KATA PENGANTAR. Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas ini.

Teks penuh

(1)

KATA PENGANTAR

Puji syukur panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas berkat rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Hubungan antara Ilmu dengan Agama” yang merupakan salah satu tugas dari mata kuliah Filsafat Ilmu.

Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas ini.

Dalam penulisannya, kami menyadari masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu, kami berharap berbagai masukan yang bersifat membangun dari para pembaca dan semoga makalah ini bermanfaat bagi seluruh pembaca.

Pagarawan, 02 Mei 2014

(2)

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ... i DAFTAR ISI ... ii BAB I PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang. ... 1 1.2 Rumusan Masalah. ... 2 1.3 Tujuan. ... 2 1.4 Manfaat. ... 2 1.5 Metode Penelitian... 2

BAB II ILMU DAN AGAMA ... 3

2.1 Pengertian Ilmu dan Agama ... 3

2.1.1 Pengertian Ilmu ... 3

2.1.2 Pengertian Agama. ... 4

2.2 Pandangan antara Ilmu dengan Agama. ... 5

2.3 Hubungan antara Ilmu dengan Agama. ... 6

BAB III PENUTUP ... 8

3.1 Simpulan. ... 8

3.2 Saran ... 9

(3)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Tidak puasnya manusia dalam mencari ilmu dan mecari kebenaran dalam kehidupan, membuat banyaknya pemahaman-pemahaman yang beragam. Hal ini mendorong manusia untuk mentelaah ilmu lebih dalam. Manusia pun berlomba untuk mempengaruhi manusia lainnya agar berpikir sama dengannya. Suatu keinginan mencari kebenaran timbul dari sebuah pemikiran manusia tersebut. Kebenaran yang dicari dan didapatkan manusia tersebut terkadang membuat keraguan oleh manusia lainnya, manusia lainnya melakukan pengujian dan mencari kebenaran tersebut, dan hal ini berlanjut terus menerus .

Keinginan manusia mencari kebenaran terhadap sesuatu, membuat ilmu pengetahuan berkembang hingga seperti saat ini. Teknologi yang ada pada saat ini merupakan hasil dari perkembangan dan pengaplikasian ilmu pada saat ini. Banyak manfaat dari ilmu yang didapatkan pada saat ini, tetapi ilmu juga sebagai penyebab munculnya kemudaratan di muka bumi. Sebagai contoh, pada negara-negara maju yang mengembangkan ilmu untuk mencari senjata pemusnah massal sebagai alat agar negaranya ditakuti oleh negara lain.

Dalam penggunaan ilmu diperlukan sesuatu untuk mengatur pemakaian ilmu untuk keberlangsungan hidup manusia. Sesuatu yang diperlukan untuk pengatur penggunaan itu adalah sesuatu yang membuat ilmu itu ada. Sesuatu yang membuat ilmu itu adalah Allah SWT yang menciptakan semesta alam dan semua kejadian yang ada dimuka bumi dan menurunkan agama untuk mengatur segala yang ada dibumi. Ini membuat sebagian manusia menelusuri keterkaitan dan kebenaran ilmu dengan agama.

(4)

Oleh karena itu, dalam makalah ini kami mengangkat masalah hubungan antara ilmu dengan agama. Dengan keterbatasan ilmu dan pengetahuan yang kami miliki, kami mencoba merangkum berbagai tulisan yang berkaitan ilmu dengan agama.

1.2 Rumusan Masalah

Masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah : 1. Apa pengertian ilmu dan agama ?

2. Bagaimana pandangan antara ilmu dan agama ? 3. Bagaimana hubungan antara ilmu dan agama ?

1.3 Tujuan

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah : 1. Mengetahui pengertian ilmu dan agama. 2. Mengetahui pandangan antara ilmu dan agama. 3. Mengetahui hubungan antara ilmu dan agama.

1.4 Manfaat

Dapat memahami lebih mendalam tentang keterkaitan antara ilmu dengan agama, agar tidak ada keraguan tentang hubungan keduanya, dan dapat mengetahui kebesaran Allah SWT sebagai pencipta kehidupan.

1.5 Metode Penellitian

Untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukan, kami mencari bahan dan sumber-sumber dari media massa elektronik yang berjangkau yaitu internet.

(5)

BAB II

ILMU DAN AGAMA

2.1 Pengertian Ilmu dan Agama

Ilmu dan agama sulit untuk diartikan bersamaan. Berikut ini merupakan uraian dari keduanya :

2.1.1 Pengertian Ilmu

Suatu ilmu harus bersifat empiris (hasil dari panca indera/percobaan), sistematis (memeiliki keterkaitan yang teratur), objektif (bukan hasil prasangka), analitis dan verifikatif (bertujuan mencari kebenaran ilmiah). Ilmu memiliki pokok persoalan (objek) dan fokus perhatian. Sebagai contoh ilmu alam. Ilmu alam memiliki pokok persoalan terkait dengan alam dengan beberapa fokus perhatian seperti fisika, kimia, biologi, dll.

Secara etimologi ilmu berasal dari kata “ilm” (Bahasa Arab), Science (Bahasa inggris) atau Scientia (Bahasa Latin)yang mengandung kata kerja scire yang berarti tahu atau mengetahui. Lalu apa perbedaan ilmu dengan pengetahuan? Pengetahuan yang merupakan padan kata dari knowledge merupakan kumpulan fakta – fakta, sedangkan ilmu adalah pengetahuan ilmiah/sistematis. Kumpulan fakta – fakta tersebut merupakan bahan dasar dari suatu ilmu, sehingga pengetahuan belum dapat dikatakan sebagai ilmu, namun ilmu pasti merupakan pengetahuan.

Secara garis besar, ilmu merupakan suatu kumpulan proses dengan menggunakan suatu metode ilmiah yang menghasilkan suatu pengetahuan yang sistematis.

(6)

2.1.2 Pengertian Agama

Agama disebut dengan istilah din. Dalam bahasa Semit, din berarti undang-undang atau hukum. Dalam bahasa Arab kata ini mengandung arti menguasai, menundukkan, patuh, utang, balasan, kebiasaan.

Bila lafal din disebutkan dalam rangkaian din-ullah, maka dipandang datangnya agama itu dari Allah, bila disebut dinunnabi dipandang nabilah yang melahirkan dan menyiarkan, bila disebut dinul-ummah, karena dipandang manusialah yang diwajibkan memeluk dan menjalankan. Ad-din bisa juga berarti syari‟ah: yaitu nama bagi peraturan-peraturan dan hukum-hukum yang telah disyari‟atkan oleh Allah selengkapnya atau prinsip-prinsipnya saja, dan dibedakan kepada kaum muslimin untuk melaksanakannya, dalam mengikat hubungan mereka dengan Allah dan dengan manusia. Ad-din berarti millah, yaitu mengikat.

Maksud agama ialah untuk mempersatukan segala pemeluk-pemeluknya, dan mengikat mereka dalam suatu ikatan yang erat sehingga merupakan batu pembangunan, atau mengingat bahwa, hukum-hukum agama itu dibukukan atau didewankan. Ad-din berarti nasihat, seperti dalam hadis dari Tamim ad-Dari R.A. bahwa Nabi SAW bersabda: Ad-dinu nasihah. Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, bagi siapa?” Beliau menjelaskan: “Bagi Allah dan kitab-Nya, bagi Rasul-Nya dan bagi para pemimpin muslimin dan bagi seluruh muslimin.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Nasa‟i dan Ahmad). Jadi agama adalah sesuatu yang diturunkan Pencipta manusia melalui utusannya yang mengajarkan cara dan aturan hidup serta apa yang ada di alam semesta.

(7)

2.2 Pandangan antara Ilmu dan Agama

Dalam kehidupan sekarang yang banyak terpenuhi dan terpuaskan oleh ilmu pengetahuan, beberapa orang beranggapan bahwa ilmu yang telah didapat tidak terkait dengan agama. Banyak pemikiran dan penyimpulan tanpa dilandasi oleh kepastian pasti membuat hubungan antara ilmu (sains) dengan agama memiliki tolak belakang.

Pemikiran-pemikiran seperti ini sebenarnya salah agama adalah pedoman hidup setiap manusia yang telah diatur dan dibuat oleh Sang Pencita. Sebagaimana pemisalan sebuah telepon genggam yang dirancang manusia, terdapat panduan yang harus ditaati dan dipahami agar telepon genggam tersebut dapat dijalankan dan digunakan dengan baik serta sesuai dengan keinginan si perancang. Begitu juga manusia yang diciptakan Allah SWT terdapat panduan atau pedoman berupa Al-Qur‟an dan Hadist yang harus ditaati agar kehidupan manusia berjalan sesuai dengan ketetapan Allah SWT sebagai Sang Pencipta.

Apabila gedung paling tinggi di dunia sekarang yang ada di Dubai sekarang yang namanya „Burj Dubai dibutuhkan arsitek, tenaga sipil, kontraktor yang mendesainnya, serta tenaga ahli dan tenaga kerja yang banyak untuk membangunnya agar kelihatan indah dipandang mata dan tahan dalam jangka waktu yang lama. Bangunan ini pun perlu hitungan matematis untuk mengetaahui sejauh mana kekuatan dari bangunan ini dan memiliki panduan dan peraturan agar bangunan ini tetap terjaga.

Mengamati alam semesta yang luas, banyak fenomena yang luar biasa, dimana setiap planet dapat berputar pada porosnya dan tidak bertabrakan, setiap planet memiliki gravitasi dan cahaya yang berbeda-beda, pergantian siang dan malam, adanya makhluk hidup dan hal-hal yang luar biasa lainnya. Tidak mungkin tidak ada yang mengatur dan menciptakannya. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur‟an sebagai pedoman manusia "Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu

(8)

dengan air itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh merupakanlanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti". (QS. 2/ Al-Baqoroh: 164)

2.3 Hubungan antara Ilmu dan Agama

Beberapa peneliti yang berpendapat bahwa teori-teori dalam bidang keilmuan yang ditemukannya bertentangan dengan agama. Dalam kenyataannya, apabila para peneliti tersebut mencari sebuah kebenaran yang hakiki, mencari asal-usul dari dunia ini, hidup mereka akan tenang jauh dari kebimbangan adanya Tuhan. Sebenarnya dalam hati mereka menerima adanya tuhan, tetapi hanya pikiran mereka yang tidak ingin dibuka agar jauh lebih berpikir lebih mendalam. Lantas, peneliti atau penemu yang seperti itu pantas diseebut peneliti?

Dalam ilmu pengetahuan proses terbentuknya manusia telah dipecahkan, padahal apabila dilihat didalam isi Al-Qur`an, proses tebentuknya manusia dan asal mulanya telah tertulis dalam ribuan tahun yang lalu sebelum teori didalam ilmu pengetahuan itu temukan.

Albert Einstein, sang penemu teori relativitas mengatakan bahwa “Science without religion is blind and religion without science is lame”.Disana ada makna yang tesirat dan tersurat, “ilmu tanpa agama berarti buta”, kalimat tersebut berarti bahwa orang yang memiliki ilmu tanpa ada agamanya, orang tersebut tidak dapat melihat bahwa agama dan ilmu sangat berhubungan dan tidak dapat melihat bahwa agama mencakup ilmu pengetahuan juga ataupun kalimat tersebut bisa berarti bahwa manusia yang memiliki ilmu tetapi manusia tersebut tidak memiliki agamma sehingga manusia tersebut tidak memiliki kesopanan dan etika dalam berkehidupan. Sedangkan kalimat yang terakhir yang berbunyi “agama tanpa ilmu berarti lumpuh”, yang memiliki pesan yang tersurat maupun tersirat dimana manusia yang memiliki agama, tabiat, dan aqidah yang kuat tetapi dia tidak dapat mengetahui apakah yang dilakukannya benar atau tidak sehingga banyak keraguan dalam kehidupannya.

(9)

Ilmu pengetahuan dan agama seharusnya sama-sama berjalan, sehingga jika manusia berilmu, ilmunya tersebut dapat diamalkan dan diterapkan dengan baik dan jauh dari kesengsaraan kehidupannya dan kehidupan manusia lainnya.

Ilmu pengetahuan harus sesuai dengan agama, apabila ada ilmu pengetahuan tidak sejalan dengan agama maka harus dijauhi dan mencari kebenaran dari ilmu pengetahuan tersebut. Ilmu pengetahuan yang ada dimuka bumi ini, telah dibuat sedemikian rupa agar manusia dapat memahaminya dengan mudah dan dapat melihat betapa besarnya kekuasaan Allah dalam penciptaan. Semua penciptaan-Nya dengan matematis dan dapat dipelajari secara ilmiah. Didalam Al-Qur‟an telah dibuat dengan jelas.

Tidak ada definisi agama yang dapat diterima atau diartikan secara universal. Wilayah ilmu berbeda dengan wilayah agama jangankan ilmu akal saja tidak sanggup mengadili agama. Para ulama sekalipun, meski mereka meyakini sesuatu kebenaran yang dianut tetapi tetap mereka tidak berani mengklaim kebenaran yang dianutnya, oleh karena itu mereka selalu menutup pandangannya dengan wallohu a`lamu bissawab, bahwa hanya Allah yang lebih tahu mana yang benar.

(10)

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Secara garis besar, ilmu merupakan suatu kumpulan proses dengan menggunakan suatu metode ilmiah yang menghasilkan suatu pengetahuan yang sistematis. Sedangkan, agama adalah sesuatu yang diturunkan Pencipta manusia melalui utusannya yang mengajarkan cara dan aturan hidup serta apa yang ada di alam semesta.

Mengamati alam semesta yang luas, banyak fenomena yang luar biasa, dimana setiap planet dapat berputar pada porosnya dan tidak bertabrakan, setiap planet memiliki gravitasi dan cahaya yang berbeda-beda, pergantian siang dan malam, adanya makhluk hidup dan hal-hal yang luar biasa lainnya. Tidak mungkin tidak ada yang mengatur dan menciptakannya. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur‟an sebagai pedoman manusia "Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan air itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh merupakanlanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti". (QS. 2/ Al-Baqoroh: 164)

Tidak dipungkiri, bahwa makhluk hidup dan alam semesta memiliki penciptaan. Dimana penciptaannya sangat luar biasa. Sang Pencipta dari semua itu adalah Allah SWT. Jadi diketahui bahwa ilmu dan agama itu tidak sama, namun ilmu dan agama memiliki keterkaitan dan hubungan, salah satu contohnya adalah seorang ilmuan besar yaitu Albert Enstein yang mengungkapkan bahwa “ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh”. Ini menjelaskan seseorang yang berilmu tapi tak memilki sopan santun serta etika dan orang yang religius namun tidak pernah maju dan berkembang. Contohnya : penggunaan ilmu pengetahuan

(11)

pada bidang teknologi, banyak negara-negara maju menggunakan nuklir untuk menpersenjatai diri agar ditakuti oleh negara-negara lain. Adapun isi dari Al-Qur‟an yang telah menjelaskan beberapa kejadian yang ada dibumi, lalu baru ditemukan pada masa sesudah Al-Qur‟an turun. Ini merupakan tanda-tanda bahwa ilmu dengan agama saling berkaitan.

3.2 Saran

Sebagai mahasiswa yang memiliki ilmu, sebaiknya dapat juga menerapkan nilai-nilai agama yang diyakini. Agama dapat mengatur bagaimana ilmu itu digunakan, sehingga ilmu dapat bermanfaat bagi berlangsungan kehidupan manusia. Etika dan moral harus dimiiki oleh orang yang berilmu agar derajatnya lebih tinggi dibangingkan dengan orang yang memiliki ilmu saja dengan yang memiliki agama saja. Sehingga diperlukan ilmu dan agama untuk mengatur keberlangsungan kehidupan manusia, dan pemikiran atas semua itu diperlukan untuk mendapatkan kebenaran yang hakiki.

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Ekaningtyas. Diah.10 Maret 2011. dalam “Apa itu llmu dan Apa Defenisi Ilmu” http://diahtyas8.wordpress.com/2011/03/10/apa-itu-ilmu-dan-apa-definisi-ilmu/, diakses pada 1 Mei 2014.

Kamruddin, Ahmad.April 2012. dalam “Pengertian Agama” http://penaraka.blogspot.com/2012/04/pengertian-agama.html, diakses pada 01 Mei 2014

Figur

Memperbarui...

Related subjects :