1
LAPORAN KEGIATAN
BULAN NOVEMBER
DIREKTORAT TATA RUANG DAN PERTANAHAN
KEMENTERIAN PPN/BAPPENAS
2
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ... 2
DAFTAR TABEL ... 6
DAFTAR GAMBAR ... 7
DAFTAR SINGKATAN ... 8
BAB I PENDAHULUAN ... 10
BAB II KEGIATAN INTERNAL ... 11
2.1 Kegiatan Utama Subdit Tata Ruang ... 11
2.1.1 PJMN 2015-2019 Bidang Tata Ruang ... 11
2.1.2 Profil Penyelenggaraan Penataan Ruang Daerah ... 11
2.1.3 Sinkronisasi RTR dan RP ... 11
2.1.4 Koordinasi Bidang Tata Ruang ... 11
2.1.5 Penyusunan Laporan Akhir Tahun ... 12
2.1.6 Rapat Pembahasan Buku III RPJMN–Kedeputian Regional dengan DJPR PU 12 2.2 Kegiatan Utama Subdit Pertanahan ... 13
2.2.1 Penyusunan Buku Profil Pertanahan... 13
2.2.2 Perbaikan RT RPJMN Bidang Pertanahan 2015-2019 ... 13
2.2.3 Kajian Urban Land Policy (Bank Tanah)... 13
2.2.4 Laporan Akhir Koordinasi Perencanaan Bidang Pertanahan ... 13
2.2.5 Laporan Akhir Monitoring dan Evaluasi Bidang Pertanahan ... 13
2.2.6 Revisi IKK Kementerian Agraria dan Tata Ruang 2015 ... 13
2.3 Kegiatan Utama Subdit Informasi dan Sosialisasi ... 14
2.3.1 Kajian Materi Teknis (Pengarusutamaan PRB) ... 14
2.3.2 Media Sosialisasi dan Informasi TRP ... 14
2.3.3 e-Performance (Kinerja) Direktorat dan Kedeputian ... 14
2.3.4 Buletin TRP ... 14
2.3.5 Musrenbang Regional ... 14
2.3.6 Penyusunan Project Dokumen RIMBA... 15
2.4 Kegiatan Utama Sekretariat Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional ... 15
2.4.1 Pengenalan Geopark dan Tata Ruang ... 15
2.4.2 Percepatan Penyusunan RRTR ... 16
2.4.3 Pertemuan Smart Planning Approach dan Keterkaitan dengan Penataan Ruang ... 17
3
2.4.5 Pengelolaan Ruang Udara Nasional ... 18
2.5 Kegiatan Utama Sekretariat RAN... 18
2.5.1 Kebijakan Sistem Pendaftaran Tanah Publikasi Positif ... 18
2.5.2 Kebijakan Redistribusi Tanah dan Access Reform ... 18
2.5.3 Majalah Agraria Indonesia ... 19
2.5.4 Laporan Akhir Pelaksanaan Kegiatan Koordinasi Strategis Reforma Agraria Nasional ... 19
2.6 Review Anggaran Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan ... 19
BAB III KEGIATAN EKSTERNAL... 21
3.1 Kunjungan DPRD Kota Mojokerto ... 21
3.2 FGD Arah Kebijakan Penataan Ruang Kawasan Laut Banda ... 22
3.3 Sosialisasi Usulan Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden, dan Peraturan Menteri PPN/Kepala Bappenas untuk Dibahas dan Ditetapkan di Tahun 2015 ... 22
3.4 Komunikasi stakeholders LULUCF tentang Penyusunan Dokumen FREL-REDD+ Indonesia yang akan disampaikan ke Sekretariat UNFCC ... 23
3.5 Bimtek Pengelolaan Hibah ... 23
3.6 Kunjungan DPRD Kabupaten Batang ... 24
3.7 Pembahasan NSPK tentang Instrumen Monitoring dan Evaluasi Penyelenggaraan Penataan Ruang Daerah ... 25
3.8 Talkshow Hari Tata Ruang Nasional ... 26
3.9 Rapat Pembahasan Raperda RTRW Kabupaten Pegunungan Arfak ... 26
3.10 Puncak Peringatan Hari Tata Ruang Nasional 2014 ... 27
3.11 Penentuan dan pembahasan tema dan subtema BUTARU Edisi V dan VI ... 28
3.12 Rapat Direktur - Pra Musrenbang RPJMN di 5 Wilayah ... 29
3.13 Konferensi Pers Standar Operasi dan Prosedur (SOP) Pemetaan Partisipatif, Satu Langkah Menuju Pengakuan Peta Wilayah Masyarakat Adat/Lokal... 29
3,14 Trilateral Meeting Kerangka Regulasi RPJMN 2015-2019 dan RKP 2015 ... 30
3.15 Temu Wicara dengan Media ... 30
3.16 Green Cities National Visioning Workshop... 31
3.17 Pendalaman Materi untuk Kabupaten Manggarai Barat ... 31
3.18 Pemberian Tanggapan dan/Saran Terhadap Dokumen Final Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP-3-K) Kab. Batubara ... 32
3.19 Konsolidasi Pengembangan 10 Kawasan Industri dalam RPJMN 2015-2019 ... 33
3.20 Rapat Konsinyering Pembangunan PLBN ... 33
3.21 Sosialisasi dan Bimtek Penyusunan SK Kegiatan TA 2015 ... 34
4
3.23 Pembahasan Kerangka Regulasi Kementerian Perhubungan ... 35
3.24 Workshop Peningkatan Kapasitas Kelembagaan ... 35
3.25 Rapat Koordinasi Triwulanan Pelaporan Berdasarkan PP 39/2006 ... 36
3.26 FGD Revisi Perpres No. 54/2008 tentang Penataan Ruang KSN Perkotaan Jabodetabekpunjur ... 37
3.27 Persiapan Penyelenggaraan Hari Tata Ruang Nasional 2014 ... 37
3.28 Diskusi Panel dengan tema “Reformasi Pertanahan melalui Kementerian Agraria” ... 38
3.29 Diskusi Roadmap Program Green Growth Indonesia ... 39
3.30 Publikasi Tata Batas Kawasan Hutan ... 40
3.31 Rapat Pimpinan Es I dan Es II Bappenas... 40
3.32 Seminar Background Study Pengintegrasian Kerangka Regulasi dalam RPJMN 2015 - 2019 ... 41
3.33 Urban Land Policy Stakeholder Group Meeting dalam rangka Penyusunan Roadmap Kebijakan Sektor Perumahan ... 41
3.34 Peluncuran Sistim Informasi Terpadu (Simpadu) Penanggulangan Kemiskinan... 42
3.35 Rapat Koordinasi Pembahasan Persiapan Hibah GEF RIMBA ... 42
3.36 Pembahasan Manajemen Pengetahuan (MP) oleh Pusdatin ... 43
3.37 Workshop 2 Kajian Formulasi Perhitungan KWT, KZB, dan KDB dalam KSN Perkotaan ... 44
3.38 Training and Roundtable Meeting on Public Private Partnership (PPP) in Investing in Heritage Precinct ... 44
3.39 Sosialisasi Kajian dan Strategi Pengadaan Tanah Perkotaan bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum di Indonesia ... 45
3.40 FGD Sosialisasi PP Penataan Wilayah Pertahanan Nasional ... 45
3.41 Rapat Tindak Lanjut Klarifikasi Qanun Aceh ... 46
3.42 Pembahasan Modul Penetapan LP2B dalam RTRW ... 47
3.43 Konsultasi Pemerintah Provinsi Gorontalo terhadap Usulan KSN ... 48
3.44 Seminar Nasional “Peradilan Pertanahan Sebagai Solusi Penyelesaian Perkara Pertanahan?” ... 48
3.45 Kunjungan Kerja DPRD Kabupaten Bekasi ... 49
3.46 Persiapan Trilateral Meeting Kerangka Regulasi Dalam RPJMN 2015-2019 ... 50
3.47 Rapat Pembahasan Buku III RT RPJMN 2015-2019 dengan Direktorat Pengembangan Wilayah Bappenas dan Direktorat Penataan Ruang Nasional Kementerian PU ... 50
3.48 Rapat Fasilitasi Penegakan Perda tentang RTRW ... 51
3.49 FGD Pembahasan Draf Perpres KSPPN Revisi III... 51
5 3.51 Kick Off Meeting Pengembangan Peta Kebencanaan Indonesia Berbasis Perubahan
Iklim di Provinsi Bengkulu dan Sumatera Barat ... 53
3.52 Rapat Pembahasan Raperda RTRW Provinsi Kalimantan Utara ... 53
3.53 Konsultasi DPRD Provinsi Kalimantan Selatan ... 54
3.54 Rapat Pembahasan Raperda RTRW Kabupaten Morowali Utara, Mamuju Tengah, dan Banggai Laut ... 55
3.55 Evaluasi Penyeleggaraan Penataan Ruang Daerah ... 55
3.56 Pembahasan Implementasi Perda RTR Berbasis Mitigasi Bencana ... 56
3.57 FGD Penyusunan RPJMN 2015-2019 Bidang Kehutanan ... 57
3.58 Rapat Koordinasi Awal Penyusunan Kerangka Regulasi Rpjmn 2015-2019 Bidang Pertanahan ... 57
BAB IV RENCANA KEGIATAN ... 59
BAB V PENUTUP ... 63
6
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Rencana Kegiatan Subdit Tata Ruang... 59
Tabel 2. Rencana Kegiatan Subdit Pertanahan ... 59
Tabel 3. Rencana Kegiatan Subdit Informasi dan Sosialisasi ... 60
Tabel 4. Rencana Kegiatan Sekretariat BKPRN ... 61
7
DAFTAR GAMBAR
8
DAFTAR SINGKATAN
BAPPENAS : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional BIG : Badan Informasi Geospasial
BKPRD : Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah BKPRN : Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional BNPB : Badan Nasional Penanggulangan Bencana BP : Badan Pengembangan
BPN : BadanPertanahanNasional DIRJEN : Direktorat Jenderal
FGD : Focus Group Discussion INPRES : Instruksi Presiden INFOSOS : InformasidanSosialisasi K/L : Kementerian/Lembaga
KAPET : Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu KEMHUT : Kementerian Kehutanan
KKDT : Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal KKP : Kementerian Kelautan dan Perikanan KLH : Kementerian Lingkungan Hidup KLHS : Kajian Lingkungan Hidup Strategis KSN : Kawasan Strategis Nasional
LP2B : Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan LH : Lingkungan Hidup
LS : Lungsum Salary MIT : Middle Income Trap
NSPK : Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria NSP : Norma, Standar, Prosedur
PERMEN : Peraturan Menteri PERPRES : PeraturanPresiden PK : Peninjauan Kembali
PMK : Peraturan Menteri Keuangan POKJA : Kelompok Kerja
PP : Peraturan Pemerintah PPK : Pejabat Pembuat Komitmen PRB : Pengurangan Resiko Bencana PU : Pekerjaan Umum
PUSDATIN : Pusat Data dan Informasi RAINPRES : Rancangan Instruksi Presiden RAKORNAS : Rapat Koordinasi Nasional RAKORTEK : Rapat Koordinasi Teknis RAN : Reforma Agraria Nasional RDTR : Rencana Detail Tata Ruang RENAKSI : Rencana Aksi
RPI2JM : Rencana Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah RPJMN : Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
RTR : Rencana Tata Ruang
9 RTRWK : Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten
RTRWN : Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional RTRWP : Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi RUU : Rancangan Undang-Undang
RZWP3K : Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil SARBAGITA : Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan
SATKER : Satuan Kerja
SCDRR : Safer Community through Disaster Risk Reduction SDA : Sumber Daya Alam
SDM : Sumber Daya Manusia SK : Surat Keputusan
SKPD : Satuan Kerja Perangkat Daerah SOP : Standard, Operating and Procedure TA : Tahun Anggaran
TOL : Tanah Objek Landreform TRP : Tata Ruang dan Pertanahan TUP : Tambahan Uang Persediaan UKM : Usaha Kecil Menengah
UKP4 : Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan UP : Uang Persediaan
UU : Undang-Undang
10
BAB I
PENDAHULUAN
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan memiliki 2 (dua) jenis kegiatan, yang dibagi menjadi: 1) kegiatan internal; dan 2) kegiatan eksternal. Kegiatan internal adalah kegiatan yang diselenggarakan oleh Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan sesuai dengan rencana kegiatan direktorat yang telah disusun pada awal tahun 2014. Kegiatan internal ini dijelaskan ke dalam bentuk kegiatan utama dan sub-kegiatan. Kegiatan eksternal adalah kegiatan yang merupakan undangan untuk Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh pihak luar. Umumnya, kegiatan ini bersifat koordinasi lintas sektor.
Di Bulan November 2014, Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan telah menyelenggarakan kegiatan, yaitu: (i) rapat pembahasan Buku III RPJMN 2014-2019; (ii) pengenalan geopark dan tata ruang; (iii) percepatan penyusunan RRTR; (iv) pertemuan Smart Planning Approach dan keterkaitan dengan penataan ruang.
Kegiatan yang masih berlanjut pelaksanaan kegiatannya, antara lain: (i) penyusunan RPJMN 2015-2019; (ii) penyusunan profil tata ruang dan pertanahan; (iii) koordinasi perencanaan; (iv) pembahasan perubahan IKK BPN; (v) pembahasan RUU pengelolaan ruang udara; (vi) pending issues RZWP3K; (vii) penerapan KM; dan (viii) pilot project Reforma Agraria Nasional. Secara umum, kegiatan yang selesai pelaksanannya menghasilkan capaian yang memuaskan.
Pada laporan ini dijelaskan secara rinci pelaksanaan kegiatan yang telah dilaksanakan selama Bulan November 2014 oleh Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan. Laporan ini merupakan tanggung jawab pelaksanaan tugas dan fungsi yang dipercayakan kepada Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan dalam mengelola perencanaan pembangunan bidang Tata Ruang dan Pertanahan, yang dijabarkan ke dalam kegiatan Sub Direktorat Tata Ruang, Sub Direktorat Pertanahan, Sub Direktorat Informasi dan Sosialisasi, Sekretariat Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional (BKPRN), dan sekretariat Reforma Agraria Nasional (RAN).
11
BAB II
KEGIATAN INTERNAL
Untuk memperoleh gambaran mengenai tingkat pencapaian kinerja atas kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan, Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan secara rutin melaksanakan evaluasi kinerja seluruh bagian melalui mekanisme rapat rutin internal yang diselenggarakan setiap minggu dan setiap bulan.
Evaluasi kinerja dilakukan dengan maksud untuk dapat mengetahui dengan pasti apakah pencapaian hasil, kemajuan dan kendala yang dijumpai dalam pelaksanaan rencana kerja dapat dinilai dan dipelajari untuk perbaikan pelaksanaan rencana pembangunan dimasa mendatang. Fokus utama evaluasi diarahkan kepada keluaran (output) dari pelaksanaan rencana kerja. Berikut rangkuman laporan pelaksanaan kegiatan internal baik kegiatan utama maupun kegiatan pendukung.
2.1
Kegiatan Utama Subdit Tata Ruang
2.1.1 PJMN 2015-2019 Bidang Tata Ruang
Dalam proses penyusunan RPJMN 2015-2019 Bidang Tata Ruang, selama Bulan November telah dilakukan penyusunan terhadap RT RPJMN 2015-2019 untuk Buku I, Buku II, dan Buku III. Subdit Tata Ruang telah menyusun perbaikan Buku I, Buku II, dan Buku III RPJMN 2015-2019 Bidang Tata Ruang, dan telah melakukan koordinasi dengan PU terkait penyusunan masukan Buku III. Adapun kendala dari kegiatan ini adalah belum dilakukannya Musrenbang karena masih melakukan penyusunan terhadap Buku III RPJMN 2015-2019.
2.1.2 Profil Penyelenggaraan Penataan Ruang Daerah
Sampai bulan November, target profil penyelenggaraan penataan ruang daerah dalam mengkonfirmasikan dan memastikan agar daerah segera mengisi dan mengirim kuesioner, belum dapat dilakukan karena belum adanya tenaga teknis tambahan.
2.1.3 Sinkronisasi RTR dan RP
Telah dilakukan rapat koordinasi dan pemberian masukan terkait RTR dan RP kepada Bangda, Kementerian Dalam Negeri. Sesuai arah Bappenas, akan dilakukan sinkronisasi lanjutan. Adapun kendala dari kegiatan ini adalah kajian yang dilakukan Bangda bersifat sempit. Selanjutnya akan dilakukan persiapan penyusunan kajian sinkronisasi pada tahun 2015.
2.1.4 Koordinasi Bidang Tata Ruang
Pada bulan November direncanakan akan dilakukan 2 (dua) kegiatan terkait koordinasi bidang tata ruang, yaitu: (i) pertemuan dengan Dit. Bina Program dan Kemitraan DJPR; (ii) pertemuan dengan Dit. Binda 1, 2 dan Perkotaan DJPR, dan iv) Pusdata. Namun kegiatan tersebut belum dapat terealisasi karena masih adanya restrukturisasi Kementerian ATR.
12
2.1.5 Penyusunan Laporan Akhir Tahun
Dalam penyusunan laporan akhir tahun, telah tersusun laporan pemantauan, sedangkan laporan koordinasi perencanaan dan penyusunan laporan evaluasi belum dapat dilakukan karena terkendala dengan penyelesaian RPJMN 2015-2019. Untuk penyelesaiannya, direncanakan pada bulan Desember 2014.
2.1.6 Rapat Pembahasan Buku III RPJMN–Kedeputian Regional dengan DJPR PU
Rapat ini diselenggarakan pada 3 November 2014, di Hotel Grand Kemang dengan pimpinan rapat Direktur Tata Ruang dan Pertanahan. Rapat bertujuan untuk menyamakan persepsi mengenai substansi pada Buku III RT RPJMN 2015-2019 Kedeputian Regional dengan DJPR PU serta menyusun Rencana Kerja Rapat Bilateral untuk memperbaiki Buku III RT RPJMN 2015 -2019.
Beberapa poin penting dalam diskusi, yaitu:
Berbagai sasaran dalam RT-RPJMN 2015-2019 perlu disinkronkan dengan yang telah dimuat dalam RTRWN, khususnya dalam hal jumlah dan prioritas lokasi PKN (Kawasan) Perkotaan dan PKW yang akan dikembangkan (diusulkan).
Semua referensi dalam buku III RT RPJMN 2015-2019 harus merujuk pada visi dan visi serta Nawacitta.
Perlunya melakukan pembahasan mendalam mengenai struktur ruang RTRWN dan RTR Pulau dan memastikan agar materi tersebut dapat terakomodir di dalam RT RPJMN 2015-2019.
Menurut Kementerian PU, Direktorat KKDT perlu memasukkan terkait kawasan minapolitan dan kawasan rawan bencana.
Untuk KSN akan dilebur dengan kawasan pertumbuhan ekonomi.
Halhal besar lainnya yang harus dipertimbangkan di dalam Buku III RT RPJMN 2015 -2019 adalah persebaran kawasan industri, geopark, dsb.
Penataan ruang kawasan strategis nasional bidang ekonomi diarahkan untuk mencegah agar tidak semakin besar terjadinya backwash effect sumber daya alam dengan adanya Koridor Ekonomi, tapi memanfaatkan KE sebagai pintu memperlancar pemasaran produk hulu.
RDTR di kawasan perbatasan negara adalah kewenangan pemerintah pusat menurut UU No. 23/2014.
Perlunya penambahan program/kegiatan prioritas infrastruktur berdasarkan indikasi program dalam RTR Pulau dan indikasi program KSN-KSN yang belum tercantum dalam draft RT RPJMN (BUKU III).
Perbaikan-perbaikan secara teknis akan dilakukan bersama-sama oleh Kedeputian Bidang Pengembangan Regional Otonomi Daerah, Bappenas dan Direktorat Jenderal Penataan Ruang, Kementerian Pekerjaan Umum, terutama yang berkaitan dengan aspek Perkotaan dan Perdesaan, Kawasan Strategis, serta Infrastruktur (MP3EI).
13
2.2
Kegiatan Utama Subdit Pertanahan
2.2.1 Penyusunan Buku Profil Pertanahan
Tujuan penyusunan profil pertanahan adalah terkumpulnya data dan informasi dari 33 Provinsi serta tersusunnya buku oleh peserta KP. Kendala dari kegiatan penyusunan ini adalah terbatasnya data dan informasi buku profil pertanahan serta keengganan daerah untuk mengumpulkan data. Sampai bulan November ini, masih dalam tahap pengumpulan data dan informasi serta penyusunan buku oleh peserta KP. Terbatasnya data dan informasi buku profil serta keengganan daerah untuk mengumpulkan data menjadi kendala kegiatan ini. Akan dilakukan penyusunan buku profil untuk provinsi dengan data yang telah tersedia pada Minggu ke-4 Desember.
2.2.2 Perbaikan RT RPJMN Bidang Pertanahan 2015-2019
Pada bulan November telah dilaksanakan 2 (dua) kegiatan, yaitu: (i) Trilateral Meeting kerangka regulasi RPJMN 2015-2019 bidang pertanahan; (ii) internalisasi visi-misi dan program prioritas Presiden-Wapres (Nawacita) ke dalam RT RPJMN 2015-2019.
2.2.3 Kajian Urban Land Policy (Bank Tanah)
Belum dapat dilaksanakan workshop kajian dengan World Bank dan sosialisasi internal BPN terkait Land Bank karena terdapat perbedaan fokus kajian antara Bappenas dengan World Bank sehingga sepertinya workshop tidak dapat dilaksanakan. Selanjutnya, untuk sosialisasi terkait land bank kepada internal BPN dijadwalkan minggu ke-4 Desember.
2.2.4 Laporan Akhir Koordinasi Perencanaan Bidang Pertanahan
Untuk penyusunan draft final laporan akhir koordinasi perencanaan bidang tata ruang, sampai bulan November masih dalam tahap finalisasi penyusunan laporan akhir. Adapun kendala kegiatan ini adalah padatnya jadwal kegiatan penyusunan RPJMN dan pelaksanaan Rakorbangpus serta kunjungan lapangan. Penyusunan laporan akhir diagendakan selesai pada minggu ke 3 Desember.
2.2.5 Laporan Akhir Monitoring dan Evaluasi Bidang Pertanahan
Untuk penyusunan laporan monitoring dan evaluasi bidang pertanahan, hingga bulan November masih dalam tahap finalisasi. Adapun kendala kegiatan ini adalah belum tersedianya data dari BPN terkait dengan penyusunan laporan evaluasi. Agar laporan akhir monitoring dan evaluasi bidang pertanahan segera tersusun, akan dilakukan koordinasi permohonan data evaluasi ke BPN pada minggu ke 1 Desember, dan finalisasi laporan evaluasi pada minggu ke 3 Desember.
2.2.6 Revisi IKK Kementerian Agraria dan Tata Ruang 2015
Untuk dapat disepakatinya pembahasan perubahan IKK Kementerian Agraria dan Tata Ruang 2015, pada bulan November direncanakan untuk diselenggarakannya rapat koordinasi, namun belum dapat terlaksana karena padatnya agenda Subdit Pertanahan. Akan dijadwalkan kembali pada minggu ke 2 Desember.
14
2.3
Kegiatan Utama Subdit Informasi dan Sosialisasi
2.3.1 Kajian Materi Teknis (Pengarusutamaan PRB)
Hingga bulan November, draft laporan akhir telah dikoreksi. Laporan tersebut sedang dalam proses pencetakan, direncanakan akan dicetak sejumlah 150 eksemplar. Lamanya proses perbaikan dan pencetakan oleh pihak UNDP menjadi kendala dalam proses penyusunan laporan akhir. Follow up kepada pihak UNDP akan dilakukan dan ditargetkan akan selesai Minggu ke-2 Desember 2014.
2.3.2 Media Sosialisasi dan Informasi TRP
Kegiatan rutin Subdit Infosos adalah memperbaharui berita pada situs TRP setiap harinya dan menginformasikan berita, kegiatan TRP, dan informasi lainnya di dalam milis dan FB. Sampai bulan November, anggota milis telah mencapai 141 anggota, dan telah menambahkan menu RAN dalam situs TRP. Media informasi TRP akan dikelola dengan lebih baik lagi secara rutin.
2.3.3 e-Performance (Kinerja) Direktorat dan Kedeputian
Pada bulan November, target dan realisasi kinerja dan kegiatan Dit. TRP telah selesai dilaporkan. Pelaporan kinerja dan kegiatan Kedeputian Regional dan Otda belum dapat dilaksanakan. Pengisian e-Performance secara berkala (tiap triwulan) masih ada beberapa kendala, yaitu kurangnya arahan dan mekanisme yang jelas dari Biro Renortala, dan belum seluruh direktorat di Kedeputian melaporkan kegiatannya. Untuk pengisian target dan realisasi Triwulan IV akan dilaksanakan pada Bulan Januari 2015.
2.3.4 Buletin TRP
Bahan yang telah terkumpul, pada bulan November telah dimasukan semua ke dalam layout dan sedang dalam proses review, kecuali untuk 2 (dua) materi dengan narasumber BPN dan Direktur LH, materinya belum terkumpul. Adapun kendala dari kegiatan ini adalah dari pihak eksternal, yaitu adanya kesibukan narasumber sehingga pengumpulan materi terus mundur. Untuk mencapai target pengumpulan materi, akan dilakukan follow up kepada narasumber.
2.3.5 Musrenbang Regional
Kegiatan Musrenbang Regional RPJMN 2015-2019 akan dilaksanakan di 5 (lima) lokasi dengan pembagian wilayah Sumatera, Jawa-Bali, dan NTB, Kalimantan, Sulawesi dan wilayah Maluku pada tanggal 6–15 Desember. Direktorat TRP sebagai koordinator Musrenbang Regional di Provinsi Palu. Untuk susunan acara sudah ada kejelasan dan telah dilaksanakan kunjungan awal ke Palu pada 20 November 2014, serta telah dilaksanakan 3 (tiga) kali rapat koordinasi. Hasil dari rapat koordinasi tersebut adalah sudah siapnya kegiatan teknis di lapangan, telah disebarkannya undangan, dan kesiapan dari sisi akomodasi. Waktu persiapan Musrenbang daerah sangat terbatas karena pelaksanaan Musrenbang daerah dilaksanakan lebih cepat dari rencana.
15
2.3.6 Penyusunan Project Dokumen RIMBA
Telah dilaksanakan rapat koordinasi penyusunan logframe dan rapat koordinasi tindak lanjut kesepakatan 10 (sepuluh) gubernur. Masukan resmi terhadap draft logframe dan project document sudah disampaikan dalam rapat koordinasi dan melalui surat resmi. Adapun kendala dalam kegiatan ini adalah Kemendagri kurang berkoordinasi dengan K/L terkait sehingga penyelesaian progres terkesan lambat. Perbaikan dan penyelesaian project document oleh konsultan dan Kemendagri ditargetkan harus sudah disampaikan pada UNEP 16 Desember 2014.
2.4
Kegiatan Utama Sekretariat Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional
2.4.1 Pengenalan Geopark dan Tata Ruang
Pada tanggal 12 November 2014 di ruang SS-4 Bappenas, telah diselenggarakan Rapat BKPRN Tingkat Eselon II terkait pengenalan geopark dan tata ruang. Rapat ini bertujuan untuk mensosialisasikan mengenai konsep pengembangan geopark dan keterkaitanya dengan penataan ruang. Beberapa hal yang dibahas dalam rapat:
a. Geopark di Indonesia sudah dikembangkan sejak tahun 2000an. Saat ini telah diidentifikasi sekitar 36 warisan geologi yang dapat dikembangkan menjadi geopark, dimana 1 (satu) diantaranya telah menjadi Geopark Internasional (tergabung ke dalam Global Geopark Network), yaitu Geopark Kaldera Batur, dan 4 (empat) diantaranya termasuk ke dalam Geopark Nasional, yaitu Kawasan Geopark Merangin, Kawasan Geopark Sewu, Kawasan Kaldera Toba, dan Kawasan Gunung Rinjani.
Pengaturan mengenai geopark ini secara implisit sudah diatur dalam regulasi. UU 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang telah mengamanatkan warisan alam sebagai modal pembangunan.
PP No. 26 Tahun 2008 tentang RTRWN, tepatnya pada pengaturan mengenai kawasan lindung geologi, memasukkan Kawasan Cagar Alam Geologi (KCAG) sebagai kawasan lindung yang dapat dikembangkan secara terbatas sebagai obyek wisata (implisit mengizinkan kegiatan geowisata, termasuk didalamnya geopark). b. Geopark dapat dimasukkan ke dalam aset nasional, melalui KSN dari aspek ekologi atau
sosial budaya dan dapat diusulkan dalam peninjauan kembali RTRWN yang tengah berlangsung. Namun perlu diperhatikan bahwa pengawalan geopark yang sudah disetujui sebagai KSN perlu ditindaklanjuti dengan penyusunan rencana rinci sebagai kendali pemanfaatan ruang.
c. Perlu diperhatikan bahwa selain kepastian dalam RTR, keberlanjutan dari geopark ini sangat bergantung kepada pengelolaan yang baik:
Perlu penjelasan program kegiatan, manajemen dan pembiayaan.
Perlu dipikirkan mekanisme pengelolaan geopark (akan dilakukan dengan melibatkan masyarakat setempat atau melibatkan pihak swasta).
Pemerintah perlu juga meningkatakan kesadaran masyarakat sekitar untuk tetap menjaga kelangsungan geopark.
d. Terkait dengan KLHS perlu dipastikan terlebih dahulu penetapan geopark dalam RTR, kemudian baru dapat dilakukan KLHS saat penyusunan RTR yang telah menetapkan geopark tersebut (KLHS embedded dan melekat pada dokumen rencana).
16 e. Diperlukan payung hukum kelembagaan karena itu dibutuhkan dukungan penuh dari BKPRN, karena geopark bukan tugas dan fungsi satu Kementerian/Lembaga, namun sudah lintas sektor. Sehingga perlu dipikirkan kebijakan penetapan geopark di level nasional guna meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia.
2.4.2 Percepatan Penyusunan RRTR
Rapat ini diselenggarakan pada 26 November 2014 di ruang Rapat SS 1-2, Bappenas. Rapat dipimpin oleh Direktur Tata Ruang dan Pertanahan, Bappenas. Beberapa hal penting yang dibahas dalam pertemuan ini antara lain:
a. Program penyediaan peta skala besar baru berjalan selama dua tahun di BIG, adapun kendala utama terletak pada keterbatasan dana untuk penyedian peta serta SDM yang ahli di bidang perpetaan.
Penyediaan peta skala besar (skala 1:5.000) membutuhkan biaya yang besar dan waktu yang lama. Untuk kebutuhan peta RRTR membutuhkan ketelitian peta tiga dimensi (hingga memperlihatkan kontur untuk menunjukkan profil kemiringan lahan), namun ini sangat mahal (biayanya sekitar dua kali lipat penyediaan peta dua dimensi). BIG kemudian menyiasati penyediaan peta skala besar dengan kualitas dua dimensi (tanpa kontur), profil kemiringan lahan disiasati dengan menggunakan kontur dari peta RBI skala 1:250.000.
UKP4 telah menentapkan target kepada BIG untuk menyelesaikan citra tegak seluas 600.000 km2 (sekitar 1/3 luas daratan Indonesia) pada tahun 2014. Sementara itu BIG memiliki dana untuk penyediaan peta skala besar 1:5.000 sebesar 60 Milyar Rupiah. Jika diperhitungkan anggaran tersebut cukup untuk memenuhi penyediaan peta skala rinci seluas 600.000 km2 jika peta yang dihasilkan berbentuk dua dimensi.
Penyediaan peta skala besar ini terkendala masalah teknis yaitu lambatnya aliran data citra tegak dari LAPAN.
Kendala lain berupa ketersediaan pesawat untuk pelaksanaan foto udara yang jika diperhitungkan hanya mampu untuk menghasilkan 1.000.000 Ha luas foto udara per tahun. Namun dengan perkiraan bahwa luasan kawasan untuk RRTR ±10.000 Ha maka setiap tahunnya dapat dihasilkan sekitar 100 peta skala rinci. Sehingga target penyelesaiaan RRTR sesuai dengan data kebutuhan peta tahun 2015-2019 optimis dapat terselesaikan.
Perlunya peningkatan SDM yang ahli di bidang perpetaan dapat dilakukan dengan pelatihan-pelatihan kepada daerah: (i) perlu menjadi salah satu target dalam roadmap percepatan penyelesaiaan RDTR (skenario penguatan kapasitas daerah); dan (ii) perlu diperhitungkan dalam anggaran penyediaan peta.
b. Kementerian PU telah menyampaikan data prioritas penyediaan peta 2015-2019 terbaru (per November 2014). Usulan kriteria prioritas penyediaan peta skala besar 2015 yaitu untuk: i) KSN dan Kawasan Perkotaan; ii) penyusunan RTRW; dan iii) penyediaan peta mandiri oleh daerah, diprioritaskan pada daerah-daerah yang telah mengalokasikan penyusunan peta skala rinci dalam RKPDnya.
Adapun kendala dari kegiatan ini adalah roadmap Percepatan Penyusunan RRTR baru disampaikan oleh Kemen PUPR pada tanggal 28 November 2014 setelah dilakukan beberapa kali fasilitasi oleh Sekretariat BKPRN mulai Bulan Juli 2014 (3x pertemuan dan 2x penyampaian
17 surat). Selanjutnya, Sekretariat BKPRN akan memfasilitasi penyampaian langkah - langkah percepatan penyediaan peta skala besar untuk penyusunan RRTR dari Kemen PUPR kepada BIG. Proses penyampaian dijadwalkan pada Minggu I Desember 2014.
2.4.3 Pertemuan Smart Planning Approach dan Keterkaitan dengan Penataan
Ruang
Pertemuan yang terselenggara dari kerjasama Sekretariat BKPRN dan Tim Dana Mitra Lingkungan ini dipimpin oleh Direktur Tata Ruang dan Pertanahan, Bappenas dan dihadiri oleh Prof. Budi Prayitno-UGM, Ir. Steef Buijs-PUM senior expert, Tim Dana Mitra Lingkungan, serta perwakilan dari Dit. Perkotaan, Kemen PUPR; Kemenhut dan LH, Bappeda Semarang, BPPT dan Dit. Perkotaan dan Pedesaan, Bappenas pada 27 November 2014 di Ruang Spirna, Fave Hotel. Beberapa pokok penting dalam pertemuan ini yaitu:
a. Sesuai hasil penelitian, bumi akan overload di tahun 2050 dimana lebih dari 2/3 populasi manusia tinggal di perkotaan. Untuk itu, kita harus bisa menentukan prioritas antara kebutuhan, keperluan, dan demand yang perlu didukung oleh sistem IT/ keterbukaan online.
b. Atribut kunci dalam penerapan Smart Planning meliputi Smart Economy, Smart Governance, Smart Citizent, Smart Way Of Live, Smart Mobility, dan Smart Environment. c. Perlu roadmap penerapan smart planning jangka pendek dan jangka panjang hingga
tahun 2050. Jika ada kesempatan, perlu juga dibuat pilot project.
d. Perlu dibedakan antara Smart City dengan Intelegent City. Smart City yaitu kota yang menggunakan ICT untuk menggerakan banyak orang. Sementara Intelegent City hanya menggunakan ICT dalam kehidupan sehari-hari.
e. Dukungan penerapan Smart Planning dapat dilakukan dalam penyusunan dokumen tata ruang (RTRW, RDTR, RTBL, dan tapak ”site”). Selama ini, pemerintah pusat masih berfokus pada penyusunan RTRW, RDTR dan RTBL. Sementara untuk site, perlu diperjelas siapa stakeholders yang menyusun dan memonitor.
f. Usulan bagi pemerintah pusat: i) membangun desain program berbasis Smart Planning; dan ii) mendesain lokus dan bentuk kontribusi sektoral dalam setiap kegiatan.
g. Perubahan perilaku adalah dasar keberhasilan penerapan konsep Smart Planning, sehingga tidak menjadi konsep semata. Demi mendukung implementasinya, pemerintah perlu mengalokasikan kegiatan dan dana melalui RPJMD/RPJMN dan APBD/APBN. Smart Planning Approach merupakan konsep masa depan yang fokus pada keterbukaan informasi. Kendala belum dapat dipahaminya konsep Smart Planning Approach dan keterkaitannya dengan penataan ruang adalah koodinasi tim Sekretariat BKPRN dengan tim dari DML dilakukan pada waktu yang terlalu dekat dengan waktu penyelanggaraan acara. DML akan menemui Sekretariat BKPRN untuk merencanakan agenda pertemuan selanjutnya.
2.4.4 Penyusunan Laporan Koordinasi Strategis BKPRN 2014
Hingga bulan November, telah tersusun outline dan garis besar muatan Laporan Koordinasi Strategis BKPRN 2014. Untuk penyusunan laporan tersebut akan dilakukan oleh Sekretariat BKPRN pada bulan Desember 2014.
18
2.4.5 Pengelolaan Ruang Udara Nasional
Dua kegiatan yang telah direncanakan untuk mendukung Pengelolaan Ruang Udara Nasional (PRUN), sampai bulan November ini masih tertunda. Adapun kegiatannya, yaitu: (i) FGD isu dan ii) pemetaan masalah sektoral regulasi PRUN. Kegiatan ini direncanakan dapat mendukung terhimpunnya isu dan permasalahan sektor pertahanan dan keamanan terkait PRUN, namun sampai sekarang masih tertunda karena adanya gagasan peralihan pemrakarsa penyusunan regulasi PRUN. Untuk menindaklanjuti kegiatan ini, akan dilaksanakan Trilateral Meeting Internal Bappenas pada 24 November 2014; (ii) Trilateral Meeting Internal Bappenas (Dit. TRP, Dit. APP dan Dit. Hankam). Penyepakatan terkait regulasi PRUN dalam kerangka regulasi (penentuan pemrakarsa penyusunan regulasi dan tahun pelaksanaan) sampai bulan November ini masih tertunda karena belum ditemukan waktu pelaksanaan kegiatan yang sesuai dengan jadwal para direktur. Pertemuan akan dijadwalkan kembali pada bulan Desember 2014.
2.5
Kegiatan Utama Sekretariat RAN
2.5.1 Kebijakan Sistem Pendaftaran Tanah Publikasi Positif
Pada Bulan November telah dilakukan rapat koordinasi dengan BPN, untuk cakupan peta dasar telah disepakati dengan beberapa penyesuaian sebelum dilakukan penandatanganan pada peta tersebut dan telah dilakukan rapat koordinasi terkait dengan cakupan wilayah bersertipikat telah disepakati namun pihak BPN tidak berkenan untuk menandatangani. Namun belum disepakati dan ditandatanganinya peta cakupan peta dasar dan wilayah bersertipikat, karena adanya kendala dari BPN (Pusdatin) yang tidak berkenan untuk melakukan penandatanganan sebagai bukti kebenaran penggunaan data dalam penyusunan peta tersebut. Selanjutnya, akan dilakukan rapat koordinasi penyepakatan dan penandatangan peta cakupan peta dasar dan wilayah bersertipikat pada tanggal 2 Desember 2014.
Beberapa kegiatan lain yang belum dapat dilaksanakan, yaitu: (i) rapat koordinasi untuk publikasi cakupan peta dasar dan wilayah bersertipikat dalam Musrenbang. Rapat belum dapat terselenggara karena data peta, serta cakupan peta dasar dan wilayah bersertipikat belum ditandatangani oleh BPN. Akan dijadwalkan kembali untuk pelaksanaan koordinasi pada minggu ke III Desember; (ii) pelaksanaan Pilot Project Tata Batas Kawasan Hutan pada tahun anggaran 2015, belum dapat terlaksana karena padatnya kegiatan pada bulan November serta sulitnya menyesuaikan jadwal pelaksanaan rapat dengan Dit. Kehutanan. Dijawalkan kembali untuk pelaksanaan pilot project dilaksanakan pada 3 Desember 2014.
2.5.2 Kebijakan Redistribusi Tanah dan Access Reform
Telah diselenggarakan rapat koordinasi pelaksanaan pilot project di Provinsi Jawa Tengah pada tanggal 21 November 2014 dan di Bangka Belitung pada tanggal 25 November 2014. Namun data belum dapat terhimpun karena SKPD, Bappeda dan BPN baru memahami urgensi pelaksanaan pilot project. Adapun kendala kegiatan ini adalah belum dilakukannnya identifikasi data aset dan access oleh BPN dan SKPD Provinsi. Tindak lanjut kegiatan ini direncanakan untuk koordinasi pelaksanaan reforma agraria pada minggu ke-3 Desember untuk mengambil data yang dibutuhkan.
19
2.5.3 Majalah Agraria Indonesia
Majalah Agraria Indonesia Edisi I Tahun 2014 telah terbit secara online sebagai media informasi Bidang Keagrariaan yang didalamnya menyangkut isu dan konsep, rancangan kegiatan serta data informasi seputar Agraria Nasional. Pada November ini sedang dilakukan pencetakan majalah dalam bentuk hardcopy sebanyak 4 (empat) eksemplar.
2.5.4 Laporan Akhir Pelaksanaan Kegiatan Koordinasi Strategis Reforma Agraria
Nasional
Telah dilakukan penyusunan draft dan outline laporan akhir Pelaksanaan Kegiatan Koordinasi Strategis Reforma Agraria Nasional, namun beberapa kegiatan yang belum selesai sehingga belum dapat dilaporkan. Draft Laporan Akhir Koordinasi Strategis Reforma Agraria Nasional diagendakan selesai pada tanggal 7 Desember dan difinalisasi pada minggu ke 2 Desember.
2.6
Review Anggaran Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan
Berdasarkan kinerja penyerapan sebagai realisasi anggaran dari PPK Kedeputian Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah pada pertengahan November 2015 (15 Oktober 2014) hanya sebesar 47% atau sebesar Rp.18.699.531.470,- Sumbangan terbesar berasal dari Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan yaitu penyerapan anggaran Direktorat TRP pada Bulan November ini mencapai sebesar 75 persen atau setara dengan sebesar Rp. 3.024.375.285,- Realisasi anggaran di Bulan November ini merupakan pencapaian dari beberapa kegiatan antara lain: perjalanan dinas, rapat koordinasi sekretariat BKPRN dan kegiatan Koordinasi Strategis Reforma Agraria Nasional. Realisasi angka tersebut dikontribusikan dari pelaksanaan kegiatan yang meliputi: (i) kajian sebesar 81 persen, (ii) koordinasi penyusunan rencana sebesar 96 persen, (iii) Koordinasi Reforma Agraria sebesar 62 persen, (iv) koordinasi Strategi BKPRN sebesar 79 persen, (v) Knowledge Management (KM) sebesar 92 persen dan (vi) pemantauan dan evaluasi sebesar 70 persen.
Perkembangan kegiatan bulan November 2014 ini, PPK Kedeputian Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah telah meminta unit kerja mengajukan usulan kegiatan Pengadaan Jasa Konsultasi khususnya melalui pengadaan lelang. Direktorat TRP di tahun 2015, telah mengajukan 1 (satu) orang tenaga konsultan untuk kegiatan Kajian Penyusunan Materi Teknis Pedoman Sinkronisasi Tata Ruang dan Rencana Pembangunan untuk masa kontrak 12 bulan. Untuk kegiatan pemantauan dan evaluasi akan dilakukan pengajuan anggaran untuk rekruitmen tenaga ahli 1 orang selama 2 bulan dalam rangka membantu penyelesaian laporan hasil pemantauan dan evaluasi bidang tata ruang dan pertanahan.
Berikut merupakan diagram rencana dan realisasi penyerapan anggaran Direktorat TRP sampai dengan bulan November 2014:
20 Gambar 1. Rencana dan Penyerapan Anggaran Dit. TRP sampai Bulan November 2014
21
BAB III
KEGIATAN EKSTERNAL
Pada bab ini dijelaskan ulasan singkat mengenai partisipasi Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh pihak eksternal direktorat, baik oleh unit kerja/unit organisasi di lingkungan Kementerian PPN/Bappenas ataupun kementerian/lembaga lain, pada Bulan November 2014. Kegiatan ini dihadiri secara langsung oleh Direktur Tata Ruang dan Pertanahan atau didisposisikan ke Kepala Sub Direktorat maupun Staf.
3.1
Kunjungan DPRD Kota Mojokerto
Pada tanggal 4 November 2014 di Ruang Rapat SG 3, Pemerintah Kota Mojokerto melaksanakan konsultasi dengan Direktorat TRP, Direktorat Perkotaan Kementerian PU, dan Direktorat Pengembangan Wilayah Bappenas terkait dengan Penyediaan Peta Skala Rinci untuk RDTR, Penyediaan Kebutuhan RTH Kota, serta Batas Ketinggian Bangunan. Kunjungan DPRD Kota Mojokerto ini bertujuan untuk melakukan konsultasi terkait dengan penyediaan peta skala rinci untuk RDTR, penyediaan kebutuhan RTH kota, serta batas ketinggian bangunan dalam RTRW. Beberapa poin penting yang disampaikan DPRD Kota Mojokerto:
a. Penyediaan Peta Skala Rinci untuk RDTR
Pemkot Mojokerto mengalami kesulitan dalam pengadaan peta skala rinci untuk penyusunan RDTR. Pemkot merasa proses yang ditemui di lapangan terlalu rumit. Pemkot Mojokerto telah mengajukan permohonan peta skala rinci kepada BIG dan LAPAN, namun peta yang diberikan adalah peta tahun 2012.
b. Penyediaan Kebutuhan RTH Kota
Kota Mojokerto mengalami kendala dalam penyediaan RTH khususnya RTH publik dikarenakan keterbatasan lahan kota.
Dalam penetapan peruntukan lahan untuk RTH pada RTRW Kota Mojokerto ternyata tidak memperhatikan kondisi eksisting yang telah terbangun, sehingga Pemkot mengalami kesulitan dalam penyediaan RTH karena terkendala kepemilikan lahan oleh privat.
Terkait dengan RTH ini, Pemkot telah mengirimkan surat kepada BKPRN untuk pembahasan di tingkat pusat namun belum mendapatkan respon.
Usul Pemkot Mojokerto: Apakah bisa dilakukan penyediaan RTH di daerah yang bukan diperuntukkan untuk RTH sehingga peruntukan lahan eksisting saat ini yang seharusnya merupakan RTH tidak perlu diubah peruntukannya.
Usulan Perubahan Batas Ketinggian Bangunan dalam RTRW
c. Pemkot Mojokerto mengusulkan perubahan batas ketinggian lantai bangunan Kota Mojokerto yang tercantum dalam RTRW Kota Mojokerto, yang semula setinggi 6 lantai, agar diubah melebihi ketinggian tersebut sebelum waktu PK RTRW Kota Mojokerto (tahun 2017) melalui persetujuan DPRD.
Direktorat Perkotaan Kementerian PU yang berwenang melakukan pengendalian dan pengembangan kota, akan melakukan pembahasan lebih lanjut mengenai batas ketinggian bangunan, dan akan menyampaikan tanggapan tertulis terkait dengan pertanyaan dari DPRD Kota Mojokerto melalui surat elektronik.
22
3.2
FGD Arah Kebijakan Penataan Ruang Kawasan Laut Banda
Rapat ini diselenggarakan pada tanggal 5 November 2014 di Hotel Ambhara. FGD yang dipimpin oleh Kasubdit Pengaturan, Dit Penataan Ruang Wilayah Nasional, Ditjen Penataan Ruang, Kementerian PU ini bertujuan sebagai diskusi awal dalam rangka penyusunan materi teknis RTR KSN Laut Banda, yang akan dikerjakan oleh DJPR PU secara swakelola.
Beberapa hal yang mengemuka dalam rapat ini adalah:
RTR KSN Laut Banda dan sekitarnya akan mengatur wilayah darat dan laut. Untuk wilayah laut (yang merupakan bagian besar dalam lingkup KSN ini), harus memperhatikan dan sinkron dengan RZWP-3-K yang akan disusun oleh Pemda.
Kepulauan Banda yang merupakan bagian dari Laut Banda dan sekitarnya terdiri dari 10 pulau. Sebagian dari pulau-pulau tersebut berukuran kecil, sehingga harus dipastikan pola dan struktur ruangnya akan diatur dalam RTR KSN ini atau RZWP-3-K, terutama dengan banyaknya bangunan-bangunan warisan sejarah seperti benteng di beberapa pulau utama.
KKP mengusulkan harus adanya delineasi yang jelas dalam KSN Laut Banda ini, karena terkait dengan kewenangan menteri dalam memberikan ijin. Harus ada kriteria misalnya kriteria konservasi, sehingga izin tidak serta merta dapat diberikan oleh gubernur.
KKP akan menyusun RTR Laut Nasional yang juga akan menjelaskan kriteria KSN dan KSNT untuk laut. Perlu juga adanya sinkronisasi dengan KSN dan KSNT tersebut.
Harus ada penetuan prioritas dalam menyusun berbagai rencana ini, jangan sampai menimbulkan kebingungan di daerah.
Selanjutnya, akan diadakan pertemuan lanjutan, khususnya secara bilateral antara DJPR PU dengan KKP dalam harmonisasi perencanaannya.
3.3
Sosialisasi Usulan Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden, dan
Peraturan Menteri PPN/Kepala Bappenas untuk Dibahas dan Ditetapkan di
Tahun 2015
Rapat ini diselenggarakan pada 5 November 2014 di Hotel Grand Cemara. Pertemuan ini bertujuan untuk: a) membahas usulan RPP dan Rperpres dari unit kerja; b) mensosialisasikan daftar rencana penyusunan Permen Bappenas; c) mensosialisasikan hasil evaluasi Permen Tahun 2008 – 2014; dan d) fasilitasi konsultasi kebutuhan unit kerja berkaitan dengan pengusulan RPP, RPerpres, dan Rpermen. Catatan penting dari pertemuan ini:
Berdasarkan hasil evaluasi yang dilaksanakan oleh Biro Hukum, terdapat beberapa Permen Bappenas yang diusulkan untuk dicabut atau dilakukan perubahan atau dipertahankan. Misalnya seperti Permen PPN No. 2 Tahun 2013 tentang Pengaturan Kinerja Pegawai di Kementerian PPN/Bappenas perlu dipertahankan, tapi perlu dilakukan perbaikan, juga perlu penyusunan Permen tentang Tunjangan Prestasi Kerja, yang saat ini belum disusun. Ini menjadi tugas dan tanggungjawab dari Biro SDM Bappenas.
Dalam mengusulkan dan menyusun PP, Perpres, dan Permen, hal – hal yang harus diperhatikan, antara lain: a) jelas ‘apa’ yang akan diatur, bagaimana urgensi dan pokok pikirannya; b) sesuai dengan tugas dan fungsi Bappenas; c) tidak bertentangan dengan regulasi yang lebih tinggi; d) untuk penyusunan dan pengusulan Rapermen, perlu ada
23 kajian yang dilakukan, tidak perlu hingga menyusun naskah akademik karena dirasa rumit dan sulit, terkecuali untuk pengusulan UU. Jadi penyusunan Rapermen lebih mudah untuk dilaksanakan.
Meskipun pelaksanaan Musrenbang tidak ada diatur dalam peraturan – perundangan, keberjalannya cukup baik. Tapi untuk lebih mengefektifkan pelaksanaan baik di pusat maupun di daerah, sebaiknya tata caranya ditetapkan melalui Permen Bappenas. Ini menjadi hal yang diusulkan oleh Biro Hukum kepada Kedeputian Regional dan Otonomi Daerah.
Perihal Musrenbang, sejauh ini Bappenas hanya mengatur aplikasi e-Musrenbang (usulan Dit. PW) dan Kemdagri hanya mengatur tata kelola dokumen perencanaan. Dalam mengusulkan Permen, terlebih dahulu perlu dilakukan kajian substansi, pengusulan Permen sesuai dengan tupoksi, dan persetujuan dari pimpinan (Menteri PPN/Bappenas) sehingga perlu justifikasi/penjelasan detail berkaitan dengan urgensi dan pokok pikiran.
3.4
Komunikasi stakeholders LULUCF tentang Penyusunan Dokumen
FREL-REDD+ Indonesia yang akan disampaikan ke Sekretariat UNFCC
Rapat diselenggarakan oleh BP REDD+ pada tanggal 5 November 2014 di Kantor BP REDD+, Gd. Mayapada Tower II, Lt.15, Jakarta. Pokok-pokok Presentasi Rancangan FREL-REDD+, antara lain:
Forest reference emission level (FREL) akan disubmit 8 Desember 2015 di COP 20 di Lima. Technical assessment akan dilaksanakan pada Bulan Februari 2015. FREL bertujuan untuk menetapkan data yang dibutuhkan, metode dan teknologi yang digunakan serta identifikasi kebutuhan capacity building.
Data spasial untuk kehutanan yang digunakan adalah data Baplan yang telah dipublikasi di nfms.dephut.go.id. Data spasial gambut didapatkan dari Kementerian Pertanian. Data yang telah dikumpulkan tersebut digunakan untuk memprediksi emisi dari kedua sektor tersebut.
Proyeksi emisi pada tahun 2020 menjadi baseline untuk penurunan emisi yang telah menjadi komitmen Pemerintah Indonesia.
Pada saat perubahan pemerintahan saat ini, termasuk target baru distribusi tanah sebanyak 9 juta hektar. Perubahan kebijakan ini akan berdampak besar pada perubahan proyeksi pada periode pemerintahan 2015-2019 dan berpotensi untuk meningkatkan emisi di akhir tahun baseline di 2020. Disarankan perubahan kebijakan masuk ke dalam analisis proyeksi yang disusun.
Usulan perubahan fungsi dan peruntukan kawasan hutan perlu menjadi perhatian dalam penyusunan proyeksi emisi di masa yang akan datang. Perubahan tutupan hutan berkorelasi erat dengan perubahan fungsi dan peruntukan kawasan hutan. Sampai dengan saat ini, data fungsi kawasan tidak digunakan dalam penyusunan proyeksi ini.
3.5
Bimtek Pengelolaan Hibah
Pertemuan ini diselenggarakan pada 6 November 2014 di Hotel Akmani. Rapat dipimpin oleh Karo Hukum dengan narasumber Direktur Perencanaan Pendanaan Pembangunan (Tuti Riyati), Agus Sutarman dari Biro Renortala dan perwakilan staf di UKE I dan II terutama direktorat yang
24 mempunyai kegiatan Hibah atau PHLN. Tujuan rapat ini sebagai pembelajaran untuk mengetahui mekanisme pengelolaan pemberian hibah khususnya di Kementerian PPN/Bappenas. Selain paparan rapat dilanjutkan dengan tanya jawab, diskusi dan sharing pengalaman dari UKE I dan II yang memang selama ini menangani hibah tersebut.
Kesimpulan dari rapat ini, yaitu:
1. Identifikasi Permasalahan Hibah Bappenas.
2. Perencanaan kegiatan: Belum semua kegiatan hibah langsung dikonsultasikan rencana penerimaannya.
3. Nilai hibah:
Total nilai hibah yang dikelola oleh Bappenas sangat besar; Masih ada hibah yang belum teridentifikasi besaran nilainya; dan
Bappenas hanya menjadi koordinator pada beberapa hibah. Besaran nilai hibah yang dikelola oleh Bappenas, pada sebagian kegiatan belum teridentifikasi.
4. Hibah yang sekarang tidak adanya bluebooknya yang ada hanya rencana tahunan saja. Pembagian hibah menjadi langsung dan yang direncanakan sebenarnya untuk mempermudah dalam pelaksanaannya saja. Jika ada hibah yang akan dilaksanakan sebaiknya harus ada persetujuan dari Menteri.
5. Pemantauan dan Evaluasi kegiatan hibah dilakukan secara bersama oleh Kementerian Keuangan dan Kementerian PPN/Bappenas.
6. Kementerian PPN/Bappenas melakukan pemantauan dan evaluasi kinerja pelaksanaan hibah.
7. Cakupan pemantauan dan evaluasi: realisasi penyerapan dana, perkembangan pencapaian pelaksanaan fisik, perkembangan proses pengadaan barang dan jasa, permasalahan/kendala yang dihadapi dan langkah tindak lanjut yang diperlukan.
Selanjutnya, Biro Hukum akan mengirimkan hasil pembahasan dan diskusi dalam notulensi untuk disampaikan ke Unit Kerja Eselon I dan II.
3.6
Kunjungan DPRD Kabupaten Batang
Rapat koordinasi dan konsultasi tersebut dibuka oleh Direktur Tata Ruang dan Pertanahan, serta didampingi oleh perwakilan dari Direktorat Otonomi Daerah. Kunjungan DPRD Kabupaten Batang ini bertujuan untuk melakukan koordinasi dan konsultasi terkait dengan rencana pembangunan Pasar Batang.
Beberapa poin penting yang disampaikan DPRD Kabupaten Batang:
Sesuai dengan visi misi Bupati yang menjabat, Pemerintah Kabupaten Batang berencana untuk membangun pasar Batang dengan alokasi anggaran yang diusulkan sejumlah 85 M. Namun, rencana pembangunan pasar Batang tersebut belum masuk di dalam RPJMD sehingga dirasa perlu ada penyesuaian revisi RPJMD dan pembangunan pasar tersebut ditunda.
Terkait dengan pembiayaan pembangunan pasar tersebut, dirasa sangat besar jika dana harus digelontorkan dari APBD, sementara sekitar 65% APBD dianggarkan untuk belanja pegawai.
Pembangunan pasar tersebut mengundang pro dan kontra, karena kondisi infrastruktur di Kabupaten Batang pun sangat memprihatinkan. Dikhawatirkan jika alokasi APBD
25 dikucurkan seluruhnya untuk pembangunan pasar, maka kegiatan lain tidak mendapat alokasi pembiayaan.
Terkait dengan hal ini, Bappeda Kabupaten Batang telah melakukan konsultasi dengan Kemendagri dan Badan Anggaran mengenai KUA PPA. Rencana pembiayaan KUA PPAS mengenai pembangunan Pasar Batang tersebut telah disusun namun belum masuk ke dalam RPJMD. Adapun FS (Feasibility Study) mengenai pembangunan pasar masih dalam proses dan belum selesai. Untuk pembiayaan sendiri, Bappeda Kabupaten Batang telah berkonsultasi dengan beberapa bank yang memberikan pinjaman seperti BRI dan BNI. Pihak Bappeda pun telah menyampaikan hibah proposal ke Kementerian Keuangan, namun belum mendapat respon.
Perda RPJMD Pemerintah Kabupaten Batang telah disusun. Saat ini telah dilakukan revisi RPJMD mengenai keseluruhan rencana Pemkab Batang dan tercantum di dalamnya mengenai revitalisasi pasar dengan usulan anggaran 200 juta.
Pemerintah Daerah perlu menyelesaikan Kajian FS (Feasibility Study) program pembangunan pasar untuk mengetahui apakah program tersebut masih layak untuk dilakukan atau tidak, terutama kelayakan dari segi finansialnya.
3.7
Pembahasan NSPK tentang Instrumen Monitoring dan Evaluasi
Penyelenggaraan Penataan Ruang Daerah
Rapat ini diselenggarakan pada 6 November 2014 di Hotel The Mirah, Bogor. Rapat dipimpin oleh Henry Erafat (Bina Bangda Kemdagri), dan diawali dengan pemaparan rancangan instrumen monev penyelenggaraan PR daerah dan instrumen penilaian BKPRD oleh tenaga ahli, Irman Herry. Pertemuan ini bertujuan untuk: a) membahas NSPK tentang Instrumen Monitoring dan Evaluasi Penyelenggaraan Penataan Ruang Daerah; dan b) instrumen penilaian kinerja BKPRD.
Pada kesempatan tersebut, Dit TRP menyampaikan beberapa masukan, antara lain:
Sepakat perlu dilakukan monev bersama anggota BKPRN. Untuk Bappenas sendiri, melakukan monev pada tataran outcome dengan menggunakan data BPS hingga tingkat rumah tangga, dengan merujuk pada tujuan penataan ruang (UU 26/2007). Metode ini menggunakan sedikit indikator dan melakukan pemeringkatan terhadap penyelenggaraan PR Daerah.
Lingkup monitoring dan evaluasi, seharusnya tidak hanya terhadap pelaksanaan penataan ruang, tapi juga terhadap pembinaan penataan ruang karena Daerah melakukan pembinaan seperti pengembangan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat (PP 68/2010).
Untuk pembobotan perlu diskusi lebih mendalam. Perlu dilihat ulang bobot yang diberikan kepada Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kab/Kota karena keduanya memiliki kewenangan yang berbeda, Pemprov memiliki wewenang untuk mengkoordinasikan/membina Pemerintah Kab/Kota.
Indikator yang disusun sangat banyak. Sebaiknya indikator dilihat kembali dan disaring sehingga indikator output yang digunakan adalah indikator yang benar-benar penting/esensial.
Indikator harus lebih presisi lagi, sejauh ini baru kuantitas. Izin yang baik adalah izin yang keluar sesuai dengan RTR, bukan hanya jumlah rekomendasi dan tersedianya
26 perangkat perizinan yang sudah keluar. Jika jumlah rekomendasi dan izin yang keluar itu banyak, tapi tidak sesuai RTR, ini belum bisa dikatakan baik dari sisi evaluasi.
Indikator PPNS hanya dinilai pada keberadaannya. Perlu ada kejelasan terhadap indikator ini, acuan/rasio keberadaan PPNS ini terhadap jumlah orang ideal atau luas area.
Instrumen monitoring dan evaluasi penyelenggaraan penataan ruang daerah dan instrumen penilaian kinerja BKPRD masih berada pada tataran output. Selain itu, pemilihan indikator dan pembobotan masih perlu diskusi lebih mendalam. Indikator yang digunakan belum presisi dan pembobotan belum relevan.
Sekretariat BKPRN perlu mengagendakan diskusi bersama (Kemen PU, Bappenas, Kemdagri, KKP) yang membahas pelaksanaan pengawasan penyelenggaraan PR (monev) sehingga fokus dari NSPK yang disusun oleh masing-masing K/L terintegrasi dan tidak memberatkan daerah, dan monev bersama anggota BKPRN. Sebaiknya diusulkan Menko Perekomonian sebagai Ketua BKPRN bisa menjadi tuan rumah kegiatan ini.
3.8
Talkshow Hari Tata Ruang Nasional
Talkshow ini diadakan oleh Dirjen Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum bekerjasama dengan RRI Jakarta Pro 3 sebagai rangkaian dari kegiatan peringatan Hari Tata Ruang Nasional 2014, sekaligus merupakan bentuk dari sosialisasi kebijakan-kebijakan terkait penataan ruang. Pada talkshow di dihadirkan dua narasumber, yaitu: (i) Dedy Permadi, Direktur Pembinaan Penataan Ruang Daerah wilayah I, Kementerian Pekerjaan Umum; dan (ii) Oswar Mungkasa, Direktur Tata Ruang dan Pertanahan, Kementerian PPN/Bappenas.
Beberapa hal penting yang disampaikan pada acara tersebut:
Penataan ruang itu untuk semua, dari kita untuk kita oleh kita. Jika ada yang melanggar Tata Ruang, maka secara tidak langsung melanggar kesepakatan yang telah menjadi komitmen bersama.
Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Kabupaten/Kota memiliki kewajiban untuk melakukan sosialisasi RTRW kepada masyarakat di pelosok daerahnya masing-masing. Bagi masyarakat yang akan membeli tanah, disarankan untuk mengecek RTRW di daerah masing-masing, sehingga tanah yang nanti dikelola, peruntukkannya disesuaikan dengan RTRW yang telah ada. Dengan demikian, maka tata ruang dapat mewujudkan ruang nusantara yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan.
Selanjutnya, Direktorat Pembinaan Penataan Ruang Daerah Wilayah I, Kementerian Pekerjaan Umum akan mengirimkan rekaman hasil siaran radio di RRI tersebut kepada Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan Bappenas.
3.9
Rapat Pembahasan Raperda RTRW Kabupaten Pegunungan Arfak
Rapat diselenggarakan pada 7 November 2014 di Hotel Ambhara. Rapat bertujuan untuk membahas Raperda Raperda RTRW Kabupaten Pegunungan Arfak di lingkup BKPRN dalam rangka persetujuan teknis.
27 Beberapa poin penting dalam pembahasan rapat:
Kemenkopolhukam berpendapat bahwa penyusunan Raperda agar memperhatikan ketentuan pada PP No. 68 Tahun 2014 tentang Penataan Wilayah Pertahanan Negara; Kebijakan dan strategi terkait dengan konservasi kawasan masih belum sesuai dengan tujuan penataan ruang yang hendak dicapai;
Jaringan jalan agar disebutkan lebih rinci status dan kelasnya. Rencana pengembangan jalan yang berada di kawasan konservasi harus dilihat kembali apakah benar bisa membangun jalan di kawasan tersebut;
Wilayah sungai serta jaringan irigasi belum tercantum pada Raperda;
Penamaan kawasan cagar alam agar disesuaikan dengan data yang ada di Kementerian Kehutanan;
Wilayah-wilayah pertahanan agar dicantum dan sebutkan juga pada peta pola ruang; Indikasi Program dan Lampiran peta tidak disertakan dalam draf, ke depannya perlu dijaga konsistensi antara batang tubuh, lampiran indikasi program, dan lampiran peta (disesuaikan);
Perlu penyesuaian dengan UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah; dan Pemerintah Daerah perlu memahami bahwa konsekuensi setelah penetapan kawasan strategis kabupaten adalah menyusun Perda RTR kawasan Strategis Kabupaten yang telah ditetapkan tersebut.
Dalam penyusunan peta perlu berkonsultasi dengan BIG, sedangkan dalam penyusunan Lampiran Indikasi program disesuaikan dengan Permen PU No. 16/PRT/M/2009 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten. Selanjutnya, Dit. TRP akan mengirimkan secara resmi tanggapan tertulis mengenai Raperda RTRW tersebut.
3.10 Puncak Peringatan Hari Tata Ruang Nasional 2014
Puncak peringatan Hari Tata Ruang Nasional 2014 (Hatarunas 2014) diselenggarakan pada Minggu, 9 November 2014 di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta dengan tema “Penataan Ruang yang Partisipatif dan Berkeadilan”. Kegiatan ini dihadiri oleh Plt. Dirjen Penataan Ruang, Kementerian PU; Deputi Pengembangan Regional & Otda, Kementerian PPN/Bappenas; Deputi Bidang Informasi Geospasial Tematik, BIG; Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Investasi, Kementerian PU; Asdep Bidang Prasarana, Riset, Teknologi dan Sumber Daya Alam, Setkab; SKPD bidang Penataan Ruang 33 Provinsi; dan Pelopor Tata Ruang 33 Provinsi.
1. Isi sambutan Plt. Dirjen Penataan Ruang, Kementerian PU:
Penyampaian apresiasi terhadap penyelenggaraan peringatan Hatarunas 2014 yang merupakan kerjasama DJPR dengan BKPRN.
Dengan diperingatinya Hatarunas, seluruh masyarakat dan Pelopor Tata Ruang diharapkan mampu mendorong implementasi RTR.
Pelopor Tata Ruang agar bekerja bersama masyarakat untuk mengawal pelaksanaan kegiatan penataan ruang (pelopor as city changer).
2. Isi arahan Deputi Pengembangan Regional dan Otda, Kementerian PPN/Bappenas: Peringatan Hatarunas 2014 merupakan salah satu upaya: i) peningkatan kesadaran dan peran serta masyarakat; serta ii) sosialisasi berbagai kebijakan Pemerintah dan Pemerintah Daerah di bidang penataan ruang.
Peran serta masyarakat di bidang penataan ruang pada aspek perencanaan dilakukan melalui forum konsultasi publik. Melalui konsultasi publik diharapkan
28 akan terbangun komitmen dan kepatuhan masyarakat dalam pelaksanaan RTR (menumbuhkan sense of ownership).
Pada aspek pemanfaatan, dan pengendalian pemanfaatan ruang, perlu dilakukan pemantauan pelaksanaan RTR sehingga pelanggaran tata ruang dapat dideteksi secara dini. Pengenalan penataan ruang sejak dini merupakan salah satu bentuk optimalisasi peran serta masyarakat.
Pemerintahan saat ini berorientasi konkrit terhadap peningkatan pelayanan kepada masyarakat yang diposisikan sebagai subjek pembangunan.
Diharapkan peringatan Hatarunas 2014 menjadi momentum untuk bertukar pengalaman, berbagi ide-ide yang inovatif dan inspiratif, serta membangun jejaring para pelaku penataan ruang untuk bersama-sama membawa perubahan menuju tatanan kehidupan yang lebih baik.
3. Garis besar muatan Deklarasi Pelopor yang pembacaannya dipimpin oleh seorang Pelopor Tata Ruang dari Provinsi NTT:
Pelopor bersama-sama Pemerintah untuk ikut serta menyelenggarakan penataan ruang untuk mewujudkan tata ruang yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan.
Pelopor turut berperan aktif melakukan kegiatan yang cerdas, inonfatif dan kreatif untuk meningkatkan kualitas tata ruang pada lingkungannya.
Pelopor turut menyebarluaskan penataan ruang kepada generasi muda lainnya agar bersama-sama untuk ikut menata ruang untuk semuanya.
Pelopor mendukung program penataan ruang yang partisipatif dan berkeadilan untuk harmonisasi ruang wilayah nusantara untuk kehidupan yang lebih baik.
3.11 Penentuan dan pembahasan tema dan subtema BUTARU Edisi V dan VI
Rapat ini diselenggarakan pada 10 November 2014 di Ruang Allura III, Hotel Grand Kemang, Jakarta Selatan. Rapat Dewan Redaksi BUTARU bertujuan untuk menentukan tema serta persiapan penerbitan BUTARU Edisi IV (Juli–Agustus), V (September–Oktober), dan VI (November–Desember).
Beberapa poin penting dalam rapat, yaitu:
Butaru Edisi III dengan tema “Percepatan dan Legalitas RTR” telah terbit dan redaksi memberikan beberapa eksemplar kepada setiap peserta untuk didistribusikan di masing-masing instansi peserta.
Butaru Edisi IV yang mengambil tema “Selayang Pandang Tim Pelaksana BKPRN” masih dalam tahap penyusunan dan mengalami keterlambatan untuk terbit dikarenakan menunggu artikel dari Menteri PU sebelumnya, Djoko Kirmanto. Saat ini masih terus di follow up oleh pihak redaksi
Butaru Edisi V yang semula mengambil tema “KAPET” diubah menjadi “Pengembangan Kawasan Strategis Berdaya Saing?”. Adapun tulisan dari Dit. TRP untuk Butaru Edisi V yakni: (1) Rancangan teknokratik RPJMN Bidang Tata Ruang 2015-2019 (R. Sekilas Info); dan (2) Konsep roadmap RZWP3K dan LP2B (R. Wacana), telah diterima oleh pihak redaksi
Butaru Edisi VI mengambil tema Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia. Secara umum, Edisi VI ini akan membahas mengenai salah satu Nawacita Jokowi-JK yakni kemaritiman. Staf Ahli Menteri, Bidang Tata Ruang dan Maritim, Bappenas, Dr. Ir. Arifin
29 Rudiyanto, MSc, akan menjadi salah satu Profil Tokoh yang diwawancarai di Butaru Edsi VI.
Untuk mengisi Butaru EdisI IV dan VI tersebut, beberapa informasi dan tulisan yang harus disampaikan Direktorat TRP kepada redaksi, antara lain:
1) Kelengkapan sejarah BKPRN dari awal ketika masih disebut BKTRN yang tercantum pada kajian DSF untuk melengkapi Butaru Edisi IV; dan
2) Land Banking yang terkait dengan LP2B untuk Butaru Edisi VI (R.Wacana).
3.12 Rapat Direktur - Pra Musrenbang RPJMN di 5 Wilayah
Rapat ini dilaksanakan pada tanggal 11 November 2014 di Ruang Deputi VII. Beberapa hal penting yang disampaikan oleh pimpinan yaitu :
Menteri PPN/Kepala Bappenas akan mengadakan kunjungan kelima wilayah untuk menjelaskan draft Buku 3 Rancangan Awal RPJMN. Deputi Pendanaan menyarankan agar memasukkan juga materi maritim, pangan, pariwisata dan energi.
Jadwal sementara adalah (i) 8 Desember 2014 di Ambon (Papua, Papua Barat, Maluku dan Maluku Utara); (ii) 9 Desember di Palu (seluruh Sulawesi); (iii) 10 Desember di Tarakan (seluruh Kalimantan); (iv) 12 Desember di Mataram (Jawa, Bali dan Nusa Tenggara); (v) 15 Desember di Belitung (seluruh Sumatera).
Peserta diusulkan Bappeda propinsi, LSM, anggota DPD, dan perguruan tinggi. Rombongan Bappenas akan terdiri dari Menteri, Deputi dan Eselon II terkait.
Masing-masing Direktorat di Kedeputian VII akan bertanggungjawab terhadap 1 (satu) lokasi, yaitu Ambon (KKDT), Mataram (Kotdes), Palu (TRP) lainnya belum ditentukan. Terkait item 4, tugas direktorat adalah menjadi penghubung dengan panitia lokal, bertanggungjawab terhadap penyelenggaraan. Tugas rincinya akan menyusul. Sebagai penanggungjawab kegiatan di Ambon adalah Kasubdit infosos, TRP.
Rapat Pimpinan Eselon I dengan agenda persiapan Pramusrenbang RPJMN akan diadakan pada tanggal 12 Nopember 2014 jam 16.00 WIB di Bappenas.
Pendanaan kegiatan berasal dari Sekut Bappenas.
3.13 Konferensi Pers Standar Operasi dan Prosedur (SOP) Pemetaan
Partisipatif, Satu Langkah Menuju Pengakuan Peta Wilayah Masyarakat
Adat/Lokal
Konferensi pers diselenggarakan pada tanggal 12 November 2014 di Bloeming FX, senayan. Konferensi pers ini bertujuan untuk menjadi media diseminasi informasi dan sosialisasi SOP Pemetaan Partisipatif kepada para pihak dan masyarakat umum melalui media cetak dan elektronik nasional. Pada konferensi pers ini menghadirkan empat narasumber, yaitu: 1) William Sabandar, Deputi Bidang Operasional BP REDD+; 2) Deny Rahadian, Koordinator Nasional JKPP; 3) Arifin Saleh, Deputi III Sekjen AMAN; dan 4) Ari Dartoyo, Kepala Bidang Standardisasi, BIG.
Beberapa hal yang disampaikan para Narasumber, antara lain:
1) Konflik agraria seringkali terjadi karena dipicu oleh tumpang tindih lahan di wilayah masyarakat dan belum adanya satu peta yang dapat dijadikan sebagai rujukan. Untuk menimimalisir terjadinya konflik, pemetaan partisipatif yang dilakukan oleh masyarakat adat di wilayahnya menjadi penting.
30 2) Keputusan MK No 35 Tahun 2012 menyatakan bahwa hutan adat dikeluarkan dari hutan negara dan inisiasi RUU Pengakuan dan Perlindungan Hak-Hak Masyarakat Adat (RUU PPHMA), turut menunjukkan pengakuan dan perlindungan terhadap hutan adat yang menjadi hak masyarakat adat.
3) Terbitnya Perpres No 14 Tahun 2014 mengenai Jaringan Informasi Geospasial Nasional (JIGN) mengamanatkan BIG menjadi penanggung jawab pembangunan Jaringan Informasi Geospasial Nasional (JIGN). Saat ini BIG telah menerbitkan pula SOP untuk Pemetaan Partisipatif, namun terdapat perbedaan antara SOP yang dimaksud oleh BIG dengan yang dimaksud oleh JKPP.
4) Sesuai dengan Perpres No 14 Tahun 2014, BIG diamanatkan sebagai penyelenggara IGD (Informasi Geospasial Dasar) dan IGT (Informasi Geospasial tematik), termasuk di dalamnya peta dasar dari skala 1:1000 hingga skala terkecil.
5) Kebijakan One Map Policy mengacu pada IGD, sementara IGT merupakan informasi ruang yang sangat luas dan terbatas. SOP Pemetaan Partisipatif yang telah dibuat lebih mengacu kepada ranah IGTnya
JKPP akan mengawal SOP Pemetaan Partisipatif tersebut untuk melakukan konsultasi publik, konsultasi pakar, hingga mengajukan sertifikasi ke Badan Standarisasi Nasional (BSN) dan mendapatkan sertifikasi SNI.
3,14 Trilateral Meeting Kerangka Regulasi RPJMN 2015-2019 dan RKP 2015
Rapat dipimpin oleh Direktur Analisa Peraturan Perundang-undangan, Bappenas. Diselenggarakan pada 13 November 2014, di Hotel Ibis Tamarin. Tilateral Meeting Kerangka Regulasi bertujuan untuk menyepakati arah kerangka regulasi yang akan disusun terkait dengan bidang tata ruang dan pertanahan pada tahun 2015-2019.
Pada kesempatan yang ada, disampaikan masukan terkait RPJMN dan RKP, oleh: (i) Direktur Analisa Peraturan Perundang-undangan, Bappenas menyampaikan agar memprioritaskan peraturan perundang-undangan yang sangat mendesak dengan alasan yang kuat mengenai kebutuhan regulasi tersebut. Selain itu, perlu diperhatikan agar peraturan perundang-undangan yang substansinya hampir sama atau mirip dapat disusun dalam satu peraturan perundang-undangan sehingga lebih efektif dan efisien; (ii) Perwakilan dari BPHN, KemenkumHAM menyampaikan terkait dengan RUU Pertanahan, perlu diantisipasi agar Pemerintah segera menyiapkan kajian lebih mendalam karena ada kemungkinan RUU Pertanahan akan menjadi prioritas dan diajukan kembali oleh DPR.
3.15 Temu Wicara dengan Media
Media Gathering diselenggarakan pada tanggal 14 November 2014 di Hotel Mason Pine, Kota Baru Parahyangan, Bandung. Temu wicara dipimpin oleh Sesmen PPN/Bappenas. Beberapa hal penting yang disampaikan oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas yaitu :
Prinsip penting yang akan mewarnai pemerintahan JKW diantaranya (i) terbuka; (ii) perhatian utama peningkatan kesejahteraan masyarakat; (iii) mengembalikan ke 'jalur yang benar'; (iv) meningkatkan nilai tambah produk (tidak mengeksploitasi SDA); (v) pembangunan terpadu dengan mempertimbangkan target semua sektor; (vi) memperbaiki kualitas belanja pemerintah pusat dan daerah.