BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang yang memiliki sejumlah

10  Download (0)

Full text

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia sebagai salah satu negara berkembang yang memiliki sejumlah masalah perkotaan yang sangat kompleks. Salah satu ciri negara berkembang adalah pesatnya perkembangan penduduk di perkotaan terutama di kota-kota besar sebagai akibat dari tingginya perkembangan penduduk dan arus urbanisasi. Dengan jumlah penduduk yang begitu besar mengakibatkan tidak terpenuhinya kebutuhan penduduk akan fasilitas dan pelayanan di perkotaan. Dari jumlah tersebut mayoritas penduduk merupakan kalangan menengah ke bawah yang memilih tinggal di kawasan pinggiran maupun di antara tingginya gedung-gedung pencakar langit.

Perkembangan penduduk yang pesat itu terkait dengan berbagai aspek kehidupan seperti ekonomi, sosial, budaya, hukum, keamanan, politik hingga agama. Tetapi dalam perkembangannya sebuah masyarakat di perkotaan akan semakin tidak terarah sehingga menimbulkan konflik di dalamnya. Konflik yang terjadi bisa konflik antar kelompok, konflik dengan pemerintah hingga konflik dengan ruang-ruang perkotaan. Penduduk merupakan aspek utama dalam pengembangan wilayah perkotaan. Maju mundurnya sebuah kota ditentukan oleh bagaimana penduduk di dalamnya berinteraksi sehingga dapat tercipta suasana kota yang nyaman, aman dan produktif. Tingginya arus globalisasi di tengah masyarakat kaum urban mengakibatkan semakin terkikisnya nilai-nilai positif di dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam perencanaan dan pengembangan wilayahnya,

(2)

2

kota harus mampu mengarahkan dan membentuk sebuah kesatuan masyarakat yang tidak terkotak-kotak dalam perbedaaan.

Kriminalitas merupakan segala macam bentuk tindakan dan perbuatan yang merugikan secara ekonomis dan psikologis yang melanggar hukum yang berlaku dalam negara Indonesia serta norma-norma sosial dan agama. Dapat diartikan bahwa tindak kriminalitas adalah segala sesuatu perbuatan yang melanggar hukum dan melanggar norma-norma sosial, sehingga masyarakat menentangnya. (Kartono, 2009). Kriminalitas merupakan dampak dari berbagai masalah kepadatan di wilayah perkotaan. Kriminalitas muncul dari berbagai macam sumber seperti, rendahnya tingkat pendidikan, tingginya angka pengangguran, kesenjangan ekonomi. Selain itu penegakan hukum yang lemah menambah pelik permasalahan kriminalitas di perkotaan. Meningkatnya tindak kriminalitas di kawasan perkotaan tentunya membutuhkan penanganan yang serius dari berbagai stakeholder terkait. Dalam hal ini pemerintah sebagai pemegang kendali wilayah perkotaan harus melakukan prosedur untuk meminimalisir tindak kriminal yang terjadi di wilayahnya.

Dampak dari tindak kriminalitas telah menelan jutaan biaya setiap tahun seperti untuk pembayaran asuransi, polisi, pengadilan, pemasyarakatan, penggantian kerugian dan berbagai hal lainnya yang terkait dengan tindak kejahatan. Hal-hal tersebut tentu sangat merugikan jika tindak kriminal tersebut terus terjadi dan berulang. Tindak kejahatan di kawasan perkotaan harusnya dapat dicegah terlebih dahulu.

(3)

3

Terdapat beberapa faktor yang kompleks berkontribusi pada ketidakamanan di dalam kota, seperti kondisi ekonomi dan sosial secara umum merupakan penyebab utama, tetapi keamanan juga berdampak pada lingkungan fisik kota. Hal itu tergantung pada bagaimana sebuah kota direncanakan, didesain dan dibangun. Dengan cara dimana masyarakat yang mengidentifikasi kondisinya dengan lingkungan dimana mereka tinggal. Pengaturan mengenai lokasi berdampak pada tingkat keamanan, dimana hal tersebut dapat berkontribusi dalam membuat sebuah kota menjadi lebih aman, atau menjadi lebih berbahaya. Tindak kriminal tidak hanya terjadi di ruang-ruang yang sifatnya privat tapi seringkali juga terjadi di ruang-ruang publik kota. ruang publik yang tidak direncanakan dengan baik dapat memicu terjadinya tindak kriminal. Dalam proses perencanaan sendiri aspek keamanan terhadap tindak kriminalitas seringkali diabaikan karena tindak kriminal terjadi pada tempat-tempat informal.

Dalam kajian-kajian perkotaan ruang merupakan domain utama dalam perencanaan kota yang sangat berperan dalam tindak kriminal. Ruang dapat memberikan kesempatan kepada oknum-oknum kriminil untuk melakukan tindak kriminal sehingga ruang dapat dikatakan berperan aktif dalam sebuah tindak kriminal (Shaw dan McKay, 1942).

Dalam teori Defensible Space yang dikemukakan oleh Newman (dalam Cisneros, 1995) ada 3 hal penting yang membentuk tindak kriminal, yaitu:

1. Adanya karakter fisik

(4)

4 3. Bertempat di wilayah permukiman.

Konsep defensible space ini sudah diaplikasikan di Amerika dan Eropa sehingga dapat dikatakan bahwa teori ini cukup terbukti. Dua hal lainnya, karakter sosial dan permukiman merupakan bagian yang saling terkait dengan dua masalah pokok, kemiskinan dan kultural.

Kota Manado merupakan ibukota Provinsi Sulawesi Utara yang memiliki penduduk yang sangat heterogen. Kota Manado memiliki jumlah penduduk sebesar 423.257 Jiwa dengan komposisi penduduk terdiri dari suku Minahasa, Bolmong, Sangihe, Talaud, Gorontalo, Maluku, Bugis, Makassar, Jawa dan suku-suku lainnya di Indonesia. Kota Manado sendiri merupakan kota terbesar jumlah penduduknya dibandingkan dengan kota ataupun kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Utara. Tetapi di tengah maraknya pembangunan di pusat-pusat aktivitas kota Manado dapat juga memicu terjadinya tindak kriminalitas yang sudah tentu menjadi kendala dalam pembangunan itu sendiri. Dari data statistik kriminalitas diketahui bahwa pola perkembangan kriminalitas di Provinsi Sulawesi Utara sama dengan pola perkembangan kriminalitas secara nasional, dalam hal ini pola perkembangan kriminalitas nasional cenderung bergerak naik.

Dari data statistik kota Manado diketahui bahwa tindak kriminalitas yang terjadi dalam lima tahun terakhir mengalami mengalami penurunan. Untuk tindak kriminalitas yang dilakukan dalam konteks ruang kota juga mengalami hal yang serupa. Penurunan tindak kriminalitas di kota Manado terjadi salah satunya karena

(5)

5

faktor penanggulangan tindak kriminal yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait seperti, pemerintah, kepolisian dan masyarakat.

Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir masyarakat kota Manado seringkali diresahkan oleh tindakan-tindakan kriminalitas yang dilakukan oleh individu maupun kelompok-kelompok orang. Dilihat dari jenisnya tindak kriminal yang sering terjadi di wilayah kota Manado seperti pencurian, penjambretan, perampokan, pemalakan/penodongan, pembunuhan dan tawuran antar kampung. Berbagai latar belakang menjadi motif atas tindak kriminal tersebut. Tindak kriminal tersebut dilakukan hampir di seluruh wilayah kota dilakukan baik dengan terpola maupun sporadis. Permasalahan kriminalitas di wilayah perkotaan membuat aktivitas bisnis dan kehidupan publik mengalami kemunduran yang berdampak pada pembangunan perekonomian wilayah.

Berkembangnya kota menyebabkan perubahan-perubahan yang sangat signifikan pada setiap aspek kehidupan kota yang kemudian menjadi sebuah karakteristik tersendiri dari sebuah kota. Kota dengan perkembangan penduduk yang sangat cepat menimbulkan berbagai macam masalah yang kompleks, salah satunya adalah masalah kriminalitas. Tindak kriminal yang terjadi menggunakan ruang-ruang kota sebagai arena kriminalnya. Ruang-ruang kriminal perkotaan secara fisik dapat dilihat dari ciri-cirinya. Menurut Jeffrey (dalam Geason dan Wilson, 1989) bentukan sebuah kawasan yang aman merupakan kawasan yang secara tidak langsung mampu melakukan pengawasan terhadap lingkungannya

(6)

6

sendiri dengan bentukan desain-desain seperti bangunan, jalan, pagar, penerangan dan penanda.

Karakteristik fisik di kota Manado saat ini menunjukan karakter fisik yang memungkinkan terjadinya tindak kriminal seperti, ribuan lampu jalan sebagai penerang dan penghias kota nyaris tidak berfungsi. Sepanjang jalan dari bandara, lampu jalan yang menyala dapat dihitung dengan jari. Sejumlah jalan protokol juga tampak buram. Kehidupan malam hanya terlihat di ruas jalan Boulevard, yang cahaya lampunya berpendar dari pertokoan dan pusat perbelanjaan di kawasan itu. Gelapnya Manado yang berpenduduk 423.257 jiwa itu memicu tingkat kerawanan terhadap kriminalitas di Kota Manado, selain itu tawuran antarwarga kampung serta kasus penganiayaan terjadi di mana-mana setelah pelaku meneguk minuman keras tradisional, captikus.

Berdasarkan Catatan Polres Kota Manado tahun 2015, terjadi 997 kasus tindak kriminal dan yang paling dominan adalah tindak penganiayaan yang hampir mencapai 40%. Beberapa kasus penganiayaan itu merengut korban jiwa akibat benda tajam. Sebagian pelaku penganiayaan adalah anak-anak muda berusia belasan tahun. Kriminalitas itu membuat Kota Manado terasa tak nyaman.

Kota sebagai wadah masyarakat dalam berkegiatan menjadi terganggu akibat tindakan-tindakan melawan hukum tersebut akibatnya proses untuk mewujudkan visi kota Manado menjadi kota model ekowisata pun menjadi terganggu, oleh karena itu diperlukan adanya studi dan penelitian yang relevan dalam rangka mengidentifikasikan dan menjelaskan karakteristik ruang berdasarkan aspek

(7)

7

kriminalitas serta menjelaskan bentuk-bentuk respon penanggulangan tindak kriminalitas di kota Manado.

1.2 Pertanyaan Penelitian

1. Seperti apa karakteristik ruang berdasarkan aspek kriminalitas di kawasan perkotaan?

2. Bagaimana respon penanggulangan terhadap tindak kriminal di kawasan perkotaan?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Menjelaskan karakteristik ruang kriminal di kota Manado.

2. Menjelaskan respon penanggulangan terhadap tindak kriminal berdasarkan aspek fisik dan non fisik di kota Manado.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk melakukan program lainnya dalam rangka menekan tingkat kriminalitas di kota Manado.

2. Sebagai sumbangsih dalam bidang akademik dan dapat dijadikan sebagai referensi untuk melakukan penelitian yang serupa.

1.5 Batasan Penelitian a. Fokus

Fokus dalam penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menjelaskan bentuk-bentuk ruang yang rawan atau berpotensi terjadinya tindak kriminal serta menjelaskan respon penanggulangan tindak kriminalitas di kota Manado.

(8)

8 b. Lokasi

Lokasi yang akan dijadikan sasaran penelitian adalah kawasan-kawasan perkotaan yang rawan terjadinya tindak kriminal dilihat dari tingkat kerawanan dan angka kriminalitas yang terjadi.

1.6 Keaslian Penelitian

Sudah sangat banyak penelitian yang dilakukan terkait dengan urban crime di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri penelitian mengenai kejahatan perkotaan baru dilakukan belum lama ini. sebelumnya penelitian mengenai tindak kejahatan di perkotaan dilakukan dengan pendekatan sosio-kultural karena memang beberapa ahli menemukan bahwa akar dari tindak kejahatan adalah masalah-masalah struktural seperti kemiskinan, kesenjangan ekonomi hingga masalah kultural yang terkait dengan kebiasaan-kebiasaan manusia menurut suku bangsa. dengan dikemukakannya teori mengenai tindak kriminalitas perkotaan oleh Jane Jacobs dengan pendekataan fisik maka dimulailah penelitian-penelitian yang dilakukan dalam rangka melihat bentukan-bentukan fisik ruang yang berpengaruh pada tidak kejahatan, faktor-faktor fisik penentu, upaya pencegahan melalui desain kawasan, bangunan dan lingkungan hingga melihat sebaran spasial tindak kejahatan di perkotaan.

Di Indonesia sudah ada banyak penelitian yang dilakukan oleh peneliti maupun akademisi terkait tindak kriminalitas perkotaan diantaranya, Alfian Afandy Syam (2009) dalam tesisnya melihat sebaran spasial kriminal dan tingkat kejahatan di kota Makassar dengan pendekatan fenomenologis, Dyah Ayu Usaratri (2009) dalam tesisnya melihat upaya dan bentuk pencegahan tindak kriminalitas perkotaan

(9)

9

oleh warga lokal di kota Yogyakarta, Karina Pradinie (2011) dalam tesisnya juga menjelaskan mengenai pola spasial tindak kriminal berdasarkan aspek struktural dan kultural serta melihat bentuk defensible space beberapa kawasan di kota Surabaya, kemudian Leonardus K.H. Manggol dalam skripsinya melihat tindak kejahatan yang lebih spesifik yaitu pencurian yang dilakukan di kawasan permukiman dan komersil di kota Malang, serta Rianisa Fitriani yang melakukan studi mengenai keamanan kampung Prawirotaman, Yogyakarta berdasarkan desain spasial pencegahan tindak kriminalitas.

Seperti yang sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya bahwa penelitian ini dilakukan berfokus pada karakteristik kawasan-kawasan yang berpotensi terjadinya tindak kejahatan dan menjelaskan bentuk penanggulangan tindak kriminalitas melalui aspek fisik dan aspek non fisiknya.

Penjelasan ini dilakukan untuk memastikan bahwa penelitian yang akan dilakukan ini bukan berdasarkan praktik plagiasi. Jika terdapat hal yang mirip dalam penelitian ini itu dilakukan semata-mata untuk melihat kedekatan dan hubungan dengan penelitian yang lainnya dengan tetap mencantumkan sumber-sumber penelitian sebelumnya.

(10)

10

Tabel 1.1 Keaslian penelitian

Sumber: Analisis Peneliti, 2016

No. Peneliti Judul Tahun Fokus Pembahasan Pendekatan atau Metode

Analisis

Lokus

1 Alfian Afandy Syam (Tesis)

Aspek Spasial Kejahatan

Perkotaan 2009

Pola ruang yang mempengaruhi tingkat kriminalitas

Studi kasus dengan

pendekatan fenomenologis Kota Makassar

2 Dyah Ayu Usaratri (Tesis)

Local Community Crime Prevention System to Urban Crimes In Indonesia

2009 Bentuk pencegahan tindak kriminalitas

berbasis masyarakat Studi kasus Kota Yogyakarta

3 Karina Pradinie (Tesis)

Pola Ruang Kriminalitas

Kota 2011

Pola struktural dan pola kultural kriminalitas dalam membentuk defensible space

Studi kasus dengan

pendekatan rasionalistik Kota Surabaya

4

Leonardus K.H. Manggol (Skripsi)

Pola Spasial Kriminal Pencurian Berdasarkan Faktor Ekologi Kriminal di Kota Malang

2012 Pergeseran pola kriminal pencurian di

wilayah permukiman dan komersil Studi Kasus Kota Malang

5 Rianisa Fitriani (Skripsi) Keamanan Wisatawan di Kampung Prawirotaman Berdasarkan Desain Spasial Pencegahan Kriminalitas 2014

Keamanan wisatawan di kampung Prawirotaman, Yogyakarta yang didasarkan pada desain spasial pencegahan kriminalitas

Figure

Tabel 1.1 Keaslian penelitian

Tabel 1.1

Keaslian penelitian p.10

References

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in