilai-nilai tersebut antara lain rasa senang, bebas, rasa berteman, demokrasi, penuh tanggung jawab, rasa patuh, rasa saling membantu, yang

(20)

semuanya merupakan nilai-nilai yang sangat baik dan berguna dalam kehidupan masyarakat. Dengan permainan tradisional, anak dapat memahami dan mengenal kultur atau budaya bangsa serta pesan-pesan moral yang terkandung didalamnya. Dengan adanya pesan-pesan moral tersebut, maka diharapkan permainan tradisional yang telah dilupakan dapat tumbuh kembali.

Bermain atau kegiatan melakukan permainan ini sangat memungkinkan anak-anak untuk bertemu teman sebaya. Maka, bermain dianggap sebagai media yang penting untuk bersosialisasi. Bermain juga membantu anak dalam menjalin hubungan sosial, mengembangkan imajinasi, mengembangkan kognisi, Bahasa, dan motorik kasar serta halus. Anak menggunakan gerakan dan kemampuan fisiknya, melatih kreativitas dan mengasah kemampuanya untuk menyelesaikan masalah dengan menghadapi berbagai permainan. Jadi, bermain bagi anak tidak sekedar menghabiskan waktu, tetapi merupakan media untuk belajar. Setiap bentuk kegiatan bermain bagi anak prasekolah mempunyai nilai positif terhadap perkembangan kepribadian.

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan pada bulan Mei 2019 pada kelompok B di Raudhatul Athfal Jamiatul Khaer. Peneliti mengamati terdapat anak yang masih belum bisa jujur kepada temannya, sikap jujur dalam Bahasa Makassar Lempu sikap jujur terhadap sesama makhluk akan menciptakan suatu tatanan kehidupan sosial yang harmonis. Hal ini terlihat saat temannya meminta makanan dan anak tersebut mengatakan makanannya sudah habis ternyata makanan tersebut disembunyikan.

(21)

Selain permasalahan di atas akan di tanamkan sikap karakter religius yaitu Shiddiq, sebuah kenyataan yang benar yang tercermin dalam perkataan, perbuatan atau tindakan dan keadaan batinnya. Amanah, sebuah kepercayaan yang harus di emban dalam mewujudkan sesuatu yang dilakukan dengan penuh komitmen, kompoten, kerja keras dan konsisten. Tabliq sebuah upaya merealisasikan pesan atau misi tertentu yang dilakukan dengan pendekatan atau metode tertentu. Fathanah, sebuah kecerdasan, kemahiran, atau penguasaan bidang tertentu yang mencakup kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual. Dalam pendidikan karakter, anak didik memang sengaja dibangun karakternya agar mempunyai nilai-nilai kebaikan sekaligus mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik itu kepada Tuhan Yang Maha Esa, dirinya sendiri, sesama manusia, lingkungan sekitar, bangsa dan negara.

Anak-anak melakukan permainan, umumnya hasil refleksi dari gambaran kehidupan lingkungan sosial-budaya, dimana meraka tinggal. Mereka adalah individu-individu yang cerdas, karena telah mampu mengobservasi dan meniru perilaku-perilaku orang-orang dewasa dan kemudian dipraktekkan dalam aktivitas bermain. Dimana mereka hidup maka warna sosial budaya amat mempengaruhi corak permainan yang dilakukan oleh anak-anak, karena itu masing-masing jenis dan bentuk permainan antar negara/daerah/wilayah berbeda. Di negara indonesia misalnya, karena terdiri beragam suku bangsa, budaya, adat-istiadat. Maka antara provinsi satu dengan yang lain mempunyai corak permainan yang berbeda.

Dari latar belakang inilah penulis tertatik melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui bagaimana penanaman karakter religius berbasis kearifan lokal

(22)

di Raudhatul Athfal Jamiatul Khaer, serta bagaimana hasil dari pelaksanaan pendidikan tersebut.

B. Masalah Penelitian 1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang, salah satu masalah utama dalam kegiatan pembelajaran anak usia dini, yaitu:

a. Anak masih kurang paham tentang permainan tradisional

b. Kurangnya dukungan dan pengenalan budaya lokal dari lingkungan sekolah, lingkungan keluarga maupun lingkungan sekitar

1. Alternatif Pemecahan Masalah

Untuk memecahkan masalah tentang Penanaman Karakter Religius Berbasis permainan tradisional di Raudhatul Athfal Jamiatul Khaer maka penulis menanamkan karakter religius melalui proses pembelajaran, pembiasaan, lingkungan budaya, dan tidak lepas dari kerjasama dengan keluarga.

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalah “ Bagaimana penanaman karakter religius berbasis permainan tradisional di Raudhatul Athfal Jamiatul Khaer?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini untuk mengetahui penanaman karakter religius berbasis permainan tradisional di Raudhatul Athfal Jamiatul Khaer.

(23)

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang dapat diperoleh dalam penelitian ini adalah: 1. Manfaat Teoritis

a. Bagi akedemis atau lembaga pendidikan: menjadi bahan informasi yang berkaitan dengan pendidikan anak usia dini, khususnya dalam perkembangan karakter anak usia dini.

b. Bagi peneliti: menjadi masukan dalam meneliti perkembangan karakter anak usia dini.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Anak Didik, anak didik mendapat pengalaman dan pengetahuan mengenai perkembangan karakter anak usia dini.

b. Bagi Guru, penelitian ini dapat berguna sebagai penambah wawasan bagi guru untuk lebih memahami tentang pengembangan pendidikan karakter berbasis permainan tradisional

c. Bagi Sekolah, Penelitian ini dapat di jadikan bahan pertimbangan kebijakan untuk melengkapi sarana prasaranah yang di butuhkan agar siswa dapat melakukan aktivitas pembelajaran dengan leluasa dan dapat mengembangkan pendidikan khususnya di Taman kanak-Kanak

d. Bagi peneliti, penelitian ini dapat memberikan pengalaman serta menambah wawasan dalam pengembangan pendidikan karakter berbasis permainan tradisional dalam membentuk karakter religius anak.

(24)

10 BAB II

KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori

1. Hasil Penelitian yang Relevan

Penelitian yang relevan diperlukan untuk menghasilkan kajian pustaka yang erat kaitannya dengan masalah yang diteliti maka peneliti mengambil rujukan dari penelitian lain yang hampir sama di antaranya sebagai berikut: a. Penelitian oleh Rini Muslimah (2012), berjudul “pendidikan karakter dengan

pendekatan kearifan lokal di play group Aisyiyah Rejodani Suriharjo Ngaglik Sleman Yogyakarta

b. Penelitian oleh Muflikh Najib (2016) dalam skripsinya yang berjudul “Penanaman Nilai Religius dalam Pembentukan Karakter Guru dan Siswa. c. Penelitian oleh Yohan Abdurrohman (2018) dalam skripsinya yang berjudul

“Penanaman Karakter Religius Melalui Kegiatan Keagamaan di SD Alam Baturraden Kabupaten Banyumas.

Beberapa penelitian terdahulu di atas memiliki persamaan dan perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan peneliti, antara lain:

Tabel 2.1 Hasil penelitian yang relevan

No Judul Penelitian Persamaan Perbedaan

1. Pendidikan Karakter dengan Pendekatan Kearifan Lokal di play group Aisyiyah Rejodani Sariharjo Ngaglik Sleman Yogyakarta Hasil penanaman karakter tersebut di tunjukkan oleh peserta didik melalui sikap dan perilakunya telah ditanamkan dalam diri mereka. Lebih menekankan Karakter, diantaranya adalah kecintaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kejujuran, disiplin, toleransi, dan cinta damai, percaya diri, mandiri, tolong menolong, kerjasama dan gotong royong,

(25)

hormat dan sopan santun, tanggung jawab, kerja keras, kepemimpinan dan keadilah, kreatif, rendah hati, peduli lingkungan, cinta bangsa dan tanah air. 2 Penanaman Nilai

Religius dalam Pembentukan

Karakter Guru dan Siswa

Hasil penanaman karakter tersebut di tunjukkan oleh peserta didik dan guru melalui sikap dan perilakunya telah ditanamkan dalam diri mereka.

Menanamkan nilai-nilai religius pada guru dan siswa adalah dengan metode nasihat atau pembiasaan. 3 Penanaman Karakter Religius Melalui Kegiatan Keagamaan di SD Alam Baturraden Kabupaten Banyumas Hasil penanaman karakter tersebut di tunjukkan oleh peserta didik melalui sikap dan perilakunya telah ditanamkan dalam diri mereka. Metode yang digunakan dalam penanaman karakter religius melalui kegiatan keagamaan pertama metode hiwar atau percakapan, metode keteladanan, metode pembiasaan, metode penciptaan suasana religius. Metode ini digunakan sesuai dengan tema yang diajarkan di SD Alam Baturraden. 2. Nilai Karakter

Dalam konteks sekolah, pada dasarnya pendidikan karakter adalah proses internalisasi nilai-nilai karakter yang dilakukan oleh guru kepada peserta didik melalui berbagai kegiatan yang mendidik. Internalisasi berasal dari kata internal yang berarti menyangkut bagian dalam. Internalisasi diartikan sebagai proses penanaman dan penghayatan terhadap suatu ajaran, doktrin, atau nilai sehingga menjadi keyakinan dan kesadaran akan kebenaran doktrin atau nilai yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku.

(26)

Dalam kebijakan nasional pembangunan karakter bangsa tahun 2010-2025 ditegaskan bahwa karakter merupakan hasil keterpaduan empat bagian yaitu olah hati, olah pikir, olah raga, serta oleh rasa dan karsa. Marzuki (2015:43) Sejak sebelum kemerdekaan hingga sekarang, Indonesia sudah mengupayakan terealisasinya nilai-nilai karakter bangsa yang dikristalkan dalam Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, nilai-nilai karakter yang dijiwai oleh sila-sila Pancasila pada masing-masing bagian tersebut dapat di temukan sebagai berikut:

a. Karakter yang bersumber dari oleh hati antara lain beriman dan bertakwa, jujur, amanah, adil, tertib, taat aturan, bertanggung jawab, berempati, berani mengambil resiko, dan pantang menyerah.

b. Karakter yang bersumber dari olah pikir, antara lain cerdas, kritis, inovatif, ingin tahu, produktif, berorientasi kepada iptek, dan reflektif.

c. Karakter yang bersumber dari oleh raga/kinestetika, antara lain bersih, sehat, sportif, tangguh, andal, berdaya tahan, bersahabat, kooperatif, determinatif, kompetitif, ceria dan gigih.

d. Karakter yang bersumber dari olah rasa dan karsa antara lain kemanusiaan, saling menghargai, gotong royong, kebersamaan, ramah, hormat, toleran, nasionalis, peduli, kosmopolit (mendunia), mengutamakan kepentingan umum, cinta tanah air (patriotik), bangga menggunakan Bahasa dan produk Indonesia, dinamis, kerja keras, dan beretos kerja.

Dari nilai-nilai karakter diatas, kementerian pendidikan dan kebudayaan mencanangkan empat nilai karakter utama yang menjadi ujung tombak penerapan karakter di kalangan peserta didik di sekolah, yaitu jujur (dari olah hati), cerdas (dari olah pikir), tangguh (dari olah raga), dan peduli (dari olah rasa dan karsa).

(27)

Menurut Kusuma (Zubaedi, 2013:19), pendidikan karakter merupakan dinamika pengembangan kemampuan yang berkesinambungan dalam diri manusia untuk mengadakan internalisasi nilai-nilai sehingga menghasilkan disposisi aktif, stabil dalam diri individu. Dinamika ini membuat pertumbuhan individu menjadi semakin utuh. Unsur-unsur ini menjadi dimensi yang menjiwai proses formasi setiap individu.

Lebih lanjut, kemendiknas melansir bahwa berdasarkan kajian nilai-nilai agama, norma-norma sosial, peraturan atau hukum, etika akademi, dan prinsip-prinsip HAM, telah terindentifikasi 80 butir nilai karakter yang dikelompokkan menjadi lima yaitu:

a. Nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, nilai religius

b. Nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan diri sendiri, bertanggung jawab, bergaya hidup sehat, disiplin, jujur, kerja keras, percaya diri, berpikir logis, kreatif dan mandiri serta rasa ingin tahu.

c. Nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan sesama manusia, sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain, patuh pada aturan-aturan sosial, menghargai karya dan prestasi orang lain, santun dan demokratis. d. Nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan lingkungan, peduli

sosial dan lingkungan

e. Nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan kebangsaan, nasionalis, dan menghargai keberagaman.

(28)

Setelah diketahui nilai-nilai pendidikan karakter tersebut, tampak bahwa pendidikan karakter di Indonesia ingin membangun individu yang mengenal Tuhannya, mampu menghargai diri sendiri dan mengembangkan potensi diri yang dimilikinya, mampu hidup ditengah-tengah masyarakat yang beragama serta dapat menjaga keharmonisan dengan alam lingkungan dan mampu membangun kehidupan berbangsa yang bermartabat, berdaulat, dan berbudaya.

3. Karakter Religius

Religius adalah nilai karakter dalam hubungan dengan tuhan. Ia menunjukkan bahwa pikiran, perkataan, dan tindakan seseorang yang diupayakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai ketuhanan atau ajaran agamanya. Terdapat lima unsur yang dapat mengembangkan manusia menjadi religius adalah keyakinan agama, ibadat, pengetahuan agama, pengalaman agama, dan konsekuensi dari keempat unsur tersebut Stark dan Glock (Padepokan Karakter Pkn Fis Unnes)

Secara spesifik, pendidikan karakter yang berbasis nilai religius mengacu pada nilai-nilai dasar yang terdapat dalam agama (islam). Nilai-nilai karakter yang menjadi prinsip dasar pendidikan karakter banyak kita temukan dari beberapa sumber, diantaranya nilai-nilai yang bersumber dari keteladanan Rasulullah yang terjewantahkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari beliau, yakni shiddiq (jujur), amanah (dipercaya), tablig (menyampaikan dengan transparan), fathanah (cerdas). Siswanto (2013: 99)

a. Shiddiq, sebuah kenyataan yang benar yang tercermin dalam perkataan, perbuatan atau tindakan dan keadaan batinnya. Pengertian shiddiq ini dapat di jabarkan kedalam butir-butir: 1) memiliki sistem keyakinan untuk merealisasikan visi, misi dan tujuan. 2) memiliki kepribadian kemampuan

(29)

yang mantap, stabil, dewasa, arif, jujur dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia.

b. Amanah, sebuah kepercayaan yang harus di emban dalam mewujudkan sesuatu yang dilakukan dengan penuh komitmen, kompoten, kerja keras dan konsisten. Pengertian amanah ini dapat dijabarkan kedalam butir-butir: 1). rasa memiliki dan tanggung jawab yang tinggi, 2). memiliki kemampuan mengembangkan potensi secara optimal, 3). memiliki kemampuan mengamankan dan menjaga kelangsungan hidup, dan 4). memiliki kemampuan membangun kemitraan dan jaringan

c. Tabliq sebuah upaya merealisasikan pesan atau misi tertentu yang dilakukan dengan pendekatan atau metode tertentu. Jabaran pengertian ini diarahkan pada: 1). memiliki kemampuan merealisasikan pesan atau misi, 2). memiliki kemampuan berinteraksi secara efektif dan 3). memiliki kemampuan menerapkan pendekatan dan metodik yang tepat.

d. Fathanah, sebuah kecerdasan, kemahiran, atau penguasaan bidang tertentu yang mencakup kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual. Karakteristik jiwa fathanah meliputi arif dan bijak, integritas tinggi, kesadaran untuk belajar, sikap proaktif, orientasi kepada Tuhan, terpercaya dan ternama, menjadi yang terbaik empati dan perasaan terharu, kematangan emosi, keseimbangan, jiwa penyampaian misi, dan jiwa kompetisi. Sifat fathanah ini dapat dijabarkan kedalam butir-butir: 1). memiliki kemampuan adaptif terhadap perkembangan dan perubahan zaman, 2). memiliki kompotensi yang unggul, bermutu dan berdaya saing dan 3). memiliki kecerdasan intelektual, emosi dan spiritual.

(30)

Nilai karakter religius ini ditunjukkan dalam perilaku mencintai dan menjaga keutuhan ciptaan. Subnilai religius antara lain cinta damai, toleransi, menghargai perbedaan agama dan kepercayaan, teguh pendirian,percaya diri, kerjasama antara pemeluk agama dan kepercayaan, antibuli dan kekerasan, persahabatan, ketulusan, tidak memaksakan kehendak, mencintai lingkungan, melindungi yang kecil dan tersisih.

4. Permainan Tradisional

Di Indonesia mempunyai permainan tradisional yang sangat kaya. Namun demikian, lambat laun anak-anak masa kini lebih cenderung menyukai permainan modern, dari pada permainan tradisional. Jelas, permainan tersebut bukanlah hal yang sepele. Jika anak-anak tidak mengenali kebudayaan sendiri. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu kesadaran dan pemahaman kepada masyarakat. Orang tua, dan praktisi pendidikan, untuk kembali melestarikan kebudayaan lokal yang sangat kaya. Salah satunya adalah permainan tradisional.

Menurut Yunus (Mulyani, 2016:46) menjelaskan bahwa permainan tradisional adalah suatu hasil budaya masyarakat, yang berasal dari zaman yang sangat tua, yang telah tumbuh dan hidup hingga sekarang, dengan masyarakat pendukungnya yang terdiri atas tua muda, laki-laki perempuan, kaya miskin, rakyat bangsawan, dengan tiada bedanya. Permainan tradisional bukan hanya sekedar alat penghibur hati, penyegar pikiran, atau sarana berolah raga. Lebih dari itu, permainan tradisional memiliki berbagai latar belakang yang bercorak rekreatif, kompetitif, pedagogik, magis, dan religius. Permainan tradisional juga menjadikan orang bersifat terampil, ulet, cekatan, tangkas, dan lain sebagainya.

(31)

Menurut Subagiyo (Mulyani, 2016:47) mendefinisikan permainan tradisional sebagai permainan yang berkembang dan dimainkan anak-anak dalam lingkungan masyarakat umum dengan menyerap segala kekayaan dan kearifan lingkungannya. Di dalam permainan tradisional, diseluruh aspek kemanusiaan anak ditumbuh kembangkan, kreativitas dan semangat inovasinya diwujudkan. Permainan tradisional menjadi wahana atau media bagi ekspresi diri anak. Lebih lanjut menutur Subagiyo (Mulyani, 2016:47) keterlibatan dalam permainan tradisional akan mengasah, menajamkan, menumbuhkembangkan otak anak, melahirkan empati, membangun kesadaran sosial, serta menegaskan individualitas, semua segi kemanusiaan dalam mempertahankan dan membermaknakan hidup ditumbuh suburkan dalam permainan tradisional. Hal yang menarik untuk dicatat disini adalah adanya kesejajaran antatra perkembangan anak dengan permainan sehingga bisa dijadikan media pembelajaran anak.

Dari berbagai definisi tersebut, dapat disimpulakan bahwa permainan tradisional adalah suatu permainan warisan dari nenek moyang yang wajib dan perluh dilestarikan karena mengandung nilai-nilai kearifan lokal. Melalui permainan tradisional, kita dapat mengasah berbagai aspek perkembangan anak. 5. Penanaman Karakter Religius Berbasis Permainan Tradisional

Upaya menanamkan karakter anak berbasis permainan tradisional sejak dini melalui jalur pendidikan di anggap sebagai langkah yang tepat. Sekolah merupakan lembaga formal yang menjadi peletak dasar pendidikan, nilai karakter religius yang akan dikembangkan shiddiq (jujur), amanah (dipercaya), tabliq (menyampaikan dengan trasparan), fathana (cerdas).

(32)

Agar permainan tradisional tetap kukuh, maka generasi penerus bangsa perluh ditanamkan rasa cinta akan kebudayaan lokal khusunya di daerah. Salah satu cara yang dapat ditempuh sekolah adalah dengan cara mengintegrasikan nilai-nilai yang terkandung dalam permainan tradisional dalam proses pembelajaran.

Anak didik diberi kesempatan untuk menanamkan karakter religius berbasis kearifan lokal di Raudhatul Athfal Jamiatul Khaer melalui permainan tradisional yaitu: Mallago/Allogo Mallogo (Bugis) atau allogo (Makassar) adalah salah satu permainantradisional masyarakat Sulawesi Selatan (Sulsel). Permainan ini mengandungnilai pendidikan seperti kejujuran dan sportivitas. Meskipun kini mallogo atau allogo jarang dimainkan lagi, namun masyarakat Sulsel senantiasa merasakan kerinduan untuk melihat permainan ini. Kerinduan ini bukti bahwa mereka begitu terikat pada tradisi leluhurnya. Permainan mallogo atau allogo berupa tempurung kelapa kering yang dibentuk segitiga (logo), lalu dipukul dengansepotong bambu yang dibelah dan dibentuk seperti pemukul golf. Dahulu mallogo atau allogo biasa dimainkan masyarakat sebagai hiburan untuk mengisi waktu luang sembari menunggu atau seusai panen. Permainan tikus dan kucing mempunyai aturan yang sederhana. Permainan ini biasa di tanamkan anak-anak ketika waktu luang, waktu istirahat, atau setelah pulang sekolah dihalaman atau dilapangan. Kelompok atau beberapa anak membuat sebuah lingkaran besar dan saling bergandengan tangan membentuk lingkaran kedalam. Dua anak bertindak sebagai pemain, satu anak sebagai kucing dan satu lainnya bertindak sebagai tikus. Cara bermain adalah kucing berusaha mengejar tikus, dan tikus berusaha menghindar dari kejaran kucing. Lingkaran membantu tikus dengan cara

(33)

menghalangi kejaran kucing. Lingkaran membantu tikus dengan cara menghalangi kejaran kucing dengan cara tidak boleh masuk kelingkaran, baik saat mau ke dalam atau mau ke luar. Dende-dende jenis permainan ini jadi pembatas akhir sebelum era permainan modern. Masih bisa ditemukan satu dua kelompok anak memainkannya. Yang diperlukan adalah sedikit bidang datar. Di atasnya, ditarik garis lurus. Alat bantu pembuat garisnya bergantung pada media bidang datar dan ketersediaan alat bantu yang ada. Cukup potongan kayu untuk media lapangan tanah dan kapur untuk lantai beton. Dibagian teratas yang disebut kepala, dibuat garis berbentuk setangah lingkaran. Di bawahnya berturut-turut adalah bujur sangkar. Jumlahnya bujur sangkar terbanyak dua dan terkecil satu. Membentuk seolah anatomi manusia dengan leher, tubuh dan kaki (Suryani Amin 2014). Petak umpet adalah jenis permainan “cari dan bersembunyi” yang bisa di mainkan oleh minimal dua orang yang umumnya berada di luar ruang. Dalam permainan, ada dua peran, yaitu “si kucing” dan yang bersembunyi. Si kucing ini berperan mencari teman-temannya yang bersembunyi permainan selesai setelah semua teman ditemukan. Dan, yang pertama pertama dikemukakanlah yang menjadi kucing berikutnya.

Cahyono (Mulyani, 2016:48) mengemukakan sejumlah karakter yang dimiliki oleh permainan tradisional yang dapat membentuk karakter positif pada anak antara lain sebagai berikut:

Pertama, permainan tradisional cenderung menggunakan atau memanfaatkan alat atau fasilitas dilingkungan kita tanpa harus membelinya sehingga perlu daya imajinasi dan kreativitas yang tinggi.

(34)

Kedua, permainan tradisional melibatkan pemain yang relatif banyak. Tidak mengherankan, jika kita lihat, setiap permainan rakyat begitu banyak anggotanya. Selain mendahulukan faktor kesenangan bersama, permainan ini juga mempunyai maksud sebagai pendalaman kemampuan interaksi antar pemain.

Ketiga, permainan tradisional menilik nilai-nilai luhur dan pesan-pesan moral tertentu, seperti nilai-nilai kebersamaan, kejujuran, tanggung jawab, sikap lapang dada, dorongan berprestasi, dan taat pada aturan.

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa penanaman karakter religius berbasis permainan tradisional diyakini perluh dan penting untuk ditanamkan sejak dini di lembaga pendidikan dengan cara mengintegrasikan nilai-nilai yang terkandung dalam permainan tradisional dalam proses pembelajaran agar anak tidak lupa terhadap karakter dan permainan tradisional, karena bangsa Indonesia memiliki beragam nilai-nilai tradisional maka generasi penerus bangsa perluh ditanamkan rasa cinta akan kebudayaan lokal khususnya permainan tradisional di daerah.

B. Kerangka Pikir

Penanaman karakter religius di Raudhatul Athfal Jamiatul Khaer karakter melekat pada setiap individu yang tercermin pada pola perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Penanaman nilai karakter bertujuan mengembangkan kemampuan seseorang untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. Karena penanaman karakter merupakan suatu habit (pembiasaan), maka pembentukan karakter seseorang itu memerlukan peran sekolah yang sangat penting, sekolah mengembangkan proses penanaman karakter melalui permainan

(35)

tradisional, habituasi (pembiasaan), dan bekerja sama dengan keluarga dan masyarakat dalam pengembangannya.

Penanaman karakter religius di Raudhatul Athfal Jamiatul Khaer sangat perluh ditanamkan sejak dini karena merupakan kunci yang sangat penting di dalam pembentukan kepribadian anak. sehingga para anak diharapkan menjadi pribadi yang cerdas dan tumbuh menjadi insan yang baik melalui permainan tradisional Makassar yaitu mallo-allogo, tikus dan kucing, dende-dende dan petak umpet.

Fitrah manusia menurut perspektif agama adalah cenderung kepada kebaikan, masih mengakui adanya pengaruh lingkungan yang dapat mengganggu proses tumbuhnya fitrah. Hal ini memberikan pembenaran perluhnya faktor lingkungan budaya. Faktor lingkungan, yaitu usaha sadar memberikan pendidikan yang sosialisasi sangat berperan dalam menentukan “buah” seperti apa yang di hasilkan nantinya dari seorang anak.

(36)

Bagan 2.1 Kerangka Pikir

Dari bagan di atas dapat disimpulkan bahwa penanaman karakter religius pada setiap individu memerlukan peran sekolah yang sangat penting, sekolah mengembangkan proses penanaman karakter melalui proses pembelajaran, habituasi (pembiasaan), lingkungan budaya, dan tidak lepas dari kerjasama dengan keluarga. Penanaman karakter religius yang didalamnya terdapat sifat

Karakter Religius Individu Sekolah Proses Penanaman Karakkter melalui permainan tradisional Habituasi (Pembiasan) Kerjasama dengan keluarga Lingkungan Budaya 1. Shiddiq (jujur) 2. Amanah (dipercaya) 3. Tabliq (menyampaikan dengan transparan) 4. Fathana (cerdas) 1. Mallo-allogo 2. Tikus dan kucing

3. Dende-dende

(37)

shiddiq, amanah, tablig, dan fathanah melalu permainan tradisional mallo-allogo, tikus dan kucing, dende-dende, petak umpet.

C. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian teori dan kerangka pikir yang telah diuraikan sebelumnya, hipotesis Tindakan dalam penelitian ini adalah penanaman karakter berbasis kearifan lokal dapat ditanamkan dengan menumbuhkan sikap religius yakni shiddiq (jujur), amanah (dipercaya), tabliq (menyampaikan dengan transparan), dan fathanah (cerdas).

(38)

24 BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan secara deskriptif kualitatif, penelitian dengan pendekatan deskriptif kualitatif menekankan analisis proses dari proses berpikir secara induktif yang berkaitan dengan dinamika hubungan antarfenomena yang di amati, penelitian kualitatif tidak berarti tanpa menggunakan dukungan dari data kuantitatif, tetapi lebih ditekankan pada kedalaman berfikir formal dari peneliti dalam menjawab permasalahan yang dihadapi. Penelitian kualitatif bertujuan mengembangkan konsep sensitivitas pada masalah yang dihadapi, menerangkan realitas yang berkaitan dengan penelusuran teori dari bawah dan mengembangkan pemahaman akan satu atau lebih dari fenomena yang di hadapi.

Jenis penelitian kualitatif yang dipilih oleh peneliti sesuai dengan masalah yang akan diteliti, yang mana masalah tersebut masih cenderung belum jelas, bahkan gelap, kompleks dan dinamis. Oleh karena itu masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara, tentatif, dan akan berkembang atau berganti setelah peneliti berada di lapangan.

B. Lokasi dan Subjek Penelitian

Lokasi dalam penelitian ini dilaksanakan di Raudhatul Athfal Jamiatul Khaer, sedangkan yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah anak kelompok B2 di Raudhatul Athfal Jamiatul Khaer dan pelaksanaan penelitian ini dilakukan Oktober 2019.

(39)

C. Faktor yang Diselidiki

Faktor yang peneliti selidiki di Raudhatul Athfal Jamiatul Khaer adalah penanaman karakter religius berbasis permainan tradisional terdiri dari shiddiq (jujur), Amanah (dipercaya), tabliq (menyampaikan dengan transparan), fathana (cerdas) yang di implementasikan di terapkan dalam permainan tradisional mallo-allogo, tikus dan kucing, dende-dende dan petak umpet.

D. Prosedur Penelitian

Penelitian kualitatif didesain secara longgar, tidak ketat sehingga dalam pelaksanaan penelitian berpeluang mengalami perubahan dari apa yang telah direncanakan. Hal itu dapat terjadi bila perencanaan ternyata tidak sesuai dengan apa yang dijumpai di lapangan. Meskipun demikian, kerja penelitian mestilah merancang langkah-langkah kegiatan penelitian.

Menurut Sugiyono (Imam G 2013: 107)

Terdapat tiga tahap utama dalam penelitian kualitatif yaitu: 1. Tahap deskripsi atau tahap orientasi, di tahap ini peneliti mendeskripsikan apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan, kemudian peneliti baru mendata sepintas tentang informasi yang diperoleh. 2. Tahap reduksi, ditahap ini peneliti mereduksi segala informasi yang di peroleh pada tahap pertama untuk memfokuskan pada masalah tertentu. 3. Tahap seleksi, pada tahap ini peneliti menguraikan fokus yang telah di tetapkan menjadi lebih rinci kemudian melakukan analisis secara mendalam tentang fokus masalah. Hasilnya adalah tema yang di konstruksi berdasarkan data yang diperoleh menjadi suatu pengetahuan, hipotesis, bahkan teori baru.

Secara spesifik, ketiga tahap di atas dapat dijabarkan dalam tujuan langkah penelitian kualitatif , yaitu identifikasi masalah, pembatasan masalah, penetapan fokus masalah, pelaksanaan penelitian, pengolahan dan pemaknaan data, pemunculan teori, dan pelaporan hasil penelitian. Sudjana ( Imam G 2013:108).

(40)

E. Instrument Penelitian

Dalam penelitian kualitatif, yang menjadi instrument atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri. Oleh karena itu peneliti sebagai instrumen juga harus “divalidasi” seberapa jauh peneliti kualitatif siap melakukan penelitian yang selanjutnya terjun ke lapangan. Validasi terhadap peneliti sebagai instrumen meliputi validasi terhadap pemahaman metode penelitian kualitatif, penguasaan wawasan terhadap bidang yang diteliti, kesiapan peneliti untuk memasuki objek penelitian, baik secara akademik maupun logistiknya. Yang melakukan validasi adalah peneliti sendiri, melalui evaluasi diri seberapa jauh pemahaman terhadap metode kualitatif, penguasaan teori dan wawasan terhadap bidang yang diteliti, serta kesiapan dan bekal memasuki lapangan.

Peneliti kualitatif sebagai human instrument, berfungsi menetapkan fokus penelitian, memiliki informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data, dan membuat kesimpulan atas temuannya.

Dalam penelitian kualitatif segala sesuatu yang akan di cari dari objek penelitian belum jelas dan pasti masalahnya, sumber datanya, hasil yang diharapkan semuanya belum jelas. Rancangan penelitian masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti memasuki objek penelitian. Selain itu dalam memandang realitas, penelitian kualitatif berasumsi bahwa realitas itu bersifat holistic (menyeluruh), dinamis, tidak dapat dipisah-pisahkan kedalam variabel-variabel penelitian. Kalaupun dapat dipisah-pisahkan, variabel-variabelnya akan banyak sekali. Dengan demikian dalam penelitian kualitatf ini belum dapat dikembangkan instrument penelitian sebelum masalah yang diteliti jelas sama sekali.

(41)

Menurut Nasution (Sugiyono, 2017:306)

Menyatakan dalam penelitian kualitatif tidak ada pilihan lain dari pada menjadikan manusia sebagai instrument penelitian utama. Alasannya ialah bahwa, segala sesuatunya belum mempunyai bentuk yang pasti. Masalah, fokus penelitian, prosedur penelitian, hipotesis yang digunakan, bahkan hasil yang diharapkan. Itu semuanya tidak dapat ditentukan secara pasti dan jelas sebelumnya. Segala sesuatu masih perluh dikembangkan sepanjang penelitian itu. Dalam keadaan yang serba tidak pasti dan tidak jelas itu tidak ada pilihan lain dan hanya peneliti itu sendiri sebagai alat satu-satunya yang dapat mencapainya.

Dalam penelitian kualitatif instrumen utamanya adalah peneliti sendiri, namun selanjutnya setelah fokus penelitian menjadi jelas, maka kemungkinan akan dikembangkan instrumen penelitian sederhana, yang diharapkan akan melengkapi data dan membandingkan dengan data yang telah ditemukan melalui observasi dan wawancara. Peneliti akan terjun ke lapangan sendiri, baik pada grand tour question, tahap focused and selection, melakukan pengumpulan data, analisis dan membuat kesimpulan.

F. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan. Untuk mendapatkan data yang sesuai dan dapat menunjang keberhasilan peneliti ini, maka peneliti menggunakan metode sebagai berikut.

1. Pengamatan (observasi)

Metode observasi dapat disebut juga sebagai metode pangamatan. Teknik pengamatan ini didasarkan atas pengamatan secara langsung dan juga memungkinkan melihat dan mengamati sendiri, kemudian mencatat perilaku dan

(42)

kejadian sebagaimana kejadian yang terjadi pada keadaan sebenarnya. Menurut Suparlan (Imam G, 2013:149) metode pengamatan digunakan untuk memperoleh informasi mengenai gejala-gejala yang dalam kehidupan sehari-hari dapat diamati. Hasil pengamatan biasanya didiskusikan oleh si peneliti dengan warga masyarakat yang bersangkutan untuk mengetahui makna yang terdapat dibalik gejala-gejala tersebut.

2. Interview Wawancara

Menurut Kartono (Imam G, 2013:160) wawancara adalah suatu percakapan yang diarahkan pada suatu masalah tertentu: ini merupakan proses Tanya jawab lisan, dimana dua orang atau lebih berhadap-hadapan secara fisik. Pihak pertama berfungsi sebagai penanya, disebut pula sebagai interviewer, sedang pihak kedua berfungsi sebagai pemberi informasi.

Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, tetapi juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam teknik pengumpulan data ini mendasarkan dari pada laporan tentang diri sendiri, atau setidak-tidaknya pada pengetahuan dana tau keyakinan pribadi.

Wawancara merupakan dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara. Wawancara digunakan peneliti untuk menilai keadaan seseorang, misalnya untuk mencari data tentang variabel latar belakang murid, orang tua, pendidikan, perhatian, sikap terhadap sesuatu, dan sebagainya. Dengan kerangka dan garis besar pokok-pokok yang dirumuskan membantu peneliti untuk mengetahui,menemukan dan memperoleh data langsung

(43)

tentang penanaman karakter religius berbasis kearifan lokal di Raudhatul Athfal Jamiatul Khaer.

3. Metode Dokumentasi

Teknik dokumentasi adalah salah satu metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian social untuk menelusuri data historis Bungin (Imam G, 2013:177) Dasar penggunaan metode dokumentasi catatan guru dan juga RPPH, RPPM, dan rapor juga diperlukan kerena dapat mengetahui perkembangan anak yang dicapai.

G. Teknik Analisis Data

Dalam penelitian kualitatif, data diperoleh dari berbagai sumber, dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang bermacam-macam (triagulasi), dan dilakukan secara terus menerus sampai datanya jenuh. Dengan pengamatan yang terus menerus tersebut mengakibatkan variasi data tinggi sekali. Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkannya kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan di pelajari, dan membuat kesimpulan yang dapat diceritakan kepada orang.

1. Analisis Sebelum di Lapangan

Penelitian kualitatif telah melakukan analisis data sebelum peneliti memasuki lapangan. Analisis dilakukan terhadap data hasil studi pendahuluan, atau data sekunder, yang akan digunakan untuk menentukan fokus penelitian. Namun demikian fokus penelitian ini masih bersifat sementara, dan akan berkembang setelah peneliti masuk dan selama di lapangan.

(44)

2. Analisis Selama di lapangan

Analisis data dalam penelitian kualitatif, di lakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Pada saat wawancara, peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban yang di wawancarai. Bila jawaban yang diwawancarai setelah dinamis terasa belum memuaskan, maka peneliti akan melanjutkan pertanyaan lagi sampai tahap tertentu, diperoleh data yang di anggap kredibel.

a. Data Reduktion (reduksi data)

Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu maka perluh di catat secara teliti dan rinci, seperti telah dikemukakan, makin lama peneliti di lapangan, maka jumlah data akan makin banyak, kompleks dan rumit. Untuk itu perluh segera dilakukan analisis data melalui reduksi data. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak perluh. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.

b. Data Display (penyajian data)

Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data. Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antara kategori dan sejenisnya. Dengan mendisplaykan data, maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah di pahami tersebut.

(45)

Selanjutnya disarankan, dalam melakukan display data, selain dengan teks yang naratif juga dapat berupa grafik, matrik, network (jaringan kerja) dan chart. c. Verification

Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif menurut Miles dan Huberman adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan data yang dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali kelapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang di kemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.

Dengan demikian kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga tidak, karena seperti telah dikemukakan bahwa masalah dan rumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah penelitian berada di lapangan.

(46)

32 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini menyajikan dan memaparkan deskripsi umum tentang penanaman karakter religius berbasis permainan tradisional di Raudhatul Athfal Jamiatul khaer. Sebagai peneliti memberikan gambaran dalam bidang penanaman karakter anak terhadap permainan tradisional, selanjutnya secara sistematis dengan menampilkan deskripsi pendapat guru tentang penanaman karakter. Dengan demikian dapatlah diketahui bagaimanakah sebenarnya penanaman karakter di Raudhatul Athfal Jamiatul Khaer.

Penanaman karakter di sekolah tidak diberikan melalui mata pelajaran tersendiri akan tetapi di internalisasikan secara integratif melalui permainan tradisional yang berlangsung dalam proses pembelajaran di dalam kelas maupun di luar kelas. Selain itu, pendidikan karakter dilangsungkan dengan cara mengintegrasikannya kedalam kegiatan ekstrakurikuler serta dimasukkan kedalam program kegiatan sekolah yang melibatkan seluruh warga sekolah. Dengan cara ini diharapkan pendidikan karakter di sekolah menjadi satu kesatuan yang integral dengan keseluruhan kegiatan pendidikan yang berlangsung pada suatu satuan pendidikan. Selain itu, diharapkan dapat pula melibatkan partisipasi seluruh warga sekolah sehingga semuanya merasa bertanggung jawab akan keberlangsungan dan keberlanjutan penanaman karakter dan masing-masing mengambil peran sesuai dengan tugas dan fungsinya pada satuan pendidikan.

Proses pengintegrasian nilai karakter kedalam berbagai permainan tradisional yang berlangsung dalam tatap muka di kelas maupun di luar kelas membutuhkan perencanaan khusus yang menuntut kreativitas tertentu, ketekunan,

(47)

dan kesungguhan dari para pendidik. Dalam proses pembelajaran tatap muka di dalam kelas maupun di luar kelas pendidik harus membangun suasana kelas yang kondisif dan menyenangkan. Suasana pembelajaran yang mencerahkan dan membangkitkan. Mencerahkan mampu membuka cakrawala berfikir peserta didik. Membangkitkan karena proses pembelajaran dapat dan mampu memberikan stimulus kepada peserta didik untuk mencari, menggali, dan menemukan sendiri sikap, keterampilan dan pengetahuan. Pengintegrasian nilai-nilai karakter dilakukan melalui kegiatan ekstrakurikuler, kegiatan ekstrakurikuler dilaksanakan untuk mendukung tercapainya standar kompetensi lulusan yang dicapai oleh seluruh atau sebagian warga sekolah.

Kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan di Raudhatul Athfal Jamiatul Khaer menuntut peserta didik mengarahkan sikap jujur, sportivitas, dapat memecahkan masalah, mampu bersosialisasi dan berkomunikasi dengan anak sebaya, kecerdasan, kecermatan, dan kejelian. Dalam hal ini, pendidik berfungsi sebagai Pembina, menjadi tempat berkonsultasi, dan memberikan bantuan seperlunya manakala peserta didik mengalami kebuntuan. Dengan cara ini, peserta didik secara langsung melakukan penghayatan dan mengimplementasikan nilai-nilai karakter yang baik dalam kegiatan bermain mallo-allogo, tikus dan kucing, dende-dende dan petak umpet.

Upaya pembentukan karakter sesuai dengan budaya bangsa ini tentu tidak semata-mata hanya dilakukan di sekolah melalui serangkaian kegiatan belajar mengajar dan luar sekolah, akan tetapi melalui pembiasaan (habituasi) dalam kehidupan, seperti jujur, sportivitas, dapat memecahkan masalah, mampu bersosialisasi dan berkomunikasi dengan anak sebaya, kecerdasan, kecermatan,

(48)

dan kejelian. Oleh karena itu, sekolah memiliki peranan yang besar dalam pengembangan pendidikan karakter karena peran sekolah sebagai pusat pembudayaan melalui pendekatan pengembangan budaya di sekolah.

Hasil pembahasan penelitian ini dilengkapi dengan berbagai data yang diperoleh dari pengelola Raudhatul Athfal Jamiatul Khaer, yaitu guru sebagai penanggung jawab dan 16 orang peserta didik yang merupakan kelompok B2 A. Hasil Penelitian

1. Deskripsi Lokasi penelitian

Raudhatul Athfal Jamiatul Khaer berada di jalan Malengkeri 1 No. 19, Kelurahan Mangasa Kecamatan Tamalate Kota Makassar propinsi Sulawesi Selatan kode pos. 90221, lokasi sekolah ini berdekatan dengan SD. Terletak di tengah-tegah pemukiman penduduk dengan pepohonan yang hijau ditambah lagi keributan anak-anak yang setiap pagi tidak pernah berhenti yang menambah pesona Raudhatul Athafal Jamiatul Khaer.

Jumlah tenaga pendidik ada 4 orang yang belum berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) yaitu guru kelompok A, B1 dan B2 , jumlah peserta didik pada tahun 2019/2020 di Raudhatul Athafal Jamiatul Khaer adalah sekitar 30 yang terdiri kelompok A , kelompok B1 , kelompok B2 .

Kondisi sarana dan prasarana cukup memadai, terdapat 3 ruangan yang terdiri dari ruangan kelompok A, kelompok B1, dan kelompok B2. Setiap ruangan memiliki meja dan kursih guru, papan tulis, karpet, sapu, kipas angin terdapat juga buku pegangan anak didik, laptop sekolah, print dan speaker, kondisi sarana dan prasarana tersebut di atas cukup memadai, tampak bersih teratur rapih dan nyaman.

(49)

2. Deskripsi Hasil Penelitian

Berikut ini disajikan data hasil penelitian yang diperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi mengenai penanaman karakter religius berbasis permainan tradisional meliputi penanaman karakter religius berbasis permainan tradisional, mallo-allogo, tikus dan kucing, dende-dende, dan petak umpet.

a. Permainan tradisional mallo-allogo 1. Shiddiq

Berdasarkan observasi di Raudhatul Athafal Jamiatul Khaer pada hari sabtu 12 Oktober 2019 pada tema kebutuhanku sub tema keamanan kegiatan permainan mallo-allogo. Di dalam permainan ini hampir semua anak mendengarkan arahan guru, menaati aturan permainan, ketika anak menembak logo yang telah di susun dia akan menghitung seberapa banyak logo atau tempurung kelapa yang menghadap ke bawah atau menutup, dari 16 anak didik yaitu Nayla, Amel, Aqila, Asila, Syahruni, Citra, Dinny, Kesya, Khayla, Fajar, Daffa, Nauval, Eny, Arung, Hanna dan Fitri semuanya berada pada ketegori berkembang sesuai harapan karena pada permainan ini anak jujur dalam mengikuti aturan yang berlaku yaitu di mainkan oleh dua orang atau lebih, permainan mallo-allogo tidak boleh di mainkan dua anak dan semua anak dalam kelompok B mengikuti permainan sesuai aturan. Pada saat guru memberi tahu bahwa permainan mallo-allogo akan di mainkan pada saat itu semua anak senang dan antusias untuk bermain mallo-allogo.

(50)

Berdasarkan wawancara 06 November 2019 dengan guru kelas B2 ibu Sandra tentang karakter religius shiddiq yang di tanamankan pada kegiatan mallo-allogo, mengatakan bahwa

“Menurut saya permainan mallo-allogo baik untuk memperkenalkan anak usia dini untuk menanamlan karakter religius anak”. Lebih lanjut di katakan bahwa “Mallo-allogo dimainkan dua orang atau lebih, Sebelum bermain terlebih dahulu membentuk dua tim, setelah terbentuk masing-masing tim memilih undian untuk mengetahui tim yang memulai permainan, tim yang menang undian yang akan bermain pertama kali, tembakan ditujukan kepada logo yang sudah atur garis starnya setiap pemain memiliki hak menembak sampai tiga kali, namun jika tembakan tidak kena sasaran, maka peserta tersebut dianggap gugur, sebaliknya apabila tembakan kena sasaran yang dituju, maka terus diberi kesempatan untuk menembak hingga sasaran terakhir, bagi peserta yang bisa menembak tepat sasaran dengan jarak 20 meter maka dialah pemenangnya” selanjutnya di katakan juga bahwa

“Anak-anak mulai mengerti bahwa permainan tersebut mengajarkan bagaimana arti kejujuran ketika menghitung logo atau tempurung yang sudah di tembak”

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang telah di kemukakan di atas maka dapat disimpulkan bahwa permainan tradisional mallo-allogo dalam kegiatan di mainkan oleh dua orang atau lebih dapat menanamkan karakter shiddiq anak karena permainan ini tidak boleh dimainkan sendiri atau hanya satu orang karena dalam permainan ini anak berkompetisi bekerjasama untuk meraih kemenangan membutuhkan tim agar permainan bisa berjalan sesuai aturan yang berlaku.

2. Amanah

Berdasarkan observasi di Raudhatul Athafal Jamiatul Khaer pada hari sabtu 12 Oktober 2019 pada tema kebutuhanku sub tema keamanan kegiatan permainan mallo-allogo apa yang sudah di sampaikan guru mengenai aturan dan tata cara hampir semua anak didik sudah mampu mempertanggung jawabkan dan

(51)

ketika anak menang undian dan tiba giliran tim A untuk bermain seorang anak dipercaya temannya untuk menembak pertama kali. Dari 16 anak didik yaitu Nayla, Amel, Aqila, Asila, Syahruni, Citra, Dinny, Kesya, Khayla, Fajar, Daffa, Nauval, Eny, Arung, Hanna dan Fitri semua berada pada kategori berkembang sesuai harapan, karena pada permainan ini anak bertanggung jawab untuk membentuk timnya sendiri dengan cara memilih undian, semua anak di kelompok B pandai dalam memilih undian tanpa haraus di damping lagi oleh gurunya, dari 16 anak didik yaitu Nayla, Amel, Aqila, Asila, Syahruni, Citra, Dinny, Kesya, Khayla, Fajar, Daffa, Nauval, Eny, Arung, Hanna dan Fitri semua berada pada kategori berkembang sesuai harapan, karena anak konsisten pada urutan yang telah di undi tadi dan anak sudah siap dengan urutan mereka bermain sesuai undian tidak ada lagi anak yang merubah nomor undian sesuai dengan nomor undian yang telah di undi dan komitmen pertama bahwa urutan tidak boleh di ubah lagi.

Berdasarkan wawancara 06 November 2019 dengan guru kelas B2 tentang karakter religius shiddiq yang di tanamankan pada kegiatan mallo-allogo mengatakan bahwa “pada permainan ini anak melakukan dengan penuh komitmen, kompoten dan kerja keras” lebih lanjut dikatakan bahwa

“Mallo-allogo dimainkan oleh dua orang, sebelum bermain terlebih dahulu mebentuk tim, tim yang menang undian akan menembak pertama kali, setiap peserta bergantian untuk menembak, jika tembakan kena sasaran akan di beri kesempatan lagi untuk menembak” selanjutnya dikatakan juga bahwa

“Anak-anak sangat senang dalam permainan dia, anak-anak juga kerja keras bahwa dia harus menjatuhkan semua logo atau tempurung kelapa”.

(52)

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang telah dikemukakan di atas maka dapat disimpulkan bahwa permainan tradisional mallo-allogo dalam kegiatan anak yang menang undian akan menembak pertama kali dapat menanamkan karakter amanah karena anak sudah dapat mempertanggung jawabkan urutan mainnya dan sudah siap ketika tiba urutan mainnya, membentuk tim dapat menanamkan karakter religius amanah karena anak sudah dapat di percaya dalam pembetukan tim ketika tim sudah terbentuk tidak ada lagi anak yang berpindah tim semua anak konsisten

3. Fathana

Berdasarkan observasi di Raudhatul Athafal Jamiatul Khaer pada hari sabtu 12 Oktober 2019 pada tema kebutuhanku dan sub tema keamanan kegiatan permainan mallo-allogo, ketika anak-anak bermain mereka sudah cerdas, mahir, dan sudah menguasai bidang dalam permainan mallo-allogo karena sebelum anak-anak bermain guru sudah memberi tahukan arahan seperti langkah-langkah permainan di jelaskan oleh guru anak sudah memahami penjelasan guru anak diberikan satu kali kesempatan bermain per anak untuk mencoba permainan sebelum bermain, dari 16 anak didik yaitu Nayla, Amel, Aqila, Asila, Syahruni, Citra, Dinny, Kesya, Khayla, Fajar, Daffa, Nauval, Eny, Arung, Hanna dan Fitri semua berada pada kategori berkembang sesuai harapan, pada kegiatan memilih undian untuk mengetahui tim yang memulai permainan karena anak mahir dalam memilih undian untuk memulai permainan terlebih dahulu, pada saat bermain semua anak sudah pandai dalam melakukan hompimpa tanpa perluh di ulang lagi dan tidak ada anak yang berubah fikiran ketika sedang melakukan hompimpa, dari 16 anak didik terdapat 1 anak yaitu Hannan mulai berkembang karena pada

Gambar

Tabel             Halaman
Gambar           Halaman
Tabel 2.1 Hasil penelitian yang relevan
Gambar bidang dende-dende  Setiap anak bermain sesuai  urutannya

Referensi

Dokumen terkait

3.2.1.1 Setelah membaca teks eksplanasi “Mengapa Harus Hemat Energi?” yang dikirimkan lewat aplikasi google classrom, peserta didik dapat menganalisis informasi penting dari

Prototip dosimeter berbasis kalorimeter grafit yang dirancangbangun dapat digunakan untuk pengukuran dosis radiasi elektron pada proses iradiasi menggunakan MBE apabila terlebih

sche Vereniging atau Perhimpunan Indonesia yang mempunyai tujuan mencapai Indonesia Merdeka. Pada saat organisasi para pelajar mahasiswa Indonesia di negeri Belanda ini

Intisari - Sistem proses transaksi penjualan retail di koperasi pada saat ini hanya dibuat secara manual, kegiatan jual beli barang dagangan, Barang dagangan

Persoalannya, apa yang dilakukan oleh sebagian dari mereka yang menyebut dirinya ulama itu seperti tak berbeda dari apa yang dilakukan para politisi.. Alih-alih memerankan diri

Puskesmas dengan cakupan rendah dalam pelaksanaan IVA menunjukkan sikap dan komitmen mengesampingkan program deteksi dini kanker serviks, karena bukan salah satu program

sangat bergantung pada kondisi p8 pada saat reaksi berlangsung. Ini disebabkan karena pH selain mempengaruhi kestabilan dan kekuatan daya reduksi SnCl2 juga