EKSISTENSI KOMISI YUDISIAL DALAM PENYELENGGARAAN KEKUASAAN KEHAKIMAN REPUBLIK INDONESIA MENURUT UNDANG-UNDANG DASAR 1945 SKRIPSI

112  Download (0)

Teks penuh

(1)

Adwan Masta Padang : Eksistensi Komisi Yudisial Dalam Penyelenggaraan Kekuasaan Kehakiman Republik

EKSISTENSI KOMISI YUDISIAL DALAM PENYELENGGARAAN KEKUASAAN KEHAKIMAN REPUBLIK INDONESIA

MENURUT UNDANG-UNDANG DASAR 1945 SKRIPSI

Diajukan untuk Melengkapi Tugas dan Memenuhi Syarat dalam Mencapai Gelar Sarjana Hukum

OLEH

NIM 040200142 ADWAN MASTA PADANG

DEPARTEMEN HUKUM TATA NEGARA

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis ucapkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala kasih, anugrah dan bimbingannya yang senantiasa menyertai penulis terutama saat penulis menimba ilmu di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara hingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini guna melengkapi syarat dalam meraih gelar Sarjana Hukum.

Adapun skripsi ini berjudul “Eksistensi Komisi Yudisial dalam

Peneyelenggaraan Kekuasaan Kehakiman Republik Indonesia Menurut Undang-Undang Dasar 1945.” Penulis telah mencurahkan segenap hati , pikiran,

waktu dan kerja keras dalam menyusun skripsi ini.

Di dalam penulisan skripsi ini, penulis mendapat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak baik secara langsng maupun tidak langsung. Untuk itu penulis mengucapka terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H. M. Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

2. Bapak Armansyah, S.H., M.H., selaku Ketua Departemen Hukum Tata Negara Universitas Sumatera Utara sekaligus Dosen Pembimbing I penulis yang telah bersedia meluangkan waktu guna memberi arahan dan bimbingan kepada penulis dalam penyelesaian penulisan skripsi ini;

3. Bapak Yusrin S.H., M.H., selaku Dosen Pembimbing II yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bantuan dan bimbingan serta arahan kepada penulis pada saat penulisan skripsi ini;

(3)

4. Ibu Aflah, S.H., M.Hum., selaku Dosen Wali dan seluruh dosen serta staf tata usaha di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik dan membimbing penulis selama mengikuti perkuliahan di Fakultas Hukum Unversitas Sumatera Utara;

5. Kedua orang tuaku tercinta St. M. Padang, S.Pd dan H.Br. Boangmanalu, A.Md, yang telah memberi doa, kasih sayang, semangat serta dukungan moril maupun spiritual. Terima kasih atas semua jerih payah dan pengorbanan yang telah Bapak dan Mama berikan

6. Saudara-saudariku yang tercinta Sriwasty, Nurmala Sari, Fransjhun Boy, Novantri Ruthana, Memory Yohanes, dan Alpiano Yosua yang senantiasa memberi dukungan doa, kasih sayang dan motivasi. Kepada Silih P. Bancin dan keluarga lainnya yang tidak bisa penulis sebutkan satupersatu. 7. Bapak Bupati dan jajaran Pemkab. Pakpak Bharat, terima kasih atas

kesempatan belajar yang diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan studi di Fakultas Hukum USU.

8. Sahabat-sahabatku terutama Januari Sihotang, S.H., Luhut P. Purba, S.H., Rapael Sinaga, S.H, Choki Pangaribuan, SH, Maeka, Chandra Simbolon SE, Taripar Simare-mare, Amd., Nurlely, Wietra, Neira, Brando, Sheila, Alwan, Daniel, dan lain-lain. Terima kasih atas dukungan selama penulis menyelesaikan skripsi ini.

(4)

9. Rekan-rekan di Kantor Kepegawaian Daerah terutama, Bapak J. Angkat, SH, Ibu Tiurma Berutu, Bapak Pantas Bancin, bang Elias Cibro, SH., Darianus Berutu, S.Psi, Sabar Boangmanalu, Atur Sayang Berasa ,SH, Kak Merry Bintang, Kak Siti Nurmita, Erika, Irfan, Nia, dan yang lainnya.

Di dalam penulisan skripsi ini, penulis menyadari masih memiliki banyak kekurangan dan masih jauh dari sempurna. Untuk itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi menyempurnakan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Medan, Desember 2009

Adwan Masta Padang

(5)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... iii

Abstraksi ... iv BAB I PENDAHULUAN ... 1 A. Latar Belakang ... 1 B. Perumusan Masalah ... 8 C. Tujuan Penulisan ... 8 D. Manfaat Penulisan ... 8 E. Keaslian Penulisan ... 9 F. Tinjauan Kepustakaan ... 9

1. Teori Pemisahan Kekuasaan ... 9

2. Teori Konstitusi ... 12

3. Sistem Ketatanegaraan Republik Indonesia ... 15

G. Metode Penulisan ... 17

H. Sistematika Penulisan ... 18

BAB II KEKUASAAN KEHAKIMAN INDONESIA ... 20

A. Konsepsi Negara Hukum ... 20

B. Konsep-Konsep Kekuasaan Kehakiman Indonesia ... 27

BAB III EKSISTENSI KOMISI YUDISIAL DALAM SISTEM KETATANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA ... 46

A. Sejarah Lahirnya Komisi Yudisial ... 46

B. Komisi Yudisial sebagai Lembaga Negara Bantu (State Auxiliary Organs) ... 56

1. Lembaga Negara Bantu di Indonesia ... 56

2. Komisi Yudisial sebagai Lembaga Negara Bantu ... 61 iii

(6)

C. Hubungan Komisi Yudisial dengan Lembaga Negara Lain dalam

Sistem Ketatanegaraan Republik Indonesia ... 69

1. Hubungan Komisi Yudisial dengan Mahkamah Agung ... 69

2. Hubungan Komisi Yudisial dengan Mahkamah Konstitusi ... 72

3. Hubungan Komisi Yudisial dengan Dewan Perwakilan Rakyat ... 75

4. Hubungan Komisi Yudisial dengan Mahkamah Konstitusi ... 77

BAB IV PELAKSANAAN TUGAS DAN WEWENANG KONSTITUSIONAL KOMISI YUDISIAL ... 80

A. Mengusulkan Pengangkatan hakim agung kepada Dewan Perwakilan Rakyat ... 80

B. Menegakkan Keluhuran Martabat serta Menjaga Perilaku Hakim ... 92 BAB V PENUTUP ... 98 A. Kesimpulan ... 98 B. Saran ... 100 DAFTAR PUSTAKA ... 102 iv

(7)

ABSTRAKSI

EKSISTENSI KOMISI YUDISIAL DALAM PENYELENGGARAAN KEKUASAAN KEHAKIMAN REPUBLIK INDONESIA

MENURUT UNDANG-UNDANG DASAR 1945 Adwan Masta Padang*1

* Mahasiswa Departemen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. ** Dosen Departemen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Sumatera Utara.

Armansyah, S.H.,M.H** Yusrin, SH.,M.H**

Kekuasan kehakiman adalah karakteristik negara hukum yang demokratis. Di dalam konteks kekuasaan kehakiman di Indonesia, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tidak menghendaki adanya suatu lembaga negara tertentu yang memiliki kekuasaan yang tidak terkontrol, melainkan telah didisain di dalam suatu sistem dimana kekuasaan dipisahkan atau dibagi di dalam fungsi pada lembaga negara yang sederajat serta saling imbang dan saling kontrol (checks and balances). Perubahan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 telah mengintroduksi lembaga negara baru yang kewenangannya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman yaitu Komisi Yudisial. Komisi Yudisial adalah lembaga negara yang secara konstitusional dikonstruksikan sebagai lembaga negara mandiri dan bebas dari intervensi kekuasaaan manapun. Komisi Yudisial merupakan lembaga negara yang sengaja dibentuk untuk menangani urusan yang berkaitan dengan pengangkatan hakim agung serta menegakkan kehormatan, keluhuran martabat serta perilaku hakim. Komisi Yudisial memiliki peranan penting dalam usaha mewujudkan kekuasaan kehakiman yang merdeka melalui pencalonan hakim agung serta pengawasan terhadap hakim yang transparan dan partisipatif guna menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta perilaku hakim. Secara struktural, dapat dikatakan bahwa kedudukan Komisi Yudisial sederajat dengan Mahkamah Agung. Akan tetapi, secara fungsional, peranannya bersifat penunjang (auxiliary) terhadap kekuasaan kehakiman. Meskipun secara fungsional terkait dengan kekuasaan kehakiman tetapi Komisi Yudisial tidak menjalankan fungsi kehakiman. Walaupun bersifat mandiri dan bebas dari pengaruh kekuasaan manapun, Komisi Yudisial tetap memiliki hubungan dengan lembaga negara lainnya. Pada perjalanannya, judicial

review terhadap Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial

mengakibatkan beberapa pasal yang berkaitan dengan fungsi pengawasan Komisi Yudisial dinyatakan oleh Mahkamah Konstitusi tidak memiliki kekuatan hukum tetap. Ke depannya, kedudukan lembaga negara bantu seperti Komisi Yudisial membutuhkan legitimasi hukum yang lebih kuat dan lebih tegas serta dukungan yang lebih besar dari masyarakat.

(8)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada tanggal 21 Mei 1998 Presiden Soeharto menyatakan berhenti dari jabatan presiden. Peristiwa tersebut merupakan awal datangnya era reformasi di tanah air.2

1. Amandemen Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945);

Pada awal era reformasi berkembang tuntutan reformasi yang diusung oleh berbagai komponen masyarakat dan bangsa yang digerakkan oleh mahasiswa. Tuntutan tersebut antara lain:

2. Penghapusan doktrin dwifungsi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI);

3. Penegakan supremasi hukum, penghormatan hak asasi manusia (HAM), serta pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN);

4. Desentralisasi dan hubungan yang adil antara pusat dan daerah (otonomi daerah);

5. Mewujudkan kebebasan pers, dan; 6. Mewujudkan kehidupan demokrasi.3

Era reformasi telah membuka peluang bagi dilakukannya reformasi konstitusi setelah mengalami fase “sakralisasi UUD 1945” selama pemerintahan Orde Baru.

4

2

Jimly Asshiddiqie, Menuju Negara Hukum yang Demokratis, PT. Bhuana Ilmu Populer Kelompok gramedia, Jakarta, 2009, hal. 207.

3

Abdul Rasyid Thalib, Wewenang Mahkamah Konstitusi dan Implikasinya dalam Sistem

Ketatanegaraan Republik Indonesia, Penerbit PT Citra Aditya Bakti., Bandung, 2006, hal. 1. 4

Jimly Asshiddiqie, Loc. Cit.

Hal ini selaras dengan pendapat Robert M. G. Dawson dalam bukunya The Government of Canada (1957) yang intinya menolak sakralisasi konstitusi dengan menyatakan bahwa:

(9)

“Whether they are in written or unwritten form, rigid or flexible are continually changing and becoming adapted to new ideas, new problems, new national and international forces”.5

Selama empat tahun (1999-2002) Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) melakukan empat kali perubahan yang sangat mendasar terhadap UUD 1945. Bahkan dapat dikatakan bahwa hasil dari perubahan tersebut sebenarnya telah mengahasilkan konstitusi baru, walaupun nama Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia masih tetap dipertahankan.6

Perubahan UUD 1945 cukup mendasar, baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

7

Dari segi kuantitas, UUD 1945 yang semula terdiri dari 16 bab, 37 pasal dan 49 ayat menjadi 21 bab, 73 pasal dan 170 ayat. Dari segi kua litasnya, perubahan dapat dilihat dari paradigma pemikiran dan pokok-pokok pikiran yang terkandung di dalam rumusan pasal-pasal UUD 1945 setelah perubahan tersebut yang berbeda dari pokok pikiran yang terkandung dalam naskah asli ketika UUD 1945 pertama kali disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945.8

Salah satu perubahan yang cukup mendasar adalah menyangkut keberadaan MPR sebagai lembaga tertinggi negara. Dalam Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 sebelum perubahan menyebutkan: “Kedaulatan adalah di tangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat.” Ketentuan tersebut menempatkan MPR sebagai lembaga pemegang kedaulatan rakyat atau dianggap sebagai penjelmaan seluruh rakyat Indonesia. MPR dijadikan sebagai lembaga tertinggi negara. Hal ini berbeda dengan Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 setelah

5

Sumali, Reduksi Kekuasaan Eksekutif di Bidang Perpu, UMM Press, Malang,2003, hal. 2.

6

Denny Indrayana, Negara Antara Ada dan Tiada, Reformasi Hukum Ketatanegaraan, Kompas, Jakarta, 2008, hal. 3.

7

Jimly Asshiddiqie, Op. Cit, hal. 210.

8

(10)

perubahan yang menyebutkan bahwa: “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut ketentuan Undang-Undang Dasar.” Oleh karena itu, Indonesia tidak lagi mengenal istilah lembaga tertinggi negara untuk kedudukan MPR, namun seluruh lembaga negara sederajat kedudukannya dalam sistem

checks and balances.9

Menurut Baron de Montesquieu (1689-1755) terdapat tiga fungsi kekuasaan yang dikenal secara klasik dalam teori politik maupun hukum yaitu fungsi legislatif, eksekutif dan yudikatif.10 Montesquieu mengidealkan ketiga fungsi kekuasaan negara itu dilembagakan masing-masing dalam tiga organ negara. Dimana satu organ hanya boleh menjalankan satu fungsi (functie) saja dan tidak boleh saling mencampuri urusan masing-masing dalam arti mutlak.11

Dewasa ini, teori klasik pemisahan kekuasaan tidak relevan lagi mengingat tidak mungkin lagi mempertahankan bahwa ketiga organisasi tersebut hanya berurusan secara eksklusif dengan salah satu dari ketiga fungsi kekuasaan tersebut.

12

Kenyataan dewasa ini menunjukkan bahwa hubungan antarcabang kekuasaan harus saling bersentuhan, dan bahkan ketiganya bersifat sederajat dan saling mengendalikan satu sama lain sesuai dengan prinsip checks and balances.13

Di sisi lain, perkembangan masyarakat di bidang ekonomi, politik, dan sosial budaya, serta pengaruh globalisme dan lokalisme menghendaki struktur organisasi negara yang lebih responsif terhadap tuntutan mereka serta lebih efektif

9

Jimly Asshiddiqie, Perkembangan dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca Reformasi, Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI, Jakarta, 2006, hal. v.

10

Ibid, hal. vii.

11 Ibid. 12 Ibid. 13 Ibid.

(11)

dan efisien dalam melakukan pelayanan publik dalam mencapai tujuan penyelenggaraan pemerintahan.14

Di Indonesia sendiri, kecenderungan terhadap lahirnya lemabaga-lembaga baru merupakan konsekuensi dari perubahan UUD 1945. Menurut Jimly Asshiddiqie di Indonesia terjadi eksperimentasi kelembagaan (institutional

experimentation).

Oleh sebab itu, negara membentuk lembaga-lembaga negara baru yang diharapkan lebih responsif dalam upaya penyelesaian berbagai permasalahan aktual negara. Dengan demikian, pelaksanaan pelayanan publik dapat lebih efektif dan efisien sesuai dengan fungsi negara dan fungsi pemerintahan.

15

Hal ini dapat kita lihat dari semakin menjamurnya lembaga-lembaga negara baru, baik yang bersifat independen (independent agencies) maupun yang masih di bawah kontrol eksekutif (executive agencies).16 Lebih lanjut Jimly Asshiddiqie mengatakan bahwa fenomena kreatifitas baru untuk memunculkan lembaga baru itu dikarenakan adanya kebutuhan efisiensi, di samping ketidak percayaan kepada lembaga lama.17

Berkaitan dengan kekuasaan kehakiman, perubahan UUD 1945 setidaknya telah menyebabkan empat perubahan penting. Pertama, jaminan kekuasaan kehakiman yang merdeka ditegaskan dalam batang tubuh UUD 1945 yang sebelumnya hanya disebutkan dalam Penjelasan UUD 1945. Kedua, Mahkamah Agung dan badan kehakiman yang lain tidak lagi menjadi

14 Ibid. 15 Ibid. 16

Denny Indrayana, Op. Cit, hal. xi.

17

(12)

satunya pelaku kehakiman. Ketiga, adanya Komisi Yudisial, dan keempat, adanya Mahkamah Konstitusi. 18

Dalam melaksanakan wewenang mengusulkan pengangkatan hakim agung kepada DPR sebagaimana diatur dalam Pasal 13 huruf a, Komisi Yudisal bertugas:

Salah satu lembaga negara baru yang lahir setelah perubahan UUD 1945 adalah Komisi Yudisial. Keberadaan Komisi Yudisal merupakan wujud nyata dari perlunya keseimbangan dan saling kontrol antarlembaga kekuasaan. Kehadiran Komisi Yudisal memberi harapan bagi terciptanya institusi peradilan yang bersih dari segala bentuk penyimpangan. Keberadaan Komisi Yudisal diatur dalam Pasal 24B UUD 1945 yang menyatakan :

Ayat (1): Komisi Yudisal bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta keluhuran prilaku hakim.

Ayat (2): Anggota Komisi Yudisal harus mempunyai pengetahuan dan pengalaman di bidang hukum serta memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela.

Ayat (3): Anggota Komisi Yudisal diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.

Ayat (4): Susunan, kedudukan, dan keanggotaan Komisi Yudisal diatur dengan undang-undang.

Mengenai komisi ini diatur lebih lanjut dalam UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisal. Pada Pasal 13 undang-undang tersebut diatur mengenai kewenangan Komisi Yudisal, antara lain:

a. Mengusulkan pengangkatan Hakim Agung kepada DPR; dan

b. Menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim.

18

Sirajuddin dan Zulkarnaen, Komisi Yudisial & Eksaminasi Publik, Penerbit PT Citra Aditya, Bandung, 2006, hal. 9.

(13)

a. Melakukan pendaftaran calon Hakim Agung; b. Melakukan seleksi terhadap calon Hakim Agung; c. Menetapkan calon Hakim Agung; dan

d. Mengajukan calon Hakim Agung ke DPR.19

Dalam melaksanakan wewenang menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim sebagaimana diatur pada Pasal 13 huruf b, Komisi Yudisal mempunyai tugas melakukan pengawasan terhadap perilaku hakim dalam rangka menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim.20

Ketidakjelasan tersebut, memicu konflik antara Komisi Yudisal dan Mahkamah Agung yang melahirkan judicial review Mahkamah Konstitusi Apabila kita kaji lebih lanjut rumusan Pasal 24B UUD 1945 setelah perubahan juncto UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisal di atas ternyata masih terdapat ketidakjelasan menyangkut eksistensi Komisi Yudisal. Misalanya, dalam hal perekrutan hakim agung, kewenangan Komisi Yudisal hanya sebatas mengusulkan calon hakim agung kepada DPR. Tidak ada jaminan yang tegas bahwa DPR harus menerima usulan tersebut. Begitu pula dalam hal pengawasan terhadap prilaku hakim. Pengawasan eksternal yang dilakukan Komisi Yudisal terjadi tumpang-tindih dengan pengawasan internal yang dilakukan oleh Mahkamah Agung maupun Mahkamah Konstitusi. Dalam prosedur pengawasan, tidak jelas dan tidak tegas ditentukan siapa subjek yang mengawasi, apa objek yang diwasi, instrumen apa yang digunakan serta bagaimana proses pengawasan itu dilaksanakan.

19

Pasal 14 UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisal.

20

(14)

terhadap UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisal. Dalam Putusan Mahkamah Konstitusi No. 005/PUU-IV/2006, fungsi pengawasan terhadap perilaku hakim dalam rangka menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim dihapus. Dengan demikian, pasal-pasal yang mengatur fungsi pengawasan Komisi Yudisal antara lain Pasal 20, Pasal 21, Pasal 22 ayat (1) huruf e dan ayat (5), Pasal 23 ayat (2), ayat (3), dan ayat (5) dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.

Ada pun yang menjadi pertimbangan hukum Mahkamah Konstitusi dalam putusannya adalah sebagai berikut :

Bahwa pasal-pasal dalam UU Komisi Yudisal yang mengatur fungsi pengawasan terbukti menimbukan ketidakpastian hukum. UU Komisi Yudisal terbukti tidak rinci mengatur tentang prosedur pengawasan, tidak jelas dan tidak tegas menentukan siapa subjek yang mengawasi, apa objek yang diwasi, instrumen apa yang digunakan serta bagaimana proses pengawasan itu dilaksanakan. Fungsi Komisi Yudisal untuk menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim yang seharusnya hanya memberikan sebagian kewenangan pengawasan etika kepada Komisi Yudisal, secara sadar atau tidak, telah ditafsirkan dan dipraktekkan sebagai pengawasan teknis yudisial dengan cara memeriksa putusan.21

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis mencoba membahas masalah ini dalam skripsi dengan judul: “Eksistensi Komisi Yudisal dalam

Penyelenggaraan Kekuasaan Kehakiman Menurut UUD 1945”.

Dibatalkannya seluruh pasal yang mengatur fungsi pengawasan dalam Undang-Undang Komisi Yudisal sangat mempengaruhi eksistensi Komisi Yudisal. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan, bagaimanakah eksistensi Komisi Yudisal sebagai lembaga negara dalam konsep checks and balances antarlembaga negara?

21

(15)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan hal tersebut di atas, penulis merumuskan beberapa masalah sebagai berikut:

1. Bagaimanakah konsep-konsep kekuasaan kehakiman di Indonesia menurut UUD 1945?

2. Bagaimanakah eksistensi Komisi Yudisal dalam sistem ketatanegaraan Republik Indonesia?

3. Bagaimanakah pelaksanaan tugas dan wewenang konstitusional Komisi Yudisal?

C. Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, adapun tujuan penulisan skripsi ini adalah :

1. Untuk mengetahui konsep-konsep kekuasaan kehakiman di Indonesia menurut UUD 1945.

2. Untuk mengetahui eksistensi Komisi Yudisal dalam sistem ketatanegaraan RI.

3. Untuk mengetahui pelaksanaan tugas dan wewenang konstitusional Komisi Yudisal.

D. MANFAAT PENULISAN

Adapun manfaat penulisan skripsi ini adalah : 1. Manfaat Teoritis

a. Hasil penulisan skripsi ini diharapkan dapat memberi sumbangan pengetahuan dan pemikiran sebagai salah satu referensi perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara khususnya Departemen Hukum Tata Negara.

b. Bagi penulis sendiri, penulisan skripsi ini bermanfaat dalam memenuhi persyaratan guna menyelesaikan studi dan meraih gelas kesarjanaan program strata satu (S-1) di Departemen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

2. Manfaat Praktis

a. Hasil penulisan skripsi diharapkan dapat memberi masukan dan sumbangan pemikiran yang bersifat konseptual yang berkaitan dengan kedudukan, tugas, dan wewenang Komisi Yudisal dalam sistem ketatanegaraan RI setelah perubahan UUD 1945.

(16)

b. Hasil penulisan skripsi ini juga diharapkan dapat memberi informasi kepada masyarakat mengenai kedudukan, fungsi, dan wewenang Komisi Yudisal dalam sistem ketata negaraan RI setelah perubahan UUD 1945.

E. Keaslian Penulisan

Sepanjang pengetahuan penulis di lingkungan Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, “Eksistensi Komisi Yudisial dalam

Penyelenggaraan Kekuasaan Kehakiman RI Menurut UUD 1945” yang

diangkat menjadi judul dalam skripsi ini belum pernah diangkat dan ditulis sebagai sebuah judul skripsi di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

Penulisan skripsi ini dilakukan melalui berbagai referensi seperti buku-buku, media cetak dan elektronik, serta bantuan dari berbagai pihak yang dapat menunjang kelengkapan dari skripsi ini.

Dengan demikian, penulis berkeyakinan dengan harapan bahwa keaslian skripsi ini dapat dipertanggung jawabkan.

F. Tinjauan Kepustakaan

1. Teori Pemisahan Kekuasaan

Teori atau konsep ini pertama kali dikemukakan oleh John Locke (1960) yang kemudian dikembangkan oleh Baron de Montesquieu (1689-1755) yang lebih dikenal dengan istilah trias politica. Teori ini dilandasi oleh pemikiran untuk mencegah terjadinya penumpukan kekuasaan secara absolut di tangan satu orang. Sebab hal tersebut sangat berpeluang bagi timbulnya penyalahgunaan kekuasaan (misuse power). Jika kekuasaan yudikatif diletakkan pada penguasa, maka proses peradilan berpotensi besar untuk dijadikan alat untuk mempertahankan kepentingan penguasa. Selanjutnya, jika kekuasaan yudikatif

(17)

dan kekuasaan legislatif diletakkan pada penguasa maka akan lahir penguasa tirani. 22

Menurut John Locke dalam bukunya Two Treaties of Government, kekuasaan negara dibedakan atas tiga bidang kekuasaan, yaitu: legislative power sebagai pembuat undang, executive power sebagai pelaksana undang-undang dan federative power yaitu kekuasaan dalam hal melakukan hubungan diplomatik dengan negara lain. Selanjutnya, Montesquieu dalam bukunya The

Spirit of The Laws (1748) membedakan pula tiga macam kekuasaan yaitu

kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif. Montesquieu tidak lagi memasukkan federative power sebagai salah satu cabang kekuasaan tetapi memasukkan kekuasaan yudikatif yaitu kekuasaan untuk menghukum penjahat atau mengadili dan memutus pertikaian antar individu-individu.

23

Terdapat perbedaan pendapat antara John Locke dan Montesquieu, dimana menurut Locke kekuasaan eksekutif mencakup juga kekuasaan yudikatif karena mengadili itu berarti melaksanakan undang-undang sedangkan kekuasaan federatif merupakan kekuasaan yang berdiri sendiri (onafhankelijk). Sementara itu Montesquieu berpendapat bahwa kekuasaan eksekutif mencakup juga kekuasaan federatif karena mengadakan hubungan dengan negara luar adalah termasuk ke dalam kekusaan eksekutif, maka kekuasaan yudikatif merupakan kekuasaan yang berdiri sendiri (onafhankelijk).

24

Dalam perkembangannya, tugas negara yang semakin banyak dan kompleks mengakibatkan penerapan teori pemisahan kekuasan (separation of

22

Sumali, Op. Cit, hal. 9.

23

Ibid, hal. 10.

24

(18)

power) sulit dipatuhi secara tajam.25 Pada zaman modern terjadi saling mengkombinasi antara konsep pemisahan kekuasaan (separation of power) dengan konsep check and balances.26 Konsep seperti ini umumnya disebut dengan istilah pembagian kekuasaan (distribution of powers). Dalam hal ini, kekuasaan tidak dipisah (secara tegas) tetapi hanya dibagi-bagi, sehingga memungkinkan timbulnya overlapping kekuasaan.27

Apabila kita telusuri, teori pemisahan kekuasaan secara tegas sebagaimana ajaran trias politica Montesquieu sebenarnya merupakan teori ketatanegaraan yang dahulu dianut oleh negara-negara Eropa Kontinental. Sedangkan konsep

checks and balances merupakan konsep yang dianut oleh para founding fathers

negara Amerika Serikat. Dalam hal ini, kekuasaan dibagi-bagikan akan tetapi antara satu sama lain terdapat hubungan yang saling mengawasi tanpa adanya superioritas pada satu kekuasaan terhadap kekuasaan lainnya. Terdapat kesamaan mengenai dasar/pokok utama yang dianut oleh negara-negara Eropa Kontinental dan versi Inggris-Amerika yakni kekuasaan itu berasal dari rakyat yang diperintah (government by consest of the governed) dan harus dibatasi (limited

government).28

Lazimnya, konsep distribution of power membagi cabang-cabang kekuasaan negara menjadi tiga badan yaitu (1) badan legislatif, (2) badan eksekutif, dan (3) badan yudikatif. Ada juga ahli yang berpendapat bahwa ketiga badan tersebut belum cukup dan menambahkan satu badan lain di luar ketiga

25

Saiful Anwar, Sendi-Sendi Hukum Tata Negara, Penerbit PT.Susito, Bandung, 1996, hal. 73-74.

26

Munir Fuady, Teori Negara Hukum Modern (rechtstaat), Refika Aditama, Bandung, 2009, hal. 105.

27

Ibid.

28

(19)

badan tersebut. Misalnya, Van Vollenhoven menambahkan badan politie yang bertugas menjaga tata tertib untuk mengawasai agar semua cabang pemerintahan yang ada dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Dengan demikian, keseluruhan cabang pemerintahan menjadi empat, yaitu (1) regeling (legislatif), (2) bestuur (eksekutif), (3) rechtspraak (yudikatif), dan (4) politie. Sedangkan C.F. Strong membagi cabang kekuasaan menjadi enam badan, yaitu: (1) kekuasaan eksekutif, (2) kekuasaan legislatif, (3) kekuasaan yudikatif, (4) kekasaan administratif, (5) kekuasaan militer/pertahanan negara, dan (6) kekuasaan diplomatik. 29

Tidak diraguka n lagi bahwa teori trias politica sangat perlu diaplikasikan dalam suatu sistem pemerintahan yang baik.30 Sejarah ketatanegaraan menunjukkan penerapan teori ini (dengan berbagai variasi) dapat mengantarkan umat manusia ke arah kehidupan yang lebih demokratis sehingga dapat menopang sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara yang dapat menjamin kelangsungan kehidupan manusia. Bahkan, penerapan doktrin trias politica merupakan satu-satunya pilihan bagi setiap negara yang demokratis, maju dan modern.31

29

Munir Fuady, Op. Cit, hal. 105-106.

30

Ibid.

31

Ibid, hal. 108. 2. Teori Konstitusi

(20)

bentuk tertentu dengan struktur tertinggi yaitu Undang-Undang Dasar, baik yang dituangkan dalam hukum tertulis (written constitution) maupun tidak tertulis (unwritten constitution).32

Menurut Hans Kelsen, konstitusi negara biasa juga disebut sebagai hukum fundamental negara, yaitu dasar dari tata hukum nasional. Secara yuridis, konstitusi dapat pula bermakna norma-norma yang mengatur proses pembentukan undang-undang, disamping mengatur pembentukan dan kompetensi organ-organ eksekutif dan yudikatif.

33

K.C Wheare membedakan konstitusi dua pengertian yaitu dalam arti luas (wider sense) dan konstitusi dalam arti sempit (narrower sense). Yang dimaksud dengan konstitusi dalam arti luas yaitu sistem ketatanegaraan suatu negara, kumpulan perturan-peraturan yang mendasari dan mengatur atau mengarahkan pemerintahan. Sebagai sistem pemerintahan, di dalamnya terdapat campuran tata peraturan baik yang bersifat legal dan sebagian bersifat non legal. Sedangkan pengertian konstitusi dalam arti sempit yaitu merupakan hasil seleksi dari peraturan-peraturan hukum yang mengatur pemerintahan negara tersebut dan telah diwujudkan dalam bentuk dokumen.34

a. Kekuasaan pemerintah (dalam arti luas)

C.F Strong mengemukakan bahwa konstitusi itu merupakan kumpulan asas-asas yang mengatur tiga materi muatan pokok, yaitu :

b. Hak-hak yang diperintah (hak-hak azasi); dan

c. Hubungan antara yang memerintah dan yang diperintah.35

32

K.C Wheare, Konstitusi-Konstitusi Modern, Pustaka Eureka, Surabaya, 2003, hal. 21.

33

Sumali, Op. Cit, hal. 19.

34

K.C. Wheare, Op. Cit, hal. 1-3.

35

Nukhthoh Arfawie Kurde, Telaah Kritis Teori Negara Hukum, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2005, hal 18.

(21)

Berdasarkan penjelasan C. F Strong di atas, dapat disimpulkan bahwa secara esensial kedudukan konstitusi berfungsi membatasi wewenang pemerintah atau penguasa dalam menjalankan pemerintahannya (limited government) dan melindungi hak-hak asas rakyat36

Dalam penyusunan suatu konstitusi tertulis, nilai-nilai dan norma yang hidup dalam masyarakat dan dalam praktek penyelenggaraan negara turut mempengaruhi perumusan suatu norma ke dalam naskah undang-undang dasar. Karena itu suasana kebathinan (geistichenhentergrund) yang menjadi dasar latar belakang filosofis, sosiologis, politis dan historis perumussan yuridis suatu ketentuan undang-undang dasar, perlu dipahami dengan seksama, untuk dapat mengerti dengan sebaik-baiknya ketentuan yang terdapat dalam pasal-pasal undang-undang dasar.37

a. Mengatur lembaga-lembaga negara dan wewenangnya

Mahfud MD, menyebutkan bahwa semua konstitusi di dunia, mempunyai tujuan :

b. Mengatur tentang perlindungan atas hak asasi manusia, karena adanya konstitusi maka dengan sendirinya banyak hal yang diatur di luar konstitusi tapi mempunyai sifat dan kekuatan mengikat seperti konstitusi.38

Sebagi konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), UUD 1945 telah ditetapkan MPR sebagai sumber hukum dasar nasional. UUD 1945 juga merupakan hukum dasar tertulis negara Republik Indonesia, yang memuat

36

Ibid.

37

Jimly Asshiddiqie, Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia, Konstitusi Press, Jakarta, 2005, hal. 29.

38

Mahfud MD, Dasar dan struktur ketatanegaraan Indonesia, edisi revisi, Rineke Cipta, Jakarta, 2001, hal. 72.

(22)

dasar dan garis besar hukum dalam penyelenggaraan negara.39 Undang-undang dasar (konstitusi) sebagai dasar dan hukum tertinggi mengatur penyelenggaraan negara serta merupakan instrumen hukum untuk membatasi dan mengendalikan kekuasaan negara. Dengan demikian, semua produk hukum yang berada di bawahnya harus berdasarkan undang-undang dasar dan tidak boleh bertentangan dengannya.40

Sistem ketatanegaraan diartikan sebagai susunan ketatanegaraan, yaitu segala sesuatu yang berkaitan dengan organisasi negara, baik menyangkut susunan dan kedudukan lembaga-lembaga negara maupun yang berkaitan dengan tugas dan wewenang masing-masing maupun hubungan satu sama lain. 3 Sistem Ketatanegaraan Indonesia

41

Berbicara mengenai sistem ketatanegaraan Indonesia, menurut Philipus M. Hadjon, bahwa sistem ketatanegaraan Indonesia menurut UUD 1945 merupakan sistem yang unik dan mungkin merupakan sistem yang tidak ada duanya di dunia.

Selanjutnya, sistem ketatanegaraan Indonesia dapat diartikan sebagai susunanan ketatanegaraaan Indonesia, yaitu segala sesuatu yang berkenaan dengan organisasi Republik Indonesia, baik menyangkut susunan dan kedudukan lembaga-lembaga negara Republik Indonesia yang berkaitan dengan tugas dan wewenang maupun hubungan satu sama lain menurut UUD 1945.

42

39

Abdul Rasyid Thalib, Op, Cit,, hal. 94.

40

Ibid, hal. 94-95.

41

Abdy Yuhana, Sistem Ketatangaraan Indonesia Pasca Perubahan UUD 1945, Fokus Media, Bandung, 2007, hal. 67.

42

Philipus M. Hadjon, Lembaga Tertinggi Negara dan Lembaga-Lembaga Tinggi Negara

Menurut UUD 1945, Surabaya, Bina Ilmu,1992, hal. ix.

(23)

Indonesia tidak menganut suatu sistem negara mana pun tetapi adalah suatu sistem yang khas menurut kepribadian bangsa Indonesia.43

Bentuk nyata dari perubahan UUD 1945 adalah perbedaan dalam hal kelembagaan negara terutama menyangkut lembaga negara, kedudukan, tugas, wewenang, hubungan kerja dan cara kerja lembaga yang bersangkutan. Munculnya gagasan perubahan tentang kelembagaan negara tersebut tak lain

Susunan organisasi negara yang diatur dalam UUD 1945 sebelum perubahan, yaitu: (1) Majelis Permusyawaratan Rakyat, (2) Presiden, (3) Dewan Pertimbangunan Agung, (4) Badan Pemeriksa Keuangan, dan (5) Mahkamah Agung. Jika diklasifikasikan, MPR merupakan lembaga tertinggi negara sedangkan lembaga kenegaraan lainnya merupakan lembaga tinggi negara. Sedangkan dalam susunan organisasi negara yang diatur dalam UUD 1945 setelah perubahan, antara lain: (1) Majelis Permusyawaratan Rakyat, (2) Presiden, (3) Dewan Perwakilan Rakyat, (4) Dewan Perwakilan Daerah, (5) Mahkamah Agung (6) Badan Pemeriksa Keuangan (7) Mahkamah Konstitusi, dan (8) Komisi Yudisial.

Berbeda dengan sebelum dilakukannya perubahan UUD 1945, hasil perubahan tidak mengenal lembaga tertinggi negara karena lembaga-lembaga negara tersebut mempunyai posisi yang sama atau sebanding antara satu lembaga negara dengan lembaga negara lainnya.

43

(24)

adalah demi terciptanya sistem dan mekanisme checks and balances di dalam sistem politik dan ketatanegaraan Indonesia.44

Secara institusional, keseluruhan lembaga negara yang ada merupakan lembaga negara yang berdiri sendiri dimana yang satu bukan merupakan bagian yang lain. Akan tetapi, dalam menjalankan kekuasaan atau wewenangnya, lembaga negara yang satu tidak terlepas atau terpisah secara mutlak dengan lembaga negara lain. Hal ini menunjukkan bahwa UUD 1945 tidak menganut paham pemisahan kekuasaan dalam arti materi (separation of power), melainkan pemisahan kekuasaan dalam arti formal. Dengan kata lain, UUD 1945 menganut konsep pembagian kekuasaan dengan menunjuk pada jumlah badan-badan kenegaraan yang diatur di dalamnya serta hubungan kekuasaan di antara badan-badan kenegaraan yang ada.45

untuk menunjang usaha penyusunan dan pembahasan skripsi ini. Maka dalam penyusunan skripsi ini agar tujuan dapat lebih teratur dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, maka dipergunakan metode yuridis normatif.

G. Metode Penulisan

Metode penulisan merupakan cara yang digunakan dalam mencapai tujuan

46

44

Moh. Mahfud MD, Perdebatan Hukum Tata Negara, LP3ES, Jakarta, 2007, hal. 65.

45

Abdy Yuhana, Op. Cit, hal. 69.

46

Sorejono Soekanto, Metode Penelitian Hukum, Rajawali Press, Jakarta, 1998, hal. 42.

Dikatakan demikian karena yang menjadi dasar dalam penulisan skripsi ini adalah gagasan atau konsep hukum yang mencakup azas-azas hukum, penelitian terhadap sistematika hukum, penelitian terhadap sinkronisasi hukum, penelitian sejarah hukum dan lain-lain. Yang menjadi titik berat dalam penulisan skripsi ini adalah bagaimana kedudukan, tugas, dan wewenang Komisi Yudisal

(25)

dalam melaksanakan kekuasaan kehakiman Republik Indonesia menurut UUD 1945. Pendekatan yang bersifat yuridis normatif tersebut akan dilakukan dengan mempergunakan bahan hukum primer dan sekunder.

Adapun bahan hukum primer yang diteliti adalah berupa bahan hukum yang mengikat yang terdiri dari UUD RI 1945, peraturan perundang-undangan maupun peraturan pelaksana yang dianggap menunjang terhadap penulisan skripsi ini. Bahan hukum sekunder yang diteliti adalah berupa karya ilmiah seperti bahan pustaka, dokumen-dokumen, buku-buku dan sebagainya.

H. Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini penulis membahas dasar-dasar pemikiran penulis dan gambaran umum tentang tujuan tulisan ilmiah serta berisi hal-hal yang menyangkut teknis pelaksanaan penyelesaian skripsi yang dimulai dengan mengemukakan latar belakang pemulihan judul, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, keaslian penulisan, tinjauan pustaka, metode penulisan, dan sistematika penulisan.

BAB II KEKUASAAN KEHAKIMAN INDONESIA

Pada bab ini penulis akan membahas konsepsi negara hukum dan membahas mengenai kekuasaan kehakiman di Indonesia sebelum dan sesudah perubahan UUD 1945.

(26)

BAB III EKSISTENSI KOMISI YUDISAL DALAM SISTEM KETATANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA

Pada bab ini penulis berusaha menguraikan eksistensi Komisi Yudisal yang berkaitan dengan kedudukan konstitusional Komisi Yudisal dan hubungan Komisi Yudisal dalam hubungannya dengan lembaga negara lain

BAB IV PELAKSANAAN TUGAS DAN WEWENANG

KONSTITUSIONAL KOMISI YUDISAL

Pada bab ini memuat analisis yang bertujuan untuk menjelaskan kewenangan konstitusional Komisi Yudisal sebagai lembaga negara dalam hubungannya dengan penerapan konsep checks and

balances.

BAB V PENUTUP

Bab ini berisikan inti jawaban dari pembahasan sesuai dengan rumusan masalah yang tertuang dalam bentuk kesimpulan ditambah dengan saran-saran dari penulis.

(27)

BAB II

KEKUASAAN KEHAKIMAN INDONESIA

A. Konsepsi Negara Hukum

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ‘konsep’ diartikan sebagai ide atau pengertian yang diabstrakkan dari peristiwa konkret. Sedangkan kata ‘konsepsi’ diartikan sebagai pengertian, pendapat (paham), rancangan (cita-cita dsb) yang telah ada dalam pikiran.47

negara hukum adalah suatu sistem kenegaraan yang diatur berdasarkan hukum yang berlaku yang berkeadilan yang tersusun dalam konstitusi, dimana semua orang dalam negara tersebut, baik yang diperintah maupun yang memerintah, harus tunduk kepada hukum yang sama diperlakukan sama dan setiap orang berbeda diperlakukan berbeda dengan dasar pembedaan yang rasional, tanpa memandang perbedaan warna kulit, ras, gender, agama, kepercayaan, dan kewenangan pemerintah dibatasi berdasarkan suatu prinsip distribusi kekuasaan, sehingga pemerintah tidak bertindak sewenang-wenang dan tidak melanggar hak-hak rakyat, karenanya kepada rakyat diberikan peran sesuai kemampuan dan perannya secara demokratis.

Mengenai istilah ‘negara hukum’, Munir Fuady memberikan pengertian sebagai berikut:

48

Konsepsi negara yang berdasarkan hukum secara esensi bermakna hukum sebagai supreme.49

47

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 2005, hal. 588.

48

Munir Fuady, Op. Cit, hal. 3.

49

Sumali, Op. Cit, hal. 11.

Hukum sebagai supreme berarti bahwa hukum menjadi faktor penentu bagi keseluruhan dinamika sosial, ekonomi, dan politik suatu negara. Hal tersebut sejalan dengan pengertian nomocratie yaitu kekuasaan yang

(28)

dijalankan oleh hukum dan prinsip the rule of law, and not of the man yang menegaskan bahwa sesungguhnya yang memimpin dalam negara bukanlah manusia atau orang melainkan hukum itu sendiri.50

Lahirnya konsep negara hukum dimaksudkan sebagai usaha untuk membatasi kekuasaan penguasa negara dari tindakan penyalah gunaan kekuasaan untuk menindas rakyatnya (abuse of power, abus de droit).51 Pembatasan kekuasaan itu dilakukan melalui supremasi hukum (supremacy of law), yaitu bahwa segala tindakan penguasa harus berdasar dan berakar pada hukum menurut ketentuan perundang-undangan yang berlaku.52

Konsepsi negara hukum sudah lama menjadi discourse para ahli.

53

Plato (429-347 S.M), seorang filosof Yunani menjabarkan konsepsi negara hukum di dalam tiga karya besarnya, yaitu: Politeia (the Republica), Politicos (The

Statemen), dan Nomoi (The Law). Dalam bukunya Politeia, Plato berkeinginan

agar negara diperintah oleh raja yang bijaksana (philosopher king) tanpa perlu tunduk kepada hukum. Akan tetapi, pada kenyataannya keadaan ideal hampir mustahil untuk terwujud. Oleh karena itu, Plato berpendapat dalam bukunya

Nomoi bahwa negara harus diperintah oleh seorang kepala negara yang tunduk

kepada aturan-aturan yang berlaku.54

50

Jimly Asshiddiqie, Konstitusi dan Konstitusionalisme, Jakarta, Mahkamah Konstitusi dan Pusat Studi Hukum Tata Negara FH UI, 2004, hal. 22.

51

Munir Fuady, Op. Cit.

52

Sirajudin dan Zulkarnain, Komisi Yudisal & Eksaminasi Publik Menuju Peradilan yang Bersih

dan Berwibawa, Penerbit PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 2006, hal. 13. 53

Ibid, hal. 14.

54

Ellydar Chaidir, Negara Hukum, Demokrasi dan Konstalasi Ketatanegaraan Indonesia, Total Media, Yogyakarta, 2007, hal. 16-17.

(29)

Pemikiran Plato tersebut kemudian dilanjutkan oleh muridnya Aristoteles (384-322 S.M). Dalam bukunya yang berjudul Politicos beliau menghendaki agar negara diperintah oleh kepala negara yang tunduk kepada hukum yang berlaku (rule of law).55 Menurut Aristoteles, negara yang baik ialah negara yang diperintah dengan konstitusi dan berkedaulatan hukum. Hal ini berarti bahwa yang memerintah bukanlah manusia melainkan pikiran yang adil, sehingga baik dan buruknya hukum ditentukan oleh kesusilaan. Untuk itu, manusia harus dididik berdasarkan kesusilaan yang akhirnya akan menciptakan manusia yang mampu bersikap adil. Kesusilaanlah yang menentukan baik dan buruknya suatu hukum.56 Apabila keadaan tersebut telah terwujud terciptalah suatu negara hukum. Tujuan negara adalah kesempurnaan warganya yang berdasarkan atas keadilan.57

Selanjutnya, Immanuel Kant dalam bukunya Methaphysiche

Ansfangsgrunde der Rechtslehre mengemukakan konsep negara hukum liberal.

Immanuel Kant mengemukakan mengenai konsep negara hukum dalam arti sempit, yaitu bahwa fungsi hukum pada negara hanya sebagai alat perlindungan individu. Negara berstatus pasif yang berarti bahwa rakyat harus tunduk pada peraturan-peraturan negara sedangkan penguasa dalam bertindak harus berdasarkan hukum.58

Negara harus menjamin tata tertib dari perseorangan (individu) yang menjadi rakyatnya. Dalam hal ini, fungsi negara hanya dipandang sebagai sang

55

Munir Fuady, Op. Cit, hal. 27.

56

Nukhthoh Arfawie Kurde, Op. Cit, hal. 14.

57

Ellydar Chaidir, Op. Cit, hal. 21.

58

Ni’matul Huda, Negara Hukum, Demokrasi & Judicial Review, UII Press, Yogyakarta, 2005, hal. 5.

(30)

penjaga malam (nachtwachtersstaat). Artinya, negara hanya bertindak apabila

hak-hak asasi individu warganya berada dalam bahaya atau ketertiban umum dan keamanan umum terancam.59

Penyelenggaraan perekonomian dalam negara hukum liberal berasaskan persaingan bebas. Laissez faire, laissez passer, siapa yang kuat dia yang menang. Kepentingan masyarakat tidak usah diperhatikan, yang penting kaum liberal mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Negara sejauh mungkin tidak ikut campur tangan dalam urusan individu warganya. Dalam hal ini, hukum administrasi negara sudah mulai muncul walaupun perannya masih sangat terbatas. Lapangan pekerjaan administrasi negara dalam negara hukum semacam ini hanyalah membuat dan mempertahankan hukum.60

Pendapat Immanuel Kant kemudian diperbaharui oleh Frederich Julius Stahl. Frederich Julius Stahl mengemukakan bahwa negara harus menjadi negara hukum (rechtstaats). Negara harus turut campur tangan di seluruh sendi kehidupan rakyat apabila menyangkut kepentingan rakyat. Akan tetapi campur tangan tersebut haruslah dilakukan menurut saluran-saluran hukum yang sudah ditentukan. Inilah yang menjadi esensi negara hukum formal yaitu bahwa negara hukum mendapat pengesahan dari rakyat, maka negara haruslah bertindak berdasarkan undang-undang. Negara hukum formal ini disebut pula dengan negara demokratis yang berlandaskan hukum.

61

a. Adanya jaminan terhadap hak-hak asasi;

F.J. Stahl menyusun unsur-unsur negara hukum formal sebagai berikut:

59

Ellydar Chaidir, Op. Cit, hal. 27.

60

Ibid., hal. 27-28.

61

(31)

b. Penyelenggaraan negara berdasarkan trias politica (pemisahan kekuasaan);

c. Pemerintahan didasarkan pada undang-undang, dan; d. Adanya peradilan administrasi. 62

Berdasarkan unsur-unsur di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa negara hukum formal bertujuan untuk melindungi hak asasi warga negaranya dengan cara membatasi dan mengawasi gerak langkah dan kekuasaan negara dengan undang-undang.63

Seiring dengan usainya perang dunia kedua, konsep negara hukum formal tersebut banyak mendapat kritikan karena ekes-ekses yang ditimbulkan oleh sistem industrialisasi yang kapitalistik-eksploitatif dan berkembangnya faham sosialisme yang menginginkan pembagian kesejahteraan secara merata.

64

Akibatnya, gagasan yang membatasi pemerintah untuk mengurusi kepentingan warganya mengalami pergeseran ke arah gagasan baru yang mengafirmasi peran pemerintah harus aktif untuk mewudkan kesejahteraan warganya.65 Prof. Lemaire mengistilahkannya dengan bestuurzorg yaitu bahwa pemerintah ditugaskan untuk menyelenggarakan kepentingan umum yang meliputi segala lapangan kemasyarakatan.66 Ide yang mendorong pemerintah untuk bersifat progresif di dalam usuran prifat ini dikenal dengan sebutan welfare state atau paham negara huku m materil.67

Konsekuensi dari keterlibatan pemerintah di berbagai lapangan kehidupan masyarakat, adalah pemberian kewenangan kepada administrasi negara untuk

62

Ellydar Chaidir Op. Cit, hal.29.

63

Ibid.

64

Sumali., Op. Cit, hal. 12.

65

Ibid.

66

Sudargo Gautama (Gouwgioksiong), Pengertian tentang Negara Hukum, Penerbit Alumni, Bandung, 1973, hal. 17.

67

(32)

menjalankan rencana aksinya atas inisiatif sendiri tanpa harus didahului dengan delegasi atau atribusi dari pihak parlemen. Itulah sebabnya dalam rangka

bestuurzorg, pemerintah dibekali dengan freis ermessen atau pouvoir discretionnaire, yaitu kewenangan yang dimiliki pemerintah untuk turut serta

dalam kehidupan sosial dan keleluasaan untuk tidak selalu terikat pada produk legislasi parlemen.68

Dalam prakteknya penggunaan kekuasaan diskresi ini tidak jarang menimbulkan masalah, yakni berupa tindakan sewenang-wenang (a bus de droit/

wilkeur), penyalahgunaan wewenang (detournament de pouvair), kekeliruan

dalam menafsirkan hukum (ermeeson unterschreitung), yang akibatnya justru merugikan masyarakat.

69

1. Perlindungan konstitusional, artinya selain menjamin hak-hak individu, konstitusi harus pula menentukan cara prosedural untuk memperoleh perlindungan atas hak-hak yang dijamin;

Untuk itu, seiring dengan semakin luasnya desakan berbagai kalangan yang menghendaki jaminan dan perlindungan warga negara akibat didayagunakannya instrumen freies ermesson tersebut maka International

Commission of Jurist pada konfrensinya di Bangkok (1965) memberikan

rumusan tentang ciri-ciri pemerintahan yang demokratis di bawah rule of law, yaitu:

2. Badan kehakiman yang bebas dan tidak memihak; 3. Pemilihan umum yang bebas;

4. Kebebasan menyatakan pendapat; 5. Kebebasan berserikat dan berkumpul; 6. Pendidikan kewarganegaraan.70 68 Ibid, hal. 13. 69 Ibid. 70 Ibid.

(33)

H. Abdul Latief mengemukakan bahwa dalam pengertian materil, rule of

law mencakup ukuran-ukuran tentang baik dan buruknya hukum yang meliputi

aspek-aspek berikut:

a. Ketaatan dari segenap warga masyarakat terhadap kaedah-kaedah hukum yang dibuat serta diterapkan oleh badan legislatif, eksekutif dan yudikatif; b. Kaidah-kaidah hukum harus selaras dengan hak-hak asasi manusia;

c. Negara berkewajiban menciptakan kondisi social yang memungkinkan terwujudnya aspirasi dan penghargaan yang wajar terhadap hak asasi manusia;

d. Terdapatnya tata cara yang jelas dalam proses mendapatkan keadilan terhadap perbuatan yang sewenang-wenang dari penguasa;

e. Adanya badan yudikatif bebas dan merdeka yang akan dapat memeriksa serta memperbaiki setiap tindakan yang sewenang-wenang dari badan-badan eksekutif dan legislatif. 71

Kelima aspek di atas menjadi tolok ukur negara hukum dalam arti materil.72 Apabila kelima aspek tersebut dapat terealisasi dalam praktik penyelenggaraan kekuasaan negara, maka tujuan negara hukum dalam arti materil dapat tercapai yaitu terlindunginya warga negara terhadap tindakan-tindakan yang sewenang-wenang dari pemerintah, sehingga setiap warga negara dapat menikmati martabat hidupnya sebagai manusia yang seutuhnya.73

Di Indonesia sendiri, sebagai negara yang lahir pada abad modern menyatakan diri sebagai negara hukum. Pembukaan UUD 1945, maupun dalam batang tubuh beserta penjelasan UUD 1945 menegaskan bahwa negara Indonesia adalah negara hukum yang bersumber pada Pancasila dan UUD 1945 dan bukan berdasarkan atas kekuasaan belaka. Di dalam Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 setelah perubahan ditegaskan bahwa indonesia adalah negara hukum. Ini berarti kekuasaan tertinggi di dalam negara Indonesia ialah hukum dalam arti konstitusi.

71

H. Abdul Latif, Fungsi Mahkamah Konstitusi, Upaya Mewujudkan Negara Hukum Demokrasi, Total Media, Yogyakarta, 2009, hal. 21.

72

Ibid.

73

(34)

Karena itu kekuasaan tertinggi (dalam arti kedaulatan) berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut undang-undang dasar. Negara Indonesia adalah negara kesatuan, yang berbentuk republik, hal ini berarti sistem pemerintahan negara atau cara-cara pengendalian negara memerlukan kekuasaan, namun tidak ada suatu kekuasaan pun di Indonesia yang tidak berdasarkan hukum.74

Kekuasaan kehakiman merupakan karakteristik negara hukum yang demokratis.

B. Konsep-konsep Kekuasaan Kehakiman Indonesia

75

Kekuasaan kehakiman dan negara hukum merupakan satu kesatuan yang berarti bahwa kekuasaan kehakiman merupakan aspek utama negara hukum. Jika aspek tersebut tidak terdapat dalam suatu negara, maka negara tersebut tidak dapat dikatakan sebagai negara hukum. 76

Menurut Wirjono Prodjodikoro, kekuasaan kehakiman berfungsi untuk memutus sengketa hukum yang timbul antara anggota masyarakat satu sama lain dan antara anggota masyarakat dengan pemerintah.77

74

Ibid. hal. 73.

75

Abdulah Zaini, Pengantar Hukum Tata Negara, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1991, hal. 78.

76

Ibid.

77

Abdul Rasyid Thalib, Wewenang Mahkamah Konstitusi dan Implikasinya dalam Sistem

Ketatanegaraan Republik Indonesia, Penerbit PT Citra Aditya Bakti., Bandung, 2006, hal. 152.

Wewenang untuk memutus perkara tersebut mengarah kepada terwujudnya perlindungan hukum (rechtbescherming) bagi rakyat. Perlindungan hukum bagi rakyat haruslah menegakkan keadilan dan kebenaran, dalam arti mengendalikan kekuasaan agar dalam membuat dan menerapkan hukum atau peraturan perundang-undangan

(35)

tidak bertindak secara sewenang-wenang, berlaku adil dan benar menurut hukum yang pada akhirnya akan menciptakan kehidupan yang tertib dan damai.78

Secara umum ada dua prinsip yang dipandang sangat pokok dalam kekuasaan kehakiman, yaitu: (1) prinsip kekuasaan kehakiman yang mandiri (the

principle of judicial independence), dan (2) prinsip kekuasan kehakiman yang

tidak memihak (the principle of judicial impartiality.)79

Prinsip independensi harus diwujudkan dalam sikap para hakim dalam memeriksa dan memutus perkara yang dihadapinya. Disamping itu, independensi juga tercermin dalam berbagai pengaturan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pengangkatan, masa kerja, pengembangan karir, sistem penggajian dan pemberhentian hakim. Sedangkan prinsip ketidakberpihakan (the principle of

impartiality) di dalam praktek mengandung makna dibutuhkan hakim yang tidak

saja bekerja secara imparsial (to be impartial), tetapi juga terlihat secara imparsial (to appear to be impartial).80 Ketidakberpihakan (impartiality) kekuasaan kehakiman tidak hanya ketiadaan bias atau kecurigaan tertentu terhadap hakim saja, melainkan juga berlaku bagi hal-hal yang berkaitan dengan pertimbangan-pertimbangan lain seperti pandangan politik dan agama yang dianut oleh hakim.81

a. Kekuasaan kehakiman yang mandiri merupakan sendi bagi kehidupan demokrasi dan terjaminnya perlindungan dan penghormatan atas hak azasi manusia;

Bagir Manan menyebutkan beberapa alasan kekuasaan kehakiman harus mandiri yaitu:

78

Ibid.

79

Jimly Asshiddiqie, Pokok-pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi,Op. Cit, hal. 531.

80

Ibid, hal. 531-532.

81

(36)

b. Kekuasaan kehakiman yang mandiri merupakan sendi tegaknya paham negara berdasarkan konstitusi yang menghendaki agar kekuasaan negara dibatasi;

c. Kekuasaan kehakiman yang mandiri diperlukan untuk menjamin netralitas terutama apabila sengketa terjadi antara warga negara dengan negara/pemerintah;

d. Penyelesaian sengketa hukum oleh kekuasaan kehakiman yang mandiri merupakan dasar bagi berfungsi sistem hukum dengan baik. 82

Montesquieu menekankan akan pentingnya kekuasaan kehakiman yang terpisah dari kekuasaan lainnya. Beliau mengemukakan:

When the legislative and executive powers are united in the same person or in the same body of magistrates, there can be no liberty because apprehensions, les the same monarch or senates should enact tyrannical laws, to executive judiciary power be not separated from the legislative and executive. Were it joined with the legislative, the live and liberty of the subject would be exposed to arbitrary control, or the judge would be the legislator. Were it joined to executive power, the judge might behave with violence and oppression.83

Berdasarkan teks di atas, Montesquieu memberi penjelasan bahwa jika kekuasaan eksekutif dan legislatif berada dalam satu tangan apakah itu perseorangan atau suatu badan, maka kebebasan tidak akan ada. Jika kekuasaan kehakiman disatukan dengan kekuasaan legislatif, kekuasaan atas kehidupan dan kebebasan warga negara akan dijalankan sewenang-wenang karena hakim akan menjadi pembuat hukum (legislator). Jika kekuasaan kehakiman disatukan dengan kekuasaan eksekutif, maka hakim bisa jadi penindas dan bertindak semena-mena. Dengan demikian maka adanya kekuasaan kehakiman yang mandiri merupakan upaya untuk mencegah penyelenggaraan negara atau pemerintahan secara sewenang-wenang oleh legislatif maupun eksekutif dan menjamin kebebasan anggota masyarakat negara.84

82

Sirajudin dan Zulkarnain, Op. Cit, hal. 30-31.

83

Ahmad Mujahidin, Op. Cit, hal. 17.

84

(37)

A. Mukti Arto mengemukakan bahwa kekuasaan kehakiman yang merdeka mengandung tiga tujuan dasar, yaitu: pertama sebagai bagian dari sistem pemisahan atau pembagian kekuasaan di antara bada-badan penyelenggara negara. Kekuasaan kehakiman diperlukan untuk menjamin dan melindungi kebebasan individu. Kedua, kekuasaan kehakiman yang merdeka diperlukan untuk mencegah agar penyelenggara pemerintahan bertindak tidak semena-mena dan tidak menindas. Ketiga, kekuasaan kehakiman yang merdeka diperlukan untuk dapat menilai keabsahan secara hukum tindakan pemerintah atau suatu peraturan perundang-undangan, sehingga sistem hukum dapat dijalankan dan ditegakkan dengan baik.85

Dalam Artikel 10 Universal Declaration of Human Right menegaskan bahwa: “Setiap orang berhak dalam persamaan, yang sepenuhnya didengarkan suaranya di muka umum dan secara adil oleh pengadilan yang merdeka dan tidak memihak, dalam hal menetapkan hak-hak dan kewajiban-kewajibannya dan dalam

Prinsip independensi kekuasaan kehakiman telah diakui secara global. Beberapa instrumen hukum internasional mengakui pentingnya independensi perdilan antara lain: Universal Declaration of Human Rights (article 10),

International Convenanton on Civil and political Rights (article 14), Vienna Declaration on Programme for Actions 1993 (paragraph 27), International Bar Association Codeof Minimum Standards of judicial Independence, New Delhi 1982, Universal declaration on the Independence of Justice, Montreal 1983.

85

A. Mukti Arto, Konsepsi Ideal Mahkamah Agung, Redefinisi Peran dan Fungsi Mahkamah

(38)

setiap tuntutan yang diberikan kepadanya.” 86

a. Kemandirian peradilan harus dijamin oleh negara dan diabadikan dalam konstitusi atau undang-undang negara. Adalah kewajiban semua lembaga pemerintahan atau lembaga-lembaga yang lain untuk menghormati dan menaati kemandirian peradilan.

Hal ini berarti bahwa independensi kekuasaan kehakiman telah diakui sebagai bagian dari hak asasi manusia. Maka, pengingkaran terhadap kekuasaan kehakiman yang merdeka dan tidak memihak sama saja dengan mengingkari nilai-nilai hak asasi manusia.

Disamping itu, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) melalui Kongres Ketujuh tentang Pencegahan Kejahatan dan Perlakuan terhadap Pelaku Kejahatan yang berlangsung di Milan, Italia, 1985 telah menggariskan prinsip-prinsip dasar tentang kemandirian kehakiman/peradilan sebagai berikut:

b. Peradilan harus memutus perkara-perkara yang diajukan kepadanya secara adil, atas dasar fakta-fakta dan sesuai dengan undang-undang tanpa pembatasan apa pun, pengaruh-pengaruh yang tidak tepat, bujukan-bujukan langsung atau pun tidak langsung, dari arah mana pun atau karena alasan apa pun.

c. Peradilan harus memiliki yurisdiksi atau semua pokok masalah yang diajukan untuk memperoleh keputusannya adalah berada dalam kewenangannya, seperti yang ditentukan oleh hukum.

d. Tidak boleh ada campur tangan apa pun yang tidak pantas atau tidak diperlukan dalam proses peradilan, juga tidak boleh ada keputusan-keputusan yudisial oleh peradilan banding atau pada pelonggaran atau keringanan oleh para penguasa yang berwenang terhadap hukuman-hukuman yang dikenakan oleh peradilan sesuai dengan undang-undang. e. Setiap orang berhak diadili oleh peradilan atau tribunal biasa, yang

menggunakan prosedur-prosedur proses hukum sebagaimana mestinya tidak boleh diciptakan untuk menggantikan yurisdiksi milik peradilan biasa atau tribunal yudisial.

f. Prinsip kemandirian peradilan berhak dan mewajibkan peradilan untuk menjamin bahwa hukum acara peradilan dilakukan dengan adil dan bahwa hak-hak pihak dihormati.

g. Adalah kewajiban setiap negara anggota untuk menyediakan sumber-sumber yang memadai guna memungkinkan peradilan melaksanakan fungsi-fungsinya dengan tepat.87

86

Sirajudin dan Zulkarnain, Op. Cit.

87

(39)

Selanjutnya, masing-masing negara menegaskan kemandirian kekuasaan kehakiman dalam konstitusinya.88

UUD 1945 sebelum perubahan tidak memberikan penjelasan secara rinci tentang pengertian kekuasaan kehakiman secara tuntas (uitputtend) sebagai salah satu kekuasaan negara.

Di Indonesia sendiri, penegasan kekuasaan kehakiman yang merdeka dalam UUD 1945 sebelum perubahan tercantum dalam Penjelasan Pasal 24 dan 25 yang menyebutkan bahwa: “Kekuasaan kehakiman ialah kekuasaan yang merdeka artinya terlepas dari pengaruh kekuasaan Pemerintah. Berhubung dengan itu harus diadakan jaminan dalam undang-undang tentang kedudukan para hakim.” Hal tersebut semakin ditegaskan dalam Pasal 24 ayat (1) UUD 1945 setelah perubahan yang menyatakan: “Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan kehakiman yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan.”

Perubahan UUD 1945 (1990-2002) telah membawa perubahan mendasar dalam sistem ketatanegaraan, khususnya dalam pelaksanaan kekuasaan kehakiman di Indonesia. Hal tersebut sejalan dengan pembaruan sistem peradilan sebagai salah satu agenda reformasi di bidang peradilan. Berikut diuraikan secara umum mengenai institusi peradilan dan ruang lingkup kekuasaan kehakiman di Indonesia sebelum dan sesudah perubahan UUD 1945.

89

88

Ibid.

89

A. Mukti Arto., Op. Cit, hal. 146.

Oleh sebab itu, untuk mengetahui persoalan tersebut hanya dapat dilihat melalui gagasan-gagasan para pendiri bangsa (the founding

(40)

lainnya serta pendapat yang senafas dan sejalan dengan cita-cita proklamasi, tujuan negara RI serta nilai-nilai dasar konstitusi.90

Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan landasan bagi terbentuknya sistem (tata) hukum baru yaitu sistem hukum hukum Indonesia. Hal tersebut merupakan konsekuensi dari adanya suatu negara yang merdeka yang memiliki kebebasan untuk mengatur sendiri tata negara dan tata hukumnya.91

1. Kekuasan kehakiman dilakukan oleh sebuah mahkamah Agung dll. Badan kehekiman menurut Undang-Undang.

Pada tanggal 18 Agustus 1945, Dokuritzu Zyunbi Iinkai (Panitia Persiapan Kemerdekaan Republik Indonesia) mensahkan berlakunya UUD 1945 yang dirancang oleh Dokuritzu Zyunbi Tyoosakai (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) sejak tanggal 29 Mei 1945 yaitu berupa rancangan mukadimah dan rancangan batang tubuh Undang-Undang Dasar. Kemudian pada tanggal 29 Agustus 1945 Komite Nasional Pusat dalam rapatnya mengesahkan Undang-Undang Dasar yang disahkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan sebagai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia.

UUD 1945 sebelum perubahan, ketentuan dasar mengenai organ dan wewenang kehakiman diatur dalam dua pasal, yaitu:

Pasal 24:

2. Susunan dan kekuasaan Badan-Badan Kehakiman itu diatur dengan Undang-Undang

Pasal 25:

Syarat-syarat untuk menjadi dan untuk diperhentikan sebagai Hakim ditetapkan dengan Undang –Undang.

90

Ibid.

91

Joeniarto, Asas-asas Hukum Tata Negara, Yayasan Badan Penerbit Gajah Mada, Yogyakarta, 1968, hal. 49.

(41)

Penjelasan resmi dari kedua pasal tersbut menyebutkan: “Kekuasaan kehakuman ialah kekuasaan yang merdeka artinya terlepas dari pengaruh kekuasaan Pemerintah. Berhubungan dengan itu harus diadakan jaminan dalam Undang-Undang tentang kedudukan para Hakim.”

Prof. Wirjono Prodjodikuro, sebagaimana dikutip oleh Prof. M. Solly Lubis memberi makna dari ketentuan-ketentuan di atas sebagai berikut:

a. bahwa ada kekuasaan kehakiman (yudikatif), terpisah dari kekuasaan perundang-undangan (legislatif) dan kekuasaan pemerintah (eksekutif) b. bahwa kekuasaan kehakiman ini adalah merdeka dalam arti terlepas dari

pengaruh pemerintahan

c. behwa ada satu Mahkamah Agung sebagai badan pengadilan tertinggi di Indonesia

d. bahwa adanya badan-badan pengadilan lain di Indonesia diserahkan kepada undang-undan untuk mengaturnya

e. bahwa pun syarat-syarat untuk pengangkata dan pemberhentian para hakim diserahkan kepada undang-undang untuk megaturnya

f. bahwa ada semacam instruksi kepada pembentuk undang-undang agar dijamin kedudukan yang layak dari para hakim di tengah-tengah masyarakat.92

Undang-Undang yang dimaksud dalam ketentuan Pasal 24 ayat (1) UUD 1945 di atas adalah undang-undang yang mengatur kekuasaan kehakiman, yaitu a. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1948 tentang Susunan dan Kekuasan

Badan-Badan Kehakiman dan Kejaksaan;

b. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1964 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman;

c. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman.

Sesuai dengan judulnya maka undang-undang yang terluas adalah Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1948, karena selain mengatur tentang kekuasaan kehakiman juga mengatur mengenai kekuasaan kejaksaan. Sebagai undang-undang pertama yang mengatur kekuasaan kehakiman sejak Indonesia

92

M. Solly Lubis, S.H., Asas-Asas Hukum tata Tata Negara, Penerbit Alumni, Bandung, 1882, hal. 115-116.

(42)

merdeka, undang-undang ini menganut prinsip univikasi sebagai lawan dari prinsip pluralistik yang diterapkan pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Prinsip ini muncul pada Pasal 6 dan 7 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1948. Pasal 6 menyatakan bahwa: “dalam negara Republik Indonesia hanya ada tiga lingkungan peradilan, yakni:

1) Peradilan Umum;

2) Peradilan Tata Usaha Pemerintahan; 3) Peradilan Ketentaraan.”

Sementara Pasal 7 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1948 menegaskan bahwa: “Kekuasaan kehakiman dalam peradilan umum dilaksanakan oleh:

1) Pengadilan negeri; 2) Pengadilan Tinggi; 3) Pengadilan Agung.”

Berdasarkan Pasal 6 dan Pasal 7 di atas ternyata Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1948 tidak mengatur tentang keberadaan Pengadilan Agama. 93

Begitu juga dengan Pengadilan Adat, tidak terdapat pengaturan yang jelas mengenai keberadaaan pengadilan ini. Ketentuan yang berkaitan dengan hal Akan tetapi tidak juga mengatur secara tegas penghapusan keberadaan Peradilan Agama. Ketidakjelasan itu dapat ditutupi dengan adanya Pasal 35 ayat (2) yang menyatakan bahwa:

Perkara-perkara perdata antara orang Islam yang menurut hukum yang hidup, harus diperiksa dan diputuskan menurut hukum agamanya, harus diperiksa dan diputus oleh Pengadilan Negeri yang terdiri dari seorang hakim yang beragama Islam sebagai ketua, dan dua orang hakim ahli agama Islam sebagai anggota yang diangkat oleh Presiden atas usul Menteri Agama dengan persetujuan menteri kehakiman.

93

(43)

tersebut adalah Pasal 10 yang menyatakan bahwa: “Sepanjang perkara yang menurut hukum yang hidup dalam masyarakat desa dan sebagainya harus diperiksa dan diputus oleh pemegang kekuasaan dalam masyarakat itu tinggal tetap pada mereka untuk diperiksa dan diputusnya.”94

Sebagaimana disebutkan dalam penjelasan UUD 1945 bahwa kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan yang merdeka dan terlepas dari pengaruh kekuasaan-kekuasaan lain. Berhubungan dengan hal tersebut, maka adanya ketentuan yang tercantum dalam Pasal 19 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1964 yang menyebutkan “Demi kepentingan revolusi, kehormatan Negara dan Bangsa atau kepentingan masyarakat yang sangat mendesak, Presiden dapat turun atau campur tangan salam soal-soal pengadilan”, adalah bertentangan dengan UUD 1945.

Dalam Penjelasan Umum undang-undang Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1964 menyatakan bahwa pembentukan undang-undang ini didasarkan pada Tap. MPR Nomor II/MPRS/1960 tentang Haluan Negara yang berupa Manipol Usdek dimana salah satu cirinya adalah bahwa Presiden (pimpinan nasional) sebagai Pemimpin Besar Revolusi yang memiliki kedudukan superior terhadap lembaga-lembaga negara lainnya, meliputi juga kekuasaan kehakiman.

95

94

Ibid.

95

Padmo Wahjono, Beberapa Masalah Ketatanegaraan di Indonesia, Penerbit CV.Rajawali, Jakarta, 1984, hal. 32.

Mengenai jenis-jenis kekuasaan kehakiman diatur dalam Pasal 7 Undang-Undang Nomor 19 Tahun yang secara garis besar Pasal itu berisikan empat hal, yaitu:

(44)

1) Kekuasaan kehakiman dilaksanakan oleh empat jenis peradilan, yaitu: (a) Peradilan Umum, (b) Peradilan Agama, (c) Peradilan Militer dan (d) Peradilan Tata Usaha Negara;

2) Semua Pengadilan berpucak pada Mahkamah Agung yang merupakan pengadilan tertinggi untuk semua lingkungan peradilan;

3) Keempat jenis peradilan itu secara teknis berada di bawah pimpinan Mahkamah Agung, sedangkan secara organisatoris, administratif dan finansial berada di bawah departemen terkait;

4) Dengan adanya keempat jenis peradilan tidak tertutup kemungkinan penyelesaian perkara perdata secara damai di luar pengadilan.96

Mengenai jenis-jenis kekuasaan kehakiman tersebut, penjelasan Pasal 7 undang-undang tersebut menyatakan bahwa:

1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1964 membedakan antara Peradilan Umum, Peradilan Khusus, dan Peradilan Tata Usaha Negara;

2) Peradilan Umum meliputi: Pengadilan Ekonomi, Pengadilan Subversi, dan Pengadilan Korupsi;

3) Peradilan Khusus terdiri dari Pengadilan Agama dan Pengadilan Militer. Berdasarkan penjelasan Pasal 7 di atas tidak disebutkan dengan tegas mengenai jenis Pengadilan Tata Usaha Negara apakah termasuk dalam Peradilan Umum atau Peradilan khusus. Hal ini berarti bahwa Pengadilan Tata Usaha Negara tidak dimasukkan dalam Pengadilan Khusus, akan tetapi dinyatakan memiliki jenis peradilan tersendiri, yaitu Peradilan Administratif.97

Pokok materi yang terkandung dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1964 hampir sama dengan pokok pikiran yang tercantum di dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970. Hanya Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 pengaturannya lebih luas karena megatur pula hak menguji dari Mahkamah Agung dan koneksitas.98

Pada Pasal 1 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 menyebutkan batasan pengertian mengenai kekuasaan kehakiman, bahwa kekuasaan kehakiman

96

Abdul Rasyid Thalib, Op. Cit, hal. 159.

97

Ibid, hal.160.

98

Padmo Wahjono, beberapa Masalah ketatanegaraan Indonesia, Penerbit CV. Rajawali, Jakarta, 1984, hal 32.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :