• Tidak ada hasil yang ditemukan

THE EFFECT OF EXCHANGE RATE AND INVESTMENT ON EXPORTS IN INDONESIA. ABSTRACT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "THE EFFECT OF EXCHANGE RATE AND INVESTMENT ON EXPORTS IN INDONESIA. ABSTRACT"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

THE EFFECT OF EXCHANGE RATE AND INVESTMENT ON EXPORTS IN INDONESIA.

ABSTRACT

The study aims at analyzing the effect of exchange rate and investment on export in Indonesia The secondary that are analyzed in term of time series i.e. exchange rate and investment. The method of Simultan Equation Estimation (SEM) is used for analyzing the data.

The result finding shows that, simultaneously exchange rate and investment have significant effect on export. Partially, exchange rate have also positive and significant effect. And investment has a positive and significant, effect on export in Indonesia

Key Words: Exchange rate, investment, and export

PENGARUH EXCHANGE RATE DAN INVESTASI TERHADAP EKSPOR DI INDONESIA

ABSTRAK

Studi ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh exchange rate dan investasi terhadap eksport Indonesia.

Data yang di analisis adalah data sekunder berbentuk time series yaitu nilai exchange rate dan investasi di Indonesia. Analisis data menggunakan metode estimasi regresi persamaan simultan (SEM),

Strucrural Equation Modeling

Penelitian ini menunjukkan bahwa secara simultan exchange rate dan investasi berpengaruh signifikan terhadap ekspor. Secara parsial

exchange rate berpengaruh positif dan signifkan terhadap ekspor

dan investasi berpengaruh positif dan signifikan, terhadap ekspor di Indonesia.

(2)

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Laju pertumbuhan ekonomi diperlukan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat

dan untuk mengatasi kemiskinan. Tinggi rendahnya laju pertumbuhan ekonomi secara

keseluruhan dibatasi oleh factor-faktor produksi yang tersedia, terutama factor modal,

sehingga akumulasi modal sehingga akumulasi sebagai pengerak pembangunan

ekonomi menjadi titik sentral dalam peningkatan laju pertumbuhan ekonomi. Apabila

laju pertumbuhan rendah, maka pendapatan nasional juga rendah, tabungan menjadi

kecil dan investasi juga akan kecil, kesempatan kerja akan menjadi lebih sempit dan

secara keseluruhan taraf hidup masyarakat menjadi rendah. Dengan proses waktu,

taraf hidup ini bertambah rendah lagi karena pertambahan penduduk sehingga proses

lingkaran kemiskinan yang tak berujung pangkal akan berlangsung. Oleh karena itulah

sasaran utama pembangunan ekonomi adalah laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Untuk mencapai sasaran tersebut perlu menentukan determinan-determinan apakah

yang mempengaruhi tinggi rendahnya tingkat output suatu saat tertentu.

Menurut Sundrum (1988), factor-faktor internal yang menjadi penyebab utama melemahnya pertumbuhan ekonomi Indonesia selama fase gejolak eksternal adalah menurunnya pengeluaran pemerintah dan investasi. Sedangkan krisis ekonomi diberbagai belahan dunia, krisis keuangan international (kelangkaan sumberdana untuk bantuan asing) serta menguatnya Yen Jepang terhadap dollar AS dapat dinyatakan sebagai factor-faktor eksternal yang ikut mendatangkan pengaruh kepada melemahnya pertumbuhan ekonomi Indonesia selama 1983-1986.

(3)

Pada tahun 1983-1986 Indonesia dihadapkan pada sebuah kenyataan pahit:

pertumbuhan ekonomi merosot drastis menjadi hanya 4,88 persen pertahun.

Penurunan tingkat pertumbuhan pada tahun 1983-1986 disebabkan oleh

perkembangan harga minyak. Setelah mencapai angka U$S 35 pada tahun 1982,

harga minyak Indonesia mulai menciut menjadi U$S 29,53 (1983 dan 1984), lalu U$S

28,53 (1985), secara berturut-turut anjlok hingga U$S 21,00 (Januari 1986), U$S 14,45

(Maret 1986), dan akhirnya mencapai angka terendah sebesar U$S 9,83 per barel pada

bulan Agustus 1986. Kemerosotan ini tak pelak lagi menyebabkan pendapatan

pemerintah menciut. Hal yang sama diperlihatkan oleh investasi. PMA yang disetujui

menyusut dari U$S 2.471 juta (1983) menjadi U$S 848 juta (1986), sehingga

mengalami pertumbuhan negative 19,06 persen pertahun. Sedangkan PMDN pada

mulanya anjlok dari Rp.6.476 miliar (1983) menjadi Rp. 2.109 miliar (1984), untuk

kemudian kembali merangkak naik menjadi Rp.4.412 miliar (1986). Meskipun

pemerintah masih sanggup mendapatkan utang luar negeri sebesar U$S 16.592 juta

dan didukung pula oleh utang luar negeri swasta sekitar U$S 3.393 juta

(masing-masing merupakan jumlah kumulatif utang yang bias dicairkan selama 1983-1986),

Suntikan dana ini tak mampu menyelamatkan kemerosotan pertumbuhan ekonomi .

Namun pada tahun 2004 nilai investasi dalam negeri tercatat sebesar Rp.36.747,6

miliar atau mengalami penurunan sebesar 24,21 persen dibanding tahun 2003 sebesar

Rp.48.484,8 miliar. Demikian pula dengan investasi asing yang hanya mencapai US$

10,3 miliar atau mengalami penurunan sebesar 22,18 persen dibandingkan tahun

(4)

Kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia melalui Paket Stabilisasi Rupiah dalam

banyak hal telah membawa hasil yang positif yang tercermin dari terpeliharanya

stabilitas nilai tukar terutama selama paruh kedua 2004. Dalam periode tersebut,

tingkat volatilitas nilai tukar menunjukkan kecencerungan menurun. Sementara itu,

secara keseluruhan 2004, tingkat volatilitas nilai tukar rupiah tidak mengalami lonjakan

berarti bila dibandingkan 2003. Bila pada 2003 tingkat volatilitas mencapai 3,3 persen

dari Rp.8.593 per dolar, dan pada 2004 volatilitas meningkat menjadi 3,9 persen dari

Rp. 8.940 per dolar . Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan volatilitas pada

2001 dan 2002 yang masing-masing mencapai 10,8 persen dan 6,1 persen. Tapi

walaupun secara rill nilai tukar rupiah selama 2004 masih mengalami undervalued

sehingga masih tetap kondusif dalam menunjang kinerja ekspor. Menguatnya tekanan

depresiasi dipicu oleh faktor eksternal yang terkait dengan merebaknya ekspektasi

masuknya ekonomi AS dalam siklus kebijakan moneter ketat, langka kebijakan yang

ambil pemerintah Cina untuk memperlambat ekspansi ekonomi, serta melambungnya

harga minyak dunia hingga mencapai di atas $ 40 per barel. Perkembangan ketiga

faktor eksternal tersebut mendorong investor international melakukan reposisi

penanaman modal portofolio di pasar keuangan sejumlah negara Asia. Reposisi

penanaman modal tersebut mengakibatkan terjadinya pembalikan aliran modal jangka

pendek dari pasar keuangan Asia, sehingga menimbulkan tekanan depresiasi terhadap

mata uang regional. Faktor sentimen negatif menguat sebagai akibat memanasnya

suhu politik menjelang penyelanggaraan pemilu legislatif dan terjadinya peningkatan

permintaan valuta asing dari korporasi khususnya dari perusahaa n minyak dan sektor

(5)

Perkembangan nilai ekspor Indonesia selama periode 2000-2004 cenderung

meningkat dengan rata-rata pertumbuhan 4,05 persen per tahun, meskipun sempat

melemah pada tahun 2001, dimana ekspor Indonesia mengalami penurunan sebesar

9,34 persen, menjadi US $ 56.320,9 juta. Hal ini sebagai dampak dari pengaruh

melemahnya perekonomian dunia yang tumbuh lamban, khususnya perekonomian

Amerika Serikat sebagai salah satu negara tujuan utama ekspor Indonesia, pasca

pemboman Pentagon dan runtuhnya gedung WTC pada 11 September 2001. Kondisi

keamanan di dalam negeri pada tahun 2002 yang belum kondusif, terbukti dengan

terjadinya tragedi pemboman di Legian Bali pada 12 oktober 2002 turut mempengaruhi

kegiatan ekspor Indonesia, walaupun tidak sampai mengalami penurunan. Kenaikan

nilai ekspor pada tahun 2002 relatif kecil yaitu hanya naik 1,49 persen dari tahun

sebelumnya, menjadi US $ 57.158,8 juta. Di tengah-tengah maraknya perdagangan

bebas ASEAN atau AFTA dan grup perdagangan ebas dunia atau WTO, ternyata

Indonesia mampu meningkatkan ekspor kembali sebesar 6,82 persen hingga mencapai

US $ 61.058,3 juta pada tahun 2003. Nilai ekspor kembali mengalami kenaikan yang

cukup tinggi pada tahun 2004 yaitu mencapai US $ 71.584,6 juta atau naik 17,24

persen.

Kinerja ekspor Indonesia sampai saat ini masih didukung oleh komoditi non

migas yang menghasilkan devisa cukup tinggi. Nilai ekspor non migas selama lima

tahun terakhir sebagai penyumbang terbesar ekspor Indonesia tidak jauh berbeda

polanya dengan perkembangan total nilai ekspornya. Pada tahun 2000 dominasi ekspor

non migas menyumbang devisa negara sebesar US $ 47.757,4 juta atau 76,88 persen

(6)

US $ 43.684,6 juta atau turun 8,53 persen, namun bila dilihat kontribusinya naik

menjadi 77,56 persen. Sampai akhir tahun 2002 dan 2003 nilai ekspor non migas

Indonesia tercatat sebesar US $ 45.046,1 juta dan US $ 47.406,6 juta atau naik 3,12

persen dan 5,24 persen. Posisi nilai ekspor non migas pada tahun 2004 sudah

mencapai US $ 55.939,3 juta atau menyumbang 78,14 persen terhadap total nilai

ekspor. Hal ini dapat dilihat pada table berikut:

Tabel 1. Nilai Ekspor Indonesia Menurut Migas Dan Non Migas Tahun 2000-2004 (FOB dalam Juta US$)

Tahun Non Migas Migas Jumlah

2000 47.757,4 14.366,6 62.124,0

2001 43.684,6 12.636,3 56.320,9

2002 45.046,1 12.112,7 57.158,8

2003 47.406,6 13.651,7 61.058,3

2004 55.939,3 15.645,3 71.584,6

Sumber: Indikator Ekonomi & Bank Indonesia 2002

Keberhasilan tersebut ditunjang oleh berbagai rangkaian kebijakan pemerintah

berupa deregulasi dan debirokratisasi baik disektor rill maupun disektor moneter, yang

pada dasarnya bertujuan untuk mendorong laju peningkatan ekspor non migas. Oleh

karena itu strategi industrilisasi yang sebelumnya lebih bersifat inward looking atau

substitusi impor dan orientasi pasar dalam negeri dialihkan kepada strategi outward

(7)

METODOLOGI PENELITIAN

Untuk mengetahui pengaruh Exchange rate (Er) dan investasi (I) terhadap ekspor(eks), data dianalisis dengan menggunakan analisis kuantitatif melalui metode statistik, yaitu dengan Structural Equation Modelling (SEM) yang dinyatakan dalam bentuk fungsi sebagai berikut:

Eks = f( Er , I) ….……...…...(1)

Persamaan (1) merupakan fungsi difungsi (sistem persamaan simultan). Dari persamaan (1), andaikan mengikuti fungsi Cobb-Douglas (non- linier) maka model

persamaan yang dikembangkan adalah: 0 11 2 2   I Er A Eks………..………...……..…….(2)

Persamaan (2) merupakan persamaan non-linier dan dapat dinyatakan bentuk lain untuk estimasi regresi linier dengan mentransferkan ke dalam bentuk logaritma natural sebagai berikut:

ln Eks= ln A0 + 1 ln Er + 2 ln I + 1………...…...…(3)

Sehingga diperoleh bentuk Reduce Formnya sebagai berikut: ln Eks= 0 + 1 ln Er + 2 ln I + 

Dimana:

Eks = nilai ekspor (milyar rupiah)

Er = Exchange rate atau nilai tukar rupiah terhadap US $ (rupiah) I = investasi ( milyar rupiah)

0 = 0 = konstanta/intercep .

1 = 1 = pengaruh exchange rate

2 = 2 = pengaruh investasi

1 = 1 = error term dari ekspor

F. Definisi Operasional

a. Exchange Rate adalah semacam harga dalam pertukaran antara dua mata uang yang beredar, maka akan terdapat perbandingan nilai antara kedua mata uang asing tersebut, perbandingan inilah disebut exchange rate atau nilai tukar” yang dimaksud di sini adalah nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat dinyatakan dalam Rp/dollar.

b. Ekspor dapat diartikan sebagai nilai barang yang diproduksi oleh suatu negara dan dijual ke luar negeri. Ekspor yang dimaksud disini adalah ekspor migas dan non migas dimana volume ekspor dalam ribuan ton pertahun dan nilai ekspor dalam milyar rupiah.

c. Penanaman Modal Asing (PMA) adalah jumlah modal yang ditanam pihak swasta dinegara selain negara asal pemilik modal dalam jutaan US$.

(8)

d. Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) adalah investasi yang dilakukan oeh seseorang atau badan usaha domestik dalam milyar rupiah.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. .Analisis Empirik Pengaruh Exchange Rate Dan Investasi Terhadap Ekspor Di Indonesia

Analisis pengaruh variabel eksogen yaitu exchange rate dan investasi terhadap variabel endogen ekspor dilakukan dengan menggunakan alat analisis metode SEM

(Structural Equation Modelling) dengan program AMOS 5 (Analisis Moment of Structure). Berdasarkan hasil penelitian, pengukuran hubungan antar variabel dalam

penelitian diperoleh model yang simultan. Ini dibuktikan dari adanya nilai Chi-square 172,430 dengan tingkat signifikan 0,000, nilai GFI adalah sebesar 0,967 dan AGFI adalah sebesar 0,835. Hasil ini membuktikan bahwa model yang diajukan telah sesuai dengan data. Dengan demikian model hubungan antara variabel dapat diterima. Sedangkan kelayakan model dapat diketahui dengan melihat nilai koefisien GFI atau koefisien determinasi (R2). Nilai GFI yang ditemukan adalah 0,967. Hal ini dapat berarti bahwa variasi, investasi, exchange rate dan dapat menjelaskan variasi varibel dependen ekspor sebesar 96,7 persen dan variasi variabel lain yang menjelaskan variasi ekspor yang tidak diperhitungkan ke dalam model hanya sebesar 3,3 persen sehingga dapat disimpulkan model ini cukup layak. Sedangkan untuk mengetahui besarnya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen telah diformulasikan dalam bentuk reduce form.

HASIL ESTIMASI PENGARUH EXCHANGE RATE, INVESTASI TERHADAP EKSPOR Variabel B SE T Sig Constant 8,048 1,499 5,368 0,000 Exchange Rate 1,183 0,103 11,439 0,000* Investasi 0,129 0,051 2,516 0,004** R2 = 0,917 Adjust R2 = 0,903 N = 21 Persamaan: eks = 8,048 + 1,183 Ln Er + 0,129 Ln I (5,368) (11, 439) (2,516) Catatan: **) Signifikan 5% ***) Signifikan 10% ns) Tidak Signifikan

(9)

Beberapa keputusan yang dapat diambil dari Tabel atas hasil estimasi adalah:

Pertama, kelayakan model dapat diketahui dengan melihat nilai koefisien determinasai

(R2). Nilai yang ditemukan adalah 0,917. Hal ini dapat berarti bahwa variasi variabel

independen , exchange rate dan investasi dapat menjelaskan variasi variabel dependen

ekspor adalah sebesar 91,7 persen. Dengan demikian variasi variabel lain yang

menjelaskan ekspor yang tidak diperhitungkan ke dalam model hanya sebesar 8,3

persen, sehingga dapat disimpulkan bahwa model ini cukup layak. Demikian pula jika

dilihat dari koefisien korelasi model ini yaitu sebesar 0,957. Hal ini dapat berarti bahwa

hubungan antara variabel independen yaitu, exchange rate dan investasi dengan

variabel dependen yaitu ekspor adalah kuat.

Kedua, Uji t digunakan untuk melihat tingkat signifikan model secara parsial atau

menguji keberartian pengaruh variabel independen yaitu exchange rate dan investasi

terhadap variabel dependen yaitu ekspor. Tabel menjelaskan keberartian pengaruh

tersebut. Variabel independen yaitu exchange rate dan investasi berpengaruh positif

dan signifikan terhadap variabel dependen yaitu ekspor dengan tingkat signifikan lebih

bagus dengan = 5 %.

Ketiga, nilai konstanta adalah sebesar 8,048. Nilai ini berarti bahwa apabila

texchange rate dan investasi tetap maka persentase nilai ekspor sebesar 8,04 persen.

Nilai koefisien regresi exchange rate adalah sebesar 1,183. Hal ini dapat berarti jika

exchange rate meningkat sebesar 1 persen, maka nilai ekspor akan meningkat sebesar

1,183 persen dengan asumsi variabel independen lainnya tetap. Hal ini disebabkan

(10)

tekanan depesiasi sampai dengan pertengahan tahun. Namun secara rata-rata nilai

tukar rupiah pada tahun 2004 sebesar Rp. 8.981 atau sedikit melemah dibanding tahun

sebelumnya dengan rata-rata sebesar Rp. 8.606 melemahnya nilai tukar rupiah

disebabkan meningkatnya kebutuhan dolar negeri teutama oleh koorperasi besar untuk

pembayaran utang dan impor serta dampak suku bunga Fed. Walaupun nilai ekspor

selama tiga tahun terakhir selalu mengalami peningkatan. Pada tahun 2002 nilai ekspor

sebesar US$ 57,2 miliar. Kemudian pada tahun 2003 meningkat menjadi US$ 61,1

millar dan tahun 2004 lebih meningkat sebesar US$ 71,6 miliar dimana peningkatan ini

didorong oleh meningkatnya ekspor non migas sebesar 18,00 persen. Jika nilai tukar

rupiah terhadap US$ menguat, maka nilai ekspor dalam rupiah akan menurun dan

jumlah yang ditawarkan akan berkurang. Sebaliknya jika nilai tukar rupiah terhadap

US$ melemah maka nilai ekspor dalam rupiah dan nilai tukar terhadap US$ melemah

maka nilai ekspor dalam rupiah dan jumlah yang ditawarkan meningkat. Jika nilai tukar

terdepresiasi akan meningkatkan ekspor. Hal ini sejalan dengan pernyataan Madura

(1997) bahwa nilai tukar melemah akan merangsang permintaan luar negeri atas

produk-produk domestik sehingga dapat meningkatkan ekspor dan diharapkan dapat

menciptakan lapangan kerja secara signifikan. Dan Samuelson (1992) bahwa bila kurs

suatu negara meningkat, harga barang impor turun sementara barang ekspor menjadi

mahal di luar negeri. Akibatnya, negara tersebut menjadi kurang bersaing di pasar

dunia dan ekspor netonya pun menurun. Perubahan dalam nilai tukar dapat juga

mempengaruhi output kesempatan kerja dan inflasi.

Nilai koefisien regresi investasi adalah sebesar 0,129. Hal ini dapat berarti jika

(11)

0,129 persen dengan asumsi variabel independen lainnya tetap. Hal ini sejalan dengan

pernyataan Adam Smith mengemukakan hubungan peningkatan investasi dengan

adanya pasar yaitu bahwa setiap penambahan dan pengurangan kapital pasti

cenderung untuk menambah dan mengurangi industri rill. Peningkatan kapital

mempengaruhi peningkatan tingkat produksi atau output, dan memungkinkan tingkat

spesialisasi dan pembagian kerja. Walaupun pembagian kerja dalam dalam arti fisik

namun jika permintaan pasar tidak cukup besar adalah tidak menguntungkan. Dalam

hal ini yang terutama menguntungkan adalah perluasan perdagangan international.

Perdagangan international ini dilakukan dalam bentuk kegiatan ekspor, dimana ekspor

merupakan perwujudan dari permintaan akan suatu barang dari luar negeri. Ekspor ini

menjadi sangat penting artinya bagi pengembangan industri, mengingat terbatasnya

pasar atau permintaan dari dalam negeri. Ekspor hasil-hasil industri mempunyai

peranan besar dalam meningkatkan devisa dan juga mempunyai pengaruh peningkatan

investasi yang kemudian mempengaruhi penciptaan lapangan kerja yang dapat

mengurangi pengangguran. Meningkatnya permintaan diharapkan dapat mendorong

meningkatnya kegiatan industri dengan adanya peningkatan investasi bagi

penambahan jumlah produksi dan juga akan meningkatkan kesempatan kerja.

B. Analisis Pengaruh Langsung Dan Pengaruh Tidak Langsung Exchange Rate Dan Tingkat Bunga Terhadap Pertumbuhan ekonomi Di Indonesia

Berdasarkan hasil estimasi model SEM pengaruh exchange rate dan tingkat bunga terhadap pertumbuhan ekonomi, dimana pada hasil signifikansi secara parsial terdapat beberapa variabel independen yang tidak berpengaruh secara nyata, sementara hasil koefisien determinasi sangatlah tinggi. Hasil ini tidak membuat model menjadi tidak layak, apalagi jika melihat uji signifikansi secara simultan yang menunjukkan hasil yang sangat nyata, yang dalam kasus ini menggunakan analisis koefisien lintas (path analysis).

(12)

Variabel independen

Variabel Dependen

Efek

Direct Indirect Total

Exchange Rate Ekspor 1,183 -0,658 0,524

Investasi ekspor 0,129 0,000 0,129

Tabel 2 menunjukkan bahwa terdapat efek langsung dari variabel exchange rate dan investasi terhadap ekspor. Efek langsung exchange rate terhadap ekspor sebesar

1,183, tidak langsung -0,658 dan secara total 0,524. Efek langsung investasi terhadap

ekspor sebesar 0.129, tidak langsung 0,000 dan secara total 0,129

KESIMPULAN

Temuan dan hasil penelitian tentang pengaruh exchange rate dan pajak ekspor terhadap pertumbuhan ekspor sektor perkebunan diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

 . Terdapat pengaruh positif dan signifikan exchange rate terhadap nilai ekspor di Indonesia. Setiap exchange rate meningkat 1 persen maka ekspor meningkat 1,183 persen. Pengaruh positif exchange rate akan berdampak pada peningkatan ekspor di Indonesia.

 Terdapat pengaruh positif dan signifikan investasi terhadap nilai ekspor di Indonesia. Setiap investasi meningkat 1 persen maka ekspor meningkat 0,129 persen. Peningkatan ini masih relatif kecil sehingga perlu peningkatan investasi yang berorientasi ekspor dengan penyempurnaan prosedur administrasi dan peningkatan mutu komoditas agar memiliki daya saing di pasaran international.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Lincolin, Pengantar Perencanaan Dan Pembangunan Ekonomi Daerah BPFE Yogyakarta, 1999, Cetakan 1

Andersen, 2002 Pengaruh Pinjaman Luar Terhadap Pendapatan Regional Bruto Propinsi Kaltim, Tesis Pasca Sarjana Unhas, Makassar

Anonim, 1990-2004. Indikator Ekonomi Indonesia, BPS Jakarta

(13)

,1990-2004. Laporan Perekonomian Indonesia Jakarta

Badan Pusat Statistik, 2002. Indicator Ekonomi Indonesia, Jakarta

Badan Pusat Statistic, 2003. Statistik Indonesia, Jakarta

Badan Pusat Statistik, 2004. Laporan Perekonomian Indonesia , Jakarta

Bank Indonesia , 2004 Laporan perekonomian Indonesia Jakarta

Budiono, 1984. Ekonomi Mikro Balai Penerbit FE-UGM, Yogyakarta.

,1992. Teori Pertumbuhan Ekonomi, Seri Sinopsisi Pengantar Ilmu Ekonomi, N0. 4. BPFEUGM, Yogyakarta.

Barro. R. J. Macroeconomic , New York : Jhon Wiley & Sons, Inc

Don Bellante and Mark Jakcson, 1990. Ekonomi Ketenagakerjaan. Lembaga Penerbit FE-UI. Jakarta.

Dornbusch, T.F, Makroekonomi, Edisi Ketujuh, Erlangga, Jakarta, 1994

Djiwandono. J Sudradjad, Perdagangan dan Pembangunan, Tantangan, Peluang dan Kebijaksanaan Perdagangan Luar Negeri Indonesia LP3ES, Jakarta 1992, Cetakan Pertama.

Diamond, J. 1989. Government Expenditure & Economic Growth : An Empirical IMF Working Paper No. 89 / 45. Washington Dc : IMF

Gambar

Tabel  1. Nilai  Ekspor Indonesia  Menurut  Migas Dan  Non  Migas Tahun  2000-2004  (FOB  dalam  Juta US$)
Tabel  2  menunjukkan  bahwa  terdapat  efek  langsung  dari  variabel  exchange  rate  dan  investasi  terhadap  ekspor

Referensi

Dokumen terkait

an 17. Uji Interaksi Dosis Pupuk Majemuk andang Ayam pada Bobot Bunga Per Tanam Table 17. Analysis of Interaction Between d Chiken Manure Dose for Flower Weight. ran 18.

Dengan pemberian insentif tournament maka akan menimbulkan kondisi yang berkompetisi, dengan munculnya kompetisi maka gairah kerja akan meningkat yang akan berdampak

Sebuah pesawat ruang angkasa bermassa m (yang diasumsikan berbentuk silinder) yang memiliki luas penampang A bergerak dari angkasa luar dengan kecepatan v

Dalam peneltan tndakan terdapat bebe- rapa macam varabel, yatu varabel input, varabel proses dan varabel output. Varabel input dalam peneltan n adalah

Dräger PSS 4000 adalah salah satu sistem pembawa alat bantu bernafas mandiri profesional paling ringan yang dijumpai di pasar dan mengusung teknologi maju dan filosofi desain yang

Hur fort milan går får man se på sättningar och känna sig fram med kolspettet. Finns ingen fördel med att kola för fort. Röken visar på hur milan går. Den ska gå lämpligt fort

Bagi yang terlambat nilainya hanya 75 %, dan bila terlambat 1 minggu mendapat nilai 50%, lebih dari satu minggu mendapat nilai 0.. Tugas yang merupakan plagiat/ co-past

Sirkulasi tiap lantai pada Desain Pelabuhan memiliki Pola yang berbeda-beda tergantung dengan fungsi ruang dan kegiatan yang bersangkutan. Dalam hal ini adalah