LAPORAN AKHIR
PEKERJAAN :
PERENCANAAN PEMBANGUNAN DRAINASE
WILAYAH KOTA TERSEBAR DI KOTA
TASIKMALAYA
KATA PENGANTAR
Laporan ini kami susun sebagai salah satu syarat kami selaku Konsultan Perencana untuk Pekerjaan Perencanaan Pembangunan Drainase Wilayah Kota
Tersebar di Kota Tasikmalaya Tahun Anggaran 2014.
Laporan ini merupakan Laporan Akhir yang bermaterikan mengenai bagaimana cara perencanaan drainase yang baik dan benar.
Demikian pengantar singkat laporan ini dengan harapan dapat menjadi kajian bersama bagi pihak yang terkait, sehingga akan didapat hasil perencanaan yang optimal.
Bandung, 2014
Konsultan Perencana
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI ii
DAFTAR TABEL iii
DAFTAR GAMBAR iv
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Maksud dan Tujuan 1
1.3 Sasaran 2
1.4 Lokasi Kegiatan 2
1.5 Lingkup Kegiatan 2
1.6 Keluaran 2
1.7 Sistematika Penulisan 2
BAB II PENDEKATAN DAN METODOLOGI PEKERJAAN 4
2.1 Pekerjaan Persiapan 4
2.2 Kegiatan Survey dan Investigasi 8
BAB III TINJAUAN PUSTAKA DAN TEORI 28
3.1 Pengertian Drainase 28
3.2 Sistem Drainase Perkotaan 28
3.3 Pembangunan Sistem Drainase 30
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Syarat Pemilihan Distribusi 24
Tabel 2.2 Nilai Yn dan Sn 25
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Model Tipe BM dan CP 10
Gambar 2.2 Pengukuran Jarak pada Permukaan Miring 11
Gambar 2.3 Pengukuran Sudut Antar Dua Patok 12
Gambar 2.4 Pengamatan Azimuth Astronomis 13
Gambar 2.5 Pengukuran Waterpass 15
PENDAHULUAN
BAB I
1.1Latar Belakang
Drainase merupakan salah satu infrastruktur yang sama pentingnya dengan keberadaan infrastruktur jalan untuk menangani air limbah dan air kotor. Drainase memegang peran penting dalam pengaturan air limpasan hujan yang berpotensi menjadi genangan air dan banjir. Keberadaan sarana drainase yang terdiri dari sistim drainase merupakan sarana yang fungsi dan keberadaannya haruslah selalu dijaga dan dipelihara untuk menjamin keselamatan dan keamanan manusia dari bahaya banjir sebagai akibat tidak difungsikannya saluran dengan benar. Seiring dengan pertumbuhan penduduk, perluasandan pertambahan penggunaan lahan, seyogyanya koreksi atas fungsi dan keberlakuan saluran drainase harus dilakukan melalui upaya pembangunan infrastruktur drainase yang optimal. Dalam Pelaksanaannya drainase harus dilaksanakan secara menyeluruh serta partisipasi masyarakat. Peningkatan pemahaman mengenai drainase kepada pihak yang terlibat baik bagi pelaksana maupun masyarakat perlu dilakukan secara berkesinambungan agar penanganan drainase dapat dilakukandengan sebaik-baiknya Bahwa untuk merespon membludaknya tenaga terampil / intelektual lulusan perguruan tinggi negerimaupun perguruan tinggi swasta yang telah diakreditasi oleh pihak yang berwenang, maka dalam rangka pelaksanaan pembangunan yang dikelola oleh Pemerintah Kota Tasikmalaya pada umumnya dan khususnya pembangunan yang dikelola oleh Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Kebersihan Kota Tasikmalaya, yang bertanggung jawab atas penanganan seluruh drainase.
Pekerjaan yang akan dilaksanakan adalah Perencanaan Konstruksi pada : “Perencanaan Pembangunan Drainase Wilayah Kota “
1.2Maksud dan Tujuan
Maksud dari pekerjaan Perencanaan Pembangunan Drainase Wilayah Kota adalah untuk menyusun Rencana Teknis: Arsitektur, Struktur, dalam bentuk Gambar Rencana, Gambar Detail, Pelaksanaan dan Perhitungannya, serta Penyusunan
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat. Sedangkan tujuanya adalah untuk mengatasi daerah-daerah yang sering rawan banjir dan juga genangan, daerah yang terkena limpahan pasang surut.
1.3Sasaran
Sasaran dari kegiatan Perencanaan ini adalah dipenuhinya :
Ketentuan yang diberlakukan untuk pekerjaan konstruksi oleh konsultan yaitu Surat Perjanjian (Kontrak Kerja Konstruksi) beserta kelengkapan dan ketentuan-ketentuannya sebagai dasar perjanjiannya;
1. Tersedianya dokumen perencanaan untuk penanganan/pelaksanaan fisik Pembangunan Drainase;
2. Tersedianya dokumen pengadaan termasuk dokumen analisa harga satuan, spesifikasi teknik dan gambar rencana sebelum jadwal penanganan/pelaksanaan fisik.
1.4Lokasi Kegiatan
Lokasi untuk kegiatan ini adalah tersebar di Kota Tasikmalaya.
1.5Lingkup Kegiatan
Lingkup Kegiatan
a. Lingkup kegiatan ini adalah :
1. Persiapan atau Penyusunan Konsep Perencanaan, Mengumpulkan Data dan Informasi Lapangan.
2. Penyusunan Prarencana, Seperti Membuat rencana tapak, prarencana bangunan dan perkiraan biaya.
3. Penyusunan pengembangan rencana, seperti membuat :
Rencana arsitektur beserta uraian konsep;
Rencana struktur, beserta uraian konsep dan perhitungannya;
Garis besar spesifikasi teknis dan perkiraan biaya;
4. Penyusunan rencana detail berupa uraian lebih terinci seperti: Membuat gambar-gambar detail, rencana kerja dan syarat-syarat, rincian volume pelaksanaan pekerjaan, rencana anggaran biaya pekerjaan konstruksi.
5. Pembuatan dokumen perencanaan teknis berupa rencana teknis arsitektur, struktur, dalam bentuk gambar rencana, gambar detail pelaksanaan dan perhitungannya, rencana kerja dan syarat-syarat.
1.6Keluaran
Keluaran yang dihasilkan dari pelaksanaan pekerjaan ini meliputi dokumen perencanaan, berupa : Gambar Rencana Teknis, Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS), Rencana Anggaran Biaya (Engineering Estimate), dan Daftar Volume Pekerjaan (Bill Of Quantity) yang disusun sesuai ketentuan.
1.7Sistematika Penulisan
BAB 1 PENDAHULUAN
Bab ini berisi uraian tentang Latar belakang dari Usulan Teknis serta maksud dan tujuan proyek, lingkup pekerjaan dan hasil yang harus diserahkan oleh konsultan, dan Sistematika penyajian Laporan Pendahuluan
BAB 2 PENDEKATAN DAN METODOLOGI PEKERJAAN
Memuat pendekatan yang dilakukan dan metodologi yang digunakan dalam
Pekerjaan Perencanaan Pembangunan Drainase Wilayah Kota Tersebar di Kota Tasikmalaya.
BAB 3 RENCANA KERJA DAN MOBILISASI TENAGA AHLI
Memuat tentang strategi kerja konsultan, tanggung jawab dan tugas tenaga ahli yang terlibat dan jadual penugasan tenaga ahli untuk melaksanakan Pekerjaan
Perencanaan Pembangunan Drainase Wilayah Kota Tersebar di Kota Tasikmalaya.
BAB 4 KESIMPULAN
Memuat kesimpulan awal dalam Pekerjaan Perencanaan Pembangunan Drainase Wilayah Kota Tersebar di Kota Tasikmalaya.
PENDEKATAN DAN METODOLOGI PEKERJAAN
BAB II
2.1. Pekerjaan Persiapan
Untuk menunjang kelancaran kegiatan pekerjaan diperlukan administrasi yang baik antara pemberi kerja dengan konsultan. Pekerjaan persiapan di mulai segera setelah Konsultan menerima surat perintah mulai kerja (SPMK) dengan beberapa kegiatan antara lain :
A. Pekerjaan persiapan, meliputi :
Administrasi Proyek
Mempersiapkan administrasi proyek meliputi buku kontrak, surat perintah mulai kerja (SPMK).
Persiapan Personil
Dengan dimulainya kegiatan proyek maka konsultan mempersiapkan personil tenaga ahli yang tercantum di dalam proposal teknis. Setiap tenaga ahli akan mempersiapkan segala sesuatunya untuk kegiatan survey meliputi form survey maupun daftar (check list) kebutuhan data sekunder yang diperlukan.
Personil yang harus di persiapkan untuk menangani pekerjaan Pekerjaan Perencanaan Pembangunan Drainase Wilayah Kota Tersebar di Kota Tasikmalaya, terdiri dari tenaga ahli dan tenaga pendukung.
Tenaga ahli, terdiri dari :
1. Team Leader ( Ahli Teknik Sipil ) 2. Ahli Teknik Sipil
Tenaga Pendukung, terdiri dari : 1. Juru Ukur / Teknisi
2. Drafter/Teknisi 3. Estimator/Teknisi 4. Administrasi Keuangan 5. Operator Komputer 6. Sopir Persiapan Peralatan
Pada tahap awal dimulainya pekerjaan akan dipersiapkan peralatan yang diperlukan untuk mendukung operasional proyek. Khususnya untuk tenaga ahli yang melakukan survey akan mempersiapkan peralatannya
yang sudah dikalibrasi. Daftar peralatan dan surat uji kalibrasi akan disampaikan kepada pemberi kerja untuk mendapatkan persetujuan.
Penyusunan Rencana Kerja Terinci
Agar tujuan pekerjaan dapat di capai baik mutu maupun waktu sesuai sasaran yang di harapkan maka perlu di susun rencana kerja yang meliputi jadwal pelaksanaan pekerjaan, jadwal penugasan personil dan jadwal pemakaian peralatan. Penyusunan rencana kerja akan dituangkan dalam Laporan Pendahuluan setelah dapat diketahui baik dari hasil analisa dan evaluasi hasil studi terdahulu yang di komparasi dengan kondisi existing hasil tinjauan lapangan, terutama menyangkut kepastian lokasi yang akan dilakukan survei dan investigasi. Hal ini terutama menyangkut kegiatan lapangan yang perlu dilakukan sesuai dengan kondisi exsisting.
B. Pengumpulan Data Sekunder
Data sekunder yang dibutuhkan ada 2 jenis yaitu data sekunder yang bersifat umum (general) dan khusus. Data tersebut dikumpulkan dari berbagai instansi terkait baik di pusat maupun daerah.
Data sekunder yang bersifat umum antara lain :
1. Data Hidrologi, hidrometri (curah hujan, penyinaran matahari, suhu, dll), Data Peta SWS dan DAS
2. Studi Terdahulu (Kalau ada) Identifikasi dan inventarisasi sungai dan muara
3. Titik-titik referensi yang digunakan
4. Peta topografi (rupa bumi) daerah proyek skala 1 : 50.000 / 1 : 25.000 atau yang lebih besar
5. RUTRW dan RDTR
6. Data dan peta-peta geologi sungai-sungai dan pantai skala 1 : 250.000 7. Data hidro-oceanografi
8. Kota Tasikmalaya dalam rangka tahun 2014
Data sekunder yang bersifat khusus adalah data yang dibutuhkan oleh masing-masing tenaga ahli untuk keperluan analisa yang biasanya hanya didapatkan dari daerah antara lain :
1. Data hidraulic (pasang surut laut) dari pelabuhan terdekat 2. Data RTRW
3. Data Sistem Drainase Yang Dikelola Pemerintah Daerah 4. Peta dan rekaman data genangan banjir
5. Buku hasil studi dan perencanaan yang pernah dilakukan yang berkaitan dengan Drainase
7. Data kerugian serta lokasi dan infrastruktur yang rusak 8. Dan lain-lain.
C. Studi Pendahuluan
Pada tahap ini merupakan studi awal atas kondisi wilayah kajian pada saat ini dan penulurusan data serta studi yang telah ada terutama menyangkut segi hidrologi-hidrometri, morfologi sungai, tata guna lahan, kondisi jaringan drainase existing serta identifikasi wilayah genangan dan sedimentasi di samping usulan-usulan pada studi yang telah ada.
Demikian juga halnya dengan peta-peta yang diperlukan seperti peta topografi terbesar yang ada dan terbaru (diharapkan peta skala 1 : 25.000 atau lebih besar) serta referensi-referensi sebagai acuan dalam pengukuran situasi sungai pada ruas-ruas yang telah ditentukan.
Kegiatan studi pendahuluan terdiri dari site visit, survey pemetaan topografi, geoteknik/mekanika tanah (termasuk geologi), hidrologi & hidrometri.
Untuk mendapatkan gambaran kondisi lapangan dan informasi yang lengkap tentang wilayah proyek, maka Konsultan menugaskan team leader bersama ahli lingkungan dan ahli lainnya untuk melakukan peninjauan lapangan dan berkoordinasi dengan instansi daerah.
Peninjauan ini sangat bermanfaat terutama untuk merencanakan strategi pelaksanaan survey Hidrometri, Geoteknik, Topografi, dan memperoleh informasi permasalahan yang ada di daerah studi khususnya yang berkaitan dengan drainase. Selama kunjungan lapangan akan dilakukan juga pengumpulan data sekunder antara lain :
1. Data Kota Tasikmalaya dalam angka, sumber BPS. 2. Peta Kota Tasikmalaya.
3. Buku hasil studi maupun perencanaan yang pernah dilakukan.
4. Peta tata guna lahan dan Rencana strategis dan tata ruang Kota Tasikmalaya, sumber Pemda setempat.
5. Daftar harga satuan bahan dan upah setempat. 6. Dan lain-lain.
D. Analisis Data dan Evaluasi Studi Terdahulu
Kajian terhadap studi-studi terdahulu dimaksudkan untuk didapatkan kesinambungan program perencanaan drainase yang di maksud di atas pada level makro sistem dan mikro sistem sehingga nampak jelas adanya
penajaman atau konsep perencanaan dari usaha pengelolaan drainase yang berkelanjutan di wilayah perencanaan yang telah ditentukan.
Aspek yang dipelajari dari studi terdahulu meliputi :
1. Rekomendasi studi terdahulu dan relevansinya terhadap pekerjaan yang akan dilaksanakan.
2. Pendekatan teknis dari permasalahan yang ada, kemudian diklarifikasi validitasnya di lapangan.
3. Rekomendasi pemecahan masalah dan program penangannya baik aspek teknik maupun skala prioritasnya apakah masih representarif untuk kondisi saat ini.
4. Identifikasi lokasi serta masalah rawan pada genangan setempat. 5. Relevansi rekomendasi studi terdahulu terhadap kondisi existing pada
saat ini dengan melakukan komparasi secara visual di lapangan. 6. Ketersediaan data dari studi terdahulu terutama data
hidrologi-hidrometri, data debit sungai, referensi dan lain-lain.
7. Permasalahan aktual pada saat ini baik secara fisik lapangan maupun terhadap rencana pengembangan dari instansi-instansi terkait dan kaitannya dengan perubahan tata ruang serta faktual di lapangan.
2.2. Kegiatan Survey Dan Investigasi
A. Pengukuran Topografi
Pelaksanaan pekerjaan pengukuran topografi dalam pelaksanaannya melalui proses pengambilan data, pengolahan data lapangan, perhitungan, penggambaran dan penyajian data pada laporan.
Berdasarkan pemahaman umum proyek sebelumnya, Secara garis besar pengambilan data topografi meliputi :
1. Pengukuran Kerangka Dasar Horisontal. 2. Pengukuran Kerangka Dasar Vertikal. 3. Pengukuran Detail Situasi.
4. Pengukuran melintang.
Prosedur kerja lapangan dan studio diuraikan di bawah ini : 1. Peralatan yang diperlukan
a. Peralatan yang akan di pakai telah memenuhi persyaratan ketelitian (kalibrasi) dan sudah di periksa dan disetujui oleh pemberi kerja.
b. Theodolite T2/Wild, dipergunakan untuk kegiatan pembuatan kerangka horizontal utama, baik untuk pemetaan situasi maupun pengukuran trase.
c. Waterpass (WP), dipergunakan untuk kegiatan pembuatan kerangka vertical dan pengukuran trase.
d. Theodolite To/Wild, dipergunakan untuk kegiatan pemetaan situasi rincikan.
e. EDM (Electronic Distance Measure), dipergunakan untuk pengukuran jarak akurat poligon utama
2. Titik Referensi dan Pemasangan Benchmark (BM), Control Point (CP) dan patok kayu
Dalam pelaksanaan pengukuran situasi detail dan trase sungai/pantai, Konsultan akan menggunakan titik tetap yang sudah ada sebagai titik acuan (referensi) dan harus diketahui dan disetujui oleh pemberi kerja. Untuk menunjang hasil kegiatan proyek, dilakukan penambahan benchmark baik berupa BM maupun CP di beberapa lokasi untuk menjamin akurasi pengukuran pada saat pelaksanaan konstruksi. Dimensi patok Benchmark (BM) berukuran 20 cm x 20 cm x 100 cm terbuat dari beton dan Control Point (CP) berukuran 10 cm x 10 cm x 80 cm atau pipa paralon diameter 4“ diisi beton cor. Keduanya dilengkapi paku/besi beton yang dipasang menonjol setinggi 1 cm pada bagian atas BM dan CP.
Penempatan CP dan BM pada posisi yang memudahkan kontrol pengukuran, aman dari gangguan manusia atau hewan, tidak mengganggu transportasi dan kegiatan rutin penduduk sekitar, tetapi cukup mudah dicari dan berada dicakupan lokasi kerja. Patok CP dan BM dilengkapi dengan kode proyek, nama, nomor dan huruf yang akan dikonsultasikan dengan direksi.
Sesuai KAK, spesifikasi rintisan dan pemasangan patok dan patok permanen (BM dan CP) kerangka dasar pengukuran adalah sebagai berikut :
a. Pemasangan patok, BM dan CP dilaksanakan pada jalur-jalur pengukuran sehingga memudahkan pelaksanaan pengukuran. b. BM, CP dan patok di pasang sebelum pengukuran situasi
c. BM di pasang pada setiap jarak 1.0 km pada tempat yang diperkirakan akan di buat bangunan penanganan abrasi pantai. Pilar-pilar tersebut di buat dari konstruksi beton.
d. BM tersebut di pasang pada tempat-tempat yang aman, stabil serta mudah ditemukan.
e. Apabila tidak memungkinkan untuk mendapatkan tempat yang stabil, misalnya tanah gembur atau rawa-rawa maka pemasangan BM tersebut harus di sangga dengan bambu/kayu.
f. Patok-patok di pasang maksimal setiap jarak 50-100 m pada bagian sungai yang lurus dan < 25 m pada bagian sungai yang berkelok-kelok (disesuaikan dengan keperluan).
g. Patok-patok di buat dari kayu (misal kayu gelam/dolken) dengan diameter 3 – 5 cm. Pada bagian atas patok ditandai dengan paku payung.
h. Jalur rintisan/pengukuran mengikuti alur garis pantai.
Didalam laporan topografi akan di buat buku Diskripsi BM yang memuat, posisi BM dilengkapi dengan foto, denah lokasi, dan nilai koordinat (x,y,z). 40 Beton 1:2:3 Pasir dipadatkan Pen kuningan Tulangan tiang Ø10 Sengkang Ø5-15 Pelat marmer 12 x 12 20 Ø6 cm Pipa pralon PVC Ø6 cm Nomor titik Dicor beton Dicor beton
Benchmark Control Point
Gambar 2.1 Model Tipe BM dan CP
3. Pengukuran kerangka dasar pemetaan
Sebelum melakukan pekerjaan pemetaan areal Rencana pengamanan pantai baik pengukuran kerangka dasar horizontal, kerangka dasar vertikal maupun pengukuran detail situasi, terlebih dahulu dilakukan pematokan yang mengcover seluruh areal yang akan dipetakan.
Azimut awal akan ditetapkan dari pengamatan matahari dan dikoreksikan terhadap azimut magnetis.
a. Pengukuran Jarak
Pengukuran jarak dilakukan dengan menggunakan pita ukur 50 meter. Tingkat ketelitian hasil pengukuran jarak dengan menggunakan pita ukur, sangat tergantung kepada cara pengukuran itu sendiri dan keadaan permukaan tanah. Khusus untuk pengukuran jarak pada daerah yang miring dilakukan dengan cara seperti pada Gambar di bawah ini.
Jarak AB = d1 + d2 + d3 d1 d2 d3 A B 2 1
Gambar 2.2 Pengukuran Jarak Pada Permukaan Miring
Untuk menjamin ketelitian pengukuran jarak, maka dilakukan juga pengukuran jarak optis pada saat pembacaan rambu ukur sebagai koreksi.
b. Pengukuran Sudut Jurusan
Sudut jurusan sisi-sisi poligon adalah besarnya bacaan lingkaran horisontal alat ukur sudut pada waktu pembacaan ke suatu titik. Besarnya sudut jurusan dihitung berdasarkan hasil pengukuran sudut mendatar di masing-masing titik poligon. Penjelasan pengukuran sudut jurusan sebagai berikut lihat pada Gambar di bawah ini.
α = sudut mendatar
AB = bacaan skala horisontal ke target kiri
AC = bacaan skala horisontal ke target kanan
Pembacaan sudut jurusan poligon dilakukan dalam posisi teropong biasa (B) dan luar biasa (LB) dengan spesifikasi teknis sebagai berikut:
Jarak antara titik-titik poligon adalah 50 m.
Alat ukur sudut yang digunakan Theodolite T2.
Jumlah seri pengukuran sudut 4 seri (B1, B2, LB1, LB2).
Selisih sudut antara dua pembacaan 2” (dua detik).
Ketelitian jarak linier (KI) ditentukan dengan rumus berikut.
000
.
5
:
1
2 2
d
f
f
KI
x yBentuk Geometris Poligon adalah Loop
A B C AB AC
Gambar 2.3 Pengukuran Sudut Antar Dua Patok
c. Pengamatan Azimuth Astronomis
Pengamatan matahari dilakukan untuk mengetahui arah/azimuth awal yaitu :
Sebagai koreksi azimuth guna menghilangkan kesalahan akumulatif pada sudut-sudut terukur dalam jaringan poligon. Untuk menentukan azimuth/arah titik-titik kontrol/poligon yang tidak terlihat satu dengan yang lainnya.
Penentuan sumbu X untuk koordinat bidang datar pada pekerjaan pengukuran yang bersifat lokal/koordinat lokal. Pengamatan azimuth astronomis dilakukan dengan :
Alat ukur yang digunakan Theodolite T2
Jumlah seri pengamatan 4 seri (pagi hari)
Tempat pengamatan, titik awal (BM.1)
Dengan melihat metoda pengamatan azimuth astronomis pada
T = M + atau T = M + ( T - M )
dimana :
T = azimuth ke target
M = azimuth pusat matahari
(T) = bacaan jurusan mendatar ke target
(M) = bacaan jurusan mendatar ke matahari
= sudut mendatar antara jurusan ke matahari dengan
jurusan ke target. Matahari U (Geografi) Target A MT
Gambar 2.4 Pengamatan Azimuth Astronomis
Pengukuran kerangka dasar horizontal dilakukan dengan metoda poligon dimaksudkan untuk mengetahui posisi horizontal, koordinat (X,Y).
Adapun spesifikasi pengukuran kerangka dasar antara lain :
Pengukuran poligon adalah untuk menentukan koordinat
titik-titik poligon yang digunakan sebagai kerangka pemetaan.
Pengukuran polygon sebagai kerangka kontrol horisontal dan
pengukuran waterpass sebagai kerangka vertikal. Pengukuran kerangka dasar pemetaan ini harus terikat dengan benchmark referensi dan di bagi dalam beberapa loop/kring sesuai dengan kebutuhan.
Pengukuran poligon diikatkan pada titik tetap geodetis (titik
trianggulasi) dan titik tersebut harus masih dalam keadaan baik serta mendapatkan persetujuan dari Direksi Pekerjaan. Pengontrolan sudut hasil pengukuran poligon dilakukan penelitian azimuth satu sisi dengan pengamatan matahari pada
Sudut polygon diusahakan tidak ada sudut lancip, alat ukur yang di pakai adalah Theodolite T2 atau yang sederajat dengan
ketelitian 20” dan Elektronik Distance Meter (EDM).
Kerangka cabang dilakukan dengan ketentuan panjang sisi
poligon maksimum 50-100 m. Jarak kerangka cabang diukur ketinggiannya dengan waterpass.
Selisih sudut antara dua pembacaan < 2” (dua detik).
Persyaratan pengukuran poligon utama mempunyai kesalahan
sudut (toleransi) adalah 10” n detik pada loop tertutup dimana
n adalah jumlah titik poligon. Pada poligon cabang toleransi
kesalahan sudut adalah 20” n detik dengan n adalah jumlah
titik poligon.
Salah penutup utama jarak fd < 1 : 7.500, dimana fd adalah
jumlah penutup jarak.
Pengukuran waterpass setiap seksi dilakukan pergi-pulang yang
harus dilakukan dalam satu hari.
Jalur pengukuran waterpass harus merupakan jalur yang
tertutup dengan toleransi kesalahan beda tinggi 10√D (mm) dimana D = panjang jarak (km).
Pengukuran sudut dilakukan dua seri (biasa dan luar biasa)
muka belakang.
Jarak di ukur dengan pita ukur.
Jalur poligon di buat dalam bentuk geometris poligon kring
tertutup (loop) melalui BM dan patok kayu dan bagian sungai/pantai berada dalam kring tersebut.
d. Pengukuran Waterpass
Pengukuran ini dimaksudkan untuk mengetahui posisi tinggi elevasi (Z), pada masing-masing patok kerangka dasar vertikal. Metoda pengukuran yang dilakukan ini metoda waterpas, yaitu dengan melakukan pengukuran beda tinggi antara dua titik terhadap bidang referensi yang di pilih (LWS), jalannya pengukuran setiap titik seperti diilustrasikan pada gambar 7 di bawah ini.
Gambar 2.5 Pengukuran Waterpass
Spesifikasi Teknis Pengukuran Waterpass adalah sebagai berikut :
Maksud pengukuran waterpass adalah untuk menentukan
ketinggian titik-titik (BM dan patok-patok) terhadap bidang referensi tertentu yang akan digunakan sebagai jaring sipat datar pemetaan.
Alat ukur yang dipakai adalah Automatic Level NAK-2 atau yang
sederajat dan rambu ukur alumunium 3 m.
Jalur pengukuran di bagi menjadi beberapa seksi.
Tiap seksi di bagi menjadi slag yang genap.
Setiap pindah slag rambu muka menjadi rambu belakang dan
rambu belakang menjadi rambu muka.
Pengukuran waterpass dilakukan dengan cara double stand.
jarak seksi-seksi pengukuran waterpass antara 50 – 100 m.
Toleransi kesalahan pembacaan stand 1 dengan stand 2 < 2
mm.
Jalur pengukuran mengikuti jalur poligon dan meliwati (BM).
Toleransi salah penutup tinggi (Sp) < 10 mm D, Dimana :
n = Salah penutup tinggi.
D = Jarak dalam satuan km.
Pengukuran waterpass diikatkan pada titik tetap ketinggian
geodetis yang ada di dekat daerah pengukuran atau titik referensi lain yang ditetapkan oleh Direksi Pekerjaan.
Pembacaan rambu dengan tiga benang (benang atas, tengah
dan bawah).
Pengukuran sifat datar ini dilakukan melalui titik-titik poligon dan patok lainnya yang digunakan untuk pengukuran situasi dan profil melintang sungai/pantai.
e. Pengukuran Situasi Detail
Penentuan posisi (x,y,z) titik detail dilakukan pengukuran situasi dengan metoda pengukuran Tachymetri. Adapun spesifikasi teknis pengukuran situasi detail adalah sebagai berikut :
Alat yang digunakan theodolite T.o.
Titik detail terikat terhadap patok yang sudah punya nilai
koordinat dan elevasi.
Pengambilan data menyebar ke seluruh areal yang dipetakan
dengan kerapatan disesuaikan dengan kondisi lapangan dan skala peta 1 : 1.000 dan 1 : 2.000.
f. Pengukuran penampang memanjang dan penampang melintang. Maksud dari kegiatan ini adalah untuk mendapatkan informasi terukur yang dapat dipergunakan dalam perencanaan bangunan serta perkiraan volume.
Untuk mengetahui bentuk permukaan pantai maka dilakukan pengukuran profil (cross section).
Spesifikasi pengukuran penampang memanjang dan melintang sebagai berikut :
Pengukuran dilakukan di sepanjang pantai dan sungai pada
patok-patok profil yang telah dipasang.
Interval profil 50 m dan 100 m.
Pengukuran profil tegak lurus pantai.
Pengukuran terikat terhadap titik poligon.
Pengukuran situasi dan penampang dilakukan bersama-sama.
Alat ukur yang di pakai adalah Thedolite T0 atau yang
sederajat.
Metode yang dipergunakan adalah metode tachimetri.
Jalur raai merupakan panjang penampang melintang pantai.
Penampang melintang di buat dengan interval jarak 50-100 m
pada bagian yang lurus dan < 50 m pada bagian sungai yang berkelok-kelok atau disesuaikan dengan keperluan.
Penampang memanjang diambil pada dasar sungai yang
terdalam termasuk peil-peil muka air tanah terendah, normal dan tertinggi.
Detail yang ada di lapangan di ukur, terutama kampung,
lembah, bukit, jembatan dan lain-lain.
Setiap 50 m atau 25 m titik poligon diukur dengan meter ukur
baja dan harus diikatkan pada patok kerangka utama.
Pengamatan matahari harus dilakukan setiap 2,5 km.
Setiap titik poligon harus diukur ketinggiannya.
Profil memanjang dan melintang dilakukan dengan interval
jarak 50 m dan pada belokan diukur setiap 25 m dengan koridor 500 m kearah pantai jika kedalaman air h ≤ 3 m, jika h > 3 m dilakukan dengan echosounder.
Titik-titik pengukuran penampang melintang direncanakan seperti gambar berikut :
Gambar 2.6 Profil Melintang
g. Perhitungan hasil ukur
Perhitungan harus dilaksanakan di lapangan, dengan kontrol
perhitungan oleh pengawas lapangan dan tiap selesai 1 hari pengukuran data diserahkan untuk di cek dan dibubuhi paraf oleh pengawas lapangan.
Perhitungan dilakukan 2 (dua) kali, yaitu perhitungan
sementara dan perhitungan definitif. Perhitungan data lapangan merupakan perhitungan sementara untuk mengetahui ketelitian ukuran. Perhitungan definitip adalah perhitungan yang sudah menggunakan hitungan perataan oleh tenaga ahli geodesi. Hasil perhitungan ini akan digunakan untuk proses penggambaran.
Setiap hasil perhitungan harus diasistensikan dan disetujui
supervisor lapangan.
Semua data azimuth hasil pengamatan matahari harus di pakai
dalam perhitungan, jika ada yang tidak di pakai harus ada persetujuan dengan direksi.
Semua titik kerangka utama/cabang harus di hitung koordinat
dan ketinggiannya.
Semua data ukur asli dan perhitungan perataannya diserahkan
ke direksi pekerjaan. h. Penggambaran
Penggambaran hasil pengukuran mengacu kepada standard
penggambaran yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pengairan.
Penggambaran draft dapat dilaksanakan dengan penggambaran
Penggambaran peta situasi definitif dilakukan, setelah hasil perhitungan definitif selesai dilaksanakan sehingga koordinat sebagai kerangka horizontal dan spot height sebagai kerangka vertikal telah dilakukan hitungan perataannya.
Penggambaran peta situasi sungai skala 1 : 5.000 dengan
interval kontur 0,50 m di buat pada kertas kalkir ukuran A1.
Peta ikhtisar skala 1 : 10.000 s/d 1 : 25.000 dengan interval
kontur 1,0 m di buat pada kertas kalkir ukuran A1.
Penggambaran profil memanjang sungai skala (H) 1 : 2.000 dan
skala (V) 1 : 1 : 200, penggambaran profil melintang skala (H) 1 : 200 dan skala (V) 1 : 1 : 200. atau dikoordinasikan dengan direksi pekerjaan.
Semua titik koordinat kerangka utama dan cabang di gambar
dengan sistem koordinat.
Indek kontur di tulis setiap garis kontur.
Kontur di kampung di gambar tidak boleh putus.
Sistem grid yang di pakai adalah sistem proyeksi UTM.
B. Survey Hidrologi-Hidrometri
Pekerjaan survai hidrologi & hidrometri dimaksudkan untuk memperoleh data lapangan (primer dan sekunder) tentang karakteristik sungai, anak/cabang sungai yang akan mendukung dalam analisis hidrologi maupun hidrolika.
1. Kegiatan survai hidrologi meliputi :
Pengumpulan data curah hujan terbaru minimum selama 10 tahun
dari beberapa stasiun-stasiun terdekat minimum 3 stasiun pos hujan.
Pengumpulan data klimatologi lainnya terbaru minimum selama 5
tahun dari stasiun-stasiun terdekat.
Pengumpulan data/informasi banjir (tinggi, lamanya perkiraan luas
genangan dan dampaknya).
Pengumpulan data yang berkaitan dengan karakteristik DPS antara
lain : keadaan vegetasi daerah pengaliran, sifat dan jenis tanah dan debit rata-rata pada waktu keadaan normal, tahun kering dan tahun basah.
2. Kegiatan survai hidrometri meliputi : a. Pengukuran kecepatan aliran
Pengukuran kecepatan aliran sungai dilakukan pada bagian aliran (di sungai) yang tidak terpengaruh pasang surut, kegiatan
pengukuran dilakukan di 3 titik yang ditempatkan di hulu sungai, hilir sungai dan sungai cabang dengan ketentuan sebagai berikut :
Jika kedalaman air > 0,50 m, di pakai alat Current Meter.
Untuk kedalaman aliran > 1,50 m, pengukuran kecepatan dilakukan pada kedalaman 0,20, 0,60 dan 0,80 dari kedalaman aliran untuk masing-masing lokasi (bagian tengah dan pinggir aliran).
Untuk kedalaman aliran antara 0,50 – 1,50 m, pengukuran kecepatan dilakukan pada kedalaman 0,50 m dari kedalaman aliran pada bagian tengah aliran.
Jika kedalaman aliran < 0,50 m, di pakai alat metode
pengukuran kecepatan aliran dengan menggunakan pelampung.
Interval pias pengukuran terhadap lebar permukaan sungai
adalah :
B < 50 m, jumlah 3 pias. B = 50-100 m, jumlah 4 pias. B = 100 – 200 m, jumlah 5 pias. B = 200 – 400 m, jumlah 6 pias.
Kedalaman pengukuran (D) dan perhitungan kecepatan rata
-rata (Vm):
D < 0.60 m, satu titik pengukuran, Vm = V0.6
D = 0.60 – 1.50 m, dua titik pengukuran, Vm = ½ (V0.2 + V0.8)
D > 1.50 m, tiga titik pengukuran, Vm = ¼ (V0.2 +2V0.6 + V0.8)
Pengukuran penampang sungai di titik pengukuran debit.
Pengikatan muka air sungai dan bak ukur muka air (peil schaal)
dengan patok topografi untuk mendapatkan kesatuan sistim elevasi tanah dengan muka air.
Pengamatan muka air sungai khususnya di hilir sungai (titik
pengukuran debit) tiap 1 jam selama 24 jam saat pasang tinggi (spring tide) dan pasang rendah (neap tide) berdasarkan data HIDRAL (Hidro Oceanografi AL) di pelabuhan terdekat.
b. Pengambilan Contoh Sedimen.
Contoh sedimen yang di ambil terdiri dari sedimen layang dan material dasar, dengan ketentuan sebagai berikut :
Jika ketinggian air > 1,00 m maka pengambilan contoh sedimen
dilakukan dengan menggunakan alat Suspended Sampler (untuk sedimen layang) dan Bed Material Sampler (untuk material dasar).
Jika ketinggian air < 1,00 m maka pengambilan contoh sedimen dilakukan dengan tabung sample (untuk sedimen layang) dan Bed Material Sampler (untuk material dasar).
Pengambilan contoh sedimen dilakukan pada bagian pinggir
aliran dan tengah aliran.
Contoh sedimen dimasukan ke dalam tabung sample.
c. Pengamatan Pasang Surut Muka Air Sungai/Laut.
Pengamatan pasang surut dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut :
Lokasi pengamatan di daerah muara sungai, dimana muka
airnya tidak bergelombang/berombak baik akibat lalu lintas perahu maupun gelombang air laut.
Pengamatan dilakukan selama 15 hari x 24 jam berturut-turut
dengan interval pengamatan setiap 1 jam.
Pengamatan harus maliputi pasang purnama.
Pada lokasi pengamatan di pasang peil schaal.
C. Survey Sosial Ekonomi
Survey ini bertujuan untuk mendapatkan data tentang kondisi social ekonomi penduduk setempat, survey ini dilakukan dengan cara :
1. Melakukan interview terhadap pihak-pihak maupun instansi terkait dengan permasalahan banjir yaitu Masyarakat setempat, Pamong Desa, Kecamatan, Pemda, Dinas Pertanian, Dinas Kehutanan, Dinas Perikanan, BPS, Bappeda, Dinas Pertambangan, Dinas Kimpraswil, dan sebagainya.
2. Menyebarkan quesioner.
3. Survey langsung ke lokasi di mana banjir sering melanda daerah tersebut.
D. Penyelidikan Geologi Teknik/Mekanika Tanah
Survey ini bertujuan untuk mendapatkan data tentang kondisi social ekonomi penduduk setempat, survey ini dilakukan dengan cara :
1. Melakukan interview terhadap pihak-pihak maupun instansi terkait dengan permasalahan banjir yaitu Masyarakat setempat, Pamong Desa, Kecamatan, Pemda, Dinas Pertanian, Dinas Kehutanan, Dinas Perikanan, BPS, Bappeda, Dinas Pertambangan, Dinas Kimpraswil, dan sebagainya.
3. Survey langsung ke lokasi di mana banjir sering melanda daerah tersebut.
E. Analisa Hidrologi dan Evaluasi DAS
Secara garis besar analisa hidrologi yang dilakukan antara lain :
1. Konsistensi data curah hujan (membuang data yang tidak sesuai, pengisian data hilang/kosong, uji konsistensi).
2. Penentuan curah hujan rencana. 3. Perhitungan debit banjir.
a. Konsistensi Data Curah Hujan
Sebelum data hujan dipergunakan untuk perencanaan harus dilakukan uji konsistensi data di mana data yang tidak sesuai akibat kesalahan pencatatan dan gangguan alat pencatat perlu dikoreksi dan data yang hilang/kosong di isi dengan menggunakan pembanding pos hujan sekitar yang terdekat. Analisa yang digunakan meliputi metode ratio normal dan kurva massa ganda. Metode statistik lain bila tidak tersedia data pembanding maka digunakan Metode RAPS (Rescaled Adjusted Partial Sums). Metode ini berdasarkan data curah hujan setempat, di mana data curah hujan yang tersedia di sekitar lokasi proyek sangat terbatas. Persamaan yang dipergunakan dalam metode ini adalah sebagai berikut :
Dengan k = 1, 2, 3, ..., n Nilai statistik Q dan R :
Dengan melihat nilai statistik di atas maka dapat di cari nilai Q/n
dan R/n. Hasil yang di dapat dibandingkan dengan nilai Q/n
syarat dan R/n syarat, jika lebih kecil maka data masih dalam
batasan konsisten. b. Curah Hujan Rencana
Analisa hidrologi untuk penentuan curah hujan rencana disesuakan dengan kebutuhan perencanaan. Analisa hidrologi yang digunakan untuk perencanaan sungai adalah curah hujan dengan periode ulang 5, 10, 25 dan 50 tahunan.
Data yang diperlukan adalah data curah hujan pos terdekat dan harus di uji konsistensinya sebelum di analisa. Syarat untuk pemilihan jenis distribusi yang sesuai untuk metode Gumbel, log normal, normal atau log Pearson Type III adalah sebagai berikut :
Tabel 2.1 Syarat Pemilihan Distribusi
No. Sebaran Syarat
1. Normal Cs = 0
2. Log Normal Cs = 3 Cv
3. Gumbel Cs = 1,1396
Ck = 5,4002
4. Bila tidak ada yang memenuhi syarat digunakan sebaran
Log Pearson Type III
Apabila dari uji sebaran data masuk di dalam salah satu syarat tersebut di atas maka metode tersebut yang akan digunakan. Berikut diterangkan metode distribusi yang dapat di gunakan.
Metode Gumbel :
x Tr X K S X . Dimana : Tr
X
= Curah hujan pada periode ulang Tr.
r
T
= Periode Ulang (tahun).
X
= Hujan maximum rata-rata (mm).
x
S
= Standar deviasi.
K = Faktor frekuensi.
Persamaan faktor frekuensi :
n n Tr S Y Y K ( )
Sn dan Yn tegantung pada jumlah data (n), yang nilainya seperti
tabel berikut :
Tabel 2.2 Nilai Yn dan Sn
N Yn Sn N Yn Sn 10 0.4952 0.9496 16 0.5157 1.0316 11 0.4996 0.9676 17 0.5181 1.0411 12 0.5035 0.9833 18 0.5202 1.0493 13 0.5070 0.9971 19 0.5220 1.0565 14 0.5100 1.0095 20 0.5225 0.0628 15 0.5128 1.0206 21 0.5252 1.0696
Persamaan Ytr (reduced variate) merupakan fungsi periode ulang (T) : 0,834 2,303log 1 r r Tr T T Y
Periode Ulang (T) Reduce Variate (Ytr) 2 0.3665 5 1.4999 10 2.2502 25 3.1985 50 3.9019 100 4.6001
Metode Log Pearson Type III
Log X = Log X + G.S
Dimana :
Log X = Nilai log dari X yang terjadi dengan kala ulang Tr.
Log X = Nilai log dari X rata-rata seri data X.
S = Standar devisasi/simpangan baku.
G = Faktor penyimpangan untuk kala ulang tertentu.
Hasil analisis distribusi frekuensi kemudian di uji kesesuainya dengan menggunakan metode Chi Square dan Smirnov Kolmogorov.
c. Debit Banjir Rencana
Debit banjir rencana di hitung dengan metode hidrograf satuan atau dengan menggunakan metode Metode hidrograf satuan yang umum digunakan di Indonesia adalah Nakayasu dan Gamma-1.
Metode Nakayasu
Dimana :
Qp = Debit puncak banjir (m3/detik).
Ro = Curah hujan satuan (mm).
Tp = Tg + 0,8 Tr.
Tg = 0,21 x 0,7 L L < 15 Km.
Tg = 0,40 + 0,058 x L L > 15 Km.
T0,3 = x Tg
L = Panjang alur sungai (km).
Tg = Waktu konsentrasi (jam).
Tr = Satuan waktu hujan, diambil 1 jam.
Metode Gamma I Qt = Qp . e–(t/k) Tr = 0,43 (l/100SF)3 + 1,0665 SIM + 1,2775 Qp = 0,1836 A0,5886 TR-0,4008 JN0,2381 TB = 27,4132 TR0,1457 S-0,0986 SN0,7344 RUA0,2574 K = 0,5617 A0,7198 S-0,1446 SF-1,0697 D0,0452 Dimana :
Qt = Debit pada jam ke-t (m3/detik).
Qp = Debit puncak banjir (m3/detik).
t = Waktu dari saat terjadinya debit puncak (jam).
TR = Waktu naik (jam).
TB = Waktu dasar (jam).
K = Koefisien tampungan (jam).
L = Panjang sungai utama (km).
D = Kerapatan jaringan lurus (km/km2).
SF = Faktor sumber, perbandingan antara jumlah panjang
sungai tingkat 1 dengan jumlah panjang sungai semua tingkat.
SN = Frekuensi sungai, perbandingan antara jumlah segmen
sungai tingkat 1 dengan jumlah sungai semua tingkat.
WF = Faktor lebar, perbandingan antara lebar DPS yang di ukur
dari titik di sungai yang berjarak ¼ L dari tempat pengukuran.
SIM = Faktor simetris, hasil kali antara faktor lebar (WF)
dengan luas relatif DAS sebelah hulu (RUA).
JS = Jumlah pertemuan sungai.
S = Kemiringan slope sungai rata-rata.
F. Album Gambar
Album gambar yang berisikan :
1. Gambar-gambar bangunan drainase lengkap dengan potongan dan
detail, gambar tampang memanjang dan melintang. 2. Desain potongan melintang, skala H = V = 1 : 200.
3. Peta Zonasi Drainase 4. Dll.
RENCANA KERJA DAN MOBILISASI TENAGA AHLI
BAB III
3.1 Pengertian Drainase
Pengertian tentang drainase kota pada dasarnya telah diatur dalam SK Menteri Pekerjaan Umum 239 Tahun 1987. Menurut SK tersebut, yang dimaksud drainase kota adalah :
“Jaringan pembuangan air yang berfungsi mengeringkan bagian-bagian wilayah administrasi kota dan daerah urban dari genangan air, baik dari hujan lokal maupun luapan sungai yang melintas di dalam kota”.
Drainase adalah prasarana yang berfungsi mengalirkan air permukaan ke badan air atau ke bangunan resapan buatan.
Drainase berwawasan lingkungan adalah :
Pengelolaan drainase yang tidak menimbulkan dampak yang merugikan bagi lingkungan. Terdapat dua pola pengelolaan :
Drainase perkotaan adalah sistem drainase dalam wilayah administrasi
kota dan daerah perkotaan (urban) yang berfungsi mengendalikan atau mengeringkan kelebihan air permukaan di daerah permukiman yang berasal dari hujan lokal, sehingga tidak mengganggu masyarakat dan dapat memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.
Pengendali banjir adalah bangunan untuk mengendalikan tinggi muka
air agar tidak terjadi limpasan atau genangan yang menimbulkan kerugian.
Badan penerima air adalah sungai, danau, atau laut yang menerima
aliran dari sistem drainase perkotaan.
3.2 Sistem Drainase Perkotaan
Fungsi Drainase Perkotaan secara umum :
Mengeringkan bagian wilayah kota dari genangan sehingga tidak
menimbulkan dampak negatif.
Mengalirkan air permukaan ke badan air penerima terdekat
secepatnya.
Mengendalikan kelebihan air permukaan yang dapat dimanfaatkan
untuk persediaan air dan kehidupan akuatik.
Meresapkan air permukaan untuk menjaga kelestarian air tanah
Berdasarkan fungsi layanan : a. Sistem Drainase Lokal
Yang termasuk sistem drainase lokal adalah saluran awal yang melayani suatu kawasan kota tertentu seperti komplek permukiman, areal pasar, perkantoran, areal industri dan komersial. Sistem ini melayani areal kurang dari 10 Ha. Pengelolaan sistem drainase lokal menjadi tanggung jawab masyarakat, pengembang atau instansi lainnya.
b. Sistem Drainase Utama
Yang termasuk dalam sistem drainase utama adalah saluran drainase primer, sekunder, tersier beserta bangunan pelengkapnya yang melayani kepentingan sebagian besar warga masyarakat. Pengelolaan sistem drainase utama merupakan tanggung jawab pemerintah kota. c. Pengendalian Banjir (Flood Control)
Sungai yang melalui wilayah kota yang berfungsi mengendalikan air sungai, sehingga tidak mengganggu dan dapat memberi manfaat bagi kehidupan masyarakat. Pengelolaan pengendalian menjadi tanggung jawab Direktorat Jenderal SDA.
Berdasarkan Fisiknya :
a. Sistem saluran primer : adalah saluran utama yang menerima masukan aliran dari saluran sekunder. Dimensi saluran ini relatif besar. Akhir saluran primer adalah badan penerima air.
b. Sistem saluran sekunder : adalah saluran terbuka atau tertutup yang berfungsi menerima aliran air dari saluran tersier dan limpasan air dari permukaan sekitarnya, dan menersukan air ke saluran primer. Dimensi saluran tergantung pada debit yang dialirkan.
c. Sistem saluran tersier : adalah saluran drainase yang menerima air dari saluran drainase lokal.
3.2 Pembangunan Sistem Drainase
Prinsip-prinsip utama :
Kapasitas sistem harus mencukupi, baik untuk melayani pengaliran air
ke badan penerima air, maupun untuk meresapkan air ke dalam tanah. Untuk mencapai kapasitas yang memadai dilakukan perencanaan berdasarkan prinsip hidrologi dan hidrolika.
Pembangunan sistem drainase perkotaan perlu memperhatikan fungsi drainase sebagai prasarana kota yang didasarkan pada konsep berwawasan lingkungan.
Konsep ini antara lain berkaitan dengan usaha konservasi sumber daya air, yang pada prinsipnya mengendalikan air hujan agar lebih banyak yang diresapkan ke dalam tanah sehingga mengurangi jumlah limpasan, antara lain dengan membuat bangunan resapan buatan, kolam retensa dan penataan landscape.
Sedapat mungkin menggunakan sistem gravitasi, hanya dalam hal
sistem gravitasi tidak memungkinkan baru digunakan sistem pompa.
Meminimalisasi pembebasan lahan
Meminimalkan aliran permukaan dan memaksimalkan resapan
Letak sistem memenuhi kriteria perkotaan dan memiliki kesempatan
untuk perluasan sistem. Dalam pelaksanaannya harus memperhatikan segi hidrolik dan tata letak dalam kaitannya dengan prasarana lainnya (jalan, dan utilitas kota)
Stabilitas sistem harus terjamin, baik dari segi struktural, keawetan
sistem dan kemudahan dalam operasi dan pemeliharaan.
Pembuatan kolam retensi dan sistem folder disusun dengan
memperhatikan faktor sosial ekonomi antara lain perkembangan kota dan rencana prasarana dan sarana kota.
Kelayakan pelaksanaan kolam retensi dan sitem folder harus
berdasarkan faktor, antar lain : biaya konstruksi, biaya operasi dan biaya pemeliharaan.
Parameter penentuan prioritas penanganan, meliputi hal sebagai berikut : a. Parameter genangan, meliputi tinggi genangan, luas genangan dan
lamanya genangan terjadi.
b. Parameter frekuensi terjadinya genangan setiap tahunnya. Faktor medan dan lingkungan
Topografi : Pembangunan drainase pada daerah datar harus
memperhatikan sistem pengaliran dan ketersediaan air penggelontor.
Kestabilan tanah : pembangunan di daerah lereng pegunungan harus
memperhatikan masalah longsor yang disebabkan oleh kandungan air tanah.
KESIMPULAN
BAB IV
Seiring dengan pesatnya pertumbuhan perkotaan dan permasalahan banjir yang makin meningkat pula, maka pengelolaan drainase perkotaan harus dilaksanakan secara menyeluruh dimulai dari tahap perencanaan, konstruksi, operasi dan pemeliharaan yang ditunjang peningkatan kelembagaan dan partisipasi masyarakat perkotaan.
Pembangunan sistem drainase perkotaan harus memperhatikan fungsi drainase perkotaan sebagai prasarana kota yang didasarkan pada konsep berwawasan lingkungan.
Konsep ini berkaitan dengan upaya konservasi sumber daya air yang pada prinsipnya adalah pengendalian air hujan. Dengan memaksimalkan peresapan ke dalam tanah dan meminimalkan aliran permukaan (limpasan).