31 BAB 4
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN A. Hasil Pengumpulan Data
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah
perusahaan-perusahaan manufaktur yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada
tahun 2013.Berdasarkan informasi yang dihimpun dari laporan keuangan
yang terpublikasi di website BEI pada tahun 2013 terdapat kurang lebih 103
perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sampel
yang berhasil diperoleh dari purposive sampling adalah 77 perusahaan dan
data yang digunakan merupakan informasi pada laporan keuangan tersebut
pada tahun 2013. Secara keseluruhan, proses pengambilan sampel dengan
metode purposive sampling hingga menghilangkan outlier adalah sebagai
berikut:
TABEL 4.1
Prosedur Pengambilan Sampel
Jumlah perusahaan manufaktur(2013) 103
Perusahaan yang tidak melaporkan environmental disclosure (3)
Laporan keuangan tidak disajikan dalam Rupiah (23)
Jumlah perusahaan yang dijadikan sampel 77
Variabel pengganggu (outlier) (3)
Jumlah sampel yang diteliti 74
B. Analisis Data
1. Statistik Deskriptif Variabel Penelitian
Statistik deskriptif dalam penelitian ini bertujuan untuk menyajikan
informasi terkait karakteristik variabel penelitian yang digunakan.
Statistik deskriptif dibutuhkan untuk menjelaskan karakteristik setiap
variabel yang digunakan meliputi nilai minimum, maksimum, rata-rata
(mean) dan standar deviasi. Berikut disajikan tabel hasil analisis statistik
deskriptif atas model regresi yang digunakan dalam penelitian ini:
TABEL 4.2
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
UDK 74 2.00 8.00 4.1622 1.63880 PDK 74 .00 .80 .3811 .12370 PFT 74 -.09 .66 .0900 .11438 SZE 74 10.99 14.33 12.3073 .71329 LVRG 74 .04 6.17 1.1888 1.30838 ED 74 .07 .60 .2281 .12040 Valid N (listwise) 74
Sumber : Hasil pengolahan data SPSS analisis deskriptif
Dari hasil statistik deskriptif di atas, dapat dilihat bahwa untuk variabel
independen ukuran dewan komisaris (UDK) rata-rata perusahaan
manufaktur memiliki nilai UDK sebesar 4,16. Perusahaan dengan nilai
UDK terbesar adalah PT Indo Acidatama Tbk dengan nilai 8,00,
sedangkan perusahaan dengan nilai UDK terkecil salah satu diantaranya
PT Beton Jaya Manunggal Tbk, yaitu sebesar 2,00. UDK menunjukkan
Berbeda dengan UDK, proporsi dewan komisaris (PDK) yaitu
perbandingan jumlah dewan komisaris independen terhadap dewan
komisaris perusahaan. Dewan komisaris independen adalah anggota
dewan komisaris, yang bebas dari hubungan bisnis yang dapat
mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen.
Dewan komisaris sendiri erat hubungannya dengan tanggung jawab
perusahaan dengan pihak investor maupun kreditur perusahaan, dan
segala kepentingan yang berkaitan dengan operasional perusahaan,
terutama dalam menyampaikan segala informasi melalui laporan tahunan
yang dibutuhkan oleh kreditur. Dalam analisis diskriptif diatas, terdapat
nilai PDK 0,80 dengan rasio terbesar yaitu 0,80 yang dimiliki oleh PT
Unilever Indonesia Tbk, dan nilai terkecil yaitu 0,00, atau tidak memiliki
dewan komisaris independen.
Semakin besar dewan komisaris independen, maka seharusnya informasi
yang berkaitan dengan pihak yang berkepentingan, yang terdapat pada
laporan tahunan perusahaan semakin lengkap dan memadai, terutama
pada bagian corporate social responsibility (CSR), karena CSR
merupakan informasi penting bagaimana perusahaan bertanggung jawab
tidak hanya kepada investor dan kreditor, tetapi juga terhadap masyarakat
sekitar dan lingkungan perusahaan.
Sedangkan untuk variable Profitabilitas, nilai maksimum adalah 0,66 dan
nilai minimum adalah -0,09. Semakin tinggi nilai Profitabilitasnya
laporan tahunan perusahaan, dalam hal ini PT Multi Bintang Indonesia
Tbk seharusnya memiliki nilai disclosure yang baik.
Penelitian ini juga menggunakan variable control size dan leverage, size
pada penelitian ini menggambarkan ukuran perusahaan yang dihitung
dengan menggunakan logaritma aset yaitu dengan nilai size terbesar
adalah 14,33 dan nilai terkecil 10,99. Sedangkan untuk leverage, nilai
terbesar adalah 6,17 dan nilai terkecil adalah 0,4.
2. Uji Asumsi Klasik a. Uji Normalitas
Uji normalitas data digunakan untuk menentukan apakah data
terdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas yang digunakan dalam
penelitian ini adalah uji Kommogorov-Smirnov. Penentuan normal
tidaknya suatu distribusi data ditentukan berdasarkan taraf signifikansi
hasil hitung. Jika taraf signifikansinya berada di atas 0,05 maka data
dapat dikatakan terdistribusi normal, dan sebaliknya jika taraf
signifikansinya berapa di bawah 0,05 maka data dinyatakan tidak
terdistribusi normal.
Berdasarkan Tabel 4.3, bahwa angka signifikansi Asymp. Sig.
(2-tailed) adalah sebesar 0,403 yang berarti berada di atas 0,05. Dengan
demikian dapat dinyatakan bahwa data terdistribusi normal sehingga
TABEL 4.3
b. Uji Heterokedastisitas
Dalam penelitian ini uji heteroskedastisitas dilakukan dengan
menggunakan Gletzer Test, di mana seluruh variabel independen
diregresi dengan ABS residual. Jika asymp sig pada masing-masing
variabel independen di atas 0,05 maka data tidak mengalami
heteroskedastisitas atau berarti data dinyatakan homogen. Sedangkan
sebaliknya jika asymp sig pada masing-masing variabel independen
berada di bawah 0,05 maka data mengalami heteroskedastisitas.
Dapat dilihat dari tabel 4.4 pada kolom Sig. bahwa setiap variabel
memiliki nilai lebih dari 0.05. Untuk variabel ukuran dewan komisaris
memiliki nilai Sig. 0,421, lalu variabel proporsi dewan komisaris
independen memiliki nilai 0,525, dan untuk variabel Profitabilitas
memiliki nilai Sig. 0,294. Maka dapat disimpulkan bahwa setiap data
yang dimasukkan tidak heterokedastisitas atau homogen. One-Sample Kolmogorov-Smirnov Tes
Unstandardized Residual
N 74
Normal Parametersa Mean .0000000
Std. Deviation .08445556
Most Extreme Differences Absolute .104
Positive .104
Negative -.092
Kolmogorov-Smirnov Z .893
Asymp. Sig. (2-tailed) .403
Tabel 4.4
Hasil Pengujian Heterokedastisitas dengan metode Glejser
Model T Sig. UDK PDK PFT .810 .638 1.057 .421 .525 .294
Keterangan; UDK= Ukuran Dewan Komisaris; PDK= Proporsi Dewan Komisaris Independen; PFT=Profitabilitas;
Dependend; abs_res
c. Uji Multikolinieritas
Uji multikolinieritas yang dilakukan untuk penelitian ini adalah
menggunakan nilai Variance Inflation Factor (VIF). Model
dinyatakan terbebas dari masalah multikolinieritas jika nilai VIF
berada di bawah 10 atau nilai tolerance berada di atas 0,1. Berikut
adalah hasil dari uji multikolinieritas.
TABEL 4.5
Hasil Pengujian Multikolinieritas
Varianel Collinearity Statistics
Tolerance VIF UDK PDK PFT .710 .944 .831 1.409 1.059 1,203
Keterangan; UDK= Ukuran Dewan Komisaris; PDK= Proporsi Dewan Komisaris Independen; PFT=Profitabilitas;
Dependend; ED
Dari Tabel 4.5 di atas menggambarkan semua nilai VIF berada di
bawah 10, dan nilai tolerance di atas 0,1 untuk masing-masing
variabel. Untuk Variabel UDK memiliki nilai Tolerance sebesar 0,710
dengan nilai VIF 1,409, sedangkan variabel PDK memiliki nilai
memiliki nilai Tolerance sebesar 0,831 dan nilai VIF sebesar 1,203.
Artinya model penelitian ini terbebas dari multikolinieritas.
d. Uji Autokorelasi
Dalam penelitian ini, uji autokorelasi menggunakan Runs Test, dengan
acuan yaitu hasil Asymp Sig. Lebih dari 5% atau 0,05 maka data
penelitian ini bebas dari autokorelasi. Dapat dilihat dari tabel 4.6
bahwa nilai Asymp Sig.adalah 0,061 atau 6% yang berarti nilai
tersebut berada lebih dari 5% atau 0,05. Hal tersebut membuktikan
bahwa data penelitian ini bebas dari autokorelasi.
TABEL 4.6
Runs Test
Unstandardized Residual
Test Valuea .00191
Cases < Test Value 37 Cases >= Test Value 37
Total Cases 74
Number of Runs 30
Z -1.873
Asymp. Sig. (2-tailed) .061 a. Median
3. Uji Hipotesis Regresi Linier Berganda
Hasil perhitungandengan menggunakanSPSS 16.00 for windows adalah
a. Koefisien Determinasi
Hasil nilai adjusted R-Square dari regresi digunakan untuk
mengetahui besarnya struktur modal yang dipengaruhi oleh
variable-variabel bebasnya. TABEL 4.7 Model Summaryb Mode l R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .713a .508 .472 .08751
a. Predictors: (Constant), LVRG, UDK, PDK, PFT, SZE b. Dependent Variable: ED
Pada tabel 4.7 menunjukkan bahwa koefisien determinasi yang
ditunjukkan dari nilai adjusted R Square sebesar 0.472 hal ini berarti
47,2% variasi environmental disclosure dapat dijelaskan oleh variasi
dari ketiga variabel independen dan dua variabel control yaitu UDK,
PDK dan PFT serta size dan leverage. Sedangkan sisanya (100% -
47,2% = 52,8%) dijelaskan sebab yang lain di luar model.
b. Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji Statistik t)
Untuk menentukan pengaruh masing-masing variabel bebas terhadap
variabel tergantung di gunakan uji t. Dari hasil pengujian analisis
regresi sebagaimana pada lampiran diketahui nilai t hitung sebagai
Tabel 4.8 Coefficienta
H
Hasil perhitungan statistik tersebut menunjukkan bahwa satu dari
tiga variable independen dan satu dari dua variabel kontrol yang
dimasukkan dalam model signifikan mempengaruhi environmental
disclosure. Variabel tersebut adalah Profitabilitas, dan size. Variabel
ukuran dewan komisaris dan proporsi dewan komisaris independen
tidak signifikan karena nilainya negatif atau minus dan nilainya jauh
di bawah 0,05. Sedangkan variabel Profitabilitas dan size
menunjukkan tingkat signifikan sebesar 0,245 dan 0,111
menggambarkan seberapa besar pengaruh variabel tersebut terhadap
environmental disclosure.
Hasil estimasi model dapat ditulis dalam persamaan di bawah ini:
EDd = -1.106 – 0.004UDKi1 – 0.096PDKi2 + 0.245PFTi3 + 0.111SZEii + 0.002LVRGii Model B t Sig. 1 (Constant -1.106 -5.746 .000 UDK -0.004 -.518 .606 PDK -.096 -1.123 .265 PFT .245 2.497 .015 SZE .111 6.797 .000 LVRG .002 .181 .857
Keterangan:
1) Konstanta sebesar -1,106 menyatakan bahwa jika tidak ada
variabel independen dianggap konstan (X1=0, X2=0). Maka
environmental disclosure setiap perusahaan sebesar -1,106.
2) Koefisien regresi UDK sebesar -0,004, artinya apabila terjadi
perubahan variabel UDK sebesar 1% akan mengurangi
environmental disclosure sebesar -0,004(-0.4%). Variabel UDK
memiliki pengaruh terhadap ED sebesar -0.4%, atau tidak
berpengaruh.
3) Koefisisen PDK sebesar -0,096, artinya apabila terjadi perubahan
PDK sebesar 1% akan menaikan environmental disclosure
sebesar -0.096 atau -9.6%. Variabel PDK memiliki pengaruh
terhadap ED sebesar -9.6% atau tidak berpengaruh.
4) Koefisien PFT bertambah positif sebesar 0,245, artinya apabila
terjadi perubahan PFT sebesar 1% akan menaikkan Belanja
Modal sebesar 0,245 atau 24.5%. Variabel PFT memiliki
pengaruh sebesar 24.5% terhadap ED.
5) Koefisien SZE bertambah sebesar 0,111 artinya apabila terjadi
perubahan SZE sebesar 1% akan menaikkan environmental
disclosure sebesar 0,111 atau 11.1%.
6) Koefisien LVRG bertambah sebesar 0.002 artinya apabila terjadi
perubahan LVRG sebesar 1% akan menaikan environmental
c. Hasil Pengujian Hipotesis 1) Variabel Independen
Uji statistik t menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variable
independen secara individual dalam menerangkan variasi
variable dependen (Ghozali, 2011).
Tabel 4.9 Hasil Uji Regresi
H1: Ukuran dewan komisaris (UDK) berpengaruh positif
terhadap Environmental Disclosure
Pada output regresi dapat dilihat bahwa angka signifikansi untuk
variabel ukuran dewan komisaris sebesar 0,606. Nilai ini lebih
besar dari tingkat signifikansi sebesar 0,05 sehingga dapat
disimpulkan bahwa ukuran dewan komisaris secara individual
tidak berpengaruh positif terhadap Environmental Disclosure
dan dapat disimpulkan bahwa hipotesis 1 ditolak. Hal ini sejalan
dengan penelitian Effendi et al yang menunjukan nilai β1
sebesar -0,004 dengan tingkat signifikan sebesar 0,736 berada lebih besar pada α = 0,05 yang menyatakan bahwa ukuran
Model T Sig. 1 (Constant -5.746 .000 UDK -.518 .606 PDK -1.123 .265 PFT 2.497 .015 SZE 6.797 .000 LVRG .181 .857
dewan komisaris tidak berpengaruh signifikan terhadap
Environmental Disclosure. Lain halnya dengan hasil penelitian
Sun et.al. (2010) menemukan adanya pengaruh positif yang
signifikan antara ukuran dewan komisaris dengan environmental
disclosure
H2: Proporsi Dewan Komisaris Independen (PAD)
berpengaruh positif terhadap Environmental Disclosure
Pada output regresi menunjukkan bahwa angka signifikansi
untuk variabel Proporsi Dewan Komisaris sebesar 0.265. Nilai
ini lebih besar dari tingkat signifikansi sebesar 0.05 sehingga
dapat disimpulkan bahwa proporsi dewan komisaris secara
individual tidak berpengaruh terhadap environmental disclosure
dan dapat disimpulkan hipotesis 2 ditolak. Hasil ini sama
dengan hasil penelitian Suhardjanto dan Miranti (2008), yang
menyatakan bahwa proporsi dewan komisaris independen
memiliki pengaruh negatif terhadap nvironmental disclosure.
Namun berbeda dengan hasil penelitian Choiriyah (2010) yang
menyatakan bahwa proporsi dewan komisaris independen
berpengaruh positif terhadap environmental disclosure
H3: Profitabilitas (PFT) berpengaruh positif terhadap
Pada output regresi dapat dilihat bahwa angka signifikansi untuk
Profitabilitas sebesar 0.015. Nilai ini lebih kecil dari tingkat
signifkansi sebesar 0.05 sehingga dapat disimpulkan bahwa
Profitabilitas secara individual berpengaruh positif terhadap Environmental Disclosure dan dapat disimpulkan hipotesis 3
diterima. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Suhardjanto
(2008) dan Effendi et al yang menunjukkan bahwa profitabilitas
berpengaruh signifikan terhadap environmental disclosure.
2) Varibel Kontrol
Pada output regresi menunjukkan bahwa angka signifikansi
untuk Size sebesar 0,000 nilai ini lebih kecil dari tingkat
signifikansi sebesar 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa size
secara individual berpengaruh positif terhadap Environmental
Disclosure. Perusahaan besar merupakan emiten yang banyak
disoroti, pengungkapan yang lebih besar merupakan cara untuk
mengurangi biaya politis sebagai bukti tanggung jawab sosial
perusahaan (Sembiring, 2005).
Sedangkan untuk leverage diproksikan dengan rasio kewajiban
terhadap modal sendiri atau ekuitas, angka signifikansinya
menunjukkan sebesar 0,857 jauh lebih besar dari tingkat
signifikansi 0,05 sehingga Leverage tidak dapat dibuktikan
secara signifikan dapat mempengaruhi Environmental Disclosure. Namun Hasil penelitian Effendi Bahtiar menunjukan
bahwa leverage berpengaruh negatif terhadap environmental
disclosure, yaitu apabila semakin rendah tingkat leverage
perusahaan, maka pengungkapan lingkungan yang dilakukan
akan semakin luas dan sebaliknya, semakin tinggi rasio leverage
perusahaan maka pengungkapan lingkungan yang dilakukan
menjadi lebih sedikit atau rendah.
C. Pembahasan Hipotesis
1. Ukuran Dewan Komisaris
Ukuran atau jumlah dari dewan komisaris perusahaan tidak berpengaruh
signifikan terhadap Environmental Disclosure mungkin disebabkan
karena pada dasarnya, dewan komisaris hanya memiliki fungsi
pengawasan terhadap kinerja finansial, sesuai dengan teori agensi bahwa
keberadaan dewan komisaris bukan untuk mengawasi kinerja sosial tetapi kinerja finansial. Dewan Komisaris tidak boleh turut serta dalam
mengambil keputusan operasional. Dalam hal Dewan Komisaris
mengambil keputusan mengenai hal-hal yang ditetapkan dalam anggaran
dasar atau peraturan perundang-undangan, pengambilan keputusan
tersebut dilakukan dalam fungsinya sebagai pengawas, sehingga
keputusan kegiatan operasional tetap menjadi tanggung jawab Direksi.
Kewenangan yang ada pada Dewan Komisaris tetap dilakukan dalam
fungsinya sebagai pengawas dan penasihat (Pedoman Umum GCG,
Dalam penelitian ini, penulis melihat bahwa dalam CSR
perusahaan-perusahaan manufaktur yang terdaftar dalam BEI ini dalam
menyampaikan atau mengungkapkan tanggung jawab perusahaannya
seperti menitikberatkan pada salah satu aspek saja, dan pada umumnya
pada aspek sosial. Menurut Effendi et al (2012), alasan mengapa ukuran
dewan tidak berpengaruh terhadap environmental disclosure karena
dewan komisaris tidak mempunyai kepentingan apapun terhadap
environmental disclosure, sehingga berapapun jumlahnya dewan
komisaris dalam suatu perusahaan tidak satupun dewan komisaris yang
memperhatikan terhadap pengelolaan lingkungan.
2. Proporsi Dewan Komisaris Independen
Dewan Komisaris Independen berperan sebagai pihak pengawas agar
hasil laporan yang disampaikan tetap independen atau agar tidak
mengandung kepentingan-kepentingan oleh intern perusahaan. Komisaris
Independen tidak memiliki hak dan kepentingan dalam perusahaan untuk
menyusun dan menyampaikan pengungkapan khususnya pengungkapan
lingkungan, karena komisaris independen adalah pihak yang tidak
memiliki keterikatan atau kepentingan dengan perusahaan, atau mereka
yang tidak mempunyai hubungan bisnis dan kekeluargaan dengan
pemegang saham pengendali, anggota Direksi dan Dewan Komisaris
lain, serta dengan perusahaan itu sendiri, (Pedoman Umum GCG, 2006)
disclosure dalam CSR yang disusun oleh perusahaan. Keberadaan atau
proporsi dewan komisaris independen tidak dapat mempengaruhi proses
pengambilan keputusan dikarenakan mereka tidak mempunyai hubungan
dengan aktivitas atau operasi sehari-hari perusahaan.
3. Profitabilitas
Profitabilitas merupakan salah satu bagian penting yang diamati oleh
para pemegang kepentingan perusahaan, baik pihak internal ataupun
eksternal perusahaan, untuk menilai kinerja perusahaan. Dalam penelitian
ini profitabilitas diukur menggunakan ROA, yaitu skala perbandingan
laba bersih tahun berjalan dengan total aset perusahaan, yang
menggambarkan besarnya aset yang dimiliki perusahaan yang dibiayai
oleh aktivitas perusahaan. Apabila suatu perusahaan memiliki tingkat
profitabilitas yang tinggi, seharusnya memiliki tingkat pengungkapan
yang tinggi juga sebagai bentuk nilai tambah dan tanggung jawab
perusahaan bagi para kreditur. Sehingga semakin tinggi tingkat
Profitabilitas perusahaan maka semakin besar pula informasinya yang