Absorpsi Gas CO 2 Dari Gas Campuran CO2-CH4 Melalui Kontaktor Membran Berbahan Polivinil Klorida Menggunakan Pelarut Campuran TEA-DEA

19 

Teks penuh

(1)

Absorpsi Gas CO

2

Dari Gas Campuran CO2-CH4 Melalui Kontaktor

Membran Berbahan Polivinil Klorida Menggunakan Pelarut Campuran

TEA-DEA

Fariz Danupraja1, Sutrasno Kartohardjono2

1. Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, Kampus Baru Universitas Indonesia, Depok, 16424, Indonesia

2. Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, Kampus Baru Universitas Indonesia, Depok, 16424, Indonesia

E-mail: danupraja@hotmail.com

Abstrak

Pengurangan kadar CO2 dari gas alam menjadi salah satu faktor penting dalam rangka peningkatan kualitas dari gas

alam serta efisiensi proses pengolahan gas alam. Salah satu metode dalam mengurangi kadar CO2 adalah dengan

proses separasi membran. Proses separasi CO2 dilakukan dengan menggunakan kontaktor membran serat berongga

dengan PVC sebagai membran pemisah fasa gas-cair dan trietanolamin sebagai larutan penyerap CO2. Dari

penelitian ini didapat tingkat perpindahan massa yang terjadi sangatlah rendah dibandingkan dengan metode konvensional ataupun penelitian terdahulu. Nilai perpindahan massa yang didapat pada penelitian ini yaitu antara 10

-8 hingga 10-7 m/s. Angka ini menunjukkan ditinjau dari segi perpindahan massanya pelarut TEA-DEA tidak efektif

digunakan untuk memisahkan CO2 dari gas alam.

CO2 Absorption From Gas Mixture of CO2-CH4 Through Hollow Fiber Membrane Based

From Polyvinyl Chloride Using TEA-DEA As Solvent Abstract

The reduction of CO2 from natural gas to one important factor in order to improve the quality of natural gas and natural gas processing efficiency. One method of reducing CO2 levels is the membrane separation process. In this study, the CO2 separation process is done by using a hollow fiber membrane contactor with PVC as membrane gas-liquid phase separator and triethanolamine-diethanolamine as CO2 absorbent solution. Obtained from this study mass transfer rate is very low compared with conventional methods or previous research. Mass transfer values obtained this study between 10-8 to 10-7 m/s. This figure shows the mass transfer in terms of solvent TEA-DEA is not

effectivly used to separate CO2 from natural gas.

Keywords: CO2 Absorption, Hollow Fiber Membrane, Triethanolamine (TEA), Diethanolamine (DEA), Polyvinyl Chloride (PVC)

Pendahuluan

Gas alam sudah menjadi alternatif bahan bakar maupun digunakan sebagai bahan baku industri. Gas alam digunakan sebagai bahan bakar dipengaruhi oleh menurunnya cadangan bahan

(2)

bakar minyak di bumi ini. Gas alam sendiri memiliki potensi yang sangat besar digunakan sebagai bahan bakar karena cadangannya yang sangat melimpah. Indonesia termasuk salah satu negara dengan cadangan gas alam yang banyak.

Gas alam terdiri dari senyawa hidrokarbon berupa gas, seperti metana (CH4), etana

(C2H6), propana (C3H8), butana (C4H10) dan kondensat, namun gas alam memiliki kandungan

pengotor seperti air (H2O), nitrogen (N2), karbon dioksida (CO2), asam sulfida (H2S), dan

merkuri yang harus dihilangkan. Oleh karena itu sebelum gas alam digunakan untuk kepentingan industri maupun bahan bakar, zat pengotor ini harus dihilangkan di pabrik pengolahan gas.

Karbon dioksida atau CO2 merupakan salah satu pengotor (impurities) dalam gas alam.

CO2 dalam gas alam harus dipisahkan karena dapat menyebabkan korosi pada pipa, menurunkan

kalor pembakaran, menempati porsi yang besar dalam pipa, serta dapat membeku pada proses

kriogenik. Kehadiran CO2 juga dapat menyebabkan penurunan koversi dan juga sebagai racun

katalis di beberapa industri seperti pada pabrik sintesis gas. Hal ini akan mengganggu proses produksi yang berlangsung di industri (Kartohardjono, S 2011).

Berbagai macam teknologi dikembangkan untuk menghilangkan CO2 dari gas alam.

Namun yang paling umum digunakan yaitu teknologi amina menggunakan kontaktor kolom

dengan prinsip reaksi absorbsi CO2 pada larutan amina. Kontaktor kolom ini membutuhkan

ruang yang besar serta biaya investasi yang tinggi. Dalam prosesnya, kendala utama kontaktor kolom ini yaitu kemungkinan terjadinya flooding, entrainment, dan foaming, sehingga tidak mudah untuk mengoperasikan dan merawat unit ini (Al-Marzouqi et.al, 2007; Wang et.al, 2003).

Metode absorbsi terus dikembangkan karena teknologi ini masih menjadi yang paling

baik untuk memisahkan CO2 dibandingkan dengan teknologi lain. Kontaktor membran serat

berongga gas-cair merupakan pengembangan teknologi dari kontraktor kolom. Teknologi ini merupakan gabungan keuntungan dari kontraktor kolom dan teknologi membran. Kontraktor membran serat berongga dapat mengatasi keterbatasan kondisi operasi pada kontaktor kolom. Membran yang digunakan merupakan pembatas antara fasa cair dan fasa gas dengan luas kontak

yang besar sehingga efektivitas penyisihan bergantung kepada interaksi antara gas CO2 dan

absorben (Kartohardjono, S 2011).

Keuntungan menggunakan membran yaitu sebagai pembatas antara fasa cair dan gas namun, memberikan luas kontak yang besar dalam volume yang kecil untuk reaksi kedua fasa

(3)

ini. Beberapa keuntungan lainnya dari kontaktor membran yaitu aliran gas dan pelarut yang tidak berkontak secara langsung, sederhana, dan mudah untuk scale-up.

Berbagai macam kelemahan membran saat ini yaitu adanya batas kondisi suhu operasi maksimum. Jika suhu operasi melebihi kondisi maksimum, maka akan terjadi kerusakan pada

membran. Pori-pori membran akan membesar, sehingga pemisahan CO2 dari CH4 tidak optimal.

Selain itu energi yang cukup besar jika tekanan umpan tidak tinggi dan harga bahan membran membuat biaya operasional menjadi tinggi.

Polivinil kolrida atau biasa disingkat PVC merupakan senyawa yang kuat, tahan zat kimia, dan dapat menerima suhu yang lebih tinggi dibanding membran berpori lainnya. Penelitian PVC sebagai media separasi telah dilakukan, yaitu pada pemisahan oksigen dari air

(Juliana S, 2012) juga pemisahan CO2 murni melalui senyawa amina trietanolamin maupun

senyawa amina campuran (Servatius, 2012; Antonius 2012). Namun untuk pemisahan CO2

melalui membran PVC pada campuran CH4-CO2 belum diteliti pada larutan penyerap

trietanolamin.

Dari penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan hasil yang memuaskan dimana membran PVC dapat digunakan sebagai alternatif pengganti membran yang ekonomis dan juga kuat dan tahan terhadap kondisi operasi dan zat kimia. Hasil penelitian ini juga mengetahui

tingkat permeabilitas gas CO2 dan gas CO4 terhadap membran PVC dengan larutan penyerap

trietanolamin. Tinjauan Teoritis

Absorbsi merupakan suatu proses dimana suatu gas (absorbat) terperangkap ke dalam suatu media cair (absorben) dan seolah-olah menjadi bagian dari keseluruhan media tersebut. Mekanisme perpindahan massa yang terjadi dipengaruhi oleh laju difusi dimana perbedaan konsentrasi pada fasa gas dengan fasa cair sebagai gaya penggeraknya. Absorbsi terdiri dari dua jenis yaitu:

1. Absobrsi fisika 2. Absorbsi kimia

Absorbsi fisika dicirikan dengan gaya tarik menarik antara absorbat dan absorben yang sangat lemah yaitu kurang dari 40 KJ/mol dan antara keduanya tidak membentuk senyawa kimia.

(4)

Absorbsi fisika terjadi karena adanya perbedaan konsentrasi. Ikatan gaya yang terjadi pada proses absorbsi fisik diakibatkan oleh gaya Van Der Walls dan gaya London (Prutton, 1982). Absorbsi kimia terjadi karena reaksi kimia antara senyawa pada fasa gas dengan media penyerap. Absorbsi kimia memiliki gaya tarik menarik yang sangat kuat sehingga terbentuk senyawa kimia dengan energi ikatannya sebesar 300 KJ/mol (Nieuwnhuizen dan Barendez, 1987). Karena energi yang besar ini, dibutuhkan energi yang cukup besar pula dibandingkan absorbsi fisik dalam proses desorbsinya.

Absorbsi gas CO2 pada senyawa amina merupakan absorbsi secara kimiawi, dimana terjadi

reaksi antara CO2 dengan senyawa amina membentuk senyawa kompleks (ion karbamat) dengan

ikatan kimia yang cukup rendah (Wang, et.al, 2003). Energi yang rendah ini merupakan salah satu keuntungan amina, sehingga hanya dibutuhkan sedikit pemanasan untuk meregenerasi absorben.

Larutan penyerap amina digunakan sebagai absorben pada absorbsi CO2. Energi ikatan yang

tidak terlalu tinggi, dan penyerapan yang efektif menjadikan amina sebagai larutan penyerap yang banyak digunakan dibandingkan dengan air atau NaOH. Amina ini sendiri terdiri dari bermacam-macam senyawa, antara lain Ethanolamine atau monoethanolamin (MEA), diethanolamine (DEA), triethanolamine (TEA), hydroxyethanolamine atau diglikolamin (DGA), Diisopropanolamin (DIPA), dan methyldiethanolamine (MDEA).

Pertimbangan-pertimbangan dalam pemilihan larutan amina ini yaitu (Bullin dan Polasek, 2011): 1. Konsentrasi larutan yang tinggi (hingga 50-55%)

2. High acid gas loading 3. Laju degradasi yang rendah 4. Tekanan uap rendah

5. Harga yang ekonomis

Amina yang banyak digunakan diindustri pengolahan gas adalah MEA, DEA, dan MDEA. Larutan tersebut memiliki keunggulan masing-masing, dan diantaranya telah coba dikombinasikan. Contohnya yaitu kombinasi antara DEA dan MDEA atau MEA dan MDEA. TEA merupakan larutan penyerap yang pertama kali digunakan secara konvensional namun kapasitas, reaktivitas, dan stabilitas yang rendah membuat pemakaian TEA ditinggalkan

(5)

(Hamborg, E.S, 2011). Walaupun begitu banyak juga keuntungan lain TEA seperti yang dideskripsikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Karakterisik amina sebagai absorben dalam absorbsi gas  

Parameter Sifat/Karakteristik

MEA DEA MDEA TEA

Harga (Merck Millipore) Ekonomis

Tidak terlalu mahal

Paling

mahal Mahal

Tingkat korosi Paling

korosif Korosif

Tidak korosif

Tidak korosif Acid Gas Loading (Shimekit, B

dan Mukhtar, H, 2012)

100%,

tinggi 58% 51%

41%, rendah Tekanan Uap (Shimekit, B dan

Mukhtar, H, 2012) 1,05 mmHg 0,058 mmHg 0,0061 mmHg 0,0063 mmHg

Dalam pemakaiannya TEA memang ditinggalkan, namun penelitiannya masih terus berlanjut karena berbagai keuntungan. Keuntungan TEA sebagai absorben yaitu:

1. Tidak korosif

2. Kapasitas asam yang baik

3. Tekanan Uap yang sangat rendah

Atas dasar tersebut triethanolamin menjadi larutan penyerap amina (absorben) pada penelitian ini dan juga diethanolamin sebagai larutan tambahan.

Prinsip pemisahan CO2 menggunakan kontaktor membran ialah dengan prinsip perbedaan

permeabilitas antara CO2 dengan CH4. Permeabilitas merupakan kemampuan relatif senyawa

(6)

C2+, CH4, N2 CO Ar O2 H2S, CO2 He, H2 H2O

Gambar 1. Tingkat laju permeabilitas gas  

 

Dapat dilihat pada gambar tersebut laju permeabilitas CO2 lebih tinggi dibandingkan gas alam.

Gaya penggerak dari perpindahan massa karbon dioksida adalah perbedaan konsentrasi pada fasa gas dan cairan.

Gas dialirkan menuju kontaktor membran pada bagian shell, sedangkan larutan amina dialirkan pada bagian lumen. Bagian lumen dan selongsong ini dipisahkan dengan membran berpori. Lalu gas akan karbon dioksida akan terdifusi pada membran dan masuk menuju fasa cair. Tahap selanjutnya karbon dioksida akan bereaksi dengan senyawa amina dan terbawa keluar bersama senyawa amina.

Beberapa faktor yang dapat digunakan sebagai kriteria pemelihan membrane antara lain: 1. Porositas dan Permeabilitas

2. Hidrofobik

3. Kekuatan polimer tinggi 4. Fleksibel

Membran polipropilen yang biasa dipakai pada proses pemisahan gas menggunakan membran digunakan untuk melihat kualitas dari polivinil klorida seperti pada Tabel 2.4 berikut:

Tabel 2. Karakteristik Membran PVC  

Kriteria Polipropilen Polivinil

Klorida Permeabilitas (Membrane Society of

Australasia)

9,2 0.54

Hidrofobik (Accu Dyne Test) Θ = 102.1 Θ = 85,6

Tegangan Permukaan Kritis (Accu Dyne 30,5 37,9

Slow  

(7)

Test)

Kekuatan (shimadzu) (MPa) 38.2 66.6

Fleksibilitas (shimadzu) (MPa) 1940 3240

Harga mahal murah

Sumber: MSA, ADT, Shimadzu

Berdasarkan tabel diatas, perpindahan massa yang terjadi pada membran PVC akan kurang baik dibandingkan dengan membran PP. Hal ini dibuktikan dari tingkat permeabilitas dari masing-masing membran dimana membran PP memiliki permeabilitas yang jauh lebih baik dibandingkan dengan PVC. Selain itu untuk masalah hidrofobik keduanya sudah termasuk membran yang hidrofobik. Namun tetap membran polipropilen lebih baik dibandingkan membran PVC.

Beberapa kriteria yang menjadi pertimbangan dalam pemilihan membran yaitu stabilitas kimia, serta kuat dan tahan lama, serta keekonomian. PVC merupakan membran yang cukup kuat dan tahan pada kondisi laju alir yang tinggi. PVC juga berisfat inert terhadap bahan kimia sehingga tingkat stabilitas kimianya sangat baik.

Penelitian terdahulu tentang absorpsi gas CO2 dengan pelarut TEA pada membran PVC diuji

pada gas CO2 murni. Untuk itu penelitian ini harus diujicobakan pada gas alam dengan campuran

gas CO2-CH4 sebagai modelnya untuk mengetahui seberapa baik penyerapan yang terjadi pada

gas campuran. Metode Penelitian

Penelitian yang dilakukan dibagi menjadi lima bagian, yaitu studi literatur, pembuatan alat,penyusunan alat, eksperimen (meliputi uji perpindahan massa dan hidrodinamika), pengolahan data, serta penulisan hasil dan analisa.

(8)

Membuat analisa dan kesimpulan Menyiapkan alat dan bahan

Menyalakan pompa dan mengisi reservoir dengan cairan penyerap TEA

Merangkai peralatan menjadi suatu sistem tertutup

Menunggu hingga kondisi tunak dengan laju alir air pada flow meter yang konstan

Melakukan uji perpindahan massa

Mencatat data konsentrasi CO2 terlarut

Mengolah data dan membuat grafik Memvariasikan jumlah serat

Membuat kontaktor membran serat berongga dengan jumlah serat dan spesifikasi tertentu

Mengalirkan TEA dengan laju alir tertentu (mengatur flow meter) Studi literatur

Melakukan uji hidrodinamika

Mencatat data perbedaan tekanan gas yang melewati sistem

(9)

Eksperimen yang teridiri dari uji perpindahan massa dan uji hidrodinamika dilakukan dengan

memvariasikan laju alir pelarut TEA dan juga laju alir campuran gas CO2-CH4. Sebelum data

diambil harus dipastikan sistem dalam keadaan tunak agar mengurangi penyimpangan pada data. Pengambilan data percobaan dapat dilihat pada alat pengukur yang dipasang seperti liquid flow meter untuk mengukur laju alir pelarut, pH meter untuk mengukur keasaman pelarut, serta manometer digital yang digunakan untuk mengukur penurunan tekanan sepanjang kontaktor. Untuk dapat mengolah dan menganalisis uji perpindanan massa diperlukan data perubahan tingkat keasaman pelarut TEA saat melewati kontaktor membran. Namun, pada penelitian kali ini analisis perpindahan massa dilakukan dengan metode titrasi. Penurunan tekanan diperlukan untuk menganalis uji hidrodinamikanya. Data-data tersebut digunakan untuk menghitung nilai koefisien perpindahan massa dan menghubungkannya dengan aspek hidrodinamika.

Data-data yang diperolah pada eksperimen yaitu: a. Uji Perpindahan Massa

1. Laju alir pelarut TEA (variasi)

2. Laju alir gas masuk (variasi) dan keluar 3. Volume HCl yang dibutuhkan untuk titrasi 4. Jumlah Serat (variasi)

b. Uji Hidrodinamika

1. Penurunan tekanan pada kontaktor membran 2. Laju alir air

Dari penelitian ini didapat data-data yang dapat diolah pada pengolahan data. Data-data yang didapat yaitu suhu, pH awal, dan pH akhir absorben terhadap variasi laju alir gas umpan serta memvariasikan jumlah membran pada modul kontaktor membran. Dari data-data didapatkan

koefisien dan fluks perpindahan massa gas CO2 ke dalam pelarut trietanolamin dengan

persamaan: !! =!! ! !" (!∗!! !) (!∗!!!) (1) Dimana:

(10)

!! = laju alir volumetrik pelarut (m3/s)

A = luas kontak perpindahan massa (m2)

C* = kelarutan CO2 murni di dalam pelarut (mol/L)

C0 = konsentrasi gas CO2 awal dalam absorben

C1 = konsentrasi gas CO2 akhir dalam absorben

Luas kontak perpindahan massa dari kontaktor membran serat berongga dapat dihitung dengan persamaan:

!! = !!!!!! (2)

Dimana:

!! = luas kontak perpindahan massa (m2)

!! = jumlah serat dalam modul

!! = diameter serat (m)

L = panjang modul (m)

Dengan menggunakan koefisien perpindahan massa, fluks perpindahan massa dapat dihitung dengan persamaan:

! = !!∆! (3)

Dimana:

!! = koefisien perpindahan massa (m/s)

∆! = perbedaan konsentrasi awal dan akhir (mol/L)

Persamaan yang digunakan untuk menganalisis hidrodinamika adalah:

! = !!∆!

!!"!!! (4)

Dimana l adalah panjang serat membran, de diameter ekuivalen, ∆P merupakan perubahan

(11)

Hasil Penelitian

Analisis untuk mengukur persen CO2 terserap yang pertama menggunakan titrasi dengan

menggunakan normalitas pada zat yang akan di titrasi sehingga diketahui normalitas amina sisa. Tipe titrasi yang digunakan adalah titrasi asam kuat-basa lemah, dengan HCl sebagai zat titran.

Dapat dilihat bahwa semakin besar laju alir pelarut maka akan semakin besar pula CO2 yang

terserap. Hal ini disebabkan semakin cepat laju alir pelarut, maka semakin banyak amina yang

digunakan persatuan waktu untuk mengabsorbsi gas CO2. Selain itu, dengan semakin tingginya

laju alir pelarut, berarti memperkuat driving force dari perpindahan massa dimana konsentrasi

menjadi driving force perpindahan CO2 menuju pelarut. Pelarut yang sudah mengabsorbsi CO2

akan cepat terganti dengan pelarut baru, sehingga CO2 berpindah menuju pelarut dengan cepat.

Gambar 2. Profil Perubahan Laju Alir Pelarut Terhadap % CO2 Terserap Pada Membran 50

0   10   20   30   40   50   60   70   80   0   100   200   300   400   500   600   700   %  C O2  T er ser ap   Ql  (ml/menit)   DEA  0%   DEA  1%   DEA  2%  

(12)

Gambar 3. Profil Perubahan Laju Alir Pelarut Terhadap % CO2 Terserap Pada Membran 70  

 

Gambar 4. Profil Perubahan Laju Alir Pelarut Terhadap % CO2 Terserap Pada Membran 85  

 

Gambar di bawah ini menunjukkan tingkat perpindahan massa yang terjadi pada kontator membran. Semakin tinggi laju alir pelarut maka akan semakin tinggi pula koefisien perpindahan massa dan fluks perpindahan massanya. Semakin tinggi DEA yang ditambahkan membuat koefisien perpindahan massa dan fluks perpindahan massanya tinggi. Sedangkan pengaruh jumlah serat pada studi perpindahan massa yaitu, semakin banyak jumlah serat yang digunakan

0   10   20   30   40   50   60   70   0   100   200   300   400   500   600   700   %  C O2  T er ser ap   Ql  (ml/menit)   DEA  0%   DEA  1%   DEA  2%   0   5   10   15   20   25   30   35   0   100   200   300   400   500   600   700   %  C O2  T er ser ap   Ql  (ml/menit)   DEA  0%   DEA  1%   DEA  2%  

(13)

pada kontaktor maka akan menurunkan koefisien perpindahan massa dan juga fluks perpindahan massa.

Gambar 5. Pengaruh Laju Alir Pelarut Terhadap Koefisien Perpindahan Massa Pada Membran 50

Gambar 6. Pengaruh Laju Alir Pelarut Terhadap Koefisien Perpindahan Massa Pada Membran 70

0   0.5   1   1.5   2   2.5   3   3.5   0   100   200   300   400   500   600   700   kL  ( 10-­‐ 7  m/ s)   QL  (ml/menit)   DEA  0%   DEA  1  %   DEA  2%   0   0.2   0.4   0.6   0.8   1   1.2   1.4   1.6   1.8   2   0   100   200   300   400   500   600   700   kL  ( 10 -­‐7  m/ s)   QL  (ml/menit)   DEA  0%   DEA  1  %   DEA  2%  

(14)

Gambar 7. Pengaruh Laju Alir Pelarut Terhadap Koefisien Perpindahan Massa Pada Membran 85

Gambar 8. Pengaruh Laju Alir Pelarut Terhadap Fluks Pada Membran 50

0   0.1   0.2   0.3   0.4   0.5   0.6   0.7   0.8   0   100   200   300   400   500   600   700   kL  ( x10   -­‐7m/ s)   QL  (ml/menit)   DEA  0%   DEA  1  %   DEA  2%   0   0.5   1   1.5   2   2.5   3   3.5   4   0   100   200   300   400   500   600   700   J  ( 10 -­‐7    mo l/m 2s)   QL  (ml/menit)   DEA  0%   DEA  1  %   DEA  2%  

(15)

Gambar 9. Pengaruh Laju Alir Pelarut Terhadap Fluks Pada Membran 70

Gambar 10. Pengaruh Laju Alir Pelarut Terhadap Fluks Pada Membran 85

Uji hidrodinamika dilakukan untuk menghitung friksi yang terjadi pada modul. Friksi dapat dihitung secara teoritis maupun kenyataan yang terjadi secara langsung. Friksi yang didapat secara teoritis merupakan nilai gaya gesek yang terjadi secara ideal. Sedangkan friksi hasil uji coba sudah mencangkup faktor-faktor lain seperti sambungan dan pengotor.

0   0.2   0.4   0.6   0.8   1   1.2   1.4   1.6   1.8   0   100   200   300   400   500   600   700   J  ( 10 -­‐7    mo l/m 2s)   QL  (ml/menit)   DEA  0%   DEA  1  %   DEA  2%   0   0.05   0.1   0.15   0.2   0.25   0.3   0.35   0   100   200   300   400   500   600   700   J  ( 10 -­‐7    mo l/m 2 s)  

Laju  Alir  Pelarut  (ml/menit)  

DEA  0%   DEA  1  %   DEA  2%  

(16)

Pada penelitian kali ini nilai f dari percobaan sangat besar dibandingkan dengan f teoritis. Dalam percobaan ini ada beberapa faktor yang berpengaruh besar pada perbedaan gaya friksi ini. Pertama, gaya gesek yang dihitung secara teoritis merupakan gaya gesek pada kondisi ideal dan terjadi pada selongsong pipa biasa, tidak memperhitungkan faktor lain seperti ketahanan membran, dan sambungan pada kontaktor serta struktur dalam membran. Kedua, terjadinya penumpukan kotoran atau polarisasi konsentrasi pada permukaan membran yang dapat mengurangi energi dari aliran. Terakhir, terjadinya kebocoran pada sambungan lumen. Pada percobaan ini, membran yang digunakan sudah digunakan beberapa kali oleh peneliti sebelumnya sehingga ketahanannya menurun. Dari percobaan ini dapat kita lihat kelayakan dari kontaktor membran sendiri, dimana terjadi perbedaan yang cukup tinggi sehingga kemampuan kontaktor tidak maksimal.

Gambar 11. Profil perubahan friksi teoritis dan friksi penelitian dengan jumlah serat 50 terhadap laju alir pelarut

Pembahasan

Berdasarkan uji hidrodinamika, ketahanan membran sudah sangat berkurang sehingga dapat mempengaruhi hasil uji perpindahan massa. Pada uji perpindahan massa, nilai dari koefisien perpindahan massa jauh lebih kecil dibandingkan percobaan sebelumnya. Begitu pula dengan fluks perpindahan massanya.

0.01 0.1 1 10 1 10 100 1000 f Re

f Teoritis Jumlah Serat 50 f Teoritis Jumlah Serat 70 f Aktual Jumlah Serat 50 f Aktual Jumlah Serat 70

(17)

Alasan nilai bilangan perpindahan massa tersebut kecil yaitu, pertama, ketahanan membran yang semakin menurun. Ini dapat dijelaskan dari uji hidrodinamika yang sangat jauh dari nilai teoritisnya. Pada dasarnya, nilai ini jauh dari nilai teoritis karena struktur dasar kontaktor membran tidak bisa disamakan dengan pipa biasa. Namun seharusnya nilai ini mendekati tidak terlalu jauh.

Kedua, penggunaan model gas alam yaitu campuran gas CO2-CH4. Penggunaan model

gas alam ini meningkatkan tahanan gas pada sistem meningkat. Penelitian terdahulu hanya

menggunakan gas CO2 saja dalam penelitiannya. Penambahan gas metana membuat tahanan gas

meningkat sehingga koefisien perpindahan massanya berkurang.

Ketiga penentuan larutan penyerap yang tidak tepat. Seperti yang sudah dijelaskan pada

teori dan penelitian sebelumnya, larutan penyerap yang sangat baik dalam menyerap CO2 adalah

DEA. Namun pada penelitian ini DEA tidak digunakan sebagai larutan utama melainkan bertujuan sebagai pendorong kinerja dari pelarut utama. Tingkat perpindahan massanya masih kecil dibandingkan menggunakan DEA sebagai pelarut utama pada penelitian sebelumnya. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil pada penelitian absorpsi CO2 dengan menggunakan kontaktor

membran serat berongga menggunakan pelarut campuran TEA-DEA, yaitu:

1. Tingkat perpindahan massa sangat rendah dibandingkan penelitian sebelumnya yang disebabkan beberapa faktor, yaitu penggunaan pelarut yang tidak tepat dan ketahanan membran yang sudah menurun. Jangkauan koefisien perpindahan massa yang terjadi

yaitu mulai dari 1,21 x 10-8 m/s hingga 3,02 x 10-7 m/s. Sedangkan untuk fluks mulai dari

3 x 10-9 mol/m2shingga 3 x 10-7 mol/m2s

2. Penggunaan DEA sebagai pelarut tambahan menaikkan tingkat perpindahan massanya, namun tidak signifikan. Dapat dibilang penambahan DEA sebagai pendorong kinerja pelarut TEA tidak efektif.

3. Proses absorbsi CO2 dengan menggunakan absorben TEA-DEA dengan komposisi

10%:2% melalui kontaktor membran serat berongga berbahan PVC tidak efektif

(18)

Saran

Ada pun saran untuk penelitian selanjutnya yaitu:

1. Pembuatan modul baru, mengingat modul yang ada telah menurun ketahanannya.

2. Melakukan penelitian dengan menggunakan larutan MEA, MDEA, dan DEA serta kombinasinya dan meninggalkan penggunaan larutan TEA karena sudah terbukti tidak efektif dari penelitian ini dan sebelumnya.

Daftar Referensi

Baker, R. W. 2004. Membrane Technology and Applications. California: John Wiley & Sons Ltd.

C., Yu. W. dan G. Astarita, 1985. “Kinetics of Carbon Dioxide Absorption in solutions of methyldiethanolamine”. Chem. Eng. Sci., 40: 1753.

Dortmundt, D. dan Doshi Kishore, 1999. “Recent Development in CO2 Removal Membrane

Technology”. UOP Journal.

Eriek, Antonius. 2012. “Absorpsi CO2 Melalui Kontaktor Membran Serat Berongga

Menggunakan Larutan Penyerap Campuran Senyawa Amina (MEA/DEA): Variasi Komposisi Amina”. Skripsi. Depok: Departemen Teknik Kimia FTUI.

Dindore, Vishwas Yashwant. 2003. Gas Purification Using Membrane Gas Absorption Process. Thesis. Netherlands: University of Twente

Haikal, Muhammad.2009. Pemanfaatan Pelarut Bahan Alam dari Daun Mengkudu (Morinda

Citrifolia) dalam Absorpsi CO2 Melalui Kontaktor Membran Serat Berongga.Skripsi.

Depok: Departemen Teknik Kimia FTUI.

Juliana, Samantha. 2013. Pemisahan Oksigen Terlarut dalam Air Menggunakan Kontaktor Membran Serat Berongga Polivinil Klorida melalui Metode Degassing Vakum untuk Menghasilkan Air Ultramurni.Skripsi. Depok: Departemen Teknik Kimia FTUI.

Kartohardjono, Sutrasno., Subihi, Anggara., Yuliusman. 2007. Absorbsi CO2 Dari Campurannya

Dengan CH4 Atau N2 Melalui Kontaktor Membran Serat Berongga Menggunakan

(19)

Kartohardjono, S. 2010. Shell Side Mass Transfer and Fluid Hydrodynamics in Sealed End Hollow Fiber Membrane Gas-Liquid Contactor.Saarbrücken: Lambert Academic Publishing AG & Co. KG.

Perry, R. H. & Green, D. W. 1997. Perry's Chemical Engineering's Handbook.Columbus, OH: McGraw-Hill.

Ramaida, Sherlyn Esther. 2013. CO2 Absorption Through Hollow Fiber Membrane Using

Triethanolamine: Gas Flow Rate Variation. Skripsi. Depok: Departemen Teknik Kimia FTUI.

Rangwala, Huseni A.,, 1995. “Absorption of Carbon Dioxide into Aqueous Solutions Using Hollow Fiber Membrane Contactors”. Journal of Membrane Science.

Servatius. 2012. “Absorpsi gas CO2 Melalui Kontaktor Membran Serat Berongga Menggunakan

Larutan Penyerap Tunggal dan Campuran Senyawa Amina Pengaruh Laju Alir CO2”.

Skripsi. Depok: Departemen Teknik Kimia FTUI.

Wang, R, et al, 2003. “Impact of DEA solutions with and without CO2 loading on porous

polypropylene membranes intended for use as contactors”. Journal of Membrane Science.

Yeong-Seok, Kim., Seung-Man, Yang. 2000. Absorption Of Carbon Dioxide Through

Hollow Fiber Membranes Using Various Aqueous Absorbents. Separation and

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :