I. PENDAHULUAN. Kekayaan alam Indonesia merupakan suatu sumber daya alam yang harus

Teks penuh

(1)

1

I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kekayaan alam Indonesia merupakan suatu sumber daya alam yang harus dijaga kelestariannya. Salah satunya dibidang perkebunan yang merupakan sektor perluasan dari bidang pertanian. Banyak jenis tanaman perkebunan yang tumbuh subur dan dikembangkan di Indonesia. Teh merupakan tanaman perkebunan yang mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dan dapat dikembangkan lebih luas. Teh mempunyai nilai ekonomi tinggi terbukti dengan meningkatnya jumlah devisa negara karena telah diekspor ke luar negeri. Dengan adanya nilai jual yang tinggi tersebut maka tanaman teh banyak dibudidayakan di Indonesia.

Salah satu minuman penyegar yang terkenal di Indonesia adalah teh. Minuman teh merupakan minuman yang telah umum digunakan di seluruh wilayah Indonesia. Teh dikenal di Indonesia sejak tahun 1686, ketika seorang warga kebangsaan Belanda bernama Andreas Cleyer membawanya ke Indonesia yang pada saat itu penggunaannya sebagai tanaman hias. Pada tahun 1728, pemerintah Belanda mulai memperhatikan teh dengan mendatangkan biji-biji teh secara besar-besaran dari Cina untuk dibudidayakan di Pulau Jawa. Usaha tersebut tidak berhasil dan baru berhasil setelah pada tahun 1824 oleh Van Siebold seorang ahli bedah tentara Belanda melakukan penelitian di Jepang. Setelah saat itu, pemerintah Belanda menerapkan Politik Tanam Paksa (Culture Stelsel) kepada rakyat Indonesia untuk menanam teh secara paksa. Setelah kemerdekaan Indonesia, perdagangan teh diambil alih oleh Pemerintah Indonesia hingga kini.

(2)

2

Teh adalah sumber daya alam yang dihasilkan dari pengolahan pucuk (daun muda) tanaman teh (Camellia sinensis L.Kuntze) yang dipakai sebagai minuman.

Secara tradisional teh dibagi menjadi tiga jenis yaitu teh hijau, teh hitam dan teh putih. Perbedaan ketiga macam teh tersebut disebabkan oleh perbedaan cara pengolahan.

Untuk mendapatkan teh dengan kualitas yang bagus maka pengolahannya juga harus bagus. Mesin OTR (Open Top Roller) merupakan salah satu mesin untuk meningkatkan kapasitas produksi dan juga mampu menghasilkan gulungan pucuh teh yang bagus, Serta hasil gulungan teh dari OTR ini juga akan tergulung dengan merata. Mesin OTR ini sangat berperan penting pada pengolahan teh karena mesin OTR adalah mesin pembentuk dari pucuk teh yang akan dipasarkan.

1.2 Tujuan

Tujuan Umum

PKPM merupakan salah satu kurikulum yang harus dijalani oleh mahasiswa di Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh secara umum bertujuan untuk :

1. Untuk menambah wawasan dan meningkatkan pengetahuan serta pemahaman mahasiswa mengenai kegiatan perusahaan yang mencakup dalam industri pertanian.

2. Untuk mengetahui bagaimana suasana kerja yang sebenarnya bagi mahasiswa.

3. Untuk melatih disiplin mahasiswa agar siap untuk terjun kedunia kerja setelah tamat dari Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh.

(3)

3 Tujuan Khusus

1. Untuk mempelajari, mengenal dan memahami secara langsung proses pengolahan teh (Camellia sinensis L.Kuntze)

2. Mengetahui cara kerja mesin OTR beserta spesifikasi mesin dan juga kendala yang terjadi pada mesin OTR dalam proses produksi teh hijau.

1.3. Manfaat

Manfaat yang diharapkan setelah mengikuti pengalaman kerja praktek mahasiswa (PKPM) adalah :

1. Mahasiswa memahami proses pengolahan produksi teh

2. Meningkatkan soft skill dalam bekerja sama dan bergaul dengan karyawan serta hidup bermasyarakat.

3. Mahasiswa dapat termotivasi untuk merintis karir yang bagus dalam dunia kerja dan membuka usaha sendiri.

4. Mempunyai bekal pengalaman dan mental yang siap untuk terjun kedunia kerja.

(4)

4

II.

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

2.1. Sejarah Perusahaan

PT. Perkebunan Mitra Kerinci adalah perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan teh yang didirikan pada tanggal 17 juli 1990 berdasarkan pada surat keputusan menteri Pertanian RI No. KB.520/132/Mentan/II/90 tanggal 9 juli 1990 tentang persetujuan kerja sama antara PT. Perkebunan VII (sekarang PT. Perkebunan Nusantara IV) dengan PT. Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) bentuk dari kerja sama ini dikuatkan dengan adanya Akte Notaris atas nama Fatimah, SH No. 30 tanggal 10 desember tahun 1992

Kemudian pada tanggal 16 juli 1993 telah mendapat persetujuan Menteri Kehakiman RI No. 024734111.01 tahun 1993 dan semenjak tanggal 23 agustus 1993 PT. Perkebunan Mitra Kerinci resmi diubah nama instansi menjadi PT. MITRA KERINCI, sejak 1 Desember 1998 seluruh saham dimiliki oleh PT. Rajawali Indonesia (RNI).

2.2. Lokasi Perusahaan

PT. MITRA KERINCI berada di lokasi lereng pengunungan gunung kerinci sebelah barat yang persisnya berada di desa Sungai Lambai, Kecamatan Sangir, Kabupaten Solok Selatan. Secara goegrafis lokasi kebun berada pada 1043 ̊ LS dan 1010 17 ̊ ( 166 Km dari kota padang ) Perkebunan teh PT. MITRA KERINCI berada pada daerah dataran sedang dengan ketinggian diantara 900-1200 diatas permukaan laut dengan curah hujan yang sedang berkisar rata-rata 4.100 mm pertahunnya dimana suhu berkisar 18–29 ̊ C sangat cocok untuk

(5)

5

pertumbuhan tanaman teh yang ideal, berdampingan dengan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) sebagi konservasi dari hujan tropis, serta di landasi komitmen kuat ke arah sistem produksi teh hijau yang berkelanjutan sehingga produk teh kebun liki dijamin murni, sangat alami dan bebas dari berbagai polusi dalam areal HGU seluas 2.025 Ha terbentang areal tanaman teh dengan klon unggul generasi terbaru seluas 1.470 Ha sisanya merupakan hutan asli (sebagai konservasi sumber air) dan hutan produksi kayu sebagai sumber energi utama bahan bakar berkelanjutan untuk keperluan pabrik teh .

PT. MITRA KERINCI memiliki 2 unit pabrik teh, yaitu 1 unit pabrik teh hijau dan 1 unit pabrik teh hitam masing–masing dengan kapasitas produksi sekitar 2 juta kilogram teh kering per tahun nya. Pabrik teh hijau dengan 3 grade mutu ekspor (pekoe super) dan 1 grade mutu lokal (Broken Mix), sementara pabrik teh hitam menghasilkan 17 grade teh hitam (common grade/Broken Orthodox) mulai dari orange pekoe 1 sampai Broken Mix. Teh hijau produksi kebun Liki telah dikenal berkualitas tinggi (pernah meraih juara pada tea festival 2003 di Bandung) dengan pasar utama untuk ekspor baik secara langsung maupun melalui trader/packer teh ternama, begitu pula dengan produk teh hitam, sebagian besar ditujukan untuk pasar ekspor (Timur tengah, Pakistan, Taiwan) selain dalam bentuk bulk (karung /paper sack), PT. Mitra kerinci juga membuat produk teh kemasan untuk pasar eceran domestik, baik teh seduh maupun teh celup (Kerinci Tea, Teh Minang, Liki Tea)

(6)

6 2.3. Struktur Organisasi

Dalam dunia usaha struktur organisasi sangat penting sebagai wadah untuk mengadakan perencanaan serta pelaksanaan demi terwujud nya suatu tujuan yang diinginkan. Untuk mencapai tujuan yang diharapkan dalam dunia kerja serta mengatur manajemen perlu diadakan perorganisasian untuk menyatukan sumber daya pokok dengan cara yang teratur, mengatur orang orang dengan pola pikir berbeda sehingga mereka dapat menjalankan tugas dengan semsetinya guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam praktek nya suatu organisasi digambarkan dalam bentuk bagan yang dapat dilihat dengan jelas alur pembagian tugas dan tanggung jawab serta posisi masing-masing individu yang berada dalam organisasi tersebut. Bentuk bagan dari struktur organisasi PT. Mitra Kerinci Kebun Liki dapat dilihat pada bagian lampiran.

(7)

7

III.

PELAKSANAAN PKPM

4.1. Waktu Dan Tempat Pelaksanaan

3.1.1. Waktu

Waktu pelaksanaan Pengalaman Kerja Praktek Mahasiswa (PKPM) ini selama ± 3 Bulan dimulai pada tanggal 16 Maret 2015 dan selesai pada tanggal 30 mei 2015.

3.1.2. Tempat Pelaksanaan

Tempat dilaksanakannya Pengalaman Kerja Praktek Mahasiswa (PKPM) ini di PT. Mitra Kerinci Kebun Liki Desa Sungai Lambai Kec. Sangir, Kab. Solok Selatan.

4.2. Metode Pelaksanaan

Dalam pelaksanaan PKPM di PT. Mitra Kerinci Kebun Liki ini mahasiswa melaksanakan kegiatan di pabrik pengolahan, yang dilaksanakan setiap hari senin sampai sabtu dan kegiatan dimulai pada pukul 07.00 sampai pada pukul 17.00 WIB. Untuk pengambilan data yang dibutuhkan dilakukan pengamatan secara lansung dilapangan sambil melakukan diskusi dan tanya jawab dengan Operator, mandor, Assisten dan karyawan serta mempelajari dari laporan Assisten Training.

(8)

8

Secara garis besar diagram alir dari proses pengolahan Teh dapat dilihat pada Diagram 1 di bawah ini.

Diagram 1. Proses Pengolahan Teh. Teh Hijau (Green tea) Teh Hitam (Black tea) Pengilingan/Penggul ungan (OTR) Pelayuan (Rotary Panner) Penggilingan/Penggul ungan (OTR) Pengeringan 1 (ECP) Pengeringan 2

(Ball tea) Pengeringan (TSD)

Sortasi basah (Dibn & Rotorvane) Withering Trought penimbangan Fermentasi (Humidifier) Pelayuan (Whitering Trought) Pemetikan pucuk (mesin petik,gunting)

Sortasi dan pengepakan (vibro dan blender) Sortasi dan pengepakan

(vibro dan blender)

(9)

9 4.3. Proses Alat Dan Mesin Pengolahan

3.1.1. Pemetikan

Gambar 1. Pemetikan Teh Menggunakan Mesin Petik.

Pemetikan adalah pemungutan hasil pucuk tanaman teh yang memenuhi syarat-syarat pengolahan. Pemetikan berfungsi pula sebagai usaha membentuk kondisi tanaman agar mampu berproduksi tinggi secara berkesinambungan. (Arifin, 1992).

Menurut Siswoputranto (1978), teh dihasilkan dari pucuk-pucuk tanaman teh yang dipetik dengan siklus 7 sampai 14 hari sekali. Hal ini bergantung dari keadaan tanaman masing-masing daerah, karena dapat mempengaruhi jumlah hasil yang diperoleh. Cara pemetikan daun selain mempengaruhi jumlah hasil teh, juga sangat mempengaruhi mutu teh yang dihasilkan. Cara pemetikan daun teh dibedakan menjadi dua yaitu pemetikan halus (fine plucking) dan cara pemetikan kasar (coarse plucking).

(10)

10

Kegiatan pemetikan yang memerlukan karyawan yang jumlahnya paling besar masih banyak ditemui hasil pemetikan yang hanya mengejar target tanpa memperhatikan tata cara pemetikan yang benar. Apalagi menghadapi musim hujan yang produksinya lebih banyak dari pada musim kemarau maka akan dibutuhkan lebih banyak lagi karyawan. Hal ini menyebabkan perlunya pengawasan dan pembinaan yang lebih intensif dalam pelaksanaannya (Maulana, 2000). Pemetikan yang dilakukan di Mitra Kerinci yaitu :

1. Berdasarkan jenisnya, pemetikan dapat dibedakan menjadi:

a) Pemetikan jendangan Pemetikan jendangan adalah pemetikan yang dilakukan pada awal setelah tanaman dipangkas. Pemetikan ini bertujuan untuk membentuk bidang petik yang lebar dan rata dengan ketebalan lapisan daun pemeliharaan yang cukup agar tanaman mempunyai potensi produksi daun yang tinggi. Pemetikan jendangan mulai dapat dilakukan apabila 60% pucuk daun telah tumbuh. Biasanya pemetikan jendangan dilakukan 6-10 kali petikan maka tunas muda sudah membentuk cabang dan kemudian diteruskan dengan pemetikan produksi.

b) Pemetikan produksi atau disebut juga pemetikan biasa Pemetikan ini dilaksanakan setelah pemetikan jendangan selesai dilakukan, pemetikan produksi dilakukan secara terus-menerus dengan daun petik tertentu dan jenis petikan tertentu dengan siklus 7-14 hari.

c) Pemetikan gendesan Pemetikan gendesan ialah pemetikan dilakukan pada kebun yang akan dipangkas. Yaitu memetik semua pucuk yang akan diolah tanpa memperhatikan daun yang ditinggalkan.

(11)

11

2. Berdasarkan jenisnya, petikan dibedakan menjadi:

Jenis petikan adalah macam pucuk yang dihasilkan dari pelaksanaan pemetikan. Jenis petikan dapat dibedakan menjadi 3 kategori yaitu :

a) Petikan halus apabila pucuk yang dihasilkan terdiri dari pucuk peko (P) dengan satu daun, atau pucuk burung (B) dengan satu daun muda (M), biasanya ditulis dengan rumus P+1 atau B+1M.

b) Petikan medium apabila pucuk yang dihasilkan terdiri dari pucuk peko dengan dua daun, tiga daun, serta pucuk burung dengan satu, dua, atau tiga daun muda, ditulis dengan rumus P+2, P+3, B+1M, B+2M, B+ 3M.

c) Petikan kasar apabila pucuk yang dihasilkan terdiri dari pucuk peko dengan empat daun atau lebih, dan pucuk burung dengan beberapa daun tua, ditulis dengan rumus [P+4 atau lebih, B+(1-4 t)].

Gambar 2. Jenis–jenis Pucuk Daun Teh Keterangan gambar :

P+1 : Pucuk peko dan 1 daun P+2 : Pucuk peko dan 2 daun

(12)

12 P+3 : Pucuk peko dan 3 daun

B+1M : Pucuk burung dan 1 daun muda B+2 : Pucuk burung dan 2 daun

B+3M : Pucuk burung dan 3 daun muda

3.1.2 Pengolahan Teh Hijau

Menurut Nazaruddin dkk. (1993), teh hijau dihasilkan dari pengolahan pucuk daun teh tanpa proses fermentasi. Pengolahan teh hijau di Indonesia masih menggunakan peralatan sederhana. Hampir 90% pengolahannya dilakukan oleh rakyat di Jawa Barat. Teh hijau ini nantinya akan dijadikan bahan baku teh wangi yang pabriknya di Jawa Tengah. Seperti pengolahan teh hitam, pengolahan teh hijau juga melalui beberapa tahap seperti pelayuan, penggulungan, pengeringan dan sortasi. Adapun proses pengolahan teh hijau sebagai berikut:

1. Pemetikan

Pemetikan adalah pemungutan hasil pucuk tanaman teh yang memenuhi syarat-syarat pengolahan. Pemetikan berfungsi pula sebagai usaha membentuk kondisi tanaman agar mampu berproduksi tinggi secara berkesinambungan. (Arifin, 1992). Menurut Siswoputranto (1978), teh dihasilkan dari pucuk-pucuk tanaman teh yang dipetik dengan siklus 7 sampai 14 hari sekali. Hal ini bergantung dari keadaan tanaman masing-masing daerah, karena dapat mempengaruhi jumlah hasil yang diperoleh. Cara pemetikan daun selain mempengaruhi jumlah hasil teh, juga sangat mempengaruhi mutu teh yang dihasilkan. Cara pemetikan daun teh dibedakan menjadi dua yaitu pemetikan halus (fine plucking) dan cara pemetikan kasar (coarse plucking), pemetikan yang

(13)

13

dilakukan di PT. Mitra Kerinci dilakukan dengan 2 cara yaitu, dengan menggunakan mesin petik, dalam pemetikan yang menggunakan mesin petik memerlukan operator sebanyak 5 orang, jumlah mesin petik yang tersedia sebanyak 38 unit dan yang beroperasi sebanyak 32 unit, kemudian dengan cara pemetikan dengan gunting, ini dilakukan oleh jumlah karyawan setiap mandoran sebanyak 20 – 25 orang. Pemetikan mulai dilakukan pada pukul 07 : 00 – 16 : 30 WIB.

2. Pelayuan

Pelayuan pada pengolahan teh hijau adalah untuk menginaktifkan enzim polifenol oxidase dan menurunkan kandungan air dalam pucuk sehingga menjadi lentur dan mudah tergulung. Pelayuan dilakukan dengan cara mengalirkan sejumlah pucuk secara berkesinambungan kedalam alat Rotary Panner dalam keadaan panas. Lama pelayuan antara 5–7 menit. Suhu pelayuan yang baik dalam Roll Rotary Panner berkisar 130 ̊C-150 ̊C. Tingkat layu pucuk pada pengolahan

teh hijau berkisar 60-70%. Pada pelayuan tersebut menggunakan mesin Rotary Panner dan jenis mesin yang digunakan adalah tipe Double Sylinder.

Gambar 3. Rotary Panner (double sylider type.)

Energi panas yang dihasilkan untuk pelayuan pada rotary panner adalah dari tungku bakar.

(14)

14

Dibawah ini dapat dilihat gambar ruang bakar mesin rotary panner:

Gambar 4. Ruang Bakar Mesin Rotary Panner

Gambar 5. Feed Conveyor Input

Pada mesin Rotary Panner berbentuk silinder dengan gerak putar, yang digerakan oleh elektromotor melalui pulley yang kecepatan nya dapat diatur sesuai kebutuhan, pelayuan adalah proses untuk menginaktifkan enzim polifenol oksidase dan menurunkan kadar air sehingga pucuk menjadi lentur dan mudah tergulung.

(15)

15 3. Penggulungan

Penggulungan pada teh hijau pada dasar nya merupakan tahapan pengolahan yang bertujuan membentuk mutu secara fisik, karena selama penggulungan pucuk teh akan dibentuk menjadi gulungan kecil dan terjadi pemotongan. Pada proses ini mesin yang digunakan adalah Open Top Roller 47” tipe Single action, terdapat 4 unit Open Top Roller 47” yang beroperasi dan kapasitas dari masing Open Top Roller adalah 350–370 kg/jam. Lama penggulungan pucuk berkisar 30–40 menit, tergantung permintaan konsumen.

OTR

Gambar 6. OTR (Open Top Roller)

Penggulungan pada pengolahan teh hijau dilakukan hanya satu kali, baik untuk lokal, maupun ekspor. Hal ini secara fisik bertujuan agar tidak terjadi penghancuran daun teh terlalu banyak yang dapat meningkatkan jenis mutu bubuk yang kurang menguntungkan.

(16)

16 4. Pengeringan pertama

Selain menurunkan kadar air juga memekatkan cairan sel yang menempel di permukaan daun sampai berbentuk seperti perekat. Jumlah air yang diuapkan sebanyak 50%. Berlangsung selama 25 menit (tergantung keadaan pucuk) Mesin yang digunakan yaitu ECP (Endless Chain Pressure). Hasil pengeringan pertama masih setengah kering. Mesin pengering pertama yang baik untuk membuat teh hijau expor adalah ECP (Endless Chain Pressure). Suhu inlet (masuk) 100 ̊- 150 ̊C dan suhu outlet 50 ̊-55 ̊ C pada pengeringan pertama jumlah air yang harus diuapkan sebanyak 50% dari bobot pucuk yang masuk ke mesin ECP. Hasil pengeringan pertama dengan tingkat kadar air sekitar 38 – 42 %

Gambar 7. ECP (Endless Chain Pressure).

Di pabrik PT. Mitra Kerinci terdapat dua buah jenis mesin pengering ECP yang berpoperasi selama proses pengeringan, yaitu ECP 4 Feed dan ECP 6 Feed dan terdapat 7 unit mesin ECP. Kapasitas kinerja penguapan mesin pengering ECP berkisar antara 2.25–2.50 kg air/menit atau 135–150 kg air / jam, kapasitas mesin tersebut setara dengan 290–320 kg pucuk layu/jam.

(17)

17 5. Pengeringan kedua

Pengeringan kedua menggunakan Boll Tea. Tujuan dari pengeringan kedua yaitu selain untuk mengurangi kadar air juga untuk memperbaiki bentuk menggulung teh keringnya, kadar air tersisa sebanyak 5–6 %, penggeringan kedua dilakukan dengan suhu berkisar 100 ̊C –130 ̊C dan waktu maksimal 15 jam. Ada dua tipe mesin pengering akhir ini yaitu Rotary Dryer atau disebut juga Repeat Roll dan mesin pengering Ball Tea. Mesin pengering Rotary Drier (RD) maupun Ball Tea masing-masing berbentuk silinder berputar yang digerakkan oleh motor.

Gambar 8. Ball Tea

Alat ini mempunyai kapasitas kerja sebesar 200-300 kg teh kering, masukan hasil keringan ECP ke dalam mesin Boll Tea seberat 200 – 600 kg (80– 85 %) dari volume mesin, kriteria keringan yang baik adalah, apabila fraksi teh diremas menjadi bubuk, apabila fraksi tulang dipatahkan patah, dan aroma teh kering harum dan tidak berbau asap dan terbakar ( overfired ).

(18)

18

Di PT. Mitra Kerinci terdapat 32 unit mesin Boll Tea yang beroperasi dan terdapat 3 jenis yaitu, tipe jumbo, standard, dan mini Taiwan.

6. Sortasi dan pengepakan

Sortasi merupakan kegiatan pengelempokan teh kering ke dalam jenis jenis mutu dengan bentuk ukuran yang yang spesifik sesuai dengan standard teh hijau atau grade teh hijau, berikut merupakan grade dari teh hijau G P MIXED, PEKOE SUPER STD 12 BN, PEKOE SUPER STD 110, PEKOE MIXED, FANNING, BROKEN TEA, DUST, KEMPRING DUST, PEKOE – 2.

Mesin- mesin sortasi yang terdapat di PT. Mitra Kerinci adalah sebagai berikut : mesin Chota Sifter 1 unit, Middleton Extraktor 2 unit, Stalk Separator 6 unit, Suction Winnower 2 unit, Vibro Stalk Seperator 1 unit.

Gambar 9. Mesin Stalk Seperator

(19)

19

Gambar 10. Vibro Seperator

Gambar 11. Middleton extraktor

Setelah didapat hasil sortasi tiap-tiap grade maka untuk selanjutnya dilakukan packing/pengepakan. sebelum dilakukan pengepakan maka hasil grading beberapa hasil produksi dilakukan Blending, tujuan dari proses Blending adalah untuk mencampurkan hasil grading sesuai dengan permintaan yang konsumen inginkan dalam proses ini menggunakan mesin Blender dengan diameter 300 cm dan tinggi alat 650 cm dan kapasitas tampung ± 3 ton.

(20)

20

Gambar 12. Blender

3.1.3 Pengolahan Teh Hitam

Sistem pengolahan teh hitam di Indonesia dapat dibagi menjadi dua, yaitu sistem orthodox murni dan rotorvane. Serta sistem baru misalnya sistem CTC. Sistem orthodox murni sudah jarang sekali dan yang umum saat ini adalah sistem orthodox rotorvane. Sistem CTC (Crushing, Tearing, Curling) merupakan sistem pengolahan teh hitam yang relatif baru di Indonesia (Arifin, 1994).

Ada dua jenis utama teh hitam yang dipasarkan di pasaran internasional, yaitu teh orthodox dan teh CTC. Kedua jenis teh hitam ini dibedakan atas cara pengolahannya.

Pengolahan CTC adalah suatu cara penggulungan yang memerlukan tingkat layu sangat ringan (kandungan air mencapai 67% sampai 70%) dengan

(21)

21

sifat penggulungan keras, sedangkan cara pengolahan orthodox memerlukan tingkat layu yang berat (kandungan air 52% sampai 58%) dengan sifat penggulungan yang lebih ringan. Ciri fisik yang terdapat pada teh CTC antara lain ditandai dengan potongan-potongan yang keriting. Adapun sifat-sifat yang terkandung didalamnya dibedakan yaitu untuk teh CTC memiliki sifat cepat larut, air seduhan berwarna lebih tua dengan rasa kurang kuat, sedangkan teh orthodox mempunyai kelebihan dalam quality dan flavour (Setiawati dan Nasikun, 1991).

No Sistem orthodox Sistem CTC ( baru )

1. Derajat layu pucuk 44 – 46 % Derajat layu pucuk 32 – 35 %

2. Ada sortasi bubuk basah Tanpa dilakukan sortasi bubuk basah 3. Tangkai/tulang terpisah disebut badag Bubuk basah ukuran hampir sama 5. Cita rasa air seduhan kuat Cita rasa kurang kuat, air cepat merah 6. Banyak tenaga kerja Tenaga kerja sedikit

7. Tenaga listrik tinggi Tenaga listrik rendah

8. Sortasi kering kurang sederhana Sortasi teh kering sederhana

9. Fermentasi bubuk 105–120 menit Fermentasi bubuk basah 80–85 menit 10. Waktu proses pengolahan berlangsung

lebih dari 20 jam

Proses pengolahan wakktunya cukup pendek (kurang dari 20 jam)

Adapun proses pengolahan teh hitam sebagai berikut: 1. Pucuk Daun Segar

Sampai saat ini masih ada pucuk dari beberapa klon teh tertentu yang belum diketahui dapat diolah menjadi teh hitam dalam kelompok kualitas tinggi, sedang maupun kurang. Meskipun demikian banyak peniliti menduga bahwa

(22)

22

pucuk teh yang kadar polifenol, kafein, tingkat oksidasi tinggi, aroma dan kadar sari tinggi dapat menghasilkan teh hitam yang berpotensi kualitas tinggi. Tinggi rendah nya kualitas keringan teh hitam yang diperoleh sangat dipengaruhi oleh kualitas pucuk dan penanganannya mulai dari pemetikan, penampungan di los pucuk, pewadahan, pengangkutan sampai di pabrik. Rusaknya pucuk yang akan dilayukan sangat mempengaruhi rendahnya mutu yang akan di perholeh. Pucuk yang rusak dapat berasal dari :

Genggaman yang keras oleh tangan atau mesin pemetik Wadah pucuk diisi melebihi kapasitas optimum

Rusak di alat transpotrasi

Lamanya di perjalanan menuju pabrik

Pemetikan Produksi dilakukan terus-menerus dengan daur petik tertentu dan jenis petikan tertentu sampai tanaman dipangkas kembali. Pemetikan produksi yang dilakukan menjelang tanaman dipangkas disebut ”pemetikan gendesan”, yaitu memetik semua pucuk yang memenuhi syarat untuk diolah tanpa memperhatikan daun yang ditinggalkan.

2. Pelayuan

Daun-daun teh yang dipetik dari kebun segera dibawa ke pabrik dan kemudian dimulai pelayuan (Withering Trough). Hal ini dilakukan untuk menurunkan kandungan air dari daun teh serta untuk melayukan daun-daun teh agar mudah digulung. Proses pelayuan dilakukan selama 16-24 jam. Pucuk yang telah tiba ke pabrik akan segera di turunkan dan di letak kan ke dalam Withering Trough .

(23)

23

Derajat layu pucuk teh yang diolah dengan sistem orthodox adalah ± 44– 46 %. Derajat layu dihitung dari hasil keringan dibagi pucuk layu dikalikan seratus persen. Oleh karena itu lamanya pelayuan sangat bervariasi. Yang perlu di perhatikan dalam pelayuan adalah suhu, kelembaban relatif, waktu, dan jumlah pucuk persatuan luas. Suhu yang digunakan tidak boleh menghambat aktivitas enzim yang menyebabkan perubahan, meskipun dalam waktu singkat akan mencapai derajat layu yang diinginkan. Hasil pelayuan yang baik ditandai dengan pucuk layu yang berwarna hijau kekuningan, tidak mengering, internodia tangkai) muda menjadi lentur, kalau di genggam terasa lembut dan bila dilemparkan tidak akan buyar serta timbul aroma yang khas seperti buah masak.

Menurut Arifin (1994), proses pelayuan bertujuan untuk membuat daun teh agar lebih lentur dan mudah digulung sehingga memudahkan cairan sel keluar jaringan pada saat digulung.

Waktu yang diperlukan dalam pelayuan 12-15 jam dengan derajat layu

pucuk teh 44-46%. Suhunya tidak boleh lebih dari 27 ̊ C serta kelembaban 76%. Dalam proses pelayuan, pucuk teh akan mengalami dua perubahan yaitu pertama

perubahan senyawa-senyawa kimia yang dikandung di dalam pucuk, dan kedua menurunnya kandungan air sehingga pucuk menjadi lemas (flacid). Perubahan pertama lazim disebut proses pelayuan kimia dan yang kedua disebut pelayuan fisik (Arifin, 1994). Dan tekanan angin yang digunakan pada pelayuan adalah 3200 cfm. Dan kapasitas Withering Trough ( WT ) 1200–1800 kg/ WT atau setara dengan 35–50 fishnet, 1 fishnet seberat 30–35 kg, dan jumlah WT 30 unit.

(24)

24

Gambar 13 . Withering thorugh 3. Proses Penggilingan dan Sortasi Basah ( Rotorvane )

Proses penggilingan terdiri dari penggulungan, penggilingan dan sortasi basah. Lamanya penggilingan bagi pabrik di dataran rendah berkisar 25-40 menit, dan didatarn tinggi berkisar 40-70 menit. Alat yang biasa digunakan untuk penggilingan adalah Open Top Roller (OTR) dengan waktu 30-40 menit.

(25)

25

Proses penggilingan dilakukan setelah turun pucuk layu sekitar pukul 05.00 WIB. Karena pada pagi hari kelembabannya masih relatif tinggi. Ruang Sortasi basah Mitra Kerinci dapat dilihat pada Gambar dibawah ini.

Gambar 15. Mesin sortasi basah ( Dibn ) Teh Hitam

Ruang Penggilingan Teh Hitam Mitra Kerinci dapat dilihat pada Gambar di bawah ini.

(26)

26

Tujuan dari penggulungan dan sortasi basah di Mitra kerinci adalah : 1) Untuk membentuk daun agar mengelinting/menggulung.

2) Untuk memecahkan dinding sel pucuk daun teh sehingga cairan keluar di permukaan daun dengan merata.

3) Memperoleh bubuk yang seragam dan memudahkan proses sortasi kering.

4) Tujuan sortasi basah mendapat grade kasar yang diinginkan perusahaan yaitu ayakan 1, ayakan 2, ayakan 3, dan ayakan kasar 4 untuk memudahkan proses sortasi dan pengeringan.

4. Oksidasi Enzimatis (Fermentasi)

Proses oksidasi enzimatis berlangsung selama 120 menit dihitung sejak pucuk layu turun. Alat yang digunakan dalam proses ini adalah baki aluminium dan rak. Penggunaan aluminium sebagai bahan dasar baki karena aluminium tidak menimbulkan reaksi yang dapat mempengaruhi proses oksidasi enzimatis.

Pada bagian bawah baki terdapat lubang yang berfungsi agar udara segar dapat masuk sehingga tidak terjadi over fermentasi. Setelah proses penggilingan maka bubuk teh dimasukkan dalam baki fermentasi dengan tebal hamparan sekitar 7 cm untuk badag 10 cm. Kemudian disusun dalam rak dan dibawa ke ruang fermentasi. Oksidasi enzimatis sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

a) Kadar air pada bahan.

b) Suhu dan kelembaban relatif. c) Jenis bahan (pucuk).

d) Persediaan oksigen, Pengaturan suhu, kelembaban dan waktu oksidasi enzimatis diperlukan agar terjadi proses oksidasi enzimatis yang optimum.

(27)

27

Suhu ruang fermentasi 21–25 0C serta kelembaban minimal ruang fermentasi 91%. Pengaturan suhu dan kelembaban di ruang oksidasi enzimatis dilakukan dengan menggunakan Humidifier. Kelembaban ruang tidak boleh terlalu rendah karena bila kelembaban terlalu rendah, ruangan akan kering dan suhu akan bertambah sehingga bubuk yang difermentasi akan kering sebelum masuk ruang pengeringan. Hal ini dapat mempengaruhi rasa, warna dan aroma teh kering yang dihasilkan. Pada proses oksidasi enzimatis di terjadi perubahan- perubahan antara lain :

- Perubahan teh dari warna hijau menjadi kecoklatan (tembaga mengkilat).

- Dihasilkan substansi theaflavin dan thearubigin yang akan menetukan sifat air seduhan. Hal ini sering disebut tea tester sebagai strenght, colour, quality dan briskness.

.

Adapun ruang oksidasi fermentasi dapat dilihat pada gambar 7 di bawah ini.

(28)

28 5. Pengeringan ( Two Stage Dryer )

tujuan utama pengeringan adalah menghentikan oksidasi enzimatis senyawa polifenol dalam teh pada saat komposisi zat-zat pendukung kualitas mencapai keadaan optimal. Adanya pengeringan maka kadar air dalam teh menurun, dengan demikian teh akan tahan lama dalam penyimpanan.

Waktu pengeringan yang ideal untuk mengeringkan teh bubuk hingga mencapai kandungan air yang dinginkan yaitu 3-4% adalah 20-30 menit dengan pemberian suhu panas sebesar 90-98 OC.

Adapun ruang Pengeringan dapat dilihat pada gambar 8 di bawah ini.

Gambar 18. Mesin pengering teh hitam (TSD)

Mesin pengering yang digunakan yaitu TSD (Two Staget Dryer) yang jumlahnya 3 unit yaitu dryer yang pertama dengan tipe three circuit dryer berkapasitas 300 kg bubuk teh/jam dan dryer yang kedua dan ketiga dengan tipe two circuit dryer yang berkapasitas 250 kg bubuk teh/jam.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kapasitas mesin pengering ialah : a) Kadar air bubuk teh basah.

(29)

29

Prinsip kerja mesin pengering yaitu karena pergerakan trays maka bubuk teh yang diletakkan diatas trays akan ikut bergerak dan diratakan oleh spreader yang berputar. Bubuk teh yang telah bergerak diatas trays akan bersentuhan dengan udara panas yang dihasilkan oleh heater sehingga air yang terkandung dalam bubuk teh menguap maka kadar air akan menjadi 3-4 %.

6. Sortasi Kering

Adapun ruang sortasi dapat dilihat pada gambar 9 di bawah ini.

Gambar 19. Mesin sortasi teh hitam (Vibro)

Teh yang berasal dari pengeringan ternyata masih heterogen atau masih bercampur baur, baik bentuk maupun ukurannya. Selain itu teh juga masih mengandung debu, tangkai daun, dan kotoran lain yang akan sangat berpengaruh pada mutu teh nantinya. Untuk itu sangat dibutuhkan proses penyortiran atau pemisahan yang bertujuan untuk mendapatkan suatu bentuk dan ukuran teh yang seragam sehingga cocok untuk dipasarkan dengan mutu terjamin

(30)

30

Umumnya partikel teh hasil sortasi kering berbeda-beda. Ukuran mesh nomor ayakan berkisar 8 sampai 32. Setiap jenis teh mempunyai standar ukuran berdasarkan besar kecilnya partikel yang dipisah-pisahkan oleh ayakan dengan ukuran mesh nomor yang berbeda-beda sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Didalam mesin sortasi terdapat beberapa jenis ayakan yang kasar sampai yang halus, sehingga teh kering yang keluar dari mesin sortir akan terbagi menjadi tiga golongan besar yaitu:

1. Teh Daun (Leafy grades) a. Orange pecco (OP) b. Pecco (P)

c. Pecco Souchon (PS) d. Souchon (S)

2. Teh Remuk (Broken grades) a. Broken Orange Pecco(BOP) b. Broken Pecco (BP)

c. Broken Tea (BT) 3. Teh Halus

a. Fanning (F) b. Dust (D).

Proses sortasi kering atau penjenisan bertujuan untuk mendapatkan bentuk, ukuran partikel teh yang seragam dan bersih sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh perusahaan. Selain tujuan diatas sortasi juga bertujuan untuk :

1) Memisahkan teh kering menjadi beberapa grade sesuai dengan ukuran partikel.

(31)

31

2) Membersihkan teh dari serat, tangkai dan bahan-bahan lain misalnya debu. Produk teh yang dihasilkan oleh Mitra Kerinci adalah sebagai berikut : Mutu I = BOP Grof, BOP, BOPF, PF, Dust, BP, BT, BM Mutu II = PF II, Dust II, BP II, BT II, BM II Mutu III = Dust III, BM III, bohea Adapun pengertian dari masing-masing mutu yaitu :

Mutu I

1) BOP Grof (Broken Orange Pecco Grof) yaitu partikel seperti BOP tetapi lebih besar.

2) BOP (Broken Orange Pecco) yaitu partikel pendek, agak kecil terdiri dari tulang-tulang daun pendek dengan sobekan daun kecil yang keriting, biasanya berasal dari daun teh yang muda.

3) BOPF (Broken Orange Pecco Fanning) yaitu ukurannya hampir sama dengan BOP tetapi lebih kecil dan keriting.

4) PF (Pecco Fanning) yaitu bentuk partikelnya seperti BOPF tetapi lebih kecil, dan warnanya lebih hitam dari PF II.

5) Dust yaitu partikelnya berukuran kecil.

6) BT (Broken Tea) yaitu partikel yang gepeng, pipih, agak hitam dan biasanya berasal dari daun.

7) BP (Broken Pecco) yaitu partikel yang pendek halus, bertulang-tulang, dan biasanya berasal dari daun muda.

8) BM (Broken Mix) yaitu berbentuk partikel gepeng atau pipih seperti BT tetapi kecil.

(32)

32 Mutu II

1) PF II yaitu partikel sama seperti PF I tetapi banyak mengandung tangkai dan serat berwarna agak kemerahan.

2) Dust II yaitu partikel seperti Dust I tapi berwarna lebih cerah dan halus 3) BT II yaitu sama separti BT I hanya ukurannya yang berbeda lebih kecil

dan warna kemerahan.

4) BP II yaitu berbentuk sama dengan BP I tapi lebih pipih dan kelihatan banyak serat dan tulang, sehingga warnanya lebih kemerahan.

5) BM II yaitu hampir sama dengan BM I, tetapi lebih kecil dan warnanya lebih kemerahan dari BM I.

Mutu III

1) Dust III yaitu bubuk yang partikelnya sangat lembut, lebih halus daripada Dust II dan masih banyak mengandung debu.

2) BOHEA (BTL/BBL) yaitu sisa dari hasil sortasi yang terdiri dari tulang-tulang daun dan serabut.

7. Pengepakan

Pengepakan Teh hijau dan teh hitam sebenarnya sama. Mesin yang digunakan yaitu bernama Blender yang dimasukkan dalam karung yang dilapisi oleh pelastik, dan ada juga pengepakan secara manual apabila permintaan pelanggan adalah grade tertentu tanpa harus di mix dengan blender.

(33)

33

Gambar 20. Mesin Pengepakan ( Blender ) Teh Hitam.

Proses pengepakan dan pengemasan merupakan tahapan terakhir dari pengolahan teh hitam dan teh hijau di PT. Mitra Kerinci. Adapun tujuan dari pengepakan dan pengemasan teh hitam dan teh hijau ialah :

a) Melindungi teh dari kerusakan

b) Memudahkan dalam penyimpanan digudang serta transportasi c) Sebagai alat promosi.

Adapun kapasitas dari Blender teh hitam dan teh hijau berbeda karna ukuran dari masing – masing mesin berbeda untuk teh hitam 2 – 3 Ton sedangkan teh hijau 3,5 – 4,5 Ton.

(34)

34

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Mesin OTR (Open Top Roller ).

Mesin OTR (Open Top Roller) merupakan mesin yang berkarakteristik atau bersifat menggulung teh serta merubah ukuran pucuk teh menjadi lebih kecil. Dengan cara kerja single action yang mana berbeda dengan cara kerja mesin OTR di pengolahan teh hitam yang menggunakan OTR doble action. Pada pengolahan teh hijau yang berputar hanyalah tabung silinder OTR dengan bantuan motor listrik dan dialirkan tenaganya untuk memutar tabung silinder dengan bantuan Pully dan Belt. OTR ini merupakan salah satu mesin yang sangat efisien dalam penggulungan teh karena mesin ini dapat menggulung teh dalam skala yang banyak untuk satu kali produksi.

Penggulungan pada teh hijau pada dasar nya merupakan tahapan pengolahan yang bertujuan membentuk mutu secara fisik, karena selama penggulungan pucuk teh akan dibentuk menjadi gulungan kecil dan terjadi pemotongan. Pada proses ini mesin yang digunakan adalah Open Top Roller 47” tipe Single action, terdapat 4 unit Open Top Roller 47” yang beroperasi dan kapasitas dari masing Open Top Roller adalah 350–370 kg/jam. Lama penggulungan pucuk berkisar 30–40 menit, tergantung permintaan konsumen.

(35)

35

Gambar 21. Mesin OTR (Open Top Roller)

Penggulungan pada pengolahan teh hijau dilakukan hanya satu kali, baik untuk lokal, maupun ekspor. Hal ini secara fisik bertujuan agar tidak terjadi penghancuran daun teh terlalu banyak yang dapat meningkatkan jenis mutu bubuk yang kurang menguntungkan.

4.2. Prosedur kerja mesin OTR (Open Top Roller) :

1. Yakinkan mesin gilingan OTR (Open Top Roller) dalam keadaan baik dan siap pakai.

2. Siapkan gerobak untuk menampung hasil output OTR (Open Top Roller) untuk menghindari pucuk tercecer.

3. Dilarang menggiling pucuk layu yang masih panas.

4. Pengisian gilingan dilakukan dalam kondisi diam. Isilah 1/3 (sepertiga) dari volume gilingan, kemudian mesin berputar dan teruskan sampai penuh (350-375 kg).

(36)

36

5. Bersihkan pucuk tercecer pada saat pengisian.

6. Amati proses penggulungan dan masukkan pucuk yang belum tergulung ditepian meja OTR (Open Top Roller).

7. Lamanya penggulungan sangat dipengaruhi oleh kualitas pucuk (sekitar 25 menit) dibandingkan dengan pucuk kasar (sekitar 30-40 menit).

8. Bongkarlah hasil penggulungan apabila telah terpenuhi lama waktu penggulungannya.

9. Bersihkan sisa penggulungan pada mesin setiap serainya. Yakinkan tidak terdapat fraksi teh yang tertinggal.

10. Kriteria penggulungan yang baik

Terbentuk gulungan yang rata (tidak hancur atau masih terlalu kasar).

Tidak terbentuk gumpalan sebesar kepalan tangan. Tidak terjadi tetesan cairan sel.

11. Apabila pekerja penggulungan telah selesai, lakukan pencucian mesin gulung. Yakinkan bahwa mesin gulung telah dicuci sebelum ditinggalkan. 12. Tertibkan seluruh peralatan ditempat yang aman.Pastikan mesin yang

ditinggal kan dalam keadan off.

4.1.3. Spesifikasi Mesin OTR (Open Top Roller)

1. Tinggi tabung 100 cm 2. Diameter tabung Ø 120 cm 3. Tinggi mesin OTR 160 cm 4. Diameter alas/meja Ø 180 cm

(37)

37 5. Motor 20 HP

6. 1450 RPM Feed Conveyor

1. Tinggi conveyor 365 cm 2. Lebar karet conveyor 40 cm

3. Panjang conveyor penghantar 600 cm 4. Panjang conveyor pembagi 630 cm

5. Sudut kemiringan conveyor pengahantar 45˚

6. Motor penggerak 2 HP , 1425 Rpm , Gear Box 1 : 30 7. Kecepatan conveyor Serok plastik Gerobak lori Spesifikasi : 1. Panjang 120 cm 2. Lebar 90 cm 3. Tinggi 330 cm

4. Tinggi total termasuk roda 150 cm. a. Bahan :

(38)

38

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1) Bahan baku yang digunakan oleh PT. Mitra Kerinci yaitu pucuk segar daun teh berasal kebun liki PT. Mitra Kerinci Kebun Liki.

2) Mempelajari , mengenal, dan memahami secara langsung pengolahan teh baik pengolahan teh hijau maupun teh hitam beserta cara kerja dari mesin dan alat yang digunakan saat proses pengolahan.

3) Pada sistem Orthodox derajat layu 44-46%, cita rasa air seduhan lebih kuat sedangkan pada sistem CTC derajat layu 32-35%,cita rasa air seduhan kurang kuat.

4) Pemasaran pada PT. Mitra Kerinci dengan dua tujuan yaitu ekspor dan konsumsi lokal.

5) Pendistribusian PT. Mitra Kerinci dengan menggunakan truk kontainer. 6) Waktu yang digunakan untuk proses produksi sangat efisien karena

produksi berlansung 24 jam.

7) Cara kerja dari mesin OTR single action pada teh hijau yaitu tabung silinder dari mesin yang berputar, sedangkan penampang bawahnya tetap diam berbeda dengan mesin OTR pada teh hitam yang mana menggunakan mesin OTR double action yang mana tabung dan penampangnya berputar sehingga menghasilkan output teh yang lebih halus.

(39)

39 5.2. Saran

1. Dalam hal pemetikan sebaiknya pengisian kedalam keranjang maupun waring tidak terlalu padat agar pucuk tidak memar.

2. Para pemetik sebaiknya selalu diberi pengarahan agar pemetikan yang dilakukan hanya pucuk daun saja. Sehingga meminimalisir terbawanya daun tua, ranting serta kotoran dalam proses pengolahan agar teh yang dihasilkan berkualitas.

3. Bubuk teh kering yang baru saja keluar dari TSD seharusnya didinginkan terlebih dahulu hingga suhunya mencapai 300C sebelum dilakukan proses sortasi.

4. Perlu dilakukan proses pembersihan secara berkala pada alat, mesin, serta bangunan seperti atap, dinding, dan lantai.

5. Diruang produksi seperti dibagian sortasi ditambah lagi blower agar debu dari teh tersebut keluar.

(40)

40

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, S. 1992. Petunjuk Kultur Teknis Tanaman Teh. Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung. Bandung. Arifin, S. 1994. Petunjuk Teknis Pengolahan Teh. Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung. Bandung.

Arifin, S. 1994. Petunjuk Teknis Pengolahan Teh. Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung. Bandung.

Nazaruddin, Fary B, Paimin. 1993. Pembudidayaan dan Pengolahan Teh. Penebar Swadaya. Jakarta.

Setyamidjaja, Djoehana. 2000. TEH, Budidaya dan Pengolahan Pasca Panen. Kanisius. Yogyakarta.

(41)

41 Lampiran 1. Spesifikasi Mesin Teh Hijau. 1. Withering Trough

Jumlah : 1 unit

Kapasitas : 1.500 kg pucuk segar / unit Tahun pembuatan : Tahun 1998

Spesifikasi teknis : a) BADAN WT

- 1 unit : Lebar X Tinggi x Panjang = 2.200 mm X 950 mm X 16.200 mm

- 1 unit : Lebar X Tinggi x Panjang x tinggi = 2.200 mm X 950 mm X 4.000 mm

b) AXIAL FLOW FAN ALUMUNIUM O 48 ’’

- Kapasitas : 36.000 – 40.000 cfm.

- Motor Penggerak : 10 HP, 960 Rpm, 660 / 380 Volt. 1. Rotary Panner

Jumlah : 4 unit

Tipe : Double silinder

Tahun pembuatan : Tahun 2013

Kapasitas terpasang : ± 800 kg / jam / mesin

Motor penggerak : Motor induksi 3 HP ; 220/380 V ; 3 phase Diameter & panjang silinder : Ø 74 cm ; 640 cm

Ukuran tungku : 240 cm x 180 cm

Ukuran mesin (mantel) : Panjang 640 cm ; lebar 225 cm ; tinggi 260 cm

(42)

42

a. Konveyor input rotary panner dari wt pabrik teh hitam ke pabrik teh hijau. Jumlah : 1 unit

Kapasitas terpasang : ± 2500 Kg / jam Tahun Pembuatan : Tahun 2013 Spesifikasi Konveyor

- Panjang 16 meter dan Lebar 50 cm

- Bahan besi C 150, plat eizer 2 mm, electromotor 3 HP, 380 V, 1450 RPM,

- Gearbox type 100 rasio 1 : 20, transport ban type sersan lebar 50 cm , 2 ply.

b. Konveyor input rotary panner

Jumlah total : 8 unit (Masing-masing Rotary Panner 2 konveyor) Kapasitas terpasang : ± 800 Kg / jam

Tahun Pembuatan : Tahun 2013 Spesifikasi Konveyor input Rotary Panner

- Panjang 350 cm dan Lebar 50 cm

- Bahan besi C 150, plat eizer 2 mm, electromotor 1 HP, 380 V, 1450 RPM,

- Gearbox type 70 Rasio 1 : 20, transport ban type sersan lebar 50 cm , 2 ply.

- exhaust fan 18” ; 0,2 Hp ; 220 V0lt ; 1 Phase. c. Konveyor output rotary panner

Jumlah : 1 unit

Kapasitas terpasang : ± 2000 Kg / jam Tahun Pembuatan : Tahun 2013 Spesifikasi Konveyor output Rotary Panner

(43)

43

- Panjang 20 m, Lebar 50 cm, Tinggi 40 cm

- Bahan besi C 150, plat eizer 2 mm, electromotor 2 HP, 380 V, 1450 RPM,

- Gearbox type 80, Rasio 1 : 20 transport ban sersan lebar 50 cm , 2 ply 2. Rotary Colling (Glebek)

Jumlah : 1 unit Tahun Pembuatan : Tahun 2013 Kapasitas terpasang : ± 2000 Kg / jam

Motor Penggerak : mototor induksi 3 HP; 220/380 V 3 Phase.

Mekanik Penggerak : Pulley 4” ke 5”, gearbox 1 :20, Sporket T 25 ke T60 ; rantai RS 60.

Silinder : Diameter Ø 120 cm, panjang 280 cm diameter perforasi Ø 1 inci.

Ukuran Mesin : Panjang 280 cm ; lebar 180 cm ; Tinggi 200 cm. Exhaust fan : 24” ; 0,5 Hp ; 220 V0lt ; 1 Phase.

a. Konveyor Input Rotary Colling Jumlah : 1 unit Tahun Pembuatan : Tahun 2013 Kapasitas terpasang : ± 2000 Kg / jam Spesifikasi Konveyor input Rotary Colling

- Panjang 450 cm dan Lebar 60 cm

- Bahan besi C 150, plat eizer 2 mm, electromotor 1 HP, 380 V, 1450 RPM,

- Gearbox type 70 rasio 1 :20 , transport ban lebar 50 cm x 2 ply,

(44)

44 b. Konveyor Output Rotary Colling

Jumlah : 1 unit Tahun Pembuatan : Tahun 2013 Kapasitas terpasang : ± 2000 Kg / jam Spesifikasi Konveyor output Rotary colling

- Panjang 20 m, Lebar 50 cm, Tinggi 40 cm

- Bahan besi C 150, plat eizer 2 mm, electromotor 2 HP, 380 V, 1450 RPM,

- Gearbox type 80, Rasio 1 :20 transport ban sersan lebar 50 cm x 2 ply. 3. OTR (Open Top Roller) Single Action

Jumlah : 1 unit

Kapasitas : 350 – 375 Kg / proses

Tahun Pembuatan : Tahun 1993 / PT. Padu TEHA - Bandung Spesifikasi Teknis :

- Diameter : Ø 1.183 mm atau Ø 47 ’’

- Putaran engkol : 40 – 42 Rpm

- Electromotor : 20 HP, 1440 Rpm, 50 HZ, 380 – 660 volt

- Gear Box : WO 08 ex Import Ratio 1 : 20 Konveyor Input Utama Open Top Roller

Jumlah : 1 unit

Tahun Pembuatan : Tahun 2013

Kapasitas terpasang : ± 350 – 375 Kg / proses Spesifikasi Konveyor input Open Top Roller

- Panjang 550 cm dan Lebar 40 cm

(45)

45

- Gearbox type 70 rasio 1:20 , pulley 5” ke 6” transport ban lebar 40 cm ; 2 ply

Konveyor Pembagi Open Top Roller

Jumlah : 1 unit

Tahun Pembuatan : Tahun 2013

Kapasitas terpasang : 350 – 375 Kg / proses Spesifikasi Konveyor input Open Top Roller

- Panjang 600 cm dan Lebar 40 cm

- Bahan besi C 150, plat eizer 2 mm, electromotor 1 HP, 380 V, 1450 RPM,

- Gearbox type 70 rasio 1:20 , pulley 5” ke 6” transport ban lebar 40 cm ; 2 ply

Konveyor input open top roller

Jumlah : 1 unit

Tahun Pembuatan : Tahun 2013

Kapasitas terpasang : 350 – 375 Kg / proses Spesifikasi Konveyor input Open Top Roller

- Panjang 400 cm dan Lebar 40 cm

- Bahan besi C 150, plat eizer 2 mm, electromotor 1 HP, 380 V, 1450 RPM,

- Gearbox type 70 rasio 1:20 , pulley 5” ke 6” transport ban lebar 40 cm ; 2 ply

4. Endless Chain Presure Dryer (E C P Dryer)

- ECP 6 feet : 3 unit

Tahun Pembuatan : 2 unit 1993 dan 1 unit 1994 / PT. VIRNAMAS BANDUNG

(46)

46

Kapasitas : 475 Kg / Daun Basah Motor Penggerak : 3 HP; 220/380 V Motor Blower : 5 HP; 220/380 V

- ECP 4 feet : 3 Unit

Tahun Pembuatan : 2 Unit Tahun 1996 / PT. IDE TEGAL Kapasitas : 300 Kg / Pucuk Layu

Motor Penggerak : 3 HP; 220/380 V Motor Blower : 5 HP; 220/380 V

a. Heater endless Chain Pressure (HE ECP)

Jumlah : 6 unit

Tahun Pembuatan : Tahun 2013 Spesifikasi HE ECP :

- Cylinder utama : Tinggi 450 cm, Diameter 110 cm dan 85 cm, Bahan plat stainless Steel 304 tebal 4 mm

- Mantel : Diameter 138 cm, Bahan plat eizer 4 mm, 2 mm dan Glass wool

- Tungku : Bahan plat eizer 2 mm, 5 mm, 12 mm, 40 mm, besi UNP 100, Plat stainless Steel 304 tebal 3 mm, Blower 3”, Voltage 220V, power 180 W, speed 2840 Rpm, static pressure 1100 pascal, kapasitas 408 cmh.

- Kontrol temperature : Thermocontroler digital HY 72D kapasitas 399o C b. Konveyor Output Chain Pressure (ECP)

Jumlah : 1 unit

Tahun Pembuatan : Tahun 2013 Kapasitas terpasang : ± 1300 Kg / jam Spesifikasi Konveyor output Rotary colling

(47)

47

- Panjang 20 m, Lebar 50 cm, Tinggi 40 cm

- Bahan besi C 150, plat eizer 2 mm, electromotor 2 HP, 380 V, 1450 RPM,

- Gearbox type 80, Rasio 1 :20 transport ban sersan lebar 50 cm x 2 ply. 5. Ball Tea

Ball Tea ex Taiwan

Jumlah : 5 unit

Tahun Pembuatan : Tahun 1991

Kapasitas : 120 Kg Teh Kering / Proses Motor Penggerak : 2 HP

Elemen Pemanas : 1500 watt X 10 pcs

Ball Tea Standar ex PT. Teha Bandung

Jumlah : 6 unit (TH1 sd TH 6)

Tahun Pembuatan : Tahun 1993

Kapasitas : ±220 Kg Teh Kering/Proses Motor Penggerak : 3 HP; 220/380 V

Elemen Pemanas : 1500 watt X 20 pcs Ball Tea Standar ex PT. Teha Bandung (semi jumbo) Jumlah : 1 unit (TH 7 atau INO 11) Tahun Pembuatan : Tahun 1993

Kapasitas : ± 280 Kg Teh Kering/Proses Motor Penggerak : 3 HP; 220/380 V

Pemanas : Heater Type Vertikal

(48)

48

- Tinggi tungku 310 cm, diameter reaktor 87 cm

- Bahan plat stainless steel 304, dicor dengan castable dan dibungkus glass wool.

- Cerobong asap pipa stainless steel 304 diameter 3” tebal 6 mm

- Blower keong 3”, voltage 220V, power 180 W, speed 2840 Rpm, static pressure 1100 pascal, kapasitas 408 cmph

- Kontrol temperature dengan thermocontrol digital HY 72D kapasitas 399 0

C

Ball Tea Jumbo ex PT. Teha Bandung

Jumlah : 2 unit (TH 8 & TH 9) Tahun Pembuatan : Tahun 2001

Kapasitas : ± 350 Kg Teh Kering / Proses Motor Penggerak : 7,5 HP; 220/380 V

Pemanas : Heater Type Vertikal

Spesifikasi Heater Boll Tea Double type Cilynder Boll tea Prima Putra :

- Tinggi tungku 310 cm, diameter reaktor 87 cm

- Bahan plat stainless steel 304, dicor dengan castable dan dibungkus glass wool.

- Cerobong asap pipa stainless steel 304 diameter 3” tebal 6 mm

- Blower keong 3”, voltage 220V, power 180 W, speed 2840 Rpm, static pressure 1100 pascal, kapasitas 408 cmph

- Kontrol temperature dengan thermocontrol digital HY 72D kapasitas 399 0

(49)

49 Ball Tea ex PT. Ide – Tegal

Jumlah : 2 unit (IDE 1 & IDE 2) Tahun Pembuatan : Tahun 2001

Kapasitas : ± 220 Kg / Proses Motor Penggerak : 3 HP

Elemen Pemanas : 1500 watt X 20 pcs Ball Tea Prima Putra

Spesifikas Ball Tea Prima Putra

Jumlah : 2 unit

Tahun Pembuatan : Tahun 2001 Kapasitas : ± 370 Kg / Proses 1 Ukuran Mesin :

• Diameter Silinder = 2.000 mm (Plat SUS 304, 2 mm) • Panjang Silinder = 2.300 mm

• Lebar Mesin = 1.350 mm

• Panjang = 4.200 mm

• Tinggi = 2.300 mm

2 Penggerak :

• Elektro Motor = 7,5 HP, 1440 Rpm, 380V, 3 Phase • Gear Box = Tipe 120 ; ratio 1 : 20 Sprocket RS 80.

3 Exhaust Fan

• Electromotor = 1 HP ; 1450 Rpm • Tipe Exhaust Fan = Sirocco Fan ∅ 10’’

(50)

50

4 Pemanas dengan Heater Type Vertikal

Spesifikasi Heater Boll Tea Double type Cilynder Boll tea Prima Putra :

- Tinggi tungku 310 cm, diameter reaktor 87 cm

- Bahan plat stainless steel 304, dicor dengan castable dan dibungkus glass wool.

- Cerobong asap pipa stainless steel 304 diameter 3” tebal 6 mm

- Blower keong 3”, voltage 220V, power 180 W, speed 2840 Rpm, static pressure 1100 pascal, kapasitas 408 cmph

- Kontrol temperature dengan thermocontrol digital HY 72D kapasitas 399 0

C.

6. Rotary Dryer

Jumlah : 5 unit (dipakai 1 Unit)

Tahun Pembuatan : Tahun 1993 / PT. VIRMANAS Kapasitas : 400 – 500 kg Teh Kering/HR Motor Penggerak : 3 HP; 220 / 380 V; 1440 RPM Ukuran Tungku : 95 cm x 138 cm

7. Stalk Seperator (SS)

Jumlah : 8 unit

Tahun Pembuatan : 6 Unit Tahun 1994 & 2 Unit Tahun 2001 Ukuran (p x l x t) : 1.800 mm x 1000 mm x 1600 mm

Kapasitas : 100 Kg Teh Kering /Jam Motor Penggerak : 0,5 KW; 1450 RPM; 220/380 V

Putaran as xcentrik : 80 RPM, fungsi sebagai penggetar meja ayakan.

(51)

51 9. Mydelton 2 Tingkat

Jumlah : 2 Unit

Tahun Pembuatan : Tahun 1994

Kapasitas : 200 Kg Teh Kering/Jam Motor Penggerak : 3 HP; 1450 RPM; 220/380 V Buble trays : diameter 12 mm, 10 mm dan 8 mm. 10. Chota Extraktor

Jumlah : 3 Unit

Tahun Pembuatan : 2 Unit Tahun 1993 & 1 Unit Tahun 2001

Kapasitas : 600 Kg/Jam

Motor Penggerak : 3 HP; 220/380 V; 1450 RPM

Mesh : 30, 24, 18, 12, 8

11. Winower

Jumlah : 2 Unit

Tahun Pembuatan : Tahun 1993 dan tahun 2001 Kapasitas : 350 s/d 400 Kg/Jam

Motor Penggerak : 7,5 HP; 220/380 V; 1450 RPM 12. Cutter

Jumlah : 1 Unit

Tahun Pembuatan : Tahun 2013

Kapasitas : ± 200 Kg/Jam

Motor Penggerak : 2 HP; 220/380 V; 1450 RPM

(52)

52 13. Disk Mill (model DM45)

Jumlah : 1 Unit

Tahun Pembuatan : Tahun 1993 dan tahun 2001 Kapasitas : 45 s/d 400 Kg/Jam

Motor Penggerak : 7,5 HP; 220/380 V; 1450 RPM

Ukuran Gigi : 34 cm

(53)

53 Lampiran 2. Spesifikasi Teh Hitam

1. MONORAIL

Jumlah : 1 unit

Tahun Pembuatan : Tahun 1998 Spesifikasi Teknis :

- Panjang lintasan : +/- 180 mtr Horizontal

- Jumlah drive sprocket : 2 unit

- Electromotor : 3 HP, 3 Phase, 50 Hz, 1.450 Rpm, 220/380 volt

- Gear Box : Shinko SKKS 100 : 1 : 20

- Jumlah Idle Sproket : 4 unit

- Kursi Pengantar : +/- 90 Bh (Carrier/kursi

- Kapasitas Max Kecepatan : 30 M/Menit 2. Withering Trough ( WT )

Jumlah : 30 unit

Kapasitas : 1.500 Kg Pucuk Segar / unit

Tahun Pembuatan : 24 unit Tahun 1998; 6 unit tahun 2007 Spesifikasi Teknis : A. Transition Duct : - Diameter : 1.200 mm - Panjang : 1.500 mm - Luas persegi : 1.830 X 600 mm B. Badan WT

(54)

54 C. Axial Flow Fan Jenis Flexible Ø 48 ’’

- Kapasitas : 36.000 – 40.000 cfm

- Motor Listrik : 10 HP, 960 Rpm, 220 - 380 Volt 3. Open Top Roller ( OTR ) Double Action

Jumlah : 3 unit

Kapasitas : 350 Kg / proses

Tahun Pembuatan : Tahun 1998 / PT. Padu Usaha - Bandung Spesifikasi Teknis :

- Diameter : Ø 1.173 mm atau Ø 47 ’’

- Putaran engkol : 42 – 45 Rpm

- Electromotor : 20 HP, 1440 Rpm, 50 HZ, 380 – 660 volt.

- Gear Box : Merk Renold England size WV 08 Ratio 1 : 20 Keterangan lain :

Luas area yang diperlukan :

- Panjang : 2.625 mm

- lebar : 2.210 mm

- Tinggi : 1.965 mm

4. DIBN ( ayakan daun basah )

- Jumlah : 2 unit

- Ukuranmeja : 5850 mm X 935 mm X 2 meja

- Kapasitas pengayakan : 25 kg / Menit ( = 3.900 Kg/jam) x 1.200 kg/Jam

- Tahun Pembuatan : Tahun 1998 / Padu Usaha Bandung

- Putaran poros engkol : 120 putaran / menit

(55)

55 5. Rotorvane 15”

a. Cylinder

- Diameter Cilinder / Barrel : 15”

- Panjang Mesin : + 1.376 mm - Putaran Mesin : 34 – 38 rpm. b. Penggerak.

- Elektromotor Penggerak Tipe Y 180 M – Y dan Worm reducer berikut Star Delta Starter, Merk F.B.E, Daya 25 HP , 18,5 Kw, 1470 RPM, 380 / 660 V, 20,7 A.

- Gear Box Type U 9 Merk ALLOROID, R= 1: 20, Putaran 44 RPM c. Conveyor.

- Elektromotor 1 HP / 1450 Rpm, Lengkap Starter. d. Vane 11 Pcs; Gear Box : WPA Tipe 70 Ratio 1: 20 6. Rotorvane 8”

Data – Data Teknik : a) Electromotor Conveyor

Merk : TECO, 1400 Rpm, 1 Hp, 380 V. b) Data Gear Box Conveyor.

Rasio 1 : 30, 1 HP, 1410 RPM, 380 V, 1,9 Ampere. c) Data Gear Box Penggerak Rotorvane.

Merk : Alloroid, Rasio 1 : 15, 37/38 RPM, 21,2 Ampere d) Electromotor penggerak

Merk : TECO, 961 Rpm, 15 Hp 7. Humidifier

(56)

56

Jumlah : 3 unit

Kapasitas : 18 ltr / jam ( 4 gallon per jam)

Merek : Mellor Bromley

Tahun Pembuatan : Tahun 1998

Sirkulasi udara : 42,45 m 3 / menit ( 1.500 cfm ) Electromotor : 1/6 HP, 3 phase 50 Hz, 220 volt. 8. Two Stage Dryer ( TSD )

Jumlah : 3 unit

Kapasitas terpasang : 225 – 250 kg teh kering / jam

Tahun Pembuatan : 2 unit tahun 1998 & 1 unit tahun 1999 (Buatan PT. Padu Usaha)

A. Spesifikasi Teknis

- Ukuran Mesin : Panjang x Lebar x Tinggi = 8.062 mm x 2.142 mm x 1.445 mm

- Ukuran Trays : 107 X 1930 mm X 1,5 mm, sebanyak 308 pcs

- Lubang perporosi : diameter 2 mm, Jumlah lubang perporosi 56 – 64 / inchi2

B. Multi tubular heater

- Ukuran : Panjang x lebar x tinggi = 3.480 mm x 3.660 mm

x 2.800 mm

C. Telah dimodifikasi tahun 2006, bahan bakar minyak solar dikonversi dengan cangkang sawit dengan pemakaian cangkang sawit 1.40 – 1,60 kg cangkang per kg teh jadi

(57)

57

D. Main Fan : Centrifugal back ward 180; 30 HP; Kapasitas 21.000 – 22.000 cfm

- Electromotor : 30 HP, 1.440 Rpm, 50 Hz, 380/ 660 V, 1.425 Rpm E. Induced Draft Fan

- Kapasitas : ± 2.800 cfm

- Electromotor : 7,5 HP, 1.440 Rpm, 3 phase, 50 Hz, 380 Volt, 980 Rpm

8. Vibro Extractor

Jumlah : 2 unit Horizontal 1 unit Vertical yang dimodifikasi menjadi horizontal table.

Tahun Pembuatan : Tahun 1998 ( Padu Usaha – Bandung ) Kapasitas terpasang : 350 - 400 Kg / jam

Kapasitas realisasi : 170 kg / jam

Electromotor : 3 HP, 1.500 Rpm, 50 Hz, 220 – 380 volt 9. Indian Sortir :

Jumlah : 2 unit

Tahun Pembuatan : Tahun 1998 ( 1unit Padu Usaha dan 1 unit PT TEHA - Bandung )

Kapasitas terpasang : 1.200 Kg / jam Kapasitas realisasi : 433 Kg / jam

Electromotor : 3 HP, 1.500 Rpm, 50 Hz, 220 – 380 volt 10. Chota Shifter :

Jumlah : 1 unit

(58)

58 Kapasitas terpasang : 600 Kg / Jam

Electromotor : 3 HP, 1.500 Rpm, 50 Hz, 220 – 380 volt 11. Myddleton Sifter

Jumlah : 3 unit

Tahun Pembuatan : 2 unit Tahun 1998 ( Padu Usaha ); 1unit 2001(TEHA)

Kapasitas terpasang : 350 – 400 Kg / Jam

Electromotor : 3 HP, 1.500 Rpm, 50 Hz, 220 – 380 volt 12. Winnower / Siliran

Jumlah : 2 unit

Tahun Pembuatan : Tahun 1998 ( Padu Usaha – Bandung ) Kapasitas Terpasang : 900 Kg/jam

(59)

59

(60)

60 Lampiran 4. Dokumentasi Magang

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :