• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA. 3. Boediono. (1993), Ekonomi Makro, BPFE, Yogyakarta.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DAFTAR PUSTAKA. 3. Boediono. (1993), Ekonomi Makro, BPFE, Yogyakarta."

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

DAFTAR PUSTAKA

1. Adianto, H. (1994), Analisis Permintaan Pertambangan Indonesia pada Sektor Industri dengan Menggunakan Model Input-Output, Tesis Pasca Sarjana Program Magister Teknik dan Manajemen Industri, Institut Teknologi Bandung.

2. Ambarwati, I. G. A. A. , (1995), ”Keterkaitan Antar Sektor dalam Struktur Perekonomian Indonesia”, Majalah Ilmiah, Universitas Udayana, No. 42 Th. XXII, Januari.

3. Boediono. (1993), Ekonomi Makro, BPFE, Yogyakarta.

4. Cope, D. , Fayez, M. S. , Mollaghasemi, M. dan Kaylani, A. (2007) , ”Supply Chain Simulation Modeling Made Easy: An Innovative Aproach”, Proceedings of the 2007 Winter Simulation Conference, S. G. Hendersen, B. Biller, M.-H. Hsieh, J. Shortle, J. D. Tew, and R. R. Barton, eds. , 1-4244-1306-0/07/$25.00 © IEEE.

5. Dunn, W. (1999), Analisis Kebijakan Publik, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

6. Gasperz, V. (1991), Ekonometrika Terapan, Tarsito, Bandung.

7. Gresh, D. L. , Connors, D. P. , Fasano, J. P. dan Wittrock, R. J. (2007), “Applying Supply Chain Optimization Techniques to Workforce Planning Problems”, IBM Journal, Tes. & Dev., Vol. 51, No. 3/4 May/July.

8. Guenther, E. (1950), Essential Oils, Volume III s/d VI, D. Van Nostrand Company, Inc.

9. Gultom, A. M. P. (2002), Struktur, Perilaku dan Kinerja Subsektor-subsektor pada Sektor Industri Pengolahan (Penerapan Model Input Output), Tesis Magister, Jurusan Teknik dan Manajemen Industri, ITB. 10. Hadipoentyanti, E., Rusli, S. M., dan Syakir, M. (2006), Prospek

Pengembangan Beberapa Jenis Minyak Atsiri Baru, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor.

11. Hobir dan Sofyan, R. (2002), “Diversifikasi Ragam dan Peningkatan Mutu Minyak Atsiri”, Makalah pada workshop Nasional Minyak Atsiri, Cipayung.

12. Indrawanto, C. dan Mauludi, L. (2004), ”Strategi Pengembangan Industri Nilam Indonesia”, Perkembangan Teknologi TRO, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, VOL. XVI, No. 2,.

(2)

13. Julieta, M., Soliven, P., Villaquer, K. F. , dan Zozobrado, D. J. D. (2004), “Changes in the Philippine Structure: Input-Output Analysis” , 9th National Convention on Statistics (NCS), EDSA, Shangri-La Hotel, October 4-5.

14. King, R. P. dan Byerlee, D. (1978), ” Factor Intensities and Locational Linkages of Rural Consumption Patterns in Sierra Leone”, American Journal of Agricultural economics, Vol. 60, No2.

15. Ketaren, S. (2006), ”Potensi Pengembangan Industri Fraksinasi dan Pasar Lelang Minyak Atsiri”, Makalah pada Sosialisasi Pengembangan Klaster IKM Minyak Atsiri, 16-17 November, Solo.

16. Ketaren, S. (1985), Pengantar Teknologi Minyak Atsiri, Balai Pustaka, Jakarta.

17. Kuncoro, M. (2004), Metode Kuantitatif: Teori dan Aplikasi untuk Bisnis dan Ekonomi, AMP YKPN, Yogyakarta.

18. Kuncoro, M. (1996), ”Analisis Struktur-Perilaku-Kinerja agroindustri Indonesia: Suatu Catatan Empiris” , Kelola Gadjah Mada University Business Review, No. 11/VI.

19. Kustrinarto. (1989), Penentuan Sektor Industri Potensial Ekspor dengan Menggunakan Model Input-Output, Tugas Sarjana, Jurusan Teknik Industri, Institut Teknologi Bandung.

20. Lavania, U. C., (2003), “Other Uses and Utilization of Vetiver: Vetiver Oil”, Central Institute of Medicinal and Aromatic Plants, Lucknow-336 015, India.

21. Miller, B. R. dan Blair, D. P. (1985), Input-Output Analysis: Foundations and Extensions, Prentice Hall Inc.

22. Pal, Leslie L. (1997), Beyond Policy Analysis: Public Issue Management in Turbulent Times, Thomson Publication, Scarborough, Ontario (Canada). 23. Sabini, D, (2006), “Aplikasi Minyak Atsiri pada Produk Home Care dan

Personal Care”, Prosiding Konferensi Nasional Minyak Atsiri, Menuju IKM Minyak Atsiri Berdaya Saing Tinggi, 18-20 September, Solo, Depperind dan IPB.

24. Sastrohamidjojo, H. (2006), “Produk Turunan Minyak Atsiri dan Potensi Pasar”, makalah pada Konferensi Nasional Minyak Atsiri, 18-20 September, Solo.

(3)

26. Simatupang, P dan Syafa’at, N. (1996), Keterkaitan antar Industri, Ekonomi Minyak Goreng di Indonesia, IPB Press.

27. Siregar, S. (1993), “Income and Employment Impact of Indonesia Agricultural Sector”, Ekonomi dan Keuangan Indonesia, Volume XLI, No. 4, Jakarta.

28. Santoso, R. B. (1992), Akar Wangi Bertanam dan Penyulingan, Kanisius, Yogyakarta.

29. Sulaeman, S. (2004), “Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah dalam Menghadapi Pasar Regional dan Global”, Infokop, Nomor 25 Tahun XX. 30. Suhardi, A. (2007), Analisis Keunggulan Komparatif dan Kompetitif

Pengusahaan Minyak Akar Wangi, Tesis Program Studi Ekonomi Pertanian (Agribisnis) Program Pasca Sarjana, Universitas Siliwangi Tasikmalaya.

31. Staley, E. dan Morse, R. (1965), Modern Small Industry for Developing Countries, International Student Edition, McGraw-Hill Book Company. 32. Starling, Gover. (1988), Strategies for Policy Making, The Dorsey Press,

Chicago, Illinois.

33. Sumodiningrat, Gunawan dan Kuncoro, M. (1991), Ekonomi Pertanian di Indonesia: Perkembangan dan Peranan Modeling, Pusat antar Universitas Studi Ekonomi-UI, Jakarta.

34. Sushil. (1993), System Dynamics: A practical Approach for Managerial Problems, Wiley Eastern Ltd. , India.

35. Sekaran, Uma. (2003), Research Method for Business, John Wiley and Sons, America.

36. Wikipedia. (2008). Supply Chain, http://www.wikipedia.org akses 28 April 2008, pk 14:39. WIB.

37. Wikipedia. (2007).Sumatera Barat, http://www.wikipedia.org akses 24 Januari 2007, pk 10:21. WIB.

38. Windayani, I. G. A. H. T. , Wibisono, Y. Y. , dan Nainggolan, M. (2004), ” Pengembangan Model Konseptual Klaster Tangguh (Kasus di Industri Kecil Minyak Atsiri Kabupaten Garut)” , Rekayasa Sistem Industri, Vol. 1, No. 1, Oktober: 53-65.

(4)

39. Wu, M. (2007), ” Topsis-AHP Simulation Model and Its Application to Supply Chain Management”, ISSN 1 746-7233, England, UK, World Journal of Modelling and Simulation, Vol. 3, No. 3, pp. 196-201.

40. ...Maret. (2005), Kebijakan Pengembangan Industri Nasional, Departemen Perindusrian, Jakarta.

41. ...Juni. (2005), Kebijakan Pengembangan Industri Kecil dan Menengah (IKM) Tahun 2005-2009, Departemen Perindusrian, Jakarta. 42. ... (2000), Perencanaan Terpadu Pembangunan Ekonomi Daerah

Otonom (Pendekatan Model Input Output), Badan Pusat Statistik, Jakarta. 43. ... (2006), Statistik Perkebunan Provinsi Jawa Barat 2006, Dinas

(5)

LAMPIRAN A

A. Data wawancara

Dari 1700 Ha lahan yang dibudidayakan yang kontinu menghasilkan hanya 200 Ha. Menurut Damanik (1995) produktivitas lahan /Ha 12 sampai dengan 15 ton akar dengan produksi rata-rata 11,6 ton/Ha.

Total produksi akar = 11,6 ton/Ha x 200 Ha = 2.320 ton Konversi = 2.320 ton x 1000 Kg/ton = 2.320.000 Kg Harga akar dengan bongol Rp. 900,- /Kg

Harga akar dengan tanpa bongol Rp. 2000,- /Kg

Tapi untuk disuling lebih bagus tanpa bongol, jadi ada biaya tambahan memotong bongol, jadi biaya input penanaman disamakan menjadi Rp. 1500,- /Kg

Pengisian tabel baris petani: 1. Petani ke petani

= (persentase akar disuling petani) x Total produksi akar (Kg) x Harga bahan baku (Rp/Kg)

= (13/100) x 2.320.000 Kg x Rp. 1500,- /Kg = Rp. 452.400.000,-

= Rp. 452,4 juta (1)

2. Petani ke penyuling

= (persentase akar dijual ke penyuling) x Total produksi akar (Kg) x Harga jual akar (Rp/Kg)

= (60/100) x 2.320.000 Kg x Rp. 2000,- /Kg = Rp.2.784.000.000,-

= Rp. 2,784 milyar (2)

3. Petani ke konsumen

= (persentase akar dijual ke konsumen) x Total produksi akar (Kg) x Harga jual akar (Rp/Kg)

= (27/100) x 2.320.000 Kg x Rp. 10.000,- /Kg = Rp.6.264.000.000,-

(6)

B. Data wawancara

Data yang diambil hanya dari penyuling yang aktif dan kontinu menyuling yaitu sebanyak 5 unit industri dengan total produksi 5 ton minyak atsiri akar wangi, yaitu

1. "PD Osid" Osid

2. "PD Lancar" Ajah Juhana

3. "PD Sanggar Aroma" Ajun Sondjaya 4. H. Ede Kadarusman, SE

5. "KPM Kec. Bayongbong" H. Abdullah S. Rosadi

Total produksi minyak = 5 ton x 1000 Kg/ton = 5000 Kg

Harga jual minyak ke pengumpul berkisar dari Rp. 650.000,- sampai Rp. 700.000,-/Kg

Jadi diambil titik tengahnya yaitu Rp. 675.000,-/Kg. Harga jual ke distributor Rp. 850.000,-/Kg.

Harga jual ke konsumen Rp. 1.000.000,-/Kg. Biaya Produksi penyulingan Rp. 105.000,-/Kg Pengisian tabel baris penyuling

1. Penyuling ke pengumpul

= (persentase minyak dijual ke pengumpul) x Total produksi minyak (Kg) x Harga jual minyak (Rp/Kg)

= (59,8/100) x 5.000 Kg x Rp. 675.000,- /Kg = Rp.2.018.250.000,-

= Rp. 2,018.25 milyar (4)

2. Penyuling ke distributor

= (persentase minyak dijual ke distributor) x Total produksi minyak (Kg) x Harga jual minyak (Rp/Kg)

= (40/100) x 5.000 Kg x Rp. 850.000,- /Kg = Rp. 1.700.000.000,-

= Rp. 1,700 milyar (5)

(7)

= (persentase minyak dijual ke konsumen) x Total produksi minyak (Kg) x Harga jual minyak (Rp/Kg)

= (0,2/100) x 5.000 Kg x Rp. 675.000,- /Kg = Rp.10.000.000,-

= Rp. 10 juta (6)

C. Gabungan data wawancara dan kantor dinas Perindag & PM Kabupaten Garut

Pada pedagang pengumpul tidak ada pengolahan, hanya pengemasan minyak atsiri akar wangi ke dalam drum berkapasitas 200 Kg. Banyaknya minyak yang dijual tergantung permintaan distributor berkisar 1 sampai 5 drum untuk sekali pengiriman.

Harga jual ke distributor berkisar antara Rp. 700.000,- sampai Rp. 750.000,-/Kg Jadi diambil harga tengah yaitu Rp. 725.000,-/Kg.

Harga jual minyak ke konsumen (PT IFF) Rp. 900.000,- sampai Rp. 1.000.000,-/Kg. Harga tengah Rp. 950.000-1.000.000,-/Kg.

Berdasarkan data dari kantor dinas minyak atsiri akar wangi tercatat 14,4 ton. Biaya pengemasan Rp. 500/Kg.

Total minyak atsiri akar wangi = 14,4 ton x 1000 Kg/ton = 14.400 Kg

Pengisian tabel baris pedagang pengumpul 1. Pengumpul ke distributor

= (persentase minyak dijual ke distributor) x Total minyak (Kg) x Harga jual minyak (Rp/Kg)

= (90/100) x 14.400 Kg x Rp. 725.000,- /Kg = Rp. 9.396.000.000,-

= Rp. 9,396 milyar (7)

2. Pengumpul ke konsumen

= (persentase minyak dijual ke konsumen) x Total minyak (Kg) x Harga jual minyak (Rp/Kg)

= (10/100) x 14.400 Kg x Rp. 950.000,- /Kg = Rp.1.368.000.000,-

(8)

D. Data wawancara , kantor dinas dan internet

Harga jual dari distributor diketahui dari internet karena distributor langsung menjual ke luar negeri dengan negara tujuan Swiss (FIRMENICH) dengan harga 85 €/Kg (Public Ledger, 2005).

Distributor yang diketahui dari wawancara adalah PT Indeso. Total Minyak yang dijual ke distributor diasumsikan 2 ton (data wawancara dengan penyuling). Biaya tata niaga oleh distributor yaitu 2,319.47 /Kg (Disperindag & PM, 2007)

Total minyak atsiri akar wangi = 2 ton x 1000 Kg/ton = 2.000 Kg Konversi 85 € ke Rupiah = 85 € x 14.400,-Rp/€ = Rp. 1.224.000,- Pengisian tabel baris distributor

1. Distributor ke distributor

= Total minyak (Kg) x Biaya tata niaga (Rp/Kg) = 2.000 Kg x Rp. 2,319.47 /Kg

= Rp.4.638.940,-

= Rp. 4,638.94 juta (9)

2. Distributor ke konsumen

= Total minyak (Kg) x Harga jual minyak (Rp/Kg) = 2.000 Kg x Rp. 1.224.000,- /Kg

= Rp.2.448.000.000,-

= Rp. 2,448 milyar (10)

E. Pengisian tabel baris nilai tambah 1. Kolom petani

Nilai tambah pada rantai distribusi petani akar wangi diperoleh dari selisih antara total penjualan akar (1 + 2 + 3) dikurangi dengan biaya input penanaman.

Biaya input penanaman = Total akar (Kg) x Biaya input penanaman (Rp/Kg)

(9)

= Rp.3.480.000.000,- = Rp. 3,48 milyar

Total penjualan akar = Rp. 452,4 juta + Rp. 2,784 milyar + Rp. 6,264 milyar = Rp. 95,004 milyar

Nilai tambah = Rp. 95,004 milyar - Rp. 3,48 milyar = Rp. 91524000000,-milyar

= Rp. 91,524,- milyar 2. Kolom penyuling

Nilai tambah untuk rantai distribusi industri penyulingan minyak atsiri akar wangi dihitung berdasarkan selisih antara total penjualan minyak (4 + 5 + 6) dikurangi dengan dengan biaya produksi penyulingan.

Nilai tambah = (4 + 5 + 6) – Biaya Produksi

= (Rp. 2,018,25 milyar + Rp. 1,700 milyar + Rp. 10 juta) - (Rp. 105.000,-/Kg x 5000 Kg)

= Rp. 3,728.250 milyar – Rp. 525 juta = Rp. 3,203.250 milyar

3. Kolom pedagang pengumpul

Nilai tambah pedagang pengumpul berasal dari selisih harga jual ke distributor dengan harga beli dari penyuling tambah biaya tata niaga. Nilai tambah = (7 + 8) – (Rp. 500,-/Kg x 14.400 Kg)

= (Rp. 9,396 + Rp.1,368 (milyar)) – Rp. 7,2 juta = Rp.10756800000,-

= Rp.10,756.800. milyar 4. Kolom distributor

Nilai tambah distributor berasal dari selisih harga jual minyak atsiri akar wangi dengan biaya tata niaga.

Nilai tambah = (10) – (9)

= Rp. 2,448 milyar - Rp. 4,638.94 juta = Rp. 2.443.361.060,-

= Rp. 2,443.361.060 milyar Sehingga persamaan distribusi output menjadi:

(10)

= + = n j i ij i x Y X 1 1 14 13 12 11 1 x x x x Y X = + + + + = 452.40 + 2,784.00 + 0 + 0 + 6,264.00 = 9,500.40 2 24 23 22 21 2 x x x x Y X = + + + + = 0 + 0 + 2,018.25 + 1,700.00 + 10.00 = 3,728.25 3 34 33 32 31 3 x x x x Y X = + + + + = 0 + 0 + 0 + 9,396.00 + 1,368.00 = 10,764.00 4 44 43 42 41 4 x x x x Y X = + + + + = 0 + 0 + 0 + 4.64 + 2,448.00 = 2,452.64

Untuk susunan input dapat ditulis dengan persamaan:

= • = n + i j ij j x v X 1 1 41 31 21 11 1 x x x x v X• = + + + + = 452.40 + 0 + 0 + 0 + 91,524.00 = 91,976.40 2 24 23 22 21 2 x x x x v X• = + + + + = 2,784.00 + 0 + 0 + 0 + 3,203.25 + 5,987.25 = 5,987.25 3 34 33 32 31 3 x x x x v X• = + + + + = 0 + 2,018.25 + 0 + 0 + 10,756.80 = 12,775.05 4 44 43 42 41 4 x x x x v X• = + + + + = 0 + 1,700.00 + 9,396.00 + 4.64 + 2,443.36 = 13,544.00

(11)

Hasil perhitungan di atas dapat dirangkum dalam bentuk Tabel Input Output Jalur Distribusi Minyak Atsiri Akar Wangi di bawah ini berdasarkan bentuk umum Tabel Transaksi Input Output dengan cara pengisian berdasarkan persamaan (3.1), (3.2) dan (3.3)

Tabel IV-4. Tabel Input Output Jalur Distribusi Minyak Atsiri Akar Wangi

Petani Penyuling Pengumpul Distributor

Permintaan akhir Tot. Output Petani 452.40 2,784.00 0 0 6,264.00 9,500.40 Penyuling 0 0 2,018.25 1,700.00 10.00 3,728.25 Pengumpul 0 0 0 9,396.00 1,368.00 10,764.00 Distributor 0 0 0 4.64 2,448.00 2,452.64 Nilai tambah 91,524.00 3,203.25 10,756.80 2,443.36 Tot. Input 91,976.40 5,987.25 12,775.05 13,544.00

(12)

Lampiran B

Berdasarkan Tabel IV-4 pada lampiran A dilanjutkan dengan persamaan (3.7) dengan software Excel sehingga diperoleh Tabel IV-5 dengan persamaan:

• = j ij ij X x a Dimana: ij

a = jumlah input kegiatan i yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit kegiatan j

ij

x = output kegiatan i yang digunakan sebagai input oleh kegiatan j

j

X = total input kegiatan j

Tabel IV-5. Tabel koefisien Teknologi

Petani Penyuling Pengumpul Distributor

Petani 0.0049 0.4650 0.0000 0.0000

Penyuling 0.0000 0.0000 0.1580 0.1255

Pengumpul 0.0000 0.0000 0.0000 0.6937

(13)

LAMPIRAN C

Untuk menghitung indeks daya penyebaran (Backward Linkages) dan indeks daya kepekaan (Forward Linkages) dibutuhkan unsur matriks invers Leontief dari jalur distribusi yang diberi notasi α . Dengan menggunakan software Mathcad diperoleh:             = 0003 . 0 0 0 0 6937 . 0 0 0 0 1255 . 0 1580 . 0 0 0 0 0 4650 . 0 0049 . 0 A B = I – A             − − − − = 1 0 0 0 694 . 0 0 0 0 125 . 0 158 . 0 1 0 0 0 465 . 0 995 . 0 B             = − 1 0 0 0 694 . 0 1 0 0 235 . 0 158 . 0 1 0 11 . 0 0074 467 . 0 005 . 1 B Dimana:

A = matriks koefisien teknologi I = matriks identitas

B- = matriks invers dari (I –A) = • Jadi:             = 1 0 0 0 694 . 0 1 0 0 235 . 0 158 . 0 1 0 11 . 0 0074 467 . 0 005 . 1 α

(14)

LAMPIRAN D

Key Sectors Analysis: Unsorted Forward &

Backward Linkage

National (or, one-region) input-output with 4 sectors IO data : datael3.txt

Sectors Forward Linkage Backward Linkage 1 1.1579 0.6989 2 0.9687 1.0264 3 1.1780 0.8567 4 0.6954 1.4179

(15)

LAMPIRAN E

Pengolahan data dilakukan dengan menggabungkan baris petani dan penyuling, untuk kolom dengan menjumlahkan kolom petani dengan kolom penyuling. Pengolahan data diselesaikan dengan software Excel.

Tabel V-3 Tabel Input Output Simulasi Penggabungan Petani/Penyuling

Petani/penyuling Pengumpul Distributor

Permintaan akhir Tot. Output Petani/penyuling 3,236.40 2,018.25 1,700.00 6,274.00 13,228.65 Pengumpul 0 0 9,396.00 1,368.00 10,764.00 Distributor 0 0 4.64 2,448.00 2,452.64 Nilai tambah 94,727.25 10,756.80 2,443.36 Total Input 97,963.65 12,775.05 13,544.00

Untuk pengolahan data mendapatkan tabel koefisien teknologi simulasi penggabungan, diolah menggunakan persamaan yang sama dengan tabel koefisien sebelum simulasi dan dilesaikan dengan software Excel

Tabel Koefisien Teknologi Simulasi Penggabungan Petani/Penyuling

Petani/penyuling Pengumpul Distributor Petani/penyuling 0.0342 0.1876 0.6958

Pengumpul 0.0000 0.0000 3.8455

(16)

LAMPIRAN F

Key Sectors Analysis: Unsorted

Forward & Backward Linkage

National (or, one-region) input-output with 3 sectors IO data : datael3.txt

Sectors Forward Linkage Backward Linkage

1 1.1128 0.4278

2 1.5634 0.4033

3 0.3238 2.1689

Key Sectors Analysis: Sorted

Forward & Backward Linkage

National (or, one-region) input-output with 3 sectors IO data : datael3.txt

Sector Forward Linkage Sector Backward Linkage

2 1.5634 3 2.1689

1 1.1128 1 0.4278

Gambar

Tabel IV-4. Tabel Input Output Jalur Distribusi Minyak Atsiri Akar Wangi
Tabel IV-5. Tabel koefisien Teknologi
Tabel V-3 Tabel Input Output Simulasi Penggabungan Petani/Penyuling

Referensi

Dokumen terkait

Sistem saluran drainase di Kabupaten Buton Utara mengikuti kondisi topografi yang mempunyai kecenderungan kemiringan cukup menguntungkan bagi pembuangan kearah

Yaitu, suatu sistem yang membenarkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan yang besar termasuk di dalamnya bentuk monopoli dan penimbunan barang dagangan 16 yang kesemuanya

mempengaruhi pendapatan petani jahe emprit dengan sistem tumpangsari sayuran di Kecamatan Jenawi Kabupaten Karanganyar adalah luas lahan, bibit, pupuk NPK, pestisida,

Karena daya serap rata-rata kelas dengan pembelajaran fisika melalui pendekatan open-ended dalam kategori efektif dan memiliki nilai persentase lebih besar daripada daya

Sering kali pelaku vandalisme yang ditemui adalah remaja dengan berusia anak (masih dibawah 18 tahun sesuai dengan ketentuan Undang-Undang No. 23 Tahun 2002

Banyak pasangan bilangan bulat yang memenuhi sistem persamaan berikut. tak terhingga

Model pembelajaran smash bola voli ini yang sudah dikembangankan sebagai produk yang telah dihasilkan dari penelitian ini dapat digunakan sebagai materi pembelajaran

Dari perhitungan rata-rata laju kerusakan, dapat kita ambil kesimpulan untuk menentukan waktu perawatan forklift scaglia tidak lebih dari 27 hari sekali, yakni