BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang Masalah. Skizofrenia adalah salah satu gangguan jiwa berat yang menimbulkan beban bagi

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Masalah

Skizofrenia adalah salah satu gangguan jiwa berat yang menimbulkan beban bagi pemerintah, keluarga serta masyarakat. Dalam beberapa penelitian menemukan bahwa keluarga yang memiliki satu anggota yang mengalami skizofrenia cukup memberikan dampak psikologis terhadap anggota lainnya selama merawat anggota yang mengalami skizofrenia.

Berikut ini adalah kasus dari salah satu keluarga yang memiliki anggota lebih dari satu yang mengalami skizofrenia. Berdasarkan hasil wawancara pertama dengan salah satu saudara kandung dari sebuah keluarga yang memiliki anggota lebih dari satu yang mengalami skizofrenia,

“Pertama ketika saudara saya sering berteriak-teriak dan akhirnya dimasukan ke RSJ, saya kira cukup dia aja yang mengalami hal seperti itu, tetapi...beberapa tahun kemudian adik saya yang lain mengalami hal yang sama, meskipun tidak separah yang pertama, tapi sama gejalanya suka teriak-teriak dan hampir nyaris bunuh diri dan dia juga sempat dimasukan ke RSJ.”

Setelah dua anggota mengalami skizofrenia, pada tahun 2001 anggota yang lainnya mengalami hal yang sama meskipun dengan gejala yang berbeda tetapi akhirnya dimasukan kembali ke RSJ,

“Ketika yang pertama meninggal dunia, dan yang kedua sudah mulai pulih seperti biasa adik saya yang lain pada tahun 2001 suka melamun sendiri dan saya fikir ini gejalanya akan sama seperti adik saya yang lain, tetapi dia beda sendiri dia sering diam dan tidak mau bicara sama sekali bertahun-tahun sampai akhirnya keluarga memutuskan untuk memasukannya ke RSJ, dia sampai sekarang meskipun terlihat normal tapi tetap aja diam sulit untuk diajak bicara dan tidak mau keluar rumah. Sebagai kakak saya bingung sebenarnya apa yang terjadi dengan keluarga saya?”

(2)

(Hasil wawancara dengan salah satu saudara kandung penderita skizofrenia, 9 Januari 2015).

Penderitaan emosional menyentuh kehidupan semua orang di suatu titik waktu di sepanjang hidupnya. Masalah psikologis mempengaruhi banyak orang secara langsung maupun secara tidak langsung – melalui orang yang kita kasihi, teman, dan orang yang tidak kita kenal, yang perilaku bermasalahnya tidak dapat kita abaikan (Thomas F. Oltmans dan Robert E. Emery, 2013).

Menurut Lopez, dkk (2006) berbagai gangguan mental menyentuh setiap ranah pengalaman manusia; dan gangguan itu adalah bagian dari pengalaman manusia. Gangguan itu dapat mendisrupsi cara kita berfikir, cara kita merasakan, cara kita berperilaku. Gangguan itu juga memengaruhi hubungan dengan orang lain. Masalah ini sering memiliki dampak yang bersifat menghancurkan pada kehidupan manusia.

Banyak orang berfikir bahwa gangguan mental hanya terjadi pada sedikit orang yang kurang beruntung. Kita tidak berharap hal itu terjadi pada diri kita atau pada orang yang kita cintai. Faktanya, gangguan mental sangat lazim terjadi. Paling tidak dua di antara empat orang akan mengalami salah satu bentuk perilaku abnormal, seperti depresi, alkoholisme, atau skizofrenia, pada suatu titik dalam hidupnya (Thomas F. Oltmans dan Robert E. Emery, 2013).

Menurut penelitian Steve McCarrol, direktur genetika dari Stanley Center for Psychiatric Research dari Broad Instititute di Cambridge, Massachussets, studi terbaru menyatakan lebih dari 100 bagian dalam gen manusia ternyata memengaruhi risiko skizofrenia. Bahkan, yang lebih mengejutkan, rata-rata pasien skizofrenia ini hidup bersama anggota keluarga yang mengalami hal serupa. Para peneliti percaya genetika memainkan peran penting dalam risiko skizofrenia yang dialami seseorang. Sebab sekitar 10% dari penyandang skizofrenia juga hidup dengan orangtua atau saudara yang mengalami hal serupa.

(3)

Dalam studi ini, peneliti mengidentifikasi terdapat 108 lokasi di genom manusia yang terkait dengan risiko skizofrenia. Hal itu didapat setelah membandingkan genom dari lebih dari 80.000 orang dengan dan tanpa gangguan skizofrenia (www.detikhealth.com, 05 Desember 2014).

Studi terbaru lainnya yang dilakukan di Finlandia menunjukkan kalau anak yang diadopsi dan memiliki resiko genetik / biologis skizofrenia (ibu mereka memiliki skizofrenia) memiliki 86% kemungkinan lebih rendah untuk mengembangkan skizofrenia jika diadopsi oleh keluarga yang sehat daripada keluarga yang disfungsional. Dalam keluarga sehat, hanya 6% anak yang mengembangkan skizofrenia, sementara dalam keluarga disfungsional 37% mengembangkan skizofrenia (sebuah lingkungan sosial keluarga yang sehat dapat mengurangi resiko skizofrenia sebesar 86% pada kelompok resiko tinggi (www.schizophrenia.com, 05 Desember 2014).

Data dari Riskedas 2013 menunjukkan prevalensi gangguan jiwa berat, termasuk skizofrenia, 1-2 orang dari warga 1.000 warga di Indonesia. (www.peduliskizofrenia.org, 30 November 2014). Dari jumlah tersebut sebagian besar belum mendapat pengobatan yang tepat, sehingga mengakibatkan ODS (Orang Dengan Skizofrenia) masih sulit diterima kembali di masyarakat. (http//.rri.co.id, 30 November 2014).

Menurut beberapa ahli, skizofrenia merupakan sekelompok reaksi psikotik yang mempengaruhi berbagai fungsi individu, termasuk fungsi berfikir dan berkomunikasi, menerima dan menginterpretasikan realitas, merasakan dan menunjukkan emosi, serta berperilaku tidak rasional. Skizofrenia juga dapat didefinisikan sebagai suatu sindroma klinis dari berbagai keadaan psikopatologis yang sangat menganggu yang melibatkan proses pikir, emosi, persepsi dan tingkah laku. Skizofrenia merupakan golongan psikosa yang ditandai dengan tidak adanya pemahaman diri (insight) dan ketidakmampuan menilai realitas, skizofrenia juga dapat disebut gangguan dengan serangkaian simptom meliputi gangguan

(4)

konteks berfikir, bentuk pemikiran, persepsi, afek, rasa terhadap diri (sense of self), motivasi, perilaku, dan fungsi interpersonal. (Stuart & Laraia, 2005; Hawari, 2006; Halgin & Whitbourne, 2011).

Menurut Davison & Neale (2012), gangguan skizofrenia sebenarnya dapat dibagi menjadi beberapa tipe, yaitu (1) Skizofrenia paranoid seperti curiga, bermusuhan, dsb; (2) Skizofrenia katatonik seperti patung, tidak makan, tidak minum, dsb; (3) Skizofrenia tidak terorganisasi seperti perilaku kacau, pembicaraan tidak koheren, halusinasi, afek datar / tidak sesuai.

Salah satu contoh dari keterlibatan keluarga dalam membantu penyembuhan skizofrenia yang dialami Bagus Utomo, pendiri KPSI (Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia), pria berusia 37 tahun itu menuturkan berpengalaman menangani kakaknya yang menderita skizofrenia selama 15 tahun. Pekerjaan guru STM yang dulu dijalani kakanya hampir tak mungkin ditekuni lagi.

“Inilah PR (pekerjaan rumah) terbesar kami sekeluarga. Kami harus berpacu dengan waktu. Mumpung orangtua masih ada, harus segera memandirikan Mas Bayu (nama sang kakak), bila suatu saat saya harus kalah, saya tidak akan menyerah begitu saja. Saya harus menang di pertempuran lain. Saya harus membantu keluarga-keluarga lain,” tegasnya. (www.okezone.com, 5 Desember 2014)

Berdasarkan hasil penelitian Mahasiswa Psikologi Universitas Diponegoro Semarang yang dilakukan oleh Ambari pada tahun 2010 dalam sebuah skripsinya yang berjudul Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan Keberfungsian Sosial Pada Pasien Skizofrenia Pasca Perawatan di Rumah Sakit, maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara dukungan keluarga dengan keberfungsian sosial pada pasien Skizofrenia pasca perawatan di Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya. Semakin tinggi dukungan keluarga, maka semakin tinggi pula keberfungsian sosial pasien. Sebaliknya semakin rendah dukungan keluarga, semakin rendah pula keberfungsian sosial pasien Skizofrenia pasca perawatan di Rumah Sakit.

(5)

Barrowclough and Tarrier (Ambari, 2010), penelitiannya menemukan bahwa pasien Skizofrenia pasca perawatan yang tinggal bersama keluarga dengan Expressed Emotion yang tinggi menunjukkan keberfungsian sosial yang rendah. Sebaliknya, pasien Skizofrenia pasca perawatan tinggal bersama keluarga dengan Expressed Emotion yang rendah menunjukkan keberfungsian sosial yang tinggi. Hasil dair penelitian yang dilakukan oleh tokoh di atas menunjukkan bahwa untuk meningkatkan dan mengembalikan keberfungsian sosial pasien skizofrenia pasca perawatan diperlukan sikap keluarga yang turut terlibat langsung dalam penanganan, menjauhi tindakan bermusuhan, Expressed Emotion yang rendah, kehangatan dan sedikit memberikan kritik. Penelitian tersebut menggambarkan bahwa salah satu faktor yang dapat meningkatkan keberfungsian sosial pasien Skizofrenia pasca perawatan di Rumah Sakit adalah dengan dukungan keluarga.

Dukungan moral yang dimiliki oleh seseorang dapat mencegah berkembangnya masalah akibat tekanan yang dihadapi. Seseorang dengan dukungan moral yang tinggi akan lebih berhasil dalam menghadapi dan mengatasi masalahnya dibanding dengan yang tidak memiliki dukungan (Ambari, 2010). Pendapat ini diperkuat oleh pernyataan dari Commision on the Family pada tahun 1998 (Ambari, 2010), bahwa dukungan keluarga dapat memperkuat setiap individu, menciptakan kekuatan keluarga, memperbesar penghargaan terhadap diri sendiri, mempunyai potensi sebagai strategi pencegahan yang utama bagi seluruh keluarga dalam menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari serta mempunyai relevansi dalam masyarakat yang berada dalam lingkungan yang penuh dengan tekanan.

Tanpa dukungan keluarga, pasien akan sulit sembuh, mengalami pemburukan dan sulit untuk bersosialisasi. Lingkungan sosial individu berperan dalam memulihkan dan memfasilitasi pasien Skizofrenia pasca perawatan mencapai taraf keberfungsian yang baik untuk jangka panjang. Sedangkan lingkungan keluarga berperan dalam merawat dan meningkatkan keyakinan pasien akan kesembuhan dirinya dari Skizofrenia sehingga pasien

(6)

mempunyai motivasi dalam proses penyembuhan dan rehabilitasi diri, karena suasana di dalam keluarga yang mendukung akan menciptakan perasaan positif dan berarti bagi pasien itu sendiri (Wiramihardja, 2005).

Tempat terbaik bagi penderita skizofrenia adalah keluarga. Keluarga adalah sekelompok orang yang dihubungkan dengan emosional. Darah atau keduanya dimana berkembangnya pola interaksi dan relationship (Carter & McGoldrick, 1996; Boyd, 2002; Hasmila, 2009).

Keluarga yang berhasil, berfungsi dengan baik, bahagia dan kuat tidak hanya seimbang, perhatian terhadap anggota keluarga lain, menggunakan waktu bersama-sama memiliki pola komunikasi yang baik, memiliki tingkat orientasi yang tinggi terhadap agama, tetapi juga dapat menghadapi krisis dengan pola yang positif. Krisis dalam keluarga dapat lebih dimengerti apabila tiap tahap perkembangan keluarga diteliti karena setiap tahap membutuhkan peran, tanggung jawab dalam menyelesaikan masalah dan tantangan (Varcarolis, 2006).

Varcarolis (2006) menyebutkan suatu patologi keluarga muncul akibat dari perkembangan yang disfungsional. Pola keluarga dari penderita skizofrenia memberikan bukti yang meyakinkan bagi penjelasan biologis. Semakin dekat hubungan kekerabatan dengan seorang penderita skizofrenia semakin besar pula kecenderungan untuk mengidap hal yang sama. (Wong, Gottesman, & Petronis, 2005 dalam Richard & Sussan, 2011).

Menurut Fontaiane (2003) karakteristik utama kemampuan keluarga adalah kemampuan untuk manajemen stress yang produktif. Kelelahan fisik dan emosi selama merawat anggota keluarga dengan gangguan jiwa sering melanda anggota keluarga sehingga bisa menyebabkan problem kesehatan karena menurunnya daya tahan tubuh dan problem interpersonal karena berkurangnya stress tolerance. Keterlibatan keluarga dalam membantu

(7)

penyembuhan penyakit, baik fisik maupun mental atau makin seringnya komunikasi antar klien dengan keluarga akan menambah kepercayaan dan meningkatkan harga diri klien. Menurut P. Noller (1992) fungsionalitas keluarga merupakan pola interaksi antar anggota keluarga yang diterapkan dalam keluarga dan menjadi ciri sebuah keluarga yang meliputi dimensi penyelesaian konflik. P. Noller merumuskan tiga dimensi tersebut berdasarkan hasil penelitian beberapa ahli terapi keluarga yaitu Beavers, Olson, dan Mc Master. Ketiga dimensi tersebut, yaitu : Intimacy (keintiman), Democracy (demokrasi), dan Conflict (konflik).

Berdasarkan fenomena fungsi keluarga yang memiliki anggota keluarga yang mengalami skizofrenia, maka pertanyaannya yang muncul adalah bagaimana gambaran dinamika fungsionalitas keluarga yang lebih dari satu anggota keluarga mengalami skizofrenia. Penelitian akan dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Anggota keluarga yang akan menjadi subjek penelitian ini melibatkan berbagai komponen anggota keluarga yang memiliki lebih dari satu anggota keluarganya yang mengalami skizofrenia.

1.2. Rumusan Masalah

Rumusan masalah ini adalah bagaimana dinamika fungsionalitas keluarga yang memiliki lebih dari satu anggota keluargayang mengalami skizofrenia?

1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian

Maksud dan Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuidinamika fungsionalitas keluarga yang memiliki lebih dari satu anggota keluargayang mengalami skizofrenia.

1.4. Manfaat Penelitian A. Manfaat Teoritis

(8)

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara khusus pada disiplin ilmu Psikologi yang berkaitan dengan fungsionalitas keluarga yang memiliki lebih dari satu anggota keluarganya yang mengalami skizofrenia dan memperkaya keilmuan dalam bidang kesehatan jiwa dan dapat menjadi landasan bagi penelitian selanjutnya.

B. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman dan pengetahuan masyarakat bagaimana fungsionalitas keluarga yang memiliki lebih dari satu anggota keluarganya yang mengalami skizofrenia.

1.5. Sistematika Penulisan

Penelitian ini dirancang dengan susunan sebagai berikut : BAB I: Pendahuluan

Menjelaskan latar belakang penelitian, rumusan masalah, maksud dan tujuan penelitian, manfaat penelitian serta sistematika penulisan.

BAB II : Landasan Teori

Berisikan teori-teori yang menjelaskan data penelitian yaitu teori keluarga yaitu, pengertian keluarga, interaksi keluarga, fungsionalitas keluarga, pengertian skizofrenia, gejala-gejala skizofrenia, penyebab skizofrenia dan penegakan diagnosa skizofrenia.

BAB III :Metodologi Penelitian

Berisikan pendekatan yang digunakan, subjek penelitian, metode pengumpulan data, alat bantu pengumpulan data penelitian, prosedur penelitian dan prosedur analisis data.

BAB IV : Analisis Data

Figur

Memperbarui...

Related subjects :