• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISI. Hal Daftar Isi... i Daftar Tabel... iii I. PENDAHULUAN... I-1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DAFTAR ISI. Hal Daftar Isi... i Daftar Tabel... iii I. PENDAHULUAN... I-1"

Copied!
181
0
0

Teks penuh

(1)

i

DAFTAR ISI

Hal

Daftar Isi……… ... i Daftar Tabel ... iii

I. PENDAHULUAN……… ... I-1

1.1. Latar Belakang……… ... I-1 ... 1.2. Dasar Hukum Penyusunan……… ... I-3 ... 1.3. Hubungan Antar Dokumen……… ... I-5 ... 1.5. Sistematika Penulisan ... I-6 1.6. Maksud dan Tujuan ... I-6

II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH……… ... II-1

2.1. Aspek Geografi dan Demografi ... II-1 2.2. Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah………. II-9 2.3. Aspek Kesejahteraan Masyarakat ... II-14 2.4. Aspek Pelayanan Umum ... II-25 2.5. Aspek Daya Saing Daerah ... II-31

III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

SERTA KERANGKA PENDANAAN………

…III-1

3.1. Kinerja Keuangan Masa Lalu………. ... III-2 3.2. Kebijakan Pengelolaan Keuangan……… ……… III-10 3.3. Kerangka Pendanaan ... III-12

IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS……… ... IV-1

4.1. Permasalahan Pembangunan Daerah……… …IV-1 4.2. Isu-Isu Strategis Daerah… ... IV-10 4.3. Sinkronisasi RPJP Nasional 2005-2025……… ... ……IV-18

V PENYAJIAN VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN………

V-1

5.1. Visi……… ... …………V-2 5.2. Misi……… ... ………V-5 5.3. Tujuan Pembangunan ……… ... V-9 5.4. Sasaran Pembangunan ……… ... V-9

(2)

ii

6.1. Identifikasi Kondisi Lingkungan Internal……… . …VI-1 6.2. Identifikasi Kondisi Lingkungan Eksternal……… .. VI-3 6.3. Analisis Strategis ... VI-5 6.4. Agenda Pembangunan Daerah ... VI-11 6.5. Arah Kebijakan ... VI-12

VII KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH… ... VII-1

... 7.1. Kebijakan Umum……… ... .VII-1 ... 7.2. Program Pembangunan Daerah……… ... …VII-5

VIII PENETAPAN INDIKATOR KENERJA DAERAH ... VIII-1

8.1. Indikator Kinerja Daerah ……… ... …VIII-1

IX PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN……… . IX-1

9.1. Pedoman Transisi ... IX-1 9.2. Kaidah Pelaksanaan ... IX-2

(3)

iii

DAFTAR TABEL

Hal

Tabel 2.1. Kepadatan Penduduk di Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2010 ... II-8 Tabel 2.2. Kecamatan dan Jumlah Kepenghuluan/Kelurahan

di Kabupaten Rokan Hilir ... ..II-10 Tabel 2.3 Jumlah Pegawai Negeri Sipil Menurut Golongan……. ... …...II-11 Tabel 2.4 SOKT Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir ... II-12 Tabel 2.5 Laju Pertumbuhan Ekonomi Atas Dasar

Harga Konstan Menurut Lapangan Usaha

Tahun 2009 – 2012 (%) ... II-15

Tabel 2.6 Distribusi Persentase PDRB Kabupaten Rokan Hilir Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha,

Tanpa Migas Tahun 2009 – 2012 ... II-16

Tabel 2.7. Distribusi Persentase PDRB Kabupaten Rokan Hilir Atas Dasar Harga Konstan Menurut Lapangan Usaha,

Tanpa Migas Tahun 2009 – 2012 ... II-17

Tabel 2.8. Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2007 s.d 2010 Atas Dasar Harga Konstan

dan Harga Berlaku Kabupaten Rokan Hilir (%) ... II-18

Tabel 2.9. Nilai inflasi rata-rata Tahun 2007 s.d 2010 Kota Pekanbaru ... II-18 Tabel 2.10. Jumlah Penduduk Miskin di Kabupaten Rokan Hilir 2007-2010 ... II-19 Tabel 2.11. Perbandingan Jumlah Penduduk Miskin di

Kabupaten Rokan Hilir dan Provinsi Riau Tahun 2007-2010 ... II-20 Tabel 2.12. Jumlah Sekolah Negeri dan Swasta pada

Beberapa Jenjang Pendidikan di Kabupaten Rokan Hilir 2010 ... II-22 Tabel 2.13. Kondisi Pendidikan Kabupaten Rokan Hilir 2010 ... II-23 Tabel 2.14. Banyaknya Taman Kanak – Kanak dan

Sekolah Dasar dilingkungan Dinas Pendidikan

Nasional Menurut Jenis Sekolah Tahun 2011/2012 ... II-23 Tabel 2.15. Banyaknya Sekolah Menengah Pertama dan

(4)

iv

Nasional Menurut Jenis Sekolah Tahun 2011/2012 ... II-24 Tabel 2.16. Sarana Rumah Sakit, Puskesmas dan Puskesmas Pembantu ... II-25

Tabel 2.17. Persentase Penduduk Berumur 7-24 Tahun ke Atas

Yang Masih Sekolah di Kabupaten Rokan Hilir ... II-26 Tabel 2.18. Jumlah Sekolah, Guru, Murid di Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2012 .. II-26 Tabel 2.19. Jumlah Sekolah dan Murid Jenjang Pendidikan Dasar

Tahun 2010 Menurut Kecamatan di Kabupaten Rokan Hilir... II-27 Tabel 2.20. Status Gizi Balita Berdasarkan Indeks Berat Badan

Menurut Umur (BB/U) di Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2009 ... II-28 Tabel 2.21. Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

Kabupaten Rokan Hilir ... II-28 Tabel 2.22. Perkembangan Komponen Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

Kabupaten Rokan Hilir 2009 - 2010 ... II-29 Tabel 2.23. Jumlah Investor PMDN/PMA Tahun 2007 s.d. 2009

(Berdasarkan Surat Persetujuan Penanaman Modal)

di Kabupaten Rokan Hilir ... II-30 Tabel 2.24. Jumlah Investasi PMDN dan PMA Tahun 2007 s.d. 2010

(Berdasarkan Izin Usaha Tetap) di Kabupaten Rokan Hilir ... II-30 Tabel 2.25.Rasio Daya Serap Tenaga Kerja Tahun 2007 s.d. 2009

Kabupaten Rokan Hilir ... II-31 Tabel 2.26. Tingkat Pengeluaran per Kapita di Kabupaten Rokan Hilir

2008 – 2009 (Rp. / Bulan) ... II-33

Tabel 2.27. Panjang Jaringan Jalan Dalam KM

di Kabupaten Rokan Hilir Berdasarkan Kondisi Tahun 2010

Dengan Bandingan Kondisi Dua Tahun Bebelumnya ... II-35 Tabel 2.28. Angka Kriminalitas di Kabupaten Rokan Hilir ... II-36 Tabel 2.29. Kerawanan Kriminalitas Menurut Peringkat

dan Kepolisian Sektor dii Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2012 ... II-37 Tabel 3.1. Realisasi Penerimaan Daerah Kabupaten Rokan Hilir

Tahun 2006 – 2009 (dalam Rp Juta) ... III-3

Tabel 3.2. Belanja Daerah Kabupaten Rokan Hilir

(5)

v

Tabel 3.3. Pembiayaan Daerah Kabupaten Rokan Hilir

Tahun 2006 – 2010 (dalam jutaan) ... III-9

Tabel 4.1. Identifikasi Permasalahan Untuk

Penentuan Program Pembangunan Kabupaten Rokan Hilir ... IV-3 Tabel 5.1. Perumusan Penjelasan Visi Kabupaten Rokan Hilir 2011-2016 ... V-4 Tabel 5.2. Perumusan Penjelasan Misi Kabupaten Rokan Hilir 2011-2016 ... V-7 Tabel 5.3. Tujuan dan Sasaran Misi Pembangunan

Kabupaten Rokan Hilir 2011 – 2016 ... V-15

Tabel 6.1 Penentuan Alternatif Strategi Pembangunan

Kabupaten Rokan Hilir 2011-2016 ... VI-6

Tabel 6.2. Strategi dan Kebijakan Pembangunan

Kabupaten Rokan Hilir 2011-2016 ... VI-14 Tabel 7.1. Indikasi Program dan Indikator Program

Rencana Pembangunan Jangka Menengah

Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2011 – 2016 ... VII-13

Tabel 8.1. Indikator Kinerja Daerah Kabupaten Rokan Hilir

(6)

I 1

-BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Rokan Hilir merupakan dokumen perencanaan pembangunan daerah untuk periode 5 (lima) tahun kedepan yakni tahun 2011 sampai dengan tahun 2016. Dokumen ini disusun dengan mempedomani Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Rokan Hilir, dan memperhatikan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Propinsi Riau, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), evaluasi lingkungan strategis daerah, serta evaluasi pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) Kabupaten Rokan Hilir periode sebelumnya.

Dokumen perencanaan tersebut merupakan arah pembangunan yang ingin dicapai daerah dalam kurun waktu masa bhakti Bupati dan Wakil Bupati terpilih yang disusun berdasarkan visi, misi, dan program Kepala Daerah. Program dan kegiatan yang direncanakan sesuai dengan urusan pemerintahan yang menjadi batas kewenangan daerah dengan mempertimbangkan kemampuan/kapasitas keuangan daerah. Proses penyusunan RPJMD Kabupaten Rokan Hilir dilaksanakan dengan memasukkan prinsip pemberdayaan, pemerataan, demokratis, desentralistik, transparansi, akuntabel, responsif, dan partisipatif dengan melibatkan seluruh unsure lembaga negara, lembaga pemerintah, masyarakat dan pemangku kepentingan.

Penyusunan RPJMD Kabupaten Rokan Hilir sebagai rencana kebijakan pembangunan Kabupaten Rokan Hilir dilakukan dengan memperhatikan kondisi yang sedang

(7)

I 2 -berkembang serta mengakomodasikan perubahan internal dan eksternal yang terjadi di

Kabupaten Rokan Hilir, wilayah sekitar, nasional, maupun internasional. Pada lingkup nasional telah terjadi perubahan system perencanaan yang menuntut penyesuaian berbagai pranata perencanaan pembangunan di daerah sesuai dengan kondisi dan substansi masing-masing daerah dengan harapan instrument tersebut dapat diimplementasikan untuk menjamin penyelenggaraan pemerintahan yang demokratis, transparan, akuntabel, efisien dan efektif.

Revisi RPJMD Rokan Hilir 2011 - 2016

Perkembangan pembangunan yang terjadi di Kabupaten Rokan Hilir sejak disusunnya RPJMD Kabupaten Rokan Hilir pada tahun 2012 telah mengalami beberapa perubahan yang membawa konsekuensi terhadap perubahan di dalam perencanaan jangka menengah daerah. Perubahan-perubahan tersebut antara lain adalah:

1. Perubahan Susunan Organisasi dan Tata Kerja (SOTK). Dengan adanya perubahan SOTK, maka SKPD penanggungjawab programnya juga berubah. Karena itu diperlukan beberapa penyesuaian di dalam revisi RPJMD yang baru. SKPD-SKPD yang bertambah dan berubah adalah:

a. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Perda Rohil No. 6 Tahun 2014) b. Sekretariat Dewan Pengurus Korpri (Perda Rohil No. 7 Tahun 2014) c. Dinas Pendapatan (Perda Rohil No. 8 Tahun 2013)

d. Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu (Perda Rohil No. 9 Tahun 2013)

e. Badan Pengelola Perbatasan (Perda Rohil No. 10 Tahun 2013) f. Inspektorat Daerah (Perda Rohil No. 11 Tahun 2013)

g. Pembentukan Kecamatan Bagan Sinembah Raya dan Kecamatan Balai Jaya (Perda Rohil No. 9 Tahun 2014)

h. Pembentukan Kecamatan Tanjung Medan (Perda Rohil No. 10 Tahun 2014) i. Pembentukan Kecamatan Rantau Bais (Perda Rohil No. 11 Tahun 2014)

2. Ada beberapa indikator program yang masih belum lengkap sehingga menyulitkan di dalam pengukuran kinerja. Karena itu diperlukan revisi RPJMD.

3. Di samping itu, ada beberapa indikator program yang harus disesuaikan nilainya supaya tidak terlalu rendah, maupun terlalu tinggi dengan melihat perkembangan situasi yang ada sehingga target-target indikator yang direncanakan bisa lebih realistis.

(8)

I 3 -Revisi RPJMD dimungkinkan dengan mengingat alasan-alasan tersebut di atas sehingga

RPJMD hasil revisi ini bisa lebih update dan realistis di dalam pelaksanaannya.

1.2. Dasar Hukum Penyusunan

Dalam penyusunan RPJMD ini, peraturan perundang-perundangan yang menjadi rujukan antara lain:

a. Undang-undang Nomor 53 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Rokan Hilir, Kabupaten Siak, Kabupaten Karimun, Kabupaten Kuantan Singingi, dan Kota Batam, sebagai mana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 13 Tahun 2000, tentang perubahan Undang-undang Nomor 53 Tahun 1999.

b. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. c. Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.

d. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.

e. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

f. Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintahan Pusat dan Pemerintahan Daerah.

g. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah.

h. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah.

i. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntasi Pemerintahan.

j. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan.

k. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah.

l. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.

(9)

I 4 -m. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman

Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal.

n. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah.

o. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional.

p. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.

q. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah.

r. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010-2014.

s. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.

t. Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional dan Menteri Keuangan Nomor 28 Tahun 2010, Nomor 0199/M PPN/04/2010, Nomor PMK 95/PMK 07/2010 tentang Penyelarasan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014. u. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 54 Tahun 2010, tentang Pelaksanaan Peraturan

Pemerintah Nomor. 8 tahun 2008 tentang Tahapan, Tata cara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah.

v. Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Riau Tahun 2009-2013. w. Peraturan Daerah Kabupaten Rokan Hilir Nomor 27 tahun 2002 tentang Rencana Tata

Ruang Wilayah Kabupaten Rokan Hilir tahun 2002-2012.

x. Peraturan Daerah Kabupaten Rokan Hilir Nomor ... tahun ... tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2005-2025. y. Peraturan Daerah Kabupaten Rokan Hilir Nomor 3 Tahun 2008 tentang Rencana

(10)

I 5

-1.4. Hubungan Antar Dokumen

RPJMD Kabupaten berpedoman pada RPJP Daerah, memperhatikan RPJM Nasional dan RPJMD Provinsi atau Renstrada Provinsi serta memperhatikan rencana tata ruang wilayah yang ada. Selainitu, RPJM Daerah juga menjadi pedoman dalam penyusunanRenstra SKPD dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (Renja RKPD). Selanjutnya RKPD menjadi bahan dalam penyusunan RAPBD untuk selanjutnya menjadi APBD melalui proses Musrenbang. Secara skematis, hubungan antara dokumen perencanaan dana nggaran ini dapat di lihat pada Gambar 1.

Gambar 1.Sistematika Alur Perencanaan dan Penganggaran

RENSTRA

K/L RENJA K/L RKA-K/L RINCIAN APBN APBN

RPJP

NASIONAL NASIONAL RPJM RKP RAPBN APBN

RPJP

DAERAH DAERAH RPJM DAERAH RKP RAPBD APBD

RENSTRA

SKPD RENJA SKPD SKPD RKA RINCIAN APBD

Pe m erin tah Pu sa t DiserasikanmelaluiMusrenbang Diacu

Pedoman Bahan Diacu Bahan

UU.No.25/04 SPPN UU.No.17/03 KN Pe m erin tah D ae ra h

(11)

I 6

-1.5. SistematikaPenulisan

Sistematika Penulisan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Rokan Hilir 2011-2016 adalah sebagai berikut:

Bab I. Pendahuluan.

Bab II. Gambaran Umum Kondisi Daerah.

Bab III. Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaan. Bab IV. Analisis Isu-Isu Strategis.

Bab V. Penyajian Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran. Bab VI. Strategi dan Arah Kebijakan.

Bab VIII. Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Daerah.

Bab VIII. Indikasi Rencana Program Prioritas dan Kebutuhan Pendanaan Bab IX. Penetapan Indikator Kinerja Daerah dan

Bab X. PedomanTransisi dan Kaidah Pelaksanaan.

1.6. Maksud dan Tujuan

RPJMD Kabupaten Rokan Hilir 2011-2016 ini disusun dengan maksud untuk menyediakan acuan resmi bagi Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir dan DPRD Kabupaten Rokan Hilir dalam menyusun RKPD, Renstra SKPD, dan Renja SKPD sekaligus merupakan acuan penentu pilihan program kegiatan tahunan daerah yang akan dibahas dalam rangkaian forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah secara berjenjang. RPJM ini juga sebagai acuan bagi DPRD Kabupaten Rokan Hilir dalam pembahasan berbagai Peraturan Daerah Kabupaten Rokan Hilir dan kebijakan lainnya yang terkait dalam penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan. Oleh karena itu, isi dan substansinya mencakup indikasi rencana program dan kegiatan secaral intas sumber pembiayaan, baik APBN maupun APBD Provinsi dan APBD Kabupaten serta sumber pembiayaan lain yang sah.

(12)

I 7 -Berdasarkan pertimbangan di atas, maka RPJM ini disusun dengan tujuan:

1. Menyediakan satu acuan resmi bagi seluruh jajaran pemerintahan daerah dan DPRD dalam menentukan prioritas program dan kegiatan tahunan yang akan dibiayai dari APBD Kabupaten dan sumber pembiayaan lain.

2. Menyediakan pedoman bagi seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah dalam menyusun Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD) yang berisi tolak ukur pembangunan yang dapat dijadikan dasar untuk mengukur dan melakukan evaluasi kinerja tahunannya.

3. Menjabarkan gambaran tentang kondisi umum daerah sekarang dalam konstelasi regional dan nasional sekaligus memahami arah dan tujuan yang ingin dicapai dalam rangka mewujudkan visi dan misi daerah.

4. Memudahkan seluruh jajaran aparatur Pemerintah Daerah dan DPRD dalam mencapai tujuan dengan cara menyusun program dan kegiatan secara terpadu, terarah dan terukur.

5. Memudahkan seluruh jajaran aparatur Pemerintah Daerah dan DPRD untuk memahami dan menilai arah kebijakan dan program serta kegiatan operasional tahunan dalam rentang waktu lima tahunan.

(13)

II 1

-BAB 2

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

2.1. Aspek Geografi dan Demografi

2.1.1. Aspek Geografis

Kabupaten Rokan Hilir secara geografis berada di bagian paling barat dan utara dari Provinsi Riau yang juga merupakan wilayah pesisir timur Pulau Sumatera. Kabupaten Rokan Hilir, yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Bengkalis sejak Tahun 1999, terletak pada posisi antara 10 14’ - 20 30’ Lintang Utara dan 1000 16’ – 1010 21’ Bujur Timur. Luas wilayah Kabupaten Rokan Hilir adalah 8.881,59 Km2.

Secara administrasi, Kabupaten Rokan Hilir terdiri dari 14 (empat belas) kecamatan yang dengan batas-batas dengan wilayah/daerah lain yaitu:

Sebelah Utara : Selat Melaka (merupakan perbatasan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan Negara Kerajaan Malaysia

Sebelah Selatan : Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis dan Kecamatan Tambusai, Kecamatan Kepenuhan, Kecamatan Kunto Darussalam, Kabupaten Rokan Hulu

Sebelah Barat : Kabupaten Labuhan Batu, Provinsi Sumatera Sumatera Utara Sebelah Timur : Kecamatan Bukit Kapur, Kota Dumai

Pada Gambar 2.1 memperlihatkan peta Kabupaten Rokan Hilir dan daerah-daerah di sekitarnya.

(14)

II 2 -Posisi Kabupaten Rokan Hilir yang seperti ini memiliki nilai yang sangat penting dari segi

geostrategis. Selat Malaka merupakan jalur pelayaran dan perdagangan internasional yang sangat ramai. Perbatasan pesisir utara Kabupaten Rokan Hilir dengan Selat Malaka ini memberikan keuntungan bagi kabupaten ini dari sisi kemudahan akses perdagangan, ekspor, impor, perdagangan lintas batas, kerjasama pembangunan regional antar negara. Jalur pelayaran internasional Selat Malaka merupakan gerbang lintas perdagangan regional dari dan ke Selangor, Malaysia. Lintasan tersebut melalui pelabuhan rakyat yang sudah ada sejak lama, yaitu pelabuhan Bagansiapiapi, Pulau Halang, Sinaboi, Panipahan, dan Tanjung Lumba-lumba. Pelabuhan Malaysia yang menjadi orientasi utama adalah Port Klang. Lalu lintas pelayaran ini adalah pelayaran tradisional yang telah dilakukan masyarakat sejak dahulu dan merupakan embrio bagi berkembangnya kerjasama perdagangan lintas batas. Saat ini, kerjasama regional antar negara telah berkembang lebih maju dan modern. Dalam hal ini, posisi Kabupaten Rokan Hilir menjadi sangat

(15)

II 3 -strategis seperti dalam rangka mendukung kerjasama segitiga

Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT), kerjasama Sosial Ekonomi Malaysia-Indonesia (Sosek Malindo), kerjasama Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI).

Koordinasi yang erat dan intensif antara Kabupaten Rokan Hilir dan Pemerintah Pusat merupakan hal penting untuk pembangunan dan menjaga integritas pulau-pulau terluar di Kabupaten Rokan Hilir. Sebagai daerah kabupaten pada provinsi yang memiliki batas dengan negara tetangga dan memiliki pulau-pulau terluar, maka permasalahan pembangunan wilayah perbatasan untuk pertahanan dan keamanan nasional merupakan salah satu isu strategis nasional yang harus diantisipasi di Kabupaten Rokan Hilir.

Selain merupakan daerah perbatasan dengan negara tetangga, Kabupaten Rokan Hilir juga menjadi gerbang lintas batas dari dan ke Sumatera Utara dengan memanfaatkan jalan lintas Sumatera, serta beberapa jaringan jalan lokal yang terdapat di sebelah Barat yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Labuhan Batu Provinsi Sumatera Utara. Interaksi regional dengan wilayah Sumatera ini telah berlangsung lama untuk mengangkut komoditi pertanian dan perkebunan yang dihasilkan masyarakat Rokan Hilir untuk diperdagangkan di Sumatera Utara. Disamping itu, potensi kerjasama regional antar provinsi seperti kerjasama Provinsi se-Sumatra maupun kerjasama-kerjasama lainnya terbuka luas untuk dikembangkan dan dikelola oleh pemerintah dan masyarakat Kabupaten Rokan Hilir.

Dilihat dari sisi topografi, wilayah daratan Kabupaten Rokan Hilir sebagian besar terdiri dari dataran rendah dengan ketinggian antara 0-40 m di atas permukaan laut (dpl). Daerah pesisir pantai memiliki ketinggian 0-6 m dpl dan dipengaruhi pasang surut air laut. Daerah sepanjang aliran sungai memiliki ketinggian 0-30 m dpl. Daerah aliran Sungai Rokan mulai dari muara hingga sekitar ibukota Kecamatan Rimba Melintang merupakan daerah pasang surut air laut. Kemiringan lahan Kabupaten Rokan Hilir berkisar antara 0-15 persen, dan terdapat 80 persen dari luas daratan dengan kemiringan 0-3 persen. Pada bagian selatan hingga ke barat daya atau dari Kecamatan Tanah Putih hingga ke bagian selatan dari Kecamatan Bagan Sinembah memiliki wilayah yang bervariasi antara datar–agak

(16)

II 4 -berombak hingga bergelombang dengan kemiringan 0–5 persen sampai 8–15 persen

dengan ketinggian antara 5–100 m dpl.

Sebagian besar wilayah Kabupaten Rokan Hilir merupakan tanah lunak dan gambut sehingga memiliki kualitas air tanah dangkal yang umumnya berkualitas kurang baik. Daerah genangan terdapat di bagian Selatan Kecamatan Tanah Putih, sedang pada bagian Utara atau pesisir pantai hingga sepanjang daerah aliran Sungai Rokan merupakan daerah yang rawan terhadap genangan. Wilayah di sepanjang aliran Sungai Rokan merupakan dataran rendah dan rawa-rawa yang menjadi rentan terhadap bencana banjir dan genangan sebagaimana yang selama ini berlangsung secara berkala. Pada tahun 2004 dan 2006, terdapat indikasi bahwa beberapa wilayah di Kabupaten Rokan Hilir mengalami bencana banjir dan genangan menjadi semakin luas akibat luapan Sungai Rokan. Selain itu, tanah gambut dan rawa memiliki daya dukung yang rendah terhadap beban konstruksi. Karena itu, biaya pembangunan konstruksi di daerah gambut dan rawa cukup tinggi.

Kondisi hidrologi Kabupaten Rokan Hilir dipengaruhi oleh keberadaan 15 (lima belas) aliran sungai yang ada. Sungai Rokan merupakan sungai utama dengan panjang 350km dan kedalaman 6-8m yang melintasi Kecamatan Pujud, Rantau Kopar,Tanah Putih, Rimba Melintang, Perkaitan dan Batu hampar. Sungai Rokan berasal dari dua cabang anak sungai yaitu Sungai Rokan Kanan dan Sungai Rokan Kiri yang hulu anak sungainya di Pegunungan Bukit Barisan pada bagian timur Kabupaten Tapanuli Selatan dan pada bagian barat Kabupaten Rokan Hulu. Tetapi saat ini banyak anak sungai yang berada di hulu ini kekeringan dan tertutup oleh areal perkebunan. Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir tidak mengizinkan usaha industri dijalankan di sepanjang Sungai Rokan untuk menjaga kualitas air dan lingkungan sepanjang Sungai Rokan yang sangat strategis untuk sumber air dan perekonomian.

Kabupaten Rokan Hilir memiliki kondisi kawasan yang cukup bervariatif berupa kawasan daratan, kawasan pesisir, perairan laut, dan pulau-pulau kecil yang merupakan salah satu ekosistem penting yang mendukung keberlanjutan pembangunan Kabupaten Rokan Hilir. Kawasan pesisir dan perairan laut merupakan ekosistem pendukung kehidupan biota

(17)

II 5 -perairan laut, termasuk biota-biota yang dilindungi. Sebagai muara dari salah satu sungai

yang terbesar di Provinsi Riau, maka kawasan pesisir dan laut Kabupaten Rokan Hilir kaya akan sumber daya perikanan. Demikian pula halnya pulau-pulau kecil yang sebagian diantaranya sesuai dengan luasnya berfungsi sebagai kawasan yang dilindungi. Kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil nyatanya juga merupakan tempat bermukim para nelayan yang sebagian besar merupakan masyarakat golongan ekonomi lemah. Oleh karenanya pengendalian kerusakan dan penurunan kualitas lingkungan pesisir, perairan laut, dan pulau-pulau kecil perlu diperkuat untuk mendukung keberlanjutan kehidupan nelayan dan keanekaragaman biota yang perlu dilindungi.

Tingginya alih fungsi lahan dan hutan merupakan salah satu penyebab terjadinya kerusakan lingkungan di wilayah Kabupaten Rokan Hilir. Alih fungsi tersebut dipergunakan untuk kegiatan perkebunan, pertanian, industri perkayuan, permukiman, dan perladangan. Umumnya alih fungsi lahan tersebut terjadi di bagian hulu, tengah, dan hilir DAS yang sebagian diantaranya tidak mengindahkan konsep konservasi. Perubahan fungsi lahan secara tidak terkendali selain berpotensi menyebabkan bencana banjir dan genangan di wilayah hilir karena berkurangnya daerah resapan air serta perubahan lahan pertanian di daerah tangkapan air. Hal tersebut juga menimbulkan kerusakan badan sungai berupa longsoran dan abrasi tebing dan tanggul sungai oleh aktifitas bongkar-muat bahan dan produk industri; pendangkalan sungai yang menimbulkan dampak berkurangnya panjang alur sungai efektif yang dapat dilayari; pencemaran badan sungai oleh limbah industri dan penurunan keanekaragaman hayati. Terjadinya alih fungsi lahan diindikasikan dengan semakin luasnya lahan terlantar yang tidak dikelola, sebagaimana diindikasikan dengan meningkatnya luas lahan lahan tidur dan terbentuknya padang rumput.

Disisi lainnya, alih fungsi lahan hutan menjadi lahan budi daya dan perkebunan turut meningkatkan produksi pertanian. Meskipun demikian, tidak sedikit pula menyebabkan lahan-lahan terlantar. Keberadaan lahan terlantar ini menciptakan lahan kritis di beberapa bagian wilayah Kabupaten Rokan Hilir. Pembukaan hutan sekunder untuk keperluan lahan pertanian dan kebun penduduk telah menyebabkan terbentuknya lahan-lahan kritis oleh karena lahan garapan tersebut tidak dipelihara dengan baik dan ditinggalkan untuk

(18)

II 6 -berpindah ke lokasi lainnya. Lahan yang ditinggalkan berubah menjadi semak belukar dan

alang-alang, sehingga tidak mampu menahan air lebih lama untuk diresapkan ke dalam tanah. Lahan kritis yang luasnya mencapai ratusan ribu hektar perlu dipulihkan dan difungsikan secara lestari.

Kabupaten Rokan Hilir juga menghadapi permasalahan pencemaran badan sungai dan pesisir pantai oleh kegiatan industri dan permukiman yang berada di sepanjang badan sungai dan pantai Timur. Kegiatan industri hulu yang mengolah sumber daya hutan, perkebunan, dan pertambangan, seperti industri pengolahan kelapa sawit, crumb rubber, plywood, pulp dan kertas, permukiman penduduk, kegiatan komersial dan jasa, dan lainnya yang terkadang membuang limbahnya ke badan sungai telah menurunkan kualitas air sungai dan pesisir. Pencemaran badan sungai oleh sumber-sumber domestik, industri, dan kegiatan lainnya yang berlokasi di sepanjang sungai dan dalam daerah aliran sungai (DAS) memberikan dampak terhadap pemanfaatan sumber daya air tersebut bagi kebutuhan masyarakat, dimana sebagian penduduk yang bermukim di tepi sungai memanfaatkannya untuk keperluan mandi, cuci, kakus (MCK).

Disamping itu, kawasan pesisir Kabupaten Rokan Hilir yaitu di kecamatan Kecamatan Bangko, Rimba Melintang, dan Bangko Pusako menghadapi permasalahan abrasi yang cukup mengkhawatirkan. Pesisir Kecamatan Bangko Pusako mengalami tingkat abrasi yang tertinggi yaitu sekitar 7 meter pertahun sedangkan di kedua kecamatan lainnya tingkat abrasi yang ditandai dengan runtuh dan hilangnya wilayah daratan akibat gerusan gelombang mencapai 5 meter pertahun. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah dan masyarakat tempatan perlu melakukan kerjasama yang berkelanjutan untuk pencegahan atau mengurangi abrasi ini.

Permasalahan lingkungan lain yang dihadapi Kabupaten Rokan Hilir sejak beberapa tahun terakhir dan berlangsung secara berkala adalah perubahan pola iklim yang tak menentu yang cenderung meningkatkan suhu bumi dan dampak kebakaran hutan pada musim kemarau yang telah mengganggu kegiatan ekonomi dan sosial serta kondisi kesehatan seluruh pihak di Kabupaten Rokan Hilir, bahkan hingga ke negara tetangga terdekat. Kebakaran hutan terutama disebabkan oleh kebiasaan masyarakat dan perusahaan

(19)

II 7 -melakukan pembersihan lahan untuk pengembangan areal pertanian, perkebunan, dan

kehutanan, dimana pengawasan dan penegakan hukum terhadap pelanggaran tersebut masih belum optimal.

Walaupun belum memberikan hasil yang memadai bagi pengendalian dan penanggulangan kerusakan dan penurunan kualitas lingkungan, namun dapat dicatat telah dilakukan berbagai upaya menuju terwujudnya kualitas lingkungan yang lebih baik di Kabupaten Rokan Hilir. Beberapa upaya ke arah lingkungan yang lestari antara lain dilaksanakan melalui pengelolaan tata guna lahan dan tata guna air; pengendalian pencemaran terhadap badan perairan; peningkatan kesadaran dan peran serta masyarakat dan dunia usaha dalam menjaga kelestarian lingkungan; serta peningkatan kapasitas kelembagaan pengelolaan lingkungan hidup.

Secara geologi Kabupaten Rokan Hilir terutama di wilayah bagian Barat dan Selatan didominasi oleh batuan sedimen kuarter dengan sisipan batuan sedimen tersier. Struktur geologi di wilayah ini memiliki lipatan yang merupakan lanjutan kondisi geologi Bukit Barisan. Pada wilayah ini, terdapat potensi sumber daya mineral seperti minyak bumi dan gas yang sangat menguntungkan bagi Kabupaten Rokan Hilir.

2.1.2. Aspek Demografi

Penduduk Kabupaten Rokan Hilir pada tahun 2012 adalah 602.691 jiwa, dengan laju pertumbuhan penduduk selama sepuluh tahun terkahir yakni dari dari tahun 2000-2010 adalah sebesar 4,58 persen pertahun. Sedangkan sex ratio-nya adalah 106,25 yang artinya dari setiap 100 penduduk perempuan rata-rata terdapat 107 penduduk laki-laki.

Perbandingan Sex ratio di Kabupaten Rokan Hilir jika dilihat dari masing-masing Kecamatan, maka akan didapati informasi sebagai berikut. Kecamatan Bangko102,99 berarti dari 100 penduduk perempuan akan terdapat 103 penduduk laki-laki di Kecamatan Bangko. Kecamatan Rantau Kopar memiliki sex ratio yang terendah, yaitu 101,48. Kepadatan penduduk per kilometer menunjukkan bahwa Kecamatan Bagan Sinembah menempati urutan tertinggi yaitu154 jiwa per kilometer persegi, sedangkan

(20)

II 8 -Kecamatan Rantau Kopar dan Batu Hampar menempati urutan terendah yaitu 23 dan

27 jiwa per kilometer persegi. Jumlah penduduk Kecamatan Bagan Sinembah menempati urutan tertinggi, yaitu 137.017 jiwa, kemudian Kecamatan Pujud 74.316 jiwa, Kecamatan Bangko 69.310 jiwa, Kecamatan Bangko Pusako 64.313 jiwa, dan Kecamatan Rantau Kopar memiliki jumlah penduduk terendah, yaitu 5.567 jiwa. Bila diamati perbandingan luas wilayah dengan jumlah penduduk maka terjadi ketimpangan dalam penyebaran penduduk. Kecamatan Bagan Sinembah yang luasnya hanya 9,54 persen dari luas Kabupaten Rokan Hilir menampung 22,73 persen penduduk, sedangkan Kecamatan Tanah Putih yang luasnya 21,56 persen menampung 10,55 persen penduduk. Penyebaran penduduk yang tidak merata ini akan menimbulkan masalah kependudukan, kondisi yang kurang sehat bagi kegiatan ekonomi, pertahanan keamanan dan keadilan sosial lainnya.

Tabel 2.1

Kepadatan Penduduk di Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2008-2012

KECAMATAN 30-Jun 2008 30-Jun 2009 30-Jun 2010 30-Jun 2011 30-Jun 2012

1. Tanah Putih 48,801 49,446 57,434 60,499 62,872 2. Pujud 56,678 57,427 63,839 70,681 73,453 3. Tp Tj Melawan 9,65 9,778 12,066 13,155 13,671 4. Rantau Kopar 7,212 7,308 5,636 5,295 5,503 5. Bagan Sinembah 130,921 132,651 131,186 130,315 135,427 6. Simpang Kanan 23,614 23,926 25,865 26,393 27,428 7. Kubu 37,812 38,312 38,114 37,741 20,027 8. Pasir Limau Kapas 37,109 37,6 33,405 34,058 35,394

9. Kubu Babussalam … … … ... 19,194 10. Bangko 90,729 91,928 68,091 65,92 68,506 11. Senaboi 11,107 11,253 11,081 11,668 12,126 12. Batu Hampar 6,667 6,755 7,213 7,747 8,051 13. Pekaitan ... ... 13,535 16,183 16,818 14. Rimba Melintang 31,712 32,132 32,128 32,389 33,659 15. Bangko Pusako 46,413 47,027 52,115 61,167 63,566 JUMLAH 538,425 545,543 551,708 573,211 595,695

(21)

II 9

-2.2. Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah

Berlakunya Otonomi Daerah memberi peluang Kabupaten Rokan Hilir berupa kewenangan yang lebih besar untuk mengelola pembangunan secara mandiri dan demokratis.Tujuan pemberian otonomi yang luas kepada daerah diarahkan untuk terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat. Disamping itu melalui pelaksanaan otonomi luas, daerah diharapkan mampu meningkatkan daya saing, dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan dan keadilan, keistimewaan dan kekhususan serta potensi dan keanekaragaman daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan kata lain tujuan yang diharapkan dari pelaksanaan otonomi adalah mewujudkan Good Governance penyelenggaraan pemerintahan dengan tiga pilar utamanya yaitu demokratisasi, transparansi dan partisipasi yang bermuara pada perwujudan pelayanan masyarakat.

Pada saat penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kabupaten Rokan Hilir 2007-2011 telah terjadi beberapa kali pemekaran kecamatan. Pada tahun 2010, telah terjadi pemekaran kecamatan lagi. Kecamatan di Rokan Hilir pada saat ini sudah menjadi 15 kecamatan. Kondisi ini mengindikasikan pesatnya perkembangan wilayah di Kabupaten Rokan Hilir dan besarnya usaha untuk mengembangkan wilayah terlihat sangat jelas. Pembangunan jembatan Pedamaran yang dibangun untuk menghubungkan kecamatan yang terisolir dinilai cukup strategis untuk melakukan akselerasi pembangunan di Kecamatan tersebut. Di samping untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat oleh pemerintah, pemekaran wilayah (kecamatan) membutuhkan sarana dan prasarana wilayah yang cepat pula. Kecepatan lalu lintas prasarana wilayah dan pemekaran wilayah terlihat jelas pada Kecamatan Bagan Sinembah. Berikut nama dan Jumlah Kecamatan di Kabupaten Rokan Hilir.

(22)

II 10

-Tabel 2.2.

Kecamatan dan Jumlah Kepenghuluan/Kelurahan di Kabupaten Rokan Hilir

No. Kecamatan Jumlah Kepenghuluan/Kelurahan

1 Bangko 15

2 Sinaboi 4

3 Rimba Melintang 12

4 Bangko Pusako 13

5 Tanah Putih T.anjung Melawan 5

6 Tanah Putih 16

7 Kubu 15

8 Bagan Sinembah 26

9 Pujud 13

10 Simpang Kanan 6

11 Pasir Limau Kapas 7

12 Batu Hampar 5

13 Rantau Kopar 4

14 Pekaitan 10

15 Kubu Babussalam 11

Sumber: Rokan Hilir Dalam Angka, 2013

2.2.1. Aparatur Pemerintahan

Otonomi Daerah menuntut Aparatur Pemerintah Daerah untuk lebih profesional dan mandiri dalam penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan. Selain Aparatur Pemerintah Daerah (eksekutif), pada pemerintahan daerah juga memberi penegasan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) yang merupakan badan legislatif daerah. Adanya ketegasan fungsi dari kedua lembaga ini sangat bermanfaat bagi proses demokratisasi dalam penyelenggaraan sistem pemerintahan, sehingga check and balances dapat diterapkan menuju ke tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Jumlah Pegawai Negeri Sipil di Kabupaten Rokan Hilir berdasarkan golongan dapat dilihat pada Tabel 2.3 berikut ini.

(23)

II 11

-Tabel 2.3

Jumlah Pegawai Negeri Sipil Menurut Golongan

Sumber: Rokan Hilir dalam angka 2013

2.2.2 Organisasi Tata Laksana Pemerintah Daerah

Sejalan dengan amanat Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, Kabupaten Rokan Hilir telah resmi berdiri sebagai suatu daerah otonom. Daerah otonom mengandung pengertian sebagai kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah, yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi dalam Sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Penyelenggaraan Pemerintahan Kabupaten Rokan Hilir sejak tahun 2007 dipimpin oleh Bupati H. Anas Maamun sebagai Kepala Daerah dan Kepala Pemerintahan bersama dengan Wakil Bupati H. Suyatno. Sejak tahun 2014, Bupati Kabupaten Rokan Hilir diganti oleh wakilnya, H. Suyanto karena Bupati H. Anas Maamun terpilih menjadi Gubernur Riau. Organisasi tata laksana Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir mengacu pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2007, 11 Tahun 2007, 12 Tahun 2007, 13 Tahun 2007, dan 14 Tahun 2007 dengan jumlah perangkat daerah sebagai berikut.

No Golongan Jumlah Persentase

1 I 131 1,47

2 II 2763 55,28

3 III 3438 33,59

4 IV 559 9,67

(24)

II 12

-Tabel 2.4.

SOTK PemerintahKabupaten Rokan Hilir

No. Perangkat Daerah Jumlah

1. Setda dan Sekwan 2

2. Dinas 17 3. Badan 7 4. Kantor 4 5 Inspektorat Daerah 1 6 RSUD 1 5. Kecamatan 15 6. Kelurahan 14 7. Kepenghuluan 166

Sumber: Rokan Hilir dalam angka 2013

Jumlah pegawai negeri sipil di Kabupaten Rokan Hilir berjumlah 6.187 orang, kurang mampu memaksimalkan pelayanan publik. Disamping persoalan kuantitas, secara kualitas, aspek pelayanan yang tersebar dari administrasi kabupaten sampai pada administrasi tingkat Kepenghuluan membutuhkan peningkatan. Pegawai yang berada pada golongan I, sebanyak 91 orang, golongan II sebanyak 3.420 orang, golongan III sebanyak 2.078 orang, dan golongan IV sebanyak 598 orang.

Satuan Kerja yang ada di Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir adalah: I. Sekretatriat Daerah

II. Sekretariat Dewan III. Dinas-Dinas

1. Dinas Pendapatan Daerah 2. Dinas Pendidikan

3. Dinas Kesehatan 4. Dinas Sosial

5. Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah 6. Dinas Perindustrian dan Perdagangan 7. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil

(25)

II 13 -9. Dinas Tenaga Kerja dan transmigrasi

10. Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang 11. Dinas Bina Marga dan Pengairan 12. Dinas Perkebunan

13. Dinas Kehutanan

14. Dinas Pasar, Kebersihan dan Pertamanan 15. Dinas Pertanian dan Peternakan

16. Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informasi 17. Dinas Perikanan dan kelautan

IV. Badan dan Kantor

1. Badan Perencanaan Pembangunan 2. Badan Promosi dan Investasi

3. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah

4. Badan Kesatuan Bangsa, politik dan Perlindungan Masyarakat 5. Badan Pemberdayaan Masyarakat

6. Badan Kepegawaian 7. Badan Ketahanan Pangan

8. Kantor Satuan Polisi Pamong Praja. 9. Kantor Perpustakaan dan Kearsipan 10. Kantor Pemberdayaan Perempuan dan KB 11. Kantor Pelayanan Terpadu

V. Rumah Sakit Umum Daerah VI. Inspektorat Daerah

VII. Kecamatan 1. Batu Hampar 2. Bangko 3. Rimba Melintang 4. Tanah Putih 5. Pujud 6. Kubu

(26)

II 14 -7. Simpang Kanan

8. Rantau Kopar

9. Tanah Putih tj. Melawan 10. Pasir Limau Kapas 11. Sinaboi

12. Bangko Pusako 13. Bagan Sinembah 14. Pekaitan

15. Kubu Babussalam

Dari susunan tata laksana pemerintahan di Kabupaten Rokan Hilir pada rentang 2007-2011 (RPJM) dibandingkan dengan tahun 2010 mengalami beberapa perubahan.Terjadi kenaikan pada sejumlah dinas, badan dan Kecamatan di Kabupaten Rokan Hilir. Pembangunan daerah merupakan usaha mengembangkan dan memperkuat pemerintahan daerah dalam rangka makin mantapnya Otonomi Daerah yang nyata, dinamis, serasi, dan bertanggungjawab.

Kabupaten Rokan Hilir terkenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi keragaman, kondisi ini berdampak pada terciptanya peluang setiap komponen masyarakat terlibat dalam penciptaan situasi dan kondisi yang kondusif. Jumlah partai politik peserta Pemilu 1997 sebanyak 3 Parpol, Pemilu 1999 sebanyak 48 Parpol, Pemilu 2004 sebanyak 24 Parpol. Pada pemilu tahun 2014 sebanyak 12 Partai Politik. Berdasarkan data diketahui bahwa situasi politik pada saat pemilu legislatif pada bulan April 2014 dan Pemilu Presiden pada bulan September 2014 yang lalu relatif aman terkendali, yang ditunjukkan dengan meningkatnya partisipasi politik masyarakat pada Pemilu yang dimaksud.

2.3. Aspek Kesejahteraan Masyarakat

2.3.1. Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi

Sasaran prioritas pemantapan stabilitas ekonomi makro adalah terpeliharanya stabilitas ekonomi makro yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi dan berkualitas serta peningkatan kemampuan pendanaan pembangunan, baik yang bersumber

(27)

II 15 -dari pemerintah maupun swasta dengan tetap menjaga stabilitas ekonomi daerah.

Perkembangan ekonomi daerah merupakan gambaran dari akumulasi pemanfaatan sumberdaya daerah oleh pemerintah, swasta dan rumah tangga untuk menghasilkan output. Perekonomian Kabupaten Rokan Hilir pada periode 2008-2012 terus mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan dan cenderung stabil yang ditunjukkan oleh pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, dibandingkan dengan perkembangan perekonomian pada tahun sebelumnya.

a. Pertumbuhan PDRB

Perkembangan perekonomian Kabupaten Rokan Hilir dapat dilihat dari perkembangan nilai PDRB sebagai akumulasi pemanfaatan sumberdaya daerah untuk menghasilkan output pada setiap sektor perekonomian. Nilai PDRB Menurut harga konstan Kabupaten Rokan Hilir dengan minyak dan gas pada periode 2009-2012 mengalami pertumbuhan, sedangkan tanpa minyak dan gas mengalami juga mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan bahwa perekonomian Kabupaten Rokan Hilir tanpa migas memiliki perkembangan yang cukup pesat jika dibandingkan dengan perekonomian dengan minyak dan gas. Tebel dibawah ini menjelaskan laju pertumbuhan ekonomo Kabupaten Rokan Hilir atas dasar harga konstan menurut lapangan usaha tahun 2009-2012.

Tabel. 2.5.

Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Rokan Hilir Atas Dasar Harga Konstan Menurut Lapangan Usahatahun 2009-2012 (%)

Sumber: BPS Rohil dalam Rokan Hilir Dalam Angka 2013.

No. Sektor/Lapangan Usaha 2009 2010 2011 2012

1. Pertanian 5.87 6.15 6.23 6.20

2. Petambangan dan Penggalian 9.87 7.77 8.64 7.75

3. Industri Pengolahan 8.03 9.80 9.52 9.34

4. Listrik, Gas dan Air Minum 6.53 8.93 8.94 7.85

5. Bangunan 11.05 8.78 10.43 10.84

6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 9.64 9.72 9.85. 9.92

7. Pengangkutan dan Komunikasi 9.13 10.27 9.85 9.92

8. Keuangan, Persewaan dan Jasa 6.77 5.77 6.53 6.20

9. Jasa-jasa 7.94 7.13 7.91 8.41

(28)

II 16 -Penurunan kontribusi sektor pertambangan terhadap total PDRB secara proporsional

menggambarkan terjadinya peningkatan nilai dan kontribusi sektor perekonomian lainnya dalam struktur perekonomian Kabupaten Rokan Hilir. PDRB Harga konstant tahun 2010 menunjukkan bahwa kontribusi sektor pertanian mengalami kenaikan dari 5.87 persen pada tahun 2009 menjadi 6.20 persen tahun 2012. Kenaikan nilai PDRB sektoral berdasarkan harga konstant pada periode 2009-2012 yang paling tinggi terjadi pada sektor listrik, gas dan air minum. Kontruksi menjadi salah satu aktivitas penting karena geliat pembangunan di daerah ini, baik bangunan gedung, jalan dan lain-lain sebagai pertanda daerah ini sebagai daerah baru yang sedang mempersiapkan infrastruktur pemerintah, transportasi, serta aktivitas pembangunan oleh rumah tangga dan swasta.

Tabel. 2.6.

Distribusi Persentase PDRB Kaupaten Rokan Hilir Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha, Tanpa Migas Tahun 2009-2012 (%)

Sumber: BPS Rohil dalam Rokan Hilir Dalam Angka 2013.

Secara umum, struktur perekonomian Kabupaten Rokan Hilir berdasarkan nilai PDRB harga konstant dengan minyak dan gas pada periode 2009-2012 terlihat mengalami sedikit pergeseran, yang ditandai oleh peran sektor pertambangan semakin menurun, sedangkan kontribsi sektor pertanian dan industri semakin meningkat, yang diikuti oleh peningkatan kontribusi pada sektor sekunder dan tersier lainnya. Jika diperhatikan pada perekonomian tanpa minyak dan gas berdasarkan nilai PDRB harga konstant terlihat bahwa sektor pertanian memiliki kontribusi dominan, diikuti oleh sektor perdagangan dengan kontribusi

No. Sektor/Lapangan Usaha 2009 2010 2011 2012

1. Pertanian 53.61 50.00 47.70 44.83

2. Petambangan dan Penggalian 0.23 023 0.23 0.22

3. Industri Pengolahan 24.91 27.91 30.35 32.79

4. Listrik, Gas dan Air Minum 0.18 0.19 0.20 0.20

5. Bangunan 1.19 1.35 1.54 1.52

6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 14.98 15.42 15.29 15.82

7. Pengangkutan dan Komunikasi 1.00 0.99 0.93 0.89

8. Keuangan, Persewaan dan Jasa 1.17 1.23 1.26 1.28

9. Jasa-jasa 2.73 2.66 2.51 2.45

(29)

II 17 -sebesar 24,71 persen, dan sektor industri dengan kontribusi -sebesar 10,84 persen,

sedangkan sektor lainnya memiliki kontribusi yang relatif lebih kecil.

Tabel. 2.7.

Distribusi Persentase PDRB Kabupaten Rokan Hilir Atas Dasar Harga Konstan Menurut Lapangan Usaha, Tanpa Migas Tahun 2009-2012 (%)

Sumber: BPS Rohil dalam Rokan Hilir Dalam Angka 2013.

Berdasarkan penjelasan tersebut diatas, maka dapat disimpulkan bahwa struktur perekonomian dengan minyak dan gas didominasi oleh pertambangan, pertanian, dan perdagangan. Sedangkan struktur perekonomian Kabupaten Rokan Hilir tanpa minyak dan gas didominasi oleh sektor pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan.

lainnya mengalami peningkatan yang melebihi peningkatan total nilai PDRB. Hal ini mengindikasikan bahwa sektor pertambangan memiliki perkembangan kontribusi yang semakin melambat dalam perekonomian Kabupaten Rokan Hilir karena memiliki ketergantungan pada ketersediaan sumberdaya minyak sebagai unrenewable resources yang terdapat di daerah Kabupaten Rokan Hilir. Dengan demikian untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dimasa mendatang, perhatian pada pembangunan sektor diluar minyak dan gas menjadi hal yang sangat penting, khususnya sektor pertanian yang terintegrasi dengan sektor industri pengolahan dan perdagangan sebagai mainstream pembangunan agribisnis.

No. Sektor/Lapangan Usaha 2009 2010 2011 2012

1. Pertanian 53.91 53.20 52.49 51.77

2. Petambangan dan Penggalian 0.48 0.48 0.48 0.48

3. Industri Pengolahan 10.31 10.52 10.68 10.84

4. Listrik, Gas dan Air Minum 0.25 0.25 0.25 0.26

5. Bangunan 0.92 0.93 0.95 0.98

6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 23.28 23.75 24.23 24.71

7. Pengangkutan dan Komunikasi 2.87 2.94 2.99 3.02

8. Keuangan, Persewaan dan Jasa 1.49 1.47 1.45 1.43

9. Jasa-jasa 6.49 6.46 6.48 6.51

(30)

II 18

-Tabel. 2.8.

Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2007 s.d 2010 Atas Dasar Harga Konstan dan Harga Berlaku Kabupaten Rokan Hilir (%)

2007 2008 2009 2010

MGS TMGS MGS TMGS MGS TMGS MGS TMGS

1 Rokan Hilir 2.04 7.95 4.99 7.88 2.12 7.26 - 1,65 7,57

2 Provinsi Riau 3.41 8.25 5.61 8.06 3,32 6.56 4,17 7,16

3 Indonesia 6.28 6.87 6.06 6.52 4.50 4.90 6,10

Ket: MGS = PDRB dengan Migas TMGS = PDRB Tanpa Migas

Pada tabel diatas terlihat bahwa fenomena pertumbuhan ekonomi Kabupaten Rokan Hilir yang lebih tinggi pada perekonomian tanpa minyak dan gas menunjukan bahwa potensi pembangunan perekonomian diluar minyak dan gas cukup besar dalam mendukung perkembangan perekonomian Kabupaten Rokan Hilir dimasa mendatang.

b. Laju Inflasi

Tingkat inflasi yang terjadi pada suatu daerah merupakan indikator tingkat kenaikan harga yang berlangsung secara terus-menerus dan saling mempengaruhi. Secara statistik laju inflasi di Kabupaten Rokan Hilir tidak diukur, karena laju inflasi yang dihitung hanya di perkotaan yaitu Kota Pekanbaru dan Kota Dumai. Laju inflasi sebagai indikator ekonomi makro di Kabupaten Rokan Hilir dihitung pada tingkat inflasi Kota Pekanbaru. Laju inflasi di Kota Pekanbaru pada periode 2007-2009 mengalami fluktuasi. Selama periode 2007-2010 laju inflasi tertinggi terjadi pada tahun 2008 sebesar 9,02 persen, semengtara inflasi yang terendah terjadi pada tahun 2009 yakni sebesar 1,94 persen, dan kembali mengalami peningkatan menjadi 7,00 persen pada tahun 2010.

Tabel. 2.9.

Nilai inflasi rata-rata Tahun 2007 s.d 2010 Kota Pekanbaru

Tahun 2007 2008 2009 2010

Inflasi (%) 7,53 9,02 1,94 7,00

(31)

II 19 -Faktor yangmenjadi pemicu terjadinya inflasi adalah terjadinya kenaikan harga yang

ditunjukkan oleh kenaikan indeks harga pada berbagai kelompok barang yang dikonsumsi oleh masyarakat, termasuk kenaikan harga-harga kebutuhan lainnya, seperti kebutuhan makanan, minuman, tembakau dan rokok, perumahan, listrik, gas dan bahan bakar, kelompok sandang, kesehatan, transport, rekreasi, komunikasi, dan jasa keuangan. Peningkatan pendapatan penduduk akan rentan untuk mendorong terjadi inflasi, karena konsumen terdorong untuk menbelanjakan pendapatan yang diperoleh, sehingga harga-harga terdorong naik.

c. Kemiskinan

Tingkat kemiskinan di Kabupaten Rokan Hilir menunjukkan fenomena yang semakin menurun dari tahun ke tahun. Pada tahun 2007 jumlah penduduk miskin mencapai 48,7 ribu penduduk, kemudian meningkat menjadi 61,3 ribu penduduk pada tahun 2008 dan menurun menjadi 56,0 ribu penduduk pada tahun 2009, dan kembali menurun menjadi 51,7 ribu penduduk pada tahun 2010. Secara proporsional dari jumlah penduduk Kabupaten Rokan Hlir juga terlihat terjadi penurunan dari 9,41 persen penduduk miskin pada tahun 2007 menjadi 9,30 persen pada tahun 2010, walupun secara proporsional mengalami penigkatan pada tahun 2008.

Tabel. 2.10.

Jumlah Penduduk Miskin di Kabupaten Rokan Hilir 2007-2010

Uraian 2007 2008 2009 2010

Jumlah Penduduk Miskin (000 jiwa) 48,7 61,3 56,0 51,7

Garis Kemiskinan (Rp/Kapita/Bulan) 165.850 185.264 227.571 250.267

Persentasi Penduduk Miskin (%) 9,41 10,59 9,32 9,30

Sumber: BPS Rohil, 2011

Jika dibandingkan fenomena kemiskinan Kabupaten Rokan Hilir dengan Provinsi Riau terlihat bahwa proporsi penduduk kemiskinan di Kabupaten Rokan Hilir pada tahun 2009 sedikit dibawah rata-rata proporsi penduduk miskin di Provinsi Riau. Penentuan tingkat

(32)

II 20 -kemiskinan ini merupakan -kemiskinan absolut yang diukur dengan garis -kemiskinan

(poverty line).

Tabel. 2.11.

Perbandingan Jumlah Penduduk Miskin di Kabupaten Rokan Hilir dan Provinsi Riau 2007-2009 Jumlah Penduduk Miskin(000) Persentase Penduduk Miskin (%) Garis Kemiskinan (Rp) 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 2009 Rokan Hilir 48,7 61,3 56,0 9,41 10,59 9,32 165 850 185.264 227.571 Provinsi Riau 574,5 584,67 532,27 11,20 10,63 9,48 214 034 229.371 246.481 Sumber: BPS Riau

Dari aspek jumlah penduduk miskin di Kabupaten Rokan Hilir dan Provinsi Riau terlihat bahwa antara tahun 2007-2009 jumlah penduduk miskin di Kabupaten Rokan Hilir justru mengalami peningkatan sebanyak 14,99 persen, sedangkan jumlah penduduk miskin di Provinsi Riau pada periode yang sama justru mengalami penurunan sebanyak 7,35 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa Rokan Hilir memiliki jumlah penduduk yang lebih besar dan merupakan salah satu daerah yang berkontribusi terhadap penigkatan jumlah penduduk miskin di Provinsi Riau.

Salah satu penyebab terjadi kenaikan jumlah penduduk miskin di Kabupaten Rokan Hilir adalah kenaikan garis kemiskinan yaitu dari Rp. 165.850 pada tahun 2007 menjadi Rp. 227.571 pada tahun 2009. Hal ini mengindikasikan bahwa biaya hidup di Kabupaten Rokan Hilir mengalami peningkatan, yang tidak diiringi oleh kenaikan pendapatan penduduk. Garis kemiskinan menggambarkan jumlah uang minimum yang harus dikeluarkan oleh penduduk per kapita untuk memenuhi kebutuhan makanan dan non makanan.

(33)

II 21

-2.2.2. Fokus Kesejahteraan Sosial a. Pendidikan

Pembangunan pendidikan merupakan bahagian penting dalam peningkatan kualitas sumberdaya manusia daerah. Potensi sumber daya alam dan jumlah penduduk yang besar memerlukan pengembangan melalui sistem pendidikan yang tepat agar memberikan dampak positif bagi peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan penduduk. Pendidikan harus mampu melahirkan sumberdaya manusia yang berkualitas dan tidak menjadi beban pembangunan dan masyarakat, yaitu sumberdaya manusia yang menjadi sumber kekuatan atau sumber pengerak (driving forces) bagi seluruh proses pembangunan dan kehidupan masyarakat. Pembangunan pendidikan formal dan non formal dititik beratkan pada peningkatan mutu pendidikan dan perluasan pendidikan. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah Kabupaten Rokan Hilir dalam pembangunan pendidikan, seperti peningkatan sarana dan prasarana pendidikan, perluasan akses pendidikan bagi seluruh masyarakat, dan lain-lain sebagainya.

Untuk meningkatkan sumber daya manusia yang bermutu diperlukan system pendidikan yang lebih baik dan tenaga pengajar yang berkualitas serta didukung sarana dan prasarana yang memadai baik negeri maupun swasta. Peningkatan mutu tidak dihitung dengan kualitas sekolah yang tersebar akan tetapi bagaimana menciptakan sekolah yang berkualitas. Untuk mengetahui jumlah sarana pendidikan sekolah baik negeri maupun swasta dari Taman Kanak-Kanan (TK) sampai pada jenjang SMA di Kabupaten Rokan Hilir pada tahun 2012 dapat dilihat pada table berikut.

Pada tahun 2012 terdapat sebanyak 353 Sekolah Negeri di Kabupaten Rokan Hilir, dan sebanyak 548 Sekolah Swasta. Sekolah negeri di Kabupaten Rokan Hilir sudah disediakan mulai dari jenjang pendidikan Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Kejuruan. Secara umum sebaran prasarana pendidikan yaitu sekolah pada setiap kecamatan telah tersedia bagi penduduk usia sekolah untuk setiap jenjang pendidikan. Tentu saja cakupan atau akses penduduk terhadap sekolah harus tetap menjadi perhatian pemerintah untuk meningkatkan akses penduduk usia sekolah terhadap pendidikan yang lebih merata.

(34)

II 22

-Tabel 2.12.

Jumlah Sekolah Negeri dan Swasta pada Beberapa Jenjang Pendidikan di Kabupaten Rokan Hilir 2013

No. Jenjang Pendidikan Negeri Swasta

1. TK 2 215

2. SD / SDLB / Madrasah Ibtidaiyah (MI) 273 129

3. SMP / SMPT / MTs 48 129

4. SMA 30 75

Jumlah 353 548

Sumber: diolah dari Rokan Hilir dalam angka 2013

Dalam hal peningkatan kualitas pendidikan, berdasarkan data Dinas Pendidikan Kabupaten Rokan Hilir sudah terdapat sebanyak 5 (lima) Sekolah Dasar (SD) sebagai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI), kemudian sebanyak 1 (satu) Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebagai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) terdapat sebanyak 6 (enam) sekolah yang merupakan Sekolah Standar Nasional (SNN), dan sebanyak 2 (dua) Sekolah Kejuruan Menengah (SMK) berstandar nasional.

Selain ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan, keberadaan guru, ruang kelas, dan jumlah siswa yang harus dilayani merupakan hal-hal yang terkait dengan pembangunan pendidikan juga menjadi hal penting dalam peningkatan kualitas pendidikan. Pada tahun 2010 tingkat pendidikan penduduk usia 15 tahun ke atas di Kabupaten Rokan Hilir masih dominan Tamat SD Sederajat yaitu 38,55 persen, kemudian penduduk dengan pendidikan SMP Sederajat sebanyak 21,21 persen, tamat SMA Sederajat sebanayak 19,49 persen, tidak tamat SD sebanyak 17,52 persen, dan penduduk yang berpendidikan sampai jenjang perguruan tinggi hanya sebanyak 3,24 persen. Untuk itu, perhatian pada peningkatan pendidikan dasar 9 tahun masih memerlukan perhatian pada peningkatan dan pemerataan akses pendidikan dasar bagi masyarakat.

(35)

II 23

-Tabel 2.13.

Kondisi Pendidikan Kabupaten Rokan Hilir 2013

No. Uraian SD Sederajat SMP Sederajat SMA Sederajat 1. Jumlah Murid 89.961 33.218 21.418 2. Jumlah Guru 5.131 1.326 1.326

Sumber: Dinas Pendidikan Rokan Hilir, Juli 2013

Dalam rangka memenuhi rasio guru dan murid pada setiap jenjang pendidikan data diatas mengkonfirmasi bahwa jumlah murid pada jenjang pendidikan SMP sederjad lebih banyak dibandingkan dengan jengjang pendidikan SD dan SMA sederjad. Pada tingkat guru, jumlah guru SD jauh lebih sedikit dari jenjang pendidikan SMP dan SMA sederajat di Rokan Hilir. Rasio guru per jenjang pendidikan ini harus menjadi perhatian bagi Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir. Terkait dengan banyaknya sekolah di Lingkungan Kabupaten Rokan Hilir, dapat dilihat seperti tabel dibawah ini :

Tabel 2.14.

Banyaknya Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar dilingkungan Dinas Pendidikan Nasional Menurut Jenis Sekolah Tahun 2011/2012

KECAMATAN TAMAN KANAK-KANAK JUMLAH SEKOLAH DASAR

NEGERI SWASTA JUMLAH NEGERI SWASTA JUMLAH

1. Tanah Putih - 21 21 38 7 45 2. Pujud - 22 22 39 16 55 3. Tp Tj Melawan - 1 1 7 - 7 4. Rantau Kopar - 2 2 5 - 5 5. Bagan Sinembah - 71 71 40 41 81 6. Simpang Kanan - 5 5 10 9 19 7. Kubu - 8 8 14 5 19 8. Pasir Limau Kapas - 10 10 12 17 29 9. Kubu Babussalam - 11 11 13 7 20 10. Bangko - 20 20 29 11 40 11. Sinaboi - 2 2 9 1 10 12. Batu Hampar - 8 8 4 - 4 13. Pekaitan - 1 1 10 - 10 14. Rimba Melintang 2 12 14 19 5 24 15. Bangko Pusako - 30 30 24 12 36 Jumlah 2 224 226 273 131 404

(36)

II 24 -Tabel diatas menjelaskan, bahwa Taman Kanak-kanak yang di inisiasi oleh Pemerintah

daerah adalah nyaris Nihil. Hanya ada 2 buah taman kanak-kanak di Kecamatan Rimba Melintang. Data ini berbanding terbalik dengan jumlah Taman Kanak-kanak yang diinisiasi oleh lembaga Privat. Ada 224 buah lembaga TK di Kabupaten Rokan Hilir. Terkait dengan banyaknya jumlah Sekolah Dasar antara Negeri dan Swasta kelihatan berimbang.

Tabel 2.15.

Banyaknya Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Umum dilingkungan Dinas Pendidikan Nasional Menurut Jenis Sekolah Tahun 2011/2012

KECAMATAN S M P S M U

NEGERI SWASTA JUMLAH NEGERI SWASTA JUMLAH

1. Tanah Putih 8 14 22 4 3 7 2. Pujud 5 22 27 2 8 10 3. Tp Tj Melawan 2 - 2 1 - 1 4. Rantau Kopar 1 1 2 1 - 1 5. Bagan Sinembah 9 30 39 4 25 29 6. Simpang Kanan 1 6 7 1 4 5 7. Kubu 2 4 6 1 1 2 8. Pasir Limau Kapas 1 12 13 1 8 9 9. Kubu Babussalam 2 7 9 2 5 7 10. Bangko 5 11 16 5 9 14 11. Sinaboi - 4 4 1 - 1 12. Batu Hampar 1 1 2 1 - 1 13. Pekaitan - 3 3 - 3 3 14. Rimba Melintang 3 4 7 2 5 7 15. Bangko Pusako 8 11 19 4 5 9 Jumlah 48 130 178 30 76 106

Sumber : Rokan Hilir dalam angka, 2013

Perbandingan sekolah menengah pertama (SMP) swasta dan negeri di Kabupaten Rokan Hilir sedikit agak timpang. Dan relatif berimbang pada lembaga sekolah menengah umum (SMU).

(37)

II 25

-b. Kesehatan

Dalam pelayanan kesehatan masyarakat adalah keberadaan jasa pelayanan masyarakat itu sendiri, seperti Rumah Sakit, Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Posyandu. Pada tahun 2012 Rumah Sakit sebanyak 4 buah, puskesmas sebanyak 16 buah, dan Puskesmas Pembantu 73 buah.

Tabel 2.16.

Sarana Rumah Sakit, Puskesmas dan Puskesmas Pembantu

No Sarana Kesehatan 2008 2009 2012

1 Rumah Sakit 3 3 4

2 Puskesmas 15 15 16

3 Puskesmas Pembantu 76 76 73

Sumber : Rokan Hilir dalam Angka 2013

2.4. Aspek Pelayanan Umum

2.4.1. Aspek Pelayanan Umum 2.4..1 Fokus Layanan Urusan Wajib a. Angka paritisipasi sekolah

Angka partisipasi untuk tingkatan SMA/MK/MA di Kabupaten Rokan Hilir mengalami sedikit kesenjangan dibandingkan angka partisipasi untuk pendidikan dasar seperti terlihat pada Tabel 2.16. Persentase penduduk yang bersekolah untuk usia 19-24 tahun (Strata 1) juga memperlihatkan angka yang masih rendah yang juga merupakan fenomena yang sama di tingkat Provinsi Riau. Prosentase penduduk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi masih sangat rendah, dibawah 10%. Hal ini perlu mendapatkan perhatian dari Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir.

(38)

II 26

-Tabel 2.17.

Persentase Penduduk Berumur 7-24 Tahun ke Atas yang Masih Sekolah Di Kabupaten Rokan Hilir

Kabupaten/Kota Kelompok Umur Jumlah

7 – 12 13-15 16-18 19-24

ROKAN HILIR 98,95 91,41 57,04 6,30 65,40

RIAU 98,55 91,58 63,92 13,14 66,35

b. Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah

Rasio ketersediaan guru terhadap siswa pada tingkat pendidikan dasar dan menengah sebenarnya sudah cukup baik, seperti terlihat pada Tabel 2.17. Permasalahan yang ditemukan dalam pembangunan pendidikan adalah tingkat pemerataan penyebaran guru untuk melayani murid pada sekolah-sekolah di setiap kecamatan. Sementara itu, kualifikasi dan kualitas guru yang mengajar juga belum bisa diperbandingkan dari data yang ada.

Tabel 2.18.

Jumlah Sekolah, Guru, dan Murid Di Kabupaten Rokan HilirTahun 2010

No Jenjang Pendidikan Sekolah Guru Siswa Siswa/Guru Rasio

1 TK/RA 180 777 8533 10,98

2 SD/MI/PLB 397 5.144 90.271 17,55

3 SMP/MTs 167 2.689 32.843 12,21

4 SMA/MA/SMK 97 1.677 20.073 11,97

Sumber: Dinas Pendidikan Rokan Hilir, Juli 2010

Sementara itu, rasio jumlah murid per sekolah pada Tabel 2.18 menunjukkan tingkat kecukupan yang memadai. Meskipun demikian, angka ini belum bisa menunjukkan jumlah murid per kelas. Pada wilayah kecamatan yang relatif maju dan berpenduduk tinggi, rasio siswa per sekolah yang tinggi bisa jadi disebabkan oleh banyaknya jumlah ruang kelas pada sekolah-sekolah tersebut, sementara di daerah kabupaten, rasio yang lebih rendah

(39)

II 27 -bisa jadi disebabkan oleh jumlah ruang kelas per sekolah yang juga rendah. Hal ini dapat

menjadi indikasi tingkat pemerataan yang masih kurang.

Tabel 2.19.

Jumlah Sekolah dan Murid Jenjang Pendidikan Dasar Tahun 2010 Menurut Kecamatan di Kabupaten Rokan Hilir

No. Kecamatan

SD/MI SMP/MTs

Jumlah

sekolah Jumlah murid Rasio sekolah Jumlah Jumlah murid Rasio

1 Tanah Putih 44 8598 195,4 21 3155 150,2 2 Pujud 52 10817 208,0 24 3080 128,3 3 Tp Tj Melawan 7 1716 245,1 2 532 266,0 4 Rantau Kopar 4 828 207,0 2 298 149,0 5 Bagan Sinembah 80 21285 266,1 37 8896 240,4 6 Simpang Kanan 19 907 47,7 7 1369 195,6 7 Kubu 36 6753 187,6 12 2499 208,3

8 Pasir Limau Kapas 32 7467 233,3 12 2096 174,7

9 Bangko 51 12002 235,3 18 5043 280,2 10 Senaboi 10 2132 213,2 3 525 175,0 11 Batu Hampar 4 1091 272,8 2 530 265,0 12 Rimba Melintang 23 4961 215,7 7 1605 229,3 13 Bangko Pusako 37 8435 228,0 19 3195 168,2 JUMLAH2009/2010 399 89917 225,4 166 32823 197,7 2007/2008 446 96998 217,5 224 39910 178,2 2006/2007 384 7939 20,7 158 28017 177,3 2005/2006 362 79232 218,9 139 26680 191,9

Sumber: Rokan Hilir dalam Angka 2010

c. Kesehatan Penduduk dan Indeks Pembangunan Manusia

Untuk kesehatan penduduk, data yang bisa diukur dan dibandingkan adalah data tentang status gizi balita (Tabel 2.19). Data ini menujukkan bahwa status gizi balita relatif baik di Kabupaten Rokan Hilir. Namun, yang lebih penting untuk dilihat adalah kecenderungan trend gizi buruk setiap tahunnya dari beberapa tahun sebelumnya.Hal ini penting untuk melihat keberhasilan program bidang kesehatan penduduk yang telah dilakukan.

(40)

II 28

-Tabel 2.20.

Status Gizi Balita Berdasarkan Indeks Berat Badan Menurut Umur (BB/U) di Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2009

Balita yang Ditimbang

Status Gizi (%)

Buruk Kurang Baik Lebih

ROKAN HILIR 54.512 1,1 6,4 91,6 1,0

R I A U 436.189 1,8 7,9 89,1 1,2

Dilihat dari data Indek Pembangunan Manusia (IPM) di Kabupaten Rokan Hilir pada Tabel 2.20 yang merupakan deskripsi dari tiga komponen sosial yaitu indeks harapan hidup, pendidikan dan standar hidup layak, maka secara umum IPM Kabupaten Rokan Hilir termasuk kategori menengah (IPM 66,0-79,9). Meskipun data IPM menunjukkan kecendrungan pembangunan manusia yang relatif baik, namun dari segi pemerataan masih masih perlu di teliti dengan melihat nilai Gini Ratio.

Tabel 2.21.

Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Rokan Hilir

IPM

2007 2008 2009 2010

ROKAN HILIR 71,1 71,51 71,98 72,43

R I A U 74,6 75,09 75,06 na

Sumber: Data Annual Prov. Riau 2011

Kemajuan pembangunan manusia Rokan Hilir masih sedikit dibawah perkembangan pembangunan manusia Provinsi Riau.Untuk itu, dalam rangka mendorong kemajuan pembangunan manusia Rokan Hilir yang lebih berkualitas perlu peningkatan pembangunan pada aspek kesehatan penduduk.Angka harapan hidup (AHH) merupakan indikator untuk mengukur kualitas kesehatan penduduk secara makro.Untuk itu, peningkatan aspek-aspek pembangunan kesehatan seperti akses penduduk pada sarana kesehatan, ketersediaan tenaga medis yang merata, dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan menjadi hal yang perlu ditingkatkan.Selain itu, aspek sanitani lingkungan

(41)

II 29 -perumahan penduduk seperti ketersediaan sumber air bersih, penggunaan MCK yang baik

juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan penduduk.

Tabel 2.22.

Perkembangan Komponen Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Rokan Hilir 2009-2010

2009 2010

Angka Harapan Hidup (thn) 67,11 67,18 Angka Melek Huruf (%) 97,80 97,99 Rata-Rata Lama Sekolah (thn) 7,48 7,87

PPP (ribu rupiah) 636,69 637,78

IPM 71,98 72,43

Sumber: BPS Rokan Hilir, 2011

2.4.2. Fokus Layanan Urusan Pilihan

a. Jumlah investor berskala nasional (PMDN/PMA)

Fluktuasi penanaman modal di Kabupaten Rokan Hilir masih cukup besar dan belum stabil. Berdasarkan jumlah investor, pada tahun 2009 terjadi penurunan yang cukup signifikan dari tahun sebelumnya. Bahkan pada tahun 2010, jumlah investasi PMDN dan PMA adalah yang paling rendah dalam lima tahun terakhir. Sebagai salah satu akibatnya adalah menurunnya angka penyerapan tenaga kerja. Lebih rinci perkembangan penanam modal di kabupaten Rokan Hilir dapat dilihat pada tabel-tabel berikut.

Beberapa hal yang menjadi faktor penyebabnya antara lain adalah imbas dari kelesuan ekonomi dunia pada tahun 2008. Selain itu, penyebab dari dalam Kabupaten Rokan Hilir sendiri adalah kondisi infrastruktur jalan banyak yang rusak dan minim dana pemeliharaan, terutama jalan nasional dan provinsi.

Gambar

Gambar 1.Sistematika Alur Perencanaan dan Penganggaran
Gambar 2.1 PetaKabupaten Rokan Hilir
Tabel 8.1. Indikator Kinerja Daerah Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2011-2015

Referensi

Dokumen terkait

Undang-Undang Nomor 53 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Rokan Hilir, Kabupaten Siak, Kabupaten Karimun, Kabupaten

Undang-Undang Nomor 53 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Rokan Hilir, Kabupaten Siak, Kabupaten Karimun, Kabupaten

demikian visi Kabupaten Rokan Hilir dalam pembangunan Kesehatan tahun 2010 yaitu “Rokan Hilir Sehat 2010” dan dengan rumusan ini tahun 2010 Masyarakat Rokan Hilir hidup

Seminar Nasional Implementasi Kewirausahaan Tenaga Kefarmasian di Madiun tgl 29 Agustus 2020 Oleh : apt.. Happy

Sebagai mahasiswa STAIN Pekalongan yang notabennya adalah universitas islam, tentu juga mempunyai peran dan fungsi yang harus diemban, khususnya dalam beradab

Parfum Laundry Cikampek Beli di Toko, Agen, Distributor Surga Pewangi Laundry Terdekat/ Dikirim dari Pabrik BERIKUT INI JENIS PRODUK NYA:.. Chemical Untuk Laundry Kiloan/Satuan

Undang - Undang Nomor 53 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Rokan Hilir, Kabupaten Siak, Kabupaten Karimun, Kabupaten

demikian visi Kabupaten Rokan Hilir dalam pembangunan Kesehatan tahun 2010 yaitu “Rokan Hilir Sehat 2010” dan dengan rumusan ini tahun 2010 Masyarakat Rokan Hilir hidup